• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP DAN SIKAP SOSIAL SISWA KELAS V

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP DAN SIKAP SOSIAL SISWA KELAS V"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD

TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP DAN SIKAP SOSIAL SISWA

KELAS V

Gede Eva Ariska Putra

1

, I Md. Tegeh

2

, I Md. Citra Wibawa

3 1,3

Jurusan PGSD,

2

Jurusan TP, FIP

Universitas Pendidikan Ganesha

Singaraja, Indonesia

e-mail: [email protected], [email protected], [email protected]

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan yang signifikan antara pemahaman konsep dan sikap sosial siswa pada mata pelajaran IPA dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Team Achievement Division) dan model pembelajaran konvensional pada siswa kelas VI SD di desa Busungbiu tahun pelajaran 2014/2015. Jenis penelitian ini adalah eksperimen semu (quasi experiment) dengan rancangan penelitian post-test only control group design. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas V SD di desa Busungbiu. Sampel penelitian adalah siswa kelas V SD No. 3 Busungbiu sebagai kelas eksperimen dan SD No. 4 Busungbiu sebagai kelas kontrol. Teknik pengumpulan data menggunakan metode tes untuk mengetahui pemahaman konsep siswa dan lembar observasi untuk mengetahui sikap sosial siswa, yang dianalisis menggunakan statistik deskriptif, SPSS uji-t dan manova.Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) terdapat perbedaan pemahaman konsep antara kelompok siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD) dan kelompok siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran konvensional (p < 0,05), (2) terdapat perbedaan sikap sosial antara kelompok siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan kelompok siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran konvensional (p < 0,05), (3) terdapat perbedaan pemahaman konsep dan sikap sosial siswa antara kelompok siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan kelompok siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran konvensional (p < 0,05). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe STAD mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap pemahaman konsep dan sikap sosial siswa pada mata pelajaran IPA kelas V di SD Gugus I Kecamatan Busungbiu tahun pelajaran 2014/2015.

Kata-kata kunci : STAD, pemahaman konsep, sikap sosial

Abstract

This study aims to determine whether there are significant differences between the understanding of concepts and social attitudes of students in science subjects by using cooperative learning model type STAD (Student Team Achievement Division) and conventional learning models at six graders in Busungbiu village school year 2014 / 2015.This research is a quasi-experimental with a research design “post-test only control group design”. The populations in this research were all fifth grade primary school students in Busungbiu village. Samples were students of fifth grade in SD No. 3 Busungbiu as experimental class and SD No. 4 Busungbiu as the control class. Data collection techniques using test method to determine the students' understanding of concepts and observation sheets to determine the social attitudes of students, which were analyzed using descriptive statistics, spss t-test and manova.The results showed that: (1) there is a difference between understanding the concept of a group of students that learned by cooperative learning model type STAD and a group of students that learned with conventional learning models (sig = 0.001 <0.05), (2 ) there are differences in social attitudes between groups of students that learned by cooperative learning model type STAD and a group of students that learned with conventional learning models (sig = 0.000 <0.05), (3) there are differences in understanding of concepts and attitudes social students between groups of students that learned by cooperative learning model type STAD and a group of students that

(2)

understanding and social attitudes of fifth grade science class in SD Gugus I Busungbiu school year 2014/2015.

Key words: STAD, concepts understanding, social attitude. PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan pilar penting dalam membangun bangsa. Pendidikan yang dimaksud sangat terkait dengan kegiatan pembelajaran yang ada di bangku sekolah. Pembelajaran yang dirancang oleh guru pada setiap mata pelajaran hendaknya tidak hanya mempelajari konsep, teori, dan fakta, tetapi juga dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Pembelajaran yang dilaksanakan harus juga berpusat pada siswa, sehingga peranan aktif siswa lebih banyak daripada peranan guru.

Begitu juga dengan mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) yang merupakan salah satu mata pelajaran di Sekolah Dasar (SD). Pada pembelajaran IPA harus diciptakan suasana belajar yang menuntut peran aktif siswa mandiri. IPA merupakan ilmu pengetahuan alam yang mempelajari tentang cara mencari tahu alam sekitar secara sistematis untuk memahami fakta-fakta, konsep-konsep, prinsip-prinsip, proses penemuan, dan memiliki sikap ilmiah. IPA adalah pembelajaran yang penting karena ilmunya dapat diterapkan secara langsung dalam masyarakat. Dalam proses pembelajaran IPA sebaiknya diarahkan untuk mengembangkan keterampilan mengamati, mengelompokkan, mengukur, mengkomunikasikan, meramalkan dan menyimpulkan. Oleh karena, itu pembelajaran IPA di SD harus lebih menekankan pada pemberian pengalaman belajar secara langsung.

