45 BAB III
DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN
3.1 Gambaran Umum Desa Karangpatihan
Desa Karangpatihan merupakan desa yang terletak di Kecamatan Balong Kabupaten Ponorogo, desa yang terletak cukup jauh dari pusat kota Ponorogo, mayoritas masyarakat mengetahui desa tersebut adalah desa terpencil yang gersang dimana di desa tersebut banyak hidup masyarkat yang tinggal dengan ketidaklayakan seperti mereka yang hanya tinggal di gubuk kecil dengan dinding terbuat dari bambu, selain itu banyak masyarakat yang tinggal di bawah garis kemiskinan. Untuk sampai di desa tersebut harus menempuh perjalanan dengan memakan waktu 1 sampai 2 jam lamanya.
Secara Administrasi Desa Karangpatihan memiiki luas wilayah 1.336,6 Ha, diantaranya adalah 109 Ha perumahan dan pekarangan, 17 Ha sawah setengah teknis, 164 Ha sawah tadah hujan, 355 Ha ladang/tegalan kering, 171,5 Ha tanah tandus (kritis), 401,1 Ha hutan kering dan berikutnya 119 Ha kuburan dan lain-lain. Seperti kondisi desa dari data pembagian luas tanah yang ada di Desa Karangpatihan tersebut, paling besar tanah di desa tersebut hanyalah tegalan kering, tanah tandus dan hutan kering.
Dengan luas wilayah 1.336,6 Ha, Desa Karangpatihan terdiri dari 4 (Empat) dusun, yakni Dusun Krajan, Dusun Bibis, Dusun Bendo dan Dusun Tanggungrejo. Dari 4 (Empat) dusun tersebut terdapat 34 RT dan 8 RW dengan jumlah perangkat desa sebanyak 17 orang. Berikut adalah peta induk Desa Karangpatihan Kecamatan Balong Kabupaten Ponorogo:
46 Gambar 3. Peta Induk Desa Karangpatihan
Sumber : Data Profil Desa Karangpatihan, Desember 2015
Batas wilayah yang ada di Dea Karangpatihan berdasarkan Peta di atas yakni, sebelah utara Desa Karangpatihan terdapat Desa Jenggol Kecamatan Jambon, sebelah timur terdapat Desa Sumberejo Kecamatan Balong, sebelah selatan terdapat Desa Ngendut Kecamatan Balong, sedangkan sebelah barat Desa Karangpatihan sudah hutan belantara dan pegunungan, dimana hutan tersebut merupakan batas wilayah dengan Kabupaten Pacitan.
Jumlah penduduk yang ada di Desa Karangpatihan adalah sebanyak 5.746 jiwa atau 1.754 KK, yang terdiri dari 2.924 Laki-laki dan 2.826 Perempuan. Dari jumlah KK tersebut masyarakat desa hidup dengan kondisi yang beragam, antara lain di Desa Karangpatihan terdapat 261 KK warga yang tergolong berada dalam garis kemiskinan, sedangkan kondisi masyarakat desa yang berada pada garis rentan miskin mencapai 558 KK. Selain itu Desa Karangpatihan juga terkenal dengan masyarakat idiotnya, hal ini selaras dengan data desa yang menunjukkan bahwa terdapat 42 KK warga
47 yang mengalami idiot atau tunagrahita. Selebihnya adalah 893 KK rata-rata dan 89 jiwa ODK.
