• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dr. Made Gde Subha Karma Resen, SH., M.Kn PUTU EDGAR TANAYA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Dr. Made Gde Subha Karma Resen, SH., M.Kn PUTU EDGAR TANAYA"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)
(4)
(5)

KEWENANGAN PENGELOLAAN PERTAMBANGAN DI INDONESIA DILIHAT DARI PERSPEKTIF ECONOMIC ANALYSIS OF LAW

Putu Edgar Tanaya

Fakultas Hukum Universitas Udayana Jalan Pulau Bali No. 1 Denpasar

[email protected]

ABSTRAK

Indonesia merupakan negara kesejahteraan. Negara diberikan wewenang oleh konstitusi untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat bagi Indonesia. Negara diberikan kewenangan untuk menguasai sumber daya alam untuk mewujudkan kesejahteraan bagi rakyat Indonesia. Pertambangan merupakan salah satu sumber daya alam yang kuasai oleh negara untuk mewujudkan kesejahteraan bagi rakyat Indonesia. Pertambangan secara khusus, diatur dalam Undang-Undang No. 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara yang memberikan kewenangan kepada Pemerintah baik tingkat pusat maupun daerah provinsi dan kabupaten/kota. Pasca diundangkannya Undang-Undang No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah menggantikan Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang pemerintahan Daerah, kewenangan pengelolaan tambang hanya diberikan kepada pemerintah pusat dan pemerintah provinsi. Sehingga, menimbulkan ketidakpastian mengenai kewenangan pengelolaan pertambangan ditingkat kabupaten/kota. Berdasarkan hal tersebut menarik untuk mengkaji secara normatif kewenangan pengelolaan pertambangan di Indonesia dilihat dari perspektif economic analysis of law.

Berdasarkan permasalahan di atas, berikut hasil dan pembahasan yang didapatkan. Dilihat dari pilihan rasional (rational choice), dikaitkan dengan otonomi daerah Undang-Undang No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah merupakan peraturan yang lebih khusus dari Undan-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara (lex

specialist derogat legi generalist) sehingga Undang-Undang No. 23 Tahun 2014 tentang

pemerintahan daerah merupakan pilihan paling rasional untuk meningkatkan kesejahteraan (moneter atau non moneter) bagi rakyat Indonesia. Dilihat dari nilai (value), kewenangan pengelolaan pertambangan oleh pemerintah pusat dengan perbantuan pemerintah daerah provinsi merupakan pilihan paling relevan dalam meningkatkan kesejahteraan rakayat Indonesia. Dilihat dari efisiensi (efficiency) berkeadilan, pengelolaan pertambangan oleh pusat dengan perbantuan pemerintah daerah provinsi merupakan pilihan yang paling efisien dalam mengelola sumber daya tambang yang terbatas dengan tetap menjadikan keadilan sebagai

(6)

economic standart untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia. Dilihat dari utilitas

(utility)

ABSTRACT

Indonesia is a welfare state. The state is given the authority by the constitution to realize people's welfare for Indonesia. The state is given the authority to control natural resources to bring prosperity to the people of Indonesia. Mining is one of the natural resources controlled by the state to realize prosperity for the people of Indonesia. Specifically mining, regulated in Law No. 4 of 2009 concerning Mineral and Coal Mining which authorizes the Government at the central and provincial and district / city levels. After the promulgation of Law No. 23 of 2014 concerning Regional Government replaces Law No. 32 of 2004 concerning Regional Government, mining management authority is only given to the central government and provincial government. Thus, it creates uncertainty at the regional level regarding the authority of mining management at the district / city level. Based on this, it is interesting to examine normatively the authority of mining management in Indonesia from the perspective of economic analysis of law

PENDAHULUAN

Indonesia adalah negara kesejahteraan (welfare state) yaitu negara yang pemerintahannya bertanggung jawab penuh untuk memenuhi kebutuhan dasar sosial dan ekonomi setiap warga negara guna menjamin suatu standar hidup yang minimal terpenuhi (Made Gde Subha Karma Resen, 2015:1). Hal ini sesuai dengan alinea ke IV pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 (UUDNRI 1945) bahwa “...untuk membentuk suatu Pemerintahan Negara Indonesia yang,...memajukan kesejahteraan umum,...keadilan sosial,...”. Sehingga keberadaan negara menjadi suatu keniscayaan bagi masyarakat Indonesia.