Pembelajaran IPA di Sekolah Dasar bertujuan untuk melatih siswa agar memiliki kemampuan mengenal konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dengan lingkungannya, memiliki kemampuan untuk memecahkan suatu masalah, dan memiliki sikap sosial seperti mampu berkomunikasi, bekerjasama dan berkompetensi dalam masyarakat yang majemuk, di tingkat lokal,

nasional, dan global. (Departemen Pendidikan Nasional,2006)

Berdasarkan tujuan tersebut, dalam kegiatan pembelajaran IPA siswa diharapkan dapat mengembangkan kemampuan berpikirnya dengan cara mengkonstruksikan pengetahuannya secara mandiri, kritis dan kreatif sehingga siswa dapat memilki sikap peka dan tanggap untuk bertindak secara rasional serta bertanggung jawab dalam memecahkan masalah-masalah sosial yang dihadapi dalam kehidupannya. Selain itu, siswa dalam pembelajaran seharusnya diberikan permasalahan pada lingkungan terdekat sehingga siswa akan ikut aktif berpikir. Dengan demikian dapat memberikan pengalaman bermakna dalam proses penemuan suatu fakta, konsep atau prinsip-prinsip yang ada sehingga diharapkan dapat meningkatkan pemahaman konsep siswa.

Namun masalah yang dihadapi saat ini adalah masih rendahnya pemahaman konsep siswa dalam pembelajaran, khususnya pembelajaran IPA. Hal ini terlihat dari obesrvasi di kelas yang menunjukkan bahwa siswa kurang mampu menjelaskan kembali konsep-konsep yang telah diajarkan guru, begitupun saat diberikan tes, siswa tidak bisa menjawab dengan benar karena belum mampu mengaitkan hubungan antara konsep-konsep yang ada. Selain itu, hasil wawancara yang dilakukan peneliti di SD Gugus I Kecamatan Busungbiu menunjukkan bahwa Pertama, siswa memperoleh konsep IPA tanpa melalui proses yang bermakna. Maksudnya adalah siswa mempelajari IPA tanpa melakukan sesuatu yang menarik terkait fenomena yang tengah mereka pelajari. Melakukan percobaan, demonstrasi ataupun belajar dengan menggunakan media yang relevan sangat jarang mereka lakukan.

Kedua, dari 8 sekolah yang

(3)

Busungbiu, Kabupaten Buleleng, model pembelajaran yang digunakan berorientasi pada model lama yang bersifat konvensional. Dalam proses pembelajaran dengan model konvensional yang digunakan adalah ceramah, tanyajawab, mencatat, mendengarkan, dan memberikan tugas. Guru masih menggunakan metode ceramah dengan menjejalkan berbagai konsep IPA kepada siswa dengan sistem dengarkan, catat, dan hapalkan. Hal ini sangat mematikan sikap ilmiah siswa serta membuat siswa tidak aktif dalam pembelajaran. Selain itu, diskusi sangat jarang dilakukan oleh guru sehingga kemampuan untuk berpendapat siswa tidak tereksplorasi. Guru masih belum menerapkan berbagai inovasi dalam model pembelajaran karena masih terpaku pada cara mengajar lama. Hal inilah yang membuat siswa menganggap mata pelajaran IPA merupakan sesuatu yang membosankan dan sulit untuk dimengerti.

Pernyataan di atas juga didukung oleh hasil pengumpulan data berupa pencatatan dokumen dari nilai raport tengah semster yang menunjukan bahwa hasil belajar yang diperoleh siswa masih belum memuaskan. Hal ini dapat dilihat dari nilai rata-rata IPA siswa kelas V di Gugus I Kecamatan Busungbiu yang masih terbilang rendah. Nilai rata-rata tersebut SDN 1 Busungbiu 65,5, SDN 2 Busungbiu 68,5, SDN 3 Busungbiu 68,5, SDN 4 Busungbiu 68,0, dan SDN 5 Busungbiu 60,5, SDN 6 Busungbiu 63,0, SDN 8 Busungbiu 61,5 dan SDN 9 busungbiu 67,0. Nilai rata-rata hasil belajar IPA tersebut masih terbilang rendah mengingat bahwa rata-rata KKM yang ditetapkan sekolah adalah 70.

