• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEDOMAN TEKNIK PEMBUATAN PETA BAHAYA RENDAMAN TSUNAMI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PEDOMAN TEKNIK PEMBUATAN PETA BAHAYA RENDAMAN TSUNAMI"

Copied!
134
0
0

Teks penuh

(1)PEDOMAN TEKNIK PEMBUATAN PETA BAHAYA RENDAMAN TSUNAMI. BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN BENCANA Tahun 2013.

(2) PENULIS Dr. Eng. Hamzah Latief. INTERNAL R EVIEW ER 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.. Medi Herlianto, CES,MM Prof. Dr. Nanang T. Puspito Dr. Irwan Meilano Prof. Ir. Masyhur Irsyam, MSE.,Ph.D Prof. Ir. Iswandi Imran, MASC., Ph.D Prof. Dr. M. Syahril Badri Kusuma Dr. Hendriyawan Ir. Afrial Rosya, MA. Direktur kesiapsiagaan Institut Teknologi Bandung Institut Teknologi Bandung Institut Teknologi Bandung Institut Teknologi Bandung Institut Teknologi Bandung Institut Teknologi Bandung Kasubdit Perencanaan Siaga. R EVIEW PANEL 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15.. Dr. Haryadi Permana Robert Sulistyo Ir. Ferri Eka Putra Prof. Dr. Hasyim Djalal Dr. Budianto Ontowiryo Tedi Bahtian ST.,MT. Drs. Suhardjono Dr. Nurlia Sadikin Dr. Sri Hidayati Ir. Ardito M. Kodiyat, MSc Tris Raditian Dr. Ing. Josia Irwan Rastandi Ir. Widjojo Adi Prakoso, M.Sc., Ph.D Dr. Ir. Pariatmono, M.Sc. Ir. Medy Eka S.. LIPI CDSP - AIFDR PUSKIM - PU DEKIN / KKP ASKP BSB PUSKIM BMKG PUSAIR – PU PVMBG – BG UNESCO Jakarta Dit. BOP SDA - PU Universitas Indonesia Universitas Indonesia RISTEK RISTEK.

(3) 16. 17. 18. 19. 20.. Prof. Ir. Wimpie A.N. Aspar, MSCE, Ph. D. Dr. Rahman H. Dr. Ir. Drajat Hoedajanto, M.Eng Arif Rachman Ir. Velly Asvaliantina, M.Sc.. BPPT BPPT ITB dan HAKI PUSKIM -PU BPPT.

(4) CATATAN. Pedoman ini hanya sebagai panduan untuk perencanaan TES. Setiap perencanaan TES harus didasarkan atas perhitungan teknis sesuai kaidah-kaidah perencanaan yang berlaku dan didasarkan atas data-data setempat yang mencukupi untuk kebutuhan desain. Tim penyusun tidak bertanggungjawab terhadap permasalahan yang timbul atas penggunaan baik sebagian maupun seluruhnya dari pedoman ini. Pengguna informasi dari publikasi ini menanggung semua kewajiban yang timbul dari penggunaan tersebut..

(5)

(6) PENGANTAR. Pedoman Pembuatan Peta Bahaya Rendaman Tsunami (PBRT) ini merupakan salah satu dari rangkaian pedoman untuk penentuan Tempat Evakuasi Sementara (TES) Tsunami yang disusun dengan harapan dapat membantu penyusunan master plan pengurangan risiko bencana tsunami.Terdapat empat pedoman yang mendukung pedoman penentuan TES ini, yaitu: x Buku 1.. Pedoman Teknik Pembuatan Peta Bahaya Rendaman Tsunami. x Buku 2.. Pedoman Teknik Perencanaan Tempat Evakuasi Sementara (TES) Tsunami. x Buku 3.. Pedoman Teknik Perancangan Struktur Bangunan Tempat Evakuasi Sementara (TES) Tsunami. x Buku 4.. Pedoman Teknik Perancangan Sementara (TES) Tsunami. Bukit. Sebagai. Tempat. Evakuasi. Pedoman ini mengacu pada alur penyajian dan pembahasan yang diberikan oleh FEMA USA (P646-2008) mengenai Guidelines for Design of Structures for Vertical Evacuation from Tsunamis dan pedoman yang diberikan JSCE (2002) mengenai Tsunami Assessment Method for Nuclear Power Plants in Japan. Beberapa materi pembahasan diadopsi dan dikembangkan dari pedoman tersebut, kemudian dilengkapi dengan materi-materi hasil penelitian di Indonesia, yang dilakukan oleh peneliti Indonesia bekerjasama dengan peneliti dari luar negeri, diantaranya adalah hasil penelitian dari kerjasama antara BNPB dan AusAID melalui the Australia Indonesia Facility for Disaster Reduction (AIFDR). Kerjasama di atasmemfasilitasi peneliti-peneliti gempabumi dan tsunami Indonesia yang berasal dari perguruan tinggi serta institusi pemerintah, yang diwakili oleh ITB, LIPI, BPPT, BG, BMKG, TDMRC-Unsyiah, ANU Australia dan Geoscience Australia (GA). Dalam penelitian tersebut meliputi Kajian Sensitifitas Topografi terhadap pemodelan rendaman tsunami (Griffin dkk, 2012 dan Latief dkk (2013) serta kajianPTHA (Horspool, dkk 2012). Selanjutnya untuk kajian peta rendaman di Palabuhanratu yang dijadikan contoh dalam pedoman ini, merupakanprodukpenelitiandari kerjasama antara Pemerintah Indonesia (Ristek, LIPI, ITB, dan BPLHD Jabar), dengan pemerintah Jepang(JICA-JST, Hokkaido Univ., Tokyo Univ., dan Tohoku Univ.) Pedoman ini telah diperiksaoleh internal reviewer (Mr. Jonathan Griffin, Dr. Irwan Melano dan Prof. Nanang T. Puspito, dan Tim Penyusun Buku-2, Buku-3, dan Buku-4)dan panel reviewermelalui Forum Grup Diskusi (FGD) yang dihadiri oleh berbagai instansi terkait dan konsultan.. Jakarta, Desember 2013 Tim Penyusun i.

(7) KATA SAMBUTAN Kami menyambut baik atas penerbitan “Pedoman Teknik Pembuatan Peta Bahaya Rendaman Tsunami” ini yang merupakan salah satu dari rangkaian Pedoman Teknik Master Plan Pengurangan Risiko Bencana Tsunami Pedoman Teknik Pembuatan Peta Bahaya Rendaman Tsunami memang sangat diperlukan sebagai langkah untuk memberikan arahan agar peta yang dibuat memiliki hasil yang tepat dan akurat mengenai daerah-daerah bahaya yang terpengaruh oleh tsunami demikian halnya dengan daerahdaerah yang aman terhadap tsunami. Dengan adanya Pedoman Teknik Pembuatan Peta Bahaya Rendaman Tsunami kita dapat merencanakan Jalur Evakuasi, Penempatan Tempat Evakuasi Sementara (TES) serta dapat digunakan untuk mengkaji potensi jumlah korban jiwa dan dampak kerusakan yang akan dialami suatu wilayah. Kami berharap pedoman ini dapat digunakan sebagai acuan bagi jajaran kementerian, lembaga, dan instansi terkait dalam Pembuatan Peta Bahaya Rendaman Tsunami.. Mudah-mudahan pedoman ini bermanfaat bagi. masyarakat/pembaca dan pihak-pihak lain yang memerlukannya.. Jakarta,. Desember 2013. Deputi Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana. Ir. Dody Ruswandi, MSCE.

(8) DAFTAR ISI. PENGANTAR............................................................................................................... i KATA SAMBUTAN........................................................................................................ii DAFTAR ISI................................................................................................................ii DAFTAR GAMBAR ...................................................................................................... v DAFTAR TABEL........................................................................................................ viii DAFTAR SINGKATAN................................................................................................ ixx 1.. PENDAHULUAN ................................................................................................... 1 1.1. Latar Belakang.............................................................................................. 2 1.2. Maksud dan Tujuan....................................................................................... 3 1.3. Ruang Lingkup.............................................................................................. 4 1.4. Acuan Normatif ............................................................................................ 4 1.5. Istilah dan Definisi ........................................................................................ 5. 2.. BAHAYA TSUNAMI DAN POTENSI DAMPAKNYA.................................................... 10 2.1. Pembangkitan, Penjalaran, dan Rendaman Tsunami ...................................... 11 2.1.1. Tsunami dan Proses Pembangkitan Tsunami ........................................ 11 2.1.2. Penjalaran dan Fenomena Tsunami di Pantai ....................................... 14 2.1.3. Rendaman Gelombang Tsunami.......................................................... 15 2.2. Dampak Tsunami Terhadap Bangunan ......................................................... 16 2.2.1. Sejarah Dampak Bencana Tsunami .................................................... 18 2.2.2. Pembelajaran dari Kejadian Bencana Tsunami Aceh 2004 ..................... 22 2.2.3. Pembelajaran dari Kejadian Bencana Tsunami Tohoku Jepang 2011 ...... 27 2.2.4. Implikasi Rencana Bangunan Tahan Tsunami....................................... 33 SUMBER DAN POTENSI BAHAYA TSUNAMI DI INDONESIA ................................... 35. 3.. 3.1. Tatanan Tektonik dan Karakteristik Gempabumi di Indonesia ......................... 36 3.2. Sejarah Tsunami di Indonesia ...................................................................... 38 3.3. Sumber Tsunami Berdasarkan Kajian Tatanan Tektonik, Sejarah Gempabumi dan Tsunami .............................................................................................. 39 3.4. Analisis Probabilistik Bahaya Tsunami (PTHA)................................................ 41 3.4.1. Pendahuluan ..................................................................................... 41 3.4.2. Ruang Lingkup Kajian PTHA ............................................................... 42 3.4.3. Methodologi dan Analisis Probabilistik Bahaya Tsunami di Indonesia ...... 43 3.4.4. Hasil Kajian Bahaya Tsunami Nasional ................................................. 44 3.4.4 Temuan, Kesimpulandan Rekomendasi................................................ 49 4.. PEMODELAN DAN PEMETAAN BAHAYA RENDAMAN TSUNAMI ............................... 51 4.1. Umum ....................................................................................................... 51 4.2. Metodologi Pembuatan Peta Rendaman Tsunami........................................... 52 4.3. Metodologi Analisis Pembangkitan Tsunami Akibat Gempabumi ...................... 53 4.3.1. Skenario Kasus Terburuk yang Kredibel ............................................... 56 4.3.2. Ekspresi Ukuran Gempabumi dan Tsunami........................................... 57 4.3.3. Pemodelan Pergerakan Patahan.......................................................... 59 

(9)   

(10) 

(11)

(12) 

(13)  .................................................. 60. iii.

