• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Secara hakiki, manusia merupakan makhluk sosial yang selalu membutuhkan orang lain untuk bisa mempertahankan hidupnya. Proses kehidupan manusia yang dimulai sejak lahir hingga dewasa mengalami masa pertumbuhan dan perkembangan. Salah satu fase perkembangan manusia antara lain adalah masa remaja. Masa remaja merupakan masa yang penuh gejolak dan masa dimana mereka ingin tahu tentang segala sesuatu yang mereka belum tahu, termasuk di dalamnya adalah tentang bagaimana mereka melakukan hubungan interpersonal yang baik agar mereka bisa diterima oleh lingkungan mereka.

Menjalin interaksi sosial agar lebih berhasil diperlukan adanya kompetensi atau kemampuan dalam diri individu, terutama kompetensi interpersonal. Menurut Buhrmaster dan Reis (1998) kompetensi interpersonal adalah ketrampilan atau kemampuan yang dimiliki individu untuk membina hubungan yang baik dan efektif dengan orang lain atau antar individu, kemampuan ini sangat dibutuhkan oleh individu tak terkecuali para remaja yang tinggal di panti asuhan.

Berkaitan dengan hal tersebut Lusiastuti (2006) mengatakan kompetensi interpersonal merupakan kemampuan untuk menciptakan, membangun dan mempertahankan suatu hubungan antar pribadi yang sehat dan saling menguntungkan. Individu yang mempunyai kompetensi interpersonal yang tinggi akan mampu menjalin komunikasi yang efektif dengan orang lain, mampu berempati secara baik, mampu mengembangkan hubungan yang harmonis dengan orang lain dan dapat dengan cepat memahami temperamen, sifat dan kepribadian orang lain, mampu memahami suasana hati, motif dan niat orang lain semua kemampuan ini akan membuat individu tersebut lebih berhasil dalam berinteraksi dengan orang lain.

(2)

2 Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Salmah (2007) menyatakan bahwa kompetensi interpersonal pada remaja dapat dipengaruhi oleh pola asuh orang tua, dalam hal ini yaitu pola asuh yang mengarah pada gaya demokratis. Pola asuh pada penelitian tersebut mencakup keseluruhan sikap orang tua dalam berinteraksi dengan anak, meliputi cara pemberian aturan-aturan hadiah maupun hukuman, cara orang tua menunjukkan otoritas dan perhatian serta tanggapan yang dilakukan untuk membentuk perilaku anak demi mencapai perkembangan yang maksimal. Adapun yang terjadi di panti asuhan adalah sebaliknya, kompetensi interpersonal remaja akan mengalami kemunduran. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Patterson (Berkowitz, 1995) selama lebih dari satu dekade melakukan observasi dalam hubungan keluarga, hasil penelitian memaparkan bahwa keluarga dengan anak-anak yang tinggal di asrama atau di panti asuhan memiliki kekurangan dalam empati fungsi penting “manajemen” : (1) mereka tidak secara efektif memantau aktifitas anak-anaknya baik di rumah maupun di luar rumah, (2) mereka tidak mendisiplinkan tidak anti sosial secara memadai, (3) mereka tidak memberi penghargaan cukup untuk tidak prososial, (4) mereka bersama para anggota keluarga lainnya, tidak cakap dalam pemecahan masalah. Kekurangan ini muncul secara bersamaan, sehingga kegagalan orang tua tertentu sering disertai kekurangan lainnya. Situasi yang tidak menyenangkan biasanya akan memunculkan reaksi atau perilaku yang menyimpang dalam diri remaja terhadap lingkungannya. Hal ini seperti yang terjadi pada anak-anak di panti asuhan.

Salah satu faktor keberhasilan remaja di panti asuhan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan ditentukan oleh kesanggupan dalam menerima keadaan dirinya sendiri. Seseorang dengan penerimaan diri yang baik akan menangkal emosi yang muncul karena dapat menerima diri dengan apa adanya (Sarwono, 2000).