Selain itu, anggapan siswa yang menyatakan bahwa pembelajaran IPA yang membosankan itu menyebabkan rendahnya sikap sosial siswa saat mengikuti pembelajaran. Hal ini dapat dilihat dari sikap percaya diri siswa yang saat mengikuti proses pembelajaran di kelas dan sikap toleransi siswa terhadap temannya. Beberapa orang siswa terilihat mengganggu teman mereka yang sedang mengikuti proses pembelajaran dan cenderung tidak memperhatikan guru. Berdasarkan pemaparan di atas, maka

salah satu solusi yang bisa ditawarkan untuk melatih pemahaman konsep dan sikap sosial IPA adalah dengan pengguanaan model pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Team Achievement Division), karena menurut Sharan (2012: 6) model pembelajaran

Student Team Achievement Division

(STAD) adalah yang paling tepat untuk mengajarkan pelajaran-pelajaran seperti konsep sains, pelajaran-pelajaran ilmu pasti seperti perhitungan dan penerapan matematika, penggunaan bahasa dan mekanika serta geografi dan keterampilan perpetaan.

Model pembelajaran STAD merupakan salah satu model pembelajaran yang lebih menekankan pada kegiatan kelompok siswa. Siswa dibentuk kelompok secara heterogen. Pengelompokkan bersifat heterogen artinya kelompok dibentuk berdasarkan perbedaan-perbedaan setiap anggotanya, baik perbedaan jenis kelamin, latar belakang agama, sosial ekonomi, maupun dari perbedaan akademik. Menurut Sharan (2012: 7) Tujuan utama dari kerja kelompok adalah mempercepat pemahan semua siswa terhadap suatu konsep.

Dalam proses pembelajaran STAD yang lebih menekankan pada kegiatan kerja kelompok siswa dilatih memiliki sikap sosial yang tinggi. Karena menurut Sharan (2012: 6) gagasan utama dibelakang STAD adalah memacu siswa agar saling mendorong dan membantu teman sekelompok mereka dalam mempelajari pelajaran. Melalui pembelajaran STAD siswa didorong untuk melakukan tukar-menukar (Sharing) informasi dan pendapat,mendiskusikan permasalahan secara bersama, membandingkan jawaban teman, dan mengoreksi hal-hal yang kurang tepat sehingga dapat memahami suatu konsep dengan baik dan benar. Dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD pada mata pelajaran IPA akan lebih menekankan pada pemberian pengalaman belajar secara langsung melalui penggunaan dan pengembangan keterampilan proses dan sikap sosial agar siswa lebih mudah memahami fakta, konsep atau prinsip tertentu.

(4)

Berdasarkan uraian di atas peneliti terdorong untuk melakukan suatu penelitian yang berjudul “Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Student

Team-Achievement Divisions (STAD)

terhadap Pemahaman Konsep dan Sikap Sosial pada Mata Pelajaran IPA di Gugus 1 Kecamatan Busungbiu Kabupaten Buleleng Tahun Pelajaran 2014/2015”

METODE

Dalam penelitian ini unit eksperimennya berupa kelas, sehingga penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimen semu (Quasi Eksperiment). Dalam eksperimen semu, penempatan subjek ke dalam kelompok yang dibandingkan tidak dilakukan secara acak. Individu subjek sudah ada dalam kelompok

yang dibandingkan sebelum diadakannya penelitian. Desain Penelitian yang digunakan adalah post-test only control group design. Desain ini ini dapat dilihat pada tabel 1.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Data sikap sosial siswa secara umum diperoleh melalui analisis lembar observasi sikap sosial dan lembar kuesioner yang diisi oleh siswa kelas V di SD Gugus Srikandi yang terdiri dari 128 orang siswa. Data sikap sosial siswa diperoleh dengan menggabungkan aspek sikap sosial pada penelitian ini yang terdiri dari aspek jujur, tanggung jawab, toleransi, gotong royong, disiplin, sopan, dan percaya diri. Data sikap sosial siswa yang diperoleh dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Design Post-test Only Control Group Design

Kelas

Treatment

Post-test

E

X

O

1

K

Y

O

2

(Sugiyono, 2007:112)

Populasi dalam penelitian ini adalah kelas V di SD gugus I Kecamatan Busungbiu. Dari 8 SD yang ada di gugus I dilakukan uji kesetaraan untuk menentukan sampel setara atau tidak. Hasil dari uji kesetaraan pada populasi didapatkan hasil 8 sekolah tersebut setara yaitu SD No 1 Busungbiu, SD No 2 Busungbiu, SD No. 3 Busungbiu, SD No 4 Busungbiu, SD No 5 Busungbiu, SD No 6 Busungbiu, SD No 7 Busungbiu, SD No 9 Busungbiu. Kemudian, dari delapan SD yang ada di Gugus I Kecamatan Busungbiu dilakukan pengundian untuk diambil dua kelas yang dijadikan subjek penelitian. Dari dua kelas tersebut diundi lagi untuk menentukan kelas eksperimen dan kelas kontrol. Berdasarkan hasil pengundian untuk menentukan kelas eksperimen dan kontrol, diperoleh sampel yaitu siswa kelas V SD No. 3 Busungbiu sebagai kelas eksperimen dan siswa kelas V SD No 4 Busungbiu sebagai kelas kontrol. Kelas eksperimen diberikan perlakuan pembelajaran dengan model

pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Team Achievement Division) dan kelas kontrol diberikan perlakuan pembelajaran dengan model pembelajaran konvensional. Penelitian ini melibatkan dua variabel yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah model pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Team Achievement

Division) dan model pembelajaran

konvensional sedangkan variabel terikatnya adalah pemahaman konsep IPA dan sikap sosial siswa.

