ABSTRACT
FUNCTIONS OF CRIMINAL PROSECUTION AS A CONDITIONAL EXECUTOR ( STATE ATTORNEY SIJUNJUNG )
Ryan Okta Rafios1, Uning Pratimaratri1, Deaf Wahyuni2, Department of Law, Falkutas Law, University of Bung Hatta
e - mail: [email protected]
Pursuant to Article 14 b of paragraph (2) of the Criminal Code, the prosecutor has the authority to conduct court decision execution. The verdict means that the conditional criminal punishment given suspended execution to some extent by a particular treaty. Conditional executions often do not go wel. Issues raised in this study are: (1) How is the task of the criminal attorney as executor of the conditional. (2) Are the actions taken by the prosecutor as executor of the criminal inmates who violate parole. This study used socio-juridical approach, the source data consists of primary data and secondary data. Data were collected by interview and document research data were analyzed qualitatively. Based on the research are: (1) after the judge read the verdict of the case, the judge promptly notify the defendant of his right, if the defendant did not object to the verdict should be implemented immediately. (2) when a person is sentenced to parole and probation predetermined committing a crime again, then the convicted person serving a sentence in accordance with the original decision that is inserted into the prisons. Keywords: attorney, executor, criminal, conditional
Pendahuluan
Jaksa adalah pegawai pemerintah dalam bidang hukum yang bertugas menyampaikan dakwaan atau tuduhan di dalam proses pengadilan terhadap orang yang diduga telah melanggar hukum. UU Kejaksaan R.I No. 16 Tahun 2004 juga telah mengatur tugas dan wewenang Kejaksaan sebagai mana ditentukan dalam Pasal 30.
Pengaturan mengenai tugas dan wewenang kejaksaan RI tentang pidana
bersyarat terdapat dalam UU Kejaksaan RI yaitu dalam Pasal 30 ayat (1).
Keberadaan jaksa sebagai eksekutor dalam pidana bersyarat diharapkan dapat merubah pandangan masyarakat tentang pidana bersyarat, yang mana masyarakat masih menganggap pidana bersyarat itu pelepasan, atau kebebasan terhadap pidana. Penanganan perkara pidana bersyarat yang dilakukan oleh jaksa selama ini menjadi kewenangan yang harus dilakukan sebaik-baiknya sesuai dengan ketentuan sebagai
badan hukum yang berwenang melakukan pengawasan terhadap pidana bersyarat.
Fungsi jaksa di dalam bidang pidana melakukan pengawasan pelaksanaan putusan pidana bersyarat, putusan pidana pengawasan dan keputusan pelepasan bersyarat. Melalui fungsi jaksa sebagai eksekutor dari pidana bersyarat diharapkan dapat melakukan wewenangnya berdasarkan hukum, dan dapat memberikan pelajaran terhadap terpidana bersyarat.
Fungsi jaksa sebagai eksekutor merupakan salah satu mata rantai proses penegakan hukum dalam penanggulangan kejahatan atau tindak pidana yang terjadi dalam masyarakat, dimana fungsi tersebut tidak terlepas dan dipisahkan dari proses penyelidikan, penyidik, penuntutan persidangan dan eksekusi.
Berdasarkan Pasal 1 angka 1 Undang-undang No. 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia, (selanjutnya disebut UU Kejaksaan RI) jaksa adalah pejabat fungsional yang diberi wewenang oleh undang-undang untuk bertindak sebagai penuntut umum dan pelaksana putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap serta wewenang lain berdasarkan undang-undang. Sehubungan dengan makna kekuasaan kejaksaan dalam melakukan kekuasaan negara di bidang penuntutan secara merdeka,
penjelasan Pasal 2 ayat (2) UU Kejaksaan RI menjelaskan bahwa kejaksaan dalam melakukan fungsi, tugas, dan wewenangnya terlepas dari pengaruh kekuasaan pemerintah dan pengaruh kekuasaan lainnya, ketentuan ini bertujuan melindungi profesi Jaksa.
