KATA SIAPA SUARA KAUM
MARGINAL TIDAK
BERGUNA ???
FORMASI
YUSUF MURTIONO
POTRET MANFAAT PARTISIPASI SAAT INI
Yu Ngademi terpilih sebagai salah satu delegasi desa untuk mengikuti musrenbangcam, nampak “ngotot” mempertahankan argumentasinya agar usulan desanya terakomodir menjadi prioritas hasil
musrenbangcam dan berhasil
Dengan gaya bahasa khas seorang yang hanya tamat SD akhirnya
terpilih juga menjadi delegasi
kecamatan untuk mengikuti forum SKPD dan Musrenbangkab bidang ekonomi.
Kang Dawal yang juga hanya tamat SD begitu fasih, runtut menjelaskan tahapan proses penyusunan
RPJMDesa dan RKPDesa dihadapan para tamu dari Kutai Kartanegara dan tamu-tamu lain yang
melakukan studi banding perencanaan desa
Mbak Siti Masyirotun yang
awalnya hanya sebatas ibu
rumah tangga, karena
keseriusannya saat menjadi
anggota Pokja Perencanaan
Desa, kini telah menjadi
Perangkat Desa dengan
menduduki peringkat pertama
saat seleksi pengangkatan
Keberanian desa yang didukung sikap kritis
terhadap kinerja kecamatan/kabupaten yang dianggap tidak sesuai, saat ini bukan hal yang tabu dan bahkan berubah menjadi ajang
komunikasi yang setara dan konstruktif. Anggapan kecamatan sebagai atasan desa, perlahan
berubah seiring pengetahuan para elemen di desa terhadap kedudukan desa.
Kebijakan pembangunan di desa yang setiap
tahun dituangkan dalam APBDesa tidak lagi tertutup menjadi dominasi elit yang tercermin dalam bentuk pembangunan fisik (jalan,
jembatan, pagar, dll), namun kebutuhan rakyat miskin telah mendominasi prioritas kebijakan perencanaan dan penganggaran desa setiap
tahunnya. (Bantuan transport untuk siswa dari KK miskin, Bantuan pembelian sepeda, jamban,
bantuan alat kontrasepsi, tambahan makanan bergizi (Balita dan lansia), dan masih banyak kebijakan untuk peningkatan SDM di desa atas anggaran desa)
Program (pengabdian Formasi) Sekolah Desa &
Anggaran (SADAR) sebagai wujud penguatan kapasitas yang pesertanya dari para perangkat desa kini telah menjalar pada 18 kecamatan (dari 26 kecamatan ) atas permintaan dan biaya sendiri dari peserta serta didukung penuh oleh para
Camat
Kebijakan perencanaan & penganggaran desa
tersebut kini telah menjadi sistem dan kewajiban seluruh desa di Kebumen (449 desa), bahkan telah berhasil menjadi nomitor tingkat nasional versi penilaian PNPM-MD. Untuk tingkat provinsi Jateng , nominator 1, 2 dan 3 semuanya dari Kebumen
Banyak konflik didesa,
mulai dari ego antar dukuh/RW/Blok, BPD dengan Kepala Desa, Ketidakpercayaan masyarakat terhadap
pemerintahan dan lembaga desa, sampai pada sikap masa bodoh rakyat
terhadap apapun yang terjadi di desanya, kini telah jauh berubah dan menjadikan desa seakan-akan kembali pada
MENGAPA DEMIKIAN ?
Rakyat mempunyai kesadaran untuk
selalu merasa memiliki dan
bertanggungjawab terhadap segala hal
yang terjadi di desanya.
Rakyat merasa “dimanusiakan” diajak
berembug, bermusyawarah yang
kemudian aspirasi mereka dilindungi
dan diakomodir menjadi bagian
kebijakan perencanaan dan
penganggaran di desa
Para elit dan pemangku kewajiban di
pemerintahan desa secara sadar
memahami hak dan kewajibannya
sebagai pelayan publik di desa bukan
“suruhan, bawahan” kecamatan
ataupun kabupaten
Para penyelenggara pemerintahan
desa merasa nyaman dan tenang
karena terhindar dari pransangka
buruk, konflik berkurang , swadaya
gotong royong bangkit kembali, dll,
seiring dibukanya kran informasi dan
partisipasi seluas-luasnya bagi rakyat
Bagi pemerintah
kecamatan dan
kabupaten yang
memiliki komitmen dan
kesadaran tentang
kemandirian desa,
merasa bangga karena
meringankan beban
tugas yang berat yang
selama ini selalu
diemban untuk
“intervensi,
INI
BUKTI
BUKAN
EKSPLOI
TASI
PERTAMA :
Memperkuat kepercayaan diri para elit pemerintahan dan lembaga desa terhadap kewenangan yang dimiliki melalui fasilitasi / asistensi Peningkatan Kualitas Tata Kelola Pemerintahan Desa Melalui Kebijakan Perencanaan dan Penganggaran Desa yang Pro Poor dan Responsif Gender
KEDUA :
Mendorong penguatan
kapasitas kelompok marginal dan Perempuan melalui
pelibatan aktif baik sebagai tim penyusun kebijakan, peserta aktif pada setiap tahapan proses pengambilan kebijakan dan lewat
pengorganisasian kelompok
KETIGA :
Melakukan advokasi dan pengawalan terbangunnya sistem dan mekanisme pengambilan kebijakan
perencanaan & penganggaran daerah yang mampu
memproteksi dan
mengakomodir aspirasi desa (kuota kecamatan, pagu indikatif kecamatan, kuota kabupaten, pagu indikatif SKPD
KEEMPAT
:
“memanusiakan” yang
“beriktikad dan baik
namun selalu kritis,
keras dan melawan
terhadap kebijakan yang
manipulatif partisipasi.