(14) 4.3.5. Pengaturan Sumber Tsunami Berdasarkan Sejarah Tsunami.................. 60 4.3.6. Pengaturan Sumber Skenario Tsunami ................................................ 61 4.4. Simulasi Numerik Tsunami........................................................................... 63 4.4.1.Model Inisial Sumber Tsunami ............................................................ 63 4.4.2.Persamaan Pengatur dan Skema Numerik............................................. 64 4.4.3.Dataset Batimetri dan Topografi .......................................................... 66 4.4.4.Resolusi Model ................................................................................... 73 4.4.5.Menyiapkan Daerah Domain Komputasi dan Ukuran Grid ....................... 73 4.4.6.Menyiapkan Langkah Waktu Komputasi ................................................ 73 4.4.7.Koefisien Gesekan dan Koefisien Viskositas ........................................... 74 4.4.8.Waktu Reproduksi Simulasi.................................................................. 75 4.4.9.Format Hasil Simulasi Tsunami ............................................................ 76 4.4.10.Standar untuk Penggambaran Peta Rendaman ................................... 76 4.5. Penyiapan Peta Bahaya Rendaman Tsunami ................................................. 77 4.5.1.Tujuan Pembuatan PBRT..................................................................... 77 4.5.2.Petunjuk Mengenai Koordinasi Antar Lembaga dalam Pembuatan PBRT .. 77 4.5.3.Metoda Perhitungan Daerah Rendaman................................................ 78 4.5.4.Metoda Penyiapan Peta Bahaya Berdasarkan Prediksi Rendaman............ 79 4.5.5.Metoda Penyiapan PBRT untuk Tujuan Peta Evakuasi ............................ 80 4.5.6.Metoda Penyiapan PBRT untuk Tujuan Keteknikan dan Perencanaan ...... 82 4.5.7.Sosialisasi Peta Bahaya Rendaman Tsunami .......................................... 83 5.. IMPLIMENTASI PEMBUATAN PETA BAHAYA RENDAMANTSUNAMI ............................... 84 5.1. Pemodelan Peta Rendaman Tsunami .......................................................................... 85 5.1.1. Teori Perairan Dangkal dan Persamaan Pengatur ................................................. 85 5.1.2. Solusi Numerik ........................................................................................................ 87 5.1.3. Desain dan Data yang Digunakan dalam Pemodelan Rendaman ........................... 87 5.1.4. Skenario Hipotesis dan Model Pembangkitan Sumber Tsunami ............................ 91 5.1.5. Hasil Model Rendaman Tsunami ............................................................................ 93 5.1.6. Analisis Dampak Bahaya Rendaman Tsunami ........................................................ 98 5.2. Perencanaan Penempatan dan Pembangunan TES dan jalur Evakuasi Tsunami............................................................................................................................ 98. 6. PENUTUP ............................................................................................................................... 102 PUSTAKA ACUAN .......................................................................................................................... 103 LAMPIRAN ..................................................................................................................................... 106. iv.

(15) DAFTAR GAMBAR. Gambar 1.1 Gambar 2.1 Gambar 2.2 Gambar 2.3 Gambar 2.4. Gambar 2.5 Gambar 2.6 Gambar 2.7 Gambar 2.8 Gambar 2.9 Gambar 2.10. Gambar 2.11 Gambar 2.12. Gambar 2.13 Gambar 2.14 Gambar 2.15 Gambar 2.16 Gambar 2.17 Gambar Gambar Gambar Gambar. 2.18 2.19 2.20 2.21. Gambar 2.22 Gambar 2.23. Definisi tinggi muka air ...................................................................... 5 Penjalaran Tsunami Aceh 2004 dimana tsunami bersumber jauh bagi daerah India dan Srilanka tetapi tsunami lokal bagi Banda Aceh ... 12 Model tsunami Krakatau 1883........................................................... 13 Hasil pengukuran tinggi rayapan tsunami di bagian timur pulau Flores ............................................................................................. 13 Pusaran air yang dihasilkan oleh interaksi gelombang tsunami ketika di pantai,Sri Lanka 26 Desember 2004 dan Pelabuhan Aorai, Jepang oleh Tsunami Tohoku 2011 .............................................................. 15 Pemodelan rendaman Tsunami Aceh 2004 di Banda Aceh ................... 16 Tingkat kerusakan bangunan terhadap ketinggian tsunami ................. 19 Probabilitas kerusakan terhadap kedalaman aliran, kecepatan arus dan gaya hidrodinamis ..................................................................... 19 Mercusuar Tanjung Scotch hancur oleh Tsunami Aleutian 1946 ........... 20 Perumahan berkonstruksi kayu hancur total di desa Aonae, Pulau Okushiri, oleh Tsunami Okushiri, Jepang 1993 .................................. 20 Rumah-rumah pantai dengan berbagai tingkat kerusakan di El Popoyo, Nikaragua akibat Tsunami Nikaragua 1992. Ketiga rumah saling berdekatan ............................................................................ 21 Kerusakan yang disebabkan oleh dampak dari puing-puing yang terbawa air di Aonae, Jepang oleh Tsunami Okushiri 1993, ................. 22 Bangunan struktur beton bertulang yang selamat dari Tsunami 1993 Okushiri: vista house di Cape Inaho (kiri), dan pasar ikan di Aonae (kanan) .......................................................................................... 22 Rumah pasangan bata di pantai yang rusak di Devanaanpattinam, ...... 22 Bangunanbeton bertulang yang bertahan di Banda Aceh..................... 23 Bangunan mesjid yang bertahan di Banda Aceh karena dindingnya cukup terbuka ................................................................................. 23 Puing-puing yang terbawa oleh air dari Tsunami Aceh 2004 ................ 24 Kerusakan kolom beton yang tidak direkayasa dengan baik akibat hantaman puing-puing ..................................................................... 24 Kerusakan kolom sudut akibat pembendungan puing-puing ................ 25 Gerusan di sekitar kaki-kai pondasi di daerah Khao Lak....................... 25 Kerusakan panel lantai beton pracetak di dermaga pelabuhan ............. 26 Baberapa bagian dari struktur bangunan roboh sebelum terlanda tsunami .......................................................................................... 26 Bangunan kerangka baja dan beton masih namun elemen-elemen non struktural hancur....................................................................... 28 Puing-puing rumah kayu serta kendaraan yang terbawa oleh tsunami .......................................................................................... 28. v.

(16) Gambar 2.24 Dinding beton bertulang yang rusak serta lantai bangunan yang terangkat ........................................................................................ 29 Gambar 2.25 Beberapa struktur ambruk akibat liquifaksi dan erosi akibat landaan tsunami .......................................................................................... 29 Gambar 2.26 Bangunan kerangka baja dengan pondasi tiang pancang yang tercabut.......................................................................................... 29 Gambar 2.27 Dampak turunan berupa kebakaran di beberapa tempat dan meledaknya reaktor nuklir di Fukushima ............................................ 30 Gambar 3.1 Peta tektonik aktif Indonesia, panah merah menunjukan pergerakan relative lempeng-lempeng bumi dan tanda panah hitam adalah data pergerakan relatif permukaan bumi dari survey data GPS.................... 37 Gambar 3.2 Peta tektonik aktif Indonesia dan gempabumi yang terjadi sejak tahun 1973. .................................................................................... 37 Gambar 3.3 Lokasi kejadian gempabumi dan tsunami di Indonesia dan sekitarnya ....................................................................................... 38 Gambar 3.4 Tinggi tsunami di sepanjang garis pantai berdasarkan data historis...... 39 Gambar 3.5 Tingkat bahaya tsunami di sepanjang garis pantai berdasarkan basis data tsunami Indonesia.................................................................... 40 Gambar 3.6 Lokasi patahan-patahan dengan sumber lokal yang digunakan sebagai sumber tsunami untuk perhitungan PTHA .............................. 41 Gambar 3.7 Lokasi sumber-sumber patahan regonal dan jauh yang digunakan sebagai sumber tsunami untuk perhitungan PTHA .............................. 41 Gambar 3.8 Hasil kajian PTHA di Indonesia.......................................................... 44 Gambar 3.9 Probabilitas kejadian tsunami dengan peringatan level orange (0.53.0 m tsunami) dalam satu tahun .................................................... 45 Gambar 3.10 Probabilitas kejadian tsunami dengan peringatan level merah (>3.0 m tsunami) dalam satu tahun .......................................................... 46 Gambar 3.11 Tinggi tsunami maksimum (m) di daerah pantai untuk perioda ulang 100 tahun ....................................................................................... 46 Gambar 3.12 Tinggi tsunami maksimum (m) di daerah pantai untuk perioda ulang 500 tahun ....................................................................................... 47 Gambar 3.13 Tinggi tsunami maksimum (m) di daerah pantai untuk perioda ulang 2500 tahun ..................................................................................... 47 Gambar 3.14 Probabilitas kejadian tsunami untuk ibu kota Provinsi dengan tinggi tsunami di pantai >3.0 m tsunami..................................................... 48 Gambar 3.15 Probabilitas kejadian tsunami untuk ibu kota kabupaten/kota dengan tinggi tsunami di pantai >3.0 m tsunami................................ 48 Gambar 4.1 Langkah-langkah pembuatan peta bahaya rendaman tsunami ............. 53 Gambar 4.2 Bagan alir prosedur perhitungan tsunami yang dibangkit oleh gempabumi..................................................................................... 55 Gambar 4.3 Hubungan antara skenario tsunami dengan rekaman tinggi run-up ...... 56 Gambar 4.4 Diagram konsep desain tsunami dan parameter gempabumi yang terkait ............................................................................................ 57 Gambar 4.5 Parameter patahan .......................................................................... 59. vi.