Pengelolaan sumber daya alam merupakan salah satu bentuk perwujudan kesejahteraan bagi rakyat Indonesoa. Pengelolaan sumber daya alam telah diatur di dalam BAB XIV Perekonomian Nasional dan Kesejahteraan Sosial Pasal 33 ayat (2) dan ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945, yang menyatakan bahwa: "cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara" kemudian "bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat".

Pada ayat (3) juga disebutkan bahwa mineral dan batubara sebagai kekayaan alam yang terkandung di dalam bumi merupakan sumber daya alam yang tidak terbarukan, sehingga

(7)

pengelolaannya perlu dilakukan seoptimal mungkin, efisien dan transparan, berkelanjutan dan berwawasan lingkungan serta berkeadilan agar memperoleh manfaat sebesar-besar bagi kemakmuran rakyat secara berkelanjutan. Negara diperintahkan oleh konstitusi untuk dapat mengarahkan dan mengelola sumber-sumber daya alam termasuk bidang pertambangan dengan sebaik-baiknya untuk tujuan kesejahteraan rakyat Indonesia.

Konstitusi memberikan kewenangan kepada negara untuk menguasai pertambangan untuk sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat. Pertambangan secara khusus diatur dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara (selanjutnya disingkat UU Minerba). Pasal 6 memberikan kewenangan kepada pemerintah (pusat) dalam pengelolaan pertambangan mineral dan batu bara. Pasal 7 memberikan kewenangan kepada pemerintah provinsi dalam pengelolaan pertambangan mineral dan batu bara. Pasal 8 memberikan kewenangan kewenangan kepada pemerintah provinsi dalam pengelolaan pertambangan mineral dan batu bara. UU Minerba memberikan kewenangan kepada pemerintah daerah baik ditingkat provinsi maupun kabupaten/kota.

Pada tahun 2014, lahir Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (UU Pemda 2014) menggantikan UU Pemda 2004. Kewenangan pengelolaan pertambangan mineral dan batubara yang sebelumnya diberikan kepada pemerintah daerah baik kabupaten maupun kota oleh UU Pemda 2004, kemudian dihapuskan oleh Pasal 14 ayat (1) UU Pemda 2014 sehingga kewenangan pengelolaan pertambangan hanya ada pada pemerintah daerah provinsi dan pemerintah pusat.

Pasca lahirnya UU Pemda 2014, terjadi konflik norma antara UU Minerba dengan UU Pemda 2014 berkaitan dengan wewenang pemerintah daerah. Di satu sisi, UU Minerba memberikan wewenang kepada pemerintah daerah tingkat kabupaten/kota sedangkan di sisi lain UU Pemda 2014 menghapus wewenang pemerintah kabupaten/kota dalam pengelolaan tambang. Hal tersebut tentunya menimbulkan permasalahan ditingkat kabupaten/kota terkait kewenangan pengelolaan sektor pertambangan.

Dibutuhkan suatu konsep yang bisa mengakomodir pilihan rasional ketika dihadapkan pada sisi nilai, efisiensi dan kemanfaatan yang akan dikedepankan, tanpa meninggalkan perspektif keadilan. Konsep yang tepat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam melihat kewenangan pertambangan di Indonesia adalah dengan menerapkan konsep-konsep dasar Analisis Ke-ekonomian tentang Hukum (economic analysis of law) (Fajar Sugianto, 2013: 25-28).

Economic analysis of law lahir dari pemikiran utilitarianisme yang pada waktu itu

(8)

dianggap baik jika bisa memberikan manfaat sebanyak-banyaknya orang atau yang dikenal dengan “the greatest happiness of the greatest number” (Murni, Jurnal Arena Hukum Volume 6, Nomor 1, April 2012: 1-74). Pendekatan-pendekatan ekonomi terhadap hukum menjadi teori setelah diterbitkannya buku “Economic Analysis of Law” karya Richard Posner pada tahun 1986. Posner menerangkan dalam bukunya bahwa berperannya hukum harus dilihat dari segi nilai (value), kegunaan (utility), dan efisiensi (efficiency) dengan mendasarkan kepada pilihan rasional (rasional choice). Berikut alasan Posner berkaitan penggunaan teori ekonomi dalam hukum “many of the doctrines an institution of the legal system are best understood and

explained as a system for maximizing the wealth of society” (Richard A. Posner, 1992: 25-26).

