• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kajian Karakteristik Tanah Typic Hapludults Pada Berbagai Generasi Tanam Kelapa Sawit Pt Socfin Indonesia Di Kebun Aek Loba Kabupaten Asahan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Kajian Karakteristik Tanah Typic Hapludults Pada Berbagai Generasi Tanam Kelapa Sawit Pt Socfin Indonesia Di Kebun Aek Loba Kabupaten Asahan"

Copied!
38
0
0

Teks penuh

(1)

TINJAUAN PUSTAKA

Taksonomi Tanaman Kelapa Sawit

Divisi : Tracheophyita

Sub Divisi : Pteropsida

Kelas : Angiospermae

Sub Kelas : Monocotyledoneae

Ordo : Cocoideae

Famili : Palmae

Sub Famili : Cocoideae

Genus : Elaeis

Spesies : Elaeis guineensis Jacq. Sumber : Lubis (2008)

Kata Elaeis berasal dari kata Elaion (Yunani) yang berarti ‘minyak’. Kata guineensis berasal dari kata Guinea (Pantai Barat Afrika), sedangkan ‘Jacq’ adalah seorang botanis Amerika yang memberi nama kelapa sawit tersebut yang umum dikenal sampai sekarang (Mangoensoekarjo, 2007). Genus Elaeis terdiri atas dua species yaitu E. guineensis Jacq. yang dikenal sebagai kelapa sawit dari Afrika dan E. oleifera Cortez. yang dikenal juga dengan kelapa sawit asal Amerika Latin (Hartley, 1988; Rival et al, 1998; Pamin, 1998).

(2)

Ekofisiologi Kelapa Sawit

Pengaruh lingkungan terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman kelapa sawit terjadi melalui proses fisiologi. Pada kondisi ketersediaan air yang cukup tanaman kelapa sawit dapat tumbuh dan berproduksi dengan optimal, namun hal tersebut dapat terganggu jika tanaman berada pada kondisi tercekam atau ketersediaan air tidak mencukupi untuk menjalankan proses metabolismenya.

Habitat asli kelapa sawit adalah daerah semak belukar. Sawit dapat tumbuh baik di daerah tropis (4° LU - 4° LS), ketinggian 0-500 m dari permukaan laut dengan kelembaban 80-90%. Sawit memerlukan iklim dengan distribusi curah hujan merata sepanjang tahun dengan total 2000 - 3000 mm per tahun, yakni daerah yang tidak tergenang air pada waktu hujan serta tak kekeringan waktu kemarau. Pola curah hujan tahunan dapat mengubah tingkah laku pembungaan serta produksi buah sawit (Mangoensoekarjo, 2007).

Tanaman kelapa sawit tergolong ke dalam tanaman xerophyte yang dapat beradaptasi dengan kondisi air yang kurang, walaupun demikian tanaman tetap akan mengalami gejala stres air pada saat musim kemarau yang berkepanjangan (Mahamooth et al, 2008). Kebutuhan air pada tanaman kelapa sawit pada dasarnya berbeda dalam setiap fase pertumbuhannya (Turner dan Gillbanks, 2003). Tanaman kelapa sawit bukanlah tanaman yang rakus air seperti yang sering dikampanyekan secara negatif oleh beberapa pihak. Doonrebos dan Pruitt (1977) melaporkan kebutuhan air tanaman kelapa sawit yang dibandingkan dengan tanaman perkebunan lain.

(3)

Tabel 1. Kebutuhan air pada beberapa tanaman

Kebutuhan Air Tanaman

mm/hari mm/bulan mm/tahun Kelapa sawit 4,10-4,65 123-139,5 1476-1674

Kakao 2,22-3,33 66,6-99,9 800-1200

Kopi 2,22-3,33 66,6-99,9 800-1200

Deciduous trees 1,94-2,91 58,2-87,3 700-1050

Tebu 2,77-4,16 83,1-124,8 1000-1500

Alfalfa 1,66-4,16 49,8-124,8 600-1500

Alpukat 1,80-2,77 54-83,1 650-1000

Pisang 1,94-4,72 58,2-141,6 700-1700

Padi 4,16-7,91 124-237,3 1500-2850*

Jagung 3,33-6,25 99,9-188,7 1200-2250*

Kedelai 3,75-6,87 112,5-206,1 1350-2475*

Sumber :diolah dari Doonrebosand Pruitt (1977) *) dalam tiga musim tanam

(4)

diungkapkan oleh Cha-um (2010) bahwa kandungan klorofil di daun akan mengalami penurunan secara drastis ketika tanaman mengalami stress air, Cha-um (2010) menyimpulkan bahwa potensi osmotik pada bibit tanaman kelapa sawit yang mengalami defisit air menurun pada jaringan daun maupun pada jaringan akar, sehingga memacu kerusakan pigmen fotosintesis (klorofil) dan memperkecil kemampuan fotosintesis dan menghambat pertumbuhan tanaman.

Pengaruh cekaman air terhadap produksi ditandai dengan terjadinya aborsi infloresensi betina (tandan buah) dan menurunnya seks rasio sehingga menyebabkan produksi bunga betina menurun dan berdampak pada penurunan produksi TBS secara bertahap seiring dengan makin tingginya tingkat defisit air. Penurunan produksi tertinggi mencapai lebih dari 40% terjadi pada kondisi cekaman air akibat defisit air antara 400-500 mm/tahun.

(5)

tunggal menjadi bentuk gumpal, sehingga meningkatkan derajat struktur dan ukuran agregat atau meningkatkan kelas struktur dari halus menjadi sedang atau kasar (Scholes et al., 1994). Bahkan bahan organik dapat mengubah tanah yang semula tidak berstruktur (pejal) dapat membentuk struktur yang baik atau remah, dengan derajat struktur yang sedang hingga kuat.

