Diajukan Kepada Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya
Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana Sosial (S.Sos)
Oleh:
ADON JUBAIDI NIM. B31213026
PROGRAM STUDI KOMUNIKASI PENYIARAN ISLAM JURUSAN KOMUNIKASI
FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ( UIN ) SUNAN AMPEL SURABAYA SURABAYA
UIN Sunan Ampel Surabaya.
Kata Kunci: Metode dakwah, KH. Ali Maschan Moesa.
Masalah yang diteliti dalam sekripsi ini adalah apa saja metode dakwah KH. Ali Maschan Moesa dalam membentuk akhlak santri di pesantren Luhur al-Husna Surabaya.
Untuk memperoleh jawaban dari permasalahan tersebut, Penulis langsung terjun ke lapangan, terlibat langsung dengan mad’u mengikuti jalannya dakwah, kemudian melalui wawancara dengan KH. Ali Maschan Moesa dan menganalisis hasil observasi. Penelitian ini berlangsung selama 3 bulan. penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan menggunakan analisis deskriptif yaitu menguraikan seluruh konsep yang ada hubungannya dengan pembahasan penelitian dan alasan peneliti menggunakan analisis deskriptif yaitu 1) Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan metode dakwah dengan lisan, dan dengan tindakan KH. Ali Maschan Moesa dalam membentuk akhlak santri di Pesantren Luhur Al-Husna Surabaya. 2) Berusaha menampilkan secara utuh dan membutuhkan kecermatan dalam pengamatan dan pemaparan sehingga bisa dipahami secara menyeluruh hasil dari peneliti. 3) Peneliti dituntut untuk terjun langsung kelapangan guna memperoleh data yang peneliti inginkan, seperti data tentang metode dakwah apa saja yang dilakukan KH. Ali Maschan Moesa, ketika berdakwah dengan santrinya Di mana data yang didapatkan adalah melalui beberapa sumber referensi bacaan, observasi, wawancara, dan dokumentasi, dari data-data lapangan yang berupa berupa refrensi bacaan, observasi dan hasil wawancara akan di analisis sehingga akan memunculkan gambaran tentang metode dakwah KH. Ali Maschan Moesa dalam upaya membentuk akhlak santri di pesanten Luhur Al-Husna Surabaya.
Berdasarkan hasil penelitian di peroleh kesimpulan bahwa metode dakwah KH. Ali Maschan Moesa dalam upaya membentuk akhlak santrinya, terdiri dari metode dakwah lisan melalui metode ceramah dan bandongan kitab. Metode Dakwah bil-Qolam menggunakan media tulisan seperti menulis buku dan artikel. Metode Dakwah bil-Hal dengan menggunakan Prinsip ‘’Uswatun hasanah’’ terlebih dahulu di bandingkan dengan Mauidzotul hasanah’’ artinya beliau menerapkan suri tauladan terlebih dahulu dibandingkan dengan banyak berkata. dan Metode Dakwah bil-Mal dalam berbagai bidang diantaranya: Bidang keagamaan dan pendidikan, bidang layanan sosial kemasyarakatan.
PERNYATAAN DAN PERTANGGUNG JAWABAN ………. iv
MOTTO DAN PERSEMBAHAN …….……….……….... v
ABSTRAK ……….…. vi
KATA PENGANTAR ………..………....…. vii
DAFTAR ISI ……….…. ix
DAFTAR TABEL ………... xi
BAB I : PENDAHULUAN A. Latar Belakang ……….. 1
B. Rumusan Masalah ………. 8
C. Tujuan Penelitian .………. 8
D. Manfaat Penelitian ……… 8
E. Definisi Konseptual ……….. 9
F. Sistematika Pembahasan ……….. 12
BAB II : KAJIAN KEPUSTAKAAN A. Kerangka Teoritik ………. 14
1. Pengertian Dakwah ………. 14
2. Metode Dakwah ……….. 18
3. Sumber Metode Dakwah ………. 20
4. Macam- Macam Metode Dakwah ………….….. 30
B. Penelitian Terdahulu yang Relevan ……….………. 39
BAB III : METODE PENELITIAN A. Pendekatan dan Jenis Penelitian ……… 44
B. Kehadiran Peneliti …..……… 45
C. Setting Penelitian ……… 46
D. Jenis dan Sumber Data ………... 46
E. Teknik Pengumpulan Data ………. 48
A. Setting Penelitian …..……...……… 56
1. Sejarah Pesantren Luhur al-Husna Surabaya …... 56
2. Biografi KH. Ali Maschan Moesa………... 61
B. Penyajian Data ………..………... 63
Metode Dakwah KH. Ali Maschan Moesa ……... 64
C. Temuan Penelitian dan Analisis Data …….……….... 81
BAB V : PENUTUP A. Kesimpulan ………...………. 107
B. Saran-saran ………...……….. 108
Islam adalah agama dakwah. Artinya agama yang selalu mendorong
pemeluknya untuk senantiasa aktif melakukan kegiatan dakwah. Maju
mundurnya umat Islam, sangat bergantung dan berkaitan erat dengan
kegiatan dakwah yang dilakukannya, karena itu Al-Qur‟an dalam
menyebutkan kegiatan dakwah dengan nama Ahsanu Qoul. Dengan kata lain bisa disimpulkan bahwa dakwah menempati posisi yang tinggi dan mulia
dalam kemajuan agama Islam. Tidak dapat di bayangkan apabila kegiatan
dakwah mengalami kelumpuhan yang disebabkan oleh berbagai faktor
terlebih pada era globalisasi sekarang ini, di mana berbagai informasi masuk
begitu cepat dan instan yang tidak dapat dibendung lagi. Umat Islam harus
dapat memilah dan menyaring informasi tersebut sehingga tidak bertentangan
dengan nilai-nilai Islam. Karena suatu kebenaran, maka Islam harus tersebar
luas dan penyampaian kebenaran tersebut merupakan tanggung jawab umat
Islam secara keseluruhan. Sesuai dengan misinya sebagai „’Rahmatal Lil
Alamin’’, Islam harus ditampilkan dengan wajah yang menarik supaya umat
lain beranggapan dan mempunyai pandangan bahwa kehadiran Islam bukan
sebagai ancaman eksistensi mereka melainkan pembawa kedamaian dan
ketentraman dalam kehidupan mereka sekaligus sebagai pengantar menuju
Implikasi dari pernyataan Islam sebagai agama dakwah menuntut
umatnya agar selalu menyampaikan dakwah, karena kegiatan ini merupakan
aktivitas yang tidak pernah usai selama kehidupan dunia masih berlangsung
dan akan terus melekat dalam situasi dan kondisi apa pun bentuk dan
coraknya.
Dakwah Islam adalah tugas suci yang di bebankan kepada setiap
Muslim di mana saja ia berada, sebagaimana termaktub dalam Al-Qur‟an dan
As-Sunnah Rasulululla Saw. Kewajiban dakwah menyerukan, dan menyampaikan agama Islam kepada masyarakat.
