• Tidak ada hasil yang ditemukan

hatchery Panduan Management Hatchery cobb-vantress.com

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "hatchery Panduan Management Hatchery cobb-vantress.com"

Copied!
50
0
0

Teks penuh

(1)

Panduan

Management

Hatchery

Panduan

Management

Hatchery

ha

tc

he

ry

(2)

Panduan Manajemen Hatchery COBB

PENDAHULUAN

Banyak perubahan terjadi di hatchery dalam beberapa tahun terakhir, seperti diperkenalkannya pemantauan dan pengendalian mesin menggunakan komputer, dan otomatisasi operasi hatchery sehari-hari. Selain itu, ada peningkatan kesadaran akan peran hatchery dalam pengendalian penyakit.

Pemahaman yang baik tentang prinsip-prinsip yang terlibat dalam menginkubasi telur dan menetaskan anak ayam sangat penting untuk mengatasi perubahan ini.

Panduan ini dirancang untuk menjelaskan prinsip-prinsip yang terkait dengan stok breeding ayam broiler dan untuk menyoroti aspek utama pengelolaan hatchery dari produksi telur sampai pengiriman anak ayam.

Kami menyediakan panduan ini sebagai pelengkap keterampilan manajemen hatchery Anda sehingga Anda dapat menerapkan pengetahuan dan pertimbangan Anda untuk mendapatkan hasil terbaik. Publikasi ini terkait dengan Panduan Pengelolaan Breeder dan Broiler Cobb untuk memberikan saran teknis dari penyediaan stok breeding sampai pengiriman broiler untuk diproses. Rekomendasi kami didasarkan pada pengetahuan ilmiah terkini dan pengalaman praktik di seluruh dunia. Anda harus mengetahui peraturan lokal setempat, yang bisa mempengaruhi praktik manajemen yang Anda pilih untuk diadopsi.

(3)

Perkembangan

INFERTIL

•Tidak ada perkembangan.

HARI KE-14

•Embrio memutar

HARI KE-15

•Usus masuk ke

HARI KE-16

•Bulu menutupi

14

15

16

HARI KE-9

•Embrio mulai terlihat seperti ayam.

•Tampak lubang mulut.

9

HARI KE-8

•Jalur-jalur bulu terlihat.

•Paruh atas dan bawah sama panjangnya.

8

HARI KE-7

•Pertumbuhan jengger dimulai.

•Gigi telur mulai muncul.

7

HARI KE-2

•Perkembangan

jaringan sangat terlihat.

•Tampak pembuluh darah.

2

HARI KE-1

•Perkembangan jaringan mulai terlihat.

1

1

2

7

8

9

16

15

14

(4)

HARI KE-20

•Kantung kuning telur masuk seluruhnya ke dalam tubuh.

•Embrio menjadi anak ayam (bernafas di

HARI KE-19

•Kantung kuning telur masuk ke rongga tubuh.

•Cairan ketuban hilang.

•Embrio menempati

HARI KE-18

•Pertumbuhan embrio hampir tuntas.

•Kantung kuning telur masih berada di luar embrio.

HARI KE-17

•Cairan ketuban berkurang. •Kepala berada di antara kaki.

HARI KE-13

•Tampak sisik.

•Tubuh mulai ditutupi dengan bulu tipis.

HARI KE-12

•Jari-jari kaki terbentuk sempurna.

•Beberapa bulu pertama terlihat jelas.

HARI KE-11

•Jengger mulai

bergerigi.

•Bulu ekor tampak jelas.

HARI KE-10

•Gigi telur menonjol.

•Tampak kuku jari kaki.

HARI KE-5

•Siku dan lutut

mulai terlihat.

HARI KE-6

•Tampak paruh. •Gerakan volunter dimulai.

HARI KE-4

•Mata berpigmen.

HARI KE-3

•Jantung berdetak. •Pembuluh darah sangat terlihat.

Embrio Ayam

10

11

12

13

20

19

18

17

17

6

5

4

3

3

4

5

6

13

12

11

10

17

18

19

20

(5)

Panduan Manajemen Hatchery COBB

DAFTAR ISI

Halaman

1. Daya Tetas - Ukuran Kesuksesan 1

2. Penetasan Telur Yang Dibuahi (Hatch of Fertile) 2

3. Manajemen Penetasan Telur 3-7

3.1 Hal-Hal Penting dalam Penyimpanan Telur 5 3.2 Kondisi Optimal Penyimpanan Telur 6

3.3 Pengaruh Penyimpanan Telur 7

3.4 Setting Telur 7 3.5 Setting Waktu 7 4. Pengoperasian Setter 8-13 4.1 Ventilasi 8 4.2 Pengendalian Suhu 11 4.3 Kelembaban 11 4.4 Pembalikan 12 5. Pemindahan Telur 14

6. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Ukuran Anak Ayam 15

7. Pengoperasian Hatcher 16

7.1 Ventilasi dan Kelembaban 16

7.2 Suhu 16

8. Pengambilan dan Pemrosesan Anak Ayam 17-20 8.1 Penentuan Jenis Kelamin anak ayam dari Bulu Sayap (Feather Sexing) 18 8.2 Jarak Waktu antara Penetasan Pertama dan Terakhir dalam Satu Mesin

(Hatch Window) 19

9. Pembuangan Limbah Hatchery 21

10. Transportasi Anak Ayam 22

11. Ketinggian 23 11.1 Ketersediaan Oksigen 23 11.2 Water Loss 23 12. Pemeliharaan 24 12.1 Pemeliharaan Preventif 24 13. Otomatisasi Hatchery 25

(6)

Panduan Manajemen Hatchery COBB

CONTENTS

Page

14. Desain Hatchery 26-30

14.1 Struktur 26

14.2 Pemasangan Plenum Hatcher dan Inkubator 27

14.3 Lokasi 30

15. Sanitasi Hatchery 31-32

16. Pencatatan 33

17. Pemecahan Masalah 34-39

17.1 Penyebab Utama Telur Gagal Menetas 34

17.2 Tahapan Perkembangan Embrio 35

18. Konversi Metrik 40

Daftar Diagram

Faktor Pengendali 1

Hatch of Fertile 2

Variasi Penetasan Telur 2

Bagan Alir Suhu Telur 5

Rentang Suhu Optimum untuk Penyimpanan Telur 6 Ventilasi Hatchery–Set-up yang Benar 9

Produksi Panas Inkubasi Telur 10

Hubungan Antara Rata-rata Waktu Penetasan, Daya Tetas dan Suhu 10 Penurunan Optimal Berat Telur selama Inkubasi 12

Berat Anak Ayam Terkait 15

Feather Sexing Anak Ayam Broiler 18

Hatch Window 20

Plenum Saluran Pembuangan 29

Sifat Bahan Kimia Desinfektan yang Digunakan di Hatchery 32 Sorot dan Breakout Sorotan (Candle and Candle Breakout) 34

Bagan Psikrometrik 39

(7)

Panduan Manajemen Hatchery COBB

1. DAYA TETAS - UKURAN KESUKSESAN

Ukuran kesuksesan hatchery adalah jumlah anak ayam berkualitas pertama yang diproduksi. Jumlah ini dinyatakan sebagai persentase dari semua telur yang di-setting untuk inkubasi yang biasanya disebut hatchability (daya tetas).

Daya tetas dipengaruhi oleh banyak faktor. Beberapa di antaranya adalah tanggung jawab breeding farm dan faktor lainnya adalah tanggung jawab hatchery. Aktivitas kawin adalah contoh yang tepat dari faktor yang sepenuhnya dipengaruhi oleh breeding farm. Hatchery tidak dapat mengubahnya, meski banyak faktor lain dapat dipengaruhi oleh farm dan hatchery.

Faktor Pengendali

Dengan demikian, breeder farm berpengaruh besar terhadap hasil di hatchery dan sangat penting bagi farm dan hatchery untuk bekerja sama secara erat.

Farm

Nutrisi Breeder Penyakit Aktivitas Kawin Kerusakan Telur

BW Jantan dan Betina yang Benar Sanitasi Telur Penyimpanan Telur Hatchery Sanitasi Penyimpanan Telur Kerusakan Telur

Inkubasi – manajemen setter dan hatcher Penanganan Anak Ayam

(8)

Panduan Manajemen Hatchery COBB

2. PENETASAN TELUR YANG DIBUAHI (Hatch of Fertile)

Karena hatchery tidak berpengaruh terhadap fertilitas, maka penting untuk mempertimbangkan hatch of fertile selain daya tetas. Persen hatch of fertile adalah ukuran efisiensi mesin hatchery. Hatch of fertile memperhitungkan fertilitas flok serta daya tetas; hatch of fertile adalah persentase hatch dibagi dengan persentase fertil dikali 100.

Contoh: (86,4% Hatch ÷ 96% Fertile) *100 = 90% Hatch of Fertile

Contoh berikut menunjukkan dengan jelas nilai dalam menghitung Hatch of Fertile.

Meski Hatchery B memiliki % Hatch terendah, ia memiliki % Hatch of Fertile tertinggi. Hal ini karena% Hatch dibatasi oleh fertilitas dan bukan oleh kemampuan hatchery untuk menetaskan telur secara efektif; dengan demikian, Hatchery B jelas memiliki kinerja terbaik, asalkan kualitas anak ayam sama.

Pada puncak produksi, flok harus mencapai setidaknya 96,7% fertilitas dan 93,5% hatch of fertile. Standar persen fertilitas dan hatch ditetapkan sesuai dengan umur breeder.

