• Tidak ada hasil yang ditemukan

KUALITAS MEDIA BUDIDAYA DAN PRODUKSI UDANG GALAH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KUALITAS MEDIA BUDIDAYA DAN PRODUKSI UDANG GALAH"

Copied!
33
0
0

Teks penuh

(1)

KUALITAS MEDIA BUDIDAYA DAN PRODUKSI UDANG GALAH

(Macrobrachium rosenbergii) YANG DIPELIHARA PADA SISTEM

IMTA (INTEGRATED MULTI TROPHIC AQUACULTURE) DENGAN

KEPADATAN BERBEDA

ANINDILA FITRIA GHIFARINI

DEPARTEMEN BUDIDAYA PERAIRAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

(2)
(3)

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN

SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA*

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul “Kualitas Media Budidaya dan Produksi Udang Galah (Macrobrachium rosenbergii) yang Dipelihara pada Sistem IMTA (Integrated Multi Trophic Aquaculture) dengan Kepadatan Berbeda” adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.

Bogor, Juli 2013

Anindila Fitria Ghifarini

(4)

ABSTRAK

ANINDILA FITRIA GHIFARINI. Kualitas Media Budidaya dan Produksi Udang Galah (Macrobrachium rosenbergii) yang Dipelihara pada Sistem IMTA (Integrated Multi Trophic Aquaculture) dengan Kepadatan Berbeda. Dibimbing oleh EDDY SUPRIYONO dan ERI SETIADI.

Peningkatan kualitas air dan padat penebaran diharapkan dapat meningkatkan produksi udang galah. Penggunaan sistem IMTA bertujuan untuk memperbaiki kualitas air dalam pemeliharaan udang galah sehingga dapat meningkatkan sintasan dan padat tebar, mempercepat laju pertumbuhan, dan menguntungkan secara ekonomi. Penelitian dilaksanakan dengan rancangan acak lengkap dengan perlakuan berupa perbedaan padat penebaran awal, yaitu (A) 10 ekor/m2, (B) 20 ekor/m2, (C) 30 ekor/m2. Setiap perlakuan diulang tiga kali. Air dialirkan dengan mengintegrasi budidaya udang galah secara tertutup yang dipadukan dengan sistem biofilter. Berdasarkan pemeliharaan udang galah pada sistem IMTA selama 72 hari, perlakuan yang paling baik adalah pada padat tebar 10 ekor/m2. Hal tersebut didukung dengan suhu (25 – 31,3°C), pH (6,6 – 8,0), kadar DO (3,0 – 5,7 mg/L), kadar nitrat (0,081 – 0,338 mg/L) dan kadar fosfat (0,152 – 0,338 mg/L) yang masih layak untuk budidaya, serta kadar amonia (0,0002 – 0,0593 mg/L) dan kadar nitrit (0,007 – 0,109 mg/L) yang rendah, juga didukung pula dengan sintasan, laju pertumbuhan harian, bobot rata-rata akhir, dan economic return yang paling tinggi.

Kata kunci: IMTA, kualitas air, padat tebar, udang galah.

ABSTRACT

ANINDILA FITRIA GHIFARINI. Water Quality and Production of Freshwater Giant Prawn (Macrobrachium rosenbergii) cultured at IMTA System (Integrated

Multi Trophic Aquaculture) with Different Stocking Densities. Supervised by

EDDY SUPRIYONO and ERI SETIADI.

Improving water quality and stocking densities are expected to increase freshwater giant prawn production. By using IMTA system is aimed to improve water quality which can increase survival rate, stocking densities, growth rate, and economically profitable. This research was carried out with complete random design with 3 treatments. The treatments were (A) 10 prawn/m2, (B) 20 prawn/m2, (C) 30 prawn/m2 of stocking densities, each treatments had 3 replication. Water flow was integrated with freshwater giant prawn cultivation and biofilter systems. Cultivation of freshwater giant prawn during 72 days in IMTA system had better treatment at 10 prawn/m2 densities. That treatment had temperature (25 – 31.3°C), pH (6.6 – 8.0), dissolved oxygen (3.0 – 5.7 mg/L), nitrate (0.081 – 0.338 mg/L), phosphate (0.152 – 0.338 mg/L) which still good for cultivation, the low of amonia (0.0002 – 0.0593 mg/L) and nitrite (0.007 – 0.109 mg/L), and also has the best survival rate, growth rate, final body weight, and economic return.

(5)

Skripsi

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Perikanan

pada

Departemen Budidaya Perairan

KUALITAS MEDIA BUDIDAYA DAN PRODUKSI UDANG GALAH

(Macrobrachium rosenbergii) YANG DIPELIHARA PADA SISTEM

IMTA (INTEGRATED MULTI TROPHIC AQUACULTURE) DENGAN

KEPADATAN BERBEDA

ANINDILA FITRIA GHIFARINI

DEPARTEMEN BUDIDAYA PERAIRAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

(6)
(7)

Judul Skripsi : Kualitas media budidaya dan produksi udang galah

(Macrobrachium rosenbergii) yang dipelihara pada sistem IMTA (Integrated Multi Trophic Aquaculture) dengan kepadatan berbeda

Nama : Anindila Fitria Ghifarini NIM : C14090052

Program Studi : Teknologi dan Manajemen Perikanan Budidaya

Disetujui oleh

Dr Ir Eddy Supriyono, MSc Pembimbing I

Eri Setiadi, SSi, MSc Pembimbing II

Diketahui oleh

Dr Ir Sukenda, MSc Ketua Departemen

(8)

PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas segala karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Tema yang dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan sejak bulan Juni 2012 di Instalasi Riset Lingkungan Perikanan Budidaya & Toksikologi, Cibalagung, Bogor ialah udang galah, dengan judul “Kualitas Media Budidaya dan Produksi Udang Galah (Macrobrachium rosenbergii) yang Dipelihara dengan Sistem IMTA (Integrated

Multi Trophic Aquaculture) dengan Kepadatan Berbeda”.

Dalam kesempatan ini, penulis mengucapkan terimakasih kepada Bapak Dr Ir Eddy Supriyono, MSc dan Bapak Eri Setiadi, SSi, MSc selaku pembimbing yang telah banyak memberikan arahan dan bimbingan kepada penulis, kepada Bapak Ir Irzal Effendi, MSi dan Bapak Dr Alimuddin, SPi, MSc sebagai dosen penguji tamu dan komisi pendidikan S1 Departemen Budidaya Perairan yang telah banyak memberikan kritik dan saran-sarannya, kepada Bapak Dr Ir Sukenda, MSc selaku Ketua Departemen Budidaya Perairan, kepada Balai Penelitian Pengembangan Budidaya Air Tawar, Sempur, Bogor dan pihak Instalasi Riset Lingkungan Budidaya & Toksikologi, Cibalagung, Bogor yang telah memberikan izin untuk melaksanakan penelitian, kepada seluruh dosen dan staff karyawan/karyawati Departemen Budidaya Perairan yang telah banyak membantu dalam menyusun skripsi ini, kepada ayahku Eddy Soesanto, ibuku Mujizat Kawaroe, dan adikku Anindya Ayu Pramesti yang tiada henti-hentinya memberikan cinta, kasih sayang, dukungan serta doanya yang selalu menyertai dalam tiap langkahku, kepada Riska Nurkarina dan Oktaviani Solestiawati sahabat satu perjuanganku, kepada Dayu, Renni, Putri, Chamong, Reza, Ares, Rizki, Seto dan sahabat-sahabat BDP’46 lainnya atas kebersamaan, dukungan, dan semangatnya, kepada Aprilya, Aldyanza, Ardissa, Febriana, Firda, Yohanna, Haifa, dan sahabat IPB lainnya atas canda tawa yang telah diberikan, dan kepada Ridwan Herdian atas waktunya untuk selalu hadir dalam tiap kesempatan, perhatian, tenaga, pikiran, serta doanya yang selalu menyertai.

Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.

