• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB VIII PENUTUP Kesimpulan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB VIII PENUTUP Kesimpulan"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

BAB VIII PENUTUP

Bab VIII memaparkan pembahasan mengenai kesimpulan dari hasil penelitian, serta implikasi dan saran dalam ranah akademik dan praktis sesuai dengan kesimpulan hasil penelitian. Pada bagian akhir dipaparkan pula mengenai keterbatasan dan tantangan yang dihadapi selama penelitian, sebagai bagian dari pembelajaran untuk masa mendatang. Masing-masing pembahasan tersebut, dapat dipaparkan sebagai berikut.

8.1. Kesimpulan

Tata spasial Kota Kerajaan Karangasem merupakan konfigurasi pelbagai komponen yang menggambarkan hubungan timbal balik antara ruang fisik sebagai wadah kegiatan dengan kondisi masyarakat sebagai pelaku kegiatan, yang dipengaruhi oleh pelbagai gagasan untuk mencapai tujuan dalam kehidupannya. Gagasan tersebut diyakini bersumber dari pertimbangan-pertimbangan fisik (lahiriah) dan non-fisik (bathin/spiritual), yang dilandasi oleh kebutuhan masyarakat, nilai kearifan lokal, dan kepercayaan masyarakat yang berkembang di Kota Kerajaan Karangasem. Pada masa sekarang, tata spasial Kota Kerajaan Karangasem tetap menunjukkan perwujudan yang khas dengan konsep yang melandasinya, sebagai upaya masyarakat beradaptasi dengan pelbagai dinamika zaman, sehingga mampu mencapai tujuan dalam kehidupannya.

Tata spasial Kota Kerajaan Karangasem berwujud lingkaran konsentris, yang terbagi menjadi pelbagai lapisan wilayah, dengan catuspatha (pempatan agung) sebagai pusatnya. Berdasarkan cakupan lapisan wilayahnya, tata spasial Kota Kerajaan Karangasem terbagi menjadi tiga skala, yang tersusun oleh lima komponen utama dan dilandasi oleh lima konsep turunan (substantif) tata spasial Kota Kerajaan Karangasem. Perwujudan tata spasial Kota Kerajaan Karangasem dalam tiga skala dengan pelbagai komponen dan konsep turunannya, merupakan upaya masyarakat kota untuk mengatur wadah kehidupannya sebagai bagian dari alam semesta, dalam perwujudan ruang kehidupan yang harmonis. Masyarakat menyadari bahwa alam semesta diciptakan oleh Ida Sang Hyang Widi

(2)

Wasa/Tuhan Yang Maha Esa, sebagai wadah bagi kehidupan manusia, yang penuh keharmonisan, keselarasan, dan keteraturan, meskipun terdiri dari beragam materi dan makhluk hidup. Kesadaran ini yang melandasi masyarakat untuk mengatur wadah kehidupannya dalam suatu tatanan atau konfigurasi yang harmonis, sehingga dapat mencapai keseimbangan dengan alam semesta, yang diyakini dapat membawa kedamaian dalam kehidupan.

Ketiga skala tata spasial kota tersebut, yaitu: (1) skala negara; (2) skala kuta; dan (3) skala karang. Tata spasial kota dalam skala negara merupakan skala kerajaan yang membagi wilayah kerajaan menjadi dua, menurut sistem politik dan pemerintahan, yaitu: (1) jero kuta yaitu wilayah “dalam” kota; dan (2) jaba kuta yaitu wilayah “luar” kota. Tata spasial kota dalam skala negara tersusun oleh komponen orientasi kosmologis dan topografi wilayah kota kerajaan, dan aktivitas masyarakat, yang dilandasi oleh konsep segara-gunung, kangin-kauh, posisi Brahma, dan kuta.

Tata spasial kota dalam skala kuta merupakan skala dalam kota kerajaan yang membagi wilayah kota kerajaan menjadi tiga menurut pembagian hierarki hunian masyarakat, yaitu: (1) wilayah puri yang memiliki tingkatan utama; (2) wilayah

jero dan geria yang memiliki tingkatan madya; dan (3) wilayah umah-banjar pakraman dan rumah-kampung yang memiliki tingkatan nista. Tata spasial kota

dalam skala negara, tersusun oleh komponen orientasi kosmologis dan topografi wilayah kota kerajaan, tata letak fungsi ruang atau monumen kerajaan, tata hunian masyarakat, dan aktivitas masyarakat, yang dilandasi oleh konsep segara-gunung,

kangin-kauh, posisi Brahma, kuta, catur warna, catur wangsa, dan mandala.