Berdasarkan hal tersebut, pendekatan ekonomi terhadap hukum atau yang dikenal dengan economic analysis of law menjadi pendekatan yang paling tepat untuk mengkaji kewenangan pengelolaan sektor pertambangan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah dikaitkan dengan tujuan bernegara yakni kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.

PEMBAHASAN

Perspektif Economic Analysis of Law Terhadap Kewenangan Pemerintah Dalam Pengelolaan Pertambangan di Indonesia Dikaitkan dengan Tujuan Bernegara

Lahirnya UU Pemda Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah merubah paradigma otonomi daerah termasuk merubah beberapa kewenangan pemerintah. Kewenangan pengelolaan pertambangan mineral dan batu bara yang pada awalnya dipegang baik oleh pemerintah pusat dan daerah kemudian dipegang oleh pemerintah pusat dengan perbantuan pemerintah provinsi. Jadi, kewenangan pemerintah kabupaten/kota dihapuskan pasca lahirnya UU Pemda Tahun 2014 sedangkan UU Minerba masih memberikan kewenangan pengelolaan pertambangan mineral dan batu bara kepada pemerimtah kabupaten/kota. Permasalahan yuridis tersebut (konflik norma) menimbulkan permasalahan ditingkat daerah berkaiatan dengan kewenangan pemerintah kabupaten/kota dalam pengelolaan sektor pertambangan

Economic analysis of law dapat dijadikan suatu pendekatan untuk menjawab

permasalahan hukum, termasuk permasalahan yang berkaitan dengan kewenangan pemerintah pengelolaan sektor pertambangan di Indonesia. Hukum dijadikan economic tools untuk mencapai maximization of happinness. Economic analysis of law didasarkan pada 3 elemen dasar, yaitu nilai (value), kegunaan (utility), efisiensi (efficiency) dengan mendasarkan pada rasionalitas manusia (rational choice). Sehingga pendekatan dengan Economic Analysis of Law menjadi pendekatan yang tepat untuk mengkaji kewenangan pengelolaan pertambangan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah.

(9)

1. Pilihan Rasional (rational choice)

Negara Indonesia adalah negara kesatuan yang berbentuk republik. Konsekuensi logis sebagai negara kesatuan, dibentuknya pemerintah Negara Indonesia sebagai pemerintah nasional untuk pertama kalinya dan kemudian pemerintah nasional tersebut yang membentuk daerah seperti disebutkan dalam Pasal 1 UUDNRI 1945. Pasal 18 ayat (2) dan ayat (5) menyebutkan bahwa penyelenggaraan urusan pemerintah ditingkat daerah dilakukan oleh pemerintah daerah (Gubernur, Bupati, atau Walikota, dan perangkat daerah) dan dewan perwakilan daerah (DPRD) menurut asas otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip otonomi seluas-luasnya dalam sistem dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Pemberian otonomi seluas-luasnya kepada daerah diarahkan untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pelayanan, pemberdayaan, dan peran serta masyarakat. Disamping itu melalui otonomi yang luas, dalam lingkungan yang strategis globalisasi, daerah diharapkan mampu meningkatkan daya saing dengan memperhatikan prinsip demokrasi, pemerataan, keadilan, keistimewaan dan kekhususan serta potensi dan keanekaragaman daerah dalam sistem NKRI.

Dalam negara kesatuan, kedaulatan hanya ada pada pemerintahan pusat dan tidak ada kedaulatan pada pemerintahan daerah. Konsekuensi logisnya, seluas apapun otonomi yang diberikan kepada daerah, tanggung jawab akhir penyelenggaraan Pemerintahan Daerah akan tetap ada di tangan pemerintah pusat. Untuk itu pemerintah daerah pada negara kesatuan merupakan satu kesatuan dengan pemerintah nasional. Sejalan dengan itu, kebijakan yang dibuat dan dilaksanakan oleh daerah merupakan bagian integral dari kebjikan nasional. Pembedanya adalah terletak pada memanfaatkan kearifan, potensi, inovasi, daya saing, dan kreativitas daerah untuk mencapai tujuan nasional tersebut di tingkat lokal yang pada gilirannya akan mendukung pencapaian tujuan nasional.

