1
KONFLIK SOSIAL DAERAH TAPAL BATAS KECAMATAN SIOMPU DAN SIOMPU BARAT
(Studi Kasus di Buton Selatan)
SKRIPSI
Diajukan untuk Sebagai Salah Satu Syarat guna memper gelar serjana Pendidikan Pada Program Studi Pendidikan Sosiologi
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhamadia Makassar
Oleh
Lomin Unfani Nim.10538316915
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SOSIOLOGI FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMADIYAH MAKASSAR 2020
2020
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
SURAT PERNYATAAN Saya yang bertandatangan di bawah ini:
Nama : Lomin Unfani
NIM : 10538316915
Jurusan : Pendidikan Sosiologi
Fakultas : Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Judul Skripsi : Konflik Sosial Daerah Tapal Batas Kecamatan Siompu dan Siompu Barat (Studi Kasus di Buton Selatan)
Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang saya ajukan depan tim penguji adalah hasil karya saya sendiri dan bukan hasil ciptaan orang lain atau dibuatkan oleh siapapun.
Demikian pernyataan ini saya buat dan saya bersedia menerima sanksi apabila pernyataan ini tidak benar.
Makassar , Agustus 2020 Yang membuat perjanjian
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKANSURAT PERJANJIAN Saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : Lomin Unfani
NIM : 10538316915
Jurusan : Pendidikan Sosiologi
Judul Skripsi : Konflik Sosial Daerah Tapal Batas Kecamatan Siompu dan Siompu Barat (Studi Kasus di Buton Selatan)
Dengan ini menyatakan perjanjian sebagai berikut:
1. Mulai dari penyusunan proposal sampai selesai penyusunan skripsi ini, saya akan menyusun sendiri skripsi saya (tidak dibuatkan oleh siapapun).
2. Dalam menyusun skripsi, saya akan selalu melakukan konsultasi dengan pembimbing yang telah ditetapkan oleh pemimpin fakultas..
3. Saya tidak akan melakukan penjiplakan (Plagiat) dalam penyusunan skripsi. 4. Apabila saya melanggar perjanjian seperti pada butir 1, 2 dan 3 saya bersedia
menerima sanksi sesuai dengan aturan yang berlaku.
Demikian perjanjian ini saya buat dengan penuh kesadaran.
Makassar Agustus 2020 Yang membuat perjanjian
MOTTO DAN PERSEMBAHAN
MOTTO
Berani ingin tau, Malas, Awal dari Keberhasilan.
PERSEMBAHAN
Kepada Ibu dan Ayah handa selaku dosen pembimbing, dengan
segala kerendahan hati saya ucapkan banyak terima kasi karena
sudah membimbing saya dari awal hinnga selesai dengan
sebaik-baiknya.
Terima kasih pula atas bantuanya, nasehatnya, dan ilmunya yang
selama ini diberikan kepada saya dengan rasa tulus dan iklas.
ABSTRAK
LOMIN UNFANI.2020. Konflik sosial Daerah Tapal Batas (Studi kasus Buton Selatan). Skripsi. Jurusan Pendidikan sosiologi Fakultan Keguruan dan Ilmu pendidikan Universitas Muhammdiyah Makassar. Pembimbing I Muhlis Madani dan Pembimbing II Sitti Asnaeni Am.
konflik yang muncul saat ini adalah perbedaan pandangan mengenai tapal batas antar Kecamatan Siompu dan Kecamatan Siompu Barat hal ini disebabkan karena adanya perbedaan pendangan mengenai tapal batas sehingga kedua masyarakat saling mengklaim wilayah yang ada di perbatasan. Factor konflik ini disebakan hilangnya penanda tapal batas yang ada di perbatasan hingga saat ini muncul dua fersi pandangan tapal batas dengan hal ini masyarakat dari dua kecamatan saling mengklaim wilayah yang ada di perbatasan antara Kecamtan siompu dan Kecamatan Siompu Barat.
Hasil penelitian konflik tapal batas antara Kecamatan siompu dan Kecamtan Siompu Barat tidak mampu menyelesaikan sengketa tapal batas yang ada sehinggah pemerintah daerah dan tokoh adat memilih untuk mengadakan pertemuan dan dimediasi oleh Bupati Buton Selatan dan kapolsek Siompu untuk mencarikan jalan terbaik memecakan masalah sengketa tapal batas
DAFTAR ISI
SAMPUL ... i
LEMBAR PENGESAHAN ... ii
PERSETUJUAN PEMBIMBING... iii
KARTU KONTROL PEMBIMBING ... iv
SURAT PERNYATAAN ... v
SURAT PERJANJIAN ... vi
MOTTO DAN PERSEMBAHAN ... vii
ABSTRAK ... viii
KATA PENGANTAR ... ix
DAFTAR ISI ... xii
DAFTAR TABEL... xv BAB 1 PENDHULUAN A. Latar Belakang ... 1 B. Rumusan Masalah ... 6 C. Tujuan Penelitian ... 6 D. Manfaat Penelitian ... 6
BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Konsep ... 9
1. Konflik Sosial... 9
2. Daerah Otonomi ... 16
3. Daerah Tapal Batas ... 22
4. Batas Wilayah ... 22
B. Kajian Teori Sebagai Landasan ... 25
C. Penelitian Terdahulu ... 28
D. Kerangka Konsep ... 32
BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan pendekatan Penelitian ... 34
C. Fokus Penelitian ... 35
D. Informan Penelitian ... 35
E. Jenis dan Sumber Data ... 36
F. Instrumen Penelitian... 37
G. Teknik pengumpulan Data ... 37
H. Teknik Analisis Data ... 40
I. Teknik Keabsahan Data ... 41
BAB IV GAMBARAN UMUM LOKASI PENEITIAN A. Sejarah Lokasi Penelitian ... 44
1. Sejarah Singkat... 44
B. Letak Geografis ... 46
1. Topografi dan Hidrologi ... 48
2. Keadaan Iklim ... 48
C. Keadaan Sosial Masyarakat ... 49
D. Keadaan Penduduk ... 50
E. Keadaan Pendidikan ... 51
BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian ... 56
1. Faktor-Faktor Apa yang Menyebabkan Konflik Sosioal Daerah Tapal Batas ... 57
B. Pembahasan ... 61
1. Faktor-Faktor Apa Yang Menyebabkan Konflik Sosial Daerah Tapal Batas ... 63
3. Cara Kerja Teori ... 72 BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan ... 75 B. Saran ... 75 DAFTAR PUSTAKA ... LAMPIRAN-LAMPIRAN
KATA PENGANTAR
Alhamdulilllah, puji dan syukur kehadirat Allah SWT, berkat rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan proposal. Shalawat serta salam tercurahkan kepada Rasulullah SAW. Keluarga dan sahabatnya. Selanjutnya sehingga penulis dapat menyelesaikan proposal ini guna melengkapi persyaratan akademik untuk memperoleh gelar Sarjana.
Diawali dengan doa dan sebentuk perjuangan, memulai studi hingga penyusunan tugas akhir dengan melewati berbagai kendala, semuanya memberikan pengalaman tersendiri bagi penulis. Pengalaman yang menjadi tenaga pendorong bagi penulis untuk meraih cita-cita. Penulis telah mencurahkan segala kemampuan dalam menyelesaikan skrispsi ini, tetapi lepas dari semuanya itu mengingat penulis juga masih dalam tahap belajar, tentunya tidak luput dari berbagai kekurangan dan ketidaksempurnaan, namun inilah hasil maksimal yang dapat penulis berikan.
Dalam penyelesaian proposal ini tidak terlepas dari bantuan dan dukungan berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini dengan segala kerendahan hati penulis menyampaikan terima kasih kepada:
Allah SWT yang merupakan sumber segala ilmu pengetahuan dan telah memberikan kesehatan sehingga dapat menyelesaikan penyusunan proposal ini. Dekan Fakultas Keguruan da Ilm Pendidikan Bapak Erwin Akib. S.Pd.M,Pd., Ph.D Serta Wakil Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas
Muhamadiyah Makassar. Ketua Program Studi Pendidikan Sosiologi Bapak Drs. H.Nurdin, M.Si dan Sekretaris Program Studi Pendidikan Sosiologi Bapak Kahharudin, S.Pd., M.Pd., Ph.D, beserta seluruh staffnya. Bapak Dr. Muhlis Madani,M.Si. Sebagai pembimbing 1 (Satu). Ibu Sitti Asnaeni Am.,S.Sos.,M.Pd. Selaku pembimbing 2 (dau) yang telah meluangkan waktunya membimbing penulis dalam menyeselsakan proposal ini. Bapak dan Ibu dosen proram program Studi Pendidikan Sosiologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Yang telah memberikan ilmunya kepada penulis, semoga Bapak dan Ibu dosen selalu dalam rahamatnya dan lindungan Allah SWT. Sehinga ilmu yang telah di ajarkan dapat bermanfaat dikemudian hari.
