Nilai-Nilai Anti
Korup
si
dalam
P embelaj
aran
INtr'ORMASI:
No.l.
XXXVI.
Th.201t
ISSN:
0126-1650Salam, Redaksi terdapat di dalamnya.
Seperti yang telah disinggung
di
atas, bagian yang sangar penring dalam pembelajaran sejarahadalah rnenggali makna
yang
terkandung dalam setiap peristiwa. Kasus penerapan sistem Tanampaksa
atau korupsi yang terjadidi
China misalnya, peserladidik
dapat mengidentifikasinilai-nilai
yang terdapat atau terkandungdi
dalamnya. Duahal
tersebut dapat ditelusuri pada uraian yang keenam dan ketujuh dari edisiini.
Volumeini
akhimyaditutup
dengantulisan yang
berkaitan dengan peranTI
dalam pengelolaan knowledge.Akhimya,
redaksi mengucapkan terima kasih kepada para penulis yang telah menyumbangkan gagasan dan pemikirannya. Semoga gagasan dan pernikiran yang dituangkan dalam Jurnal Informasivolume
ini
dapat membangun dialog yanglebih
dalam dan dapatdijadikan
r-ujukan dalam mengatasi persoalan-persoalanyang muncul
di
masyarakat.
Selamatrnembaca.
l.
INFORMASI: No.l.
XXXVII.
Th.2011
ISSN:
0126-1650DAFTAR
ISI
Membentuk
Pribadi Mulia Melalui
Pendidikan
Nilai: Studi di
SDMuhammadiyah
BodonYogyakarta
Oleh:
Sudrajal,
I
Integrasi Nilai-Nilai
Anti
Korupsi
dalam Pembelajaran
Ekonomi
di
Sekolah MenengahAtas
Oleh:
Kiromin
Baroroh.
23Di
Seputar
Sejarah danPendidikan
Sejarah Oleh:Aman,
34Keefektifan Model
Connected danIntegrated dalam Pembelajaran
IPS SMPdi Kota Yogyakarta
Oleh:
Idrus,
51Dampak
Penerapan Sistem Tanam Paksa BagiMasyarakat
Oleh: Zulkarnain,
65Korupsi
di China: Perspektif Sejarah
Oleh:
Ririn Darini,
82
-t-4.
5.
6.
7.
8.
Teknologi
KnowledgeManagement: Peran
TI
dalam
pengelolaanKnowledge
Oleh: Mahendra
Adhi
Nugroho,
93Ancaman
CapitalInflow
Keefektifan Mo rlel Con.nected dan Integrated
Palatine,
Illionis: IRVSkylight
Publising. Inc.Masnur
Muslich.
(2007).KTSP
dasar petnahantan dan pengembangan. Jakarta: Bumi Aksara.Moh. Sobri Sutilcr o. (2009). Belaj ar dan pembelaj aran, "upaya lweatifdalam
m ewuj udkan p e mb e I aj ar an y ang b erh as
il.
Bandung: ProspectMuhammad
Nu'man
Sumantri.
(2001).
Menggagas
Pembelajaran Pendidikan IPS. Bandung: Remaja Rosdakarya.Nana Syaodih Sukmadinata. (2008). Pengembangan
kurikulum teori
dan praktek. Bandung: Remaja Rosdakarya.Oemar Hamalik. (2007). Das ar-das ar p engemb angan lrurikulum. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Pusat
Kurikulum.
(2006). Panduan pengembangan IPS terpadu. Sekolah menengahpertantahnodrasah
tsnav,iyah
(SMP/Mls).
Jakarta: Balitbang Depdiknas.Sapriya. (2009). Pendidikan
IPS
konsepdan pembelajaran.
Bandung: Remaja Rosdakarya.Schug,
M.C
&
Baverly Cross.(Maret
1998). The dark sideof
cuniculum
integration in social studies. The Social Studies. Vol. 89. Diambil pada tanggal 20 Agustus 2009 dari http://proquest.umu.com/pqdweb Sugiyanto. Q009). Model-model pembelaj araninovatif.
Surakarta: PanitiaSefiifikasi Guru (PSG) Rayon 13 FKIP
IINS
Surakarla.Trianto.
(2007). Modelpembelajaran
terpadudalam
teori
dan praktek. Jakarta: PustakaZaim
Elmubarok. (2008). Membumikan pendidikannilai:
mengumpulkanyang
terserak, menyambungyang
terputus, dan menyatukanyang
t erc e r a i. Bandung : Alfabeta
Biodata Penulis: Idrus, S.Pd, SH. M.Pd adalali widyaiswara pada Lembaga Penjaminan
Mutu
Pendidikan(LPMP)
Sulawesi Tengahdi
Palu. Sebelurn menjadi widyaiswala (2007), selama 3 tahun sebagai guruIPS
Sejarahdi
SMPN
1Marawola, 8
tahun sebagaiguru
Sejarahdan Tata Negara di
SMAN
1 Marawola, SMAN 2 Dolo, danSMAN
Madani Paiu. Gelar Sarjana Pendidikan Sejarah diperoleh pada tahun1994
dari Universitas TadulakoPalu
densanpredikat
cumlaude,INFORMASI:
No.1.XXXVII.
Th.2011 6:DAMPAK
PENERAPAN SISTEM
TANAM PAKSABAGI
MASYARAKAT
Oleh:
n*o,o,o,f
[t5:lTl'],r"
^t
Abstrak
Tulisan
ini
menjelaskan bahwa sistem tanam paksaadalah
politiJimprialisme
terhadap tanahjajahan yang
dianggap sebagaipolitik
tidal bermoral, tidak humanis, dan tidak dapat dibenarkan dalam situasi apapun Agar tidak salah kaprah ada baiknya kita perlu memahami perbedaanantal
sistemitu
sendiri yang dianggaptidak
dapat dibenarkan, dengan dampal penerapan tanam paksa secarakonkret bagi masyarakat Indonesia khususnyi dipulau
Jawa.Para
peneliti
sejarahjuga
berpendapat bahwa tanam paksa adalal sistem yang revolusioner dan merupakancikal
bakal pembahan tradisi dmasyarakat Jawa. Sistem
ini
bermanfaat karena ekonomi uang telah masulke
desa-desa,yang
kernudian menjadi
penggerakroda
perekonomian tenagaburuh
menjadimurah
dan masyarakat pedesaan mengenal sistenpermodalan sehingga
terjadi
perubahanpola
transaksi daripola
transaks tradisional ke arah pengembangan ekonomi moneter. Sementara penelitiat tentang sistem ekonomi rrasa VOC menunjukkan bahwaproses moneterisas sesungguhnya telah muncul dalam masyarakat Jawa pada masa VOC.Kata kunci : Dampak, Penerapan, Tanam Paksct.