Schultz (1995) mengungkapkan bahwa orang yang memiliki penerimaan diri, mampu memahami kelemahan serta kelebihan tanpa mengeluh. Sikap-sikap tersebut pada dasarnya merupakan perwujudan dari rasa puas terhadap dirinya sendiri. Hurlock (2000) mengemukakan ada beberapa kondisi berperan

(3)

3 dalam penerimaan diri seseorang. Kondisi tersebut adalah : (1) pemahaman diri, (2) harapan yang realistis, (3) bebas dari hambatan sosial, (4) perilaku sosial yang menyenangkan, (5) konsep diri yang stabil, dan (6) kondisi emosi yang menyenangkan. Philips dan Berger (dalam Robinson dan Shaver, 1994) memberikan karakteristik individu yang menerima dirinya adalah (a) adanya keyakinan akan kemampuan diri dalam menghadapi persoalan, (b) adanya anggapan berharga terhadap diri sendiri sebagai manusia dan sederajat dengan orang lain, (c) tidak ada anggapan aneh atau abnormal terhadap diri sendiri dan tidak ada harapan untuk ditolak orang lain, (d) tidak ada rasa malu atau tidak memperhatikan diri sendiri, (e) ada keberanian memikul tanggung jawab atas perilaku sendiri, (f) adanya obyektifitas dalam menerima pujian atau celaan, dan (g) tidak ada penyalahan atas keterbatasan yang ada, ataupun pengingkaran kelebihan.

Menurut Asih (2001), secara umum, budaya memiliki gambaran bahwa peran laki-laki lebih mandiri, percaya diri, kuat, sementara perempuan lebih tergantung, tidak percaya diri, lemah, dan sebagainya. Negara yang tingkat sosial ekonominya tinggi, memiliki persentase perempuan yang bekerja di luar rumah lebih besar, individualistik, dan lebih banyak menganut budaya egalitarian (perempuan dan laki-laki mendapat kesamaan hak).

Penerimaan diri remaja di panti asuhan tidak sama antara panti asuhan satu dengan yang lainnya. Kuntari (2005) mengemukakan paling tidak ada dua fenomena yang biasanya muncul dalam kehidupan di panti asuhan yaitu: (1) pengalaman-pengalaman atau peristiwa yang menyenangkan serta perlakuan-perlakuan yang benar dan sehat dari anggota pengasuh, teman bermain atau lingkungan akan membentk individu yang sehat pula, (2) pengalaman, peristiwa ataupun perlakuan yang tidak atau kurang sehat tidak menyenangkan bahkan menimbulkan trauma akan mempengaruhi terbentuknya kepribadian individu menjadi patologis. Beberapa kasus yang pernah terjadi misalnya anak yang berada dalam panti asuhan merasa tertekan, cenderung menarik diri, tidak berani tampil di depan umum. Akibatnya anak tersebut tidak mempunyai motivasi untuk belajar, berkehilangan gairah untuk sekolah dan tidak jarang

(4)

4 anak merasa frustasi atau agresif, dan kemarahan tersebut seringkali diungkapkan dengan perilaku-perilaku yang tidak simpatik terhadap pengasuh, teman, orang tua maupun orang lain dan membahayakan dirinya dan orang lain di sekitarnya. Hal ini tentu saja akan sangat merugikan individu tersebut karena akan menghambat tercapainya kedewasaan dan kematangan kehidupan psikologisnya. Panti asuhan adalah salah satu wadah yang memberikan layanan pada anak dalam rangka mewujudkan kesejahteraan sosial. Anak-anak yang tinggal di panti asuhan adalah mereka yang tidak memiliki keluarga lagi atau juga bisa disebabkan karena orang tua yang bercerai atau sudah meninggal dunia.