Dakwah Islam, dakwah yang bertujuan untuk memancing dan
mengharapkan potensi fitrah manusia agar eksistensi mereka punya makna di
hadapan Tuhan dan sejarah.1 Dengan begitu kebahagiaan ukhrawi merupakan
tujuan final setiap muslim ketika mendakwahkan ajaran Islam. Untuk mencapai maksud tersebut diperlukan usaha yang sungguh-sungguh dan
penuh optimis dalam melaksanakan dakwah. Oleh karena itu seorang da`i
harus memahami tujuan dakwah. Sehingga, segala kegiatannya benar-benar
mengarah kepada tujuan seperti dikemukakan di atas. Seorang da`i harus
yakin akan keberhasilannya, jika ia tidak yakin dapat menyebabkan
terjadinya penyelewengan-penyelewengan di bidang dakwah.
Dan dalam memahami dari makna dakwah, bahwa dalam
melaksanakan dakwah seorang da’i di hadapkan pada kenyataan bahwa
individu-individu yang akan didakwahi memiliki keberagaman dalam
1
berbagai hal, seperti pikiran-pikiran (ide-ide), dan pengalaman keperibadian.
Dengan keberagaman tersebut pastinya akan memberikan corak yang berbeda
pula dalam menerima dakwah (materi dakwah) dan menyikapinya. karena
itulah untuk mengefektifkan usaha dakwah, seorang da’i seharusnya
memahami mad’u yang akan di hadapi. Disamping itu juga mehamami
kondisi obyek yang dihadapi atau komunitas manusia yang menjadi sasaran
pada saat dakwah berlangsung.
Dengan begitu dakwah sudah seharusnya dengan cara atau metode
yang tepat dan pas. Dakwah harus tampil secara aktual, faktual dan
kontekstual. Aktual dalam arti memecahkan masalah yang kekinian dan
hangat di tengah masyarakat. Faktual dalam arti konkret dan nyata, serta
kontekstual dalam arti relevan dan menyangkut problema yang sedang di
hadapi oleh masyarakat.2 Dengan ini, saya meneliti mengenai metode dakwah
KH. Ali Maschan Moesa, di Pesantren Luhur al-Husna Surabaya.
KH. Ali Maschan Moesa, adalah seorang da’i yang sangat dikenal di
masyarakat luas khususnya masyarakat jawa timur karena beliau mampu
memberikan suatu ajaran berupa pendidikan yang baik terhadap masyarakat
dengan cara ataupun metode yang beliau miliki. Seperti ceramah agama di
mimbar, pengajian-pengajian di majelis taklim, dan diskusi mengenai agama
yang beliau lakukan. Beliau juga aktif berdakwah di semua lingkup, baik
masyarakat kecil ataupun besar tanpa memilah dan memilih baik miskin
2
ataupun kaya. Selain itu beliau juga aktif berdakwah di luar jawa maupun
luar negeri dan dalam dunia elektronik maupun media cetak.
Selain itu, beliau adalah seorang da’i yang memahami betul tentang
permasalahan agama dan mengetahui betul situasi yang dibutuhkan
ditengah-tengah masyarakat. Beliau merupakan sosok kiai karismatik yang dijadikan
contoh atau tauladan bagi Santri Al-Husna, baik dari segi perilaku ataupun
ucapannya. Sosok inilah sebagai figur yang dibutuhkan masyarakat untuk
dapat ditiru dalam kehidupan keberagamaan. Sebagai seorang figur, KH. Ali
Maschan Moesa mempunyai metode dakwah yang khas. Di sisi lain beliau
juga memiliki keperibadian yang luar biasa di saat beliau menyampaikan
dakwah Islam, hal ini dapat dilihat kemampuannya dalam mengajak santri
untuk terus meningkatkan kualitas iman dalam menjalani kehidupan ini.
Dalam kancah perpolitikan Nasional beliau juga ikut andil dalam
memajukan partai politik, hal ini diketahui dari diangkatnya beliau sebagai
Ketua Umum Koorcab PMII Jawa Timur pada tahun 1984- 1986, sedangkan
di tahun 1999-2008 beliau diangkat menjadi ketua PWNU Jawa Timur, dan
di tahun 2009-2014 beliau pernah menjadi anggota Dewan Perwakilan
Rakyat (DPR)-RI dan masih banyak lagi pengalaman-pengalaman beliau
yang pernah beliau lakukan.
Dimata santri al-Husna, beliau terkenal sosok yang kalem, sabar, dan
semangat dalam menyampaikan pesan-pesan dakwah, baik bersifat ucapan
kepada anak-anak kecil yang membutuhkan pengajaran ilmu agama, dan tak
tanggung-tanggung beliau juga memberikan contoh akhlak atau sifat terpuji
kepada santri secara langsung seperti beliau ikut membangunkan santri ketika
shubuh dengan tidak memaksa persis seperti mencerminkan akhlak
Rasulullah SAW.
Kemudian salah satu contoh dari dakwahnya, yaitu memberikan
contoh kepada santrinya agar senantiasa peduli dan menolong sesama seperti
membeli makanan dengan tujuan untuk menolong orang lain, selain itu
beliau juga memberikan contoh bagi santri al-Husna untuk menjadi santri
atau orang yang mempunyai etos kerja tinggi seperti ketika beliau
memberikan contoh kepada santrinya dengan memperbaiki sarana prasana
pesantren dengan tenaga sendiri tanpa bantuan orang lain.
Pendekatan secara persuasif juga dilakukan kepada santrinya seperti
melihat kondisi kamar-kamar santri dan juga mengajak berbincang-bincang
kepada santrinya dengan penuh kehangatan, ketulusan, dan kesabaran. Beliau
juga sangat intens di pesantren, selain itu ketika melihat keperibadian beliau dalam keseharian di Pesantren al-Husna, beliau juga mengajarkan kepada
santrinya untuk tampil sederhana, humoris, dan kalem.
Beliau adalah sosok kiai yang menunjukkan semangat dakwah kepada
santrinya dengan memberikan suri tauladan dengan bentuk mengajar atau
memberikan manfaat kepada orang lain dimanapun beliau berada,
buku kemanapun pergi. kemudian beliau juga terkenal dengan sosok kiai
yang gampang menghormati tamu dan tidak pilah-pilih baik tamu kecil
maupun besar, keunikan beliau lagi mau bercengkrama langsung dengan
santri.
Disisi lain, beliau juga sosok yang sangat di segani di pesantren
Luhur al-Husna. Karena selain faktor beliau sebagai pengasuh pesantren
luhur al-Husna. Beliau juga mempunyai riwayat pendidikan yang tinggi,
mungkin ini merupakan keunikan dari beliau. Kiai yang mempunyai
kapasitas keilmuan yang mumpuni, bahkan menjadi Guru Besar UIN Sunan
Ampel di Bidang Sosiologi, gelarnya pun juga sedikit unik karena status
beliau yang menjadi kiai namun ternyata beliau malah mempunyai gelar
sosiologi yang merupakan gelar bagi kebanyakan orang Non Pesantren. Dan
yang menarik lagi walaupun beliau mempunya predikat gelar akademi yang
tinggi dan menjadi Guru Besar di bidang Sosiologi beliau juga sangat handal
dibidang bahasa arab, tafsir dan tentunya mempunyai ilmu agama yang
komprehensif.
Sehingga tidak heran dengan cara dan gaya beliau berdakwah
dipesantren luhur al-Husna Surabaya beberapa persen lulusan dari pesantren
Luhur al-Husna menjadi teladan dan sukses bagi orang lain diluar sana yang
banyak menyeru terhadap masyarakat untuk terus berada dijalan Allah SWT.
