BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Piroksikam 2.1.1 Tinjauan Umum Rumus bangun: Rumus molekul : C15H13N3O4SNama kimia : 4- Hidroksi-2 metil-N-2-piridil-2H-1,2-benzotiazin-3-karboksamida1,1 –dioksida
Berat molekul : 331,35
Pemerian : Serbuk, hampir putih atau coklat terang atau kuning terang; tidak berbau, bentuk monohidrat berwarna kuning.
Kelarutan : Sangat sukar larut dalam air, dalam asam-asam encer dan sebagian besar pelarut organik; sukar larut dalam etanol dan dalam larutan alkali mengandung air.
2.1.2 Farmakologi
Obat ini merupakan salah satu AINS dengan struktur baru yaitu oksikam. Waktu paruh dalam plasma lebih dari 45 jam sehingga dapat diberikan hanya sekali sehari. Absorpsi berlangsung cepat di lambung terikat 99 % pada protein plasma digunakan untuk pengobatan penyakit inflamasi sendi.
2.1.3 Efek Samping Indikasi dan Sediaan
Indkasi zat ini adalah penyakit implamasi sendi misalnya arthritis rheumatoid, osteoarthritis, spondilitis ankilosa, dengan dosis 10-20 mg sehari. Efek samping tersering adalah gangguan saluran cerna, tukang lambung, dan efek samping yang ringan berupa pusing, tinitus, nyeri kepala dan eritem kulit. Zat ini tidak boleh digunakan pada wanita hamil, penderita tukak lambung, dan penderita yang sedang meminum antikoagulan. ( Ganiswarna, 1995)
2.2 Uraian Tumbuhan 2.2.1 Sistematika Tumbuhan
Sistematika dari kentang adalah sebagai berikut: Kingdom : Plantae
Subkingdom : Tracheobionata Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Sub Kelas : Asteridae Ordo : Solanales Famili : Solanacea Genus : Solanum
2.2.2 Kandungan Kimia
Kandungan kimia dari kentang (Solanum tuberosum L ) antara lain: Karbohidrat 19 g, pati 15 g, serat pangan 2,2 g, lemak 0,1 g, protein 2 g, air 75 g.
2.3 Pati dan Sifat-Sifat Pati
Pati adalah sumber karbohidrat yang dihasilkan tumbuh-tumbuhan untuk persediaan makanan yang dijumpai didalam biji (beras, umbi kentang, ubi jalar dan batang sagu). Pati merupakan butir atau granul yang berwarna putih mengkilat, tidak berbau dan tidak berasa. Butiran pati yang mempunyai bentuk dan ukuran yang beraneka ragam, tetapi pada umumnya bentuk bola atau elips. Pati kentang mengandung pati sekitar 79,60%, kadar air 19,22% material Nitrogen 0,69% dan 0,33 % ( Bailliere, Tindal and Cox, 1952).
Pada dasarnya pati merupakan polimer glukosa dengan ikatan (1,4) glukosa. Pati terdiri dari dua fraksi yang dapat dipisahkan dengan air panas. Fraksi yang tidak larut dalam air disebut amilopektin dan fraksi yang dapat larut dalam air disebut amilosa (Leach, 1965).
2.4 Brem Padat
Brem padat merupakan makanan yang dibuat dari beras ketan, yaitu dari cairan tape yang dipanaskan sampai kental dan didinginkan sampai memadat. Brem padat memiliki rasa manis atau manis keasaman, Tekstur padat, kering tidak lembek, warna putih kekuningan sampai kunig kecoklatan serta mudah hancur dimulut. Brem padat banyak dibuat di daerah Jawa Timur, Jawa Tengah seperti Boyolali, Wonogiri, Caruban dan Madiun, Bentuk brem padat yang umum diperjual belikan adalah bentuk persegi empat (kotak) atau bulat pipih.
Brem padat adalah suatu produk hasil fermentasi dari ketan oleh khamir yang dikeraskan. Brem padat kaya akan kalori dan merupakan makanan khas yang mudah hancur saat dimakan. Kandungan brem padat terbanyak adalah gula, pati terlarut dan asam laktat. Brem padat yang ada di pasaran adalah suatu produk pangan yang berwarna putih sampai kecoklatan dan mempunyai rasa manis keasaman yang dibuat dari pemasakan cairan tape ketan putih.