Manfaat mencatat Hatch of Fertile adalah sebagai berikut:

1. Memisahkan fertilitas dan masalah di hatchery 2. Membuat Anda fokus pada masalah

3. Mempercepat pemecahan masalah Hatchery A B C % Hatch 86 82 84 Umur Breeder (minggu) 25 sampai 33 34 sampai 50 51 sampai 68 % Hatch of Fertile >90.2 >91.8 >88.6 % Fertile 97 91 94 % Hatch of Fertile 88,66 90,11 89,36

(9)

Panduan Manajemen Hatchery COBB

3. MANAJEMEN PENETASAN TELUR

Daya tetas optimal dan kualitas anak ayam hanya bisa dicapai bila telur dipertahankan dalam kondisi optimum antara laying dan setting di inkubator. Ingat bahwa telur yang subur mengandung banyak sel hidup. Begitu telur diletakkan, potensi penetasannya paling-paling hanya dapat dipertahankan, bukan ditingkatkan. Jika salah penanganan, maka potensi penetasan akan cepat merosot.

1. Penggunaan telur lantai (floor eggs) menurunkan daya tetas. Telur lantai harus diambil dan

dikumpulkan terpisah dari telur sangkar, dan diidentifikasi dengan jelas. Jika akan diinkubasi, mereka harus diperlakukan secara terpisah.

2. Cegah retak rambut (hair line cracks) dengan cara menangani telur dengan hati-hati setiap

saat.

3. Tempatkan telur tetas dengan hati-hati ke dalam baki setter (setter tray) atau nampan angkut

(transport tray), ujung yang lebih kecil (dan lancip) diletakkan diposisi bawah.

4. Berhati-hatilah dengan grading telur. Selama masa produksi awal, cek berat telur yang

ukurannya berbatasan dengan standar (borderlined) untuk memilih telur tetas.

5. Simpan telur di ruangan terpisah yang suhu dan kelembabannya terkendali.

6. Jaga kebersihan dan kerapian ruang penanganan telur di farm. Pertahankan kontrol hama

yang baik di ruang telur farm. Jangan menerima tempat telur (egg tray) dan keranjang telur yang kotor dari hatchery, dan pelihara dengan baik saat berada di farm.

(10)

Panduan Manajemen Hatchery COBB

Ambil dan buang telur yang tidak sesuai untuk ditetaskan. Hal ini meliputi:

• Kotor

• Retak

• Kecil (menurut kebijakan hatchery)

• Terlalu besar atau kuning telur ganda (double yolk)

• Cangkang telur buruk - tapi warna cangkang telur boleh diterima untuk penetasan

• Terlalu cacat Bernoda darah Memanjang Keriput Retak Bulat Kotor

Terlubangi oleh jari kaki

(11)

Panduan Manajemen Hatchery COBB

Telur harus diambil dari farm dan diangkut ke hatchery minimal dua kali seminggu. Ada tiga area penyimpanan: ruang telur farm, transportasi, dan ruang telur hatchery. Penting untuk mencocokkan kondisi di setiap situasi ini semaksimal mungkin untuk menghindari perubahan tajam suhu dan kelembaban, yang dapat menyebabkan kondensasi (“berkeringat”) pada telur atau telur kedinginan atau kepanasan. Selain itu, fluktuasi suhu harus dihindari selama transportasi dan penyimpanan. Penurunan suhu harus ditransisikan secara mulus saat mendinginkan telur dari kandang induk ayam ke ruang telur farm, dan juga transisi mulus saat menghangatkan telur dari ruang telur hatchery ke mesin setter.

3.1 HAL-HAL PENTING DALAM PENYIMPANAN TELUR

Diagram Alir Suhu Telur (untuk telur segar)

CATATAN:

*Suhu lebih rendah untuk telur yang disimpan di farm. 104 - 106°F 40 - 41°C 99,5 - 100°F 37,5 - 37,8°C 75 - 85°F 24 - 29°C 70 - 77°F 21 - 25°C 75 - 80°F 24 - 27°C 68 - 73°F 20 - 23°C Tubuh Induk Ayam

Kandang Induk Ayam

Truk Pengangkut telur

Area Pra-pemanasan

Di Ruang Telur Farm* (lihat catatan di bawah)

Ruang Telur Hatchery

(12)

Panduan Manajemen Hatchery COBB

3.2 KONDISI OPTIMAL PENYIMPANAN TELUR

Ada hubungan antara lama waktu telur disimpan dan suhu dan kelembaban optimum untuk daya tetas terbaik. Umumnya, semakin lama telur disimpan, semakin rendah suhu penyimpanannya dan sebaliknya.

Rentang suhu optimal untuk penyimpanan telur

Hari penyimpanan 69 68 67 66 65 64 63 62 61 60 59 21 20 19 18 17 16 15 0 3 6 9 12 15 18 °F °C

Efek utama dari penyimpanan telur adalah:

1. Penyimpanan memperpanjang waktu inkubasi. Rata-rata, satu hari pada penyimpanan akan

menambah satu jam pada waktu inkubasi. Ini harus diperhitungkan saat telur di-setting, telur segar dan telur simpanan harus di-setting pada waktu yang berbeda.

2. Daya tetas akan menurun karena penyimpanan yang berkepanjangan. Efek ini meningkat

seiring waktu penyimpanan setelah periode enam hari awal, mengakibatkan kerugian 0,5 sampai 1,5% per hari dengan persentase semakin meningkat seiring penyimpanan yang semakin lama.

3. Kualitas anak ayam akan terpengaruh dan karenanya bobot broiler bisa menurun pada anak

ayam yang berasal dari telur yang telah disimpan selama 14 hari atau lebih.

(13)

Panduan Manajemen Hatchery COBB

Pertukaran gas bisa terjadi melalui pori-pori di cangkang telur saat penyimpanan. Karbon dioksida berdifusi keluar dari telur, dan konsentrasinya menurun cepat selama 12 jam pertama setelah telur diletakkan. Telur juga kehilangan uap air saat dalam penyimpanan. Hilangnya karbon dioksida dan air ini berkontribusi terhadap kerugian daya tetas dan kualitas anak ayam setelah penyimpanan. Oleh karena itu, kondisi penyimpanan harus dirancang untuk memperkecil kerugian ini. Sebagian besar telur ditempatkan dalam peti terbuka atau rak farm, tetapi ada beberapa yang ditempatkan dalam peti berpenutup padat. Biarkan telur yang tertutup menjadi dingin dan kering sebelum ditempatkan dalam peti untuk menghindari kondensasi dan pertumbuhan jamur.

Untuk menghindari perbedaan suhu yang drastis pada embrio dan kondensasi terhadap cangkang telur, maka telur harus dikeluarkan dari ruang telur dan dihangatkan terlebih dahulu (pre-warmed) sebelum setting. Idealnya, telur harus dihangatkan terlebih dahulu di ruang yang dibangun khusus pada suhu sekitar 75-80°F (24-27°C) sehingga semua telur dapat mencapai suhu yang diinginkan. Sirkulasi udara yang efektif dan suhu ruangan yang benar sangat penting untuk mencapai pra-pemanasan (pre-warming) telur yang diperlukan secara merata.Pemanasan yang tidak merata meningkatkan variasi waktu penetasan - justru kebalikan dari efek pra-pemanasan yang diinginkan. Meski dengan sirkulasi udara yang baik, perlu 8 jam bagi telur di buggy untuk mencapai suhu 78°F (25°C), terlepas dari suhu awal mereka. Dengan sirkulasi udara yang buruk, dibutuhkan waktu dua kali lebih lama. Jadi, rekomendasinya adalah:

• Berikan sirkulasi udara yang baik di sekitar telur.

• Sediakan 6 sampai 12 jam untuk pra-pemanasan.

3.4 SETTING TELUR

3.5 SETTING WAKTU

Tiga faktor yang mempengaruhi total waktu inkubasi telur:

1. Suhu inkubasi:biasanya sama untuk setiap hatchery, tapi untuk mencapai waktu yang cukup yang dibutuhkan anak ayam, maka variasi waktu dimana telur di-setting dapat berubah sesuai dengan umur dan ukuran telur.

2. Umur telur: telur yang disimpan perlu waktu lebih lama untuk diinkubasi. Anda perlu menambahkan waktu inkubasi ekstra jika telur disimpan lebih dari 6 hari (1 jam per 1 hari penyimpanan).

(14)

Panduan Manajemen Hatchery COBB

4. PENGOPERASIAN SETTER

Konsumsi energi, penggunaan tenaga kerja, daya tahan, biaya pemeliharaan dan biaya modal mempengaruhi desain inkubator. Kondisi fisik yang optimal agar embrio broiler tumbuh dengan sukses adalah:

• Suhu yang tepat

• Kelembaban yang tepat

• Pertukaran gas yang memadai

• Pembalikan telur secara teratur

Sistem inkubasi komersial dibagi menjadi tiga kategori utama:

• Multi-stage fixed rack

• Multi-stage buggy loading

• Single-stage buggy loading

Jumlah aktual telur yang akan dimuat di setiap mesin pada setiap set, frekuensi pemuatan (sekali atau dua kali seminggu) dan posisi aktual dari set di dalam mesin akan bervariasi untuk masing-masing produsen. Operasikan mesin sesuai aturan yang ditetapkan oleh produsen. Jangan salah digunakan.

1. Setter biasanya mengambil udara segar dari ruang tempat mereka berada. Udara segar ini

memasok oksigen dan uap lembab untuk menjaga Kelembaban Relatif (RH) yang tepat. Udara yang meninggalkan setter membuang karbon dioksida dan kelebihan panas yang dihasilkan oleh telur.

