AKTIVITAS PENGHAMBATAN Bacillus sp. TERHADAP
Xanthomonas oryzae pv. oryzae, Pseudomonas syringae pv. glycines,
DAN Pseudomonas fluorescens
KARTIKA FINDY
DEPARTEMEN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2009
ABSTRAK
KARTIKA FINDY. Aktivitas Penghambatan Bacillus sp. terhadap
Xanthomonas oryzae pv. oryzae, Pseudomonas syringae pv. glycines, dan
Pseudomonas fluorescens. Dibimbing oleh IMAN RUSMANA dan ALINA
AKHDIYA.
Penyakit leaf blight yang disebabkan oleh bakteri patogen tanaman X.
oryzae pv. oryzae dan P. syringae pv. glycines dapat mengakibatkan kematian
terhadap tanaman. Pengendalian bakteri patogen tanaman dapat dilakukan dengan
menggunakan agen pengendali hayati seperti P. fluorescens ataupun senyawa
antimikrob. Tujuan dari penelitian ini adalah mempelajari kemampuan
penghambatan dan waktu optimum produksi senyawa antimikrob isolat-isolat
Bacillus sp. terhadap bakteri patogen tanaman X. oryzae pv. oryzae, P. syringae
pv. glycines, dan bakteri biokontrol P. fluorescens. Sebanyak 31 isolat yang
berhasil diisolasi dari tanah hutan diuji aktivitas antimikrobnya terhadap bakteri
uji dengan metode double layer. Sebanyak 13 isolat menunjukkan aktivitas
penghambatan terhadap Staphylococcus aureus, Eschericia coli, dan X. oryzae pv.
oryzae, 8 isolat mampu menghambat P. fluorescens A, 9 isolat mampu
menghambat P. fluorescens B, dan 8 isolat mampu menghambat P. syringae pv.
glycines. Isolat Bacillus sp. F13 memiliki kecepatan penghambatan yang efektif
dan efisiensi terhadap semua bakteri uji dan dibuktikan dengan uji kompetisi
dalam kultur campuran. Spektrum aktivitas penghambatan isolat tersebut luas
karena dapat menghambat bakteri Gram positif dan Gram negatif. Hasil uji
kompetisi dalam kultur campuran menunjukkan isolat tersebut memiliki
penghambatan terutama terhadap P. syringae pv. glycines dan X. oryzae pv.
oryzae dengan persen penghambatan mencapai 100%. Aktivitas senyawa
antimikrob yang dihasilkan oleh isolat Bacillus sp. terhadap bakteri uji dihasilkan
pada fase akhir logaritmik pertumbuha
n.ABSTRACT
KARTIKA FINDY. Antimicrobial Activity of
Bacillus
sp. to
Xanthomonas oryzae pv. oryzae, Pseudomonas syringae pv. glycines, and
Pseudomonas fluorescens. Supervised by IMAN RUSMANA and ALINA
AKHDIYA.
Leaf blight disease caused by bacterial plant pathogen such as X. oryzae pv.
oryzae and P. syringae pv. glycines had deathly effect to plants. The pathogens
can be controlled by biological control using P. fluorescens or antimicrobial
substances. The research studied the inhibition ability and production of
antimicrobial substances produced by Bacillus sp. againts bacterial plant pathogen
such as X. oryzae pv. oryzae, P. syringae pv. glycines, and biological control P.
fluorescens. As many as 31 Bacillus sp. isolates isolated from forest soil was
determined their antimicrobial activity against indicator bacteria using double
layer method. The result showed that 13 isolates was able to inhibit
Staphylococcus aureus, Eschericia coli, and X. oryzae pv. oryzae growth, 8
isolates could inhibit P. fluorescens A growth, 9 isolates could inhibit P.
fluorescens B growth, and 8 isolates could inhibit P. syringae pv. glycines
growth. Bacillus sp. F13 had the fastest inhibition and good efficiency against all
indicator bacteria. Mixed culture competition test showed that this isolate had a
broad spectrum inhibition activity, it was able to inhibit Gram positive and Gram
negative bacteria. The isolate could inhibit growth of P. syringae pv. glycines and
X. oryzae pv. oryzae up to 100%. The antimicrobial substance the isolate was
produced in the late logarithmic growth phase.
AKTIVITAS PENGHAMBATAN Bacillus sp. TERHADAP
Xanthomonas oryzae pv. oryzae, Pseudomonas syringae pv. glycines,
DAN Pseudomonas fluorescens
KARTIKA FINDY
Skripsi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Sains pada
Departemen Biologi
DEPARTEMEN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2009
Judul
:
Aktivitas
Penghambatan Bacillus sp. terhadap Xanthomonas oryzae
pv. oryzae, Pseudomonas syringae pv. glycines, dan Pseudomonas
fluorescens
Nama
:
Kartika
Findy
NRP
:
G34051437
Disetujui
Pembimbing I
Pembimbing II
Dr. Ir. Iman Rusmana, M.Si
Alina Akhdiya, M.Si
NIP. 19650720 199103 1 002
NIP. 080 130 418
Diketahui
Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Institut Pertanian Bogor
Dr. Drh. Hasim, DEA
NIP. 19610328 198601 1 002
PRAKATA
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala nikmat dan
anugerah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan karya ilmiah yang berjudul
Aktivitas Penghambatan Bacillus sp. terhadap Xanthomonas oryzae pv. oryzae,
Pseudomonas syringae pv. glycines, dan Pseudomonas fluorescens. Penelitian ini
telah dilaksanakan dari bulan Februari sampai Mei 2009 di Laboratorium
Mikrobiologi, Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan
Alam, Institut Pertanian Bogor.
Terima kasih penulis ucapkan kepada bapak Dr. Ir. Iman Rusmana, M.Si
selaku pembimbing utama dan ibu Alina Akhdiya, M.Si selaku pembimbing
kedua. Ucapan terima kasih penulis juga disampaikan kepada Anggota IR Crew
yaitu Ade Satria, Puji Purwanti, Dina D, Bonardo, dan Nurlia Valestine serta
kepada teman-teman seperjuangan di lababoratorium Mikrobiologi (Amarylis,
Bram, Una, Meli, Yurin, Adi sasono, Hirmas). Terima kasih untuk Ibu Maya, Ibu
Nana, Pak Umar, Mba Emma, Bang Jo yang telah banyak membantu dalam
kegiatan penelitian serta laboran mikrobiologi (Pak Jaka, Mba Heni, dkk). Ucapan
khusus untuk Bambang Padmadi yang selalu memberikan semangat. Dan pihak
lain yang tidak dapat disebutkan satu-persatu terima kasih atas kebersamaannya
selama penelitian dan tidak lupa kepada teman-teman biologi 42 atas kehangatan
dan kekompakannya.
Penghargaan setinggi-tingginya penulis sampaikan kepada kedua orang
tua dan kakak tercinta atas perhatian, kasih sayang dan doanya. Semoga karya
ilmiah ini bermanfaat bagi para pembaca dan bagi ilmu pengetahuan khususnya
bidang Biologi.
Bogor, Agustus 2009
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Jakarta, DKI Jakarta pada tanggal 20 Desember 1987
dari ayahanda Faisal Anwar dan ibunda Nenden Yulia O. Penulis merupakan anak
ketiga dari tiga bersaudara. Tahun 2005 penulis lulus dari SMU Negeri 12 Jakarta
dan pada tahun yang sama lulus seleksi masuk Institut Pertanian Bogor (IPB)
melalui jalur Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) pada Program Studi
Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA).
Selama mengikuti perkuliahan, penulis pernah mengikuti kegiatan Praktik
Lapangan di Laboratorium Mikrobiologi Rumah Sakit Islam Jakarta Pondok Kopi
(RSIJPK) selama periode Juli sampai dengan Agustus 2008 dengan judul Deteksi
Penyakit Tuberkulosis Di Laboratorium Klinik Rumah Sakit Islam Jakarta
Pondok Kopi. Disamping itu penulis aktif menjadi pengurus Himpunan
Mahasiswa Biologi (HIMABIO), staf BioWorld periode 2006/2007 dan staf
Wahana Muslim HIMABIO (WMH) periode 2007/2008, asisten praktikum mata
kuliah Biologi Dasar untuk mahasiswa TPB tahun ajaran 2006/2009. Penulis juga
pernah menjadi pengajar “Be Expert” Biologi untuk mahasiswa TPB tahun ajaran
2008.
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR GAMBAR ... ix
DAFTAR TABEL ... ix
DAFTAR LAMPIRAN ... ix
PENDAHULUAN ... 1
Latar Belakang ... 1
Tujuan...
