5 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tinjauan Tanaman Limonia acidissima 2.1.1 Taksonomi Limonia acidissima
Kingdom : Plantae Sub-kingdom : Tracheobionta Superdivision : Spermatophyta Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliospida Subkelas : Rosidae Ordo : Sapindales Keluarga : Rutaceae Genus : Limonia
Spesies : Limonia acidissima L. (Pratima and Rekha, 2014).
Gambar 2. 1 (a) Buah Limonia acidissima L. dan (b) dan bagian dalam buah
Limonia acidissima L. (Tham and Minh, 2014)
2.1.2 Sinonim Limonia acidissima
Nama lain dari Limonia acidissima L. adalah Feronia elephantum Correa,
Feronia limonia (L.) Swingle, dan Schinus limonia L. Dalam bahasa Inggris disebut
sebagai wood apple, elephant apple, monkey fruit atau curd fruit (Khare, 2011).
Sedangkan di Indonesia, penyebutan tanaman Limonia acidissima L. ini adalah kawista atau di Jawa dapat disebut dengan kinca (Tim Penyusun Kamus PS, 2013).
2.1.3 Distribusi dan Pengembangan Limonia acidissima
Tanaman Limonia acidissima ini berasal dari India Selatan dan tersebar di seluruh India, yang juga dibudidayakan di Bangladesh, Pakistan dan Srilanka. Tanaman ini kemudian menyebar ke Asia Tenggara termasuk Jawa. Limonia
acidissima tumbuh baik di daerah pantai atau tanah berpasir. Limonia acidissima
dapat tumbuh baik di Sumba (Nusa Tenggara Barat) dan di Taman Nasional Purwodadi, Jawa Timur (Absar et al., 2010).
Limonia acidissima ini merupakan salah satu tanaman obat yang tumbuh di
seluruh wilayah tropis dan beriklim sedang. Buah ini dapat bertahan terhadap tempat yang panas dan kering. Perkembangan tanaman ini dilakukan dengan metode generatif yang menghasilkan biji dan vegetatif dengan tunas yang tumbuh dari akar atau dengan okulasi (Absar, Eswar and Shaista, 2010).
2.1.4 Morfologi Limonia acidissima
Limonia acidissima termasuk tanaman yang dapat tumbuh setinggi 9 m dan
tumbuh di seluruh India atau pada daerah kering dan hangat dengan ketinggian mencapai 450 m. Tanaman ini memiliki kulit kasar dan berduri. Durinya terdapat pada aksila ranting, berukuran pendek, lurus, dan panjangnya 2-5 cm (Pratima and Rekha, 2014).
Daun dari tanaman Limonia acidissima berukuran sedang sampai cukup besar, berwarna hijau gelap, kasar, panjangnya 3 sampai 5 inci, terdapat duri yang berbentuk lurus pada aksila, ujung berlekuk, terdapat kelenjar minyak, dan sedikit beraroma lemon saat dihancurkan (Pratima and Rekha, 2014). Bunga dari tanaman Limonia acidissima ini berkelompok, berukuran kecil, berwarna merah kusam sampai merah kehijauan, berbau harum, dan terdapat organ reproduksi jantan dan betina dalam satu bunga. Kemudian getah dari tanaman ini dapat diperoleh dari batang dan ranting pohonnya, yang dikenal sebagai feronia gum yang berwarna coklat kemerahan hingga warna kuning pucat dan transparan (Pratima and Rekha, 2014). Sedangkan buah dari tanaman Limonia acidissima ini
berbentuk bulat sampai lonjong, kasar, lebar buah 2 sampai 5 inci, termasuk dalam golongan buah berry, berwarna abu-abu, kulit buah keras dan berkayu. Daging buahnya berwarna kecoklatan, aromatik, memiliki getah, rasanya asam atau manis, dan biji putih tersebar di dalamnya (Pratima and Rekha, 2014).
2.1.5 Kandungan Senyawa Limonia acidissima
Menurut Naidu et al., (2014), tanaman Limonia acidissima mengandung flavanoid, glikosida, saponin, tanin, kumarin dan turunan tiramin. Juga adanya alkaloid, steroid, glikosida, fenol, gum dan mucilage, minyak dan lemak tertentu, resin dan tanin. Buah Limonia acidissima ini mengandung beberapa senyawa seperti alkaloid, saponin, tanin, terpenoid, dan antrakuinon (Pandey, Satpathy and Gupta, 2014). Sedangkan menurut Amin et al., (2017), daging buah dari Limonia
acidissima mengandung glikosida flavonoid dan berbagai macam minyak esensial
dengan jumlah yang cukup banyak.
Dalam menghambat pertumbuhan bakteri, terpenoid bekerja dengan mengganggu pertumbuhan dan perkembangan bakteri, juga mengganggu membran sitoplasma. Membran sel bakteri terdiri dari lapisan ganda lipid dimana terdapat transport enzim dan protein. Sehingga, menyebabkan terganggunya transportasi ion dan juga menyebabkan kondisi osmotik yang tidak seimbang dalam membran (Heejeong & Dong Gun, 2015).
Alkaloid yang didapat dari berbagai tanaman obat memiliki aktivitas sebagai antibakteri. Bahkan alkaloid dari beberapa tanaman juga digunakan sebagai obat anti-infeksi. Mekanisme kerja alkaloid seperti berberin dan harmane dikaitkan dengan kemampuan mereka untuk berikatan dengan DNA (Al-Bayati & Hasan, 2018).
Antrakuinon yang didapat dari tanaman obat juga memiliki aktivitas sebagai antibakteri. Antrakuinon bekerja dengan dengan beraksi melalui depolarisasi membran potensial mitokondria dan penghambatan efflux pump (Wijayanti & Endang, 2017).
Senyawa kimia saponin yang diisolasi dari tanaman obat digunakan sebagai unsur antibakteri. Saponin ini memiliki sifat sebagai surfaktan alami karena mengandung komponen yang larut dalam air dan dapat larut dalam lemak. Saponin
dapat menyebabkan kerusakan membran dan kebocoran pada materi sel, yang akhirnya menyebabkan kematian sel (Zhang, et al., 2005).
2.1.6 Pemanfaatan Limonia acidissima
Semua bagian Limonia acidissima digunakan dalam sistem pengobatan tradisional untuk pengobatan berbagai penyakit. Daun, kulit kayu dan buah Limonia
acidissima memiliki nilai obat dan digunakan sebagai obat tradisional selama
berabad-abad karena aktivitas antimikroba, astringent, dan anti-inflamasi. Di negara-negara Asia selatan seperti Myanmar, Thailand dan lain-lain, kulit pohon tanaman ini digunakan sebagai kosmetik (Shermin et al., 2012).
