BAB II
URAIAN TEORITIS
2.1 Paradigma Konstruktivis
2.1.1. Sejarah Paradigma Konstruktivis
Paradigma konstruktivis ialah paradigma di mana kebenaran suatu realitas sosial dilihat sebagai hasil konstruksi sosial, dan kebenaran suatu realitas sosial bersifat relatif (nisbi). Pertama, dilihat dari penjelasan ontologis, realitas yang dikonstruksi itu berlaku sesuai konteks spesifik yang dinilai relevan oleh pelaku sosial. Kedua, paradigma konstruktivis ditinjau dari konteks epistemologis, bahwa pemahaman tentang suatu realitas merupakan produk interaksi antara peneliti dengan objek yang diteliti. Dalam hal ini, paradigma konstruktivis bersifat transaksional atau subjektif. Ketiga, dalam konteks aksiologi, yakni peneliti sebagai passionate participation, fasilitator yang menjembatani keragaman subjektivitas pelaku sosial.
Dalam ilmu-ilmu sosial, paradigma konstruktivis merupakan salah satu dari paradigma yang ada. Dua paradigma lainnya adalah klasik dan kritis. Paradigma konsruktivis berada di dalam perspektif interpretivisme (penafsiran) memiliki tiga jenis, yaitu interaksi simbolik, fenomenologis dan hermenetik.
Konsep mengenai konstruksionis diperkenalkan oleh sosiolog interpretative, Peter L. Berger bersama Thomas Luckman, mereka banyak menulis karya dan menghasilkan tesis mengenai konstruksi tentang sosial atas realitas. (Eriyanto 2004:13) menuliskan bahwa dalam konsep kajian
komunikasi, teori konstruksi sosial bisa disebut berada di antara teori fakta sosial dan definisi sosial. Dalam teori fakta sosial struktur sosial yang eksislah yang penting. Manusia adalah produk dari masyarakat. Tindakan dan persepsi manusia ditentukan oleh struktur yang ada dalam masyarakat. Institusional, norma, sruktur dan lembaga sosial menetukan individu manusia. Sebaliknya adalah teori definisi sosial, manusialah yang membentuk masyarakat. Manusia digambarkan sebagai identitas yang otonom. Melakukan pemaknaan dan membentuk masyarakat. Manusia yang membentuk realitas, menyusun institusi dan norma yang ada. Teori konstruksi sosial berada di antara keduanya.
Paradigma konstruktivis juga dipengaruhi oleh perspektif interaksi simbolis dan perspektif sruktural fungsional. Perspektif interaksi simbolis ini mengatakan bahwa manusia secara aktif dan kreatif mengembangkan respons terhadap stimulus dalam dunia kognitifnya. Dalam proses sosial, individu manusia dipandang sebagai pencipta realitas sosial yang relatif bebas di dalam dunia sosialnya. Realitas sosial itu memiliki makna manakala realitas sosial tersebut dikontrusikan dan dimaknakan secara subjektif oleh individu lain, sehingga memantapkan realitas itu secara objektif.
2.1.2. Konstruktivis
Konsep mengenai konstruktivis diperkenalkan oleh sosiolog interpretative, Peter L. Berger bersama Thomas Luckman, mereka banyak menulis karya dan menghasilkan tesis mengenai konstruksi tentang sosial atas realitas. Tesis utama dari Berger adalah manusia dan masyarakat adalah produk yang dialektis, dinamis dan plural secra terus-menerus. Masyarakat lain adalah produk manusia, namun secara terus menerus mempunyai aksi
kembali terhadap penghasilnya. Sebaliknya, manusia adalah hasil atau produk dari masyarakat. Seseorang yang baru menjadi seorang pribadi yang beridentitas sejauh ia tetap tinggal di dalam masyarakatnya.