(6)

Tabel 2. Parameter kuantitatif dari jenis akar yang berbeda di kelapa sawit (dewasa) tahap budidaya lapangan

Fase

sumber : Jourdan and Rey,1997

(7)

Tabel 3. Rata-rata panjang (m) zona percabangan apikal dengan distribusi untuk berbagai tipe akar pada umur kelapa sawit 10 tahun.

Length Unbranched Apical Zone (LUAZ) (cm) Mean (m)

Tipe Akar

Minimum (d) ± standard deviation (σ) Maximum (n)

Probability (p)

RI H 4.0 12.0 ± 2.3 18.0 0.57

RI VD 3.0 10.0 ± 2.5 16.0 0.54

RII H 1.0 3.0 ± 1.8 6.0 0.46

RII VU 1.0 3.5 ± 1.5 7.0 0.47

RII VD 1.0 3.1 ± 1.9 7.0 0.37

sRIII 0.5 1.6 ± 0.6 4.0 0.35

dRIII 0.5 1.5 ± 0.5 4.0 0.30

RIV Tidak

bercabang

sumber : Jourdan and Rey,1997

RI VD : akar vertikal utama RI H : akar horizontal utama RII H : akar horizontal sekunder

RII VU : akar vertikal sekunder tumbuh ke atas

RII VD : akar vertikal sekunder yang tumbuh ke bawah sRIII : akar dangkal

dRIII : akar dalam

(8)

Profil Tanah

Tanah adalah akumulasi tubuh alam bebas, menduduki sebagian besar permukaan planet bumi yang mampu menumbuhkan tumbuhan, dan memiliki sifat sebagai akibat pengaruh iklim dan jasad hidup yang bertindak terhadap bahan induk dalam keadaan relief tertentu selama jangka waktu tertentu (Darmawidjaya, 1997).

Tanah menurut Soil Taxonomy (Soil Survey Staff, 2014) adalah tubuh alam bebas yang terdiri atas bahan padat (bahan mineral dan bahan organik), air dan udara yang ditemukan di permukaan bumi, yang dicirikan oleh salah satu atau kedua sifat berikut: (a) mempunyai horizon-horizon atau lapisan tanah sebagai hasil dari proses penambahan, pengurangan, pemindahan dan juga perubahan bahan dan energi dan/atau (b) mempunyai kemampuan menopang pertumbuhan dan perakaran tanaman dalam lingkungan alami.

Profil tanah merupakan irisan vertikal tanah dari lapisan paling atas hingga ke bebatuan induk tanah, yang biasanya terdiri atas horizon-horison O-A-E-B-C-R. Empat lapisan teratas yang masih dipengaruhi cuaca disebut solum tanah, horison O-A disebut lapisan tanah atas dan horison E-B disebut lapisan tanah bawah (Hanafiah, 2005).

(9)

sisa tanaman tidak terlihat lagi. Horizon A di permukaan tanah yang terdiri atas campuran bahan organik dan bahan mineral berwarna lebih gelap dari pada horizon di bawahnya. Horizon E terjadi pencucian maksimum terhadap liat, Fe, Al, dan bahan organik. Horizon B tempat terakumulasinya bahan-bahan yang tercuci dari harison diatasnya. Horizon C yaitu suatu bahan induk sedikit terlapuk, sehingga lunak dapat ditembus akar tanaman. Horizon R suatu batuan keras yang belum lapuk, tidak dapat di tembus akar tanaman (Hardjowigeno, 2001)

Karakteristik Fisik Tanah

Solum Tanah

Solum tanah adalah tanah yang berkembang secara genetis oleh gaya genesa tanah artinya lapisan tanah mineral dari atas sampai sedikit dibawah batas horizon C (Darmawidjaya, 1997). Solum tanah ini berperan penting dalam usaha pertanian jangka panjang yang berkelanjutan (sustainable agriculture). Lapisan olah yakni pada ketebalan 0-30 cm mempunyai arti yang sangat penting, karena mengandung berbagai bahan bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman seperti bahan-bahan organic (humus) dan berbagai zat hara mineral. Selain itu, pada lapisan tanah tersebut hidup mikroflora dan mikrofauna atau jasad renik biologis (seperti bakteri, cacing tanah, berbagai serangga tanah) yang masing-masing dapat menguntungkan dan menyuburkan tanah (Kartasapoetra, 1990).

Struktur tanah

(10)

penyusunan butir-butir primer tanah ke dalam butir-butir majemuk/agregat- agregat yang satu sama lainya dibatasi oleh bidang-bidang belah alami. Yang termasuk struktur mikro yaitu :

 Kondisi remah-lepas, terlihat dengan jelas (tanpa alat bantu) keadaannya

tampak cerai berai, mudah digusur, didorong ke tempat yang dikehendaki.

 Kondisi remah-sedang, tanah yang demikian kondisinya cenderung tampak

agak bergumpal, susunan lapisan-lapisan tanah tampak ada yang dalam keadaan agregasi atau bergumpal dan terdapat pula porus yang berlubang-lubang, memudahkan aliran air menerobos menyerap ke dalam lapisan-lapisan tanah sebelah bawah. Keadaan yang demikian tidak begitu menyulitkan bagi pengolahan tanah untuk kepentingan usahatani ataupun bagi pekerjaan pemindahan tanah (Kartasapoetra, dkk, 1987)

Beberapa hal yang menentukan sifat fisik tanah adalah tekstur, struktur, konsistensi, permeabilitas, ketebalan lapisan tanah dan kedalaman permukaan air tanah. Secara ideal tanaman kelapa sawit menghendaki tanah yang gembur, subur, mempunyai solum yang dalam tanpa lapisan padat, tekstur mengandung liat dan debu 25-30%, serta berdrainase baik (Setyamidjaja, 1992).

