JURNAL
LITERASI DIGITAL DI MASA PANDEMI
(Analisis Wacana Kritis Literasi Digital di Masa Pandemi COVID-19 oleh Remotivi dalam Rubrik Mediapedia Edisi Maret-Desember 2020)
Diajukan Guna Memenuhi Sebagian Persyaratan untuk Mencapai Gelar Sarjana Ilmu Sosial dan Politik
Oleh:
Muhammad Feraldi Hifzurahman D0217058
PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SEBELAS MARET 2021
2 LITERASI DIGITAL DI MASA PANDEMI
(ANALISIS WACANA KRITIS LITERASI DIGITAL DI MASA PANDEMI COVID-19 OLEH REMOTIVI DALAM RUBRIK MEDIAPEDIA EDISI
MARET-DESEMBER 2020)
Muhammad Feraldi Hifzurahman Monika Sri Yuliarti
Program Studi Ilmu Komunikasi. Fakultas Ilmu Sosial dan Politik. Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Abstract
The COVID-19 pandemic that has occurred since 2020 has not only had an impact on the health and economic sectors, but also the spread of information on the internet. Various digital problems and phenomena occur during a pandemic with an impact on society that is as dangerous as the virus itself. Remotivi, a media and communication research institute, has contributed on solving this problem. Through study articles that discuss digital phenomena during the COVID-19 pandemic, Remotivi seeks to improve people's digital literacy.
This study aims to find out how digital literacy during the COVID-19 pandemic was constructed by Remotivi. This is qualitative research with data sources based on in-depth interview and literature study. The methodology of this research uses Norman Fairclough's Critical Discourse Analysis. The study finds that the text produced by Remotivi in the Mediapedia rubric constructs digital literacy discourse during the COVID-19 pandemic. The discourse represents Remotivi's efforts to improve people's digital literacy by producing texts that contain an explanation of a phenomenon, criticism of the people behind it, and educating the public so that they can overcome these problems.
3 Pendahuluan
Praktik industri media mengalami perkembangan pesat pasca-reformasi sekitar dua dekade yang lalu. Salah satu perkembangan yang paling dirasakan sampai saat ini adalah kemunculan media daring sebagai wadah penyebaran informasi yang mudah diakses. Namun, tuntutan kecepatan dan kompetisi membuat produk jurnalistik di media daring abai terhadap prinsip dan etika jurnalistik (Ciptadi & Armando, 2018). Keadaan tersebut mengaikbatkan semakin banyak media yang mengabaikan prinsip dan kaidah jurnalistik seperti nilai berita, independensi, cover both sides, dan verifikasi.
Di sisi lain, jumlah masyarakat Indonesia yang mengakses berita dan informasi dari internet terus meningkat. Laporan Survei Internet Asosiasi Penyelenggara Jaringan Internet Indonesia (APJII) tahun 2019-2020 (Q2) menyebutkan bahwa pengguna aktif internet di Indonesia sejumlah 196,71 juta jiwa dari total populasi 266,91 juta penduduk. Jumlah ini setara dengan 73,7%, meningkat 8,9% dari tahun sebelumnya (APJII, 2020). Angka tersebut menandakan informasi yang beredar di internet memiliki pengaruh yang besar bagi masyarakat Indonesia. Apabila diabaikan, berbagai permasalahan di internet mengancam para pengguna, seperti internet fraud, pelanggaran privasi, kecanduan, hingga yang paling sering ditemui saat ini yaitu meningkatnya hoax.
Untuk itu, perlu adanya upaya pencegahan hoax dan kejahatan digital lainnya, salah satunya dengan meningkatkan literasi digital masyarakat. Literasi digital adalah kemampuan memahami dan menggunakan informasi dalam berbagai bentuk dari berbagai sumber yang sangat luas yang diakses melalui perangkat komputer (Gilster, 1997). Definisi ini mengalami perkembangan dan diasosiasikan dengan upaya pemahaman oleh masyarakat terhadap berbagai fenomena yang terjadi di new media atau media digital. Dari berbagai fenomena di new media, berita hoax masih menjadi masalah yang tidak kunjung usai. Dampak dari masyarakat yang masih awam
4 terhadap literasi digital tercermin ketika dihadapkan dengan situasi yang kompleks seperti pandemi saat ini.
Sejak pandemi COVID-19 yang merebak di tahun 2020, arus informasi di internet seolah tidak terbendung. WHO menyebut fenomena ini sebagai infodemic, keadaan di mana informasi terlalu berlimpah sehingga menyebabkan kebingungan publik (WHO, 2020). Informasi yang cepat dan tepat merupakan sesuatu yang penting bagi publik di masa pandemi ini. Namun, nyatanya masih banyak hoax, hate speech, dan kejahatan digital lainnya yang ditemui di internet selama pandemi.
