• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN"

Copied!
60
0
0

Teks penuh

(1)

4.1. Gambaran Umum Objek Penelitian

Maxima Picture merupakan sebuah rumah produksi film yang berdiri pada 09 Desember 2004 oleh Ody Mulya Hidayat dan biasanya Maxima membuat film yang bergendre tentang percintaan, horor komedian, dan kisah percintaan fiksi lainnya. Maxima Pictures, baik secara sendiri maupun dengan rumah produksi lain, telah menghasilkan lebih dari 20 film sejak film perdananya. Namun sudah dua tahun terakhir ini Maxima membuat sebuah gebrakan baru dengan membuat film religi dan film terbaru yang selesai digarap di tahun 2015 ini yaitu Assalamualaikum Beijing. Sebelumnya Maxima merilis film 99 Cahaya di Langit Eropa Part I adalah film drama religi tahun 2013 dari Indonesia. Film ini adalah film ke-40 yang dirilis oleh Maxima Pictures. Film drama ini diadaptasi dari novel berjudul sama karya Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra dan merupakan film Maxima Picture yang termahal sejak dirilis, dengan anggaran melebihi Rp. 15 Miliar. Film ini mendapatkan banyak pujian salah satunya dari mantan Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono saat pemutaran film perdana di Djakarta Theatre pada tanggal 29 November 2013.

(2)

4.1.1 Identitas Film 99 Cahaya di Langit Eropa Part I

1. Judul : 99 Cahaya di Langit Eropa Part I 2. Sutradara : Guntur Soeharjanto

3. Produser : Ody M Hidayat 4. Ex. Produser : Yoen K

5. Penulis : Alim Sudio

Hanum Salsabiela Rais Rangga almahendra 6. Pemeran Film : Acha Septriasa

Abimana Aryasatya Raline Shah Nino Fernandez Dewi Sandra Marissa Nasution Alex Abbad Geccha Tavvara Dian Pelangi

(3)

Fatin Shidqia Lubis

7. Music : Cahaya di Langit Itu—Penyanyi Fatin Shidqia Cipt. Nukke Kusumadewi

8. Penyunting : Ryan Purwoko 9. Sinematografi : Enggar Budiono

10. Sound recordist and design by : Aditiawan Susanto 11. Music : Joseph Djafar

12. Costume and make up : Retno Ratih Damayanti 13. Casting : Bhutet Erlina

14. Promotion : Hasanudin

15. Post production manager : Askan Larepand 16. Distributor : Maxima Picture

17. Tanggal Rilis : 29 November 2013 (premiere) 5 Desember 2013 (rilis) 18. Lokasi : Austria, Perancis 19. Durasi : 100 Menit 20. Anggaran : Rp. 15 Miliar

(4)

4.1.2. Pengenalan Karakter 1. Acha Septriasa

Acha Septriasa sebagai Hanum Salsabiela Rais i, seorang jurnalis Indonesia yang selama tiga tahun menemani suaminya, Rangga Almahendra yang sedang menjalani kuliah doktorat. Selama mengikuti suaminya di Eropa, kehidupannya tidak lagi seperti di Indonesia yang bekerja sebagai jurnalis, sebab dalam mencari pekerjaan pun sangat sulit di Negara yang secara kultur dan kriterianya pun sangat berbeda dengan Indonesia, meskipun memang Hanum sendiri belum memakai hijab akan tetapi hal itu tidak mempengaruhi untuk mendapatkan pekerjaan. Namun kisah dramatis itu tidak melulu Hanum ratapi, ia mulai mengenal sejarah dan pengaruh Islam yang dibawa oleh bangsa Turki di era Kesultanan Utsmaniyah di Eropa, mulai dari Vienna, Paris hingga Istanbul yang diperkenalkan oleh sahabatnya Fatma Pasha. Dari fatma, Hanum bisa survive menghadapi segala keterbatasan yang ada.

(5)

2. Abimana Aryasatya

Abimana Artasatya sebagai Rangga Almahendra, suami Hanum yang menjalani studi doktorat di Universitas di Vienna, Austria. Rangga merupakan mahasiswa yang cukup dikagumi oleh professor di universitas tersebut karena disertasinya yang bagus. Rangga sendiri merupakan sosok yang religius dan teguh dalam memegang prinsip serta keyakinannya. Ia harus dihadapkan dengan kondisi kampus yang sangat minim fasilitas untuk ibadah. Hal itu tidak membuat Rangga putus asa begitu saja bahkan cenderung menjadi aset dia dalam memperkuat keyakinannya. Namun Rangga tidak sendirian menjadi seorang muslim, tetapi ada juga Khan yang beragama muslim. Mereka kerap kali beribadah bersama. Karakter Rangga ini sosok yang tenang dan selalu memberikan ketenangan. Dia selalu menjawab dengan senang hati ketika teman-teman non muslimnya bertanya tentang agama yang dianutnya.

(6)

3. Raline Shah

Raline Shah sebagai Fatma Pasha, wanita muslim berdarah Turki yang dikenal Hanum di Austria. Karakter Fatma sebagai agen muslim. Memberikan sentuhan yang menarik. Sebab disini dia berusaha memperlihatkan bahwa Islam itu tidak melulu tentang teroris, atau lainnya. Tapi dia selalu memberikan perlakuan yang baik ketika dia dilecehkan atau mendapatkan perlakuan buruk.

4. Alex Abbad

(7)

sangat berpegang teguh terhadap agamanya. Hingga tak jarang juga dia berseteru dengan Stefan ketika ada pembahasan yang menurut Stefan tidak masuk akal.

5. Nino Fernandez

Nino Fernandez sebagai Stefan seorang atheis, teman kuliah sekaligus teman dekat Rangga di kampus. Stefan sering bertanya kepada Rangga tentang agama Islam dan juga hal-hal lainnya.

6. Marissa Nasution

Marissa Nasution sebagai Maarja, karakter yang berkonflik dengan Rangga dan Khan karena perbedaan sudut pandang. Maarja kerap kali menggoda Rangga, namun usaha sia-sia karena Rangga tidak memperdulikan hal itu.

(8)

7. Dewi Sandra

Dewi Sandra sebagai Marion Latimer, seorang mualaf yang bekerja sebagai ilmuan di Arab World Institute Paris. Marion adalah teman Fatma yang memperkenalkan peradaban muslim di Paris ke Hanum. Dia banyak mengenal sejarah Islam. Sebagai mualaf, pendalaman dia sebagai seorang muslim cukup diacungi jempol.

8. Geccha Tavvara

Geccha Tavvara sebagai Ayse, puteri dari Fatma. Ayse gadis kecil yang polos tapi dia sudah berani memutuskan untuk berhijab sebagai pilihan keyakinannya. Dia juga selalu melontarkan ocehan yang membuat orang dewasa kagum. Dia mengidap kanker, sesekali rambut Ayse rontok dan hidungnya mengeluarkan darah, tetapi dia selalu terlihat ceria hingga orang disekitarnya pun tidak menduga jika dia sedang sakit.

(9)

9. Dian Pelangi

Dian Pelangi memerankan sebagai sahabat dari Fatma Fasha dan salah satu agen muslim. Karakter Dian di film ini sebagai diri Dian sendiri dan tidak terlalu banyak adegan yang ditampilkan.

10. Hanum Salsabiela Rais

Hanum Salsabiela Rais memerankan sebagai dirinya sendiri. Dia adalah sahabat dari Fatma Fasha dan juga Dian Pelangi. Dia juga turut serta sebagai agen muslim.

(10)

11. Fatin Shidqia Lubis

Berperan hanya sebagai bintang tamu di film ini. Ceritanya Fatin ini sedang membuat video clip di Eropa, kemudian bertemu dengan Rangga dan Hanum. Dia berperan sebagai dirinya sendiri yaitu Fatin sebagai penyanyi. 4.1.3. Sinopsis Film 99 Cahaya di Langit Eropa Part I

99 Cahaya di Langit Eropa merupakan film yang diadaptasi dari novel karangan Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra. Film ini terinspirasi dari kisah nyata perjalanan Hanum dan Rangga selama 3 tahun tinggal di Eropa. Film dwilogi ini menceritakan kisah agen muslim yang mengenal situs dan sejarah Islam di EropaPenonton dimanjakan dengan keindahan kota Vienna (Austria) dan Paris (Prancis). Selain menawarkan keindahan di tempat tersebut, film 99 Cahaya di Langit Eropa didukung oleh pemain film yang sudah fenomenal.

Berawal dari Vienna (Austria), Hanum (Acha Septriasa) dan Rangga (Abimana Aryasatya) memulai kisahnya. Rangga yang saat itu menempuh kuliah doktor di WU Vienna dan Hanum yang dulunya bekerja di bidang jurnalistik

(11)

mendampingi sang suami selama di Eropa. Mereka sangat sulit hidup di Eropa apalagi dengan status mereka sebagai muslim. Rangga kesulitan mencari makanan yang halal dan kesulitan mencari tempat sholat di kampusnya. Sedangkan Hanum mengalami kesulitan mencari pekerjaan karena kurang fasih berbahasa Jerman.