A.
PendahuluanPerang kemerdekaan
Belgia
dan Perang Diponegoro memerlukal biaya cukup besaq dan untuk menutupi anggaranpembiayaan perang tersebur66 Dampak Penerapan Sistem Tanam Paksa Bagi Masyaraka
waktu yang cukup lama dengan cara melibatkan penguasa tradisional Jawa, sehingga penguasa tradisional secara Iangsung rnaupun tidak langsung
juga
ikutmeniklnati
(MT. Kahin dalam SartonoKarlodirdjo,
2002: 126).Kemudian muncul perlayaan, apakah akan tetap terjadi perbedaan perkernbangan
ekonomi
seandainyasistem
Tanam Paksatidak
pemah diterapkan di tanah Jawa ...?. Bagaimanakahjika
sebagai pengganti sistemtanafr
paksa pemerintah
kolonial
Belanda
tetap
menerapkan rencana Van den Boschini
padatahun
1830yakni melanjutkan
arah yang telah digambarkanoleh
Du Bus
sepertiyang
pernahditerapkan
pada tahun 1827...?. Peftanyaan pertayaanini
terasasulit untuk dijawab
karena peristiwa itu belum pemah terjadi dan hanyalah pegandaiaan belaka, tetapi dengan munculnya pertanyaan tersebutpaling
tidak
dapat merenungkan kecenderunganyang
akanterjadi
dalamjangka
panjang,
karena pada dasamya kebijakan tanam paksa yangditerapkan
oleh pernerintahkolonial
sepenuhnya mengakomodir pola-pola sosial dan ekonomi yang sudah ada dalam masyarakat Jawa (Aman,2003: 12).Menurut peneliti sejarah, sistem tanam paksa adalah sebuah
sisten
yang revolusioner dan merupakan cikal bakal atas sebuah perubahan tradsi dalam masyarakat Jawa.Ada
tiga hal
penting yang merupakan dampak dari penerapan tanam paksa yakni, terjadi pembentukan modal, tenagakcrja
yang murah, dan tumbuhnya ekonomi pada masyarakat pedesaan. Sebelumhal
ini
dibahas adabaiknya disajikan
pertimbangan-pertimbangan para penulis sejarah dalam memandang sistem tanam paksa, agar para pembacadapat memperoleh gambaran secara komperhensif .
B.
Penulisan Sejarah Sistem Tanam PaksaPenulisan sejarah
ekonomi
Indonesia abad ke-19, pada dasamya bisa dipisahkan dari sistem tanam paksa yang dilaksanakan oleh penguasakolonial
Belanda sebagai sebuah kebijakankonservatif-kolonialis
dalam rangka neningkatkan eksploitasi di tanah koloni Belanda. Berdasarkan hasil peneljtian dankajian literatur
yang ada, diternukan gambaran yang jeias mengenai pelaksanaan tanam paksa di Indonesia, terutama penerapan tanampaksa di Pulau Jawa. Jika mempelajari secara detil dan mendalam mengenai pelaksanaan tanam paksa
di
Jawa dengan luar Jawa, rnaka dengan sangat mudah ditemukan perbedaan mendasar teiutama vans berhubunsan densanINFORMASI:
No.1.XXXVII.
Th.2011budidaya tanam, kebanyakan mempakan lahan
tidur
yangtjdak
tergar Sementara penggunaan lahan dalam sistem tanam paksadi
pulau
Ja\ budidaya tanaman tidak hanya dilakukan di lahan-lahan tidur, melainkan lahanlahanmilik
petani yang sedianya digunakan untuk tanaman produl, seperti tanaman padi, palawija, tebu, dan sejenisnya.Penelitian-penelitian
pada
abad
ke-19
tentang
sejarah
sosekonomi
di
Indonesia, menunjuklian bahwa pelaksanaan sistem TaniPaksa di daerah-daerah memperlihatkan dampak atau
akibat
yang berbe{beda.
Di
Pulau Jawa, pelaksanaan sistem tersebut telah mendorongkemt
suatu pertumbuhan ekspor yangsignifikan,
di
mana Jawaterlibat
pral,dalam perdagangan
i
temasional. Dengan keterlibatan tersebut, eksiste Jawamenjadi
semakin penting dan perannyamulai
diperhitungkan opemerintah kolonial Belanda, berperannya Jawa dalam lintas makro,
bul
berarti
meningkatkan kesejahteraansignifikan
masyarakatpetani
JarMeskipun
lalu
lintas uang menyenhrh desa-desadi
Jawa yang berdamtr terhadap perubahan sistem subsistensi menjadi sistem ekonomi baru,nar
secara komprehensif masyarakat pertanian Jawa tetap miskin. Sementara pelaksanaan sistem Tanam Paksa
di
luar Jawa, seperli halnyadi
Sumat Barat, telah melahirkan stagnasi ekonomi danpolitik
dalam masyaral;at Perubahansosial dan ekonomi pada
abadke-19
di
Pulau
Jatsebagai daerah utama pelaksanaan sistem Tanam Paksa,
menurut
kaj antropologiyang
digarap olehClifford
Geertz dengan }udtt\Agriculttt
Involution:
The Processof Ecological
Changein
Indonesia tahun
19Geertz menegaskan bahwa eksploitasi kolonial melalui sistem Tanam Pal
di Jawa telah rneiahirkan apa yar,g
disebtt"involusi pertanian",
yang pi gilirannya menciptakan kemiskinan petanidi
tanah Jawa secarasignifik
Sistem budidayatanaman
ekspor pemerintahkolonial
menurut
Geermembawa dampak perubahan sosial dan ekonomi
yang
sangat menco (Geertz,dalan
SuyatnoKarlodirdo,
2003:ix).