2.4.1 Standar mutu untuk brem padat
Bau : seperti bau gula Rasa : Manis keasaman Warna : Merah kecoklatan Kadar air : 16%
Kadar abu : 0.5 %
Jumlah karbohidrat dihitung sebagai pati : 60-70 % Derajat asam : 15%
Kandungan Logam : Cu, Pb, Hg, Zn, dan As
Bagian tak larut dalam air : 1% Jamur/ Bakteri : Coli Negatif
2.4.2 Proses Pembuatan Brem Padat
Tahapan pembuatan brem padat adalah pencucian dan perendaman beras ketan, pengukusan, peragian dan fermentasi, pengepresan, pemekatan, pangadukan, dan pencetakan (Mahore, 2010)
2.5 Polivinilpirolidon (PVP)/ Crospovidon
PVP merupakan polimerasi dari l-vinilpirolidon. PVP merupakan polimerasi dari 1-vinilpirolidon-2-on. Bentuknya berupa serbuk putih atau putih kekuningan, berbau lemah atau tidak berbau dan higroskopis. PVP mudah larut dalam air, etanol (95%) dan dalam kloroform. Kelarutan tergantung dari bobot rata-rata dan larut dalam eter P (Anonim, 1979).
2.6 Magnesium stearat
Magnesium stearat mengandung tidak kurang dari 6,5% dan tidak lebih dari 8,5% MgO, dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan. Pemerian berupa serbuk halus, putih, licin dan mudah melekat pada kulit, bau lemah khas.
Kelarutannya praktis tidak larut dalam air, dalam etanol (95%) P dan dalam eter P (Anonim, 1995).
2.7 Sediaan Tablet
2.7.1 Uraian Tablet Melarut Cepat
Tablet melarut cepat adalah tablet yang ketika diletakkan pada lidah, terdisintragrasi dengan instan melepaskan obat yang melarut atau terdispersi dalam air liur. Semakin cepat obat melarut semakin cepat absorpsi dan onset munculnya efek klinis.
Beberapa obat diabsorpsi di mulut, faring dan kerongkongan seiring dengan bergeraknya air liur kelambung. Dalam kasus ini bioavaibilitas obat lebih besar secara significan dibandingkan dengan bentuk sediaan tablet konvensional (Bhowmik, 2010)
2.7.2 Kriteria Obat Melarut Cepat
Tablet harus:
• Tidak membutuhkan air untuk ditelan, tapi harus melarut atau terdisitegrasi di mulut dalam hitungan detik.
• Dapat ditutupi rasanya (taste masking)
• Portabel ( dapat dipindahkan tanpa masalah kerapuhan)
• Mempunyai rasa yang menyenangkan di mulut. Meninggalkan residu yang minim atau tidak ada residu di mulut setelah pemberian oral.
• Menunjukkan sensivitas rendah terhadap kondisi lingkungan seperti suhu dan kelembaban.
• Memungkinkan untuk diproduksi dengan proses dan alat pengemas yang konvensional pada biaya yang rendah.
Praformulasi adalah tahap pertama dalam pengembangan bentuk sediaan obat yang rasional dari suatu zat aktif termasuk tablet. Studi praformulasi adalah suatu investigasi sifat-sifat fisik dan kimia zat aktif tunggal atau gabungan dengan eksipien. Tujuan menyeluruh pada studi praformulasi adalah untuk menghasilkan informasi yang berguna bagi formulator dalam mengembangkan bentuk sediaan yang stabil dan tersedia hayati yang dapat diporduksi dalam skala besar. Studi ini merupakan pendahuluan untuk penetapan formula akhir yang sebenarnya dan arah kerja untuk pembuatan produk.
Studi praformulasi untuk sediaan tablet mencakup hal-hal berikut: • Organoleptik
• Analisis fisikokimia
• Sifat-sifat fisikomekanik / karakteristik fisik • Sifat kristal
• Karakteristik fisikokimia
• Parameter yang mempengaruhi absorpsi • Stabilitas solid
• Studi kompatibilitas
• Petunjuk dan pedoman untuk produksi • Petunjuk penyimpanan dan pengemasan
2.7.3 Metode Pembuatan Tablet
Bahan – bahan yang berbentuk serbuk tidak memenuhi syarat-syarat untuk dapat dicetak menjadi tablet karena:
1. Tidak bersifat free flowing 2. Tidak mempunyai sifat kohesif
3. Serbuk mempunyai lapisan udara yang terserap pada permukaannya. Karena itu perlu pekerjaan pendahuluan untuk memperoleh granul-granul yang mempunyai sifat free flowing dan kompak sehingga memungkinkan untuk sediaan dicetak ( Charles, JP., dkk, 2002).
