Jurnal Tingkat Sarjana Bidang Seni Rupa
MENCARI PUNK INDONESIA
Pandu Rahadya Utama
Dr. Agung Hujatnika, M.sn
Program Studi Sarjana Seni Rupa Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ITB
Email: [email protected]
Kata Kunci : punk, gaya, video, subkultur, visual
Abstrak
Punk merupakan sebuah subkultur yang berakar dari kemauan para individu dengan satu kesamaan, dimana suatu
keterasingan dijadikan kesepakatan dalam melakukan oposisi terhadap sistem atau kondisi “normal” dalam masyarakat. Identifikasi pemberontak sering pada awalnya menjadi citra pada awal kelahiran punk, namun dalam aplikasinya kini anak muda dengan statement punk dalam gaya hidupnya tidak lagi menggubris akar serta asal-usul subkultur ini sendiri, punk dan relevansinya sudah tergeser menjadi sekedar artian fesyen dan musik semata. Gagasan ini kemudian divisualisasikan dalam bentuk instalasi seni video berisikan simbolisasi visual dari subkultur punk sendiri, disertai satir-satir yang menceritakan pergeseran definisinya. Berdasarkan konteks tersebut, pengkaryaan ini diajukan dengan harapan mampu mengangkat skena punk di Indonesia, perbaurannya dengan budaya lokal serta memberikan tampilan terkini akan subkultur itu sendiri dalam apropriasinya di Indonesia.
Abstract
Punk has always been a subculture that comes from the will of common individuals, with one same purpose of which is to divide themselves from others inside the main stream, a condition considered as normal to most people, the system that runs the society. Rebellion has been a strong identification in the birth era of punk, although now the application of this particular subculture has gone through many changes such as the lost of importance inside its roots, and having punk statements inside the youngsters lifestyles, fashion and music is all that matters. This idea is later visualized inside a video art installation containing symbols and visuals of the punk subculture itself, together with satires surrounding the redefinition phenomena. Together with such context, this work is applied in hopes of bringing up to the surface the punk scenes in Indonesia, the way it blends with local cultures and to give the latest review of the punk subculture appropriation in Indonesia.
1. Pendahuluan
Latar BelakangPunk lahir di Inggris pada pada akhir ‘70an sebagai budaya tandingan dari budaya mainstream pada zamannya.
Dipicu sebuah perasaan yang menjadi rahasia umum dalam masyarakat modern yang terasing begitu kuat dan merata, keterasingan menjadi hal yang lumrah atau biasa saja. Individu-individu yang merasa terasingkan berkumpul dan membentuk suatu kelompok dan sepakat terhadap keterasingan mereka kemudian merasa bahwa diri mereka normal. Saat itulah Punk lahir.
Punk lahir didorong oleh rasa tidak puas oleh sistem yang mengontrol masyarakat, dimana mereka merupakan
bagian dari masyarakat tersebut. Dalam bingkai masyarakat modern kita dapat menyaksikan fenomena dimana segala sesuatu hanya terbaca sebagai komoditas untuk pasar dan hampir tak ada pilihan apapun bagi individu kecuali
mengkonsumsi produk – produk yang ditawarkan oleh industri dan berada diluar kontrol hidupnya. Masyarakat modern dan budaya modern membentuk dirinya sendiri menjadi masyarakat konsumen dan budaya konsumtif. ‘Pasar’ yang dianggap Punk sebagi ‘sistem’ merupakan pusat dari budaya konsumtif. Punk menolak untuk menjadi bagian dalam masyarakat dan budaya konsumtif tersebut.
Pada awal kelahirannya, punk memang teridentifikasi sebagai pemberontakan. Pemberontakan Punk dinyatakan dengan pemberontakan semiotik yang diaplikasikan pada fesyen dan musik. Namun pemberontakan tersebut pula yang dijual oleh industri dan dijadikan sebagai sumber profit yang dapat dieksploitasi. Hal ini ditandai dengan bergabungnya Sex Pistols, salah satu band Punk generasi tahun 70an, dengan industri musik mainstream EMI. Kemudian pasar industri musik dipenuhi dengan band-band kloning mereka yang merubah subkultur punk menjadi sesuatu yang mapan. Pemberontakan dapat dibeli. Akhir dari era Sex Pistols ini, merupakan titik balik sejarah perkembangan Punk.