(11)

Tekstur tanah

Tekstur tanah menunjukkan perbandingan butir-butir pasir (2 mm - 50),

debu (50-2) dan liat (<2) di dalam tanah.

Tabel 4. Deskrispsi kelas tekstur tanah No Kelas Tekstur Sifat Tanah

1. Pasir (S) Sangat kasar sekali, tidak membentuk gulungan, serta tidak melekat.

2. Pasir berlempung (LS)

Sangat kasar, membentuk bola yang mudah sekali hancur, serta agak melekat.

3. Lempung berpasir (SL)

Agak kasar, membentuk bola yang mudah sekali hancur,serta agak melekat.

4. Lempung (L) Rasa tidak kasar dan tidak licin, membentuk bola teguh, dapat sedikit digulung dengan permukaan mengkilat, dan melekat.

5. Lempung berdebu (SiL)

Licin, membentuk bola teguh, dapat sedikit digulung dengan permukaan mengkilat, serta agak melekat.

6. Debu (Si) Rasa licin sekali, membentuk bola teguh, dapat sedikit digulung dengan permukaan mengkilat, serta agak melekat.

7. Lempung berliat (CL) Rasa agak kasar, membentuk bola agak teguh (lembab), membentuk gulungan tapi mudah hancur, serta agak melekat.

8. Lempung liat berpasir (SCL)

Rasa kasar agak jelas, membentuk bola agak teguh (lembab), membentuk gulungan tetapi mudah hancur, serta melekat.

9. Lempung liat berdebu (SiCL)

Rasa licin jelas, membentuk bola teguh, gulungan mengkilat, melekat.

10. Liat berpasir (SC) Rasa licin agak kasar, membentuk bola dalam keadaan kering sukar dipilin, mudah digulung, serta melekat.

11. Liat berdebu (SiC) Rasa agak licin, membentuk bola dalam keadaan kering sukar dipilin, mudah digulung, serta melekat.

12. Liat (C) Rasa berat, membentuk bola sempurna, bila kering sangat keras, basah sangat melekat.

(12)

Di dalam segitiga tekstur terdapat 12 kelas tekstur didalamnya yaitu pasir, pasir berlempung, lempung berpasir, lempung, lempung berdebu, debu, lempung liat, lempung liat berpasir, lempung liat berdebu, liat berpasir, liat berdebu, dan liat. Apabila di samping kelas tekstur tersebut tanah mengandung kerikil (>2mm) sebanyak 20-50% maka tanah disebut berkerikil, dan sebagainya. Bila kandungan kerikil lebih dari 50% disebut sangat berkerikil (Hardjowigeno, 1993). Secara ideal tanaman kelapa sawit menghendaki tanah yang gembur, subur, mempunyai solum yang dalam tanpa lapisan padat, tekstur liat dan debu 25-30 %, serta berdrainase baik (Setyamidjaja, 1992).

Konsistensi tanah

Menunjukan kekuatan daya kohesi butir tanah atau daya adhesi butir-butir tanah dengan benda lain. Hal ini ditunjukan oleh daya tahan tanah terhadap gaya dari luar. Penyifatan konsistensi tanah harus disesuaikan dengan kandungan air dari tanah yaitu apakah tanah dalam keadaan basah, lembab atau kering (Hardjowigeno, 1993).

Kadar Air

(13)

adhesi. Kadar air tersedia yaitu, selisih kadar air pada kapasitas lapang dengan kadar air pada titik layu permanen.

Bobot Isi (Bulk Density)

Bulk density adalah perbandingan antara berat tanah kering dengan volume tanah, termasuk volume pori-pori tanah. Satuan bulk density dinyatakan dalam gr.cm-3. Makin tinggi bobot isi, makin padat tanah dan makin sulit meneruskan air atau ditembus akar tanaman (Hardjowigeno, 1995).

Karakteristik Kimia Tanah

Kapasitas tukar kation (KTK)

KTK didefenisikan sebagai kapasitas tanah untuk menjerap dan mempertukarkan kation. KTK biasanya dinyatakan dalam miliekivalen per 100 gram tanah. Kation yang berbeda dapat mempunyai kemampuan yang berbeda untuk menukar kation yang dijerap. Jumlah yang dijerap sering tidak setara dengan yang ditukarkan. Ion-ion divalent biasanya diikat lebih kuat dari pada ion- ion monovalen, sehingga sulit untuk dipertukarkan (Tan, 1998).

pH tanah

(14)

sekitar 6,5 tersedianya unsur hara dinyatakan paling baik. Pada pH dibawah 6,0 unsur P, Ca, Mg, Mo ketersediaannya kurang, pada pH dibawah 4,0 ketersediaan unsur makro dan Mo dinyatakan buruk sekali, pada pH rendah ketersediaan Al, Fe, Mn, Bo akan meningkat, yang dapat menyebabkan keracunan bagi tanaman (Sutedjo dan Kartasapoetra, 1991).

Tanaman sawit dapat tumbuh dengan baik pada tanah yang memiliki kemasaman (pH) 5-6 tidak lebih tinggi dari 7 serta tidak lebih rendah dari 4, paling tidak pada kedalaman 1 meter. Hal itu disebabkan terbatasnya ketersediaan hara ada pH tinggi dan efek racun dari Mn dan Fe pada pH rendah. Pada umumnya hara mudah diserap akar tanaman pada pH tanah sekitar netral, karena pada pH tersebut kebanyakan hara mudah larut dalam air. Pada tanah masam P tidak dapat diserap tanaman karena diikat (difiksasi) oleh Al, sedang pada tanah alkalis P juga tidak dapat diserap tanaman karena difiksasi oleh Ca. (Hardjowigeno, 1995).

