• Tidak ada hasil yang ditemukan

VIABILITAS DAN VIGOR BIJI MERANTI TEMBAGA (Shorea leprosula Miq.) DENGAN MEDIA SIMPAN SERBUK GERGAJI PADA BERBAGAI KADAR AIR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "VIABILITAS DAN VIGOR BIJI MERANTI TEMBAGA (Shorea leprosula Miq.) DENGAN MEDIA SIMPAN SERBUK GERGAJI PADA BERBAGAI KADAR AIR"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

VIABILITAS DAN VIGOR BIJI MERANTI TEMBAGA (Shorea leprosula Miq.) DENGAN MEDIA SIMPAN SERBUK GERGAJI PADA BERBAGAI

KADAR AIR

Nita Anggraini1, Dyah Iriani2, Siti Fatonah2

1

Mahasiswa Program S1 Biologi

2

Dosen Bidang Botani Jurusan Biologi

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Riau Kampus Bina Widya Pekanbaru, 28293, Indonesia

[email protected] ABSTRACT

Shorea leprosula Miq. from Kalimantan is an important forest commodity that produce resin and based on the International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) is endangered species. Further development of this plant is not easy because of its irreguler fruiting season every year and recalcitrant type seeds. Recalsitrant seeds have a high water content so that it is not easily stored. This study aimed to test Shorea leprosula seed viability and vigor at various levels of water in the sawdust storage media. This research was conducted at the Biology garden, Departement of Biology, Faculty of Math and Natural Science, University of Riau. The method used randomized block design with four treatments of moisture content, i.e. (0%, 20%, 30%, 40%) that stored for two and four weeks. The seeds were germinated in a planting media from soil and sand (1:1). The seeds were grew and observed for 42 days. The parameters observed were the morphology of the seeds before and after stored in the media, as weel as the viability and the vigor of the seeds. The results showed that the seeds stored in sawdust storage media with moisture content of 40% for two and four weeks of storage reached 100% of germination. Seed vigor still could be maintained up to four week storage.

Keywords : Moisture content, Shorea leprosula Miq., viability, vigor, storage time. ABSTRAK

Shorea leprosula Miq. merupakan komoditi kehutanan penting penghasil damar yang berasal dari Kalimantan dan menurut International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) berstatus terancam punah. Pengembangan lebih lanjut tanaman ini tidak mudah karena musim berbuahnya yang tidak teratur setiap tahun dan biji bertipe rekalsitran. Biji rekalsitran mempunyai kadar air tinggi sehingga tidak mudah disimpan. Penelitian ini bertujuan untuk menguji viabilitas dan vigor biji Shorea leprosula pada beberapa kadar air dalam media penyimpanan serbuk gergaji. Penelitian ini dilaksanakan di kebun biologi, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Riau. Metode yang digunakan adalah rancangan acak kelompok (RAK) dengan 4 pemberian kadar air (0%, 20%, 30%, dan 40%)

(2)

disimpan selama 2 dan 4 minggu. Biji dikecambahkan pada media tanam berupa tanah dan pasir (1:1). Biji ditumbuhkan dan diamati selama 42 hari. Parameter yang diamati meliputi morfologi biji sebelum dan sesudah penyimpanan, viabilitas, dan vigor biji. Hasil penelitian menunjukkan bahwa viabilitas biji yang disimpan dalam media simpan serbuk gergaji dengan kadar air 40% selama penyimpanan 2 dan 4 minggu perkecambahan biji mencapai 100%. Vigor biji masih bisa dipertahankan sampai penyimpanan 4 minggu.

Kata kunci : kadar air, Shorea leprosula Miq., viability, vigor, waktu penyimpanan. PENDAHULUAN

Shorea merupakan genus terbesar dari famili Dipterocarpaceae yang dikenal sebagai meranti. Damar merupakan hasil sekresi berupa getah yang dihasilkan oleh pohon meranti dengan warna bervariasi. Selain itu kayunya juga bermutu tinggi, sehingga sering digunakan sebagai bahan bangunan dan bahan untuk pembuatan perahu (Noviany et al. 2003). Berdasarkan nama perdagangannya meranti terbagi menjadi tiga jenis yaitu meranti putih, meranti kuning dan meranti merah (tembaga). Daerah tropis merupakan tempat penyebaran dari meranti tembaga. Shorea leprosula termasuk ke dalam jenis meranti tembaga endemik Kalimantan dan sedang mengalami penurunan populasi akibat eksploitasi yang berlebihan. Hal ini menyebabkan meranti tembaga masuk ke dalam daftar merah International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) dalam kategori tumbuhan terancam (endangered) (Pamoengkas dan Prayogi 2011).