Hanum menemukan harapannya setelah melihat sebuah poster kursus berbahasa Jerman gratis. Saat mengikuti kursus tersebut, Hanum bertemu dengan Fatma (Raline Shah), seorang muslimah Turki yang berkerudung. Mereka pun akhirnya bersahabat. Fatma mengajak Hanum ke sekolah anaknya, Ayse (Geccha Tavvara). Di sana Hanum bertemu dengan Ayse. Ayse sempat bertanya kepada Fatma “Tante Hanum muslim ya? Tapi kok Tante Hanum tidak berkerudung seperti kita?” Menurut Saya pertanyaan seorang bocah seperti Ayse cukup menusuk apalagi untuk Hanum. Namun, Fatma dengan tangkasnya berkata “Tante Hanum sakit kepala, jadi dia tidak berkerudung?” Lalu Hanum menjawab “Iya, tante sakit kepala”. Ayse pun berceloteh lagi “Kalau sakit kepala hilang, janjinya ya Tante Hanum pake kerudung?” Adegan ini sangat menarik. Secara tidak langsung, film ini memberikan pesan kepada penontonnya tentang urgensi berkerudung (hijab). Adegan ini tidak menggurui karena diucapkan secara spontan oleh bocah kecil.

Sebenarnya, Ayse sering di-bully teman-temannya terutama Leon di sekolah. Kerudung adalah penyebab utamanya. Karena terlalu sering di-bully, Guru Ayse sempat membujuk Ayse untuk membuka kerudungnya. Namun, Ayse tetap tidak mau membuka kerudungnya.Hanum, Fatma, dan Ayse makan di sebuah cafe. Ada kejadian menarik di sini. Hanum bercerita tentang masalahnya

(12)

yang berat selama di Vienna. Ayse bercelutuk dengan polosnya. Celutukan Ayse sederhana tapi maknanya sangat dalam.“Hei masalah besar, aku punya Allah yang lebih besar” (Ayse).

Di cafe tersebut, Fatma bercerita tentang asal mula cappuccino. Ternyata cappucino tersebut berasal dari negara Turki. Tak lama setelah menceritakan cappuccino, Hanum menguping di balik pintu tempat duduknya. Saat itu, dua pria bule berceloteh saat makan roti Croissant. Si bule bercerita kepada temannya bahwa roti Croissant bentuknya seperti bendera Turki. Berdasarkan sejarahnya, pasukan Eropa pernah mengalahkan pasukan Muslim Turki. Karena masyarakat Eropa masih dendam dengan masyarakat Turki, maka masyarakat Eropa membuat roti Croissant berbentuk bulan sabit untuk dimakan bukan untuk dihormati.Hanum langsung naik pitam mendengar percakapan bule tersebut. Dia melarang Fatma dan Ayse memakan roti Croissant. Namun, Fatma malah memanggil pelayan untuk membayar kedua bule dan menulis sepucuk surat untuk kedua bule tersebut. Menariknya adalah di akhir tulisannya Fatma menulis sesuatu yang membuat Hanum terkesan.

Hanum diajak Fatma dan Ayse ke situs dan sejarah Islam di Vienna. Sungai Danube merupakan objek pertama yang mereka kunjungi. Sungai tersebut sangat bersih dan asri. Di sudut sungai tersebut, dapat melihat Bukit Kahlenberg. Bukit Kahlenberg merupakan tempat pasukan Turki yang dipimpin Kara Mustafa Pasha sehingga pasukan Turki terusir dari tentara Jerman dan Polandia. Ayse sangat senang di Bukit tersebut. Dia meminjam kamera Hanum untuk mengabadikan pemandangan indah di sana. Museum Wien Stadt merupakan objek

(13)

berikutnya. Museum tersebut memiliki benda bersejarah negara Austria. Dalam museum tersebut, Fatma sempat menangis karena melihat foto Kara Mustafa Pasha yang masih memiliki hubungan darah dengannya. Kara Mustafa dianggap sebagai panglima perang yang menyerang Austria yang mengakibatkan kerugian dan kematian. Sebelum meninggalkan museum tersebut, Fatma sempat berkata kepada Hanum "ayo kita pergi, kita tinggalkan kara Mustafa di sini agar menyesali kesalahannya". Selain objek wisata di Vienna, Fatma juga mengajak Hanum mengunjungi rumahnya. Di rumah Fatma, Hanum bertemu dengan sahabat Fatma yaitu Latife (Dian Pelangi) dan Ezra (Hanum Salsabiela Rais). Hanum diajak untuk menjalankan misi agen muslim bersama Fatma, Latife, dan Ezra. Hanum diajak menjadi pengajar untuk anak-anak kecil yang muallaf. Fatma mengajak Hanum karena Hanum sangat fasih berbahasa Inggris.

Pada adegan Rangga, ditunjukkan tentang lika-liku kehidupan kampus dengan mahasiswa muslim minoritas. Rangga memiliki teman bernama Stefan (Nino Fernandez), seorang penganut atheis yang memiliki rasa ingin tahu tinggi terhadap Islam. Stefen sering bertanya kepada Rangga tentang Tuhan, sholat dan puasa. Stefen pernah bertanya kepada Rangga “kenapa sih Tuhan kamu suka menyiksa umatnya?”, “memang tujuan puasa itu apa?”, “bagaimana kalau ternyata Tuhan kamu tidak ada?”Semua pertanyaan Stefen tersebut dapat dijawab Rangga dengan baik. Rangga menjawab dengan menganalogikan premi asuransi. Setiap nasabah asuransi harus membayar kewajiban berupa premi asuransi setiap waktunya. Demikian juga, dengan seorang muslim harus membayar kewajibannya dengan tunduk kepada Allah (berupa puasa dan sholat).

(14)

Rangga juga mempunyai seorang teman muslim asal Pakistan yang bernama Khan (Alex Abbad). Bersama Khan, Rangga merasa tidak sendiri sebagai seorang Muslim. Khan pernah memberi bekal makanan yang halal kepada Rangga. Rangga sangat senang menerimanya. Namun, kehidupan kampus Rangga dan Khan sangat sulit. Kampus Rangga dan Khan tidak memiliki sebuah musholla yang layak. Mereka pun harus sholat di ruangan ibadah yang bercampur dengan agama lain (Konghucu, Buddha, Kristen). Khan bahkan ragu dengan sholatnya apakah diterima Allah atau tidak? Hal yang paling bergejolak pada Rangga dan Khan adalah saat akan mengikuti jadwal ujian yang bentrok dengan sholat Jumat. Tak terima dengan keputusan profesor yang membuat jadwal bentrok dengan sholat jumat, Rangga mengajak Khan menemui profesor tersebut. Sayangnya Khan berkata “Maaf kawan, untuk agama, saya tidak ada toleransi. Untuk masalah ini, kamu sendirian”. Rangga pun menemui Profesor yang mempromosikan beasiswanya. Rangga tidak berhasil mendapatkan dispensasi dari Profesor tersebut. Apalagi profesornya sempat bercelutuk untuk tidak meluluskannya terhadap mata kuliah tersebut. Rangga pun pasrah saat profesor berkata "Mr. Almahendra, saya pernah mendengar kalimat bismillahirrahmanirrahim yang artinya dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. So, what's the big deal?" Dengan berat hati, Rangga meninggalkan ruangan profesor. Hati Rangga masih bergejolak sampai ujian dilaksanakan. Khan memutuskan tidak mengikuti ujian dan langsung sholat jum’at ke Masjid. Awalnya Rangga juga memutuskan hal yang sama dengan Khan. Namun, setiba di masjid, Rangga kembali ke kampus dan mengikuti ujian.

(15)

Selain Stefen dan Khan, Rangga mempunyai seorang teman perempuan yang bernama Maarja (Marissa Nasution). Sebenarnya Maarja sangat tertarik dengan Rangga. Dia tidak memperdulikan bahwa Rangga sudah mempunyai istri. Namun, Maarja selalu menggoda Rangga.

Saat di rumah, Hanum mempersiapkan makan malam untuk Rangga. Hanum membuat ikan asin. Karena bau ikan asin yang menyengat, tetangga rumah Hanum sampai menggedor pintu rumah Hanum. Hanum dilarang memasak makanan yang dapat mengganggu penciuman tetangga lain. Hanum kesal dengan tingkah laku tetangganya. Setelah adegan tersebut, Rangga pun datang. Rangga berusaha merayu Hanum yang sedang kesal dengan tetangganya. Saat makan, Hanum dan Rangga menceritakan kisahnya masing-masing. Hanum bercerita tentang kerudung yang dipakai Fatma dan Ayse. Rangga pun berkata “Tapi, kamu cantik loh pakai kerudung”. Pernyataan Rangga mengandung pesan dari film ini yaitu urgensi berkerudung.Hanum menunjukkan kelembutannya sebagai seorang muslim. Hanum membalas tetangga yang mengomeli makanan ikan asinnya dengan membuat mie goreng ikan asin. Mie goreng ikan asin tersebut sangat dinikmati oleh tetangganya. Sehingga, tetangganya ketagihan dan ingin dibuatkan ikan asin lagi oleh Hanum.