Perekonomian di Desa Karangpatihan didukung oleh sektor pertanian, mayoritas masyarakat desa selama ini mengabiskan waktunya di ladang sebagai salah satu pusat mata pencaharian mereka. Akan tetapi kondisi desa yang berada di lereng pegunungan memaksa masrayakat desa hanya dapat memanen padi satu kali dalam satu tahun, yakni pada kondisi musim hujan saja. Ketika musim kemarau datang, ladang masyarakat desa hanya bisa ditanami oleh beberapa jenis tanaman, misalnya singkong dan lain sebagainya. Singkong menjadi pilihan kedua masyarakat desa untuk dijadikan nasi tiwul apabila hasil panen masyarakat desa sudah menipis. Selain pada
sektor pertanian, masyarakat Desa Karangpatihan selama ini
menggantungkan hidup juga dari sektor peternakan. Dari berbagai ternak yang ada, selama ini masyarakat desa memilih untuk mengembangkan ternak kambing dan ayam, tercatat di Desa Karangpatihan kini setiap rumah memiliki hewan peliharaan yang terdiri dari sapi, kambing dan ayam. sedangkan untuk penyandang tunagrahita, selama ini peternakan yang dikembangkan adalah ternak lele. Kolam lele merupakan usaha yang diberikan pemerintahan desa untuk para penyandang tunagrahita. Perikanan di Desa Karangpatihan menerapkan budi daya lele yang dikelola oleh penderita tunagrahita. Setiap penyandang tunagrahita memiliki kolam-kolam ikan yang merupakan sebagai salah satu penopang perekonomian mereka setiap hari. Keuntungan membeli ikan dari mereka adalah membantu saudara
48 kita yang menderita tunagrahita atau keterbelakangan mental, sehingga dengan begitu mereka akan memiliki kualitas hidup yang lebih baik.
Gambar 4. Kondisi Jalan di Dusun Tanggungrejo Desa Karangpatihan Fasilitas penunjang aktivitas di Desa Karangpatihan selama ini terdapat beberapa sarana dan prasarana yang dimiliki. Di desa tersebut terdapat 9 km jalan yang sudah dalam kondisi di aspal, sedangkan jalan yang masih pada kondisi makadam mencapai 9 km. Yang perlu menjadi perhatian pemerintah adalah, kondisi jalan yang berada dalam keadaan masih tanah saat ini masih mencapai 11 km, hal ini menjadi salah satu hambatan masyarakat desa dalam beraktivitas. Sedangkan perpipaan air bersih yang dapat dikonsumsi masyarakat masih 2 unit, selebihnya masyarakat desa menggunakan sumur pribadi. Faktor penunjang lainnya adalah Kantor/Balai Desa. Selama ini kondisi kantor desa Karangpatihan kurang dari layak untuk dipakai sebagai pusat informasi dan data desa. Namun, selama 2 bulan
49 terakhir ini masyarakat desa mulai memperbaiki dengan membangun kantor desa yang baru. Faktor penunjang selebihnya dalah terdapat 4 Unit Sekolah Dasar Negeri dan 3 Unit TK Dharma Wanita.
Pendidikan di Desa Karangpatihan tergolong kurang menjadi minat anak muda masyarakat desa tersebut. Berikut tabel kondisi pendidikan yang ada di Desa Karangpatihan:
Tabel 5. Tingkat Pendidikan di Desa Karangpatihan
No Nama Dusun Tidak
Sekolah (%) Lulus SD/SR (%) Lulus SMP/ MTs (%) Lulus SMA/ SMK (%) Lulus PT (%) Jumlah (%) 1 Dusun Bendo 65 22,5 12,2 0,2 0,1 100 2 Dusun Bibis 11 40 30 15 1 100 3 Dusun Krajan 38 40 20 1 1 100 4 Dusun Tanggungrejo 40 20 20 15 5 100 Jumlah 38,5 30,5 20,5 7,8 1,7 100 Sumber : Data Profil Desa Karangpatihan, Januari 2016
Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa tingkat pendidikan di Desa Karangpatihan sebagian besar tidak menempuh pendidikan formal, yaitu 38,5 %. Sedangkan pendidikan pada taraf perguruan tinggi berada dalam angka paling rendah, yakni 1,7 %. Dari 4 dusun yang ada di Desa Karangpatihan, Dusun Bendo paling banyak jumlah warga desa yang tidak sekolah, selanjutnya disusul oleh Dusun Tanggungrejo yang mencapai 40 % dari jumlah warga yang ada. Hal lain ditunjukkan oleh beberpa perangkat desa yang mayoritas hanya lulus SD dan SMP.
