• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN KERJA PRAKTEK DI PT. BRIDGESTONE TIRE INDONESIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "LAPORAN KERJA PRAKTEK DI PT. BRIDGESTONE TIRE INDONESIA"

Copied!
56
0
0

Teks penuh

(1)

i

LAPORAN KERJA PRAKTEK

DI PT. BRIDGESTONE TIRE INDONESIA

Bernadeta Arin Wulandari 14 06 08070

PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI UNIVERSITAS ATMA JAYA YOGYAKARTA

(2)
(3)

iii

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis haturkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat dan kuasa-Nya penulis dapat menyelesaikan kegiatan dan laporan Kerja Praktek di PT. Bridgestone Tire Indonesiayang telah dilaksanakan selama 1 (satu) bulan, yaitu pada tanggal 17 Juli 2017 sampai 25 Agustus 2017.

Tujuan dari penyusunan Laporan Kerja Praktek yaitu sebagai salah satu syarat akademis yang wajib dipenuhi oleh penulis dalam menempuh perkuliahan di Fakultas Teknologi Industri Universitas Atma Jaya Yogyakarta, serta bukti pertanggungjawaban terhadap kegiatan Kerja Praktek yang telah penulis laksanakan. Tujuan dilaksanakannya Kerja Praktek yaitu memperkenalkan dunia kerja yang sesungguhnya kepada mahasiswa, sehingga dapat menjadi bekal bagi mahasiswa untuk menghadapi dunia kerja kelak.

Penulis menyadari bahwa terselesaikannya Laporan Kerja Praktek ini tidak lepas dari campur tangan berbagai pihak yang senantiasa memberikan bantuan dan motivasi kepada penulis. Maka dari itu, dengan segala kerendahan hati penulis sampaikan terima kasih kepada :

1. Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat kesehatan, kesempatan, dan karunia yang telah diberikan-Nya kepada penulis.

2. Bapak V. Ariyono, S.T., M.T. selaku Ketua Program Studi Teknik Industri. 3. Ibu Deny Ratna Yuniartha, S.T., M.T. selaku Koordinator Kerja Praktek

4. Bapak Kristyanto B. Ir. M. Eng. Ph. D selaku dosen pembimbing Kerja Praktek penulis, yang selalu sabar dan dengan bijak membimbing dalam proses terlaksananya kerja praktek hingga penyusunan laporan kerja praktek ini.

5. Bapak Andre selaku Manager Departmen Production Planning PT. Bridgestone Tire Indonesia

6. Bapak Ahmad Taufik Zein dan Bapak Firman selaku pembimbing lapangan

7. Kedua orang tua penulis yang senantiasa memberikan dukungan, doa, dan motivasi. 8. Seluruh karyawan PT. Bridgestone Tire Indonesia yang telah membantu selama

pelaksanaan Kerja Praktek.

(4)

iv

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... …...i

HALAMAN PENGESAHAN ... …...ii

KATA PENGANTAR ... …...iii

DAFTAR ISI ... …...iv

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang ... …...1

1.2. Tujuan ... …...2

1.3. Tempat dan Waktu Pelaksanaan ... …...3

BAB 2 TINJAUAN UMUM PERUSAHAAN 2.1. Sejarah Singkat Perusahaan ... …...4

2.2. Struktur Organisasi Perusahaan ... …...6

2.2.1. Tugas dan Wewenang ... …...8

2.3. Manajemen Perusahaan ... …...10

2.3.1. Visi dan Misi Perusahaan ... …...10

2.3.2. Ketenagakerjaan ... …...12

2.3.3. Pemasaran ... …...15

BAB 3 TINJAUAN SISTEM PERUSAHAAN 3.1. Proses Bisnis Perusahaan ... …...16

3.2. Produk yang Dihasilkan... …...19

3.3. Proses Produksi ... …...20

3.3.1. Proses Produksi Tire ... …...22

3.3.2. Fasilitas Produksi ... …...25

BAB 4 TINJAUAN PEKERJAAN MAHASISWA 4.1. Lingkup Pekerjaan ... ...27

4.2. Tanggung Jawab dan Wewenang Dalam Perusahaan ... …...30

4.3. Metodologi Pelaksanaan Pekerjaan ... ...31

4.3.1. Latar Belakang Masalah ... ...31

4.3.2. Penjelasan Metode Ovako Work Analysis System ... …...32

4.3.3. Rumusan Masalah ... ...35

(5)

v

4.3.5. Tahap Pelaksanaan Tugas...35

4.3.6. Diagram Alir Pelaksanaan Kerja Praktek…...36

4.4. Hasil dan Pembahasan...37

4.4.1.Hasil dan Pembahasan Analisa Nordic Body Map...37

4.4.2.Hasil dan Pembahasan Analisis Postur Kerja dengan Metode OWAS...41

BAB 5 PENUTUP 5.1. Kesimpulan ... …...47

5.2. Saran ... …...47

DAFTAR TABEL ... …...vi

DAFTAR GAMBAR ... …...vii

DAFTAR PUSTAKA ... …...viii

(6)

vi

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

4.1 Penilaian Analisa Postur Kerja Menggunakan Metode OWAS ... ...34

4.2 Kategori Penilaian ... ...35

4.3Hasil Rekapitulasi Nordic Body Map ... ...38

4.4Analisis Penilaian OWAS ... ...42

4.5 Pengkodean Postur Kerja Operator Mengambil Tire ... ...42

4.6Analisis Penilaian OWAS ... ...44

4.7Pengkodean Postur Kerja Operator Mengangkat Tire ... ...44

4.8Analisis Penilaian OWAS ... ...45

(7)

vii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1. Struktur Organisasi PT. Bridgestone Tire Indonesia ... ...7

Gambar 3.1. Proses Bisnis Pemesanan Tire ... ...17

Gambar3.2. Produk Passennger Tire ... ...19

Gambar 3.3. Produk Commercial Tire ... ...19

Gambar 3.4. Produk Industrial Tires ... ...20

Gambar 3.5. Produk Agricultural Tires ... ...20

Gambar 3.6. Produk Off The Road Bias Tires ... ...20

Gambar 3.7. Proses Produksi Tire PT. Bridgestone Tire Indonesia ... ...22

Gambar 4.1. Tata Letak Kantor Bagian SHE ... ...27

Gambar 4.2. Struktur Organisasi Departemen SHE ... ...28

Gambar 4.3.Klasifikasi Sikap Kerja Bagian Punggung ... ...33

Gambar 4.4.Klasifikasi Sikap Kerja Bagian Lengan ... ...33

Gambar 4.5.Klasifikasi Sikap Kerja Bagian Kaki ... ...34

Gambar 4.6.Klasifikasi Berat Beban ... ...34

Gambar 4.7.Diagram Alir Pelaksanaan Kerja Praktek ... ...36

Gambar 4.8.Grafik Presentase Keluhan Bagian Tubuh ... ...40

Gambar 4.9. Postur Kerja Operator Mengambil Tire...41

Gambar 4.10. Postur Kerja Operator Mengangkat Tire ... ...43

Gambar 4.11. Postur Kerja Operator Menaruh Tire ... ...45

(8)

viii

DAFTAR PUSTAKA

PT. Bridgestone Tire Indonesia.2017.Corporate.[Online, accessed 12 Agustus 2017]. URL:http://www.bridgestone.co.id/

(9)

1

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam dunia industri persaingan semakin ketat seiring dengan perkembangan teknologi. Hal ini menyebabkan dunia kerja menuntut tersedianya faktor produksi yang berkualitas. Tenaga kerja sebagai salah satu faktor produksi dituntut dapat menguasai pekerjaannya dengan baik, terampil, dan professional untuk dapat mendukung tercapainya tujuan suatu perusahaan dan peningkatan taraf hidup yang lebih baik.

Universitas merupakan suatu lembaga pendidikan yang berperan mencetak tenaga - tenaga profesional yang dibutuhkan oleh masyarakat maupun industri. Namun demikian, bekal yang diberikan oleh universitas kepada mahasiswa memadai secara teori, namun kurang memadai dalam prakteknya, sehingga banyak sarjana lulusan universitas kurang mengenal secara langsung dunia kerja yang akan dimasukinya serta penerapan ilmu yang diperolehnya selama kuliah. Program Studi Teknik Industri, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Atma Jaya Yogyakarta (PSTI UAJY) mewajibkan semua mahasiswanya untuk melaksanakan kerja praktek sesuai dengan Kurikulum di PSTI UAJY. Untuk melaksanakan kerja praktek ini mahasiswa memerlukan bekal ilmu yang cukup, karenanya syarat untuk melaksanakan kerja praktek ini adalah mahasiswa telah menempuh kuliah minimal 5 semester. Selain itu mahasiswa diwajibkan telah mengikuti kegiatan Kunjungan Industri untuk mendukung pemahaman akan lingkungan yang akan dihadapi ketika melaksanakan kerja praktek. Untuk melaksanakan kerja praktek ini, mahasiswa dapat memilih sendiri perusahaan tempat kerja prakteknya dan kemudian mengajukannya ke PSTI UAJY untuk mendapatkan persetujuan dan surat pengantar dari Fakultas Teknologi Industri UAJY kepada perusahaan tempat kerja praktek yang dituju. Adapun syarat bagi mahasiswa untuk dapat mengajukan surat pengantar kerja praktek tersebut adalah telah menempuh minimal 81 sks, memperoleh nilai minimal C untuk mata kuliah Sistem Produksi, telah mengikuti seminar (ujian) kerja praktek minimal 3 kali (dalam waktu yang berbeda), telah mengikuti sosialisasi kerja praktek dan kegiatan kunjungan industri yang diselenggarakan oleh PSTI UAJY. Kerja Praktek paling cepat dilaksanakan setelah Ujian Akhir Semester kelima sejak pertama kali mahasiswa terdaftar.

