SIARAN PERS
Badan Perlindungan Konsumen Nasional Jl. M.I. Ridwan Rais No. 5 Jakarta 10110 Telp/Fax. 021-34833819, 021-3458867
www.bpkn.go.id
Pemerintah Perlu Lebih Responsif
Untuk Terapkan Rekomendasi BPKN
Jakarta, 19 September 2012 – Pemerintah perlu terus didorong dan diingatkan untuk konsisten memberikan perlindungan bagi konsumen. Upaya perlindungan konsumen tersebut dapat dilakukan antara lain melalui berbagai rekomendasi yang dikeluarkan oleh Badan Perlindungan Konsumen Nasional.
Demikian dikatakan Ketua Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) Tini Hadad, saat acara temu wartawan di kantornya hari ini (19/9).
Menurut Tini Hadad, selama periode kepemimpinannya ada 46 rekomendasi yang telah disampaikan BPKN kepada beberapa Kementerian/Lembaga terkait. Hanya sekitar ±40% yang merespon dan menindaklanjuti. Tini mencontohkan tentang perlunya SNI mainan anak dan AMDK direspon baik oleh Kementerian Perindustrian, lalu masalah kemetrologian, kasus iPad, tabung gas elpiji 3 Kg, kebijakan klausula baku yang juga direspon baik oleh Kementerian Perdagangan. Kementerian Pendidikan Nasional dan Kebudayaan yang kemudian bekerjasama untuk menindaklanjuti perlunya edukasi konsumen masuk dalam materi mata ajaran di sekolah mulai tingkat dasar sampai menengah.
Respon yang baik ini menunjukkan bahwa mereka memahami perlunya perlindungan kepada konsumen, juga menunjukkan mereka memiliki kepekaan dan tanggap terhadap kondisi dan masalah yang jadi lingkup tugas mereka.
Beberapa Kementerian yang sampai saat ini belum merespon antara lain rekomendasi BPKN kepada Menteri Keuangan perihal Permasalahan Implementasi Pengenaan PPN (Pajak Pertambahan Nilai), kepada Menteri Kesehatan perihal pelayanan rumah sakit. Kedepan, BPKN akan terus memantau semua rekomendasi yang sudah dikirimkan kepada Pemerintah agar mendapat respon dan segera ditindaklanjuti.
Turut hadir dalam acara temu wartawan adalah Ketua Pengurus Harian YLKI Sudaryatmo. Pada kesempatan itu, Sudaryatmo menginginkan agar pemerintah lebih responsif terhadap upaya perlindungan konsumen. "Setiap Kementerian seharusnya membuat struktur organisasi yang khusus akan menangani perlindungan konsumen. Dengan demikian, Kementerian Kesehatan akan menangani pengaduan dari konsumen jasa kesehatan, Kementerian Perhubungan bisa menangani keluhan konsumen transportasi, Kementerian Kominfo menangani keluhan konsumen jasa telekomunikasi, dan lain-lain," ungkap Sudaryatmo. "Jika sudah demikian, maka BPKN bisa lebih fokus menangani masalah lainnya sepert fasilitasi capacity building, melakukan survey konsumen, fasilitasi pembentukan federasi-federasi konsumen, dan sebagainya," tambahnya.
Yang menarik, menurut Tini pula, kebijakan dan aktivitas yang dilakukan oleh beberapa Kementerian, mulai mengarah kepada keberpihakan untuk lindungi konsumen. Dalam aturan mengenai bahan berbahaya dan Labeling SNI wajib misalnya merupakan kebijakan yang perlu terus ditegakkan “jangan tebang pilih dan diskriminatif untuk menegakkan aturan” ujar Tini. Harapannya ke depan langkah pengawasan barang dalam rangka keamanan produk perlu terus dilanjutkan.
