• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMANFAATAN LIMBAH SERBUK KAYU KAPUR (Dryobalanops aromatica) SEBAGAI BAHAN BAKU CUKA KAYU. Oleh: ROMIYANUS NIM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PEMANFAATAN LIMBAH SERBUK KAYU KAPUR (Dryobalanops aromatica) SEBAGAI BAHAN BAKU CUKA KAYU. Oleh: ROMIYANUS NIM"

Copied!
50
0
0

Teks penuh

(1)

Oleh:

ROMIYANUS NIM. 130 500 067

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI HASIL HUTAN JURUSAN TEKNOLOGI PERTANIAN POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI SAMARINDA

SAMARINDA 2016

(2)

Oleh:

ROMIYANUS NIM. 130 500 067

Karya Ilmiah Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Sebutan Ahli Madya Kehutanan Pada Program Diploma III

Politeknik Pertanian Negeri Samarinda

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI HASIL HUTAN JURUSAN TEKNOLOGI PERTANIAN POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI SAMARINDA

SAMARINDA 2016

(3)

Oleh:

ROMIYANUS NIM. 130 500 067

Karya Ilmiah Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Sebutan Ahli Madya Kehutanan Pada Program Diploma III

Politeknik Pertanian Negeri Samarinda

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI HASIL HUTAN JURUSAN TEKNOLOGI PERTANIAN POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI SAMARINDA

SAMARINDA 2016

(4)

Cuka Kayu

Nama : Romiyanus

NIM : 130 500 067

Program Studi : Teknologi Hasil Hutan Jurusan : Teknologi Pertanian

Lulus Ujian Pada Tanggal: Pembimbing,

Firna Novari S. Hut. MP NIP. 19710717 199702 2 001

Penguji II,

Abdul Rasyid Zarta S, Hut, MP NIP. 19750827 199903 1 001 Penguji I,

Ir. Iskandar, MP

NIP. 19590612 198710 1 003

Menyetujui,

Ketua Program Studi Teknologi Hasil Hutan, Politeknik Pertanian Negeri Samarinda

Eva Nurmarini, S. Hut.,MP NIP. 19750808 199903 2 002

Mengesahkan,

Ketua Jurusan Teknologi Pertanian, Politeknik Pertanian Negeri Samarinda

Hamka, S. TP. M, Sc NIP. 19760408 200812 1 002

(5)

Nama : Romiyanus

Tempat/Tanggal lahir : Ngenyan Asa 05 Februari 1994 Program Studi : Teknologi Hasil Hutan

Jurusan : Teknologi Pertanian

Universitas/PT : Politeknik Pertanian Negeri Samarinda

Semester : VI (Enam)

Alamat : Jl. Jembatan Kuning, Gang Baru RT 6 Palaran

Menyatakan telah melaksanakan penelitian karya ilmiah dengan judul : Pemafaatan Limbah Serbuk Kayu Kapur (Dryobalanops aromatica) Sebagai Bahan Baku Cuka Kayu dengan Dosen Pembimbing Firna Novari S, Hut, MP dan PLP Pendamping Kuddus dan Periani paurru, SP dari tanggal 07 Januari 12 Februari 2016 .

Demikian surat pernyataan ini dibuat dengan sebenarnya untuk dipergunakan sebagaimana mestinya.

Samarinda, 21 Juli 2016 Mahasiswa yang bersangkutan

Romiyanus NIM. 130500067

(6)

NOVARI)

Penelitian ini dilatar belakangi oleh besarnya limbah serbuk kayu gergajian hususnya serbuk kayu kapur sehingga dicoba untuk dimanfaatkan menjadi cuka kayu.

Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu untuk memanfaatkan limbah serbuk gergajian kayu kapur menjadi produk yang bernilai ekonomis, dan untuk mengetahui rendemen serta kualitas cuka kayu dari serbuk kayu kapur.

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan ilmu pengetahuan sehingga memberikan informasi mengenai pemanfaatan limbah serbuk kayu kapur.

Penelitian ini dilaksanakan di Laborotorium Hasil Hutan Non Kayu dan di Laboratorium Sifat-sifat Kayu Dan Analisis Produk dengan waktu kurang lebih selama dua bulan dengan metode pembakaran secara tidak langsung menggunakan tabung kondensasi.

Dari hasil pengolahan data dari bahan baku awal 38 kg diperoleh nilai rendemen cuka kayu grade 3 sebanyak 9,47 %. Hasil pengujian sifat fisik diperoleh nilai keasaman (pH) cuka kayu dari serbuk kayu kapur grade 3 sebesar 3,46. Sedangkan nilai berat jenis diperoleh 1,011. Hasil analisis warna dari cuka kayu yang berasal dari bahan baku serbuk kayu kapur grade 3 berwarna coklat dengan bau atau rasa asam.

(7)

Ngenyan Asa, Kecamatan. Barong Tongkok, Kabupaten. Kutai barat Kalimantan Timur. Merupakan anak 2 (kedua) dari 2 (dua) bersaudara dari pasangan Bapak Amantius dan Ibunda tercinta Evanawati.

Tahun 2001 memulai pendidikan formal pada SD Negeri 004 Ngenyan Asa Kabupaten Kutai Barat, Provinsi Kalimantan Timur dan lulus tahun 2007. Kemudian melanjutkan ke SMP 31 Sendawar Kutai Barat Propinsi Kalimantan Timur, lulus tahun 2010, selanjutnya melanjutkan ke SMK Surya Mandala Kabupaten Kutai Barat Provinsi Kalimantan Timur dan lulus tahun 2013. Pada tahun 2013 melanjutkan pendidikan perguruan tinggi pada Politeknik Pertanian Negeri Samarinda.

Bulan Maret - Mei 2015 mengikuti program Praktek Kerja Lapang (PKL) di Industri Kerajinan Kayu (Evia Craft) Bantul Kota Yogyakarta.

Sebagai syarat memperoleh predikat Ahli Madya Kehutanan, penulis mengadakan penelitian dengan judul

Kapur (Dryobalanops aromatica) Sebagai Bah di bawah bimbingan Ibu Firna Novari S.Hut, MP.

(8)

menyelesaikan karya ilmiah ini. Karya ilmiah ini disusun berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Laboratorium Hasil Hutan Non Kayu dan Laboratorium Sifat-sifat Kayu dan Analisis Produk Program Studi Teknologi Hasil Hutan. Penelitian dan penyusunan karya ilmiah ini dilaksanakan dari tanggal 07 Januari 12 Februari 2016, yang merupakan syarat untuk menyelesaikan tugas akhir di Politeknik Pertanian Negeri Samarinda dan mendapatkan sebutan Ahli Madya Kehutanan.

Pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan kepada :

1. Ibu Firna Novari,S. Hut. MP. selaku dosen pembimbing yang telah mengarahkan penulis mulai dari persiapan penelitian hingga penyusunan karya ilmiah ini selesai.

2. Bapak Ir. Iskandar, MP. selaku dosen Penguji I

3. Bapak Abdul Rasyid Zarta. S. Hut. MP. selaku dosen Penguji II

4. Kepala Laboratorium Sifat -sifat Kayu dan Analisis Produk, Bapak Ir Wartomo,MP.

5. Kepala Laboratorium Hasil Hutan Non Kayu Ibu Dr. Ita Merni Patulak SE. MM

6. Ketua Program Studi Teknologi Hasil Hutan, yaitu Ibu Eva Nurmarini S. Hut, MP.

7. Ketua Jurusan Teknologi Pertanian, yaitu Bapak Hamka, S, TP, M, Sc. 8. Direktur Politeknik Pertanian Negeri Samarinda, Bapak Ir. Hasanudin, MP. 9. Para Staff pengajar, administrasi dan PLP di Program Studi Teknologi Hasil

Hutan.