(10)

2

PSTI UAJY memandang kerja praktek sebagai wahana atau sarana bagi mahasiswa untuk mengenali suasana di industri serta menumbuhkan, meningkatkan, mengembangkan, dan mensimulasikan etos kerja profesional sebagai calon sarjana Teknik Industri. Kerja praktek dapat dikatakan sebagai ajang simulasi profesi mahasiswa teknik industri. Paradigma yang harus ditanamkan adalah bahwa selama kerja praktek mahasiswa bekerja di perusahaan yang dipilihnya. Bekerja, dalam hal ini mencakup kegiatan perencanaan, perancangan, perbaikan, penerapan, dan pemecahan masalah. Oleh karenanya dalam kerja praktek kegiatan yang dilakukan oleh mahasiswa adalah :

a. Mengenali ruang lingkup perusahaan

b. Mengikuti proses kerja di perusahaan secara kontinu

c. Melakukan dan mengerjakan tugas yang diberikan oleh atasan, supervisor atau pembimbing lapangan

d. Mengamati perilaku sistem

e. Menyusun laporan dalam bentuk tertulis f. Melaksanakan ujian kerja praktek

Secara khusus, dalam lingkup Teknik Industri haruslah selalu disadari bahwa yang dikaji adalah kesatuan elemen sistem yang terdiri atas Manusia, Mesin, Material, Metode, Uang, Energi, Lingkungan dan Informasi. Artinya, dalam melaksanakan aktivitas yang menjadi tanggung jawabnya, Sarjana Teknik Industri harus selalu memandang aktivitasnya dalam kerangka sistem yang melingkupi aktivitas itu.

1.2 Tujuan

Hal-hal yang ingin dicapai melalui pelaksanaan Kerja Praktek ini adalah: a. Melatih kedisiplinan.

b. Melatih kemampuan berinteraksi dengan bawahan, rekan kerja, dan atasan dalam perusahaan.

c. Melatih kemampuan untuk beradaptasi dengan lingkungan kerja.

d. Mengamati secara langsung aktivitas perusahaan dalam berproduksi dan menjalankan bisnis.

e. Melengkapi teori yang diperoleh di perkuliahan dengan praktek yang ada di perusahaan.

(11)

3

1.3 Tempat dan waktu pelaksanaan kerja praktek

Kerja Praktek ini akan dilaksanakan terhitung mulai tanggal 17 Juli 2017 sampai dengan 25 Agustus 2017 di PT. BRIDGESTONE TIRE INDONESIA yang berlokasi di Jl. Surya Cipta Kav. C-1, Kawasan Industri Suryacipta, Karawang, Jawa Barat. Dalam hal ini saya ditempatkan pada Departemen safety health and

environment, di bawah pengawasan pembimbing kerja praktek Departemen safety health and environment (SHE) yaitu Bapak Ahmad Taufik Zein serta.

(12)

4

BAB 2

TINJAUAN UMUM PERUSAHAAN

2.1. Sejarah singkat perusahaan

Berangkat dari mimpi sang pendirinya, Shojiro Ishibashi, yang ingin membuat sebuah perusahaan ban yang dapat dipasarkan secara global, Bridgestone lahir pertama kali pada tanggal 1 Maret 1931. Seiring dengan berkembangnya industri otomotif di Jepang, melalui Bridgestone Tire Co., Ltd. tidak menemukan hambatan yang cukup berani guna mengembangkan sayap bisnisnya. Tak hanya memenuhi pasaran dalam negeri saja, Bridgestone juga telah mampu menembus hingga ke pasaran internasional, khususnya Asia. Sehingga menjadikan Bridgestone sebagai produsen ban terbesar di Jepang. Pada tahun 1988, perusahaan ini mengakuisisi perusahaan The Firestone Tire & Rubber Company, sebuah perusahaan terkemuka. Dengan ini semakin memperkokoh kedudukan Bridgestone sebagai salah satu perusahaan ban dan karet terbesar di dunia.

Bridgestone sempat mengalami beberapa kendala saat terjadinya serangan udara pada Perang Dunia II. Pada saat itu kantor pusat milik Bridgestone yang berada di Tokyo hancur. Sehingga semua aset yang dimiliki perusahaan tersebut hilang tak bersisa. Untungnya, pabrik produksi yang berada di Kurume dan Yokohama masih selamat dari terjangan bom. Sehingga perusahaan masih mampu memproduksi dan secara perlahan mengembalikan keutuhan perusahaan kembali. Pada tahun 1959, Bridgestone merupakan pelopor pembuat ban nilon guna memenuhi pasar otomotif dengan selalu mengedepankan inovasi-inovasi baru dalam produknya.Selanjutnya pada tahun 1961, Bridgestone berhasil masuk dalam bursa saham. Sejalan dengan hal tersebut membuat Bridgestone mulai membuka Technical Center yang berpusat di Jepang pada tahun 1962. Tak hanya sampai di sana, Bridgestone memang tak tanggung-tanggung untuk memperluas wilayah produksinya. Terbukti pada tahun 1965 Bridgestone membuka pabrik luar negeri pertamanya di Singapura. Lalu dilanjutkan di Amerika Serikat pada tahun 1967 dan Thailand pada tahun 1969.

Krisis minyak dialami pada awal 1970-an membawa dampak yang cukup berarti bagi Bridgestone khususnya dalam pasaran Jepang. Meski demikian, Bridgestone

(13)

5

lebih menekankan pada sektor teknologi dengan pembuatan ban radial dan pembangunan ban baru di Jepang. Di samping itu perusahaan juga terus aktif dalam perluasan wilayah di luar negeri. Sekarang giliran Indonesia dan Iran yang menjadi basis Bridgestone sejak tahun 1976. Dilanjutkan pula di Taiwan dan Australia pada tahun 1980-an.

Di Indonesia sendiri Bridgestone Corporation berada dalam naungan PT Bridgestone Indonesia yang memulai produksi bannya untuk pertama kali pada tanggal 1 Oktober 1975. Pada awal produksinya Bridgestone Indonesia membuat ban bis dan truk. Selanjutnya produk dan pemasaran dilakukan secara komersial melalui agen dan sub-agen yang hingga saat ini berjumlah 42 agen dan sub-agen. Bridgestone juga peduli dalam bidang pendidikan. Hal ini dibuktikan dengan dibukanya Loka Latihan Keterampilan Bridgestone (LLKBS) pada bulan Januari 1982 sebagai salah satu bentuk dukungan Bridgestone kepada masyarakat dengan membantu para lulusan STM menjadi tenaga siap kerja. Pada tahun yang sama, Bridgestone Indonesia melakukan ekspor perdananya ke New Caledonia yang hingga saat ini Bridgestone Indonesia telah berhasil mengekspor produk hingga ke 71 negara yang tersebar di seluruh dunia.

Pada tahun 1990 Bridgestone Indonesia membentuk jaringan Toko Model (TOMO) yang memberikan binaan dengan training, seminar tentang pengetahuan ban, cara pemasaran dan informasi teknologi ban, sehingga toko-toko ban binaan Bridgestone mampu memberikan solusi dan servis yang baik sesuai kebutuhan konsumen guna memperkuat jaringan pemasaran domestik. Bridgestone Indonesia juga telah berhasil memperoleh beberapa penghargaan, antara lain sertifikat Zero Accident Certificate dari Menteri Tenaga Kerja Republik Indonesia tahun 1994, ISO 9002 dari Llyod’s register Quality Assurance Limited, Inggris tahun 1995, Akreditasi mutu ISO 9001 & QS 9000 tahun

(14)

6

1997, akreditasi mutu ISO 14001 tahun 2000, akreditasi mutu ISO/TS-16949 tahun 2004, Sertifikasi Rekomendasi dari LRQA (Lloyd's Register Quality Assurance) (External Audit) tahun 2011, dan Sertifikasi dan Adopsi Occupational Health & Safety Management System 2007 (OHSAS :2007) tahun 2012. Secara keseluruhan baik Bridgestone Indonesia yang berada di bawah naungan Bridgestone Corporation maupun Bridgestone Corporation sendiri telah berhasil menjadi produsen ban terbesar di dunia.

2.2. Struktur Organisasi Perusahaan

Pada subab ini akan ditunjukan mengenai struktur organisasi PT. Bridgestone Tire Indonesia dan penjelasan setiap tugas dan tanggung jawab dari setiap bagian dalam struktur organisasi.

(15)

7

(16)

8

2.2.1. Tugas dan Wewenang

Tugas, wewenang dan jabatan dari struktur organisasi PT Bridgestone Tire Indonesia dapat dijelaskan sebagai berikut:

a. Presiden Direktur

Berikut ini merupakan tugas presiden direktur:

i. Pemimpin perusahaan dalam menjalankan operasional perusahaan dan manajemen perusahaan.

ii. Mempertahankan struktur perusahaan dalam jalur yang sudah ditentukan.

b. Marketing Department

Marketing Department tugasnya adalah:

i. Membuat hubungan yang baik dengan pelanggan. ii. Menawarkan produk ke konsumen.

iii. Membuat suatu persetujuan bisnis dengan konsumen. iv. Membuat forecasting penjualan di masa depan. v. Membuat kebijakan dan keputusan perusahaan.

vi. Mengadakan tukar menukar yang saling menguntungkan antar perusahaan.

c. Accounting Department

Tanggung jawab utama Accounting Department

i.

Mengawasi anggaran yang keluar dari perusahaan.

ii.