Secara tradisional, buah Limonia acidissima digunakan untuk sakit perut, diare, disentri, stimulan, diuretik, menyembuhkan batuk, asma, dan keputihan. Sedangkan bijinya digunakan sebagai obat penyakit jantung. Selain itu, orang- orang Hindu menganggap bahwa buah ini berguna dalam diare dan disentri. (Buvanaratchagan and Dhandapani, 2016).
Daun dari tanaman Limonia acidissima ini juga memiliki manfaat sebagai pengobatan masalah perut, muntah, dan disentri jika diberikan pada anak-anak. Selain itu juga digunakan sebagai antiemetik, karminatif, kardiotonik, ekspektoran, obat pencahar, batuk, dan diare. Sedangkan rebusan daun dari Limonia acidissima ini digunakan dalam pengobatan sembelit, muntah, dan diuretik (Naidu, Sujatha and Naidu, 2014).
Menurut Jayashree & Londonkar, (2014), ekstrak metanol daging buah
Limonia acidissima dengan metode ekstraksi soklet, menunjukkan aktivitas
antimikroba yang cukup tinggi dibandingkan dengan ekstrak kloroform dan aqua. Hal ini menunjukkan bahwa, senyawa antimikroba yang signifikan bersifat polar yang dibuktikan dengan tingginya tingkat aktivitas antibakteri ekstrak metanol daging buah Limonia acidissima. Zona hambat dari ekstrak metanol menghasilkan rata- rata zona hambat 15-21 mm dengan konsentrasi minimum sebesar 3,125-12,5 mg/mL. Mikroba yang diuji yaitu Salmonella typhimurium, Klebsiella
pneumonia, Escherichia coli, Pseudomonas aeruginosa, Aspergillus niger, dan Aspergillus flavus.
menunjukkan aktivitas antibakteri yang tinggi terhadap bakteri Escherichia coli,
Propionibacterium acnes dan Streptococcus pneumoniae. Hal ini ditunjukkan
dengan zona hambat terhadap masing-masing bakteri yaitu Escherichia coli sebesar 24±0.13 mm dengan konsentrasi minimum sebesar 62,5 μg/ml, sedangkan pada Propionibacterium acnes adalah 26±0.32 mm dengan konsentrasi minimum <62,5 μg/ml, pada Streptococcus pneumoniae yaitu 24±0.36 mm dengan konsentrasi minimum <62,5 μg/ml. Sedangkan pada penelitian yang dilakukan Buvanaratchagan & Dhandapani, (2016), ekstrak daun Limonia acidissima dengan fraksi etanol menunjukkan aktivitas antijamur terhadap ketiga fungi dermatofitik seperti Trichophyton mentagrophytes, Microsporum canis dan Epidermophyton
floccosum yang memiliki pengaruh sebanding dengan kelompok kontrol yang
menggunakan ketokonazol. Zona hambat ekstrak daun Limonia acidissima dengan konsentrasi 10 µl (50 mg/ml) dalam menghambat Trichophyton mentagrophytes,
Microsporum canis dan Epidermophyton floccosum masing-masing adalah 32,42
± 1,43 mm; 27,56 ± 0,95 mm; dan 28,62 ± 1,37 mm. Kemudian menurut penelitian yang dilakukan Ilango & Chitra, (2010), ekstrak metanol daging buah
Limonia acidissima pada dosis 200 dan 400 mg/kg memberikan efek dalam
peningkatan penyembuhan luka pada hewan uji (tikus) bila dibandingkan dengan kelompok kontrol. Selain itu, pada penelitian ini diketahui bahwa ekstrak metanol daging buah Limonia acidissima menunjukkan adanya aktivitas antioksidan.
2.2 Tinjauan Umum Bakteri Propionibacterium acnes 2.2.1 Taksonomi Propionibacterium acnes
Klasifikasi Propionibacterium acnes: Kingdom : Bacteria Division : Actinobacteria Class : Actinobacteridae Order : Actinomycetales Family : Propionibacteriaceae Genus : Propionibacterium Species : Propionibacterium acnes
Gambar 2. 2 Propionibacterium acnes (Engelkirk and Duben-Engelkirk, 2011).
2.2.2 Morfologi Propionibacterium acnes
Ciri penting dari Propionibacterium acnes adalah berbentuk batang tak teratur yang terlihat pada pewarnaan gram positif. Bakteri ini dapat tumbuh di udara dan tidak menghasilkan endospora. Bakteri ini dapat berbentuk filamen bercabang atau campuran antara bentuk batang atau filamen dengan bentuk kokoid. Propionibacterium acnes dianggap tidak hanya sebagai flora normal pada kulit yang normal tetapi juga bersifat sebagai bakteri patogen fakultatif.
Propionibacterium acnes pada umumnya tumbuh sebagai anaerob obligat,
walaupun beberapa strain atau jenis menunjukkan aerotoleran, tetapi tetap menunjukkan pertumbuhan lebih baik sebagai anaerob. Bakteri ini mempunyai kemampuan untuk menghasilkan asam propionat sebagaimana ia mendapatkan namanya. Bakteri ini juga mempunyai kemampuan itu untuk menghasilkan katalase, indola, dan nitrat. Propionibacterium menyerupai Corynebacterium secara morfologi dan susunannya, tetapi tidak toksigenik (Naidu, Sujatha and Naidu, 2014).
Propionibacterium acnes merupakan bakteri yang bersifat gram positif. Diantaranya tergolong flora normal yang terdapat ditubuh hostnya yaitu pada kulit manusia yang menyebabkan abses, penanahan, dan berbagai infeksi pirogen.
Propionibacterium acnes mengandung protein yang memiliki fungsi sebagai
antigen dan merupakan substansi yang berada didalam dinding sel, tidak membembentuk spora dan tidak membentuk flagel. Kokus tunggal, berpasangan,
berbentuk tetrad, dan berbentuk rantai terbentuk pada biakan cair. Kokus muda bersifat gram positif kuat, sedangkan pada biakan tua banyak sel yang menjadi gram negatif. Kebanyakan tumbuh dalam pembenihan padat sebagai koloni diskoid dengan diameter 1-2 mm (Jawetz, Melnick and Adelberg, 2008).
Struktur dari bakteri Propionibacterium acnes ini sama dengan bakteri gram positif lainnya. Nukeoidnya terdapat pada dinding sel yang tipis, mesome, dan membran sitoplasma trilaminar yang dipisahkan oleh periplasmik dari dinding sel. Komponen dinding sel Propionibacterium acnes terdiri dari: peptidoglikan, asam teichoic, dan protein A. Komponen peptidoglikan pada Propionibacterium
acnes sekitar 40% - 60% dari berat dinding sel (Dzen, et al., 2012).