2. Pasokan udara ke ruang setter harus 8 cfm (13,52 meter kubik per jam) per 1000 butir telur.

Lihat bagan pada halaman 9 (Ventilasi Hatchery–Set-up yang Benar).

3. Semua setter memiliki sumber kelembaban yang bisa mengendalikan berbagai tingkat

kelembaban relatif. Udara segar relatif memasok sedikit uap lembab, dan karena itu untuk mengurangi beban pada sistem humidifikasi internal, udara yang masuk ke dalam mesin di-pra-humidifikasi (pre-humidified) agar sesuai dengan kelembaban relatif internal. Suhu udara ini harus 76-80°F (24-27°C).

4. Multi-stage setter memerlukan jumlah udara yang konstan. Hal ini harus disesuaikan agar

kadar karbon dioksida di dalam mesin tidak melebihi 0,4%. Sebagian besar mesin rak tetap (fixed rack machines) berjalan pada 0,2-0,3% dan mesin buggy (buggy machines) pada 0,3-0,4%, tetapi kenaikan kadar CO2 ini tidak diperlukan.

(15)

Panduan Manajemen Hatchery COBB

Konversi Tekanan (0,01 dalam H20 = 2.5 Pascal’s, 0.025 mbar, 0.255 mm H20)

(cfm /1000)

(m3/jam

/1000)

Ventilasi Hatchery – Set-up yang benar Laju Ventilasi Area Penerimaan Telur Area Penyimpanan Ruang Setter Ruang Hatcher Ruang Penyimpanan Anak Ayam Pengambilan Anak Ayam Ruang Pencucian

Ruang Peralatan Bersih

Ruang Masuk (Koridor)

(5 menit pertukaran udara ke dalam ruangan) 0,5 menit pertukaran udara ke dalam ruangan 0,5 menit pertukaran udara ke dalam ruangan 1 menit pertukaran udara ke dalam ruangan 5 menit pertukaran udara ke dalam ruangan Suhu °F °C Kelembab an Relatif (%)

Tekanan area dalam kaitannya dengan udara: (dalam H2O) 19-21 19-21 24-27 24-27 22-24 22-24 22-24 22-24 24 66-70 66-70 76-80 76-80 72-75 72-75 72-75 72-75 75 2 8 17 40 60-65 60-65 55-62 55-62 65-70 65-70 65-70 Tidak Tersedia Tidak Tersedia 3,38 13,5 28,7 67,6 Netral sampai +0,01 Netral sampai +0,01 +0,015 sampai +0,02 +0,005 sampai +0,01 Netral -0,015 sampai -0,025 -0,015 sampai -0,025 Positif Netral

(16)

Panduan Manajemen Hatchery COBB

Hubungan antara rata-rata waktu tetas, daya tetas dan suhu

Hatchability %

Suhu

Rata-rata waktu tetas (hari)

100 90 89 70 60 50 40 30 20 10 0 24 23 22 21 20 19 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 °F 35 36 37 38 39 40 °C

Produksi panas telur inkubasi

Umur (hari) 21,6 17,28 12,96 8,64 4,32 0 250 200 150 100 50 0 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21

(17)

Panduan Manajemen Hatchery COBB

4.3 KELEMBABAN

1. Selama inkubasi, uap air hilang dari telur melalui pori-pori cangkang telur. Tingkat kehilangan

kelembaban ini bergantung pada jumlah dan ukuran pori-pori (konduktansi gas pada cangkang telur) dan kelembaban di udara di sekitar telur. Untuk daya tetas terbaik, telur harus kehilangan 12% beratnya selama 18 hari saat diinkubasi.

2. Karena perbedaan struktur cangkang telur dan dengan demikian perbedaan konduktansi gas,

maka saat semua telur diinkubasi dalam kondisi kelembaban yang sama, akan terjadi kehilangan kelembaban yang bervariasi. Pada telur dari breeder broiler, variasi ini biasanya tidak berpengaruh signifikan terhadap daya tetas. Tetapi, jika umur, nutrisi atau penyakit akan menurunkan kualitas telur, maka mungkin diperlukan penyesuaian kondisi kelembaban inkubator untuk mempertahankan daya tetas yang optimal dan kualitas anak ayam.

4.2 PENGENDALIAN SUHU

Suhu menentukan laju metabolisme embrio dan dengan demikian juga laju perkembangannya.

1. Pada mesin multi-stage, suhu harus tetap konstan. Suhu optimum untuk daya tetas maupun

kualitas anak ayam akan berbeda bergantung tipe inkubatornya. Suhu yang lebih tinggi atau lebih rendah daripada rekomendasi produsen akan menyebabkan perkembangan lebih cepat atau lebih lambat dan penurunan daya tetas sebagai akibatnya.

2. Pada inkubasi single-stage, suhu dapat diubah untuk pertumbuhan embrio dan peningkatan

produksi panas hewan, dimulai pada suhu yang lebih tinggi dan menurun secara bertahap sampai pemindahan.

3. Keseimbangan yang tidak tepat dalam pemuatan ke multi-stage setter dapat menimbulkan

variasi suhu yang besar. Mesin yang diisi sebagian mungkin tidak mencapai suhu yang tepat dan memperpanjang inkubasi, sedangkan pemuatan set ganda dapat menyebabkan masalah panas berlebih. Kedua kondisi tersebut akan berakibat buruk terhadap daya tetas dan kualitas anak ayam.

(18)

Panduan Manajemen Hatchery COBB

4.4 PEMBALIKAN

1. Telur harus dibalik saat inkubasi. Hal ini mencegah embrio menempel pada selaput cangkang

telur, terutama selama minggu pertama inkubasi, dan membantu perkembangan membran embrio.

2. Saat embrio berkembang dan produksi panasnya meningkat, pembalikan teratur akan

membantu aliran udara dan membantu pendinginan.

Penurunan optimal berat telur selama inkubasi (multi-stage)

Penurunan Berat % Hari 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 12 11 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 0

(19)
(20)

Panduan Manajemen Hatchery COBB

5. PEMINDAHAN TELUR (Egg Transfer)

Telur dikeluarkan dari setter setelah 18 atau 19 hari dan dipindahkan ke nampan hatcher. Hal ini dilakukan karena dua alasan. Telur diletakkan menyamping untuk memungkinkan anak ayam bergerak bebas saat keluar dari cangkang telur saat menetas. Hal ini juga mendukung faktor kebersihan; sejumlah besar bulu halus dihasilkan saat menetas dan bisa menyebarkan potensi kontaminasi ini ke sekitar hatchery.

Pemindahan terlalu dini atau terlalu lambat akan mengakibatkan embrio terkena kondisi sub-optimal yang menyebabkan daya tetas lebih rendah. Ini harus dipertimbangkan dalam keputusan apapun untuk melakukan variasi waktu pemindahan. Waktu pemindahan akan berbeda sesuai dengan berbagai tipe setter (biasanya, lazimnya adalah 18 sampai 19 hari).

1. Operasi pemindahan harus berjalan lancar dan cepat agar tidak mendinginkan telur yang

dapat menunda penetasan.

2. Saat pemindahan, telur dapat disorot untuk memungkinkan telur yang jernih (telur infertil dan

embryo mati dini/early dead beserta telur busuk) diambil dan dihitung.

3. Cangkang telur lebih rapuh pada tahap ini karena embrio telah mengambil kembali sejumlah

kalsium cangkang telur untuk perkembangan kerangka. Karena itu, kehati-hatian harus dilakukan saat memindahkan telur agar tidak pecah. Telur yang ditangani secara kasar pada tahap ini dapat menyebabkan pecah dan perdarahan. Peralatan pemindahan otomatis memungkinkan tugas ini dilakukan dengan lebih lembut dibandingkan sistem manual.

4. Pastikan baki hatcher dicuci dengan benar dan dibiarkan kering sebelum telur dipindahkan.

Telur di dalam baki basah akanmenjadi dingin saat air menguap di hatcher. Hatcher harus kering dan memiliki suhu yang tepat sebelum pemindahan.

5. Buang telur ‘busuk’ dan meledak (‘exploders’) ke dalam wadah desinfektan.

6. Sistem injeksi telur in-ovo kini sudah tersedia, yang dapat dipertimbangkan untuk perlindungan

Mareks dan pemberian vaksin lainnya. Rekomendasi dari produsen untuk penggunaan harus dipatuhi.

(21)

Panduan Manajemen Hatchery COBB

6. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI UKURAN ANAK AYAM

1. Ukuran telur merupakan faktor utama yang mempengaruhi ukuran anak ayam. Berat badan

anak ayam biasanya 66-68% berat telur. Dengan demikian, anak ayam dari telur seberat rata-rata 60 gram rata-rata-rata-rata akan mempunyai berat sekitar 40 gram. Berat dari masing-masing anak ayam kemungkinan berkisar antara 34 sampai 46 gram.

2. Berat telur menurun karena kehilangan air saat inkubasi. Hal ini juga berkontribusi terhadap

variasi berat ayam dari telur yang berukuran sama.

3. Lama waktu antara penetasan, pengambilan (pulling), dan pengiriman juga mempengaruhi

berat akhir ayam. Waktu yang dihabiskan di hatcher akan memiliki efek yang lebih besar dibandingkan waktu pada suhu lebih rendah di ruang anak ayam atau di kendaraan pengiriman.

75

70

65

0 24 48 72

Berat Anak Ayam Terkait

Penetasan dari cangkang telur % b e ra t te lu r Waktu (jam)

(22)

Panduan Manajemen Hatchery COBB

7. PENGOPERASIAN HATCHER

Kebanyakan hatchery broiler menetaskan telur dua kali seminggu dari masing-masing hatcher. Hatcher akan dicuci dan didesinfeksi di antara masing-masing penetasan, yang berarti daya tahan konstruksi dan kemudahan pembersihan menjadi faktor vital.