Mencatat semua transaksi arus kas.

iii.

Bekerja sama dengan manajer untuk menyusun strategi demi kemajuan perusahaan.

iv.

Mempertahankan anggaran perusahaan tetap pada batasnya. d. Relation Department

Tugas Relation Department secara umum adalah:

i. Menjalin hubungan yang baik antara klien dengan perusahaan. e. General Affair Department

Tugas General Affair Department secara umum adalah: i. Melakukan perekrutan karyawan.

ii. Mengadakan training untuk karyawan. iii. Sebagai penghubung antar karyawan. f. Product Planning / Delivery Department

(17)

9

Tugas Product Planning / Delivery Department secara umum adalah i. Merencanakan kapasitas produksi.

ii. Mengestimasikan waktu produksi.

iii. Mengoptimalkan karyawan di bagian produksi iv. Mengendalikan jumlah produksi.

v. Melakukan pembelian material yang dibutuhkan dan berkoordinasi dengan bagian Accounting Department.

vi. Membuat laporan produksi. g. Production Department

Tugas Production Department secara umum adalah:

i. Mengadakan penelitian dan pengembangan akan produk baru. ii. Bertanggung jawab atas semua proses produksi perusahaan. h. Technical Department

Tugas Technical Department secara umum adalah:

i. Bertanggung jawab atas semua kegiatan proses produksi, compressor, dan finishing.

j. Technical Service Department

Tugas Technical Service Department secara umum adalah: i. Bertanggung jawab atas semua kegiatan replacement. k. Engineering Department

Tugas Engineering Department secara umum adalah:

i. Melakukan perawatan terhadap semua mesin-mesin yang terdapat pada PT. Bridgestone Tire Indonesia.

ii. Melakukan perbaikan-perbaikan mesin jika ada mesin yang rusak. l. Quality Assurance Department

Tugas Engineering Department secara umum adalah: i. Membuat Laporan mutu produksi

ii. Mengadakan ispeksi akan material yang masuk

iii. Bekerja dengan bagian lain untuk mempertahankan mutu produksi iv. Mengadakan inspeksi terhadap setiap produk yang dihasilkan

v. mempertahankan sertifikasi ISO yang di peroleh vi. Mengadakan trining manajemen sistem

(18)

10

2.3. Manajemen Perusahaan

Dalam subab ini akan dijelaskan mengenai beberapa uraian dari visi dan misi perusahaan, dan ketenagakerjaan pada PT. Bridgestone Tire Indonesia. Berikut penjabarannya.

2.3.1. Visi dan misi perusahaan

Misi Grup Bridgestone didasarkan pada kata-kata pendirinya: "Menyumbang

Masyarakat dengan Mutu Tertinggi". Untuk memenuhi misi ini, Grup Bridgestone

telah menggunakan konsep "dasar" untuk menunjukkan komitmen yang berkesinambungan dari karyawan untuk memberikan kepada pelanggan produk dan jasa untuk melayani masyarakat di mana Bridgestone melakukan bisnis. "Esensi Bridgestone" terdiri dari kata-kata, budaya perusahaan yang terintegrasi dan keragaman kita bahwa perusahaan saat ini telah mewarisi dan rasa berbagi nilai-nilai yang dapat dianut oleh karyawan Bridgestone di seluruh dunia.

Bridgestone bercita-cita untuk menawarkan yang terbaik bagi pelanggan dan untuk masyarakat, tidak hanya dalam hal produk, layanan dan teknologi, tetapi juga dalam semua kegiatan perusahaan. Komitmen bridgestone terhadap kualitas bukan berasal dari keinginan mendapat keuntungan semata, tetapi timbul dari semangat untuk meningkatkan keselamatan dan kehidupan yang nyaman dalam segala aspek bagi semua orang di seluruh dunia. Melalui Misi, bridgestone berusaha untuk menjadi perusahaan yang dipercaya oleh semua orang di dunia, sebuah perusahaan dimana semua bisa berbangga.

Untuk mendukung tercapainya visi dan misi tersebut, PT. Bridgestone Tire Indonesia telah mendefinisikan, menetapkan, dan menerapkan 4 prinsip dasar dari perusahaan :

a. Seijitsu-Kyocho (Integritas dan Kerjasama)

Seijitsu-Kyocho adalah berpegang pada ketulusan hati dalam menjalankan pekerjaan, menghadapi orang lain, dan berpartisipasi dalam masyarakt, serta mendorong kerjsama tim dengan tetap mengedepankan rasa saling menghargai dan menghormati keragaman ketrampilan, perspektif, pengalaman, jenis kelamin, dan ras. Dengan hal tersebut kita dapat menciptakan hasil yang positif.

(19)

11

b. Shinshu-Dokusho (Pelopor Kreativitas)

Shinsu-Dokuso adalah mengetahui dan memahami yang terjadi di dunia dari sudut pandang Pelanggan sehingga kitapun dapat mengantisipasi apa yang akan terjadi di masa yang akan datang. Berdasarkan hal tersebut di atas, kita harus proaktif dalam menciptakan beragam kreasi yang lebih bermanfaat bagi masyarakat. Kita harus mencari dan menciptakan peluang pasar baru di dunia dengan metode sendiri yang unik.

c. Genbutsu-Genba (Peninjauan Lapangan)

Genbutsu-Genba adalah melangkahkan kaki ke lapangan dan memastikan kenyataan dengan mata kepala sendiri. Dengan tidak merasa puas dengan kondisi yang ada, kita harus membandingkannya dengan "kondisi yang ideal" dan membuat keputusan yang tepat untuk mencapai kondisi yang terbaik.

d. Jukuryo Danko (Kematangan Tindakan)

Jukuryo-Danko adalah pemikiran yang dalam tentang segala kemungkinan pada beragam situasi untuk mengambil tindakan. Serta menentukan arah yang harus ditempuh, setelah mengidentifikasi intisarinya. Hal tersebut dilakukan dengan kecepatan dan daya tahan yang kuat.

e. Kebijakan Dasar Perusahaan

i. Perusahaan ini mengetahui dengan cepat setiap gejala perubahan tentang produk yang dibutuhkan di pasar dengan mengecek segera ke lapangan.

ii. Perusahaan mengembangkan teknologi baru sesuai dengan permintaan pasar.

iii. Perusahaan memenuhi kebutuhan pasar dengan menyuplai produk dengan tepat waktu.

iv. Perusahaan membentuk sistem pengontrolan mutu produk guna menjaga agar mutunya tetap tinggi sebagai jaminan kepuasan pelanggan.

v. Perusahaan membentuk program pendidikan dan pelatihan bagi karyawan.

(20)

12

2.3.2. Ketenagakerjaan

Hal-hal yang berkaitan dengan ketenagakerjaan di PT. Bridgestone Tire Indonesia diatur sebagai berikut:

a. Pengadaan Tenaga Kerja

Prosedur dan syarat-syarat yang ditetapkan dalam penarikan tenaga kerja pada PT. Bridgestone Tire Indonesia antara lain:

i. Pengisian formulir, dimaksudkan untuk memperoleh informasi dan data yang lengkap dari calon karyawan

ii. Mengikuti psikotest

iii. Wawancara, dalam wawancara ini biasanya mudah dinilai tentang penampilan, kemampuan bicara, pendidikan dan sebagainya.

iv. Pemeriksaan kesehatan, untuk mencegah terhadap kemungkinan memperoleh karyawan yang menderita suatu penyakit yang dapat menganggu proses kerja.

b. Jam Kerja Karyawan

Peraturan jam kerja karyawan pada perusahaan PT. Bridgestone Tire Indonesia yang berlaku adalah sebagai berikut:

i.Karyawan dengan jam kerja Shift: Hari Senin – Minggu:

1. Shift I

Pukul 08.00 – 16.00 WIB

Jam istirahat diatur sendiri dengan durasi istirahat selama 1 jam 2. Shift II

Pukul 16.00 – 24.00 WIB

Jam istirahat diatur sendiri dengan durasi istirahat selama 1 jam 3. Shift III

Pukul 24.00 – 08.00 WIB

Jam istirahat diatur sendiri dengan durasi istirahat selama 1 jam. ii. Karyawan dengan jam kerja non shift:

1. Hari Senin – Jumat:

Bekerja mulai pukul 08.00 – 16.45 WIB Jam istirahat pukul 12.00 – 13.00 WIB c. Kesejahteraan Karyawan

(21)

13

Agar didapat hasil kerja yang sesuai dengan tujuan serta untuk meningkatkan semangat karyawan, maka pimpinan perusahaan memberikan fasilitasfasilitas antara lain:

i. Tunjangan hari raya dan tunjangan lainnya ii. Kantin

iii. Mushola

iv. Tempat parkir sepeda motor dan mobil v. Proving Ground

vi. Education Center vii. LLKBS

Dalam suatu perusahaan, keselamatan kerja karyawan merupakan hal yang sangat penting karena dapat mempengaruhi produktivitas maupun citra perusahaan tersebut. PT. Bridgestone Tire Indonesia telah memberi perhatian tersendiri untuk keselamatan kerja karyawannya. Hal ini terlihat dengan safety mission statement atau pernytaan misi keselamatan yaitu safety fundamental activities yang terdiri dari:

i. 3S ii. KY

iii. Safety Rules iv. RA

Untuk memantu melestarikan lingkungan yang sehat bagi generasi sekarang dan masa datang, bridgestone group berkomitmen untuk secara terus menurus mempertahankan integritas dan kesatuan dengan pelanggan, mitra, dan masyarakat dunia dimanapun bridgestone berada, karena itu bridgestone melaksanakan kegiatan dengan tiga sasaran yaitu:

i. Selaras dengan alam

Memberikan kontribusi terhadap perlindungan keanekaragaman hayati melalui peningkatan habitat, pendidikan lingkungan dan penelitian.

