TEKNIK PENGUKURAN MORFOMETRIK PADA IKAN CUCUT
DI PERAIRAN SAMUDERA HINDIA
Enjah Rahmat
Teknisi Litkayasa pada Balai Riset Perikanan Laut, Muara Baru-Jakarta Teregistrasi I tanggal: 15 Maret 2011; Diterima setelah perbaikan tanggal: 11 April 2011;
Disetujui terbit tanggal: 21 April 2011 PENDAHULUAN
Ikan cucut atau ikan hiu (Elasmobranchii) termasuk kelompok ikan pelagis besar yang memiliki nilai ekonomis. Hampir semua bagian ikan cucut dapat diolah dan dimanfaatkan terutama siripnya yang bernilai ekonomis tinggi yaitu untuk bahan soup. Selain itu daging, tulang, kulit, hati, dan limbah (kepala dan isi perut) semuanya dapat diolah untuk dimanfaatkan.
Jenis alat tangkap yang digunakan nelayan Pelabuhan Ratu dan Binuangeun untuk menangkap ikan cucut di perairan Samudera Hindia terutama pancing rawai cucut, jaring insang hanyut, dan pancing rawai tuna dan kadang-kadang tertangkap juga oleh pancing ulur dan tonda.
Jenis ikan cucut hasil penelitian Balai Riset Perikanan Laut tahun 2000-2001 di Samudera Hindia teridentifikasi 43 spesies. Jenis yang dominan didaratkan di Pelabuhan Perikanan Tanjung Luar
adalah Carcharhinus hemiodon, di Pelabuhan
Perikanan Nusantara Cilacap didominansi oleh
Alopias pelagicus, dan di Pelabuhan Perikanan
Nusantara Pelabuhan Ratu Alopias superciliosis (Anonimus, 2001).
Morfometrik merupakan salah satu cara untuk mendeskripsikan jenis ikan dan menentukan unit stok pada suatu perairan dengan berdasarkan atas
perbedaan morfologi spesies yang diamati.
Pengukuran morfometrik dapat dilakukan antara lain panjang standar, moncong atau bibir, sirip punggung, atau tinggi batang ekor. Tujuan dari penulisan ini adalah untuk menguraikan cara pengukuran beberapa karakter ikan cucut sebagai bahan untuk pengkajian stok ikan.
POKOK BAHASAN Bahan dan Alat-Alat
Bahan yang digunakan dalam kegiatan ini berupa ikan contoh (sampel) dari beberapa jenis ikan cucut.
Peralatan yang digunakan terdiri atas meteran 3 m, timbangan 100 kg, kamera, buku identifikasi, form parameter biologi, dan alat tulis.
Metode
Identifikasi jenis-jenis ikan cucut mengacu pada Carpenter & Niem (1998); Last & Stevens (1994); Widodo & Anung (2000). Pengukuran panjang menggunakan meteran dalam satuan centimeter,
ketelitian 0,1 cm. Penimbangan bobot ikan
menggunakan timbangan, dalam satuan kilogram dengan ketelitian 0,1 kg.
Ciri-Ciri Morfologis Ikan Cucut
Ikan cucut yang lebih dikenal dengan nama ikan hiu pada umumnya bersifat predator. Habitatnya bervariasi dari perairan dekat pantai (inshore) sampai palung dalam (trench). Ikan cucut mempunyai ciri-ciri morfologis sebagai berikut:
1. Bentuk tubuh seperti torpedo dan memiliki ekor yang kuat.
2. Insang terletak di sisi kiri dan kanan bagian belakang kepala. Insang tidak memiliki tutup, tetapi berupa celah insang (gill openings atau gill slit). Jumlah celah insang antara 5-7 buah.
3. Mulut terletak di bagian ujung terdepan bagian bawah.
4. Gigi triangular.
5. Ekor pada umumnya berbentuk heterocercal yaitu bentuk cagak dengan cuping bagian atasnya lebih berkembang di banding bagian cuping bawahnya.
Bentuk ekor demikian sangat membantu
pergerakannya sebagai ikan predator sejati (Nontji
dalam Anonimus, 2005).
Bentuk ikan cucut dan bagian-bagiannya disajikan pada Gambar 1.
mata mulut lubang angin alur bibir celah insang duri tulang punggung sirip punggung pertama sirip punggung kedua Sirip dada clasper (jantan) sirip ekor pangkal ekor sirip pelvic lunas ekor sirip anal lubang hidung moncong mata mulut lubang angin alur bibir celah insang duri tulang punggung sirip punggung pertama sirip punggung kedua Sirip dada clasper (jantan) sirip ekor pangkal ekor sirip pelvic lunas ekor sirip anal lubang hidung moncong
Gambar 1. Morfologi ikan cucut.