Rangga harus menghadiri seminar yang diadakan di Paris. Hanum pun diajak Rangga ke Paris. Hanum sangat senang. Saat di Paris, Hanum bertemu dengan teman Fatma yang bernama Marion Latimer (Dewi Sandra). Marion adalah seorang muallaf yang merupakan ahli sejarah di Paris. Bersama Marion, Hanum diajak mengelilingi kota Paris. Hanum diajak ke Menara Eiffel yang

(16)

merupan icon kota Paris. Marion juga mengajak Hanum ke Museum Louvre. Dalam Museum tersebut terdapat beragam foto dan lukisan diantaranya adalah lukisan Monalisa dan lukisan Bunda Maria berkerudung. Hal yang menarik pada lukisan Bunda Maria adalah terdapat kaligrafi yang dilihat bertuliskan La ilaha illallah. Objek yang dikunjungi Hanum dan Marion berikutnya adalah Monumen Arc de Triomphe. Monumen Arc de Triomphe memiliki patung Napolleon Bonaparte.

Usai acara seminar Rangga di Paris, Hanum berjalan-jalan dengan Rangga ke Menara Eiffel. Di atas Menara Eiffel, Rangga mengumandangkan adzan. Usai jalan-jalan, Hanum pun pamit kepada Marion. Sebelum balik ke Austria, Marion menitip barang kepada Hanum. Barang tersebut merupakan titipan Fatma. Setiba di Vienna, Hanum mencari Fatma dan Ayse. Namun, Hanum tidak menemukan mereka. Hanum dan Rangga juga membuka titipan dari Marion. Mereka kaget dengan titipan Marion karena titipan tersebut merupakan obat kanker. Dalam titipan tersebut, Marion juga menyisipkan sebuah surat yang berisi bahwa obat tersebut untuk Ayse. Hanum pun kaget karena Ayse menderita kanker. Akhir cerita dari film ini adalah saat Hanum dan Rangga berjalan-jalan di Vienna. Saat itu, Hanum dan Rangga berjumpa dengan Fatin. Mereka pun saling bertukar nomor handphone.

4.2. Hasil Penelitian

Pada film 99 Cahaya di Langit Eropa Part 1 ini, penulis akan menganalisis sesuai dengan model analisis semiotika Ferdinand de Saussure mengenai keteguhan agama yang ada dalam adegan gambar yang terdapat dalam film 99

(17)

Cahaya di Langit Eropa Part 1. Selain itu, penulis memaknai pesan yang terdapat dalam film 99 Cahaya di Langit Eropa Part 1 kedalam bentuk verbal dan non verbal sesuai dengan metode analisis Ferdinand de Saussure.

Gambar 4.1

Rangga Mencari Makanan Halal Sign/Tanda

Gambar 1 Gambar 2

Gambar 3 Gambar 4 Teks:

Gambar 1 “ini ayam apa bukan”

Gambar 2

(18)

Gambar 3 “ Saya mau ayam”

Gambar 4 “apakah anda muslim?”

Signifier/ Penanda Signified/ Petanda

Rangga mahasiswa muslim minoritas yang kuliah doctor (S3) di WU Vienna. Sulitnya hidup sebagai minoritas ia rasakan, salah satunya ketika ia mencari makanan halal di kampusnya. Salah satu outlet makanan terlihat menjual makanan siap saji (fast food), sebelum membeli ia menanyakan terlebih dahulu kepada penjual tentang dagingnya ayam apa bukan. Penjual itu menjelaskan kepada Rangga, bahwa daging ayamnya sudah habis. Tetapi Rangga tetap menginginkan daging ayam dengan berkata “saya mau ayam”, setelah Rangga berkata seperti itu penjual pun bertanya kepadanya “apakah kamu seorang muslim?”. Dengan spontan penjual itu memberikan Rangga segelas

Dipertegas dengan Rangga yang menanyakan “ini ayam apa bukan?” Dari dialog diatas bisa dinterpretasikan sebagai kehati-hatian Rangga dalam memakan makanan yang ada di sana, agar tidak salah mengkonsumsi apa yang seharusnya dimakan oleh seorang muslim.

Dan ketika si penjual itu menjawab “ bukan, ini bukan daging ayam tapi ini daging babi”. Dengan keduanya yang memiliki keterbatasan bahasa, akhirnya Rangga menggunakan bahasa verbal dan nonverbal agar penjual itu mengerti. Dengan menggepakkan kedua Tanggannya dan dipertegas “saya mau ayam”, petanda konsistensi terhadap agamanya, dia masih ingat

(19)

salad buah sebagai pengganti ayam. Menggunakan komposisi medium shot adegan ini memperlihatkan objek secara jelas ketika Rangga berdialog dengan penjual tersebut.

aturan-aturan yang ada di dalam agamanya dan tidak ingin keluar dari jalur yang sudah ditetapkan, dengan hanya memakan makanan halal saja. Makanan halal adalah makanan yang disahkan secara islam, diizinkan dan dibolehkan untuk dikonsumsi. Hal ini tertera dalam QS Al An’am : 118-119“Maka makanlah binatang-binatang yang halal yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, jika kamu beriman kepada ayat-ayatnya. Mengapa kamu tidak mau memakan (binatang-binatang halal) yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, padahal Allah telah menjelaskan kepada kamu apa-apa yang diharamkan-Nya atas kamu…”, Surat di atas hal yang memperkuat akan adanya peringatan seorang muslim agar memakan makanan yang dianjurkan oleh agama islam khususnya.

(20)

Terlihat dari keduanya, baik Rangga dan penjual sangat memiliki sikap terbuka. Ekspresi yang ditampilkan oleh si penjual itu tidak menampilkan antipati kepada Rangga yang muslim, bahkan cenderung welcome, dengan dia yang langsung memberikan Rangga salad buah sebagai pengganti dari ayam. Bahkan dari hal tersebut ini menandakan jika Islam sudah banyak dikenal dan dipahami baik di Negara-negara yang mayoritas non muslim. Namun ada sedikit kejanggalan, Rangga tidak detail memperhatikan logo halal maupun proses pembuatannya yang belum tentu halal secara tata cara maupun komposisi bahan dari makanan tersebut. Serta si penjual yang dengan langsung menanyakan kepada Rangga bahwa dia seorang muslim ketika Rangga menanyakan “ayam”. Apakah setiap penjual di sana langsung

(21)

mengasumsikan setiap orang yang menanyakan ayam langsung dikategorikan sebagai muslim. hal ini bisa dipersepsikan non muslim pun mengetahui larangan-larangan yang diatur oleh Islam itu sendiri.

Gambar 4.2

Perbincangan Rangga Dengan Stefan Seorang Atheis Memaknai Rasa Sayang Kepada Tuhan Yang Maha Esa

Sign/Tanda

Teks:

“ sama, aku juga sangat menyayangi Tuhanku, tidak mungkin melanggar peraturannya”

(22)

Signifier/ Penanda Signified/ Petanda Ketika Stefan penuh tanya terhadap

ajaran agama Rangga. Ia meggoda Rangga jika daging babi itu lezat dan harus mencobanya, di Eropa sangat dijual murah. Rangga pun menolak dan menanggapinya dengan santai. Ia mencoba memberikan gambaran alasannya kepada Stefan dengan penggambaran kecintaan Stefan terhadap peliharaan anjingnya yang tidak mungkin dimakannya. Hal yang sama Rangga lakukan sebagai bentuk sayangnya terhadap Tuhan-Nya dengan menaati peraturannya dengan berkata “ sama, aku juga sangat menyayangi Tuhanku, tidak mungkin melanggar peraturannya”.

Dari dialog antara Rangga dan Stefan menginterpretasikan bahwa seseorang yang menganut agama memang sangatlah penting untuk mempunyai rasa sayang terhadap Tuhan-Nya. Khususnya sebagai muslim Rangga mengaplikasikan rasa sayangnya dengan tidak melanggar hal yang sudah dibuat dan tidak melakukan sesuatu hal yang dibenci oleh Tuhan-Nya.

Rasa sayang memiliki makna yaitu rasa yang timbul dalam diri hati yang tulus untuk mencintai, menyayangi, serta memberikan kebahagian kepada orang lain atau siapa pun yang dicintainya. Rasa sayang kepada Tuhan bentuk takwa seorang hamba kepada Tuhannya. Takwa kepada Tuhan itu termasuk kedalam semua hal.