Mengacu pada UU Kejaksaan RI tersebut, maka pelaksanaan kekuasaan negara yang diemban oleh Kejaksaan, harus dilakukan secara merdeka. Penegasan ini tertuang dalam Pasal 2 ayat (2) UU Kejaksaan RI, (bahwa kejaksaan adalah lembaga pemerintah yang melakukan pelaksanaan kekuasaan negara di bidang penuntutan secara merdeka. Artinya, bahwa dalam pelaksanaan fungsi, tugas dan wewenang terlepas dari pengaruh kekuasaan lainnya. Ketentuan ini bertujuan melindungi profesi jaksa dalam melaksanakan tugas profesionalnya).
Pidana bersyarat itu adalah sebagai salah satu cara penangguhan pelaksana hukuman dimana si terhukum tidak melaksanakan hukumannya di dalam lembaga pemasyarakatan (LAPAS) karena sebetulnya pidana bersyarat ini bertujuan agar si pelaku yang diberikan hukuman, bisa memperbaiki dirinya dengan melakukan kesadaran selama masa percobaan.
Pidana bersyarat (voor waardelijke veroordeling) yang tercantum dalam Pasal 14a sampai dengan 14f KUHP, diwarisi dari
Belanda, tetapi dengan perkembangan zaman telah terdapat perbedaan antara keduanya, dimana ketentuan tentang pidana masih tetap terikat pada Pasal 10 KUHP, hanya batas pidana itu tidak akan lebih satu tahun penjara atau kurungan. Sebagai mana diketahui bahwa pidana bersyarat itu baru dikenal di Indonesia, yaitu pada tanggal 1 Januari 1927. Baru kemudian pidana bersyarat diatur dalam Pasal 14a-14f KUHP. Di dalam pidana bersyarat dikenal syarat umum dan syarat khusus. Syarat umum ialah terpidana bersyarat tidak akan melakukan delik apapun dalam waktu yang ditentukan, sedangkan syarat khusus akan ditentukan oleh Hakim. Pengawasan terhadap pidana bersyarat dilakukan oleh yang melaksanakan eksekusi yaitu Jaksa, tetapi pengawasan itu benar-benar dapat dilaksanakan atau tidak, yang tentunya juga harus diikuti dengan penyesuaian pada masyarakat, sebagaimana masyarakat juga perlu mempersiapkan diri ikut memikul tanggung jawab dalam usaha-usaha menerima dan mendidik narapidana.
Narapidana adalah anggota masyarakat yang karena kesalahannya telah melanggar hukum dan nantinya apabila telah selesai menjalani pidananya akan menjadi anggota masyarakat. Biasanya masyarakat mempunyai pandangan yang berbeda terhadap mereka, bahkan enggan untuk menerima kembali
mereka , hal ini tentu saja menjadi hambatan tersendiri bagi proses pemasyarakatan.
Permasalahan Dalam Penelitian
1. Dalam menanggani tindak pidana bersyarat Jaksa terkendala kurangnya personil.
2. Dalam melakukan pengawasan bersyarat Jaksa selaku pengawas mendapat kendala terletak pada seringnya terdakwa terlambat dalam melapor setiap bulannya.
Metode Penelitian
1. Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian hukum yang menggunakan metode yuridis sosiologis, yaitu pendekatan masalah melalui penelitian hukum dengan melihat norma yang berlaku dan menghubungkannya dengan fakta yang ada di lapangan sehubungan dengan permasalahan yang di tentukan dalam penelitian(Soerjono Soekanto, 2008). 2. Sumber Data
Sumber data dalam penelitian ini adalah: Data Primer, yaitu Data diperoleh dengan teknik wawancara dengan dua orang jaksa sebagai eksekutor dari pidana bersyarat dengan Kejaksaan Negeri Sijunjung. Dan Data Sekunder yaitu diperoleh dari
kantor Kejaksaan Negeri Sijunjung berupa Berita Acara Pidana Bersyarat. 3. Teknik Pengumpulan Data
a. Wawancara yang dilakukan adalah wawancara semi terstruktur yaitu di samping menyusun pertanyaan penulis juga akan mengembangkan pertanyaan lain yang berkaitan dengan masalah yang akan diteliti (Soerjono Soekanto, 2008)
b. Studi dokumen yaitu dengan mempelajari bahan-bahan yang ada di kepustakaan atau literatur-literatur yang ada berkaitan dengan permasalahan yang diteliti (Bambang Sunggono, 2007).