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode tes dan lembar observasi. Jenis instrumen berupa tes essay dan lembar obsrvasi. Tes tersebut kemudian diuji coba lapangan untuk mencari validitas, reabilitas. Hasil tes uji lapangan akan diberikan kepada siswa kelas eksperimen dan kontrol. Teknik analisis data yang digunakan adalah statistik deskriptif dan

(5)

statistik inferensial melalui Uji-t dan analisis manova.

Data penelitian ini adalah skor pemahaman konsep dan sikap sosial siswa sebagai akibat dari penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD

(Student Team Achievement Division) pada kelompok eksperimen dan model pembelajaran konvensional pada kelompok kontrol. Rekapitulasi perhitungan data hasil penelitian tentang pemahaman konsep siswa dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Rekapitulasi Hasil Perhitungan Skor Hasil Belajar PKn Siswa Data Statistik Pemahaman Konsep Kelompok Eksperimen Kelompok Kontrol Mean

33,13

29,14

Median

34

29

Modus

36

28

Berdasarkan Tabel 2, diketahui bahwa mean data pemahaman konsep kelompok eksperimen = 33,13 lebih besar daripada kelompok kontrol = 29,14. Kemudian data pemahaman konsep IPA kelompok eksperimen tersebut dapat disajikan ke dalam bentuk poligon seperti pada Gambar 1.

Gambar 1. Poligon Data Pemahaman Konsep Kelompok eksperimen

Berdasarkan poligon diatas, diketahui modus lebih besar dari median dan median lebih besar dari mean (Mo>Md>M). Dengan demikian, kurva di atas adalah kurva juling negatif yang berarti sebagian besar skor

cenderung tinggi. Sedangkan Data pemahaman konsep kelompok kontrol dapat disajikan ke dalam bentuk poligon seperti pada Gambar 2.

Gambar 2. Poligon Data Pemahaman Konsep Kelompok kontrol

Berdasarkan poligon diatas, diketahui mean lebih besar dari median dan median lebih besar dari modus (M>Md>Mo). Dengan demikian, kurva di atas adalah kurva juling positif yang berarti sebagian besar skor cenderung rendah.

Rekapitulasi perhitungan data hasil penelitian tentang sikap sosial siswa dapat dilihat pada Tabel 3.

M = 33,14 Me= 34 Mo= 36

(6)

Tabel 3. Rekapitulasi Hasil Perhitungan Skor Hasil Belajar PKn Siswa Berdasarkan Tabel 3, diketahui

bahwa mean data sikap sosial kelompok eksperimen =32,87 lebih besar daripada kelompok kontrol = 28,24. Kemudian data sikap sosial siswa kelompok eksperimen tersebut dapat disajikan ke dalam bentuk poligon seperti pada Gambar 3.

Gambar 3. Poligon Data Sikap Sosial Kelompok eksperimen

Berdasarkan gambar 3, diketahui modus lebih besar dari median dan mean (Mo>Md>M). Dengan demikian, kurva di atas adalah kurva juling negatif yang berarti sebagian besar skor cenderung tinggi. Sedangkan Data sikap sosial kelompok kontrol dapat disajikan ke dalam bentuk poligon seperti pada Gambar 4.

Gambar 4. Poligon Data Sikap Sosial Kelompok kontrol

Berdasarkan gambar 4, diketahui mean lebih besar dari median dan median lebih besar dari modus (M>Md>Mo). Dengan demikian, kurva di atas adalah kurva juling positif yang berarti sebagian besar skor cenderung rendah.

Kemudian dilakukan uji hipotesis untuk mengetahui pangaruh dari model pembelajaran yang diterapkan. Namun sebelum dilakukan uji hipotesis terlebih dahulu dilakukan uji prasyarat analisis data yaitu normalitas dan homogenitas. Berdasarkan hasil uji prasyarat analisis diperoleh bahwa data pemahaman konsep dan sikap sosial kelompok eksperimen dan kontrol adalah normal dan varians kedua kelompok homogen. Dalam penelitian ini dilakukan 3 uji hipotesis yaitu 2 menggunkan Uji-T dan 1 menggunakan analisis manova.

