• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODOLOGI PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "METODOLOGI PENELITIAN"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

III. METODOLOGI PENELITIAN

A. Waktu dan Tempat Pelaksanaan

Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Februari sampai bulan Juni di Sunter Plant 1 yang bertempat di PT. Toyota Motor Manufacturing Indonesia, Sunter Plant, Jakarta Utara.

B. Alat Dan Bahan

Alat dan bahan yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: a. Alat Pengujian 1. Kamera video/Handycam 2. Stopwacth 3. Meteran b. Alat Bantu

1. Satu unit Laptop

2. Work Risk Assessment Sheet (WRAS) 3. Tabel STOP 6 dan Non STOP 6 4. Tabel Manajemen kerja

C. Metode Pelaksanaan Penelitian

Metode pelaksanaan penelitian dibagi kedalam beberapa tahap yaitu General Induction, Diskusi Pemahaman, identifikasi masalah, Pengamatan, Analisis Evaluasi Risiko Kerja, Improvement, Improvement Trial, Evaluasi, dan Implentasi. Gambar 3 menjelaskan tentang tahapan tahapan penelitian yang akan dilakukan.

(2)

Gambar 4. Prosedur Penelitian ya

Analisis Resiko Kerja

Feed Back tidak tidak Improvement Trial Mulai General Induction Diskusi Pemahaman Identifikasi Masalah Metodologi Evaluasi Implementasi Pengamatan

Improvement Machine Improvement Man Evaluasi Resiko Kerja

(3)

1. General Induction

Langkah ini dilakukan untuk mengetahui semua pekerjaan yang dilakukan dilapangan, istilah-istilah yang ada di lapangan dan peraturan yang ada di lapangan.

2. Diskusi Pemahaman

Diskusi ini dilakukan untuk menyamakan presepsi antara mahasiswa dan staf ahli dari PT. Toyota Motor Manufacturing Indonesia agar kegiatan yang dilakukan mahasiswa tidak menyimpang dari tujuan yang ditetapkan oleh divisi SHE.

3. Identifikasi Masalah

Identifikasi masalah dilakukan untuk mengetahui permasalahan yang ada di lapangan serta apakah masalah tersebut berdampak besar terhadap produksi ataupun pekerjaan yang ada.

4. Pengamatan

Pengamatan dan pengambilan data dilakukan sebelum dilakukan perbaikan. Pengamatan sebelum perbaikan dilakukan sebagai mapping permasalahan ergonomika pada divisi machining. Pengambilan data dilakukan dengan beberapa cara, antara lain : Perekaman menggunakan kamera video/Handycam, pencatatan, dan wawancara.

a. Perekaman proses kerja

Perekaman dilakukan untuk mendapatkan dokumentasi proses kerja yang dapat dipisahkan berdasarkan elemen-elemen kerjanya. Dari hasil perekaman tersebut dapat terlihat posisi pekerja dengan akurat

b. Pencatatan data

Data yang diambil berdasarkan kegiatan ini adalah proses kerja yang dilakukan, waktu pelaksanakannya, dimensi peralatan dan tempat kerja c. Wawancara

Wawancara dilakukan terhadap beberapa pekerja untuk mendapatkan beberapa hal mengenai keadaan tempat kerja dan pemahaman pekerja mengenai ergonomi

(4)

5. Analisis Evaluasi Risiko Kerja

Permasalahan yang akan diamati pada penelitian ini adalah masalah manual material handling berhubungan dengan sakit di pinggang yang diderita oleh para pekerja yang diakibatkan oleh pekerjaan yang tidak benar serta masalah K3 (Kesehatan keselamatan kerja) yang dihitung menggunakan Work Risk Assessment Sheet (WARS). Untuk permasalahan manual material handling berhubungan dengan sakit di pinggang akan diamati pada bagian machining assembly.

Analisis ini pertama disebut analisis fish bone diagram, analisis ini dilakukan agar ditemukan akar permasalahannya dan dapat dilakukan perbaikan dengan secepat- cepatnya. Analisis ini menggunakan rumus 4M + E, yaitu Machine, Method, Man, Material, dan Environment. Adapun contoh analisis fish bone diagram dapat dilihat pada Gambar 5.