Permasalahan tersebut direspon oleh masyarakat dengan melakukan gerakan inisiatif yang menyediakan informasi alternatif bagi publik. Gerakan tersebut bertujuan agar masyarakat tetap mendapatkan informasi yang valid dan berkualitas selama pandemi. Salah satu inisiatif tersebut dilakukan oleh Remotivi, sebuah lembaga non-profit yang bergerak di bidang penelitian dan pemantauan media. Berdiri sejak 2014, Remotivi secara konsisten mengupayakan literasi media dan digital bagi publik melalui artikel yang diunggah di situs web Remotivi.or.id dan konten media sosial.
Selama pandemi, Remotivi secara aktif melakukan upaya peningkatan literasi digital. Berbagai artikel bertema pandemi diproduksi sejak pandemi terjadi di Indonesia, salah satunya terhimpun di rubrik Mediapedia. Rubrik tersebut memberikan perspektif dasar tentang media dengan menggunakan pendekatan yang mudah diterima pembaca. Berangkat dari itu, peneliti tertarik untuk meneliti wacana literasi digital yang dikonstruksi oleh Remotivi di masa pandemi di rubrik Mediapedia edisi Maret-Desember 2020.
Penelitian ini penting bagi masyarakat karena akan mengetahui lebih lanjut bagaimana Remotivi mengkonstruksi teks dalam rangka literasi digital selama pandemi COVID-19. Kehadiran Remotivi menjadi salah satu inisiatif dari dan untuk masyarakat untuk mengatasi berbagai fenomena dan permasalahan digital di internet.
5 Rumusan Masalah Penelitian
Bagaimana literasi digital di masa pandemi COVID-19 dikonstruksi di Remotivi dengan menggunakan Analisis Wacana Kritis model Fairclough?
Tinjauan Pustaka 1. Komunikasi
Sebagai makhluk sosial, manusia tidak bisa dipisahkan dari interaksi dan proses pertukaran pesan. Proses tersebut merupakan bentuk dari komunikasi, yang berasal dari bahasa latin communis yang berarti “membuat sama”. Komunikasi menyarankan bahwa suatu pikiran, suatu makna, atau suatu pesan dianut secara sama (Mulyana, 2014). Mulyana menjelaskan bahwa proses komunikasi dapat terjadi apabila terdiri atas minimal tiga unsur utama, yaitu: komunikator (pengirim pesan), pesan, dan komunikan (penerima pesan). Dengan demikian, komunikasi bertujuan untuk menyampaikan pesan atau informasi kepada penerima agar mencapai pemahaman bersama.
Lebih lanjut, Laswell (2002) menyebutkan bahwa terdapat lima unsur komunikasi, yaitu: Komunikator, yaitu individu yang menyampaikan pesan atau informasi; Pesan, yaitu pernyataan yang disampaikan melalui simbol, bahasa, gambar, dan sebagainya; Media, yaitu saluran yang berfungsi untuk menyampaikan pesan antara komunikator kepada komunikan; Komunikan, yaitu orang/individu yang menerima pesan dari komunikator; Efek, yaitu dampak atau timbal balik atas suatu pesan.
2. Komunikasi Sebagai Proses dan Sebagai Produksi dan Pertukaran Makna John Fiske menyebutkan bahwa konsep komunikasi dapat dibagi menjadi dua aliran, yaitu sebagai: 1) Proses, serta 2) Produksi dan pertukaran makna (Fiske, 1982). Dalam komunikasi sebagai proses, Fiske tertarik melihat bagaimana pengirim dan penerima mengkonstruksi (encode) dan menerima (decode) pesan. Aliran ini melihat komunikasi sebagai proses di mana seseorang memengaruhi perilaku atau keadaan pikiran orang lain. Jika efek yang terjadi berbeda dari yang diharapkan, aliran ini
6 menyebutnya sebagai kegagalan komunikasi dan akan melihat ke proses tersebut guna mengetahui di mana kegagalan itu terjadi.
Komunikasi sebagai produksi dan pertukaran makna melihat bagaimana pesan/teks berinteraksi dengan orang-orang dalam rangka untuk menciptakan makna (Fiske, 1982). Aliran ini berkenaan dengan peran teks di dalam kebudayaan kita. Fiske melihat kegagalan komunikasi bukan disebabkan oleh kesalahpahaman, melainkan perbedaan budaya antara pengirim dengan penerima pesan. Studi komunikasi dalam aliran ini adalah studi mengenai teks dan budaya, di mana metode yang digunakan berkenaan dengan tanda dan makna (semiotika).