Biji Dipterocarpaceae umumnya memiliki jenis biji rekalsitran, salah satu jenis yang termasuk ke dalam famili Dipterocarpaceae adalah Shorea leprosula. Menurut Muadz (2011) biji

rekalsitran hanya dapat bertahan selama 15 hari, setelah itu daya kecambah menjadi nol. Apabila dilakukan penanaman perlu pengangkutan biji dari lokasi pengumpulan menuju ke lokasi penanaman dengan upaya penyimpanan biji. Penyimpanan biji bertujuan untuk mempertahankan viabilitas, vigor dan mempermudah dalam pengangkutan. Menurut Suryanto (2013) dalam penyimpanan biji digunakan wadah yang bertujuan untuk melindungi biji dari perubahan kondisi lingkungan dengan kriteria kedap udara, kuat, elastis, tahan terhadap kerusakan, tidak mudah sobek, mudah diperoleh, murah dan tahan lama. Penyimpanan biji rekalsitran sangat didukung dengan penggunaan media simpan yang bertujuan untuk melindungi biji dari benturan selama pengangkutan dan menjaga kelembaban (Suryanto 2013). Salah satu media simpan yang dapat digunakan adalah serbuk gergaji. Penyimpanan biji seharusnya menghasilkan biji yang tidak berkecambah, penyimpanan biji merupakan salah satu langkah konservasi eks-situ. Untuk itu perlu dilakukan penelitian penyimpanan biji Shorea leprosula pada berbagai kadar air media simpan yang merupakan strategi rehabilitasi dan konservasi yang penting untuk jenis-jenis tumbuhan yang terancam punah.

(3)

METODE PENELITIAN a. Waktu dan Tempat

Penelitian dilakukan pada bulan November 2014 – Februari 2015. Pengambilan dan penyimpanan biji di KHDTK Hutan Pendidikan Bukit Suligi Rokan Hulu. Pengecambahan dan pengamatan di Kebun Biologi, Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Riau. b. Alat dan Bahan

Bahan yang digunakan adalah biji meranti tembaga, serbuk gergaji, topsoil dan pasir. Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah alat tulis, timbangan digital, gelas ukur, paranet, tali rafia, kamera digital, pisau, plastik putih transparan ukuran 0,5 kg, karet gelang, polibag ukuran 10x5 cm, kertas label, gunting, sprayer, koran dan kertas HVS. c. Rancangan Penelitian

Penelitian dilaksanakan secara eksperimen menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 4 perlakuan kadar air media simpan, yaitu S0 :0% (kontrol), S1 : 20% kadar air, S2 :

30% kadar air dan S3 : 40% kadar air.

Masing-masing perlakuan diulang sebanyak 5 kali sehingga terdapat 20 unit percobaan. Pengujian dilakukan pada penyimpanan 2 minggu dan 4 minggu. Total keseluruhan 40 unit dan setiap unit terdiri dari 5 biji meranti tembaga.

d. Prosedur Penelitian 1. Persiapan biji

Biji yang dibutuhkan dalam penelitian ini berjumlah 200 biji meranti tembaga. Biji yang digunakan sudah masak secara fisiologis dengan kriteria biji keras, utuh, bebas hama dan tidak berjamur. Pengambilan biji dilakukan dengan cara memasang paranet secara acak di bawah pohon induk meranti tembaga selama enam hari. Sebelumnya sayap pada biji meranti tembaga dipotong terlebih dahulu kemudian diberi perlakuan penyimpanan.

2. Persiapan media simpan

Penyimpanan biji meranti tembaga menggunakan media penyimpanan serbuk gergaji. Serbuk gergaji terlebih dahulu dijemur di bawah sinar matahari sampai kadar air 0%. Serbuk gergaji yang digunakan sebanyak 8 kg.

3. Perlakuan kadar air media simpan

Menurut Purnomohadi (1988) untuk menguji kadar air media simpan serbuk gergaji dapat dilembabkan dengan berbagai kadar air sebagai berikut : 0% = 200 gr serbuk gergaji, 20% = 200 gr serbuk gergaji + 200 ml air, 30% = 200 gr serbuk gergaji + 300 ml air, dan 40% = 200 gr serbuk gergaji + 400 ml air. 4. Persiapan media tanam

Perkecambahan biji menggunakan media tanam topsoil dan pasir (1:1) dan dilakukan pengukusan media tanam terlebih dahulu selama 1 jam.