Bogor, Juni 2013

(9)

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL...viii

DAFTAR GAMBAR... viii

DAFTAR LAMPIRAN... viii

PENDAHULUAN ... 1

Latar Belakang ... 1

Tujuan Penelitian ... 2

METODE ... 2

Prosedur Penelitian ... 2

Prosedur Analisis Data ... 3

HASIL DAN PEMBAHASAN ... 6

Hasil ... 6

Pembahasan ... 14

SIMPULAN DAN SARAN ... 17

Simpulan ... 17

Saran ... 17

DAFTAR PUSTAKA ... 18

LAMPIRAN... 20

(10)

DAFTAR TABEL

1 Alat pengukuran kualitas air pada wadah pemeliharaan udang galah. ... 3

2 Kisaran nilai kualitas air budidaya udang galah pada perlakuan padat tebar (A) 10 ekor/m2, (B) 20 ekor/m2, (C) 30 ekor/m2. ... 6

3 Kisaran plankton pada wadah budidaya udang galah... 14

4 Analisis ekonomi pemeliharaan udang galah pada sistem IMTA. ... 14

DAFTAR GAMBAR

1 Suhu pada media budidaya udang galah pada perlakuan padat tebar ( ) 10 ekor/m2, ( ) 20 ekor/m2, ( ) 30 ekor/m2. ... 7

2 Nilai pH pada media budidaya udang galah pada perlakuan padat tebar ( ) 10 ekor/m2, ( ) 20 ekor/m2, ( ) 30 ekor/m2. ... 7

3 Kadar oksigen terlarut pada media budidaya udang galah pada perlakuan padat tebar ( ) 10 ekor/m2, ( ) 20 ekor/m2, ( ) 30 ekor/m2. ... 8

4 Kadar amonia pada media budidaya udang galah pada perlakuan padat tebar ( ) 10 ekor/m2, ( ) 20 ekor/m2, ( ) 30 ekor/m2. ... 8

5 Kadar nitrit pada media budidaya udang galah pada perlakuan padat tebar ( ) 10 ekor/m2, ( ) 20 ekor/m2, ( )30 ekor/m2. ... 9

6 Kadar Nitrat pada media budidaya udang galah pada perlakuan padat tebar ( ) 10 ekor/m2, ( ) 20 ekor/m2, ( ) 30 ekor/m2. ... 9

7 Kadar Fosfat pada media budidaya udang galah pada perlakuan padat tebar ( ) 10 ekor/m2, ( ) 20 ekor/m2, ( ) 30 ekor/m2 ... 10

8 Sintasan udang galah pada perlakuan padat tebar (A) 10 ekor/m2, (B) 20 ekor/m2, dan (C) 30 ekor/m2. ... 10

9 Laju pertumbuhan harian udang galah pada perlakuan padat tebar (A) 10 ekor/m2, (B) 20 ekor/m2, dan (C) 30 ekor/m2. ... 11

10 Hasil Produksi udang galah pada perlakuan padat tebar (A) 10 ekor/m2, (B) 20 ekor/m2, dan (C) 30 ekor/m2. ... 11

11 Bobot mutlak udang galah pada perlakuan padat tebar (A) 10 ekor/m2, (B) 20 ekor/m2, dan (C) 30 ekor/m2 ... 12

12 Panjang mutlak udang galah pada perlakuan padat tebar (A) 10 ekor/m2, (B) 20 ekor/m2, dan (C) 30 ekor/m2. ... 12

13 Efisiensi pemberian pakan udang galah pada perlakuan padat tebar (A) 10 ekor/m2, (B) 20 ekor/m2, dan (C) 30 ekor/m2. ... 13

14 Bobot akhir rata-rata pada perlakuan padat tebar (A) 10 ekor/m2, (B) 20 ekor/m2, dan (C) 30 ekor/m2. ... 13

DAFTAR LAMPIRAN

1 Skema aliran air sistem IMTA ... 20

2 Hasil analisis statistik pertumbuhan udang galah ... 20

3 Biomassa biofilter ... 21

4 Grafik jumlah plankton pada wadah pemeliharaan udang galah... 22

(11)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Udang galah (Macrobrachium rosenbergii) merupakan salah satu komoditas air tawar bernilai ekonomis tinggi. Meskipun saat ini, udang galah telah banyak dibudidayakan, tetapi produksi yang ada belum dapat memenuhi kebutuhan pasar lokal yang cukup tinggi. Berdasarkan data KKP (2013), produksi udang galah pada tahun 2011 sebesar 617 ton yang menurun dibandingkan tahun 2010 yaitu sebesar 1.328 ton. Nilai tersebut masih belum stabil dan relatif kecil dibandingkan dengan target KKP untuk produksi udang secara keseluruhan tahun 2012 yaitu sebesar 450.000 ton. Rendahnya produksi udang galah disebabkan oleh rendahnya padat penebaran dan sintasan. Umumnya padat penebaran pada pembesaran udang galah dengan sistem semi intensif hanya berkisar antara 5 ekor/m2 dengan sintasan 45% (Rohmana et al. 2007), bahkan pembudidaya di daerah Ciamis dijumpai sintasan berkisar antara 12,30 – 35,70% (Hadie et al. 2010). Untuk meningkatkan produksi udang galah diperlukan budidaya secara intensif dengan padat tebar yang tinggi. Menurut Allsopp et al. (2008) budidaya intensif merupakan suatu sistem budidaya dengan kepadatan tinggi dan semua nutrisi diperoleh secara langsung dari pakan buatan dengan protein tinggi. Sementara itu udang hanya dapat meretensi protein pakan sekitar 16,3% - 40,87% (Yi et al. 2003), dan sisanya dibuang menjadi limbah budidaya dalam bentuk produk ekskresi, residu pakan dan feses (Pillay 2004). Oleh karena itu, dalam budidaya secara intensif tersebut sering dijumpai adanya beberapa kendala yang dapat menimbulkan terjadinya penurunan produksi udang galah yang disebabkan telah terjadinya penurunan kualitas air akibat dari limbah aktivitas budidaya.

Teknologi secara terpadu merupakan salah satu solusi dalam menyeimbangkan limbah dari budidaya udang yang dapat diaplikasikan pada berbagai kondisi lingkungan. Salah satu sistem budidaya terpadu yang dapat diaplikasikan pada budidaya udang galah yaitu sistem integrated multi trophic

aquaculture (IMTA). Sistem IMTA merupakan suatu sistem budidaya yang

mengintegrasi beberapa organisme yang menitikberatkan pada perbedaan trofik level dari tiap organismenya (Chopin 2006). Dengan perbedaan trofik level, limbah dari satu organisme dapat menjadi sumber energi bagi organisme lainnya, dengan demikian dapat tercipta keseimbangan ekosistem yang lebih baik (Crooker dan Contreras 2010). Sistem IMTA pada penelitian kali ini menggunakan udang galah yang nantinya limbah dari udang galah akan dimanfaatkan oleh ikan nila (Oreochromis niloticus) dan ikan nilem (Osteochilus hasselti). Kemudian dalam sistem IMTA kali ini juga memanfaatkan biofilter yaitu keong sawah (Pilla

ampucella), kangkung air (Ipomoea aquatica), dan tanaman hias air (Cabomba

dan Caladium praetermissum). Dalam penelitian kali ini, hanya akan difokuskan pada pemeliharaan udang galah pada sistem IMTA dengan kepadatan yang berbeda, sehingga sistem IMTA ini diharapkan dapat memperbaiki kualitas air dalam pemeliharaan udang galah dan melihat kepadatan optimal untuk udang galah, serta dapat meningkatkan sintasan, mempercepat laju pertumbuhan, dan dapat menguntungkan secara ekonomi.

(12)

2

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk menelaah perubahan kualitas air, padat tebar optimal udang galah, sintasan, pertumbuhan, dan analisis ekonomi dari perbedaan hasil produksi budidaya udang galah (Macrobrachium rosenbergii) yang dipelihara dengan sistem IMTA.

METODE

Prosedur Penelitian Persiapan Wadah dan Bahan

Hewan uji yang digunakan yaitu udang galah dengan bobot awal 1,50±0,41 g/ekor (tokolan satu) berasal dari Cisolok, Pelabuhan Ratu. Masa pemeliharaan selama 72 hari. Pakan yang diberikan memiliki kandungan protein sebesar 40% dengan frekuensi pemberian pakan 3 kali sehari dengan feeding rate sebesar 5%. Wadah yang digunakan untuk pemeliharaan udang galah adalah kolam beton dengan ukuran 7 m2 sebanyak 9 kolam, yaitu untuk 3 perlakuan dengan 3 ulangan. Pada tiap kolam udang galah dilengkapi dengan sistem aerasi dengan menggunakan Hiblow Air Pump dan tiap kolam dilengkapi dengan 2 titik selang aerasi. Kolam udang galah tersebut dilengkapi dengan 2 shelter yaitu berupa daun kelapa yang diletakkan di permukaan kolam.