ii. Nilai sumber daya alam

Terus meningkatkan konservasi sumber daya alam melalui perbaikan operasional dan desain produk

iii. Mengurangi emisi CO2

Terus berupaya mengurangi efek rumah kaca, termasuk emisi CO2 dengan

(22)

14

Sedangkan upaya-upaya untuk meningkatkan mutu produk dilakukan melalui penelitian dan pengembangan secara kontinyu oleh PT. Bridgestone Pengawasan mutu yang sangat ketat dikembangkan melalui konsep ISO/TS - 16949, sehingga hanya produk yang berkualitas saja yang disajikan kepada konsumen. Untuk meningkatkan kualitas produknya, membuat proving ground atau sirkuit mini tes uji coba ban telah menjadi bagian dalam proses menjaga kualitas produk sebelum dipasarkan yakni dengan material research, laboraturium, Uniformity testing, dan road test. Sehingga brdgestone group memiliki pernyataan misi qualiy yang teridiri dari comply with standards , know your costumer, be vigilant, Innovate & kaizen. Bridgestone juga memiliki Basic Thinking of SEQCD yaitu terdiri dari safety,environment, quality, cost dan delivery.

d. Fasilitas

PT. Bridgestone Tire Indonesia menyediakan beberapa fasilitas untuk kenyamanan karyawan serta pihak-pihak yang terkait dalam PT. Bridgestone Tire Indonesia, yaitu :

a. Proving Ground

Bridgestone telah membuktikan statusnya sebagai salah satu pabrikan ban terkemuka yang senantiasa terus mengembangkan dan melakukan inovasi-inovasi dalam menghasilkan ban yang berkualitas tinggi. Guna meningkatkan kualitas produknya, membuat proving ground atau sirkuit mini tes uji coba ban telah menjadi bagian dalam proses menjaga kualitas produk sebelum dipasarkan.

Proving Ground Indonesia dibangun di atas lahan 62.500m2 dengan panjang lintasan utama 1.971m. Memiliki lintasan lurus 850m dan 5 tikungan di sepanjang lintasan utama. Pada sirkuit ini juga dilengkapi dengan 8 jenis permukaan jalan khusus, tikungan beradius 50m dan 32m untuk pengujian medan basah dan kering.

b. Education Center

Bridgestone Indonesia Education Center (BINEC) didirikan untuk memperkuat pengetahuan, skill & pelayanan terbaik kepada semua customer, seperti Distributor, Toko Model, Fleets dll. (termasuk staff internal BSIN) dengan berbagai macam training. Ini dimaksudkan untuk mencapai misi kami, kami memberikan pelayanan terbaik dari staff ahli kami yang berpengalaman kepada semua customer.

(23)

15

Pelatihan di BINEC tetap berpedoman pada :

1. Keselamatan adalah prioritas paling tinggi dari pada yang lain 2. Fasilitas (yang) Ramah Lingkungan

3. Memperkenalkan standard PIT terkini

4. Untuk efisiensi kerja dengan mengikuti standard PIT terkini di dunia. c. LLKBS (Loka Latihan Ketrampilan Bridgestone)

Untuk membantu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan lulusan Sekolah Menengah Kejuruan dalam rangka pengembangan dunia Iindustri di Indonesia, dengan alasan bahwa lulusan Sekolah Menengah kejuruan belum sepenuhnya siap untuk langsung terjun ke dunia industri, sehingga perlu pembekalan keterampilan teknik sehingga siap menjadi teknisi yang handal sesuai dengan perkembangan teknologi saat ini.

d. Kendaraan

Untuk level Manager dan Direktur mendapat pinjaman mobil dinas dari PT. Bridgestone Tire Indonesia selama menjabat posisi tersebut.

2.3.3. Pemasaran

Pemasaran produk PT. Bridgestone Tire Indonesia saat ini tidak hanya di dalam negeri namun juga hingga ke luar negeri. Untuk pemasaran di dalam negeri, PT. Bridgestone Tire Indonesia memiliki distributor yang tersebar di seluruh wilayah indonesia. Sedangkan untuk pemasaran ke luar negeri, PT. Bridgestone Tire Indonesia telah merambah ke timur tengah, benua asia, benua afrika, benua eropa, amerika utara dan amerika selatan.

(24)

16

BAB 3

TINJAUAN SISTEM PERUSAHAAN

3.1. Proses Bisnis Perusahaan

Pada sub bab ini akan mahasiswa jelaskan mengenai proses bisnis yang ada pada PT. Bridgestone Tire Indonesia. Proses bisnis sendiri memiliki arti sebagai rangkaian atau urutan aktivitas yang dilakukan oleh departemen, dan antara satu departemen dengan departemen lainnya yang saling mempengaruhi. Proses bisnis yang ada ini bertujuan untuk mencapai tujuan dari perusahaan. Pada gambar berikut ini akan ditampilkan proses bisnis untuk proses pemesanan tire PT. Bridgestone Tire Indonesia.

(25)

17

(26)

18

Berikut akan dijelaskan secara brurutan mengenai proses bisnis pemesanan tire: a. Bagian sales dan marketing menerima pemesanan tire dari costumer

kemudian akan merekap order dari costumer.

b. Bagian SCM menerima order dari bagian sales dan marketing, selanjutnya akan membuat persiapan perencanaan produksi tire.

c. Bagian Production planning akan mengatur perencanaan produksi tire yang sudah disiapkan oleh bagian scm, kemudian membuat jadwal produksi tire.

d. Bagian purchasing akan menerima jadwal produksi tire dan melakukan pemesanan bahan baku.

e. Bagian raw material house menerima bahan baku setelah itu bahan baku akan diperiksa. Selanjutnya bahan baku akan di siapkan untuk dikirim ke bagian produksi.

f. Bagian produksi menerima bahan baku dan menerima jadwal produksi tire selanjutnya bahan baku tersebut akan di proses menjadi tire.

g. Bagian Quality Assurance bertugas untuk melakukan pengecekan kulitas tire yang telah diproduksi.

h. Bagian Tire Wire House bertugas untuk menerima tire dari bagian produksi yang akan selanjutnya akan dilakukan proses pengiriman (Ekspor,Ordinary

(27)

19

3.2. Produk yang Dihasilkan

Gambar 3.2. Produk Passenger Tire

(28)

20

Gambar 3.4. Produk Industrial Tires

Gambar 3.5. Produk Agricultural Tires

Gambar 3.6. Produk Off The Road Bias Tires

3.3. Proses Produksi

Dalam proses produksi PT. Bridgestone Tire Indonesia melibatkan beberapa komponen proses produksi seperti manusia, material, metode, uang, mesin, dan informasi. Berikut penjelasan keterlibatan komponen proses produksi pada PT. Bridgestone Tire Indonesia :

a. Material

Material yang digunakan dalam pembuatan tire pada PT.Bridgestone Tire Indonesia adalah raw rubber, carbon black, sulfur & other, chemical yang nantinya akan dimixing oleh mesin banbury mixer pada PT. Bridgestone Tire Indonesia. b. Manusia

Dalam proses produksi tire di PT. Bridgestone Tire Indonesia manusia sangat berperan penting dalam pelaksanaannya, manusia berperan sebagai perencana, pengawas proses, pengambil berbagai macam keputusan, sampai dengan

(29)

21

menjadi elemen pendukung untuk proses pembuatan tire seperti melayani tamu sampai menjaga keamanan lingkungan.

c. Metode

Metode yang digunakan untuk membuat tire pada PT. Bridgestone tire indonesia ini adalah menggunakan mesin-mesin pembuat tire tidak ada proses manual dalam membuat tire tetapi dalam beberapa pendistribusian bahan baku dan proses inspeksi masih menggunakan tenaga manusia untuk memenuhinya.

d. Money (modal/dana)

Dana yang dimaksud adalah dana/uang yang akan dikeluarkan untuk membeli bahan baku, biaya riset, membayar tenaga kerja, membayar daya listrik, pajak, dll. e. Mesin

Mesin sangat dibutuhkan dalam proses produksi. Karena di PT. Bridgestone Tire Indonesia mulai dari pembuatan compound sampai pada finishing dilakukan oleh mesin (Otomasi).

f. Informasi

Informasi yang ada pada proses produksi adalah informasi produk yaitu berupa berapa produk yang harus dibuat, spesifikasi produk cacat, dan beberapa informasi tettang produk cacat lainnya, yang bisa digunakan sebagai acuan dalam produksi produk.

(30)

22

3.3.1. Proses Produksi Tire

Pada sub subab ini akan dijelaskan lebih lanjut mengenai proses produksi yang ada pada PT. Bridgestone Tire Indonesia berikut penjabarannya:

Gambar 3.7. Proses Produksi Tire PT. Bridgestone Tire Indonesia

a. Mixing / Banbury

Dalam pembuatan produk ban unggulan, baik untuk kendaraan mobil maupun motor, Tire Manufacturing menggunakan beberapa material sebagai bahan baku utama dan beberapa bahan kimia sebagai bahan pelengkap produksi. Material yang digunakan antara lain Natural dan Synthetic Rubber, Carbon Black, Silica, Zinc Oxide, Sulfur, Oli, dan beberapa material kimia lain. Pada tahap awal, proses yang dilakukan adalah pencampuran Natural &Synthetic

Rubber dengan Ingredient yang sebelumnya sudah ditimbang sesuai dengan

berat yang ditentukan pada spesikasi produk yang ingin dibentuk. Kemudian diberikan tambahan Carbon dan Oli pada saat material tersebut masuk kedalam mesin Banburry. Dalam mesin tersebut terdapat alat yang berfungsi untuk menggiling campuran menjadi lapisan yang disebut compound. Sebelum

compound tersebut disusun pada rak, terlebih dahulu melewati proses

pendinginan dan diberi cairan adhesive agar compound tersebut tidak lengket setelah tersusun.