Menurut
Sartono
Kartodirdjo dalam kajian
mendalam
tentr "PemberontakanPetani
Banten
1888",
pemberontakan
para
pet merupakan salah satu contoh akibat gangguanpraktik
ekonomi kolon
Kemudian gerakan-gerakan yang berupa resistensi petani Jawa pada alke-19 mau
tidak
mau, sukatidak
suka
harus dikembalikan pada pratr68 Dampak Penerapatr Sisteln Tanaln paksa Bagi Masyaraka
renemukan kata sepakat mengenai kedua
. ada yang berpendapat bahwa sistem
ini
3 telah rnasuk ke desa desa, yang kemudian
ekonomian
pada
tnasyarakat
pedesaan.bersangkutan.
Apabila
teori tersebutdikaji
secara historis, maka resistensidalam
rnasyarakat Indonesia
selalu muncul,
mengingat tekanan
dan penindasandari
penguasayang
terusberlanjut
bahkansampai
sampai sekarang.Setelah memahami
kajian
mengenai pelaksanaan sistem TanamPaksa, maka gambaran yang diperoleh mengenai perskonomian Jawa bahwa
.
sistem ekonomimodern
atat sistem ekonomi uang dan kornoditas ekspor,telah
rnengeksploitasi habis-habisansistern
ekonomi
subsistensi yangmenjadi
basis perekonomian kaumpetani. Eksploitasi ekonomi
modemmelalui
penerapan Tanampaksa
merupakaneksploitasi
yang
bersifatbrutal
dan
mengakibatkan parapetani
Jawa menderitakemiskinan
dan kelaparan berkepanjangan . Teori invorusipertanian
karyaclifford
Geertz yang':renjelaskan proses kemiskinan struktural
di
Jawa disebabkan oleh pertambahan penduduk Jawa, berkurangnya lahan pertanian, dan perluasan perkebunan Eropa menjadi penyebab utama kemiskinandi
Jawa(Clifford
Geertz,1966: 124).
Bila
peneliti
sejarah ingin rnengkaji proses penempan tanam paksa secaraobyektil
detil
dan medalam ada baiknya parapeneliti
memotret daritiga
sudut pandang/tiga tahrpan. yat<r,i:tahap
peflarna.mulai
sejak tahun-tahun 1850-an dan 1860-an/tahap akhir penrapan tanam paksa, d.anberlanjut sampai permulaan
dimurai
r920-an,tahapan kedua dari pe'ulisan-penulisan mengenai Tanam paksa terhitung dari tahun 1920-an sampai akhir kekuasaankolonial
Belanda, dan penulisantahap
ketigadimulai
sesudah kemerdekaan Indonesia dan masih berlanjut sampai sekarang.C.
Cultur
StelselKaitannya
DenganKehidupan
Masyarakat
'''.lag?-m
paksa
tidak bermoral, tidak humanis, dan samasekali
tidak
dapat'-4lq
dalam situasi
apapun.
Sehubungandengan
permasalahan-'+edakan
antara sistem itu sendiri yang dianggap tidak dapat-'.'ak
penerapan tanam paksa secarakonkret
bagiPF
s
*
mu.ti
I
INFORMASI:
No.1.XXXVII.
Th.201i
dalam
cultuur
stelsel pada awalnya bukan berasaldari
orang-orang atau lembaga lembaga Barat, karena Belanda pada saat itu sedang dalam keadaan bangknrt sehingga memerlukan sistem tersebut untuk mendatangkan uang dengan cepat. Sementara permodalan yang digunakan untukpabrik-pabrik
gula yangdikelola pihak
swasta datangnyajustru
dari
berbagaipihak di
Jawasendiri,
seperti halnya para pensiunan pegawai negeri, perusahaan ekspor-impor, dan sudah barang teutu para saudagar Cina yang telah lebih dulumemiiiki
modal yang cukup (VaniNiel,
1988). Jika teori tersebut benar, dapat disirnpulkan bahwa moneterisasi memangtelah
berlangsungjauh
sebelum cultuur stelsel dilerapkan Ini berarti bahwa terhadap ekonomi uang masyarakat pedesaan, sistem tanam paksa tidak begitu banyak berdampak.Sementara
itu M.R.
Fernando danO'Malley
melalui penelitiannya tentang perkebunan kopidi
Cirebon menunjukkan adanya segi-segipositif
dari
penerapancultuur
stelsel
bagi
masyarakat Jawa. Dengan meramu pendapat sejumlah sarjana yang pemahmeneliti
masalahcultuur
stelsel seperti VanNiel,
Lison R.Knaight, dan Fernando, kedua sejarawan tersebut mengungkapkanbahwa:
"...
bukti
sejarah sudahmulai
rremperlihatkan bahwa pertumbuhan pertanian komersial sesudah tahun 1830, pada masaini
ekonomi pedesaan
memiliki
efek rangsangan dengan pola komersialisasi yang mengarah pada peningkatan tarafkehidupan bagi mayoritas penduduk pedesaan, paling tidak selama dasawarsa pertengahan abadke-19"
(Booth,1988:236).
Femando juga mengemukakan bahwa dampak cultuur stelsel adalah:
"cara hidup
keluarga subsistensi secara
berangsur-angsur mengalami perubahanke
arah
matrialistik yang
komersil. Dengan sistem
tersebutpenduduk
pedesaansemakin
terbiasauntuk
membeli berbagai
macam kebutuhanmmah
tangga dengan menggunakan uang.Dampak
ekonomidari
kebiasaan konsumendari
penduduk
pedesaanifu
tercermin
dari meningkatnyaj umlah penduduk yang melakukankegiatan-kegiatan ekonomi non-agraris(Femando,
1991: 3). Tesis Femando tersebut dibenarkanjuga
oleh Sugiyanto Padmo dari Uuniversitas Gadjah Madamelalui
penelitianhistorisnya.
Secaralebih terperinci
Femandojuga
menjelaskan
dalam sebuah tabel yang menunjukkandiversifikasi
pekerjaan masyarakatbaik
agricultuur
mattpttn non- agr icul tuur.'70 Dampak Penerapan Sistem Tanam Paksa Bagi Masyaraka
Tabel I
-Kerja
Di
Jawa Tahun 1880Tani
Manufaktur
PedagangJabar Jateng Jatim
720.532 1103.782
7 41.660
27.628 49.851 45.271
107.855 174.982
'72.896
22.678 34.019 26.023
Jumlah 2565.974 122.270 355.733 82.780
Femando, 1993.
Di
samping apayang
dikemukakan Femando,R.E.
