42 Volume 18 No. 1 Juni 2013
Agrim
edia
Fokus
Dr. Ir. Hoetomo Lembito, MBA,CSLP
- President Director UTS Consulting
- Executive Board Asosiasi Logistik Indonesia
- Anggota Tim Ahli Sislognas Kementerian Koordinator Perekonomian Repulik Indonesia
SiStem LogiStik indoneSia
yang Berdaya Saing
DALAM MENGHADAPI ASEAN COMMUNITy 2015
42 Volume 18 No. 1 Juni 2013
Agrim
edia
Fokus
Sumber: www.denizhaber.com
U
keseluruhan di pasar dunia, dan mendorong pertumbuhan ekonomi, mengurangi kemiskinan serta meningkatkan standar hidup penduduk seluruh Negara Anggota ASEAN sepakat untuk segera mewujudkan integrasi ekonomi yaitu ASEAN Economy Community (AEC). AEC adalah bentuk integrasi ekonomi ASEAN yang direncanakan akan tercapai pada tahun 2015. Dengan diberlakunya ASEAN Economy Community yang disepakati bersama oleh semua negara di wilayah Asia Tenggara maka secara otomatis liberalisasi akan terjadi hampir di semua sektor.Sejak awal pembentukannya, ASEAN secara intensif menyepakati berbagai kesepakatan dalam bidang ekonomi. Diawali dengan kesepakatan Preferential
Tariff Arrangement (PTA) pada tahun 1977.
Kesepakatan yang cukup menonjol dan menjadi cikal bakal visi pembentukan AEC pada tahun 2015 adalah disepakatinya Common Effective Preferential
Tarif-ASEAN Free Trade Area (CEPT-AFTA) pada tahun 1992
dengan target implementasi semula tahun 2008, kemudian dipercepat menjadi tahun 2003.
Pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-2 ASEAN tanggal 15 Desember 1997 di Kuala Lumpur, Malaysia, para pemimpin ASEAN mengesahkan Visi ASEAN 2020 dengan tujuan antara lain sebagai berikut:
1. Menciptakan kawasan ekonomi ASEAN yang stabil, makmur dan memiliki daya saing tinggi yang ditandai dengan arus lalu lintas barang, jasa-jasa dan investasi yang bebas, arus lalu lintas modal yang lebih bebas, pembangunan ekonomi yang merata serta mengurangi kemiskinan dan kesenjangan sosialekonomi.
2. Mempercepat liberalisasi perdagangan di bidang
perlunya dibentuk Roadmap for Integration of ASEAN
(RIA) guna memetakan tonggak penting yang harus
dicapai berikut langkah-langkah spesifik dan jadwal pencapaiannya. Pada Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN di Bali tanggal 7-8 Oktober 2003 dihasilkan komitmen dari seluruh anggota ASEAN untuk mewujudkan
Economy Community tahun 2015. Komitmen itu
tertuang dalam dokumen Declaration of ASEAN
Concord II atau juga dikenal dengan Bali Concord II.
Ada tiga pilar utama penopang pembentukan ASEAN
Community tahun 2015. Pilar pertama adalah ASEAN Political-Security Community. Pilar kedua adalah ASEAN Economic Community. Pilar ketiga adalah ASEAN Social
dan Cultural Community. Dari ketiga pilar itu ASEAN
Economic Community paling mengundang perhatian
dan menjadi bahasan banyak pihak. Hal itu disebabkan ASEAN Economic Community akan membawa dampak besar tidak hanya dari sisi ekonomi, tapi juga dalam segala aspek kehidupan lain.