(15)

Penilaian Sifat Kimia Tanah

Untuk penilaian sifat kimia tanah dapat mengacu pada Tabel 5. Tabel 5. Kriteria penilaian sifat kimia tanah

Sangat

Sifat Tanah Sangat

Rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat

Kejenuhan basa menunjukan perbandingan antara jumlah kation-kation basa dengan jumlah semua kation (kation basa dan kation asam) yang terdapat dalam kompleks jerapan tanah. Jumlah maksimum kation yang dapat dijerap tanah menunjukan besamya nilai kapasitas tukar kation tanah tersebut.

(16)

Kation-kation basa umumnya merupakan hara yang diperlukan tanaman. Di samping itu basa-basa umumnya mudah tercuci sehingga dengan kejenuhan basa tinggi menunjukan bahwa tanah tersebut belum banyak mengalami pencucian dan merupakan tanah yang subur (Hardjowigeno, 1993).

Terdapat korelasi positif antara persen kejenuhan basa dan pH tanah. Umumnya, terlihat bahwa kejenuhan basa tinggi jika pH tanah tinggi. Oleh karena itu, tanah-tanah daerah iklim kering (arid) biasanya mempunyai kejenuhan basa yang lebih tinggi daripada tanah-tanah di daerah iklim basah. Kejenuhan basa yang rendah berarti terdapat banyak ion H+ (Tan, 1998). Hanafiah (2005) menyatakan bahwa pengapuran karbonat (CaCO3) menghasilkan ion-ion hidroksil yang mengikat kation-kation asam (H dan Al) pada koloid tanah menjadi inaktif, sehingga pH naik. Situs muatan negatif koloid digantikan oleh kation basa (Ca), sehingga kejenuhan basa meningkat pula.

C-Organik

Kandungan C organik dalam tanah dapat ditentukan dengan metoda pembakaran kering atau pembakaran basah. Pembakaran kering dilakukan dengan membakar contoh tanah, kemudian mengukur CO2 yang dilepaskan. Hasilnya

(17)

Black). Hasilnya lebih bersifat semi-kuantitatif, tetapi dapat dilakukan lebih cepat dan sederhana (Hardjowigeno, 1993).

Kandungan hara

Tanaman mengabsorpsi unsur hara dalam bentuk ion yang terdapat di sekitar daerah perakaran. Unsur-unsur ini harus berada dalam bentuk tersedia dan dalam konsentrasi optimum bagi pertumbuhan. Selanjutnya unsur-unsur tersebut harus berada dalam suatu keseimbangan. Hingga sekarang telah dikenal 16 macam unsur hara esensial bagi tanaman. Suatu unsur hara dikatakan esensial bila kekurangan unsur tersebut dapat menghambat dan mengganggu pertumbuhan baik vegetatif maupun generatif, kekurangan unsur tersebut tidak dapat diganti oleh unsur lain dan unsur tesebut harus secara lansung terlibat dalam hara tanaman.

Berdasarkan kebutuhannya bagi tanaman maka ke enam belas unsur hara esensial tersebut dapat dibagi dalam dua kelompok, yaitu kelompok unsur hara makro dan kelompok unsur hara mikro. Unsur hara makro relatif lebih banyak digunakan/ dibutuhkan bahkan dapat mencapai lebih dari 100 kg untuk setiap hektar. Sedangkan unsur hara mikro dibutuhkan dalam jumlah lebih sedikit (Hakim, dkk, 1986).

(18)

ketersediaan dan keseimbangan faktor unsur hara didalam tanah. Kelapa sawit dapat tumbuh pada pH antara 4.0 - 6.5, sedangkan pH optimum adalah 5.0 - 5.5 menurut Setyamidjaja (1992) atau 5 - 6 menurut Hardjowigeno, et al (2001).

Kejenuhan Al

Al dalam bentuk dapat ditukarkan (Al-dd) umumnya terdapat pada tanah-tanah yang bersifat masam dengan pH < 5,0. Aluminium ini sangat aktif karena berbentuk Al3+ monomer yang sangat merugikan dengan meracuni tanaman atau mengikat fosfor. Oleh karena itu untuk mengukur sejauh mana pengaruh Al ini perlu ditetapkan kejenuhannya. Semakin tinggi kejenuhan aluminium, akan semakin besar bahaya meracun terhadap tanaman.

Kandungan aluminium dapat tukar (Al3+) mempengaruhi jumlah bahan kapur yang diperlukan untuk meningkatkan kemasaman tanah dan produktivitas tanah. Kadar aluminium sangat berhubungan dengan pH tanah. Semakin rendah pH tanah, maka semakin tinggi aluminium yang dapat dipertukarkan dan sebaliknya. Disamping kadar aluminium yang dapat dipertukarkan, pengaruh jelek aluminium diukur dengan derajat penjenuhan aluminium yang dinyatakan dengan:

(19)

keracunan aluminium menghambat perpanjangan dan pertumbuhan akar primer, serta menghalangi pembentukan akar lateral dan bulu akar. Apabila pertumbuhan akar terganggu, serapan hara dan pembentukan senyawa organik tersebut akan terganggu. Sistem perakaran yang terganggu akan mengakibatkan tidak efisiennya akar menyerap unsur hara.