(31)

23 b. Extruding

Adonan hasil mixing tadi dibuat menjadi tread dan sidewall. Prosesnya adalah injeksi dan extruding hingga terbentuk profil. Hasil akhir dari tahapan ini adalah

side wall, tread dan filler. Side wall merupakan salah satu bagian ban yang

berfungsi sebagai pelindung terhadap benturan dari arah samping atau serempetan, bahan untuk menambah fleksibilitas ban, lapisan karet pembungkus carcass dari shoulder area ke rim cushion dan bead area, berfungsi untuk fashion jika dihias dengan white ribbon atau white letter, penahan tekukan untuk beban berat, daya tahan lama dan tahan retakan dan juga berfungsi untuk kekerasan dan keempukan radial.

c. Calender

Proses aplikasi lain adalah untuk pembuatan material ply & steel belt, JLB &

cap ply. Aplikasi tersebut dibentuk oleh mesin Calender dengan bahan dasar

benang (polyester dan nylon) juga steel cord. Polyester maupun nylon yang akan diproses, sebelumnya harus melalui proses pelebaran terlebih dahulu agar material tersebut terbuka untuk kemudian di masukan ke dalam oven dengan suhu 160°C agar pada saat diberikan compound dan bahan-bahan seperti polyester, nylon, dan steel cord dapat merekat dengan sempurna.

d. Bead

Sementara proses calender berjalan, di bagian lain ada pembuatan bead wire yaitu melapisi kawat baja dengan karet. Proses ini berjalan otomatis dan begitu keluar dari mesin, bead wire sudah berbentuk lingkaran sesuai dengan ukuran rim.

e. Cutting

Proses cutting ini merupakan proses lanjutan dari mesin Callender, hasill akhir dari proses ini biasa disebut dengan Ply dan Cap Ply. Ply merupakan lembaran material yang terdiri dari Polyester, Nylon, dan compound yang telah diproses sebelumnya dalam bentuk gulungan panjang di mesin Calender yang kemudian di potong – potong untuk merubah arah atau sudut benang dari 0° menjadi 90°. Ply berfungsi sebagai carcass atau kerangka untuk menahan,

(32)

24

membentuk sistem suspensi dan beban ban.Sedangkan Cap Ply merupakan lembaran material yang terdiri dari nylon dan compound yang dipotong – potong menjadi beberapa bagian di mesin TTO. Cap Ply berfungsi sebagai bahan untuk mempertahankan bundar ban waktu berjalan, meredam suara bising dari steel belt, membuat nyaman, dan untuk memperkecil rolling resistance.

f. Building

Kemudian sampailah pada tahap perakitan semua komponen-komponen aplikasi yang telah dibuat pada proses semi manufaktur. Semua komponen seperti rakitan bead, lembaran ply yang telah di potong dengan sudut 90°, steel belts, innerliner, tread dan side wall semua di rakit menjadi satu kesatuan utuh sebagai bagian dari ban setengah jadi atau biasa disebut dengan

Green Tire (GT). Proses perakitan (Tire Building) terdiri dari 2 tahap, tahap

pertama sering disebut dengan istilah 1st stage yang kemudian menghasil produk berupa carcass, kemudian carcass diproses kembali di tahap kedua atau 2nd stage dengan menambahkan steel belt, cap ply dan tread menjadi GT. Tahap ini dilakukan dengan menggunakan mesin yang dioperasikan oleh satu operator di masing – masing tahap.

g. Curing

Proses selanjutnya adalah tahap akhir dari proses pembentukan ban. GT yang dihasilkan dari proses perakitan kemudian di kirim ke area Curing untuk dimasak. Proses Curing sendiri terdiri dari beberapa tahap. Pertama GT datang dari bagian Perakitan, sebelum masuk ke proses curing, GT harus diperiksa terlebih dahulu untuk menghindari adanya cacat pada GT. Setelah GT selesai diperiksa diambil 4 ban setiap 1 rak GT untuk dilakukan proses painting Chem Trend yaitu pengolesan cairan tire-lubricant pada bagian dalam GT yang bertujuan agar GT tidak menempel di bagian karet bladder pada saat proses

curing berlangsung. Kemudian GT dikirim ke masing-masing operator untuk di

proses di mesin press curing. Proses curing sendiri merupakan pemasakan atau vulkanisasi yaitu penyatuan polimer (rubber) dengan carbon black dan

sulphur dengan dibantu oleh persenyawaan bahan kimia untuk mendapatkan

beberapa karakteristik compound yang diperlukan dari bagian-bagian ban. Proses curing (pemasakan) ini membutuhkan suhu panas dan sejumlah tekanan steam yang sangat tinggi, GT akan ditempatkan pada cetakan (mold)

(33)

25

dengan temperatur sesuai dengan yang diinginkan untuk produksi. Setelah cetakan tertutup, GT akan melebur ke dalam cetakan tread dan side wall. Cetakan tersebut tidak dapat dibuka sampai proses curing selesai secara keseluruhan. Setelah proses pemasakan selesai, mold akan terbuka secara otomatis. Ban yang sudah jadi akan jatuh dan masuk ke dalam conveyor untuk kemudian sampai di bagian Pemeriksaan (Finishing).

h. Finishing

Setelah selesai, ban diperiksa secara visual apakah ada cacat atau tidak. Proses ini tentu saja tidak menggunakan mesin, jadi ketelitian pekerja sangat dibutuhkan. Selain visual, kontrol juga dilakukan dengan pemeriksaan

balance dan menggunakan sinar X.

Ban tidak mungkin bisa 100% balance seperti pelek, namun ada batasannya. Jika melebihi batas, berarti ada kesalahan pada proses produksi. Selain itu, kami juga memiliki laboratorium untuk memeriksa sampel ban yang diambil secara acak demi menjaga kualitas.

3.3.2. Fasilitas Produksi

PT. Bridgestone Tire Indonesia menggunakan fasilitas produksi dengan tipe product layout. Product layout merupakan suatu tataletak yang memiliki efisiensi yang tinggi di mana peralatan diatur bedasarkan urutan proses pembuatan produk. Setiap komponen bahan baku akan selalu mengalami perpindahan dari satu proses ke proses lainnya.

Sistem penanganan material yang terdapat di PT. Bridgestone Tire Indonesia bermacam-macam tergantung dari jenis dan jumlah bahan baku yang akan dipindahkan serta posisi bahan baku tersebut berada sekarang. Metode pemindahan bahan baku maupun produk jadi di PT. Bridgestone Tire Indonesia dibedakan menjadi 3 jenis yaitu:

a.

Pemindahan secara manual

Pemindahan secara manual dilakukan oleh operator tanpa bantuan mesin. Hal ini dipakai bila tidak ada alat khusus untuk menangani dan merupakan pekerjaan yang ringan.

(34)

26

b.

Pemindahan dengan menggunakan mesin

Pemindahan dengan menggunakan mesin tanpa bantuan manusia. Digunakan apabila tidak memungkinkan untuk dilakukan secara manual. Hal ini lebih efisien untuk pekerjaan yang berat.

c.

Pemindahan bahan secara campuran

Sistem pemindahan yang dilakukan oleh manusia dengan bantuan mesin atau alat bantu, biasanya dipakai untuk memindahkan komponen dari satu departemen ke departemen yang lain. Sistem penanganan material yang terdapat di bagian produksi bermacam-macam, tergantung dari jenis material yang akan

dipindahkan. Sebagian besar

perpindahan bahan baku dilakukan oleh manusia atau operator. Alat material

handling akan digunakan jika materialnya berat atau berjumlah banyak. Material handling yang digunakan di PT. Bridgestone Tire Indonesia antara lain:

i. Konveyor

Konveyor digunakan untuk memindahan produk dari setiap departemen ke departemen lain atau pun dari mesin satu ke mesin lainnya yang saling terhubung.

ii. Roller conveyor

Pemindahan produk ke bagian penge-bale-an dilakukan melalui roller

conveyor. Roller conveyor merupakan alat pemindahan material yang

digunakan dalam proses perakitan, inspeksi dan untuk memindahkan produk dari perakitan.

iii. Forklift

Forklift digunakan untuk memindahkan bahan baku dan membantu

pemindahan komponen produk yang ada di lantai produksi. iv. Hand truck

Hand truck digunakan untuk membawa material-material berukuran kecil

dalam jumlah yang banyak.

v. Pallet

Pallet merupakan papan kayu yang digunakan sebagai alat bantu dalam

(35)

27

BAB 4

TINJAUAN PEKERJAAN MAHASISWA

Pada bab ini menjelaskan tugas khusus yang diberikan oleh pemimbing lapangan Kerja Praktek. Pembahasan yang akan dilakukan pada bab ini mulai dari lingkup pekerjaan dimana mahasiswa ditempatkan, metodologi pelaksanaan tugas, pengumpulan dan pengolahan data, analisis data, dan kesimpulan yang didapatkan.