Daerah diberikan mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut tugas Pembantuan dan diberikan otonomi yang seluas-luasnya. Untuk mempertegas hal-hal yang berkaitan dengan hubungan pemerintah pusat dan daerah, penyelenggaraan pemerintahan daerah, urusan pemerintah, perangkat daerah, keuangan daerah, perda, dan inovasi daerah, pada tahun 2014 lahirlah UU Pemda Tahun 2014 yang menggantikan UU Pemda Tahun 2004.

Konsekuensi logis lahirnya UU Pemda tahun 2014 adalah setiap kebijakan yang akan dibuat oleh pemerintah pusat dan pemerintah daerah yang berkaitan dengan penyelengaraan pemerintahan harus mengacu kepada UU Pemda Tahun 2014. Sebagaimana diamanatkan UUDNRI Tahun 1945 terdapat urusah pemerintahan yang sepenuhnya menjadi kewenangan pemerintah pusat yang dikenal dengan istilah urusan pemerintahan absolut dan ada urusan

(10)

pemerintahan konkuren. Urusan pemerintahan konkuren terdiri atas urusan pemerintahan wajib dan urusan pemerintahan pilihan yang dibagi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah provinsi, dan daerah kebupaten/kota. Urusan pemerintahan wajib dibagi dalam urusan pemerintahan wajib yang terkait pelayanan dasar dan urusan pemerintahan wajib yang tidak terkait pelayanan dasar.

Bidang sumber daya mineral termasuk urusan wajib yang tidak berkaitan dengan pelayanan dasar seperti yang disebutkan dalam Pasal 13 ayat (3) huruf e UU Pemda Tahun 2014. Lebih lanjut, Pasal 14 ayat (1) menyebutkan bahwa penyelengaraan urusan pemerintahan bidang sumber daya mineral dibagi antara pemerintah pusat dan daerah provinsi. Bahkan pada ayat (3)nya menyebutkan bahwa berkaitan dengan pengelolaan minyak dan gas bumi menjadi kewenangannya hanya ada pada pemerintah pusat.

Pertambangan mineral dan batu bara secara khusus diatur dalam UU Minerba. Pasal 6 memberikan kewenangan kepada pemerintah pusat dalam pengelolaan pertambangan mineral dan batu bara. Pasal 7 memberikan kewenangan kepada pemerintah provinsi dalam pengelolaan pertambangan mineral dan batu bara. Pasal 8 memberikan kewenangan kewenangan kepada pemerintah provinsi dalam pengelolaan pertambangan mineral dan batu bara.

UU Minerba memberikan kewenangan kepada pemerintah daerah baik ditingkat provinsi maupun kabupaten/kota. Sejalan dengan UU Minerba, Pasal 13 ayat (2) dan Pasal 14 ayat (2) UU Pemda Tahun 2014 yang lahir sebelum UU Pemda Tahun 2014 juga memberikan kewenangan kepada pemerintah daerah baik ditingkat provinsi maupun kabupaten/kota untuk urusan yang bersifat pilihan meliputi urusan pemerintah yang secara nyata ada dan berpotensi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sesuai dengan kondisi, kekhasan, dan potensi unggulan daerah yang bersangkutan. Penjelasan Pasal 13 ayat (2) dan Pasal 14 ayat (2) mengatur yang dimaksud dengan “urusan pemerintah yang secara nyata ada” dalam ketentuan ini sesuai dengan kondisi, kekhasan, dan potensi yang dimiliki antara lain pertambangan, perikanan, pertanian, perkebunan, kehutanan, dan pariwisata.