Proses dialektis tersebut mempunyai 3 tahapan, Berger menyebutnya sebagai momen. Ada tiga tahap peristiwa. Pertama, eksternalisasi, yaitu usaha pencurahan atau ekspresi diri manusia ke dalam dunia, baik dalam kegiatan mental maupun fisik. Ini sudah menjadi sifat dasar manusia, ia akan selalu mencurahkan diri ke tempat diman ia berada. Manusia tidak dapat kita mengerti sebagai ketertutupan yang terlepas dari dunia luarnya. Manusia berusaha menangkap dirinya, dalam proses inilah dihasilkan suatu dunia, dengan kata lain manusia menemukan dirinya sendiri dalam suatu dunia.
Kedua, objektivasi, yaitu hasil yang telah dicapai, baik secara mental maupun fisik dari eksternalisasi manusia tersebut. Hasil itu menghasilkan realitas objektif yang bisa jadi akan menghadapi si penghasil itu sendiri sebagai suatu faktisitas yang berada diluar dan berlainan dari manusia yang menghasilkannya. Hasil dari eksternalisasi-kebudayaan itu misalnya, manusia menciptakan alat demi kemudahan hidupnya, atau kebudayaan non material dalam bentuk bahasa. Baik alat jadi maupunbahasa adalah kegiatan eksternalisasi manusia ketika berhadapan dengan dunia, ia adalah hasil dari kegiatan manusia. Setelah dihasilkan, baik benda maupun bahasa sebagai produk ekternalisasi tersebut menjadi realitas tang objektif. Bahkan ia dapat menghadapi manusia sebagai penghasil produk dari kebudayaan. Kebudayaan yang telah berstatus sebagai realitas objektif, ada di luar kesadaran manusia, ada “di sana” bagi setiap orang. Realitas objektif itu berbeda dengan realitas
subjektif perorangan. Ia menjadi kenyataan empiris yang bisa dialami oleh setiap manusia.
Ketiga, internalisasi. Proses internalisasi lebih merupakan penyerapan kembali dunia objektif ke dalam kesadaran sedemikian rupa sehingga subjektif individu dipengaruhi oleh struktur dunia sosial. Berbagai macam unsur dari dunia yang telah terobjektifkan tersebut akan ditangkap sebagai gejala relitas diluar kesadrannya, sekaligus sebagai gejala internal bagi kesadaran. Melalui internalisasi, manusia menjadi hasil dari masyarakat.
Bagi Berger, realitas itu tidak dibentuk secara alamiah, tidak juga sesuatu yang diturunkan oleh Tuhan. Tetapi sebaliknya, ia dibentuk dan dikonstruksikan. Setiap orang bisa mempunyai konstruksi yang berbeda-beda atas dasar suatu realitas. Setiap orang yang mempunyai pengalaman, preferensi, pendidikan tertentu dan lingkungan pergaulan atau sosial tertentu akan menafsirkan realitas sosial itu dengan konstruksinya masing-masing (Eriyanto, 2004: 13-15).
Konstruktivis merupakan sebuah kerja kognitif individu untuk menafsirkan dunia relitas yang ada, karena terjadi relasi sosial tantara individu dengan lingkungannya atau orang disekitarnya. Kemudian individu membangun sendiri pengetahuan atas realitas itu berdasarkan pada struktur pengetahuan yang telah ada sebelumnya.
Dalam pendekatan konstruktivis, landasan berpikir yang perlu dipegang oleh peneliti adalah bahwa realitas sosial diciptakan dan dilestarikan melalui pemahaman subjektif dan intersubjektif dari para pelaku sosial. Para pelaku sosial ini dipandang aktif sebagai interpreter-interpreter yang dapat menginterpretasikan aktivitas-aktivitas simbolik mereka. Aktivitas-aktivitas
simbolik yang dimaksud adalah bahasa, misalnya makna-makna yang dikejar adalah makna subjektif dan makna konsensus.
Makna subjektif adalah makna yang mengacu pada interpretasi individu, sedangkan makna konsensus adalah makna yang diinterpretasikan secara kolektif. Sementara makna konsensus dikonstrusikan melalui proses-proses interaksi sosial.