Menurut American Type Culture Collection, (2016) untuk menumbuhkan bakteri Propionibacterium acnes dapat menggunakan Modified Reinforced
Clostridial Agar/Broth Medium (pre-reduced) dan Trypticase Soy Agar/Broth with Defibrinated Sheep Blood. Bakteri Propionibacterium acnes tergolong
bakteri anaerob hingga aerotoleran, dalam proses pembiakkan bakteri ini dalam suasana anaerob dengan suhu 37oC. Dalam penelitian ini dipilih Mueller Hinton
Agar/Broth karena media Mueller Hinton Agar adalah media terbaik untuk
pemeriksaan sensibilitas tes (dengan metode Kirby-Bauer) pada bakteri non-fastidious (baik aerob dan anaerob fakultatif).
Beberapa kelebihan dari Mueller Hinton Agar/Broth menurut Atmojo, (2016) : 1. Semua bakteri dapat tumbuh karena media ini bukan merupakan media
selektif dan media diferensial.
2. Mengandung starch (tepung pati) yang berfungsi untuk menyerap racun yang dikeluarkan bakteri, sehingga tidak mengganggu antibiotik.
3. Rendah sulfonamid, trimetoprim, dan tetrasiklin inhibitor. Mendukung pertumbuhan bakteri non-fastidious yang patogen.
4. Banyak data dan pengalaman yang telah dikumpulkan tentang sensibilitas tes menggunakan media ini.
2.2.3 Patogenesis Propionibacterium acnes
Patogenesis jerawat meliputi empat faktor, yaitu hiperproliferasi epidermis folikuler sehingga terjadi sumbatan folikel, produksi sebum berlebihan, inflamasi, dan aktivitas Propionibacterium acnes. Androgen berperan penting pada patogenesis akne tersebut. Akne mulai terjadi saat adrenarke, yaitu saat kelenjar adrenal aktif menghasilkan dihidroepiandrosteron sulfat, prekursor testosteron. Penderita akne memiliki kadar androgen serum dan kadar sebum lebih tinggi dibandingkan dengan orang normal, meskipun kadar androgen serum penderita akne masih dalam batas normal. Androgen akan meningkatkan ukuran kelenjar sebasea dan merangsang produksi sebum (Movita, 2013).
Epitel folikel rambut bagian atas, yaitu infundibulum, menjadi hiperkeratotik dan kohesi keratinosit bertambah sehingga terjadi sumbatan pada muara folikel rambut. Selanjutnya di dalam folikel rambut tersebut terjadi akumulasi keratin, sebum, dan bakteri, dan menyebabkan dilatasi folikel rambut bagian atas, membentuk mikrokomedo. Mikrokomedo yang berisi keratin, sebum, dan bakteri, akan membesar dan ruptur. Selanjutnya, isi mikrokomedo yang keluar akan menimbulkan respons inflamasi. Akan tetapi, terdapat bukti bahwa inflamasi dermis telah terjadi mendahului pembentukan komedo (Movita, 2013).
Propionibacterium acnes adalah faktor keempat terjadinya akne. Bakteri
gram positif dan anaerob yang merupakan flora normal kelenjar filosebasea. Remaja dengan akne memiliki konsentrasi Propionibacterium acnes lebih tinggi dibandingkan remaja tanpa akne, tetapi tidak terdapat korelasi antara jumlah
Propionibacterium acnes dengan berat akne. Peranan Propionibacterium acnes
pada patogenesis akne adalah memecah trigliserida, salah satu komponen sebum, menjadi asam lemak bebas sehingga terjadi kolonisasi Propionibacterium acnes yang memicu inflamasi. Selain itu, antibodi terhadap antigen dinding sel
Propionibacterium acnes meningkatkan respons inflamasi melalui aktivitas
komplemen (Movita, 2013).
Propionibacterium acnes ialah bakteri agen utama etiologi inflamasi
jerawat. Bakteri ini merangsang pelepasan interleukin-1 (IL-1), IL-8, Tumor
Necrosis Factor-α (TNF-α) dan mengaktifkan sistem komplemen. Bakteri Propionibacterium acnes menggunakan sebum yang diproduksi di folikel sebagai
sumber utama makanan. Dengan menggunakan enzim khusus, bakteri ini menghasilkan asam lemak bebas melalui hidrolisis trigliserida kelenjar sebasea oleh lipasenya. Asam lemak ini dapat mengakibatkan inflamasi jaringan ketika berhubungan dengan sistem imun dan mendukung terjadinya jerawat (Khan et al., 2009). Selain itu, Propionibacterium acnes menghasilkan enzim ekstraseluler, seperti protease, yang dapat berpartisipasi dalam inflamasi oleh kerusakan matriks dan pelepasan proteolitik oleh keratinosit folikel (Li et al., 2014). Bakteri ini dapat juga menyebabkan blepharitis dan endophthalmitis kronis bahkan sering sekali diikuti dengan operasi atau pembedahan intraokular. Genom dari bakteri ini dirangkai dan penelitian dari genom bakteri ini menunjukkan beberapa gen yang dapat menghasilkan enzim-enzim untuk menurunkan kondisi kulit dan protein-protein yang mungkin immunogenic (sistem kekebalan aktif) (Li et al., 2014).
2.3 Mekanisme Antibiotik
Antibiotika adalah zat-zat kimia yang dihasilkan oleh fungi dan bakteri, yang memiliki khasiat mematikan atau menghambat pertumbuhan kuman, sedangkan toksisitasnya bagi manusia relatif kecil. Turunan zat-zat ini yang dibuat secara semisintetis, juga termasuk kelompok ini, begitu pula semua senyawa sintetis dengan khasiat antibakteri (Tjay and Rahardja, 2007). Konsentrasi minimal yang digunakan untuk menghambat pertumbuhan bakteri atau membunuhnya, masing-masing dikenal sebagai Konsentrasi Hambat Minimal (KHM) dan Konsentrasi Bunuh Minimal (KBM). Kedua konsentrasi ini telah menjadi parameter utama yang digunakan untuk mengukur aktivitas in-vitro antimikroba terhadap berbagai pathogen (Farmakologi dan Terapeutik V, 2007).
Meskipun KHM dan KBM sangat baik prediktor potensi antimikroba terhadap organisme yang menginfeksi. Sebagai contoh, KBM memberikan informasi konsentrasi minimal pada tingkat bakterisida (daya bunuh) pada aktivitas fungisida dan apakah pembunuhan dapat ditingkatkan dengan lebih tinggi konsentrasi obat. Selain itu, KHM memberikan informasi pada efek penghambatan bakteri yang setelah paparan antimikroba. Pemusnahan mikroba dengan antimikroba yang bersifat bakteriostatik masih tergantung dari kesanggupan reaksi daya tahan tubuh hospes. Peranan lamanya kontak antara
mikroba dengan antimikroba dalam kadar efektif juga sangat menentukan untuk mendapatkan efek, khususnya pada tuberkulostatik (Farmakologi dan Terapeutik V, 2007).