1
Waktu dan Tempat Penelitian ... 1
BAHAN DAN METODE ... 1
Bahan ... 1
Metode ... 1
Penumbuhan dan Penyimpanan Bakteri ... 1
Seleksi Isolat Bacillus sp. yang Berpotensi Menghambat Pertumbuhan
Bakteri Uji ... 2
Uji Kompetisi ... 2
Waktu Optimum Produksi Senyawa Antimikrob Isolat Bacillus sp. ... 2
HASIL ... 3
Seleksi Isolat Bacillus sp. yang Berpotensi Menghambat Pertumbuhan Bakteri
Uji...
3
Uji Kompetisi... 5
Waktu Optimum Produksi Senyawa antimikrob Isolat Bacillus sp. ... 9
PEMBAHASAN ... 9
SIMPULAN ... 12
SARAN ... 12
DAFTAR PUSTAKA ... 12
DAFTAR GAMBAR
Halaman
1 Zona hambat disekitar 3 koloni isolat Bacillus terpilih terhadap bakteri uji .... 4
2 Persentase penghambatan pertumbuhan bakteri uji oleh isolat Bacillus sp.
A21 pada uji kompetisi ... 6
3 Dinamika populasi bakteri uji pada uji kompetisi dengan isolat Bacillus sp.
A21 ... 6
4 Persentase penghambatan pertumbuhan bakteri uji oleh isolat Bacillus sp.
F13 ... 7
5 Dinamika populasi bakteri uji pada uji kompetisi dengan isolat Bacillus sp.
F13 ... 7
6 Persentase penghambatan pertumbuhan bakteri uji oleh isolat Bacillus sp.
G3 pada uji kompetisi ... 8
7 Dinamika populasi bakteri uji pada uji kompetisi dengan isolat Bacillus sp.
G3 ... 8
8
Aktivitas antimikrob supernatan kultur Bacillus sp. F13 selama inkubasi
terhadap bakteri uji... 9
DAFTAR TABEL
Halaman
1 Penghambatan pertumbuhan S. aureus dan E. coli oleh isolat Bacillus sp. pada
media NA... 3
2 Penghambatan pertumbuhan X. oryzae pv. oryzae dan P. syringae pv. glycines
oleh isolat Bacillus sp. pada media TSA ... 4
3 Penghambatan pertumbuhan P. fluorescens A dan B oleh isolat Bacillus sp.
pada media TSA ... 4
4 Indeks Penghambatan pertumbuhan bakteri uji oleh 3 isolat Bacillus sp.
terpilih ... 5
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
1 Aktivitas penghambatan isolat Bacillus sp. terhadap populasi sel bakteri uji
dalam uji kompetisi ... 15
2 Persentase penghambatan isolat Bacillus sp. terhadap bakteri uji ... 16
3
Populasi sel isolat Bacillus sp. dan bakteri uji dalam kontrol positif dan
x
PENDAHULUAN Latar Belakang
Xanthomonas oryzae pv. oryzae
dan Pseudomonas syringae pv. glycines merupakan bakteri patogen terhadap tanaman. Kedua bakteri ini menyebabkan
leaf blight, yaitu penyakit busuk daun,
dimana daun mengalami bercak-bercak coklat, menjadi layu dan mati. Penyakit ini menyerang daun padi yang disebabkan oleh
X. oryzae pv. oryzae (Suparyono et al 2003)
dan daun kedelai yang disebabkan oleh P.
syringae pv. glycines (Dirmawati 2005).
Berbagai usaha penanggulangan penyakit ini telah banyak dilakukan, diantaranya dengan menggunakan bahan kimia sintetik (paraben, asam benzoat, nitrit, dan lain-lain) ataupun aplikasi pestisida berbahan dasar senyawa antibiotik (Agrep) (Asman 1996). Pengggunaan antibiotik dan bahan kimia dalam penanganan penyakit tanaman dapat menyebabkan resistensi pada bakteri, menimbulkan residu dan pencemaran lingkungan. Oleh karena itu, perlu adanya alternatif biokontrol seperti aplikasi campuran mikroba pengendali hayati. Agen pengendali hayati yang sudah sering digunakan diantaranya adalah P.
fluorescens dan Bacillus subtilis (Supriadi
2006). Formulasi campuran kedua bakteri tersebut telah diaplikasikan untuk mengendalikan penyakit pustul bakteri kedelai yang disebabkan oleh X. campestris pv. glycines (Dirmawati 2005).
Kemampuan Bacillus dalam
mengendalikan bakteri patogen tanaman disebabkan oleh senyawa antimikrob yang diproduksinya. Menurut Irina et al. (2001), genus Bacillus sp. dapat memproduksi substansi antimikrob berupa bakteriosin dan antibiotik berupa basitrasin. Bakteriosin merupakan senyawa antimikrob polipeptida yang disintesis di ribosom dan biasanya hanya menghambat galur-galur bakteri yang berkerabat dekat dengan bakteri penghasil bakteriosin tersebut (Jack et al. 1995). Sedangkan antibiotik disintesis melalui serangkaian reaksi multi enzim yang dihasilkan selama fase pertumbuhan stasioner (Williams et al 1996).
Beberapa isolat Bacillus sp. koleksi laboratorium Mikrobiologi, Departemen Biologi, FMIPA IPB diketahui mampu menghambat pertumbuhan Eschericia coli dan Staphylococcus aureus (Sopyan &
Findy 2007). Kedua bakteri tersebut merupakan bakteri standar uji untuk
menentukan spektrum penghambatan antimikrob terhadap bakteri Gram positif dan Gram negatif. Namun, aktivitas antimikrobnya terhadap patogen tanaman seperti X. oryzae pv. oryzae dan P. syringae pv. glycines, serta uji kompetisi dengan agen biokontrol P. fluorescens belum diketahui.
Tujuan
Penelitian ini bertujuan mempelajari kemampuan penghambatan dan penentuan waktu optimum produksi senyawa antimikrob isolat-isolat Bacillus sp. terhadap bakteri patogen tanaman X. oryzae pv. oryzae, P. syringae pv. glycines, dan agen biokontrol P. fluorescens.
Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Februari sampai dengan Mei 2009 di Laboratorium Mikrobiologi, Departemen Biologi FMIPA IPB.
BAHAN DAN METODE Bahan
Bakteri yang digunakan pada penelitian ini terdiri dari 13 isolat Bacillus sp., 2 bakteri standar uji aktivitas antimikrob (E. coli dan S. aureus), 2 bakteri patogen tanaman (X. oryzae pv. oryzae dan P.
syringae pv. glycines) dan 2 isolat P. fluorescens (isolat A dan B). Isolat-isolat Bacillus tersebut diisolasi dari dari tanah
Wanawisata Cangkuang Sukabumi pada kegiatan Studi Lapangan jurusan Biologi pada tahun 2007. Semua isolat Bacillus sp.,
E. coli dan S. aureus merupakan bakteri
koleksi dari Laboratorium Mikrobiologi, Departemen Biologi, FMIPA IPB. Sedangkan 4 bakteri lainnya diperoleh dari Laboratorium Fitopatologi, Balai Besar-Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian (BB-BIOGEN).
Media nutrisi yang digunakan untuk pertumbuhan bakteri ialah Trypticase
Soy Broth (TSB 30 g/l), Nutrient Agar (NA:
8 g/l NB, agar-agar 20 g/l), Trypticase Soy
Agar (TSA: 30 g/l TSB, 20 g/l agar-agar),
serta NA dan TSA semipadat yang dibuat dengan kandungan agar-agar 10 g/l.
Metode
Penumbuhan dan Penyimpanan Bakteri
Isolat Bacillus sp. ditumbuhkan dan diremajakan pada media NA dan diinkubasi pada suhu ruang (29-31 ºC) selama dua hari.
2
Sedangkan bakteri uji ditumbuhkan pada media TSA atau TSB lalu diinkubasi pada suhu ruang (29-31 ºC) selama tiga hari. Stok kultur bakteri disimpan dalam refigerator pada suhu (6-8 ºC) pada media yang sama.
Seleksi Isolat Bacillus sp. yang Berpotensi Menghambat Pertumbuhan Bakteri Uji
Seleksi isolat Bacillus sp. dilakukan dengan uji antagonis terhadap 2 bakteri yang menjadi standar uji senyawa antimikroba (E.
coli, S. aureus), 2 bakteri patogen tanaman
(X. oryzae pv. oryzae, dan P. syringae pv.
glycines), dan 2 isolat biokontrol (P. Flourescens A dan B). Uji dilakukan menggunakan metode double layer (Lisboa
et al. 2006). Metode ini memungkinkan
senyawa antimikrob yang dihasilkan dapat berfusi dengan baik pada media semipadat sehingga didapat zona bening yang terlihat jelas. Zona bening tersebut merupakan bagian media yang tidak dapat ditumbuhi oleh bakteri uji karena adanya difusi senyawa antimikrob yang dihasilkan oleh
Bacillus sp.