Ketika Punk menjadi komoditas pasar yang dapat dieksploitasi, individu yang terlibat dalam subkultur ini mengasingkan diri kembali. Sehingga Punk berpindah ke bawah tanah, tetap eksis tetapi tidak terliput mainstream. Justru setelah era Sex Pistols tersebut, Punk berkembang dengan pesat melalui jaringan pertemanan yang independen. Perkembangan Punk setelah tahun 70-an ditandai dengan berpindahnya aktivitas Punk dari Inggris ke Amerika. Disanalah scene-scene Punk menjamur. Pemberontakan semiotik telah mengalami banyak perubahan meskipun tidak total. Pada generasi ini, akan sulit untuk melihat Punk semata mata dengan penandaan pencitraan atau sekedar gaya berpakaian. Punk seolah-olah merubah strategi dari semata-mata pemberontakan semiotik menjadi sebuah gerakan gaya hidup tandingan.
Punk generasi kedua yaitu setelah era sex pistols muncul mulai memfokuskan pada isu-isu dan aktvitas independen
yang lebih politis daripada generasi Sex Pistols seperti isu feminisme, gender, pemberdayaan komunitas, independensi, rasisme, isu anti-perang dan lain-lain. Semua ini merupakan isu komunal yang beredar diantara komunitas Punk sendiri dalam rangka melawan informasi dari budaya mainstream. Dengan peranan media mainstream yang meliput Punk generasi Sex Pistols, banyak remaja yang terjebak miskonsepsi tentang ideologi pemberontakan ala Punk. Banyak remaja yang merasa cocok dengan image pemberontakan lalu mengadaptasi fashion dan musik Punk. Sebagian dari mereka hanya ingin tampil beda di masyarakat dengan pemahaman yang setengah-setengah mengenai Punk.
Dengan pemahaman yang setengah-setengah ini, remaja mengartikan Punk sebagai hidup bebas tanpa aturan. Akibatnya, banyak dari mereka yang melakukan tindakan-tindakan yang meresahkan masyarakat. Salah satu contoh kecilnya adalah mabuk-mabukan di muka umum secara bergerombol, meminta uang secara paksa kepada masyarakat, dan lain sebagainya. Masyarakat yang awam mengenai Punk menarik kesimpulan bahwa Punk adalah segerombolan remaja yang berperilaku seperti itu. Didukung dengan hingar bingar music Punk dan lirik yang berisi kecaman-kecaman pemberontakan mengakibatkan miringnya persepsi masyrakat mengenai Punk.
Masuknya Punk ke Indonesia tidak lepas dari pemberitaan media mainstream. Di Indonesia,kultur Punk dikenal pertama kali sebagai bentuk musikal dan fashion statement. Kultur Punk telah hadir tanpa substansi sejak awal.
Punk tidak hadir sebagai respon keterasingan dalam masyarakat modern, melainkan dari sebuah kerinduan akan
sebuah bentuk representasi baru saat tak ada hal lama yang dapat merepresentasikan diri remaja lagi. Maka tidak heran, apabila hal hal yang substansial baru muncul bertahun tahun setelah Punk dikenal secara musikal dan fashion statement.
Di Indonesia, secara musikal Punk telah dikenal sejak tahun 70an akhir dimana hal ini dibahas dalam majalah remaja Aktuil. Punk juga dibahas dalam majalah Hai pada tahun 80an. Kemudian gaya berpakaiannya juga diadopsi oleh beberapa preman jalanan. Baru di penghujung tahun 80an bermunculan kelompok-kelompok Punk dari kelas menengah karena pada saat itu hanya yang memiliki finansial tinggilah yang dapat mengakses produk dan informasi kultur ini. Jadi pada kesimpulannya, kultur Punk memang hadir di Indonesia tanpa hal-hal yang substansial. Meskipun akhirnya substansi Punk hadir di Indonesia pada pertengahan tahun 90an melalui akses internet, tak berbeda dengan yang terjadi di negara lain, di Indonesia Punk dianggap sebagai segerombolan remaja biang onar atau sekedar aliran musik keras yang vokalisnya meracau tak jelas. Padahal pada pertengahan tahun 90an, komunitas
Punk di Indonesia merupakan komunitas Punk dengan jumlah populasi terbesar di dunia.