Jenis Tanah Typic Hapludult

(20)

Order (Ultisols)

Suborder (Udults)

Great Group (Hapludults)

Subgroup (Typic Hapludults)

Family (Clayey, Kaolinitic)

Series (Ala2 dan Ksk2 Series)

(21)

dan menentukan sub kelompok Vertic. Typic Hapludults adalah dari batas yang sangat besar di Timur dan Tenggara Amerika Serikat. Vegetasi alami terdiri atas tanaman hutan. Lereng berkisar dari tingkat hampir curam. Dimana lereng cocok, banyak dari tanah ini digunakan sebagai lahan pertanian. Banyak dari tanah, terutama mereka yang curam, digunakan sebagai hutan. Beberapa digunakan sebagai padang rumput atau homesites (Soil Survey Staff, 2014). Typic Hapludults

adalah Hapludults lain, dimana:

1. Tidak memiliki, di subhorizon apapun dalam 60 cm atas horison argilik, redoks depletions dengan nilai warna, lembab, 4 atau lebih dan chroma dari 2 atau kurang, disertai dengan konsentrasi redoks dan dengan kondisi aquic; 2. Dalam tahun normal tidak jenuh dengan air di setiap lapisan dalam 100 cm

dari permukaan tanah mineral untuk salah satu atau kedua: a. Sebuah. 20 hari atau lebih berturut-turut; atau

b. 30 hari atau lebih kumulatif;

3. Tidak memiliki berpasir atau pasir-skeletal partikel-ukuran kelas di seluruh lapisan memanjang dari permukaan tanah mineral ke atas cakrawala argilik pada kedalaman 50 cm atau lebih;

4. Punya horizon argilik tebal lebih dari 25 cm;

5. Memiliki nilai warna, lembab, 4 atau lebih atau nilai, kering, dari 6 atau lebih, bila diremas dan merapikan, dalam Ap cakrawala 18 cm atau lebih tebal dan di setiap lapisan permukaan setelah pencampuran dari 18 cm atas ;

(22)

7. Punya horizon argilik yang lebih halus daripada berpasir partikel-ukuran kelas di beberapa bagian dari 75 cm atas jika horizon argilik tebal lebih dari 75 cm atau sebagian saja jika horizon argilik tebal kurang dari 75 cm;

8. Tidak memiliki baik:

a. Celah dalam 125 cm dari permukaan tanah mineral yang 5 mm atau lebih luas melalui ketebalan 30 cm atau lebih untuk beberapa waktu di tahun normal, dan slickensides atau agregat berbentuk baji di lapisan 15 cm atau lebih tebal yang memiliki nya atas batas dalam 125 cm dari permukaan tanah mineral; atau

b. Sebuah diperpanjang linear dari 6,0 cm atau lebih antara permukaan tanah mineral dan baik kedalaman 100 cm atau densic, litik, atau kontak paralithic, mana yang dangkal;

9. Punya horizon argilik yang memenuhi satu pun dari hal-hal berikut: a. Seluruhnya terdiri atas lamellae; atau

b. Adalah kombinasi dari dua atau lebih lamellae dan satu atau lebih subhorizons dengan ketebalan 7,5 sampai 20 cm, setiap lapisan dengan horizon eluvial atasnya; atau

c. Terdiri atas satu atau lebih sub horizon yang lebih dari 20 cm tebal, masing-masing dengan horizon eluvial atasnya, dan di atas cakrawala ini ada baik:

(23)

ii. Kombinasi lamellae (yang mungkin atau mungkin tidak menjadi bagian dari horizon argilik) dan satu atau lebih bagian dari cakrawala argilik tebal 7,5-20 cm, masing-masing dengan horizon eluvial atasnya; dan

10. Memiliki sifat-sifat tanah fragic:

a. Dalam waktu kurang dari 30 persen dari volume semua lapisan 15 cm atau lebih tebal yang memiliki batas atas dalam 100 cm dari permukaan tanah mineral; dan

b. Dalam waktu kurang dari 60 persen dari volume semua lapisan 15 cm atau lebih tebal.

Total mikrobia tanah

Pengamatan dan perhitungan mikrobia dapat dilakukan secara individual maupun secara kelompok dalam bentuk koloni. Bila mikrobia yang ditumbuhkan dalam medium yang tidak cair, maka akan terjadi suatu kelompok yang dinamakan koloni. Bentuk koloni berbeda-beda untuk setiap spesies, dan bentuk tersebut merupakan cirri khas bagi suatu spesies tertentu. Prinsip dari metode hitungan cawan adalah menumbuhkan sel mikrobia yang masih hidup pada media agar, sehingga sel mikrobia tersebut akan berkembang biak dan membentuk koloni yang dapat dilihat langsung dengan mata tanpa menggunakan mikroskop (Waluyo, 2007).

(24)

membantu untuk memperoleh perhitungan jumlah mikrobia tanah yang benar. Namun pengenceran yang terlalu tinggi akan menghasilkan lempengan agar dengan jumlah koloni yang umumnya relatif rendah (Hadioetomo, 1990).

Pengenceran dilakukan agar setelah inkubasi, koloni mikrobia yang terbentuk pada cawan tersebut dalam jumlah yang dapat dihitung. Dimana jumlah terbaik adalah antara 30 sampai 300 sel mikrobia per ml, per gr, atau per cm permukaan (Fardiaz, 1992). Prinsip pengenceran adalah menurunkan jumlah koloni mikrobia, sehingga makin banyak jumlah pengenceran yang dilakukan, makin sedikit jumlah koloni mikrobia yang dihitung (Waluyo, 2007). Untuk perhitungan jumlah total populasi mikrobia tanah digunakan satuan CFU (Colony Forming Unit).

CFU = jumlah koloni x faktor pengenceran.

Jumlah total mikrobia yang terdapat di dalam tanah digunakan sebagai indeks kesuburan tanah tanpa mempertimbangkan hal-hal lain. Tanah yang subur mengandung banyak mikrobia tanah karena populasi yang tinggi menggambarkan adanya suplai makanan dan energy yang cukup, serta kondisi ekologi lain yang mendukung perkembangan mikroorganisme tanah tersebut. Dengan kata lain, untuk mengetahui tingkat kesuburan tanah dapat dilakukan dengan melihat jumlah populasi mikrobia tanah yang ada.

Bahan Induk Tanah

(25)

dari tempat lain sebagai akibat proses transportasi oleh angin dan air. Menurut Jenny (1994) bahan induk adalah keadaan tanah pada waktu nol (time zero) dari proses pembentukan tanah. Melalui proses pelapukan, batuan berubah menjadi bahan induk, dan dengan adanya proses pelapukan lebih lanjut serta proses-proses pembentukan tanah lain, bahan induk berubah menjadi tanah dalam waktu yang lama.