Berdasarkan sifatnya antibiotik dapat dibagi menjadi beberapa kategori, yaitu :
(1) Antibiotik yang menghambat sintesis dinding sel bakteri. Dinding sel yang terganggu akan menyebabkan dinding sel menjadi rapuh dan mengakibatkan pecah.
(2) Antibiotik yang menghambat fungsi membran sel.
(3) Antibiotik yang menghambat sintesis protein (yaitu inhibisi, translasi, dan transkripsi bahan genetik).
(4) Antibiotik yang menghambat sintesis nukleat.
Secara umum penyakit infeksi dapat disembuhkan dengan mengkonsumsi antibiotik. Sebagian besar infeksi akibat bakteri Staphylococcus aureus sudah resisten terhadap berbagai antibiotik, sehingga perlu diberikan antibiotik berspektrum lebih luas seperti kloramfenikol (Jawetz et al., 2008).
2.3.1 Daya Kerja Antibakteri Klindamisin
Pengobatan sistemik ditujukan terutama untuk menekan aktifitas jasad renik disamping dapat juga mengurangi reaksi radang, menekan produksi sebum, dan mempengaruhi keseimbangan hormonal. Klindamisin adalah senyawa semi sintetis dari derivat antibiotik lincomycin. Klindamisin memiliki efek lipofilik yang lebih besar karena unsur klorin yang dimilikinya. Hal ini membuat penetrasi klindamisin ke dalam sel bakteri lebih baik daripada lincomycin. Klindamisin sangat efektif terhadap bakteri anaerob gram positif salah satunya pada
Propionibacterium acnes. Mekanisme efek antimikroba klindamisin adalah
mengikat 50 S sub-unit ribosom bakteri dan menghambat sintesa protein. Secara spesifik antiinflamasi yang dimiliki klindamisin yaitu untuk menghambat pertumbuhan, sintesa protein, produksi lipase, produksi folikular asam lemak bebas, dan molekul kemotaksis leukosit pada Propionibacterium acnes. Minimum
Inhibitory Concentration (MIC) untuk Propionibacterium acnes adalah 0,02
Dosis klindamisin 150-459 mg, anak-anak 8-20 mg/kg/hari. Pada acne
lotion 1% klindamisin (Dalacin-T) dalam larutan alkohol dilutum dan 10%
propilenglikol. Selain itu terdapat klindamisin fosfat dalam bentuk gel yang setara dengan klindamisin 10mg/gram gel (Nugroho, 2013).
Gambar 2. 3 Struktur Kimia Klindamisin (Nugroho, 2013)
2.4 Tinjauan tentang Ekstrak
Ekstrak merupakan sediaan pekat yang diperoleh dengan mengekstraksi zat aktif dari simplisia nabati atau simplisia hewani menggunakan pelarut yang sesuai, kemudian semua atau hampir semua pelarut diuapkan dan massa atau serbuk yang tersisa diperlakukan sedemikian hingga memenuhi baku yang telah ditetapkan (Depkes RI, 2014).
2.5 Tinjauan Pustaka Metode Ekstraksi 2.5.1 Definisi Ekstraksi
Ekstraksi adalah suatu proses penarikan komponen aktif (minyak atsiri) yang terdapat dalam tanaman menggunakan pelarut yang sesuai dengan kelarutan komponen aktifnya (Satuhu and Yulianti, 2012).
2.5.2 Jenis-jenis Metode Ekstraksi
Mukhriani, (2014) menerangkan tentang macam-macam metode ekstraksi yang dapat digunakan adalah sebagai berikut:
(1) Maserasi
dengan larutan penyari dengan atau tanpa pengadukan disebut maserasi. Metode ini dilakukan dengan memasukkan serbuk tanaman dan pelarut yang sesuai ke dalam wadah inert yang tertutup rapat pada suhu kamar. Proses ekstraksi dihentikan ketika tercapai kesetimbangan antara konsentrasi senyawa dalam pelarut dengan konsentrasi dalam sel tanaman. Setelah proses ekstraksi, pelarut dipisahkan dari sampel dengan penyaringan. Kerugian utama dari metode maserasi ini adalah memakan banyak waktu, pelarut yang digunakan cukup banyak, dan besar kemungkinan beberapa senyawa hilang. Selain itu, beberapa senyawa mungkin saja sulit diekstraksi pada suhu kamar. Namun di sisi lain, metode maserasi dapat menghindari rusaknya senyawa-senyawa yang bersifat termolabil.
Salah satu metode maserasi yaitu maserasi kinetik. Penyarian dengan maserasi kinetik diperlukan pengadukan yang berputar dan kontinu (terus menerus). Hal ini untuk meratakan konsentrasi larutan di luar butir serbuk simplisia, sehingga tetap terjaga derajat perbedaan konsentrasinya yang sekecil-kecilnya antara larutan di dalam sel dengan larutan di luar sel. Selanjutnya, hasil dari penyarian didiamkan selama waktu tertentu untuk mengendapkan zat yang tidak diperlukan yang ikut terlarut dalam cairan penyari.
Metode lain dari maserasi yaitu maserasi ultrasonik. Prosedur ini melibatkan penggunaan ultrasound dengan frekuensi berkisar antara 20 kHz sampai 2000 kHz, hal ini untuk meningkatkan permeabilitas dinding sel dan menghasilkan kavitasi. Aplikasi metode ini dalam skala besar terbatas karena biaya yang lebih tinggi. Salah satu kelemahan dari prosedur ini adalah efek energi ultrasound yang lebih dari 20 kHz terhadap unsur penyusun tanaman obat yang aktif unsur aktif tanaman obat melalui pembentukan radikal bebas akan mengakibatkan perubahan yang tidak diinginkan pada molekul obat. (2) Perkolasi
Metode perkolasi merupakan salah satu jenis ekstraksi padat cair yang dilakukan dengan mengalirkan pelarut secara perlahan pada sampel dalam suatu perlokator. Pelarut ditambahkan secara terus menerus, sehingga proses ekstraksi dilakukan dengan pelarut yang baru. Pola dari penambahan pelarut
yang dilakukan dengan menggunakan pola penetesan pelarut dari bejana terpisah yang telah disesuaikan dengan jumlah pelarut yang keluar atau bisa dengan penambahan pelarut dalam jumlah besar secara berkala.