(17) Gambar 4.6 Gambar 4.7 Gambar 4.8 Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar. 4.9 4.10 4.11 4.12 4.13 4.14 4.15. Gambar 5.1 Gambar 5.2 Gambar 5.3 Gambar 5.4 Gambar 5.5. Gambar 5.6 Gambar 5.7 Gambar 5.8 Gambar 5.9 Gambar 5.10 Gambar 5.11 Gambar Gambar Gambar Gambar. 5.12 5.13 5.14 5.15. Jenis-jenis gempa di Kepulauan Jepang dan sekitarnya (JSCE, 2002), ............................................................................................ 62 Contoh perbandingan peta batimetridari dataset GEBCO, Tcarta, Dishidros, dan hasil assimilasi dari ketiga dataset tersebut. ................. 68 Contoh perbandingan data garis pantaiIFSAR vs Tcarta dan Tcarta vs LiDar .......................................................................................... 69 Contoh berbagai jenis data topografi di Maumere, NTT....................... 71 Contoh hasil rendaman dengan berbagai jenis data topografi. ............. 72 Bagan alir tujuan dan delegasi kebijakan antar lembaga ..................... 78 Peta daerah rendaman, kedalaman aliran dan waktu penjalaran.......... 79 Peta daerah rendaman yang perlu dievakuasi serta daerah aman ........ 80 Contoh peta evakuasi untuk fasilitas kritis di Teluk Kabung, Padang..... 81 Contoh peta waktu penjalaran (travel time) di Teluk Kabung, Padang ........................................................................................... 82 Desain model bersarang untuk Domain A sampai dengan Domain G .... 88 Peta batimetri dan topografi Domain-A sd -G yang digunakan untuk simulasi rendaman di Palabuhanratu ................................................. 90 Peta batimetri dan topografi dilengkapi dengan bangunan untuk Domain G ....................................................................................... 91 Lokasi sumber tsunami (Mw=8.5, Mw=8.0 dan Mw=7.5).................... 91 Deformasi awal sebagai sumber tsunami yang dibangkitkan oleh gempabumi dengan Momen Magnitudo Mw=8.5, Mw=8.0 dan Mw=7.5.......................................................................................... 92 Tinggi tsunami (kiri) dan waktu tempuh (kanan) Domain A, Skenario Mw=8.5.......................................................................................... 93 Tinggi tsunami (kiri) dan waktu tempuh (kanan) Domain A, Skenario Mw=8.0.......................................................................................... 93 Tinggi tsunami (kiri) dan waktu tempuh (kanan) Domain A, Skenario Mw=7.5.......................................................................................... 94 Peta kedalaman aliran (kiri) dan waktu tempuh (kanan) di Kota Palabuhanratu (Domain G) dengan skenario Mw=8,5 ......................... 94 Peta kedalaman aliran (kiri) dan waktu tempuh (kanan) di Kota Palabuhanratu (Domain G) dengan skenario Mw=8,0 ......................... 95 Peta kedalaman aliran (kiri) dan waktu tempuh (kanan) di Kota Palabuhanratu (Domain G) dengan skenario Mw=7,5 ......................... 95 Snapshot animasi model besar (Domain A) ........................................ 96 Snapshot animasi model kecil (Domain G) di Kota Palabuhanratu ........ 97 Peta evakuasi di Palabuhanratu ........................................................ 99 Jalur evakuasi di TBBM Teluk Kabung...............................................100. vii.

(18) DAFTAR TABEL. Tabel 2.1 Tabel 4.1 Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel. 4.2 4.3 5.1 5.2 5.3 5.4 5.5 5.6. Skala intensitas tsunami .............................................................................17 Nilai standar modulus rigiditas dari medium dekat fokus gempa di Jepang .....................................................................................................60 Nilai koefisien kekasaran Manning ...............................................................74 Informasi untuk peta evakuasi dan administrasi............................................77 Desain model rendaman daerah kajian Palabuhanratu ..................................87 Batas ukuran grid, dimensi grid dan batas koordinat tiap grid ........................88 Parameter patahan untuk skenario deformasi gempa ....................................92 Perhitungan Tsunami Hipotetis di Pelabuhanratu ..........................................97 Luas daerah rendaman untuk masing-masing skenario..................................98 Jumlah bangunan yang berpotensi tergenang tsunami ..................................98. viii.

(19) DAFTAR SINGKATAN. AIFDR ANUGA ASTER BG BNPB BPBD BMKG BPPT DEM DSM DTM Dishidros AL FEMA GA GEBCO GoJ GREAT- ITB HRSC ITB IFSAR JICA JST JSCE KKP LAPI-ITB LIPI LSM LiDAR MSL PVMBG PBRT PSHA PTHA PPKPL ITB SRTM TES Tunami TDMRC-Unsyiah UNESCO-IOC. : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : :. WGS 84. :. Australia Indonesia Facility for Disaster Reduction Austalian National University and Geoscience Australia Advenced Spaceborne Thermal Emission and Reflection Radiometer Badan Badan Badan Badan Badan. Geologi Nasional Penanggulangan Bencana Penanggulangan Bencana Daerah Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Pengkajian dan Penerapan Teknologi. Digital Elevation Map Digital Surface Map Digital Terrain Map Dinas Hidro-Oseanografi Angkatan Laut. Faderal Emergency Management Agency Geoscience Australia General Bathymetric Chart of the Oceans Government of Japan Graduate Research on Earthquake and Active Tectonics -ITB High Resolution Sterio Camera Institut Teknologi Bandung. Interferometric Synthetic Aparture Radar Japan International Cooperation Agency Japan Science and Technology Agency Japan Society of Civil Engineers Kementrian Kelautan dan Perikanan Lembaga Afiliasi dan Penerapan Industri -ITB Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Lembaga Swadaya Masyarakat. Light/Laser Detection and Ranging Mean Sea Level Pusat Volkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Peta Bahaya Rendaman Tsunami. Probabilistic Seismic Hazard Analysis Probabilistic Tsunami Hazard Analysis Pusat Pengembangan Kawasan Pesisir dan Laut - ITB. Shuttle Radar Topography Mission Tempat Evakuasi Sementara Tohoku University’s Numerical Analysis. Tsunami Disaster Mitigation Research Center-Universitas Syiahkuala United Nations Education and Cultural Organization -International Oceanographic Commision World Geodetic System 1984. ix.

(20) 1. PENDAHULUAN.

(21) Pendahuluan. BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1. Latar Belakang Sejalan dengan upaya pengelolaan bencana sebagaimana yang diamanatkan oleh Undang-undang No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, maka berbagai usaha telah, sedang dan akan dilakukan oleh pemerintah, swasta dan masyarakat untuk mengurangi risiko bencana. Selanjutnya dari kejadian Tsunami Aceh 2004, Tsunami Pangandaran 2006, Tsunami Mentawai 2010, serta Tsunami Tohoku 2011Jepang, memperlihatkan betapa banyak korban jiwa serta dampak kerusakan yang sangat besar yang ditimbulkannya. Peristiwa-peristiwa tersebutmenjadi pelajaran berharga bagi pemerintah dan masyarakat Indonesia,tentang bahaya tsunami sehingga pemerintah dan masyarakat memberikan perhatian khusus, agar dimasa yang akan datang, korban jiwa dan harta benda dapat diminimalisir bila terjadi tsunami. Kemajuan teknologi dalam mendeteksi tsunami yang dicapaisaat ini serta pengetahuan mengenai tanda-tanda alami memungkinkan untuk mengetahui potensi kejadian tsunami beberapa saat setelah terjadi gempabumi. Proses pendeteksian dan penyebaran informasi tsunami, sebelum tsunamimencapai pantai memberikan ”sedikit kesempatan” yang dapat digunakan untuk mengurangi jumlah korban jiwa dengan cara mengevakuasi penduduk ke luar dari wilayah rendamanmenuju ke lokasi yang lebih tinggi atau ke bangunanTempat Evakuasi Sementara (TES) yang telah ditentukan,oleh sebab itu sebagian besar upaya penyelamatan manusia difokuskan pada pengembangan: (i) sistem peringatan dini yang lebih efektif; (ii) pembuatan peta rendaman yang lebih akurat dan terpercaya; (iii) kesadaran untuk meningkatkan sistem evakuasi yang lebih efisien; serta (iv) pendidikan tentang evakuasi mandiri termasuk pra-tanda alami sebelum datangnya tsunami. Sebagaimana diuraikan di atas bahwa salah satu upaya dalam mengurangi dampak bahaya tsunami adalah mengkaji berat besar potensi dampak yang ditimbulkan oleh suatu tsunami yang akan terjadi pada daerah tertentu melalui Pembuatan Peta Bahaya Rendaman Tsunami (PBRT). Pembuatan PBRTperlu dilakukan secara tepat dan akurat, sehingga dapat diketahui tingkat bahaya yang berpotensi mengancam suatu wilayah. Paramater bahaya tsunami yang dimaksud adalah perkiraan tinggi tsunami, kedalaman aliran, luas rendaman, waktu kedatangan, serta frekuensi kejadiannya. Salah satu kegunaan dari PBRT adalah bahan utama untuk merencanakan jalur evakuasi dan penempatan TES. TES biasanya dibangun di wilayahyang memiliki potensi tsunami lokal dengan waktu tempuh tsunami kurang dari 30 menit, serta memiliki morfologi pantai yang datar dan luas dan tidak terdapat dataran. 2.

(22) Pendahuluan. tinggidi sekitar wilayah rendaman untuk tempat evakuasi, sehinggapenduduk yang bermukim di wilayah tersebut tidak memiliki cukup waktu untuk keluar dari wilayah bahaya rendaman tsunami, artinya tidak memungkinkan untuk melakukan evakuasi secara horizontal, sehingga jalan keluarnya adalah melakukan evakuasi vertikal menuju bangunan TES yang dirancang khusus untuk tahan terhadap gempabumi dan tsunami. Ketersediaan PBRT menjadisangat penting untuk mengetahuipotensi daerah bahaya (luas rendaman, tinggi tsunami dan kedalaman rendaman) dan daerah aman serta dapat digunakan untuk mengkaji potensi jumlah korban jiwa serta dampak kerusakan yang akan dialamiwilayah tersebut. Saat ini telah tersedia beberapa peta rendaman yang dibuat oleh beberapa instansi seperti BMKG, KKP, PVMBG, ITB, BPPT dan instansi lainnya namun hasil dan formatnya belum seragam, hal ini dikarenakan belum tersedia metode atau pendekatan yang baku dalam pembuatan PBRT, atau dengan kata lain bahwa tidak tersedianya metode dan pendekatan yang baku menyebabkan ketidakseragaman peta-peta yang diproduksi saat ini. Di beberapa daerah, misalnya Kota Padang dan Kota Cilacap memiliki lebih dari satu PBRT yang menimbulkan kesulitan serta kebingungan bagi pengguna peta.Tidak adanya metoda yang baku menyebabkan para pemangku kebijakan di daerah (BPBD) serta kalangan masyarakat (konsultan dan LSM) mengalami kesulitan dalam memproduksi peta dengan baik dan tepat. Demikian juga para pengguna peta mengalami kesulitan dalam memahami hasil dari peta rendaman tersebut. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang memiliki otoritas dalam memproduksi peta-peta tersebut, sebagaimana diamanatkan oleh Undang-undang No. 24 Tahun 2007 mencoba untuk membuat pedoman pembuatan Peta Bahaya Pendaman Tsunami seperti diuraikan di Buku 1 ini.. 1.2. Maksud dan Tujuan Pedoman Pembuatan Peta Bahaya Rendaman Tsunami (PBRT) ini disusun dengan maksud untuk memberi panduan tentang cara pembuatan PBRT yang baik dan akurat sesuai tujuan dari peruntukan peta tersebut misalnya untuk peta evakuasi atau peta perencanaan.Juga memberikan persyaratan data-data minimal yang diperlukan dalam pembuatan peta, cara penyajian peta secara konsisten dengan hasil yang dapat diandalkan, dan menjadi dokumen acuan bagi institusi atau lembaga yang berkompetensi dalam pembuatan PBRT. Pedoman ini bertujuan untuk memberikan arahan agar peta yang dibuat memiliki hasil yang tepat dan akurat mengenai daerah-daerah bahaya yang terpengaruh oleh tsunami demikian halnya dengan daerah-daerah yang aman terhadap tsunami. Selanjutnya PBRT yang dihasilkan harus memiliki tampilan dan informasi yang konsisten, sehingga mudah dimengerti oleh pengguna.Pedoman ini sangat dianjurkan untuk menjadi acuan bagi jajaran kementrian, lembaga, dan intansi terkait dalam PembuatanPeta Bahaya Rendaman Tsunami (PBRT).. 3.