Gambar 5. analisis fish bone diagram

1. Perhitungan Resiko Aspek Ergonomi

Perhitungan menggunakan tabel evaluasi resiko akan menghasilkan suatu nilai untuk melihat potensi bahaya dari suatu pekerjaan, apakah

(5)

pekerjaan yang dilakukan memiliki potensi bahaya yang besar, sedang atau kecil. Perhitungan nilai yang dilakukan ini adalah berdasarkan faktor ergonomika manual material handling yang penilaiannya dilihat dari postur tubuh pekerja dalam bekerja, peralatan yang menimbulkan getaran, berat badan, dan berat pembebanan tangan dan ujung jari. Tabel 1. adalah kriteria pekerjaan dalam perhitungan aspek ergonomi manual material handling.

Tabel 1. Tabel Aspek Ergonomi

No Aspek Ergonomi

1. Mengangkat lengan atas 2. Membungkuk ke depan 3. Alat untuk menarik 4. Alat yang bergetar/bergoyang

5. Beban per unit

6. Beban ujung jari

7. Beban tangan

(Sumber: PT.Toyota Motor Manufacturing Indonesia)

Perhitungan ergonomic risk point dilakukan dengan menjumlahkan angka dari level kecelakaan, frekwensi kerja, dan level countermeasure yang ada dari setiap element kerja. Level kecelakaan kerja memiliki tiga kategori yaitu kecelakaan fatal yang dapat menyebabkan kematian atau cacat dengan pemberian poin 12, kecelakaan yang memerlukan cuti/LWD (Lost working day) sehingga mengurangi hari kerja bagi karyawan dengan pemberian poin 6, dan kecelakaan yang tidak memerlukan cuti/ non-LWD atau ringan dengan poin 2. Frekwensi kerja memiliki tiga kriteria yaitu frekwensi tinggi, adalah untuk kerja yang dilakukan rutin dengan pemberian poin 5, frekwensi sedang untuk pekerjaan yang dilakukan pada selang waktu tertentu seperti dilakukan setiap 1 bulan sekali dengan pemberian poin 4, dan frekwensi rendah untuk pekerjaan yang jarang dilakukan seperti perbaikan pada mesin dengan pemberian poin 3. Level Countermeasure adalah tingkat pencegahan kecelakaan atau cidera

(6)

seperti tidak adanya alat bantu dalam pekerjaan tersebut termasuk tingkat kehati-hatian operator. Kriteria tersebut dilihat pada setiap element dan poin yang ada dijumlahkan sehingga diperoleh kategori resiko dari setiap element yang ada. Poin dari level kecelakaan, frekwensi kerja, dan level countermeasure dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Poin evaluasi Resiko

(Sumber: PT.Toyota Motor Manufacturing Indonesia)

Untuk mempermudah melihat poin resiko pada setiap element kerja, maka poin resiko dari setiap pengamatan dijumlahkan dengan asumsi bahwa kriteria pengamatan yang ada sama pada setiap elementnya. Lebih jauh lagi, poin dari setiap element dijumlahkan untuk melihat poin resiko pada setiap line kerja. Namun hasil penjumlahan poin resiko dari setiap pengamatan ini menunjukan seberapa besar tingkat/kategori bahaya dari pekerjaan tersebut. Kategori penjumlahan poin dari setiap element kerja dapat dilihat pada Tabel 3. Pada Tabel 3. dapat dilihat untuk poin 19-25 termasuk bahaya besar, untuk poin 10-18 termasuk bahaya sedang dan untuk poin 6-9 termasuk bahaya kecil.

(7)

Tabel 3. Kategori resiko Poin Evaluasi Resiko Peringkat Resiko

Isi Resiko Indikasi

Peringkat Resiko 19-25 Peringkat A Bahaya Besar Level kecelakaan:a Aa

Level kecelakaan:b Ab 10-18 Peringkat B Bahaya Sedang Level kecelakaan:a Ba Level kecelakaan:b Bb Level kecelakaan:c Bc

6-9 Peringkat C Bahaya Kecil Level kecelakaan:a Cc

(Sumber: PT.Toyota Motor Manufacturing Indonesia)

Untuk mengetahui manejemen kerja dari pekerja maka harus melihat dari tabel manejemen kerja. Manejemen kerja dapat dilihat pada Tabel 4. Nilai dari Tabel menejemen kerja ini dilihat dari rank evaluasi resiko. Tabel 4a. menjelaskan manajemen kerja untuk pekerjaan maintenance sedangkan Tabel 4b. menjelaskan manajemen kerja untuk pekerjaan umum.