10. Ayah dan Ibunda serta Kakak tercinta yang telah memberikan dukungan moril dan materil maupun doa kepada penulis selama mengikuti pendidikan tinggi di Politeknik Pertanian Negeri Samarinda.

11. Novia Resniawaty tercinta yang telah memberikan dukungan dan semangat. 12. Supardi, Hermawan, Ismail, dan Vinsensia Bernadeta yang telah turut serta

dalam membantu menyelesaikan penelitian ini dengan baik.

13. Rekan-rekan angkatan 2013 tanpa terkecuali yang telah banyak mendukung dan memberikan semangat.

Walaupun sudah berusaha dengan sungguh-sungguh, penulis menyadari masih banyak terdapat kekurangan dan kelemahan dalam penulisan ini, namun semoga karya ilmiah ini dapat bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya. Amin.

Penulis

(9)

KATA PENGANTAR ... x

DAFTAR ISI ... xii

DAFTAR TABEL ... xiii

DAFTAR GAMBAR ... xiv

I. PENDAHULUAN ... 1

II. TINJAUAN PUSTAKA ... 4

A. Rendemen ... 4

B. Asap Cair ... 5

C. Prosedur Produksi Asap Cair ... 8

D. Komponen-komponen Asap Cair ... 9

E. Jenis-jenis Asap Cair ... 10

F. Manfaat Asap Cair ... 12

G. Risalah Kayu Karet (Hevea Brasiliensis) ... 14

III. METODE PENELITIAN ... 16

A. Waktu dan Tempat Penelitian ... 16

B. Alat dan Bahan Penelitian ... 16

C. Prosedur Penelitian ... 17

D. Pengolahan Data ... 20

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 22

A. Hasil ... 22

B. Pembahasan ... 24

V. KESIMPULAN DAN SARAN ... 29

A. Kesimpulan ... 29

B. Saran ... 30

DAFTAR PUSTAKA ... 31

(10)

1. Rendemen Asap Cair Dari Kayu Karet ... 22 2. Pengujian Kualitas Asap Cair Dari Kayu Karet ... 23

(11)

1. Penjemuran Bahan Baku ... 17

2. Proses Pirolisis (Pembakaran) ... 18

3. Hasil Destilasi Asap Cair ... 19

4. Hasil Asap Cair Berdasarkan Grade ... 24

Lampiran 5. Proses Penimbangan Bahan Baku ... 35

6. Tungku Pirolisis ... 35

7. Proses Memasukan Bahan Baku Kedalam Tungku Pirolisis... 36

8. Proses Pembakaran ... 36

9. Asap Cair Hasil Kondensasi (Grade 3) ... 37

10. Proses Destilasi ... 37

11. Asap Cair Grade 2 ... 38

12. Asap Cair Grade 1 ... 38

13. Picnometer ... 39

14. Timbangan Digital ... 39

15. Proses Pengujian berat jenis ... 40

16. Proses Pengujian Berat Jenis Asap Cair ... 40

17. Penimbangan asap cair menggunakan alat picnometer ... 41

18. Alat Pengukuran pH Asap Cair ... 41

19. Proses Pengukuran pH ... 42

(12)

BAB I PENDAHULUAN

Patut disayangkan, sampai saat ini kegiatan pemanenan dan pengolahan kayu di Indonesia masih menghasilkan limbah dalam jumlah besar. Purwanto at al, (1994) menyatakan komposisi limbah pada kegiatan pemanenan dan industri pengolahan kayu adalah sebagai berikut :

1. Pada pemanenan kayu, limbah umumnya berbentuk kayu bulat, mencapai 66,16%

2. Pada industri penggergajian limbah kayu meliputi serbuk gergaji 10,6&. Sebetan 25,9% dan potongan 14,3%, dengan total limbah sebesar 50,8% dari jumlah bahan baku yang digubakan

3. Limbah pada industri kayu lapis meliputi limbah potongan 5,6%, serbuk gergaji 0,7%, sampah vinir basah 24,8%, sampah vinir kering 12,6% sisa kupasan 11,0% dan potongan tepi kayu lapis 6,3%. Total limbah kayu lapis ini sebesar 61,0% dari jumlah bahan baku yang digunakan.

Data Departemen Kehutanan dan Perkebunan tahun 1999/2000 menunjukkan bahwa produksi kayu lapis Indonesia mencapai 4,61 juta m³ sedangkan kayu gergajian mencapai 2,06 juta m³. Dengan asumsi limbah yang dihasilkan mencapai 61% maka diperkirakan limbah kayu yang dihasilkan mencapai lebih dari 5 juta m³ (BPS, 2000).

Limbah kayu berupa potongan log maupun sebetan telah dimanfaatkan sebagai inti papan blok dan bahan baku papan partikel. Adapun limbah berupa serbuk gergaji pemanfaatannya masih belum optimal. Untuk industri besar dan terpadu, limbah serbuk kayu gergajian sudah dimanfaatkan menjadi bentuk briket arang dan arang aktif yang dijual secara komersial. Namun untuk industri

(13)

penggergajian kayu skala industri kecil yang jumlahnya mencapai ribuan unit dan tersebar di pedesaan, limbah ini belum dimanfaatkan secara optimal. Sebagai contoh adalah pada industri penggergajian di Jambi yang berjumlah 150 buah yang kesemuanya terletak ditepi sungai Batanghari, limbah kayu gergajian yang dihasilkan dibuang ke tepi sungai tersebut sehingga terjadi proses pendangkalan dan pengecilan ruas sungai (Pari, 2002).

Pada industri pengolahan kayu sebagian limbah serbuk kayu biasanya digunakan sebagai bahan bakar tungku, atau dibakar begitu saja tanpa penggunaan yang berarti, sehingga dapat menimbulkan pencemaran lingkungan (Febrianto,1999).

Limbah komponen serbuk gergaji pada industri penggergajian kayu rendemennya 10,6% menurut Martawijaya dan Sutigno (1990) serta 15% (Anonim, 2000).

Melihat besarnya potensi limbah serbuk gergajian khususnya serbuk kayu kapur, melalui penelitian ini dicoba untuk diolah menjadi bahan baku cuka kayu sehingga dapat menghasilkan nilai ekonomis dari serbuk kayu kapur.

Pemanfaatan cuka kayu pada umumnya belum dikenal baik oleh masyarakat meskipun Indonesia dikenal sebagai pengekspor arang. Menurut Yatagai (2002), kebutuhan cuka kayu di Jepang berjumlah 8.000.000 liter per tahun digunakan untuk budidaya tanaman pertanian, deodorant, pengusir binatang kecil, anti mikroba dan farmasi. Menurut Anonim (2002), komponen sebagian besar cuka kayu adalah air dan mengandung sekitar 200 jenis kompnen kimia, digunakan pada budidaya tanaman buah, bunga dan sayuran, cuka kayu encer disemprotkan pada daun tanaman membuat daun lebih sehat, cuka kayu dapat menggeser penggunaan pupuk kimia, 100% pupuk alam, dapat

(14)

mengurangi bau bila ditambahkan pada pupuk kandang dengan kualitas pupuk lebih baik.