Pencapaian ASEAN Community semakin kuat dengan ditandatanganinya “Cebu Declaration on
the Acceleration of the Establishment of an ASEAN Community by 2015” oleh para Pemimpin ASEAN
pada KTT ke-12 ASEAN di Cebu, Filipina, tanggal 13 Januari 2007. Para Pemimpin ASEAN juga menyepakati percepatan pembentukan ASEAN Economy Community (AEC) dari tahun 2020 menjadi tahun 2015. Tujuan utama ASEAN Economy Community ini adalah untuk mendorong efisiensi dan daya saing ekonomi kawasan ASEAN yang tercermin dalam 4 pilar yakni:
1. Single Market and Production base bertujuan mewujudkan ASEAN sebagai aliran bebas barang, bebas jasa, bebas investasi, bebas tenaga kerja terdidik, dan bebas modal. Dengan terbukanya
44 Volume 18 No. 1 Juni 2013
Agrim
edia
Fokus
2. Competitive Economic Region yang bertujuan mewjudkan ASEAN sebagai kawasan dengan daya saing tinggi. ASEAN Economy Community memberikan peluang untuk meningkatkan daya saing setiap negara yang terlibat sekaligus kawasan. Tidak diragukan bahwa kerjasama dan kolaborasi kawasan dapat menjadi kekuatan untuk mendongkrak competitive advantage dan menjadi magnet bagi dunia global.
3. Equitable Economic Development yang bertujuan mewujudkan ASEAN sebagai kawasan dengan pengembangan ekonomi yang merata dengan elemen pengembangan usaha kecil menengah. Meski dalam berbisnis selalu ada persaingan, ASEAN
Economy Community adalah upaya bersama untuk
mensejahterakan semua anggotanya.
4. Integration into the Global Economy yang bertujuan mewujudkan ASEAN sebagai kawasan terintegrasi. Membentuk sebuah komunitas ekonomi bukanlah upaya untuk mengasingkan diri dari dunia global. Sebaliknya, komunitas ekonomi ASEAN ditujukan untuk mengintegrasikan ekonomi kawasan dengan ekonomi global dengan harapan mampu menawarkan diri dengan value yang lebih tinggi. Apabila AEC tercapai, maka ASEAN akan menjadi pasar tunggal dan berbasis produksi tunggal dimana terjadi arus barang, jasa, investasi, dan tenaga terampil yang bebas, serta arus modal yang lebih bebas diantara Negara ASEAN. Dengan terbentuknya pasar tunggal yang bebas tersebut maka akan terbuka peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan pangsa pasarnya di kawasan ASEAN. Konsep utama dari ASEAN Economy
Community adalah menciptakan ASEAN sebagai
sebuah pasar tunggal dan kesatuan basis produksi dimana terjadi free flow atas barang, jasa, faktor produksi, investasi dan modal serta penghapusan
tarif bagi perdagangan antar negara ASEAN yang kemudian diharapkan dapat mengurangi kemiskinan dan kesenjangan ekonomi diantara negara-negara anggotanya melalui sejumlah kerjasama yang saling menguntungkan. Dengan adanya penyatuan ini akan menciptakan pasar yang mencakup wilayah seluas 4,47 juta km persegi dengan potensi lebih kurang sebesar 601 juta jiwa di mana akan terjadi peningkatan pergerakan barang dan jasa yang membutuhkan sistem logistik yang kuat dan handal.
Daya Saing Negara dengan pendekatan Sistem Logistik Nasional
Kondisi perekonomian Indonesia terus menerus mengalami peningkatan ke arah yang lebih baik, ditandai dengan Pendapatan Domestik Bruto yang terus tumbuh di atas 6% dan akan terus tumbuh di angka stabil sampai dengan tahun 2015 dengan pendapatan per kapita mencapai US$ 1.600. Kondisi ini merupakan sinyal positif bagi para pelaku bisnis yang ingin mengembangkan usahanya di Indonesia. Jika dilihat dari sektor yang mendominasi dalam bisnis di Indonesia, sektor industri memberikan kontribusi terbesar dalam pendapatan, diikuti sektor jasa dan agribisnis. Hal ini merupakan peluang bagi sektor industri maupun bisnis yang bermitra dengan sektor industri untuk terus berkembang di Indonesia. Kegiatan ekspor dan impor di Indonesia terus mengalami peningkatan, dimana ekspor mencapai US$ 203 Milyar dan impor mencapai US$ 177 Milyar pada tahun 2011. China mulai menjadi negara utama tujuan ekspor Indonesia sedangkan impor masih didominasi negara Asia terutama pada produk olahan minyak. Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas pertukaran barang dan jasa baik ke dalam pun ke luar negeri berada dalam kondisi yang kondusif.