Udara yang dipasok ke plenum udara segar hatcher sebaiknya 17cfm per 1000 butir telur (28,7 meter kubik per jam).Dari titik pemindahan ke pipping, aliran udara dan kelembaban pada hatcher harus dijaga sama seperti pada setter. Kelembaban adalah hal yang penting selama proses penetasan untuk memastikan selaput cangkang telur tetap lembut dan lentur, sehingga anak ayam bisa keluar tanpa hambatan. Saat pipping dimulai, kadar kelembaban akan naik sehingga suhu bohlam basah (wet bulb temperature) juga naik. Pada titik ini, damper akan membutuhkan penyesuaian untuk mempertahankan kadar ini. Tambahan uap lembab mungkin diperlukan dari sistem sprayer. Beberapa jam sebelum pengambilan anak ayam, damper dibuka untuk menambah pasokan udara bagi anak ayam.

Suhu hatcher biasanya sedikit lebih rendah dari suhu pada setter untuk mengurangi risiko pemanasan berlebih.

7.1 VENTILASI DAN KELEMBABAN

(23)

Panduan Manajemen Hatchery COBB

8. PENGAMBILAN DAN PEMROSESAN ANAK AYAM

Anak ayam siap untuk diambil saat sebagian besar dari mereka sudah kering dan keluar bulu halusnya, dengan beberapa di antaranya (sekitar 5%) masih lembab/basah pada bagian punggung leher mereka. Kesalahan umum yang terjadi adalah membiarkan anak ayam menghabiskan waktu terlalu lama di hatcher sehingga mereka mengalami dehidrasi berlebihan. Dehidrasi anak ayam mungkin disebabkan oleh penyesuaian waktu setting yang salah untuk usia telur atau penurunan berat badan yang berlebihan selama inkubasi. Demikian juga, jika mereka “hijau” (if they are

“green”), misalnya, belum siap, periksa waktu setting dan juga periksa kemungkinan telur menjadi

dingin dalam inkubasi, yang mengurangi laju perkembangannya.

Setelah mengambil anak ayam (pull chicks), mereka harus dipisahkan dari sisa sisa penetasan (debris), kemudian ditentukan grade-nya sesuai kualitas dan dibuang yang jelek (cull), dan dihitung per boks. Beberapa hatchery melakukan operasi tambahan seperti:

Seleksi jantan dan betina (Sexing), terutama menggunakan bulu sayap (feather-sexing) untuk broiler final stock, namun juga kloaka (vent-sexing) untuk breeding stock

Vaksinasi, disemprotkan (sprayed) atau disuntikkan, dengan menggunakan vaksinator tangan atau secara otomatis

• Pengondisian paruh

1. Selama pemrosesan, anak ayam harus berada di dalam lingkungan yang terkendali, yang

dapat mencegah pemanasan atau pendinginan berlebih. Mereka tidak boleh berada dalam box atau konveyor yang penuh sesak (overcrowded). Untuk mengurangi penurunan berat badan anak ayam, maka pertahankan kelembaban yang tepat di area penyimpanan anak ayam. Capailah suhu 23°C (73°F) dengan kelembaban relatif 65-70%.

2. Peralatan otomatis telah dikembangkan untuk meningkatkan penanganan anak ayam

sekaligus mengurangi jumlah staf yang terlibat.

3. Hindari penanganan anak ayam secara kasar dalam operasi manual dan saat peralatan

digunakan. Peralatan harus dipelihara dengan benar dan teratur.

4. Bersihkan semua peralatan secara menyeluruh setelah setiap penetasan. Semua area kontak

(24)

Panduan Manajemen Hatchery COBB

8.1 PENENTUAN JENIS KELAMIN ANAK AYAM BROILER DARI BULU SAYAP

(Feather Sexing)

Anak ayam broiler yang mempunyai format feather sexable-slow feather, bisa ditentukan jenis kelaminnya berdasarkan bulu saat berusia sehari, sebagaimana digambarkan di bawah ini. Pada format format non-feather sexable-fast feather, baik jantan maupun betina akan menunjukkan pola perkembangan bulu yang sama dengan diagram di bawah ini yang berhubungan dengan betina.

A - Primaries B - Coverts

Pada penetasan, semua bulu pendek, namun covert hanya memanjang ½ hingga ¾ panjang primary Setelah beberapa jam, bulu lebih panjang, tapi covert masih ½ hingga ¾ panjang primary

1. Bentangkan sayap seperti kipas angin.

2. Lihat bulu-bulu pada ruas luar – deret bawah bulu adalah primary, deret atas bulu adalah covert.

3. Jika deret bawah (primary) bulu lebih panjang dari deret atas (covert), maka anak ayam adalah betina.

4. Jika deret bawah (primary) bulu sama panjang, atau lebih pendek dari deret atas (covert), maka anak ayam adalah jantan.

Covert dan primary memiliki panjang yang sama Covert memanjang sedikit melampaui primary Covert memanjang jauh melampaui primary BETINA

Covert selalu lebih pendek dari primary

JANTAN

Covert selalu sama panjang atau lebih panjang dari primary TOP OF WING

(25)

Panduan Manajemen Hatchery COBB

8.2 JARAK WAKTU ANTARA PENETASAN PERTAMA DAN TERAKHIR

DALAM SATU MESIN (Hatch Window)

Hatch window atau jarak waktu antara penetasan pertama dan terakhir dalam satu mesin menunjukkan jumlah anak ayam yang ditetaskan setelah telur dipindahkan dari setter ke hatcher. Jika telur menetas terlalu dini, maka anak ayam menjadi rentan terhadap masalah seperti dehidrasi. Dehidrasi anak ayam sedini ini dapat menyebabkan peningkatan kematian hari ke-7 dan ke-14 dan buruknya performance broiler. Jika anak ayam menetas terlalu lambat, maka akibatnya bisa jadi daya tetas yang buruk, masalah kualitas ayam, peningkatan telur pip dan telur tidak menetas dengan embrio hidup.

Faktor-faktor yang mempengaruhi penetasan dini meliputi: • Masa pra-pemanasan yang berkepanjangan

• Setting telur terlalu dini. Jam inkubasi terlalu lama

• Suhu dan kelembaban setter/hatcher tidak tepat

• Spot panas di dalam setter dan hatcher

• Ventilasi yang salah

• Perubahan suhu musiman yang mempengaruhi lingkungan hatchery

• Terlalu banyak telur subur di hatcher

• Ukuran telur

Faktor-faktor yang mempengaruhi penetasan terlambat atau tertunda meliputi: • Setting telur terlalu lambat

• Suhu dan kelembaban setter/hatcher tidak tepat

• Ventilasi yang salah

• Perubahan suhu musiman yang mempengaruhi lingkungan hatchery

• Telur yang disimpan dalam waktu lama

• Telur yang disimpan pada suhu yang terlalu rendah

• Pola setting yang salah pada mesin multi-stage

(26)

Panduan Manajemen Hatchery COBB

Grafik batang di atas menunjukkan telur yang berada di posisi atas, tengah dan bawah pada setter dan kemudian dipindahkan ke hatcher.

Idealnya, tidak lebih dari 25% total tetasan boleh menetas dalam jangka waktu 23 jam sebelum pull

chicks dan lebih dari 75% total tetasan boleh menetas dalam jangka waktu 13 jam sebelum pull chicks.

Grafik batang ini menunjukkan jumlah yang benar dari sebaran anak ayam yang menetas selama 23 jam sebelum pull chicks. Jumlah anak ayam yang ditetaskan di setiap keranjang/nampan hatcher seharusnya merata di seluruh hatcher.

% tetas yang ideal Atas Tengah Bawah

100% 80% 60% 40% 20% 0% Jam -43 -38 -33 -23 -13 0

Hatch Spread yang Ideal Atas Tengah Bawah

70 60 50 40 30 20 10 0 Jam -43 -38 -33 -23 -13 0

(27)

Panduan Manajemen Hatchery COBB

9. PEMBUANGAN LIMBAH HATCHERY

Dengan rata-rata daya tetas 85%, 15% telur akan tidak subur atau mengandung embrio mati. Telur ini, bersama dengan cangkang telur yang tersisa setelah pengambilan anak ayam, merupakan limbah hatchery. Peraturan di beberapa negara kini melarang dimasukkannya limbah hatchery ke dalam makanan sampingan karena risiko penyebaran organisme patogen. Hanya ada sangat sedikit jalan keluar yang menguntungkan untuk material ini, dan kebanyakan hatchery harus membuang ini sebagai limbah.

1. Telur yang tidak menetas dari baki hatcher harus direndam (dimaserasi) untuk menghancurkan

embrio yang tidak menetas. Telur telur yang pip dan anak ayam yang jelek (cull) harus dihancurkan dengan menggunakan gas karbon dioksida atau prosedur lain yang dapat diterima secara lokal.

2. Kotoran sisa penetasan (debris) yang sudah dimaserasi dapat dimasukkan ke dalam tempat

sampah atau trailer, atau dibuang dengan vakum ke dalam hopper penyimpanan tertutup. Limbah ini harus dibuang sesuai dengan praktek lokal dan batasan lingkungan.

(28)

Panduan Manajemen Hatchery COBB

10. TRANSPORTASI ANAK AYAM

Kendaraan yang digunakan harus dirancang khusus untuk mengendalikan lingkungan anak ayam selama perjalanan dari hatchery ke farm pembesaran.