Metode pembuatan tablet ada tiga, yaitu granulasi basah (wet compreession), granulasi kering ( dry compreession) dan kempa langsung (direct compreesision) (Ditjen POM, 1995).
a. Granulasi kering
Setelah penimbangan dan pencampuran bahan, serbuk di slugged atau dikopresi menjadi tablet yang lebat dan datar dengan garis tengah 1 inci. Kempaan harus cukup keras agar ketika dipecahkan dengan tangan atau alat dan dianyak dengan lubang yang diinginkan, pelicin ditambahkan dan tablet dikempa (Charles, JP, 1989).
b. Granulasi Basah
Zat berkhasiat, pengisi dan penghancur homogen, lalu dibasahi dengan larutan pengikat, diayak menjadi granul dan dikeringkan dalam lemari pengering pada suhu 40-500C. Setelah kering diayak lagi untuk memperoleh granul dengan ukuran yang diperlukan dan ditambahkan bahan pelicin dan dicetak dengan mesin tablet (Charles, JP. 1989).
c. Kompresi Langsung
Cara ini hanya dilakukan untuk bahan-bahan tertentu saja, yang berbentuk kristal/ butir-butir granul yang mempunyai sifat-sifat yang diperlukan untuk membuat tablet yang baik (Charles, JP., 1989).
2.7.4 Komposisi Tablet 2.74.1 Bahan Pengisi.
Bahan pengisi ditambahkan untuk mendapatkan berat yang diinginkan, terutama apabila bahan obat dalam jumlah yang kecil. Bahan pengisi haruslah bersifat inert. Bahan-bahan yang umum digunakan sebagai bahan pengisi antara lain laktosa, sukrosa, manitol, sorbitol, avicel, bolus alba, kalsium fosfat, dll.
2.7.4.2 Bahan Pengikat.
Gunanya ditambahkan bahan pengikat dalam formulasi tablet adalah untuk mengikat komponen-komponen tablet untuk dijadikan granul dengan ukuran yang sama dan bentuk yang spheris setelah dipaksakan melewati ayakan. Dengan adanya bahan pengikat, komponen tablet akan mudah dibentuk menjadi granul, sehingga akan memudahkan pencetakan. Pemilihan bahan pengikat bergantung kepada s ifat fis is da n kimia dari bahan o bat. Daya ikat yang diperlukan dan tujuan pemakaian obatnya.
Ada 4 macam bentuk bahan pengikat yang dipakai pada pembuatan tablet
yaitu :
1. Bentuk yang larut atau yang terdispersi dalam air. Biasanya dipakai dalam bentuk sirup atau mucilago. Bahan pengikat ini lebih efektif diberikan dalam bentuk larutannya dari pada diberikan dalam bentuk kering kemudian dibasahi. Bahan pengikat ini bersifat mudah mengembang bila di dispersikan larut dalam air. Bahan peng ikat ini d iber ikan pada o bat yang st abil t erhadap le mbab dan suhu tinggi.
2. Bahan yang tidak larut dalam air tetapi larut dalam pelarut organik digunakan untuk pembuatan tablet dengan cara granulasi basah terhadap bahan obat yang mengalami kerusakan karena pengaruh lembab, Misal-nya vitamin C, vitamin Bl, Folia digitalis.
Contoh bahan pengikat ini :
Etil selluiosa dalam pelarut alkohol. Paraffin padat dalam pelarut trikloretilena
Polivinilpirolidon dalam pelarut alkohol atau alkohol air.
Hidroksi Propil Metil Selulosa dalam pelarut alkohol Kloroform.