Tabel 4a. Tabel Manajemen Kerja (pekerjaan maintenance)

(8)

Tabel 4b. Tabel Manajemen Kerja (pekerjaan umum)

(Sumber: PT.Toyota Motor Manufacturing Indonesia)

2. Perhitungan Resiko Aspek K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja)

Perhitungan untuk aspek K3 sama menggunakan tabel evaluasi resiko dan akan menghasilkan suatu nilai untuk melihat potensi bahaya dari suatu pekerjaan, apakah pekerjaan yang dilakukan memiliki potensi bahaya yang besar, sedang atau kecil. Perhitungan nilai yang dilakukan ini adalah berdasarkan STOP 6 dan Non STOP 6.

Perhitungan K3 menggunakan risk point dilakukan dengan menjumlahkan angka dari level kecelakaan, frekwensi kerja, dan level countermeasure yang ada dari setiap element kerja. Perhitungan ini sama dengan perhitungan resiko aspek ergonomika dan yang membedakannya adalah kecelakaan kerja yang dialami berdasarkan STOP 6 dan Non STOP 6. Aspek-aspek kecelakaan kerja yang diamati dari STOP 6 dan Non STOP 6 dapat dilihat pada Tabel 5.

(9)

Tabel 5a. STOP 6 Tabel 5b. Non STOP 6

(Sumber: PT.Toyota Motor Manufacturing Indonesia) 6. Improvement

Improvement mengacu pada 4M (Mesin, Metode, Material dan Manusia) dan mempertimbangkan hasil analisis Evaluasi Resiko Kerja. Improvment kemudian di uji cobakan untuk kelebihan dan kekurangan dari perbaikan tersebut.

7. Improvement Trial

Improvement Trial adalah peningkatan dari gerakan pada pos kerja yang bersangkutan sehingga pekerja menjadi lebih ergonomis dalam bekerja. 8. Evaluasi

Evaluasi dilakukan untuk menilai kinerja dan perbaikan yang sudah dilakukan. Apabila hasil evaluasi dinyatakan kurang baik maka gerakan atau benda kerja harus diperbaiki kembali supaya mendapatkan posisi yang ergonomika. Jika hasil evaluasi dinyatakan berhasil maka selanjutnya adalah implementasi dari perbaikan tersebut.

9. Implementasi

Implementasi adalah penerapan hasil dari perbaikan dan evaluasi yang yang telah dirasa cukup baik dan berhasil.

Gambar

Tabel 4b. Tabel Manajemen Kerja (pekerjaan umum)

Referensi

Dokumen terkait

Perencanaan pengaturan Lalu Lintas adalah perencanaan manajemen dan rekayasa lalu lintas terhadap Kegiatan dan/atau usaha tertentu yang meliputi pengaturan sirkulasi di

Dari hasil analisis pada perhitungan optimasi yang dilakukan dengan pendekatan Dynamic Programming terbukti menghasilkan nilai maksimum TXOP yang sama, baik dengan

1. Fokus penelitian adalah untuk menjawab pertanyaan “bagaimana” dan “mengapa”. Peneliti tidak dapat memanipulasi perilaku mereka yang terlibat dalam

Pengaruh Motivasi Kerja Terhadap Kinerja Karyawan Serta Dampaknya Pada Kualitas Pelayanan Housekeeping Department Di Padma Hotel Bandung.. Universitas Pendidikan Indonesia

Berdasarkan kesimpulan tersebut, penulis dapat memberikan saran sehingga PT Indomobil Niaga International dapat memberikan value yang melebihi harapan konsumen sebagai perusahaan

Penelitian ini akan menganalisa kajian penerapan e-Procurement dalam mengurangi penyimpangan pada pengadaan pekerjaan konstruksi dari sudut pandang Penyedia

Bahwa berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tersebut diatas dan dalam rangka peningkatan kelancaran penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan sehingga lebih berdaya guna

Hasil penelitian ini sesuai dengan hipotesis yang diajukan oleh peneliti, yaitu ada hubungan negatif yang sangat signifikan dapat dijelaskan bahwa semakin rendah