Komunikasi sebagai proses cenderung mengarah kepada ilmu sosial, psikologi, dan sosiologi, sementara komunikasi sebagai produksi dan pertukaran makna memiliki kecendurungan terhadap linguistik dan subjek seni.
3. Media Daring Sebagai the New Media
Di era digital ini, masyarakat memiliki semakin banyak pilihan media untuk melakukan komunikasi maupun mengakses informasi terkait suatu informasi dan berita. Pilihan tersebut diantaranya ialah media cetak, media elektronik, dan media daring (online). Secara teknis, media online adalah media berbasis telekomunikasi dan multimedia (komputer dan internet). Termasuk kategori media online adalah portal, website (situs web, termasuk blog dan media sosial seperti facebook dan twitter), radio online, TV online, dan email (Romli, 2012).
Kemunculan internet juga melahirkan adanya generasi baru dalam jurnalistik, yaitu jurnalistik daring (online journalism). Dalam jurnalistik daring, informasi dan berita disampaikan melalui media yang berbasis internet. Saat ini, berita biasanya diunggah melalui portal website atau media sosial (Instagram, Twitter, Facebook, dll.). Media daring merupakan produk yang muncul setelah internet hadir di tengah masyarakat selama lebih dari satu dekade. Bersamaan dengan media sosial, media daring merupakan salah satu bentuk media baru atau biasa disebut dengan the new media.
7 4. Literasi Digital
Konsep literasi digital pertama kali dikemukakan pada tahun 1997 oleh Paul Gilster dalam buku Digital Literacy. Dalam perkembangannya, literasi digital didefinisikan sebagai praktik komunikasi, mengaitkan, berpikir dan menjadi terhubung dengan media digital (Jones & Hafner, 2012). Lebih lanjut, literasi digital melibatkan kemampuan untuk menemukan dan mengkonsumsi, berkreasi, dan mengkomunikasikan konten digital, sekaligus melakukan evaluasi kritis terhadap konten tersebut (Spires & Bartlett, 2012).
Douglas A. J. Belshaw (2011) menyebutkan kebanyakan konsep literasi digital gagal menyajikan deskripsi yang lengkap dan memadai tentang apa yang dikerjakan dalam literasi digital. Jika definisi terlalu rinci maka akan menimbulkan pertanyaan tentang siapa yang membuat dan apa keistimewaan perspektif mereka. Di sisi lain, jika definisi atau model tidak memberikan detail yang cukup, maka sangat sulit untuk diterapkan dan akan menjadi keingintahuan akademis semata (Belshaw, 2011).
Untuk menjawab permasalahan tersebut, Belshaw menawarkan konsep baru di mana terdapat delapan elemen esensial literasi digital. Delapan elemen ini merupakan keterampilan, sikap, dan bakat yang perlu dikuasai untuk mengembangkan literasi digital. Elemen tersebut yaitu cultural, cognitive, constructive, communicative, confident, creative, critical, dan civic.
5. Wacana
Kata wacana menjadi salah satu istilah yang sering disebut saat ini, sehingga istilah ini memiliki definisi yang luas dan beragam. J.S. Badudu (2000) menjelaskan bahwa wacana merupakan rentetan kalimat yang berkaitan, yang menghubungkan proposisi yang satu dengan yang lain, membentuk satu kesatuan sehingga terbentuklah makna yang serasi di antara kalimat-kalimat itu.
8 Definisi wacana memiliki perbedaan jika mengacu kepada masing-masing disiplin ilmu. Sebagai contoh, dalam lapangan sosiologi, wacana merujuk kepada hubungan antara konteks sosial dari pemakaian bahasa (Eriyanto, 2001). Wacana dalam pengertian linguistik adalah unit bahasa yang lebih besar dari kalimat, sementara dalam perspektif politik, wacana adalah praktik pemakaian bahasa, terutama politik bahasa (Eriyanto, 2001).
Selain penjelasan di atas, konsep wacana yang diperkenalkan oleh Michael Foucault juga menjadi salah satu perspektif yang penting. Wacana di sini tidak dipahami sebagai serangkaian kata atau proposisi dalam teks, tetapi sebagai sesuatu yang memproduksi yang lain (sebuah gagasan, konsep, atau efek). Wacana dapat dideteksi karena secara sistematis suatu ide, opini, konsep, dan pandangan hidup dibentuk dalam suatu konteks tertentu sehingga mempengaruhi cara berpikir atau bertindak tertentu.