Ungkapan terima kasi dan penghargaan yang sangat special penulis haturkan dengan rendah hati dan rasa hormat kepada kedua orang tua penulis yang tercinta. Ayahanda dan Ibunda serta adik-adik penulis dan segala pengorbanannya tak akan perna penulis lupakan atas jasa-jasa mereka. Doa restu, nasihat dan petunjuk dari merekah yang merupakan dorongan moril yang paling efektif bagi kelanjutan studi penulis hingga saat ini.
Kawan-kawan Mahasiswa program studi pendidikan sosiologi khususnya kawan-kawan seperjuangan Kelas A yang selalu memberikan spport kepada penulis.
Makassar, 29 Agutus 2020
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
4.1 Jumlah Penduduk Menurut Kecamatan Tahun 2018 ... 50
4.2 Jumlah Sekolah SD Menurut Kecamatan ... 53
4.3 Jumlah Sekolah Madrasah Ibtidiyah Menurut Kecamatan ... 53
4.4 Jumlah Sekolah SMP Menurut Kecamatan... 54
4.5 Jumlah Sekolah SMA Menurut Kecamatan ... 54
4.6 Jumlah Sekolah Menengah Kejuruan Menurut Kecamatan ... 55
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Konflik perbatasan wilayah merupakan hal yang sering terjadi dibeberapa kabupaten maupun kota. hal inilah yang merupakan salah satu masalah penting yang luput dari perhatian pemerintah, sehingga berbagai perselisihan muncul antar kalangan masyarakat maupun elit politik yang pada umumnya belum tuntas dikarenakan masalah penyelesain garis batas, presepsi masyarakat maupun elit politik yang berbeda-beda dan juga konflik tapal batas sangat rentan terjadi apabila daerah yang diperebutkan memiliki potensi sumberdaya alam dan ekonomi yang memadai. Persoalan seperti ini yang melanda banyak daerah-daerah pemekaran yang banyak terjadi di indonesia.
Pemekaran wilaya pada dasarnya upaya menciptakan pemerintah yang lebih efektif dan efisien serta sumberdaya guna mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Dengan pembangunan dan pengembangan otonomi dalam masa transisi ini mampu mengembangkan inisiatif untuk menumbuhkan kekuatan-kekuatan baru dari masyarakat, sehingga intervensi dari luar termasuk dari pemerintah terhadap masyarakat harus memerlukan proses pemberdayaan dalam rangka mengelola pembangunan sehingga dapat mengantisipasi perubahan dan peluang yang luas. Secara esensial sebenarnya dalam penyelenggara desentralisasi terdapat elemen penting yang saling berkaitan, yaitu pemebntukan daerah otonom dan penyerahan kekuasan secara hukum dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah untuk mengatur dan menangani urusan pemerintah tertentu yang di
serahkan. Konsep otonomi daerah pada dasarnya mengandung arti adanya kebebasan daerah untuk mengambil keputusan baik politik maupun administratif.
Sejak berlakunya undang-undang nomor 22 tahun 1999, indonesia disebut dalam era otonomi daerah. Daerah otonomi diberikan kewenangan dengan prinsip luas, nyata dan bertanggung jawab. Demikian juga setelah undang-undang tentang pemerintah daerah tersebut diganti dengan undang-undang nomor 32 tahun 2004 dan disempurnakan oleh undang-undang nomor 23 tahun 2014 tentang pemerintah daerah, prinsip luas, nyata dan bertanggung jawab tetap menjadi prinsip dalam penyelenggaraan kewenangan daerah otonom.
Sesuai pasal 14 ayat (7) undang–undang nomor 23 tahun 2014 tentang pemerintah daerah yang menyatakan dalam hal batas wilayah kabupaten kota sebagaimana yg dimaksud pada ayat (6) kurang dari 4 mil batas wilayah dibagi sama jarak atau diukur sesuai dengan prinsip garis tengah dari daerah yang berbatasan.
Berbagai implikasi kemudian muncul karena implementasi undang– undang nomor 23 tahun 2014 tentang pemerintah daerah, satu diantaranya yaitu bahwa daerah menjadi sangat penting perlunya penegasan batas daerah sala satu sebabnya adalah karena daerah menjadi kewenangan untuk mengelola sumber daya diwilayahnya. Daerah dituntut untuk berperan aktif dalam mengelola dan mengeksplorasi sumber daya didaerahnya. Kemampuan daerah dalam mengoptimalkan sumber daya yang ada menjadi penentu bagi daerah dalam menjalankan otonomi daerah. Oleh karena itu, daerah-daerah menjadi terdorong untuk mengetahui secara pasti sampai sejauh mana wilayah kewenangannya,
terutama yang memiliki potensi sumber daya yang mendukung pendapatan hasil daerah (PAD).
Daerah melaksanakan kewenanganya masing-masing dalam lingkup batas daerah yang ditentukan, artinya kewenangan suatu daerah pada dasarnya tidak boleh melampaui batas daerah yang di tetapkan dalam undang-undang Nomor Tahun 2014 tentang Pemerintah daerah.
Apabila batas daerah tidak jelas akan menyebabkan dua kemungkinan akibat negatif pertama, sauatu bagian wilayah dapat diabaikan oleh masing-masing daerah saling melempar tangung jawab dalam menyelengarakan pemerintahan, pelayanan masyarakat maupun pembangunan dibagian wilayah tersebut. Kedua, daerah yang satu dapat dianggap mealampaui batas kewenagan daerah yang lain sehingga berpotensi timbulnya konflik antar daerah.( Sakinah, (2016), konflik-penegasan-batas-daerah-semakin-marak- pasca lahirnya-uu-22-tahun-1999, di akses Tanggal 11 april 2016 http://www.kompasiana.com/).
Kekaburan batas daerah dapat menimbulkan dampak negatif yang lebih luas lagi dari sekedar potensi konflik antara daerah karena potensi strategis dan ekonomis suatu bagian wilayah, seperti dampak pada kehidupan sosial dan penyelenggaraan administrasi pemerintah bahkan dapat menimbulkan dampak politis khususnya di daerah-daerah perbatasan. Oleh karena itu, dalam penyelenggaraan administrasi pemerintah, penegasan batas daerah menjadi penting untuk dilaksanakan.
Namun demikian penetapan batas daerah secara fisik dan pasti dilapangan bukan merupakan suatu hal yang mudah meskipun penyelenggaraan administrasi
pemerintah daerah telah berjalan dan berkembang sejak lahirnya NKRI dan batas-batas yuridis telah ditetapkan dengan undang-undang pembentukan masing-masing daerah. Pada kenyataannya, menentukan titik-titik batas fisik dengan mengacu pada undang-undang pembentukan daerah itu sendiri sering menimbulkan permasalahan antara daerah-daerah yang bersangkutan karena masing-masing pihak tidak dengan mudah untuk sepakat begitu saja mengenai batas fisik yang ditentukan.
Penelitian yang dilakukan oleh Muhammad Solichin (jurnal 2017) mengenai Salah satu sengketa perbatasan wilayah antar daerah yang menarik untuk diteliti adalah konflik tapal batas antara Kabupaten Mesuji dan Kabupaten Tulang Bawang. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyebab konflik tapal batas antara Kabupaten Mesuji dan Kabupaten Tulang Bawang adalah perbedaan kepentingan atau tujuan, perbedaan individual, perbedaan nilai dan keyakinan dan keterbatasan sumberdaya. Sengketa yang terjadi menjadi tanggung jawab dari kedua daerah yang berselisih untuk dapat menyelesaikannya. Konflik tapal batas antara Kabupaten Mesuji dan Kabupaten Tulang Bawang meluas dan berkembang karena Kabupaten Mesuji dan Kabupaten Tulang Bawang tidak mampu menyelesaikan sengketa tapal batas yang ada sehingga pemerintah provinsi menyelesaikan masalah tersebut pihak-pihak yang terlibat dalam penyelesaian konflik tapal batas adalah pihak pihak kepolisian Pemerintah Kabupaten Mesuji
dan Pihak Kabupaten Tulang Bawang yang dimediasikan oleh pihak Provinsi Lampung.
Persoalan tapal batas yang bergulir beberapa waktu lalu, belakangan ini menjadi masalah serius ditengah-tengah masyarakat tanpa penyeselesain yang jelas saking carut marutnya masalah serius di tengah-tengah masyarakat hampr terjadi kontak fisik antara masyarakat siompu dan masyarakat siompu barat, pertikaian ini memicu kedua masyarakat saling menyerang sehinga masyrakat siompu melakukan penutupan jalan poros yang ada di perbatasan kecamatan siompu dan kecamatan siompu barat. Begitupun juga sebaliknya dengan masyarakat siompu barat mengadakan pengusuran perahu nelayan masyarakat siompu yang diparkir di pantai dongkala.