Biofilter yang digunakan yaitu keong sawah dengan biomassa awal 500 g/boks, kangkung air dengan biomassa awal 410 g/boks, dan tanaman hias air (Cabomba dan Caladium praetermissum) dengan biomassa awal masing-masing 20 g/boks. Wadah biofilter keong sawah adalah boks kayu (1 x 0,60 x 0,40 m) terbuat dari papan yang dilapisi plastik terpal. Media pada wadah keong sawah adalah batu kapur, batu split dan pasir. Wadah tanaman kangkung air, digunakan box kayu dari papan dengan ukuran 2 x 0,60 x 0,40 m yang dilapisi plastik terpal, dan sebagai media tanam dari kangkung air digunakan batuan split, batu apung, dan batu kapur dengan ketinggian substrat 35 cm. Untuk wadah tanaman hias air digunakan box kayu dari papan (1 x 0,60 x 0,40 m) yang dilapisi plastik terpal, dan sebagai media tanam digunakan pasir, batu split, dan batu kapur.

Rancangan Sistem IMTA

Penelitian dilaksanakan dengan metode rancangan acak lengkap (Walpole 1992) dengan perlakuan berupa perbedaan padat penebaran awal udang galah yaitu (A) 10 ekor/m2, (B) 20 ekor/m2, (C) 30 ekor/m2. Setiap perlakuan diulang sebanyak tiga kali. Air dialirkan dengan mengintegrasi budidaya udang galah secara tertutup (resirculating aquaculture) yang dipadukan dengan sistem biofilter. Air dari kolam udang galah dialirkan melalui saluran outlet ke kolam ikan nila, kemudian air dari kolam nila tersebut dialirkan ke kolam nilem melalui saluran

outlet dan air dari kolam nilem dialirkan melalui saluran outlet ke wadah biofilter

keong sawah dengan menggunakan pompa air. Air dari outlet wadah keong sawah mengalir ke wadah kangkung air, kemudian air dari wadah kangkung air masuk secara gravitasi ke wadah tanaman hias air (Lampiran 1).

(13)

3 Prosedur Analisis Data

Parameter Kualitas Air

Pengukuran kualitas air dilakukan pada pagi hari pukul 09.00 WIB pada hari ke-1, hari ke-36, dan hari ke-72. Sampel air yang diambil yaitu pada saluran

outlet dari tiap kolam udang galah. Berikut merupakan alat yang digunakan dalam

pengukuran kualitas air (Tabel 1).

Tabel 1 Alat pengukuran kualitas air pada wadah pemeliharaan udang galah.

Parameter Satuan Peralatan

Suhu oC DO meter

pH - pH meter

Oksigen Terlarut (DO) mg/L DO meter

Amonia (NH3-N) mg/L Spektrofotometer

Nitrit (NO2-N) mg/L Spektrofotometer

Nitrat (NO3-N) mg/L Spektrofotometer

Fosfat (PO4-P) mg/L Spektrofotometer

Pengukuran suhu, pH, dan oksigen terlarut dilakukan secara in-situ dengan menggunakan DO meter dan pH meter, sedangkan pengukuran amonia, nitrit, nitrat, dan fosfat dilakukan di laboratorium Proling, Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan, Institut Pertanian Bogor.

Parameter Biologis Udang Galah

Parameter biologis udang galah dihitung untuk mengetahui pertumbuhan udang galah selama 72 hari. Sampling bobot dan panjang dilakukan setiap 18 hari sekali dengan menggunakan timbangan digital dan penggaris. Udang galah yang diukur sebanyak 10 ekor untuk tiap sampling. Bobot dan panjang yang telah diukur kemudian dirata-ratakan dari tiap ulangan (W dan L).

Sintasan (SR)

Sintasan dihitung pada akhir pemeliharaan untuk mengetahui presentase udang yang masih hidup. Perhitungan sintasan menggunakan persamaan berikut (Effendi 2004):

SR =

Keterangan :

SR : Sintasan (%)

Nt : Jumlah populasi ikan hari ke-t (ekor) No : Jumlah populasi ikan hari ke-o (ekor)

Laju Pertumbuhan Harian (LPH)

Laju pertumbuhan harian dihitung untuk mengetahui persentase pertambahan bobot tiap harinya. Laju pertumbuhan harian dapat dihitung dengan persamaan sebagai berikut (Zonneveld et al. 1991):

LPH = Keterangan :

LPH : Laju pertumbuhan harian (%/hari) Wt : Bobot rata-rata akhir (g)

Wo : Bobot rata-rata awal (g) t : waktu yang dibutuhkan (hari)

(14)

4

Hasil Produksi

Hasil produksi merupakan biomassa akhir udang galah selama pemeliharaan. Hasil produksi dihitung dengan menggunakan rumus (Effendi 2004):

Keterangan :

P : Hasil Produksi (g) W : Bobot rata-rata akhir (g) N : Jumlah populasi akhir (ekor) Bobot Mutlak

Bobot mutlak dihitung untuk mengetahui pertambahan bobot selama masa pemeliharaan. Bobot mutlak dapat dirumuskan sebagai berikut (Zonneveld et al. 1991):

Keterangan :

Wm : Bobot mutlak (g)

Wt : Bobot rata-rata pada hari ke-t (g) Wo : Bobot rata-rata pada hari ke-o (g) Panjang Mutlak

Panjang mutlak dapat dirumuskan sebagai berikut (Zonneveld et al. 1991): L = Lt-Lo

Keterangan :

P : Pertumbuhan panjang

Lt : Panjang rata-rata ikan pada hari ke-t Lo : Panjang rata-rata ikan pada hari ke-o Efisiensi Pemberian Pakan (EPP)

Efisiensi pemberian pakan yaitu persentase jumlah pakan yang dimanfaatkan oleh udang dari total pakan yang diberikan. Perhitungan EPP dilakukan untuk mengetahui seberapa besar pakan yang dimanfaatkan oleh udang. EPP dapat dihitung dengan rumus berikut (Zonneveld et al. 1991):

Keterangan:

EPP : Efisiensi Pemberian Pakan

F : Jumlah pakan yang dihabiskan selama pemeliharaan (g) Wt : Biomassa pada hari ke-t (g)

Wo : Biomassa pada hari ke-o (g) Identifikasi Plankton

Pengamatan plankton dilakukan untuk mengetahui kelimpahan, indeks dominansi, dan indeks keragaman. Metode pengamatan plankton menggunakan

Sedgwick-Rafter dan menggunakan mikroskop. Sedgwick-Rafter Cell adalah suatu

alat yang memiliki ukuran panjang 50 mm, lebar 20 mm, dan tinggi 1 mm (Odum 1971). Pengambilan sampel plankton dilakukan 36 hari sekali dengan menggunakan plankton net. Pengambilan sampel air dilakukan pada 4 titik dengan volume air yang disaring 7 L, dan air yang tersaring 25 mL.

(15)

5 Kelimpahan Plankton

Kelimpahan plankton dihitung untuk mengetahui jumlah plankton yang ada dalam suatu perairan. Nilai kelimpahan plankton dihitung dengan rumus berikut (Odum 1971):

Keterangan:

N : Jumlah Plankton (sel/L) Vd : Volume air yang disaring (L) Vt : Volume air tersaring (mL)

Vs : Volume air pada Sedgwick-Rafter Cell (mL) Fp : Faktor pengenceran

n : Jumlah jenis plankton (sel) Indeks Dominansi

Nilai indeks dominansi digunakan untuk mengetahui ada tidaknya genus tertentu yang mendominasi suatu komunitas. Kisaran nilai indeks dominansi adalah antara 0-1. Nilai yang mendekati nol menunjukkan bahwa tidak ada genus dominan dalam komunitas. Sebaliknya, nilai yang mendekati 1 menunjukkan adanya genus yang dominan. Nilai indeks dominansi Simpson dihitung dengan rumus berikut (Odum 1971) :

∑ ( )

Keterangan:

c : Indeks dominansi

ni : Jumlah jenis plankton ke-i (sel) N : Jumlah total plankton (sel) S : Jumlah taksa/jenis

Indeks Keragaman

Penentuan tingkat keragaman organisme fitoplankton dengan menggunakan indeks keanekaragaman Shannon-weaner (Odum 1971).