Elson juga
secara khusus rneneliti masalah-masalah kerniskinan dengan mengajukan pertanyaan bahwa apakahcultuur
stelsel menimbulkankemiskinan
atautidak bagi
masyarakat.Elson
juga
mengakui bahwa
masalah tersebut sangat sulit untuk ditetapkan karena ketelbatasan sumber sejarah, temtama mengenai data statistik yang kadang membingungkan.Namun ia
sampaipada tesis bahwa tidak dapat dikat akan apakah cultuttr ,stelsel menimbulkan kemiskinan pada masyarakat Jawa atau
justru
sebaliknya mendatangkan kemakmuran. Akhirnya Elson hanya dapat mengemukakan bahwa: "sistemitu
langsungatau
tidak
langsungpaling tidak
dalarnjangka
pendek,n'remberi peluang-peluang untuk suatu pengelolaan secara lebih mantap bagi kehidupan
ekonomi
pangan sefta membuha kemungkinan-kemungkinan turtuk pertumbuhan masyarakattani, yang
sebelumnyapilihan
hidupnya sangat lerbalas'' (L.lson. 1988).D. Pembentukan
Modal
sebagaidampak
Sistem Tanarn PaksaSebelurn Sistem tanam paksa diperkenalkan pada tahun 1830, orang-orang Eropa telah rnelakukan langkah simpatik dengan cara meninggalkan sistem penyerahan hasil
bumi
dan pengeluaran ongkos secara paksa yang merupakanciri
khasdari
operasiVOC.
Adapun para produsen potensial darikomuditi-komuditi
perlanian yang dapatdi
ekspor, pada tahun-tahun 1830 adalah sebagai berikut.1. Para penduduk desa di
pulau
Jawa yang melguasai tanah-tanah yang dibebani pajak sewa tanah.2.
Para pengusaha perkebunan swasta, terutana orang-orang Eropa yangINFORMASI:
No.1.XXXVII.
Th.20114.
Para
pemilik
tanah
partikelir,
terutama
orang-orangEropa
yamemiliki
hakhak
tuan tanah atas tanah-tanah mereka berikut rak' di atas tanah-tanah itu.Masing-masingprodusenseperti tersebut di atas mengalami kesukar dalam proses penambahan
modal guna
memperluas dan meningkatl' operasinya. Sementara lembaga pennodal€in atau para pengusaha dari oreorang Eropa sebagai satu-satunya jenis modal yang tersedia pada saat
tidak tertarik menanamkan modal di pulau Jawa.
Hal
ini
di
karena merr mempuyai pengalaman buruk dengan perusahaan-perusahaan perkeburmiiik
kolonial, yakni pemah mengalami resiko kerugiaarmya cukup besiDari
empat bentuk pengaturan produksi seperti telah dijelaskan atas, hanyapoin
keduayakni,
para pengusaha perkebunan sreasta yzmengerjakan tanah dan penyewa dari pemerintah dan peraturan-peratu: perburuhan.
Aspek
ini
kelihatannya mempunyai potensiuntuk
mena sefta mendapatkanmodal.
Desadi
Jawa samasekali
di
luar jangkat keterlibatanekonomi dan
tidak menunjukan budi
daya
untuk
ekslDibiarkan
untuk
berbuat sekehendaknya, desa memusatkan perhatiat pada mata pencahariannya sendiri, menghasilkan beras, kantum,nila,
rproduk-
produk
yanglain untuk
kehidupan seharihari, lagi
pula, karr prosedur resmi yang biasa dipakai di Barat mempunyai pengaruh kecil prmasalah pedesaan, maka tidak ada perlindungan bagi para penanam mo<
pengalaman antara
tahun
1815dan
1830 telah memperlihatkan,di
mihasil budi
dayauntuk
diekspor seperti perkebunankopi
diserakkan p:pengawasan desa, penanaman-penanaman
itu
diabaikan atau
dibiarl saja produk-produk untuk ekspor, seperti yang diperoleh selama masa berasal dari para pengusaha perkebunan swasta yang menyewa tanah <tanah bengkok, atau
dari
daerah-daerahdi
mana pelaksanaan serah pa tetap berlaku (VanNiel,
1981).Sistem Tanam Paksa mempunyai tujuan utama
untuk
melangslproduksi
dan ekspordari komoditi-komoditi
pefianianyang
dapat dijdi
pasarandunia.
Pemerintah menyadari
sejak
semula
bahwa
selpengolahan
yang diperlukan oleh
produk-produk
ini,
mungkin
hadikembangkan dengan pemasukan-pemasukan modal yang diusahakan c
[image:6.842.87.463.75.202.2]72 Dampak Penerapan Sistem Tanam Paksa Bagi Masyaraka
Para
kontraktor
pemerintahbukan
saja menerima
modal
yang dibutuhkanuntuk
membangun fasilitas-fasilitasnya, tetapijuga
rnendapat bantuan pemerintah untuk memperoleh batang tebu mentah (raw cane) dan tenaga kerja yang diperlukan. Kontraktor berkewajiban menjual gula yang telah diolah itu kepada pemerintah untuk membayar kembali pinjafirannya, tetapi kelebihanjumlah
gula yang diperluklrn untuk pembayaran kembali pinjaman itu tadi, boleh dijual tersendiri oleh kontraktor demi keuntungannya sendiri.Di
sini
terdapat peluang untuk menghasilkan uang, dalam jangkawaktu
beberapa tahun,nilai
penjualan-kembalikontrak-kontrak gula
ini
meningkat pesat.