6. Analisis Wacana Kritis
Istilah analisis wacana merupakan istilah yang dipakai dalam berbagai disiplin ilmu dengan pengertiannya masing-masing. Meskipun memiliki definisi yang beragam, irisannya adalah analisis wacana berhubungan dengan studi mengenai bahasa/pemakaian bahasa. Menurut Fairclough dan Wodak dalam Eriyanto (2001), analisis wacana kritis melihat wacana—pemakaian bahasa dalam tuturan dan lisan— sebagai bentuk dari praktik sosial.
Menggambarkan wacana sebagai praktik sosial menyebabkan hubungan dialektis di antara peristiwa diskursif tertentu dengan situasi, institusi, dan struktur sosial yang membentuknya. Analisis wacana kritis melihat bahasa sebagai faktor penting, yaitu bagaimana bahasa digunakan untuk melihat ketimpangan kekuasaan dalam masyarakat terjadi (Eriyanto, 2001). Analisis wacana kritis menyelidiki bagaimana melalui bahasa, kelompok sosial yang ada saling bertarung dan mengajukan versinya masing-masing.
9 7. Analisis Wacana Kritis Norman Fairclough
Salah satu model analisis wacana kritis yang paling populer adalah model Norman Fairclough. Analisis Fairclough didasari atas pertanyaan tentang bagaimana menghubungkan teks yang bersifat mikro dengan konteks sosial yang sifatnya makro. Model yang berusaha dibangun dalam analisis wacana ini berorientasi kepada kontribusi terhadap analisis sosial dan budaya. Fairclough dalam (Eriyanto, 2001) menyebutkan bahwa analisis harus berpusat kepada bagaimana bahasa dibentuk dan terbentuk dari relasi sosial dan konteks sosial tertentu.
Fairclough membagi analisis wacana kritis menjadi tiga dimensi/level, yaitu level mikro (teks), level meso (praktik wacana), dan level makro (praktik sosio-kultural).
1. Level mikro (teks) mengacu kepada tulisan, wicara, grafik, dan semua bentuk linguistik teks. Dalam model Fairclough, teks dianalisis dengan melihat kosakata, semantik, dan tata kalimat.
2. Level meso (praktik wacana) merupakan dimensi yang berhubungan dengan proses produksi dan konsumsi teks. Dalam dimensi ini ada proses menghubungkan produksi dan konsumsi teks atau sudah ada interpretasi. 3. Level makro (praktik sosio-kultural) biasanya tertanam dalam tujuan, jaringan,
dan praksis budaya sosial yang luas. Model ini berhubungan dengan konteks di luar teks, seperti situasional, institusional, dan sosial.
Metodologi
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Pendekatan kualitatif dipilih karena data yang diperoleh di lapangan berupa data yang perlu dianalisis lebih dalam. Penelitian kualitatif akan menghasilkan data deskriptif berupa kata tertulis atau lisan dari pelaku yang dapat diamati. Adapun objek penelitian ini adalah literasi digital di masa pandemi oleh Remotivi melalui rubrik Mediapedia Edisi Maret-Desember 2020. Pendekatan yang digunakan pada penelitian ini menggunakan paradigma kritis. Paradigma kritis mempunyai pandangan tertentu, bahwa media—dan pada akhirnya
10 berita—harus dipahami secara keseluruhan mulai dari proses produksi dan struktur sosial (Eriyanto, 2001).
Pengambilan sampel penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling di mana sampel dipilih berdasarkan kriteria khusus. Adapun kriteria khusus yang digunakan dalam memilih sampel dalam penelitian ini yaitu: artikel Remotivi, diunggah di rubrik Mediapedia pada bulan Maret s.d. Desember 2020, dan memiliki kata kunci “COVID-19”. Peneliti juga melakukan wawancara mendalam dengan menggunakan teknik purposive sampling dan snowball sampling. Purposive sampling digunakan untuk menentukan informan yang memberikan data seputar produksi teks, sementara snowball sampling digunakan untuk menemukan informan yang memberikan data konsumsi teks. Selanjutnya, metode analisis yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis wacana kritis model Fairclough. Fairclough berusaha menghubungkan analisis teks pada level mikro dengan konteks sosial yang lebih besar (sociocultural practice). Analisis Wacana Kritis memiliki tiga level analisis, yaitu level mikro (teks), meso (praktik wacana), dan makro (praktik sosiokultural).