Menurut Hurlock (2000) terdapat dampak negatif panti asuhan terhadap pola perkembangan kepribadian anak asuhnya, di mana mereka tidak dapat menemukan lingkungan pengganti keluarga yang benar-benar dapat menggantikan fungsi keluarga yaitu : terbentuknya kepribadian anak yang inferior, pasif apatis, menarik diri, mudah putus asa, penuh dengan ketakutan dan kecemasan, sehingga anak akan sulit menjalin hubungan sosial dengan orang lain, di samping itu mereka menunjukkan perilaku yang negatif, takut melakukan kontak dengan orang lain, lebih suka sendirian, menunjukkan rasa bermusuhan dan lebih egosentrisme.

Panti asuhan yatim Muhammadiyah Gubug merupakan salah satu amal usaha atau kegiatan sosial Muhammadiyah cabang Purwodadi. Panti asuhan ini berdiri tahun 1985, rata-rata anak yang tinggal di panti asuhan yatim Muhammadiyah Gubug adalah mereka yang tidak memiliki keluarga lagi atau juga disebabkan karena orang tua yang bercerai atau sudah meninggal dunia. Penghuni panti asuhan yatim Muhammadiyah gubug sekitar 40 orang (putra-putri), putra 15 orang dan putri 25 orang. Di antara 10 orang yang di wawancarai 7 orang diantaranya mengatakan bahwa sebenarnya dia merasa malu, minder untuk tinggal di panti asuhan, mereka merasa tertekan dengan peraturan-peraturan panti asuhan, mereka merasa di panti asuhan dianggap rendah sehingga sering menarik diri bila tampil di depan umum karena merasa tidak mempunyai orang tua dan ada yang karena orang tuanya tidak mampu

(5)

5 untuk membiayai maka ia dititipkan di panti asuhan. Jika para pengasuh di panti asuhan tidak secara tulus dan konsisten menunjukkan cinta dan sayang kepada para anak yatim, tidak memberi kehangatan, penerimaan dan cinta, individu mungkin tumbuh dengan rasa ragu-ragu mengenai kepantasan untuk dicinta dan diterima.

Panti asuhan Muhammadiyah Gubug memiliki beberapa bentuk pendidikan antara lain : pendidikan umum (sekolah SD sampai SMA) dan pendidikan keagamaan seperti budi pekerti, pengajian-pengajian, pendidikan sopan santun, mendalami prinsip-prinsip Islam tentang akhlakul karimah. Pengurus yakin bahwa seseorang tidak akan sanggup menjalankan tugas-tugasnya sebagai ilmuwan kecuali pada dirinya berhiaskan akhlaqul yang mulia, jiwanya bersih dari sifat-sifat tak terpuji (wawancara dengan pengurus, 12 Nopember 2011).

Berdasarkan uraian diatas maka rumusan masalah pada penelitian ini adalah Apakah ada perbedaan penerimaan diri dengan kompetensi interpersonal antara remaja laki-laki dan perempuan di panti asuhan Muhammadiyah Gubug. Mengacu pada rumusan masalah tersebut penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul :”Perbedaan Penerimaan Diri Dengan kompetensi Interpersonal Antara Remaja Laki-laki dan Perempuan Panti Asuhan Yatim Muhammadiyah Gubug”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang yang telah dipaparkan, maka masalah peneliti yang dapat dirumuskan “Adakah Perbedaan Penerimaan Diri Dengan Kompetensi Interpersonal Antara Remaja Laki-laki dan Perempuan Panti Asuhan Di Panti Asuhan Yatim Muhammadiyah Gubug”.

(6)

6 C. Tujuan

1. Umum

Mengetahui perbedaan penerimaan diri dengan kompetensi interpersonal antara remaja laki-laki dan perempuan di panti asuhan yatim Muhammadiyah Gubug.

2. Khusus

a. Mengetahui gambaran penerimaan diri antara remaja laki-laki dan perempuan di panti asuhan Muhammadiyah Gubug.

b. Mengetahui gambaran kompetensi interpersonal remaja laki-laki di panti asuhan Muhammadiyah Gubug.

c. Mengetahui gambaran kompetensi interpersonal remaja perempuan di panti asuhan Muhammadiyah Gubug.

d. Menganalisa perbedaan penerimaan diri dengan kompetensi interpersonal remaja laki-laki di panti asuhan Muhammadiyah Gubug.

e. Menganalisa perbedaan penerimaan diri dengan kompetensi interpersonal remaja perempuan di panti asuhan Muhammadiyah Gubug.