44 Volume 18 No. 1 Juni 2013
Agrim
edia
Indonesia (GCI) menempati posisi ke 50 dan turun 4
poin dibandingkan tahun 2011. Sedangkan Logistics
Performance Index (LPI) 2012 masih menempati
posisi 56 walaupun naik 16 poin dibanding tahin 2010. Salah satu masih buruknya LPI Indonesia dikarenakan masih tingginya biaya logistik nasional dibandingkan dengan negara-negara industri lainnya masih buruknya infrastruktur transportasi dan pelabuhan di Indonesia. (Pepres 26, 2012)
Permasalahan Logistik Nasional
Secara umum sistem logistik di Indonesia saat ini belum memiliki kesatuan visi yang mampu mendukung peningkatan daya saing pelaku bisnis dan peningkatan kesejahteraan rakyat, bahkan pembinaan dan kewenangan terkait kegiatan logistik relatif masih bersifat parsial dan sektoral di masing-masing kementerian atau lembaga terkait, sementara koordinasi yang ada belum memadai. Adapun permasalahan logistik nasional meliputi 6 bidang utama :
1. Komoditas penggerak utama (key commodity
factor) sebagai penggerak aktivitas logistik belum
terkoordinasi secara efektif, belum adanya fokus komoditas yang ditetapkan sebagai komitmen nasional, dan belum optimalnya volume perdagangan ekspor dan impor.
2. Infrastruktur transportasi belum memadai baik dari segi kuantitas maupun kualitas yang antara lain karena belum adanya pelabuhan hub, belum dikelola secara terintegrasi, efektif dan efisien, serta belum efektifnya intermodal transportasi dan interkoneksi antara infrastruktur pelabuhan, pergudangan,
kualitas dan kemampuan pelaku dan penyedia jasa logistik nasional.
4. Teknologi informasi dan komunikasi belum didukung oleh ketersediaan infrastruktur dan jaringan yang handal, masih terbatasnya jangkauan jaringan pelayanan nonseluler, dan masih terbiasanya menggunakan sistem manual (paper based system) dalam transaksi logistik.
5. SDM logistik masih memiliki kompetensi rendah yang disertai oleh belum memadainya Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Bidang Logistik.
6. Regulasi dan Kebijakan masih bersifat parsial dan sektoral, yang disertai oleh masih rendahnya penegakan hukum, belum efektifnya Koordinasi Lintas Sektoral, dan belum adanya lembaga yang menjadi integrator kegiatan logistik nasional. Gambar 1 merupakan ilustrasi umum keadaan logistik nasional yang selama ini berjalan.
Sumber: Perpres 26, 2012
Gambar 1. Ilustrasi Kondisi Aktual Logistik Nasional
Kondisi umum di atas menjadi penyebab dari belum optimalnya kinerja sektor logistik nasional yang tercermin dari tingginya biaya logistik dan pelayanan yang belum optimal, sehingga hal ini mempengaruhi
46 Volume 18 No. 1 Juni 2013
Agrim
edia
Fokus
Kinerja Logistik Nasional Secara Umum
Walaupun Indonesia telah melakukan berbagai upaya pembenahan di bidang logistik domestik, akan tetapi dengan persaingan global yang semakin ketat kinerja logistik nasional masih belum menggembirakan. Salah satu indikator yang menunjukkan kinerja logistik suatu negara adalah Logistics Performance Index (LPI) yang dikeluarkan Bank Dunia, yang menilai kinerja sektor logistik negara-negara di dunia berdasarkan persepsi dari pelaku usaha. LPI terdiri dari 7 komponen pengukuran, yaitu:
1. Kepabeanan (custom), 2. Infrastruktur (infrastructure),
3. Kemudahan mengatur pengapalan internasional
(international shipment),
4. Kompetensi (competence) logistik dari pelaku dan penyedia jasa lokal,
5. Pelacakan (tracking dan tracing),
6. Biaya logistik dalam negeri (domestic logistics cost), 7. Waktu antar (delivery timelines).
Menurut laporan Doing Business 2011 waktu yang diperlukan untuk mengimpor barang dari luar negeri mencapai 27 hari, jauh lebih lama bila dibandingkan dengan beberapa negara ASEAN lainnnya, seperti Malaysia 14 hari, Thailand 13 hari, Philipina 16 hari, bahkan Vietnam hanya memerlukan waktu 21 hari. Begitu juga waktu yang diperlukan untuk memulai suatu usaha di Indonesia memerlukan 47 hari dengan melalui 9 prosedur, yang di bawah kinerja beberapa negara ASEAN lainnya, seperti di Malaysia 17 hari dengan 9 prosedur, Thailand 32 hari dengan 7
prosedur, dan Indonesia sedikit di atas Vietnam yang masih memerlukan waktu 50 hari dengan 11 prosedur. Pelayanan di pelabuhan juga masih memerlukan waktu yang relatif lama. Menurut kajian JICA (2004) waktu yang diperlukan untuk melakukan proses pemasukan barang di pelabuhan Tanjung Priok rata rata mencapai 7 hari, lebih lama dari proses kepabeanan yang memerlukan waktu 5,5 hari, sementara itu di Singapura hanya 1 hari, USA dan Jerman 2 hari, dan Jepang 3,1 hari. Sementara itu, ditinjau dari biaya logistik dalam negeri, posisi Indonesia berada pada peringkat ke-92 dari 150 negara. Kajian LPEM UI pada tahun 2005 menyatakan bahwa prosentase biaya logistik di Indonesia dibandingkan biaya produksi adalah 14,0% dimana inbound 7,2%, Industry 2,9%, dan outbound 4,0%. Kajian lain yang berasal dari berbagai sumber sebagaimana disajikan pada Tabel 3. memperlihatkan perbandingan biaya logistik beberapa Negara.
Tabel 1. Biaya Logistik Indonesia Dibandingkan Negara-Negara Maju
Negara terhadap PDBBiaya Logistik terhadap Biaya Biaya Logistik Penjualan Amerika Serikat 9,9% 9,4% Jepang 10,6% 5,9% Korea Selatan 16,3% 12,5% Indonesia 27% *)
Sumber: Pusat Pengkajian Logistik dan Supply Chain ITB, 2010
46 Volume 18 No. 1 Juni 2013
Agrim
edia
relatif lebih rendah dibandingkan Jepang, namun Jepang terlihat masih lebih efisien. Tingkat efisiensi ini diukur melalui indikator proporsi biaya logistik per penjualan, di mana Jepang hanya 5,9% sedangkan Amerika Serikat 9,4% . Sementara itu, Korea Selatan mampu menekan biaya logistik per PDB sebesar 16,3% dengan biaya logistik per penjualan sebesar 12.5%. Sedangkan untuk Indonesia belum ada angka yang pasti, namun biaya logistik nasional yang diperkirakan mencapai 27% dari PDB. Sementara itu berdasarkan perhitungan yang dilakukan oleh Kementerian Perindustrian dengan menggunakan analisis input-output tahun 2005, rasio biaya logistik terhadap nilai tambah bruto di sektor industri untuk 24 sektor Industri adalah sebesar 61,1% Sedangkan, rasio biaya logistik industri terhadap output sektor industri adalah sebesar 16,3%
Mahalnya biaya logistik dalam negeri di Indonesia tidak hanya disebabkan oleh tingginya biaya transportasi darat dan laut, tetapi juga disebabkan oleh faktor-faktor lain yang terkait dengan regulasi, SDM, proses
negeri (domestic freight forwarding industry).
Peran dan Tujuan Pengembangan Cetak Biru Sistem Logistik Nasional
Cetak Biru (blue Print) ini bukan merupakan rencana induk (master plan) tetapi lebih menekankan pada arah dan pola pengembangan sistem logistik nasional pada tingkat kebijakan (makro) yang nantinya dijabarkan kedalam rencana kerja pemerintah dan rencana kerja kementerian/lembaga setiap tahunnya. Oleh karena itu, sistem logistik nasional diharapkan dapat berperan dalam mencapai sasaran Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014, menunjang implementasi MP3EI, serta mewujudkan visi ekonomi Indonesia tahun 2025 (RPJPN) yaitu “Mewujudkan masyarakat Indonesia yang mandiri, maju, adil, dan makmur” sehingga akan tercapai sasaran PDB perkapita sebesar 14.250-15.500 dolar Amerika pada tahun 2025, seperti pada Gambar 2.