Tata spasial kota dalam skala karang merupakan skala pusat kota kerajaan yang terwujud dari adaptasi catuspatha (pempatan agung) sebagai pusat wilayah, orientasi, dan aktivitas masyarakat. Tata spasial kota dalam skala karang, tersusun oleh komponen orientasi kosmologis dan topografi wilayah kota kerajaan, tata letak fungsi ruang atau monumen kerajaan, tata hunian masyarakat, aksis (poros) dan ragam jalan, dan aktivitas masyarakat, yang dilandasi oleh konsep

segara-gunung, kangin-kauh, posisi Brahma, kuta, catur warna, catur wangsa, mandala,

(3)

(Kesejahteraan dan kedamaian masyarakat/dunia dengan keseimbangan nilai dharma, artha, dan kama, yang termanifestasi dalam perwujudan tata spasial kota dengan

(4)

Pada masa sekarang, masyarakat mengenal keberadaan tiga macam pempatan

agung di Kota Kerajaan Karangasem, yaitu: (1) pempatan agung “kerajaan” yang

memiliki fungsi dan nilai secara historis, filosofis, keagamaan, sosial dan budaya, yang ditandai oleh keberadaan puri, pura, dan peken (pasar tradisional); (2)

pempatan agung “ritual” yang memiliki fungsi dan nilai secara keagamaan, sosial,

dan budaya, yang ditandai oleh keberadaan puri, lapangan, dan hunian; dan (3)

pempatan agung “pusat” yang memiliki nilai utama menurut pandangan

masyarakat terhadap letak ruang dalam kaitannya dengan orientasi kosmologis, yang ditandai oleh keberadaan puri, peken, hunian, dan empat pempatan yang berada di keempat arah pempatan agung. Keberadaan tiga pempatan agung ini, dipahami sebagai dinamika yang disikapi secara bijak oleh masyarakat, sebagai upaya beradaptasi dengan perkembangan zaman untuk mencapai tujuan kehidupan, tanpa menghilangkan substansi dari tujuan tersebut.

Perwujudan tata spasial Kota Kerajaan Karangasem mencerminkan pula wujud keharmonisan antara kebutuhan lahiriah dan spiritual masyarakat, melalui pelbagai kegiatan yang diwadahi oleh komponen-komponen tata spasial kota. Pelbagai kegiatan tersebut, yaitu: (1) kegiatan spiritual dan keagamaan sebagai wujud keharmonisan manusia dengan Ida Sang Hyang Widi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa sebagai Maha Pencipta dan alam semesta sebagai wadah kehidupan masyarakat; (2) kegiatan ekonomi dan perdagangan sebagai wujud keharmonisan manusia dengan sesama manusia untuk memperoleh materi atau harta benda sehingga dapat memenuhi kebutuhan, meningkatkan kesejahteraan, dan meningkatkan kualitas kehidupan ke arah yang lebih baik; dan (3) kegiatan politik dan pemerintahan, sosial dan budaya sebagai wujud keharmonisan manusia dengan Ida Sang Hyang Widi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa, sesama manusia, dan alam semesta, untuk memenuhi pelbagai hasrat dan keinginan manusia yang selalu berusaha dipenuhi dalam kehidupan.

Perwujudan tata spasial Kota Kerajaan Karangasem, menyiratkan kesadaran masyarakat tentang gagasan yang bersumber dari nilai-nilai dan tujuan yang ingin dicapai oleh pemangku kewenangan dan masyarakat Kota Kerajaan Karangasem. Dalam hal ini, perwujudan tata spasial Kota Kerajaan Karangasem dengan

(5)

pelbagai komponen dan konsep turunannya, dilandasi oleh kesadaran masyarakat tentang gagasan untuk mencapai jagadhita yaitu kesejahteraan dan kedamaian bagi seluruh masyarakat dan dunia yang dilandasi oleh nilai-nilai kepercayaan/keyakinan dan kearifan lokal masyarakat. Jagadhita merupakan tujuan hidup manusia sebagai makhluk pribadi dan sosial, yang termanifestasi dalam pelbagai perilaku, tatanan, aturan, aktivitas, dan wadah kegiatan manusia.

Jagadhita merupakan nilai transendental yang telah menjadi kesadaran dan

pengetahuan masyarakat Kota Kerajaan Karangasem, sehingga mempengaruhi pelbagai kegiatan dan perwujudan wadah kegiatan masyarakat. Setiap kegiatan dan perwujudan wadah kegiatan masyarakat, merupakan sebuah proses dan sarana untuk mencapai kesejahteraan dan kedamaian bagi seluruh masyarakat. Hal tersebut tercermin dalam upaya masyarakat untuk selalu menjaga keharmonisan hidup dengan Ida Sang Hyang Widi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa, sesama manusia, dan alam semesta. Ida Sang Hyang Widi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa disadari sebagai Yang Maha Kuasa yang menentukan pelbagai kegiatan masyarakat untuk mencapai kesejahteraan dan kedamaian dalam kehidupan.

Jagadhita sebagai landasan perwujudan tata spasial Kota Kerajaan

Karangasem, dimanifestasikan dalam penataan spasial kota dengan susunan pelbagai komponen dan pelbagai konsep turunan yang melandasinya, sebagai bagian dari pelbagai nilai, untuk mencapai kesejahteraan dan kedamaian masyarakat dan dunia. Oleh karena itu, jagadhita diyakini sebagai “jiwa” yang melandasi perwujudan tata spasial kota dan sebagai salah satu penentu utama keberlanjutan Kota Kerajaan Karangasem dalam menghadapi pelbagai dinamika zaman dan kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, jagadhita dipandang sebagai “modal” penting dalam menjaga keberlanjutan kota, karena menjadi pedoman masyarakat dalam menentukan arah pembangunan kota dan tata spasial kotanya.