(3) Soklestasi
Prinsip serupa dengan refluks, hanya sampel dan pelarut berada diruang yang terpisah. Dengan teknik ini, sampel dimasukkan dalam wadah berpori yang terbuat dari kertas dan diletakkan suatu ruang pada alat soklet, sedangkan pelarut pengekstrak dipanaskan pada labu A, uapnya akan terkondesasi pada kondensor, masuk ke dalam ruang sampel dan mengekstrak sampel. Ketika cairan dalam ruang mencapai puncak pada tabung siphon, cairan akan tersedot menuju labu. Proses berlangsung hingga semua komponen terlarut keluar dari matriks sampel.
Prinsipnya adalah ekstraksi dilakukan secara terus menerus menggunakan pelarut yang relatif sedikit. Bila ekstraksi telah selesai maka pelarut dapat diuapkan sehingga akan diperoleh ekstrak. Biasanya pelarut yang digunakan adalah pelarut-pelarut yang mudah menguap dan memiliki titik didih rendah. Metode ini memiliki keuntungan yaitu tidak memakai banyak pelarut dan tidak memakan banyak waktu, sedangkan kerugiannya adalah senyawa yang bersifat termolabil dapat terdegradasi karena ekstrak yang didapat terus berada pada titik didih.
Ekstraksi yang dilakukan menggunakan metoda sokletasi, yakni sejenis ekstraksi dengan pelarut organik yang dilakukan secara berulang-ulang dan menjaga jumlah pelarut relatif konstan, dengan menggunakan alat soklet. Minyak nabati merupakan suatu senyawa trigliserida dengan rantai karbon jenuh maupun tidak jenuh. Minyak nabati umumnya larut baik dalam pelarut organik, seperti benzen dan heksan. Untuk mendapatkan minyak nabati dari bagian tumbuhan dapat dilakukan metode sokletasi dengan menggunakan pelarut yang sesuai.
(4) Refluks
Prinsip dan mekanisme refluks yakni disolusi fisik sederhana (leaching) dengan menggunakan teknik pemanasan dan pendingan kontinu selama jangka waktu tertentu. Prosedur refluks meliputi penjamuran sampel
dengan pelarut selektif, pemanasan larutan sampel, kondensasi uap ke dalam campuran/larutan panas dan kedua dalam proses pemanasan dan pendinginannya/kondesasi berlangsung berulang-ulang. Dalam hal ini, pemanasan yang dimaksud yaitu dilakukan disuhu tertentu sesuai dengan kebutuhan.
2.6 Fraksinasi
Fraksinasi adalah suatu metode pemisahan senyawa organik berdasarkan kelarutan senyawa-senyawa tersebut dalam dua pelarut yang tidak saling bercampur, biasanya antara pelarut air dan pelarut organik seperti metanol, etanol, etilasetat, n-heksana dan petroleum eter. Pemilihan pelarut pada ekstraksi bergantung pada sifat analitnya dimana pelarut dan analit harus memiliki sifat yang sama, contohnya analit yang sifat lipofilitasnya tinggi akan terekstraksi pada pelarut yang relatif non-polar seperti n-heksana sedangkan analit yang semipolar terlarut pada pelarut yang semipolar (Nugroho, 2013).
Fraksinasi ini biasanya dilakukan dengan menggunakan metode corong pisah atau kromatografi kolom. Kromatografi kolom adalah salah satu metode pemurnian senyawa dengan menggunakan kolom. Menurut ada salah satu peralatan laboratorium yang biasanya digunakan untuk memisahkan komponen-komponen dalam campuran antara dua fase pelarut yang memiliki massa jenis berbeda yang tidak tercampur yaitu corong pisah. (Nugroho, 2013)
2.7 Tinjauan Tentang Pelarut
Pelarut adalah zat yang digunakan sebagai media untuk melarutkan zat lain. Kesuksesan untuk mendapatkan senyawa biologis aktif dari bahan tumbuhan sangat tergantung pada jenis pelarut yang diguanakan dalam prosedur ekstraksi. Sifat pelarut yang baik yaitu toksisitas dari pelarut yang rendah, mudah menguap pada suhu yang rendah, dapat mengekstraksi komponen senyawa dengan cepat, dapat mengawetkan dan tidak menyebabkan ekstrak terdisosiasi (Das, Tiwari and Shrivastava, 2010).
Menurut Susanti et al., (2012) pelarut sangat mempengaruhi proses ekstraksi. Pemilihan pelarut pada umumnya dipengaruhi oleh faktor-faktor antara lain:
(1) Selektivitas Pelarut dapat melarutkan semua zat yang akan diekstrak dengan cepat dan sempurna
(2) Titik didih pelarut. Pelarut harus mempunyai titik didih yang cukup rendah sehingga pelarut mudah diuapkan tanpa menggunakan suhu tinggi pada proses pemurnian dan jika diuapkan tidak tertinggal dalam minyak
(3) Pelarut tidak larut dalam air
(4) Pelarut bersifat inert sehingga tidak bereaksi dengan komponen lain (5) Harga pelarut semurah mungkin
(6) Pelarut mudah terbakar
Penelitian yang dilakukan Hafsari et al., (2015) Uji aktivitas antibakteri ekstrak daun Beluntas ( Pluchea Indica (L.)Less. ) terhadap Propionibacterium
acnes penyebab jerawat memberikan hasil bahwa ekstrak etanol daun beluntas
dapat menghambat pertumbuhan Propionibacterium acnes dengan terbentuknya diameter zona bening disekitar lubang yang merupakan zona hambat pertumbuhan bakteri. Adanya zona hambat yang terbentuk karena adanya senyawa antibakteri pada daun beluntas. Senyawa tersebut antara lain flavonoid, minyak atsiri, fenolik, tanin, dan alkaloid.
Penelitian lain yang telah dilakukan memberikan hasil Fraksi etil asetat herba sisik naga (Drymoglossumpiloselloides [L] Presl.) memiliki aktivitas antibakteri pada Staphylococcus epidermidis dan Escherichia coli. Dengan hasil skrining fitokimia yang didapatkan pada fraksi etil asetat mengandung senyawa flavonoid, tanin, terpenoid dan fenol. (Rahmawati, 2014).
2.7.1 Etanol
Etanol sering digunakan sebagi pelarut dalam laboratorium karena mempunyai kelarutan yang relatif tinggi dan bersifat inert sehingga tidak bereaksi dengan komponen lainnya (Susanti et al., 2012). Etanol disebut juga etil alkohol yang di pasaran lebih dikenal sebagai alkohol merupakan senyawa organik dengan rumus kimia C2H5OH. Dalam kondisi kamar, etanol berwujud cairan yang mudah menguap, mudah terbakar, tak berwarna (Munawaroh and Handayani, 2010).