Untuk uji hipotesis yang pertama dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh yang signifikan antara siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran konvensional (kontrol) dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD (eksperimen) terhadap pemahaman konsep siswa. Uji-T dilkukan dengan menggunakan program spss 16 for windows. Untuk Uji hipotesis yang pertama didapatkan hasil nilai sig. (2-tailed) pada pemahaman konsep siswa kelas eksperimen dan kontrol adalah 0,00. Ini berarti bahwa 0,00 < 0,05 sehingga dapat dikatakan terdapat perbedaan yang signifikan dari data pemahaman konsep siswa kelas kontrol dan ekperimen. Dengan demikian, disimpulkan bahwa H0 ditolak dan H1 diterima, yakni terdapat perbedaan nilai pemahaman konsep yang sig nif ik an antara siswa yang belajar Data Statistik Pemahaman Konsep Kelompok Eksperimen Kelompok Kontrol Mean

32,87

28,24

Median

33

28

Modus

34

27

M = 32,87 Me= 33 Mo= 34 M = 28,24 Me= 28 Mo= 27

(7)

menggunakan model pembelajaran konvensional dengan siswa yang belajar menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD pada siswa kelas V sekolah dasar di gugus I kecamatan Busungbiu tahun pelajaran 2014/2015.

Uji hipotesis yang kedua dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh yang signifikan antara siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran konvensional (kontrol) dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD (eksperimen) terhadap sikp sosial siswa. Uji-T dilkukan dengan menggunakan program spss 16 for windows. Untuk Uji hipotesis yang kedua didapatkan hasil nilai sig. (2-tailed) pada sikap sosial siswa kelas eksperimen dan kontrol adalah 0,00. Ini berarti bahwa 0,00 < 0,05 sehingga dapat dikatakan terdapat perbedaan yang signifikan dari data sikap sosial siswa kelas kontrol dan ekperimen. Dengan demikian, disimpulkan bahwa H0 ditolak dan H1 diterima, yakni terdapat perbedaan nilai sikap sosial yang sig nif ik an antara siswa yang belajar menggunakan model pembelajaran konvensional dengan siswa yang belajar menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD pada siswa kelas V sekolah dasar di gugus I kecamatan Busungbiu tahun pelajaran 2014/2015.

Hipotesis ketiga pada penelitian ini dianalisis dengan menggunakan analisis multivariate. Analisis multivariate atau yang dikenal dengan Manova digunakan untuk mengetahui pengaruh dari model pembelajaran kooperatif tipe STAD yang diterapkan pada kelas eksperimen terhadap pemahaman konsep dan sikap sosial siswa. Untuk mengetahui adanya pengaruh atau tidak, dilakukan pembandingan dengan mengganti pembelajaran pada kelas kontrol dengan mengukur hal yang sama yaitu pemahaman konsep IPA dan sikap sosial siswa sehingga analisis yang digunakan adalah Manova. Analisis multivariate terdiri dari uji Pillai’s Trace, Wilks’ Lamda, Hotelling’s Trace, Roy’s Largest, dan Root. Hasil menunjukkan signifikansi dari semuanya adalah 0,000. Karena signifikansi semuanya kurang dari 0,05,

maka dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh model pembelajaran terhadap pemahaman konsep dan sikap sosial siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol. Setelah didapatkan kesimpulan di atas, kemudian dilakukan penentuan probabilitas (signifikansi) untuk menyelidiki ada tidaknya perbedaan (Priyatno, 2009). Nilai probabilitas menunjukkan bahwa signifikansi yang dicapai kurang dari 0,05 sehingga dikatakan terdapat perbedaan pemahaman konsep dan sikap sosial antara siswa kelas eksperimen yang belajar dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan siswa kelas kontrol yang belajar dengan menggunakan pembelajaran konvensional. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak dan H1 diterima yakni terdapat perbedaan nilai pemahaman konsep dan sikap sosial yang signifikan antara siswa yang belajar menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan siswa yang belajar menggunakan pembelajaran konvensional pada siswa kelas V sekolah dasar di gugus I kecamatan Busungbiu tahun pelajaran 2014/2015.

Berdasarkan hasil analisis statistik deskriptif menunjukkan bahwa kelas eksperimen yang belajar dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD memperoleh skor rata-rata pemahaman konsep IPA 33,13 sedangkan untuk kelompok kontrol yang belajar menggunakan model pembelajaran konvensional memperoleh skor rata-rata pemahaman konsep IPA adalah 29,04. Selisih rata-rata skor pemahaman konsep IPA antara kelas eksperimen yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan kelas kontrol yang menggunakan model pembelajaran konvensional adalah 4,09. Hasil tersebut menunjukkn bahwa model pembelajaran kooperatif tipe STAD lebih baik dibandingkan model pembelajaran konvensional dalam pencapaian pemahaman konsep IPA pada siswa kelas V SD di gugus I kecamatan Busungbiu.