Sala satu sengketa wilayah perbatasan antar daerah yang menarik untuk diteliti adalah konflik sosial daerah tapal batas kabupaten buton selatan kecamtan siompu barat dan kecamatan siompu. Karena permasalahan ini diakibatkan karena hilangnya penanda tapal batas daerah yang sudah di sepekati orang tua dulu.
konflik yang muncul saat ini adalah perbedaan pandangan mengenai tapal batas antar Kecamatan Siompu dan Kecamatan Siompu Barat hal ini disebabkan karena adanya perbedaan pendangan mengenai tapal batas sehinga kedua masyarakat saling mengklaim wilayah yang ada di perbatasan. Faktor konflik ini disebakan hilangnya penanda tapal batas yang ada di perbatasan hingga saat ini muncul dua versi pandangan tentang tapal batas dengan hal ini masyarakat dari dua kecamatan saling mengklaim wilayah yang ada di perbatasan antara Kecamtan siompu dan Kecamatan Siompu Barat.
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, Maka peneliti tertarik melakukan penelitian tentang. Bagiamana Konflik Sosial Daerah Tapal Batas.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang tersebut, Maka rumusan masalah pada penelitian ini adalah:
Faktor-faktor apakah yang menyebabkan konflik Sosial daerah tapal batas Kecamatan Siompu dan Siompu Barat?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas maka tujuan penelitian ini adalah Untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang menyebabkan konflik sosial daerah tapal batas.
D. Manfaat Penelitian
Adapun Kegunaan Penelitian ini yaitu: 1. Kegunaan teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi ilmu pengetahuan pada umumnya dan ilmu sosiologi pada khususnya, serta bagi yang berminat untuk meneliti lebih lanjut mengenai konflik sosial daerah tapal batas.
2. Kegunaan Praktis
Sebagai tambahan wawasan pengetahuan tentang konflik tapal batas sebagai bahan referensi bagi peneliti lain yang berminat pada penelitian yang sama dengan penelitian ini. Di harapkan dapat menjadi bahan informasi dan pertimbangan bagi pemerintah atau pihak-piahak terkait dalam menentukan kebijakan dalam menentukan yang akan datang.
a. Das Sein dan Das Solen
Persoalan tapal batas yang bergulir beberapa waktu lalu, belakangan ini menjadi masalah serius ditengah-tengah masyarakat tanpa penyeselesain yang jelas saking carut marutnya masalah serius di tengah-tengah masyarakat hampr terjadi kontak fisik antara masyarakat siompu dan masyarakat siompu barat, pertikaian ini memicu kedua masyarakat saling menyerang sehinga masyrakat siompu melakukan penutupan jalan poros yang ada di perbatasan kecamatan siompu dan kecamatan siompu barat. Begitupun juga sebaliknya dengan masyarakat siompu barat mengadakan pengusuran perahu nelayan masyarakat siompu yang diparkir di pantai dongkala. Hal inipun berbuntut hampir saling menyeranng kedua belah pihak masayarakat untung sebelum proses terjadinya penyerangan kedua bela pihak masyarakat siompu dan siompu barat aparat keamanan dengan cepat turun lapangan di perbatasan dalam mengamankan situasi agar tidak terjadi hal-hal yang seharusnya tidak perlu terjadi dikedua Kecamatan ini.
Harapan peneliti dengan konflik yang terjadi ditengah-tengah masyarakat siompu dan siompu barat saat ini agar kiranya pemerintah daerah di wilayah setempat cepat turun tangan untuk mendiskusikan dan menyelesaikan konflik tersebut. Jika masalah ini di biarkan begitu sajah tanpa adanya penangaganan dari pihak pemerintah dan tokoh adat, masalah ini akan berdampak kepada anak cucu yang akan datang.
Pemerintah Kecamatan siompu dan siompu barat lebih meningkatkan lagi pembinan dan pengawasan terhadap masyarakat yang masuk dalam wilayah
pengawasan agar ketika terjadi masalah langsung di tangani oleh pemerintah setempat.
Pemerintah sebaiknya memperhatikan wilayah yang ada masuk dalam wilayah Kecamatan Siompu Atau Kecamatan Siompu Barat, Jika wilayah akan di miliki berada dalam wilayah perbatasan harus ada persetujuan kedua bela pihak dari kedua pemerintah Siompu dan Siompu Barat baik itu tokoh adat.
20 BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Kajian Konsep 1. Konflik Sosial
Secara etimologi, konflik (conflict) berasal dari bahasa latin configere yang berarti memukul. Menurut Antonius, dkk konflik adalah suatu tindakan salah satu pihak yang berakibat menghalangi, menghambat, atau menggangu pihak lain. Dimana hal ini dapat terjadi antar kelompok masyarakat ataupun dalam hubungan antar pribadi (Antonius,dkk:i75). Sedangkan hunt dan mecalf membagi konflik menjadi dua jenis, yaitu intrapersonal conflict (konflik interpersonal) dan
interpersonal conflict (konflik interpersonal). Konflik intrapersonal adalah konflik yang terjadi dalam diri individu sendiri, misalnya ketika keyakinan yang di pegang individu bertentangan dengani nilai budaya masyarakat, atau keinginanya tidak sesui dengan kemampuan. Konflik intrapersonal ini bersifat psikologis, yang jika tidak mampu di atasi dengan baik dapat mengganggu bagi kesehatan mental
(mental hygiene) individu yang bersangkutan. Sedangkan konflik interpersonal ialah konflik yang terjadi antar individu. Konflik ini terjadi dalam setiap lingkungan sosial, seperti dalam keluarga, kelompok teman sebaya, sekolah, masyarakat dan negara. Konflik ini dapat berupa konflik antar individu dan kelompok, baik dalam sebuah kelompok (intragroup conlict) maupun antar kelompok (intergroup conlict).
Berdasarkan urain di atas,maka dapat disimpulkan bahwa konflik adalah adanya pertentangan yang timbul di dalam seseorang (misalnya intern) maupun dengan orang lain (misalnya ekstern) yang ada di sekitarnya. Konflik dapat berupa perselisisahan, adanya ketegangan, atau munculnya kesulitan-kesulitan lain di antara dua pihak atau lebih. Konflik sering menimbulkan sikap oposisi antar kedua belah pihak, sampai kepada pihak pihak yang terlibat memandang satu sama lain sebagai penghalang dan pengganggu tercapainya kebutuhuan dan tujuan masing-masing.
Fisher membedakan antara devinisi konflik dan kekersan sebagai berikut: Konflik adalah hubungan antara dua pihak atau lebih ( individu atau kelompok) yang memiliki, atau yang merasa memiliki sasaran yang tidak sejalan. Sedangkan kekerasan meliputi tindakan, perkatann, sikap, berbagai struktur atau sistem yang menyebabkan kerusakan secara fisik, mental, sosial atau lingkungan dan menghalangi seseorang untuk meraih potensinya secara penuh.(Fisher,2001:4)
Konflik terjadi ketika tujuan masyarakat tidak sejalan. Berbagai perbedan pendapat dan konflik biasanya diselesaikan tanpa kekerasan , dan sering menghasilkan situasi yang lebih baik bagi sebagian besar atau atau semua pihak yang terlibat. Karena itu konflik tetap berguna, apalagi karena memang merupakan bagian dari keberadaan kita. Semua bentuk hubungan manusia seperti hubungan sosial, ekonomi, dan pertumbuhan, perubahn dan konflik. Konflik timbul karena ketidak seimbangan antara hubungan-hubungan tersebut.Lalu, Robert Lawang membagi dua pengertian, yakni pengertian konflik dan konflik
sosial. Menurutnya, konflik adalah perjuangan untuk memperoleh nilai, status, kekuasaan, di mana tujuannya tidak hanya memperoleh keuntungan melainkan juga untuk menundukkan saingannya. Sedangkan, konflik sosial merupakan proses sosial antar perseorangan atau kelompok di dalam suatu masyarakat yang diakibatkan adanya perbedaan paham dan kepentingan mendasar sehingga menimbulkan jurang pemisah yang kemudian menghambat interaksi sosial antara pihak yang bertikai.
Dalam menganalisis konflik masyarakat, yang pertama dilakukan adalah mengidentifikasi berbagai peran otoritas di dalam masyarakat. Dahrendorf mengkombinasikan pendekatan fungsional (tentang struktur dan fungsi masyarakat) dengan pendekatan konflik dalam menganalisis antar kelas sosial masyarakat. Berkaitan dengan hal ini, Zetlin menyarankan dalam menganalisis masyarakat harus membedakan dua metateori dalam masyarakat yaitu system sosial terintegrasi secara fungsional (teori fungsional), dan metateori kedua adalah struktur sosial dijalankan melalui tekanan dan paksaan (teori konflik).
Teori sosial Dahrendorf pada kelompok berfokus kepentingan konflik yang berkenaan dengan kepemimpinan, ideologi, dan komunikasi di samping tentu saja berusaha melakukan berbagai usaha untuk menstrukturkan konflik itu sendiri, mulai dari proses terjadinya hingga intensitasnya dan kaitannya dengan kekerasan. Jadi bedanya dengan fungsionalisme jelas, bahwa ia tidak memandang masyarakat sebagai sebuah hal yang tetap/statis, namun senantiasa berubah oleh terjadinya konflik dalam masyarakat. Dalam menelaah konflik antara kelas bawah dan kelas atas.