BPKN mencermati bahwa dalam 1 tahun terakhir ini, upaya Kementerian Perdagangan untuk melakukan pengawasan barang melalui Direktorat Jenderal Standardisasi dan Perlindungan Konsumen dalam Pengawasan Barang Beredar harus terus ditingkatkan dengan melibat aktifkan Lembaga Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat (LPKSM). Beri peran kepada LPKSM lebih banyak untuk ikut membantu melakukan pengawasan barang. Sehingga hasil yang sudah baik dapat lebih baik lagi.
Beberapa keluaran kinerja yang merupakan inisiasi baru, adalah :
1. Hari Konsumen Nasional (HKN) ditetapkan pada tanggal 20 April 2012 melalui Keputusan Presiden No. 13 Tahun 2012. HKN merupakan momentum “Pesta Kesadaran Bersama” atas sebuah aktivitas perlindungan konsumen. Selain untuk menguatkan kesadaran akan pentingnya Hak dan Kewajiban Konsumen, momentum ini juga diharapkan merupakan Gerakan yang diharapkan akan dapat mendorong peningkatan daya saing Indonesia melalui pesan konsumen
2. BPKN bekerjasama dengan Kementerian dan Kebudayaan menyusun buku suplemen materi kurikulum edukasi konsumen di bidang perlindungan Konsumen yang akan diujicobakan ke beberapa sekolah yang menjadi sasaran pilot project.
3. BPKN juga berupaya dalam rangka mewujudkan BPKN sebagai sentral informasi perlindungan konsumen dengan membangun Pusat Pelayanan Informasi Dan Pelayanan Penanganan Pengaduan melalui Call Center BPKN. Inisiasi Penyelenggaraan Call Center Pengaduan merupakan Langkah awal yang akan dilakukan oleh BPKN dalam membangun Sistem Operasional Pelayanan Informasi dan Penanganan Pengaduan. Pertimbangannya adalah guna menciptakan sistim kepastian hukum dan akses informasi hanya dapat dipenuhi manakala terdapat saluran atau kanal komunikasi 2 arah. Ini dilakukan dengan upaya mengaktifkan fungsi pelayanan bagi konsumen melalui sebuah sistim pusat aduan atau lazim disebut sebagai Call Center. Melalui fasilitas Call Center ini dapat menjadi basis data untuk bahan evaluasi kebijakan yang dapat disampaikan kepada Pemerintah.
BPKN selama ini aktif dilibatkan dalam berbagai tim penyusunan kebijakan Pemerintah di bidang telekomunikasi, perbuhungan udara, perbankan, dsb.
-- selesai --- Informasi lebih lanjut hubungi :
Koordinator Komisi Komunikasi dan Edukasi Badan Perlindungan Konsumen Nasional Telp/Fax: 021-34833819, 021-3458867,
Email: [email protected], [email protected] Contact :
F
FaaccttSShheeeett
T
TeennttaannggBBaaddaannPPeerrlliinndduunnggaannKKoonnssuummeennNNaassiioonnaall((BBPPKKNN))
A. PEMBENTUKAN BPKN
BPKN berupaya merespon dinamika dan kebutuhan perlindungan konsumen yang berkembang. Upaya tersebut sesuai tugas BPKN dilakukan dengan merekomendasikan guna membantu pemerintah dalam membuat kebijakan perlindungan konsumen melalui rekomendasi-rekomendasi kebijakan yang disampaikan kepada pemerintah dan instansi terkait, dengan tujuan untuk mengembangkan dan melaksanakan perlindungan konsumen di Indonesia.
Pembentukan BPKN didasarkan pada Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (UUPK) yang ditindaklanjuti dengan PP No. 57 Tahun 2001 tentang Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN). Keanggotaan BPKN bersifat kolektif dan kolegial mempresentasikan unsur-unsur pemerintah, pelaku usaha, lembaga konsumen swadaya masyarakat, akademisi dan tenaga ahli. Keanggotaan BPKN saat ini berdasarkan Keputusan Presiden RI No. 80/P Tahun 2009 dengan masa bakti 2009-2012..