Sajian dan Analisis Data A. Analisis Mikro
Pada level mikro, peneliti melakukan analisis unsur ideasional, relasi, dan identitas pada sampel yang telah dipilih. Adapun analisis mikro dari delapan artikel dari rubrik Mediapedia yang dipilih sebagai sampel adalah sebagai berikut:
1. “Melawan Media Pecandu Clickbait di Tengah Teror Corona”
Artikel ini mengulas praktik media daring yang kerap menggunakan judul clickbait di tengah situasi pandemi yang butuh kejelasan informasi. Dalam aspek ideasional, artikel ini secara umum mengkonstruksi upaya Remotivi melakukan edukasi kepada publik agar memiliki literasi digital sehingga tidak terjerumus praktik clickbait media daring selama pandemi. Dalam aspek relasi, terdapat tiga partisipan utama pada teks ini: penulis, publik, dan media
11 (khususnya media daring). Konstruksi hubungan yang ditampilkan melalui teks ini yaitu keberpihakan penulis kepada publik. Hal tersebut terlihat dari cara penyampaian yang edukatif dan mengajak publik untuk lebih perhatian dengan isu clickbait di masa pandemi. Selanjutnya, media yang sering melakukan clickbait ditampilkan sebagai pihak yang disoroti dan mendapat kritik dari penulis.
Selanjutnya pada aspek identitas, penulis mengidentifikasi dirinya sebagai bagian dari masyarakat yang juga terkena dampak dari praktik clickbait oleh media. Sementara itu, identitas media dalam teks ini digambarkan sebagai pelaku tindakan clickbait yang dianggap mengambil keuntungan di tengah ketidakpastian akibat pandemi. Aspek ideasional, relasi, dan identitas dalam teks ini telah memenuhi tiga elemen literasi digital, yaitu elemen kognitif, konstruktif dan komunikatif.
2. “Yth. Pemerintah: COVID-19 Bukan Alasan untuk Mencederai Hak Komunikasi Warga”
Teks ini secara umum berisi kritik penulis terhadap pemerintah Indonesia. Pemerintah dianggap kerap melakukan gestur represif, terutama dalam bidang hak warga atas informasi dan komunikasi selama pandemi. Wacana literasi digital dalam teks ini disampaikan secara implisit. Dalam aspek ideasional, teks ini merepresentasikan pemerintah dengan citra negatif. Dalam aspek relasi, terdapat dua partisipan yang digambarkan dalam teks: pemerintah dan masyarakat. Secara keseluruhan, teks menampilkan bahwa pemerintah melakukan tindakan yang merugikan masyarakat. Pemerintah digambarkan sebagai pelaku dan masyarakat sebagai korbannya, meskipun masyarakat tidak terlalu ditampilkan secara aktif di dalam teks.
Pada aspek identitas, penulis memposisikan dirinya sebagai pihak yang mengkritik kinerja pemerintah. Pembaca diposisikan sebagai bagian dari masyarakat yang membutuhkan wawasan baru untuk meningkatkan literasi
12 digital. Sementara itu, pemerintah diposisikan sebagai aktor di balik ancaman dicederainya hak komunikasi warga. Berdasarkan penjabaran di atas, terdapat beberapa elemen literasi digital yang bisa didapat dari teks tersebut, yaitu elemen critical dan civic.
3. “Belajar dari Negara Lain: Seberapa Penting Informasi yang Terbuka dalam Menghadapi COVID-19?”
Berdasarkan aspek ideasional, penulis mengajak pembaca untuk belajar dari negara lain tentang pentingnya informasi terbuka dalam menghadapi COVID-19. Aspek relasi dalam teks ini menampilkan hubungan antara penulis, masyarakat, dan pemerintah. Penulis ditampilkan sebagai pihak yang melakukan literasi digital kepada masyarakat dengan medium tulisan. Pemerintah ditampilkan sebagai pemangku kebijakan yang dikritik oleh penulis karena membatasi informasi terkait pandemi COVID-19. Pembatasan tersebut kemudian merugikan masyarakat karena informasi yang terbuka sangat dibutuhkan oleh publik.
Selanjutnya dalam aspek identitas, penulis menempatkan diri sebagai bagian dari masyarakat dan agen literasi digital. Hal tersebut ditampilkan dari teks artikel yang ditujukan untuk masyarakat agar dapat memahami pentingnya keterbukaan informasi. Pemerintah diposisikan sebagai pihak yang menyebabkan terbatasnya informasi di Indonesia. Sementara itu, masyarakat digambarkan sebagai komunitas yang membutuhkan informasi tersebut. Berdasarkan aspek ideasional, relasi, dan identitas, teks tersebut memenuhi elemen cultural, critical, dan civic dalam literasi digital.
4. “Tentang Mereka yang Melawan Covid-19 dengan Informasi”
Teks ini membahas masyarakat di berbagai negara yang berinisiatif menyediakan dan memverifikasi informasi seputar COVID-19 di internet. Jika dilihat dari aspek ideasional, teks ini merepresentasikan dua hal: kurangnya akses informasi terkait COVID-19 dari pemerintah dan inisiatif masyarakat
13 yang hadir untuk mengatasi permasalahan tersebut. Penulis menggambarkan pemerintah sebagai penyebab dari permasalahan informasi selama pandemi, atau biasa disebut infodemic.