4.1. Lingkup Pekerjaan

Dalam pelaksanaan kerja praktek mahasiswa ditempatkan pada bagian Safety

Health and Environment PT. Bridgestone Tire Indonesia tepatnya pada ruangan

kantor Safety Health and Environment (SHE) yang berada didekat bagian curing caldron sehingga memudahkan mahasiswa untuk mengamati keadaan pada lingkungan kerja. Berikut ini adalah gambaran skema ruang kantor Departemen

Safety Health and Environment (SHE) beserta tata letak ruangan:

Gambar 4.1. Tata Letak Kantor Bagian Safety Health and Environment (SHE)

Departemen Safety Health and Environment (SHE) memiliki tugas untuk bertanggung jawab atas kesehatan dan keselamatan para tenaga kerja di perusahaan. Departemen ini juga mempunyai wewenang untuk memastikan keselamatan kerja memenuhi persyaratan SHE hukum, menerapkan dan mempromosikan program SHE, membantu penyelidikan insiden, melakukan dan menyajikan temuan keselamatan bulanan, melakukan diklat keamanan rutin, briefing, dll, melaksanakan penilaian risiko dan kontrol pada kegiatan.

(36)

28

Dibawah ini akan ditunjukan struktur organisasi pada bagian Safety Health and

Environment (SHE) . Technical Director NAGANUMA YASUHITO Factory Manager HENDRIYUS Departement Manager EDI PRAYITNO Section Manager ARIF WIDODO Section Manager YAMAMOTO Chief DIDIK SETIONO Chief DWI TOTO S A. Chief DIDIET SIDHARTA A. Chief YANA Staff JAENURI Staff

AHMAD TAUFIK ZEIN

Staff

ANDRI

Staff

EKO APLIANSO

Gambar 4.2. Struktur Organisasi Departemen Safety Healh and Environment PT Bridgestone Tire Indonesia

Tugas, wewenang dan jabatan dari struktur organisasi departemen Safety Health

and Environment PT. Bridgestone Tire Indonesia dapat dijelaskan sebagai berikut:

a. Chief

i. SHE activity coordinator ii. Administration control iii. SHE budget control iv. SHE report

v. GMP audit coordinator b. Assisten Chief

i. Safety, env control & budget ii. Safety, env management control iii. BSFA coordinator

iv. Similar accident

v. OHSAS & ISO 14001 coordinator c. Staff Environment

(37)

29

ii. EMS (ISO 14001 implementation control and monitoring regulation, document, audit.

iii.Environment daily insfection iv.Reduction activity : CO2, ZE

v. PPR activity and regulation control vi.Environment, PPR trainning vii. Proper

viii. Documentation d. Staff Safety Engineer

i. BSFA Assessor

ii. BS safety fundamental activity iii. Maruteki

iv. LOTO Equipment

v. BS safety fundamental instructur vi. Risk Assassement

vii. Safety riding activity trainning, patrol viii. Documentation

e. Staff Safety Officer

i. BS safety conventional activity ii. OHSAS 18001 management iii. LOTO Trainning

iv. Safety simulation trainning v. Safety inspection

vi. Safety trainning

vii. Safety meeting coordinator viii. SHE management review

ix. Documentation f. Dissasster Prevention

i. DP assessor

ii. DP activity coordinator

iii. DP management implementation control iv. DP inspection control

1. High risk area (daily inspection) 2. BB must 11 item

(38)

30 v. DP trainning

vi. Fire prevention electrical wiring vii. LKBK, LKK, New Idea

Dalam bagian Safety health and environment , mahasiswa diberikan tugas untuk menganalisis masalah apa yang ada pada bagian Safety health and environment . Untuk melakukan tugas yang diberikan oleh pengawas lapangan, mahasiswa membutuhkan bantuan dari berbagai pihak, dalam tugasnya mahasiswa bekerjasama denga para operator dan staff dan diawasi langsung oleh manager bagian SHE.

4.2. Tanggung Jawab dan Wewenang Dalam Perusahaan

Selama pelaksanaan kerja praktek, mahasiswa ditempatkan pada bagian Safety

Health and Environment yang selanjutnya diberi tugas untuk memilih fokus dari

masalah apa yang akan diangkat sebagai objek pengamatan.

Berdasarkan permasalahan tersebut dan sesuai mata kuliah peminatan yaitu Penilaian Aspek Ergonomi mahasiswa tertarik untuk melakukan penelitian “Analisis Resiko Manual Handling Pada Operator Area Curing Caldron PT. Bridgestone Tire Indonesia”.

Tanggung jawab mahasiwa pada tugas ini adalah menyelesaikan laporan sesuai bagian penempatan dan hasilnya akan dipresentasikan. Selain itu mahasiswa harus mengikuti peraturan dalam pabrik untuk bersikap tertib dalam pekerjaannya. Selama pelaksanaan kerja praktek mahasiswa

diberikan wewenang oleh pembimbing lapangan maupun oleh perusahaan tersebut, diantaranya adalah untuk:

a. Mahasiswa diperbolehkan mencari informasi kepada operator bagian curing caldron yang ada dengan memberi ruang pengamatan

b. Mahasiswa menggunakan ruangan kantor Safety health and environment untuk mengerjakan laporan dan diperbolehkan menggunakan berbagai fasilitas didalamnya.

c. Mahasiswa diperbolehkan bertanya dan mendapatkan informasi yang berhubungan dengan tugas pada setiap departemen dan pihak yang berkaitan.

(39)

31

4.3. Metodologi Pelaksanaan Pekerjaan 4.3.1. Latar Belakang Masalah

Manusia sebagai bagian dari suatu sistem kerja mempunyai kelebihan dan keterbatasan dalam melaksanakan fungsinya dalam sistem kerja,oleh karena itu analisa biomekanika sangat penting untuk mengetahui apakah cara kerja operator sudah benar dan tingkat terjadinya kecelakaan kerja sangat kecil, serta dapat menyesuaikan antara pekerjaan, dan peralatan dengan kemampuan operator tersebut. Terutama saat terjadinya interaksi antara operator dengan peralatan yang digunakan sudah nyaman bagi operator. Ada beberapa metode biomekanika untuk analisis sikap kerja,salah satu nya yaitu Ovako Work Posture Analysis System (OWAS). OWAS merupakan suatu metode untuk mengevaluasi dan menganalisa sikap kerja yang tidak nyaman dan berakibat pada cidera musculoskeletal (Karhu, 1981dalam Wijaya,A, 2008). Bagian sikap kerja dari pekerja yang diamati meliputi pergerakan tubuh dari bagian punggung, bahu, tangan, dan kaki (termasuk paha, lutut, pergelangan kaki).

Mahasiswa melakukan penelitian dilakukan di bagian curing caldron sebagai fokus pengamatan dan pengambilan data, karena pada bagian divisi terebut banyak aktivitas pekerja atau operator yang masih menggunakan manual handing. Aktivitas manual handling yang berada di bagian curing caldron terdapat kegiatan proses pengambilan tire dari daisha, pengangkatan tire dan meletakkan tire di velg.

Metode analisis postur kerja yang digunakan adalah Nordic Body Map (NBM) dan Ovako Work Posture Analysis System (OWAS). NBM adalah kuesioner sederhana untuk mengidentifikasi risiko ergonomi. Salah satu bentuk kuesioner checklist ergonomi adalah kuesioner Nordic Body Map, yang digunakan untuk mengetahui keluhan – keluhan sakit dan ketidaknyamanan pekerja saat bekerja. Kuesioner checklist selain Nordic Body Map adalah check list International Labour Organizatin (ILO) (Kroemer,2001). Ovako Work Posture Analysis System (OWAS) adalah metode analisis sikap kerja yang mendefinisikan pergerakan bagian tubuh punggung, lengan, kaki, dan beban berat yang diangkat. Masing-masing anggota tubuh tersebut diklasifikasikan menjadi sikap kerja. Hasil dari metode OWAS adalah untuk mengetahui level risiko yang terjadi pada operator saat bekerja. Penyakit dan gangguan kesehatan yang terjadi pada pekerja merupakan tanda kondisi pekerja yang tidak aman saat bekerja, namun tetap dipakaksakan untuk melakukan aktivitas pekerjaan tersebut. Keluhan – keluhan sakit yang dialami

(40)

32

pekerja, akibat kelelahan pekerja terhadap postur tubuh yang tidak alamiah dan dilakukan secara terus menerus. Keluhan tersebut dapat menjadi indikasi adanya gangguan kesehatan dan keselamatan pekerja,terutama gangguan kesehatan pada musculoskeletal (Astuti, 2007).

Langkah awal penelitian adalah memberi penjelasan maksud, tujuan, dan cara pengambilan data, kepada operator yang hendak diamati posisi sikap kerjanya (kondisi normal yang biasanya dilakukan). Saat operator melakukan aktivitas manual handling dilakukan juga pengambilan gambar menggunakan kamera handphone. Tujuan pengambilan gambar untuk data identifikasi postur kerja operator pada saat melakukan manual handling, dan mengetahui posisi dari setiap tubuh operator sebagai data analisis metode OWAS. Pengumpulan data dimulai dengan menyebarkan kuesioner Nordic Body Map (NBM) pada tiga operator di bagian Curing caldron. Pengambilan tiga operator tersebut karena pada shift pagi hanya terdapat 1 operator yang bekerja, shift siang 1 operator yang bekerja dan shift malam 1 orang yang bekerja. Hal tersebut dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui keluhan –keluhan dari operator yang melakukan manual handling. Kemudian melakukan identifikasi postur kerja operator dengan menggunakan metode OWAS untuk mengetahui level risiko cedera operator di tempat kerja.