Tabel II. 1 Sifat Fisika dan Kimia Etanol
Karakteristik Syarat
Rumus Molekul C2H5OH
Massa molekul relatif 46,07 g/mol
Titik leleh −114,3°C
Titik didih 78,32°C
Densitas pada 20°C 0,7893 g/cm3 Kelarutan dalam air 20° Sangat larut
Viskositas pada 20°C 1,17 cP
Kalor spesifik pada 20°C 0,579 kal/g°C Sumber : (Munawaroh and Handayani, 2010)
Pelarut etanol memiliki sifat yang mampu melarutkan semua bahan aktif yang terdapat dalam bahan alami, baik bersifat polar, semipolar maupun nonpolar. Selain itu, etanol ditemukan lebih mudah untuk menembus membran sel untuk mengekstrak bahan intraseluler dari bahan tanaman (Tiwari et al., 2010).
2.8 Uji Kepekaan Antimikroba secara In-vitro
Aktivitas antimikroba diukur in-vitro untuk menentukan (Jawetz et al., 2012) :
(1) Potensi agen antibakteri dalam larutan
(2) Konsentrasinya dalam cairan tubuh atau jaringan
(3) Ketentuan mikroorganisme tertentu terhadap obat dengan konsentrasi tertentu
Uji kepekaan antimikroba terhadap obat-obatan secara in-vitro bertujuan untuk mengetahui obat antimikroba yang masih dapat digunakan untuk mengatasi infeksi oleh suatu mikroba. Uji kepekaan terhadap antimikroba dasarnya dapat dilakukan, melalui tiga cara yaitu: metode dilusi, metode difusi cakram, metode bioautografi (Soleha, 2015).
2.8.1. Metode Difusi Cakram
Metode modifikasi Kirby-Bauer merupakan metode difusi cakram, yang mulai diperkenalkan pada tahun 1966, yang dapat digunakan dalam laboratorium klinis. Hasil penelitian dilaporkan secara kualitatif dinyatakan sebagai rentan,
intermediate, atau resisten (Vandepitte et al., 2011). Prinsip dari metode difusi cakram yang diamati adalah diameter daerah hambatan pertumbuhan bakteri karena difusinya obat ini titik awal pemberian ke daerah difusi sebanding dengan kadar obat yang diberikan. Metode ini dilakukan dengan cara menanam bakteri pada media agar padat tertentu kemudian diletakkan kertas cakram yang mengandung obat atau dapat juga dibuat sumuran kemudian diisi obat dan dilihat hasilnya (Jawetz et al., 2012).
Kertas cakram yang mengandung sejumlah tertentu obat ditempatkan di atas permukaan media agar padat yang telah diinokulasi pada permukaan dengan organisme uji. Setelah inkubasi, diameter zona jernih inhibisi di sekitar kertas cakram diukur sebagai ukuran kekuatan inhibisi obat melawan organisme uji tertentu. Metode tersebut dipengaruhi banyak faktor fisik dan kimia selain interaksi sederhana antar obat dan organisme (misal: sifat media dan kemampuan difusi, ukuran molekular, dan stabilitas obat). Meskipun demikian, standardisasi keadaan memungkinkan penentuan kerentanan organisme (Jawetz et al., 2012).
Tabel II. 2 Kategori Daya Hambat Bakteri
Daya Hambat Bakteri Kategori
> 20 mm Sangat Kuat
11-20 mm Kuat
6-10 mm Sedang
≤ 5 mm Lemah
Sumber : (Alawiyah, Khotimah and Mulyadi, 2016)
2.8.2 Metode Dilusi
Metode dilusi adalah metode yang menggunakan antimikroba dengan kadar menurun secara bertahap dengan media cair atau padat. Kemudian media diinokulasi bakteri uji dan diinkubasi. Kemudian tahap akhir dilarutkannya antimikroba dengan kadar yang menghambat atau mematikan. Metode yang biasa digunakan untuk menentukan KHM (Kadar Hambat Maksimal) dari obat antimikroba (Jawetz, Melnick and Adelberg, 2008) .
2.8.3 Bioautografi
Metode bioautografi dapat digunakan untuk menunjukkan adanya aktivitas antibakteri. Metode ini memiliki prinsip yaitu dengan menggabungkan penggunaan teknik Kromatografi Lapis Tipis dengan respon dari mikroorganisme yang diuji berdasarkan aktivitas biologi dari suatu analit yang dapat berupa antibakteri, antikapang, dan antiprotozoa. Bioautografi dapat digunakan untuk mencari antibakteri baru, kontrol kualitas antimikroba, dan mendeteksi golongan senyawa (Choma and Grzelak, 2010).
Bioautografi dapat dibagi menjadi tiga metode, yaitu : (1) Bioautografi Kontak
Bioautografi kontak, dimana senyawa antimikroba dipindahkan dari lempeng KLT ke media agar yang telah diinokulasikan bakteri uji yang peka secara merata dan melakukan kontak langsung (Dewanjee et al., 2014). Metode ini didasarkan atas difusi dari senyawa yang telah dipisahkan dengan Kromatogafi Lapis Tipis (KLT) atau kromatografi kertas. Lempeng kromatografi tersebut ditempatkan di atas permukaan nutrien agar yang telah diinokulasikan dengan mikroorganisme yang sensitif terhadap senyawa antimikroba yang dianalisis. Setelah 15-30 menit, lempeng kromatografi tersebut dipindahkan dari permukaan media. Senyawa antimikroba yang telah berdifusi dari lempeng kromatogram ke dalam media agar akan menghambat pertumbuhan bakteri setelah diinkubasi pada waktu dan suhu yang tepat sampai noda yang menghambat pertumbuhan mikroorganisme uji tampak pada permukaan membentuk zona yang jernih. Untuk memperjelas digunakan indikator aktivitas dehidrogenase (Dewanjee
et al., 2014).
(2) Bioautografi Langsung (Deteksi KLT)
Bioautografi langsung, yaitu dimana mikroorganismenya tumbuh secara langsung di atas lempeng Kromatografi Lapis Tipis (KLT). Prinsip kerja dari metode ini adalah suspensi mikroorganisme uji yang peka dalam media cair disemprotkan pada permukaan Kromatografi Lapis Tipis (KLT) yang telah dihilangkan sisa-sisa eluen yang menempel pada lempeng
kromatogram. Setelah itu dilakukan inkubasi pada suhu dan waktu tertentu (Dewanjee et al., 2014).