Dalam aspek relasi, penulis ditampilkan sebagai agen literasi digital bagi pembaca (masyarakat). Masyarakat direpresentasikan sebagai kelompok yang melakukan inisiatif dalam menyediakan informasi seputar pandemi yang berkualitas. Sementara itu, pemerintah dan masyarakat digambarkan memiliki hubungan sebab akibat, di mana kelalaian pemerintah menyebabkan banyak masyarakat yang terpapar hoax dan misinformasi.
Pada aspek identitas, penulis menempatkan dirinya sebagai bagian dari masyarakat dan kontra terhadap pemerintah. Sementara itu, pembaca diposisikan sebagai pihak yang ingin tahu bagaimana masyarakat dari berbagai negara melawan COVID-19 dengan informasi. Kemudian, identitas pemerintah diposisikan sebagai penyebab kurangnya informasi yang memadai selama pandemi. Terdapat beberapa elemen literasi digital yang ditemui dalam teks tersebut, yaitu cultural, creative, dan civic.
5. “Kenapa di Era Internet Masih Ada yang Percaya Teori Konspirasi?”
Teks artikel ini membahas salah satu fenomena digital yaitu maraknya teori konspirasi yang bertebaran selama pandemi. Secara umum, wacana literasi digital yang dikonstruksi dalam teks ini bertujuan agar publik kritis terhadap teori konspirasi yang beredar di dunia digital. Pada aspek ideasional, penulis menggambarkan teori konspirasi sebagai fenomena yang serius dan mengkhawatirkan karena dapat berdampak buruk jika diabaikan. Pada aspek relasi, dapat dikatakan bahwa masyarakat awam sebaiknya mempunyai pengetahuan dan wawasan yang memadai agar dapat terhindar dari teori konspirasi yang beredar. Adapun penulis menyebut orang yang mempercayai teori konspirasi dengan sebutan “penganut teori konspirasi”. Sedangkan untuk masyarakat lainnya, penulis cenderung menyebutnya dengan kata “kita”.
14 Aspek selanjutnya yaitu identitas pihak-pihak yang diberitakan dalam teks. Pembaca digambarkan sebagai masyarakat awam yang membutuhkan pengetahuan seputar teori konspirasi. Teks tersebut memposisikan pembaca agar memahami apa itu teori konspirasi dan mengapa di era digital ini masih banyak orang yang mempercayai narasi konspiratif. Dengan demikian, teori konspirasi menjadi musuh bersama yang harus diantisipasi oleh pembaca, dalam hal ini masyarakat secara umum. Elemen literasi digital yang ditemui dalam teks tersebut adalah cultural, cognitive, confident, dan constructive. 6. “COVID-19 Memicu Wabah Baru: Pembungkaman Pers Dunia”
Secara umum, artikel ini membahas pembungkaman pers yang terjadi secara global. Fenomena ini semakin banyak terjadi semenjak pandemi COVID-19. Remotivi selaku produsen teks menyoroti beragam bentuk pembungkaman pers di berbagai negara. Berdasarkan aspek ideasional, teks ini membahas mengenai pembungkaman pers di berbagai dunia yang juga mengancam Indonesia. Dalam aspek relasi, penulis menyebutkan beberapa partisipan yang ditampilkan dalam teks. Relasi yang paling menonjol yaitu antara pemerintah dengan media—termasuk jurnalis di dalamnya. Pembungkaman pers di berbagai negara mengakibatkan adanya keterbatasan informasi karena ruang gerak media yang semakin terbatas.
Sementara itu, pada aspek identitas, Remotivi selaku produsen teks menempatkan dirinya sebagai pihak yang membela kebebasan pers. Pemerintah digambarkan sebagai lembaga yang seharusnya menjamin kebebasan pers, tetapi justru menerbitkan kebijakan yang mengancam kebebasan itu sendiri. Sementara itu, media digambarkan sebagai pihak yang berhak mendapat jaminan kebebasan pers dan sedang dihadapkan dengan tren pembungkaman pers di dunia. Berdasarkan penjelasan di atas, teks tersebut memenuhi elemen critical literasi digital.
15 7. “Badai Serangan Siber di Tengah Pandemi”
Wacana yang dikonstruksi dalam artikel ini secara umum berkaitan dengan literasi digital, di mana penulis menyoroti maraknya serangan siber (cybercrime) selama pandemi. Jika dilihat dari aspek ideasional, penulis merepresentasikan serangan siber sebagai peristiwa negatif yang mengancam pengguna internet. Dalam aspek relasi, teks ini menampilkan beberapa pihak yang berhubungan, yaitu penulis, masyarakat, lembaga pemerintah, dan peretas data.