4. Analisis Data
dianalisis secara kualitatif yaitu data yang diambil sesuai dengan fakta yang ada dan kemudian dianalisis dengan uraian untuk mengetahui tentang tugas jaksa sebagai eksekutor pidana bersyarat.
Hasil Penelitian Dan Pembahasan
A. Pelaksanaan Eksekusi Pidana Bersyarat oleh Jaksa sebagai Eksekutor pada Pidana Bersyarat di Kejaksaan Negeri Sijunjung
Setelah Hakim menjatuhkan amar putusan, yang menjatuhkan putusan berupa pidana bersyarat maka Jaksa selaku eksekutor
akan segera mengeksekusi putusan yang telah ingkrah tersebut. Selanjutnya jaksa akan melaksanakan putusan hakim tersebut, mengeluarkan surat perintah pelaksanaan putusan pengadilan dan membuat berita acara pelaksanaan putusan tersebut. Selanjutnya jaksa membuat surat pemberitahuan pemidanaan tindak pidana bersyarat dengan dilampiri foto terdakwa pidana, dengan menyebutkan lamanya masa percobaan, mulainya masa percobaan, dan habisnya masa percobaan.
Memberitahukan kepada terpidana untuk wajib lapor di kejaksaan dengan ketentuan wajib lapor sebagai mana yang ditentukan oleh jaksa penuntut umum. Apabila terpidana melakukan tindak pidana kembali selama masa menjalani pidana bersyarat tersebut maka jaksa penuntut umum segera memasukan terpidana tersebut kedalam penjara di rutan sesuai dengan pidana yang dijatuhkan waktu dalam persidangan.
Sebelum putusan hakim mengenai suatu pidana bersyarat yang telah akan dijatuhkan kepada seseorang harus mempunyai kekuatan hukum yang tetap, jaksa harus sudah mengirim pemberitahuan kepada lembaga-lembaga atau pejabat-pejabat tertentu yang telah diperintahkan oleh hakim untuk memberikan bantuannya kepada seseorang
terpidana, tentang adanya suatu putusan hakim tersebut.
Setelah putusan hakim tersebut mempunyai kekuatan hukum yang tetap, maka kepada pengurus lembaga-lembaga atau pejabat-pejabat tertentu akan disampaikan suatu pemberitahuan dari jaksa, yang akan menjelaskan lebih lanjut tentang bilamana masa percobaan itu akan berakhir. Wawancara dengan Syaful Ambri, selaku Kasi Tindak Pidana Umum (Wawancara dengan Syaiful Ambri, selaku KASI Tindak Pidana Umum, bertempat Kejaksaan Negeri Sijunjung, hari Jumat, 13 Februari 2014, Pukul 10.00. WIB).
Setelah hakim membacakan putusan dari suatu perkara diucapkan di muka sidang yang terbuka untuk umum, maka hakim segera memberitahukan kepada terdakwa tentang apa yang menjadi hak-haknya. Hak terdakwa untuk meminta penangguhan pelaksanaan putusan dalam tenggang waktu yang ditentukan untuk dapat mengajukan grasi dalam hal terdakwa menerima putusan”. Apabila terdakwa tidak mengajukan keberatan apa-apa maka selanjutnya putusan itu harus dilaksanakan dengan segera.
Permohonan grasi itu harus ada, dan jika dalam tempo yang telah ditetapkan, terpidana benar-benar mengajukan permohonan grasi, maka putusan yang telah berkekuatan hukum pasti itu dipertangguhkan sampai ada keputusan presiden, yakni terhadap yang pidana penjara atau kurungan
yang kemudian dijatuhkan hukuman sejenis sebelum terdakwa menjalani hukuman yang terdahulu, maka pidana itu harus berturut-turut dijalankan, di mulai dari pidana yang dijatuhkan terlebih dahulu.