Bahan induk merupakan bahan geologi yang mendasari (umumnya batuan dasar atau deposito atau drift dangkal) di mana tanah cakrawala bentuk. Tanah biasanya mewarisi banyak struktur dan mineral dari bahan induk mereka, dan, dengan demikian, seringkali digolongkan berdasarkan isi bahan mineral konsolidasi atau tidak dikonsolidasi yang telah mengalami tingkat pelapukan fisik atau kimia dan mode dimana bahan yang paling baru diangkut.

Pengaruh bahan induk terhadap pembentukan tanah ditentukan oleh: a. Sifat kristalin (beku, sedimen, malihan)

b. Tekstur (kasar, sedang, halus) c. Komposisi mineral

d. Tingkat kemantapan

Dalam proses pembentukan tanah terdapat bahan induk yang menyusun pembentukan tanah. Jenis-jenis bahan induk tersebut adalah sebagai berikut:

Batuan

(26)

atau lebih. Berdasarkan cara terbentuknya batuan dapat dibedakan menjadi 3 jenis batuan, yaitu beku, batuan endapan dan batuan malihan.

 Batuan Beku

Batuan beku atau batuan vulkanik terbentuk oleh magma yang berasal dari letusan gunung berapi, batuan beku atau batuan vulkanik terdiri atas mineral yang tinggi dan banyak mengandung unsur hara tanaman. Di Indonesia batuan vulkanik memegang peranan yang lebih penting, hal ini di sebabkan karena gunung berapi tersebar dimana-mana, dan karena letusan gunung berapi yang menghasilkan batuan vulkanik yang menyebabkan kesuburan tanah. Selain atas dasar terjadinya batuan vulkanik juga dapat dibagi atas dasar kandungan kadar SiO2 nya menjadi tiga golongan, yaitu, batuan asam yang berkadar

SiO2 lebih dari 65%, batuan intermedier yang kadar SiO2 antar 52% -

65% dan batuan basis yang berkadar SiO2 < 52%.  Batuan Sedimen

(27)

 Batuan Malihan

Batuan malihan terbentuk dari batuan beku atau batuan endapan atau juga dapat terbentuk dari batuan malihan lainnya yang mengalami proses perubahan susunan dan bentuknya yang akibatkan oleh pengaruh panas, tekanan atau gaya kimia. Batuan malihan adalah batuan yang memiliki sifat-sifat akibat telah malihnya batuan semula baik batuan beku maupun endapan. Yang dinamakan proses malihan adalah jumlah proses yang bekerja dalam zone pelapukan dan menyebabkan pengkristalan kembali bahan induk.

Toba Tuff (Tufa Toba)

Chesner (1998) melakukan studi mendalam perihal bahan induk Tufa Toba sebagai kelanjutan dari penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Van Bemmelen (1949), dan Aldiss dan Ghazali (1984). Disebutkan dalam Chesner (1998) bahwa wilayah Kaldera terdapat 4 kali erupsi tufa sejak 1.2 juta tahun yang lalu, dimana yang termuda disebut young toba tuffs (YTT).

(28)

Tabel 6. Karakteristik empat tufa toba

Note : Qz, quartz; PI, plagioclase; Sa, sanidine; Mg, magnetite; II, ilmenite; Ap, apatite; Am, amphibole; Bi, biotite; Zi, zircon; Al, allanite; Fa, fayalite; Opx, orthopyroxene; Cpx, clinopyroxene. N, normal; R, reversed.

Sumber : Chesner, 1998.

Bahan induk Tufa Toba merupakan jenis batuan induk berasal dari batuan beku yang berasal letusan gunung berapi Toba yang terjadi pada 74.000 tahun yang lalu (Chesner, 1998). Batuan ini mengalami erupsi asam yang umumnya terdiri atas kwarsa-trachytes, kwarsa-trachytes-andasitik, rhyolite dan tufa liparit. Tufa toba muda menutupi wilayah seluas kira-kira 25.000 km2 termasuk dataran tinggi seluas 10.000 km2 dan ketebalan mencapai beratus meter dibeberapa tempat (< 400 m) dengan volume mencapai 2.800 km3.

Faktor-Faktor Degradasi Lahan

(29)

penyebab degradasi lahan antara lain: areal berlereng curam, tanah mudah rusak atau curah hujan yang intensif. Faktor degradasi lahan akibat campur tangan manusia baik langsung maupun tidak langsung lebih mendominasi dibandingkan dengan faktor alami, antara lain: perubahan populasi, marjinalisasi penduduk, kemiskinan penduduk, masalah kepemilikan lahan, ketidakstabilan politik dan kesalahan pengelolaan, kondisi sosial dan ekonomi, masalah kesehatan, dan pengembangan pertanian yang tidak tepat. Oldeman (1994) menyatakan lima faktor penyebab degradasi lahan akibat campur tangan manusia secara langsung, yaitu: deforestasi, overgrazing, aktivitas pertanian, eksploitasi berlebihan, dan aktivitas industri serta bioindustri. Sejalan dengan pendapat sebelumnya, Lal (1986) mengemukakan bahwa faktor penyebab lahan terdegradasi dan rendahnya produktivitas, antara lain: deforestasi, mekanisasi dalam usaha tani, kebakaran, penggunaan bahan kimia pertanian, dan penanaman secara monokultur. Faktor-faktor tersebut di Indonesia terjadi secara simultan. Deforestasi adalah langkah permulaan pada proses degradasi lahan, dan umumnya tergantung dari aktivitas berikutnya apakah ditelantarkan atau digunakan masyarakat sebagai ladang.