Adapun tujuan dari diadakannya penelitian ini yaitu, untuk memanfaatkan limbah serbuk gergajian menjadi produk yang bernilai ekonomis, serta untuk mengetahui rendemen dan kualitas cuka kayu dari serbuk kayu kapur.

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan ilmu pengetahuan sehingga memberikan informasi mengenai pemanfaatan limbah serbuk kayu kapur, khususnya pemanfaatannya sebagai bahan baku cuka kayu.

(15)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Cuka Kayu

Cuka kayu adalah kondensat komponen asap yang dapat digunakan untuk menciptakan flavor asap pada produk (Whittle dan Howgate, 2002).

Cuka Kayu mengandung berbagai senyawa yang terbentuk karena terjadinya pirolisis tiga komponen kayu yaitu selulosa, hemiselulosa dan lignin. Lebih dari 400 senyawa kimia dalam asap telah berhasil diidentifikasi. Komponen

komponen tersebut ditemukan dalam jumlah yang bervariasi tergantung jenis kayu, umur tanaman sumber kayu, dan kondisi pertumbuhan kayu seperti iklim dan tanah. Komponen komponen tersebut meliputi asam yang dapat mempengaruhi citarasa, pH dan umur simpan produk asapan; karbonil yang bereaksi dengan protein dan membentuk pewarnaan coklat dan fenol yang 18 merupakan pembentuk utama aroma dan menunjukkan aktivitas antioksidan (Astuti, 2000).

Pirolisis merupakan proses dekomposisi bahan yang mengandung karbon, baik yang berasal dari tumbuhan, hewan maupun barang tambang menghasilkan arang (karbon) dan asap yang dapat dikondensasi menjadi destilat (Paris et al., 2005). Umumnya proses pirolisis dapat berlangsung pada suhu di atas 300°C dalam waktu 2 7 jam. Proses pirolisis melibatkan berbagai proses reaksi yaitu dekomposisi, oksidasi, polimerisasi, dan kondensasi (Girrard, 1992). Reaksi reaksi yang terjadi selama pirolisa kayu adalah penghilangan air dari kayu pada suhu 120 150 °C, pirolisa hemiselulosa pada suhu 200-250 °C, pirolisa selulosa pada suhu 280-320 °C dan pirolisa lignin pada suhu 400 °C. Pirolisa pada suhu 400 °C ini menghasilkan senyawa yang mempunyai kualitas organoleptik yang tinggi dan pada suhu lebih tinggi lagi akan terjadi reaksi

(16)

kondensasi pembentukan senyawa baru dan oksidasi produk kondensasi diikuti kenaikan linier senyawa tar dan hidrokarbon polisiklis aromatis (Maga, 1988). Saat ini, cuka kayu yang beredar di pasaran adalah cuka kayu yang telah dipisahkan dari komponen tar (Sutin, 2008).

B. Komponen - komponen Cuka Kayu

Cuka Kayu mengandung berbagai senyawa yang terbentuk karena terjadinya pirolisis tiga komponen kayu yaitu selulosa, hemiselulosa dan lignin. Lebih dari 400 senyawa kimia dalam asap telah berhasil diidentifikasi. Komponen komponen tersebut ditemukan dalam jumlah yang bervariasi tergantung jenis kayu, umur tanaman sumber kayu, dan kondisi pertumbuhan kayu seperti iklim dan tanah. Komponen - komponen tersebut meliputi asam yang dapat mempengaruhi citarasa, pH dan umur simpan produk asapan; karbonil yang bereaksi dengan protein dan membentuk pewarnaan coklat dan fenol yang merupakan pembentuk utama aroma dan menunjukkan aktivitas antioksidan (Astuti, 2000).

Selain itu Fatimah (1998) menyatakan golongan-golongan senyawa penyusun asap cuka kayu adalah air (11 92 %), fenol (0,2 - 2,9 %), asam (2,8-9,5 %), karbonil (2,6-4,0 %) dan tar (1 7 %). Kandungan senyawa-senyawa penyusun cuka kayu sangat menentukan sifat organoleptik cuka kayu serta menentukan kualitas produk pengasapan.

Komposisi dan sifat organoleptik cuka kayu sangat tergantung pada sifat kayu, temperatur pirolisis, jumlah oksigen, kelembaban kayu, ukuran partikel kayu serta alat pembuatan cuka kayu (Girard, 1992).

Diketahui pula bahwa temperatur pembuatan asap merupakan faktor yang paling menentukan kualitas asap yang dihasilkan. Darmadji et al (1999)

(17)

menyatakan bahwa kandungan maksimum senyawa-senyawa fenol, karbonil,

dan asam dicapai C. Tetapi produk yang diberikan

cuka kayu yang C dinilai mempunyai kualitas

organoleptik yang terba ik dibandingkan dengan cuka kayu yang dihasilkan pada temperatur pirolisis yang lebih tinggi.

Adapun komponen komponen penyusun cuka kayu meliputi: 1. Senyawa-senyawa fenol

Senyawa fenol diduga berperan sebagai antioksidan sehingga dapat memperpanjang masa simpan produk asapan. Kandungan senyawa fenol dalam asap sangat tergantung pada temperatur pirolisis kayu. Menurut Girard (1992), kuantitas fenol pada kayu sangat bervariasi yaitu antara 10 200 mg/kg. Beberapa jenis fenol yang biasanya terdapat dalam produk asapan adalah guaiakol, dan siringol. Senyawa-senyawa fenol yang terdapat dalam asap kayu umumnya hidrokarbon aromatik yang tersusun dari cincin benzena dengan sejumlah gugus hidroksil yang terikat. Senyawa -senyawa fenol ini juga dapat mengikat gugus-gugus lain seperti aldehid, keton, asam dan ester (Maga, 1987).

2. Senyawa-senyawa karbonil

Senyawa-senyawa karbonil dalam asap memiliki peranan pada pewarnaan dan citarasa produk asapan. Golongan senyawa ini me mpunyai aroma seperti aroma karamel yang unik. Jenis senyawa karbonil yang terdapat dalam cuka kayu antara lain adalah vanilin dan siringaldehida.

(18)

3. Senyawa-senyawa asam

Senyawa-senyawa asam mempunyai peranan sebagai antibakteri dan membentuk citarasa produk asapan. Senyawa asam ini antara lain adalah asam asetat, propionat, butirat dan valerat.

4. Senyawa hidrokarbon polisiklis aromatis

Senyawa hidrokarbon polisiklis aromatis (HPA) dapat terbentuk pada proses pirolisis kayu. Senyawa hidrokarbon aromatik seperti benzo(a)pirena merupakan senyawa yang memiliki pengaruh buruk karena bersifat karsinogen. Girard (1992) menyatakan bahwa pembentukan berbagai senyawa HPA selama pembuatan asap tergantung dari beberapa hal, seperti temperatur pirolisis, waktu dan kelembaban udara pada proses pembuatan asap serta kandungan udara dalam kayu. Dikatakan juga bahwa semua proses yang menyebabkan terpisahnya partikel-partikel besar dari asap akan menurunkan kadar benzo(a)pirena. Proses tersebut antara lain adalah pengendapan dan penyaringan.