Keterangan:

H’ : Indeks keragaman Pi : ni/N

ni : Jumlah jenis plankton ke-i (sel) N : Jumlah total plankton (sel) n : Jumlah genus

i : 1,2,3,...,n Analisis Ekonomi

Analisis ekonomi dihitung untuk mengetahui keuntungan dari budidaya udang galah beserta sistem biofilter (keong sawah, kangkung air, tanaman hias air). Analisis ekonomi/economic return (ER) berdasarkan Webster et al. (2004), sebagai berikut:

(16)

6

ER = (YC) – [ (YJ) + ( YF) + (Ye)]

Keterangan:

ER : economic return

YC : Hasil panen udang galah dan biofilter / kg (Rp)

YJ : Harga benih udang galah dan biofilter / kg (Rp)

YF : Harga pakan udang galah per kg (Rp)

Ye : Listrik per KWh (Rp) Analisis Data

Data yang diperoleh kemudian ditabulasi dan dianalisis dengan bantuan perangkat lunak Microsoft Excel 2010 dan SPSS 17.0 yang meliputi Analisis Ragam (ANOVA) pada selang kepercayaan 95%. Perangkat lunak tersebut digunakan untuk menentukan ada atau tidaknya pengaruh perlakuan yang diberikan terhadap sintasan, laju pertumbuhan harian, hasil produksi, bobot dan panjang mutlak, dan EPP. Apabila berpengaruh nyata, untuk melihat perbedaan antar perlakuan maka dilakukan uji lanjut dengan menggunakan uji Tuckey. Untuk data kualitas air (suhu, pH, oksigen terlarut, amonia, nitrit, nitrat, fosfat) dan identifikasi plankton dianalisis secara deskriptif.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil Pameter Kualitas Air Udang Galah

Berikut merupakan data kisaran parameter kualitas air pada wadah budidaya udang galah yang disajikan dalam Tabel 2. Kisaran suhu pada media pemeliharaan udang galah yaitu 25 - 34,1°C dengan kisaran suhu tertinggi pada perlakuan C. Kisaran pH yaitu 7,0 - 8,5 dengan kisaran pH tertinggi yaitu pada perlakuan B. Kisaran DO yaitu 3,0 - 7,2 mg/L dengan kisaran DO tertinggi yaitu pada perlakuan B. Kisaran amonia yaitu 0,0002 - 0,0593 mg/L dengan kisaran amonia tertinggi yaitu pada perlakuan A. Kisaran nitrit yaitu 0,007 - 0,397 mg/L dengan kisaran nitrit tertinggi yaitu pada perlakuan C. Kisaran nitrat yaitu 0,015 - 0,646 mg/L dengan kisaran nitrat tertinggi yaitu pada perlakuan C. Kisaran fosfat yaitu 0,13 - 0,338 mg/L dengan kisaran fosfat tertinggi yaitu pada perlakuan A. Tabel 2 Kisaran nilai kualitas air budidaya udang galah pada perlakuan padat

tebar (A) 10 ekor/m2, (B) 20 ekor/m2, (C) 30 ekor/m2.

Parameter Satuan Perlakuan

A B C Suhu °C 25 – 31,3 25,9 – 30,1 25,5 – 34,1 pH 7,0 – 8,0 6,8 – 8,5 7 – 8,1 DO mg/L 3,0 – 5,7 2,8 – 7,2 2,8 – 6,4 Amonia mg/L 0,0002 – 0,0593 0,0004 – 0,0360 0,0013 – 0,0571 Nitrit mg/L 0,007 – 0,109 0,008 – 0,159 0,008 – 0,397 Nitrat mg/L 0,081 – 0,338 0,052 – 0,453 0,015 – 0,646 Fosfat mg/L 0,152 – 0,338 0,13 – 0,275 0,14 – 0,26

(17)

7 Dinamika Parameter Kualitas Air Selama Pemeliharaan Udang Galah

Suhu

Suhu pada tiap perlakuan (perlakuan A, B, dan C) terlihat menurun dari awal pemeliharaan hingga hari ke-36. Pada akhir pemeliharaan cenderung mengalami peningkatan (Gambar 1).

Gambar 1 Suhu pada media budidaya udang galah pada perlakuan padat tebar ( ) 10 ekor/m2, ( ) 20 ekor/m2, ( ) 30 ekor/m2. ( ) kisaran optimum untuk budidaya udang galah (Boyd dan Zimmerman 2000).

pH

Dari ketiga perlakuan menunjukkan pola fluktuasi yang sama. Pada awal penelitian nilai pH tinggi kemudian mengalami penurunan pada hari ke-36 pemeliharaan dan terjadi peningkatan di hari ke-72 (Gambar 2).

Gambar 2 Nilai pH pada media budidaya udang galah pada perlakuan padat tebar ( ) 10 ekor/m2, ( ) 20 ekor/m2, ( ) 30 ekor/m2. ( ) kisaran optimum untuk budidaya udang galah (Boyd dan Zimmerman 2000).

0,00 5,00 10,00 15,00 20,00 25,00 30,00 35,00 1 36 72 Suhu °C Hari ke- A B C 0,00 1,00 2,00 3,00 4,00 5,00 6,00 7,00 8,00 1 36 72 pH Hari ke- A B C

(18)

8

Oksigen Terlarut

Pada ketiga perlakuan terlihat dinamika kadar oksigen terlarut memiliki pola yang sama, yaitu di awal penelitian kadar oksigen terlarut tinggi. Terjadi penurunan pada hari ke 36 dan peningkatan pada hari ke 72 (Gambar 3).

Gambar 3 Kadar oksigen terlarut pada media budidaya udang galah pada perlakuan padat tebar ( ) 10 ekor/m2, ( ) 20 ekor/m2, ( ) 30 ekor/m2. ( ) kisaran optimum untuk budidaya udang galah (Boyd dan Zimmerman 2000).

Amonia

Hasil analisis kadar amonia menunjukkan bahwa pada perlakuan A dan C rendah di awal penelitian kemudian mengalami peningkatan. Untuk perlakuan B terlihat berfluktuasi hingga akhir pemeliharaan (Gambar 4).

Gambar 4 Kadar amonia pada media budidaya udang galah pada perlakuan padat tebar ( ) 10 ekor/m2, ( ) 20 ekor/m2, ( ) 30 ekor/m2.

0,00 1,00 2,00 3,00 4,00 5,00 6,00 7,00 1 36 72 O k sig en T erla rut ( m g /L ) Hari ke- A B C 0,0000 0,0050 0,0100 0,0150 0,0200 0,0250 0,0300 0,0350 1 36 72 Am o n ia ( m g /l ) Hari ke- A B C

(19)

9 Nitrit

Kadar nitrit pada perlakuan C mengalami peningkatan yang cukup tajam pada akhir pemeliharaan. Pada perlakuan A dan B mengalami peningkatan namun tidak signifikan (Gambar 5).

Gambar 5 Kadar nitrit pada media budidaya udang galah pada perlakuan padat tebar ( ) 10 ekor/m2, ( ) 20 ekor/m2, ( ) 30 ekor/m2.

Nitrat

Hasil analisis kadar nitrat pada ketiga perlakuan B dan C menurun pada hari ke-36 kemudian meningkat pada hari ke-72. Pada perlakuan A kadar nitrat tidak mengalami peningkatan hingga akhir pemeliharaan (Gambar 6).

Gambar 6 Kadar Nitrat pada media budidaya udang galah pada perlakuan padat tebar ( ) 10 ekor/m2, ( ) 20 ekor/m2, ( ) 30 ekor/m2.

0,00 0,05 0,10 0,15 0,20 0,25 1 36 72 N it rit ( m g /L ) Hari ke- A B C 0,00 0,10 0,20 0,30 0,40 0,50 0,60 1 36 72 Nit ra t (m g /L ) Hari ke- A B C

(20)

10 Fosfat

Setiap perlakuan kadar fosfat terlihat mengalami peningkatan sejalan dengan waktu pemeliharaan. Namun pada perlakuan C peningkatan tidak begitu drastis (Gambar 7).

Gambar 7 Kadar Fosfat pada media budidaya udang galah pada perlakuan padat tebar ( ) 10 ekor/m2, ( ) 20 ekor/m2, ( ) 30 ekor/m2.

Parameter Biologis Udang Galah Sintasan

Sintasan pada perlakuan A (98,57±1,43%) lebih tinggi dibandingkan perlakuan B (85,71±4,68%) dan perlakuan C (46,51±6,94%). Uji statistik menyatakan bahwa padat penebaran berbeda pada setiap perlakuan berbeda nyata (P<0,05) terhadap sintasan (Gambar 8).

Gambar 8 Sintasan udang galah pada perlakuan padat tebar (A) 10 ekor/m2, (B) 20 ekor/m2, dan (C) 30 ekor/m2. Perbedaan huruf menunjukkan hasil yang berbeda nyata (P<0,05).

0,00 0,05 0,10 0,15 0,20 0,25 0,30 0,35 1 36 72 Fo sf a t (m g /L )

Sampling Hari ke-

A B C 98,57 85,71 46,51 0 20 40 60 80 100 A B C Si ntasan (% ) Perlakuan

a

b

c

(21)

11 Laju Pertumbuhan Harian

Laju pertumbuhan harian pada perlakuan A (3,84±0,06%) lebih tinggi dibandingkan perlakuan B (3,24±0,02%) dan perlakuan C (2,60±0,05%). Uji statistik menyatakan bahwa padat penebaran berbeda pada setiap perlakuan berbeda nyata (P<0,05) terhadap laju pertumbuhan harian (Gambar 9).