Pengeringan kromatogram dilakukan secara hati-hati dengan menggunakan hairdryer untuk menghiangkan sisa eluen. Senyawa dalam lempeng kromatogram dideteksi dengan menggunakan sinar UV pada panjang gelombang 254 nm dan 365 nm. Setelah diketahui letak dan jumlah senyawa aktif yang terpisah atau terisolasi, dengan timbulnya noda (spot) pada lempeng KLT, selanjutnya disemprotkan suspensi bakteri uji sebanyak 5-6 ml di atas permukaan lempeng KLT tadi secara merata. Besarnya lempeng KLT yang sering digunakan adalah 20x20 cm dan untuk meratakan suspensi bakteri yang telah disemprotkan dapat menggunakan alat putar atau roller yang dilapisi dengan kertas kromatogram (Whatman, Clipton). Lempeng KLT diinkubasi semalam (1x24 jam) dalam boks plastik dan dilapisi dengan kertas, kemudian disemprot dengan 5 ml larutan TTC (Triphenyl Tetrazolium Chloride) sejumlah 20 mg/ml serta MTT (2,5 mg/ml) dan selanjutnya diinkubasi kembali selama 4 jam pada suhu 37oC (Dewanjee et al., 2014).
(3) Bioautografi Perendaman (Agar Overlay Bioautografi)
Bioautografi perendaman, dimana media agar telah diinokulasikan dengan suspensi bakteri dituang di atas lempeng Kromatografi Lapis Tipis (KLT). Pada prakteknya metode ini dilakukan sebagai berikut yaitu bahwa lempeng kromatografi yang telah dielusi diletakkan dalam cawan petri, sehingga permukaan tertutup oleh medium agar yang berfungsi sebagai base
layer. Setelah base layer memadat, tuangkan media yang telah
disuspensikan mikroba uji yang berfungsi sebagai seed layer. Kemudian diinkubasi pada suhu dan waktu yang sesuai (Dewanjee et al., 2014).
Salah satu keuntungan metode bioautografi dibandingkan dengan metode lain seperti difusi agar dan pengenceran adalah dapat digunakan untuk mengetahui aktivitas biologi secara langsung dari senyawa yang komplek, terutama yang terkait dengan kemampuan suatu senyawa untuk menghambat pertumbuhan mikroba, selain itu untuk pemisahan dan identifikasi. Kelebihan lainnya, metode bioautografi tersebut cepat, mudah dilakukan, hanya membutuhkan peralatan
sederhana dan interpretasi hasilnya relatif mudah dan akurat tertentu (Kusumaningtyas, Astuti and Darmono, 2008).
2.9 Tinjauan Standar McFarland
Standar McFarland adalah larutan kimia dari barium klorida dan asam sulfat; reaksi antara kedua bahan kimia ini menghasilkan produksi endapan halus, barium sulfat. Saat dihomogenkan dengan baik, kekeruhan standar McFarland secara visual sebanding dengan konsentrasi suspensi bakteri yang diketahui seperti yang ditunjukkan pada tabel II.3. Standar McFarland digunakan untuk standarisasi perkiraan jumlah bakteri dalam cairan suspensi dengan membandingkan kekeruhan uji suspensi dengan standar McFarland.
Tabel II. 3 Standar McFarland
No. Standard McFarland 1% BaCl2 (ml) 1% H2SO4 (ml) CFU/ml TM50 0.5 0.05 9.95 1.5 x 108 TM51 1.0 0.10 9.90 3.0 x 108 TM52 2.0 0.20 9.80 6.0 x 108 TM53 3.0 0.3 9.7 9.0 x 108 TM54 4.0 0.4 9.6 1.2 x 109 TM55 5.0 0.5 9.5 1.5 x 109 TM56 6.0 0.6 9.4 1.8 x 109 TM57 7.0 0.7 9.3 2.1 x 109 TM58 8.0 0.8 9.2 2.4 x 109 TM59 9.0 0.9 9.1 2.7 x 109 TM60 10.0 1.0 9.0 3.0 x 109
Sumber : (Dalynn Biologicals, 2014)
Sebelum standar McFarland digunakan, harus dihomogenkan dengan baik dan diberi aliquot ke dalam tabung test untuk menyiapkan suspensi inokulum yang identik dengan yang digunakan, setelah itu tabung harus ditutup rapat agar tidak terjadi evaporasi, kocok dengan baik pastikan bahwa barium sulfat
terdistribusikan secara merata. Standar yang paling umum digunakan dalam laboratorium mikrobiologi klinis adalah standar McFarland 0,5 yang digunakan untuk uji kepekaan antimikroba. Standar McFarland harus disimpan dengan posisi tegak lurus pada suhu 4°C sampai 25°C dan terlindungi dari cahaya. Dalam kondisi seperti ini standar McFarland memiliki umur simpan 12 minggu sejak tanggal pembuatan (Dalynn Biologicals, 2014).
2.10 Tinjauan Kromatografi Lapis Tipis (KLT)
Kromatografi didefinisikan sebagai prosedur pemisahan zat terlarut dalam sistem yang terdiri dari dua fase, yaitu fase gerak dan fase diam. Salah satunya, bergerak secara berkesinambungan dengan arah tertentu dan di dalamnya zat-zat itu menunjukkan perbedaan mobilitas yang disebabkan adanya perbedaan dalam adsorbsi, partisi, kelarutan, tekanan uap, ukuran molekul atau kerapatan muatan ion. Dengan demikian masing-masing zat dapat diidentifikasi atau ditetapkan dengan metode analitik (Depkes RI, 2014).
KLT (Kromatografi Lapis Tipis) umumnya lebih banyak digunakan untuk tujuan identifikasi, karena mudah dan sederhana serta memberikan pilihan fase diam yang lebih luas dan berguna untuk pemisahan masing-masing senyawa secara kuantitatif dari suatu campuran. Fase diam dapat bertindak sebagai zat penyerap, yang dapat bertindak melarutkan zat terlarut sehingga terjadi partisi antara fase diam dan fase gerak. Pemilihan fase diam pada KLT didasarkan pada sifat fisika kimia komponen sampel yang akan dipisahkan meliputi polaritas, kelarutan, berat molekul, bentuk dan ukuran analit. Sorben fase diam pada KLT dapat berupa senyawa anorganik maupun organik. Sorben anorganik misalnya alumunium oksida, silikon oksida, magnesium karbonat, kalsium karbonat, dan lain-lain. Sedangkan sorben organik misalnya pati dan selulosa (Depkes RI, 2008).
Fase gerak merupakan zat yang membawa zat terlarut melalui media, hingga terpisah dari zat terlarut lainnya, yang tereluasi lebih awal atau lebih akhir. Fase gerak terdiri dari pelarut tunggal ataupun campuran dua sampai empat pelarut murni. Fase gerak dapat berupa cair atau gas (Depkes RI, 2008).