Dalam hal pelaksanaan putusan pidana bersyarat oleh Pengadilan Negeri setelah putusan dibacakan diserahkan kepada Kejaksaan Negeri. Walaupun dalam organisasi Kejaksaan Negeri tidak ada bagian yang khusus menangani pidana beryarat, tetapi setelah adanya kesepakatan antara terpidana dan jaksa, maka jaksa juga dapat memerintahkan kepada lembaga yang membentuk badan hukum atau pemimpin suatu rumah penampungan dan pejabat tertentu supaya memberikan suatu pertolongan dan bantuan dalam memenuhi syarat khusus. Menurut Syaiful Ambri di Pengadilan Negeri Sijunjung. Hukuman bersyarat ini dilaksanakan berdasarkan putusan Hakim yang kemudian putusan tersebut diberikan kepada pihak si terhukum di samping tembusannya di Kejaksaan dan Kepolisian. Dengan adanya putusan dari hakim, kemudian kepala Kejaksaan Negeri mengeluarkan surat perintah pelaksanaan putusan pengadilan kepada Jaksa penuntut umum yang bersangkutan.
Selanjutnya Jaksa penuntut umum membuat surat pemberitahuan pidana bersyarat yang mana surat pemberitahuan itu ditujukan kepada kepala Kejaksaan di samping tebusannya ke kepolisian dan pengadilan yang memberikan putusan tersebut.
Penyerahan surat pemberitahuan kepada kepala Kejaksaan bersamaan dengan penyerahan si terhukum kepada balai tersebut. Surat pemberitahuan itu sebenarnya berfungsi
sebagai penunjuk tempat melaksanakan putusan pengadilan. Selama si terhukum berada di dalam pembinaan Kejaksaan di dalam praktek penghukuman kabupaten Sijunjung tetap tinggal di rumahnya seperti biasa dengan kewajiban melaporkan diri di Kejaksaan setiap 1 (satu) bulan dalam Waktu selama 7 (tujuh) bulan, hanya sekali dalam waktu 1 (satu) bulan dengan pegawai Kejaksaan, selama berada dalam pembinaan itu.
Jika seorang jaksa menyatakan pidana bersyarat telah tidak memenuhi syarat-syarat khusus yang telah ditetapkan oleh Hakim ataupun telah tidak memenuhi syarat umum bahwa terpidana tidak akan melakukan sesuatu perbuatan yang sifatnya terlarang, maka Jaksa tersebut dapat mengusulkan kepada Hakim agar kepada terpidana itu diberikan peringatan ataupun agar Hakim memerintahkan kepada terpidana untuk melaksanakan pidananya.
Akan tetapi Jaksa itu tidak perlu harus segera memberitahukan kepada Hakim, apabila Jaksa mendengar mengenai sesuatu perilaku dari seorang terpidana yang dalam pengawasannya, oleh karena itu Hakim sendirilah yang harus menemukan apakah Jaksa akan memberitahukan mengenai perilaku dari terpidana itu kepada Hakim atau tidak.
Apabila Jaksa itu ternyata tidak berbuat sesuatu mengenai pelanggaran-pelanggaran yang telah dilakukan oleh seseorang yang telah dijatuhi suatu pidana secara bersyarat oleh Hakim, maka Hakim pun tidak dapat sesuatu terhadap yang terpidana (Wawancara dengan Syaiful Ambri, selaku KASI Tindak Pidana Umum, bertempat Kejaksaan Negeri Sijunjung, hari Jumat, 24 Januari 2014, Pukul 14.00. WIB).
B. Tindakan Jaksa sebagai Eksekutor terhadap Narapidana yang Melanggar Pidana Bersyarat di Kejaksaan Negeri Sijunjung
Hakim setelah menjatuhkan vonis terhadap terpidana bersyarat, maka tugas Hakim selesai, sedangkan pelaksanaan putusan berada di tangan “Jaksa” dengan syarat putusan itu bisa dilaksanakan oleh Jaksa apabila putusan itu telah mempunyai kekuatan Hukum tetap, dan masa percobaan mulai berlaku selanjutnya Jaksa harus memberitahukan kepada si terhukum sekaligus mengenai syarat-syaratnya.