Kedua makna tersebut pada hakekatnya merupakan makna-makna yang menunjukan realitas sosial. Asumsinya adalah bahwa realitas secara sosial dikontruksikan melalui kata, simbol, dan perilaku diantara anggotanya. Kata, simbol dan perilaku ini akan melahirkan pemahaman akan rutinitas sehari-hari dalam praktek-praktek kehidupan subjek penelitian (Rejeki, 2004: 110-111).
2.2 Fenomenologi
Secara etimologis, fenomenologi sebenarnya berasal dari kata Yunani, yakni phainimeon yang berarti penampakan, dan logos yang berarti rasio atau kata-kata, atau penalaran rasional. Fenomenologi Transendental yang dikembangkan oleh Edmund Husserl (1859-1938) merupakan metoda untuk menjelaskan fenomena dalam kemurnianya. Fenomena adalah segala sesuatu yang dengan suatu cara tertentu tampil dalam kesadaran manusia. Baik sebagai suatu hasil rekaan, maupun berupa sesuatu yang nyata, yang berupa gagasan maupun berupa kenyataan.
Selajutnya dikatakan yang penting ialah pengembangan suatu metode yang tidak memalsukan fenomena, melainkan dapat mendeskripsikannya seperti penampilannya. Untuk tujuan itu fenomenolog hedaknya memusatkan
perhatiannya kepada fenomena tersebut tanpa disertai prasangka sama sekali. Seorang fenomenolog hendaknya meniggalkan segenap teori, praanggapan serta prasangka, agar dapat memahami fenomena sebagaimana adanya.
Memahami fenomena sebagaimana adanya merupakan usaha kembali kepada barangnya sebagaimana penampilannya dalam keadaan kesadaran . barang yang tampil sebagaimana adanya dalam kesadaran itulah fenomena. (Husserl dalam Basuki, 2006:71). Usaha kembali kepada fenomena ini memerlukan pedoman metodik. Tidak mungkin untuk melukiskan fenomena-fenomena sampai pada hal-hal yang khusus satu demi satu. Yang pokok adalah menangkap hakekat fenomena-fenomena. Oleh karena itu metode tersebut harus dapat menyisikan hal-hal yang tidak hakiki, agar hakekat ini dapat mengungkapkan diri sendiri. Yang demikian bukan suatu abstraksi, melainkan institusi mengenai hakekat sesuatu (Husserl dalam Basuki, 2006:72).
Selanjutnya dijelaskan bahwa kesadaran tidak pernah langsung terjangkau sebagaimana adanya, karena pada hakekatnya bersifat intensional, artinya mengarah kepada sesuatu yang bukan merupakan kesadaran itu sendiri. Pengamatan serta pemahaman, pembayangan serta penggambaran, hasrat serta upaya, semuanya senantiasa bersifat intensional, terarah kepada sesuatu. Hanya dengan melakukan analisis mengenai intensional ini kesdaran itu dapat ditemukan. Untuk itu seorang fenomenolog harus secara cermat “menempatkan tanda kurung” kenyataan dunia luar agar fenomena ini hanya tampil dalam kesadaran. Penyekatan dunia luar ini memerlukan metoda yang khas. Metoda tersebut disebut reduksi fenomenologik atau epoche (Husserl dalam Basuki, 2006:75). Reduksi tersebut terdiri dari 2 (dua) macam, yaitu reduksi eidetic yang memperlihatkan hakekat (eidos) dalam fenomena, dan reduksi transcendental
yang menempatkan dalam “tanda kurung” setiap hubungan antara fenomena dengan dunia luar. Melalui kedua macam reduksi ini dapat dicapai kesadaran
transedental, sedangkan kesadran terhadap pengalaman empirik sebetulnya hanya
merupakan bentuk pengungkapan satu demi satu dari kesadaran transedental. Fenomenologi Transedental yang di formulasikan oleh Husserl pada permulaan abad 20 menekankan dunia yang menampilkan dirinya sendiri kepada kita sebgai manuia. Tujuanya ialah kembali ke barang/ bendanya sendiri sebagimana mereka tampil kepada kita dan mengesampingkan atau mengurung apa yang telah kita ketahui tentang mereka. Dengan kata lain fenomenologi tertarik pada dunia seperti yang dialami manusia dengan konteks khusus, pada waktu khusus, lebih dari pernyataan abstrak tentang kealamian dunia secara umum.
