• Tidak ada hasil yang ditemukan

Visualisasi Sarang Lebah Dengan Teknik Bordir Dan Batik Pada Busana Pengantin

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Visualisasi Sarang Lebah Dengan Teknik Bordir Dan Batik Pada Busana Pengantin"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

VISUALISASI SARANG LEBAH DENGAN TEKNIK

BORDIR DAN BATIK PADA BUSANA PENGANTIN

JURNAL

Ningrum Sri Pangestu NIM 1300020025

TUGAS AKHIR PROGRAM STUDI D-3 BATIK DAN FASHION

JURUSAN KRIYA SENI RUPA

INSTITUT SENI INDONESIA YOGYAKARTA

2016

(2)
(3)

ABSTRAK

Penciptaan Karya Tugas Akhir berjudul “Visualisasi Sarang Lebah dengan Teknik Bordir dan Batik pada Busana Pengantin“ merupakan sebuah wujud ide atau gagasan penulis berdasarkan ketertarikan terhadap sarang lebah dengan mengeksplorasi visualnya, kemudian diwujudkan dengan teknik bordir dan batik yang diaplikasikan pada karya busana yang diciptakan. Pada dasarnya busana merupakan kebutuhan pokok manusia sebagai pelindung tubuh dari cuaca dingin dan panas, namun pada perkembangannya busana memiliki fungsi yang lebih kompleks, diantaranya memenuhi kebutuhan dalam berpenampilan pada suatu kesempatan, sehingga penulis menciptakan busana pengantin yang merupakan salah satu jenis busana pesta yang dikenakan pada suatu acara pesta pernikahan.

Metode pendekatan yang digunakan penulis adalah metode pendekatan estetis dan ergonomi, sedangkan metode penciptaan yang digunakan adalah mengacu pada teori SP. Gustami yaitu tahap ekspolasi, tahap perancangan, dan tahap perwujudan. Tahap eksplorasi yang dilakukan penulis meliputi penelusuran data dan referensi mengenai sumber ide. Sebagian data yang diperoleh merupakan hasil pencarian dari buku, majalah, dan internet. Pengumpulan data selanjutnya yang dilakukan yaitu dengan mengamati objek secara langsung mengenai visual karya busana dari berbagai macam kesempatan. Tahap kedua yaitu tahap perancangan, tahap perancangan yang dilakukan penulis adalah menganalisis data acuan dan membuat rancangan sesuai konsep karya yang telah ditemukan dengan pertimbangan teknik pada saat perwujudan. Tahap ketiga yaitu tahap perwujudan, tahapan yang dilakukan penulis adalah membuat tekstil berupa kain batik dan bordir dan mewujudkannya menjadi busana dengan rancangan yang sudah dibuat sebagai acuan perwujudan.

Hasil karya dari penciptaan tugas akhir ini berupa empat karya gaun pengantin wanita dan empat karya setelan jas pengantin pria. Karya yang tercipta merupakan ungkapan imajinasi dari visual sarang lebah menjadi busana pengantin yang merupakan karya konvensional dan dapat dinikmati secara keseluruhan baik keharmonisan desain maupun penempatan bordir dan batik pada busananya.

Kata Kunci: Sarang Lebah, Bordir, Batik, Busana Pengantin

(4)

ABSTRACT

Presents Final Assignment is entitled “Visualization the Beehive Using Embroidery and Batik technique On Wedding Dress”. It is an actualization of the writer interest on the beehive by explored its appearance and configured it using embroidery and batik techniques on wedding dress. In essence dress is one of our main necessities as protection from cold and hot environment, however it function evolve more complex due to person situation. Therefore the writer chose wedding dress as one of party dress that specific for wedding celebration.

Esthetic and ergonomic approaches are employed as methodology, whereas creation method referred to SP. Gustami theory that is exploration, designs and production. Exploration stages involve gathering data and reference from book, magazine and internet and observed the object directly on dress visual. Design stages was analyzed the referenced and created the design refer to the selected concept based on technical consideration on the product. Production stage involve produced the textile as medium in form batik and embroidery, and processed it into a wearable dress.

Within the process, four female wedding dresses and four male coat-weddings were produced. The products were the imagination reflection of beehive on wedding dress that classified as conventional and can be appreciated in harmony due to the design, the embroidery and the batik.

Keywords: Beehive, Embroidery, Batik, Wedding Dress

(5)

A.Pendahuluan 1. Latar Belakang

Penciptaan karya seni tidak lepas dari pengalaman setiap manusia dalam kehidupan sehari-hari. Pengalaman tersebut akan menjadi gagasan bagi seorang seniman dalam menciptakan suatu karya seni yang ditentukan oleh berbagai faktor di dalam lingkungan maupun pengalaman pribadinya, termasuk kebutuhan manusia yang membutuhkan keindahan, ketenangan, dan kedamaian. Dewasa ini dapat dikatakan bahwa apapun yang diniatkan sebagai seni akan mampu memperjuangkan pengakuan eksistensinya, sehingga untuk itu perlu dibentuk suatu wadah yang tepat. Hal yang dimaksud tersebut adalah seni sebagai seluruh kegiatan manusia yang mengutarakan pengalaman karena disajikan secara unik dan menarik, sehingga memungkinkan timbulnya pengalaman atau kegiatan batin pada diri orang lain yang menghayatinya.

Menciptakan karya yang inovatif membutuhkan daya kreativitas tinggi yang terlahir dari pengalaman batin, pengamatan suatu objek, bahkan kejadian yang terjadi di sekitarnya. Kemudian unsur tersebut diolah dengan menyatukan rasa yang dipengaruhi karakter, ciri, dan kepribadian untuk mewujudkan suatu keindahan yang nyata dalam bentuk sebuah karya.