Berdasarkan pelbagai penjelasan tersebut, dapat dipahami bahwa tata spasial Kota Kerajaan Karangasem mencakup “wadah kehidupan” yang luas dalam dimensi fisik (lahiriah) dan non-fisik (bathin/spiritual). Dalam dimensi fisik, peran kota sebagai wadah kehidupan mencakup kegiatan/aktivitas yang beragam, yaitu: kegiatan keagamaan, politik dan pemerintahan, ekonomi, dan sosial budaya.

(6)

Sementara itu, dalam dimensi non-fisik, kota merupakan wadah kehidupan masyarakat untuk mencapai kesejahteraan dan kedamaian secara material/lahiriah dan spiritual/bathin, dengan berlandaskan nilai-nilai kepercayaan/keyakinan dan kearifan lokal masyarakat. Hal ini menyadarkan kembali bahwa kota sebagai wadah kehidupan masyarakat, tidak terbatas sebagai tempat untuk memenuhi pelbagai kebutuhan dan kepuasan material/lahiriah. Peran kota bagi masyarakat Kota Kerajaan Karangasem, memiliki peran yang lebih hakiki sebagai wadah untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan secara lahiriah dan bathin/spiritual, dengan dilandasi hubungan yang harmonis dengan Ida Sang Hyang Widi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa, sesama manusia, dan alam semesta. Dengan demikian, masyarakat Kota Kerajaan Karangasem meyakini dapat tercapainya kesejahteraan dan kedamaian bagi seluruh masyarakat dan dunia.

8.2. Implikasi dan Saran

Berdasarkan kesimpulan yang telah dikemukakan pada pembahasan sebelumnya, maka beberapa implikasi dan saran dalam ranah akademik (kontribusi teoretis), praktik perencanaan dan perancangan kota, serta perumusan kebijakan oleh pemerintah atau pemangku kebijakan.

8.2.1. Implikasi dan saran dalam ranah akademik (1) Implikasi dalam ranah akademik

Penelitian yang telah dilakukan pada dasarnya merupakan penelitian dasar yang melengkapi atau menyempurnakan penelitian-penelitian sebelumnya, dan dapat menjadi “pijakan awal” bagi penelitian-penelitian selanjutnya. Berdasarkan penelusuran terhadap penelitian-penelitian sebelumnya, yang dilakukan oleh Geertz (1980), Rossi (1986), Kostof (1991), Munandar (2005), Putra (2005, 2008a, 2008b), Putra Agung (2009), Suardana (2011), dan Juliarthana (2012), dapat dipahami bahwa temuan dari penelitian ini pada dasarnya melengkapi kembali teori/konsep dalam ranah arsitektur kota dan Arsitektur Bali. Konsep dalam ranah arsitektur kota, yaitu (1) konsep permanensi (Rossi, 1986); dan (2) konsep the city as diagram (Kostof, 1991). Sementara itu, konsep dalam ranah

(7)

Arsitektur Bali adalah konsep tata spasial kota kerajaan (pusaka/peninggalan) di Bali, beserta pelbagai komponennya (Geertz, 1980; Munandar, 2005; Putra, 2005, 2008a, 2008b; Putra Agung, 2009; Suardana, 2011; dan Juliarthana, 2012).

Dalam konsep permanensi (Rossi, 1986), dijelaskan bahwa permanensi merupakan unsur/komponen dalam kota yang dapat berfungsi sebagai “pembawa masa lalu” ke dalam sekarang, sehingga masa lalu tersebut dapat tetap menjadi pengalaman hingga masa sekarang. Dengan demikian, permanensi dapat dipahami sebagai unsur/komponen dalam kota yang keberadaannya tetap bertahan dalam kota, karena mampu memberi pengalaman bagi masyarakat dan menjadi salah satu karakteristik bagi sebuah kota. Menurut Rossi (1986), unsur utama permanensi dalam kota adalah hunian (housing) dan monumen (monument).

Dalam hal ini, Rossi (1986) membedakan antara rumah (house) dengan hunian/perumahan (housing) dari sudut pandang permanensi dalam wilayah kota. Rumah merupakan bangunan dalam kota yang tidak permanen atau cenderung akan mengalami perubahan, sedangkan hunian merupakan sekelompok rumah dalam suatu wilayah kota yang bersifat permanen karena mampu memberi pengalaman bagi kehidupan penghuninya. Sementara itu, monumen merupakan artefak (artifact) dalam kota yang memiliki “fungsi simbolis”, sehingga keberadaannya tetap bertahan karena mengandung sejarah, nilai-nilai, karakteristik, dan memberi pengalaman tertentu bagi masyarakat kota.