Rasa sayang yang besar terhadap Tuhan selain melalui tindakan, terlihat pula mimic wajah Rangga yang begitu ikhlas

(23)

dan tersenyum lebar. Hal ini biasa orang lakukan ketika merasa senang dan jatuh cinta terhadap semua hal, salah satunya bentuk sayang terhadap Tuhan.

Namun, makna kata yang diucapkan Rangga ketika mengumpamakan tidak memakan memakan daging babi atau sesuatu yang haram dimakan oleh umat Islam sebagai bentuk sayang kepada Tuhan dengan memberikan gambaran kepada Stefan tentang sayangnya Stefan kepada anjingnya, memiliki makna bahwa sebagai manusia baik yang beragama maupun yang tidak beragama pun seharunya memiliki rasa sayang terhadap hal apapun, selain ke Tuhan, kita pun dituntut untuk menyayangi binatang yang bisa dikatakan miris keberadaannya.

Akan tetapi hal ini terasa janggal ketika Rangga mengumpamakan rasa sayang dia kepada Tuhan dengan memberi perbandingan kepada Stefan rasa sayang

(24)

terhadap anjingnya itu tidak sesuai. Mengingat Tuhan itu maha segalanya, maha suci dan maha agung. Tidak seharusnya diberikan perbandingan dengan hal tersebut.

Jika Rangga memahami hal itu, bisa saja memberikan penjelasan dan perbandingan kepada Stefan, dengan mengumpamakan rasa sayang kepada orang tuanya, koleksi-koleksinya dan lainnya yang sekiranya bisa lebih pantas dan Stefan pun bisa mengertti kenapa Rangga bisa seteguh itu.

(25)

Gambar 4.3

Rangga Dan Khan Mempersoalkan Ruangan Ibadah Yang Disediakan Pihak Kampus

Sign/Tanda

Gambar 1

(26)

Gambar 3 Teks: Gambar 1:

“sepertinya kita salah ruangan” Gambar 2:

“anggap saja ruangan toleransi” Gambar 3:

“yang penting niatnya, bukan tempatnya”

Signifier/Penanda Signified/ Petanda

kehidupan kampus Rangga dan Khan sangat sulit. Kampus Rangga dan Khan tidak memiliki sebuah musholla yang layak. Terlihat digambar 1 dengan menggunakan long shot, terlihat keseluruhan ruangan tersebut. Khan dan

Dengan Khan yang berkata “ sepertinya kita salah rungan?” menandakan ada sebuah kejanggalan yang terdapat diruangan tersebut. Sebuah ruangan ibadah, khususnya muslim harusnya tidak mempunyai banyak ornament,

(27)

Rangga mempermasalahkan ruangan tersebut dengan ekspresi bingung dan berpikir jika mereka salah memasuki ruangan.

Di gambar 2 menggunakan tipe medium close up shot untuk memberi gambaran pada tokoh. Terlihat Rangga dengan santainya memberikan pandangan kepada Khan tentang makna ruangan tersebut, dengan berkata “anggap saja ruangan toleransi” yang semua agama bisa melakukan ibadah di ruangan tersebut. Khan bahkan ragu dengan sholatnya apakah diterima Allah SWT atau tidak?

Sambil membentangkan sajadah, Rangga pun mengingatkan Khan untuk selalu positive thingking dengan apa yang terjadi. Dengan menggunakan tipe longshot, ia menyakinkan Khan jika beribadah itu bisa di manapun asal dengan niat yang kuat. Mereka pun akhirnya harus sholat di ruangan ibadah

seperti lilin atau lainnya bahkan jauh berbanding terbalik dengan ruangan yang diperkirakan oleh mereka. Dengan mimic yang bingung dan penuh Tanya, menandakan mereka tidak habis pikir terhadap kebijakan kampus yang menyediakan ruangan seperti itu. Namun Rangga yang berpositif thingking terhadap niatan pihak kampus dengan berkata “anggap saja ini ruangan toleransi”. Di mana yang kita kenal toleransi adalah sikap saling menghargai satu sama lain. Namun hal ini dipandang yang sangat janggal dan salah penempatan untuk mengartikan toleransi yang sebenarnya. Mungkin jika diadakan forum tidak masalah, tetapi jika untuk digunakan ibadah rasanya sangat janggal dan bisa dikatakan tidak ada bentuk toleransi yang seperti Rangga ucapkan.

Meskipun dihadapkan dengan problematika tentang kesyahan

(28)

yang bercampur dengan agama lain (Konghucu, Buddha, Kristen).

shalatnya, mereka tetap mendirikan shalat di ruangan toleransi tersebut. Seperti yang tertera dalam surat albaqarah ayat 238 “ peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat. Berdirilah untuk Allah(dalam shalatmu) dengan khusyu”.

Untuk menjalankan shalat sendiri harus didasari niat yang benar-benar kuat, sehingga khusyu ibadahnya.

Ibadah adalah kewajiban yang harus dilaksanakan oleh setiap muslim untuk dan karena Allah semata-mata dengan cara-cara yang telah ditetapkan secara pasti.

Setiap muslim akan

mempertanggungjawabkan pelaksanaan ibadahnya itu kelak kepada dan di hadapan Allah. Keutamaan shalat itu sendiri yaitu sebagai tiangnya agama, menambah iman dan amalan yang paling utama. Bentuk keteguhan agama yang terlihat yaitu dengan Rangga dan

(29)

Khan masih menjalankan shalat meskipun memang tidak semestinya berada di ruangan tersebut tetapi mereka tetap meniatkan untuk menjalankan shalat sebagai bentuk takwanya kepada Allah SWT.

Gambar 4.4

Rangga dan Khan Mempersoalkan Ujian di Hari Jumat Sign/Tanda

Teks:

“kalau dia menyuruh saya harus mengorbankan ibadah saya demi ujian, itu keterlaluan. Saya tidak mau bernegosiasi dengan ibadah”

(30)

Hal yang paling bergejolak pada Rangga dan Khan adalah saat akan mengikuti jadwal ujian yang bentrok dengan sholat Jumat. Tak terima dengan keputusan profesor yang membuat jadwal bentrok dengan sholat jumat, Rangga mengajak Khan menemui profesor tersebut untuk melakukan negosiasi. Tetapi Khan menolak, seperti halnya yang ia katakanan “kalau dia menyuruh saya harus mengorbankan ibadah saya demi ujian, itu keterlaluan. Saya tidak mau bernegosiasi dengan ibadah” ia lebih memilih ibadahnya dibandingkan dengan yang lainnya. Menggunakan tipe medium longshoot memperlihatkan suasana obyek yang dilakukan lebih jelas.

Khan sangat kecewa terhadap keputusan professor yang menjadwalkan ujian di hari Jumat. Hal ini yang membuat keduanya geram. Dengan Khan yang berkata “kalau dia menyuruh saya harus mengorbankan ibadah saya demi ujian, itu keterlaluan. Saya tidak mau bernegosiasi dengan ibadah” hal ini menjadi petanda bahwa ibadah itu tidak bisa dihalang-halangi dan tidak ada negosiasinya, apalagi dengan hari Jumat yang bertepatan dengan shalat Jumat. Jika ujiannya dilaksanakan sebelum shalat Jumat mungkin mereka juga tidak akan semarah ini.

Profesor seolah-olah menguji Rangga dan Khan yang sebagai minoritas. Rangga dan Khan pun tidak habis pikir, apa yang sebenarnya professor pikirkan.

Di hari Jumat sendiri adalah waktu yang sakral untuk lelaki muslim

(31)

mengerjakan shalat Jumat dan wajib hukumnya.

Shalat Jumat merupakan aktivitas ibadah shalat wajib yang dilaksanakan secara berjama'ah bagi lelaki Muslim setiap hari Jumat yang menggantikan shalat dzhuhur. Sebagai mana dalam Al Jumu'ah 62:9, “Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu diseru untuk melaksanakan salat pada hari Jumat, maka bersegeralah mengingat Allah SWT dan tinggalkanlah jual beli, dan itu lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui”.

Khan yang begitu teguh terhadap apa yang dibenarkannya menolak ajakan Rangga yang meminta negosiasi kepada professor. Menurutnya untuk urusan ibadah itu tidak ada negosiasi dan itu merupakan hak seseorang yang menganut agama dalam menjalankan kewajibannya kepada Tuhan. Negosiasi merupakan bentuk interaksi sosial saat

(32)

pihak - pihak yang terlibat berusaha untuk saling menyelesaikan tujuan yang berbeda dan bertentangan. Dan menurut Rangga cara bernegosiasi hal yang menolong untuk hal penting di hari Jumat, seperti ujian dan shalat Jumat bisa dikerjakan tanpa memilih salah satunya. Meskipun demikian Khan tetap memilih untuk menjalankan shalat Jumat, dari pada menjalankan hal yang penting juga untuk dikerjakan menyangkut pendidikannya.