Berdasarkan uji-t yang dilakukan untuk menguji hipotesis pertama

(8)

didapatkan hasilnya bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara data pemahaman konsep siswa kelas eksperimen yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan kelas kontrol yang menggunakan model pembelajaran konvensional. Hal ini dapat dilihat dari taraf signifikansinya yaitu 0,00 < 0,05 yang berarti H0 ditolak dan H1 diterima. Pemahaman konsep siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD pada kelas eksperimen berpengaruh signifikan karena dalam model pembelajaran STAD lebih menekankan pada kerja kelompok siswa. Karena menurut Slavin (dalam Slameto, 2003) tujuan utama dari kelompok belajar siswa adalah mempercepat pemahaman semua siswa. Melalui kerja kelompok siswa bisa saling bertukar pikiran dan mendiskusikan permasalahan secara bersama. Hal ini sesuai dengan pendapat Sharan (2012: 6) yaitu “gagasan utama dibalik model belajar kerja kelompok adalah mengarahkan siswa untuk saling tukar-menukar (Sharing) informasi dan pendapat,mendiskusikan permasalahan secara bersama, membandingkan jawaban teman, dan mengoreksi hal-hal yang kurang tepat sehingga dapat memahami suatu konsep dengan baik dan benar.”

Sesuai dengan teori di atas, kenyataan dilapangan juga menunjukkan hal yang serupa. Dengan sintak model pembelajaran STAD siswa terlihat lebih mudah dalam berinteraksi dengan teman satu kelompoknya, siswa sering saling bertukar pikiran bahkan cenderung berdebat dalam mendiskusikan suatu konsep sehingga seluruh anggota kelompok memiliki pemahaman yang tepat terhadap suatu konsep. Selain melalui proses kerja kelompok dalam STAD, kuis yang diberikan pada akhir pembelajaran juga memacu siswa untuk memahami apa yang telah dipelajari. Setiap siswa mendapat dorongan dan motivasi baik dari diri sendiri mapun teman sekelompoknya untuk memperoleh hasil yang bagus pada kuis. Karna nilai tersebut akan digabungkan menjadi nilai kelompok. Dan kelompok yang meraih nilai terbesar akan memperoleh penghargaan, sehingga setiap individu akan berusaha lebih giat untuk memahami

konsep-konsep yang dipelajari. Kenyataan dilapangan menunjukkan adanya semangat atau motivasi yang mendorong siswa untuk memahami semua konsep dengan benar, hal ini terjadi karna adanya penghargaan kelompok terbaik dalam sintak STAD. Dari teori dan hasil dilapangan menunjukkan suatu keselarasan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe STAD mampu meningkatkan pemahaman konsep siswa.

Penelitian ini sesuai dengan penelitian yang sudah dilakukan sebelumnya oleh I Wayan Juni Astrawan (2013) tentang pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe STAD terhadap motivasi dan hasil belajar dapat dikatakan relevan dengan penelitian ini. Hasil penelitian I Wayan Juni Astrawan (2013) dalam bentuk penelitian eksperimen dengan analisis manova yang menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif tipe STAD berpengaruh signifikan terhadap motivasi dan hasil belajar IPA siswa.

Untuk uji hipotesis kedua berdasarkan hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa bahwa kelas eksperimen yang belajar dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD memperoleh skor rata-rata sikap sosial 32,86 sedangkan untuk kelompok kontrol yang belajar menggunakan model pembelajaran konvensional memperoleh skor rata-rata sikap sosial adalah 28,23. Selisih rata-rata skor sikap sosial antara kelas eksperimen yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan kelas kontrol yang menggunakan model pembelajaran konvensional adalah 4,63. Pada aspek sikap sosial didapatkan bahwa dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD, sikap sosial siswa lebih baik dibandingkan dengan penggunaan model pembelajaran konvensional. Dengan demikian terdapat perbedaan sikap sosial yang signifikan antara siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran konvensional. . Hal ini dapat dilihat dari taraf signifikansinya yaitu 0,00 < 0,05 yang berarti H0 ditolak dan H1 diterima.