5. Senyawa benzo(a)pirena.

Benzo(a)pi C dan dapat menyebabkan

kanker kulit jika dioleskan langsung pada permukaan kulit. Akan tetapi proses yang terjadi memerlukan waktu yang lama (Winaprilani, 2003). 6. Keuntungan dan Sifat Fungsional Cuka Kayu

Keuntungan penggunaan cuka kayu menurut Maga (1987) antara lain lebih intensif dalam pemberian citarasa, kontrol hilangnya citarasa lebih mudah, dapat diaplikasikan pada berbagai jenis bahan pangan, lebih hemat dalam pemakaian kayu sebagai bahan asap, polusi lingkungan dapat diperkecil dan dapat diaplikasikan ke dalam bahan dengan berbagai cara

(19)

seperti penyemprotan, pencelupan, atau dicampur langsung ke dalam makanan.

Selain itu keuntungan lain yang diperoleh dari cuka kayu adalah seperti diterangkan di bawah ini:

1. Keamanan Produk Asapan

Penggunaan cuka kayu yang diproses dengan baik dapat mengeliminasi komponen asap berbahaya yang berupa hidrokarbon polisiklis aromatis. Komponen ini tidak diharapkan karena beberapa di antaranya terbukti bersifat karsinogen pada dosis tinggi. Melalui pembakaran terkontrol, aging, dan teknik pengolahan yang semakin baik, tar dan fraksi minyak berat dapat dipisahkan sehingga produk asapan yang dihasilkan mendekati bebas HPA (Pszczola dalam Astuti, 2000). 2. Aktivitas Antioksidan

Adanya senyawa fenol dalam cuka kayu memberikan sifat antioksidan terhadap fraksi minyak dalam produk asapan. Dimana senyawa fenolat ini dapat berperan sebagai donor hidrogen dan efektif dalam jumlah sangat kecil untuk menghambat autooksidasi lemak (Astuti, 2000).

3. Aktivitas Antibakterial

Peran bakteriostatik dari cuka kayu semula hanya disebabkan karena adanya formaldehid saja tetapi aktivitas dari senyawa ini saja tidak cukup sebagai penyebab semua efek yang diamati. Kombinasi antara komponen fungsional fenol dan asam-asam organik yang bekerja secara sinergis mencegah dan mengontrol pertumbuhan mikrobia. Adanya fenol

(20)

dengan titik didih tinggi dalam asap juga merupakan zat antibakteri yang tinggi (Astuti, 2000).

4. Potensi pembentukan warna coklat

Menurut Ruiter (1979) karbonil mempunyai efek terbesar pada terjadinya pembentukan warna coklat pada produk asapan. Jenis komponen karbonil yang paling berperan adalah aldehid glioksal dan metal glioksal sedangkan formaldehid dan hidroksiasetol memberikan peranan yang rendah. Fenol juga memberikan kontribusi pada pembentukan warna coklat pada produk yang diasap meskipun intensitasnya tidak sebesar karbonil.

5. Kemudahan dan variasi penggunaan

Cuka kayu bisa digunakan dalam bentuk cairan, dalam fasa pelarut minyak dan bentuk serbuk sehingga memungkinkan penggunaan cuka kayu yang lebih luas dan mudah untuk berbagai produk (Pszczola dalam Astuti, 2000).

C. Jenis jenis Cuka Kayu

Senyawa HPA yang terbentuk adalah benzopyrene. Kandungan senyawa benzopyrene dalam cuka kayu tempurung kelapa pada pembakaran dengan suhu 350 oC mencapai lebih dari 19 ppb (Maga 1987). Senyawa ini dapat dihilangkan atau dikurangi dengan memberikan perlakuan khusus pada cuka kayu sehingga dapat digunakan sebagai bahan pengawet makanan yang aman bagi kesehatan. Perlakuan yang dapat dilakukan adalah dengan cara pemurnian cuka kayu. Proses pemurnian akan menentukan jenis cuka kayu yang dihasilkan.

(21)

Adapun jenis cuka kayu yang dihasilkan menurut Girard,J,P (1992) sebagai berikut:

1. Cuka kayu Grade 3

Cuka kayu grade 3 merupakan cuka kayu yang dihasilkan dari pemurnian dengan metode destilasi. Destilasi merupakan proses pemisahan campuran dalam fasa cair berdasarkan perbedaan titik didihnya. Dalam proses ini, cuka kayu yang dihasilkan dari proses pirolisis yang diperkirakan masih mengandung tar dimasukkan ke dalam tungku destilasi. Suhu pemanasan dijaga agar tetap konstan sehingga diperoleh destilat yang terbebas dari tar. Suhu proses destilasi ini adalah sekitar 150 oC, cuka kayu yang dihasilkan dari proses ini memiliki ciri berwarna coklat pekat dan berbau tajam. Cuka kayu grade 3 diorientasikan untuk pengawetan karet. 2. Cuka Kayu Grade 2

Cuka kayu grade 2 merupakan cuka kayu yang dihasilkan setelah melewati proses destilasi kemudian disaring dengan menggunakan zeolit. Proses penyaringan ini menyebabkan kandungan senyawa berbahaya seperti benzopyrene serta tar yang masih terdapat dalam cuka kayu teradsorbi oleh zeolit. Cuka kayu ini memiliki warna kuning kecoklat an dan diorientasikan untuk pengawetan bahan makanan mentah seperti daging, termasuk daging unggas dan ikan.

3. Cuka Kayu Grade 1

Cuka kayu grade 1 memiliki warna kuning pucat. Cuka kayu ini merupakan hasil dari proses destilasi dan penyaringan dengan zeolit yang kemudian dilanjutkan dengan penyaringan dengan karbon aktif. Cuka kayu

(22)

jenis ini dapat digunakan untuk pengawetan bahan makanan siap saji seperti mie basah, bakso, tahu dan sebagai penambah cita rasa pada makanan.

D. Manfaat Cuka Kayu

Tranggono et al (1997) berpendapat penggunaan berbagai jenis kayu sebagai bahan bakar pengasapan telah banyak dilaporkan. Pembuatan bandeng asap di daerah Sidoarjo, menggunakan berbagai jenis kayu sebagai bahan bakar seperti kayu bakau, serbuk gergaji kayu jati, ampas tebu dan kayu bekas kotak kemasan. Namun untuk menghasilkan asap yang baik pada waktu pembakaran sebaiknya menggunakan jenis kayu keras seperti kayu bakau, rasa mala, serbuk dan serutan kayu jati serta tempurung kelapa, sehingga diperoleh ikan asap yang baik.

Cuka kayu memiliki kemampuan untuk mengawetkan bahan makanan karena adanya senyawa asam, fenolat, dan karbonil. Seperti yang dilaporkan Darmaji et al (2000), yang menyatakan bahwa pirolisis tempurung kelapa menghasilkan cuka kayu dengan kandungan senyawa fenol sebesar 4,13 %, karbonil 11,3 %, dan asam 10,2%.

Asap memiliki kemampuan untuk mengawetkan bahan makanan telah dilakukan di sidorejo untuk bandeng asap karena adanya senyawa fenolat, asam dan karbonil (Tranggono at al 1997).