Menurut Depkes RI, (2008), tahapan dalam pengujian dengan metode Kromatografi Lapis Tipis adalah sebagai berikut:
(1) Penjenuhan Bejana
Tempatkan kertas saring dalam bejana kromatografi. Tinggi kertas saring 18 cm dan lebamya sarna dengan lebar bejana. Masukkan sejumlah larutan pengembang ke dalam bejana kromatografi, hingga tingginya 0,5 sampai 1 cm dari dasar bejana. Tutup dan biarkan hingga kertas saring basah seluruhnya. Kertas saring harus selalu tercelup ke dalam larutan pengembang pada dasar bejana.
(2) Larutan uji KLT
Timbang saksama lebih kurang 1 gram serbuk simplisia, rendam sambil dikocok di atas penangas air dengan 10 ml pelarut yang sesuai selama 10 menit. Masukkan filtrat ke dalam labu tentukur 10 ml tambahkan pelarut sampai tanda.
(3) Prosedur KLT
Totolkan larutan uji dan larutan pembanding, dengan jarak antara 1,5 sampai 2 cm dari tepi bawah lempeng, dan biarkan mengering. Gunakan alat bantu penotolan untuk menentukan tempat penotolan dan jarak rambat, beri tanda pada jarak rambat.
Tempatkan lempeng pada rak penyangga, hingga tempat penotolan terletak di sebelah bawah, dan masukkan rak ke dalam bejana kromatografi. Larutan pengembang dalam bejana harus mencapai tepi bawah lapisan penyerap, totolan jangan sampai terendam. Letakkan tutup bejana pada tempatnya dan biarkan sistem hingga fase gerak merambat sampai batas jarak rambat. Keluarkan lempeng dan keringkan di udara, dan amati noda dengan sinar ultraviolet gelombang pendek (254 nm) kemudian dengan ultraviolet gelombang panjang (365 nm). Ukur dan catat jarak tiap noda dari titik penotolan serta catat panjang gelombang untuk tiap noda yang diamati, serta tentukan harga Rf. Jika diperlukan, semprot noda dengan pereaksi penampak noda, amati dan bandingkan kromatogram bahan uji dengan kromatogram pembanding (Depkes RI, 2008).
Dalam KLT (Kromatografi Lapis Tipis), perbandingan jarak rambat suatu senyawa tertentu terhadap jarak rambat fase gerak, diukur dari titik penotolan sampai titik yang memberikan intensitas maksimum pada noda, dinyatakan sebagai harga Rf senyawa tersebut. Harga Rf berubah sesuai kondisi percobaan karena itu identifikasi sebaiknya dilakukan menggunakan pembanding dan bahan uji pada lempeng (Depkes RI, 2008).
Penentuan harga Rf analit, yaitu dengan membandingkan jarak migrasi noda analit dengan jarak migrasi fase gerak/eluen (Gambar 2.4) yang dihitung dengan rumus Rf = = (Lestyo, 2011).
Gambar 2. 4 Ilustrasi Migrasi Analit dan Eluen pada Lempeng KLT (Lestyo, 2011).
2.11 Tinjauan DMSO
DMSO atau dimetil sulfoksida adalah senyawa organosulfur dengan rumus kimia (CH3)2SO. Cairan ini merupakan pelarut polar aprotik yang dapat melarutkan baik senyawa polar maupun non-polar, dan larut dalam berbagai pelarut organik maupun air (Badan POM RI, 2010). Dimetil sulfoksida merupakan cairan yang memiliki ciri-ciri tidak berwarna, tidak berbau, agak higroskopik; pelarut bagi bahan uji anorganik dan organik Dimetil sulfoksida dikenal sebagai krioprotektan konvensional yang ditambahkan ke media sel untuk mencegah kematian sel sepanjang proses pembekuan. Titik beku dimetil sulfoksida tinggi pada suhu kamar merupakan suatu padatan yang berperan dalam beberapa proses kimia seperti kristalisasi pada waktu cooling. Konstanta
dielektrik DMSO sangat tinggi, yaitu mencapai nilai 47. Hal ini mengakibatkan DMSO menjadi pelarut universal yang unik. DMSO adalah salah satu pelarut organik paling kuat yang dapat melarutkan berbagai bahan organik dan polimer secara efektif (Anonim, 2014). DMSO larut dalam air dan berbagai cairan organik lainnya, seperti alkohol, ester, keton, pelarut terklorinasi, dan hidrokarbon aromatik (Jacob & De La Torre, 2015).
Berbeda dengan air, DMSO merupakan pelarut aprotik dipolar, yaitu pelarut yang bukan berperan sebagai pendonor proton melainkan lebih cenderung menerima proton. DMSO juga merupakan senyawa ampifilik, senyawa yang memiliki karakteristik baik hidrofilik maupun hidrofobik. Oleh karena itu, DMSO juga dikenal sebagai surfaktan (surface-active molecules) yang dapat berperan sebagai interface antara air dan minyak. Namun, tidak seperti surfaktan lainnya, DMSO bersifat netral. DMSO tidak bersifat asam atau basa karena pelarut tersebut tergolong sebagai pelarut aprotik (Jacob & De La Torre, 2015).
Sebagai pelarut netral yang juga berperan sebagai surfaktan, DMSO banyak digunakan sebagai pelarut ekstrak pada berbagai penelitian terkait uji antimikrobia ekstrak tanaman. Onyegbule et al., (2011) telah menggunakan DMSO sebagai pelarut ekstrak etil asetat Napoleoneae imperalis dan sebagai kontrol negatif dalam prosedur uji luas zona hambatnya terhadap Escherichia coli, Bacillus
subtilis, dan Pseudomonas aeruginosa. Selain itu, Abel et al., (2014) juga telah
menggunakan DMSO sebagai pelarut ekstrak heksan, kloroform, etil asetat, dan metanol daun Cassia tora dan kontrol negatif dalam pengujian luas zona hambatnya terhadap Staphylococcus aureus, Staphylococcus epidermidis, dan
Bacillus subtilis. DMSO juga telah digunakan sebagai pelarut ekstrak heksan, etil
asetat dan metanol buah parijoto serta sebagai kontrol negatif dalam pengujian antibakteri terhadap Escherichia coli dan Staphylococcus aureus yang telah dilakukan oleh Niswah, (2014).
Tabel II. 4 Perbandingan Pelarut dalam Menghambat Pertumbuhan Bakteri
Pelarut % Rata-rata Pertumbuhan Mikroba
1% 2% 3% 4% 5% 6%
DMSO 97,6 97 93,2 52,2 41,6 33,2
Metanol 95,6 93,8 89 57,8 51,4 37,2
Etanol 81 74,2 68,2 54,8 41,2 30,6