1. Laju ventilasi minimum yang dibutuhkan untuk memenuhi oksigen yang cukup adalah 20 CFM

(34 m3/jam) per 1000 anak ayam saatcuaca dingin, dan dua kali jumlah ini saatcuaca panas.

Kendaraan harus dilengkapi dengan sistem pemanas tambahan tetapi bisa menggunakan udara ambien segar untuk pendinginan. Jika suhu udara musim panas lebih dari 86°F (30°C), maka peralatan pendingin diperlukan.

2. Kabin kendaraan harus memiliki layar yang menunjukkan suhu di dalam muatan agar

pengemudi dapat menyesuaikan ventilasi udara untuk pendinginan.

3. Anak ayam harus dipertahankan pada suhu box sekitar 90°F (32°C), yang biasanya dapat

dicapai dengan suhu udara kendaraan 75°F (24°C) jika menggunakan box plastik, atau 71°F (20°C) jika menggunakan box kardus.

4. Anak ayam yang dikirim dalam box plastik memerlukan kehati-hatian yang lebih besar untuk

mencegah kepanasan atau kedinginan, dibandingkan dalam box kardus. Pastikan kendaraan memiliki pemanas dan pendingin yang memadai untuk menangani box plastik.

5. Box harus ditumpuk dan diatur jaraknya dengan benar untuk memungkinkan gerakan udara

bebas disekitarnya. Setiap deret box harus dikunci dengan sebuah balok yang memanjang sepanjang lebar penuh kendaraan untuk mencegah gerakan apapun selama perjalanan.

6. Kendaraan dapat dilengkapi dengan tirai plastik belakang untuk menahan panas saat anak

ayam dibongkar.

7. Pengemudi pengirim ayam harus benar-benar terlatih dan teliti. Setiap pengemudi harus

memulai hari dengan pakaian bersih dan harus mengganti baju/alas kaki baru untuk setiap pengiriman. Pengemudi lebih baik tidak masuk ke kandang ayam.

8. Cuci kendaraan pengiriman dengan deterjen/desinfektan setiap kembali ke hatchery.

Kendaraan harus membawa semprotan desinfektan sehingga roda bisa dibersihkan di antara farm jika mengirim ke lebih dari satu lokasi dalam sehari.

9. Box anak ayam yang kembali ke hatchery merupakan risiko kesehatan yang tinggi. Mereka

(29)

Panduan Manajemen Hatchery COBB

11. KETINGGIAN

Di beberapa negara, unggas diproduksi di tempat yang relatif tinggi. Hatchery yang dioperasikan pada ketinggian yang tinggi mengalami penurunan daya tetas, dengan efek yang jauh lebih besar jika berada di atas 2.500 kaki (762m).

Tekanan barometrik menurun seiring ketinggian, begitu pula tekanan parsial oksigen dan kelembaban absolut. Ventilasi udara segar cenderung lebih dingin dan lebih kering daripada ketinggian di permukaan laut. Inkubator dengan sistem kontrol suhu atau kelembaban yang buruk akan kurang mampu mengatasi kondisi ini. Masalah daya tetas pada ketinggian yang tinggi disebabkan oleh berkurangnya ketersediaan oksigen di udara dan penurunan kehilangan kelembaban dari telur.

Persentase oksigen udara segar harus selalu selalu 21,6% dan kondisi kamar/mesin tidak boleh di bawah 20%. Penurunan tekanan parsial pada ketinggian memberikan lebih sedikit oksigen dari volume udara tertentu. Penurunan tekanan ini menyebabkan lebih rendahnya kadar oksigen darah dan lebih rendahnya ketersediaan untuk jaringan.

Berkurangnya cairan pada telur selama inkubasi akan lebih besar pada ketinggian yang tinggi karena uap air berdifusi lebih cepat melalui cangkang. Konduktansi cangkang telur menjadi hal yang sangat penting terhadap ketinggian. Setter perlu disesuaikan untuk memastikan bahwa penurunan berat telur adalah 12% pada hari ke-18 inkubasi.

11.1 KETERSEDIAAN OKSIGEN

(30)

Panduan Manajemen Hatchery COBB

12. PEMELIHARAAN

Saat hatchery menjadi kian besar dan otomatis, kebutuhan akan pemeliharaan preventif menjadi sangat penting. Berikut adalah beberapa saran:

1. Dapatkan rekomendasi dari produsen untuk servis dan pemeliharaan rutin.

2. Lakukan pemeliharaan rutin berdasarkan panduan ini dan pengalaman Anda sendiri. 3. Lakukan pemeriksaan menyeluruh dan pembersihan minimal sekali setahun pada multi-stage

setter.

4. Waktu turn-around untuk hatcher sangat cepat dan sisakan sedikit waktu untuk servis dan

perbaikan. Sediakan mesin cadangan untuk memungkinkan dilakukannya perbaikan penting bila diperlukan.

5. Sediakan suku cadang yang dibutuhkan secara rutin dan pertahankan inventaris barang yang

dibeli dan barang yang digunakan dengan akurat.

6. Pastikan staf yang mengoperasikan setter dan hatcher dilatih dengan benar dan terbiasa

dengan operasi mereka, dan buat prosedur untuk diikuti jika terjadi kegagalan mesin.

7. Pastikan untuk mengadopsi tindakan pencegahan keamanan yang memadai. Sediakan

pelindung yang diperlukan dan saklar pengaman. Pastikan semua praktik kerja sudah sesuai dengan undang-undang keselamatan. Ini adalah tanggung jawab manajemen.

12.1 PEMELIHARAAN PREVENTIF

• Kalibrasikan mesin

• Kalibrasikan ruangan

• Periksa kehilangan kelembaban

• Periksa pipping

• Periksa penyebaran pada waktu penetasan (anak ayam pertama sampai anak ayam akhir)

• Verifikasi apakah semua program memberikan hasil yang diinginkan

(31)

Panduan Manajemen Hatchery COBB

13. OTOMATISASI HATCHERY

1. Dengan kian meningkatnya ukuran hatchery dan kenaikan biaya tenaga kerja, ada banyak

peluang untuk mengotomatisasi banyak operasi padat karya di hatchery.

2. Sebagai panduan umum, tingkat penstafan satu karyawan per satu juta anak ayam per tahun

(tidak termasuk pengemudi) jika tanpa otomatisasi adalah hal yang lazim, atau satu karyawan per dua juta anak ayam per tahun jika dengan otomatisasi.

3. Mesin tersedia untuk:

a. Menentukan grade telur sebelum setting

b. Menyorot dan memindahkan telur pada hari ke-18

c. Melakukan vaksinasi in-ovo

d. Memisahkan anak ayam dari kotoran sisa penetasan (debris)

e. Menghitung anak ayam

f. Menyemprot, memvaksinasi dan memasukkan anak ayam ke dalam box

g. Membuang debris

Berbagai konveyor, elevator dan carousel tersedia untuk mempercepat grading, sexing dan operasional lainnya yang harus dilakukan secara manual.

4. Sebagian besar peralatan ini dibuat dengan presisi dan sangat mahal, dan hanya hatchery

yang sangat besar yang sesuai untuk menggunakannya. Meski demikian, hatchery yang lebih kecil dapat memperoleh manfaat dariperalatan seperti mesin pemindah vakum dan carousel grading anak ayam, yang murah namun memberikan banyak manfaat bagi produktivitas.

5. Peningkatan produktivitas diwujudkan melalui:

a. Penanganan telur dengan lebih lembut untuk mengurangi kerusakan

b. Vaksinasi yang lebih tepat pada anak ayam

c. Penghitungan anak ayamdengan lebih akurat

d. Mengurangi kelelahan pada operator dan terciptanya lingkungan kerja yang lebih baik Saat memilih peralatan, pastikan peralatan tersebut bisa didesinfeksi dengan mudah, cepat dan efektif. Peralatan penanganan telur dan anak ayam sebaiknya tidak berkontribusi terhadap kontaminasi silang antara telur atau antara anak ayam.

(32)

Panduan Manajemen Hatchery COBB

14. DESAIN HATCHERY

Desain yang baik sangat penting untuk operasi hatchery yang efektif dalam hal biaya. Hatchery merupakan bagian dari rantai makanan dan dengan demikian, desain hatchery harus memiliki standar kebersihan makanan.

Kondisi yang disediakan untuk menjaga pertumbuhan embrio dalam inkubator juga ideal untuk pertumbuhan bakteri dan jamur. Permukaan luar telur harus bebas dari kontaminasi dan semua permukaan ruangan, item peralatan daninkubator harus dirancang agar memungkinkan pembersihan dan sterilisasi yang mudah, teratur dan efektif.

14.1 STRUKTUR

Hatchery harus memiliki hal-hal sebagai berikut:

1. Lapisan penutup dinding dan lantai yang tahan lama, serta saluran pembuangan yang mudah dibersihkan. Permukaan dinding hanya boleh memiliki sedikit engsel dan pengencang agar tidak menghambat pembersihan yang efektif. Lapisan penutup lantai yang baik dapat diperoleh dengan semen yang menggabungkan batu keras, atau di atasnya diberi epoxy yang dapat merata sendiri, yang memiliki keunggulan tertentu dibanding lapisan penutup yang lebih tradisional. Lantai harus landai ke saluran pembuangan di setiap ruangan hatchery. Semua saluran pembuangan harus diberi perangkap, terutama di daerah penetasan dan pull, untuk mencegah penyumbatan dari cangkang telur dan kotoran sisa penetasan (debris). Seluruh sistem drainase harus dirancang untuk menangani sejumlah besar air pencuci dan zat padat. 2. Aliran yang aman untuk telur, anak ayam dan peralatan saat melewati bangunan. Daerah yang bersih dan kotor harus dipisahkan untuk mencegah kontaminasi silang oleh bulu halus yang dapat terbawa ke sekitar hatchery lewat arus udara, pakaian staf dan peralatan. Sistem ventilasi harus dapat memastikan bahwa udara bergerak dari daerah yang bersih ke daerah yang kotor dan tidak boleh terbalik, misalnya, pada arah yang samadengan telur, dari setter ke hatcher. Sistem ventilasi sendiri perlu disesuaikan untuk pembersihan berkala. Dalam konteks ini, saluran udara polythene menawarkan banyak kelebihan dibanding system saluran udara (trunking) baja yang sulit dibersihkan.