(23) Pendahuluan. 1.3. Ruang Lingkup Ruang lingkup bahasan dalam Pedoman ini difokuskanpada carapenyediaan peta rendaman yang baik dan benar serta lebih akurat, yang dapat menunjukkan daerah yang terendam (daerah berbahaya) dan daerah yang kering (daerah yang aman). Peta ini juga dapat memberikan gambaran atau perkiraan tentang tinggi tsunami, waktu kedatangan, luas wilayah yang akan terendam, jarak rendaman, kedalaman rendaman, serta parameter-parameter pembebanan gaya-gaya hidrodinamika tsunami, berupa arus serta gaya-gaya hadraulika yang ada di dalamnya. Pemilihan parameter-parameter yang disajikan dalam peta rendaman serta tingkat akurasi yang diperlukan akan disesuaikan dengan tujuan dari penggunaan peta rendaman tersebut. Parameter-parameter tsunami yang dihasilkan dapat digunakan sebagai kriteria dan desain parameterdalam penempatan bangunan evakuasi yang efisien,tinggi struktur atau bukit buatan yang cukup aman untuk menyelamatkan pengungsi di atas ketinggian rendaman tsunami, dirancang dan dibangun dengan kekuatan serta ketahanan yang dibutuhkan untuk melawan efek dari gempabumi dan tsunami. Hasil kajian ini diharapkan menjadi pedoman bagi para perencana, insinyur sipil, arsitek, praktisi di pemerintah pusat dan daerah, serta masyarakat yang memiliki rencana untuk membangun bangunan tahan tsunami yang diperuntukkan menjadi tempatevakuasi vertikal yang aman bagi pengungsi selama terjadinya tsunami.. 1.4. Acuan Normatif. Acuan normatif yang digunakan dalam penyusunan pedoman ini meliputi: I. Undang undang i. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. ii. Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. iii. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. iv. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang 2005-2025. v. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah.. vi. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional vii. Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2009 tentang Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika.. 4.

(24) Pendahuluan. II. Peraturan Pemerintah i. Peraturan Presiden Nomor 8 tahun 2008 tentang Badan Nasional Penanggulangan Bencana. ii. Peraturan Pemerintah Nomor 21 tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana. iii. Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2008 tentang Peran serta Lembaga Internasional & Lembaga Asing Non-pemerintah pada Penanggulangan Bencana. iv. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Peraturan Pemerintah Tentang Tahapan Tata Cara, Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah. v. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota. vi. Peraturan Pemerintah Nomor 27 tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. vii. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 5 tahun 2000 tentang Panduan Penyusunan AMDAL dalam kegiatan pembangunan lahan basah. viii. Peraturan kepala BNPB No. 4 tahun 2008 tentang Pedoman Penyusunan Rencana Penanggulangan Bencana.. 1.5. Istilah dan Definisi Secara grafis parameter-parameter tsunami yang ada di pesisir diuraikan pada Gambar 1.1.. TERMINASI TSUNAMI TAMPAK POTONGAN. Tinggi air maksimum. Kedalaman Aliran. Batas Garis Rendaman. Tsunami. Garis Pantai. Tinggi air di garis pantai. Run-up. Datum. Rendaman Horisontal Datum adalah muka air ratarata (MSL) atau muka air terendah (LWL) atau muka air saat tsunami menerjang. Tinggi air maksimum, mungkin berlokasi di garis pantai atau batas garis rendaman atau diantaranya. Gambar 1.1Definisi tinggi muka air [UNESCO-IOC. Tsunami Glossary (2006)]. 5.

(25) Pendahuluan. Berikut ini beberapa istilah penting yang digunakan dalam dokumen ini: HISTORIS TSUNAMI :Tsunami yang telah didokumentasikan dibuat atas penuturan saksi mata atau pengamatan instrumental dalam catatan sejarah. DATA HISTORIS TSUNAMI :Data historis yang tersedia dalam banyak bentuk dan di banyak tempat. Bentuk ini mencakup katalog baik yang diterbitkan maupun tidak tentang kejadian tsunami, penuturan pribadi, marigraf (alat pencatat pasang surut), amplitudo tsunami, luas wilayah rendaman dan kenaikan air, laporan penelitian lapangan, artikel koran, rekaman video atau film. PALEOTSUNAMI :Tsunami yang terjadi pada zaman dahulu sebelum adanya catatan sejarah atau tidak ada laporan pengamatan tertulis. Penelitian paleotsunami terutama didasarkan pada identifikasi, pemetaan, dan bukti berupa endapanendapan tsunami yang ditemukan di daerah-daerah pantai, dan korelasinya dengan endapan-endapan serupa yang ditemukan di tempat lain secara local, regional atau lintas samudera. SEDIMEN TSUNAMI : Sedimen yang diendapkan oleh tsunami. Temuan sedimen tsunami di dalam lapisan-lapisan tanah stratigrafik dapat memberi informasi tentang sejarah kejadian paleotsunami. Temuan serupa berupa endapan di tempattempat berbeda, terkadang di seberang ceruk samudra dan jauh dari sumber tsunami, dapat digunakan untuk memetakan dan menyimpulkan sebaran rendaman tsunami dan dampaknya. TSUNAMI GEMPABUMI : Gempa bumi yang menimbulkan tsunami yang luar biasa besarnya dan sebanding dengan magnitudo gempa bumi. Gempa bumi tsunami ditandai dengan; focus (sumber gempa) yang sangat dangkal, pergeseran sesar/patahan (fault dislocations) sejauh beberapa meter, dan memiliki permukaan patahan lebih kecil daripada patahan permukaan karena gempa bumi biasa. Gempa tsunami juga merupakan gempa bumi lambat, dengan gelinciran (slippage) sepanjang patahannya dan gerakannya lebih lambat daripada yang terjadi pada gempa bumi biasa. Peristiwa terakhir seperti ini adalah pada tahun 1994 (Jawa Timur), 2006 (Pangandaran) dan 2010 (Mentawai). PERKIRAAN WAKTU KEDATANGAN/TIBA (ESTIM ATED TIM E FOR ARR IVAL ETA) :Waktu kedatangan tsunami di lokasi tertentu, seperti diperkirakan melalui model kecepatan dan pembiasan gelombang tsunami ketika ia bergerak dari sumber asalnya. ETA dapat diperkirakan dengan ketepatan yang sangat baik jika bathymetry (batimetri; kedalaman laut) dan sumber gempa diketahui (kurang dari beberapa menit). PETA EVAKUASI :Suatu gambar atau peta yang menunjukkan secara garis besar daerah bahaya serta batasan-batasan daerah kemana penduduk harus diungsikan untuk menghindari bahaya gelombang tsunami. Rute evakuasi adakalanya ditandai untuk menciptakan efisiensi dalam gerakan perpindahan penduduk dari zona evakuasi ke evakuasi tempat perlindungan.. 6.

(26) Pendahuluan. WAKTU PENJALARAN (TR AVEL TIM E ):Waktu yang diperlukan oleh gelombang tsunami pertama untuk bergerak dari sumbernya ke satu titik tertentu pada suatu garis pantai. PETA WAKTUPENJALARAN :Peta yang memperlihatkan isokron atau garis-garis waktu pergerakan tsunami yang sama yang dihitung dari sumbernya, keluar menuju titik akhir pada garis pantai yang jauh. TSUNAMI BORE :Bagian muka gelombang tsunami yang curam, bergolak, bergerak kencang dan umumnya terjadi di mulut sungai atau muara. KERUSAKAN AKIBAT TSUNAMI :Kerugian atau kerusakan yang ditimbulkan oleh tsunami ganas. Lebih spesifik lagi, kerusakan yang disebabkan langsung oleh tsunami dapat dirangkum sebagai berikut: 1) Kematian dan luka-luka; 2) Rumahrumah yang porak-poranda, rusak sebagian, terendam banjir, karam atau terbakar; 3) Kerusakan dan kerugian harta benda lain; 4) Kapal, sampan, perahu terbawa hanyut, rusak atau hancur; 5) Kayu gelondongan hanyut terbawa air; 6) Instalasi laut hancur; 7) Hancurnya fasilitas umum – seperti rel kereta api, jalan, pembangkit daya listrik, instalasi pasokan air, dan seterusnya. SEBARAN TSUNAMI :Redistribusi energi tsunami, terutama sebagai fungsi dari periodenya, ketika ia bergerak melintasi suatu perairan. PRATANDA TSUNAMI :Serangkaian gerakan tingkatan air yang berayun dan mendahului datangnya gelombang tsunami utama, umumnya terjadi akibat dari gaung/gema di teluk dan rak karang dan dapat terjadi sebelum datangnya tsunami utama. BAHAYA TSUNAMI :Kemungkinan tsunami berukuran tertentu yang akan melanda bagian tertentu pantai. PENILAIAN BAHAYA TSUNAMI :Dokumentasi bahaya tsunami kepada penduduk pantai diperlukan untuk mengidentifikasikan populasi dan aset yang berisiko terkena tsunami, dan tingkat risiko tersebut. Penilaian risiko ini memerlukan pengetahuan tentang sumber-sumber yang mungkin menciptakan tsunami (seperti gempa bumi, tanah longsor, dan letusan gunung berapi), kemungkinan terjadinya tsunami dan ciri-ciri tsunami dari sumber tersebut di beberapa tempat yang berbeda di sepanjang pantai.Untuk kelompok penduduk yang rentan ini, data tsunami masa lalu yang ada (historis dan paleotsunamis) bisa membantu mengukur faktor-faktor kemungkinan ini.Namun data-data dari masa lalu ini sangat terbatas atau bahkan tidak ada sama sekali, oleh sebab itu model numerik dari rendaman tsunami dapat memberi perkiraan tentang wilayah yang akan terlanda tsunami jika terjadi suatu gempa bumi berpotensi tsunami lokal atau jauh atau juga tanah longsor lokal. DAMPAK TSUNAMI :Meski tidak sering terjadi, tsunami termasuk dalam jajaran fenomena fisika yang paling kompleks dan menakutkan dan yang bertanggung jawab atas hilangnya jiwa dalam jumlah yang sangat besar serta kehancuran harta. 7.