Fenomenologi menekankan fenomena yang tampi dalam kesadran kita ketika kita berhadapan dengan dunia sekeliling kita. Fenomenologi mengindetifikasikan strategi-strategi yang dapat memfokuskan diri dimana letak kemurnian fenomenolog dan merefreksikan apa yang kita bawa serta pada alktivitas presepsi dengan merasa, berpikir, mengigat dan memutuskan. Hal ini merupakan implikasi metodologi fenomenologi.
2.4 Corporate Social Responsibility (CSR)
Sebenarnya banyak istilah yang digunakan secara bergantian untuk
Corporate Social Responsibility (CSR) atau tanggung jawab sosial perusahaan ini.
korporan (corporate citizenship), ada juga yang menamakan corporate-community
relationship, atau ada juga yang menyebutnya dengan organisasi berkelanjutan.
2.4.1.Definisi Corporate Social Responsibility (CSR)
Siregar mendefinisikan Corporate Social Responsibility sebagai berikut:
The program of Corporate Social Responsibility is the social program that provides a lot of contributions in solving social problems in job opportunities, health, education, economy, and the environment (Siregar,
2007:285).
Program Corporate Social Responsibility CSR) adalah sebuah program sosial yang menyediakan keharusan memberikan kontribusi dalam memecahkan masalah-masalah sosial dalam bidang kesempatan pekerjaan, pendidikan, ekonomi, dan lingkungan.
Dari pengertian di atas, dapat dipahami bahwa Corporate Social
Responsibility (CSR) lahir atas dasar realitas sosial yang mengharuskan
perusahaan terlibat secara langsung dalam menyelesaikan masalah-masalah sosial, tidak terbatas pada pencarian keuntungan.
Dapat dikatakan bahwa tuntutan sosial pada perusahaan muncul sebagai refleksi pertanggungan jawab dari perusahaan (social responsibility) pada seluruh stakeholder utamanya. Mereka terdiri dari karyawan, pembeli, investor/nasabah, pemerintah, masyarakat dan kelangsungan lingkungan hidup bagi generasi penerus.
Dengan dipenuhinya kewajiban-kewajiban ini maka perusahaan telah melakukan kegiatannya secara berkelanjutan dan tidak merugikan kepentingan para stakeholdernya. Perusahaan dalam mencari laba diperbolehkan, tetapi
jangan pula mengabaikan hak-hak yang terkandung dan dimiliki oleh konsumen, investor dan masyarakat.
Secara singkat Corporate Social Responsibility (CSR) dapat diartikan sebagai tanggung jawab sosial perusahaan yang bersifat sukarela. Corporate
Social Responsibility (CSR) adalah konsep yang mendorong organisasi untuk
memiliki tanggung jawab sosial secara seimbang kepada pelanggan, karyawan, masyarakat, lingkungan, dan seluruh stakeholder. Sedangkan program charity dan community development merupakan bagian dari pelaksanaan Corporate Social Responsibility (CSR).
Dalam prakteknya, charity dan community development dikenal lebih dahulu terkait interaksi perusahaan dengan lingkungan sekitarnya, serta kebutuhan perusahaan untuk lebih dapat diterima masyarakat. Sementara itu, lebih jauh Corporate Social Responsibility (CSR) dapat dimaknai sebagai komitmen dalam menjalankan bisnis dengan memperhatikan aspek sosial, norma-norma dan etika yang berlaku, bukan saja pada lingkungan sekitar, tapi juga pada lingkup internal dan eksternal yang lebih luas.
Tidak hanya itu Corporate Social Responsibility (CSR) dalam jangka panjang memiliki kontribusi positif terhadap pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan meningkatnya kesejahteraan.
Kini dunia usaha tidak lagi hanya memperhatikan catatan keuangan perusahaan semata (single bottom line), melainkan sudah meliputi keuangan, sosial, dan aspek lingkungan (Triple bottom line). Sinergi tiga elemen ini merupakan kunci dari konsep pembangunan berkelanjutan.