3. Bentuk kering.
Bahan pengikat yang digunakan biasanya dalam bentuk granul-granul yang telah disempurnakan. Fungsinya selain sebagai bahan pengikat dapat juga sebagai bahan pengisi, penghancur dan ada kalanya sebagai penambah dalam suatu formula tablet. Ini biasanya dipakai pada pembuatan tablet secara pencetakan langsung. Contohnya :
- Avicel, Emdex. 4. Bentuk cairan.
Digunakan terhadap bahan obat yang tidak tahan lembab dan tidak tahan pemanasan yang cukup tinggi atau untuk membuat granul yang daya kohesinya tidak begitu besar. Misalnya untuk membuat tablet larut dan tablet effervescent.Didalam pengerjaanya karena daya ikat yang dimiliki tidak terlalu besar maka hendaknya di hindari penambahan bahan pembantu lain yang mengalami deformasi elastis atau reversibel.
Bahan-bahan yang sering digunakan sebagai bahan pengikat : 1. Amylum (pati)
2. Gelatin
3. Sukrosa, Glukosa, Dekstrosa, Laktosa 4. Acasia (Gom Arab)
5. Natrium Alginat
6. C.M.C (Carboxy Methyl Cellulose) 7. Polivinilpirolidon.
8. Veegum
Dalam keadaan tertentu bahan-bahan dibawah ini juga bersifat sebagai pengikat :
- Poli Etilenglikol - Etil Sellulosa
Jumlah bahan pengikat yang dipergunakan bergantung kepada sifat dari bahan-bahan yang akan dicetak.
Pemakaian bahan pengikat yang berlebihan menyebabkan tablet menjadi terlalu keras dan sukar hancur pada pemakaiannya dalam tubuh. Bahan-bahan yang tidak bersifat kohesif, membutuhkan pengikat yang lebih banyak.
Bahan pengikat dapat digunakan dalam bentuk larutan atau bentuk kering, tergantung pada cara pembuatan tablet.
pemakaian bahan pengikat dalam bentuk larutan (dalam jumlah yang sama) yang efektif dibandingkan dalam bentuk kering kemudian dibasahi, sebab partikel-partikel serbuk dilapisi udara pada permukaannya, dengan
pengikat berbentuk larutan lebih mudah penetrasinya sehingga lebih membasahi masa.
Dengan alasan ini maka untuk mendapatkan daya ikat yang efektif di pakai pengikat dalam bentuk larutan dengan penetrasi yang lebih mudah.
- Mucilago Amyli.
Biasanya dipakai dalam konsentrasi 5 - 20% harus dibuat baru, dibuat dengan menambahkan air dingin. dipanaskan diatas penangas air atau api, bebas sambil diaduk-aduk sampai menjadi masa yang kental yang transparan atau disuspensikan dengan sedikit air dingin kemudian ditambah air panas, diaduk-aduk sampai menjadi masa yang kental dan transparan. Mucilago amyli sering juga dikombinasikan dengan larutan gelatin I - 2% untuk mendapatkan daya ikat yang lebih kuat. Larutan gelatin ditambahkan pada mucilago amyli yang telah dingin. - Larutan Gelatin.
Biasa dipakai 1 - 4% dalam hal tertentu dipakai 10 - 20%. Larutan gelatin harus dibuat baru, dan digunakan selagi panas ( ± 40° Celcius) karena kalau dingin akan berbentuk gel.
Cara membuatnya :
Serbuk gelatin di taburkan dalam air dingin, lalu biarkan mengembang. panaskan diatas penangas air sampai larut. kekurangan berat ditambah dengan air panas.
Bahan pengikat gelatin banyak dipakai pada pembuatan lozenges, karena granulnya biasa lebih keras dan kelarutannya lambat serta memberikan
- Larutan Glukosa 25 - 50 %
Dengan pemakaian larutan glukosa pada proses pengeringan, granul-granul tidak akan kering sempurna sehingga tidak sesuai dipakai untuk bahan-bahan yang higroskopis.
- Ak a s i a
Dikenal juga sebagai gom arab. Merupakan serbuk: hampir tidak berbau.
berwarna putih atau putih kekuningan. Larut dalam air dengan perbandingan 1 : 1 membentuk mucilago yang
sifatnya asam, tidak larut dalam alkohol. Diperoleh dari getah kering batang dan dahan Acasia Senegal atau spesies lainnya.