(27) Pendahuluan. benda . Karena keganasannya itu, tsunami memiliki dampak penting terhadap sektor kemanusiaan, sosial, ekonomi di masyarakat. PEMODELAN NUMERIK TSUNAMI :Merupakan uraian-uraian matematis yang berusaha untuk menjelaskan tsunami yang telah diamati beserta pengaruhpengaruhnya.Pemodelan numerik sering menjadi satu-satunya cara untuk menentukan kemungkinan terjadinya akibat tsunami karena data tentang tsunami di masa lalu biasanya tidak cukup. Model numerik ini dapat diawali dengan menciptakan skenario kasus terburuk dari sumber penyebab tsunami. RISIKO TSUNAMI : Kemungkinan tsunami melanda suatu garis pantai tertentu dan diperburuk lagi oleh efek-efek destruktif dari tsunami serta jumlah korban yang mungkin jatuh. Dalam istilah umum, risiko adalah bahaya dikalikan dengan kerentanan. SIMULASI TSUNAMI : Model numerik untuk kemunculan tsunami, pergerakannya serta banjir bandang tsunami. SUMBER TSUNAMI : Titik atau daerah asal tsunami, biasanya menjadi tempat terjadinya gempa bumi, letusan gunung berapi, atau tanah longsor yang menyebabkan berpindah tempatnya air dalam skala besar diikuti dengan gelombang-gelombang tsunami. ZONASI TSUNAMI : Penunjukan zona-zona khusus sepanjang daerah-daerah pantai dengan derajat risiko dan kerentanan yang berbeda-beda. Ini ditujukan untuk kesiapsiagaan terhadap bencana, perencanaan, aturan mendirikan bangunan atau tempat pengungsi umum. WAKTU TIBA : Waktu tiba dari gelombang-gelombang maksimum tsunami pertama. DAERAH RENDAMAN GELOMBANG : Wilayah yang dibanjiri air karena tsunami. RENDAMAN GELOMBANG (INUNDATION ) : Jarak horisontal ke daratan yang dipenetrasi oleh gelombang tsunami, umumnya diukur tegak lurus dari garis pantai. GARIS RENDAMAN GELOMBANG : Batas kebasahan di daratan, yang diukur secara horisontal dari garis rata-rata tinggi permukaan laut atau Mean Sea Level(MSL). Garis antara tumbuh-tumbuhan yang hidup dan yang mati adakalanya digunakan sebagai rujukan. MAGNITUDO (BESARAN) : Merupakan angka penunjuk jumlah dimana kemudian jumlah itu dapat dibandingkan dengan jumlah-jumlah lain dari kelas yang sama. KENAIKAN AIR (RUN-UP) : Selisih antara ketinggian terjangan maksimum tsunami (garis banjir bandang) dan ketinggian air laut pada saat tsunami. Kenaikan yang dicapai oleh air laut diukur secara relatif terhadap datum (suatu tingkat yang diketahui) seperti tinggi rata-rata permukaan laut, air terendah rata-rata, atau tinggi permukaan laut pada saat terjadinya tsunami, dan idealnya diukur pada satu titik yang merupakan maksimum lokal dari banjir bandang secara horisontal.. 8.

(28) Pendahuluan. SURUT :Surutnya ketinggian arah laut, adakalanya sehingga batuan dan peringatan alami bahwa. air laut sebelum banjir tsunami. Garis pantai bergerak ke sejauh satu kilometer atau lebih, menguak dasar laut ikan menjadi kelihatan. Surutnya laut adalah tanda tsunami sedang dalam perjalanan dan akan segera tiba.. AMPLITUDO TSUNAMI :Biasanya diukur pada catatan ketinggian permukaan laut, yaitu: 1) nilai mutlak dari selisih antara satu puncak atau palungan tertentu dari tsunami dan tinggi permukaan air laut yang tenang pada waktu pengukuran, dan; (2) setengah dari selisih antara puncak dan palungan yang berdekatan, kemudian dikoreksi untuk perubahan pasang surut antara puncak dan palungan itu. Ini dimaksudkan untuk menampilkan amplitudo sebenarnya dari gelombang tsunami pada titik tertentu di lautan. INTENSITAS TSUNAMI :Ukuran dari tsunami yang didasarkan pada pengamatan makroskopis terhadap dampak tsunami terhadap manusia, benda-benda termasuk kapal laut berbagai ukuran, dan pada bangunan. BESARAN TSUNAMI :Ukuran tsunami berdasarkan pada ukuran gelombang tsunami dari alat pengukur tinggi permukaan laut serta alat-alat lainnya.Skala tersebut, semula bersifat deskriptif dan lebih menyerupai suatu intensitas; yaitu menjumlahkan ukuran dengan menggunakan ukuran-ukuran ketinggian gelombang atau kenaikan air tsunami. PERIODE TSUNAMI :Jumlah waktu yang dibutuhkan oleh gelombang tsunami untuk melengkapi satu siklus. Periode-periode tsunami umumnya berkisar sekitar dari lima menit sampai dua jam. PANJANG GELOMBANG TSUNAMI :Jarak horisontal antara titik-titik serupa pada dua gelombang berturut yang diukur tegak lurus terhadap puncaknya. Panjang gelombang dan periode tsunami memberi informasi tentang sumber tsunami. Untuk tsunami yang dihasilkan oleh gempa bumi, panjang gelombangnya umumnya berkisar dari 20 sampai 300 km. Sedangkan untuk tsunami yang diakibatkan oleh tanah longsor, panjang gelombangnya jauh lebih pendek, berkisar dari beberapa ratus meter sampai berpuluh-puluh kilometer. TINGKAT AIR LAUT RATA RATA (MSL) :Tinggi rata-rata permukaan laut, berdasarkan pengamatan setiap jam terhadap ketinggian pasang pada pantai terbuka atau air sekitarnya yang memiliki Geoid. Sistem kontrol geodetik vertikal penting ini dimungkinkan oleh tinggi muka air laut rujukan yang diterima secara universal. PASANG SURUT : Naik turunnya permukaan (atau tinggi muka air) lautan secara berirama dan berselang-seling, serta merupakan suatu kumpulan air yang berhubungan dengan lautan seperti muara dan teluk, terjadi dua kali sehari hampir diseluruh bagian bumi dan disebabkan oleh gravitasi bulan dan matahari yang bertindak tidak sama untuk setiap bagian belahan bumi.. 9.

(29)

(30) BAHAYA TSUNAMI DAN POTENSI DAMPAKNYA. 10.

(31) Bahaya Tsunami Dan Potensi Dampaknya. BAB 2 BAHAYA TSUNAMI DAN POTENSI DAMPAKNYA 2. BAHAYA TSUNAMI DAN POTENSI DAMPAKNYA 2.1. Pembangkitan, Penjalaran, dan Rendaman Tsunami. 2.1.1. Tsunami dan Proses Pembangkitan Tsunami. Tsunami adalah gelombang pelabuhan, berasal dari bahasa Jepang yang terdiri dari suku kata “tsu” (gelombang) dan “nami” (pelabuhan). Istilah tsunami pertama kali diungkapkan olehpara nelayanyang pulangdari melaut dan menemukan daerah di sekitar pelabuhan hancur berantakan. Timbulnya tsunami secara alamiah disebabkan oleh adanya deformasi dasar laut, atau perubahan badan air, atau permukaan air yang terjadi secara tiba-tiba dan impulsif. Perubahan ini disebabkan oleh gempabumi, erupsi gunung api dan longsoran bawah laut, atau akibat terjangan benda angkasa luar ke permukaan laut. Tsunami yang dibangkitkan oleh gempabumi umumnya berasosiasi dengan patahan yang bergerak vertikal (dip-slip), sehingga menyebabkan pergerakan dasar laut secara vertikal yang cukup besar. Umumnya energi utama tsunami yang dihasilkan akan menjalar tegak lurus terhadap bidang patahan gempabuminya. Gempabumi pembangkit tsunami biasanya mempunyai kedalaman kurang dari 60 km dan mempunyai momen magnitudo (Mw) lebih besar dari 6,5. Besarnya tsunami akibat gempabumi berkaitan erat dengan magnitudo gempabumi, dimensi dan mekanisme patahan gempabumi, lokasi dan kedalaman sumber gempabumi. Tsunami yang sangat besar dan memiliki dampak luas biasanya berkaitan dengan panjang patahan dari beberapa ratus kilometer sampai lebih dari 1000 km, sebagaicontoh adalah Tsunami Aceh 2004 memiliki panjang patahan hingga sekitar 1200 km dengan lebar sekitar 200 km. Tsunami bergerak keluar dari daerah pembangkitan tsunami dengan kecepatan penjalaran bergantung kedalaman perairan. Tsunami mampu bergerak dengan kecepatan 500-1.000 km per jam di perairan dalam, kemudian kecepatannya melambat hingga beberapa puluh kilometer per jam di perairan dangkal. Muka dan energi gelombang dapat berubah dalam penjalaran dan penyebarannya ke seluruh arah. Perubahan energi bisa terfokus (convergen)atau menyebar (divergen)di wilayah tertentu mengikuti kaidah penjalaran gelombang perairan dangkal seperti proses pendangkalan (shoaling), refraksi, difraksi dan refleksi. Ketinggian tsunami juga bergantung pada kedalaman perairan.Gelombang tsunami yang hanya memiliki ketinggian beberapa meter di perairan dalam, dapat mencapaipuluhan. 11.