Sebanyak 500 µl (107cfu/ml) kultur cair bakteri uji diinokulasikan ke dalam 50 ml TSA semipadat lalu dituang pada permukaan cawan TSA padat masing-masing sebanyak 10 ml. Setelah permukaan media TSA double layer memadat, isolat
Bacillus sp. yang berumur dua hari ditotolkan dengan menggunakan tusuk gigi steril lalu diinkubasi pada suhu 30 ºC. Pengamatan dan pengukuran zona bening dilakukan setelah 48 jam untuk uji terhadap
E. coli dan S. aureus. Sedangkan
pengamatan untuk uji terhadap 4 bakteri uji lainnya dilakukan setelah 72 jam inkubasi. Indeks penghambatan dihitung dengan cara sebagai berikut:
Ø zona bening – Ø koloni
Keterangan:
Ø zona bening = diameter zona bening (cm)
Ø koloni = diameter koloni (cm) Isolat-isolat yang memiliki nilai IP besar terhadap X. oryzae pv. oryzae dipilih untuk uji selanjutnya.
Uji Kompetisi
Uji kompetisi dilakukan dengan cara menumbuhkan masing-masing bakteri uji (X. oryzae pv. oryzae, P. syringae pv.
glycines, dan P. fluorescens) dan isolat Bacillus terpilih dalam satu kultur cair TSB.
Setiap pasang bakteri uji dan isolat Bacillus sp. dibuat satu seri uji kompetisi terdiri dari 4 Erlenmeyer yang diberi nomor II-V. Sebagai kontrol negatif digunakan Erlenmeyer yang diberi nomor I, sedangkan kontrol positif dibuat pada Erlenmeyer bernomor VI. Untuk setiap bakteri uji dibuat satu kontrol negatif. Demikian pula untuk setiap isolat Bacillus sp. dibuat satu kontrol positif.
Sebanyak 100 µl (107 cfu/ml) kultur bakteri uji diinokulasikan ke dalam Erlenmeyer berisi 50 ml media TSB. Pada Erlenmeyer II, III, IV, V masing-masing ditambahkan 100, 200, 400, dan 1000 µl kultur Bacillus sp. umur 48 jam sehingga diperoleh kultur campuran dengan rasio antara masing-masing bakteri uji dan
Bacillus sp. 1:1, 1:2, 1:4, dan 1:10 (v/v).
Kontrol negatif (I) dibuat dengan menginokulasi media yang sama dengan 100 µl bakteri uji, sedangkan untuk kontrol positif (VI) media diinokulasi dengan 100 µl
Bacillus sp.. Semua kultur tersebut diinkubasi sampai 72 jam pada suhu ruang. Pada umur 24, 48, dan 72 jam dilakukan pengambilan sampel sebanyak 0.1 ml untuk dihitung populasi sel Bacillus sp. dan bakteri uji. Penghitungan populasi sel masing-masing bakteri dilakukan dengan metode cawan sebar pada media TSA. Persentase penghambatan dihitung dengan cara sebagai berikut:
% Penghambatan = A–B x 100% A
Keterangan:
A = Populasi sel bakteri uji pada kontrol B = Populasi sel bakteri uji pada perlakuan
Waktu Optimum Produksi Senyawa Antimikrob Isolat Bacillus sp.
Sebanyak satu ose biakan Bacillus sp. diinokulasikan ke dalam 50 ml media TSB lalu diinkubasikan pada suhu ruang sambil dikocok pada kecepatan 94 rpm. Setelah 6 jam, diambil 2 ml kultur untuk diinokulasikan ke dalam 200 ml media TSB yang baru, lalu diinkubasi selama 72 jam. Setiap 12 jam dilakukan pengambilan kultur hingga inkubasi ke 72 jam. Kultur tersebut diambil 6.5 ml untuk pengukuran OD600 sebanyak 5 ml dan sisanya digunakan untuk uji aktivitas antimikrob yang terkandung dalam supernatan. Pemisahan supernatan dan massa sel dilakukan dengan cara
Ø zona koloni
3
sentrifugasi pada kecepatan 12000 rpm selama 10 menit. Sebanyak 30 µl supernatan diteteskan pada kertas cakram (d=6 mm) steril lalu dibiarkan kering udara. Kertas cakram yang telah kering diletakkan pada permukaan cawan TSA double layer yang telah diinokulasi dengan bakteri uji. Kemudian cawan-cawan tersebut diinkubasi pada suhu 30 °C. Setelah 72 jam dilakukan pengukuran diameter zona bening yang terbentuk di sekitar kertas cakram.
HASIL
Seleksi Isolat Bacillus sp. yang Berpotensi Menghambat Pertumbuhan Bakteri Uji
Seleksi untuk mengetahui potensi daya hambat isolat-isolat Bacillus sp. dilakukan dengan cara uji antagonis terhadap bakteri uji yaitu, S. aureus, E. coli,
X. oryzae pv. oryzae, P. syringae pv. glycines, dan P. fluorescens (A dan B).
Hasil seleksi menunjukkan 13 isolat mampu menghambat S. aureus, E.
coli, dan X. oryzae pv. oryzae. E. coli dan S. aureus merupakan bakteri standar untuk
pengujian aktivitas antimikrob. Penggunaan kedua bakteri tersebut bertujuan mengetahui spektrum aktivitas antimikrob Bacillus sp. yang diseleksi. Hasil uji terhadap kedua bakteri tersebut menunjukkan bahwa spektrum aktivitas antimikrob Bacillus
tersebut meliputi bakteri Gram positif (S.
aureus) dan Gram negatif (E. coli). Isolat Bacillus sp. F14 memiliki daya hambat
paling kuat terhadap S. aureus dengan IP 2.50. Sedangkan E. coli dihambat dengan kuat oleh isolat Bacillus sp. G2 dengan IP 5.00 (Tabel 1). Isolat Bacillus sp. F13 menghambat paling kuat terhadap X. oryzae pv. oryzae dengan IP 2.33 (Tabel 2). Dari 13 isolat Bacillus tersebut, 8 isolat mampu menghambat P. syringae pv. glycines (Tabel 2), 8 isolat mampu menghambat P. fluorescens A dan 9 isolat mampu menghambat P. fluorescens B (Tabel 3).
Untuk uji selanjutnya dipilih 3 isolat yang memiliki Indeks Penghambatan (IP) paling tinggi terhadap X. oryzae pv.
oryzae. Ketiga isolat tersebut adalah isolat
A21, F13, dan G3 (Gambar 1). Isolat
Bacillus sp. A21 mampu menghambat X. oryzae pv. oryzae, P. syringae pv. glycines,
dan P. fluorescens A dan B dengan IP berturut-turut 2.00, 2.33, 4.00 dan 1.00. Isolat Bacillus sp. F13 mampu menghambat
X. oryzae pv. oryzae, P. syringae pv. glycines, dan P. fluorescens A dan B dengan
IP berturut-turut 2.33, 0.50, 1.00 dan 1.00. Isolat Bacillus sp. G3 mampu menghambat
X. oryzae pv. oryzae, P. syringae pv. glycines, dan P. fluorescens B dengan IP
berturut-turut 2.00, 0.30, dan 1.00 (Tabel 4).