Cuka kayu memiliki banyak manfaat dan telah digunakan pada berbagai industri, antara lain :

1. Industri Pangan

Cuka kayu ini mempunyai kegunaan yang sangat besar sebagai pemberi rasa dan aroma yang spesifik juga sebagai pengawet karena sifat antimikrobia dan antioksidannya. Dengan tersedianya cuka kayu maka

(23)

proses pengasapan tradisional dengan menggunakan asap secara langs ung yang mengandung banyak kelemahan seperti pencemaran lingkungan, proses tidak dapat dikendalikan, kualitas yang tidak konsisten serta timbulnya bahaya kebakaran, yang semuanya tersebut dapat dihindari. 2. Industri perkebunan

Cuka kayu dapat digunakan sebagai koagulan lateks dengan sifat fungsional cuka kayu seperti anti jamur, antibakteri dan antioksidan tersebut dapat memperbaiki kualitas produk karet yang dihasilkan.

3. Industri kayu

Kayu yang diolesi dengan cuka kayu mempunyai ketahanan terhadap serangan rayap dari pada kayu yang tanpa diolesi cuka kayu (Darmadji, 1999).

E. Alat-alat Pengolahan Cuka Kayu 1. Reaktor Pirolisis

Reaktor Pirolisis adalah alat pengurai senyawa-senyawa organik yang dilakukan dengan proses pemanasan tanpa berhubungan langsung

dengan - C. Reaktor pirolisis dibalut dengan

selimut dari bata dan tanah untuk menghindari panas keluar berlebih, memakai bahan bakar kompor minyak tanah, kemudian dilengkapi dengan alat penangkap ter dan seperangkat alat kondensasi. Proses pirolisis menghasilkan zat dalam tiga bentuk yaitu padat, gas dan cairan

Cara penggunaan alat ini yaitu dengan memasukkan sampel ke dalam reaktor pirolisis dan ditutup rapat. Reaktor kemudian dipanaskan selama 5 jam. Destilat yang keluar dari reaktor ditampung dalam dua wadah. Wadah pertama untuk menampung fraksi berat, sedangkan wadah kedua

(24)

untuk menampung fraksi ringan. Fraksi ringan ini diperoleh setelah dilewatkan tungku pendingin yang dilengkapi pipa berbentuk spiral.

2. Destilator

Destilator adalah alat yang berfungsi sebagai proses destilasi dengan tujuan memisahkan komponen dalam campuran berdasarkan perbedaan titik didihnya, atau pemisahan campuran berbentuk cairan atas komponennya dengan proses penguapan dan pengembunan sehingga diperoleh destilat dengan komponen-komponen yang hampir murni.

Destilasi adalah suatu proses pemisahan suatu komponen dari suatu campuran dengan menggunakan dasar bahwa beberapa komponen dapat menguap lebih cepat daripada komponen yang lainnya. Ketika uap diproduksi dari campuran, uap tersebut lebih banyak berisi komponen-komponen yang bersifat lebih volatil, sehingga proses pemisah an komponen-komponen dari campuran dapat terjadi (Earle dalam Astuti, 2000).

Destilasi sederhana dilakukan secara bertahap, sejumlah campuran dimasukkan ke dalam sebuah bejana, dipanaskan bertahap dan dipertahankan selalu berada dalam tahap pendidihan kemudian uap yang terbentuk dikondensasikan dan ditampung dalam labu erlenmeyer. Produk destilat yang pertama kali tertampung mempunyai kadar komponen yang lebih ringan dibandingkan destilat yang lain.

(25)

F. Standar Kualitas Cuka Kayu

Adapun standar kualitas cuka kayu menurut Yatagai (2002) sebagai berikut :

Tabel 1. Standar Kualitas Cuka Kayu

No Parameter Pengujian Hasil Pengujian

1 PH 1,5 3,7

2 Berat Jenis >1,005

3 Warna Kuning sampai coklat

kemerah merahan

G. Rendemen

Rendemen merupakan salah satu parameter yang penting untuk mengetahui hasil dari suatu proses. Jumlah rendemen cuka kayu yang dihasilkan pada proses pirolisis sangat bergantung pada jenis bahan baku yang digunakan. Persentase rendemen yang diperoleh juga sangat bergantung pada sistim kondensasi yang dipakai. Kondisi ini sesuai dengan yang dikemukakan Tranggono et al (1996), bahwa untuk pembentukan cuka kayu digunakan air sebagai medium pendingin agar proses pertukaran panas dapat terjadi dengan cepat.

Pirolisis pada suhu yang terlalu tinggi dan waktu yang terlalu lama akan menyebabkan pembentukan cuka kayu berkurang karena suhu dalam air pendingin semakin meningkat sehingga asap yang dihasilkan tidak terkondensasi secara sempurna.

Proses kondensasi akan berlangsung optimal apabila air di dalam sistem pendingin dialiri secara kontinyu sehingga suhu dalam sistem tersebut tidak meningkat. Hal ini sesuai dengan pernyataan Demirbas (2005), bahwa cuka kayu hasil proses pirolisis bahan kayu dapat dihasilkan secara maksimum jika proses kondensasinya berlangsung secara sempurna.

(26)

Menurut Kasmudjo (1992) beberapa faktor yang mempengaruhi rendemen cuka kayu yang dihasilkan, yaitu :

1. Umur Tanaman

Umur Tanaman adalah salah satu faktor yang mempengaruhi rendemen arang kayu. Umur tanaman yang lebih tua pada sebagian besar pohon akan menghasilkan diameter yang lebih besar, karena pertumbuhan yang semakin besar pada kayu gubal dan telah terbentuknya kayu teras menambah lebar dari diameter pohon.

2. Keadaan Bahan Baku dan Cara Pembakaran.

Cara pembakaran juga dapat mempengaruhi rendemen. Cara pembakaran yang tidak sempurna proses karbonisasinya juga mempengaruhi rendemen dari arang kayu. Hal ini disebabkan karena alat pembakaran yang tidak dapat secara maksimal menjaga proses karbonisasi karena jumlah oksigen yang masih banyak terdapat dalam drum pembakaran. Cara pembakaran yang tidak dapat dilakukan secara seragam juga menyebabkan jumlah arang kayu yang dihasilkan tidak maksimal untuk diameter yang besar.

Faktor-faktor ini mempengaruhi jumlah yang dihasilkan dalam proses produksi sehingga mempengaruhi rendemen dari cuka kayu yang dihasilkan.

(27)

H. Risalah Jenis Kayu Kapur

Gambar 1. Pohon Kapur

1. Klasifikasi Kerajaan : Plantae Filum : Tracheophyta Kelas : Magnoliopsida Ordo : Theales Famili : Dipterocarpaceae Genus : Dryobalanops

Spesies : Dryobalanops aromatica Sinonim : lihat artikel (Anonim 2011)

Dryobalanops camphora (pohon kapur) sebagai anggota kelompok Dipterocarpaceae, memiliki beberapa ciri morfologi agar mudah dikenal oleh masyarakat awam. Di antara karakter utama pohon kapur yakni berperawakan pohon besar dengan diameter batang berkisar 70 cm dan

(28)

tinggi dapat mencapai 62 m. Batang tegak, lurus, bulat, terdapat resin, dengan kulit batang berwarna coklat dan semakin ke arah dalam berwarna coklat kemerahan. Berdaun tunggal, berseling, permukaan helaian mengkilap, tepi daun rata, pertulangan daun menyirip rapat, memiliki stipula berukuran 7 mm di sisi ketiak daun, jika daun diremas-remas akan mengeluarkan aroma wangi. Bunga biseksual, berukuran 5 mm, berwarna putih, terdapat dalam malai yang pendek. Buah berbentuk nut, berwarna kuning-merah-keunguan, dengan lima sayap yang berasal dari das ar kelopak, panjang sayap 50 mm sehingga dimungkinkan dapat terbawa oleh angin. (Anonim 2016).