(32) Bahaya Tsunami Dan Potensi Dampaknya. meter di wilayah pesisir.Gambar 2.1 menunjukkan modelpenjalaran Tsunami Aceh 2004 (Latief, dkk, 2006).. Gambar 2.1Penjalaran Tsunami Aceh 2004 dimana tsunami bersumber jauh bagi daerah India dan Srilanka tetapi tsunami lokal bagi Banda Aceh (Latief, dkk, 2006).. Tsunami yang dibangkitkan oleh letusan gunung api(tsunami volkanik) terjadi karena adanya aliran piroklastik ke badan air, ledakan dasar laut dan runtuhan kaldera. Proses lain yang teridentifikasi adalah longsoran batuan beku, limpasan basal, gelombang kejut, lahar panas yang mengenai air, gelombang udara yang terkait dengan ledakan besar serta aliran lava. Efisiensi pembentukan tsunami bergantung pada jumlah air yang dipindahkan serta arah perpindahannya, luas kaldera, dan durasi gangguan. Saat gelombang besar telah dihasilkan, efisiensi dari energi ledakan dikonversi menjadi energi tsunami. Tsunami volkanik biasanya dibangkitkan di daerah sumber yang sangat terbatas dan sangat kecil dibandingkan sumber tsunami yang dibangkitkan oleh gempabumi. Sumber yang kecil mengakibatkan volume air yang dipindahkan juga kecil. Panjang gelombangnya umumnya lebih pendek dibandingkan dengan panjang gelombang tsunami yang dibangkitkan oleh gempabumi besar, sebagai contoh model tsunami Krakatau 1883 dengan skenario runtuhan kaldera yang dimodelkan oleh Latief dan Gusman (2003) seperti pada Gambar 2.2.. 12.

(33) Bahaya Tsunami Dan Potensi Dampaknya. Gambar 2.2Model tsunami Krakatau 1883 (Latief and Gusman, 2003).. Tsunamiyang dibangkitkan oleh pergerakan massa (longsoran)tanah merupakan longsoran di darat yang menerpa badan air atau longsoran di bawah laut dapat membangkitkan tsunami jika jumlah massa yang berpindah cukup besar dan cepat. Pergerakan massa ini dapat dipicu oleh gempabumi, badai atau gangguan alami lainnya seperti curah hujan. Longsoran di bawah laut yang dipicu oleh gempabumi yang terjadi di Riangkroko (Tsunami Flores1992) menimbulkan tinggi rayapan tsunami mencapai 18,426,2 m, padahal rata-rata tsunami hanya berkisar 5-7m seperti yang diperlihatkan pada Gambar 2.3. Tanda bintang pada gambar ini menandakan lokasi longsoran di Teluk Hading dengan tinggi tsunami mencapai 18,4-26,2m.. Gambar 2.3Hasil pengukuran tinggi rayapan tsunami di bagian timur Pulau Flores (Tsuji,dkk, 1993).. 13.

(34) Bahaya Tsunami Dan Potensi Dampaknya. 2.1.2. Penjalaran dan Fenomena Tsunami di Pantai Dalam studi penjalaran tsunami,lokasi potensi sumber tsunami terhadap daerah tinjauan sangat perlu untuk dikaji sehngga dapat diketahui bahwa potensi tsunaminya berasal dari sumber jauh atau tsunami jauh (far-field tsunami), yang posisi sumbernya dibangkitkan di suatu lokasi yang jauh dan bergerak melintasi samudera serta melewati pinggiran paparan benua, tsunami regional (regional tsunami) dan tsunami Lokal (near field tsunami) yang posisi sumber tsunaminya dibangkitkan di dalam paparan benua dari wilayah yang ditinjau. Tsunami jauh memiliki jarak tempuh lebih dari 1.000 km dengan waktu tempuh lebih dari 2 jam. Jenis tsunami ini jarang terjadi, namun bila terjadi akan menimbulkan dampak yang sangat besar. Biasanya bermula sebagai tsunami lokal yang menyebabkan kehancuran besar di dekat sumbernya, lalu menjalar melintasi samudra dengan energi yang cukup besar sampai menimbulkan korban dan kehancuran di pantai-pantai yang letaknya lebih dari 1.000 km dari sumber, sepertiTsunami Aceh 2004 dan Tsunami Tohoku, Jepang 2011.Tsunami regional adalah tsunami yang dapat menghancurkan suatu wilayah geografis tertentu, umumnya dalam radius 1.000 km dari sumbernya dengan waktu tempuh antara 30 menit sampai dengan 2 jam. Sedangkan tsunami lokal muncul dari sumber yang letaknya tidak jauh dan dampak merusaknya terbatas hanya pada pantai dalam radius 100 km dari sumber dengan waktu tempuh kurang dari 30 menit. Tsunami lokal biasanya timbul karena gempabumi tetapi dapat pula disebabkan oleh tanah longsor atau aliran lahar vulkanik dari letusan gunung api. Beberapa fenomena tsunami yang teramati di pantai, seperti: tsunami forerunners berupa riak-riak gelombang hasil respon dari goncangan gempabumi, penarikan muka air laut (initial withdrawal of water), tsunami yang bergerak seperti dinding air (tsunami bore) dan diikuti oleh undulasi kedua (secondary undulation)hasil dari superposisi atau refleksi gelombang. Fenomena ini biasanya terlihat dari hasil rekaman muka air dari stasiun pasang surut. Umumnya tsunami terbesar terjadi pada 10 gelombang pertama, sebagai contoh beberapa kejadian tsunami di Indonesia, seperti Tsunami Banyuwangi 1994, Tsunami Biak 1996, Tsunami Aceh 2004 dan Tsunami Pangandaran 2006. Gelombang terbesar terjadi pada gelombang ke-2. Tsunami utama diikuti oleh gelombang-gelombang yang lebih kecil yang disebabkan efek resonansi oleh teluk serta dapat menimbulkan pusaran-pusaran seperti terlihat pada Gambar 2.4.. 14.

(35) Bahaya Tsunami Dan Potensi Dampaknya. Gambar 2.4Pusaran air yang dihasilkan oleh interaksi gelombang tsunami ketika di pantai,Sri Lanka 26 Desember 2004 danPelabuhan Aorai, Jepang oleh Tsunami Tohoku 2011 (foto kiri, Digital Globe-UNESCO, 2007 dan foto kanan, Sumber: internet).. 2.1.3. Rendaman Gelombang Tsunami Tsunami yang menerpa pantai akan menimbulkan potensi bahaya. Tingkat bahaya bergantung pada tinggi tsunami yang datang sertakondisi morfologi pantai yang didatanginya. Tingkat bahaya tsunami dinilai berdasarkan tinggi rayapan dan luas rendaman, diukur dari suatu titik acuan. Titik acuan yang digunakan biasanya adalah tinggi muka air laut ketika tsunami datang. Tsunami yang melintasi paparan benua akan terurai menjadi beberapa deretan gelombang soliter. Gelombang soliter ini dapat berupa gelombang pecah atau gelombang tidak pecah saat mencapai pantai. Gelombang tidak pecah akan mencapai ketinggian rayapan (run-up) maksimum di pantai mendekati ketinggian yang sama dengan amplitudo gelombang maksimum ketika gelombang mendekati daratan. Pada kemiringan pantai yang lebih terjal, rayapan tsunami akan menjadi lebih tinggi. Elevasi maksimum rayapan bergantung pada tinggi muka laut (level pasut), artinya tsunami kecil yang terjadi pada saat pasang tinggi dapat menjangkau elevasi yang lebih tinggi dibandingkan dengan tsunami yang lebih besar yang tiba pada saat surut terendah, oleh sebab itu kondisi pasut sangat penting untuk dikaji dan dipertimbangkan dalam menganalisis tinggi jangkauan rayapan tsunami di suatu wilayah.Gambar 2.5 memperlihatkan pemodelan rendaman Tsunami Aceh 2004 di Kota Banda Aceh (Latief, dkk., 2008).. 15.

(36) Bahaya Tsunami Dan Potensi Dampaknya. Gambar 2.5Pemodelan rendaman Tsunami Aceh 2004 di Banda Aceh (Latief, dkk, 2008). 2.2. Dampak Tsunami Terhadap Bangunan Beberapa kasus memperlihatkan bahwa tsunami hanya menghasilkan banjir yang tidak berbahaya dan bergerak masuk ke daratan seperti air pasang yang cepat. Sementara pada kasus lainnya, tsunami masuk ke daratan menyerupai sebuah dinding vertikal yang bergolak dan membawa puing-puing yang dapat membunuh dan menghancurkan bangunan atau lahan yang dilaluinya. Kerusakan yang ditimbulkannya merupakan hasil langsung dari tiga faktor yaitu banjir dengan arus yang sangat kuat, impak gelombang terhadap struktur, dan erosi. Sementara korban jiwa terjadi karena tenggelam. Korban yang selamat mengalami luka-luka dan trauma akibat terjebak dalam golakan tsunami. Arus kuat tsunami menyebabkan terjadinya erosi pada fondasi menyebabkan rubuhnya jembatan dan tembok laut. Tekanan gelombang tsunami juga dapat merubuhkan struktur bangunan dan struktur lainnya serta menyeret rumah dan kendaraan.Potensi kerusakan menjadi lebih parah bila arus ikut membawa benda-benda terapung, seperti kapal, mobil,pohon yang tercerabut, dan benda-benda lainnya saat menghantam gedung, dermaga, meskipun tsunaminya relatif kecil. Bahaya ikutan yang sering timbul adalah kebakaran, biasanya api berasal dari tumpahan minyak dari kapal yang hancur di pelabuhan, pecahnya fasilitaskilang atau penyimpananminyak, pembangkit listrik (tenaga nuklir atau disel) yang berada di dekat pantai.Bahaya ikutan ini terkadang menyebabkan kerusakan yang lebih parah dari dampak langsung tsunami. Bahaya lain yang biasanya menyusul adalah pencemaran dari buangan domestik dan bahan kimia. Kekhawatiran lain adalah saat air surut akan mengurangi atau menghentikan suplai air pendingin pada pembangkit listrik sehingga berpotensi untuk blow out. Salah satu cara untuk mengkuantifikasi tingkat kekuatan tsunami yaitu dengan menggunakan skala intensitas yang diusulkan oleh Papadopoulos dan Imamura (2001), seperti yang disajikan pada (Tabel 2.1).. 16.