Unsur utama permanensi tersebut dapat diidentifikasi pada komponen tata spasial Kota Kerajaan Karangasem diantaranya: fungsi ruang atau monumen kerajaan dan hunian masyarakat. Dalam perwujudannya, komponen fungsi ruang dan hunian pada tata spasial Kota Kerajaan Karangasem dijelaskan lebih spesifik. Fungsi ruang yang bersifat permanen adalah ruang sakral dan ritual yang merupakan wadah bagi masyarakat untuk melangsungkan kegiatan ritual keagamaan, seperti: pura, lapangan, dan ruang sekitar Pohon Beringin. Sementara itu hunian yang permanen merupakan hunian-hunian spesifik berdasarkan strata atau hierarkinya, seperti: puri, geria, jero, umah-banjar pakraman, dan rumah-kampung. Dengan demikian, hasil temuan komponen tersebut dapat melengkapi kembali konsep permanensi yang telah dirumuskan oleh Rossi (1986).

(8)

Tata Spasial Kota

Komponen

Gambar 122. Kontribusi teoretis konsep jagadhita dalam ranah arsitektur kota (Sumber: analisis, 2016)

(9)

Gambar 123. Komparasi perwujudan tata spasial Kota Kerajaan Karangasem (kiri) dengan the religious diagram (tengah) dan the political diagram (kanan)

(10)

Sementara itu, dalam konsep the city as diagram (Kostof, 1991), dijelaskan bahwa kota sebagai sebuah gambaran atau skema yang memperlihatkan susunan dalam masyarakat dan proses berlangsungnya aktivitas masyarakat. Dalam hal ini, Kostof (1991), menjelaskan penerapan konsep the city as diagram pada beberapa kota suci dan kota sekular yang memiliki wujud diagram yang serupa namun dengan fungsi dan makna yang berbeda. Perwujudan diagram kota-kota suci digambarkan sebagai the religious diagram dengan pola konsentris, yang menunjukkan hubungan masyarakat dengan Tuhan atau para dewa. Hubungan tersebut diterjemahkan dalam wujud kota sebagai replika surga, tempat pemujaan, dan berlangsungnya pelbagai ritual keagamaan. Pada pusat kota-kota suci, terdapat dua fungsi ruang utama yang menunjukkan kedekatan masyarakat dengan Tuhan atau para dewa, yaitu: (1) kuil sebagai tempat pemujaan dan pusat kegiatan ritual keagamaan; dan (2) istana sebagai kediaman raja dan pusat kegiatan politik dan pemerintahan. Pada bagian luar pusat kota, dikelilingi oleh permukiman masyarakat, sehingga kota tersebut pada umumnya memiliki dua lapisan wilayah.

Sementara itu, perwujudan diagram kota-kota sekular yang menunjukkan dominasi kekuasaan, digambarkan sebagai the political diagram dengan pola konsentris (memusat) pada penguasa, yang menunjukkan kedudukan tinggi dari penguasa dalam hierarki sosial dan pemerintahan. Wilayah pusat kota dan kekuasaan tersebut dikelilingi oleh militer sebagai pertahanan wilayah, sedangkan pada wilayah terluar dikelilingi oleh permukiman masyarakat. Dengan demikian, pada umumnya kota tersebut memiliki tiga lapisan wilayah yang berpusat pada istana pada pusat kota, yang berfungsi sebagai pusat kekuasaan, politik dan pemerintahan.

Berdasarkan penjelasan tersebut, dapat dipahami bahwa konsep the city as

diagram (Kostof, 1991), serupa dengan perwujudan tata spasial Kota Kerajaan

Karangasem. Tata spasial Kota Kerajaan Karangasem berwujud lingkaran konsentris dengan dilandasi konsep jagadhita, yang menempatkan puri, pura, dan

peken (pasar) di pusat kota, sebagai wujud keseimbangan nilai dharma, artha, dan kama. Wilayah Kerajaan Karangasem (kuta negara) dibagi menjadi dua lapis

(11)

kuta) dibagi menjadi tiga lapis menurut tingkatan hunian masyarakatnya. Dengan

demikian, hasil temuan ini dapat melengkapi kembali konsep the city as diagram (Kostof, 1991).

Berdasarkan penelitian-penelitian lainnya yang dilakukan oleh Geertz (1980), Munandar (2005), Putra (2005, 2008a, 2008b), Putra Agung (2009), Suardana (2011), dan Juliarthana (2012), dapat dipahami bahwa identifikasi tata spasial Kota Kerajaan Hindu di Bali hanya terfokus pada pusat kota kerajaan yang ditandai dengan keberadaan satu catuspatha atau pempatan agung beserta pelbagai fungsi ruang di sekitarnya. Fungsi-fungsi ruang tersebut, diantaranya: (1)

puri sebagai pusat pemerintahan dan kediaman raja; (2) peken sebagai pusat

kegiatan perekonomian; (3) wantilan atau bale banjar sebagai tempat melakukan pelbagai kegiatan sosial dan budaya; dan (4) ruang terbuka sebagai tempat melakukan pelbagai kegiatan sosial. Hal ini menyebabkan tata spasial di luar pusat kota kerajaan belum teridentifikasi dengan jelas dan masih terpecah-pecah (parsial). Sementara itu, belum terdapat identifikasi yang jelas mengenai konsep yang melandasi perwujudan tata spasial Kota Kerajaan Hindu di Bali, baik yang bersifat lokal (satu kota kerajaan) atau yang bersifat lebih luas (beberapa kota kerajaan).