3.2 Potensi Desa Karangpatihan
Meskipun di Desa Karangpatihan terdapat berbagai kesenjangan sosial, mulai dari banyaknya penyandang tunagrahita dan kemiskinan yang melanda desa,
50 namun dibalik semua itu desa tersebut menyimpan berbagai potensi. Potensi Desa Karangpatihan sangat beragam, antara lain:
1. Potensi Wisata Seni dan Budaya. Kerukunan masyarakat desa karangpatihan sebagai modal penting dalam membangun kultur masyarakat yang dinamis khususnya dalam berolah seni. Di Desa Karangpatihan terdapat beberapa kesenian yang tumbuh dan berkembang sebagai modal wisata, antara lain sebagai berikut:
a. Kesenian Reyog
Gambar 5. Dokumentasi Kesenian Reyog
Kesenian Reyog sebagai ikon Ponorogo maka keberadaanya mengalami perkembangan yang pesat tumbuh dan kembang di seluruh desa di Ponorogo. Bahkan tidak jarang satu desa memiliki beberapa paguyuban Reyog. Desa Karangpatihan pun demikian memiliki kesenian Reyog yang di lestarikan oleh masyarakat Desa Karangpatihan.
b. Kesenian Gajah-gajahan
Kesenian gajah-gajahan juga terdapat di Desa Karangpatihan, kesenian ini merupakan media informasi kepada masyarakat yang dalam pelaksanaanya seringkali menginformasikan
51 tentang kegiatan atau hajatan masyarakat. Kesenian yang sampai saat ini masih ada di desa tersebut.
Gambar 6. Dokumentasi Kesenian Gajah-gajahan c. Wisata budaya situs Petirtan Ndoro Den Panji
Gambar 7. Dokumentasi Situs Petirtan Ndoro Den Panji Situs Petirtan Ndoro Den Panj merupakan situs bersejarah pada zaman dahulu, situs tersebut berupa Sendang Beji yang di sekelilingnya ditemukan banyak arca. Menurut balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Trowulan yang telah melakukan penelitian terhadap Ndoro Den Panji di perkirakan peninggalan kerajaan Mataram Kuno pada abad 10 M atau pada era Mpu Sendok di Jawa Timur. Berdasarkan ciri-ciri arca yang ditemukan dekat petirtan diidentifikasikan sebagai arca Gupala dan Arca Agesti. Dugaan tersebut berdasarkan pada karakteristik Kendi Kumandalu yang berada dalam pegangan tangan kiri arca.
52 2. Wisata Alam
Desa Karangpatihan yang lokasinya berada di lereng pegunungan memiliki modal besar sebagai desa wisata alam. Di desa tersebut terdapat banyak wisata alam yang bisa dikunjungi, antara lain.
a. Air Terjun Dongmiang
Gambar 8. Dokumentasi Air Terjun Dongmiang Air Terjun Dongmiang atau yang lebih dikenal dengan sebutan air terjun Kedung Mimang lokasinya berada diantara dua gunung yaitu Rimbung dan gunung Rajek Wesi. Air terjun ini memiliki ketinggian kurang lebih 15 meter dengan lingkungan udara yang sejuk dan kondisi masih aami. Mitos yang dibangun di air terjun ini konon bisa membuat awet muda. Maka, tidak heran jika air terjun ini ramai dikunjungi oleh wisatawan desa setempat dan wisatawan luar desa. b. Goa Pertapa Selo Jojo Tundho
Di desa Karangpatihan juga terdapat goa yang bernama Selo Jolo Tundho. Goa tersebut memiliki pola yang sangat terkesan unik dan antik berbeda dengan bebatuan di sekitar
53 goa tersebut, goa ini memiliki lokasi yang menarik yakni di atas perbulitan dengan pemandangan yang indah.