Gambar 4.5

Khan Dan Stefan Membicarakan Tentang Makna Berdoa Sign/Tanda

(33)

“yang terpenting itu berdoa dan berusaha”

Signifier/Penanda Signified/Petanda

Stefan sebagai atheis memang tidak pernah melakukan kegiatan ibadah salah satunya yaitu berdoa. Ia melihat Rangga yang selalu melakukan kegiatan ibadahnya di manapun itu. Stefan memiliki pandangan jika ingin menggapai target harus mempunyai otak yang cerdas dan juga usaha. Lain halnya dengan Khan, ia memaknai semua itu dengan caranya sebagai muslim dan ia pun mengatakan “ yang paling penting itu berdoa dan berusaha”, sambil mempraktekkan dengan mengangkat kedua tangan. Menggunakan tipe medium shot dan foreground terlihat jelas dan fokus utama yang dilakukan objek dengan latar belakang yang tidak menarik sehingga terlihat blur.

Khan yang mengangkat kedua tanggannya merupakan simbol orang islam dalam berdoa serta syal yang digunakan Khan bukan hanya sekedar hiasan sebagai penghangat di musim dingin saja tetapi bisa pula digunakan sebagai peci untuk menjalankan shalat. Bagi Khan doa adalah salah satu sumber yang menjadi kekuatan bagi dirinya dalam menjalani kehidupan sebagai minoritas dan Khan seorang muslim ia sangat mempercayai akan doa dan usaha, itu merupakan bentuk keteguhan yang dimilikinya sebagai muslim.

Sedangkan memang apa yang dikatakan Stefan itu ada benarnya, yaitu membutuhkan otak yang cerdas dan juga usaha hal ini juga merupakan keteguhan dia sebagai Atheis. Dalam agama apapun itu berdoa adalah salah

(34)

satu kunci dari keberhasilan dan bentuk dari pada iman itu sendiri, hal ini yang sering dilakukan oleh setiap manusia yang memiliki keyakinan apapun itu kepercayaannya sehingga membentuk sebuah keteguhan agama yang diiringi doa sebagai kekuatannya berbeda halnya dengan Atheis yang memiliki kepercayaan sendiri sehingga Khan dan Stefan tidak memiliki sinkronitas dalam menyakini akan makna doa.

Gambar 4.6

Rangga Bernegosiasi Dengan Professor Sign/Tanda

(35)

Gambar 3 Gambar 4 Teks:

Gambar 1

“Bismillahirrohmanirrohim.itu benar?” Gambar 2

“dengan nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang” Gambar 3

“Tuhan anda akan mengerti ada hal penting dalam hidup anda yang harus anda lakukan dan anda akan melewati shalat Jumat, Tuhan anda maha penyayang”

Gambar 4

“ini tidak semudah itu pak, ini tentang keyakinan saya”

Signifier/Penanda Signified/Petanda

Rangga pun menemui Profesor yang mempromosikan beasiswanya. Ketika Rangga mulai bernegosiasi dan memberi tahu halangan di hari Jumat,

Bismillahirohmanirrohim merupakan awalan yang sering diucapkan umat Islam jika melakukan sesuatu hal. Di mana professor yang sedang berbincang

(36)

professor tidak memperdulikan hal tersebut.

Bahkan ia menguji Rangga dengan ucapan “Bismillahirrohmanirrohim” yang berarti “dengan nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang” terdapat di gambar 1 dan 2, dengan medium close up shot terlihat percakapan keduanya sangat memanas dan professor dengan mimik yang begitu menantang Rangga.

Dari hal tersebut professor menyimpulkan dengan berkata “Tuhan anda akan mengerti ada hal penting dalam hidup anda yang harus anda lakukan dan anda akan melewati shalat Jumat, Tuhan anda maha penyayang” terdapat di gambar 3 dengan menggunakan close up ekspresi Rangga terlihat sangat kesal dan kecewa. Rangga tidak berhasil mendapatkan dispensasi dari Profesor tersebut. Apalagi profesornya sempat berucap

dengan Rangga perihal negosiasi ujian yang bentrok dengan shalat Jumat. Dengan tangan yang memegang pingang dan raut wajah yang sedikit menyepelekan, merupakan petanda bahwa professor menantang Rangga dan bahkan menguji dia terkait keteguhan agama yang dimiliki Rangga.

Kemudian di gambar 2 profesor pun menjawab apa yang ia tanyakan kepada

Rangga tentang arti

Bismillahirohmanirrohim, yang berarti “dengan nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang”, bisa diinterpretasikan bahwa dari hal sekecil ini Islam memiliki kekuatan yang besar terhadap agama lainnya, sehingga setidaknya professor mengetahui arti tersebut yang bisa dikatakan Tuhan adalah maha memberi dan menyayangi segala umatnya.

(37)

untuk tidak meluluskannya terhadap mata kuliah tersebut. Ia berusaha menyakinkan professor dengan mengatakan di gambar 4 “ ini tidak semudah itu pak, ini tentang keyakinan saya”. Namun apapun yang Rangga lakukan sia-sia tidak menghasilkan negosiasi yang baik.

dengan dia yang berkata “Tuhan anda akan mengerti ada hal penting dalam hidup anda yang harus anda lakukan dan anda akan melewati shalat Jumat, Tuhan anda maha penyayang”, ia mencoba menginterpretasikan dengan pengertian Bismillah di mana Allah maha pengasih lagi maha penyayang, yang ia tafsirkan dengan tidak menjalankan shalat tidak akan menjadi masalah dan Tuhan akan mengerti. Namun pada kenyataanya shalat adalah sesuatu hal yang wajib dilaksanakan apalagi shalat Jumat yang sakral bagi kaum laki-laki. Rangga yang menatap professor dengan sengit adalah ungkapan kekesalannya terhadap kebijakan kampus. Mungkin jika jamnya tidak bertepatan shalat Jumat ini tidak akan menjadi perdebatan yang besar.

Tidak salah jika Rangga bersih tegang terhadap apa yang menjadi haknya

(38)

sebagai muslim, dengan wajah yang sedikit kesal dan tangan yang menunjukan ke dadanya sebagai simbol pertahanan keyakinannya dan dia sangat kecewa terhadap apa yang Profesor putuskan, tidak mentoleransi apapun yang Rangga katakan. Ia cenderung tidak mau tahu terhadap alasan apapun karena lebih berdasarkan hal yang ia tahu tentang konteks yang dianggapnya benar.

Gambar 4.7

Stefan Menawari Rangga Makanan Sign/Tanda

(39)

Teks:

“aku ngga bisa, hari ini puasa tidak makan dan minum”

Signifier/Penanda Signified/Petanda

Stefan dengan semangatnya memanggil Rangga dan membawa dua porsi makanan berisi ayam yang salah satunya akan di berikan kepada Rangga. Rangga menolak makanan yang ditawarkan oleh Stefan dengan berkata “ aku ngga bisa hari ini puasa, ngga makan dan minum”.Dengan menggunakan medium shoot ini menandakan gestur Rangga yang memaklumi Stefan atheis dengan tersenyum dan menepuk pundaknya.

Dengan Rangga yang berkata “aku ngga bisa, hari ini puasa tidak makan dan minum”, diinterpretasikan bahwa Rangga sedang menjalankan puasa, lebih tepatnya puasa sunnah.

Dengan wajah yang tenang Rangga memberikan penjelasan kepada Stefan yang Atheis perihal puasanya.

Puasa adalah menahan atau meninggalkan makanan atau minuman pada waktu yang telah ditetapkan yaitu sejak terbit fajar sampai tenggelamnya matahari.

Sebagai minoritas Rangga tetap menjalankan hal tersebut yaitu puasa sunnah. Waktu untuk berpuasa di luar negeri itu lebih lama ketimbang di Indonesia itu sendiri, tetapi ia tetap teguhdalam menjalankan puasanya ditengah godaan yang terus

(40)

berdatangan.

Hal ini menjadi petanda bahwa dengan berpuasa seseorang bisa dengan otomatis menahan segala amarah dan nafsu dalam diri, serta hikmah lainnya pun datang dari segi kesehatan yang setidaknya mengistirahatkan organ tubuh dari berbagai aktivitas pencernaan. Namun Rangga melakukan hal ini agar senantiasa dekat dengan sang pencipta dan mempunyai niatan tersendiri terhadap puasanya.