48 Volume 18 No. 1 Juni 2013
Agrim
edia
Fokus
Gambar 4. Sistem Logistik Nasional
Sumber : Perpres 26, 2012 Dengan demikian peran pokok cetak biru sistem logistik nasional adalah memberikan arahan dan pedoman bagi pemerintah dan dunia usaha untuk membangun sistem logistik nasional yang efektif dan efisien. Bagi pemerintah, cetak biru Ssistem logistik nasional diharapkan dapat membantu pemerintah pusat maupun pemerintah daerah dalam menyusun rencana pembangunan di bidang logistik, serta meningkatkan transparansi dan koordinasi lintas kementerian dan lembaga di tingkat pusat maupun daerah. Bagi dunia usaha, cetak biru Ssistem logistik nasional diharapkan dapat membantu pelaku usaha untuk meningkatkan daya saingnya melalui penciptaan nilai tambah yang lebih tinggi dengan biaya yang kompetitif, meningkatkan peluang investasi bagi usaha menengah, kecil dan mikro, serta membuka peluang bagi pelaku dan penyedia jasa logistik nasional untuk menggalang kerjasama dalam skala global.
Visi Misi dan Tujuan Sistem Logistik Nasional
Visi “ Locally Integrated, Globally Connected for
National Competitiveness and Social Welfare-
Terintegrasi Secara Lokal, Terhubung Secara Global untuk Meningkatkan Daya Saing Nasional dan Kesejahteraan Rakyat”
Misi
1. Menjamin terpenuhinya barang kebutuhan pokok dan jasa yang diperlukan masyarakat dengan harga yang terjangkau.
2. Menjamin kelancaran arus barang secara efektif dan efisien sehingga dapat meningkatkan daya saing nasional dalam kancah global.
Adapun tujuan dari cetak biru ini adalah: a) Menjamin ketersediaan komoditas strategis di seluruh wilayah Indonesia dengan harga yang terjangkau sehingga mendorong pencapaian masyarakat adil dan makmur, dan memperkokoh keutuhan NKRI. b) menurunkan biaya logistik, memperlancar arus barang dan meningkatkan pelayanan sehingga meningkatkan daya saing produk unggulan ekspor di pasar dunia. c) Mempersiapkan diri untuk mencapai target integrasi logistik ASEAN pada tahun 2013, integrasi pasar ASEAN pada tahun 2015, dan integrasi pasar global pada tahun 2020. Adapun peran Sistem Logistik Nasional adalah : 1. Menjamin kelancaran arus barang.
2. Mengurangi biaya transaksi/ekonomi biaya tinggi. 3. Membangun daya saing nasional.
4. Mewujudkan kesejahteraan masyarakat. 5. Menjaga kelestarian lingkungan hidup.
6. Meningkatkan konekvitas untuk memperkokoh persatuan dan kesatua bangsa (NKRI).
Sistem logistik nasional tidak hanya berkaitan dengan aspek mikro sebagaimana diuraikan di atas, tetapi juga berkaitan dengan aspek lebih luas (makro) yang diwadahi dalam suatu tatanan nasional dalam bingkai kebijakan dan regulasi, serta berperan sebagai landasan hukum dan acuan dalam melakukan kegiatan logistik diantara para pemangku kepentingan sektor logistik nasional. Formatnya dapat berbentuk perundangan, aturan, ketentuan, kebijakan, dan mekanisme interaksi aktivitas logistik diantara pemangku kepentingan, yang mengakomodasi perspektif makro dan mikro dalam penanganan persoalan logistik nasional. Secara skematis Sistem Logistik Nasional dan komponen penggeraknya (Gambar 4 dan Gambar 5).
48 Volume 18 No. 1 Juni 2013
Agrim
edia
Sislognas maka perlu dilakukan skenario pelaksanaan yang bertumpu pada 6 penggerak utama yang didukung oleh kelembagaan. Ilustrasi skenario implementasi dapat dilihat pada Gambar 6.