Habitat pohon kapur banyak terdapat di hutan-hutan Dipterocarpaceae campuran yang memiliki ketinggian sampai 300 meter dpl., di lereng-lereng bukit, dan di pegunungan bertekstur tanah yang mengandung pasir. Persebaran tumbuhan langka ini mulai dari semenanjung Malaya, Sumatera, sampai Borneo (Sarawak, Brunei, Sabah dan Kalimantan Timur). Beberapa wilayah di Indonesia yang termasuk daerah persebaran pohon kapur diantaranya di bagian barat wilayah Singkil, sungai Natal, antara Sibolga dan Padang Sidempuan sampai Aerbangis dan di bagian timur mulai dari selatan sungai Rokan sampai utara Batanghari. Ke arah timur dapat ditemukan di kepulauan Riau termasuk wilayah Bengkalis dan Malaka, ke arah barat di pulau Morsala, namun pohon ini tidak dijumpai di pulau-pulau Simalur, Nias, dan kepulauan Batu (Heyne, 1987).

I. Kegunaan Dryobalanops camphora Colebr.

Penilaian Dryobalanops camphora sebagai salah satu jenis kelompok Dipterocarpaceae bernilai ekonomi tinggi tidaklah berlebihan, karena hampir

(29)

sebagian besar dari organ tumbuhan ini dapat dimanfaatkan untuk keperluan manusia (Heyne, 1987).

Kamper diperoleh dengan cara sebagai berikut, pertama kali pohon kapur diseleksi (dipilih), selanjutnya dilakukan penebangan dan pemotongan batang menjadi bagian-bagian yang ukurannya lebih kecil. Kemudian potongan-potongan batang dibelah, setelah beberapa hari kemudian getah-getah yang keluar dari dalam batang mengalami pengeringan sehingga terbentuklah kristal-kristal kapur barus. Beragam kemanfaatan kapur barus telah digunakan untuk keperluan manusia, diantaranya orang-orang China menggunakan kapur barus sebagai penguat (tonikum), penguat syahwat (aphrodisiacum), dan untuk radang mata (Heyne, 1987).

Masyarakat di wilayah Mesir memanfaatkan kapur barus sebagai pengawet jasad manusia yang telah meninggal dengan cara melumurinya balsem (ramuan hasil campuran kapur barus dengan rempah-rempah dari Ophir) di sekujur tubuh mayat tersebut. Sejarah mencatat bahwa jasad raja-raja Mesir sejak abad ke-7 sampai dengan abad ke-16 Masehi diawetkannya dengan menggunakan kapur barus, termasuk diantaranya mumi Ramses II dan Ramses III. Di samping itu oleh masyarakat Timur Tengah termasuk Arab dan Mesir kapur barus juga digunakan sebagai bahan baku dalam pembuatan obat-obatan dan parfum (Heyne, 1987).

(30)

BAB III

METODE PENELITIAN A. Waktu Dan Tempat Penelitian 1. Waktu Penelitian

Penelitian dapat dimulai pada bulan Januari 2016 dan berakhir pada Februari 2016 dengan tahapan mulai dari persiapan penelitian, mempersiapakan bahan baku serbuk kayu kapur pelaksanaan kegiatan penelitian, analisis data dan pelaporan hasil akhir penelitian.

Tahapan pelaksanaan penelitian ini dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 2. Tahapan Pelaksanaan Penelitian.

Kegiatan

Januari Februari

Minggu Ke Minggu Ke

I II III IV I II

Persiapan bahan baku Penjemuran bahan baku Proses destilasi

Pengujian sifat fisik Laporan penelitian

2. Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Hasil Hutan Non Kayu dan Laboratorium Sifat Kayu Dan Analisis Produk Program Studi Teknologi Hasil Hutan Jurusan Teknologi Pertanian Politeknik Pertanian Negeri Samarinda.

B. Bahan Dan Alat Penelitian 1. Bahan Penelitian

a. Serbuk kayu kapur 38 kg b. Air

2. Alat Penelitian

(31)

b. Alat tulis menulis. c. Baskom. d. Alat destilasi. e. Parang f. Timbangan Analitik g. Kamera h. Karung

3. Alat pengujian sifat fisik asap cair a. Picnometer b. Aquades c. Timbangan digital d. Beaker glass e Tissue f. pH meter

(32)

C. Prosedur Penelitian

Secara umum proses kegiatan penelitian dapat dilihat pada gambar berikut ini:

Gambar 2. Bagan Alir Proses Penelitian

1. Tahap Persiapan Bahan Baku

Pada tahap ini bahan baku dari serbuk kayu kapur dikeringkan udara atau dijemur kemudian dilakukan penimbangan untuk mengetahui jumlah berat awal bahan baku.

Serbuk Kayu Kapur

Persiapan Bahan Baku

(Pengeringan,Penimbangan)

Pirolisis Serbuk Kayu Kapur

Cuka Kayu Arang

Perhitungan Rendemen

Pengujian Sifat Fisik Cuka Kayu

(33)

2. Tahap karbonisasi dan produksi Cuka Kayu

Tahap pembuatan cuka kayu ini dilakukan dengan menggunakan tungku pirolisis atau dibakar secara tidak langsung untuk memperoleh cuka kayu.

Proses pembakaran serbuk kayu kapur dilakukan selama ± 13 jam dengan berat bahan baku sebanyak 38 kg. Selama produksi cuka kayu berlangsung air pendinginan disirkulasikan dan dikontrol suhunya agar asap atau uap dapat terkondensasi dalam jumlah yang banyak sehingga menghasilkan cuka kayu grade III, kemudian ditampung menggunakan botol. 3. Pengujian Rendemen

Rendemen merupakan salah satu parameter yang penting untuk mengetahui hasil dari suatu proses. Jumlah rendemen cuka kayu yang dihasilkan pada proses pirolisis sangat bergantung pada jenis bahan baku yang digunakan. Persentase rendemen yang diperoleh juga sangat bergantung pada sistim kondensasi yang dipakai. Kondisi ini sesuai dengan yang dikemukakan Tranggono et al (1996), bahwa untuk pembentukan cuka kayu digunakan air sebagai medium pendingin agar proses pertukaran panas dapat terjadi dengan cepat.

Untuk menghitung nilai rendemen, tahapan-tahapannya adalah sebagai berikut:

a. Menimbang berat awal bahan baku (serbuk kayu kapur) b. Timbang hasil cuka kayu

(34)

Data rendemen menurut Anonim (2009). dihitung menggunakan rumus sebagai berikut :

Rendemen =

Keterangan :

Rendemen : Rendemen (%)

Output : Cuka kayu yang dihasilkan Input : Bahan yang digunakan 4. Pengujian sifat fisik Cuka Kayu

Pengujian sifat fisik meliputi : a. Pengujian pH cuka kayu

pH cuka kayu diukur menggunakan alat yang disebut pH meter dengan cara memasukkan cuka kayu kedalam beaker glass kemudian diukur dengan memasukkan alat pH meter kedalam beaker glass yang telah berisi cuka kayu

b. Berat jenis

Timbang sampel cuka kayu menggunakan timbangan analitik Kemudian timbang kembali berat aquadest

Berat jenis dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

BJ =

Output

X 100% Input

G?Al ?UA <A?? G?AlAs?