Sistem Tanam Paksa
melalui
suntikan modaldari
pemerintah dan melalui penanaman-produk yang berorientasi eksporberimplikasi positip
_yakni mulai munculnya kepercayaan dari para petani bahwa rrereka dapat berkembang, bekerj a lebih efesien dan memperoleh keuntungan cukup besar seandainya pemerintah
tidak ikut
dalam sistem tanam paksa. Kepercayaan diri para petani inilah yang mendorong semangat para petani untuk berjuangdalam
menigkat tarap hidup yang lebih baik sekaligus sebagai awal mula munculnya pengusaha pengusahalokal
di
wilayah
pedesaan dan mereka sudahmulai
rnemahamipaham
tentang menejmen permodalan dalam dunia perdagangan seftamulai
berani melepaskandiri
dari
cengkeraman pemerintahan tradisionalmulai
dari pemimpin desa sampai ke pemimpin diatasnya secara hirarkis.E, Tenaga
Buruh Murah
dalam
Sistem Tanam PaksaDalam budi daya tanam yang berorientasi ekspor, keberadaan buruh
dengan upah murah merupakan kebutuhan utama dalam sistem tanampaksa. Pengawasan terhadap tenaga
buruh pada
abadke-19
merupakan suatu hal yang pentingketimbang
pengawasan terhadap tanah.Sisteri
Tanam Paksa mempekerjakan tenaga buruh dengan menempkan pola tradisionalJawa yang
dapat rnengkondisikan tetap eksistensinya keberadaan buruh terutama buruh di pulau Jawa. Hal demikian dimaksudkan agar para petani menyerahkan sebagianhasil
perkebun.rnnya kepada pejabatyang
lebihtinggi di
lingkungannya secara hirarkis seperti yang telah ditentukan oleh penguasa Hindia Belanda Q.{aessen, 1977); Untuk pekerjaanini
para buruh tidak dibayar, karena pekerjaan tersebut dipandang sebagai suatu pola tataINFORMASI:
No.1.XXXVI.
Th.2011Untuk
memungut pajak, maka desa merupakanunit
yangditunjuk
untu rnengorganisasikarurya,di
sarnping sebagaiunit
penyedia serta penyalt pelayanan tenaga kerja paksa yang tanpa pembayaran. Perubahan-perubahademikian
ditinjau dari
sudut pandangsosial, ekonomi,
maupunpoliti
menimbulkan kesenjangan dan perpecahan dalam masyarakat Jawa karer mereka mengagap ada diskrirninasi perlakuaan sehingga muncul keingina untuk melakukan protes dan perlawanan.
Sebagaimana
VOC
sebelumnya,pemerintah
kolonial
di
Hind: Belanda menganggap dirinya sebagai pengganti raj a-raja Jawa dan menuntr hak istimewa sebagaimana yang diberikan kepada para pejabat bangsa Jauyang
lebih tinggi
kedudukannya.Dalam
hak-hakini
termasukhak
attpelayanan para buruh, seperti yang sebelumnya terjadi untuk membangt sarana dan prasarana seperti pembangunan
jalan-jalan,
benteng, salureirigasi, dan sarana-sarana umum dimana pemerintah membayamya dengt upah yang sangat murah. Kerja paksa yang ditujukan untuk para kepaia del
danjuga atasan-atasan dari bangsa Jawa juga meningkat drastis, kendatipr
pemerintah berwenang mengawasi apakah
terjadi
penyalahgunaz wewenangdi lual
yang ditentukan oleh pemerintah. Harusdiakui
bahv peran dan keberadaan kepala desa sangatpenting dalam rangka menyalurkz tenaga buruh yang tersediauntuk
memungut pajak, sehingga pemerintz tidak dapat berbuat banyak tanpa mereka.Dengan demikian pola-pola
hadisional
harus tetap dipertahanki agar mendapatkan dukungan dari para kepala desa sebagai perpanjangt tangan pemerintah koloniai. Para petani Jawa bekerja di bawah pemerinti kepala desa, dengan menganggap bahwa pekerjaan itu sebagai persembahr tradisionalnya kepada pej abarpej abat yang lebih tinggi. Bahkan pengusah pengusaha perkebunan swasta yang mendapatkan tenaga buruh yang dibr upah,harus
mengembalikannilai
kerja rodi
buruh
tersebut. Ada
pu yang mendapatkan buruh dengan membayarpajak
sebuah desa sehingl mendapatkan hak sebagai tuan besar untuk pelayanan buruh.Setelah
tahun
1830 pemerintah sudahmulai
mengenaikan sistekontrak kerja
terhadap petani dengan pemberian upahyang tidak
begi tinggi. Walaupun sistem upah sudahmulai
diterapkan tapi para petani at kaum buruh masihterikat
dengan hubungan kekembatan tradisional Jar74 Dampak Penerapan Sistem Tanam Paksa Bagi Masyaraka
itu
mereka tetap memandang bahwa bekerja tetap terbatas pada pelayanan wajib kepada penguasa, yang lebihtinggi
dan hams dipenuhinya.Dalam perkembangannya, meningkatnya kebutuhan tenaga bumh,
juga diiringi
dengan meningkatnya praktek-praktek
pemaksaan yang dilakukan oleh para pej abat yang terikat pada pelayanan pemerintah. Seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk dan juga tekanan atas tanah-tanahdi
daerah penanaman pemerintah, maka uang ekstra dari upah makin lama makin penting artinya bagi ketahanan hidup para petani yang lebih miskin. Para penulis tahap pertama banyak memanfaatkan kenyataan, bahwa para penguasa perkebunan dan kontraktor sejak dasawarsa tahun t 840-an ke atasmengatakan bahwa buruh upah bekerja
lebih baik
dan efisien ketimbang buruh-buruh paksa.Hal
ini
dapatditerirra
mengingat tanggung jawabnya sebagai buruh harus tetap dijaga agar tetap dipercaya sebagai buruh yang dibayar. Sementarabagr mereka bumh yang tidak dibayar, makatidak
ada ikatan formal, sehingga tidak mengutakan pelayanan kerja yang baik.Namun
demikian,
pada
tahun
1850-an,
usaha-usahauntuk
memasukkanburuh tani ke
dalam daerah yang biasanya dikerjakan oleh buruh rodi, hanrs ditinggalkan, karena tidak ada kaurn buruh yang bersedia bekerja dengantingkat
upah yangdijanjikan
oleh pemerintah. Sebagian besar petani Jawatidak
belajar menghargai pekerjaan sebagai alat untuk mencapai tujuan,melaintan
tetap memandang pekerjaan mereka sebagai beban yang harusdipikul
dan menjadi derita kesehariannya. Penarnbahanjumlah
kerja paksa yang sangat memberatkandi
selumh daerah penduduk yang lebih luas, mungkin membuka mata para petani, mengenai teknik dan cara-cara bekerja di suatu perkebunan.Pada
tahun
1860-andan
1870-an,para
pengusaha perkebunan swastamulai
mengadakanperjanjian
perburarhandan perjanjian
tanah dengan perorangan dan desa-desa, sangat nyata bahwa sistem Tanam Paksa tidak berkontribusi banyak untuk mempersi apkan cara bagi pembentukan pasaran buruh yang bebas dan sukarela. Namunsebaliklya,
sistem Tanam Paksatelah
menyebabkan penilaianyang negatif bagi
pekerjaan karenamemberikan korrpensasi
atau ganti Lugi
serendahmungkin.