Seperti halnya Fathul Qodir, M.HI dan Ahmad Nur Ismail, M.Pd.I sebagai
pembina pesantren di salah satu pesantren di indonesia, M. Khoirul Anas
Cahyono M.Pd.I dan Khoirun Najih, M.Kom.I sebagai dosen, Dausat
al-Baihaqi S.Pd.I sebagai guru, Junaidi Khab,S.Hum dan Masduri, S.Fil.I
sebagai penulis di tingkat Nasional dan masih banyak lagi. kemudian Ada
juga yang sampai sekolah keluar negeri, dan bahkan ada yang menjadi
pimpinan organisasi, menjadi DPRD daerah.
Dari keterengan-keterangan di atas, penulis menganggap KH. Ali
Maschan Moesa adalah sosok kiai yang unik dan layak diteliti dengan alasan
banyaknya pengalaman beliau berdakwah, riwayat pendidikan beliau yang
tinggi. dengan begitu, hal ini akan mempermudah penulis untuk menggali
semakin dalam tentang metode-metode dakwah yang selama ini beliau
terapkan untuk membentuk akhlak santri di Pesantren Luhur al-Husna
Surabaya.
Kemudian yang menarik dari beliau adalah ketika beliau berdakwah
dengan santri-santrinya di pesantren luhur al-Husna. beliau adalah sosok kiai
yang menerapkan Uswatun hasanah terlebih dahulu di banding dengan
Mauidzotul hasanah, disinilah letak kemenarikannya karena walaupun beliau mempunyai riwayat pendidikan yang tinggi, beliau tidak pernah
sombong, gengsi terhadap santri-santri al-Husna. Beliau tidak
sungkan-sungkan mengambil sampah dengan tangan beliau sendiri, memperbaiki
sarana-prasana pesantren dengan tangan beliau sendiri. Dan masih banyak
lagi metode-metode dakwah yang diterapkan beliau untuk mendidik
santrinya di pesantren Luhur al-Husna seperti berdakwah mengikuti
Dengan alasan-alasan ini dan dalam upaya meninjau metode dakwah
seorang da’i dalam menyampaikan pesan kepada mad‟unya, Maka penulis
sangat tertarik untuk melakukan penelitian yang lebih mendalam terkait
‘’Metode Dakwah Prof. Dr. KH. Ali Maschan Moesa, M.Si di Pesantren
Luhur Al-Husna Surabaya’’. Dan penulis juga tertarik untuk meneliti lebih jauh mengenai dakwah yang dilakukan beliau di lingkungan pesantren
Luhur al-Husna Surabaya.
B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan pembatasan diatas, maka perumusan permasalahan yang
akan diteliti adalah sebagai berikut :
Apa saja metode dakwah yang diterapkan KH. Ali Maschan Moesa, di
Pesantren Luhur Al-Husna Surabaya.
C. TUJUAN PENELITIAN
Untuk mengetahui bagaimana metode dakwah yang diterapkan KH.
Ali Maschan Moesa, di Pesantren Luhur Al-Husna Surabaya.
D. MANFAAT PENELITIAN
1. Manfaat secara Teoritis
a. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan konstribusi atau
sumbangsih terhadap pengembangan khazanah keilmuan di bidang
b. Untuk mengetahui seberapa pentingnya metode dalam berdakwah.
2. Manfaat secara Praktis
a. Bagi juru dakwah (Da’i, Da’iyah, Khususnya mahasiswa KPI),
Penelitian ini bermanfaat dalam usaha meningkatkan kesadaran
pentingnya mendakwahkan ajaran Islam dengan metode pendekatan
lemah lembut yang cocok dan sesuai dengan mad‟u tanpa menyimpang
dari al-Qur‟an.
b. Bagi Fakultas Dakwah UIN Sunan Ampel Surabaya khususnya Prodi
Komunikasi Penyiaran Islam, penelitian ini bisa dijadikan tambahan
literatur keilmuan untuk pembinaan dan penggembangan jurusan.
c. Bagi penulis, hasil penelitian ini merupakan sebuah proses
pendewasaan berpikir dan aplikasi keilmuan yang di peroleh dibangku
kuliah.
d. Bagi Pesantren, Sebagai kontribusi dalam menambah wawasan para
santri al-Husna dalam menyampaikan dakwah.
e. Menambah wawasan aktivitas akademisi dan praktisi dakwah agar
dapat mengembangkan metode dakwahnya di lapangan serta dakwah
yang di sampaikan mudah di mengerti dan di terima mad’u dengan
menggunakan metode yang ada.
E. DEFINISI KONSEP
Konsep pada hakikatnya merupakan istilah, yaitu satu kata atau lebih
tertentu. Untuk memperoleh pemahaman mengenai penelitian yang akan
dilakukan, maka penulis perlu menjelaskan definisi konsep sesuai dengan
judul. Hal itu dikarenakan untuk menghindari kesalah pahaman dalam
penelitian ini.
Metode Dakwah
Banyak ayat al-Qur'an yang mengungkapkan masalah dakwah.
Namun, dari sekian banyak ayat itu, yang dapat dijadikan acuan utama
dalam prinsip metode dakwah Qur'ani secara umum merujuk pada
pernyataan ayat 125 surah An-Nahl.3
Artinya: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”4
Dalam ayat ini mengandung pesan tentang kewajiban dan metode
dakwah, dari pernyataan ayat 125 surat An-Nahl tersebut dapat dijelaskan bahwa seruan dan ajakan menuju jalan Allah (din Al-Islam) itu harus menggunakan metode-metode, al-hikmah, al-mauidhotul al-hasanah, dan mujadalah bi al-lati hiya ahsan.
3
Asep Muhiddin, Dakwah dalam Perspektif Al-Qur’an. Bandung: Pustaka Setia. 2002. hlm 161
4
Menurut Ibnu Rusyd, dakwah dengan „‟hikmah‟‟ artinya dakwah
dengan pendekatan substansi yang mengarah pada falsafah, dengan
„‟nasihat yang baik‟‟, yang berarti retorika yang efektif dan popular, dan
dengan „‟mujadalah yang lebih baik‟‟ maksudnya ialah metode dialektis
yang unggul. Sesuai dengan ungkapan bijak dalam bahasa arab bahwa
„‟bahasa kenyataan lebih fasih daripada bahasa ucapan‟‟. Kesadaran
tentang pentingnya dakwah dengan bahasa kenyataan ini dapat
diterjemahkan dengan pendekatan esensi, tidak semata pendekatan
formalitas saja. Sebab, menurut Nurkholis Madjid, masyarakat yang cerdas
dan maju umumnya lebih mementingkan esensi ini, bukan segi-segi
formalitas belaka sekalipun segi-segi formal itu tidak ditinggalkan sama
sekali.5
Dari segi bahasa metode bahasa berasal dari dua kata yaitu “meta”
(melalui) dan ”hodos” (jalan,cara). Dengan demikian dapat kita artikan
bahwa metode adalah cara atau jalan yang harus dilalui untuk mencapai
tujuan. Dalam bahasa Yunani metode berasal dari kata methodos artinya jalan yang dalam Bahasa Arab disebut thariq. Metode berati cara yang diatur dan melalui proses pemikiran untuk mencapai suatu maksud.6
Dakwah menurut pandangan para ilmuan sebagai berikut:
Menurut Ahmad Umar Hasyim dalam bukunya Al-Da‟wah al
-Islamiyah: Manhajuha wa Ma‟alimuha, dakwah juga berarti proses
5
Asep Muhiddin, Dakwah dalam Perspektif Al-Qur’an. Bandung: Pustaka Setia. 2002. hlm 162
6
transimisi hidayah Allah terhadap mad’u (Obyek dakwah) sesuai dengan
Al-Qur‟an, Hadits Nabi, Sirah Nabi dan metode al-khulafa al-Rasyidin.