4.3.2. Penjelasan Metode Ovako Work Posture Analysis System (OWAS)

OWAS merupakan metode analisis sikap kerja yang mendefinisikan pergerakan bagian tubuh punggung, lengan, kaki, dan beban berat yang diangkat. Masing-masing anggota tubuh tersebut diklasifikasikan menjadi sikap kerja. Berikut ini adalah klasifikasi sikap bagian tubuh yang diamati untuk dianalisa dan dievaluasi (Karhu, 1981):

a. Sikap punggung i. Tegak

ii. Membungkuk ke depan atau ke belakang iii. Berputar dan bergerak kesamping

(41)

33

Gambar 4.3. Klasifikasi sikap kerja bagian punggung

b. Sikap lengan

i. Kedua lengan berada di bawah level ketinggian bahu ii. Satu lengan berada diatas level ketinggian bahu iii. Kedua tangan berada diatas level ketinggian bahu

Gambar 4.4. Klasifikasi sikap kerja bagian lengan

c. Sikap kaki i. Duduk

ii. Berdiri dengan keadaan kedua kaki lurus

iii. Berdiri dengan beban berada pada salah satu kaki iv. Berdiri dengan kedua kaki lutut sedikit tertekuk

v. Berdiri dengan satu lutut sedikit tertekuk vi. Jongkok dengan satu dan/atau dua kaki vii. Bergerak atau berpindah

(42)

34

Gambar 4.5. Klasifikasi sikap kerja bagian kaki

d. Berat beban

Gambar 4.6. Klasifikasi berat beban

e. Tabel penilaian analisa postur kerja menggunakan metode OWAS

(43)

35 f. Tabel Kategori

Tabel 4.2 Kategori Penilaian

4.3.3. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, dapat dirumuskan pokok permasalahan dan usulan penelitian sebagai berikut:

a. Bagaimana menganalisis dan mengukur tingat risiko MSDS pada operator area curing caldron?

b. Apa saja bentuk-bentuk perbaikan dari masing-masing risiko yang diidentifikasi?

4.3.4. Batasan Masalah

Mahasiswa mengalami kendala dalam melakukan analisa postur kerja operator, karena lingkup pekerjaan operator sangat luas. Oleh karena itu mahasiswa membatasi lingkup penelitian, dengan asumsi-asumsi sebagai berikut:

1. Penelitian hanya pada 3 operator di bagian curing caldron 2. Penelitian hanya pada operator Manual Handling

3. Analisa menggunakan metode OWAS

4.3.5. Tahap Pelaksanaan Tugas a. Tahap Pengumpulan Data

Sumber data yang digunakan dalam penelitian merupakan data primer yang diperoleh melalui pengisian kuesioner oleh 3 operator manual handling di bagian curing caldron dari hasil observasi dan penilaian postur kerja dari foto yang diambil. Selain itu, penilitian juga menggunakan kuesioner Nordic Body Map untuk mendapatkan data individu dan tingkat keluhan MSDs (Musculoskeletal Disorders atau gangguan otot) perbagian tubuh yang dirasakan responden ketika bekerja. Selain itu digunakan metode penilaian tabel OWAS untuk mendapatkan tingkat resiko MSDs.

(44)

36

b. Tahap Analisa Data

Penelitian ini menggunakan dua metode analisa data, yaitu kualitatif dan kuantitatif. Kedua pendekatan ini digunakan untuk mendapatkan informasi aktual yang terjadi pada operator manual handling (kuesioner) dan sekaligus melakukan analisa pengukuran untuk mengetahui posisi tubuh operator. Analisa data dilakukan untuk melihat tingkat resiko MSDs berdasarkan faktor pekerjaan (postur janggal, beban, durasi ) dan tingkat keluhan MSDs.

4.3.6. Diagram Alir Pelaksanaan Kerja Praktek

Penelitian Pendahuluan (Observasi) Perumusan Masalah

Batasan Masalah Identifikasi Masalah Pengambilan data risiko muskuloskeletal meliputi faktor-faktor risiko seperti : kuesioner

MSDs, Postur Kerja dan Beban

Pengolahan data dan analisis data OWAS

Rekomendasi: Usulan perbaikan untuk area curing

caldron Kesimpulan

Selesai Mulai

(45)

37

4.4. Hasil dan Pembahasan

4.4.1. Hasil dan Pembahasan Analisa Nordic Body Map

Rekapitulasi dari hasil kuesioner NBM didapatkan terjadinya keluhan sakit pada bagian tubuh operator saat melakukan pekerjaan Manual Handling. Keluhan tersebut antara lain sakit pada lengan atas kanan, sakit pada pinggang, sakit pada lengan bawah kanan, sakit pada pergelangan tangan kanan. Ketidaknyamanan disebabkan pada kondisi tubuh yang tidak alamiah dan fasilitas yang tidak memperhatikan ergonomi operator.

Rekapitulasi menunjukkan bahwa keluhan sakit pada; leher atas agak sakit sebanyak 2 operator (66,67%) sedangkan 1 operator tidak sakit leher atas nya (33,34%), leher bawah agak sakit sebanyak 1 orang (33,34%) sedangkan yang tidak sakit sebanyak 2 orang (66,67%), bahu kiri agak sakit sebanyak 2 operator (66,67%) dan 1 operator tidak sakit (33,34%), bahu kanan 1 operator merasakan sakit (33,34%) 1 operator agak sakit (33,34%) dan 1 operator tidak sakit (33,34%), lengan atas kiri 2 operator merasakan sakit (66,67%) dan 1 operator agak sakit (33,34%), punggung 1 operator merasakan sangat sakit (33,34%) operator merasakan sakit (33,34%) dan 1 operator agak sakit (33,34%), lengan atas kanan ketiga operator merasakan agak sakit (100%), pinggang ketiga operator merasakan sakit (100%), bokong 1 operator merasakan sakit (33,34%) dan 2 operator merasakan tidak sakit (66,67%), pantat 3 operator merasakan tidak sakit (100%), siku kiri 1 operator merasakan sakit (33,34%) dan 2 operator merasakan tidak sakit (66,67%), siku kanan 1 operator merasakan sakit (33,34%) dan 2 operator merasakan tidak sakit (66,67%), lengan bawah kiri 2 operator merasakan agak sakit (66,67%) dan 1 operator tidak sakit (33,34%), lengan bawah kanan ketiga operator merasakan agak sakit (100%), pergelangan tangan kiri 2 operator merasakan agak sakit (66,67%) dan 1 operator tidak sakit (33,34%), pergelangan tangan kanan ketiga operator merasakan agak sakit (100%), tangan kiri 1 operator merasakan agak sakit (33,34%) dan 2 operator tdak sakit (66,67%), tangan kanan 1 operator merasakan agak sakit (33,34%) dan 2 operator tdak sakit (66,67%), paha kiri 2 operator merakan sakit (66,67%) dan 1 operator merasakan agak sakit (33,34%), paha kanan 2 operator merasakan agak sakit (66,67%) dan 1 operator merasakan tidak sakit (33,34%), lutut kiri 2 operator merasakan agak sakit (66,67%) dan 1 operator merasakan tidak sakit (33,34%), lutut kanan 1 operator merasakan sakit (33,34%) 1 operator merasakan agak sakit (33,34%) dan 1 operator merasakan tidak sakit (33,34%), betis kiri 1 operator merasakan sakit

(46)

38

(33,34%) 1 operator merasakan agak sakit (33,34%) dan 1 operator merasakan tidak sakit (33,34%), betis kanan 1 operator merasakan sakit (33,34%) dan 2 operator merasakan agak sakit (66,67%), pergelangan kaki kiri 1 operator merasakan agak sakit (33,34%) dan 2 operator merasakan tidak sakit (66,67%), pergelangan kaki kanan 2 operator merasakan agak sakit (66,67%) dan 1 operator merasakan tidak sakit (33,34%), kaki kiri 1 operator merasakan agak sakit (33,34%) dan 2 operator merasakan tidak sakit (66,67%), kaki kanan 2 operator merasakan agak sakit (66,67%) dan 1 operator merasakan tidak sakit (33,34%)

Tabel 4.3. Hasil Rekapitulasi Nordic Body Map

No Bagian Tubuh

Persentase (%)

SS S AS TS

1 sakit/kaku di leher bagian atas 0 0 66,67 33,34 2 sakit/kaku di leher bagian bawah 0 0 33,34 66,67

3 sakit di bahu kiri 0 0 66,67 33,34

4 sakit di bahu kanan 0 33,34 33,34 33,34

5 sakit pada lengan atas kiri 0 66,67 33,34 0

6 sakit di punggung 33,34 33,34 33,34 0

7 sakit pada lengan atas kanan 0 0 100 0

8 sakit pada pinggang 0 100 0 0

9 sakit pada bokong 0 33,34 0 66,67

10 sakit pada pantat 0 0 0 100

11 sakit pada siku kiri 0 33,34 0 66,67

12 sakit pada siku kanan 0 33,34 0 66,67

13 sakit pada lengan bawah kiri 0 0 66,67 33,34

14 sakit pada lengan bawah kanan 0 0 100 0

15 sakit pada pergelangan tangan kiri 0 0 66,67 33,34 16 sakit pada pergelangan tangan kanan 0 0 100 0

(47)

39

18 sakit pada tangan kanan 0 0 33,34 66,67

19 sakit pada paha kiri 0 66,67 33,34 0

20 sakit pada paha kanan 0 0 66,67 33,34

21 sakit pada lutut kiri 0 0 66,67 33,34

22 sakit pada lutut kanan 0 33,34 33,34 33,34 23 sakit pada betis kiri 0 33,34 33,34 33,34

24 sakit pada betis kanan 0 33,34 66,67 0

25 sakit pada pergelangan kaki kiri 0 0 33,34 66,67 26 sakit pada pergelangan kaki kanan 0 0 66,67 33,34