Gambar 9 Laju pertumbuhan harian udang galah pada perlakuan padat tebar (A) 10 ekor/m2, (B) 20 ekor/m2, dan (C) 30 ekor/m2. Perbedaan huruf menunjukkan hasil yang berbeda nyata (P<0,05).

Hasil Produksi

Hasil Produksi pada perlakuan B (1853,00±70,38 g) lebih tinggi dibandingkan perlakuan A (1672,67±76,00 g) dan perlakuan C (959,00±174,73 g). Uji statistik menyatakan bahwa perlakuan A dan B berbeda nyata dengan perlakuan C (P<0,05) terhadap hasil produksi (Gambar 10).

Gambar 10 Hasil Produksi udang galah pada perlakuan padat tebar (A) 10 ekor/m2, (B) 20 ekor/m2, dan (C) 30 ekor/m2. Perbedaan huruf menunjukkan hasil yang berbeda nyata (P<0,05).

3,84 3,24 2,60 0,00 0,50 1,00 1,50 2,00 2,50 3,00 3,50 4,00 4,50 A B C L a ju P er tum bu ha n H a ria n ( %) Perlakuan 1672,67 1853 959 0,00 500,00 1000,00 1500,00 2000,00 2500,00 A B C H a sil P ro du k si ( g ) Perlakuan

a

a

b

a

b

c

(22)

12

Bobot Mutlak

Bobot mutlak pada perlakuan A (22,39±1,09 g) lebih tinggi dibandingkan perlakuan B (13,95±0,27 g) dan perlakuan C (8,28±0,32 g). Uji statistik menyatakan bahwa padat penebaran berbeda pada setiap perlakuan berbeda nyata (P<0,05) terhadap bobot multak (Gambar 11).

Gambar 11 Bobot mutlak udang galah pada perlakuan padat tebar (A) 10 ekor/m2, (B) 20 ekor/m2, dan (C) 30 ekor/m2. Perbedaan huruf menunjukkan hasil yang berbeda nyata (P<0,05).

Panjang Mutlak

Panjang mutlak pada perlakuan A (7,19±0,23 cm) lebih tinggi dibandingkan perlakuan B (5,86±0,02 cm) dan perlakuan C (4,49±0,02 cm). Uji statistik menyatakan bahwa padat penebaran berbeda pada setiap perlakuan berbeda nyata (P<0,05) terhadap panjang mutlak(Gambar 12).

Gambar 12 Panjang mutlak udang galah pada perlakuan padat tebar (A) 10 ekor/m2, (B) 20 ekor/m2, dan (C) 30 ekor/m2. Perbedaan huruf menunjukkan hasil yang berbeda nyata (P<0,05).

22,39 13,95 8,28 0,00 5,00 10,00 15,00 20,00 25,00 A B C B o b o t M u tla k ( g ) Perlakuan 7,19 5,86 4,49 0,00 1,00 2,00 3,00 4,00 5,00 6,00 7,00 8,00 A B C Pa n ja n g M u tla k ( cm ) Perlakuan

a

b

c

a

b

c

(23)

13 Efisiensi Pemberian Pakan (EPP)

EPP pada perlakuan A (53,53±3,25%) lebih tinggi dibandingkan perlakuan B (39,51±1,42%) dan perlakuan C (20,48±3,85%). Uji statistik menyatakan bahwa padat penebaran berbeda pada setiap perlakuan berbeda nyata (P<0,05) terhadap EPP (Gambar 13).

Gambar 13 Efisiensi pemberian pakan udang galah pada perlakuan padat tebar (A) 10 ekor/m2, (B) 20 ekor/m2, dan (C) 30 ekor/m2. Perbedaan huruf menunjukkan hasil yang berbeda nyata (P<0,05).

Bobot Akhir Rata-rata

Bobot akhir rata-rata pada perlakuan A (23,89±1,09 g) lebih tinggi dibandingkan perlakuan B (15,45±0,27 g) dan perlakuan C (9,78±0,32 g). Uji statistik menyatakan bahwa padat penebaran berbeda pada setiap perlakuan berbeda nyata (P<0,05) terhadap bobot akhir rata-rata (Gambar 14).

Gambar 14 Bobot akhir rata-rata pada perlakuan padat tebar (A) 10 ekor/m2, (B) 20 ekor/m2, dan (C) 30 ekor/m2. Perbedaan huruf menunjukkan hasil yang berbeda nyata (P<0,05).

53,53 39,51 20,48 0,00 10,00 20,00 30,00 40,00 50,00 60,00 A B C E fis iens i P em beria n P a k a n ( %) Perlakuan 23,89 15,45 9,78 0,00 5,00 10,00 15,00 20,00 25,00 30,00 A B C B o bo t Ak hir Ra ta -ra ta ( g ) Perlakuan

a

b

c

a

b

c

(24)

14

Identifikasi Plankton

Identifikasi plankton dilakukan untuk mnegetahui kelimpahan, indeks keragaman, indeks dominansi yang terdapat pada kolam udang galah. Berikut merupakan data kisaran plankton pada wadah budidaya udang galah yang disajikan pada Tabel 3.

Tabel 3 Kisaran plankton pada wadah budidaya udang galah

Perlakuan Fitoplankton Zooplankton Kelimpahan (sel/L) Indeks Keragaman Indeks Dominansi Kelimpahan (sel/L) Indeks Keragaman Indeks Dominansi A 0,1-10 0,99-1,449 0,37-1 0,2-0,3 0-0,562 0-1 B 1,92-13,28 0,425-1,176 0,415-0,742 0,12-0,48 0-0,887 0,5-1 C 2,72-18,76 0,01-1,604 0,25-0,957 0,12-0,957 0-1,244 0,5-1

Berdasarkan Tabel 3, kelimpahan yang tertinggi dari fitoplankton dan zooplankton yaitu pada perlakuan C. Indeks keragaman yang tertinggi dari fitoplankton dan zooplankton yaitu pada perlakuan C. Indeks dominansi fitoplankton tertinggi yaitu pada perlakuan A, dan indeks dominansi zooplankton tertinggi yaitu pada perlakuan B dan C. Kelas fitoplankton yang terdapat pada kolam budidaya udang galah adalah Chlorophyceae dan Bacillariophyceae, sedangkan zooplankton yang terdapat pada kolam budidaya udang galah yaitu

Copepode, Daphnia, dan Rotifera (Lampiran 5).

Analisis Ekonomi

Analisis ekonomi dilakukan untuk mengetahui keuntungan yang didapatkan pada pemeliharaan udang galah dalam sistem IMTA. Analisis ekonomi dilakukan berdasarkan hasil produksi udang galah ditambah dengan hasil produksi sistem biofilter (keong sawah, kangkung air, tanaman hias air) (Lampiran 3). Berikut merupakan rincian analisis ekonomi dari setiap perlakuan (Tabel 4).

Tabel 4 Analisis ekonomi pemeliharaan udang galah pada sistem IMTA.

Perlakuan Hasil Panen (Rp.) Harga Benih (Rp.) Harga Pakan (Rp.) Listrik (Rp.) Economic Return (Rp) A 402.450 14.110 35.880 9.000 343.460 B 361.700 24.110 50.760 9.000 277.830 C 243.850 35.110 47.520 9.000 152.220

Berdasarkan Tabel 4, hasil panen tertinggi yaitu pada perlakuan A sebesar Rp. 402.450 dan menghasilkan economic return yang paling tinggi yaitu sebesar Rp. 343.460. Untuk perlakuan C memiliki hasil panen terendah yaitu Rp. 243.850 dan menghasilkan economic return terendah yaitu sebesar Rp. 152.220.