Keindahan bagi penulis diekspresikan dalam sebuah desain busana yang berbeda dengan memvisualisasikan sarang lebah dengan teknik bordir dan batik. Pemilihan sarang lebah sebagai objek yang diambil dari kehidupan lebah merupakan suatu ketertarikan penulis atas dasar nilai estetisnya.

Salah satu kebutuhan manusia yang sangat penting adalah kebutuhan berbusana. Hal tersebut merupakan salah satu kebutuhan pokok yang harus dipenuhi oleh setiap individu. Kebutuhan berbusana bagi setiap individu mempunyai perjalanan sejarah yang awalnya hanya bertujuan sebagai pelindung dan penutup tubuh, kemudian berkembang menjadi fashion. Fashion memiliki siklus berputar, dengan gaya berbusana yang mengalami perubahan dari masa ke masa. Dalam perubahan tersebut, tidak menutup kemungkinan bahwa gaya berbusana pada era masa lalu akan kembali menjadi tren di waktu yang akan datang.

Pemilihan busana yang baik adalah sesuai dengan kesempatan, sesuai dengan karakter pemakai, dan sesuai tren mode. Tren mode tercipta karena masyarakat yang semakin kreatif dalam menciptakan desain yang beraneka ragam. Salah satu busana yang memiliki keistimewaan tersendiri dibandingkan dengan busana-busana yang lainnya adalah busana pengantin. Busana pengantin merupakan busana yang dikenakan pada salah satu hari paling penting bagi seseorang. Busana pengantin merupakan busana istimewa berdasarkan pembuatannya. Pembuatan busana pengantin memerlukan ide kreatif untuk mengikuti perkembangan mode busana yang sedang tren, seperti penggunaan

(6)

warna dan siluet. Pada karya ini, tren penciptaan busana berdasarkan atas Trend

Forecasting 2016/2017. Penciptaan busana pengantin juga dilandasi atas

kreativitas seni yang diciptakan seseorang dengan pengetahuan dasar serta rasa keindahan.

Keindahan dalam busana pengantin bagi penulis bukan hanya sekedar bentuk yang menarik, akan tetapi tekstil atau media penciptaan dalam busana itu sendiri. Keindahan busana pengantin diekspresikan dalam penciptaan media tekstil dengan bentuk bordir dan batik pada karya ini. Bordir merupakan hiasan yang dibuat di atas kain dengan susunan benang yang berbentuk garis atau motif, sedangkan batik merupakan kain bergambar yang pembuatannya secara khusus dengan menuliskan malam pada kain, kemudian pengolahannya diproses dengan cara tertentu yang memiliki kekhasan tersendiri.

Batik itu sendiri memiliki keunikan sosial dan ekonomi, di samping keunikannya sebagai produk seni budaya. Sejak diakui UNESCO sebagai warisan budaya Indonesia, batik menjadi salah satu seni yang memiliki potensi luar biasa di sektor industri kreatif. Hal tersebut memicu penulis memilih batik sebagai salah satu teknik yang digunakan dalam penciptaan tekstil dari karya tersebut. Ketertarikan pada kehidupan lebah, khususnya lebah madu bagi penulis divisualisasikan dengan memunculkan sarang lebah ke dalam bagian busana karena bentuknya yang unik. Sarang lebah merupakan sumber inspirasi dalam penciptaan busana pengantin dengan bentuk bordir dan batik .

Hal menarik lainnya yang dapat melatarbelakangi penciptaan karya ini adalah peran busana, dalam karya ini sebagai busana pengantin. Busana pengantin yang terkesan memiliki nilai estetis tinggi perlu diciptakan.

Sejak dekade 60-70-an telah terjadi perubahan penting dalam cara memandang dan mendefinisikan seni, serta perubahan fungsi seni itu sendiri dalam masyarakat kontemporer terutama dalam statusnya sebagai komoditi dan perubahan ini sekaligus akan mempengaruhi proses berkesenian serta idiom-idiom estetik yang dihasilkan (Piliang, 2003: 62).

Hal yang dikemukakan pada kutipan di atas berkaitan dengan kondisi masyarakat saat ini, dengan konteks budaya yang melatarbelakangi pertumbuhan sosial yang sangat erat dengan perubahan terhadap kondisi masyarakat. Perlu ada inovasi dari desainer busana yang selalu mengerti kebutuhan masyarakat dan pasar, khususnya busana pengantin. Sebagai realisasi untuk kepentingan tersebut, diciptakanlah karya busana pengantin dengan desain khas dari penciptanya yang diorientasikan untuk kepentingan pada saat seseorang menikah dan mengadakan perayaan, sehingga busana merupakan salah satu bagian paling penting dalam hal tersebut.

(7)

2. Rumusan/Tujuan Penciptaan

a. Rumusan Penciptaan

Bagaimana menciptakan visual sarang lebah dengan teknik bordir dan batik ke dalam karya busana pengantin?

b. Tujuan

Menciptakan visual sarang lebah dalam karya busana pengantin dengan teknik bordir dan batik pada proses perwujudannya.

3. Metode Penciptaan

Tahapan penting yang dilalui dalam proses penciptaan karya ini mengacu pendapat SP.Gustami.