Temuan keberadaan tiga macam catuspatha atau pempatan agung di Kota Kerajaan Karangasem menunjukkan pula bahwa pelbagai dinamika wadah aktivitas (khususnya kegiatan keagamaan) dan pengetahuan masyarakat dapat mempengaruhi keberadaan pempatan agung dengan pelbagai fungsi ruang yang terdapat disekitarnya. Dengan demikian, keberadaan catuspatha tidak selalu ditandai dengan keberadaan fungsi ruang yang lengkap, seperti: puri, pura,

wantilan, bale banjar, atau ruang terbuka, namun dapat ditandai oleh aktivitas

yang dilakukan masyarakat dan pengetahuan masyarakat terhadap konsep

pempatan agung. Oleh karena itu, diperkirakan di masa mendatang, perwujudan

fisik pempatan agung dapat ditandai dengan fungsi-fungsi ruang yang beragam, namun tetap mampu mewadahi pelbagai aktivitas masyarakat dan memiliki substansi konsep yang tetap sama, yaitu bersumber dari jagadhita dengan keseimbangan nilai dharma, artha, dan kama.

(12)

Gambar 124. Kontribusi teoretis konsep jagadhita dalam ranah Arsitektur Bali (Sumber: analisis, 2016)

(13)

Dengan demikian, dapat dipahami bahwa hasil temuan dari penelitian ini dipandang mampu melengkapi atau menyempurnakan hal-hal yang belum dibahas dalam penelitian-penelitian sebelumnya, yaitu mengenai identifikasi perwujudan tata spasial kota kerajaan beserta komponen-komponen penyusunnya dan konsep yang melandasi tata spasial kota tersebut. Hal ini diharapkan dapat lebih memperkaya khasanah keilmuan terutama dalam bidang arsitektur dan perencanaan pada umumnya, dan Arsitektur Bali pada khususnya. Meskipun demikian, upaya pengayaan dan pendalaman hasil temuan ini tentu masih terbuka, untuk memantapkan dan memperluas cakupan hasil temuan.

Dalam ranah arsitektur dan perencanaan kota, konsep jagadhita sebagai landasan tata spasial Kota Kerajaan Karangasem membuka kembali wawasan para akademisi tentang kekayaan teori dan konsep lokal yang terdapat di Bali dan Indonesia. Hal ini dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran dan pendekatan dalam praktik perencanaan dan perancangan kota-kota di Bali dan Indonesia, yang memiliki karakteristik berbeda dengan kota-kota yang terdapat di negara lain. Dengan demikian, diharapkan pelbagai teori dan konsep yang digunakan sebagai media pembelajaran dan praktik dapat lebih relevan dengan kondisi dan karakteristik kota-kota tersebut.

(2) Saran dalam ranah akademik

Berdasarkan hasil temuan, dapat dipahami bahwa pengayaan dan pendalaman mengenai teori atau konsep arsitektur kota-kota kerajaan di Bali, melalui kegiatan penelitian masih sangat terbuka. Salah satu upaya pengayaan dan pendalaman yang dapat dilakukan yaitu dengan menambah jumlah kasus penelitian, karena konsep yang dirumuskan pada penelitian ini masih bersifat lokal (idiographis) dan objek yang dikaji terbatas pada satu Kota Kerajaan Hindu di Bali yaitu Kota Kerajaan Karangasem. Meskipun demikian, berdasarkan hasil dari uji keteralihan (transferability) diperoleh adanya beberapa kesesuaian penerapan konsep di beberapa kota kerajaan yang berkaitan atau berada di sekitar Kota Kerajaan Karangasem.

(14)

Hal tersebut tentu harus dibuktikan kembali melalui kajian-kajian yang lebih luas dan mendalam melalui penelitian-penelitian lebih lanjut di pelbagai Kota Kerajaan Hindu di Bali dan di luar Bali (Jawa dan Lombok), yang memiliki karakteristik serupa. Dengan demikian, diharapkan konsep yang telah dirumuskan dapat lebih disempurnakan lagi dalam konteks yang lebih beragam dan wilayah penelitian yang lebih luas. Berdasarkan penelitian-penelitian lanjutan tersebut, diharapkan dapat dirumuskan konsep mengenai tata spasial Kota Kerajaan Hindu yang berlaku dalam lingkup yang lebih luas.

Rumusan hasil penelitian memantapkan pula keterkaitan antara Kerajaan Majapahit dengan Kota-kota Kerajaan Hindu di Bali, khususnya Kota Kerajaan Karangasem. Hal ini menjadi bahan kajian yang menarik untuk penelitian-penelitian mengenai Kota Majapahit dan Kota-kota Kerajaan Hindu lainnya di Bali secara lebih mendalam. Hasil penelitian ini dipandang berpotensi untuk dijadikan masukan atau pendekatan dalam mengkaji Kota Majapahit.