B. TUGAS DAN FUNGSI BPKN
Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) merupakan satu-satunya kelembagaan perlindungan konsumen dengan skala nasional yang pembentukannya diamanahkan oleh Undang-undang No 8 tahun 1999. Sesuai Undang-Undang tersebut, BPKN mendapat tugas menjadi lembaga pertimbangan atau “advisory body” bagi Pemerintah, dan mengemban fungsi dan tugas:
Fungsi : Memberikan saran dan pertimbangan kepada pemerintah dalam upaya mengembangkan perlindungan konsumen di Indonesia
Tugas :
1. Memberikan saran dan rekomendasi kepada pemerintah dalam rangka penyusunan kebijakan di bidang perlindungan konsumen
2. Melakukan penelitian dan pengkajian terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku di bidang perlindungan konsumen
3. Melakukan penelitian terhadap barang dan/atau jasa yang menyangkut keselamatan konsumen
4. Mendorong berkembangnya LPKSM
5. Menyebarluaskan informasi melalui media mengenai perlindungan konsumen dan memasyarakatkan sikap keberpihakan kepada konsumen
6. Menerima pengaduan tentang perlindungan konsumen dari masyarakat, LPKSM atau pelaku usaha
7. Melakukan survey yang menyangkut kebutuhan konsumen
Dalam menjalankan tugas, visi yang ingin dicapai BPKN adalah “Menjadi Lembaga Terdepan Bagi Terwujudnya Konsumen yang Bermartabat dan Pelaku Usaha yang bertanggungjawab”, dengan mengemban misi :
1. Memperkuat landasan hukum dan kerangka kebijakan perlindungan konsumen nasional 2. Memperkuat akses jalur penyelesaian sengketa perlindungan konsumen.
3. Memperluas akses informasi perlindungan konsumen serta mengembangkan edukasi dan informasi konsumen.
BPKN terdiri dari beberapa Komisi. Komisi-komisi ini dibentuk guna mengefektifkan pelaksanaan fungsi dan tugas BPKN dengan pertimbangan bahwa komisi-komisi tersebut akan bekerja secara terfokus pada bidang-bidang tertentu yang sudah ditetapkan. Saat ini terdapat 4 Komisi di BPKN yaitu :
Komisi 1: meneliti dan mengkaji peraturan perundang-undangan yg berkaitan dengan perlindungan konsumen, melalui pengkajian perundang-undangan, Peraturan Pemerintah, dan peraturan-peraturan lainnya serta melaksanakan survei atas barang dan/atau jasa. Komisi 2: menyebarluaskan informasi baik melalui media cetak maupun elektronik mengenai perlindungan konsumen; memasyarakatkan sikap keberpihakan kepada konsumen dan melaksanakan pendidikan konsumen kepada masyarakat.
Komisi 3: menerima dan menangani pengaduan dari konsumen, LPKSM atau pelaku usaha, serta mengkoordinasikan penyelesaiannya bersama Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) dan LPKSM.
Komisi 4: menjalin hubungan dan kerjasama dengan lembaga-lembaga baik lembagapemerintah maupun non pemerintah, nasional dan internasional, serta mendorong berkembangnya LPKSM.
C. BEBERAPA SARAN DAN REKOMENDASI BPKN:
Terkait dengan tugas melakukan penelitian dan pengkajian tahun 2011 dan 2012, BPKN telah menghasilkan Rekomendasi dan disampaikan kepada pemerintah sebagai berikut : TAHUN 2012
1. Surat Ketua BPKN No. 15/BPKN/2/2012 tanggal 13 Februari 2012 kepada Gubernur Kepala Daerah Provinsi, perihal Rekomendasi tentang Metrologi Legal
2. Surat Ketua BPKN No. 20/BPKN/2/2012 tanggal 24 Februari 2012 kepada Presiden RI, perihal Rekomendasi Kebijakan BBM Bersubsidi
3. Surat Ketua BPKN No. 46/BPKN/3/2012 tanggal 9 Maret 2012 kepada Menteri Perdagangan RI, perihal Rekomendasi tentang Tata Cara Pemilihan Calon Anggota BPKN.