(4)

5. Pengujian viabilitas biji

Biji diuji viabilitasnya dengan cara mengecambahkan biji. Biji yang sudah diberi perlakuan dikecambahkan dalam polibag selama 42 hari setelah tanam. 6. Pemeliharaan

Pemeliharaan dilakukan dengan penyiraman pada pagi dan sore hari dan melakukan pencabutan gulma.

e. Pengamatan

1. Parameter sebelum biji disimpan Pengamatan meliputi morfologi biji dan berat basah biji sebelum disimpan. 2. Parameter setelah biji disimpan

Pengamatan meliputi morfologi biji, berat basah biji setelah disimpan dan persentase perkecambahan biji.

3. Parameter viabilitas biji

Pengamatan meliputi saat muncul kecambah (hari), kecepatan kecambah (biji/hari), dan % perkecambahan (%). 4. Parameter vigor biji

Pengamatan yang dilakuakan yaitu tinggi bibit (cm), jumlah daun (helai), berat basah (g), dan luas daun (cm2). f. Analisis Data

Data yang diperoleh dianalisis menggunakan Analisis of Variance

(ANOVA). Hasil analisis ragam yang berbeda nyata diuji lanjut menggunakan Duncan Multi Range Test (DMRT) pada taraf 5%, data dianalisis menggunakan sistem Statistik Package for Social Sciences ( SPSS ) versi 17.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Penyimpanan biji merupakan upaya yang dapat dilakukan untuk mempertahankan kualitas biji. Selama penyimpanan, kondisi wadah dan media penyimpanan diperhatikan agar viabilitas biji dapat dipertahankan. Biji meranti tembaga merupakan biji rekalsitran, dalam penelitian ini biji disimpan menggunakan wadah plastik putih transparan dengan media simpan serbuk gergaji. Media simpan yang digunakan dibuat kadar airnya bervariasi dari 0%, 20%, 30%, dan 40% pada suhu ruang. Penyimpanan biji meranti tembaga dilakukan selama 2 dan 4 minggu. Parameter yang diamati adalah parameter sebelum biji dikecambahkan, viabilitas biji, dan vigor biji.

1. Kondisi Biji Sebelum Disimpan Parameter sebelum biji disimpan yang diamati pada penelitian ini adalah morfologi dan berat basah biji sebelum penyimpanan. Biji meranti tembaga diambil dari pohon induk dengan ciri-ciri berwarna hijau mengkilat, tekstur mulus, dan sayap berjumlah 5 (Gambar 1). Sebelum dilakukan penyimpanan biji-biji tersebut sayapnya dihilangkan. Biji tersebut ditimbang untuk mendapatkan berat basah biji sebelum penyimpanan.

(5)

Gambar 1. Morfologi biji meranti tembaga sebelum penyimpanan. A : sayap panjang, B : sayap pendek.

2. Kondisi Biji Setelah Disimpan Parameter setelah biji disimpan yang diamati pada penelitian ini adalah morfologi biji sesudah penyimpanan, peningkatan atau penurunan berat basah biji dan persentase perkecambahan biji setelah disimpan. Morfologi biji diamati setelah biji diperoleh kemudian disimpan selama 2 dan 4 minggu. Peningkatan atau penurunan berat basah didapat dengan mengukur berat basah biji sebelum dan sesudah penyimpanan. Persentase perkecambahan biji sebelum ditanam didapat setelah biji disimpan selama 2 dan 4 minggu. Hasil morfologi biji meranti tembaga setelah disimpan selama 2 dan 4 minggu pada media simpan serbuk gergaji dengan kadar air 0%, 20%, 30% dan 40% disajikan pada Gambar 2.

Masa hidup biji sangat dipengaruhi oleh kadar air pada media penyimpanan, untuk biji rekalsitran agar mutu fisiologis tetap dapat dipertahankan maka biji harus disimpan menggunakan media yang lembab. Media lembab perlu diperhatikan sebelum melakukan penyimpanan untuk mencapai masa penyimpanan yang optimum (Sukarman dan Hasanah 2003). Kondisi biji meranti tembaga setelah

penyimpanan 2 minggu dengan kadar air 0% memiliki warna cokelat kusam dengan tekstur keriput dan berukuran kecil (Gambar 2. 2a). Biji berwarna kusam dengan tekstur keriput dan berukuran lebih kecil karena pada saat penyimpanan media simpan tidak dalam kondisi yang lembab. Menurut Purnomohadi (1988) kelembaban media simpan yang terlalu rendah dapat mengakibatkan biji rusak serta berpengaruh terhadap berat basah biji dan viabilitas biji. Biji meranti tembaga dengan kadar air 20% memiliki warna mengkilat dengan pengurangan intensitas warna hijau jika dibandingkan dengan biji sebelum disimpan, tekstur mulus dan berukuran besar jika dibandingkan dengan 0% kadar air (Gambar 2. 2b). Biji meranti tembaga dengan kadar air 30% memiliki warna mengkilat dengan pengurangan intensitas warna hijau, tekstur mulus dan berukuran besar jika dibandingkan dengan 20% kadar air (Gambar 2. 2c). Biji meranti tembaga dengan kadar air 40% memiliki warna mengkilat dengan pengurangan intensitas warna hijau, tekstur mulus dan berukuran besar jika dibandingkan dengan 30% kadar air (Gambar 2. 2d).