(35)

c. Warna

Untuk pengujian kualitas warna hanya diamati dengan kasat mata. d. Rasa atau Bau

Untuk pengujian kualitas rasa atau bau diuji dengan indra pencium (Hidung)

(36)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil

1. Rendemen Cuka Kayu

Dari hasil penelitian cuka kayu serbuk kayu kapur dapat dilihat bahwa rendemen dari serbuk kayu kapur dengan bahan baku awal sebanyak 38 kg diperoleh cuka kayu sebanyak 3,6 kg, dan hasil rendemen cuka kayunya sebanyak 9,47 %

Data rendemen cuka kayu dapat dilihat pada tabel di bawah ini: Tabel 3. Rendemen Cuka Kayu dari Serbuk Kayu Kapur

No. Input (kg) Output (kg) Rendemen (%) Kualifikasi

1 38 3,6 9,47 Grade 3

2. Sifat Fisik Cuka Kayu

Data sifat fisik meliputi pH, berat jenis, warna dan bau dari cuka kayu serbuk gergaji kayu kapur dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel 4. Sifat Fisik dan Standarisasi Cuka Kayu dari Serbuk kayu kapur No Parameter

Pengujian Hasil pengujian

Standar

Yatagai (2002) Keterangan

1 PH 3,46 1,5-3,7 Memenuhi

2 Berat jenis 1,011 >1, 005 Memenuhi

3 Warna Coklat Kemerahan Kuning sampai coklat kemerah-merahan Memenuhi

Nilai pH cuka kayu adalah 3,46. Jika dilihat dari hasil pengujian pH nya dapat diketahui bahwa cuka kayu dari serbuk kayu kapur ini bersifat asam.

Sedangkan untuk berat jenisnya sebesar 1,011. Hasil analisis warna dari cuka kayu yang berasal dari bahan baku serbuk kayu kapur berwarna coklat kemerahan (dapat dilihat pada Gambar 3).

(37)

Gambar 3. Hasil Cuka Kayu Grade 3

B. Pembahasan 1. Rendemen Cuka Kayu

Rendemen merupakan salah satu parameter yang penting untuk mengetahui hasil dari suatu proses. Cuka kayu yang menggunakan bahan baku kayu kapur dengan berat jenis 0,63-0,94 pada penelitian ini dihasilkan melalui proses pirolisis asap yang dikeluarkan oleh alat pirolisis untuk grade 3 menghasilkan sebanyak 3,6 kg dengan berat serbuk 38 kg, sehingga nilai rendemen cuka kayu adalah sebesar 9,47 %. Hasil sebesar ini, didapat dari kondensasi proses pembakaran serbuk kayu kapur selama ± 13 jam, dimana tidak terdapat lagi tetesan cuka kayu yang keluar. Sehingga waktu ± 13 jam inilah waktu maksimal untuk proses karbonisasi yang menghasilkan cuka kayu dari serbuk kayu kapur.

Sebagai data pembanding bahwa menurut penelitian Fachraniah,at al (2014) rendemen cuka kayu yang berbahan baku serbuk kayu jati dengan berat jenis 0,67 menghasilkan rendemen cuka kayu adalah sebesar 29,88

(38)

%, Sedangkan dalam penelitian Sunardi (2006) yang berbahan baku kayu bakau dengan berat jenis 0,82-1,03, menghasilkan jumlah rendemen 3,2689 %. Ditambahkan lagi menurut penelitian Satriadi (2010) yang menggunakan bahan baku kayu jelutung dengan berat jenis 0,22-0,56 untuk pembuatan cuka kayu menghasil jumlah rendemen 4,25 %

Dari ketiga penelitian diatas dapat dikatakan jumlah rendemen dari serbuk kayu jati lebih besar dibandikan jumlah rendemen serbuk kayu kapur. Hal ini kemungkinan disebabkan karena jumlah rendemen cuka kayu yang dihasilkan pada proses pirolisis sangat bergantung pada jenis bahan baku, kadar air, lama pirolisa dan suhu pirolisa serta ukuran bahan baku yang dipirolisa. Persentase rendemen yang diperoleh juga sangat bergantung pada sistem kondensasi yang digunakan. Kondisi ini sesuai dengan yang dikemukakan Tranggono et al. (1996), bahwa untuk pembentukan cuka kayu digunakan air sebagai medium pendingin agar proses pertukaran panas dapat terjadi dengan cepat. Pirolisis pada suhu yang terlalu tinggi dan waktu yang terlalu lama akan menyebabkan pembentukan cuka kayu berkurang karena suhu dalam air pendingin semakin meningkat sehingga asap yang dihasilkan tidak terkondensasi secara sempurna. Proses kondensasi akan berlangsung optimal apabila air didalam sistim pendingin dialiri secara kontinyu sehingga suhu dalam sistem tersebut tidak meningkat. Hal ini sesuai dengan pernyataan Demirbas (2005), bahwa cuka kayu hasil pirolisis bahan kayu dapat dihasilkan secara maksimum jika proses kondensasinya berlangsung secara sempurna.

(39)

2. Sifat Fisik Cuka Kayu a. Nilai pH

Nilai pH merupakan salah satu parameter kualitas dari cuka kayu yang dihasilkan. Nilai pH ini menunjukkan tingkat proses penguraian komponen kayu yang terjadi untuk menghasilkan asam organik pada cuka kayu. Bila cuka kayu memiliki nilai pH yang rendah, maka kualitas cuka kayu yang dihasilkan tinggi karena secara keseluruhan berpengaruh terhadap nilai awet dan daya simpan produk asap maupun sifat organoleptiknya. Pengukuran pH ini dilakukan dengan menggunakan alat pH meter.

Nilai keasaman (pH) cuka kayu grade 3 dari serbuk kayu kapur adalah 3.46. Berdasarkan pernyataan maka kualitas cuka kayu dari serbuk kayu kapur dapat dikatakan baik.

Nilai pH cuka kayu dari kayu kapur ini sudah memenuhi standar kualitas yang ditetapkan oleh Yatagai (2002) yaitu berkisar antara 1,5 - 3,7

b. Berat Jenis

Berat jenis merupakan rasio antara berat suatu cuka kayu dengan volumenya. Dalam sifat fisik cuka kayu, berat jenis tidak berhubungan langsung dengan tinggi rendahnya kualitas cuka kayu yang dihasilkan. Namun berat jenis dapat menunjukkan banyak komponen yang ada dalam cuka kayu. Penentuan berat jenis cuka kayu dilakukan dengan menggunakan alat picnometer.

Berat jenis dari hasil penelitian ini yaitu untuk cuka kayu grade 3 sebesar 1,011. Berat jenis cuka kayu setelah di destilasi akan semakin

(40)

kecil atau turun. Hal ini diduga bahwa tar mempengaruhi berat jenis dari cuka kayu sehingga pada saat cuka kayu di destilasi berulang-ulang, senyawa tar/ter yang terkandung pada cuka kayu akan mengendap dan tidak menguap, sedangkan komponen senyawa yang lain seperti fenol, karbonil dan asam akan menguap sehingga berat jenis hasil destilasi akan semakin kecil atau turun.

Berat jenis cuka kayu dari serbuk kayu kapur ini juga sudah memenuhi standar kualitas yang ditetapkan Yatagai (2002) yaitu >1,005 c. Warna dan Bau Cuka Kayu

Hasil analisis warna cuka kayu dari serbuk kayu kapur yaitu untuk cuka kayu grade 3 berwarna coklat sedangkan bau atau rasa cuka kayu grade 3 yaitu asam. Untuk analisis warna cuka kayu dari sebuk kayu kapur ini sudah sesui dengan standar yang ditetapkan (Yatagai 2002).