Teknik Pengukuran Morfometrik
Pengukuran morfometrik dilakukan terhadap 31 karakter, sebagai berikut:
1. TL = total length, diukur mulai dari bagian terdepan moncong mulut sampai ujung ekor atas (panjang total) (Gambar 2). 2. FL = fork length, diukur mulai dari bagian
terdepan moncong mulut sampai pangkal cabang ekor (panjang cagak) (Gambar 2). 3. SL = precaudal length, diukur mulai dari bagian terdepan moncong mulut sampai ujung gurat sisi (panjang standar) (Gambar 2). 4. PD2 = pre second dorsal length, diukur mulai
dari bagian terdepan moncong mulut sampai pangkal bagian depan sirip punggung belakang (Gambar 2).
5. PD1 = pre first dorsal length, diukur mulai dari bagian terdepan moncong mulut sampai pangkal bagian depan sirip punggung depan (Gambar 2).
6. HL = head length, diukur mulai dari bagian terdepan moncong mulut sampai bagian ujung celah insang belakang (Gambar 2). 7. PGI = prebranchial length, diukur mulai dari
bagian terdepan moncong mulut sampai bagian depan celah insang depan (Gambar 2).
8. PSP = prespiracular length diukur mulai dari bagian terdepan moncong mulut sampai
spiracle (Gambar 2).
9. POB = preorbital length, diukur mulai dari bagian terdepan moncong mulut sampai ujung bagian depan mata (Gambar 2).
10. PP1 = prepectoral length, diukur mulai dari bagian terdepan moncong mulut sampai depan celah insang bagian depan (Gambar 2).
11. PP2 = prepelvic length, diukur mulai dari bagian terdepan moncong mulut sampai depan
12. SVL = snout vent length, diukur mulai dari bagian terdepan moncong mulut sampai bagian tengah sirip perut tengah (Gambar 2).
13. PAL = preanal length, diukur mulai dari bagian terdepan moncong mulut sampai pangkal bagian depan sirip perut belakang (Gambar 2).
14. IDS = interdorsal space, diukur mulai dari bagian pangkal belakang sirip punggung depan sampai pangkal bagian depan sirip punggung belakang (Gambar 2).
15. DCS = dorsal caudal space, diukur mulai dari bagian pangkal belakang sirip punggung belakang sampai pangkal depan bagian ekor atas (Gambar 2).
16. PPS = pectoral pelvic space, diukur mulai dari bagian pangkal belakang sirip perut depan sampai bagian pangkal depan sirip perut tengah (Gambar 2).
17. PAS = pelvic anal space, diukur mulai dari bagian pangkal belakang sirip perut tengah sampai bagian pangkal depan sirip perut belakang (Gambar 2).
18. ACS = anal caudal space, diukur mulai dari bagian pangkal belakang sirip perut belakang sampai bagian pangkal depan ekor bawah (Gambar 2).
19. PCA = pelvic caudal space, diukur mulai dari bagian pangkal belakang sirip perut tengah sampai bagian pangkal depan ekor bawah (Gambar 2).
20. VCL = vent caudal length, diukur mulai dari bagian tengah sirip perut tengah sampai ujung ekor atas (Gambar 2).
21. CLO = clasper outer length, diukur mulai dari bagian pangkal luar sirip perut tengah sampai ujung clasper (Gambar 3).
22. CLI = clasper inner length, diukur mulai dari bagian pangkal dalam sirip perut tengah
23. CLB = clasper base width, diukur mulai dari bagian atas sisi clasper sampai bagian bawah sisi clasper (Gambar 3).
24. DIB = first dorsal base, diukur mulai dari bagian pangkal depan sirip punggung sampai bagian pangkal belakang sirip punggung (Gambar 4).
25. DIA = first dorsal anterior margin, diukur mulai dari bagian pangkal depan sirip punggung sampai bagian ujung atas sirip punggung (Gambar 4).
26. DIP = first dorsal pasterior margin, diukur mulai dari bagian ujung atas sirip punggung
sampai bagian ujung bawah sirip
punggung (Gambar 4).
27. DIH = first dorsal hight, diukur mulai dari bagian ujung badan atas sampai bagian ujung atas sirip punggung (Gambar 4).