Kewenangan pengelolaan pertambangan mineral dan batu bara yang diberikan UU Minerba kepada pemerintah daerah provinsi dan kabupaten/kota tentunya sangat logis, mengingat ketika terbentuknya UU Minerba masih berlaku UU Pemda Tahun 2004 sehingga dasar pengaturan kewenangan pengelolaan pertambangan mineral dan batu bara pada UU Minerba Mengacu kepada UU Pemda Tahun 2014 walaupun tidak secara eksplisit disebutkan dalam ketentuan mengingatnya. Hal ini ditegaskan oleh pernyataan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral bahwa dalam rancangan undang-undang minerba pemerintah kabupaten/kota tidak lagi memiliki wewenang dalam pengelolaan pertambangan mineral dan

(11)

batu bara. Hal ini membuktikan rancangan undang-undang minerba mengacu kepada UU Pemda Tahun 2014.

Dikaitkan dengan asas preferensi yakni asas lex specialist derogat legi generalist berkaitan dengan urusan pemerintahan mengacu kepada UU Pemda Tahun 2014 termasuk kewenangan pengelolaan pertambangan harus mengacu kepada UU Pemda Tahun 2014 (lex

specialist) bukan kepada UU Minerba (lex generalist). Pada hakikatnya manusia adalah mahluk

rasional, mengambil keputusan terbaik dari pilihan-pilihan yang ada, baik bersifat individu maupun kolektif dari ketersediaan sumber daya yang langka (scarcity), guna peningkatan kemakmuran. Berdasarkan hal tersebut UU Pemda Tahun 2014 merupakan kristalisasi keinginan setiap rakyat Indonesia (rational choice) untuk mewujudkan kesejahteraan (public

choice) (Nicholas Mercuro dan Steven G, 1997: 87)

2. Nilai (value)

Suatu nilai dapat diartikan sebagai sesuatu yang berarti atau penting, keinginan terhadap sesuatu, baik secara moneter atau non moneter, sehingga sifat yang melekat padanya berupa kepentingan pribadi manusia untuk mencapai kepuasan. (Klaus Mathis, 2009: 11) Pertimbangan manusia dalam menentukan suatu nilai pada akhirnya selalu ditujukan pada relevansi peningkatan kemakmuran (wealth maximization) seperti yang diperintahkan konstitusi kepada negara. Peningkatan tersebut dapat diartikan sebagai memilih alternatif terbaik dari yang ada.

The founding fathers, Soekarno mengusulkan bahwa prinsip kesejahteraan sebagai salah

satu dasar negara (The Liang Gie, 1082: 3). Kesejahteraan (moneter atau non moneter) menjadi nilai yang dianut oleh masyarakat Indonesia dan harus dimplementasikan oleh negara dalam setiap kebijakan yang dibuat. Dikaitkan dengan kewenangan dalam pengelolaan pertambangan, untuk meningkatkan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia harus memilih alternatif yang terbaik dari yang ada yakni kewenangan pengelolaan pertambangan diberikan kepada pemerintah pusat.

3. Efisiensi (efficiency)

Manusia dihadapkan pada serangkaian pilihan dan harus menentukan pilihan sebaga akibat kondisi kelangkaan (scarcity), dalam kelangkaan ekonomi diasumsikan bahwa individu atau masyarakat akan atau harus berusaha memaksimalkan apa yang mereka ingin capai dengan melakukan sesuatu sebaik mungkin dalam keterbatasan sumber. Konsekuensi logis dari

(12)

kelangkaan tersebut, individu atau masyarakat harus mengalokasikan sumber daya secara efisien.

Berkaitan dengan konsep efisiensi, dikenal 2 konsep efisiensi yaitu pareto efficiency dan

kaldor-hicks efficiency. Pareto efficiency melihat apakah suatu kebijakan atau peraturan

membuat seseorang lebih baik dengan tidak mengakibatkan seseorang lainnya bertambah buruk. Sedangkan kaldor-hicks efficiency melihat apakah kebijakan atau peraturan tersebut akan menghasilkan keuntungan yang cukup bagi mereka yang mengalami perubahan tersebut, sehingga dapat memberikan kompensasi kepada mereka yang dirugikan akibat kebijakan atau peraturan tersebut (Fajar Sugianto, 2015: 34)