Bahan pengikat ini sering digunakan apabila granul-granul yang dihasilkan diharapkan memiliki sifat kohesif yang kuat seperti lozenges dan pastiles dimana sediaan ini memerlukan waktu hancur yang panjang. Dipakai dalam bentuk larutan 2 - 5%
Kombinasinya dengan Tragacanth akan mempertinggi daya ikatnya. Dipakai kombinasi gom arab 3% dengan tragacanth 0,5 - 2,5%.
- Etil Sellulosa
Dipakai dalam bentuk larutannya dalam alkohol dengan konsentrasi 0,5 - 2%. Digunakan sebagai bahan pengikat tablet yang mengandung bahan berkhasiat yang peka terhadap pengaruh lembab atau suhu yang terlalu tinggi.
- Natrium Karboksi Metil Sellulosa
Serbuk warna putih larut dalam air, dipakai dalam konsentrasi 1 - 4 %. - Natrium Alginat.
Serbuk putih tidak larut dalam air membentuk larutan kental. Merupakan senyawa garam Natrium dengan asam alginat Dipakai dengan konsentrasi 3 - 5 %.
- Poliviniipirolidon.
Serbuk putih, higroskopis. larut dalam air.
Sebagai pengikat dalam konsentrasi 0,5 - 5% dalam air alkoho l atau campuran alkohol air.
Sesuai untuk membuat granulasi bahan-bahan yang tidak tahan air atau tidak stabil pada suhu yang tinggi.
2.7.4.3 Bahan Pengembang.
Bahan pengembang berguna untuk memecahkan partikel kecil sehingga kerja dari bahan berkhasiat dipercepat, beberapa bahan pengembang mempunyai affinitas yang besar terhadap air dan akan mengembang sehingga pengembangnya memecahkan tablet dengan pembentukan kapiler didalam tablet.
Bahan pengembang biasanya digunakan adalah pati dari turunannya, gom,selulosa dan turunannya, serta alginate (Charles, JP., 1989).
2.7.4.4 Bahan Pelicin.
Bahan pelicin memudahkan pendorongan tablet ke atas dan ke luar ruang cetak melalui pengurangan penggesekan antara dinding dalam lubang ruang cetak dengan permukaan sisi tablet. Hasil terbaik saat ini sebagai bahan pelicin adalah talk serta kalsium atau magnesium stearat (Voight, 1987).
Bahan pelicin ditambahkan dengan maksud :
3. Mengurangi pergesekan antara butir-butir granul. 4. Mempermudah pengeluaran tablet dari die.
Magnesium atau kalsium stearat adalah pelicin yang umum dipergunakan, sering dipakai pada konsentrasi < 1%, serta talkum yang dipakai pada konsentrasi 1 -5 % (Charles, JP., 1989).
2.7.4.5 Emcompress (dikalsium fosfat dihidrat).
Merupakan senyawa dikalsium fosfat yang mengandung molekul air, yang diperoleh dengan cara tertentu sehingga berbentuk kristal. Emcompress ini tidak berasa tidak berbau, berwarna putih, tidak larut dalam air dan alkohol. Sedikit larut dalam asam asetat dan HNO3 encer. Emcompress mempunya sebagai bahan pelicin dan bahan pengisi (Charles, JP., 1989).
2.8. Uji Preformulasi.
Sebelum dicetak menjadi tablet, massa granul perlu diperiksa apakah memenuhi syarat aliran yang baik. Preformulasi ini dapat menggambarkan sifat massa sewaktu pencetakan dan setelah tablet dihasilkan. Uji ini meliputi waktu alir, sudut diam, dan indeks tap massa campuran.
Untuk pengukuran waktu alir serbuk dengan metode corong dapat dikerjakan dengan memasukkan serbuk kedalam corong. Waktu yang dibutuhkan oleh semua partikel untuk mengalir keluar dari corong dicatat sebagai waktu alir serbuk, waktu dalam detik maka akan dijumpai kesulitan dalam hal keseragaman bobot tablet. Hal ini diatasi dengan penambahan bahan pelicin.
Sudut diam adalah sudut yang terbentuk antara tumpukan serbuk atau granul dengan bidang horizontal. Sudut ini dialirkan secara bebas sehingga membentuk kerucut. Partikel yang bentuknya lebih seragam (hampir bulat)
memberikan sudut diam yang lebih kecil.