Dengan menemskan penggunaanpola-pola
kekuasaanhadisional
sistem TanamPaksa juga menciptakan kebutuhan akan penghasilan tambahan
di
daerall-daerah di mana penanaman ekspor dapat berkembang. Bagi para pengusaha
INFORMASI:
No.1.XXXVI.
Th.2011masalah dalam rangka menari-k dan menahan tenaga kerja.
Para pencari tenaga kerja diberikan pada otoritas tradisional, yz
para kepala desa dan tokoh-tokoh pesgusaha lainnya, mereka memberi u rnuka terlebih dahulu untuk menarik tenaga kerja, namun demikian masi
yang muncul
adalahburuh
seringkali
tidak
masuk
kerja
sebagaimtercantum
dalam kontrak
kerja. Dengan derrikian,
berbagai
teka terhadap buruh yang dianggap lalai mereka gunakan. Sementara pengad resmi berlangsung lambat dan tidak memadai, lebihefektif
memanpaat orang-orangkuat untuk
memaksa parapekerja.
Bahkan kadang-kadpara
pengusaha perkebunan dapatmembujuk para pejabat
adminisl untuk membanfu dan rnemaksa.Me4ielang tahun 1880-an, tekanan pertumbuhan penduduk men
jelas
denganbelkurangnya lahan
garapanyang
tersedia,dan
sematerbatasnya kemampuan desa untuk menyiapkan kebutuhan pokok merr
sehingga banyak orang yang harus mencari tambahan penghidupan
di
desa mereka. Pada saat yang sama berjangkitlah hama tebu dankopi
y mengakibatkan penurunan drastis hasil tanarnan ehspor. Padahal pendusudah
mulai
menggantungkan
hidupnya
di
perkebunan-perkebu tersebut, sehingga dengan berkurangnyaproduksi
kopi
dan
gu1a,n
upah yang
diterimakan kepada pendudukjuga
sernakin belkurang.itu
masih ditambah dengan munculnya gulabit
dari Eropa yang berprdalam
menurunkan hargagula
di
pasarandunia
intemasional menu Dampaknya para pengusaha perkebunan menurunkantingkat upah
Ipara buruh,
dan mengurangi pulajumlah
uanguntuk
penyewaan talFaktor-faktor
yang kompleks tersebut mengakibatkanpenurunan
jur
uang yang tersedia bagi masyarakat lawa,yatg
berdampak pada harus kesediaan yang lebih besar dari masyarakat, untuk menerima upah br dengan harga dan syarat-syarat yang sebelumnya tidak dapat mereka ter (Elson, 1982).Penelitian-penelitian
yang muncul
selamaini
khususnya tenl kesejahteraan masyarakat pedesaan Jawa cenderung rnendukung gagzbahwa, di Jawa selama penerapan sistern Tanam Paksa berlangsung terdr
lebih
banyak
kekayaanmated
ketimbang
dengantahun-tahun
sesu76 Dampak Penerapan Sistem Tanam Paksa Bagi Masyaraka
SisIem
mcah
masihberlaku pada
1830,dan
lambatlaun
sisterrcacah
dlhapus o'leh Van den Bosch karena setelahtahun
1838tidak
adalagi rujukan
dengansistem
tersebut.Alasannya cukup
je1as,di
mana untuk pengadaan tenaga kerja sebanyak-banyaknya maka perlu diterapkan pelayankerja
berdasarkan perorangan,bukan
atas dasarnrmah
tangga. Dampaknya, banyak orang yangterlibat
dalarn pelayanan tanamm paksa tidak lagi rrempunyai hak atas tanah. Banyak desa merasa perlu melakukan penyesuaian dengan menyerahkan hak penggunaan sebidang tanah kepada beberapaorang
sehingga tenaga
mereka dapat
diikutsertakan dalatr
pengaturan kerja yang dibutuhkan oleh sistem Tanam Paksa.F.
PerubahanEkonomi
PedesaanPelaksanaan
sistem Tanam
Paksadalam prakteknya
mengikutipola
tradisional yang berlaku dalam
masyarakat Jawa, sehingga dapat menggerakan para petani di daerah-daerah tertentu agar mau bekerja dalam menghasilkan tanamanuntuk
ekspor. Harapan pemerintah adalah dengan menggunakan otoritas kepala desa, dapat menggerakan penduduk untuk mau menyerahkan sebagian tanahuntuk
kepentingan tanam paksa, dan juga mau bekerja untuk tanaman ekspor. Sikap ini juga dimaksudkan untuk mengkondisikan agar masyarakat Jawa tetap statis.Kenyataannya
hal
tersebuttidak
terjadi
karena dampak ekonomisistem
tersebut
justru
telah
menggerakan perubahan-perubahan dan mempercepat kecenderungan-kecenderunganyang
sudah ada. Poia-pola tradisional kalangan atas di tingkat desa sudah kocar-kacir pada permulaanabad ke-19 sehingga sistem Tanam Paksa hanya dapat menggunakan
pola-pola
itu
dengan cata-cara yangtidak
rasional dan alamiah. Tokoh-tokoh penguasa mengalami tekanan-tekanan yang sernakin berat karena tuntutan-tunfutan sistem tersebut terhadap mereka.Sistem Tanam Paksa dianggap telah mengubah hak-hak
pemilikan
tanah darimilik
perseorangan menjadimilik
bersama, yang tentunya telah merusak hak-hak perseorangan atas tanahyang sebelumnya
sudah ada.Hak-hak pemilikan tanah merupakan kepentingan subjektif bagi
kelompok-kelompok
pengusaha swastayang
hendak mengganti sistem
tersebut dengan bentuk ekspioitasi mereka sendiri. SementaraFumival
dan Burger merupakanpenulis vang fanatik
mendukung
kecenderunsan tersebut,INFORMASI:
No.l.
XXXVI.
Th. 2011sistem Tanam Paksa, mereka mendapati bahwa telah terjadi homogenisasi sosial di desa-desa Jawa yang mengakibatkan "kemiskinan bersama".