4. Surat Ketua BPKN No. 65/BPKN/4/2012 tanggal 11 April 2012 kepada Menteri Perhubungan RI, perihal Rekomendasi Implementasi Permenhub No. PM. 77/2011 Jo. No. PM. 92/2011
5. Surat Ketua BPKN No. 66/BPKN/4/2012 tanggal 11 April 2012 kepada Menteri Energi dan Sumberdaya Mineral RI, perihal Rekomendasi tentang Kenaikkan Tarif Tenaga Listrik (TTL) Tahun 2012
TAHUN 2011
1. Surat Ketua BPKN No. 07/BPKN/2/2011 tanggal 9 Februari 2011 kepada Menteri Kesehatan RI, perihal Susu Formula Tercemar Bakteri Encobact
2. Surat Ketua BPKN No. 171/BPKN/8/2011 tanggal 12 Agustus 2011 kepada Menteri Perdagangan RI, perihal Bahan Masukan untuk Perubahan Undang-undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (UUPK)
3. Surat Ketua BPKN No. 206/BPKN/9/2011 tanggal 20 September 2011 kepada Menteri Menteri Hukum dan Hak Azasi Manusia RI, perihal Rekomendasi tentang Yayasan Pendidikan.
4. Surat Ketua BPKN No. 207/BPKN/9/2011 tanggal 20 September 2011 kepada Menteri Pendidikan Nasional RI, perihal Rekomendasi tentang Yayasan Pendidikan.
5. Surat Ketua BPKN No. 208/BPKN/9/2011 tanggal 20 September 2011 kepada Gubernur Bank Indonesia (BI), perihal Rekomendasi tentang kasus Debt Collector.
6. Surat Ketua BPKN No. 209/BPKN/9/2011 tanggal 20 September 2011 kepada Menteri Komunikasi dan Informasi RI, perihal Rekomendasi tentang Telepon Seluler.
7. Surat Ketua BPKN No. 314/BPKN/11/2011 tanggal 25 November 2011 kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, perihal Rekomendasi tentang Sistem Edukasi Perlindungan Konsumen.
8. Surat Ketua BPKN No. 315/BPKN/11/2011 tanggal 25 November 2011 kepada Menteri Dalam Negeri dan Menteri Keuangan RI, perihal Rekomendasi tentang Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK).
9. Surat Ketua BPKN No. 316/BPKN/11/2011 tanggal 25 November 2011 kepada Menteri Dalam Negeri dan Menteri Keuangan, perihal Rekomendasi tentang Akselerasi Kinerja BPSK.
10. Surat Ketua BPKN No. 317/BPKN/11/2011 tanggal 25 November 2011 kepada Menteri Perhubungan, perihal Jasa Pelayanan Transportasi Udara.
11. Surat Ketua BPKN No. 343/BPKN/12/2011 tanggal 12 Desember 2011 kepada Menteri Perdagangan RI, perihal Rekomendasi tentang Hari Konsumen Nasional (HKN).
12. Surat Ketua BPKN No. 348/BPKN/12/2011 tanggal 29 Desember 2011 kepada Menteri Keuangan RI, perihal Rekomendasi tentang Penyelesaian Masalah Pembiayaan Konsumen.
13. Surat Ketua BPKN No. 349/BPKN/12/2011 tanggal 29 Desember 2011 kepada Menteri Hukum dan Hak Azasi Manusia RI, perihal Rekomendasi tentang Penyelesaian Masalah Pembiayaan Konsumen.
14. Surat Ketua BPKN No. 350/BPKN/12/2011 tanggal 29 Desember 2011 kepada Menteri Perdagangan RI, perihal Rekomendasi tentang i-Pad.