Sedangkan menurut Syekh Ali Mahfudz, dakwah adalah mengajak manusia untuk mengerjakan kebaikan dan mengikuti petunjuk, menyuruh mereka
berbuat dan melarang mereka dari perbuatan jelek agar mereka mendapat
kebahagiaan dunia dan akhirat.7
Dari pendapat diatas dapat kita simpulkan bahwa, metode dakwah
adalah cara-cara tertentu yang dilakukan seorang da’i (komunikator)
kepada mad‟u unuk mencapai suatu tujuan atas dasar hikmah dan kasih
sayang.8
F. SISTEMATIKA PEMBAHASAN
Agar Penulisan Proposal ini lebih mudah dipahami, maka tentunya perlu dibuat sistematika pembahasan sebagai berikut :
BAB I : PENDAHULUAN
Pada bab pendahuluan ini, berisikan tentang latar belakang, rumusan
masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, definisi konseptual, dan
sistematika pembahasan.
BAB II : KAJIAN KEPUSTAKAAN
Pada bab ini berisikan tentang Pengertian dakwah, Metode dakwah, Sumber
Metode Dakwah, Macam-macam metode dakwah.
7
M. Syakur Dewa, kiat-kiat sukses para da’icetakan pertama (kediri : Pustaka „Azm, 2013) hal
18-19
8
BAB III: METODOLOGI PENELITIAN
Pada bab ini berisikan tentang pendekatan dan jenis penelitian yang dipakai,
kehadiran peneliti, setting penelitian, jenis dan sumber data, teknik
pengumpulan data, teknik analisis data dan keabsahan data dan tahap – tahap
penelitian.
BAB IV: PENYAJIAN DATA
Pada bab ini berisikan tentang penyajian data meliputi : Setting penelitian
(Sejarah Singkat Pondok Pesantren Luhur Al-Husna Surabaya dan Biografi
KH. Ali Maschan Moesa,), Penyajian Data tentang (Metode Dakwah. KH.
Ali Maschan Moesa,) dan Temuan Penelitian dan Analisis Data
BAB V: PENUTUP
Bab ini merupakan bab terakhir dalam penulisan yang nantinya akan
BAB II
KAJIAN KEPUSTAKAAN A. Kerangka Teoritik
1. Pengertian Dakwah
Ditinjau dari etimologi atau bahasa, dakwah artinya adalah
memanggil (to call), mengajak (to cummon), menyeru (to propose), mendorong (to urge) dan memohon (to pray).1
Dakwah dalam pengertian tersebut dapat dijumpai dalam ayat-ayat
Alquran antara lain:
Artinya: “ Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul (Muhammad) diantara kamu seperti panggilan sebahagian kamu kepada sebahagian (yang lain). Sungguh, Allah mengetahui orang-orang yang keluar (secara) sembunyi-sembunyi diantara kamu dengan berlindung (kepada kawannya), Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul-nya takut akan mendapat cobaan atau ditimpa azab yang pedih’’.
(QS. An-Nur: 63)2
1Warson Munawir, Kamus Al-Munawir, (Surabaya:Pustaka Progressif, 1994) h 439
2
Artinya: “ Dan janganlah kamu nikahi perempuan musyrik, sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya yang beriman lebih baik daripada perempuan musyrik, meskipun dia menarik hatimu. dan janganlah kamu nikahkan orang (laki-laki) beriman (dengan perempuan yang beriman) sebelum mereka beriman. Sungguh hamba sahaya laki-laki yang beriman lebih baik daripada laki-laki musyrik, meskipun dia menarik hatimu. mereka mengajak ke neraka, sedangkan Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. (Allah) menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka mengambil pelajaran’’(QS. Al-Baqarah: 221)3
Artinya: “dan hendaklah ada di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung”. (QS. Al-Imran: 104)4
Artinya: “kamu (umat Islam) adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada
3
Mushaf al-Azhar, Al-Quran dan Terjemahnya, (Bandung: CV Penerbit Hilal, 2010) hal 35
4
yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik”. (QS. Al-Imron: 110)5
Artinya: “dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu
(Muhammad) tentang Aku, Maka sesungguhnya aku dekat. aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku, hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran”. (QS. Al-Baqarah: 186)6
Dengan demikian, secara etimologi dakwah adalah merupakan
suatu proses penyampaian (tabligh) atas pesan-pesan tertentu yang berupa ajakan atau seruan dengan tujuan agar orang lain memenuhi ajakan
tersebut.
Sedangkan secara definisi, pengertian dakwah telah banyak dibuat
oleh para ahli, dimana masing-masing definisi tersebut saling melengkapi.
Walaupun berbeda susunan redaksinya, namun makna dan maksud
hakikinya sama.
Dibawah ini akan penulis kemukakan beberapa definisi dakwah
yang dikemukakan oileh para ahli mengenai dakwah.
5
Mushaf al-Azhar, Al-Quran dan Terjemahnya, (Bandung: CV Penerbit Hilal, 2010) hal 64
6
a. Menurut Prof. Toha Yahya Omar, M.A
Dakwah adalah mengajak manusia dengan cara bijaksana
kepada jalan yang benar sesuai dengan perintah Tuhan, untuk
kesmaslahatan dan kebahagian mereka di dunia dan akhirat.7
b. Menurut Prof. A. Hasjmy
Dakwah Islamiyah yaitu mengajak orang lain untuk meyakini
dan mengamalkan aqidah dan syariah Islamiyah yang terlebih dahulu
telah diyakini dan diamalkan oleh pendakwah sendiri.8
c. Menurut Dr. Quraish Shihab
Dakwah adalah seruan atau ajakan keinsyafan atau usaha
mengubah situasi yang lebih baik dan sempurna, baik terhadap pribadi
maupun masyarakat. Perwujudan dakwah bukan sekedar usaha
peningkatan pemahaman dalam tingkah laku dan pandangan hidup
saja, tetapi juga menuju sasaran yang lebih luas.9
d. Menurut Asmuni Syukir
Dakwah Islam adalah ‘’suatu usaha atau proses yang
diselenggarakan dengan sadar dan terencana untuk mengajak manusia
ke jalan Allah, memperbaiki situasi ke arah yang lebih baik (dakwah
bersifat pembinaan dan pengembangan) dalam rangka mencapai
tujuan tertentu, yaitu bahagia di dunia dan akhirat’’.10
7
M. Syakur Dewa, kiat-kiat sukses para da’icetakan pertama (kediri : Pustaka ‘Azm, 2013) hal 20 8
M. Ali Aziz, Ilmu Dakwah (Jakarta: Kencana, 2004) h 13
9
M. Quraish Shihab, Membumikan Alquran, Fungsi dan Peran Wahyu Dalam Kehidupan
Masyarakat, cetakan ke 12 (Bandung: Mizan 1994) h 194 10
Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa dakwah
adalah suatu kegiatan yang dilakukan secara sadar oleh orang yang
beriman untuk menyeru kepada orang lain agar berbuat baik dan
melakukan kepada yang ma’ruf dan mencegah kepada hal yang
mungkar agar mencapai kebahagiaan di dunia maupun akhirat dengan
mengunakan media dan berbagai macam metode.