Jauh sebelum sistem Tanam Paksa dilaksanakan,
kaum
tanl lawa
telah
menyesuaikan
diri
secarapleksibel
pada
kebutuhan-kebutuhanseternpat, tempat di mana mereka berada. Sifat-sifat seperti bersedia bekerj a
keras, kemampuan perorangan, dan penyesuaian kepada perubahan, serupa dengan apa
yang
telah dikemukakanoleh Selo
Soemardjan padatahun-tahun
1960-an(Selo
Soemardjan, 1968). Para pengusahadi
atas tingkat desa mengetahui semuanyaitu, lalu
mengolahnya secaraterinci
dengan parakepala
cacah mereka,yang
oleh
Hoadley,
yang meneliti
wilayah
Cirebon dan Priangan, dipandang sebagai abdi-abdi para penguasa yanglebih
tinggi.
Penyesuaian demikian -memungkinkanpara kepala
di
atastingkat
desa memenuhi kebutuhan pemerintah akan hasil-hasil pertanian dan tenaga buruh, sambiljuga
memenuhi kebutuhan mereka sendiri yang rneningkat akan tenaga buruh, serta akan lahan penanaman yang lebih luas.Di
bawah pengarahan mereka, pemakaian lahan yang tersedia dapatdiatur
dan penyesuaian-penyesuaian dapat diadakan. Hak-hak
milik
atau hak-hak pengawasan atas lahan beradadi
tangan para kepala cacah dan golongan elite lokal lainnya.Berdasarkan kenyataan sistem agraris ini, maka sistem Tanam Paksa diperkenalkan
pada
tahun
1830.Tujuannya
adalahuntuk
mendapatkankomoditi-komoditi yang
dapatdijual
di
pasaran dunia, danuntuk
tujuan tersebut sistem Tanatr Paksa memakai lahan dan tenaga kerja dari orang-orang desadi
Jawayang
dibujuk
atau dipaksaoleh
para kepaladi
atastingkat desa.
I{al
tersebut harus dilakukan dalam batas-batas sistem Sewa Tanah (VanNiel,
1964).Akhir-akhir
ini
penelitian sejarah
mengetengahkan informasi mengenaiapa yang terjadi
di
desa-desa sesudahtahun
1830,
ketika pemerintahmulai
meny'usun pola-polaproduksi baru, informasi
tersebut mernberikaninterpretasi
yang
berbeda atas kej adian-kejadian,
berbeda dengan apayang telah
dikemukakandalam
tulisan-tu1isan sebelumnya.Bukti-bukti
fisik
dari
Cirebon, Pekalongan, Jepara, dan Pasurran, semua daerahdimana
penanamanuntuk
pemerintah
telah -diperkenalkan, danmemperlihatkan
bahwa kepernirrpinan desa
telah
berhasil nenarik
Dampak Penerapan Sistem Tanam Paksa Bagi Masyaraka
bagi mereka untuk melakukan penyesuaian-penyesuaian ke dalam. Dengan
cara demikian,
mereka mendapatkan keuntunganberlipat
ganda, yakni memenuhi kebutuhan-kebutuhan pemerintah di satu pihak, dan menjadikandirinya
makmur dari hasil pembayaran yang masuk ke desadi lain
pihak. Kewenangan pendistribusiannya sangat tergantungdari
kehendak para pemimpin tradisional.'
Da1am prakteknya, tidak semua desa mengadakan reaksi yang sama,tidak
semuaperatuan
penanaman sama, dantidak
semua perubahanitu
terjadi pada waktu yang bersamaan (Femando, 1982). Jika diamati secara mendalam, maka penelitian-penelitian yang baru memberikan penjelasan-penjelasanyang
lebih
dapat dipahami,ketimbang
terhadap pandangan-pandangan lama tentang pengaturan-pengaturan rumah tangga desa di Jawa sekarang. Dengan menggunakan istilah yang lebih sederhana, maka desa-desadi
Jawa masakini
menunjukkan perbedaan sosialyang
tegas sertariil
antara penduduk desa yang kaya dengan penduduk desa yang miskin. Mereka padaumunnya
tidak
memperlihatkan pemerataantingkat
sosial maupun homogenitas sosial, yang disangka telah disebabkan oleh penempan sistern Tanam Paksa, berdasarkan tulisan-tulisan sejarah sosial sebelumnya.Di
sampingitu,
desa-desa masakini
juga menunjukkan suatu kohesi yang kuat, sesuatu yang biasanyatidak
akan dilukiskan sebagai suatu pengaruh disintegrasi yang terasa kemudian.Bagi pengamat Barat terutama pada akhir abad ke-19, penguasaan bersama yang semakin meningkat
dari pemilikan
lahanitu
secara sosiai merusak ketertiban desa.Kondisi
tersebut menimbulkan kesukaran bagi pengatuan kontrak-kontrak perorangan unfuk menyewa tanah atau lahan. Sementara pengaturan penguasaan bersama seringkalitidak
meliputi
hak penuh atas lahan tersebut, hanya terbatas pada penggunaannya danjuga
sama atas hasilnya. Para pemimpin desa, yang hampir tidak pemah secara langsung menggarap lahan, dapat mempertahanftanpengawasan sepenuhnya atas sebagian besar lahanlahan pedesaan te$ebut. Pengafuran-pengaturankonttak
dalam berbagaibentuk yang
luas, tersediabagi
mereka dalam mempertahankan apayang telah
merekamiliki,
sementara membiarkan orang lain menjalankan pekerjaandi
ladang atau di mana saja.Para
petani
kecil
yang mandiri, yang bukan
merupakan bagiandari
lingkaran dalam
desaitu
atauyang telah melawan
kemauan paraINFORMASI:
No.1.XXXVI.
Th. 2011desa, karena mereka
di
manapun
selalu bekerjauntuk
oranglain.
Oleh sebabitu
penguasaan-penguasaan bersatna tersebut tarnpak seolah-olah menghilangkan perbedaan-perbedaan sosialdi
desa, meskipun sebenamyatidaklah
demikian.
Begitu
juga
keadaantersebut
tidak
menimbulkan kesulitan yang berarti bagi para pengusaha perkebunan swasta yaugingin
menyewa lahan-lahan pedesaan. Dalam halini,
sekali lagi biasanya kepaladesa menguasai keadaan dan sesuatu persetujuan selalu dapat dicapai.