Pembahasan

Udang galah memiliki kisaran batas ideal suhu yaitu 25 - 32°C (Boyd dan Zimmerman 2000). Suhu yang terukur dari tiap perlakuan pada pemeliharaan udang galah pada sistem IMTA selama 72 hari yaitu berada pada kisaran 25 – 34,1°C (Tabel 2). Kisaran tersebut masih layak untuk budidaya sebab kisaran tersebut bukan batas lethal suhu untuk udang galah. Diketahui batas lethal suhu pada pemeliharaan udang galah adalah ≤12°C dan ≥ 42°C (Boyd dan Zimmerman

(25)

15 2000). Sama seperti suhu, setiap jenis organisme akuatik juga memiliki kisaran toleransi terhadap pH. Berdasarkan Boyd dan Zimmerman (2000), udang galah memiliki kisaran batas ideal terhadap pH yaitu 7 – 8,5. Nilai pH yang terukur dari tiap perlakuan pada pemeliharaan udang galah pada sistem IMTA selama 72 hari yaitu berada pada kisaran 6,6 – 8,5 (Tabel 2). Nilai tersebut masih dapat ditoleransi oleh udang galah karena menurut Pillay (2004) titik lethal asam dan basa untuk organisme budidaya adalah pada pH 4 dan 11. Kisaran optimum oksigen terlarut bagi pemeliharaan udang galah yaitu 3 – 7 mg/L (Boyd dan Zimmerman 2000). Kadar oksigen terlarut yang rendah terukur dari tiap perlakuan pada pemeliharaan udang galah pada sistem IMTA selama 72 hari yaitu berada pada kisaran 2,8 – 3,0 mg/L (Tabel 2). Rendahnya kadar oksigen terlarut tersebut disebabkan oleh meningkatnya partikel-partikel organik akibat dari buangan sisa metabolisme udang galah dan sisa pakan yang terakumulasi di kolam (Boyd dan Zimmerman 2000). Namun hal tersebut masih layak untuk budidaya udang galah sebab menurut Boyd dan Zimmerman (2000) udang galah masih dapat bertahan pada kandungan oksigen terlarut terendah yaitu 1 mg/L. Kadar oksigen terlarut dari tiap perlakuan (perlakuan A, B, dan C) terlihat tinggi pada awal pemeliharaan dan menurun pada pertengahan pemeliharaan (hari ke-36) (Gambar 3) hal ini disebabkan karena adanya proses nitrifikasi. Oksigen merupakan salah satu faktor yang penting dalam berlangsungnya proses nitrifikasi. Dalam hal ini, bakteri nitrifikasi menggunakan oksigen untuk tumbuh (Lekang 2007). Oleh karena itu, amonia, nitrit, dan nitrat terus meningkat (Gambar 4, Gambar 5, Gambar 6) karena adanya proses nitrifikasi yang ditunjang dengan kadar oksigen terlarut yang cukup.

Kadar amonia yang terukur dari tiap perlakuan pada pemeliharaan udang galah yaitu berada pada kisaran 0,0002 – 0,0593 mg/L (Tabel 2). Kisaran tersebut masih layak untuk budidaya udang galah, berdasarkan Boyd dan Zimmerman (2000) batas ideal dari amonia untuk pemeliharaan udang galah yaitu berada pada kisaran 0,1 – 0,3 mg/L. Kadar amonia terus meningkat hingga akhir pemeliharaan (Gambar 4) disebabkan karena limbah terus bertambah seiring dengan berjalannya waktu yang berasal dari feses, sisa pakan, urin, dan plankton yang mati. Kadar amonia tertinggi yaitu pada perlakuan C (Gambar 4), hal ini disebabkan karena perlakuan C memiliki kepadatan yang paling tinggi dan menghasilkan limbah yang paling banyak. Kadar nitrit yang terukur dari tiap perlakuan pada pemeliharaan udang galah pada sistem IMTA selama 72 hari yaitu berada pada kisaran 0,007 – 0,397 mg/L (Tabel 2), sedangkan menurut Boyd dan Zimmerman (2000) kadar nitrit yang ideal bagi pemeliharaan udang galah adalah pada kisaran 0,1 – 0,7 mg/L, sehingga kisaran nilai nitrit pada pemeliharaan udang galah dalam sistem IMTA masih layak untuk budidaya. Pada perlakuan C, kadar nitrit meningkat drastis dari awal pemeliharaan hingga akhir pemeliharaan (Gambar 5). Hal ini diduga bahwa semakin tinggi padat penebaran, maka semakin tinggi limbah dari aktivitas budidaya (feses, sisa pakan, dan urin) yang menyebabkan semakin meningkat pula amonia yang berkolerasi dengan meningkatnya nitrit sejalan dengan lamanya waktu pemeliharaan. Pada perlakuan C memiliki sintasan (46,51 ± 6,94%) dan laju pertumbuhan harian (2,60 ± 0,05%) yang rendah. Rendahnya sintasan dan laju pertumbuhan harian pada perlakuan C diduga disebabkan oleh tingginya amonia dan nitrit. Meskipun kadar amonia dan nitrit pada perlakuan C masih berada pada kisaran yang layak, namun pada

(26)

16

kenyataannya sistem IMTA masih belum cukup optimum untuk pemeliharaan udang galah dengan kepadatan 30 ekor/m2, selain itu menurut Crooker dan Contreras (2010), sistem IMTA tidak selalu dapat mengurangi semua limbah organik maupun anorganik yang terdapat di perairan. Berdasarkan Figueroa et al. (2007), nitrit dan amonia dapat menyebabkan rendahnya laju pertumbuhan, karena dapat merusak insang dan organ dalam lainnya. Amonia dapat menyebabkan rusaknya jaringan pada insang sehingga udang mudah terserang peyakit, sedangkan kadar nitrit yang tinggi dapat menyebabkan terjadinya

methemoglobinema yang dapat mengurangi kapasitas transfer oksigen (Figueroa et al. 2007). Selain itu, ditinjau dari efisiensi pemberian pakan (EPP), perlakuan C

memiliki EPP terendah (20,48 ± 3,85%). Tingginya amonia dan nitrit pada perlakuan C dapat mempengaruhi EPP, sebab menurut Zhang (2011) kebiasaan makan pada udang sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungannya, seperti suhu, oksigen terlarut, amonia dan nitrit.

Kadar nitrat yang terukur dari tiap perlakuan pada pemeliharaan udang galah yaitu berada pada kisaran 0,015 – 0,646 mg/L (Tabel 2). Kadar tersebut masih termasuk dalam kisaran yang layak untuk budidaya, sebab berdasarkan Boyd dan Zimmerman (2000) kadar nitrat untuk pemeliharaan udang galah yaitu ≤10 mg/L, selain itu menurut Shimura et al. (2004) kadar nitrat ≤25 mg/L masih termasuk dalam batas aman untuk budidaya dalam jangka waktu yang lama. Nitrat merupakan hasil akhir dari proses nitrifikasi yang tidak beracun dibandingkan dengan amonia dan nitrit (Shimura et al. 2004), oleh karena itu nitrat dalam kadar yang tinggi pada perairan masih dapat ditoleransi oleh udang. Kemudian dilihat dari grafik (Gambar 6), kadar nitrat dari tiap perlakuan mengalami penurunan pada hari ke-36 dan kemudian meningkat secara signifikan pada akhir pemeliharaan (hari ke-72). Penurunan kadar nitrat disebabkan karena adanya proses asimilasi nitrat oleh fitoplankton pada kolam udang galah. Menurut Puspaningsih (2012), plankton membutuhkan unsur N yang dapat berfungsi sebagai pupuk untuk hidupnya. Kemudian nitrat kembali meningkat akibat fitoplankton telah mengalami masa jenuh terhadap penyerapan nitrat. Berdasarkan Setijaningsih (2012), fitoplankton memiliki fase kecukupan (declining) yang ditandai dengan jumlah fitoplankton yang tinggi pada akhir pemeliharaan (Lampiran 4) dan nitrat yang terus terakumulasi pada akhir pemeliharaan (Gambar 6), hal ini membuktikan bahwa asimilasi fitoplankton terhadap nitrat dalam keadaan jenuh sangat sedikit sehingga fitoplankton masih tetap tumbuh dan nitrat tetap meningkat.