Tabel 1 Penghambatan pertumbuhan S. aureus dan E. coli oleh isolat Bacillus sp. pada media NA Isolat S. aureus
1 E. coli1
Ø koloni (cm) Ø zona bening (cm) IP ± SE Ø koloni (cm) Ø zona bening (cm) IP ± SE A11 0.50 0.80 0.60 ± 0.26 0.20 0.60 2.00 ± 0.47 A12 0.30 0.60 1.00 ± 0.24 0.30 1.00 2.33 ± 0.59 A13 0.30 0.80 1.67 ± 0.53 0.40 0.80 1.00 ± 0.09 A14 0.40 0.60 0.50 ± 0.18 0.40 0.60 0.50 ± 0.18 A21 0.30 0.80 1.67 ± 0.59 0.40 1.30 2.25 ± 0.71 A22 0.30 0.80 1.67 ± 0.59 0.30 1.00 2.33 ± 0.74 A23 0.40 0.80 1.00 ± 0.35 0.40 0.50 0.25 ± 0.44 F12 0.20 0.40 1.00 ± 0 0.20 0.40 1.00 ± 0.35 F13 0.10 0.20 1.00 ± 0 0.20 0.60 2.00 ± 0.71 F14 0.40 1.40 2.50 ± 0 0.50 0.60 0.20 ± 0.05 G2 0.50 0.80 0.60 ± 0.12 0.20 1.20 5.00 ± 0 G3 0.80 1.00 0.25 ± 0.27 0.20 0.30 0.50 ± 0 G4 0.70 1.00 0.43 ± 0.15 0.30 0.60 1.00 ± 0.35
keterangan: IP = Indeks Penghambatan; SE = standar eror (nilai rataan ± SE, n = 2); 1 = Inkubasi selama 2 hari
4
(a) (b) (c)
Gambar 1 Zona hambat disekitar 3 koloni isolat Bacillus terpilih terhadap bakteri uji (a) X. oryzae pv. oryzae, (b) P. syringae pv. glycines dan (c) P. fluorescens B.
Tabel 2 Penghambatan pertumbuhan X. oryzae pv. oryzae dan P. syringae pv. glycines oleh isolat
Bacillus sp. pada media TSA
Isolat X. oryzae pv. oryzae
2 P. syringae pv. glycines2
Ø koloni (cm) Ø zona bening (cm) IP ± SE Ø koloni (cm) Ø zona bening (cm) IP ± SE A11 0.30 0.70 1.33 ± 0.17 0.25 0.70 1.80 ± 0 A12 0.30 0.50 0.67 ± 0.06 0.20 0.30 0.33 ± 0.01 A13 0.40 0.60 0.50 ± 0.18 0.20 0.60 2.00 ± 0.12 A14 0.40 0.50 0.25 ± 0.44 - - -A21 0.30 0.90 2.00 ± 0.35 0.30 1.00 2.33 ± 0.29 A22 0.20 0.50 1.50 ± 0.49 - - -A23 0.30 0.30 1.00 ± 0.23 - - -F12 0.30 0.60 1.00 ± 0.12 0.30 0.50 0.67 ± 0.24 F13 0.30 1.00 2.33 ± 0.27 0.20 0.30 0.50 ± 0.18 F14 0.20 0.35 0.75 ± 0 0.20 0.50 1.50 ± 0.53 G2 0.30 0.40 0.33 ± 0.94 - - -G3 0.30 0.90 2.00 ± 0.47 0.30 0.40 0.30 ± 0.01 G4 0.20 0.50 1.50 ± 1.41 - -
-keterangan: IP = Indeks Penghambatan; (-) = tidak ada penghambatan; SE = standar eror (nilai rataan ± SE, n = 2);2 = Inkubasi selama 3 hari
Tabel 3 Penghambatan pertumbuhan P. fluorescens A dan B oleh isolat Bacillus sp. pada media TSA
Isolat P. fluorescens A
2 P. fluorescens B2
Ø koloni (cm) Ø zona bening (cm) IP ± SE Ø koloni (cm) Ø zona bening (cm) IP ± SE
A11 - - - 0.40 0.60 0.50 ± 0.18 A12 - - - 0.40 0.70 0.75 ± 0.09 A13 - - - 0.30 0.70 1.33 ± 0.12 A14 0.20 0.40 1.00 ± 0.01 0.30 0.60 1.00 ± 0.18 A21 0.20 1.00 4.00 ± 0 0.30 1.00 1.00 ± 0 A22 - - - -A23 0.70 1.00 0.43 ± 0 - - -F12 0.20 0.40 1.00 ± 0.02 - - -F13 0.20 0.40 1.00 ± 0 0.30 0.60 1.00 ± 0 F14 0.30 0.40 0.33 ± 0.01 0.20 0.30 0.50 ± 0.18 G2 0.80 0.90 0.13 ± 0 0.30 0.80 1.67 ± 0.12 G3 - - - 0.30 0.60 1.00 ± 0.09 G4 0.40 0.60 0.50 ± 0.01 - -
-keterangan: IP = Indeks Penghambatan; (-) = tidak ada penghambatan; SE = standar eror (nilai rataan ± SE, n = 2); 2 = Inkubasi selama 3 hari
G3 G3 G3 A21 A21 A21 F13 F13 F13
5
Tabel 4 Indeks Penghambatan pertumbuhan bakteri uji oleh 3 isolat Bacillus sp. terpilih Isolat S. aureus1 E. coli1 X. oryzae pv. oryzae2 P. syringae pv. glycines2 P. fluorescens B2
A21 1.67 2.25 2 2.33 4.00
F13 1.00 1.00 2.33 0.50 1.00
G3 0.25 0.50 2.00 0.30 1.00
keterangan:1= Inkubasi selama 2 hari;2 = Inkubasi selama 3 hari
Uji Kompetisi
Uji kompetisi isolat Bacillus sp. terpilih A21, F13, dan G3 terhadap tiga bakteri uji (X. oryzae pv. oryzae, P. syringae pv. glycines, dan P. fluorescens B) dalam kultur campuran menunjukkan bahwa ketiga isolat Bacillus sp. tersebut mampu menghambat bakteri uji dengan daya hambat yang berbeda-beda. Hal ini terlihat dari populasi sel bakteri uji pada Erlenmeyer II, III, IV, dan V lebih rendah dibandingkan kontrol negatifnya (bakteri uji tanpa isolat
Bacillus sp.) (Lampiran 1).
Isolat Bacillus sp. A21 mampu menghambat bakteri uji pada setiap rasio inokulum dengan persen penghambatan di atas 85%. Daya hambat isolat Bacillus sp. A21 terhadap X. oryzae pv. oryzae paling kuat saat rasio inokulum 1:2. Dalam waktu 24 jam populasi sel X. oryzae pv. oryzae berkurang 97.17% (Gambar 2b) dan pada akhir pengamatan (72 jam) populasi sel X.
oryzae pv. oryzae sudah tidak terdeteksi
(Gambar 3a). Hasil uji kompetisi Bacillus sp. A21 terhadap P. syringae pv. glycines menunjukkan perbedaan rasio inokulum tidak berbeda nyata terhadap aktivitas penghambatan. Persen penghambatannya mencapai 100% untuk setiap rasio inokulum sampai akhir pengamatan (Gambar 3b). Daya hambat isolat Bacillus sp. A21 terhadap P. fluorescens B paling kuat saat rasio inokulum 1:1. Dalam waktu 24 jam populasi sel P. fluorescens B berkurang 96.39% (Gambar 2a) dan pada akhir pengamatan (72 jam) populasi sel P. fluorescens B berkurang sebesar 97.73%
(Gambar 3c). Diantara ketiga bakteri uji tersebut, isolat Bacillus sp. A21 mampu menghambat P. syringae pv. glycines paling kuat dibandingkan dengan bakteri uji lainnya pada setiap rasio inokulum.
Isolat Bacillus sp. F13 mampu menghambat bakteri uji pada setiap rasio inokulum dengan persen penghambatan di atas 85%. Daya hambat isolat Bacillus sp. F13 terhadap X. oryzae pv. oryzae paling
kuat saat rasio inokulum 1:4. Dalam waktu 24 jam populasi sel X. oryzae pv. oryzae berkurang 99.62% (Gambar 4c). Namun, saat inkubasi 48 dan 72 jam populasi sel X.
oryzae pv. oryzae mengalami peningkatan
untuk setiap rasio inokulum (Gambar 5a). Hasil uji kompetisi Bacillus sp. F13 terhadap
P. syringae pv. glycines menunjukkan perbedaan rasio inokulum tidak berbeda nyata terhadap aktivitas penghambatan (Gambar 5b). Daya hambat isolat Bacillus sp. F13 terhadap P. fluorescens B paling kuat saat rasio inokulum 1:10 dengan persen penghambatan mencapai 100% (Gambar 4d). Dalam waktu 24 jam populasi sel P.
flourescens B sudah tidak terdeteksi. Namun,
ketika inkubasi ke 48 dan 72 jam, populasi sel P. fluorescens B meningkat untuk setiap rasio inokulum (Gambar 5c). Diantara ketiga bakteri uji tersebut, isolat Bacillus sp. F13 mampu menghambat P. syringae pv.
glycines paling kuat dibandingkan dengan
bakteri uji lainnya pada setiap rasio inokulum.