APA KUNCI
KEBERHASILANNYA ?
• Pemberdayaan masyarakat merupakan bagian dari kepekaan dan
tanggungjawab sosial yang harus dilakukan terus menerus, tidak terbatasi project, dan merasa bagian dari mereka sepenuhnya, terus menerus
membuka ruang-ruang diskusi dan konsisten melakukan pengawalan/ advokasi
• Tidak mudah mengatakan “gagal dan belum berhasil” apa yang sudah dicapai masyarakat, tetapi cermat memberikan informasi keberhasilan meskipun hanya sedikit kepada para elit dan pemangku kewajiban yang lebih atas.
• Lebih mengutamakan diskusi-diskusi informal dan kekeluargaan serta cermat melakukan identifikasi terhadap para aktor baik dari unsur masyarakat miskin, tokoh desa, pemerintahan dan lembaga desa
• Selalu hadir dalam acara – acara di desa, meskipun bukan bagian dari kegiatan program/project.
• Selalu berupaya mengungkap nilai-nilai baik dan buruk yang mereka alami selama menjalani kehidupan sosial kemasyarakatannya di desa dengan maksud membangkitkan optimisme dalam membangun desanya
• Selalu berupaya menjadi mediator yang baik, “penampung aspirasi,
keluhan” dan bukan berperan sebagai “juru selamat/ sok tahu” serta bukan mengambil peran-peran tehnokratis penyelenggara pemerintahan.
BAGAN ALUR MEKANISME
PERENCANAAN & PENGANGGARAN DAERAH
PARTISIPATIF
DI KABUPATEN KEBUMEN
SUARA RAKYAT MISKIN & MARGIN AL SUARA RAKYAT MISKIN & MARGIN AL RPJM DESA RPJMDESA Tahun ke nRKP DESA (th ke 1-5)
RKP DESA Tahun ke n (th ke 1-5)
PRIORITAS SEKALA DESA PRIORITAS SEKALA DESA SEKALA SUPRA DESA SEKALA SUPRA DESA APB DESA APB DESA KUOTA KABUPATE N KUOTA KABUPATE N RENJA KEC KUOTA KECAMATAN RENJA KEC KUOTA KECAMATAN RENJA SKPD ( TOTAL PAGU SKPD ) RENJA SKPD ( TOTAL PAGU
SKPD ) INDIKATIF PAGU SKPD (KUOTA KAB) PAGU INDIKATIF SKPD (KUOTA KAB) MUSRENBAN
GDES RKP DESA
NOVEMBER
MUSRENBAN GDES RKP
DESA NOVEMBER MUSRENBA NG KECAMATAN DESEMBE R MUSRENBA NG KECAMATAN DESEMBE R FORUM SKPD/GAB SKPD FEBRUAR I FORUM SKPD/GAB SKPD FEBRUAR I IMPLEMENTA SI APBD IMPLEMENTA SI APBD KU APBD & PPAS KU APBD
& PPAS (MUSRENBRKPD ANG KABUPATE N) RKPD (MUSRENB ANG KABUPATE N) R/ APBD PRO RAKYAT R/ APBD PRO RAKYAT MUSRENBAN GDES RPJMDes MUSRENBAN GDES RPJMDes MUSYAWARA H APBDESA
DES - JAN
MUSYAWARA H APBDESA DES - JAN
2005 2006 2007 2008 2009 2010 8,630,526,000.00
20,000,000,000.00
33,000,000,000.00
40,000,000,000.00 40,000,000,000.00 40,000,000,000.00
898000000
898000000
TRANSFER KEUANGAN DESA 2005-2010
BAGI HASIL PAJAK & RETRIBUSI DAERAH
15%XBL APBD
15%XBL APBD
12%XBL APBD
KUOTA KECAMATAN
2008-2010
RKPD 2009 RKPD 2010 20110
52,014,000,000.00
38,763,130,000.00
25,060,000,000.00
51,000,000,000.00
35,000,000,000.00
24,000,000,000.00
ASUMSI BELANJA LANGSUNG 2011
APA YANG HARUS
DIHINDARI ?
•
Menampakkan dirinya sebagai orang luar yang siap
membantu menyelesaikan segala persoalan desa dan
masyarakatnya.
•
Mengabaikan peran-peran pemerintahan dan lembaga desa
yang dianggapnya sebagai “biang keladi” terabaikannya
hak-hak rakyat, sehingga menempuh jalan pintas langsung
kepada masyarakat.
•
Terbebani dan selalu dikejar-kejar dengan target yang
sangat ketat dari maenstrem project, bukan menjadi project
sebagai alat/logistik mempercepat keberhasilan gerakan
•
Kebiasaan semakin besar dan tinggi popularitasnya
semakin menjauh dari ikatan dengan basis/komunitas
( selalu ingin cepat menjadi selebritis )
•
Selalu “bernafsu” mengklaim setiap keberhasilan program
PERJALANAN AKHIR YANG HARUS
DICAPAI ?
•
Partisipasi harus berkorelasi positif terhadap
peningkatan kesejahteraan yang dibarengi dengan
penguatan kapasitas rakyat yang termarginalkan.
•
Partisipasi tidak hanya sebatas mengubah
masyarakat dari keadaan “
powerless
” menjadi
“
powerfull
”, tetapi juga menanamkan rasa
memiliki/handarbeni
setiap apa yang menjadi
kesepakatan bersama.
•
Terbangunnya mekanisme dan sistem kebijakan
Mau hadir dan tertawa sudah luar biasa
Apalagi mau pegang mikrofon dan bicara
Pasti sangat super luar biasa