Dalam struktur
golongan sosial danekonomi
desaini,
peralihan tidak secara keseluruhan mengubah ikatan yang menyatukan desa sebagai suatu kesatuan sosialdan
sebagai suatuunit
yang
produktif.
Meskipun para penduduk desa memahami perbedaan-perbedaan sosial dan ekonomi,desa
juga
tetap merupakan pusat sistem penghidupanbagi
sebagian besar penduduk. Benaq orang-orang berpindah ke kota dan mendapat pekerjaan bukanjenis perlanian, sedangkan yang lainJain menggabungkandiri
dengan perusahaan-perusahaan yang bergerakdi
bidang
ekspor.Tetapi
sebagian besar orang Jawa, tinggaldi
desanya. Bahkan sebagiandari
mereka yang tampaknya sama sekali terpisah, memelihara ikatan dengan desanya dalam berbagaicara.
Pengaturanyang
sedikit
banyaknyabersifat
gandaini,
temyata merupakan salah satu batu-batu fondasi dari cara pengaturan tenaga buruh murah yang menguntungkan bagi sektor ekspor dari perekonomian.Perangkat desa mengumpulkan dan mengelola penyediaan tenaga
buruh
murah
ini,
harus
mempertahankanikatan-ikatan
dan
hubungan-hubungan tradisional agar dapat memenuhi fungsi yang tidak dihapuskanini
dengan cara mengubah buruh-paksa menjadi buruh yang diberi upah, sebabtingkat upah yang rendah tergantung pada simbiose yang berkesinambungan antara ekspor swasta dengan ekonomi pedesaan. Dalam konteks inilah para
pemirnpin
desa harus membangundan
memperluas kekuasaan mereka. Kenyataan-kenyataanitu
tidak
menyebabkanmereka menjadi
petanimandiri
yang berorientasi pada pasar, walaupun dalam bidangini
mereka memang rnelakukanfungsi-fungsi
sebagai perantara.Mereka
tidak
dapat mengabaikan hubungan-hubuugan sosial desa, karena desalah satu-satunya yang merupakan tumpuan mereka sebagai basis kelembagaan yang tunggal untuk memperoleh kekuasaan dan kekayaan yang berkesinambungan.80 Dampak Penerapan Sistem Tanarr Paksa Bagi Masyaraka
di
sisi lain
mereka dituntutuntuk
tunduk
pada para kepala desa sebagai pemirnpin tradisional mereka. Tidak heran apabila ketika terjadi resistensi yang dilak-ukan oleh masyarakat yang memsa terlindas, rnaka yang paling pertamamenjadi
sasaran adalah parapemirnpin
tradisional.
Fenomenaini
dapatdifaharni
rnengingat merehalah para pemimpin tradisional yang dirasa secara langsung melakukanpolitik
eksploitasi terhadap rakyat,baik
berkenaan dengan masalah tanah, maupun yang berhubungan dengan tenaga kerja.G.
Penutup
Dalam
pembangunanekonorni
dewasa
ini,
tampaknya
perlumenimba
pengalaman-pengalamanmasa lampau, misalnya,
bagaimana sistem ekonomi modem mempunyai dampakbaik positif
maupunnegatif
terhadap sistem ekonomi subsistensi. Sumbangan pemikiran sejarah dalam kajian ekonomi Indonesia abad ke-19 dapat memberikan sebagianjawaban untuk kepentingan yang berarti pada masa sekarang. Demikianlah, sej arah akan menemukan kegunaannyamelaiui tiga
dimensi waktu
yakni
masa lampau, masa sekarang, dan masa yang akan datang. Konsepsiini
sangat relevan dengan terminologiAllan Nevin
yang menegaskan bahwa sejarah adalah jembatan penghubung antara masa lampau, masa sekarang, dansebagai petunjuk arah ke masa depan. Sej arah dalam bentuknya yang seperti
apa punjuga, hendaknya j anganlah dianggap hanya sebagai kenangan masa lalu yang tiada guna, melainkan menjadikannya suatu peristiwa bermakna bagi kehidupan
riil
umat manusia.Tidak
salahlagi
bahwa sistem Tanam Paksayang
diterapkandi
Hindia
Belandatelah
mendatangkan perubahansosial
masyarakatbaik
secara makro maupun mikro. Sistem Tanarn Paksa merupakan penghisapan dan pemerasan secara brutal yang
dikelola
oleh orang-orang yang tamak dan haus akan kekuasaan, yangnilai-nilainya
dibentuk oleh latar belakang kebudayaanmasing-masing.
Sistem Tanam
Paksa meqjalankan suatutipu
muslihat
pada lingkungan sosio-ekonomi secaralebih
canggih
danrumit.
Dalam
membahas sistem Tanam paksa, akanlebih
komprehensif apabiladikaji
tidak secara tradisional, agar berbagai aspek yang menyertai dilaksanakannya sistem dapat teungkap. Karenajika
tidak, maka gambaran-,a-r- r^-: ^.:^a^* :-i +:,1^1, ^l-^- l:+--,,1.^- \T4-,,n ,tah;1.i'n canoro fiil qiqlelr
INFORMASI:
No.1.XXXVII.
Th. 2011Daftar
Pustaka
Anne Booth,
William
J.O'Malley, Anna
Weidemann(ed),
1988. Sejara) Ekonomis Indonesla. Jakarta: LP3ES.Ardiansyah, Syamsul. Cultuur Procenteen.
Hutagalung,
8.R.,
Batig Slootdari
Cultuurstelsel
Monopoli Perdagangai Opium oleh Pemerintah India-Belanda-Robert
Van
Niel,
1992.Java
(Jnderthe
Cultivation
System: Collecte' lVritings. Leiden:KITLV
Press.R.E.
Elson,
1978. TheCultivation
Systemand
'Agricultural Involution
Melbourne : Monash UniversitY.C.
Fasseur, 1975.Kultuurstelsel
en Koloniale Baten: De
NederlandsExploitatie
Van Java 1840-1860. Leiden:University
PressWikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.
Biodata Penulis:
Zulkamain. Lahir di
Sumbawa Besaq 9Agustus
1972Menamatkan Pendidikan 52 Pendidikan Sejarah
Univ.
Jakarta. Saiini
sebagai tenaga pengajar pada Program Studi Pendidikan SejaraFISE
UniversitasNegeri
Yogyakarta dan mengampu mata kuliaSej arah Ketatanegaraan.