Bagi seorang muslim, dakwah merupakan kewajiban yang
tidak bisa ditawar-tawar lagi. Kewajiban dakwah merupakan suatu
yang tidak mungkin dihindarkan dari kehidupannya, karena melekat
erat bersamaan dengan pengakuan diri sebagai penganut Islam
(muslim).11 Dengan kata lain setiap muslim secara otomatis
mengemban misi dakwah.
Dengan demikian dakwah merupakan bagian yang sangat
esensial dalam kehidupan orang muslim, dimana esensinya berada
pada ajakan dorongan (motivasi), rangsangan serta bimbingan
terhadap orang lain untuk menerima ajaran Islam dengan penuh
kesadaran demi keuntungan dirinya.
2. Metode Dakwah
Secara etimologi, metode bersal dari bahasa Yunani metodos
yang artinya cara atau jalan.12 Jadi, metode dakwah adalah jalan atau
cara dalam melaksanakan aktivitas dakwah untuk mencapai tujuan
dakwah yang efektif dan efiesien.
11
Siti Muriah, Metode Dakwah Kontemporer (Yogyakarta: Mitra Pustaka, 2000) h 6
12
Seorang dai dalam menentukan metode dakwahnya sangat
memerlukan penegtahuan dan kecakapan di bidang metodologi.
Selain itu, pola berfikir dengan pendekatan sistem, dimana dakwah
merupakan suatu sistem dan metodologi merupakan salah satu
dimensinya, maka metodologi mempunyai peranan dan kedudukan
yang sejajar dengan unsur-unsur lainnya.
Dalam rangka dakwah Islamiyah agar masyarakat dapat
menerima dakwah dengan lapang dada, tulus dan ikhlas maka
penyampaian dakwah harus melihat situasi dan kondisi masyarakat
objek dakwah. Kalau tidak, maka dakwah tidak dapat berhasil dan
tidak tepat guna. Disini diperlukan metode yang efektif dan efisien
untuk ditetapkan dalam tugas dakwah.
Landasan umum mengenai metode dakwah menurut Alquran
An-Nahl ayat 125.
Artinya: “serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk”. (QS. An-Nahl:125).13
13
Pada ayat tersebut terdapat kerangka metode dakwah yang
sangat akurat. Kerangka dasar tentang metode dakwah yang terdapat
dalam ayat tersebut adalah antara lain: Bil-Hikmah, Mauidzotul Hasanah dan Mujadalah.
3. Sumber Metode Dakwah
Sumber Metode Dakwah Dalam menyampaikan pesan dakwah
kepada mad’u seorang da’i harus memiliki sumber metode dakwah, sehingga diharapkan ketika menyampaikan pesan dakwah akan
sesuai dengan apa yang menjadi kebutuhan, menjadi jawaban dari
persoalan yang dihadapi oleh umat. Adapun sumber metode dakwah
tersebut, antara lain:
a. Al-Qur’an
Menurut Quraish Shihab materi dakwah yang disajikan oleh
al-Qur’an dibuktikan kebenarannya dengan argumentasi yang
dipaparkan atau dapat dibuktikan manusia melalui penalaran
akalnya, kenyataan ini dapat ditemui hampir pada setiap
permasalahan yang disajikan oleh al-Qur’an, ada kalanya al
-Qur’an menuntun manusia dengan redaksiredaksi yang sangat
jelas dan dengan tahapan pemikiran yang sistematis sehingga
manusia menemukan sendiri kebenaran yang dikehendakinya.14
14
Metode ini digunakan agar manusia merasa ikut berperan
dalam menentukan suatu kebenaran. Dengan demikian ia merasa
memiliki dan bertanggung jawab untuk mempertahankannya,
untuk menunjang tercapainya target yang diinginkan dalam
penyajian materi-materinya al-Quran menempuh metode sebagai
berikut:
1) Mengemukakan kisah-kisah yang bertalian dengan salah satu
tujuan materi, kisah-kisah dalam al-Qur’an berkisar pada
peristiwa-peristiwa sejarah yang terjadi dengan menyebut
pelakuk-pelaku dan tempat terjadinya, sebagaimana dilihat
dari kisah-kisah para nabi.
2) Nasihat dan panutan, al-Quran menggunakan kalimat-kalimat
yang menyentuh hati untuk mengarahkan manusia pada
ide-ide yang dikehendakinya, nasihat itu tidak banyak
manfaatnya jika tidak dibarengi dengan keteladan dan
penyampai nasihat.
3) Kebiasaan-kebiasaan mempunyai peranan yang sangat besar
dalam kehidupan manusia. Dengan kebiasaan seorang
mampu melakukan hal-hal penting dan berguna tanpa
memerlukan energi dan waktu yang banyak.15
15
Asep Muhyidin, Agus Ahmad Safei, Metode Penyebaran Dakwah, (Bandung: Pustaka Setia,
Banyak ayat al-Quran yang mengungkapkan masalah
dakwah. Namun dari sekian banyak ayat itu yang dapat dijadikan
acuan utama dalam prinsip metode dakwah qurani secara umum
menunjuk pada surat an-nahl: 125.
Artinya: “serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk”. (QS. An-Nahl:125).16 b. HaditsBegitu juga dengan hadis, ada beberapa hadis yang
membahas tentang metode dakwah. Salah satunya yaitu hadis
tentang upaya untuk menghadapi dan memberantas kemungkaran
menurut kadar kemampuan masing-masing individu;
ْلقبف ْعطتْسي ْمل ْ إف اسلبف ْعطتْسي ْمَل ْ إف يب ْرِيغيلْاف اًركْ م ْمكْ م ْ أر ْ م
ب
ا ْيإْا فعْضأ كل
Artinya : "Dari Abu Said al-Khudri r.a. ia berkata, "Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa diantara kalian melihat kemunkaran, maka hendaklah ia merubahnya dengan tangannya, jika tidak mampu, maka dengan lisannya, dan
16
jika tidak mampu maka dengan hatinya. Yang demikian itu selemah-lemahnya iman" (HR. Muslim)17
b. Sejarah hidup para sahabat
Kekuasaan khulaf’ur rasyidin berumur kurang lebih 30
tahun. Struktur dakwah pada masa khulafa’ur rasyidin meliputi
unsur-unsur dakwah sebagai berikut:
A. Da’i
Pengganti Rasulullah saw adalah Khulafa’ur rasyidin. Mereka
adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar Bin Khattab, Usman Bin Affan,
dan Ali Bin Abi Thalib. Keempat sahabat Nabi ini berperan sebagai
ulama yang menyebarkan Agama Islam sekaligus berperan sebagai
seorang Khalifah (pemimpin). Para da’i pada masa khulafa’ur rasyidin ini
adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar Bin Khattab, Usman Bin Afan, dan
Ali Bin Abi Thalib. Mereka lah yang berperan dalam dakwah pada masa
khulafa’ur rasyidin dan mereka lah yang menggantikan Nabi dalam
menjadi seorang kepala negara. Sehingga corak Da’i pada masa
Khulafa’ur rasyidin ini adalah Al-Ulama wa Al-Umara’.