(33)

Panduan Manajemen Hatchery COBB

PENGANTAR

Dengan diperkenalkannya kipas berkecepatan bervariasi yang dapat diandalkan, perangkat penginderaan dan pengendali tekanan, kini ada kemungkinan untuk sukses menguras hatcher atau inkubator ke dalam plenum yang terkontrol.

KEUNTUNGAN

Membuat plenum hatcher atau inkubator memiliki beberapa keuntungan:

1. Modifikasi desain konstruksi hatchery kini bisa bervariasi dari bangunan berbentuk “T” tradisional, karena hatcher tidak lagi memerlukan dinding eksterior untuk saluran pembuangan.

2. Mengendalikan kondisi udara yang bervariasi yang dapat menghalangi saluran pembuangan hatcher atau inkubator dengan tepat.

3. Meniadakan semua alur kerja sehingga menjadi seimbang, mudah dipantau dan sesuai dengan pengoperasian mesin yang konsisten.

4. Membantu dalam sanitasi dan pembersihan hatchery dan mengurangi jam kerja yang dibutuhkan untuk pembersihan saluran yang menjemukan.

5. Mengurangi atau menghilangkan bulu halus anak ayam yang dibuang ke udara.

PEMASANGAN

Berikut ini adalah panduan langkah demi langkah untuk memasang plenum dengan kecepatan kipas dan kontrol tekanan bervariasi:

Setter

Untuk plenum mesin setter, ambil total jumlah mesin X 500 cfm untuk menentukan cfm yang dibutuhkan untuk mempertahankan tekanan netral (0.00) ke udara dalam ruangan. Plenum setter harus berada di atas mesin dan tutuplah seluruh luas permukaan setter untuk membantu hilangnya panas dari mesin. Udara harus dibuang ke udara jauh dari pipa masuk udara segar.

Hatcher

Untuk plenum mesin hatcher, ambil total jumlah mesin yang akan dikontrol oleh satu plenum X 450 cfm per mesin untuk menentukan kapasitas kipas yang dibutuhkan untuk memastikan plenum selalu dijaga pada tekanan netral (0.00) ke udara. Plenum hatcher harus berada di belakang mesin di permukaan lantai dan dibuang ke udara. Jika saluran pembuangan dari mesin berada tepat di depan kipas pembuangan, maka saluran pembuangan dari mesin harus dibelokkan ke lantai. Udara harus dibuang ke udara dan jauh dari pipa masuk udara segar.

(34)

Panduan Manajemen Hatchery COBB

Semua kipas kontrol tekanan harus dilengkapi dengan aliran udara (draft) belakang yang baik. Jika kipas dipasang pada cerobong asap maka harus ada penutup draft belakang yang dipasang di bagian bawah cerobong asap untuk menghilangkan efek cerobong asap akibat perubahan kemampuan kipas untuk mengendalikan tekanan secara akurat.

1. Tempatkan dengan benar unit dan tabung penginderaan tekanan. Ada dua pilihan:

a. Pengukuran dari plenum ke bagian luar bangunan. (Disarankan) Ini disebut titik acuan udara.

b. Pengukuran dari plenum ke bay hatcher atau inkubator. (Bila ini dilakukan, tekanan untuk plenum harus di-setting negatif karena ruangan menjadi positif untuk memungkinkan plenum menjadi netral terhadap udara.)

Tabung sensor tidak boleh mengalir lebih dari 25 kaki (7,7 meter) ke bagian luar bangunan atau digunakan untuk lebih dari satu sensor kecuali jika ukuran tabung dinaikkan atau disambung ke pipa PVC yang mengalir ke seluruh hatchery ke luar. Sensor luar harus dipasang dengan cara yang akan membawa pengaruh angin menjauh dari sensor.

Lokasi sensor yang benar harus ditentukan dengan memantau dan mencatat pengoperasian hatcher atau inkubator. Tetapi, plenum itu sendiri harus ditutup rapat dari bay hatcher atau inkubator, serta ke luar untuk menghindari sensor mendapatkan pembacaan yang salah dari bay bertekanan.

2. Susun plenum dengan hati-hati:

a. Miringkan atap pada sudut kira-kira 45º dari bagian atas mesin ke dinding agar mudah dibersihkan.

b. Pasang lampu strip tahan air secara horizontal untuk penerangan maksimal.

c. Tempatkan kipas variabel setinggi mungkin pada plenum agar bulu anak anak ayam bisa mengendap di lantai.

d. Tempatkan kipas sejauh mungkin dari saluan pembuangan hatcher.

e. Sediakan saluran kuras di setiap plenum jika memungkinkan untuk memudahkan pembersihan.

f. Sediakan selokan di bagian belakang hatcher dengan braket pemasangan untuk panel plenum vertikal. Ini akan memungkinkan kru sanitasi untuk dengan mudah membersihkan bagian atas hatcher. Selokan perlu memiliki sedikit bubungan ke arah satu ujung dengan sumbat saluran kuras yang dipasang sesuai kebutuhan.

3. Sediakan alat pemantau tekanan cadangan:

Sebuah magnahelic harus ditempatkan pada setiap plenum, yang menginderakan tekanan yang sama dengan yang diinderakan oleh kontroler untuk kipas kecepatan variabel. Tempatkan magnahelic tepat di samping kontroler, sehingga bacaan komparatif dapat dengan mudah dipantau.

(35)

Panduan Manajemen Hatchery COBB

Hatcher C. E. A. Ab. Ac. D. F. B. HVAC Roof Line

Plenum Saluran Pembuangan

Kebutuhan Peralatan:

A. Kipas berkecepatan bervariasi yang dilengkapi kap pelindung angin dan penutup draft

belakang

Ab. Penutup draft belakang Ac. Kap perlindungan angin

B. Bilik plenum

C. Pasokan udara masuk D. Udara buangan ke bilik plenum E. Sudut 45 derajat

F. Udara buangan ke luar RINGKASAN

Pleneum saluran pembuangan dapat memberikan banyak keuntungan di hatchery. Manajemen udara buangan merupakan sebuah peningkatan. Konsep ini harus dipertimbangkan untuk konstruksi baru atau sebagai cara untuk memperbaiki fasilitas tua yang sedang ditingkatkan.

(36)

Panduan Manajemen Hatchery COBB

14.3 LOKASI

Lokasi hatchery pasti merupakan kompromi antara risiko penyakit pada daerah padat unggas, biaya transportasi telur dan anak ayam, ketersediaan tenaga kerja, dan keseluruhan jaringan transportasi.

Sistem Standby and Alarm

1. Semua hatchery harus dilengkapi dengan generator siaga otomatis untuk menyediakan tenaga

yang cukup untuk mengoperasikan hatchery jika daya utama mati.

2. Sistem alarm harus menunjukkan kegagalan daya atau sistem, dan memperingatkan personil

hatchery terhadap masalah sehingga masalah tersebut mudah ditemukan dan ditangani dengan cepat.

3. Semua inkubator harus memiliki sistem alarm sekunderyang menunjukkan suhu tinggi atau

rendah yang terlepasdari pasokan listrik utama atau sistem kontrol mesin itu sendiri. Hal ini sangat penting pada hatcher dimana kegagalan komponen dapat menyebabkan hilangnya anak ayam dengan sangat cepat.

(37)

Panduan Manajemen Hatchery COBB

15. SANITASI HATCHERY

1. Program sanitasi harus dirancang untuk mengendalikan kontaminasi, dan hasil dari program

harus diperiksa secara teratur dengan menggunakan prosedur pemantauan bakteriologi standar (agar plates and swabs).

2. Sumber kontaminasi selain telur yang terinfeksi dan bulu ayam adalah udara, orang (baik

pekerja maupun pengunjung), hewan seperti tikus, unggas liar dan serangga, dan peralatan seperti box, nampan dan buggy.

3. Pastikan semua pekerja dan pengunjung memakai pakaian pelindung yang sesuai.

Menggunakan seragam berwarna berbeda sesuai lokasi (bagian bersih atau kotor dari hatchery) atau tugas merupakan praktik yang baik. Ini membantu mengidentifikasi pergerakan pekerja yang salah dan dengan demikian mengidentifikasi kemungkinan kontaminasi silang.

4. Sebelum menggunakan desinfektan, penting untuk membersihkan semua bahan organik.

Misalnya, hatcher harus dicuci bersih dengan air dan deterjen sebelum disinfeksi.

5. Desinfektan harus digunakan secara ketat sesuai dengan petunjuk dari produsen. Tidak semua desinfektan cocok dan sesuai; sebagian besar beracun dan harus ditangani dengan hati-hati.

6. Pastikan staf hatchery mengetahui persyaratan penyimpanan, penanganan, dan pencampuran

desinfektan yang digunakandengan benar. Dapatkan lembar data produk dari produsen dan ikuti panduan mereka dengan seksama. Aspek keselamatan dicakup oleh berbagai kode praktik dan undang-undang keselamatan. Manajer hatchery bertanggung jawab untuk membiasakan diri dengan masalah ini, dan memastikan bahwa semua pekerja memahami dan mengikutinya. Pelatihan khusus staf dalam hal penggunaan disinfektan dengan benar adalah hal yang sangat penting.