Istilah Corporate Social Responsibility (CSR) pertama kali muncul dalam tulisan Social Responsibility of the Businessman tahun 1953. konsep
yang digagas Howard Rothmann Browen ini menjawab keresahan dunia bisnis. Belakangan Corporate Social Responsibility (CSR) segera diadopsi, karena bisa jadi penawar kesan buruk perusahaan yang terlanjur dalam pikiran masyarakat dan lebih dari itu pengusaha di cap sebagai pemburu uang yang tidak peduli pada dampak kemiskinan dan kerusakan lingkungan. Kendati sederhana, istilah Corporate Social Responsibility (CSR) amat marketable melalu Corporate Social Responsibility (CSR) pengusaha tidak perlu diganggu perasaan bersalah (Siregar, 2007: 285). Corporate Social Responsibility (CSR) muncul dalam berbagai tahapan berikut ini:
1. Entrepeneurial Era
a. Bisnis pada abad ke 19 ditandai dengan bangkitnya semangat kewirausahaan dan filosofi mekanisme pasar bebas yang dipelopori oleh pengusaha rockefeller, Morgan dan Vanderbilt.
b. Pada saat itu banyak terjadi pelanggaran pada hak2 pekerja dan cara2 berbisnis dengan baik.
c. Beberapa negara kemudian mulai mengeluarkan Undang-Undang (UU) yang membatasi kecurangan2 dalam praktek melakukan bisnis.
2. The Great Depression
a. Pada tahun 1930 banyak pihak yang menuding bahwa kegagalan pasar didorong oleh adanya ketamakan dalam mengejar laba.
b. Sehingga mulai timbul kesadaran perlunya UU yang mengatur perlindungan pada pekerja, konsumen dan masyarakat.
a. Dimulai tahun 1960-1970 kalangan bisnis dituding berkolaborasi dengan pemerintah, seperti dalam memanfaatkan berbagai kesempatan bisnis yang merugikan masyarakat. Contoh yang paling menonjol adalah produksi rokok dan kolaborasi bisnis dengan adanya perang Vietnam.
b. Masyarakat kemudian menuntut adanya UU tentang pembatasan merokok dan UU tentang perlindungan lingkungan alam.
4. Contemporary Social Consciousness
a. Sejak 1990 masuklah era kesadaran dari berbagai pihak perlunya bisnis memperhatikan tanggung sosial, yang didorong dari perkembangan globalisasi dan kerusakan lingkungan.
b. Berbagai UU Lingkungan hidup dan perlunya CSR program segera mulai diperkenalkan.
2.4.2 Implementasi Program CSR pada Perusahaan
Seiring dengan pesatnya perkembangan sektor dunia usaha sebagai akibat liberalisasi ekonomi, berbagai kalangan swasta, organisasi masyarakat, dan dunia pendidikan berupaya merumuskan dan mempromosikan tanggung jawab sosial sektor usaha dalam hubungannya dengan masyarakat dan lingkungan.
Namun saat ini–saat perubahan sedang melanda dunia–kalangan usaha juga tengah dihimpit oleh berbagai tekanan, mulai dari kepentingan untuk meningkatkan daya saing, tuntutan untuk menerapkan corporate governance, hingga masalah kepentingan stakeholder yang makin meningkat.
Oleh karena itu, dunia usaha perlu mencari pola-pola kemitraan (partnership) dengan seluruh stakeholder agar dapat berperan dalam pembangunan, sekaligus meningkatkan kinerjanya agar tetap dapat bertahan dan bahkan berkembang menjadi perusahaan yang mampu bersaing.
Upaya tersebut secara umum dapat disebut sebagai Corporate Social
Responsibility atau Corporate Citizenship dan dimaksudkan untuk mendorong
dunia usaha lebih etis dalam menjalankan aktivitasnya agar tidak berpengaruh atau berdampak buruk pada masyarakat dan lingkungan hidupnya, sehingga pada akhirnya dunia usaha akan dapat bertahan secara berkelanjutan untuk memperoleh manfaat ekonomi yang menjadi tujuan dibentuknya dunia usaha.