Kesimpulan
Sistem operasi logistik yang kompetitif merupakan kunci sukses dalam ekonomi global. Terutama
globalisasi mengutamakan perdagangan yang kompetitif menjadi penentu utama daya saing yang membutuhkan pengiriman barang secara cepat. Secara sederhana, keberhasilan dalam perdagangan global dapat tercapai bila sebuah perusahaan memiliki kemampuan untuk bergerak melewat lintas batas dengan cepat, andal, dan murah.
Visi logistik Indonesia:
“Locally Integrated & Globally Connected Logistics for National Competitivenesss”
aan
L & R Laws & Regulations ITC Information Commu-nication & HRM Human Resource L & R Logistics Service
Maluku & Papua Nusa Tenggara
Sulawesi Kalimantan
Jawa - Bali Sumatera
Key Commodities, Demand Plan, & Existing Supplay Chain
50 Volume 18 No. 1 Juni 2013
Agrim
edia
Fokus
Pada saat ini, berbagai indeks pengukuran kinerja logistik di tingkat global, misalnya Logistic Perfomance
Indeks (LPI) yang disampaikan oleh World Bank
menunjukkan logistik Indonesia masih berada pada posisi yang kurang baik karena peringkat kinerjanya masih jauh berada di bawah kebanyakan negara-negara lain. Untuk mengatasi tantangan tersebut, Pemerintah mengeluarkan Perpres Nomor 26 Tahun 2012 Tentang Cetak Biru Pengembangan Sistem Logistik Nasional (SISLOGNAS). Sislognas ini akan memperkuat program Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI).
Sislognas dan MP3EI l merupakan program pemerintah yang saling mendukung . Keduanya saling memberikan sinergi positif bagi pembangunan ekonomi dan daya saing bangsa. MP3EI mengidentifikasi potensi kekuatan ekonomi dan komoditi andalan nasional, sedangkan Sislognas berkepentingan dalam menjamin pergerakan komoditi tersebut dapat berjalan dengan lancar dan efesien.
Rencana aksi SISLOGNAS bertumpu pada enam kunci yakni komoditas penggerak utama, pelaku dan penyedia jasa logistik, infrastruktur transportasi, teknologi informasi dan komunikasi, manajemen sumber daya manusia dan regulasi/kebijakan. Dari perspektif ekonomi fakta ini tentu menggambarkan bahwa Indonesia memeiliki ketersediaan sumber daya manusia sangat mencukupi untuk bersaing di kompetisi ekonomi regional.
Dengan jumlah penduduk yang mencapai 39% dari total penduduk ASEAN sebanyak 608 juta jiwa, Indonesia berpotensi memberikan pengaruh besar bagi terwujudnya ASEAN Economic Community.
Keberhasilan implementasi SISLOGNAS akan
berdampak pada efisiensi di bidang logistik yang pada gilirannya akan memperbaiki daya saing ekonomi dan sekaligus kesejahteraan masyarakat terutama dalam mempersiapkan diri menghadapi ASEAN Economic
Community 2015.
Referensi
[Kemendag]Kementerian Perdagangan Republik
Indonesia. 2012. Menuju ASEAN Economic
Community 2015. Jakarta: Kemendag.
Kompas. 2011. Hambatan dan Potensi menuju ASEAN
2015. Jakarta: Kompas.
Lembito H. 2013. Model Supply Chain Management sebagai Strategi Bisnis untuk meningkatkan Daya Saing [disertasi]. Bogor: Program Pascasarjana manajemen dan Bisnis, Institut Pertanian Bogor. Martina PD. 2013. Sudah Siapkah Indonesia Menghadapi
ASEAN Economic Community 2015? http:Word Press.com [2013]
Peraturan Presiden Republik Indonesia No. 26 tahun 2012. 2012. Cetak Biru Pengembangan Sistem
Logistik Nasional. Jakarta: Menteri Hukum Dan
Hak Asasi Manusia
World Bank. 2012. The World Bank’s Logistics
Performance. USA: World Bank.
World Economic Forum. 2012. Global Competitiveness
Report 2010-2012. USA: World Economic
Forum.
50 Volume 18 No. 1 Juni 2013