Terdapat tiga langkah penciptaan seni kriya yaitu eksplorasi, perancangan dan perwujudan. Pertama, tahap eksplorasi, meliputi aktivitas penjelajahan mengenai sumber ide dengan langkah identifikasi dan perumusan masalah, penelusuran, penggalian, pengumpulan data dan referensi, berikut pengolahan dan analisis data untuk mendapatkan simpul penting konsep pemecahan masalah secara teoritis, yang hasilnya dipakai sebagai dasar perancangan. Kedua, tahap perancangan yang dibangun berdasarkan perolehan butir penting hasil analisis yang dirumuskan, diteruskan visualisasi gagasan dalam bentuk sketsa alterntif, kemudian ditetapkan pilihan sketsa terbaik sebagai acuan reka bentuk atau dengan gambar teknik yang berguna bagi perwujudannya. Ketiga, tahap perwujudan, bermula dari pembuatan model sesuai sketsa alternatif atau gambar teknik yang disiapkan menjadi model prototipe sampai ditemukan kesempurnaan karya yang dikehendaki. Model itu bisa dibuat dalam ukuran miniature, bisa pula dalam ukuran sebenarnya (2004: 31).

Langkah pertama yang dilakukan dalam proses penciptaan karya busana pengantin bersumber ide sarang lebah dimulai dari tahap eksplorasi, yaitu tahap awal penulis mulai tertarik dengan visual sarang lebah, kemudian penulis melakukan penelusuran data dan referensi. Sebagian data acuan yang diperoleh merupakan hasil dari pencarian dari buku, majalah, dan internet yang berupa gambar. Pengumpulan data selanjutnya yang dilakukan yaitu dengan mengamati objek secara langsung mengenai visual karya busana dari berbagai macam inovasi dalam penciptaannya, seperti pada saat kesempatan pameran

dan fashion show. Pameran dan fashion show yang dikunjungi antara lain:

(8)

Jogja Fashion Week 2015 di Jogja Expo Center; Karya Cipta Busana PKK Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa, 5 Desember 2015 di Jogja Expo

Center; Pagelaran Busana Adana Yogyakarta, 5 September 2015 di Balai Utari

Mandala Bakti Wanitatama; Jogja Fashion Festival, Maret 2016 di Ambarukmo Plaza; Fashion Colouriya, Maret 2016 di Pendopo Artspace Bantul. Pameran dan Fashion Show Sesarengan Nimba Asil, 12 April 2016 di Institut Seni Indonesia Yogyakarta, dan akan diikuti oleh pengamatan selanjutnya bersamaan saat penulis melakukan proses penciptaan karya.

Langkah kedua yang dilakukan adalah menganalisis data acuan dan membuat rancangan sesuai konsep yang telah ditemukan dengan pertimbangan teknik pada saat perwujudan. Pada tahap ini, penulis menggambar rancangan busana pengantin dengan model dan penempatan tekstil batik dan bordir sesuai dengan yang diinginkan sebagai acuan saat perwujudan karya.

Langkah ketiga yaitu tahap perwujudan, tahapan yang dilakukan penulis adalah membuat tekstil berkonsep yang akan digunakan dalam perwujudan busana pengantin dengan inspirasi sarang lebah yaitu kain batik dan bordir. Kemudian proses selanjutnya mewujudkan tekstil tersebut dan bahan pelengkap lainnya menjadi busana dengan rancangan yang sudah dibuat sebagai acuan perwujudan.

B.Hasil dan Pembahasan

Setiap manusia memiliki ketertarikan terhadap sesuatu, seperti halnya ketertarikan penulis terhadap kehidupan lebah yang teratur, rapi, tertib, dan bersih. Kehidupan lebah dilengkapi dengan bertahtanya seekor ratu yang dicintai oleh seluruh hambanya yang hidup tenteram dan damai, tetapi penuh dengan romantika dan dinamika hidup seperti suatu pementasan cerita khayal, yang kemudian diekspresikan melalui karya dengan memunculkan sarang lebah dalam bentuk bordir dan batik pada busana pengantin.

Lebah madu merupakan jenis lebah yang diambil sebagai sumber ide dalam penciptaan karya penulis. Lebah madu merupakan jenis lebah yang hidup berkoloni membentuk masyarakat sosial. Dalam koloni, lebah madu dikenal tiga kasta, yaitu lebah ratu, lebah jantan, dan lebah pekerja. Lebah madu memiliki badan yang beruas-ruas dan tiap ruasnya saling berhubungan. Ruas-ruas tersebut disebut segmen. Berdasarkan letaknya, segmen dapat dibedakan atas kepala, dada

(thorak), dan gembung (perut). Seluruh badannya ditumbuhi rambut.

(9)

Gambar 1. Lebah Madu (Sumber: pixabay.com)

Berdasarkan uraian di atas melalui proses imajinasi dan pengalaman estetis penulis, penulis ingin mewujudkan sebuah desain busana pengantin yang indah dan menarik dengan warna analogus (kombinasi warna satu keturunan atau berdekatan dalam lingkaran warna) dan desain yang elegan.

Desain busana yang akan diwujudkan merupakan desain busana wanita yaitu gaun dan busana pria, yaitu setelan jas modifikasi. Gaun adalah pakaian atau baju terusan yang dapat terdiri atas satu bagian atau dua bagian atas dan bawah yang disambung (dijahitkan) menjadi satu. “Siluet gaun bervariasi dapat longgar, membentuk tubuh, dan ukuran panjang gaun juga bervariasi” (Hasanah, 2011: 70). Setelan jas merupakan busana yang terdiri atas jas, yakni pakaian resmi model Eropa, berlengan panjang dan dipakai di luar kemeja, dilengkapi celana panjang terbuat dari kain yang sama, kemudian dimodifikasi menjadi lebih simpel dan bervariasi.

(10)

Gambar 3. Busana Pengantin (Sumber: pinterest.com)

Pada desain yang akan diwujudkan, penulis memvisualisasikan sarang lebah ke dalam busana pengantin menggunakan teknik bordir dan batik pada pengerjaan tekstil busana tersebut.