Upaya ini salah satunya telah dilakukan oleh Munandar (2005), yang menggunakan pendekatan kondisi puri dan Kota-kota Kerajaan Hindu di Bali untuk merekonstruksi tata spasial Kota Majapahit. Meskipun demikian, upaya tersebut dipandang belum optimal, karena masih terbatasnya deskripsi mengenai tata spasial Kota-kota Kerajaan Hindu di Bali secara menyeluruh, yang dapat digunakan sebagai pendekatan. Dengan demikian, diharapkan hasil penelitian ini dapat membuka kembali kemungkinan-kemungkinan penggunaan pelbagai pendekatan tata spasial Kota-kota Kerajaan Hindu di Bali untuk mengkaji tata spasial Kota Majapahit dalam penelitian-penelitian di masa mendatang.

8.2.2. Implikasi dan saran dalam praktik perencanaan, perancangan, dan perumusan kebijakan oleh praktisi dan pemerintah

(1) Implikasi dalam ranah praktik perencanaan, perancangan, dan perumusan kebijakan oleh praktisi dan pemerintah

Rumusan hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep-konsep tata spasial Kota Kerajaan Hindu di Bali selama ini tidak hanya terbatas pada wilayah pusat kota atau catuspatha, namun mencakup wilayah yang lebih luas dari wilayah

(15)

pusat kota hingga ke pinggiran kota atau dipahami sebagai wilayah jero kuta. Kondisi tersebut menyebabkan wilayah pinggiran kota relatif jarang tersentuh dan kurang dipertimbangkan dalam kegiatan perencanaan, perancangan, atau penyusunan kebijakan, sebagai salah satu unsur yang mampu memberikan identitas dan karakteristik yang khas terhadap perwujudan tata spasial Kota-kota Kerajaan Hindu di Bali. Hal ini dapat menjadi pertimbangan bagi para perencana dan perancang dalam menata atau mengembangkan Kota-kota Kerajaan Hindu di Bali pada masa mendatang.

Dalam hal ini, upaya untuk mempertahankan karakteristik kota atau tata spasial Kota-kota Kerajaan Hindu di Bali, tidak terbatas pada upaya penataan, pengembangan, atau pelestarian kawasan sekitar pusat kota atau sekitar pempatan

agung, namun mencakup pula pelbagai fungsi-fungsi ruang kota, hunian-hunian,

dan jalur-jalur sirkulasi yang terdapat di seluruh wilayah kota atau jero kuta. Hal ini disebabkan karena karakteristik tata spasial kota di Bali terbentuk dari pelbagai aspek dan komponen tata spasial kota yang memiliki susunan tertentu. Aspek tersebut diantaranya: (1) aspek religi atau keagamaan; (2) aspek ekonomi; (3) aspek sosial; dan (4) aspek lingkungan.

Hasil temuan ini, dapat membuka kembali wawasan masyarakat dan pemangku kebijakan, bahwa kota merupakan wadah kehidupan masyarakat yang mencakup skala yang luas. Kota tersusun dari komponen yang beragam, dan dilandasi oleh konsep yang bersumber dari gagasan masyarakat yang terbentuk dalam kurun waktu yang panjang, sehingga menjadi kesadaran yang mempengaruhi pelbagai kehidupan masyarakat. Dengan demikian, dalam upaya penyusunan kebijakan sangat dibutuhkan peran serta dan komunikasi yang baik antara pemangku kebijakan dan masyarakat kota, sehingga dapat menghasilkan produk kebijakan yang bermanfaat untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

(16)

Gambar 125. Proses deduksi konsep jagadhita dari tataran abstrak ke tataran empiris sebagai acuan penerapan konsep jagadhita Penerapan konsep jagadhita sesuai

nilai dharma

Penerapan konsep jagadhita sesuai nilai artha

Penerapan konsep jagadhita sesuai nilai kama

(17)

(2) Saran dalam ranah praktik perencanaan, perancangan, dan perumusan kebijakan oleh praktisi dan pemerintah

Dalam ranah praktik, konsep jagadhita dapat diterapkan melalui proses deduksi dari tataran abstrak ke tataran empiris. Proses deduksi tersebut merupakan kebalikan dari proses induksi yang telah dilakukan pada perumusan konsep

jagadhita. Dengan proses tersebut, konsep jagadhita dapat diterapkan dalam

kegiatan perencanaan, perancangan, atau perumusan kebijakan, untuk mewujudkan tata spasial kota yang sesuai dengan jagadhita, melalui keseimbangan dari penerapan nilai dharma, artha, dan kama. Proses penerapan atau deduksi konsep jagadhita ke tataran empiris dapat dipaparkan secara lengkap pada gambar di atas.

Sementara itu, pola lingkaran konsentris di wilayah kota (jero kuta) dan pola

catuspatha di wilayah pusat Kota Kerajaan Karangasem menjadi peluang dan

tantangan yang cukup besar dalam mengembangkan Kota Kerajaan Karangasem di masa sekarang dan masa mendatang. Pola lingkaran konsentris yang memiliki tiga lapisan (layers) memiliki karakteristik tertentu dapat mempengaruhi upaya pengembangan Kota Kerajaan Karangasem.