7. Desinfektan yang digunakan harus sesuai dengan peraturan pemerintah.

8. Jalankan uji sensitivitas terhadap hatchery Anda untuk menemukan sanitizer yang paling

(38)

Panduan Manajemen Hatchery COBB

S if a t b a h a n k im ia d e s in fe k ta n y a n g d ig u n a k a n d i h a tc h e ry if a t d a la m p e n g g u n a a n rm a l k te ri s id a o ri s id a n g is id a u s id a e w a n b e ra c u n d a n m a n u s ia tiv it a s d e n g a n z a t o rg a n ik e te rg e n s i n o d a a n ro s if ya H ip o k lo ri t d a n s e n y a w a b e rb a s is k lo ri n la in + + + + + A s a m p a ra s e ta t + + + + – +– – – +– + S e n y a w a n a m m o n iu m k u a rt e n e r + – +– +– – – + – – + F o rm a ld e h id a C a ir G a s + + + + + + + + + + + – – – – – – – – – P e n o l + +– + +– + +– – – – + Io d o fo r + + + + – – – + – + G lu ta ra ld e h id a + + + + +– +– – – – + ra k te ri s ti k P o s it if – K a ra k te ri s ti k N e g a ti f S if a t B e rv a ri a s i +–

(39)

Panduan Manajemen Hatchery COBB

16. PENCATATAN

1. Pencatatan data (recording) hatchery memiliki tiga (3) tujuan utama: • membantu keputusan manajemen harian atau mingguan

• memantau dan mengendalikan aliran telur dan anak ayam yang melalui hatchery

• membantu dalam keputusan kebijakan secara keseluruhan

2. Hal ini membutuhkan dua tingkatan pencatatan.

• Data kinerja masing-masing flok dan inkubator terkait fertilitas, hatchability, jumlah cull, bot, dll.

• Total biaya untuk memproduksi anak ayam, yang harus dipecah menjadi tenaga kerja, listrik, kendaraan, dll.

3. Lembar pencatatan harus: • mudah diisi

• mudah dimengerti dan diinterpretasikan

• mudah diperiksa akurasinya

• mudah dibandingkan dengan nilai yang diharapkan

4. Analisis pencatatan data sangat penting dalam melengkapi keterampilan manajer dalam

memantau kinerjainkubator. Ini berarti mencari perbedaan antara hasil aktual dan hasil yang diproyeksikan.

5. Mengkaji ulang pencatatan data flok setelah setiap penetasan akan menyoroti area masalah

dan memungkinkan tindakan korektif dilakukan pada tahap awal.

6. Masing-masing mesin dapat dengan akurat di-login menggunakan peralatan terkomputerisasi. 7. Laporan diagnosis embrio tipikal akan menyediakan informasi yang dibutuhkan untuk

mengevaluasi hatchery Anda.

8. Aspek terpenting dalam pencatatan dan analisis data: BUATLAH YANG SEDERHANA!

(40)

Panduan Manajemen Hatchery COBB

17. PEMECAHAN MASALAH

17.1 PENYEBAB UTAMA TELUR GAGAL MENETAS

Setiap investigasi penyebab buruknya hatchability harus mencakup pemeriksaan kematian di cangkang telur. Hal utama yang harus dicari adalah:

1. Ukuran telur dan kualitas cangkang telur

2. Ruang udara

3. Posisi embrio di dalam cangkang telur

4. Kelainan anatomis

5. Kelainan nutrisi

6. Albumen yang tidak terpakai

7. Umur embrio

Bagan di bawah ini menunjukkan distribusi usia dan kematian embrio pada flok normal.

• Penyimpanan telur

• Nutrisi breeder

• Infertilitas sejati (usia flok)

• Penyakit

• Kontaminasi bakteri dan jamur

• Genetika

• Cacat telur dan kerusakan cangkang telur

• Kesalahan inkubasi

Candle and Candle Breakouts

• Sorot telur pada hari ke-10 - 12, dan residu pada penetasan

• Cari hari dimana kematian embrio terjadi

• Periksa flok dan mesin lagi

• Periksa flok yang sama pada mesin yang berbeda

• Periksa flok yang berbeda pada mesin yang sama

• Cari jamur • Cari polanya 1 2 3 4 5 6 7 Awal 8 9 10 11 12 13 14 Tengah 15 16 17 18 19 20 21 Akhir

(41)

Panduan Manajemen Hatchery COBB

17.2 TAHAPAN PERKEMBANGAN EMBRIO

PEMECAHAN MASALAH TAHAPAN PERKEMBANGAN HARI KE-1 • Tampak perkembangan jaringan HARI KE-2 • Perkembangan jaringan sangat terlihat.

• Tampak pembuluh darah

HARI KE-3

• Jantung berdetak

• Pembuluh darah sangat terlihat

HARI KE-4

• Mata berpigmen

HARI KE-5

• Tampak siku dan lutut

•Fertilitas rendah

•Pra-inkubasi

•Fumigasi tidak tepat

•Pembalikan tidak tepat

•Suhu tidak tepat

•Kelembaban tidak tepat

•Ventilasi tidak tepat

•Telur terbalik

•Penanganan telur yang kasar

•Waktu penyimpanan telur tidak cukup

•Setting telur yang kasar

•Telur terkontaminasi

•Nutrisi/obat-obatan/toksin

•Fertilitas rendah

•Pra-inkubasi

•Fumigasi tidak tepat

•Pembalikan tidak tepat

•Suhu tidak tepat

•Kelembaban tidak tepat

•Ventilasi tidak tepat

•Telur terbalik

•Penanganan telur yang kasar

•Waktu penyimpanan telur tidak cukup

•Setting telur yang kasar

•Telur terkontaminasi

•Nutrisi/obat-obatan/toksin

•Fertilitas rendah

•Pra-inkubasi

•Fumigasi tidak tepat

•Pembalikan tidak tepat

•Suhu tidak tepat

•Kelembaban tidak tepat

•Ventilasi tidak tepat

•Telur terbalik

•Penanganan telur yang kasar

•Waktu penyimpanan telur tidak cukup

•Setting telur yang kasar

•Telur terkontaminasi

•Nutrisi/obat-obatan/toksin

•Pembalikan tidak tepat

•Suhu tidak tepat

•Kelembaban tidak tepat

•Ventilasi tidak tepat

•Telur terbalik

•Setting telur yang kasar

•Telur terkontaminasi

•Nutrisi/obat-obatan/toksin

•Pembalikan tidak tepat

•Suhu tidak tepat

•Kelembaban tidak tepat

•Ventilasi tidak tepat

•Telur terbalik

•Setting telur yang kasar

•Telur terkontaminasi

(42)

Panduan Manajemen Hatchery COBB

PEMECAHAN MASALAH TAHAPAN PERKEMBANGAN HARI KE-7 • Pertumbuhan jengger dimulai

• Gigi telur mulai muncul HARI KE-8

• Jalur-jalur bulu terlihat

• Paruh atas dan bawah sama panjangnya

HARI KE-9

• Embrio mulai terlihat seperti burung

• Tampak lubang mulut HARI KE-10

• Gigi telur menonjol

• Kuku jari kaki mulai terbentuk

HARI KE-11

• Jengger bergerigi

• Bulu ekor tampak jelas

HARI KE-12

• Jari-jari kaki terbentuk sempurna

• Beberapa bulu pertama terlihat jelas

HARI KE-13

• Tampak sisik

• Badan tertutup tipis dengan bulu

•Pembalikan tidak tepat

•Suhu tidak tepat

•Kelembaban tidak tepat

•Ventilasi tidak tepat

•Telur terbalik

•Setting telur yang kasar

•Telur terkontaminasi

•Nutrisi/obat-obatan/toksin

•Pembalikan tidak tepat

•Suhu tidak tepat

•Kelembaban tidak tepat

•Ventilasi tidak tepat

•Telur terbalik

•Waktu penyimpanan telur tidak cukup

•Setting telur yang kasar

•Telur terkontaminasi

•Nutrisi/obat-obatan/toksin

•Pembalikan tidak tepat

•Suhu tidak tepat

•Kelembaban tidak tepat

•Ventilasi tidak tepat

•Telur terbalik

•Waktu penyimpanan telur tidak cukup

•Setting telur yang kasar

•Telur terkontaminasi

•Nutrisi/obat-obatan/toksin

•Pembalikan tidak tepat

•Suhu tidak tepat

•Kelembaban tidak tepat

•Ventilasi tidak tepat

•Telur terbalik

•Waktu penyimpanan telur tidak cukup

•Setting telur yang kasar

•Telur terkontaminasi

•Nutrisi/obat-obatan/toksin

•Pembalikan tidak tepat

•Suhu tidak tepat

•Kelembaban tidak tepat

•Ventilasi tidak tepat

•Telur terbalik

•Waktu penyimpanan telur tidak cukup

•Setting telur yang kasar

•Telur terkontaminasi

•Nutrisi/obat-obatan/toksin

•Pembalikan tidak tepat

•Suhu tidak tepat

•Kelembaban tidak tepat

•Ventilasi tidak tepat

•Telur terbalik

•Waktu penyimpanan telur tidak cukup

•Setting telur yang kasar

•Telur terkontaminasi

•Nutrisi/obat-obatan/toksin

•Pembalikan tidak tepat

•Suhu tidak tepat

•Kelembaban tidak tepat

•Ventilasi tidak tepat

•Waktu penyimpanan telur tidak cukup

•Setting telur yang kasar

(43)

Panduan Manajemen Hatchery COBB

TAHAPAN PERKEMBANGAN HARI KE-14

• Embrio memutar kepala ke arah ujung besar telur

HARI KE-15

• Usus masuk ke dalam rongga perut

HARI KE-16

• Bulu menutupi seluruh tubuh

• Albumen hampir hilang

HARI KE-17

• Cairan ketuban berkurang

• Kepala berada di antara kaki

HARI KE-18

• Pertumbuhan embrio hampir tuntas.