Gambar 4.8

Perbincangan Rangga dan Stefan Tentang Shalat Sebagai Premi Asuransi Sign/Tanda

(41)

“shalat, puasa, ibadah haji itu termasuk premi asuransi saya ke Tuhan. Saya tidak merasa terbebani dengan apa yang saya lakukan. Saya bahagia, saya merasa

tenang”

Signifier/Penanda Signified/Petanda

Stefan seorang penganut atheis yang memiliki rasa ingin tahu tinggi terhadap Islam. Stefen sering bertanya kepada Rangga tentang Tuhan, sholat dan puasa. Stefen pernah bertanya kepada Rangga “kenapa sih Tuhan kamu suka menyiksa umatnya?”, “memang tujuan puasa itu apa?”, “bagaimana kalau ternyata Tuhan kamu tidak ada?”Semua pertanyaan Stefen tersebut dapat dijawab Rangga dengan baik. Rangga menjawab dengan menganalogikan premi asuransi. Rangga hanya menjawab “ shalat, puasa, ibadah haji itu termasuk premi asuransi saya ke Tuhan”. Selain itu juga Rangga menambahkan “saya tidak pernah merasa terbebani dengan apa

Dengan terlihat santainya Rangga menjelaskan kepada Stefan perihal kegiatan-kegiatan ibadah yang sering ia lakukan. Ia menganalogikan shalat, puasa, ibadah haji sebagai premi asuransi ke Tuhan.

Hal ini diinterpretasikan sebagai bentuk tabungan akhir hayat yang nantinya menjadi bekal dan penolong di akhir usia nanti. Kewajiban-kewajiban berbentuk kegiatan ibadah itulah yang hanya dipertanggung jawabkan ketika maut menjemput. Untuk itu Rangga banyak melakukan serangkaian kegiatan ibadah terkait Islami yang memang sudah jelas diatur dan diperintahkan dengan komponen yang sama dan aturan yang sama.

(42)

yang saya lakukan. Saya bahagia, saya merasa senang”.

Efek yang didapatkan setelah melaksanakan semua kewajiban itu yaitu tenang dan bahagia, seperti halnya yang Rangga ungkapkan. Ini menjadi petanda bahwa berkomunikasi dengan Tuhan itu memberikan ketenangan dan rasa bahagia, sebab kepada Tuhan lah tempat mengadu dan Tuhan juga sendiri yang memberi rizki kepada umatnya. Asuransi sendiri merupakan salah satu cara pembayaran ganti rugi kepada pihak yang mengalami musibah, yang dananya diambil dari iuran premi seluruh peserta asuransi.

Namun hal yang sangat disayangkan yaitu bentuk keteguhan agama itu diibaratkan sebagai asuransi. Yang memiliki artian setiap nasabah asuransi harus membayar kewajiban berupa premi asuransi setiap waktunya dan pihak asuransi akan mengcover semuanya. Ini menandakan adanya timbale balik yang pamrih.

(43)

Sedangkan Tuhan, Allah SWT tidaklah bersikap seperti itu. selalu pamrih dan senantiasa melindungi umatnya. Jadi sedikit janggal ketika hal ini diasumsikan sebagai asuransi, jadi maknanya akan berbeda dengan apa yang sebenarnya.

Gambar 4.9

Rangga Membaca Alquran (mengaji) di Perpustakaan Sign/Tanda

(44)

Gambar 2

Signifier (Penanda) Signified (Petanda)

Dalam adegan tersebut Rangga sedang mengaji di dalam perpustakaan kampusnya. Dengan khusyu Rangga melantunkan ayat-ayat suci alquran. Menggunakan tipe medium close up shoot memberikan kejelasan terhadap apa yang sedang diperlihatkan Rangga dengan mimik yang ditampilkan serta baitan ayat-ayat.

Membaca alquran (mengaji) adalah kiat-kiat dalam memperteguh agama dan salah satu juga menjadi komponen agama itu sendiri. Alquran sendiri adalah sumber agama pertama dan utama. Tujuannya ialah menjadi pedoman atau petunjuk bagi umat manusia dalam kehidupan, selain itu juga setiap ayat yang dibaca memiliki tingkat pahala yang tinggi.

Ini adalah cara lain Rangga untuk memperlihatkan rasa sayangnya terhadap Allah SWT serta memperkuat

(45)

keteguhan agamanya dan ia tidak merasa sungkan dalam menjalankan kegiatan ibadahnya meskipun memang lingkungan sekitar memandang aneh tetapi apa yang diperlihatkan Rangga sangat lah jarang orang lakukan dan ia sangat mengkhayati setiap ayatnya.

Gambar 4.10

Rangga Mengumandangkan Adzan di Atas Menara Eiffel Sign/Tanda

Signifier/Penanda Signified/Petanda

Rangga mengumandangkan adzan karena sudah memasuki waktu mahgrib,

Rangga mengumandangkan adzan ketika sedang berada di atas menara

(46)

Dengan medium close up terlihat Rangga yang khusyu mengumandangkan adzan.

Eiffel, melihat keindahan Paris bersama istrinya Hanum. Terlihat Rangga dengan mengangkat tangan kanan dan meletakkan tangan ketelinga kanan sebagai adab atau tata cara dalam adzan itu sendiri.

Adzan merupakan panggilan bagi umat islam untuk memberitahu masuknya shalat fardu, dikumandangkan oleh seorang muadzin setiap shalat lima waktu. Rangga bukan saja mengumandangkan adzan sebagai tanda masuknya shalat mahgrib, akan tetapi lebih mensyukuri keagungan dari sang pencipta. Sebab dia mengumandangkan adzan tepat berada di puncak menara Eiffel yang diinterpretasikan sebagai tempat wisata yang menyuguhkan hamparan alam Eropa yang indah dilihat dari puncak Eiffel tersebut. Bisa dimaknai demikian karena kumandang adzan yang pertama berbunyi “Allahuakbar”

(47)

yang berarti “Allah Maha besar”,petanda bahwa segala apa yang dilihat dibumi ini merupakan ciptaan Allah tiada lainnya. Seperti itulah makna adzan yang terkonstruksi dari adegan ini.

Gambar 4.11

Guru Ayse Meminta Untuk Melepas Kerudung Sign/Tanda

Teks: “saya tidak bisa”

Signifier/Penanda Signified/Petanda

(48)

terutama Leon di sekolah. Kerudung adalah penyebab utamanya. Karena terlalu sering di-bully, Guru Ayse sempat membujuk Ayse untuk membuka kerudungnya. Namun, Ayse tetap tidak mau membuka kerudungnya. Dengan berkata “saya tidak bisa”. Menggunakan medium close up shot memperjelas mimik Ayse yang tidak senang terhadap apa yang dibicarakan gurunya itu.

menginterpretasikan sebuah ungkapan yang menolak sesuatu hal yang bertentangan dengan ketidak sukaan atau ketidak setujuan dengan hal yang bertentangan dengan apa yang ada dalam diri kita. Meskipun masih kecil Ayse sudah bisa memegang teguh prinsip dan pilihannya. Meskipun memang anak-anak seusianya tidak menggunakan hijab dikarenakan anak kecil disana memeluk keyakinan atau agama di luar islam (non muslim), di mana dalam agama mereka tidak mengenal arti hijab itu sendiri dan Ayse menolak untuk melepas hijabnya sebagai bentuk keyakinan Ayse dalam menjalankan perintah dalam agamanya. Dia berani tampil beda dari yang lain sebagai identitas kalau dia seorang muslim di tengah-tengah temannya yang mayoritas non muslim. Perlakuan bully yang didapatkan oleh Ayse memang sesuatu hal yang berdampak

(49)

buruk, apalagi dengan usianya yang terhitung masih kecil. Bully merupakan hal yang mengandung unsur kekerasan atau pelecehan baik secara fisik maupun secara psikis. Secara verbal misalnya dengan memberikan panggilan yang bersifat mengejek, memarahi, menghina atau mencela.

Maka dari itu hijabnya buat dia adalah penolong dari berbagai hal. Dengan raut wajah sedih Ayse berusaha menyakinkan gurunya untuk tidak memaksakan apa yang sudah Ayse pilih.

Gambar 4.12

Fatma Sebagai Agen Muslim Sign/Tanda

(50)

Teks:

“dengan jilbabku ini aku wajib menjadi agen muslim yang baik agar segala sesuatunya lebih berkah dan damai”

Signifier/Penanda Signified/Petanda

Hanum tidak mengerti kenapa Fatma hanya diam dan tidak berbuat apa-apa ketika seseorang mengejek agamanya. Fatma menyelesaikan hal tersebut dengan caranya, ia menjelaskan “dengan jilbabku ini aku wajib menjadi agen muslim yang baik agar segala sesuatunya lebih berkah dan damai”.

Dengan perkataan Fatma yang mengatakan “dengan jilbabku ini aku wajib menjadi agen muslim yang baik agar segala sesuatunya lebih berkah dan damai”. Menginterpretasikan Fatma ingin memberikan image yang baik tentang islam kepada orang-orang yang sedikit antipati terhadap islam atau pun orang islam itu sendiri. Dengan memegang jilbabnya ia ingin memberi tahu Hanum, jika jilbabnya itu bukan untuk ditakuti melainkan menyebarkan kebaikan dan keteguhan dirinya dalam memperkenalkan agama islam kepada yang lainnya.