B. Mad’u
Kondisi mad’u pada masa khulafa’ur rasyidin adalah bersifat
ijabah, karena pada masa Rasulullah sudah banyak orang yang memeluk
Agama Islam. Khulafa’ur rasyidin hanya tinggal meneruskan perjuangan
dakwah Rasulullah, namun masih banyak umat yang belum menerima
Islam sebagai Agamanya, seperti orang-orang Qurasyi dan Yahudi,
17
sehingga mad’u pada masa Khulafa’ur rasyidin bercorak ijabah dan
ummah.
C. Materi
Materi yang diterapkan pada masa khulafa’ur rasyidin adalah
aqidah, syari’ah dan mu’amalah. Adapun aqidah dengan cara
mentauhidkan atau mengEsakan Allah, sedangkan syari’ah dengan
diajarkannya tata cara tentang berwudhu, sholat dan mambaca Al-Qur’an,
adapun mu’amalah yaitu dengan ditetapkannya zakat bagi orang-orang
muslim yang diserahkan kepada baitul maal dan pajak bagi orang-orang
non-muslim.
D. Metode
Secara umum, metode pengembangan dakwah yang dilakukakan
khulafa’ur raasyidin adalah18
; Pertama, konsolidasi dalam pembinaan dan peningkatan kualitas sumber daya kaum muslim. Hal ini dilakukan
melalui pengiriman dan penyebaran para cendekiawan sahabat (qurra huffadz dan fuqaha) dikalangan para sahabat besar (Akabir Ash-shahabah) ke wilayah-wilayah kekuasan yang semakin luas.
Kedua, melalui upaya futuhat, yakni proses penyebaran, penghadiran dan penyampaian risalah-risalah islam ke daerah-daerah
tertentu dengan tidak memaksa masyarakat (mad’u.).
Dengan demikian, banyak daerah yang mengakui dan memasuki
islam tanpa paksaan melainkan atas dasar kebebasan, kesadaran, dan
18
pilihan nuraninya. Kedua langkah pengembangan metode dakwah
strategis khulafa’ur rasyidin ini, secara lebih terperinci, dapat dikaji
dalam sejarah peradaban muslim. Adapun secara khusus langkah-langkah
metode pengembangan dakwah yang dijalankan oleh khulafa’ur rasyidin,
dapat dilihat dari spesifikasi kebijakan dan perjuangannya
masing-masing.
1. Abu Bakar Ash-Shiddiq (632-634)
Beberapa langkah strategis yang dilakukan Abu Bakar dalam
upaya mengembangkan dakwah islam, diantaranya adalah :
a) Menciptakan stabilitas melalui pembinaan, pembenahan, dan
penyelesaian persoalan intern dikalangan kaum muslimin, yakni
menumpas dan meluruskan situasi anarkis dalam negeri yang
timbul akibat pemberontakan kaum munafik dan gerakan
penentang kewajiban zakat yang lahir dari fanatisme kesukuan,
dan munculnya pengakuan nabi palsu.
b) Mengalihkan perhatian pada upaya melakukan futuhat, ekspedisi
ke Syiria demi pengembangan wilayah Islam.
c) Merintis majelis Syura.
d) Upaya memelihara dan mengumpulkan ayat-ayat Al-qur’an
sebagai rujukan dasar dakwah.
2. Umar ibn Al-Khattab (13-24 H / 634-644 M)
Berikut adalah beberapa langkah dakwah yang dilakukan Umar
a) Pembenahan manajemen dan administrasi kepemerintahan
b) Pembenahan dan pembentukan pranata hukum dan sistem
pengadilan
c) Penetapan sistem kalender hijriah
d) Memperkokoh majelis syura dan sistem konstitusi negara
berdasarkan sistem teo demokratis
e) Upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat, dengan
dibangunnya beberapa sarana umum, seperti irigasi pertanian,
sistem keuangan negara, bait al-maal dan sebagainya
f) Pembinaan masyarakat dan upaya futuhat keberbagai wilayah
strategis bagi pengembangan dakwah.
3. Ustman ibn Affan (24-36 H / 644-656 M)
Berikut adalah beberapa langkah dakwah yang dilakukan oleh
Khalifah Usman ibn Affan.
a) Mengadakan pembenahan dan menyelesaikan gerakan
pembangkang, berupaya memelihara stabilitas wilayah yang
semakin luas.
b) Menyebarkan para cendekiawan ke wilayah-wilayah kekuasan
Islam.
c) Upaya menyeragamkan naskah mushaf Al-Qur’an, semi keutuhan dan kepentingan dakwah.
d) Mempertahankan dan memelihara sistem pemerintahan dengan
e) Mengadakan pembinaan dan futuhat ke wilayah Timur dan Barat
4. Ali ibn Abi Thalib (36-41 H / 656-661)
Berikut adalah beberapa langkah dakwah yang dilakukan oleh
Khalifah Ali ibn Abi Thalib.
a) Berupaya menyelesaikan persoalan intern diantara laum muslimin
b) Mengadakan kompromi politis dengan elit politisi
c) Berusaha menjadikan mesjid sebagai tempat menyelesaikan
persoalan (sentral kegiatan)
d) Menampilkan sosok kepemimpinan yang tidak ambisius.
Dari beberapa macam langkah dan metode yang telah dipaparkan
diatas, dapat kita ketahui bahwa metode yang telah dilakukan
khulafa’arrasyidin dalam berdakwah adalah melalui tiga cara berikut.
1. Lisan
Cara berdakwah yang dilakukan khulafa’urrasyidin dengan lisan atau
ucapan antara lain adalah :
a) Metode Ceramah
Metode ceramah metode yang dilakukan untuk menyampaikan
pesan-pesan dakwah dengan cara ceramah yang dilakukan di
masjid-masjid.
b) Metode Tanya-jawab
Metode Tanya-jawab adalah metode yang dilakukan dengan
menggunakan Tanya-jawab untuk mengetahui sejauh mana ingatan
dakwah, disamping itu juga untuk merangsang perhatian mad’u.
Seorang mad’u juga dapat mengajukan pertanyaan kepada seorang
da’i tentang materi yang belum dikuasai oleh mad’u, sehingga akan
terjadi suatu hubungan timbal balik antara da’i dan, mad’u.
c) Metode Konseling
Pada masa khulafaurrasyidin, para Khalifah mengajarkan secara
langsung cara membaca Al-quran, tata cara berwudhu’, shalat dan
cara-cara yang lainya dalam hal apapun yang di rasa belum di
ketahui oleh ummat.
d) Metode Diskusi
Misalnya, Abu Bakar, beliau berdiskusi dengan Chyrus, pemimipin
Romawi dan terjadi kesempatan untuk berdamai .
e) Metode Propaganda
Didalam proses dakwah pasti terdapat unsur propaganda, guna
untuk mempengaruhi seorang mad’u.
2. Tulisan
Cara berdakwah yang dilakukan khulafa’urrasyidin dengan tulisan
antara lain adalah :
a) Metode Karya Tulis
Metode karya tulis dengan dikumpulkannya lembaran-lembaran
sebagai mushaf, dan pada masa khalifah Utsman bin Affan
b) Metode Korespondensi
Sebelum para da’i dikirim ke daerah-daerah yang akan di
dakwahi, terlebih dahulu dikirim surat sebagai pengantar.