Hasil penciptaan busana pengantin ini ditujukan untuk kebutuhan mengenakan busana saat resepsi pernikahan. Gaya dan tema memiliki peranaan sangat penting dalam menciptakan keharmonisan penciptaan busana tersebut. Dari keseluruhan karya tugas akhir ini, penempatan dan gaya kombinasi bordir dan batik yang menjadi pusat perhatian.

(11)

Gambar 3. Karya 1

Judul : Tassel

Teknik : Bordir, Batik dan Jahit

Bahan Utama : Kain Channel, Kain Organdi dan Kain Primissima Tahun : 2016

Ukuran : Standar M Fotografer : Nur Fatimah Model : Kania

Tinjauan dari karya ini terfokus pada konsep yang mengutamakan visualisasi sarang lebah dengan penciptaan bordir dengan pola berongga menyerupai sarang lebah yang diaplikasikan pada bagian pinggang menjuntai ke belakang dan pada bahu, sehingga memberikan kesan anggun pada si pemakai. Pada bagian rok menggunakan material batik dengan siluet mengembang berjenis ballgown sehingga terkesan chic. Warna yang digunakan merupakan warna peach dan merah bata dengan padu padan seimbang.

(12)

Gambar 4. Karya 2

Judul : Beehive

Teknik : Bordir, Batik, dan Jahit

Bahan : Kain Channel, Kain Hiccon, dan Kain Primissima Tahun : 2016

Ukuran : Standar M Fotografer : Nur Fatimah Model : Kania

Tinjauan dari karya ini adalah karya busana dengan konsep dasar sarang lebah diwujudkan dalam busana jenis gaun dengan model bustier yang dilengkapi rok siluet-A. Bordir dengan struktur segilima berlubang dipasang di bagian bahu dan sebagai hiasan kepala, sedangkan batik digunakan sebagai bahan rok mengembang. Warna coklat muda dan tua pada busana ini memberikan kesan elegan dengan paduan siluet menyerupai sayap lebah.

(13)

Gambar 5. Karya 3

Judul : Brown Tuxedo Teknik : Batik dan Jahit

Bahan : Kain Satin Bridal dan Kain Primissima Tahun : 2016

Ukuran : Standar M Fotografer : Nur Fatimah Model : Osvaldo

Tinjauan dari karya ini adalah karya busana setelan jas yang memiliki bagian berupa jas, kemeja, celana, dan dasi pita yang diwujudkan dengan bahan berwarna senada dengan dikombinasikan bahan batik. Kombinasi batik diaplikasikan pada bagian kerah, saku passpoal dan dasi. Pemilihan warna bahan satin bridal coklat tua disesuaikan dengan batik dan coklat muda pada kemeja disesuaikan dengan busana pengantin wanita pada karya 3.

(14)

C.Kesimpulan

Karya seni merupakan wujud ekspresi yang bernilai dari ungkapan jiwa manusia dan bersifat estetis. Karya seni tercipta dari hasil cipta, rasa, dan adanya kecerdasan emosional dalam diri manusia yang berbeda-beda dalam mengamati, menafsirkan, dan menuangkan dalam penciptaan sesuai dengan kepekaan terhadap fenomena kehidupan alam sekitar dan sosial yang bersifat imajinatif dan estetis.

Karya tugas akhir ini menitikberatkan pada desain busana yang berbeda dengan penambahan bordir dan batik pada beberapa bagiannya. Hasil penciptaan busana pengantin ini digunakan untuk sebuah perayaan pernikahan, sehingga menjadi busana yang istimewa. Penciptaan bordir dan batik pada busana berusaha mengolah bentuk sarang lebah menjadi sesuatu yang baru, sehingga tercapai suatu visualisasi yang sesuai dengan norma-norma keindahan atau disebut dengan stilir.

Sebagai langkah perwujudan karya, penulis menggunakan teknik menjahit yang eksklusif dengan kualitas rapi dan halus. Bahan yang digunakan dengan kualitas baik yang kemudian pada akhir proses dihias dengan detail tambahan yang diselaraskan antara bahan dasar dengan bordir dan batik, sehingga menjadi satu kesatuan yang harmonis.

Karya yang tercipta merupakan ungkapan imajianasi dari visual sarang lebah menjadi busana pengantin yang merupakan karya konvensional dan dapat dinikmati secara keseluruhan baik keharmonisan desain maupun penempatan bordir dan batik pada busananya.

(15)

DAFTAR PUSTAKA

Chodiyah, dan Moh Alim Zaman. 2001. Desain Mode Tingkat Dasar. Jakarta: Meutia Cipta Sarana.

Dharsono ( Soni Kartika) . 2007. Estetika. Bandung: Rekayasa Sains. Djoemena, Nian S. 1990. Batik dan Mitra Batik Its Kinds. Jakarta: Djambatan.

Feldman, Edmund Burke. 1967. (Gustami: Pent), Art Image and Idea. New Jersey: Prentice Hall. Inc. Englewood Clifsd.

Gustami, SP. 2004. Proses Penciptaan Seni,Untaian Metodologis”. Yogyakarta: Program Penciptaaan Seni Pascasarjana ISI Yogyakarta.

Hasanah, Uswatun, dkk. 2001. Menggambar Busana. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Karomah, Prapti. 1998. Teknik Membordir. Yogyakarta: FKIP IKIP.

Moeliono, Anton M. 1988. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. Pratiwi, Djati, dkk. 2001. Pola Dasar dan Pecah Pola Busana. Yogyakarta: Kanisius

(Anggota IKAPI)

Sarwono, B. 2001. Lebah Madu.Depok: PT. Argo Media Pustaka.

Setiawati, Puspita. Kupas Tuntas Teknik Proses Membatik.Yogyakarta: ABSOLUT.