Pengentakan adalah uji dengan mengamati penurunan volume jumlah serbuk atau granul akibat adanya gaya hentakan dilakukan dengan menggunakan volume nometer bergerak secara teratur keatas dan kebawah. granul akan mempunyai sifat alir yang baik dari 20% (Charles, JP., 1989).
2.9. Evaluasi Tablet.
Untuk memenuhi syarat-syarat baik syarat teknis maupun syarat biologis / farmakologis maka tablet yang dihasilkan harus dievaluasi.
2.9.1. Kadar Zat Berkhasiat.
Kecuali dinyatakan lain kadar zat berkhasiat tidak kurang dari 90% dan tidak lebih dari 110% dari jumlah yang tertera pada etiket.Penetapan kadar dilakukan menggunakan tidak kurang dari 20 tablet
2.9.2. Keseragaman Bobot.
Pengisian die (ruang cetak) menentu yang kecil dari setiap tablet tidak dapat dihindari dan batasan-batasan yang diperbolehkan dimuat dalam Farmakope indonesia hanya untuk tablet yang tidak bersalut.
2.9.3. Waktu Hancur.
Waktu hancur adalah waktu yang dibutuhkan partikel-partikel kecil. Faktor-faktor yang mempengaruhi waktu hancur dari tablet adalah sifat kimia dan pororitasnya. Tablet biasanya diformulasi dengan bahan penghancur yang menyebabkan tablet hancur didalam air/cairan lambung. Alat yang digunakan untuk Desintegration tester.
2.9.4. Kekerasan.
Ketahanan dari tablet terhadap goncangan pada waktu pengangkutan, pengemasan dan peredaran bergantung pada kekerasan tablet. Kekerasan dinyatakan dalam satuan kg dari tenaga yang dibutuhkan memecahkan tablet. Kekerasan yang umum untuk tablet adalah 4-8 kg. Untuk tablet isap kekerasannya 10-20 kg. Tablet kunyah mempunyai kekerasan yang lebih kecil dari 3 kg. Walaupun kekerasan yang lebih tinggi menghasilkan tablet yang bagus, tidak rapuh tetapi ini mengakibatkan berkurangnya porositas dari tablet sehingga sukar dimasuki cairan yang mengakibatkan lamanya waktu hancur. Alat - alat yang digunakan antara lain : Stokes Monsanto, Strong
2.9.5. Friabilitas.
Gesekan dan goncangan merupakan capping atau hancur. Untuk menguji friabilitas dipakai alat fribilator misalnya : Roche Friabilator. Alat ini menyebabkan tablet terkikis dan mengalami goncangan ketika tablet jatuh setinggi 6 inchi (15 cm) sewaktu silinder berputar (Charles, JP., 1989).
2.9.6. Disolusi.m
Disolusi (pelarutan) adalah proses di dalam suatu pelarut. Saat sekarang ini disolusi dipandang salah satu uji pengawasan mutu yang paling penting dilakukan pada sediaan farmasi.
Pada uji disolusi dapat diketahui bahan obat dalam larutan dengan kecepatan yang seharusnya. Cepatnya obat atau tablet melarut menentukan beberapa kadar bahan berkhasiat terlepas didalam darah. Karena itu laju larut berhubungan langsung dengan kemanjuran dari tablet dan perbedaan bioavaibilitas dari berbagai formula (Charles, JP., 1989).
2.9.7. Waktu Pembasahan dan Rasio Penyerapan Air
Sepotong kertas tisu dilipat dua kali di Petri dish kecil (diameter 5,5) berisi 6 ml air. Sebuah tablet di tempatkan pada kertas dan waktu yang dibutuhkan untuk pembasahan diukur. Tablet dibasahi kemudian ditimbang airnya.
2.8 Spektrofotometri Ultraviolet.
Sinar ultraviolet dan sinar tampak memberikan energi yang cukup untuk terjadinya transisi elektronik. Dengan demikian spektrum ultraviolet dan spektra tampak dapat dikatakan sebagai spectra elektronik. Keadaan energi yang paling rendah disebut keadaan dasar ( ground state). Trasisi-transisi elektronik akan meningkatkan energi molekuler dari keadaan dasar ke satu atau lebih dari tingkat energi tereksitasi ( Ganjar dan Rohman, 2007)