D. Manfaat Penelitian

1. Bagi Remaja Panti Asuhan

Hasil penelitian ini diharapkan memberikan gambaran bagaimana keterkaitan penerimaan diri dengan kompetensi interpersonal antara remaja laki-laki dan perempuan panti asuhan PAYM, serta memberi pemahaman bagi seluruh anak-anak penghuni panti asuhan, bahwa tinggal di panti asuhan harus benar-benar disadari sebagai kesempatan mereka untuk berkembang dan tumbuh sebagai pribadi yang dapat menerima keadaan diri sendiri.

2. Bagi Pengelola Panti Asuhan

Penelitian ini memberikan pemahaman tentang perbedaan penerimaan diri dengan kompetensi interpersonal antara remaja laki-laki dan perempuan panti asuhan, sehingga diharapkan dapat memberikan

(7)

7 bimbingan agar terbentuk penerimaan diri dengan kompetensi interpersonal yang baik.

3. Bagi Orang Tua Yang Memiliki Anak Di Panti Asuhan

Penelitian ini selain memberi pemahaman dan kesadaran bagi orang tua, bahwa meskipun anaknya tinggal di panti asuhan namun orang tua tetap mempunyai tanggung jawab terhadap masa depan anak-anaknya.

4. Bagi Pemerintah

Penelitian ini memberikan informasi bagaimana kondisi psikologis anak-anak yang tinggal di panti asuhan, sehingga pemerintah diharapkan dapat memberikan perhatian yang lebih optimal kehidupan anak-anak yang tinggal di panti asuhan.

5. Bagi Peneliti

Penelitian ini dapat memberikan sumbangan informasi bagi peneliti khususnya tentang perbedaan penerimaan diri dengan kompetensi interpersonal antara remaja laki-laki dan perempuan panti asuhan.

E. Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini termasuk dalam bidang ilmu kesehatan keperawatan Jiwa.

(8)

8

NAMA ; SRI INDAH PURWANI BUDIARTI

JUDUL ; PERBEDAAN PENERIMAAN DIRI DENGAN KOMPETENSI INTERPERSONAL ANTARA REMAJA LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN DI PANTI ASUHAN MUHAMMADIYAH GUBUG

PEMBIMBING ; 1. 2.

NO TANGGAL KONSULTASI SARAN TANDA

(9)

Referensi

Dokumen terkait

Observasi yang dilakukan oleh penulis adalah dengan melakukan pengamatan yang berkaitan dengan kondisi umum lokasi penelitian serta proses implementasi pendidikan

Penelitian ini menggali lebih jauh dan mendeskripsikan lebih mendalam mengenai penerapan bahasa Jawa pada pengasuhan dalam keluarga Jawa sehingga informasi dari hasil penelitian

Berdasarkan hasil observasi awal yang dilakukan pada kedua peneliti ketika guru di Sekolah Minggu A menyampaikan firman Tuhan kepada anak-anak, salah satu masalah yang paling

Berdasarkan penelitian-penelitian yang dilakukan sebelumnya terhadap tanaman famili Piperaceae, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian   terhadap aktivitas

Sari (2006) melakukan penelitian pada karyawan Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kota Surakarta dengan hasil bahwa terdapat hubungan yang positif signifikan antara

Dari hasil penelitian sementara dan observasi yang dilakukan peneliti terdapat masalah yang berhubungan dengan kualitas pelayanan dan fasilitas yang mengakibatkan konsumen

Zainuddin dan Isa (2011) juga melakukan penelitian terkait dengan persepsi keadilan yang menguji pengaruh keadilan organisasional dan motivasi dalam hubungan antara

Studi kepustakaan riset ini juga merujuk dari hasil penelitian yang sudah dilakukan sebelumnya, baik berupa jurnal, buku serta hasil penelitian terutama setelah