Apabila terpidana melakukan tindak pidana kembali selama masa menjalani pidana bersyarat tersebut, maka jaksa penuntut umum segera melaksanakan pidana yang dijatuhkan dalam persidangan yang telah memiliki kekuatan hukum tetap.
Dalam hal pelanggaran syarat umum Jaksa tidak perlu segera meminta supaya hukuman dijalankan, tetapi terlebih dahulu mempertimbangkan apakah siterhukum perlu diberikan peringatan yang keras dan apabila peringatan tersebut tidak dipenuhi barulah berdasarkan surat kepala Kejaksaan meminta kepada Jaksa pengawas tadi agar terhukum dieksekusi dengan hukuman yang diputuskan oleh Hakim (Wawancara dengan Reninovita, selaku Jaksa Penuntut Umum, bertempat
Kejaksaan Negeri Sijunjung, hari Senen, tanggal 20 Januari 2014, Pukul. 10.00. WIB).
Tindakannya tergantung perjanjian antara hakim dan narapidana jika narapidana mengulanginya lagi tindak pidana tersebut atau melakukan tindak pidana yang lain, maka terpidana masuk penjara dan pidana bersyarat tidak berlaku lagi. Penjatuhan hukuman oleh Hakim terhadap terpidana bersyarat harus sesuai dengan ketentuan syarat umum, syarat khusus dan mempunyai kekuatan hukum tetap, masa percobaan yang telah ditetapkan Hakim itu mulai berlaku setelah putusan mempunyai kekuatan Hukum yang tetap. Jadi apabila seseorang dijatuhi pidana bersyarat, selama masa percobaan yang telah ditetapkan oleh hakim dalam putusannya, bila melanggar syarat yang telah ditetapkan atau melakukan tindak pidana lagi, maka terpidana tersebut menjalani hukuman sesuai dengan putusan semula yaitu dimasukkan ke dalam Rutan. Untuk dapat lengkapnya skripsi ini, maka penulis melakukan penelitian lapangan di Kejaksaan Negeri Sijunjung yang berhubungan dengan permasalahan yang ada dalam skripsi penulis mengajukan pertanyaan yang mana hasilnya:
Pelaksanaan pidana beryarat itu setelah Hakim memberikan putusan dari suatu perkara yang menghukum terdakwa dengan pidana bersyarat, maka selesailah tugas Hakim dan
selanjutnya putusan Hakim itu harus dilaksanakan. Tugas pelaksanaan berada di tangan Jaksa, dengan syarat putusan itu harus bisa dilaksanakan apabila mempunyai kekuatan hukum tetap, maka masa percobaan mulai berlaku dan Jaksa harus segera memberitahukan kepada si terpidana.
Dalam pelaksanaan pidana bersyarat pada Kejaksaan Negeri Sijunjung hambatannya yang ditemui seperti terdakwa pidana bersyarat tersebut sering terlambat melapor. Untuk kelancaran tugas pengawasan pengamatan yang dinilai kurang efektif maka oleh karena itu Kejaksaan mencatat dan melakukan pengawasan terhadap terpidana, dan dengan membuat laporan terhadap terpidana bersyarat itu pihak Kejaksaan harus efektif dalam pengawasan pengamatan terhadap pidana bersyarat itu sendiri.
Permasalahan yang dihadapi Jaksa sebagai Eksekutor Pidana Bersyarat.
Berdasarkan penelitian lapangan yang telah penulis lakukan di Kejaksaan Negeri Sijunjung, penulis telah mengutip kasus yang akan dipelajari sebagai ilustrasi. Putusannya merupakan pidana bersyarat yang di putus oleh Hakim Pengadilan Negeri Sawahlunto dan telah diterima oleh si terhukum maupun Jaksa (Wawancara dengan Syaiful Ambri, selaku KASI Tindak Pidana Umum, bertempat Kejaksaan
Negeri Sijunjung, hari Jumat, 24 Januari 2014, Pukul 14.00. WIB)
Pada permulaan persidangan dalam acara pemeriksaan biasa hakim ketua sidang menyatakan identitas terdakwa, meliputi (nama kecil, dan nama tua), tempat lahir, jenis kelamin, kebangsaan tempat tanggal lahir, agama dan pekerjaan, serta diingatkan agar terdakwa memperhatikan segala sesuatu yang didengar dan dilihatnya di sidang, dan setelah jelas bahwa terdakwa itu yang sebenarnya, bukan orang lain, maka hakim ketua mempersilakan kepada penuntut umum membacakan surat dakwaan.