3. Perbuatan
Cara berdakwah yang dilakukan khulafa’urrasyidin dengan perbuatan
antara lain adalah :
a) Metode Missi (Bi’tsah)
Penyebaran Agama Islam ke berbagai wilayah dilakukan dengan
cara mengutus para da’i. Apabila ada yang menentang atau
memberontak maka dilakukan peperangan atau jihad.
b) Metode Ekspansi
Penyebaran Agama Islam dilakukan dengan cara ekspansi atau
perluasan wilayah. Ekspansi yang dilakukan meliputi kawasan
Syiria dan Palestina, Irak dan Persia, Mesir, Khurasan, Armenia,
Afrika Utara.
c) Metode Kelembagaan
Pada masa khalifah umar bin khatab sudah mampu mengatur dalam
sebuah kelembagaan yang di sebut Baitul Mal yang berfungsi
sebagai tempat penyimpanan harta kekayaan Negara.
d) Metode Keteladanan
Para khulafa’urrasyidin memiliki sifat yang cerdik, pandai, adil,
e) Metode Silaturahim
Pada masa khulafa’urrasyidin, para khalifah berkunjung ke
daerah-daerah kekuasaanya untuk mengetahui
perkembangannya.
4. Macam-Macam Metode Dakwah a. Bi al-Hikmah
Kata hikmah sering kali diterjemahkan dalam pengertian
bijaksana, yaitu suatu pendekatan sedemikian rupa sehingga pihak
objek dakwah mampu melaksanakan apa yang didakwahkan atas
kemauannya sendiri, tidak ada paksaan, konflik maupun rasa tertekan.
Dalam bahasa komunikasi disebut sebagai frame of reference, field of reference dan field of experience, yaitu situasi total yang mempengaruhui sikap pihak komunikan.19
Hikmah merupakan suatu metode pendekatan komunikasi yang
dilaksanakan atas dasar persuasif. Karena dakwah bertumpu pada
orentasi kemanusiaan maka konsekuensi logisnya adalah pengakuan
dan penghargaan pada hak-hak yang bersifat demokratis, agar fungsi
dakwah yang utama bisa bersifat informatif, sebagai mana ketentuan
Alquran:
19
Artinya: “Maka berilah peringatan, karena Sesungguhnya engkau (Muhammad) hanyalah pemberi peringatan. Engkau bukanlah orang yang berkuasa atas mereka”. (QS. Al-Ghasiyyah:21-22).20
Jadi, hikmah adalah mengajak manusia menuju jalan Allah
tidak terbatas pada perkataan lembut, memberi semangat, sabar,
ramah, dan lapang dada, tetapi juga tidak melakukan sesuatu yang
melebihi ukurannya, dengan kata lain harus bisa menempatkan
sesuatu pada tempatnya.
b. Mau’izhotul Hasanah
Mau’izhatul hasanah atau nasehat yang baik, maksudnya
adalah memberikan nasehat kepada orang lain dengan cara baik, yaitu
petunjuk-petunjuk ke arah kebaikan dengan menggunakan bahasa
yang baik, dapat diterima, berkenan di hati menyentuh perasaan, lurus
di fikiran, menghindari sikap kasar tidak mencari atau menyebut
kesalahan audience sehingga pihak objek dakwah dengan rela hati dan
atas kesadarannya dapat mengikuti ajaran yang disampaikan oleh
pihak subjek dakwah.21 Jadi dakwah bukanlah sebagai propaganda.
Sedangkan menurut Ali Aziz, maui’izhah hasanah adalah
menyampaikan pesan dakwah atau nasehat-nasehat yang baik dengan
cara yang dapat diterima oleh mitra dakwah.22
Seorang dai harus mampu menyesuaikan dan mengarahkan
pesan dakwahnya sesuai dengan tingkat berfikir dan lingkup
20
Mushaf al-Azhar, Al-Quran dan Terjemahnya, (Bandung: CV Penerbit Hilal, 2010) hal 592
21
Siti Muriah, Metode Dakwah Kontemporer (Yogyakarta: Mitra Pustaka, 2000) h 43
22
pengalaman dari objek dakwahnya, agar tujuan dakwah sebagai
ikhtiar untuk mengaktualisasikan nilai-nilai ajaran Islam kedalam
kehidupan pribadi atau masyarakat dapat terwujud. Sesuai dengan
atsar sahabat Ali bin Abi Thalib Ra.:
اخ
اْ بط
ساَ لا
لع
رْ ق
ْم لْ قع
“Berbicaralah kamu dengan manusia sesuai dengan kadar kemampuannya.”23
c. Mujadalah
Mujadalah adalah berdiskusi dengan cara yang baik dari
cara-cara berdiskusi yang ada.24
Mujadalah merupakan jalan cara terakhir yang digunakan
untuk berdakwah yang digunakan untuk orang-orang yang taraf
pemikirannya cukup maju dan kritis seperti ahli kitab yang memang
telah memiliki bekal agama dari para utusan sebelumnya. Oleh karena
itu, Alquran telah memberikan perhatian khusus kepada ahli kitab,
yaitu melarang berdebat dengan mereka kecuali dengan cara terbaik.
Firman Allah SWT:
Artinya: “Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang baik, kecuali dengan orang-orang yang zalim di antara mereka”. (QS. Al-Ankabut:46).25
23
Fuad Syaifuddin Zuhri, An Ubaedi, Mahfudzhat, Bunga Rampai Peribahasa Arab,cet 1
(Jakarta: Rene Asia Publika, 2011)h 78 24
Siti Muriah, Metode Dakwah Kontemporer (Yogyakarta: Mitra Pustaka, 2000) h 48
25
Dari ayat tersebut, kaum muslimin (terutama juru dakwah)
dianjurkan agar berdebat dengan cara yang baik, sopan santun dan
lemah lembut kecuali jika mereka telah memperlihatkan keangkuhan
dan kedzaliman yang keluar dari batas kewajaran.
Selain tiga metode tersebut masih banyak metode yang dipakai
oleh para Dai untuk menyiarkan dakwah secara Islamiyah seperti
dakwah lisaan, dakwah qalaam, dakwah hal, dakwah bil-jidaal, dakwah bil-yad, dakwah bil-hikmah, dakwah bil-maal, dakwah bil-rihlah, dakwah bil-hijrah, dakwah bil-nikah, dakwah bil-qalbi dan dakwah bil-qitaal.26
a. Dakwah bil-Lisan
Metode dakwah dengan lisan (bil-lisan), maksudnya yaitu berdakwah dengan menggunakan kata-kata yang lemah-lembut
yang dapat difahami oleh mad’u, bukan dengan kata-kata yang
keras dan menyakitkan hati.
Rasulullah mengajarkan dakwah ini ketika beliau
berkewajiban menjelaskan pokok-pokok dan intisari ajaran Islam
kepada umatnya. ( kaum muslimin) melalui dialog (Tanya jawab)
dan khutbah yang berisi nasehat dan fatwa. Selain itu beliau
mengajarkan kepada para sahabatnya, setiap kali turunnya wahyu
26
Sulhawi Rubba, Dakwah Bi Al-Nikah Metodologi Islamisasi Ala Indonesiawi (Surabaya: Garisi,
yang dibawa Malaikat Jibril, yang kemudian dihafalkan dan ditulis
di pelepah kurma.27
b. Dakwah bil-Qalam
Yaitu berdakwah dengan menggunakan keterampilan tulis
menulis berupa artikel atau naskah yang kemudian dimuat di
dalam majalah atau surat kabar, brosur, buletin, buku dan
sebagainya. Dakwah seperti ini mempunyai kelebihan yaitu dapat
dimanfaatkan dalam waktu yang lebih lama serta lebih luas
jangkauannya, disamping itu juga dapat dipelajari secara
mendalam dan berulang-ulang.