(37) Bahaya Tsunami Dan Potensi Dampaknya. Skala intensitas ini disusun berdasarkan tinggi tsunami itu sendiri dandampak yang ditimbulkannya seperti efek terhadap manusia dan obyek-obyek yang ada di pantai (misal: perahu, kapal, dan kendaraan lainnya)serta kerusakan pada bangunan.. Tabel 2.1Skala intensitas tsunami Skala. Indikasi. Keterangan. I. Not felt(tidak terasa). II. Scarcely felt(hampir terasa). Tsunami dirasakan oleh sedikit orang di perahu kecil dan tidak teramati di pantai, tidak terasa pengaruhnya, tidak merusak.. III. Weak(lemah). Tsunami dirasakan oleh sedikit orang di perahu kecil dan teramati oleh beberapa orang di pantai, tidak terasa pengaruhnya, tidak menimbulkan kerusakan.. Largely observed(sebagian. Tsunami dirasakan oleh semua perahu kecil dan terasa oleh beberapa orang di kapal besar, beberapa kapal kecil terbawa ke arah pantai, tidak terjadi kerusakan. IV. besar teramati). V.. Strong (kuat),tinggi gelombang 1meter. VI. Slightly damaging(Sedikit merusak),tinggi gelombang 2 meter. Tsunami terasa oleh semua kapal besar dan terlihat di pantai. Beberapa orang menyelamatkan diri ke tempat yang lebih tinggi. Banyak perahu kecil yang bertubrukan dan kandas di pantai, terlihat jejak lapisan pasir di tanah dan terlihat rendaman kecil. Terlihat banjir di fasilitas terbuka seperti kebun/ taman di struktur dekat pantai Banyak orang ketakutan dan lari ke tempat yang lebih tinggi. Banyak perahu kecil yang kandas di pantai dan bertabrakan satu dengan yang lain. Kerusakan terjadipada beberapa struktur kayu.. VII. Damaging(Merusak),tinggi gelombang 4meter. Banyak orang ketakutan dan lari ke tempat yang lebih tinggi. Banyak perahu kecil rusak. Beberapa kapal besar hanyut, obyek dengan berbagai ukuran hanyut. Lapisan pasir dan dan akumlasi kerikil tebawa ke darat. Beberapa karamba budidaya/aquakultur hanyut terbawa ombak.Banyak bangunan kayu yang rusak, beberapa diantaranya hancur atau tersapu. Kerusakan pada tingkat 1 dan banjir pada sebagian gedung.. VIII. Heavily damaging(Rusak. Semua orang menyelamatkan diri ke tempat yang lebih tinggi, beberapa di antaranya hanyut terbawa gelombang. Sebagian besar kapal kecil rusak dan yang lainnya hanyut tersapu gelombang. Beberapa kapal besar terdampar di darat dan rusak. Benda benda berukuran besar terbawa sampai ke darat. Erosi terjadi sepanjang pantai. Terjadi rendaman dalam skala luas. Kerusakan pada hutan pantai, karamba apung untuk akuakultur hanyut dan sebagian rusak. Sebagian besar bangunan kayu tersapu atau rusak. Kerusakan pada beberapa gedung tingkat dua. Sebagian beton bertulang rusak pada tingkat 1 dan terlihat adanya rendaman.. berat), tinggi gelombang 6meter. IX. Destructive(Merusak), tinggi gelombang 8 meter. X. Very destructive (Sangat Merusak), tinggi gelombang 10 meter. Banyak orang tersapu gelombang. Sebagian besar perahu kecil hancur atau tersapu gelombang. Sebagian besar kapal besar kandas dan beberapa diantaranya hancur. Terjadi erosi di pantai dalam skala yang lebih luas. Terlihat penurunan tanah secara lokal. Kehancuran pada sebagian hutan pantai. Sebagian besar karamba akuakultur tersapu, sebagian besar rusak.Kerusakan tingkat 3 pada gedung, beberapa bangunan beton bertulang rusak pada level 2. Terjadi kepanikan pada massa sebagian besar orang tersapu gelombang. Sebagian besar kapal besar terbawa ke pantai, sebagian besar hancur dan menghantam gedung. Bongkahan kecil dari dasar laut terbawa gelombang ke darat. Mobil hanyut oleh gelombang. Terjadi tumpahan minyak, kebakaran mulai terjadi. Penurunan muka tanah terjadi dalam skala yang lebih. 17.

(38) Bahaya Tsunami Dan Potensi Dampaknya. Skala. Indikasi. Keterangan luas.Kerusakan level 4 pada banyak gedung, sebagian kecil beton bertulang mengalami kerusakan pada level 3. Breakwater mengalami kerusakan.. XI. Devastating(Menghancurkan), tinggi gelombang 16 meter. XII. Completely devastating (Sangat dahsyat), tinggi gelombang 32 meter. Kerusakan pada lifelines. Kebakaran meluas. Arus balik (backwash) membawa mobil dan obyek lain ke laut. Bongkahan besar dari dasar laut terbawa ke darat.Kerusakan level 5 pada gedung. Sebagian kecil beton bertulang mengalami kerusakan level 4 dan sebagian besar mengalami kerusakan level 3. Semua gedung praktis hancur dan sebagian besar gedung beton bertulang mengalami kerusakan paling tidak level 3.. (sumber: Papadopoulos dan Imamura, 2001). 2.2.1. Sejarah Dampak Bencana Tsunami Berdasarkan hasil kajian dampak tsunami yang dilakukan oleh Yeah dkk, (2005)dalam FEMA P-646 (2012), menyatakan bahwa dampak kerusakan yang terjadi di suatu wilayahterkena tsunamisangat bergantung pada jenis konstruksi dan tinggi tsunamiserta kedalaman aliran (flow depth). Sejarah dampak tsunami memperlihatkan bahwastruktur rangka kayu mengalami kerusakan lebih parah dibandingkan dengan struktur rangka beton bertulang atau struktur rangka baja. Tsunami dengan kedalaman 2meter berpotensi menimbulkan kerusakan berat pada bangunan, bahkan sudah dapat menghancurkannya, sedangkan untuk kedalaman aliran lebih dari 6 meter dipastikan terjadi kehancuran total (Koshimura, 2012).Tingkat kerusakan dari berbagai jenis struktur bangunan (beton bertulang, pasangan bata, dan konstruksi kayu) terhadap tinggi tsunami seperti disajikan pada Gambar 2.6 (FEMA P-646, 2012), sedangkanprobabilitis kerusakan bangunan terhadap kedalaman aliran, kecepatan arus dan gaya hodrodinamisberdasarkan data yang dikumpulkan di Banda Aceh akibat hantaman Tsunami Aceh 2004 dapat dilihat pada Gambar 2.7(Koshimura dkk, 2009).. 18.

(39) Bahaya Tsunami Dan Potensi Dampaknya. Gambar 2.6Tingkat kerusakan bangunan terhadapketinggian tsunami (diadaptasi dari Shuto, 1994 Yeh, dkk., 2005 dalam FEMA P-646, 2012).. Gambar 2.7Probabilitas kerusakan terhadap kedalaman aliran, kecepatan arus dan gaya hidrodinamis (Koshimura dkk, 2009).. Berdasarkan kajian para peniliti sebelumnya (FEMA P-646, 2012) memperlihatkan beberapa contoh kasus kerusakan yang terjadi pada bangunan, baik yang berstruktur. 19.

(40) Bahaya Tsunami Dan Potensi Dampaknya. beton maupun kerangka kayu, serta analisis gaya-gaya dan parameter tsunami sebagai penyebabnya. Pada Gambar 2.8terlihat bahwa sebuahbangunanmercusuar di Tanjung Scotch, Pulau Unimak yang terbuat dari beton mengalami kehancuran total.Bangunan ini diterjang oleh Tsunami Aleutian tahun 1946. Kehancuran ini menimbulkan pertanyaan bahwa seberapa kuatbangunan mercusuar tersebut dan seberapa besar gaya gelombang tsunami yang menerpanya? Ada kemungkinan bahwa kehancuran disebabkan oleh gelombangyang menerjang langsung ke struktur yang terletak persis di tepi pantai.Tipe gelombang ini berupa gelombang pecah”collapsing”, yaitu salah satu klasifikasi gelombang pecah yang sering digunakan dalam rekayasa pantai (Weigel,1964, dalam FEMA P-646, 2012) yang terjadi di pantai bertebing.. Gambar 2.8Mercusuar Tanjung Scotch hancur oleh Tsunami Aleutian 1946 (FEMA P-646, 2012). Tsunami Okushiri 1993 meluluhlantakkan seluruh Desa Aonae, bagian selatan Pulau Okushiri, Jepang seperti yang terlihat pada Gambar 2.9,dimanapuing-puing sisa hantaman tsunami dan sisa kebakaran (foto kiri) yangumumnya terdiri dari rumah-rumah kayu tersapu oleh tsunami dan menyisakanpondasi beton (foto kanan).. Gambar 2.9Perumahan berkonstruksi kayu hancurtotal di desa Aonae, Pulau Okushiri, oleh Tsunami Okushiri, Jepang 1993 (FEMA P646, 2008).. 20.

(41) Bahaya Tsunami Dan Potensi Dampaknya. Kajadian Tsunami Nikaragua 1992 memberikan contoh lain dari variasi kinerja struktur yang berbeda, disini diperlihatkan 3 contoh rumah yang dibangun di atas pantai berpasir dengan jarak ketiganya kurang dari 200 meter. Gambar 2.10menunjukkan erosi dan gerusan sangat parah,menyebabkan kerusakan total pada sebuah rumah berlantai satu yang dibangun dengan konstruksi bata (kiri), dan bangunan rumah panggung dari konstruksi kayu serta bangunan struktur batu yang bertahan (kanan).. Gambar 2.10Rumah-rumah pantai dengan berbagai tingkat kerusakan di El Popoyo, Nikaragua akibat Tsunami Nikaragua1992. Ketiga rumah saling berdekatan (FEMA P-646, 2012).. Ambruknya bangunan juga teramati oleh hantamanbenda-benda terapung yang terbawa oleh air dengan kecepatan yang signifikan. Contoh dari kerusakan semacam ini yang disebabkan oleh Tsunami Okushiri 1993 seperti yang disajikan pada Gambar 2.11. Dalam kasus ini benda yang terbawa arus tsunami berupa puing-puing rumah, perahu nelayan yang terlepas dari tambatannya, serta kendaraan. Puing-puing yang terbawa air ini biasanya mengumpul didepanstruktur bangunan yang menghalanginya.Kemudian menciptakan penghalang atau pembendunganarus tsunami yang secara signifikan dapat meningkatkankekuatan hidrolik yang menerpa bangunan penghalang tersebut.. 21.