Masih banyak perusahaan tidak mau menjalankan program-program
Corporate Social Responsibility (CSR) karena melihat hal tersebut hanya
sebagai pengeluaran biaya (cost center). Corporate Social Responsibility
(CSR) memang tidak memberikan hasil secara keuangan dalam jangka
pendek.
Corporate Social Responsibility (CSR) merupakan salah satu
kewajiban yang harus dilaksanakan oleh perusahaan sesuai dengan isi pasal 74 Undang-undang Perseroan Terbatas (UUPT) no. 40 tahun 2007. Kini dunia usaha tidak lagi hanya memperhatikan catatan keuangan perusahaan semata (single bottom line), melainkan sudah meliputi keuangan, sosial, dan aspek
lingkungan (Triple bottom line). Sinergi tiga elemen ini merupakan kunci dari konsep pembangunan berkelanjutan (Siregar, 2007: 285).
Substansi dalam ketentuan pasal 74 Undang-Undang nomor 40 tentang Perseroan Terbatas mengandung makna, mewajibkan tanggung jawab sosial dan lingkungan mencakup pemenuhan peraturan perundangan terkait, penyediaan anggaran tanggung jawab sosial dan lingkungan, dan kewajiban melaporkannya. Tanggung jawab sosial dan lingkungan tidak hanya berlaku untuk perusahaan yang bergerak di bidang atau berkaitan dengan sumber daya alam, tetapi berlaku untuk semua perusahaan, tidak terkecuali perusahaan skala UKM, baru berdiri, atau masih dalam kondisi merugi.
Namun Corporate Social Responsibility (CSR) akan memberikan hasil baik langsung maupun tidak langsung pada keuangan perusahaan di masa mendatang. Dengan demikian apabila perusahaan melakukan program-program Corporate Social Responsibility (CSR) diharapkan keberlanjutan perusahaan akan terjamin dengan baik. Oleh karena itu, program-program
Corpoarate Social Responsibility (CSR) lebih tepat apabila digolongkan
sebagai investasi dan harus menjadi strategi bisnis dari suatu perusahaan. Dengan masuknya program Corporate Social Responsibility (CSR) sebagai bagian dari strategi bisnis, maka akan dengan mudah bagi unit-unit usaha yang berada dalam suatu perusahaan untuk mengimplementasi kan rencana kegiatan dari program Corporate Social Responsibility (CSR) yang dirancangnya.
Dilihat dari sisi pertanggung jawaban keuangan atas setiap investasi yang dikeluarkan dari program Corporate Social Responsibility menjadi lebih
jelas dan tegas, sehingga pada akhirnya keberlanjutan yang diharapkan akan dapat terimplementasi berdasarkan harapan semua stakeholder.
Saat ini telah banyak perusahaan di Indonesia, khususnya perusahaan besar yang telah melakukan berbagai bentuk kegiatan Corporate Social
Responsibility (CSR), apakah itu dalam bentuk community development, charity, atau kegiatan-kegiatan philanthropy. Timbul pertanyaan apakah yang
menjadi perbandingan/perbedaan antara program community development,
philanthropy, dan Corporate Social Responsibility (CSR) dan mana yang
dapat menunjang berkelanjutan (sustainable)?
Tidak mudah untuk memberikan jawaban yang tegas terhadap pertanyaan di atas, namun penulis beranggapan bahwa “Corporate Social
Responsibility (CSR) is the ultimate level towards sustainability of development”. Umumnya kegiatan-kegiatan community development, charity
maupun philanthropy yang saat ini mulai berkembang di Indonesia masih merupakan kegiatan yang bersifat pengabdian kepada masyarakat ataupun lingkungan yang berada tidak jauh dari lokasi tempat dunia usaha melakukan kegiatannya.