Isolat Bacillus sp. G3 dapat menghambat bakteri uji pada setiap rasio inokulum dengan persen penghambatan di atas 85%. Daya hambat isolat Bacillus sp. G3 terhadap X. oryzae pv. oryzae paling kuat saat rasio inokulum 1:1 (Gambar 6a). Pada setiap inkubasi populasi sel X. oryzae pv. oryzae berkurang 98.30% (Gambar 7a). Hasil uji kompetisi isolat Bacillus sp. G3 terhadap P. syringae pv. glycines
menunjukkan perbedaan rasio inokulum tidak berbeda nyata terhadap aktivitas penghambatan (Gambar 7b). Daya hambat isolat Bacillus sp. G3 terhadap P. fluorescens B paling kuat saat rasio inokulum 1:2. Persen penghambatannya sebesar 96.99% pada setiap waktu inkubasi (Gambar 6b). Diantara ketiga bakteri uji tersebut, isolat Bacillus sp. G3 mampu menghambat P. syringae pv. glycines paling kuat dibandingkan dengan bakteri uji lainnya pada setiap rasio inokulum.
6
80 85 90 95 100 24 48 72Waktu Inkubasi (jam)
P e ng ha m ba ta n (% )
A21+Xanthomonas oryzae pv oryzae A21+Pseudomonas syringae pv glycines A21+Pseudomonas fluorescens B (a) 80 85 90 95 100 24 48 72
Waktu Inkubasi (jam)
Penghamba
tan
(%
)
A21+Xanthomonas oryzae pv oryzae A21+Pseudomonas syringae pv glycines A21+Pseudomonas flourescens B (b) 80 85 90 95 100 24 48 72
Waktu Inkubasi (jam)
Pe ng ha mb a ta n (% )
A21+Xanthomonas oryzae pv oryzae A21+Pseudomonas syringae pv glycines A21+Pseudomonas fluorescens B (c) 80 85 90 95 100 24 48 72
Waktu Inkubasi (jam)
Pe ng ha mba ta n (% )
A21+Xanthomonas oryzae pv oryzae A21+Pseudomonas syringae pv glycines A21+Pseudomonas fluorescens B
(d)
Gambar 2 Persentase penghambatan pertumbuhan bakteri uji oleh isolat Bacillus sp. A21 pada uji kompetisi dengan rasio inokulum (a) 1:1, (b) 1:2, (c) 1:4, dan (d) 1:10. (data menunjukkan nilai rataan ± SE, n = 2). 0 2 4 6 8 0 12 24 36 48 60 72
Waktu Inkubasi (jam)
P o pul a si se l (x10 9 cf u /ml) 1:1 1:2 1:4 1:10 (a) 0 2 4 6 8 0 12 24 36 48 60 72
Waktu Inkubasi (jam)
Pop ul a si sel (x10 9 cf u /m l) 1:1 1:2 1:4 1:10 (b) 0 2 4 6 8 0 12 24 36 48 60 72
Waktu Inkubasi (jam)
P op u las i sel (x10 9 cf u /ml) 1:1 1:2 1:4 1:10 (c)
Gambar 3 Dinamika populasi (a) X. oryzae pv. oryzae, (b) P. syringae pv.
glycines, dan (c) P. fluorescens B
pada uji kompetisi dengan isolat
Bacillus sp. A21. (data menunjukkan nilai rataan ± SE, n = 2).
7
80 85 90 95 100 24 48 72Waktu Inkubasi (jam)
Pe ng a ha mb a ta n (%)
F13+Xanthomonas oryzae pv oryzae F13+Pseudomonas syringae pv glycines F13+Pseudomonas fluorescens B (a) 80 85 90 95 100 24 48 72
Waktu Inkubasi (jam)
Penghambatan
(%
)
F13+Xanthomonas oryzae pv oryzae F13+Pseudomonas syringae pv glycines F13+Pseudomonas fluorescens B (b) 80 85 90 95 100 24 48 72
Waktu Inkubas i (jam)
Pe ng ha mba ta n (% )
F13+Xanthomonas oryzae pv oryzae F13+Pseudomonas syringae pv glycines F13 +Pseudomonas fluorescens B (c) 80 85 90 95 100 24 48 72
Waktu Inkubasi (jam)
Pe ng h a m ba ta n ( % )
F13+Xanthomonas oryzae pv oryzae F13+Pseudomonas syringae pv glycines F13+Pseudomonas fluorescens B
(d)
Gambar 4 Persentase penghambatan pertumbuhan bakteri uji oleh isolat Bacillus sp. F13 pada uji kompetisi dengan rasio inokulum (a) 1:1, (b) 1:2, (c) 1:4, dan (d) 1:10. (data menunjukkan nilai rataan ± SE, n = 2). 0 2 4 6 8 0 12 24 36 48 60 72
Waktu Inkubasi (jam)
Pop ulasi se l (x10 9 cf u /ml) 1:1 1:2 1:4 1:10 (a) 0 2 4 6 8 0 12 24 36 48 60 72
Waktu Inkubasi (jam)
Po p u la si sel (x10 9 cf u /ml) 1:1 1:2 1:4 1:10 (b) 0 2 4 6 8 0 12 24 36 48 60 72
Waktu Inkubasi (jam)
Pop u lasi sel (x10 9 cf u /m l) 1:1 1:2 1:4 1:10 (c)
Gambar 5 Dinamika populasi (a) X. oryzae pv. oryzae, (b) P. syringae pv.
glycines, dan (c) P. fluorescens B
pada uji kompetisi dengan isolat
Bacillus sp. F13. (data menunjukkan nilai rataan ± SE, n = 2).
8
80 85 90 95 100 24 48 72Waktu Inkubasi (jam)
P en g ha m ba ta n (%)
G3+Xanthomonas oryzae pv oryzae G3+Pseudomonas syringae pv glycines G3+Pseudomonas fluorescens B (a) 80 85 90 95 100 24 48 72
Waktu Inkubasi (jam)
P enghambat a n (% )
G3+Xanthomonas oryzae pv oryzae G3+Pseudomonas syringae pv glycines G3+Pseudomonas fluorescens B (b) 80 85 90 95 100 24 48 72
Waktu Inkubas i (jam)
Pe ng ha mba ta n (% )
G3+Xanthomonas oryzae pv oryzae G3+Pseudomonas syringae pv glycines G3+Pseudomonas fluorescens B (c) 80 85 90 95 100 24 48 72
Waktu Inkubas i (jam)
Peng
h
a
mba
tan (% )
G3+Xanthomonas oryzae pv oryzae G3+Pseudomonas syringae pv glycines G3+Pseudomonas fluorescens B
(d)
Gambar 6 Persentase penghambatan pertumbuhan bakteri uji oleh isolat Bacillus sp. G3 pada uji kompetisi dengan rasio inokulum (a) 1:1, (b) 1:2, (c) 1:4, dan (d) 1:10. (data menunjukkan nilai rataan ± SE, n = 2). 0 2 4 6 8 0 12 24 36 48 60 72
Waktu Inkubasi (jam)
Po p u lasi sel (x10 9 cf u/m l) 1:1 1:2 1:4 1:10 (a) 0 2 4 6 8 0 12 24 36 48 60 72
Waktu Inkubasi (jam)
Popu la si sel (x10 9 c fu/ m l) 1:1 1:2 1:4 1:10 (b) 0 2 4 6 8 0 12 24 36 48 60 72
Waktu Inkubasi (jam)
Po pu la si sel (x 10 9 cf u /ml) 1:1 1:2 1:4 1:10 (c)
Gambar 7 Dinamika populasi (a) X. oryzae pv. oryzae, (b) P. syringae pv.
glycines, dan (c) P. fluorescens B
pada uji kompetisi dengan isolat
Bacillus sp. G3. (data menunjukkan nilai rataan ± SE, n = 2).
9
Waktu Optimum Produksi Senyawa antimikrob Isolat Bacillus sp.
Optimasi waktu produksi antimikrob dilakukan terhadap 3 isolat
Bacillus sp. terpilih yaitu, A21, F13, dan G3.
Hasil uji aktivitas antimikob supernatan kultur menunjukkan hanya supernatan
Bacillus sp. F13 yang membentuk zona
bening pada uji tersebut.
Plot nilai OD600 dan diameter zona bening terhadap waktu inkubasi, menghasilkan kurva produksi senyawa antimikrob selama pertumbuhan Bacillus sp. F13 (Gambar 8).
Pengujian aktivitas antimikrob supernatan Bacillus sp. F13 terhadap X.
oryzae pv. oryzae menunjukkan bahwa
diameter zona bening terbesar (d=0.38 cm) dihasilkan dari kultur yang diambil pada umur 12 jam yaitu, ketika kultur berada pada akhir fase logaritmik. Zona bening yang paling luas menunjukkan waktu produksi senyawa antimikrob yang optimum. Diameter zona bening semakin mengecil ketika kultur berada pada awal fase stasioner (12-48 jam inkubasi). Aktivitas penghambatan sama sekali tidak terdeteksi (d=0 cm) pada pengamatan berikutnya (Gambar 8a).