Baik masyarakat maupun lembaga pemerintahan berada di pihak yang sama yaitu sebagai korban serangan siber. Sementara itu pada aspek identitas, penulis menempatkan dirinya sebagai bagian dari masyarakat dan memposisikan dirinya sebagai pihak yang melakukan literasi digital. Masyarakat ditempatkan sebagai korban sekaligus pihak yang rawan terkena serangan siber. Penulis juga menempatkan pemerintah, perusahaan, dan organisasi sebagai korban. Elemen literasi digital yang terdapat di dalam teks tersebut yaitu cognitive dan confident.
8. “Mengharukan dan Mengaburkan: Kisah Kepahlawanan di Media”
Secara umum, teks yang diproduksi oleh Remotivi ini membahas bagaimana narasi kepahlawanan diangkat di media. Dalam aspek ideasional, teks tersebut merepresentasikan pemberitaan dan narasi kepahlawanan yang disematkan kepada tenaga kesehatan harus dicermati karena rawan mengaburkan nilai dan sifat manusiawi tenaga kesehatan itu sendiri. Selanjutnya, berdasarkan aspek relasi, terdapat tiga partisipan yang saling berhubungan: tenaga kesehatan, media, dan masyarakat.
Kisah kepahlawanan yang beredar di internet sebagian besar dikonstruksi oleh media dan dikonsumsi oleh publik. Fenomena tersebut kemudian secara tidak langsung berdampak kepada tenaga kesehatan. Pada satu sisi, tenaga kesehatan layak mendapatkan apresiasi dan penghargaan atas pengorbanannya
16 selama pandemi. Namun, di sisi lain kisah kepahlawanan tersebut berisiko mengaburkan permasalahan yang lebih esensial dan penting bagi tenaga kesehatan dan masyarakat. Kemudian dalam aspek identitas, penulis menempatkan dirinya sebagai bagian dari lembaga pemantauan media. Adapun teks tersebut memenuhi unsur communicative, critical, dan civic dalam literasi digital.
B. Analisis Meso
Dalam Analisis Wacana Kritis Norman Fairclough, analisis meso atau discourse practice merupakan dimensi yang berhubungan dengan produksi dan konsumsi teks. Dengan demikian, analisis meso dibagi menjadi dua bagian sebagai berikut:
1. Analisis Produksi
Temuan dalam penelitian ini menyebutkan bahwa proses produksi teks di Remotivi menjunjung tinggi keterbukaan. Sejak proses penentuan ide, seluruh anggota Remotivi diberi kesempatan untuk bertanya, mengkritik, hingga memberi saran. Upaya tersebut guna menjaga objektivitas dan kualitas tulisan. Temuan lain juga menunjukkan bahwa penulis diberikan kebebasan dan tidak ada intervensi dari pimpinan saat memilih isu untuk dijadikan tulisan, selama isu tersebut masih berkaitan dengan kajian media dan komunikasi.
2. Analisis Konsumsi
Kemudian, temuan dalam analisis konsumsi teks menyebutkan bahwa informan mengalami perkembangan literasi digital setelah mengkonsumsi artikel Remotivi. Adapun signifikansi perkembangan tersebut beragam, di mana elemen cognitive, communicative dan critical menjadi tiga elemen yang paling dirasakan perkembangannya.
C. Analisis Makro
Sementara itu, sociocultural practice atau praktik sosiokultural membahas bagaimana konteks sosial di luar lembaga atau institusi media mempengaruhi
17 bagaimana wacana yang muncul. Terdapat tiga level dalam sociocultural practice, yaitu situasional, institusional, dan sosial. Pada level situasional, temuan menunjukkan situasi yang mendasari produksi teks adalah pandemi COVID-19. Lebih lanjut, beberapa fenomena tersebut seperti: maraknya penjudulan berita clickbait, pembatasan informasi oleh pemerintah, munculnya berbagai teori konspirasi tentang COVID-19, pembungkaman pers di berbagai negara, banyaknya serangan siber yang menyerang pengguna internet, hingga narasi kepahlawanan dalam pemberitaan tenaga kesehatan di Indonesia.