(30)

(soil crusting) yang mempunyai sifat padat dan keras bila kering. Agregat atau partikel-partikel yang halus akan terbawa aliran air ke dalam tanah sehingga menyebabkan penyumbatan pori tanah. Pada saat hujan turun kerak yang terbentuk di permukaan tanah juga menyebabkan penyumbatan pori tanah. Akibat proses penyumbatan pori tanah ini porositas tanah, distribusi pori tanah, dan kemampuan tanah untuk mengalirkan air mengalami penurunan dan limpasan permukaan akan meningkat (Suprayogo et al.,2001).

(31)

yang umumnya mengandung lebih dari 80% unsur hara di dalam profil tanah. Hal tersebut sejalan dengan penelitian McAlister et al., (1998) bahwa setelah 5 tahun sejak pembakaran maka konsentrasi unsur hara menurun, persentase Al tinggi dan persentase kejenuhan basa rendah di subsoil setelah 2-5 tahun pembakaran. Tanah menjadi subyek erosi, subsoil menjadi media tumbuh tanaman dan tingginya konsentrasi Al pada tingkat meracun serta rendahnya kejenuhan basa mendorong penurunan produksi tanaman.

(32)

56% lebih rendah biomass mikrobia, 44% lebih rendah kerapatan mikroartropoda, sebaliknya 13% lebih tinggi berat isi dan 14% pasir. Nilai pH tanah non terdegradasi lebih tinggi daripada tanah terdegradasi.

Proses Degradasi Lahan

Lima proses utama yang terjadi timbulnya lahan terdegradasi, yaitu: menurunnya bahan kandungan bahan organik tanah, perpindahan liat, memburuknya struktur dan pemadatan tanah, erosi tanah, deplesi dan pencucian unsur hara (Lal, 1986). Khusus untuk tanah-tanah tropika basah terdapat tiga proses penting terjadinya degradasi lahan, yaitu:

1) Degradasi fisik berhubungan dengan memburuknya struktur tanah sehingga memicu pergerakan, pemadatan, aliran banjir berlebihan, dan erosi dipercepat

2) Degradasi kimia berhubungan dengan terganggunya siklus C, N, P, S dan unsur lainnya

3) Degradasi biologi berhubungan dengan menurunnya kualitas dan kuantitas bahan organik tanah, aktivitas biotik dan keragaman spesies fauna tanah.

Best Management Practice PT Socfin Indonesia

(33)

Tanaman Ulangan/ Peremajaan (replanting)

Penumbangan Pohon

 Dengan menggunakan excavator pohon kelapa sawit ditumbang sekaligus

dengan membongkar bonggol akar (ball tissue), kemudian batang kelapa sawit dicincang (chipped) dengan ketebalan maksimal 10 cm. Ex. chipping

diserak secara merata, sehingga dipastikan tidak akan menjadi breeding site untuk hama Oryctes rhinoceros.

 Semua pekerjaan mengikuti prinsip Zero Burning.

Pengolahan Tanah

 Pengolahan tanah dengan melakukan Ripping dan Subsoiling.

 Ripping dilakukan dengan kedalaman 60-65 cm dan Subsoiling kedalaman

23-28 cm.

 Pekerjaan ripping dilakukan menggunakan buldozer yang dilengkapi

dengan garpu khusus (3 garpu yang masing-masing berjarak 100 cm dengan panjang 90-100 cm) pada saat sebelum/sesudah pembongkaran pohon kelapa sawit tua dilakukan menyerong 2 arah mata lima. Setelah

(34)

Pembuatan Teras Bersambung

 Merencanakan dan menentukan jumlah fisik teras, panjang dan mutu teras

di lokasi yang membutuhkan teras bersambung pada areal yang bergelombang/perengan dengan kemiringan > 8%.

 Melakukan pemancangan rencana teras bersambung berdasarkan contour

lapangan, dan menentukan posisi memulai pekerjaan serta mengarahkan pekerjaan di lapangan.

 Melakukan pembuatan teras bersambung secara manual atau mekanis

dengan excavator atau buldozer sesuai dengan rencana dan standard mutu yang telah ditentukan.

Memancang Tanaman dan Pembuatan Lobang Tanaman

 Menentukan titik awal pancang dan titik pancang per barisan tanam.

 Pemasangan pancang lubang tanam dilakukan mengikuti pola segitiga

sama sisi dengan jarak antar titik tanam 9 m.

 Menentukan posisi memulai pekerjaan pembuatan lobang tanam yang

mengikuti pancang lubang tanam.

 Melakukan pembuatan lobang tanaman berukuran diameter 60 cm dan

(35)

Penanaman Kacangan Penutup Tanah

 Seluruh areal peremajaan atau konversi harus ditutup dengan tanaman

penutup tanah (legume cover crop) secara murni (pure) dengan spesies

Mucuna bracteata, atau dapat juga menggunakan jenis Colopogonium caeruleum (CC) atau kombinasi Pueraria javanica (PJ) + Colopogonium mucunoides (CM). Walaupun ada beberapa jenis tanaman kacangan, namun prioritas utamanya adalah Mucuna bracteata (MB) karena biomassa lebih tinggi, lebih tahan kering, relatif tidak ada hama penyakit, dan tidak disukai ternak.

 Kebutuhan MB = 700 stek.ha-1 sudah termasuk untuk sisipan.

 Pekerjaan meliputi menentukan kebutuhan bibit kacangan yang akan

ditanam, jadwal pembibitan dan penanaman, serta kebutuhan tenaga kerja.

 Melakukan penanaman tanaman kacangan di lapangan. Pekerjaan

penanaman kacangan meliputi pemancangan, membuat lobang tanam, menanam bibit kacangan, mulching dan penyiraman bila perlu.

 Pemupukan setiap stek kacangan sebanyak 10 gr atau 7 kg.ha-1.

