Hasil Workshop Paralel Temu Inklusi 2014 [1]
CATATAN PROSES & REKOMENDASI
WORKSHOP PARALEL TEMU INKLUSI 2014
”Aksesibilitas untuk Semua”
20 DESEMBER 2014
Narasumber:
1. Wijang Wijanarko (CUDD, Yogyakarta)
Moderator:
Dwiyanto & Karel (Karina Kas)
CATATAN PROSES Wijang Wijanarko
Bencana alam itu memiliki andil yang sangat besar dalam hal menyumbangkan atau menambahkan jumlah diffabel di Indonesia. Utamanya pacsa gemba bumi di Bantul, sehingga terjadi penambahan jumlah diffabel yang cukup banyak.
Mengingat bahwa beberapa wilayah di Indonesia ada dikarenakan serpihan benua yg lain akibat pergerakan 3 lempengan bumi. Hal ini dikarekanan Indonesia berada diantara 3 lempeng bumi. Karena berada dalam 3 lempengan bumi ini, Indonesia jadi memiliki potensi bencana yang sangat besar. Coba saja dicari di internet, bahwa korban gempa bumi terbanyak nomor 3 sedunia adalah akibat gempa bumi di Aceh saat tsunami lalu. Tapi bila dilihat dari tampilan sejarah mula Indonesia tadi, Kalimantan adalah daerah Indonesia yang tidak mengalami banyak pergeseran dan perubahan posisi akibat 3 lempengan bumi.
▸ Baca selengkapnya: contoh catatan rekomendasi pendidik
(2)Hasil Workshop Paralel Temu Inklusi 2014 [2]
Berbicara dari kebiasaan menggambar orang-orang, kebanyakan orang Indonesia dari segala lapisan usia dan profesi maupun pendidikan. Namun saat dinyatakan ulang, hal ini ternyata dijawab dengan “kan sudah kebiasaan”. Ternyata fenomena yang dianggap biasa ini membuat orang secara umum hanya menanggapi hal-hal yang terbiasa ada.
Hal ini terbukti pada saat awal membangun building guide di malioboro bagi difabel netra, dalam sesi diskusi dan sharing ada banyak orang yang menanyakan mengapa harus ada atau mengapa harus dibangun hal itu (buige untuk netra) dan memang berapa jumlah penyandang cacat netra yang ada. Mengapa sampai harus dibangun dan mengapa tidak dibuat jalur khusus, agar tidak harus melewati kerumunan yang ramai di malioboro.
Aksesibilitas adalah suatu kondisi yang dimana kesamaan, kesempatan dalam segala aspek kehidupan dan penghidupan bagi disablitas dan lansia mampu mewujudkan.
Tidak perlu jauh-jauhmencari contoh, dahulu saja Indonesia pernah sempat memiliki presiden yang merupakan difabel netra. Namun kesalahan perlakuan sempat juga terjadi, dikarenakan ketidaktahuan tentang bagaimana memberutahukan letak.
Asas aksesibilitas ada 4 point, yaitu; kemudahan, kegunaan, keselamatan, kemandirian. Aksesibilitas ini adalah hal yang jauh berbeda dengan fasilitas istimewa yang mewah. Hal ini dikarenakan agar setiap orang mampu mencapai tempat manapun atau kemanapun secara mandiri dan tanpa bantuan orang lain. Baik itu difabel atau orang dalam kondisi stamina yang memerlukan akses yang lebih mudah.
Jika kita membayangkan hidup dimasa depan, memungkinkan akan timbul bayangan akan kondisi fisik atau stamina yang tidak lagi kuat. Seperti lansia dengan kemampuan fisik yang kuat lagi, juga jika mengingat kelak akan memiliki balita yang tidak mampu melakukan segala sesuatu seperti yang dilakukan orang dewasa.
Membicarakan universal design, tidak jauh berbeda seperti membicarakan tentang kebutuhan anak-anak, ibu hamil dan lansia.
Perlu ditekankan bahwa penca (penyandang cacat) adalah bagian dari masyarakat. Sehingga memiliki hak yang sama dengan masyarakat pada umumnya juga.
Namun banyak terjadi dalam pembangunan bangunan yang jauh dari ideal. Sehingga bila kondisi bencana atau emergency tertentu terjadi, space yang ada untuk melakukan perpindahan dalam ruangan harus juga mengalami kesulitan. Utamanya dalam melakukan gerak cepat. Apalagi jika hal ini dipertemukan dengan teman difabel, standar kebiasaan orang-orang pada umumnya yang lebih mengutamakan penampakan teras yang
Hasil Workshop Paralel Temu Inklusi 2014 [3]
baik. Bila dipertemukan dengan teman difabel, maka bentuk bangunan tersebut secara fisik tentu tidak aksesibel.
Bahkan tanpa membicarakan penyandang cacat sekalipun. Hal ini adalah situasi yang banyak terjadi pada kebanyakan orang, mendahulukan bangunan cantik dan bukan nyaman serta aman. Banyak testimony bahwa melakukan pembangunan standar yang mampu diakses oleh semua orang (baik anak-anak, penyandang cacat dll) adalah menghabiskan anggaran. Padahal sebenarnya hal ini tidak harus dengan biaya tambahan, tapi lebih mengenai kemampuan memilih pembangunan sarana bantuan alternative yang ekonomis, kesadaran dan bagaimana mampu menjalin komunikasidengan benar.
Kemenangan dan kemajuan itu harus direbut, tidak cukup hanya dengan sekedar duduk dan berteriak. Karena ini tantangan yang harus dijalani. Tidak ada kemudahan yang merupakan hadiah dan cukup hanya dengan teriakan.
Semua perlu upaya berjuang. Sekecil apapun itu, mari berbuat. Merebut kesempatan yang ada.