• Kantung kuning telur masih berada di luar embrio.

• Kepala berada di bawah sayap kanan

HARI KE-19

• Kantung kuning telur masuk ke rongga tubuh.

• Cairan ketuban hilang.

• Embrio menempati sebagian besar ruang di dalam telur (tidak di sel udara)

HARI KE-20

• Kantung kuning telur masuk seluruhnya ke dalam tubuh

PEMECAHAN MASALAH •Pembalikan tidak tepat

•Suhu tidak tepat

•Kelembaban tidak tepat

•Ventilasi tidak tepat

•Telur terbalik

•Waktu penyimpanan telur tidak cukup

•Setting telur yang kasar

•Telur terkontaminasi

•Nutrisi/obat-obatan/toksin

•Pembalikan tidak tepat

•Suhu tidak tepat

•Kelembaban tidak tepat

•Ventilasi tidak tepat

•Telur terbalik

•Telur terkontaminasi

•Nutrisi/obat-obatan/toksin

•Pembalikan tidak tepat

•Suhu tidak tepat

•Kelembaban tidak tepat

•Ventilasi tidak tepat

•Telur terbalik

•Telur terkontaminasi

•Nutrisi/obat-obatan/toksin

•Pembalikan tidak tepat

•Suhu tidak tepat

•Kelembaban tidak tepat

•Ventilasi tidak tepat

•Telur terbalik

•Telur terkontaminasi

•Nutrisi/obat-obatan/toksin

•Hatcher dibuka terlalu banyak selama siklus penetasan

•Pemindahan yang kasar

•Retak saat pemindahan

•Baki dan hatcher basah

•Pemindahan tidak konsisten

•Pembalikan tidak tepat

•Suhu tidak tepat

•Kelembaban tidak tepat

•Ventilasi tidak tepat

•Telur terbalik

•Telur terkontaminasi

•Nutrisi/obat-obatan/toksin

•Hatcher dibuka terlalu banyak selama siklus penetasan

•Pemindahan yang kasar

•Retak saat pemindahan

•Baki dan hatcher basah

•Pemindahan tidak konsisten

•Suhu tidak tepat

•Kelembaban tidak tepat

•Ventilasi tidak tepat

•Telur terkontaminasi

•Nutrisi/obat-obatan/toksin

•Hatcher dibuka terlalu banyak selama siklus penetasan

•Suhu tidak tepat

(44)

Panduan Manajemen Hatchery COBB

Diagnosis Masalah Penetasan MENETAS DINI •Suhu tinggi – hari ke-1 sampai ke-19

•Telur kecil

MENETAS TERLAMBAT •Suhu atau kelembaban rendah – hari ke-1 sampai ke-19 •Penyimpanan telur

•Telur besar

•Suhu hatcher rendah

MENETAS TERLAMBAT •Suhu terlalu tinggi – hari ke-20 sampai ke-21 •Penyimpanan telur

•Telur pecah di baki

•Pembalikan tidak memadai

SALAH POSISI •Telur diletakkan terbalik •Telur berbentuk ganjil

•Pembalikan tidak memadai

PUSAR TAK SEMBUH •Suhu tinggi – hari ke-1 sampai ke-19 •Kelembaban tinggi – hari ke-20 sampai ke-21

•Penyimpanan telur

ANAK AYAM LUMPUH •Variasi suhu selama inkubasi •Umur flok

•Penanganan telur minggu pertama inkubasi

ANAK AYAM ABNORMAL •Paruh silang: Infeksi herediter atau virus •Mata hilang: Suhu tinggi atau penanganan

•Leher mencong: Nutrisi

•Jari kaki bengkok: Suhu dan nutrisi

(45)

Panduan Manajemen Hatchery COBB

Bagan ini menggambarkan hubungan antara suhu bohlam kering, suhu bohlam basah, kelembaban relatif dan kelembaban absolut.

A b s o lu te h u m id it y v a p o r p re s s u re m m . o f m e rc u ry % RH % RH % Kelembaban relatif Suhu bolha m ba sah ° F

(46)

1 mm = 0.0394 in 1 cm = 10 mm = 0.3937 in 1 m = 100 cm = 1.0936 yd = 3.2808 ft 1 km = 1000 m = 0.6215 mil 1 in = 2.54 cm 1 kaki = 30.48 cm 1 yard = 0.9144 m 1 mil = 1.609 km 1 g = 0.002205 lb = 0.0353 oz 1 kg = 2.2046 lb

1 tonne = 1000 kg = 0.9842 long tons (British) = 1.1023 short tons (USA)

1 oz = 28.35 g

1 lb = 0.4536 kg = 453.6 g 1 long ton = 1.016 tonnes = 1.016 kg 1 short ton = 0.9072 tonnes = 907.2 kg 1 cm2 = 0.155 in2 1 m2 = 1.196 yard2 = 10.7639 kaki2 1 in2 = 6.4516 cm2 1 kaki2 = 0.0929 m2 1 yard2 = 0.8363 m2

1 liter = 0.22 Imp gal = 0.2624 US gal 1 pt (Imp) = 0.5682 liter 1 pt (USA) = 0.4732 liter 1 qt (Imp) = 1.1365 liter 1 qt (USA) = 0.9463 liter 1 gal (Imp) = 4.54596 liter 1 gal (USA) = 3.7853 liter 1 m3/kg/jam = 16.016 kaki3/lb/jam

1 ft3/lb/jam = 0.0624 m3/kg/jam 1 m3/jam = 0.5886 cfm 1 m/det = 196.85 kaki/mnt 1 kcal = 3.97 BTU 1 kcal/m3 = 0.1123 BTU/kaki3 1 kcal/kg = 1.8 BTU/lb

1 pascal = 10-2mbar = 0.021 lbf/kaki2

Suhu °C °F 45 113.0 44 111.2 43 109.4 42 107.6 41 105.8 40 104.0 39 102.2 38 100.4 37 98.6 36 96.8 35 95.0 34 93.2 33 91.4 32 89.6 31 87.6 30 86.0 29 84.2 28 82.4 27 80.6 26 78.8 25 77.0 24 75.2 23 73.4 22 71.6 21 69.8 20 68.0 19 66.2 18 64.4 17 62.6 16 60.8 15 59.0 14 57.2 13 55.4 12 53.6 11 51.8 10 50.0 9 48.2 8 46.4 7 44.6 6 42.8 5 41.0

Panduan Manajemen Hatchery COBB

(47)

# # # ta ls e rc e n t U m u r F lo k B re e d B e ti n a B re e d J a n ta n T a n g g a l S e t T a n g g a l S o ro t T a n g g a l B re a k o u t U m u r T e lu r % P ro d u k s i % P e n e ta s a n A k tu a l e lu r/ B a k i T id a k e n e ta s In fe rt il A w a l T e n g a h A k h ir P ip p e d C u ll C h ic k s A w a l pe l % E st . H at ch % F er tili ta s % H at ch o f F er tile T ra n s C o n t. C u ll E g g s T e rb a lik E m b ri o M a ti R e ta k Te l: ( 4 7 9 ) 5 2 4 -3 1 6 6 Fa x: ( 4 7 9 ) 5 2 4 -3 0 4 3 I n co rp o ra te d S ilo am S p ri n g s, A R 7 2 7 6 1 -1 0 3 0 ( U S A )

(48)

Panduan Manajemen Hatchery COBB

(49)

Panduan Manajemen Hatchery COBB

(50)

Gambar

Diagram Alir Suhu Telur (untuk telur segar)
Grafik batang di atas menunjukkan telur yang berada di posisi atas, tengah dan bawah pada setter dan kemudian dipindahkan ke hatcher.
Diagram psikrometrik disederhanakan untuk penggunaan di hatchery

Referensi

Dokumen terkait

Menurut hasil pengukuran pada buah jambu kristal ukuran besar diperlukan waktu selama 56 menit untuk mencapai suhu target, sedangkan menurut simulasi waktu yang dibutuhkan yaitu

Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui efektivitas cangkang telur ayam sebagai adsorben dengan variasi waktu kontak yaitu 15, 30, 45 menit dan perbedaan

Ketika heater (T1) mendapat suplay daya listrik temperature naik secara hiperbolik, dan memerlukan waktu 25 menit untuk mencapai suhu 490 o C, ketika

Untuk mencegah angin dingin berhembus dalam mode Panas, kipas indoor tidak akan beroperasi jika penukar panas indoor belum mencapai suhu yang tepat dalam waktu 2 menit..

Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui efektivitas cangkang telur ayam sebagai adsorben dengan variasi waktu kontak yaitu 15, 30, 45 menit dan perbedaan massa

ACWH yang ada saat ini mempunyai efektivitas yang rendah dimana suhu air panas tidak bisa terlalu tinggi dan waktu yang dibutuhkan untuk mencapai suhu tersebut cukup lama.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan adsorben cangkang telur ayam yang di aktivasi secara fisika dengan variasi massa adsorben dan waktu pengadukan terhadap penurunan

Berdasarkan pengujian ini, variasi volume yang diberikan akan berbanding lurus dengan waktu untuk mencapai suhu yang diatur pada Arduino dimana pada 0,32 Liter akan membutuhkan waktu