Dengan pembacaan surat dakwaan, maka perkara yang bersangkutan telah dimulai pemeriksaan, sehingga pada asasnya surat dakwaan merupakan dasar dari pada perkara pidana yang diajukan kepengadilan. Dengan surat dakwaan berarti ruang lingkup pemeriksaan berarti sudah dibatasi, dan jika dalam pemeriksaan sering terjadi penyimpangan atau “keluar dari rel” surat dakwaan, maka hakim ketua mempunyai wewenang untuk memberikan teguran kepada jaksa atau penasehat hukum. Sehingga jika apa yang dirumuskan dalam surat dakwaan itu, tidak terbukti, dan jika apa yang dirumuskan dalam surat dibebaskan, dan jika apa yang dirumuskan dalam surat dakwaan bukan merupakan kejahatan atau pelanggaran,
maka terdakwa haruslah dilepaskan dari segera tuntutan.
Pembuatan surat dakwaan bukan pekerjaan yang mudah, membutuhkan ketentuan, ketelitian, kecermatan, kesabaran dalam penangganan. Pembuatan surat dakwaan harus menguasai keseluruhan persoalan atau permasalahan dengan dibekali ilmu pengetahuan serta pengalaman. Karena merupakan suatu hasil atau produk seni hukum, diperlukan suatu ketrampilan. Sekalipun pembuatan surat dakwaan merupakan pekerjaan yang cukup rumit, akan tetapi harus mudah di mengerti oleh tersangka, yang kebanyakan masi buta hukum, harus mudah “dicerna” oleh pemikiran tersangka, sebab bahasa hukum bukan bahasa sehari-hari yang dipakai dalam percakapan. Itulah tamsil dalam pembuatan surat dakwaan yang menjadi dasar dari pemeriksaan persidangan selanjutnya.
Petunjuk mengenai pembuatan dan isi dari surat dakwaan, sebagi berikut:
Penuntut umum membuat surat dakwaan yang diberi tanggal dan ditandatangani, serta berisi:
a). Nama lengkap, tempat lahir, umur atau tanggal lahir, jenis kelamin, kebangsaan, tempat tinggal, agama dan pekerjaan tersangka.
a. Uraian secara cermat, jelas dan lengkap mengenai tindak pidana yang didakwakan dengan menyebutkan waktu dan tempat tindak pidana itu dilakukan.
Jika pembuatan surat dakwaan tindak memenuhi ketentuan tersebut di atas, maka surat dakwaan demikian batal demi hukum.
Pengertian batal demi hukum, bahwa dalam hal yang demikian secara hukum (yuridis) dari semula tidak ada surat dakwaan atau tidak ada pula suatu tindak pidana yang dilukiskan dalam surat dakwaan itu. Tujuan Penuntut Umum membawa tersangka kepada persidangan dan menjadikan surat dakwaan sebagai dasar pemeriksaan telah gagal sama sekali. Dan hakim pidana karena jabatan harus menyatakan bahwa surat dakwaan yang dirumuskan demikian tidak memenuhi persaratan KUHAP dan dengan demikian batal demi hukum.
Sebagaimana diuraikan diuraikan bahwa pembuatan surat dakwaan tidak mudah, dan bahkan diancam dengan suatu kebatalan, maka sebelum pemeriksaan dimuka persidangan pengadilan yang dibuka dan terbuka untuk umum dimulai, Jaksa wajib memperhatikan saran-saran yang diberikan oleh ketua persidangan mengenai surat dakwaan tersebut yang mungkin perlu memperoleh perbaikan, jika ada yang
kemungkinan dakwaan ditolak atau terdakwa yang bersalah dibebaskan karena kurang sempurnanya surat dakwaan. Jika saran-saran dari ketua sidang diberikan sebelum pemeriksaan dimuka sidang dimulai, dan kemudian ternyata dalam proses pemeriksaan dapat diketahui keadaan-keadaan yang belum atau tidak dilukiskan dalam surat dakwaan. Penuntut umum dapat mengubah surat dakwaan sebelum hakim menetapkan hari sidang, dan pengubahan surat dakwaan yang mana hanya dilakukan untuk satu kali saja, dan selambatnya-lambatnya dilakukan tujuh hari sebelum sidang dimulai.