Teori konflik menurut Max Weber baginya konflik merupakan unsur dasar kehidupan masyarakat. Di dalam masyarakat tentunya memiliki pertentangan-pertentangan dan pertentangan tersebut tidak bisa dilenyapkan dari kehidupan masyarakat. Max Weber juga menyatakan bahwa masalah kehidupan modern dapat dirujuk ke sumber materialnya yang riil (misalnya struktur kapitalisme). Bagi Max Weber konflik sebagai suatu sistem otoritas atau sistem kekuasaan, dimana kekuasaan cenderung menaruh kepercayaan kepada kekuatan. Orang yang kuat itulah yang akan berkuasa. Sedangkan otoritas adalah kekuasaan yang dilegitimasikan artinya kekuasaan yang dibenarkan. Tindakan manusia itu di dorong oleh kepentingan-kepentingan bukan saja kepentingan materiil melainkan juga oleh kepentingan-kepentingan ideal. Oleh karena itu, antara konflik dan integrasi akan terjadi di dalam masyarakat.
Menurut Coser, Konflik bisa diartikan sebagai proses yang bersifat instrumental dalam pembentukan, penyatuan dan pemeliharaan struktur sosial. Konflik dapat menempatkan dan menjaga garis batas antara dua atau lebih kelompok. Konflik dengan kelompok lain dapat memperkuat kembali identitas kelompok dan melindunginya agar tidak lebur ke dalam dunia sosial sekelilingnya.Seluruh fungsi positif konflik tersebut dapat dilihat dalam ilustrasi suatu kelompok yang sedang mengalami konflik dengan kelompok lain. Dalam ruang lingkup kecil, karena konflik maka kelompok-kelompok baru dapat lahir dan mengembangkan identitas strukturalnya.
Usaha perjuangan bangsa Indonesia dalam melawan penjajah, hal tersebut telah memperkuat identitas kelompok, yang kemudian membentuk memutuskan
untuk segera membentuk sebuah negara untuk mendapatkan pengakuan dari negara dan bangsa lain.
Misalnya geng motor. Dalam geng motor ini mereka membangun identitas diri, peraturan, tata nilai dan perilaku, antribut serta kultur yang menggambarkan jati diri mereka. Seiring para geng motor ini berkonflik dengan komunitas lain justru akan menambah kesolitan dari para anggota geng motor tersebut, para geng motor ini secara tidak langsung menerapkan apa yang dimaksud Coser tentang penguatan identitas saat terjadi konflik.
a. Faktor penyebab Konflik
Secara umum, faktor - faktor penyebab konflik terdiri dari beberapa faktor, yakni:
a. Adanya perbedaan perasaan dan pendirian antar individu. adanya perbedaan kebudayaan,terutama perbedaan adat istiadat.
b. Adanya perbedaan kepentingan.
c. Adanya perubahan sosial yang mengubah nilai-nilai pada masyarakat. d. Adanya rasa benci dan dendam.
e. Adanya paksaan dari yang kuat kepada yang lemah. Dan, f. Meletusnya revolusi politik pada perebutan kekuasaan. b. Dampak konflik sosial
Ada beberapa akibat yang dapat di timbulkan oleh adanya pertentangan konflik antara lain yakni:
2. Berubahnya sikap atau kepribadian baik yang mengarah kepada hal-hal yang bersifat negatif maupun positif.
3. Terjadinya perubahan sosial yang mengancam keutuhan kelompok. 4. Jatuhnya korban manusia, rusak dan hilangnya harta benda jika terjadi
benturan fisik.
5. Munculnya dominasi kelompok yang menang terhadap kelompok yang kalah.
6. Terjadi akomodasi, munculnya kompromi (para pihak punya kekuatan yang seimbang).
7. Goyah atau retaknya persatuan kelompok.
8. Rusaknya harta benda dan jatuhnya korban manusia. c. Jenis – jenis konflik
Jenis – jenis konflik menurut Mastenbreok(2016) di bagi 4 bagian yakni antara lain
1. Instrumental Conflicts
Konflik ini terjadi oleh karena ketidaksepahaman antarkomponen dalam organisasi dan proses pengoperasiannya.
2. Socio-emotional Conflicts
Konflik ini berkaitan dengan masalah identitas, kandungan emosi, citra diri, prasangka, kepercayaan, keterikatan, identifikasi terhadap kelompok, lembaga dan lambang-lambang tertentu, sistem nilai dan reaksi individu dengan yang lainnya.
Konflik negosiasi adalah ketegangan-ketegangan yang dirasakan pada waktu proses negosiasi terjadi, baik antara individu dengan individu atau kelompok dengan kelompok.
4. Power and Dependency Conflicts
Konflik kekuasaan dan ketergantungan berkaitan dengan persaingan dalam organisasi. Contoh : pengamanan dan penguatan kedudukan yang strategis.
d. Cara penyelesain konflik
Menurut D. Hendropuspito OC (1989 : 250-251), cara penyelesaian konflik yakni :
1. Konsolidasi berasal dari kata Latin concilioto atau perdamaian, yaitu suatu cara untuk mempertemukan pihak-pihak yang berselisih guna mencapai persetujuan bersama untuk berdamai. Dalam proses ini pihak-pihak yang berkepentingan dapat meminta bantuan pihak ketiga yang bertugas memberikan pertimbangan-pertimbangan yang dianggapnya baik kepada kedua pihak yang berselisih untuk menghentikan sengketanya.
2. Mediasi berasal dari kata Latin mediatio, yaitu suatu cara untuk menyelesaikan pertikaian dengan menggunakan seorang perantara (mediator). Seorang mediator tidak berwenang untuk memberikan keputusan yang mengikat (hanya bersifat konsultatif). Pihak-pihak yang bersengketa sendirilah yang harus mengambil keputusan untuk menghentikan perselisihan.
3. Arbitrasi berasal dari kata Latin arbitrium, artinya melalui pengadilan, dengan seorang hakim (arbiter) sebagai pengambil keputusan yang mengikat kedua pihak yang bersengketa, artinya keputusan seorang hakim harus ditaati.
4. Paksaan (Coercion). Paksaan ialah suatu cara menyelesaikan pertikaian dengan menggunakan paksaan fisik atau psikologis. Pihak yang bisa menggunakan paksaan adalah pihak yang kuat, pihak yang merasa yakin menang dan bahkan sanggup menghancurkan pihak musuh.
5. Détente. Detente berasal dari kata Perancis yang berarti mengendorkan, yang berarti mengurangi hubungan tegang antara dua pihak yang bertikai guna persiapan untuk mengadakan pendekatan dalam rangka pembicaraan tentang langkah-langkah mencapai perdamaian.
2. Derah Otonomi
Dalam kamus besar indonesia (KBBI) otonomi daerah adalah hak, wewenang dan kewajiban daerah untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pengertian secara umum otonomi daerah adalah hak, wewenang, dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Secara harfiah, otonomi daerah berasal dari kata otonomi dan daerah. Dalam bahasa Yunani, otonomi berasal dari kata autos dan namos. Autos berarti sendiri dan
namos berarti aturan atau undang-undang, sehingga dapat diartikan sebagai kewenangan untuk mengatur sendiri atau kewenangan untuk membuat aturan guna mengurus rumah tangga sendiri. Sedangkan daerah adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas-batas wilayah.
Pelaksanaan otonomi daerah selain berlandaskan pada acuan hukum, juga sebagai implementasi tuntutanglobalisasi yang harus diberdayakan dengan cara memberikan daerah kewenangan yang lebih luas, lebih nyata dan bertanggung jawab, dalam mengatur, memanfaatkan dan menggali sumber-sumber potensi yang ada di daerah masing-masing. daerah, dalam konteks pembagian administratif di Indonesia, adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas-batas wilayah yang berwenang mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat
Daerah terdiri atas Provinsi, Kabupaten, atau Kota. Sedangkan kecamatan, desa, dan kelurahan tidaklah dianggap sebagai suatu Daerah (daerah otonom). Daerah dipimpin oleh Kepala Daerah (gubernur/bupati/wali kota), dan memiliki Pemerintahan Daerah serta Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah, terdapat 3 jenis penyelenggaraan urusan pemerintahan yang menjadi dasar bagi Pemerintah Daerah dalam pelaksanaan Otonomi Daerah, yaitu asas Desentralisasi, Dekonsentrasi, dan Tugas Pembantuan.
1. Desentralisasi
Desentralisasi Adalah pemberian wewenang oleh pemerintah pusat kepada pemerintah daerah untuk mengurus urusan daerahnya sendiri berdasarkan asas otonom.
2. Dekonsentrasi
Dekonsentrasi adalah pelimpahan sebagian Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Pemerintah Pusat kepada gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat, kepada instansi vertikal di wilayah tertentu, dan/atau kepada gubernur dan bupati/wali kota sebagai penanggung jawab urusan pemerintahan umum.