WEBTOGRAFI

Pixabay.com, diakses pada tanggal 16 November 2016.

Pinterest.com, diakses pada 26 Juni 2016

Gambar

Gambar  1.  Lebah Madu  (Sumber:  pixabay.com)
Gambar  3.  Busana Pengantin  (Sumber:  pinterest.com)
Gambar  3.  Karya 1
Gambar  4.  Karya 2
+2

Referensi

Dokumen terkait

perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user86.Sawi Monumen Sawi monumen tubuhnya amat tegak dan berdaun kompak. Penampilan sawi jenis ini sekilas mirip dengan petsai. Tangkai daun berwarna putih berukuran agak lebar dengan tulang daun yang juga berwarna putih. Daunnya sendiri berwarna hijau segar. Jenis sawi ini tegolong terbesar dan terberat di antara jenis sawi lainnya. D.Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Syarat tumbuh tanaman sawi dalam budidaya tanaman sawi adalah sebagai berikut : 1.Iklim Tanaman sawi tidak cocok dengan hawa panas, yang dikehendaki ialah hawa yang dingin dengan suhu antara 150 C - 200 C. Pada suhu di bawah 150 C cepat berbunga, sedangkan pada suhu di atas 200 C tidak akan berbunga. 2.Ketinggian Tempat Di daerah pegunungan yang tingginya lebih dari 1000 m dpl tanaman sawi bisa bertelur, tetapi di daerah rendah tak bisa bertelur. 3.Tanah Tanaman sawi tumbuh dengan baik pada tanah lempung yang subur dan cukup menahan air. (AAK, 1992). Syarat-syarat penting untuk bertanam sawi ialah tanahnya gembur, banyak mengandung humus (subur), dan keadaan pembuangan airnya (drainase) baik. Derajat keasaman tanah (pH) antara 6–7 (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user9E.Teknik Budidaya Tanaman Sawi 1.Pengadaan benih Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram. Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Penanaman sawi memperhatikan proses yang akan dilakukan misalnya dengan dianginkan, disimpan di tempat penyimpanan dan diharapkan lama penyimpanan benih tidak lebih dari 3 tahun.( Eko Margiyanto, 2007) Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara membuat sendiri atau membeli benih yang telah siap tanam. Pengadaan benih dengan cara membeli akan lebih praktis, petani tinggal menggunakan tanpa jerih payah. Sedangkan pengadaan benih dengan cara membuat sendiri cukup rumit. Di samping itu, mutunya belum tentu terjamin baik (Cahyono, 2003). Sawi diperbanyak dengan benih. Benih yang akan diusahakan harus dipilih yang berdaya tumbuh baik. Benih sawi sudah banyak dijual di toko-toko pertanian. Sebelum ditanam di lapang, sebaiknya benih sawi disemaikan terlebih dahulu. Persemaian dapat dilakukan di bedengan atau di kotak persemaian (Anonim, 2007). 2.Pengolahan tanah Sebelum menanam sawi hendaknya tanah digarap lebih dahulu, supaya tanah-tanah yang padat bisa menjadi longgar, sehingga pertukaran perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user10udara di dalam tanah menjadi baik, gas-gas oksigen dapat masuk ke dalam tanah, gas-gas yang meracuni akar tanaman dapat teroksidasi, dan asam-asam dapat keluar dari tanah. Selain itu, dengan longgarnya tanah maka akar tanaman dapat bergerak dengan bebas meyerap zat-zat makanan di dalamnya (AAK, 1992). Untuk tanaman sayuran dibutuhkan tanah yang mempunyai syarat-syarat di bawah ini : a.Tanah harus gembur sampai cukup dalam. b.Di dalam tanah tidak boleh banyak batu. c.Air dalam tanah mudah meresap ke bawah. Ini berarti tanah tersebut tidak boleh mudah menjadi padat. d.Dalam musim hujan, air harus mudah meresap ke dalam tanah. Ini berarti pembuangan air harus cukup baik. Tujuan pembuatan bedengan dalam budidaya tanaman sayuran adalah : a.Memudahkan pembuangan air hujan, melalui selokan. b.Memudahkan meresapnya air hujan maupun air penyiraman ke dalam tanah. c.Memudahkan pemeliharaan, karena kita dapat berjalan antar bedengan dengan bedengan. d.Menghindarkan terinjak-injaknya tanah antara tanaman hingga menjadi padat. ( Rismunandar, 1983 ). 3.Penanaman Pada penanaman yang benihnya langsung disebarkan di tempat penanaman, yang perlu dijalankan adalah : a.Supaya keadaan tanah tetap lembab dan untuk mempercepat berkecambahnya benih, sehari sebelum tanam, tanah harus diairi terlebih dahulu. perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user11b.Tanah diaduk (dihaluskan), rumput-rumput dihilangkan, kemudian benih disebarkan menurut deretan secara merata. c.Setelah disebarkan, benih tersebut ditutup dengan tanah, pasir, atau pupuk kandang yang halus. d.Kemudian disiram sampai merata, dan waktu yang baik dalam meyebarkan benih adalah pagi atau sore hari. (AAK, 1992). Penanaman dapat dilakukan setelah tanaman sawi berumur 3 - 4 Minggu sejak benih disemaikan. Jarak tanam yang digunakan umumnya 20 x 20 cm. Kegiatan penanaman ini sebaiknya dilakukan pada sore hari agar air siraman tidak menguap dan tanah menjadi lembab (Anonim, 2007). Waktu bertanam yang baik adalah pada akhir musim hujan (Maret). Walaupun demikian dapat pula ditanam pada musim kemarau, asalkan diberi air secukupnya (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). 