Lapisan pertama yang disetarakan dengan kawasan utama mandala merupakan kawasan yang paling disakralkan dan merupakan inti dari kota, sehingga pengembangan yang dapat dilakukan sangat terbatas. Dalam hal ini tindakan konservasi menjadi pilihan yang tepat untuk melindungi peninggalan-peninggalan Kerajaan Karangasem yang memiliki nilai historis dan filosofis, seperti: puri, pura, dan peken (pasar tradisional). Meskipun demikian, keberadaan

puri, pura, dan peken yang diintegrasikan oleh pempatan agung memiliki peluang

yang besar untuk dikembangkan menjadi kawasan wisata budaya dan sejarah serta kawasan komersial terbatas (peken), sehingga konservasi yang dilakukan tetap dapat meningkatkan nilai guna dari pempatan agung dan fungsi ruang yang ada di sekitarnya.

Lapisan kedua yang disetarakan dengan kawasan madya mandala merupakan kawasan transisi antara kawasan sakral dan kawasan profan, sehingga kawasan ini dapat dikembangkan dengan fungsi yang lebih luas. Meskipun demikian,

(18)

pengembangan yang dilakukan masih mengacu pada konsep tata spasial Kota Kerajaan Karangasem. Kawasan ini dapat dikembangkan menjadi kawasan terbuka hijau serta kawasan komersial dan perumahan namun dengan jumlah yang terbatas, untuk menyangga kawasan pusat kota.

Sementara itu, lapisan ketiga yang disetarakan dengan kawasan nista

mandala merupakan kawasan profan yang dapat dikembangkan dengan fungsi

yang sangat luas. Kawasan ini dapat dikembangkan menjadi kawasan komersial, perkantoran, perumahan, pendidikan, atau kawasan terbuka hijau. Dengan adanya pembagian kawasan pengembangan tersebut diharapkan dapat mewadahi pelbagai kebutuhan dan aktivitas masyarakat kota yang semakin kompleks dan berkembang, namun tetap selaras dengan nilai-nilai kearifan lokal, sejarah, dan konsep tata spasial Kota Kerajaan Karangasem. Dengan demikian, jagadhita sebagai tujuan masyarakat Kota Kerajaan Karangasem dapat tercapai.

Upaya penyusunan kebijakan mengenai penataan, pengembangan, atau pelestarian Kota-kota Kerajaan Hindu di Bali menjadi penting, karena kota-kota tersebut tidak terbatas hanya sebagai wadah aktivitas, namun merupakan manifestasi dari upaya masyarakat kota mencapai jagadhita yaitu kedamaian dan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat. Dalam mencapai jagadhita dibutuhkan

Gambar 126. Saran pengembangan Kota Kerajaan Karangasem (Sumber: analisis, 2015)

(19)

adanya keseimbangan antara dharma, artha, dan kama, yang termanifestasi dalam penataan, pengembangan, atau pelestarian kota.

Dengan demikian, dalam penyusunan kebijakan hendaknya memperhatikan beberapa aspek utama yang mempengaruhi pencapaian jagadhita, yaitu: (1) aspek agama dan kepercayaan sebagai bagian dari penerapan nilai dharma; (2) aspek ekonomi sebagai bagian dari penerapan nilai artha dan kama yang dilandasi oleh nilai dharma; (3) aspek sosial sebagai bagian dari penerapan nilai kama yang dilandasi oleh nilai dharma; dan (4) aspek lingkungan sebagai wadah pelbagai aktivitas manusia dan bagian dari penerapan nilai kama yang dilandasi oleh nilai

dharma. Dengan demikian, penataan, pengembangan, atau pelestarian kota tidak

hanya menjadi tanggung jawab beberapa pihak, namun harus lebih banyak melibatkan peran serta masyarakat kota melalui program-program pembangunan yang lebih memberdayakan masyarakat kota.

Gambar 127. Saran penyusunan kebijakan penataan, pengembangan, atau pelestarian Kota Kerajaan Karangasem berdasarkan konsep jagadhita

(Sumber: analisis, 2015) Konsep Jagadhita Nilai Dharma Nilai Artha Nilai Kama Aspek Agama Aspek Ekonomi Aspek Sosial Komponen-komponen Tata Spasial Kota Aspek Lingkungan

(20)

8.3. Keterbatasan dan Tantangan dalam Penelitian

Dalam melakukan pelbagai proses penelitian, tentu terdapat beberapa keterbatasan dan tantangan yang dihadapi. Meskipun demikian, keterbatasan dan tantangan tersebut dipandang sebagai sesuatu yang wajar dan dapat ditoleransi tanpa menghambat keseluruhan proses penelitian. Dalam prosesnya, keterbatasan dan tantangan tersebut menjadi pelajaran berharga dalam melakukan penelitian-penelitian lainnya di masa mendatang. Keterbatasan dan tantangan tersebut, diantaranya:

(1) Literatur maupun sumber-sumber tertulis mengenai kota-kota kerajaan, khususnya kota-kota kerajaan di Bali masih terbatas. Hal ini menjadi salah satu keterbatasan dalam memperoleh background knowledge sebagai salah satu “bekal” dalam memahami pelbagai fenomena yang terjadi di lapangan. Salah satu upaya yang ditempuh untuk memperoleh background knowledge yang memadai dengan “belajar secara informal”, yaitu bertanya atau berdiskusi langsung kepada akademisi atau praktisi yang memahami mengenai kondisi kota-kota kerajaan di Bali atau melalui grand tour di beberapa kota-kota kerajaan di Bali untuk memperoleh pemahaman mengenai kondisi kota-kota tersebut secara empiris.

(2) Pada saat melakukan proses eksplorasi lapangan, terdapat kesulitan dalam memperoleh peta Kota Kerajaan Karangasem yang memadai, karena beberapa instansi pemerintah dan perangkat desa belum memiliki peta kota yang memadai untuk dijadikan acuan dalam melakukan eksplorasi lapangan. Oleh karena itu, timbul inisiatif untuk menggambar peta Kota Kerajaan Karangasem dan peta Desa Pakraman Karangasem (saling tumpang tindih), dengan acuan aplikasi google maps, GIS, dan eksplorasi langsung ke lapangan. Peta tersebut yang selanjutnya digunakan sebagai acuan dalam penelitian, dan digunakan pula oleh pengurus desa sebagai salah satu inventaris di Desa Pakraman Karangasem.

(3) Beberapa peninggalan Kerajaan Karangasem telah hancur, seperti: taman kerajaan, sumber mata air, kolam, dan kantor-kantor, sehingga sulit diidentifikasi secara empiris. Oleh karena itu, dilakukan beberapa

(21)

rekonstruksi berdasarkan informasi dari informan, sketsa, dan sumber-sumber tertulis. Meskipun tidak terlalu detail, namun hasil rekonstruksi tersebut dipandang cukup memadai untuk menggambarkan beberapa peninggalan kerajaan terutama dari aspek spasialnya.

(4) Uji keteralihan belum dapat dilakukan di seluruh Kota-kota Kerajaan Hindu di Bali karena beberapa kota kerajaan telah hancur dan terbatasnya sumber-sumber tertulis mengenai kota-kota kerajaan tersebut. Hal ini tentu cukup menyulitkan dalam memilih kota-kota kerajaan yang memadai untuk uji keteralihan, terutama kota-kota kerajaan yang telah hancur dan keterbatasan sumber-sumber tertulis. Oleh karena itu, hanya dipilih empat kota kerajaan di Bali dengan pelbagai keterbatasannya. Semoga di masa mendatang, penelitian-penelitian di kota-kota kerajaan lain semakin banyak, sehingga uji keteralihan ini dapat dilakukan di seluruh kota kerajaan di Bali.

Gambar

Gambar 122. Kontribusi teoretis konsep jagadhita dalam ranah arsitektur kota  (Sumber: analisis, 2016)
Gambar 123. Komparasi perwujudan tata spasial Kota Kerajaan Karangasem (kiri) dengan the religious diagram (tengah)  dan the political diagram (kanan)
Gambar 124. Kontribusi teoretis konsep jagadhita dalam ranah Arsitektur Bali  (Sumber: analisis, 2016)
Gambar 125. Proses deduksi konsep jagadhita dari tataran abstrak ke tataran empiris sebagai acuan penerapan konsep jagadhita Penerapan konsep jagadhita sesuai
+3

Referensi

Dokumen terkait

Konsep konvensional mempraktikan teori pencadangan dan ketelitian dari menanggung semua kerugian dalam perhitungan, serta mengenyampingkan laba yang bersifat mungkin,

Pajak tangguhan diakui atas perbedaan temporer antara nilai tercatat aset dan liabilitas untuk tujuan pelaporan keuangan, dan nilai yang digunakan untuk tujuan

Peradilan Umum merupakan program untuk mencapai sasaran strategis dalam hal perkara yang diselesaikan tepat waktu, tertib administrasi perkara, dan aksesbilitas masyarakat

Pengolahan data awal dalam penelitian ini yaitu pengolahan data hidrologi berupa data curah hujan yang sudah didapat dari penelitian sebelumnya, data klimatologi

b) Staf laboratorium menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan paling lambat 1 hari sebelum praktikum dilaksanakan. c) Mahasiswa penanggung jawab mata kuliah praktik

dengan kepuasan konsumen. H 0 = Secara parsial tidak ada pengaruh signifikan antara kualitas. produk dengan kepuasan konsumen.. Jadi, dari penelitian ini dapat

Berdasarkan identifikasi di atas, tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara bermain peran dengan kemampuan

Hasil penelitian Hutahaean (2005), Sari dan Ulfa (2013), dan Noor dan Dzulkifli (2013) menyatakan bahwa iklim organisasi memiliki pengaruh positif terhadap