Dalam kehidupan bernegara tidak dapat hanya mengutamakan prinsip persaingan saja namun juga harus melaksanakan prinsip kerjasama, begitu pun sebaliknya. Untuk menciptakan keseimbangan dalam kehidupan bernegara. Kedua prinsip tersebut dalam Pasal 33 ayat (4) UUD 1945 disebut dengan prinsip "efisiensi berkeadilan". Prinsip efisiensi berkeadilan merupakan improvisasi konsep efisiensi yang dikemukakan Pareto yang dikenal dengan pareto

improvement. Pareto improvement yakni suatu keadaan dimana adanya sebuah aktivitas

membuat sebagaian masyarakat menjadi lebih baik dan tidak ada yang dirugikan (sebagaian yang lain tidak mengalami perubahan) (Nunuk Dwi Retnandari, 2014:54).

Berikut beberapa pendapat ahli terkait efisiensi berkeadilan (Made Gde Subha Karma Resen, 2015: 367-368). Menurut Tim Howard, disatu pihak kita harus menghindari in-efisiensi, tetapi pada pihak lain kita juga harus menjamin agar kekayaan tersebar secara adil dan merata. Kita membutuhkan jalan untuk mengembangkan agar perekonomian kita efisien, tetapi sekaligus juga berkeadilan. Itulah sebabnya, dalam Pasal 33 ayat (4) UUD NRI 1945, kata efisiensi dirangkaikan dalam satu nafas dengan keadilan, yaitu efisiensi berkeadilan. Menurut Sri Edi Swasonoikno tambahan kata “berkeadilan” dibelakang kata “efisiensi”, sehingga menjadi “efisiensi berkeadilan” memberikan makna yang berdimensi makro dan merupakan tuntutan politis untuk terbentuknya social welfare.

Berikut 2 (dua) Putusan Mahkamah Konstitusi terhadap produk undang-undang yang bertentangan dengan Pasal 33 UUDNRI Tahun 1945 karena hanya mengedepankan sisi kompetisi (efisiensi) tanpa memeperhatikan kerjasama (efisiensi berkeadilan).

1. Undang-Undang Ketenagalistrikan Tahun 2002 diputus tidak sesuai atau bertentangan dengan Pasal 33 UUDNRI tahun 1945 karena mendorong privatisasi pengusahaan tenaga listrik sebagai cabang produksi yang dianggap penting dan menguasai hajat hidup orang banyak yang seharusnya dikuasai oleh negara (Pasal 33 ayat (2), akan merugikan hak-hak konstitusional warga negara, dan kebijakan undbunling merupakan merupakan upaya

(13)

privatisasi pengusahaan tenaga listrik dan menjadikan tenaga listrik sebagai komoditas pasar yang berarti tidak lagi memberi proteksi kepada mayoritas rakyat yang belum mampu menikmati listrik.

2. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air diputus tidak sesuai atau bertentangan dengan Pasal 33 UUD 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum yang mengikat, sehingga Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1974 tentang Pengairan dinyatakan berlaku kembali untuk mencegah kekosongan hukum (vacuum of recht). Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air memungkinkan keterlibatan swasta dalam penyelenggaraan sumber daya air, yang akan mendorong peningkatan peran swasta. Keterlibatan swasta bukan hanya dalam bentuk penyediaan air mium, tetapi juga pengelolaan sumber-sumber air dan penyediaan air baku bagi irigasi pertanian. Ditambah dalam pengaturan undang-undang ini tidak memberikan batasan kepemilikan swasta, terutama swasta asing dalam pengelolaan air. Hal ini akan mengurangi peran negara dalam pengelolaan air sehingga bertentangan dengan Pasal 33 UUD NRI 1945.

Dikaitkan dengan tujuan bernegara yakni kesejahteraan (Pembukaan dan Pasal 33 UUDNRI Tahun 1945), untuk mewujudkan dan meningkatkan kesejahteraan bagi seluruh berlandasakan efisiensi berkeadilan maka bidang-bidang yang berkaitan dengan hajat hidup orang banyak seperti bidang pertambangan harus dikelola oleh pemerintah pusat dengan pembantuan pemerintah provinsi sebagai perpanjangan tangan pusat di daerah.