15. Surat Ketua BPKN No. 351/BPKN/12/2011 tanggal 29 Desember 2011 kepada Menteri Perdagangan RI, perihal Rekomendasi tentang Klausula Baku.
16. Surat Ketua BPKN No. 353/BPKN/12/2011 tanggal 29 Desember 2011 kepada Menteri Perdagangan RI, perihal Rekomendasi tentang Metrologi Legal.
TAHUN 2010
1. Surat Ketua BPKN No. 02/BPKN/1/2011 tanggal 7 Januari 2011 kepada Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan, perihal Informasi Pengawasan Keamanan Pangan & Barang Berbahaya
2. Surat Ketua BPKN No. 69/BPKN/5/2010 tanggal 24 Mei 2010 kepada Menteri Perdagangan RI, perihal Pelabelan Tabung Gas Rumah Tangga 3 kg dan 12 kg
Ditanggapi oleh Menteri Perdagangan: 1) Mendukung dalam upaya memberikan petunjuk yang secara langsung tercantum pada label, 2) akan mempermudah dalam pengawasan.
3. Surat Ketua BPKN No.70/BPKN/5/2010 tanggal 31 Mei 2010 kepada Presiden RI, perihal Rekomendasi Permasalahan Nasabah Bank IFI dengan LPS.
4. Surat Ketua BPKN No.71/BPKN/5/2010 Tanggal 31 Mei 2010 kepada Kepala Eksekutif Lembaga Penjaminan Simpanan (LPS), perihal Rekomendasi Permasalahan Nasabah Bank IFI dengan LPS
Ditanggapi oleh Sekretariat Negara, yang diteruskan kepada Gubernut BI dan Kepala Eksekutif LPS sebagai bahan telaahan sesuai peraturan perundang undangan sepanjang mengandung kebenaran dan dapat dipertanggungjawabkan.
5. Surat Ketua BPKN No.73/BPKN/5/2010 Tanggal 31 Mei 2010 kepada Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN), perihal Kebijakan PT. PLN dalam system PPOB 6. Surat Ketua BPKN No.75/BPKN/5/2010 Tanggal 31 Mei 2010 kepada Menteri Energi dan
Sumber Daya Mineral (ESDM), perihal Kebijakan PT. PLN dalam system PPOB
7. Surat Ketua BPKN No.105/BPKN/7/2010 Tanggal 12 Juli 2010 kepada Menteri Perdagangan RI, perihal Pelabelan Tabung Gas Rumah Tangga 3 kg dan 12 kg
8. Surat Ketua BPKN No.114/BPKN/8/2010 Tanggal 2 Agustus 2010 kepada Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat RI, perihal Penanganan permasalahan penggunaan Tabung gas LPG 3 kg
9. Surat Ketua BPKN No.123/BPKN/8/2010 Tanggal 16 Agustus 2010 kepada Gubernur DKI Jakarta, perihal Saran dan Rekomendasi Revisi Perda No. 5 Tahun 1999 Tentang Perparkiran
10. Surat Ketua BPKN No.161/BPKN/10/2010 Tanggal 25 Oktober 2010 kepada Ketua Mahkamah Agung RI, perihal Permohonan Fatwa Mahkamah Agung
11. Surat Ketua BPKN No. 191/BPKN/12/2010 Tanggal 23 Desember 2010 kepada Menteri Perindustrian RI, perihal SNI Wajib Air Minum Dalam Kemasan (AMDK)
12. Surat Ketua BPKN No. 192/BPKN/12/2010 Tanggal 23 Desember 2010 kepada Menteri
14. Surat Ketua BPKN No.194/BPKN/12/2010 Tanggal 29 Desember 2010 kepada Menteri Kesehatan RI, perihal Rekomendasi Tentang Pelayanan Rumah Sakit
15. Surat Ketua BPKN No.195/BPKN/12/2010 Tanggal 30 Desember 2010 kepada Menteri Perhubungan RI, perihal Kebijakan PSO (Public Service Obligation) dalam Pelayanan Kereta Api Kelas Ekonomi
TAHUN 2004 – 2007
1. Surat Ketua BPKN No. 197/BPKN/10/2005 tanggal 26 Oktober 2005 kepada Presiden RI, perihal Saran Kebijakan Perbankan dalam Rangka Perlindungan Konsumen, khususnya nasabah Bank Global
2. Surat Ketua BPKN No. 06/BPKN/1/2006 tanggal 26 Januari 2006 kepada Menteri Pertanian RI, perihal Daging Sapi Glonggongan
3. Surat Ketua BPKN No. 07/BPKN/1/2006 tangal 26 Januari 2006 kepada Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat RI, perihal Penanganan Keamanan Pangan dari Bahan Berbahaya
4. Surat Ketua BPKN No.20.1/BPKN/3/2006 tanggal 15 Maret 2006 kepada Menteri Koordinator Perekonomian RI, perihal Kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL) 2006.