Menjadi agen muslim berarti menjalankan apa yang agama ajarkan untuk memberikan kebaikan karena cara itu salah satu yang ampuh dalam

(51)

menyebarkan pengaruh islam atau pun image islam itu sendiri tanpa harus menjadi konflik yang menimbulkan perpecahan ketika satu diantara lainnya ada yang memulai sesuatu hal yang tidak baik, Cukuplah eksistensi itu ditunjukkan dengan sikap baik individu yang tidak ternodai oleh bentuk-bentuk fanatisme, itulah makna yang dimaksud Fatma ketika ia mengatakan lebih berkah dan damai. Hal yang memperkuat adanya perintah berhijab yaitu salah satunya dalam Q.S. An-Nur: 31 “ Dan katakanlah kepada wanita yang beriman : “hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluan-nya dan janganlah mereka menampakkan perhiasan, kecuali (biasa) nampak dari padanya”

(52)

4.3. Pembahasan

Dalam menginterpretasikan keteguhan agama dalam film 99 Cahaya di Langit Eropa Part 1, penulis menggunakan semiotika Ferdinand de Saussure, sebagai sseorang ahli linguistic, Saussure melihat bahwa bahasa adalah jenis tanda tertentu. Prinsip dari teori Saussure ini mengatakan bahwa bahasa adalah sebuah sistem tanda, dan setiap tanda itu tersusun dari dua bagian, yakni signifier (penanda) dan signified (petanda). Penanda adalah bentuk-bentuk yang diambil oleh suatu tanda, seperti bunyi, gambar, atau coretan yang membentuk kata, sedangkan pertanda adalah konsep dan makna-makna atau hal yang dipresentasikan melalui tanda itu sendiri.

Keteguhan yang bisa dikatakan sebagai sesuatu hal yang tidak goyah, kuat berpegang pada sesuatu atau tidak berubah pendirian akibat pengaruh sesuatu. Dari pengertian tersebut jelas terlihat tidak adanya unsur yang bisa meruntuhkan sesuatu yang menjadi keyakinannya, hal apapun itu tidak membuat niatannya luluh lantah akan hal yang menjadi penghalang. Seseorang yang teguh akan tetap berdiri tegap jika dihadangkan dengan segala bentuk rintangan. Dalam film 99 Cahaya di Langit Eropa Part 1 menunjukkan akan adanya tanda-tanda yang mengindikasikan makna keteguhan agama itu sendiri. Seperti halnya penelitian yang penulis dapatkan yaitu baik dari segi tanda, gambar, suara dan teks semua memiliki makna tersebut, meskipun memang pesan-pesan yang disampaikan sudah mengalami konstruksi, sehingga seolah-olah penonton memaknainya dari segi baik-baiknya saja perihal film religi itu sendiri yang memiliki basic pendidikan agama dan pengetahuan tentang keagamaan terutama Islam.

(53)

Keteguhan dalam Islam yaitu Tsabat , tuntutan mutlak bagi setiap muslim yang benar dengan keimanannya dan menghendaki jalan yang lurus dengan tekad yang kuat dan berdasarkan petunjuk. Petunjuk yang membuat seseorang bisa yakin akan hal yang akan dicapainya dan juga tekad yang tinggi akan mensuksesan segala niatan baik tersebut. Keteguhan itu sendiri penting adanya, sebab terlihat banyak orang-orang yang dengan mudah terjerat hal-hal yang buruk, putus asa, fitnah, ujian atau cobaan yang kadang-kadang dijadikan seseorang menjadi jalan pintas untuk mengerjakan hal-hal yang tidak baik. Dengan adanya basic keteguhan agama yang menjadi pedoman dan juga pengukuhan diri terhadap hal-hal yang akan merugikan diri sendiri serta pengecewaan terhadap sang pencipta. Seseorang yang memiliki keteguhan biasanya memberi pengaruh baik bagi orang disekitarnya dan mendorong untuk menjadi penggerak . Aspek-aspek yang bisa memperteguh agama yaitu :

1. Teguh dalam memeluk agama Allah SWT 2. Tetap komitmen terhadap agama

3. Teguh dalam memegang prinsip dan janji.

Sudah terlihat hal-hal yang dijabarkan mengarah kepada bagaiman kita bisa peduli terhadap keyakinan kita, bagaimana kita mengaplikasikan rasa sayang kita terhadap Allah SWT dan juga patuh terhadap larangan-larangannya. Ketiga aspek ini mendominasi semua yang telah diatur oleh Islam itu sendiri. Seperti halnya yang dilakukan oleh tokoh-tokoh yang terdapat di film 99 Cahaya di Langit Eropa part 1 seperti menyangkut aturan-aturan Islam tentang urgensi makanan halal dan haram. Hal yang Rangga lakukan ketika meminta “daging

(54)

ayam” kepada penjual di kantin kampusnya, menjadi petanda ia begitu selektif dalam memilah dan memilih komposisi makanan. Islam sendiri sudah mengaturnya dengan rapi perihal larangan tersebut. Makanan halal adalah makanan yang disyahkan oleh agama atau berdasarkan syara. Dalam Islam makanan yang haram ada dua jenis, yaitu haram karena zatnya. Maksudnya bahwa asal makanan tersebut memang sudah haram, seperti daging bangkai, darah, babi, khamr, dan haram karena sebab yang tidak berhubungan dengan zatnya. Maksudnya asal makanan tersebut adalah halal. Akan tetapi menjadi haram karena ada sebab yang tidak berkaitan dengan makanan tersebut. Misalnya ayam hasil mencuri, sesajen perdukunan, makanan yang disuguhkan perdukunan. Firman Allah dalam Al-maidah ayat 3 :

“diharamkan bagimu memakan bangkai, darah daging babi, dan (daging) hewan yang disembelih bukan atas nama Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu sembelih. Dan diharamkan pula yang disembelih untuk berhala. Dan diharamkan pula mengundi nasib dengan azlam (anak panah) karena itu suatu perbuatan fasik”.

Ketentuan inilah yang menadasari larangan tersebut. Khususnya ketika berada di Negara atau daerah yang memang kondisinya sulit untuk mendapatkan makanan halal, maka hal yang sebaiknya dilakukan adalah seperti halnya Rangga yang menanyakan terlebih dahulu komposisi dari makanan tersebut, meskipun memang sulit untuk diakurasi tingkat kehalalannya setidaknya tidak mengurangi dari esensi keteguhan agama itu sendiri. Hal ini Rangga lakukan karena dia ingin

(55)

menunjukkan rasa sayangnya terhadap sang pencipta dengan tidak melanggar segala aturan yang telah ditetapkan dalam agama Islam, salah satunya tidak memakan makanan yang tidak dihalalkan. Meskipun memang banyak godaan seperti halnya Stefan yang menawarinya untuk mencicipi sedikit daging babi tersebut karena lezat dan murah, hal itu tidak menggoyahkan apa yang Rangga yakini.

Keteguhan merupakan cerminan bagi kepribadian seseorang dan tenang bagi orang di sekitarnya. Orang-orang yang kokoh dan kuat pendiriannya, umumnya banyak menaruh kepercayaan, banyak kebaikan yang membekas, menebarkan rasa tenang dan simpati. Bisa terlihat di sini salah satunya tokoh Rangga yang senantiasa menebarkan rasa tenang sehingga non muslim pun menaruh simpati yang begitu besar. Adapun hasil penemuan penelitian yang terkait yaitu ketika Rangga dan rekannya Khan dihadapkan dengan ruangan ibadah yang disediakan pihak kampus dengan berbagai macam agama beribadah di ruangan tersebut, meskipun demikian mereka tetap menjalankan shalat diruangan tersebut. Karena pada dasarnya mereka terpaku dengan ibadah shalatnya yang tidak mungkin ditinggalkan, meskipun memang kondisinya tidak sesuai yang diharapkan. Sebab shalat adalah salah satu kegiatan komunikasi dengan sang pencipta. Haruslah memiliki kekhusyuan tersendiri dalam melaksanakan ibadahnya, jika disatukan dalam ruangan tersebut. Shalat adalah ritual dalam agama Islam, yang secara singkat, sering diartikan sebagai sebuah ibadah yang diawali ucapan takbir (menggunakan nama Tuhan) dan diakhiri

(56)

dengan mendoakan keselamatan bagi seluruh umat manusia. Hal ini terdapat dalam firman Allah:

“Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalatb itu (sebagaimana biasa. Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. “ (An-Nisa[4]: 103). Firman Allah: “Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah).berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu. “(Al-Baqarah [2]: 238).”