4. Kegunaan/manfaat (utility)

Pasal 33 UUDNRI menyebutkan bahwa cabang produksi yang dianggap penting dan berkaitan dengan hajat hidup orang banyak harus dikuasai oleh negara untuk kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia. Sektor pertambangan merupakan salah satu cabang produksi penting dan berkaitan dengan hajat hidup orang banyak. Pertama dari segi kesejahteraan ekonomi, pertambangan menjadi salah satu pendapatan terbesar bagi negara. Pada tahun 2017 pendapatan negara dari sektor Energi dan Sumber Daya Alam (ESDM) mencapai Rp. 178, 1 triliun mencakup Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar Rp. 129,1 triliun dan Pajak Penghasilan Migas sebesar Rp. 49 triliun. Bahkan PNBP sektor ESDM sebesar 129,1 triliun menyumbang hampir 50% target PNBP nasional pada APBN 2017 (Pebrianto Eko Wicaksono, https://bit.ly/2Jo5MI6, diakses pada 29 Oktober 2018). Pertambangan merupakan sektor yang mempunyai posisi strategis dalam menambah pemasukan bagi negara, sehingga pertambangan harus dikelola oleh pemerintah pusat sehingga kesejahteraan (dalam artian materiil) bagi

(14)

seluruh rakat Indonesia dapat diwujudkan bahkan ditingkatkan. Bahkan Peraturan Pemerintah No. 1 Tahun 2017 tentang Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batu Bara dan Undang-Undang Pertambangan Menegaskan bahwa pengelolaan pertambangan nasional harus dikuasai paling sedikit 51% oleh peserta nasional dan kepemilikannya sahamnya diprioritaskan kepada pemerintah pusat.

Kedua kesejahteraan ekologi, pertambangan tidak hanya memiliki posisi strategis untuk mewujudkan kesejahteraan ekonomi tapi juga memiliki posisi strategis untuk mewujudkan kesejahteraan ekologi. Lingkungan hidup yang baik dan sehat merupakan hak asasi setiap warga negara Indonesia sebagaimana yang diamanatkan Pasal 28H UUDNRI Tahun 1945 merupakan salah satu bentuk perwujudan dan peningkatan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia. Pasal 33 ayat (4) UUDNRI Tahun 1945 kemudian menegaskan bahwa pembangunan ekonomi nasional diselenggarakan berdasarkan prinsip pembangunan berkelanjutan dan wawasan lingkungan. Berdasarkan alasan di atas, Jimly Asshidique menyebutkan bahwa konstitusi Indonesia bukan hanya konstitusi ekonomi namun juga konstitusi sosial (Jimly Asshidique, 2010:70).

Pertambangan selain sebagai salah satu sektor yang mempunyai posisi strategis dalam menambah pemasukan bagi negara, juga menjadi salah satu sektor penyumbang terjadinya pencemaran dan kerusakan lingkungan di Indonesia. Bahkan 70% kerusakan lingkungan yang terjadi di Indonesia disebabkan oleh operasi pertambangan (Elok Dyah Meswati, https://bit.ly/2AwclFN, diakses pada 29 Oktober 2018). Aspek preemtif dan preventif selalu diabaikan untuk menghasilkan produk yang baik dan ekonomis dari pada aspek penanggulangan dan pemulihan sehingga dapat dipastikan kerusakan akan semakin meluas dan tidak terkendali (Franky Butar Butar, Jurnal Yuridika Vol. 25 No. 2, Mei-Agustus 2010: 151-168).

Undang-Undang No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup menegaskan bahwa penegakan hukum lingkungan harus memprioritaskan aspek preventif sehingga aspek prefentif menjadi premium remidium sedangkan represif ultimum

remidium. Penegakan hukum lingkungan secara prefentif dilakukan melalui instrumen

perizinan. Sehingga melalui instrumen perizinan dapat meminimalisir bahkan mencegah terjadinya pencemaran dan kerusakan lingkungan. Untuk dapat melakukan tindakan pencegahan melalui instrumen perizinan harus dilakukan oleh pemerintah pusat melalui pembantuan pemerintah daerah provinsi.