(?) Aden Rahmat; bila tadi disebutkan advokasi frontal, untuk merebut. Bagaimana jika
fasilitas belum memadai, harus langsung rebut?
Narasumber; sebetulnya boleh, karena fasilitas public itu dipantau pemerintah. Tapi
sebisa mungkin jangan menggunakan dana sendiri. Meski jika meminta itu memungkinkan mendapatkan hal yang tidak cukup untuk membangun sarana public.
Tapi ada pengalaman, bahwa membuat pemerintah malu untuk tidak menyumbang dan mampu membangun komunikasi yg baik. Pemerintah justru mampu menjadi partner dalam jangka cukup lama.
(?) Miss D; alat bantu ini ada yang menggunakan remot dan perlu bantuan orang lain. Jadi
sama saja tidak bisa diakses sendiri?
Narasumber; Sebenarnya ada alat lain yang lebih canggih.
Bila tidak ada dana yang berlebih, gunakan dana yang ada atau bisa diupayakan untuk membuat sarana yang sesuai dengan anggaran dan yang mampu mengakomodir kebutuhan.
Niatan baik yang tidak dilakukan dengan komunikasi yang benar justru akan menghadirkan hal yang buruk.
Hasil Workshop Paralel Temu Inklusi 2014 [4]
Sejauh ini sebenarnya sudah banyak upaya yang pernah dilakukan, dan sudah mampu menghadirkan kebijakan legal (pemerintah, UU), namun harusnya upaya ini tidak selesai cukup sampai disini. Namun upaya akses pendidikan, akses teknis, akses social (LSM, DEPSOS dll) juga diperlukan agar aspek legal yang sudah ada mampu berjalan dengan baik. Mari kita merubah mindset, bahwa aksesibilitas tidak hanya untuk bangunan-bangunan mewah.
(?) P; Bagimana contoh aksesibilitas untuk sarana umum seperti masjid (tempat wudhu)? Narasumber; Menampilkan gambar contoh tempat wudhu yang akses
(+) Daksa; Di Bandung, pusdai. Tempat ada yang cukup akses.
Narasumber: Upaya pengadaan signage pernah diupayakan dan berhasil di daerah njeron
beteng. Akan lebih baik jika hal serupa juga diupayakan diseluruh sentra pariwisata atau yang lain, agar difabel netra dapat mendapatkan informasi dan pengetahuan jalan seperti masyarakat yang lain.
(?) F PERTUNI; aksesibilitas transportasi transjogja, memburuk. Baik difabel daksa dan
netra mengalami kesulitan masuk. Bagaimana menembus agar pelayanan public dapat terakomodasi bagi kita semua?
Narasumber; Komunikasi yang baik harus dibangun dengan semua, termasuk supir.
Karena advokasi dengan orang-orang atas (pemerintahan) belum cukup mengakomodir semuanya.
Interaksi yang sering itu mampu menghadirkan caring. Jadi, bisa jadi ketidakpedulian hadir karena interaksi yang kurang intens dan baik.
(?) Gondrong; Ada teman difabel yang pandai fotografi, namun tidak berani mengadakan
pameran sendiri karena minder. Pun saya katakan agar berani dan harus bangga serta mencoba.
Hasil Workshop Paralel Temu Inklusi 2014 [5] (?) F Gerkatin; aksesibilitas untuk tuli saat bencana alam itu bagaimana? Karena tidak
mampu mendengar, adakah alat akses yang dapat membantu teman tuli misalkan di hotel atau lift bila tidak ada teman pendamping?
Narasumber; saya belum tahu dan terbayang, namun saya tertarik dengan dua pertanyaan
yang baru saja ini. Mari kita datangi mahasiswa atau akademis tehnik elektro, tehnik mesin dan tehnik design untuk mendesign alat bantu untuk teman-teman disabilitas. Karena mahasiswa adalah orang yang memerlukan tantangan.
(?) Aden; Saya mengamati sudah banyak akses legal atau UU dengan peraturang atau
teknisnya mengenai hal-hal berkaitan dengan acara difabel milik pemerintah, namun karena aparatur kadang kurang menguasai teknisnya. Apakah perlu ada uji kompetensi dg bab disabilitas bagi para calon legislative?
Narasumber; Negara ini seperti auto-pilot. jadi kuncinya adalah lakukan.
Karena terkadang prosedur yang harus dilakukan itu justru menghabiskan banyak waktu, maka dari itu saya setuju dengan adanya demo. Karena itu penting untuk mengingatkan.
Pergantian atau perubahan dalam jabatan pemerintah itu sangat mudah atau cepat berubah, sehingga upaya advokasi yang dilakukan teman difabel bersama pemerintah harus dilakukan secara berulang-ulang. Sehingga gerakan atau system ini hanya memiliki 2 hambatan; kebosanan dan
(+) Miss K; Dari perbincangan yang dilakukan anak saya dengan teman difabel, banyak hal
yang dapat digali mengenai kebutuhan difabel. Saat masyarakat meminta pemenuhan kebutuhan dari pemerintahnya. Saya mengusulkan kalau teman-teman mau menyampaikan surat opini atau surat melalui media massa dengan kata-kata positif. Sehingga saat MUSRENBANG dapat diusulkan untuk melakukan pembangunan. Karena saat tercantum dalam media massa, dapat dijadikan data real.
Narasumber; Kita harus mau ikut MUSRENBANG, bisa menyampaikan usul dan mampu
Hasil Workshop Paralel Temu Inklusi 2014 [6]
Orang akan selalu memiliki hal untuk dikatakan mengenai apa yg kita lakukan, maka seberapa kita siap untuk mendengarkan apa yg dikalatak orang lain tentang apa yg kita dilakukan.