Di lain pihak, adanya pertumbuhan keinginan dari konsumen untuk membeli produk berdasarkan kriteria-kriteria berbasis nilai-nilai dan etika akan merubah perilaku konsumen di masa mendatang. Implementasi kebijakan
Corporate Social Responsibility (CSR) adalah suatu proses yang terus
menerus dan berkelanjutan. Dengan demikian akan tercipta satu ekosistem yang menguntungkan semua pihak (win win situation). Konsumen mendapatkan produk unggul yang ramah lingkungan, produsen pun
mendapatkan profit yang sesuai yang pada akhirnya akan dikembalikan ke tangan masyarakat secara tidak langsung.
Untuk mencapai keberhasilan dalam melakukan program Corporate
Social Responsibility (CSR), diperlukan komitmen yang kuat, partisipasi aktif,
serta ketulusan dari semua pihak yang peduli terhadap program-program
Corporate Social Responsibility (CSR). Program Corporate Social Responsibility (CSR) menjadi begitu penting karena kewajiban manusia untuk
bertanggung jawab atas keutuhan kondisi-kondisi kehidupan umat manusia di masa datang. Perusahaaan perlu bertanggung jawab bahwa di masa mendatang tetap ada manusia di muka bumi ini, sehingga dunia tetap harus menjadi manusiawi, untuk menjamin keberlangsungan kehidupan kini dan di hari esok.
2.6 Humanistik
Psikologi humanistik dianggap sebagai revolusi ketiga dalam psikologi. Psikologi humanistik mengambil banyak dari psikoloanalisis Neo-Freudian (Sebenarnya Anti Frudean) tetapi lebih banyak lagi mengambil dari fenomenologi dan eksistensilisme. Fenomenologi memandang manusia hidup dalam “dunia kehidupan” yang dipersepsikan dan diinterrpretasikan secara subjektif. Setiap orang mengalami dunia dengan caranya sendiri. “alam pengalaman orang berbeda dari alam pengalaman orang lain” (Brouwer, 1983: 14).
Menurut Alfred Schutz, tokoh sosiologi fenomenologis, penggalaman subjektif ini dikomunikasikan oleh aktor sosial dalam proses intersubjektivitas. Intersubjektivitas diungkapkan pada eksistensialisme dalam tema dialog, pertemuan, hubungan diri dengan orang lain, atau “I-thou Relationship”. Istilah yang menunjukan hubungan pribadi dengan pribadi, bukan pribadi dengan benda;
subjek dengan subjek, bukan subjek dengan objek. Manusia, dalam pandangan ini hanya tumbuh dengan baik dalam “I-thou Relationship”, dan bukan “I-it
Relationship”. Disinilah faktor orang lain menjadi penting; bagaimana reaksi
mereka membentuk bukan saja konsep diri kita, tetapi juga pemuas- apa yang disebut oleh Abraham Maslow – “growth needs”.
Abraham Maslow (1970) mengemukakan Teori Hierarki Keperluan Maslow dengan andaian bahawa manusia tidak pernah berasa puas dengan apa yang telah dicapai. Mengikut Maslow kehendak manusia terbagi lima mengikut keutamaan yaitu keperluan asas fisiologi, keselamatan, penghargaan dan kasih sayang, penghormatan kendiri seterusnya keperluan sempurna kendiri. Rogers (1956) pula mengatakan bahawa manusia sentiasa berusaha memahami diri sendiri, mempengaruhi dan mengawal perlakuan dirinya dan orang lain. Rogers berpendapat bahawa manusia lahir dengan kecenderungan untuk kesempurnaan yang akan memandunya menjadi insan yang matang dan sehat. Jelas di sini bahawa pendekatan ini lebih memberi tumpuan kepada kemahuan seseorang dan menekankan keunikan manusia serta kebebasan mereka untuk memilih pengalaman hidup. Contohnya, Karim murid tahun enam yang tidak mendapat kasih sayang dari ibu bapanya dan sentiasa dinafikan haknya dari adik beradiknya yang lain telah menyebabkan ia suka menyendiri dan tidak yakin pada dirinya sendiri sehingga menjelaskan pelajarannya.
Perhatian pada makna kehidupan adalah juga hal yang membedakan psikologi humanistik dari mazab yang lain. Manusia bukan saja pelakon panggung masyarakat, bukan saja pencari identitas, tetapi juga pencarian makna.