Ketika kita melihat teladan kita, Rasulullah Saw. Beliau
memberikan contoh dalam dakwah ini. pada saat beliau melakukan
Islamisasi via tulisan kepada para raja dan penguasa wilayah lain
disekitarnya, seperti mengirimkan surat ke raja Persia, Abruwaiz
bin Harmizan dan Hiraclius penguasa raja romawi. Surat-surat
beliau yang berisi ajakan masuk Islam yang dikirimkannya ke
beberapa tokoh penguasa wilayah disekitarnya, sebagian ada yang
diterima dengan baik (masuk Islam) dan sebagian ada yang ditolak,
seperti yang diterima raja persia.
c. Dakwah bil-Hal
Yakni dakwah yang dilakukan dengan berbagai kegiatan
yang langsung menyentuh kepada masyarakat sebagai objek
27
Sulhawi Rubba, Dakwah Bil- Rihlah Metodologi Islamisasi dan Indonesiawi (Surabaya:
dakwah dengan karya subjek dakwah. Seperti bergotong royong
memperbaiki jalan atau jembatan yang rusak.
d. Dakwah bil-Jidal
Yaitu berdakwah dengan cara berdebat, tukar pikiran, tukar
argumentasi dengan cara yang baik dan tolong menolong dalam hal
mencapai kebenaran. Bukan malah menganggap musuh atau lawan
kepada peserta mujadalah atau diskusi (mad’u).
Sebagai contoh ketika Rasulullah Saw juga mengajak
orang-orang kafir, penganut agama Yahudi dan Nasrani untuk tukar
pikiran tentang masalah akidah yang benar.28
e. Dakwah bil-Yad
Dakwah bil-yad, tangan disini bisa difahami secara tekstual
terkait dengan bentuk kemungkaran yang dihadapinya, tetapi juga
bisa difahami dengan kekuasaan atau power, dan metode dengan
kekuasaan sangat efektif apabila dilakukan oleh penguasa yang
berjiwa dakwah.
Rasulullah melakukan dakwah ini ketika melakukan
Islamisasi via politik. Dengan melalui proses musyawaroh kepada
semua golongan penduduk yatsrib, dibuatlah sebuah kesepakatan
bersama yang hasilnya dinamakan dengan ‘’Piagam Madinah’’.
Piagam tersebut adalah undang-undang dasar berdirinya sebuah
Negara Islam yang tertulis pertama kali di dunia. Dalam Negara
28
Sulhawi Rubba, Dakwah Bil- Rihlah Metodologi Islamisasi dan Indonesiawi (Surabaya:
Madinah tersebut, yang berstatus kepala Negara adalah
Muhammad bin Abdullah. Dengan itu beliau bukan hanya sebagai
Nabi dan Rasul saja, tetapi punya jabatan kenegaraan sebagai
kaisar atau presiden.29
f. Dakwah bil-Hikmah
Menurut Syech Muhammad al-Nawawi al-Jawi dalam tafsirya mengakatakan bahwa hikmah adalah argument yang
membuahkan kebenaran tanpa ada keraguan, kesangsian, dan
kelemahan.30
g. Dakwah bil-Maal
Yaitu berdakwah dengan menggunakan harta atau ekonomi
sebagai materi dakwahnya. Adapun yang termasuk kedalam dakwah
bil maal ini adalah seperti pemberian bantuan dana kepada korban
bencana alam.
Sebagai contoh ketika Rasulullah Saw melakukan Islamisasi
via sodakoh. Tercatat dalam sejarah, beberapa orang sahabat yang
berstatus sebagai budak yang dimerdekakan Nabi, seperti Bilal yang
dikenal tokoh Muadzin panggilan sholat. Beliau mengajak para
sahabat yang termasuk agnia (hartawan) untuk menyantuni anak
29
Sulhawi Rubba, Dakwah Bil- Rihlah Metodologi Islamisasi dan Indonesiawi (Surabaya:
Lisanalam Press, 2010) h 19 30
yatim dan memberi makan para duafa (para fakir miskin, orang-orang yang dalam perjalanan (musafir), mualaf dll). 31
h. Dakwah bil-Rihlah
Yaitu berdakwah melalui kegiatan wisata religius, seperti
ziarah, umrah, haji dan lain sebagainya.
Sebagai contoh ketika Rasulullah Saw beberapa kali
mengajak para sahabat dimadinah untuk melaksanakan umrah ke
mekah dan manasik haji ke arafah.
i. Dakwah bil-Hijrah
Yaitu berdakwah dengan cara yang telah diajarkan oleh
Rasulullah, yaitu berpindah dari Makkah ke Madinah. Dalam
konteks bil-hijrah sekarang ini bisa dilakukan melalui transmigrasi,
imigrasi dan lain sebagainya.
j. Dakwah bil-Nikah
Dakwah bil-Nikah yaitu dakwah Islam yang dilakukan
dengan melalui sistem pembentukan dan pembinaan keluarga
muslim yang sakinah. Dari hasil pernikahan tersebut, lahirlah anak
cucu mereka yang berstatus sebagai muslim, kemudian setelah
balig, mereka nikah lagi dengan sesama muslim.32
Sebagai bukti ketika Rasulullah Saw melakukan dakwah ini,
yaitu Nabi menikahi putri para sahabat dan para janda yang
31
Sulhawi Rubba, Dakwah Bil- Rihlah Metodologi Islamisasi dan Indonesiawi (Surabaya:
Lisanalam Press, 2010) h 20 32
Sulhawi Rubba, Dakwah Bi Al-Nikah Metodologi Islamisasi Ala Indonesiawi (Surabaya: Garisi,
ditinggal wafat suaminya yang mati shahid di medan perang dalam
jihad fisabilillah dan semata-mata dengan tujuan mencari Ridho
Allah SWT dan mengayomi mereka semua dengan adanya unsur
dakwah.33
k. Dakwah bil-Qalbi
Yang dimaksud dengan dakwah bil-Qalbi adalah dalam berdakwah hendaknya hati tetap ikhlas dan tetap mencintai mad’u
dengan tulus. Apabila suatu saat mad’u atau objek dakwah
menolak pesan dakwah yang disampaikan atau bahkan
mencemooh, mengejek, memusuhi dan menbencinya, maka hati
dai tetap sabar tidak boleh membalas dengan kebencian, tetapi
sebaliknya tetap mencintai objek dan dengan ikhlas hati hendaknya
mendoakan mad’u supaya mendapat hidayah dari Allah.
Sebagai contoh ketika Rasulullah Saw selalu berdoa kepada
Allah SWT agar umat manusia masuk kedalam Islam, agama yang
diridhoi oleh Allah SWT. Metode dakwah dengan tata cara berdoa
ini disebut dengan metode dakwah bil-qalbi.34 Sebagaimana surah
Al-Qsshash ayat 56 menerangkannya :