Berdasarkan hasil pengujian cuka kayu dari serbuk kayu kapur yang berada pada grade 3 dapat digunakan sebagai pengawet kayu agar tidak mudah terserang jamur, atau dapat juga digunakan sebagai penghilang bau. Hal ini didukung pula dengan adanya penelitian yang dilakukan oleh Rolis at al (2011) cuka kayu grade 3 tidak dapat digunakan untuk pengawet makanan, karena masih banyak mengandung tar yang karsinogenik. Cuka kayu grade 3 digunakan sebagai pengawet kayu agar tahan rayap, menghilangkan bau pada karet, dan menghilangkan bau pada sampah.

(41)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan

Hasil penelitian cuka kayu dari serbuk kayu kapur dapat disimpulan sebagai berikut :

1. Rendemen cuka kayu dari serbuk kayu kapur sebesar 9,47 %.

2. Hasil pengujian sifat fisik cuka kayu serbuk kayu kapur menunjukan nilai-nilai yang sudah memenuhi standar pengujian cuka kayu.

B. Saran

1. Perlu dilakukan aplikasi dari cuka kayu serbuk kayu kapur ini terhadap beberapa produk agar dapat langsung dilihat manfaatnya, seperti bahan pengawet kayu agar tidak mudah terserang jamur atau dapat juga digunakan sebagai penghilang bau.

2. Perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk pengujian analisis komponen kimia yang terkandung dalam cuka kayu serbuk kayu kapur sehingga dapat menentukan hasil pemanfaatan dari cuka kayu ini yang lebih akurat.

(42)

Hutan tgl. 7 Desember 2000. Bogor.

---. 2002. Wood vinegar. Forest Energy Forum No. 9. FAO.

Astuti, Iis Puji. 2000. Identifikasi variabel-variabel yang Mempengaruhi Pergerakan Antar Zona dan Implikasinya Terhadap Pola Pergerakan di Kota Bandung. Tugas Akhir Jurusan Teknik Planologi ITB, Bandung. Badan Pusat Statistik. 1999. Statistik Perdagangan Luar Negeri Indonesia :

Impor. Jakarta.

Darmadji 1999. Produksi Asap Cair Limbah Padat Rempah dengan Cara Pirolisa, Agritech 19 (1): 11-15, Yogyakarta.

Departemen Kehutanan dan Perkebunan. 2000. Statistik Kehutanan Indonesia. Direktorat Jendral PHP. Jakarta.

Demirbas 2005. Pyrolysis of ground beech wood in irregular heating rate conditions. Journal of Analytical Applied and Pyrolysis 73:39-43. Febrianto F. 1999. Preparation And Properties Enhancement Of Moldable Wood

Biodegradable Polymer Composites. [Disertasi]. Kyoto: Kyoto University, Doctoral Dissertation.Division of Forestry and Bio-material Science. Faculty of Agriculture. Tidak dipublikasikan

Gusmailina dkk. 2002. Pedoman pembuatan arang kompos. Pusat Penelitian Dan Pengembangan Teknologi Hasil Hutan.

Girrard, J.P. 1992. Technology of Meat and Meat Products. Ellis horwood. New York. Hanendoyo, 2005.

Heyne, K. (1988). Tumbuhan berguna Indonesia III. Jakarta. Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan, Departemen Kehutanan.

Martawijaya, A. dan P. Sutigno. 1990. Peningkatan efisiensi dan produktivitas pengolahan kayu melalui pengurangan dan pemanfaatan limbah. Seminar Teknologi Perkayuan. Jakarta, 22 Januari 1990.

Maga, J.A. 1988. Smoke in Food Processing. CRC Press. Florida .

Nurhayati 2002. Prospek pengembangan komoditas wood vinegar. Prosiding Pertemuan dan Presentasi Ilmiah Standardisasi dan Jaminan Mutu Jakarta, 2 - 3 Oktober. Badan Standardisasi Nasional. Jakarta..

(43)

Paris et al., 2005. Decomposition and Carbonization of Wood Biopolymer Microstructural Study of Softwood Pyrolisis. Ca

rbon 43: 53-66

Purwanto dkk1994. Pemanfaatan Limbah Industri Kayu lapis untuk Papan Partikel Buatan secara Laminasi

Pengembangan Industri, Badan Penelitian dan Pengembangan Industri, Departemen Perindustrian, Banjar Baru.

Tranggono et al. 1996. Identifikasi Asap Cair dari Berbagai Jenis Kayu dan Tempurung Kelapa. Jurnal Ilmu & Teknologi Pangan, I (2) : Yogyakarta 15-24.

Yatagai Mitsuyoshi. 2002. Utilization of charcoal and wood vinegar in Japan. Graduate School of Agricultural and Life Sciences, The University of Tokyo.

Whittle dan Howgate, 2002 dalam Sutin. Glossary of Fish Technology Terms. www.onefish.org/global/ishTechnologyGlossaryFeb02.

(44)

Gambar 4. Proses Penimbangan Bahan Baku

(45)

Gambar 6. Proses Pembakaran

(46)

Gambar 8. Kompresor

(47)

Gambar 10. Cuka Kayu Grade 3

(48)

Gambar 12. Proses Pengujian pH

(49)

Gambar 14. Picnometer

(50)

Gambar 16. Proses Penimbangan Aquadest

Gambar

Gambar 1.  Pohon Kapur
Gambar 2. Bagan Alir Proses Penelitian
Gambar 5. Proses Memasukan Bahan Baku Kedalam Tungku Pirolisis
Gambar 6. Proses Pembakaran
+6

Referensi

Dokumen terkait

sirip punggung yang terpisah. Pada sirip punggung yang pertama terdapat %2#%&amp; jari#  jari keras jari#jari lemah pada sirip punggung kedua diikuti !leh ?#- finlet. Sirip

Pada program Mata Najwa, peneliti menemukan beberapa wawancara yang dilakukan oleh Najwa Shihab yang semestinya sesuai dengan etika wawancara yang baik, beberapa diantaranya

Terdapat 31 jenis tanah di negeri Perak ( Schematic Reconnaissance Soil Map Perak, Pengarah Pemetaan Malaysia, 1970) dan 8 jenis latar belakang geologi (Peta Kajibumi

Metode analisis data pada penelitian kualitatif ini dibagi menjadi 3 tahap pertama data reduction, proses pemilihan, pemusatan, perhatian, pengabstraksian dan

Setelah dilakukan penelitian terhadap variabel pengembangan produk pada KFC Sudirman Pekanbaru dapat diketahui bahwa secara keseluruhan pengembangan produk yang

Penelitian ini adalah melakukan segmentasi paru-paru pada citra x-ray rongga dada menggunakan metode Active Shape Model dan dari hasil segmentasi dapat diketahui diameter

Hasil penelitian ini menunjukan bahwa : (1) terdapat pengaruh yang signifikan antara sikap masyarakat terhadap partisipasi dalam pelaksanaan kegiatan siskamling di

Berdaasarkan gambar 3.2 menunjukkan bahwa rata-rata ketebalan pertumbuhan miselium yang paling cepat pada hari ke-21 adalah pada M1J2 (Media Batang pisang Jamur