Pengujian aktivitas antimikrob supernatan Bacillus sp. F13 terhadap P.
syringae pv. glycines menunjukkan bahwa
diameter zona bening terbesar (d= 0.38 cm) dihasilkan dari kultur yang diambil pada umur 12 jam yaitu, ketika kultur berada pada akhir fase logaritmik. Aktivitas penghambatan sama sekali tidak terdeteksi (d=0 cm) pada pengamatan berikutnya (Gambar 8b).
Pengujian aktivitas antimikrob supernatan Bacillus sp. F13 terhadap P.
fluorescens B menunjukkan bahwa diameter
zona bening terbesar (d=0.06 cm) dihasilkan dari kultur yang diambil pada umur 12 jam yaitu, ketika kultur berada pada akhir fase logaritmik. Diameter zona bening tidak mengalami perubahan ketika kultur berada pada awal fase stasioner (12-48 jam inkubasi) d=0.6 cm. Aktivitas penghambatan sama sekali tidak terdeteksi (d=0 cm) pada pengamatan berikutnya (Gambar 8c).
0 0.5 1 1.5 2 0 12 24 36 48 60 72 Waktu Inkubas i (jam)
Lo g p o p u la si se l (c fu /ml ) 0 0.25 0.5 0.75 1 d iam et e r zon a ha mba t (cm )
Log populasi sel diameter zona hambat
(a) 0 0.5 1 1.5 2 0 12 24 36 48 60 72
Waktu Ink ubasi (jam)
L og po p ula si sel (cf u /ml) 0 0.25 0.5 0.75 1 dia meter zo na ha mba t (cm )
Log populasi sel diameter zona hambat
(b) 0 0.5 1 1.5 2 0 12 24 36 48 60 72
Waktu Inkubasi (jam)
Lo g pop ulasi se l (cf u /ml) 0 0.25 0.5 0.75 1 dia me te r zo na ha m ba t (c m )
Log populasi sel diameter zona hambat
(c)
Gambar 8 Aktivitas antimikrob supernatan kultur Bacillus sp. F13 selama inkubasi terhadap (a) X. oryzae pv. oryzae, (b) P. syringae pv.
glycines, (c) P. fluorescens B.
(data menunjukkan nilai rataan ± SE, n = 2).
PEMBAHASAN
Seleksi untuk mengetahui aktivitas antimikrob isolat-isolat Bacillus sp. dilakukan dengan uji antagonis terhadap 6 bakteri uji yaitu, E. coli, S. aureus, X. oryzae
10
pv. oryzae, P. syringae pv. glycines, P.
fluorescens A dan P. fluorescens B. Aktivitas penghambatan antimikrob ketiga
Bacillus sp. tersebut memiliki spektrum
yang luas, karena mampu menghambat bakteri Gram positif dan Gram negatif. Aktivitas antimikrob dalam uji antagonis ditunjukkan oleh adanya pembentukan zona bening disekitar koloni Bacillus sp. Pembentukan zona bening untuk E. coli dan
S. aureus membutuhkan waktu inkubasi
selama 2 hari, sedangkan untuk X. oryzae pv.
oryzae, P. syringae pv. glycines, dan P. fluorescens B membutuhkan waktu inkubasi
3-4 hari.
Perbedaan waktu pembentukan zona bening dipengaruhi oleh kecepatan pertumbuhan bakteri uji. Koloni E. coli dan
S. aureus dapat teramati dalam waktu 24
jam sedangkan koloni X. oryzae pv. oryzae,
P. syringae pv. glycines, P. fluorescens A
dan P. fluorescens B teramati setelah
inkubasi 3-4 hari. Hal ini dikarenakan, waktu generasi E. coli dan S. aureus lebih pendek daripada X. oryzae pv. oryzae, P.
syringae pv. glycines, P. fluorescens A dan
B. Waktu generasi adalah selang waktu yang dibutuhkan bagi sel untuk membelah diri atau untuk meningkatkan populasinya menjadi dua kali lipat (Pelczar & Chan 2006). Waktu generasi untuk E. coli dan S.
aureus adalah 15-20 menit, sedangkan waktu generasi X. oryzae pv. oryzae, P.
syringae pv. glycines, dan P. fluorescens
berturut-turut adalah 4-5 jam, 2.6 jam, dan 2.8 jam (Pelczar & Chan 2006; Yamasaki et
al 2006; West 2005; Klaus & Peter 1997).
Metode double layer merupakan metode semi kuantitatif, karena data yang dihasilkan belum dapat dijadikan sebagai ukuran yang tepat. Oleh karena itu, aktivitas antimikrob dari ketiga isolat Bacillus sp. terpilih diamati lebih lanjut dengan uji kompetisi dalam kultur cair. Pada uji kompetisi, aktivitas antimikrob dari isolat terpilih diukur berdasarkan daya hambatnya terhadap pertumbuhan populasi sel bakteri uji.
Daya hambat terhadap pertumbuhan populasi bakteri uji dinyatakan dalam persen penghambatan. Penghambatan pertumbuhan bakteri uji diantaranya disebabkan oleh adanya senyawa antimikrob yang diekskresikan oleh Bacillus ke dalam kultur. Salah satu contoh antimikrob yang dihasilkan oleh genus Bacillus adalah bakteriosin megacin yang diproduksi oleh B.
megaterium dan antibiotik basitrasin yang
diproduksi oleh B. subtilis (Tagg et al 1976; Williams et al 1996). Menurut Verschuere et
al. (2000) penghambatan pertumbuhan tidak
selalu berkaitan dengan produksi senyawa antimikrob seperti antibiotik, tetapi juga karena adanya senyawa metabolit primer atau adanya perubahan pH.
Uji kompetisi dilakukan pada beberapa rasio inokulum Bacillus sp. dan bakteri uji. Dari hasil pengamatan terhadap populasi sel bakteri uji, ternyata persen penghambatan ketiga isolat Bacillus tersebut terhadap pertumbuhan bakteri uji mencapai lebih dari 85% untuk semua rasio inokulum yang dicobakan.
Hasil uji kompetisi menunjukkan bahwa isolat Bacillus sp. F13, G3, dan A21 mampu menghambat X. oryzae pv. oryzae, dengan kuat berturut-turut pada saat inkubasi 24 jam (99.62%), 24 jam (98.3%), dan 72 jam (100%). Isolat Bacillus sp. F13, G3, dan A21 mampu menghambat P.
syringae pv. glycines dengan kuat saat
inkubasi ke 24 jam (100%). Isolat Bacillus sp. F13, G3, dan A21 mampu menghambat
P. fluorescens B dengan kuat berturut-turut
saat inkubasi 24 jam (100%), 24 jam (96.99%), dan 48 jam (97.73%). Hal ini menunjukkan bahwa isolat Bacillus sp. F13 memiliki efisiensi dan efektifitas dalam pengendalian patogen tanaman. Ini terkait dengan mekanisme penyebaran penyakit pada tanaman yang cepat sehingga membutuhkan pengendalian yang efektif dan efisien dalam waktu dan hasil produksi.
Ketiga isolat Bacillus sp. terpilih memiliki kemampuan penghambatan yang berbeda-beda terhadap ketiga bakteri uji. Perbedaan penghambatan terlihat dari lamanya waktu inkubasi yang dibutuhkan untuk menghambat bakteri uji.
Semakin lama waktu inkubasi, daya hambat isolat Bacillus sp. A21 terhadap bakteri uji semakin meningkat. Hal ini terlihat setelah akhir pengamatan selama 72 jam, populasi sel dari bakteri uji mengalami penurunan. Populasi sel P. syringae pv.
glycines yang dikompetisikan dengan Bacillus sp. A21 sangat rendah selama masa
inkubasi pada berbagai rasio inokulum. Sementara, X. oryzae pv. oryzae dan P.
fluorescens B populasi selnya mengalami
penurunan sejalan dengan lamanya waktu inkubasi.
Semakin lama waktu inkubasi daya hambat isolat Bacillus sp. F13 dan G3 terhadap bakteri uji semakin menurun. Hal ini terlihat setelah akhir pengamatan selama
11
72 jam, populasi sel dari bakteri uji mengalami peningkatan. Populasi sel P.
syringae pv. glycines yang dikompetisikan
dengan Bacillus sp. F13 dan G3 sangat rendah selama masa inkubasi pada berbagai rasio inokulum. Sementara pada X. oryzae pv. oryzae dan P. fluoresens B populasi sel mengalami peningkatan sejalan dengan lamanya waktu inkubasi.