Secara teoritik tingginya sikap sosial siswa dalam kelas eksperimen disebabkan

(9)

oleh model pembelajaran kooperatif tipe STAD yang lebih menekankan pada kerja kelompok. Menurut Djaali (2008) kunci untuk menumbukan sikap sosial positif disekolah adalah dengan seringnya siswa dilibatkan dalam proses sosial seperti misalnya kerja kelompok di dalam kelas. Melalui kerja kelompok siswa akan dilatih untuk bisa memiliki sikap sopan, tanggung jawab, gotong royong, toleransi dan percaya diri melalui kegiatan kerja kelompok dan presentasi di depan kelas. Karena Disamping itu siswa juga terlatih untuk memiliki sikap tanggung jawab, jujur dan disiplin dalam mengerjakan kuis di akhir pelajaran guna membantu kelompokya untuk meraih nilai terbaik.

Dikaitkan dengan toeri yang ada sesuai dengan kenyataan di lapangan sikap sosial positif siswa memang bisa ditumbuhkan dengan cara kerja kelompok. Berdasarkan pengamatan pada saat menerapkan sintak STAD yaitu proses kerja kelompok menunjukkan hasil bahwa siswa yang dulunya memiliki rasa kurang percaya diri menjadi lebih percaya diri untuk mengemukakan pendapat dan presentasi di depan kelas. Hal ini disebabkan oleh dorongan dan motivasi teman sekelompoknya. Sistem kerja kelompok dalam STAD juga mengharuskan siswa memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi dalam menyelesaikan pembagian tugas kelompok. Siswa dituntut untuk memiliki rasa tanggung jawab dalam menyelesaikan bagian tugasnya demi kelancaran proses kerja kelompok. Satu hal yang paling menarik adalah dengan sintak model pembelajaran STAD siswa tmerasa senang dan tidak bosan dalam mengikuti pembelajaran. Hal ini tentunya akan meningkatkan sopan santun siswa dan disiplin siswa dalam mengikuti pembelajaran. Hal ini terlihat dari tingkat kehadiran siswa. Setiap kali akan dibelajarkan dengan model pembelajaran tipe STAD siswa sangat semangat dan semua siswa selalu tepat waktu bahkan mendahului waktu pembelajaran untuk berada di kelas dan menyiapkan diri untuk belajar.

Namun hal yang sangat berbeda telihat pada kelas kontrol dengan menggunakan model pembelajaran

konvensional didapatkan sikap sosial kurang tereksplorasi. Model pembelajaran konvensional menempatkan guru sebagai pemeran utama sepanjang pelajaran berlangsung, sementara siswa pasif dan hanya mengikuti perintah guru. Siswa kurang mendapat kesempatan berkomunikasi dengan teman-temannya untuk melatih aspek-aspek sikap sosial. Sehingga siswa cenderung kurang bertanggung jawab, belum memiliki toleransi yang tinggi, belum bisa bergotong royong dengan baik dan memiliki kepercayaan diri yang rendah. Beberapa perbandingan di atas sudah sangat membuktikan bahwa sikap sosial siswa pada kelas eksperimen dengan model pembelajaraan kooperatif tipe STAD lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol dengan model pembelajaran konvensional.

Berbeda dengan uji hipotesis pertama dan kedua, uji hipotesis ketiga dilakukan dengan analisis manova. Pada analisis ini didapatkan bahwa signifikansi semuanya (lima jenis analisis : Pillai’s Trace, wilks’ Lamda Hotelling’s Trace, Roy’s Largest, dan Root) 0,000 < 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh model pembelajaran terhadap pemahaman konsep dan sikap sosial siswa kelas eksperimen dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan kelas kontrol dengan penerapan model pembelajaran konvensional. Uji selanjutnya pada analisis manova ini adalah uji probabilitas (signifikansi). Uji ini menghasilkan pencapaian signifikansi kurang dari 0,05 sehingga dikatakan terdapat perbedaan pemahaman konsep dan sikap sosial antara siswa kelas eksperimen yang belajar dengan menggunakan model pembelajaran kooperatf tipe STAD dan siswa kelas kontrol yang belajar dengan menggunakan model pembelajaran konvensional.

Dari hasil analisis yang dilakukan terdapat berbagai hal yang menyebabkan perbedaan pemahaman konsep dan sikap sosial siswa antara kelas eksperimen yang menggunakan model pembelajaran koopertif tipe STAD dengan kelas kontrol yang menggunakan model pembelajaran konvensional. Secara teori menurut Trianto (2009) menyatakan bahwa menurut teori

(10)

konstruktivisme, salah satu prinsip yang paling penting dalam psikologi pendidikan adalah guru tidak hanya sekadar memberikan pengetahuan kepada siswa, tetapi siswa harus membangun sendiri pengetahuan di dalam benaknya. Pada pembelajaran konvensional guru cenderung menggunakan metode ceramah sebagai senjata utama sehingga pemahaman konsep siswa rendah dan sikap sosial siswa kurang tereksplorasi. Model pembelajaran konvensional menempatkan pengetahuan sebagai sebagai hal yang objektif, pasti, dan tetap. Pengetahuan telah tersusun dengan rapi dan pembelajaran dilaksanakan dengan memindahkan pengetahuan tersebut ke orang yang belajar. Hasil dari pembelajaran yang demikian adalah siswa akan memiliki pemahaman yang sama terhadapat pengetahuan yang diajarkan. Artinya, pemahaman yang dimiliki pengajar, hal itulah juga yang dipahami oleh siswa yang belajar.