4.Pemeliharaan tanaman Pemeliharaan dalam budidaya tanaman sawi meliputi tahapan penjarangan tanaman, penyiangan dan pembumbunan, serta pemupukan susulan. a.Penjarangan tanaman Penanaman sawi tanpa melalui tahap pembibitan biasanya tumbuh kurang teratur. Di sana-sini sering terlihat tanaman-tanaman yang terlalu pendek/dekat. Jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tersebut kurang begitu baik. Jarak yang terlalu rapat menyebabkan adanya persaingan dalam menyerap unsur-unsur hara di dalam tanah. Dalam hal ini penjarangan dilakukan untuk mendapatkan kualitas hasil yang baik. Penjarangan umumnya dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Sisakan tanaman yang tumbuh baik dengan jarak antar tanaman yang teratur (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user12b.Penyiangan dan pembumbunan Biasanya setelah turun hujan, tanah di sekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah, kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Penggemburan tanah ini jangan sampai merusak perakaran tanaman. Kegiatan ini biasanya dilakukan 2 minggu sekali (Anonim, 2007). Untuk membersihkan tanaman liar berupa rerumputan seperti alang-alang hampir sama dengan tanaman perdu, mula-mula rumput dicabut kemudian tanah dikorek dengan gancu. Akar-akar yang terangkat diambil, dikumpulkan, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari, setelah kering, rumput kemudian dibakar (Duljapar dan Khoirudin, 2000). Ketika tanaman berumur satu bulan perlu dilakukan penyiangan dan pembumbunan. Tujuannya agar tanaman tidak terganggu oleh gulma dan menjaga agar akar tanaman tidak terkena sinar matahari secara langsung (Tim Penulis PS, 1995 ). c.Pemupukan Setelah tanaman tumbuh baik, kira-kira 10 hari setelah tanam, pemupukan perlu dilakukan. Oleh karena yang akan dikonsumsi adalah daunnya yang tentunya diinginkan penampilan daun yang baik, maka pupuk yang diberikan sebaiknya mengandung Nitrogen (Anonim, 2007). Pemberian Urea sebagai pupuk tambahan bisa dilakukan dengan cara penaburan dalam larikan yang lantas ditutupi tanah kembali. Dapat juga dengan melarutkan dalam air, lalu disiramkan pada bedeng penanaman. Satu sendok urea, sekitar 25 g, dilarutkan dalam 25 l air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan. Pada saat penyiraman, tanah dalam bedengan sebaiknya tidak dalam keadaan kering. Waktu penyiraman pupuk tambahan dapat dilakukan pagi atau sore hari (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user13Jenis-jenis unsur yag diperlukan tanaman sudah kita ketahui bersama. Kini kita beralih membicarakan pupuk atau rabuk, yang merupakan kunci dari kesuburan tanah kita. Karena pupuk tak lain dari zat yang berisisi satu unsur atau lebih yang dimaksudkan untuk menggantikan unsur yang habis diserap tanaman dari tanah. Jadi kalau kita memupuk berarti menambah unsur hara bagi tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun). Sama dengan unsur hara tanah yang mengenal unsur hara makro dan mikro, pupuk juga demikian. Jadi meskipun jumlah pupuk belakangan cenderung makin beragam dengan merek yang bermacam-macam, kita tidak akan terkecoh. Sebab pupuk apapun namanya, entah itu buatan manca negara, dari segi unsur yang dikandungnya ia tak lain dari pupuk makro atau pupuk mikro. Jadi patokan kita dalam membeli pupuk adalah unsur yang dikandungnya (Lingga, 1997). Pemupukan membantu tanaman memperoleh hara yang dibutuhkanya. Unsur hara yang pokok dibutuhkan tanaman adalah unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Itulah sebabnya ketiga unsur ini (NPK) merupakan pupuk utama yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk organik juga dibutuhkan oleh tanaman, memang kandungan haranya jauh dibawah pupuk kimia, tetapi pupuk organik memiliki kelebihan membantu menggemburkan tanah dan menyatu secara alami menambah unsur hara dan memperbaiki struktur tanah (Nazarudin, 1998). 5.Pengendalian hama dan penyakit Hama yang sering menyerang tanaman sawi adalah ulat daun. Apabila tanaman telah diserangnya, maka tanaman perlu disemprot dengan insektisida. Yang perlu diperhatikan adalah waktu penyemprotannya. Untuk tanaman sayur-sayuran, penyemprotan dilakukan minimal 20 hari sebelum dipanen agar keracunan pada konsumen dapat terhindar (Anonim, 2007). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user14OPT yang menyerang pada tanaman sawi yaitu kumbang daun (Phyllotreta vitata), ulat daun (Plutella xylostella), ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis), dan lalat pengerek daun (Lyriomiza sp.). Berdasarkan tingkat populasi dan kerusakan tanaman yang ditimbulkan, maka peringkat OPT yang menyerang tanaman sawi berturut-turut adalah P. vitata, Lyriomiza sp., P. xylostella, dan C. binotalis. Hama P. vitatamerupakan hama utama, dan hama P. xylostella serta Lyriomiza sp. merupakan hama potensial pada tanaman sawi, sedangkan hamaC. binotalis perlu diwaspadai keberadaanya (Mukasan et al., 2005). Beberapa jenis penyakit yang diketahui menyerang tanaman sawi antara lain: penyakit akar pekuk/akar gada, bercak daun altermaria, busuk basah, embun tepung, rebah semai, busuk daun, busuk Rhizoctonia, bercak daun, dan virus mosaik (Haryanto et al., 1995). 6.Pemanenan Tanaman sawi dapat dipetik hasilnya setelah berumur 2 bulan. Banyak cara yang dilakukan untuk memanen sawi, yaitu: ada yang mencabut seluruh tanaman, ada yang memotong bagian batangnya tepat di atas permukaan tanah, dan ada juga yang memetik daunnya satu per satu. Cara yang terakhir ini dimaksudkan agar tanaman bisa tahan lama (Edy margiyanto,

perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user86.Sawi Monumen Sawi monumen tubuhnya amat tegak dan berdaun kompak. Penampilan sawi jenis ini sekilas mirip dengan petsai. Tangkai daun berwarna putih berukuran agak lebar dengan tulang daun yang juga berwarna putih. Daunnya sendiri berwarna hijau segar. Jenis sawi ini tegolong terbesar dan terberat di antara jenis sawi lainnya. D.Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Syarat tumbuh tanaman sawi dalam budidaya tanaman sawi adalah sebagai berikut : 1.Iklim Tanaman sawi tidak cocok dengan hawa panas, yang dikehendaki ialah hawa yang dingin dengan suhu antara 150 C - 200 C. Pada suhu di bawah 150 C cepat berbunga, sedangkan pada suhu di atas 200 C tidak akan berbunga. 2.Ketinggian Tempat Di daerah pegunungan yang tingginya lebih dari 1000 m dpl tanaman sawi bisa bertelur, tetapi di daerah rendah tak bisa bertelur. 3.Tanah Tanaman sawi tumbuh dengan baik pada tanah lempung yang subur dan cukup menahan air. (AAK, 1992). Syarat-syarat penting untuk bertanam sawi ialah tanahnya gembur, banyak mengandung humus (subur), dan keadaan pembuangan airnya (drainase) baik. Derajat keasaman tanah (pH) antara 6–7 (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user9E.Teknik Budidaya Tanaman Sawi 1.Pengadaan benih Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram. Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Penanaman sawi memperhatikan proses yang akan dilakukan misalnya dengan dianginkan, disimpan di tempat penyimpanan dan diharapkan lama penyimpanan benih tidak lebih dari 3 tahun.( Eko Margiyanto, 2007) Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara membuat sendiri atau membeli benih yang telah siap tanam. Pengadaan benih dengan cara membeli akan lebih praktis, petani tinggal menggunakan tanpa jerih payah. Sedangkan pengadaan benih dengan cara membuat sendiri cukup rumit. Di samping itu, mutunya belum tentu terjamin baik (Cahyono, 2003). Sawi diperbanyak dengan benih. Benih yang akan diusahakan harus dipilih yang berdaya tumbuh baik. Benih sawi sudah banyak dijual di toko-toko pertanian. Sebelum ditanam di lapang, sebaiknya benih sawi disemaikan terlebih dahulu. Persemaian dapat dilakukan di bedengan atau di kotak persemaian (Anonim, 2007). 2.Pengolahan tanah Sebelum menanam sawi hendaknya tanah digarap lebih dahulu, supaya tanah-tanah yang padat bisa menjadi longgar, sehingga pertukaran perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user10udara di dalam tanah menjadi baik, gas-gas oksigen dapat masuk ke dalam tanah, gas-gas yang meracuni akar tanaman dapat teroksidasi, dan asam-asam dapat keluar dari tanah. Selain itu, dengan longgarnya tanah maka akar tanaman dapat bergerak dengan bebas meyerap zat-zat makanan di dalamnya (AAK, 1992). Untuk tanaman sayuran dibutuhkan tanah yang mempunyai syarat-syarat di bawah ini : a.Tanah harus gembur sampai cukup dalam. b.Di dalam tanah tidak boleh banyak batu. c.Air dalam tanah mudah meresap ke bawah. Ini berarti tanah tersebut tidak boleh mudah menjadi padat. d.Dalam musim hujan, air harus mudah meresap ke dalam tanah. Ini berarti pembuangan air harus cukup baik. Tujuan pembuatan bedengan dalam budidaya tanaman sayuran adalah : a.Memudahkan pembuangan air hujan, melalui selokan. b.Memudahkan meresapnya air hujan maupun air penyiraman ke dalam tanah. c.Memudahkan pemeliharaan, karena kita dapat berjalan antar bedengan dengan bedengan. d.Menghindarkan terinjak-injaknya tanah antara tanaman hingga menjadi padat. ( Rismunandar, 1983 ). 3.Penanaman Pada penanaman yang benihnya langsung disebarkan di tempat penanaman, yang perlu dijalankan adalah : a.Supaya keadaan tanah tetap lembab dan untuk mempercepat berkecambahnya benih, sehari sebelum tanam, tanah harus diairi terlebih dahulu. perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user11b.Tanah diaduk (dihaluskan), rumput-rumput dihilangkan, kemudian benih disebarkan menurut deretan secara merata. c.Setelah disebarkan, benih tersebut ditutup dengan tanah, pasir, atau pupuk kandang yang halus. d.Kemudian disiram sampai merata, dan waktu yang baik dalam meyebarkan benih adalah pagi atau sore hari. (AAK, 1992). Penanaman dapat dilakukan setelah tanaman sawi berumur 3 - 4 Minggu sejak benih disemaikan. Jarak tanam yang digunakan umumnya 20 x 20 cm. Kegiatan penanaman ini sebaiknya dilakukan pada sore hari agar air siraman tidak menguap dan tanah menjadi lembab (Anonim, 2007). Waktu bertanam yang baik adalah pada akhir musim hujan (Maret). Walaupun demikian dapat pula ditanam pada musim kemarau, asalkan diberi air secukupnya (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). 