Kadar fosfat yang terukur dari tiap perlakuan pada pemeliharaan udang galah yaitu berada pada kisaran 0,13 – 0,338 mg/L (Tabel 2). Nilai tersebut masih layak untuk budidaya sebab menurut Boyd dan Zimmerman kadar fosfat yang masih dapat ditoleransi oleh udang galah yaitu ≤0,3 mg/L. Kadar fosfat pada masing-masing perlakuan mengalami peningkatan sejalan dengan waktu pemeliharaan (Gambar 7). Terjadinya peningkatan tersebut diduga bahwa kenaikan kadar fosfat berasal dari pakan yang tidak termakan dan feses yang semakin lama semakin terakumulasi. Pada aktivitas budidaya intensif akan melepaskan unsur N dan P sebesar 20% yang berasal dari pakan yang tidak termakan, 10% dari feses dan 15% dari ekskresi (Frid & Dobson 2002). Namun peningkatan fosfat tersebut tidak terlalu signifikan dan masih layak untuk budidaya. Hal tersebut diduga adanya proses asimilasi fosfat oleh fitoplankton dan

(27)

17 biofilter. Pasir, batu kapur, batu split dan tanaman air juga efektif dalam mengurangi limbah organik seperti fosfor (TP dan fosfat) (Setiadi dan Setijaningsih 2011). Fosfat merupakan bentuk fosfor yang dapat dimanfaatkan oleh tumbuh-tumbuhan. Selain itu, unsur P merupakan limiting factor untuk pertumbuhan fitoplankton. Fitoplankton memanfaatkan fosfat sebagai sumber fosfor (Puspaningsih 2012). Hal tersebut ditunjukkan dari fitoplankton yang semakin meningkat hingga akhir pemeliharaan (Lampiran 4)

Bobot akhir perlakuan A dari pemeliharaan udang galah pada sistem IMTA yaitu sebesar 23,89±1,09 g (Gambar 14). Bobot tersebut merupakan bobot tertinggi dan dapat dicapai dengan pemeliharan selama 72 hari. Berdasarkan Rohmana et al. (2007), pemeliharaan udang galah dengan kepadatan 5 ekor/m2 selama 4 bulan hanya menghasilkan bobot akhir sebesar 33,3 g. Berdasarkan Nagarathinam (2000), udang galah yang dipelihara dengan kepadatan 10 ekor/m2 selama 180 hari hanya menghasikan bobot akhir sebesar 28,38 g dan sintasan sebesar 58,57%. Hal ini dapat membuktikan bahwa padat tebar 10 ekor/m2 yang dipelihara pada sistem IMTA terbukti dapat meningkatkan pertumbuhan udang galah karena ditunjang dengan kualitas air yang baik. Selain itu, berdasarkan analisis ekonomi yang dilakukan, perlakuan A paling menguntungkan dan menghasilkan Economic Return yang paling tinggi, keuntungan yang dihasilkan yaitu sebesar Rp 343.460 selama 72 hari pemeliharaan (Tabel 4). Hal tersebut disebabkan karena pada perlakuan A memiliki sintasan (Gambar 8) dan bobot akhir (Gambar 12) yang tertinggi, sehingga mempengaruhi dari hasil produksi udang galah yang dihasilkan (Gambar 10). Harga jual pada udang galah dilihat dari size udang galah yang dihasilkan, sehingga semakin tinggi bobot per individu dari udang galah tersebut, maka harga jual akan semakin tinggi. Selain itu, keong sawah, kangkung air, dan tanaman hias air yang digunakan juga memiliki nilai jual tersendiri dan apabila dilihat dari biomassa akhir sistem biofilter tersebut, pada perlakuan A memiliki hasil produksi yang paling tinggi (Lampiran 3) sehingga mempengaruhi keuntungan yang didapatkan pada akhir pemeliharaan.

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Berdasarkan pemeliharaan udang galah pada sistem IMTA selama 72 hari, diketahui perlakuan yang paling baik adalah pada padat tebar 10 ekor/m2 hal tersebut didukung dengan suhu (25 – 31,3°C), pH (6,6 – 8,0), kadar DO (3,0 – 5,7 mg/L), kadar nitrat (0,081 – 0,338 mg/L ) dan kadar fosfat (0,152 – 0,338 mg/L) yang masih layak untuk budidaya, serta kadar amonia (0,0002 – 0,0593 mg/L) dan kadar nitrit (0,007 – 0,109 mg/L) yang rendah, juga didukung pula dengan sintasan, laju pertumbuhan harian, bobot akhir, dan economic return yang paling tinggi.

Saran

Perlu dilakukan peninjauan lebih lanjut terhadap sistem IMTA dengan komoditas yang sama. Selain itu perlu dilakukan peninjauan lebih lanjut terhadap udang galah dengan kepadatan yang lebih tinggi dan perluasan sistem biofilter.

(28)

18

DAFTAR PUSTAKA

Allsopp M, Johnston P, Santillo D. 2008. Challenging the Aquaculture Industry

on Sustainability: Technical Overview. Washington (US). Greenpeace

Research Laboratories Technical.

Boyd C, Zimmerman S. 2000. Grow-out systems – water quality and soil management. Freshwater Prawn Culture: The Farming of Macrobrachium

rosenbergii. 14: 221- 238. Oxford (UK). Blackwell Publishing Ltd.

Chopin T. 2006. Integrated multi-trophic aquaculture. Northern Aquaculture. (4): July/August 2006.

Crooker PC, Contreras JO. 2010. Bioremediation of aquaculture wastes. Current

Opinion in Biotechnology. 21: 313-317.

Effendi I. 2004. Pengantar Akuakultur. Depok (ID). Penebar Swadaya.

Figueroa JLA, Mora GI, Legaretta IG, Palavox JTP, Sosa BIA. 2007. Ammonia and nitrite removal rates in a closed recirculating-water system, under three load rates of rainbow trout. Revista Mexicana de Ingenieria Quimica. (6) 3: 301 – 308.

Frid C, Dobson M. 2002. Ecology of Aquatic Management. Singapore (SG). Prentice Hall, Pearson Education.

Hadie LE, Hadie W, Imron, Khasani I, Listyanto M. 2010. Strategi pengembangan budidaya udang galah GIMACRO. Prosiding Forum Inovasi teknologi

Akuakultur.

Kementrian Kelautan dan Perikanan. 2013. Data Statistik Perikanan Budidaya. [internet]. Jakarta (ID): Kementrian Kelautan dan Perikanan. [diunduh pada 2013 Apr 1]. Tersedia pada www.kkp.go.id.

Lekang OI. 2007. Aquaculture Engineering. Oxford (UK). Blackwell Publishing Ltd.

Nagarathinam N, Kumar JSS, Sundararaj V. 2000. Influence of stocking density on growth, production, and survival of Macrobrachium rosenbergii (de Man) in a monoculture grow-out pond. Indian J. Fish. (2) 47: 103-108.

Odum EP. 1971. Fundamentals of Ecology 3rd ed. Philladelphia (US). Sounders

Company.

Pillay TVR. 2004. Aquaculture and the Environment 2nd ed. Oxford (UK).

Blackwell Publishing.

Puspaningsih D, Widyastuti YR. 2012. Komposisi dan kelimpahan plankton dan perifiton dalam kolam ikan mas dengan komposisi pupuk yang berbeda.

Prosiding Indoaqua – Forum Inovasi dan Teknologi Akuakultur 2012. 1:

541-548.

Rohmana D, Adi CH, Pamungkas AJ, Roselia S. 2007. Polikutur udang galah (Macrobrachium rosenbergii) dan gurami (Osphronemus goramy) sistem ekstensif. Seminar Nasional Hari Pangan Sedunia XXVII.

Setiadi E, Setijaningsih L. 2011. Improving water quality and productivity of tilapia (Oreochromis niloticus) using constructed wetland. Indonesian

Aquaculture Journal. (6) 2 : 107 – 122.

Setijaningsih L. 2012. Pertumbuhan ikan mas (Cyprinus carpio) dengan perbedaan jarak tanam tanaman kangkung (Ipomoea aquatica) pada sistem

(29)

19 akuaponik. Prosiding Indoaqua – Forum Inovasi dan Teknologi Akuakultur

2012. 1: 197 – 204.

Shimura R, Ma YX, Ijiri K, Nagaoka S, Uchiyama M. 2004. Nitrate toxicity on visceral organs of medaka fish, Oryzias latipes: aiming to raise fish from egg to egg in space. Biological Science in Space. (18) 1: 7-12.

Webster CD, Thompson KR, Muzinic LA, Yancey DH, Dasgupta S, Xiong YL, Rouse DB, Manomaitis L. 2004. A preliminary of assessment of growth, survival, yield, and economic return of Australian Red Claw Crayfish, Cherax

quadricarinatus, stocked at three densities in earthen ponds in a cool,

temperate climate. Journal of Applied Aquaculture. 15: 3-4.

Yi Y, Lin CK, Diana S. 2003. Hybrid catfish (Clariasmacrocephalus x C.

gariepinus) and Nile Tilapia (Oreochromis niloticus) in an integrated pen-cum

pond system: growth performance and nutrients budgets. Aquaculture. 217: 395-408.

Zhang SY, Li G, Wu HB, Liu XG, Yao YH, Tao L, Liu H. 2011. An integrated recirculating aquaculture system (RAS) for land-based fish farming: The effects on water quality and fish production. Aquacultural Engineering. 45 : 93 – 10.