27 sakit pada kaki kiri 0 0 33,34 66,67

(48)

40

Gambar 4.8. Grafik presentase keluhan bagian tubuh dari hasil kuesioner

0 0 0 0 0 33,34 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 33,34 66,67 33,34 0 100 33,34 0 33,3433,34 0 0 0 0 0 0 66,67 0 0 33,3433,3433,34 0 0 0 0 66,67 33,34 66,67 33,3433,3433,34 100 0 0 0 0 0 66,67 100 66,67 100 33,3433,3433,34 66,6766,67 33,3433,34 66,67 33,34 66,67 33,34 66,67 33,34 66,67 33,3433,34 0 0 0 0 66,67 100 66,6766,67 33,34 0 33,34 0 66,6766,67 0 33,3433,3433,3433,34 0 66,67 33,34 66,67 33,34 0 20 40 60 80 100 120

Ra

ta

-ra

ta

Bagian tubuh

Presentase Keluhan bagian tubuh operator dari hasil kuesioner

(49)

41

Hasil rekapitulasi menunjukkan bahwa keluhan sakit pada pinggang, agak sakit pada lengan atas kanan, lengan bawah kanan dan pergelangan tangan kanan adalah yang terbanyak karena menunjukkan presentase 100% artinya dari ketiga operator yang mengisi kuesioner merasakan sakit pada pinggang, agak sakit pada lengan atas kanan, lengan bawah kanan dan pergelangan tangan kanan. Hal tersebut terjadi karena operator mengangkat tire yang bebannya 3-20 kg dilakukan dengan Manual Handling dan sikap postur tubuh agak sedikit membungkuk ketika mengangkat tire yang terlalu berat. Bila operator melakukan aktivitas tersebut secara berulang-ulang sangat berdampak pada ketidakstabilan pada tubuh karena kondisi ligamen (menghubungkan tulang dengan tulang) dapat rusak.

Kondisi postur tubuh operator yang sering membungkuk dan dilakukan secara berulang – ulang menyebabkan pelipatan beban yang harus dipindah, akibatnya dapat memberikan rasa sakit nyeri pada otot karena tekanan yang diterima terus menerus tanpa mendapatkan kesempatan untuk peregangan otot atau relaksasi.

4.4.2. Hasil dan Pembahasan Analisis Postur Kerja dengan Metode OWAS

Berikut adalah hasil analisis postur kerja operator area curing caldron berdasarkan masing-masing aktivitas menggunakan Tabel Penilaian OWAS.

a. Mengambil Tire

(50)

42

Berdasarkan gambar diatas untuk penilaian punggung diberi nilai 2 karena punggung membungkuk ke depan. Sesudah menilai punggung, penilaian selanjutnya adalah penilaian lengan yaitu 1 karena kedua lengan berada di bawah level ketinggian bahu. Untuk penilaian kaki diberi nilai 4 karena posisi kaki berdiri dengan kedua kaki lutut sedikit tertekuk. Penilaian selanjutnya yaitu menilai beban, beban yang dibawa oleh operator bagian curing caldron yaitu 20 kg sehingga diberi nilai 2. Langkah selanjutnya dilakukan penilaian pada tabel OWAS dengan cara memasukkan nilai-nilai yang telah diperoleh.

Tabel 4.4. Analisis penilaian OWAS

Berdasarkan tabel nilai penilaian didapatkan skor 3 yaitu perbaikan perlu dilakukan secepat dan/atau segera mungkin untuk operator mengambil tire di area curing caldron.

Tabel 4.5. Pengkodean postur kerja operator mengambil tire

Sikap Kode Keterangan

Punggung 2 Membungkuk

Lengan 1 Kedua lengan berada

dibawah bahu

Kaki 4 Kaki berdiri dengan

kedua kaki lutut sedikit tertekuk

Beban 2 beban yang dibawa

(51)

43

SKOR 3 perbaikan perlu

dilakukan secepat dan/atau segera

mungkin

Salah satu cara untuk mendapatkan skor kecil agar tidak perlu dilakukan perbaikan yaitu dengan cara tidak menempatkan tire di rak bawah agar operator tidak membungkuk ketika mengambil tire.

b. Mengangkat Tire

Gambar 4.10. Postur kerja operator mengangkat tire

Berdasarkan gambar diatas untuk penilaian punggung diberi nilai 1 karena punggung tegak. Sesudah menilai punggung, penilaian selanjutnya adalah penilaian lengan yaitu 1 karena kedua lengan berada di bawah level ketinggian bahu. Untuk penilaian kaki diberi nilai 7 karena berjalan. Penilaian selanjutnya yaitu menilai beban, beban yang dibawa oleh operator bagian curing caldron yaitu 20 kg sehingga diberi nilai 2. Langkah selanjutnya dilakukan penilaian pada tabel OWAS dengan cara memasukkan nilai-nilai yang telah diperoleh.

(52)

44

Tabel 4.6. Analisis Penilaian OWAS

Berdasarkan tabel nilai penilaian didapatkan skor 1 yaitu tidak perlu dilakukan perbaikan untuk operator mengangkat tire di area curing caldron.

Tabel 4.7. Pengkodean postur kerja operator mengangkat tire

Sikap Kode Keterangan

Punggung 1 Tegak

Lengan 1 Kedua lengan berada

dibawah bahu

Kaki 7 berjalan

Beban 2 beban yang dibawa

20kg

SKOR 3 tidak perlu dilakukan

perbaikan

Untuk mengurangi beban operator maka perlu adanya penambahan fasilitas alat kereta dorong untuk tire, penambahan alat hois/crane sehingga keluhan sakit pada lengan atas kanan, sakit pada pinggang, sakit pada lengan bawah kanan, sakit pada pergelangan tangan kanan dapat berkurang.

(53)

45

c. Menaruh Tire untuk dipasang velg

Gambar 4.11. Postur kerja operator Menaruh Tire untuk dipasang velg

Berdasarkan gambar diatas untuk penilaian punggung diberi nilai 2 karena punggung membungkuk ke depan. Sesudah menilai punggung, penilaian selanjutnya adalah penilaian lengan yaitu 1 karena kedua lengan berada di bawah level ketinggian bahu. Untuk penilaian kaki diberi nilai 4 karena posisi kaki berdiri dengan kedua kaki lutut sedikit tertekuk. Penilaian selanjutnya yaitu menilai beban, beban yang dibawa oleh operator bagian curing caldron yaitu 20 kg sehingga diberi nilai 2. Langkah selanjutnya dilakukan penilaian pada tabel OWAS dengan cara memasukkan nilai-nilai yang telah diperoleh.

Tabel 4.8. Analisis Penilaian OWAS

Berdasarkan tabel nilai penilaian didapatkan skor 3 yaitu perbaikan perlu dilakukan secepat dan/atau segera mungkin untuk operator menaruh tire untuk dipasang velg.

(54)

46

Tabel 4.9. Pengkodean Postur Kerja Operator Menaruh Tire untuk dipasang velg

Sikap Kode Keterangan

Punggung 2 membungkuk

Lengan 1 Kedua lengan berada

dibawah bahu

Kaki 4 Kaki berdiri dengan

kedua kaki lutut sedikit tertekuk

Beban 2 beban yang dibawa 20kg

SKOR 3 perbaikan perlu

dilakukan secepat dan/atau segera

mungkin

Gambar 4.12. Alat Hoist Crane

Untuk memperbaiki postur kerja dan mengurangi beban operator maka perlu adanya penambahan fasilitas alat hois/crane sehingga keluhan sakit pada lengan atas kanan, sakit pada pinggang, sakit pada lengan bawah kanan, sakit pada pergelangan tangan kanan dapat berkurang.

Gambar

Gambar 2.1. Sturktur Organisasi PT. Bridgestone Tire Indonesia
Gambar 3.1. Proses Bisnis Pemesanan Tire PT. Bridgestone Tire Indone
Gambar 3.2. Produk Passenger Tire
Gambar 3.4. Produk Industrial Tires
+7

Referensi

Dokumen terkait

Tujuannya dilakukan penilaian postur kerja ini agar dapat dapat diketahui bagian tubuh yang sering sakit saat melakukan pekerjaanya Dari hasil penilaian postur kerja dengan Quick

Berdasarkan hasil observasi pada pelaksanaan proses produksi yang dilakukan di tempat kerja, diketahui aktivitas para operator dilakukan dengan posisi postur tubuh duduk

Apabila postur kerja yang dilakukan oleh operator sudah baik dan ergonomis maka dapat dipastikan hasil yang diperoleh oleh operator tersebut akan baik, akan tetapi bila postur

Pengambilan keputusan metode IPA dilakukan dengan menggunakan grafik yang akan mengambarkan kuadran dari masing-masing indikator pertanyaan, kuadran Importancce Performance Analisys

Supervisor bertugas untuk memberikan informasi mengenai urutan bahan baku yang harus di proses first in first out kepada operator atau pekerja serta mecatat data-data hasil produksi

Kepada Kepala Jurusan Teknik Perkapalan, Bapak Afriantoni, ST.,MT yang telah memberikan arahan dan harapan kepada setiap mahasiswa/Mahasiswi yang melaksanakan kerja praktek didalam

Garuda Cyber Indonesia serta teman-teman Politeknik Negeri Bengkalis khususnya Program Studi Teknik Informatika semester V lima dalam memberikan dukungan dan motivasinya dalam menyusun

HALEYORA POWER AREA DUMAI POSKO RUPAT Dengan selesainya laporan kerja praktek ini tidak terlepas dari bantuan banyak pihak yang telah memberikan masukan-masukan kepada penulis.. Untuk