4.Pemeliharaan tanaman Pemeliharaan dalam budidaya tanaman sawi meliputi tahapan penjarangan tanaman, penyiangan dan pembumbunan, serta pemupukan susulan. a.Penjarangan tanaman Penanaman sawi tanpa melalui tahap pembibitan biasanya tumbuh kurang teratur. Di sana-sini sering terlihat tanaman-tanaman yang terlalu pendek/dekat. Jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tersebut kurang begitu baik. Jarak yang terlalu rapat menyebabkan adanya persaingan dalam menyerap unsur-unsur hara di dalam tanah. Dalam hal ini penjarangan dilakukan untuk mendapatkan kualitas hasil yang baik. Penjarangan umumnya dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Sisakan tanaman yang tumbuh baik dengan jarak antar tanaman yang teratur (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user12b.Penyiangan dan pembumbunan Biasanya setelah turun hujan, tanah di sekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah, kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Penggemburan tanah ini jangan sampai merusak perakaran tanaman. Kegiatan ini biasanya dilakukan 2 minggu sekali (Anonim, 2007). Untuk membersihkan tanaman liar berupa rerumputan seperti alang-alang hampir sama dengan tanaman perdu, mula-mula rumput dicabut kemudian tanah dikorek dengan gancu. Akar-akar yang terangkat diambil, dikumpulkan, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari, setelah kering, rumput kemudian dibakar (Duljapar dan Khoirudin, 2000). Ketika tanaman berumur satu bulan perlu dilakukan penyiangan dan pembumbunan. Tujuannya agar tanaman tidak terganggu oleh gulma dan menjaga agar akar tanaman tidak terkena sinar matahari secara langsung (Tim Penulis PS, 1995 ). c.Pemupukan Setelah tanaman tumbuh baik, kira-kira 10 hari setelah tanam, pemupukan perlu dilakukan. Oleh karena yang akan dikonsumsi adalah daunnya yang tentunya diinginkan penampilan daun yang baik, maka pupuk yang diberikan sebaiknya mengandung Nitrogen (Anonim, 2007). Pemberian Urea sebagai pupuk tambahan bisa dilakukan dengan cara penaburan dalam larikan yang lantas ditutupi tanah kembali. Dapat juga dengan melarutkan dalam air, lalu disiramkan pada bedeng penanaman. Satu sendok urea, sekitar 25 g, dilarutkan dalam 25 l air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan. Pada saat penyiraman, tanah dalam bedengan sebaiknya tidak dalam keadaan kering. Waktu penyiraman pupuk tambahan dapat dilakukan pagi atau sore hari (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user13Jenis-jenis unsur yag diperlukan tanaman sudah kita ketahui bersama. Kini kita beralih membicarakan pupuk atau rabuk, yang merupakan kunci dari kesuburan tanah kita. Karena pupuk tak lain dari zat yang berisisi satu unsur atau lebih yang dimaksudkan untuk menggantikan unsur yang habis diserap tanaman dari tanah. Jadi kalau kita memupuk berarti menambah unsur hara bagi tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun). Sama dengan unsur hara tanah yang mengenal unsur hara makro dan mikro, pupuk juga demikian. Jadi meskipun jumlah pupuk belakangan cenderung makin beragam dengan merek yang bermacam-macam, kita tidak akan terkecoh. Sebab pupuk apapun namanya, entah itu buatan manca negara, dari segi unsur yang dikandungnya ia tak lain dari pupuk makro atau pupuk mikro. Jadi patokan kita dalam membeli pupuk adalah unsur yang dikandungnya (Lingga, 1997). Pemupukan membantu tanaman memperoleh hara yang dibutuhkanya. Unsur hara yang pokok dibutuhkan tanaman adalah unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Itulah sebabnya ketiga unsur ini (NPK) merupakan pupuk utama yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk organik juga dibutuhkan oleh tanaman, memang kandungan haranya jauh dibawah pupuk kimia, tetapi pupuk organik memiliki kelebihan membantu menggemburkan tanah dan menyatu secara alami menambah unsur hara dan memperbaiki struktur tanah (Nazarudin, 1998). 5.Pengendalian hama dan penyakit Hama yang sering menyerang tanaman sawi adalah ulat daun. Apabila tanaman telah diserangnya, maka tanaman perlu disemprot dengan insektisida. Yang perlu diperhatikan adalah waktu penyemprotannya. Untuk tanaman sayur-sayuran, penyemprotan dilakukan minimal 20 hari sebelum dipanen agar keracunan pada konsumen dapat terhindar (Anonim, 2007). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user14OPT yang menyerang pada tanaman sawi yaitu kumbang daun (Phyllotreta vitata), ulat daun (Plutella xylostella), ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis), dan lalat pengerek daun (Lyriomiza sp.). Berdasarkan tingkat populasi dan kerusakan tanaman yang ditimbulkan, maka peringkat OPT yang menyerang tanaman sawi berturut-turut adalah P. vitata, Lyriomiza sp., P. xylostella, dan C. binotalis. Hama P. vitatamerupakan hama utama, dan hama P. xylostella serta Lyriomiza sp. merupakan hama potensial pada tanaman sawi, sedangkan hamaC. binotalis perlu diwaspadai keberadaanya (Mukasan et al., 2005). Beberapa jenis penyakit yang diketahui menyerang tanaman sawi antara lain: penyakit akar pekuk/akar gada, bercak daun altermaria, busuk basah, embun tepung, rebah semai, busuk daun, busuk Rhizoctonia, bercak daun, dan virus mosaik (Haryanto et al., 1995). 6.Pemanenan Tanaman sawi dapat dipetik hasilnya setelah berumur 2 bulan. Banyak cara yang dilakukan untuk memanen sawi, yaitu: ada yang mencabut seluruh tanaman, ada yang memotong bagian batangnya tepat di atas permukaan tanah, dan ada juga yang memetik daunnya satu per satu. Cara yang terakhir ini dimaksudkan agar tanaman bisa tahan lama (Edy margiyanto,