Zooneveld NEA, Huisman, Boon JH. 1991. Prinsip-Prinsip Budidaya Ikan. Jakarta (ID). PT. Gramedia Pustaka Utama.

(30)

20

Lampiran 1 Skema aliran air sistem IMTA

Lampiran 2 Hasil analisis statistik pertumbuhan udang galah

ANOVA

Sum of Squares df Mean Square F Sig.

SR Between Groups 4412.439 2 2206.219 91.682 .000 Within Groups 144.383 6 24.064 Total 4556.821 8 SGR Between Groups 2.307 2 1.153 519.065 .000 Within Groups .013 6 .002 Total 2.320 8

EPP Between Groups 1651.037 2 825.519 90.378 .000

Within Groups 54.804 6 9.134

Total 1705.842 8

BobotAkhir Between Groups 302.475 2 151.237 335.313 .000

Within Groups 2.706 6 .451

Total 305.181 8

BobotMutlak Between Groups 302.475 2 151.237 335.313 .000

Within Groups 2.706 6 .451

Total 305.181 8

PanjangMutlak Between Groups 10.936 2 5.468 306.428 .000

Within Groups .107 6 .018

Total 11.043 8

HasilProduksi Between Groups 1341076.222 2 670538.111 48.754 .000

Within Groups 82520.667 6 13753.444 Total 1423596.8 89 8 Wadah Tanaman Hias Air Wadah Kangkung Air Kolam Udang Galah Kolam Ikan Nila

Kolam Ikan Nilem Wadah Keong

Sawah

(31)

21 Bobot Akhir

Perlakuan

Subset for alpha = 0.05

N 1 2 3 30 ekor/m2 3 9.78 20 ekor/m2 3 15.45 10 ekor/m2 3 23.89 Sig. 1.000 1.000 1.000 Panjang Mutlak Perlakuan

Subset for alpha = 0.05

N 1 2 3 30 ekor/m2 3 4.49 20 ekor/m2 3 5.86 10 ekor/m2 3 7.19 Sig. 1.000 1.000 1.000 Hasil Produksi Perlakuan

Subset for alpha = 0.05

N 1 2 30 ekor/m2 3 959.0000 10 ekor/m2 3 1672.6667 20 ekor/m2 3 1853.0000 Sig. 1.0 00 .22 3 SR perlakuan

Subset for alpha = 0.05

N 1 2 3

30ekor/m2 3 46.51

20ekor/m2 3 85.71

10EKOR/M2 3 98.57

Sig. 1.000 1.000 1.000

Lampiran 3 Biomassa biofilter

Biofilter Perlakuan A B C Keong Sawah (g) 1 490 1 555 1 370 Kangkung Air (kg) 13.1 12.37 9.8 Cabomba (g) 1 135 850 645 Keladi Air (g) 220 260 205 Bobot Mutlak Perlakuan

Subset for alpha = 0.05

N 1 2 3 30 ekor/m2 3 8.28 20 ekor/m2 3 13.95 10 ekor/m2 3 22.39 Sig. 1.000 1.000 1.000 EPP Perlakuan

Subset for alpha = 0.05

N 1 2 3 30 ekor/m2 3 20.48 20 ekor/m2 3 39.51 10 ekor/m2 3 53.53 Sig. 1.000 1.000 1.000 SGR Perlakuan

Subset for alpha = 0.05

N 1 2 3

30 ekor/m2 3 2.60

20 ekor/m2 3 3.24

10 ekor/m2 3 3.84

(32)

22

Lampiran 4 Grafik jumlah plankton pada wadah pemeliharaan udang galah

Lampiran 5 Jumlah plankton pada wadah pemeliharaan udang galah

Jenis Kelas

Perlakuan A Perlakuan B Perlakuan C Hari ke- 1 36 72 1 36 72 1 36 72 Fitoplankton Coelastrum 26 139 133 15 239 3687 94 293 4866 Chlorella 138 208 15 237 64 20 131 94 Scenedesmus 9 56 1 71 45 9 83 156 Chodatella 1 6 2 Sprirulina 5 5 Ploteriopsis 5 13 14 13 Dispora crucigenioides 1 3 1 1 Tetradesmus 28 15 1 1 Phacus 15 3 Hormidium 4 5 Pediastrum 9 6 2 28 11 51 3 20 76 Diatom 6 9 197 9 29 205 10 83 173 JUMLAH 193 460 377 292 414 4009 252 600 5301 Zooplankton Cyclop 2 2 3 Daphnia 21 1 2 8 1 2 10 5 1 Filinia 4 12 Branchionus 7 1 3 3 Keratella 1 2 1 JUMLAH 21 4 4 9 16 8 11 25 5 0 1000 2000 3000 4000 5000 6000 1 36 72 Ju m lah Fi to p lan kt o n (i n d /m l) Hari Ke- A B C 0 5 10 15 20 25 30 1 36 72 Ju m lah Z o o p lan kt o n (i n d /m l) Hari Ke- A B C

(33)

23

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Solo tanggal 20 April 1991 dari Ayah Eddy Soesanto dan Ibu Mujizat Kawaroe. Penulis merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Pendidikan formal yang dilalui yaitu SMAN 3 Bogor dan lulus pada tahun 2009. Pada tahun yang sama penulis diterima masuk IPB melalui jalur Ujian Seleksi Masuk IPB (USMI) pada Program Studi Teknologi dan Manajemen Perikanan Budidaya, Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Selama mengikuti perkuliahan penulis pernah magang di Balai Budidaya Air Payau Situbondo, Jawa Timur pada tahun 2011. Tahun 2012 penulis melakukan praktek lapangan akuakultur di Instalasi Riset Lingungan Perikanan Budidaya & Toksikologi, Cibalagung, Bogor dengan komoditas ikan lele sangkuriang. Penulis juga pernah menjadi Asisten mata kuliah Fisika Kimia Perairan semester genap tahun ajaran 2013, dan Engineering Akuakutur semester genap tahun ajaran 2013. Tugas akhir dalam pendidikan tinggi diselesaikan dengan menulis skripsi yang berjudul “Kualitas Media Budidaya dan Produksi Udang Galah (Macrobrachium

rosenbergii) yang dipelihara pada sistem IMTA (Integrated Multi Trophic Aquaculture) dengan Kepadatan Berbeda”.

Gambar

Gambar 1 Suhu pada media budidaya udang galah pada perlakuan padat tebar (  )  10  ekor/m 2 ,  (    )  20  ekor/m 2 ,  (    )  30  ekor/m 2
Gambar  3  Kadar  oksigen  terlarut  pada  media  budidaya  udang  galah  pada  perlakuan padat tebar (  ) 10 ekor/m 2 , (  ) 20 ekor/m 2 , (  ) 30 ekor/m 2
Gambar  5  Kadar  nitrit  pada  media  budidaya  udang  galah  pada  perlakuan  padat  tebar (  ) 10 ekor/m 2 , (  ) 20 ekor/m 2 , (  ) 30 ekor/m 2
Gambar  7  Kadar  Fosfat  pada  media  budidaya  udang  galah  pada  perlakuan  padat  tebar (  ) 10 ekor/m 2 , (  ) 20 ekor/m 2 , (  ) 30 ekor/m 2
+4

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan dan target khusus yang akan dicapai pada kegiatan KKN-PPM : 1) Menggunakan alat dan mesin pertanian yang sesuai dengan kontur tanah dan kemampuan petani didalam

Pendahuluan : Gagal jantung kongestif (CHF) dan sindrom metabolik (MetS) merupakan masalah kardiovaskular utama di berbagai negara maju maupun berkembang. Sampai sekarang,

Walaupun kita tidak dapat menghindari gesekan, kita dapat meniadakan efek redaman dengan menambah energi ke dalam sistem yang berisolasi untuk mengisi kembali energi yang hilang

Perihal waktu untuk pertunjukan teater tanggapan, tentu juga bergantung dengan jadual inti acara hajatan, bisa di depan acara, di sela-sela acara, atau bisa di akhir

Jaringan infrastruktur hijau menurut Benedict dan McMahon (2006) adalah sistem kawasan alami dan ruang terbuka yang saling terkait dan menjaga nilai ekosistem, menjaga

dengan pengumuman yang dimaksud dapat menyampaikan sanggahan secara elektronik kepada Pokja Jasa.. Konsultansi Perencanaan ULP IAIN Ponorogo TA 2017 melalui SPSE

2.3.2. This site provides useful information about ASP such as overview of ASP, creating ASP pages, using COM components and writing my own components. This tutorial

Disahkan dalam Rapat Pleno PPS Tanggal 5 Januari 2013.. PANITIA PEMUNGUTAN SUARA DESA KUMPAY