Berdasarkan alasan ekonomis dan ekologis tersebut menjadikan pertambangan sebagai cabang produksi penting dan sektor yang berkaitan dengan hajat hidup orang banyak sehingga

(15)

harus dikuasi langsung oleh negara terutama pemerintah pusat atau dengan pembantuan pemeirntah daerah provinsi. Sehingga dengan penguasaan langsung oleh pemerintah pusat dengan pembantuan provinsi sebagai perwakilan pusat di daerah akan dapat mewujudkan dan meningkatkan kesejahteraan ekonomis maupun ekologis bagi seluruh rakyat Indonesia.

KESIMPULAN

Berdasarkan pembahasan di atas, berikut kesimpulan yang didapat: economic analysis of

law terdiri dari konsep pilihan rasional, konsep nilai, konsep efisiensi, dan konsep kegunaan.

Dilihat dari perspektif economic analysis of law kewenangan pengelolaan pertambangan di Indonesia berada di tangan pemerintah pusat dengan pembantuan pemerintah provinsi sehingga akan memaksimalkan peningkatan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia yang merupakan perintah dari UUDNRI Tahun 1945.

DAFTAR PUSTAKA

Asshidique, Jimly, 2010, Konstitusi Ekonomi, Kompas, Jakarta.

Butar Butar, Franky, Jurnal Yuridika Vol. 25 No. 2, Mei-Agustus 2010: 151-168 Gie, The Liang, 1082, Teori-Teori Keadilan, cetakan kedua, Super Sukses, Yogyakarta. Mathis, Klaus, 2009, Efficiency Instead of Justice Searching for the Philosophical

Foundations of the Economic Analysis of Law, Springer.

Mercuro, Nicholas dan Steven G. Medema, 1997, Economic and the Law: From Posner to

Post-Modernism, Princeton University Press, New Jersey.

Meswati, Elok Dyah, https://bit.ly/2AwclFN, diakses pada 29 Oktober 2018

Posner, Richard A., Economic Analysis of Law, Harvard University Press, United State Of Amerika.

Resen, Made Gde Subha Karma 2015, Pengaturan Badan Usaha Milik Daerah Berdasarkan

Good Governance dan Good Corporate Governance (Tinjauan Yuridis Terhadap Badan Usaha Milik Daerah Sebagai Entitas Bisnis), Desertasi Program Studi Doktor

Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada.

Retnandari, Nunuk Dwi, 2014, Pengantar Ekonomi Dalam Kebijakan Publik, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.

Sugianto, Fajar, 2014, Economic Analysis of Law, Kencana Preanada Group, Jakarta. Posner, Richard A., Economic Analysis of Law, Harvard University Press, United State Of

(16)

Referensi

Dokumen terkait

Dari rasio kepentingan yang sudah dimasukkan kemudian dilakukan proses selanjutnya yaitu menghitung dan membuat matriks normalisasi, dari matriks normalisasi ini akan didapat

Dari beberapa perbedaan tersebut, menjadi daya tarik bagi peneliti untuk meneliti tentang manajemen pembelajaran yang ada di MTsN Tambakberas, baik yang berada di kelas

Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan pengetahuan ibu, sikap ibu, dukungan keluarga, jarak rumah ketempat pelayanan kesehatan dan peran petugas kesehatan dengan

Tolkmittin ja Morris & Wiggertin me- netelmien osalta on huomattava, että niissä padotus on virtausalan supis- tuksesta johtuva kokonaismuutos, kun taas muissa menetelmissä

Aksi utama epinefrin adalah pada arteriol yang lebih kecil dan sfingter  prekapiler. Pembuluh darah pada kulit, membran mukosa dan ginjal mengandung reseptor α. Epinefrin

Pada proses pembelajaran 5DSD¶L 3XORHW di sanggar Aneuk Nanggroe Sagoe Padang Tiji kabupaten Pidie faktor yang mempengaruhi hasil belajar peserta didik dapat muncul

Berdasarkan nilai RMSE ini yang merujuk kepada data TEC dari WARAS, ditunjukkan bahawa nilai TEC yang diperolehi daripada IONEX memiliki ralat yang lebih kecil berbanding nilai

Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Setyowati (2010) dengan judul Pengaruh Penyuluhan dengan Karakteristik Tingkat Pengetahuan Ibu Tentang Tanda-