Ketiga isolat ini tidak dapat diaplikasikan untuk formulasi campuran agen hayati dengan P. fluorescens B. Hal ini dikarenakan, ketiga isolat Bacillus sp. ini dapat menekan pertumbuhan dari P. fluorescens B. Menurut Arwiyanto et al.
(2007), pencampuran mikroba agen pengendali hayati harus memiliki kompatibilitas antar isolat, ini dimaksudkan untuk mendapatkan kombinasi antar isolat yang tidak saling menghambat satu dengan yang lain.
Penghambatan ketiga isolat
Bacillus sp. terhadap bakteri uji menunjukkan bahwa ketiga isolat tersebut dapat diaplikasikan di lingkungan sebagai agen pengendali hayati. Agen pengendali hayati Bacillus sp. diketahui mampu mengendalikan beberapa bakteri patogen tular tanah dan mampu memacu pertumbuhan tanaman serta menghasilkan antimikrob yang dapat menekan pertumbuhan berbagai patogen tanaman (Modjo 1991).
Uji aktivitas antimikrob supernatan yang dilakukan menunjukkan hanya supernatan isolat Bacillus sp. F13 yang menghasilkan zona bening. Sedangkan supernatan 2 isolat lainnya (A21 dan G3) tidak membentuk zona bening. Hal ini bukan berarti kedua isolat tersebut tidak mengekskresikan senyawa antimikrob, karena pada uji antagonis kedua isolat tersebut mampu membentuk zona bening.
Bakteriosin dapat dibedakan dari antibiotik, diantaranya dari proses produksinya. Bakteriosin dihasilkan pada saat pertumbuhan bakteri mencapai fase logaritmik, sedangkan antibiotik diproduksi pada saat akhir fase stasioner (Jack et al. 1995). Plot kurva pertumbuhan terhadap aktivitas antimikrob supernatan isolat
Bacillus sp. F13 menunjukkan senyawa
antikmikrob diproduksi optimum pada akhir fase logaritmik. Pada B. thuringiensis
produksi bakteriosin juga terjadi pada fase pertumbuhan logaritmik (Torkar & Matijasic 2003). Produksi bakteriosin butyricin oleh
Clostridium acetobutyricum terjadi pada
akhir fase logaritmik (Tagg et al. 1976), sedangkan pada C. perfringen produksi bakteriosin perfringocin terjadi pada awal fase stasioner (Clarke et al. 1975).
Berdasarkan informasi tersebut diduga senyawa antimikrob yang dihasilkan olah isolat Bacillus sp. F13 adalah bakteriosin.
Mekanisme kerja bakteriosin dalam menghambat pertumbuhan bakteri diantaranya adalah menghambat pembentukan dinding sel target, menghambat pembentukan asam nukleat atau protein, serta membentuk pori-pori pada membran sel target sehingga permeabilitas membran sel terganggu (Williams et al. 1996).
Efektivitas bakteriosin tergantung pada konsentrasi bakteriosin, kemampuan ionisasi, suhu, pH, dan fase pertumbuhan sel indikator (Hurst 1981). Uji antagonis menunjukkan luas zona bening disekitar koloni Bacillus sp. A21, F13, dan G3 bertambah diameternya sampai pada pengamatan 48 jam. Namun, setelah inkubasi 72 jam diameter zona bening menjadi lebih kecil. Hal ini diduga karena inkubasi yang dilakukan lebih dari waktu optimum produksi senyawa antimikrob dalam media. Dajani dan Wannamaker (1969) melaporkan inkubasi terlalu lama menyebabkan aktivitas bakteriosin menurun, hal ini kemungkinan disebabkan diproduksinya inaktivator dan adanya reabsorbsi terhadap senyawa antimikrob yang diproduksi sel. Selain itu, menurut Jo
et al. (1996) jika waktu inkubasi
diperpanjang maka aktivitas bakteriosin akan menurun karena terbebasnya protease dari sel autolisis. Bakteriosin merupakan molekul protein sehingga mudah terdegradasi oleh protease.
Bakteriosin diproduksi oleh bakteri Gram positif maupun bakteri Gram negatif (Jack et al. 1995). Sebagian besar
bakteriosin dihasilkan oleh bakteri Gram positif terutama paling banyak diteliti ialah dari genus Bacillus. Beberapa jenis bakteriosin yang dihasilkan oleh Bacillus diantaranya ialah coagulin yang dihasilkan oleh B. coagulans I4 (Hyronimus et al. 1998). Bakteriosin Bacillus yang telah
diaplikasikan dalam bidang industri ialah bacillocin 490 yang dihasilkan oleh B.
liceniformis (Martirani et al. 2002). Pada
mulanya aktivitas bakteriosin dinyatakan hanya menghambat spesies spesifik tetapi beberapa bakteriosin telah dibuktikan memiliki spektrum aktivitas penghambatan
12
yang luas sehingga dapat diaplikasikan secara luas di industri (Jack et al. 1995).
SIMPULAN
Sebanyak 31 isolat Bacillus sp. diseleksi daya hambatnya terhadap S. aureus, E. coli, X. oryzae pv. oryzae, P. syringae pv. glycines, dan 2 isolat
P. fluorescens dengan metode double layer.
Tigabelas isolat diantaranya menunjukkan aktivitas penghambatan terhadap S. aureus,
E. coli, dan X. oryzae pv. oryzae, 8 isolat
mampu menghambat P. fluorescens A, 9 isolat mampu menghambat P. fluorescens B, dan 8 isolat mampu menghambat P. syringae pv. glycines. Terpilih 3 isolat Bacillus sp. yang memiliki Indeks Penghambatan (IP) paling tinggi terhadap X.
oryzae pv. oryzae. Ketiga isolat tersebut
adalah A21, F13, dan G3.
Isolat Bacillus sp. F13 dan G3 lebih cepat dan efektif menekan pertumbuhan X.
oryzae pv. oryzae dan P. syringae pv. glycines dibandingkan Bacillus sp. A21.
Isolat Bacillus sp. F13, G3, dan A21 mampu menekan pertumbuhan P. fluorescens.
Sehingga, ketiga isolat Bacillus tersebut tidak dapat dibuat dalam bentuk formulasi campuran dengan P. flourescens.
Aktivitas antimikrob Bacillus sp. F13 menunjukkan bahwa zat antimikrob diproduksi pada akhir fase logaritmik pertumbuhan.
SARAN
Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk melakukan pemurnian dan karakterisasi senyawa antimikrob isolat
Bacillus sp. A21, F13, dan G3, sehingga
dapat ditentukan identitas senyawanya. Selain itu, perlu dilakukan uji antagonis antar ketiga Bacillus terpilih, serta pengkajian aplikasinya sebagai agen biokontrol dalam skala rumah kaca dan lapangan.
DAFTAR PUSTAKA
Asman A. 1996. Penyakit layu pada tanaman nilam dan cara pengendaliannya. Di dalam:
Integrated Control on Main Disease of Industrial Crops. Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan; Bogor, 13 14 Mar 1996.
Bogor: Research Institute for Spice
and Medicinal Crops, Bogor. hlm. 284 290.
Arwiyanto T, Maryudani YMS, Azizah NN. 2007. Sifat-sifat fenotik
Pseudomonas fluorescens, agensia
pengendali hayati penyakit lincat pada Tembakau Temanggung. J.
Biodiversitas 8(2):147-151.
Clarke DJ, Robson RM, and Morris JG. 1975. Purification of two
Clostridium bacteriocins by
procedures appropriate to hydrophobic proteins. J. Antimicrob Agent Chemother
7(2):256-264.
Dajani AS, Wannamaker LW. 1969. Demonstration of bactericidal substance against beta-hemolytic streptococci in supernatant fluids of staphylococcal cultures. J Bacterial 97(5):985-991.
Dirmawati SR. 2005. Penurunan intensitas penyakit pustul bakteri kedelai melalui strategi cara tanam tumpangsari dan penggunaan agensia hayati. J. AGRIJATI 1(1):7-10.
Hurst A. 1981. Nissin advances. J. Appl
Microbiol 27(3):85-123.
Hyronimus B, Marrec CL, Urdaci MC. 1998. Coagulin, a bacteriocin-like inhibitory substance produce by
Bacillus coagullan I4.. J. Appl Microbiol 85(4):42-50.