Tugas Pembantuan adalah penugasan dari Pemerintah Pusat kepada daerah otonom untuk melaksanakan sebagian Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Pemerintah Pusat atau dari Pemerintah Daerah provinsi kepada Daerah kabupaten/kota untuk melaksanakan sebagian Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah provinsi.
Adapun tujuan pemberian otonomi daerah adalah sebagai berikut: 1. Peningkatan pelayanan masyarakat yang semakin baik. 2. Pengembangan kehidupan demokrasi.
3. Keadilan nasional.
4. Pemerataan wilayah daerah.
5. Pemeliharaan hubungan yang serasi antara pusat dan daerah serta antar daerah dalam rangka keutuhan NKRI.
7. Menumbuhkan prakarsa dan kreativitas, meningkatkan peran serta masyarakat, mengembangkan peran dan fungsi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.
a. Hakikat otonomi daerah
Berdasarkan pengertian-pengertian otonomi daerah tersebut dapat disimpulkan bahwa hakikat otonomi daerah ialah sebagai berikut:
1. Daerah memiliki hak untuk mengatur dan mengurus rumah tangga pemerintahan sendiri, baik, jumlah, macam, maupun bentuk pelayanan masyarakat yang sesuai kebutuhan daerah masing-masing.
2. Daerah memiliki wewenang untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri, baik kewenangan mengatur maupun mengurus rumah tangga pemerintahan sendiri sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.
b. Maksud dan tujuan otonomi daerah
Maksud dan tujuan otonomi daerah ialah dapat di bagi beberapa bagian antara lain:
1. Supaya tidak terjadi pemusatan dalam kekuasaan pemerintahan pada tingkat pusat sehingga jalannya pemerintahan dan pembangunan berjalan lancar.
2. Supaya pemerintah tidak hanya dijalankan oleh pemerintah pusat, tetapi daerah pun dapat diberi hak untuk mengurus sendiri kebutuhannya.
3. Supaya kepentingan umum suatu daerah dapat diurus lebih baik dengan memperhatikan sifat dan keadaan daerah yang mempunyai kekhususan sendiri.
c. Asas otonomi daerah
Pedoman pemerintahan diatur dalam pasal 20 UU No. 32 Tahun 2004, penyelenggaraan pemerintahan berpedoman pada asas umum penyelenggaraan negara yang terdiri atas sebagai berikut:(Pasal 20 UU No. 32 Tahun 2004 tentang pemerintah daerah)
1. Asas kepastian hukum ialah asas yang mengutamakan landasan peraturan perundang-undangan, kepatutan dan keadilan dalam setiap kebijakan penyelenggara negara.
2. Asas tertib penyelenggara ialah asas menjadi landasan keteraturan, keserasian, dan keseimbangan dalam pengendalian penyelenggara negara.
3. Asas kepentingan umum ialah asas yang mendahulukan kesejahteraan umum dengan cara yang aspiratif, akomodatif dan selektif.
4. Asas keterbukaan ialah asas yang membuka diri terhadap hak masyarakat untuk memperoleh informas yang benar, jujur dan tidak diskriminatif tentang penyelenggara negara dengan tetap memperhatikan perlindungan atas hak asasi pribadi, golongan dan rahasia negara.
5. Asas proporsinalitas ialah asas yang mengutamakan keseimbangan antara hak dan kewajiban.
6. Asas profesionalitas ialah asas yang mengutamakan keadilan yang berlandasan kode etik dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
7. Asas akuntabilitas ialah asas yang menentukan bahwa setiap kegiatan dan hasil akhir dari kegiatan penyelenggara negara harus dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat atau rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
8. Asas efisiensi dan efektifitas ialah asas yang menjamin terselenggaranya kepada masyarakat dengan menggunakan sumber daya tersedia secara optimal dan bertanggung jawab “efisiensi = ketepatgunaan, kedayagunaan, efektivitas = berhasil guna”. Adapun penyelenggaraan otonomi daerah menggunakan tiga asas antara lain sebagai berikut:
9. Asas desentralisasi ialah penyerahan wewenang pemerintahan oleh pemerintah kepada daerah otonom dalam kerangka NKRI.
10. Asas dekosentrasi ialah pelimpahan wewenang dari pemerintah kepada gubernur sebagai wakil pemerintah dan atau perangkat pusat daerah.
11. Asas tugas pembantuan ialah penugasan dari pemerintahan kepada daerah dan desa dan dari daerah ke desa untuk melaksanakan tugas
tertentu yang disertai pembiayaan, sarana dan prasarana serta sumber daya manusia dengan kewajiban melaporkan pelaksanaannya dan mempertanggungjawabkan kepada yang menugaskan.
3. Daerah Tapal Batas
Daerah dalam artian kamus besar bahasa indonesia (KBBI) merupakan bagian permukaan bumi dalam kaitanya dengan keadaan alam. Secara umum, devinisi daerah menurut Nia k. Pontoh dalam bukunya pengantar perencanaan perkotaan (2008), adalah suatu wilayah teritorial dengan pengertian, batasan, dan perwatakanya didasarkan pada wewenang administratif pemerintah yang di tentukan oleh peraturan perundang-undangan tertentu. Devinisi lain dari daerah adalah ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta segenap unsur terkait padanya dengan batas dan sistemnya di tentukan berdasarkan aspek administrasi.
4. Batas Wilayah
Oleh John Bernando Seran mengemukakan bahwa perbatasaan wilayah yakni mempertahankan kedaulatan (souvereignity) dan hak-hak berdaulat (souvereign Rights) antar negara serta menyelesaikan semua persoalan yang berkaitan dengan hubungan international, negara perlu menetapkan perbatasan wilayah baik dimensi perbatasan darat maupun perbatasan laut dan udara. Penetapan perbatasan wilayah (Border Zone) tersebut dapat dilakukan sesuai ketentuan hukum international agar dapat memberikan kepastian hukum, kemanfaatan hukum dan keadilan bagi masyarakat yang mendiami wilayah perbatasan dimaksud.
Menurut ahli hukum international Green NA Maryan, Shaw Malcolm, JG Starke dan Burhan Tsani, perbatasan wilayah adalah batas terluar wilayah suatu negara berupa suatu garis imajiner yang memisahkan wilayah suatu negara dengan wilayah negara lain di darat, laut maupun udara yang dapat dikualifikasi dalam terminologi "Border Zone" (zona perbatasan) maupun Customs Free Zone (zona bebas kepabeanan).
Sodjuangan situmorong (2006: 89) mengemukakan bahwa adanya persoalan batas wilayah administrasi diera otonomi daerah. Hal tersebut mencerminkan sebuah gambaran persoalan batasan daerah yang faktual yang dirasakan daerah-daerah di indonesia semenjak era otonomi daerah.
Kawasan perbatasan dalam dua pembahasan di atas dapat diatur secara limitatif dalam berbagai perjanjian international yang bersifat "Treaty Contract" untuk menyelesaikan permasalahan di perbatasan secara insidentil maupun yang bersifat "law making treaty" untuk pengaturan masalah perbatasan secara permanen berkelanjutan.
Pengelolaan perbatasan wilayah oleh badan-badan khusus yang ditentukan negara secara internal dimaksudkan agar administrasi pemerintahan dapat dilakukan dengan baik dan penerapan hukum nasional secara berkeadilan. Secara eksternal penetapan dan pengelolaan perbatasan antar negara dimaksudkan keseimbangan hak dan kewajiban suatu negara dalam konteks hubungan international yang harmonis, damai dan seimbang agar dapat menjamin penerapan hukum international secara holistik untuk mewujudkan hak dan kewajiban suatu
negara dalam konteks hubungan international yang harmonis, damai dan seimbang.
Era otonomi yang menunjukan pada sesuatu era yang dimulai sejak berlakunya undang undang nomor 22 Tahun 1999 Tentang pemeritntah Daerah Hal itu dimulai dengan pelaksanaan asas desantaralisasi yang dilaksanakan dengan pemberian otonomi yang luas, nyata dan bertanggung jawab kepada derah. Prinsip tersebut sangat berbeda dengan pelaksanaan asas desentralisasi sebelumnya dengan otonomi yang nyata dan bertangung jawab saja.
Kehendak untuk mewujudakan otonomi daerah dilandasi oleh keprihatian bangsa semasa Orde Baru (Orba) karena adanya sentralisme kewenangan dan keuangan yang telah mengakibatkan ketimpangan anggaran pembangunan antara pusat ( wilayah ibukota jakarta) dan daerah (wilayah lain). Oleh karena itu otonomi yang hendak dilaksanakan berdasarkan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 yang kemudian diganti dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 dan Undang-Undang nomor 23 Tahun 214 adalah otonomi daerah yang seluas luasnya, nyata dan bertangung jawab. Namun pada kenyataan arti penting dan strategis dari batas daerah belum diimbangi dengan kejelasan batas antar daerah sehinga akhirnya menimbulkan permasalahan-permasalahan yang dapat mengakibatkan konflik antar daerah. Pada hakekatnya, konflik konflik tercipta dari kompetisi memperebutkan akses terhadap otoritas (kekuasan) dan dari aktor-aktor berkepentingan. Pernyataan ini selaras dengan sebuah kesimpulan yang mengatakan bahwa daerah akan merasa terancam kepentingan politik dan ekonomi bila gagal mempertahankan sumber-sumber yang bisa meningkatkan
pendapatan daerah. Celakanya, perasaan ini pula yang yang menyebabkan daerah renta disulut konflik atau kesalapahaman terhadap daerah lain.