Penanaman Kelapa Sawit

 Merencanakan dan menentukan jadwal penanaman (dilakukan pada Mei –

Juli), transportasi bibit ke lapangan, dan kebutuhan tenaga kerja. Disamping itu ditentukan juga lokasi penanaman per jenis persilangan atau per-progeny tanaman.

 Melakukan penanaman bibit kelapa sawit di lapangan sesuai dengan posisi

(36)

mengecer/distribusi bibit ke lobang tanam, memberikan pupuk Rock Posfat 0.5 kg.pohon-1 pada lobang tanam, menanam bibit serta menimbun lobang tanam dan memadatkan tanah timbunan lobang dengan menginjak-injak mengunakan tumit.

Pemeliharaan Tanaman

Pengendalian Gulma di Piringan dan Gawangan

 Merencanakan jadwal pengendalian gulma baik secara manual maupun

kimia sesuai dengan kondisi gulma di lapangan dan menentukan keperluan tenaga kerja dan bahan kimia.

 Melakukan penyiangan gulma secara manual baik yang terdapat dipiringan

maupun di sekeliling tanaman kacangan penutup tanah. Penyiangan dilakukan dengan pusingan 1 x dalam 2 minggu selama 12 bulan.

 Disamping itu dilakukan kombinasi penyemprotan dengan herbisida untuk

gulma diantara tanaman kacangan, dengan pusingan 2 x sebulan selama 4 bulan pertama, dan selanjutnya 1 x sebulan.

Pemupukan Tanaman Belum Menghasilkan

 Melaksanakan aplikasi pemupukan sesuai dengan petunjuk pada Booklet

Pemupukan, dan merencanakan kebutuhan alat transport serta kebutuhan tenaga kerja pemupukan.

 Melaksanakan aplikasi pupuk di lapangan sesuai jadwal dan standard mutu

(37)

Tabel 7. Rekomendasi pemupukan pada TBM dan TM (umur 3 – 5 tahun) Umur (bulan) N.P.K.Mg

15-15-15 Urea R.p TSP KCl Dolomite Kieserite Borax

Kacangan (LCC) 10 gr/stek (7 kg/ha) Tanaman Baru (N0)

Lubang Tanam 500

1 200

3 300 10

Total 300 200 500 10

Tanaman Belum Menghasilkan / TBM (N1)

6 300(3) 450 20

9 1000 30

12 400(3) 50

13

15 1500 50

Total 2500 700 450 150

Tanaman Belum Menghasilkan / TBM (N2)

18 500 500 75

21 1000 1250

24 1000 500 1500 700 100

Total 2500 1000 2750 700 175

Tanaman Menghasilkan / TM (N3)

Apli. I 1300 2000 1500 700 100

Apli. II 1500 1500 100

Total 2800 2000 3000 700 200

Tanaman Menghasilkan / TM (N4)

Apli. I 1500 2000 1500 750 100

Apli. II 1250 1500

Total 2750 2000 3000 750 100

Tanaman Menghasilkan / TM (N5)

Apli. I 1500 1250 1500 1250 100

Apli. II 1250 1500

Total 2750 1250 3000 1250 100

Sumber : Socfin Indonesia, 2015

Pemupukan di Tanaman Menghasilkan:

 Menentukan jenis pupuk, dosis, cara dan waktu aplikasi pupuk sebagai

pedoman pada Booklet Pemupukan, kebutuhan alat transport serta kebutuhan tenaga kerja pemupukan.

 Dosis pupuk/pohon ditentukan berdasarkan hasil analisa sampel daun

(38)

 Pada blok-blok dengan kondisi tanah marginal, seperti: berpasir, berbatu

atau yang memiliki kadar liat tinggi diberikan pupuk organik berupa janjang kosong dan solid ex decanter pabrik (solid). Pada tahun pertama, aplikasi janjang kosong dengan dosis 45 Ton.Ha-1, dan pada tahun kedua diaplikasi solid dengan dosis 45 Ton.Ha-1.

 Pada TM kelapa sawit Generasi 3 dan Generasi 4 agar diaplikasikan

Gambar

Tabel 1.  Kebutuhan air pada beberapa tanaman
Tabel 2. Parameter kuantitatif dari jenis akar yang berbeda di kelapa sawit (dewasa)  tahap budidaya lapangan
Tabel 3. Rata-rata panjang (m) zona percabangan apikal dengan distribusi untuk
Tabel 5. Kriteria penilaian sifat kimia tanah Sangat Masam
+4

Referensi

Dokumen terkait

Konsentrasi logam Cd dalam sedimen pada musim barat selalu lebih tinggi dan secara signifikan menunjukkan perbedaan yang nyata (p=0,014) dibanding konsentrasi

Di Saudi Arabia yang hukum perkawinannya masih Uncodified Law, maka hukum perkawinannya didasarkan pada kitab kitab fiqh madhab yang dianutnya, dalam hal ini Saudi Arabia hukum

Pembahasan tentang tujuh golongan yang dilindungi Allâh dalam naungan-Nya pada Kiamat ini sangat penting karena berkaitan dengan iman kepada hari Akhir serta pengetahuan

(1993) lemak abdomen akan meningkat pada ayam yang diberi ransum dengan protein rendah dan. energi ransum

Peserta didik dapat menggunakan nalar yang berkaitan dengan: - program linear. -

Tingkat pengetahuan salah satunya dipengaruhi oleh promosi kesehatan, seperti pada penelitian mengenai pengaruh promosi kesehatan terhadap peningkatan pengetahuan

Meminimalisasi terjadinya politisasi terhadap rekruitmen hakim, karena lembaga yang mengusulkan adalah lembaga hukum yang bersifat mandiri dan bebas

Metode AHP berfungsi untuk mengetahui nilai prioritas tiap sub- kriteria yang digunakan sedangkan TOPSIS berfungsi untuk mencari nilai tiap zona berdasarkan input