Irina VP, Philippe B, Bernard V, Bernard F. 2001. In vitro anti-Heliobacter
pylori activity of the probiotic
strain Bacillus subtilis is due to secreation of antibiotics. J. Antimicrobe Agent Chemother
45(11):3156-3161.
Jack RW, Tagg JR, Ray B. 1995. Bacteriosin of Gram-positive bacteria. Microb Rev. 59(2):171-200.
Jo YB, Kyung MB, Sung-Koo, Hong-ki J. 1996. Evaluation at optimum conditions for bacteriocin production from Lactobacillus sp. JB-42 isolated from kimichi. J
Microbiol Biotechnol 6(7): 63-67.
Klaus, Peter R. 1997. Pseudomonas syringae pathovars and related pathogens. Philadelphia: Lipponicott Williams & Wilkins. Lisboa MP, Bonatto D, Bizani D, Henriques
JAP, Brandelli A. 2006. Characterization of a
bacteriocin-13
like substance produced by Bacillus
amyloliquefaciens isolated from the
Brazillian atlantic forest. Int Micobiol 9(2):111-118.
Martirani L, Varcamonti M, Naclero G, Felice M de. 2002. Purification and partial characterization of bacillocin 490, a novel bacteriocin produced by a thermophilic strain of Bacillus licheniformis. Microbiol
Cell Factories 1(1):1-5.
Modjo HS. 1991. Usaha menjadikan pengendalian hayati terhadap patogen tumbuhan sebagai pengendalian hama terpadu. J Litbang Pertanian 26(1):9-14.
Pelczar MJ, Chan ECS. Dasar-dasar Mikrobiologi. Hadioetomo RS, Imas T, Tjitrosomo SS, Angka SL, penerjemah. Jakarta: UI Pr. Terjemahan dari: Elements of Microbiology.
Sopyan AS, Findy K. 2007. Bacillus sp sebagai penghasil senyawa antimikrob dari tanah hutan Wana Wisata Cangkuang [studi lapangan]. Bogor: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahun Alam, Institut Pertanian Bogor.
Suparyono, Sudir, Suprihanto. 2003. Komposisi patotipe patogen hawar daun bakteri pada tanaman Padi stadium tumbuh berbeda. Ilmu Pertanian 22(1):45-50.
Supriadi. 2006. Analisis resiko agen hayati untuk pengendalian patogen pada tanaman. J. Litbang Pertanian
25(3):75-79.
Tagg JR, Dajani AS, Wannamaker LW. 1976. Bacteriocins of Gram-positive bacteria. Microbe Rev.
40(3):722-756.
Torkar KG, Matijasic BB. 2003. Partial characterization of bacteriocins produced by Bacillus cereus isolate from milk and milk products. J.
Food Technol 41(2):121-129.
Verschuere L, Geert R, Patrick S, Willy V. 2000. Probiotic bacteria as biological control agents in aquaculture [ulas balik]. J Microbiol and Mol Biol
64(4):665-671.
West TP. 2005. Effect of carbon source on pyrimidine formation in
Pseudomonas fluorescens ATCC
13525. J. Microbiol 160(4):337-342.
Williams RAD, Lambert PA, Singleton P. 1996. Antimicrobial Drug Action. UK: Scientific Publisher Ltd. Yamasaki Y, Murata N, Suwa T. 2006.
Studies on the culture of
Xanthomonas oryzae. J. Bacteriol
15
Lampiran 1 Aktivitas penghambatan isolat Bacillus sp. terhadap populasi sel bakteri uji dalam uji kompetisi
Keterangan: * data diperoleh dari 2 pengulangan; (-) = populasi sel tidak terdeteksi Waktu inkubasi (jam) Isolat Bacillus sp. Rasio inokulum
Rataan populasi sel bakteri uji (x109 cfu/ml)*
P. fluorescens B P.syringae pv.
glycines X.oryzae pv. oryzae
24 F13 1:1 1 - 3.1 G3 1:1 2 - 0.9 A21 1:1 1 0.2 6.9 24 F13 1:2 4 - 2 G3 1:2 1 0.1 1.1 A21 1:2 3 0.1 1.5 24 F13 1:4 1.8 - 0.2 G3 1:4 3.5 - 1.2 A21 1:4 3.4 - 5.4 24 F13 1:10 1.7 0.1 1 G3 1:10 2.9 0.1 2 A21 1:10 2.8 0.3 5.5 48 F13 1:1 1 - 3.5 G3 1:1 2.5 - 0.9 A21 1:1 0.9 0.2 6.9 48 F13 1:2 4 0 4 G3 1:2 1 0.1 1.2 A21 1:2 2.5 0.1 1.5 48 F13 1:4 2.7 - 0.2 G3 1:4 3.5 - 1.2 A21 1:4 3 - 4.4 48 F13 1:10 0.5 0.1 1 G3 1:10 3.3 0.1 2 A21 1:10 2.8 0.3 4.1 72 F13 1:1 1.1 - 4.5 G3 1:1 3.9 - 0.9 A21 1:1 0.9 0.2 -72 F13 1:2 4.7 - 6.9 G3 1:2 1 0.1 1.4 A21 1:2 2.5 0.1 -72 F13 1:4 4.7 - 6.6 G3 1:4 3.5 - 1.4 A21 1:4 3 - -72 F13 1:10 0.8 0.1 1 G3 1:10 5.1 0.1 4.1 A21 1:10 3.1 0.3
-16
Lampiran 2 Persentase penghambatan isolat Bacillus sp. terhadap bakteri uji Waktu inkubasi (jam) Isolat Bacillus sp. Rasio inokulum Rataan Penghambatan (%)*
P. fluorescens B P. syringae pv. glycines X. oryzae pv. oryzae
24 F13 1:1 96.99 100 94.15 G3 1:1 93.98 100 98.3 A21 1:1 96.39 98.39 86.98 24 F13 1:2 87.95 100 96.23 G3 1:2 96.99 99.19 97.92 A21 1:2 90.96 99.19 97.17 24 F13 1:4 94.58 100 99.62 G3 1:4 89.46 100 97.73 A21 1:4 89.76 100 89.81 24 F13 1:10 100 99.7 98.11 G3 1:10 91.27 99.19 96.23 A21 1:10 91.57 97.58 89.62 48 F13 1:1 96.99 100 93.4 G3 1:1 92.25 100 98.3 A21 1:1 97.73 98.39 86.98 48 F13 1:2 87.95 100 92.45 G3 1:2 96.99 99.19 97.73 A21 1:2 92.47 99.19 97.17 48 F13 1:4 91.87 100 99.62 G3 1:4 89.46 100 97.73 A21 1:4 90.96 100 91.69 48 F13 1:10 98.49 99.7 98.11 G3 1:10 90.06 99.19 97.73 A21 1:10 91.57 97.58 92.26 72 F13 1:1 96.69 100 91.51 G3 1:1 88.25 100 98.3 A21 1:1 97.73 98.39 100 72 F13 1:2 85.84 100 88.68 G3 1:2 96.99 99.19 97.36 A21 1:2 92.47 99.19 100 72 F13 1:4 85.84 100 98.75 G3 1:4 86.46 100 97.36 A21 1:4 90.96 100 100 72 F13 1:10 97.59 99.7 98.11 G3 1:10 84.64 99.19 92.26 A21 1:10 90.66 97.58 100
17
Lampiran 3 Populasi sel isolat Bacillus sp. dan bakteri uji dalam kontrol positif dan negatif untuk uji kompetisi
Waktu inkubasi
(jam)
Rataan populasi sel (x1010cfu/ml)*
Bacillus sp. A21 Bacillus sp. F13 Bacillus sp. G3 P.fluorescens B P.syringae pv. glycines X.oryzae pv. oryzae 24 1.44 2.36 0.8 3.32 1.24 5.3 48 1.44 2.36 1.02 3.32 1.24 5.3 72 1.72 2.36 1.02 3.32 1.24 5.3
18
Lampiran 4 Aktivitas antimikrob supernatan kultur isolat Bacillus sp. F13 Waktu
inkubasi (jam)
Log jumlah populasi
X. oryzae pv. oryzae P. fluorescens B P. syringae pv. glycines
Rataan diameter zona bening (cm)* SE Rataan diameter zona bening (cm)* SE Rataan diameter zona bening (cm)* SE 0 0 - - - -12 1.09 0.38 0.13 0.06 0.04 0.38 0 24 1.09 0.25 0.08 0.06 0.02 - -36 1.17 0.13 0.04 0.06 0.02 - -48 1.18 - - - -60 1.20 - - - -72 1.19 - - -