Pada level institusional, hasil penelitian menunjukkan bahwa Remotivi tidak bergantung dengan pihak manapun, baik secara internal maupun eksternal. Dari sisi internal, pegiat Remotivi dipilih secara inklusif dan tidak ada yang terikat afiliasi politik agar tetap independen. Remotivi juga mengedepankan transparansi terkait penggunaan anggaran, salah satunya dengan merilis laporan tahunan yang dapat diakses publik. Secara eksternal, Remotivi tidak terlibat persaingan antarmedia karena menempatkan diri sebagai watchdog atau lembaga pemantauan media. Adapun pihak eksternal yang berkaitan dengan Remotivi yaitu publik, board member, dan lembaga donor.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian mengenai Analisis Wacana Kritis Literasi Digital di Masa Pandemi COVID-19 oleh Remotivi, peneliti menyimpulkan beberapa hal sebagai berikut. Pada analisis level mikro (teks), temuan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa teks yang diproduksi Remotivi merepresentasikan wacana literasi digital. Konstruksi wacana literasi digital yang dituangkan dalam teks artikel tersebut membahas berbagai isu pandemi dengan memberikan penjelasan dasar, kritik, hingga edukasi bagi pembaca. Kemudian jika mengacu kepada delapan elemen literasi digital menurut Douglas A. J. Belshaw, hasil analisis mikro menyebutkan bahwa representasi elemen critical dan civic terdapat di 4 teks. Jumlah tersebut menjadi yang terbanyak,
18 disusul elemen cultural, cognitive, confident (3 kali), constructive, communicative (2 kali), dan creative (1 kali).
Kemudian pada analisis level meso (praktik wacana), temuan dalam penelitian ini menyebutkan bahwa proses produksi teks di Remotivi menjunjung tinggi keterbukaan di mana seluruh anggota diberi kesempatan untuk berpendapat. Temuan lain juga menunjukkan bahwa penulis diberikan kebebasan dan tidak ada intervensi dari pimpinan saat memilih isu yang dijadikan tulisan. Kemudian, temuan dalam analisis konsumsi teks menyebutkan bahwa informan mengalami perkembangan literasi digital setelah mengkonsumsi artikel Remotivi. Adapun signifikansi perkembangan tersebut beragam, di mana elemen cognitive, communicative dan critical menjadi tiga elemen yang paling dirasakan perkembangannya.
Sementara itu, analisis level makro (praktik sosiokultural) membagi pembahasan menjadi tiga level. Pada level situasional, temuan menunjukkan situasi yang mendasari produksi teks adalah pandemi COVID-19 dengan berbagai fenomena digital yang terjadi. Pada level institusional, hasil penelitian menunjukkan bahwa Remotivi tidak bergantung dengan pihak manapun, baik secara internal maupun eksternal. Pada level sosial, kehadiran internet dan derasnya arus informasi mempengaruhi keadaan sosial masyarakat selama pandemi.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa berdasarkan Analisis Wacana Kritis Norman Fairclough, konstruksi literasi digital di masa pandemi COVID-19 di Remotivi berangkat dari keresahan Remotivi terhadap permasalahan digital selama pandemi. Adapun teks yang diproduksi Remotivi relevan dengan elemen esensial literasi digital versi Douglas A. J. Belshaw. Relevansi tersebut juga didukung dengan nilai inklusivitas dan independensi yang dipegang oleh anggota Remotivi selama proses produksi.
19 Daftar Pustaka
APJII. (2020). Laporan Survei Internet APJII 2019 – 2020. In Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (Vol. 2020). Jakarta.
Badudu, J. S. (2000). Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. Belshaw, D. (2011). What is digital literacy? A Pragmatic investigation.
Ciptadi, S. G., & Armando, A. (2018). Upaya Agensi Melawan Logika Jangka Pendek Jurnalisme Daring: Studi Kasus Tirto.id. Jurnal Komunikasi Indonesia, 7(1). https://doi.org/10.7454/jki.v7i1.9690
Eriyanto. (2001). Analisis Wacana: Analisis Teks Media. Yogyakarta: LkiS.
Fiske, J. (1982). Introduction To Communication Studies. In Introduction To Communication Studies. New York: Routledge. https://doi.org/10.4324/9780203323212
Gilster, P. (1997). Digital Literacy. New York: Wiley.
Jones, R. H., & Hafner, C. A. (2012). Understanding digital literacies: A practical introduction. In Understanding Digital Literacies: A Practical Introduction. Oxford: Routledge. https://doi.org/10.4324/9780203095317
Laswell, H. D., & Effendi, O. U. (2002). Dinamika Komunikasi. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Mulyana, D. (2014). Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Romli, A. S. (2012). Jurnalistik Online: Panduan Praktis Mengelola Media Online. Bandung: Nuansa Cendekia.
Spires, M., & Bartlett, H. (2012). Digital Literacies and Learning : Designing a Path Forward. Friday Institute White Paper Series, No. 5(June), 1–24.
WHO. (2020). Managing the COVID-19 infodemic: Promoting healthy behaviours and mitigating the harm from misinformation and disinformation.