(42) Bahaya Tsunami Dan Potensi Dampaknya. Gambar 2.11Kerusakan yang disebabkan oleh dampak dari puing-puing yang terbawa air di Aonae, Jepang oleh Tsunami Okushiri 1993, (Foto milik J. Preuss,FEMA P-646, 2012).. Berbeda dengan kegagalan akibat tsunami yang dijelaskan di atas, ada beberapa struktur yang tetap bertahan, dua diantaranya ditunjukkan pada Gambar 2.12. Keduanya berupa bangunan berlantai dua dengan struktur beton bertulangdimana keduanya tergenang oleh air tidak kurang dari 3 meter oleh Tsunami Okishiri 1993.. Gambar 2.12Bangunan struktur beton bertulang yang selamat dari Tsunami 1993 Okushiri: vista house di Cape Inaho (kiri), dan pasar ikan di Aonae (kanan) (Foto milik N. ShutoFEMA P-646, 2012).. 2.2.2. Pembelajarandari Kejadian Bencana Tsunami Aceh 2004 Kerusakan yang teramati akibat Tsunami Aceh 2004 mempertegas hasil pengamatan sejarahdampak tsunami yang diuraikan sebelumnya. Kemudianjuga memberikan bukti baru tentang efek yang diamati. Gambar 2.13 menunjukkan sebuah rumah batu di Devanaanpattinam, India, yang mengalami kerusakan pada pondasikarenatidak memiliki perkuatan.Pondasi inimengalami gerusan parah dan dinding belakang robohakibat tekanan hidrolik darialiran air yang adadi dalam rumah,jenis kerusakan seperti ini biasa ditemukan pada bangunan pasangan bata(FEMA P-646, 2012).. Gambar 2.13Rumah pasangan bata di pantai yang rusak di Devanaanpattinam, India oleh Tsunami Aceh 2004 (FEMA P-646, 2012).. 22.

(43) Bahaya Tsunami Dan Potensi Dampaknya. Seperti yang diamati pada kejadian dampak tsunami di masa lalu, terlihat bahwa bangunan yang direkayasa dengan baik mampu bertahandari terjangan tsunami seperti yang terlihat di Kota Banda Aceh. Dalam beberapa kasus, terjadi kerusakanelemen struktural di lantai bawah, namun tidak terjadi kerusakan di lantai atas. Beberapa contoh bangunanyang bertahandi kota Banda Aceh seperti terlihatpada Gambar 2.14.Kedalaman rendaman di sekitar bangunan tersebut berkisar 6-7 meter dan bangunan-bangunan disekitarnya hancur. Bangunan-bangunan tersebutmengalamikerusakan yang signifikan namun masih tetap berdiri.. Gambar 2.14Bangunanbeton bertulang yang bertahan di Banda Aceh.. Beberapa bangunan yang bertahan disebabkan oleh dinding di lantai dasar relatif terbuka, sehingga tekanan air dapat menerobos pintu dan jendela sehingga mengurangi beban dari gaya-gaya yang menerpa struktur, menyebabkan kerusakan struktural tidak terlalu parah, seperti bangunan-bangunan mesjid yang ada di Banda Aceh (Gambar 2.15).. Gambar 2.15Bangunanmesjid yang bertahan di Banda Aceh karena dindingnya cukup terbuka.. 23.

(44) Bahaya Tsunami Dan Potensi Dampaknya. Tsunami Aceh 2004 memberikan bukti tambahan mengenai efek dari puing-puing yang terbawa oleh air yang menabrak elemen struktur seperti perahu nelayan dan kendaraan (Gambar 2.16).. Gambar 2.16Puing-puing yang terbawa oleh air dari Tsunami Aceh 2004 (Foto: Antara).. Kerusakan elemen struktur pada bangunan beton bertulang yang tidak direkayasa (nonengginered building) disebabkan oleh hantamanpuing-puing tersebut (Gambar 2.17). Contoh lain adalah terjadinya pembendungan dari puing-puing mengakibatkan tekanan terhadap struktur menjadi lebih besar dan menyebabkan kerusakanpada elemen struktur(Gambar 2.18).. Gambar 2.17Kerusakan kolom beton yang tidak direkayasa baik, akibat hantaman puing-puing. (Foto courtesy of M. Saatcioglu, A. Ghobarah dan I. Nistor, CAEE, 2005).. 24.

(45) Bahaya Tsunami Dan Potensi Dampaknya. Gambar 2.18Kerusakan kolom sudut akibat pembendungan puing-puing.. Contoh lain darikerusakan bangunan yang teramati adalah gerusan dan erosi di sekitar pondasi sehingga pondasi dangkal jadi tergantung seperti yang diperlihatkan pada Gambar 2.19. Dari data hasil observasi yang dikumpulkan oleh tim survei didapatkan bahwa maksimum kedalaman gerusan mencapai 3meter di Khao Lak, Thailand.. D4 Gambar 2.19Gerusan di sekitar kaki-kaki pondasi di daerah Khao Lak (Dalrymple and Kriebel, 2005 dalam FEMA P-646, 2012).. Kegagalan struktur lainnya yang ditemukan adalah terangkatnya panel beton pracetak di bangunan dan dermaga (Gambar 2.20), akibat gaya angkat yang cukup besar yang mampu mengangkat panel beton dan terlepas dari struktur pendukungnya. Kegagalan ini tidak hanya disebabkan oleh efek gaya apung saja, yang mengurangi kekuatan gaya gravitasi namun juga akibat dari volume air yang dipindahkan secara vertikal akibat elevasi air yang naik.. 25.

(46) Bahaya Tsunami Dan Potensi Dampaknya. Gambar 2.20Kerusakan panel lantai beton pracetak di dermaga pelabuhan. (Foto milik M. Saatcioglu, A. Ghobarah dan I. Nistor, CAEE, 2005).. Kurangnya kemampuanbangunan yang cukup memadai terhadap goncangan gempabumiberkekuatan Momen Magnitudo 9,3 menyebabkan sejumlah bangunan bertingkat yang menggunakan struktur beton bertulang menjadi runtuh di Banda Aceh dan daerah-daerah di dekat pusatgempabumi (Gambar 2.21). Bangunan ini runtuh sebelum terjadi rendamantsunami, oleh sebab itu sangat penting untuk menyiapkan bangunan tahan gempa yang memadai selain tahan terhadap gaya-gaya tsunami bila lokasi bangunan tersebut berpotensi terkena kedua bahaya tersebut.. Gambar 2.21Beberapa bagian dari struktur bangunan roboh sebelum terlanda tsunami.. 26.

(47) Bahaya Tsunami Dan Potensi Dampaknya. 2.2.3. Pembelajarandari Kejadian Bencana Tsunami Tohoku Jepang 2011 2.2.3.1 Kerusakan dari Dampak Tsunami Tohoku Jepang 2011 Berdasarkan laporan hasil survei yang disampaikan oleh Koshimura (2012) diketahui bahwa: i. Luas daerah rendaman mencapai 561 km2 sepanjang pantai Tohoku Jepang; ii. Jumlah korban meninggal adalah 15.850 orang, dan 3.281 masih hilang, lebih dari 90% akibat tenggelam, dan 60% diantaranya berumur diatas 60 tahun; iii. Jumlah bangunan atau rumah yang hancur atau ambruk tersapu tsunami mencapai 128.251; iv. Jumlah puing-puing (debris) mencapai 23 juta ton; v. Kerugian ekonomi mencapai 16 sd 25 milyar yen atau ¼ dari APBN Jepang. Kerusakan yang timbul akibat Tsunami Tohoku Jepang 2011 secara umum hampir sama dengan kerusakan yang disebabkan oleh Tsunami Aceh 2004, atau pada kerusakan akibat tsunami-tsunami sebelumnya seperti: i. Tersapunya bangunan-bangunan dari konstruksi kayu dan hanya menyisakan fondasinya seperti yang diperlihatkan pada Gambar 2.22; ii. Bangunan yang terbuat dari struktur beton masih berdiri tegak dengan baik, demikan juga dengan bangunan dari rangka baja. Namun elemen-elemen nonstruktural hancur oleh terpaan tsunami dengan tinggi lebih dari 10 meterseperti yang diperlihatkan pada Gambar 2.23; iii. Daya rusak tsunami makin tinggi disebabkan oleh banyaknya puing-puing bangunan serta benda-benda terapung lainnya seperti: mobil, bus gerbong kereta api dan kapal seperti yang diperlihatkan pada Gambar 2.24; iv. Jebolnya dinding beton bertulang akibat gaya horizontal dari arus tsunami serta terangkatnya lantai bangunan akibat gaya apung, karena air terjebak dalam ruangan seperti yang diperlihatkan pada Gambar 2.25; v. Bangunan yang terguling karena pondasi tiang pancang terangkat (tercabut) akibat daya cengkram pasir yang menurun karena terjadi likuifaksi seperti yang diperlihatkan pada Gambar 2.26; vi. Dampak turunan berupa kebakaran dan meledaknya pembangkit listrik tenaga nuklir di Fukushima seperti yang diperlihatkan pada Gambar 2.27.. 27.

(48) Bahaya Tsunami Dan Potensi Dampaknya. Gambar 2.22Bangunan kerangka baja dan beton masih utuh namun elemen-elemen non struktural hancur (sumber Foto Otani,2012).. Gambar 2.23Puing-puing rumah kayu serta kendaraan yang terbawa oleh tsunami (sumber Foto: Otani,2012).. 28.

(49) Bahaya Tsunami Dan Potensi Dampaknya. Gambar 2.24Dinding beton bertulang yang rusak serta lantai bangunan yang terangkat (sumber Foto: Otani,2012).. Foto: Koshimura. Foto: DimitriosLignos. Gambar 2.25Beberapa struktur ambruk akibat liquifaksi dan erosi akibat landaan tsunami. Gambar 2.26Bangunan kerangka baja dengan pondasi tiang pancang yang tercabut (sumber Foto: Otani,2012).. 29.

(50) Bahaya Tsunami Dan Potensi Dampaknya. Ledakan Pembangkit listrik tenaga nuklir di Fukushima. Kebakaran rumah di Sendai. Kebakaran kilang minyak di Ichihara,Chiba. Kebakaran rumah di Yamada. Gambar 2.27Dampak turunan berupa kebakaran di beberapa tempat dan meledaknya reaktor nuklir di Fukushima (sumber Foto: Otani,2012). 2.2.3.2 Pelajaran dari Tsunami Tohoku, Jepang 2011dalam MemperkirakanTingkat Bahaya Pelajaran yang sangat berharga yang kita dapatkan dari kejadian Tsunami Tohoku Jepang 2011 (GoJ, 2011) yaitu bagiamana cara memperkirakantingkat bahayagempabumi dan tsunami, dalam hal ini pembuatan peta bahaya tsunami, serta pengembangan skenario kerusakan berdasarkan pengetahuan tingkat bahaya yang dimiliki. Jepang menghadapi kenyataan bahwa asumsi gempabumi dan tsunami prabencana yang diperkirakan terjadi di pesisir Tohoku jauh lebih kecil dari kejadian sebenarnya, sehingga kerusakan sangat melebihi perkiraan prabencana seperti diuraikan pada Bab 2.2.3.1di atas. Oleh karena itu kita harus melakukan kajian mendasar dalam memilih skenario. 30.

Referensi

Dokumen terkait

Dimana sistem informasi peta beban listrik fakultas teknik Universitas Diponegoro Tembalang Semarang ini juga akan memberikan data jumlah beban, kapasitas daya, kapasitas