Munculnya konflik atau benturan kepentingan antar daerah pada dasarnya merupakan refleksi dari kesalapahaman, keagamaan, dan egoisme daerah dalam melaksankan otonomi. Otonomi sering dipresepsikan lebih dari sekedar dapat mengatur rumah tangganya sendiri, namun hingga tidak mau dicampuri oleh pihak lain walaupun dalam konteks kordinasi dan singkronisasi.
Pruit dan Rubin (2008: 48) menjelaskan bahwa konflik terjadi ketika tidak terlihat adanya alternatif yang dapat memuaskan aspirasi kedua belah pihak dan lebih jauh masing-masing pihak memiliki alasan untuk percaya bahwa mereka berhak memiliki obyek tersebut. Mengacu pada penjelasan Pruit dan Rubin (2008: 45) dapat di bahasakan ada obyek bernilai yang di anggap berhak dimiliki oleh masing – masing pihak. Rumah obyek bernilai membantu untuk mengidentifikasi bagian wilayah yang di sengketakan sebagai obyek bernilai.
B. Kajian Teori ( Sebagai Landasan Teori) 1. Teori Konflik
Marx berpendapat, bahwa bentuk-bentuk konflik terstruktur antara berbagai individu dan kelompok muncul terutama melalui terbentuknya hubungan-hubungan pribadi dalam produksi sampai pada titik tertentu dalam evolusi kehidupan sosial manusia.hubungan pribadi dalam produksi mulai menggantikan pemilihan komunal atas kekuatan produksi. Dengan demikian, masyarakat terpecah menjadi kelompok-kelompok yang memiliki dan mereka yang tidak memiliki kekuatan produksi dapat menyubordinasikan kelas sosial
yang lain dan memaksa kelompok tersebut untuk bekerja memenuhi kepentingan mereka sendiri. Dapat dipastikan hubungan yang terjadi adalah eksploitasi ekonomi. Secara alamiah yang tereksploitasi akan marah dan memberontak untuk menghapuskan hak-hak istimewa mereka.untuk mengantisipasi kondisi ini, kelas dominan akan membentuk aparat politik yang kuat, nrgara yang mampu menekan pemberontakan dengan kekuatan. Akibatnya timbulah konflik Marx menyebut dengan konflik “pertentangan kelas.
Dalam teori Karl Marx terdapat beberapa fakta sebagai berikut. a. Adanya struktur kelas dalam masyarakat.
b. Adanya kepentingan ekonomi yang saling bertentangan di antara orang-orang yang berada dalam kelas yang berbeda.
c. Adanya pengaruh yang besar dilihat dari kelas ekonomi terhadap gaya hidup seseorang.
d. Adanya berbagai pengaruh dari konflik kelas dalam menimbulkan pengaruh struktur sosial.
Karl Marx menguraikan tentang adanya kelas objektif. Kelas ini dapat dibagi atas kepentingan manifes dan kepentingan laten. Oleh karena itu, setiap sistem sosial harus dikoordinasi dan mengandung kepentingan laten yang sama. Kelompok tersebut biasa dikenal dengan istilah kelompok semu. Dalam Kamus Sosiologi, kelompok semu adalah kelompok yang terdiri atas orang-orang yang sifatnya sementara, tanpa struktur, ikatan, kesadaran, dan aturan. Kelompok semu ini terdiri atas kelompok yang menguasai dan kelompok yang dikuasai.
Teori interaksionisme simbolik dikembangkan oleh kelompok The Chicago School dengan tokoh-tokohnya seperti Goerge H.Mead dan Herbert Blummer.
Menurut H. Blumer teori ini berpijak pada premis, yaitu:
1. Manusia bertindak terhadap sesuatu berdasarkan makna yang ada pada sesuatu itu bagi mereka.
2. Makna tersebut berasal atau muncul dari interaksi sosial seseorang dengan orang lain.
3. Makna tersebut disempurnakan melalui proses penafsiran pada saat proses interaksi sosial berlangsung. Sesuatu alih-alih disebut objek ini tidak mempunyai makna yang intriksik.
Bagi H. Blumer, sesuatu itu biasa diistilahkan realitas sosial bisa berupa fenomena alam, fenomena artifisial, tindakan seseorang baik verbal maupun nonverbal, dan apa saja yang patut dimaknakan. Sebagai realitas sosial, hubungan sesuatu dan makna ini tidak inheren, tetapi volunteristrik. Sebab, kata Blumer sebelum memberikan makna atas sesuatu, terlebih dahulu aktor melakukan serangkaian kegiatan olah mental: memilih, memeriksa, mengelompokkan, membandingkan, memprediksi, dan mentransformasi makna dalam kaitannya dengan situasi, posisi, dan arah tindakannya. Dengan demikian, pemberian makna ini tidak didasarkan pada makna normatif, yang telah dibakukan sebelumnya, tetapi hasil dari proses olah mental yang terus-menerus disempurnakan seiring dengan fungsi instrumentalnya, yaitu sebagai pengarahan dan pembentukan tindakan dan sikap aktor atas sesuatu tersebut. Dari sini jelas bahwa tindakan
manusia tidak disebabkan oleh kekuatan luar (sebagaimana yang dimaksudkan kaum fungsionalis struktural), tidak pula disebabkan oleh kekuatan dalam (sebagaimana yang dimaksud oleh kaum reduksionis psikologis) tetapi didasarkan pada pemaknaan atas sesuatu yang dihadapinya lewat proses yang oleh Blumer disebut self-indication.
C. Penelitian Terdahulu
1. Penelitian yang dilakukan oleh M. Arafat Hermana (2017) Mengenai masalah sengketa batas antara Kabupaten Lebong dan Kabupaten Bengkulu Utara, yang disebabkan oleh Undang-Undang Pembentukan daerah masing-masing dan perpanjangan wilayah Kabupaten Lebong yang mengakibatkan pengembangan wilayah oleh Kabupaten Lebong terhadap beberapa daerah di Kabupaten Bengkulu Utara.
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah normatif, karena materi yang dibahas memprioritaskan peninjauan dalam hal legislasi terkait Penyelesaian Sengketa Batas antara Kabupaten Lebong dan Kabupaten Bengkulu Utara Berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) Alternatif penyelesaian sengketa batas antara Kabupaten Lebong dan Kabupaten Bengkulu Utara sesuai dengan peraturan perundang-undangan, yaitu penyelesaian hukum dan penyelesaian non-hukum. Kata kunci: sengketa, larangan, alternatif. 2. Penelitian yang dilakukan oleh Destry Yani Rizki (2016)
Pekanbaru (Studi Kasus Kecamatan Bukitraya Pekanbaru) merupakan upaya penyelesaian konflik yang dilakukan oleh pihak terkait dalam hal ini warga RW 15, RW 16, dan RW 18 Kelurahan Simpang Tiga kecamatan Bukitraya untuk mendapatkan solusi dari kejelasan status mereka secara administrasi kependudukan. Upaya pengelolaan konflik ini sudah dilakukan semenjak Desember 2015 hingga kini dan belum juga mendapat solusi. Menurut teori Wirawan, manajemen konflik terdiri dari pihak ketiga (pihak yang terlibat konflik), strategi konflik, mengendalikan konflik dan resolusi konflik.
Hasil Penelitian menunjukkan bahwa manajemen konflik tapal batas Kampar Pekanbaru (Studi Kasus Kecamatan Bukitraya Pekanbaru) belum berjalan maksimal karena selama ini usaha penyelesaian hanya dilakukan oleh pihak warga RW 15, RW 16, dan RW 18 sebagai pihak yang merasa dirugikan. Adapun faktor yang mempengaruhi manajemen konflik tapal batas Kampar Pekanbaru (Studi Kasus Kecamatan Bukitraya Pekanbaru) adalah tidak adanya komitmen Pemerintah Kota Pekanbaru dalam menegakan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 18 Tahun 2015 tentang batas Daerah Kabupaten Kampar dengan Kota Pekanbaru Provinsi Riau dan tidak adanya selama ini pengawasan dalam penyelesaian konflik ini.