28. PIB = pectoral base, diukur mulai dari bagian pangkal depan sirip dada sampai bagian pangkal belakang sirip dada (Gambar 5). 29. PIA = pectoral anterior margin, diukur mulai dari
bagian pangkal depan sirip dada sampai bagian ujung bawah sirip dada (Gambar 5).
30. PIH = pectoral height, diukur mulai dari bagian pangkal belakang sirip dada sampai bagian ujung bawah sirip dada (Gambar 5).
31. PIP = pectoral posterior margin, diukur mulai dari bagian ujung atas sirip dada sampai bagian ujung bawah sirip dada (Gambar 5). PP2 SVL PAL VCL PP1 POB HL PGI PSP PD1 PD2 SL FL TL
CLO CLI C L B PIB PIP PIA PIH
Gambar 3. Clasper (alat kelamin jantan). Gambar 4. Sirip punggung.
Gambar 5. Sirip dada.
Hasil Pengukuran
Pada Tabel 1 disajikan contoh hasil pengukuran
morfometrik beberapa jenis ikan cucut hasil
tangkapan di perairan Samudera Hindia oleh nelayan
Binuangeun, Provinsi Banten. Pada tabel tersebut pengukuran morfometrrik berdasarkan atas 12 karakter pengukuran. Hasil pengukuran dalam satuan centimeter dengan ketelitian 0,1 cm.
Tabel 1. Hasil pengukuran morfometrik beberapa jenis ikan cucut hasil tangkapan di Samudera Hindia,
tahun 2001
No. Karakter Jenis dan nomor contoh
1 2 3 4 5 6 7 8 9 1. TL 124,0 89,0 159,0 256,0 240,0 210,0 246,0 38,0 230,0 2. FL 106,2 72,0 128,0 222,0 160,0 173,0 201,0 30,0 186,0 3. SL 10,0 2,5 12,0 28,0 - - 18,0 1,0 16,5 4. CLI 16,2 4,5 15,5 39,0 - - 20,0 3,5 22,0 5. DIB 16,0 29,0 25,0 24,0 28,0 9,0 26,0 6. DIA 18,5 36,5 33,0 27,0 39,0 10,0 35,0 7. DIP 10,5 7,7 16,0 32,0 27,0 22,0 28,0 5,5 31,0 8. DIH 13,0 55,0 36,0 19,5 25,0 6,0 27,0 9. PIB 8,0 52,0 14,0 10,0 17,0 5,0 16,0 10. PIA 29,0 52,0 43,0 30,0 55,0 11,0 37,5 11. PIH 28,0 48,0 37,5 29,5 52,0 11,0 37,5 12. PIP 18,5 10,5 27,5 47,0 40,0 28,0 45,0 9,0 40,0 Seks J J J J B B J J J Bobot (kg) 10,0 3,0 30,0 90,0 25,0 35,0 80,0 0,1 75,0
Keterangan: nomor contoh 1 = cucut buas leutak (Carcharhinus amboniensis); 2, 3, dan 4 = cucut (Carcharhinus brevipinna); 5 = cucut DIA DIP DIH DIB DIA DIP DIH DIB
KESIMPULAN
Pengukuran morfometrik ikan harus teliti karena banyak karakter yang diukur.
PERSANTUNAN
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Siti Mardlijah, M.Si., Mahiswara, M.Si., dan Suwarso, M.Si. atas saran-sarannya dalam penyusunan tulisan ini.
DAFTAR PUSTAKA
Anonimus. 2001. Biologi, potensi, dan distribusi kelimpahan cucut (Elasmobranchii), slengseng (Scomber australasicus), dan kenyar (Sarda spp.)
di perairan Samudera Hindia. Laporan
Tahunan/Akhir. Balai Riset Perikanan Laut.
(Unpublish).
Anonimus. 2005. Sumber Daya Ikan Elasmobranchii
di Laut Jawa. Balai Riset Perikanan Laut. Pusat
Riset Perikanan Tangkap. Badan Riset Kelautan
dan Perikanan. Departemen Kelautan dan
Perikanan. 38 pp.
Carpenter, K. E. & V. H. Niem. 1998. Food and Agriculture Organization species identification guide for fishing purposes. The living marine resources of the Western Central Pacific. Vol. 2.
Cephalopods, Crustaseans, Holoturians, and Sharks. Food and Agriculture Organization. Rome.
1,194-1,366.
Last, P. R. & J. D. Stevens. 1994. Sharks and Rays of
Australia. Fisheries Research and Development
Corporation.
Widodo, J. & A. A. Anung. 2000. Kunci Mudah
Mengenal Cucut. Tentative Internal Use. Balai