Rumusan Masalah
Berangkat dari gagasan yang telah dipaparkan, penulis menyusun pertanyaan sebagai rumusan masalah karya tugas akhir ini yaitu, bagaimana menyampaikan substansi Punk yang telah berbaur dengan budaya pemuda Indonesia saat ini menggunakan karya seni?
Batasan Masalah
Penulis menggambarkan ulang deangan melakukan performans, yang kemudian akan di tampilkan menggunakan media video pada lcd tv, serta obyek yang ditampilkan berupa performans dan symbol gerakan dari subkultur punk meliputi jaket, boots, gaya rambut hingga aksesori dari para kelompok punk di Indonesia.
Tujuan Berkarya
Karya ini dibuat secara khusus sebagai pelengkap syarat mata kuliah Tugas Akhir Seni Intermedia. Serta dalam karya ini penulis berusaha menampilkan bagaimana budaya Punk, dan perpaduan nya dengan budaya Indonesia saat ini.
2. Proses Studi Kreatif
Studi oleh penulis dimulai dengan penafsiran karya-karya yang sudah pernah penulis buat, hingga studi gagasan yang ingin penulis angkat melalui media digital, literatur dan film. Lalu dilanjutkan dengan melakukan bimbingan dengan dosen pembimbing, konsultan, maupun masukan orang-orang terdekat penulis tentang perumusan gagasan penulis menjadi sebuah karya.
Studi Visual
Berangkat dari gagasan diatas penulis memutuskan untuk mencari beberapa referensi image yang kemudian akan dikembangkan menjadi sebuah alur cerita yang digambarkan melalui storyboard.
Gambar Referensi visual sub-kultur punk.
(Sumber:http://www.internetculturecencorship.wordpress.com )
Gambar diatas merupakan referensi awal dan juga merupakan awal terciptanya gagasan pada video berjudul “do it
yourself-ie”. Pada video ke dua akan ditampilkan beberapa polisi anti huru hara menghadang para punkers yang
sedang melakukan protes. Kemudian nampak dua orang punkers melakukan adegan berfoto dan berpose di depan polisi anti huru hara.
Gambar III. 1 Referensi visual sub-kultur punk.
(Sumber:http://www.pinterest.com )
Gambar diatas merupakan referensi untuk videe berjudul “Ampun! Mike” dimana menggunakan teknik multi layer, seorang punk yang sedang berorasi melakukan protes, kemudian pada layer kedua akan ditampilkan sosok anak
Gambar III. 2 Screenshot karya video penulis.
(Sumber: Dokumentasi Penulis )
Gambar diatas merupakan proses latihan perform yang dilakukan sebelum hari pengambilan gambar. Latihan perform dirasa perlu karena pada saat latihan penulis mengatur beberapa blocking dan movement saat mengambil gambar, serta pengaturan posisi dan dialog yang akan diutarakan saat hari pengambilan gambar.
Sketsa Karya
Gambar Sketsa storyboard
Gambar Sketsa movement kamera
(Sumber:Dokumentasi Penulis )
Gambar Sketsa layout display
(Sumber:Dokumentasi Penulis )
Proses Pembuatan Karya
Persiapan Kostum dan Properti Perfomarns
Kostum dan perlengkapan polisi anti huru-hara merupakan objek awal dalam pembuatan karya ini. Kostum polisi huru-hara meliputi helm, pelindung badan, pelindung tangan, pelindung kaki, tameng serta tongkat. Mengingat penulis ingin mendapatkan secara visual situasi punk di Indonesia maka penulis mengajukan peminjaman perlengkapan ini melalui kantor satuan polisi pamong praja kota Bandung.
Gambar Pemeran polisi anti huru-hara
(Sumber:Dokumentasi Penulis )
Selanjutnya penulis melakukan casting mencari beberapa pemeran yang akan memerankan sebagai seorang punkers. Karya ini menggunakan pemeran yang benar benar terjun ke dalam skena punk di kota bandung pada era 2000 hingga saat ini. Pada video ke 3 terdapat sosok wanita menggunakan kerudung berperan sebagai kekasih dari
punkers ini, pemilihan wanita berkerudung dikarenakan ingin menggambarkan budaya Indonesia yang menjadi
negara dengan penduduk mayoritas memeluk agama islam.