Gambar 9. Dokumentasi Goa Pertapa Selo Jojo Tundho Menurut cerita tutur masyarakat Goal Selo Jojo Tundho dulu pernah digunakan bertapa para resi dari india. Terlepas dari cerita tersebut goa ini berada di atas bukit, seperti layaknya di puncak Borobudur.
c. Puncak Gunung Beruk
Gambar 10. Dokumentasi Puncak Gunung Beruk Puncak Gunung Beruk sangat mirip dengan wisata alam Kalibiru Yogyakarta, akan tetapi wisata Gunung Beruk relatif lebih alami. Puncak Gunung Beruk lokasinya yang
54 pemandangan yang sangat menarik. Di atas Puncak Gunung Beruk pengunjung disuguhi pesona pemandangan desa yang asri, selain itu di lokasi ini juga tersedia photo zone, area out bond sehingga sangat menunjang sebagai sarana rekreasi. 3. Wisata Ekologi
Gambar 11. Wisata ekologi di Karangpatihan
Desa Karangpatihan juga memiliki wisata edukasi berbasis ekologi, yaitu perkebunan dan pertanian. Kedua sektor tersebut menunjang bagi pengunjung yang ingin belajar dengan alam sehingga diharapkan dapat membentuk jiwa kemandirian. Wisata ekologi ini juga sering dikunjungi oleh sekolah-sekolahan yang belajar dengan alam sekitar.
4. Aksesibilitas
Salah satu faktor penting untuk menunjang desa wisata adalah faktor aksesibilitas, beberapa akses menuju Desa Karangpatihan, antara lain Kondisi Jalan, merupakan faktor penting menuuju lokasi. Faktor ini memudahkan wisatawan yang ingin berkunjung ke desa. Kondisi jalan sangat mudah di tempuh dengan berbagai kendaraan. Kemudian Transportasi, sarana transportasi berkaitan erat dengan
55 mobilitas wisatawan yang ingin berkunjung. Transportasi menuju ke lokasi bisa menggunakan kendaraan apapun.1
3.3 Permasalahan Desa Karangpatihan
Sebagai desa yang berada jauh dari pusat perkotaan, Desa Karangpatihan hingga saat ini masih mengalami berbagai permasalahan yang ada. Salah satunya adalah kondisi dimana sebagian warga masyarakat desa yang mempunyai SDM yang rendah dalam aspek pendidikan. Hal ini dikarenakan minimnya warga desa yang memiliki kesadarn untuk menempuh penidikan formal, alhasil dampak dari rendahnya mayoritas masyarkat desa membuat terhambatnya pembangunan yang ada di desa. Hubungannya adalah, kenyataan bahwa warga yang memiliki pendidikan rendah masih sulit untuk ikutserta dalam perencanaan pembangunan desa masih dirasakan oleh Desa Karangpatihan sampai saat ini. Selain pada sektor SDM, permasalahan yang dialami desa saat ini adalah kondisi geografis desa yang tidak menentu, karena pada musim kemarau tiba, hampir ¾ wilayah desa Karangpatihan mengalami kekeringan sehingga penghasilan dari pertanian hanya satu kali dalam setahun. Sedangkan karena seringnya terjadi erosi di desa membuat banyak bahu jalan hancur terkikis oleh air. Permasalahan yang menarik dan menjadi perhatian banyak masyarakat dalam maupun luar desa adalah banyaknya penyandang tunagrahita yang ada di Desa Karangpatihan, kondisi tersebut sudah ada sejak puluhan tahun silam hinga saat ini dan hal tersebut dikarenakan minimnya asupan gizi karena kemiskinan yang melanda waktu itu.
1 Alip Sugianto. 2016. Kajian Potensi Desa Wisata Sebagai Peningkatan Ekonomi Masyarakat
56 3.4 Sejarah Desa Karangpatihan Sebagai Kampung Idiot
Desa Karangpatihan merupakan desa yang didalamnya banyak dihuni oleh masyarakat penyandang tunagrahita. Desa Karangpatihan pada hakikatnya memiliki kedudukan yang sama dengan desa-desa pada umumnya, akan tetapi selama beberapa tahun terakhir desa ini mendapat predikat sebagai kampong idiot, terutama dari masyarakat luar desa tersebut. Tidak sedikit warga merasa terganggu akan sebutan negative ini, karena mereka tidak pernah mengetahui bagaimana yang sebenarnya terjadi dan hanya menilai dari perspektif orang.