3. Penelitian yang dilakukan oleh Muhammad Solichin (2017) mengenai Salah satu sengketa perbatasan wilayah antar daerah yang menarik untuk diteliti adalah konflik tapal batas antara Kabupaten Mesuji dan Kabupaten
Tulang Bawang. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Analisis data pada penelitian yang bersifat kualitatif berlandasan pada penggunaan keterangan secara lengkap dan mendalam dalam menginter prestasikan data tentang variabel, bersifat non-kuantitatif dan dimaksudkan untuk melakukan eksplorasi mendalam dan tidak meluas terhadap fenomena.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyebab konflik tapal batas antara Kabupaten Mesuji dan Kabupaten Tulang Bawang adalah perbedaan kepentingan atau tujuan, perbedaan individual, perbedaan nilai dan keyakinan dan keterbatasan sumberdaya. Sengketa yang terjadi menjadi tanggung jawab dari kedua daerah yang berselisih untuk dapat menyelesaikannya. Konflik tapal batas antara Kabupaten Mesuji dan Kabupaten Tulang Bawang meluas dan berkembang karena Kabupaten Mesuji dan Kabupaten Tulang Bawang tidak mampu menyelesaikan sengketa tapal batas yang ada sehingga pemerintah provinsi menyelesaikan masalah tersebut pihak-pihak yang terlibat dalam penyelesaian konflik tapal batas adalah pihak pihak kepolisian Pemerintah Kabupaten Mesuji dan Pihak Kabupaten Tulang Bawang yang dimediasikan oleh pihak Provinsi Lampung.
4. Penelitian yang dilakukan oleh Anung S. Hadi (2014) tentang evaluasi, tim penegasan batas daerah di Provinsi Lampung dan Kalimantan Timur. Metode deskriptif kualitatif yang digunakan, melalui teknik wawancara mendalam dengan memakai pendekatan kualitatif sebagai konsentrasi
utama pada penelitian ini. Lokasi penelitian secara kasus akan melihat di Provinsi Lampung dan Kalimantan Timur. Provinsi Lampung dipilih karena merupakan salah satu provinsidi Indonesia yang rawan konflik batas daerah, sedangkan Kalimantan Timur dipilih karena provinsi inikaya sumber daya alam (SDA).
Hasil Penelitian menunjukan di kedua provinsi ini antara lain: adanya keterbatasan sumber daya manusia yang profesional (tenaga ahli segmen batas), kurangnya koordinasiantara pemerintah-pemerintah daerah yang berbatasan, sarana dan prasarana yang belum menjangkausampai ke daerah pelosok, serta kurangnya dukungan pimpinan di dalam program kerja Penegasan Batas Daerah, yang dianggap belum menjadi hal yang prioritas.
5. Penelitian yang dilakukan oleh Mahmuzar (2017) tentang Sengketa Tapal Batas Antar Daerah Otonom di Indonesia (Studi Kasus di Provinsi Riau) Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyebab terjadinya sengketa tapal batas wilayah antar daerah otonom di Indonesia, khususnya di Provinsi Riau dan tata cara penyelesaiannya. Penelitian ini merupakan penelitian hukum sosiologis yakni meneliti hukum yang hidup dalam masyarakat. Penelitian ini menggunakan bahan hukum primer dan sekunder, diperoleh melalui survey lapangan, studi pustaka dan wawancara dengan informan kunci.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sengketa tapal batas wilayah antar daerah otonom di Indonesia, khususnya di Provinsi Riau disebabkan
karena; penanda tapal batas wilayah sangat berjauhan, adanya penitipan administrasi pemerintahan dan kependudukan, kepentingan pemilik modal dan, kepentingan politik.
D. Kerangka Konsep
Kerangka dasar teori merupakan uraian dengan beberapa konsep atau teori yang di butuhkan dan relevan dengan penelitian sebagai kejelasan titik tolak suatu landasan berfikir dalam memecahkan masalah, memuat pokok-pokok pikiran yang menggambarkan dari sudut mana masalah penelitian disorot. Menurut Koentjaraningrat, teori sebagai serangkai asumsi konsep, definisi proposi dengan cara merumuskan hubungan antar konsep.Kerlingger juga mengatakan bahwa teori adalah seperangkat konstruk atau bisa di katakan konsep, definisi dan proposisi yang berfungsi untuk melihat fenomena secara sistematis, melalui spesifikasi hubungan antara variabel, sehingga dapat berguna untuk menjelaskan dan meramalkan fenomena.
Gambar skema krangka konsep
Konflik Sosial Daerah Tapal Batas
Kecamatan Siompu dan Kecamatan Siompu Barat Kabupaten Buton Selatan
Faktor-faktor apa yang
menyebabkan Konflik Sosial Daerah Tapal Batas
Temusn dan Hasil
45 BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis dan Pendekatan Penelitian
Jenis penelitian yang di gunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif yang bermaksud untuk mendapatkan gambaran nyata, dan penjelasan deskriptif, secara sistematis dan faktual di lapangan mengenai fenomena sosial, konflik sosial daerah tapal batas (Study Kasus di kabupaten buton selatan).
Penelitian kualitatif menurut pandangan dari moleong, lexy. j (2007) adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang di pahami oleh subjek penelitian misalnya prilaku, presepsi, motivasi, tindakan, dll. Secara holistik dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode ilmiah.
Penelitian kualitatif bertujuan untuk memperoleh gambaran seutuhnya mengenai suatu hal menurut pandaggan manusia yang di teliti. Kualitatif berhubungan dengan ide presepsi, pendapat atau kepercayaan orang yang di teliti dan kesemuanya yang tidak dapat di ukur dengan angka.
Penelitian kasus (case study) atau penelitian lapangan (field study) dimaksudkan untuk mempelajari secara intensif tentang latar belakang keaadan dan posisi saat ini, serta intraksi lingkungan unit sosial tertentu yang bersifat apa adanya (given). Subjek penelitian dapat berupa individu, kelompok, institusi, atau masyrakat. Penelitian kasus merupakan studi mendalam mengenai unit sosial
tertentu,yang hasil yang hasil penelitian itu memberi gambaran luas dan mendalam mengenai unit sosial tertentu, Subjek yang di teliti relatif terbatas, tetapi variabel – variabel dan focus yang di teliti sangat luas dimensinya (Danim, 2002:54)
B. Lokasi dan Waktu Penelitian 1. Tempat penelitian
Lokasi penelitian ini dilakukan di Kecamatan Siompu Barat dan Kecamatan Siompu Kabupaten Buton Selatan
2. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada bulan Oktober-Desember 2019 di Kabupaten Buton Selatan
C. Fokus Penelitian
Fokus penelitian terdiri dari hal-hal yang berkaitan dengan hal inti yang akan diteliti. Dalam hal ini, fokus penelitian pada penelitian ini adalah konflik sosial daerah tapal batas di Buton Selatan
D. Informan Penelitian
Dalam penelitian kualitatif yang menjadi informan utama adalah peneliti. Selanjutnya perlu dikemukakan siapa yang menjadi informan atau partisipan atau narasumber sebagai sumber datanya. Emori (2012), Informan penelitian adalah orang yang dimanfaatkan untuk memberi informasi tentang situasi dan kondisi di lokasi. Penelitian kualitatif tidak dimaksudkan untuk membuat generalisasi dari hasil penelitiannya. Subjek penelitian menjadi informan yang akan memberikan berbagai informasi yang diperlukan selama proses penelitian.
1. Kreteria Informan
Jumlah informan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Informan inti, informan utama dan informan tambahan dalam penelitian ini dipilih dengan menggunakan teknik purposive sampling yaitu teknik dimana peneliti memilih sampel dari populasi sesuai dengan kriteria yang telah dibuat peneliti. Kriteria informan yang akan dipilih peneliti yaitu:
1) Informan dari pihak Pemerintah Kabupaten Buton Selatan
2) Tokoh-tokoh masyarakat, seperti tokoh adat dan perangkat Staf Daerah.
3) Informan yang bersedia menjadi informan, serta mempunyai kemampuan berkomunikasi yang baik.
E. Jenis dan Sumber Data
Adapun data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif, data kualitatif yaitu data yang disajikan dalam bentuk kata verbal bukan dalam buntuk angka.Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah subyek darimana data dapat diperoleh. Dalam penelitian ini penulis menggunakan dua sumber data sebagaimana yang dijelaskan Burhan Bugin (2013: 129) yaitu:
1. Data Primer.
Data yang dikumpulkan melalui pengamatan langsung pada obyek.Untuk melengkapi data, maka melakukan wawancara secara langsung dan mendalam dengan berpedoman pada daftar pertanyaan yang telah disipkan sebagai alat pengumpulan data.
2. Data Sekunder.
Data yang diperoleh dari hasil-hasil penelitian yang relevan dan data yang tidak secara langsung diperoleh dari responden, tetapi diperoleh dengan menggunakan dokumen yang erat hubungannya dengan pembahasan.
F. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian adalah alat yang digunakan dalam mengumpulkan data, (Burhan Bungin, 2013: 71).Dalam penelitian ini yang menjadi instrumen utama dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri.Sebagai instrumen utama dalam penelitian ini, maka peneliti mulai tahap awal penelitian sampai hasil penelitian ini seluruhnya dilakukan oleh peneliti. Selain itu untuk mendukung tercapainya hasil penelitian maka peneliti menggunakan alat bantu berupa lembar observasi, panduan wawancara.