Gambar Punkers yang diambil dari skena Bandung
(Sumber:Dokumentasi Penulis )
Selanjutnya, yang dikerjakan oleh penulis ialah menulis sebuah lagu dan membuat sebuah aransemen musik. Proses ini dilakukan di sebuah studio kemudian dilakukan proses merekam musik. Berikut adalah penggalan lirik dari karya yang ada pada video berjudul “Cintaku Oper Kontrak”
“Kemana kau tanpa kabar Hati ini rasanya hambar Ibarat sayur tanpa ketumbar
Biarkan hati ini tak mau sesumbar Kalau gitu, cinta kita oper kontrak Kalau gitu, cinta kita oper kontrak Kau tarik ulur cintaku
Ku telepon kau bilang ada perlu Ku tunggu update foto instagram mu Ku kecewa lalu, ku unfollow dirimu Kalau gitu, cinta kita oper kontrak Kalau gitu, cinta kita oper kontrak Lo…gue…end”
Pengambilan Gambar
Proses pengambilan gambar dilakukan di jalan Soekarno Bandung dengan pertimbangan kondisi trotoar dan jalan yang bagus serta tidak dilalui oleh kendaraan bermotor, sehingga memudahkan proses pengambilan gambar. Video diambil menggunakan teknik hand held, teknik ini digunakan mengingat performance yang dilakukan merupakan performance konfrontasi sehingga gambar yang akan didapatkan menggunakan teknik ini akan banyak goyang dan mendukung gagasan penulis. Serta pada karya ini video direkam secara berlanjut, agar memudahkan saat memasuki proses editing.
Proses Editing Gambar
Proses editing dilakukan setelah proses pengambilan gambar dilakukan. Pertama file video akan diseleksi dan di berikan nama ulang agar memudahkan saat proses seleksi file layer pertama dan kedua. Selanjutnya file video yang digunakan akan digabungkan dan di potong sesuai dengan ketepatan nya. Kemudian file video akan di rubah menjadi hitam putih, menggunakan effect black and white
Gambar Proses editing video
Setelah semua warna dirasa sudah cukup memenuhi kriteria maka opacity video akan dikurangi menjadi 50 persen pada masing masing video sehingga secara visual akan mulai terlihat video pada layer pertama dan kedua akan saling membaur.
Langkah selanjutnya setelah semua video telah di edit maka akan dilakukan penyelarasan suara antara video 1 dan 2 agar suara yang terdengar seimbang.
Proses Perekaman Musik dan Editing
Perekaman musik dilakukan di Escape Studio Bandung dengan teknik live recording dibantu oleh beberapa personil tambahan untuk posisi gitar,vokal, dan bass. Kemudian setelah melalui proses rekam suara, musik lalu memasuki proses editing menggunakan software ableton untuk menyempurnakan suara yang akan digunakan.
Gambar III. 3 Proses editing musik
(Sumber: Dokumentasi Penulis)
3. Hasil Studi dan Pembahasan
KaryaKarya akhir penulis ini merupakan bentuk pencarian jati diri penulis dalam skena musik punk yang telah digeluti selama hampir 10 tahun mengikuti tren kesana kemari tanpa mengetahui apa makna dibalik subkultur ini. Berangkat dari kegelisahan ini penulis memutuskan untuk mencari tahu apa sebenarnya punk dan bagaimana punk masuk hingga berkembang di Indonesia. Melalui karya ini penulis membuka dan mempelajari lagi bagaimana punk masuk ke Indonesia hingga saat ini komunitas punk di Indonesia berkembang hingga sering menjadi salah satu negara dengan komunitas punk terbesar se-asia.
Penulis menemukan ada beberapa makna yang tergeser seiring perkembangan zaman yang telah berubah. Internet merupakan pengaruh besar dalam perkembangan dunia, dan juga sangat mempengaruhi perkembangan dalam skena Punk di Indonesia. Banyak bentuk perlawanan berubah jalur menuju dunia maya. Memang perubahan tidak dapat dihindari, namun pergeseran ini menarik untuk di bahas, sehingga memunculkan pertanyaan apakah ideologi punk masih relevan pada era saat ini?
Melalui karya ini penulis mencoba menggambarkan beberapa pergeseran makna tersebut mulai dari simbol perlawanan hingga punk yang hanya merupakan tren mode busana belaka.