5. Surat Ketua BPKN No. 42/BPKN/Set/7/2007 tanggal 5 Juli 2007 kepada Menteri Perdagangan RI, perihal Usulan Perubahan Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen
6. Surat Ketua BPKN No. 47/BPKN/7/2007 tanggal 31 Juli 2007 kepada Gubernur, Bupati dan Walikota, perihal Penyelenggaraan Perlindungan Konsumen
7. Surat Ketua BPKN No. 55/BPKN/8/2007 tanggal 20 Agustus 2007 kepada Menteri Perindustrian RI, perihal SNI Wajib untuk Mainan Anak.
8. Surat Ketua BPKN No. 67/BPKN/9/2007 tanggal 19 September 2007 kepada Menteri Kesehatan RI, perihal Rekomendasi Pelayanan Ibadah Haji Tahun 1428 H
9. Surat Ketua BPKN No. 68/BPKN/9/2007 tanggal 19 September 2007 kepada Direktur Utama PT. PLN, perihal Kebijakan PT. PLN Dalam Menerapkan Sistem ‘Online”
10. Surat Ketua BPKN No. 69/BPKN/9/2007 tanggal 21 September 2007 kepada Menteri Pekerjaan Umum, perihal Kebijakan Kenaikan Tarif Told an SPM
D. Jumlah pengaduan yang masuk di BPKN dari tanggal 1 Januari 2012 s/d 1 Agustus 2012 sebanyak 132 pengaduan, yang terdiri dari Pengaduan berupa tembusan sebanyak 123 kasus dan Pengaduan langsung sebanyak 9 kasus, dengan rincian sebagai berikut:
No Komoditi Jumlah kasus 1 Perbankan 80 2 Pembiayaan Konsumen 35 3 Perumahan 10 4 PDAM 1 5 PLN/Listrik 1 6 Pelayanan Paspor 1 7 Parkir 1 8 Asuransi 1 9 Provider Internet 1 10 Pangan 1
Adapun kasus/jenis permasalahan yang banyak disengketakan dari pengaduan yang masuk, adalah sebagai berikut:
No Komoditi Masalah yang diadukan
1 Pembiayaan Konsumen ¨ Intimidasi dan penarikan kendaraan ¨ Akumulasi denda/bunga
¨ Pencantuman klausula baku
2 Perbankan ¨ Penjadwalan ulang pembayaran angsuran ¨ Terlambat membayar angsuran
¨ Pencantuman klausula baku ¨ Beban bunga/denda
3 PLN/Listrik Biaya pasang baru di Apj Pekalongan
5 Perumahan Jual beli unit rumah susun (eksekusi putusan BPSK DKI Jakarta)
6 Pelayanan Paspor Pembuatan Paspor
7 Parkir Klausula baku tiket parkir
8 Asuransi Masalah klaim asuransi
9 Provider Internet Kecepatan dan kuota tidak sesuai yg dijanjikan