1. Lembar observasi, berisi catatan-catatan yang diperoleh peneliti pada saat melakukan pengamatan langsung di lapangan.
2. Panduan wawancara merupakan seperangkat daftar pertanyaan yang sudah disiapkan oleh peneliti sesuai dengan rumusan masalah dan pertanyaan peneliti yang akan dijawab melalui proses wawancara.
G. Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini, teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan menggunakan beberapa cara, diantaranya:
1. Observasi
Observasi atau pengamatan adalah proses pengambilan data dalam penelitian ini dimana penelitian atau pengamatan melihat situasi penelitian.
Teknik ini digunakan untuk mengamati dari dekat dalam upaya mencari dan menggali data melalui pengamatan secara langsung dan mendalam terhadap obyek yang diteliti. Menurut James dan Dean (dalam Paizaluddin dan Ermalinda, 2013: 113), observasi adalah mengamati (watching) dan mendengar (listening) perilaku seseorang selama beberapa waktu tanpa melakukan manipulasi atau pengendalian serta mencatat penemuan yang menghasilkan atau memenuhi sarat untuk digunakan kedalam tingkat penafsiran analisis. Terdapat dua jenis observasi, yaitu:
a. Observasi Partisipan, yaitu kegiatan observasi dimana orang yang mengobservasi turut berperan sebagai orang yang diobservasi.
b. Observasi Non Partisipan, yaitu kegiatan observasi dimana observer tidak berperan sebagai observec tetapi hanya sebagai observer semata.
Adapun teknik observasi yang digunakan dalam peneliti ini adalah observasi non partisipan, dalam observasi non partisipan peneliti tidak terlibat dan hanya sebagai pengamat independen. Peneliti mencatat, menganalisis, dan selanjutnya dapat membuat kesimpulan yang berkaitan dengan Konflik Sosial Daerah Tapal Batas di Buton Selatan.
2. Wawancara
Wawancara adalah suatu teknik pengumpulan data yang digunakan untuk memperoleh informasi langsung dari sumbernya. Wawancara ini digunakan bila ingin mengetahui hal-hal dari responden secara lebih mendalam serta jumlahnya sedikit. Ada beberapa faktor yang akan mempengaruhi arus informasi dalam
wawancara dilakukan dengan dua cara yakni secara terstruktur, dan tidak terstruktur.
a. Wawancara terstruktur adalah peneliti dapat mengetahui dengan pasti tentang informasi apa yang akan diperoleh, dan berapa pertanyaan-pertanyaan tertulis yang alternatif jawabannya pun telah disiapkan. b. Wawancara tidak terstruktur atau bebas adalah peneliti tidak
menggunakan pedoman wawancara yang telah tersusun secara sistematis dan lengkap, tetapi hanya berupa garis-garis besar permasalahan yang akan ditanyakan.
Adapun wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara terstruktur. Pengumpulan data dengan teknik ini bertujuan untuk memperoleh informasi dan keterangan, baik itu dari subjek maupun informasi yaitu Pemerintah Daerah, dan masyarakat Lokal maupun Masyarakat Setempat mengenai Konflik Sosial Daerah Tapal Batas di Buton Selatan.
3. Dokumentasi
Dokumentasi adalah cara pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengumpulkan data-data yang berupa dokumen, baik dokumen tertulis maupun hasil gambar. Menurut Lexy J. Moleong (dalam Paijaluddin dan Ermalinda, 2013: 135), dokumen digunakan dalam penelitian sebagai sumber data karena dapat dimanfaatkan untuk menguji, menafsirkan, bahkan untuk meramalkan. Data yang diperoleh dari dokumen ini biasa digunakan untuk melengkapi bahkan memperkuat data dari hasil wawancara.
4. Partisipatif
Metode ini dilakukan dengan cara mengamati secara langsung tentang kondisi di lapangan, baik yang berupa keadaan fisik maupun perilaku yang terjadi selama berlangsungnya penelitian. Dalam pengertian sempit observasi berarti pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap fenomena yang diselidiki.
Menurut Darmiyati Zuchdi (1997: 7) pengamatan mempunyai maksud bahwa pengumpulan data yang melibatkan interaksi sosial antara peneliti dengan subyek penelitian maupun informan dalam suatu setting selama pengumpulan data harus dilakukan secara sistematis tanpa menampakkan diri sebagai peneliti. Dengan cara seperti ini antara peneliti dan yang diteliti berinteraksi secara timbal balik.
H. Teknik Analisis Data
Bogdam (dalam Sugiyono, 2016: 244), analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan dan dokumentasi, dengan cara mengorganisasikan data kedalam kategori, penjabaran dalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun kedalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri dan orang lain.
Teknik analisis data yang dipakai peneliti adalah anlisis data berlangsung atau mengalir (flow model analysis). Ada beberapa langkah-langkah yang dilakukan pada teknik anlisis data tersebut yaitu:
1. Tahap Reduksi Data
Merupakan suatu bentuk analisis yang menajamkan, menggolongkan, mengarahkan, membuang yang tidak perlu dan mengorganisasikan data dengan carasedemikian rupa hingga kesimpulan finalnya dapat ditarik dan diverifikasikan. Obyek yang akan diredukasi dalam hal ini adalah data yang diperoleh melalui wawancara, observasi dan dokumentasi terkait hal tentang Konflik Sosial Daerah Tapal Batas di Buton Selatan.
2. Tahap Penyajian Data
Tahap kedua dari prosedur analisis data adalah penyajian data yang merupakan sekumpulan informasi yang menyatakan adanya kemungkinan penarikan kesimpulan bahkan sampai pada pengambilan tindakan. Data yang disajikan pada tahapan ini adalah data yang diperoleh melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi tentang Konflik Sosial Daerah Tapal Batas di Buton Selatan.
3. Menarik Kesimpulan
Kegiatan analisis yang ketiga adalah menarik kesimpulan. Menarik kesimpulan dilakukan setelah dilakukannya reduksi data dan penyajian data. Penarikan kesimpulan adalah membuat kesimpulan berdasarkan data-data yang diperoleh dan telah dilakukan reduksi serta penyajian dari data hasil penelitian tentang Konflik Sosial Daerah Tapal Batas di Buton Selatan.
I. Teknik Keabsahan Data
Menurut Sugiyono (2016: 267), uji keabsahan data dalam penelitian ditekankan pada uji validitas dan reliabilitas. Dalam penelitian kualitatif, kreteria
utama terhadap data hasil penelitian adalah, valid, reliable dan obyektif.Data dapat dikatakan valid apabila data tidak mengalami perbedaan antara data yang dilaporkan oleh peneliti dengan data yang sesungguhnya terjadi pada obyek penelitian.
Untuk melakukan pengujian terhadap keabsahan data dapat dilakukan dengan cara uji krebilitas. Menurut Sugiyono (2016: 270), dalam melakukan uji kredibilitas data atau kepercayaan terhadap data hasil penelitian kualitatif antara lain dilakukan dengan cara sebagai berikut:
1. Perpanjangan Pengamatan
Perpanjang pengamatan yaitu peneliti kembali kelapangan melakukan pengamatan, wawancara lagi dengan sumber data yang pernah ditemui maupun baru. Dengan perpanjangan pengamatan ini berarti hubungan peneliti dengan narasumber akan semakin akrab (tidak ada jarak lagi), semakin terbuka, saling mempercayai sehingga tidak ada informasi yang disembunyikan lagi. Dalam perpanjangan pengamatan untuk menguji kredibilitas data penelitian ini, sebaiknya difokuskan pada pengujian terhadap data yang telah diperoleh, apakah data yang diperoleh itu setelah di cek kembali kelapangan benar atau tidak, berubah atau tidak. Bila dicek kembali ke lapangan data sudah benar berarti kredibel, maka perpanjangan pengamatan dapat diakhiri.
2. Meningkatkan Ketekunan
Meningkatkan ketekunan berarti melakukan pengamatan secara lebih cermat dan berkesinambungan. Dengan cara tersebut maka kepastian data dan
uraian peristiwa akan dapat direkam secara pasti dan sistematis. 3. Trianggulasi
Trianggulasi dalam pemeriksaan keabsahan data diartikan sebagai pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara dan berbagai waktu. Dengan demikian terdapat trianggulasi teknik, trianggulasi sumber, dan trianggulasi waktu. Teknik keabsahan data dalam penelitian ini, dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Trianggulasi Sumber. untuk menguji kredibiliras data dilakukan dengan cara mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber. Sebagai contoh, untuk menguji kredibilitas tentang bagaimana keberlanjutan perekonomian masyarakat maka pengumpulan dan pengujian data yang telah diperoleh dilakukan kepada orang-orang yang terlibat langsung dalam perekonomian masyarakat.
b. Trianggulasi Teknik, untuk menguji kredibilitas data dilakukan dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda. Misalnya diperoleh dengan wawancara, lalu dicek dengan observasi atau dokumentasi.
c. Trianggulasi Waktu, untuk menguji kredibilitas data dapat dilakukan dengan cara melakukan pengecekan dengan wawancara, observasi atau teknik lain dalam waktu atau situasi yang berbeda.