a. Penuntut umum dapat mengubah surat dakwaan sebelum pengadilan menetapkan hari sidang, baik
dengan tujuan untuk
menyempurnakan maupun untuk tidak melanjutkan penuntutan. b. Pengubahan surat dakwaan tersebut
dapat dilakukan hanya satu kali selambat-lambatnya tujuh hari sebelum sidang dimulai.
c. Dalam hal penuntut umum mengubah surat dakwaan jaksa menyampaikan tuntutannya kepada tersangka atau penasehat hukum dan penyidik.
Dengan kata lain, KUHAP menutup kemungkinan mengubah surat dakwaan
dilakukan pada proses perkara berjalan. Hal tersebut didasarkan kepada sistem pemisahan kekuasaan antara kekuasaan penyidikan dan kekuasaan penuntutan, yang dilakukan dua aparatur yakni kepolisian dan kejaksaan serta pandangan pembuat undang-undang bahwa aparatur kejaksaan telah dipandang mampu membuat surat dakwaan.
Apabila pada waktu yang sama atau waktu yang hampir bersamaan penuntut umum menerima penyerahan beberapa berkas perkara dari penyidik, mengenai beberapa tindak pidana yang dilakukan oleh seorang tersangka, atau beberapa tindak pidana yang bersangkut paud satu dengan yang lain, atau pun beberapa tindak pidana yang tidak ada bersangkut paud satu dengan yang lain, akan tetapi yang satu dengan yang lain itu ada hubungannya, maka Penuntut Umum harus menggabungkan beberapa berkas perkara itu menjadi satu dan membuatkan satu surat dakwaan. Sedangkan jika Penuntut Umum menerima satu berkas perkara yang memuat beberapa tindak pidana yang dilakukan oleh beberapa orang tersangka, yang untuk kepentingan pemeriksaan sebaiknya perkara-perkara demikian tidak dikumpulkan menjadi satu, maka Penuntut Umum dapat melakukan penuntutan terhadap terdakwa.
Penyusunan surat dakwaan biasanya dilakukan dengan mensistematisir
pelanggaran-pelanggaran ketentuan peraturan-peraturan hukum pidana dengan ancaman pidana yang paling berat, kemudian beralih kepada ancaman pidana yang ringan dan yang teringan, dengan beberapa variasi penyusunan sebagai berikut:
a. Dakwa secara alternatif, yakni mendakwa terdakwa melakukan sala satu dari beberapa tindak pidana yang dirumuskan satu– persatu dalam surat dakwaan. Misalnya: seorang terdakwa dalam “primair” didakwa melakukan pencurian yang diancam dengan pidana penjara.
b. Dakwaan secara kumulatif, yakni mendakwa terdakwa melakukan beberapa tindak pidana yang dilakukan pada waktu dan tempat yang berlainan. Misalnya: seorang terdakwa disatu tempat melakukan pencurian dan dilain tempat melakukan penggelapan. Kedua tindak pidana ini dapat didakwakan dalam satu surat dakwaan dengan “mengumpulkan” kedua tindak pidana tersebut dan atas kedua tindakan pidana itu dimintakan satu hukuman.