Kenyataan sebenarnya tidak semua warga yang ada di desa Karangpatihan mengalami keterbelakangan mental, banyak rumor yang mengatakan bahwa penyebab utama masyarakat mengalami keterbelakangan mental mulai dari perkawinan sedarah, mengandung kadar besi dan logam berat yang sangat tinggi serta kandungan yodiumnya yang sangat rendah, hingga karena keturunan yang dibawa oleh orang tuanya. Namun hal itu masih menjadi rumor banyak orang yang belum mengetahui bagaimana kondisi dan penyebab yang sebenarnya terjadi.
Pada sekitar tahun 60-an desa karangpatihan mengalami kekeringan yang cukup lama, hal tersebut membuat banyak warga kesulitan dalam menjalani kehidupan sehari-hari karena mereka tidak tahu harus mengkonsumsi makanan apa. Kondisi kekeringan inilah yang menyebabkan lahan pertanian penduduk desa tidak berfungsi sebagaimana semestinya dan hanya bisa ditanami oleh umbi-umbian. Melihat kondisi tersebut penduduk desa tidak ada pilihan lain selain mengkonsumsi makanan dari apa yang
57 sudah ditanam. Hal inilah yang menyebabkan penduduk desa Karangpatihan dalam waktu yang lama hidup dalam keadaan kekurangan gizi atau gizi buruk.
Permasalahan gizi buruk yang dialami warga desa setempat menyebabkan munculnya berbagai permasalahan, salah satunya berdampak pada fisik masyarakat itu sendiri, mulai dari kondisi tubuh yang tidak normal sampai dengan cara berfikir dengan mental yang terbelakang, susah berkomunikasi hingga kesulitan mengurus diri sendiri. Berpuluh-puluh tahun keadaan tersebut tidak berubah dan hanya stagnan pada kondisi yang melemah. Hal inilah yang memicu masyarakat dari luar desa tersebut menyebut Karangpatihan sebagai kampung idiot. Meskipun pada saat ini kondisi desa tersebut sudah mulai berubah karena berbagai pemberdayaan yang dilakukan, akan tetapi tidak menghapus paradigma masyarakat luar untuk merubah pandanyannya tentang kampong idiot.
Munculnya sebutan kampung idiot petama kali pada tahun 2008, dari hasil pemberitaan melalui berbagai media cetak maupun elektroknik. Sebutan itu tidak hanya dikenal oleh masyarakat sekitar desa saja, melainkan sampai masyarakat luas. Hal ini memang tidak bisa dipungkiri lagi, karena jika kabar tersebut masuk dalam media cetak maupun elektronik maka kalangan masyarakat yang jauh dari Desa Karangpatihan dapat mengetahuinya. Dengan sebutan “Kampung Idiot” maka pemerintah desa maupun daerah harus berupaya untuk menghilangkan sebutan tersebut debgan cara melakukan berbagai tindakan preventif terutama untuk meningkatkan gizi dan juga pendidikan untuk masyarakat penyandang, supaya dikemudian hari tidak ada
58 lagi kelahiran anak atau masyarakat dengan menderita keterbelakangan mental.
3.4 Kondisi Penyandang Tunagrahita di Desa Karangpatihan
Dari keempat dusun yang ada di Desa Karangpatihan, tercatat Dusun Tanggungrejo memiliki jumlah penyandang tungrahita yang paling banyak, hal ini terjadi karena salah satunya adalah, posisi dusun yang berada paling pinggir dan dilereng pegunungan membuat masyarakat dusun tersebut lebih lebih mengalami kemiskinan yang tinggi dan berdampak pada pertumbuhan masyarakatnya.
Pada tahun 2010 sebelum adanya upaya pengentasan kemiskinan, tercatat 290 Kepala Keluarga di Dusun Tanggungrejo hidup di bawah garis kemiskinan dan 561 Kepala Keluarga hidup hampir miskin. Menurut kepala desa setempat, kemiskinan yang terjadi di dusun tersebut disebabkan oleh minimnya sumber perekonomian dan mahalnya bahan-bahan makanan pokok yang tersedia, sehingga masyarakat sulit dalam memenuhi kebutuhan dasar dan mengakibatkan banyak warga yang mengalami masalah gizi buruk yang dapat menyebabkan tunagrahita secara turun temurun. Seperti, banyak warga yang menjadikan nasi gaplek atau nasi tiwul sebagai bahan makanan utamanya setiap hari bahkan bertahun-tahun.