4. Penutup / Kesimpulan
Kesimpulan dan SaranBerdasarkan studi lapangan, observasi serta literatur yang ditelaah, penulis dapat menjadikan satu kesimpulan bahwa punk di Indonesia telah seiring waktu berubah menjadi suatu sub-kultur yang begitu diminati oleh anak muda pada masanya,mengingat ketidak mampuan solusi dari isu-isu ideologi, politis, serta norma untuk dituntaskan, dan kondisi memberontak yang awalnya ditawarkan oleh subkultur punk dapat menjadi sekilas jawaban bagi masyarakat. Tanpa mengesampingkan fakta bahwa memang masyarakat Indonesia merupakan populasi yang dapat dengan tangan terbuka menerima beragam subkultur baru yang masuk kedalam mereka.
Namun disayangkan pada perkebangannya, distorsi terhadap definisi sesungguhnya dari punk tidak lagi sering digubris, dimana perjuangan ide-ide dikarenakan rasa tidak puas akan kondisi sistem yang mengontrol masyarakat menjadi tonggak kelahiran punk. Subkultur ini memang kaitannya tidak dapat dipisahkan dengan penyebarluasannya melalui musik dan gayanya, dan seringkali sekarang memang punk hanya diartikan sebagai bentu musik dan gaya semata.
Pada akhirnya redefinisi dari subkultur punk ini ditunjang kuat oleh perbaurannya dengan kondisi-kondisi lokal masyarakat Indonesia, yang lagi-lagi menghilangkan citra awal punk yang rusuh dan pemberontak kini bahkan dapat bersifat lucu dan kata punk itu tadi hanyalah sekedar tampilan sesorang belaka.
Ucapan Terima Kasih
Artikel ini didasarkan kepada catatan proses berkarya dan perancangan dalam MK Tugas Akhir Program Studi Sarjana Seni Rupa FSRD ITB. Proses pelaksanaan Tugas Akhir ini disupervisi oleh pembimbing Dr. Agung Hujatnika, M.sn
Daftar Pustaka
Buku :
Hebdige, Dick, 1979. Subculture; The Meaning of Style Methuen & co.Ltd.
Martono, John, 2009. Punk! Fesyen-Subkultur-Identitas Halilintar Books
PDF :
Andira, Taskia, 2015. Laporan Penulisan Tugas Akhir Metafora Alienasi Diri Melalui
Digital Performans “Saat Lepas Aku Tidak Bebas”. Bandung : Institut Teknologi
Bandung
Internet :
(http://pustaka-teori.blogspot.co.id/2014/11/kajian-budaya-punk-youth-subcultre-dick.html) Diakses tanggal 5 Januari 2015 pukul 14:25 WIB
http://jurnalfootage.net/v4/artikel/bilal-dilema-kebebasan-dan-fasisme-ideologi-punk
Diakses tanggal 5 Januari 2015 pukul 14:04 WIB
http://arraykeparat.blogspot.co.id/2009_05_01_archive.html Diakses tanggal 6 januari
2015 pukul 02:04 WIB
http://www.jakartabeat.net Diakses tanggal 23 Desember 2015 pukul 14:25 WIB
http://www.konterkultur.com Diakses tanggal 20 November 2015 pukul 14:25 WIB
http://www.jakartabeat.net/resensi/konten/sejarah-komunitas-punk-jakarta-bagian-1-dari-4-tulisan Diakses tanggal 14 Januari 2016 pukul 04:27
SURAT PERSETUJUAN PEMBIMBING TA
Bersama surat ini saya sebagai pembimbing menyatakan telah memeriksa dan
menyetujui Artikel yang ditulis oleh mahasiswa di bawah ini untuk diserahkan dan
dipublikasikan sebagai syarat wisuda mahasiswa yang bersangkutan.
diisi oleh mahasiswa
Nama Mahasiswa
NIM
Judul Artikel
diisi oleh pembimbing
Nama Pembimbing
1. Dikirim ke Jurnal Internal FSRD
Rekomendasi
2. Dikirim ke Jurnal Nasional Terakreditasi
Lingkari salah satu
3. Dikirim ke Jurnal Nasional Tidak Terakreditasi
4. Dikirim ke Seminar Nasional
5. Dikirim ke Jurnal Internasional Terindex Scopus
6. Dikirim ke Jurnal Internasional Tidak Terindex Scopus
7. Dikirim ke Seminar Internasional
8. Disimpan dalam bentuk Repositori