Setelah pemeriksaaan perkara artinya telah didengarkan dan diperiksa keterangan
terdakwa, saksi-saksi, saksi ahli, serta alat-alat bukti lainya yang ada dan bersangkutan dengan perkara tersebut dan ketua majelis persidangan menganggap pemeriksaan sudah cukup, maka ketua mejelis mempersilakan kepada Penuntut Umum untuk membacakan reguisitoir atau tuntutan dan apabila menurut pendapat dan keyakinan Penuntut Umum tindak pidana yang didakwakan kepada terdakwa seperti yang terlukis dalam surat dakwaan terbukti. Penuntut Umum menuntut supaya kepada terdakwa dijatuhkan satu hukuman pidana atau satu tindakan, dengan menyebutkan peraturan-peraturan hukum pidana yang telah dilanggar oleh terdakwa. Fakta-fakta yang terungkap dalam pemeriksaan di persidangan secara berturut-turut berupa keterangan saksi-saksi, keterangan terdakwa dan petunjuk, serta barang bukti dan alat bukti surat sebagai berikut:
Sedangkan mengenai Pidana Bersyarat:
Menurut Undang-undang dapat disimpulkan bahwa pidana bersyarat dapat dijatuhkan pada pidana penjara hanyalah apabila Hakim tidak ingin menjatuhkan pidana tidak lebih dari satu tahun. Jadi yang menentukannya bukanlah pidana yang diancam atas delik yang dilakukan, tetapi pidana yang dijatuhkan pada siterdakwa,
apabila Hakim berpendapat bahwa perbuatan pidana yang dilakukan itu adalah terlalu berat, maka sebenarnya pidana bersyarat itu tidaklah mungkin. Jadi menurut penulis apa yang termuat dalam putusan ini telah sesuai dengan teori yang dikemukakan dimana yang menentukan Pidana Bersyarat bukanlah pidana yang diancam atas delik yang dilakukan, tetapi pidana yang dijatuhkan kepada siterdakwa, disini terdakwa dijatuhi pidana oleh Hakim selama 3 (tiga) bulan dan Hakim memerintahkan untuk tidak menjalani pidana itu didalam Lembaga Pemasyarakatan tetapi dijatuhkan Pidana Bersyarat dan ditambah masa percobaan selama 7 (tujuh) bulan. Simpulan
1. Setelah Hakim membacakan putusan dari suatu perkara diucapkan di muka sidang terbuka untuk umum, maka Hakim segera memberitahukan kepada terdakwa tentang apa yang menjadi hak-haknya. Apa terdakwa tidak mengajukan keberatan apa-apa maka selanjutnya putusan itu harus dilaksanakan dengan segera. Selanjutnya Jaksa memerintahkan kepada lembaga yang berbentuk badan hukum atau kepada pemimpin suatu rumah penampungan dan pejabat tertentu supaya memberikan apa yang diperlukan maka selanjutnya
putusan itu harus dilaksanakan dengan segera.
2. Apabila seseorang dijatuhi pidana bersyarat, selama masa percobaan yang telah ditetapkan atau melakukan tindak pidana lagi, maka terpidana tersebut menjalani hukuman sesuai dengan putusan semula yaitu dimasukkan ke dalam LAPAS. Tindakannya tergantung perjanjian antara hakim dan narapidana. Jika si terpidana mengulangi lagi tindak pidana tersebut atau melakukan tindak pidana yang lain, maka terpidana masuk dan pidana bersyatnya tidak berlaku lagi.
DAFTAR PUSTAKA
Andi Hamzah, 1996, Hukum Acara Pidana Indonesia, Artha Jaya, Jakarta.
Bambang Sunggono, 2007, Metodologi Penelitian Hukum, RajaGrafindo Persada.
Djoko Prakoso dan I Ketut Murtika, 1987, Mengenal Lembaga Kejaksaan di Indonesia, Penerbit: Bina Akasara, Jakarta.
H.M. Tirtaamidjaya, 2002, Tindak Pidana terhadap Nyawa dan tubuh, Sinar Grafika, Jakarta.
Leden Marpaung, 2002, Tindak Pidana terhadap Nyawa dan Tubuh, Sinar Grafika Jakarta.
Ronny Hanitijo Soemitro, 1988, Metodologi Penelitian Hukum dan Jurimetri, Graha Indonesia Semarang. Soerjono Soekanto, 2008, Pengantar
Penelitian Hukum, Universitas Indonesia, Jakarta
Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP)
Undang-undang No. 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan
Undang- undang No. 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia
KUHAP
Musriadi, Pembebasan Narapidana, www.blogspot.com,akses tanggal 25