Hingga saat ini Terdapat 3 (tiga) kategori penyandang tunagrahita yang ada di Desa Karangpatihan, khususnya di Dusun Tanggungrejo yakni kondisi ringan, sedang dan kondisi berat. Pada kondisi ringan, penyandang tunagrahita di desa Karangpatihan berjumlah 48 jiwa dengan rincian 21 orang wanita dan 27 orang laki-laki. Kondisi tunagrahta ringan yang ada di
59 desa tersebut masih dapat berkomunikasi dengan orang lain akan tetapi tidak begitu lancar seperti orang-orang pada umumnya, selain itu mereka yang masih tergolong ringan masih dapat menerima berbagai pelatihan yang diberikan oleh desa setempat.
Pada taraf kondisi sedang, kondisi tunagrahita di Desa Karangpatihan relatif lebih sedikit yakni 37 orang dengan rincian 14 orang berjenis kelamin wanita dan 23 orang berjenis kelamin laki-laki. Dalam kesehariannya penyandang tunagrahita sedang sedikit lebih sulit menerima apa yang diajarkan pada saat pelatihan maupun dalam berkomunikasi. Akan tetapi, mereka yang tergolong sedang masih memiliki potensi untuk mengurus diri sendiri, yang dimaksud disini antara lain seperti memakai pakaian sendiri maupun makan sendiri, meskipun memerlukan penyesuaian terlebih dahulu.
Pada kondisi kategori berat, penyandang tunagrahita yang ada di Desa Karangpatihan hanya dalam jumlah yang sedikit, yakni 5 orang dengan rincian 3 orang wanita dan 2 orang laki-laki. Jika tunagrahita dengan kategori ringan dan sedang masih bisa diberdayakan, lain halnya dengan tunagrahita pada kategori berat. Di desa Karangpatihan sendiri para penyandang tunagrahita berat bisa dikatakan sudah pada tahap tidak bisa diberi pelatihan, bahkan sudah sulit dalam menangkap apa yang
diperbincangkan orang. Sedangkan, dalam melakukan kegiatan
kesehariannya seperti makan dan berpakaian mereka harus dibantu oleh orang lain. Berikut adalah tabel hasil temuan kondisi penyandang tunagrahita yang ada di Desa Karangpatihan:
60 Tabel 6. Temuan Kondisi Penyandang Tunagrahita di Desa
Karangpatihan
No Kategori Jumlah Ciri-ciri
1. Ringan 48 jiwa, dengan rincian 21 orang wanita dan 27 orang laki-laki. 1. Mudah dalam berkomunikasi 2. Dapat mengurus diri
sendiri
3. Mudah diberi pelatihan 4. Kondisi fisik lebih baik
dari tunagrahita sedang dan berat. 2. Sedang 37 orang, dengan rincian 14 orang wanita dan 23 orang berjenis kelamin laki-laki 1. Sedikit mengalami hambatan dalam berkomunikasi 2. Kurang berpotensi
mengurus diri sendiri 3. Perlu pendekatan khusus
pada saat pelatihan 4. Kondisi fisik tidak jauh
lebih baik dari
penyandang tunagrahita ringan. 3. Berat 5 orang, dengan rincian 3 orang wanita dan 2 orang laki-laki 1. Tidak dapat berkomunikasi
2. Tidak dapat mengurus diri sendiri
3. Tidak dapat diberi pelatihan
4. Kondisi fisik beragam namun kondisi mental jauh dibawah rata-rata Penyandang tunagrahita dalam kategori ringan dan sedang memiliki pendekatan berbeda pada saat pelatihan berlangsung. Jika penyandang tunagrhaita ringan dalam pelatihannya tidak didampingi disampingnya, namun pada kondisi sedang harus ada pendampingan satu persatu disampingnya. Hal ini dilakukan karena pada kategori sedang apabila dilepaskan sendiri akan bertingkah semaunya sendiri.