Berbeda dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD yang tujan utamanya adalah mempercepat pemahaman semua siswa. Dalam proses pembelajaran STAD yang lebih menekankan pada kegiatan kerja kelompok siswa dilatih memiliki sikap sosial yang tinggi. Dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD juga akan lebih menekankan pada pemberian pengalaman belajar secara langsung melalui penggunaan dan pengembangan keterampilan proses dan sikap sosial agar siswa lebih mudah memahami fakta, konsep atau prinsip tertentu.

SIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan pemaparan hasil penelitian dan pembahasan maka simpulan penelitian ini adalah terdapat perbedaan pemahaman konsep IPA dan sikap sosial antara siswa yang mengikuti model pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Team Avhievement Division) dan siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional pada kelas V di SD Gugus I kecamatan Busungbiu tahun pelajaran 2014/2015.

Berdasarkan hasil dari penelitian

yang telah dilakukan, maka dapat

dikemukakan beberapa saran yaitu pertama diharapkan dapat memberikan sumbangan berharga untuk meningkatkan kualitas pembelajaran IPA di sekolah dasar. Kedua, mengingat bahwa model pembelajaran kooperatif tipe STAD sangat berpengaruh khususnya dalam pembelajaran IPA di sekolah dasar maka diharapkan kepada para pendidik agar dapat menerapkannya untuk memperoleh pemahaman konsep yang tinggi khususnya pada mata pelajaran IPA. Ketiga, dengan diterapkannya model pembelajaran kooperatif tipe STAD, siswa diharapkan dapat lebih berpartisipasi aktif dalam kegiatan pembelajaran khususnya dalam pembelajaran IPA. Dengan peran aktif siswa tersebut maka akan melatih sikap sosial siswa dan meningkatkan pemahaman siswa terhadap konsep IPA. Sehingga sikap sosial dan pemahaman konsep IPA siswa meningkat.

DAFTAR RUJUKAN

Djaali. 2008. Psokologi Pendidikan. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Priyatno, D. 2009. SPSS untuk Analisis Korelasi, Regresi, dan Multivariate. Yogyakarta: Gava Media.

Sharan, Shlomo. 2012. The Handbook of Cooperative Learning. Yogyakarta: Familia

Slameto. 2003. Belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Jakarta: Rineka cipta

Sugiyono. 2001. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta Trianto. 2009. Mendesain Model

Pembelajaran Inovatif Progresif. Jakarta: Kencana Prenadamedia Group

Gambar

Tabel 2. Rekapitulasi Hasil Perhitungan Skor Hasil Belajar PKn Siswa  Data  Statistik  Pemahaman Konsep Kelompok Eksperimen  Kelompok Kontrol  Mean  33,13  29,14  Median  34  29  Modus  36  28
Tabel 3. Rekapitulasi Hasil Perhitungan Skor Hasil Belajar PKn Siswa  Berdasarkan  Tabel  3,  diketahui

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan nilai karakteristik AC-BC di atas dapat menghasilkan pola hubungan dengan penggunaan PET yaitu dengan adanya penambahan PET sebagai bahan tambah dan

[r]

BOPO secara parsial memiliki pengaruh negatif yang signifikan terhadap.. ROA pada BUSN devisa go publicpublic mulai triwulan I tahun

teknik pengumpulan data yang sama dalam penelitian informan adalah. kepala RA, pendidik, pengurus yayasan, wali peserta didik

adalah suatu cara yang digunakan untuk membantu kita membuat dan menjual barang dan jasa yang. sesuai dengan kondisi perusahaan dan pasar target

Permasalahan dalam skripsi ini adalah bagaimana perlakuan terhadap penanam modal (investor) berdasarkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1967 Tentang Penanaman Modal

sakit secara rinci dan jelas terkait dengan stakeholder , tidak hanya dari segi aspek pasien saja tetapi juga stakeholder lainnya yaitu pegawai, pemilik,

Objektif kajian ini adalah untuk mengenal pasti pengaruh penggunaan bahasa Jawa oleh golongan muda serta membincangkan fenomena percampuran kod bahasa Jawa dan bahasa Melayu