Hal ini jelas mengkontruksi penonton baik secara pesan maupun interpretasi itu sendiri. Sebab, shalat memanglah bisa dilakukan di manapun itu, kantor atau pun hanya diruangan tertentu. Tetapi hal yang menjadi permasalahannya, Islam sendiri tidak mengenal istilah ruangan toleransi untuk beribadah. Ibadah itu jelas dijalankan berdasarkan aturannya masing-masing dan tempat yang dikhususkan. Islam tidak menggunakan simbol-simbol keagamaan seperti halnya terdapat lilin dan lainnya. Jika konteksnya hanya mengadakan forum antar umat beragama mungkin bisa dikatakan sebagai ruangan toleransi, tetapi hal ini seperti meyudutkan kekhususan dan kesakralan ibadah itu sendiri. Shalat merupakan keutamaan sendiri dalam menjaga keteguhan agama, sebab shalat bisa diidentikkan sebagai wujud syukur itu sendiri. Hal lainnya yang penulis temukan terkait keteguhan agama yaitu ketika Rangga menjalankan puasa. Rangga menjalankan puasa sunnah yang sering dilakukan oleh muslim pada

(57)

umumnya, meskipun memang jarak waktu yang dilewati di luar negeri cenderung lebih lama dari pada di Indonesia. Namun dia tetap menjalankannya. Puasa terdiri dari puasa Ramadhan dan puasa sunnah. Puasa sunnah mengandung pahala besar dan tambahan pahala, dan sebagai penambal kekurangan yang ada dalam puasa wajib. Hikmah menjalankan puasa yaitu salah satunya melatih diri bahwa Allah SWT selalu mengawasi. Allah SWT berfirman:

“Hai orang-orang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” (Albaqarah[2]: 183).

Taqwa adalah sebuah kata yang bisa diartikan antara takut siksa Allah SWT dan mengharapkan akan rahmat-Nya. Jadi ada dua kemungkinan seseorang menjalankan puasa. Hal lainnya juga bisa dilakukan dengan cara membaca Al-Quran. Seperti yang Rangga lakukan disela-sela perkuliahannya, ia menyempatkan untuk membaca Al-Quran di perpustakaan kampusnya. Meskipun memang teman-temannya salah satunya Stefan merasa heran dengan apa yang sering Rangga lakukan itu tidak menyudutkan Rangga atau merasa jera dalam menjalankan kegiatan-kegiatan ibadahnya. Sebab membaca Al-Quran adalah salah satu komponen yang bisa memperteguh agama Rangga. Al-Quran adalah sumber agama (juga ajaran) Islam pertama dan utama. Menurut keyakinan umat Islam yang diakui kebenarannya oleh penelitian ilmiah, Al-Quran adalah kitab suci yang memuat firman-firman(wahyu) Allah SWT. Dengan kita membaca perayatnya kita sudah mendapatkan pahala yang begitu besar.

(58)

Seseorang sudah memiliki keteguhan agama yang kuat, maka dalam kesehariannya pun akan selalu membawa nafas agama dalam hidupnya. Selalu mengingat apa yang telah diatur, apa yang telah diperbolehkan, bagaimana cara bersyukur dan lainnya terkait pendalaman kuat terhadap keyakinannya. Seperti halnya ketika Rangga mengumandangkan adzan di atas menara Eiffel. Ia menyerukan adzan sebagai petanda sudah memasuki waktu shalat magrib. Namun bisa juga diinterpretasikan dengan rasa syukur atas keangungan yang Allah SWT miliki, alam semesta, keindahan Eropa dan pencapaian yang Rangga utarakan melalui adzan tersebut. Adzan merupakan pemberitahuan tentang masuknya waktu shalat, tempatnya, dan mengajak kepada shalat berjamaah yang mengandung banyak kebaikan. Seharusnya memanglah demikian, mengumandangkan adzan untuk mengajak seseorag shalat, tetapi amat disayangkan karena ia tidak sesuai pada tempatnya. Hal ini juga terkonstruksi sehingga makna yang diperlihatkan jadi terkesan berlebih-lebihan.

Hal lainnya yang menyimpang yaitu ketika Rangga mengasumsikan shalat, puasa dan ibadah haji itu termasuk premi asuransi kepada Tuhan. Hal ini menjadi berbeda maknanya. Sebab, premi asuransi bisa dikatakan sebagai iuran berbayar setiap waktu yang telah ditetapkan dan memiliki efek pamrih. Dengan mengikuti asuransi berarti menginginkan jaminan. Sedangkan kegiatan ibadah itu sendiri adalah kewajiban seorang umat kepada sang pencipta atas segala nikmat, syukur dan tidak berpikir hal lainnya diluar kuasa Allah SWT. Meskipun memang pada dasarnya Rangga dengan senang hati dan bahagia menjalankan serangkaian

(59)

kegiatan ibadahnya tetapi konteksnya sudah jauh berbeda dengan makna sebenarnya terkait keteguhan agama.

Selain serangkaian kegiatan ibadah sebagai bentuk keteguhan agama, hal lainnya yang ditampilkan dalam film ini juga memberikan pesan tentang urgensi berhijab atau menutup aurat. Seperti yang diketahui aurat adalah batas atau bagian dari anggota tubuh seseorang yang wajib ditutupi dan dilindungi supaya tidak dapat dilihat oleh orang lain yang diharamkan melihatnya. Hukum menutup aurat berdasarkan surah Al-Ahzab ayat 59, “ wahai Nabi, Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri orang mukmin, hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Terlihat sosok anak kecil Ayse yang enggan untuk membuka hijabnya karena gurunya merasa khawatir terhadap dia yang sering dibully teman-temannya. Tetapi Ayse tidak mengiyakan permintaan gurunya. Hal ini menjadi petanda bahwa hijab merupakan cerminan dan identitas sebagai muslim yang taat akan aturan Allah SWT. Selain itu juga tokoh Fatma yang merepresentasikan wanita berhijab itu adalah agen muslim. hal ini diinterpretasikan bahwa seorang wanita muslim yang berhijab itu memiliki tugas untuk memberikan penyebaran Islam dengan baik. Seperti halnya di Negara minoritas seperti Eropa yang memang masih banyak melihat aneh wanita-wanita berhijab. Namun dengan kelembutan dan sikap yang baik akan memebrikan kesan yang baik pula di mata orang luar.

Namun keteguhan seseorang juga tidak selalu berjalan mulus dan kokoh. Ada hal yang bisa meruntuhkan sikap keteguhan seseorang, salah satunya yaitu

(60)

yang terlihat di film ini. Ketika Rangga yang bernegosiasi dengan Proffesor perihal ujian di hari Jumat. Namun Proffesor tidak mengindahkan apa yang Rangga katakan. Professor juga mengancam Rangga dengan beasiswa yang dipromosikannya untuk Rangga. Maka dari itu meskipun Rangga bersih tegang meminta dispensasi, pada akhirnya Rangga tidak menjalankan shalat Jumat meskipun memang sebelumnya Rangga berada di mesjid tetapi kembali ke kelas untuk menjalankan ujian. Mejadi petanda tidak ada manusia yang sempurna, karena manusia yang masih terikat dengan urusan duniawi pasti akan merasakan hal yang Rangga rasakan. Karena kesempurnaan hanyalah miliki yang Maha Pencipta dan hal tersebut adalah segelintir ujian kecil yang ditampilkan dari konsep keteguhan agama itu sendiri.

Gambar

Gambar 3  Teks:

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan penelitian ini adalah (i) untuk mengkaji dan menganalisis penerapan program kesejateraan sosial terhadap masyarakat miskin di kota Makassar; (ii) untuk

Dengan meminjam perspektif posmodernisme dari Erianto diperoleh pengertian bahwa media sebagai agen konstruksi pesan, berita bukanlah merupakan cermin dan refleksi dari

Sementara menurut istilah (terminologis) terdapat beberapa pengertian tentang karakter, didalam buku Barnawi dan M. 2) Hermawan kartajaya mendefinisikan karakter

Pengolahan data di instalasi gudang farmasi sudah terkomputerisasi namun juga bisa dilakukan secara manual jika ada kendala pada SIM, untuk perencanaan obat

Dalam perlawanan, untuk satu-satu gelanggang, bola tidak boleh melebihi dari 12 biji.. atau memukul, sebaik-baiknya bola digenggam denga n tangai

Hasil: Berdasarkan aspek legal diketahui bahwa penye- lenggaraan Jamsoskes dalam bentuk BLU tidak bertentangan dengan UU dan peraturan yang ada, dengan memperhatikan beberapa

Temuan penelitian merupakan data yang diperoleh dari hasil kualitatif. Suatu penelitian akan menghasilkan sesuatu yang baru sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan oleh

Konsumen pada umumnya mengalami dorongan impulse buying karena adanya keinginan subyektif untuk segera memiliki barang tersebut atau karena adanya bentuk