A

(6)

Gambar 2. Morfologi biji meranti tembaga setelah penyimpanan 2 dan 4 minggu. 1a : morfologi biji sebelum disimpan, 2a : penyimpanan 2 minggu kadar air 0%, 2b : kadar air 20%, 2c : kadar air 30%, 2d : kadar air 40%, 4a : penyimpanan 4 minggu kadar air 0%, 4b : kadar air 20%, 4c : kadar air 30%, 4d : kadar air 40%.

Kondisi biji meranti tembaga setelah penyimpanan 4 minggu dengan kadar air 0% memiliki warna cokelat kusam dengan tekstur keriput dan berukuran kecil (Gambar 2. 4a). Biji meranti tembaga dengan kadar air 20% memiliki warna cokelat muda mengkilat, tekstur mulus dan berukuran besar jika dibandingkan dengan 0% kadar air (Gambar 2. 4b). Biji meranti tembaga dengan kadar air 30% memiliki warna cokelat muda mengkilat, tekstur mulus dan berukuran besar jika dibandingkan dengan 20% kadar air (Gambar 2. 4c). Biji meranti tembaga dengan kadar air 40% memiliki warna cokelat muda mengkilat, tekstur mulus dan berukuran besar jika dibandingkan dengan 30% kadar air (Gambar 2. 4d).

Hasil analisis ragam (ANOVA) menunjukkan perlakuan penyimpanan 2 dan 4 minggu kadar air 0%, 20%, 30% dan 40% berpengaruh nyata terhadap peningkatan atau penurunan berat basah

biji meranti tembaga. Rerata peningkatan atau penurunan berat basah biji meranti tembaga disajikan pada Tabel 1.

. Berdasarkan Tabel 1 peningkatan atau penurunan berat basah biji yang disimpan selama 2 dan 4 minggu dengan pemberian kadar air 20%, 30%, dan 40% berbeda nyata terhadap kadar air 0%. Hal ini tampak pada hasil yang menunjukkan bahwa pada kadar air 0% berat basah biji mengalami penurunan pada penyimpanan 2 dan 4 minggu. Hal ini didukung oleh Nurahmi et al. (2010) bahwa media simpan yang tidak mengandung air akan mempercepat penurunan viabilitas karena embrio biji rusak akibat kekeringan. Menurut Kusmana et al. (2011) air berperan penting dalam penyimpanan biji rekalsitran, karena air dapat mempertahankan viabilitas biji yang disimpan. Akibat pemberian kadar air yang rendah maka penurunan viabilitas biji akan terjadi lebih cepat.

2a 1a 4d 4c 4b 4a 2d 2c 2b

(7)

Tabel 1. Rerata peningkatan atau penurunan berat basah biji meranti tembaga selama penyimpanan 2 dan 4 minggu.

Penyimpanan Perlakuan Kadar Air

Peningkatan atau Penurunan Berat Basah Biji (g) 2 minggu 0% -1,59 a 20% 0,31 b 30% 0,32 b 40% 0,38 b 4 minggu 0% -1,63 a 20% 0,45 b 30% 0,58 b 40% 0,61 b

Keterangan : Angka pada kolom yang sama diikuti oleh huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata berdasarkan uji lanjut DMRT pada taraf 5%.

Hal ini didukung oleh Muadz (2011) kadar air biji Dipterocarpaceae yang baru dipetik cukup tinggi dapat mencapai 40%. Viabilitas biji menjadi nol jika biji tersebut dibiarkan sampai 15 hari di lingkungan alami. Apabila biji disimpan selama 2 dan 4 minggu pada kadar air 0% maka viabilitas tidak dapat dipertahankan. Sampai akhir periode penyimpanan 2 dan 4 minggu berat basah biji pada perlakuan kadar air 20%, 30%, dan 40% mengalami peningkatan dibandingkan dengan kontrol dan biji tidak mengalami kerusakan. Peningkatan kadar air biji lebih tinggi seiring dengan tingginya kadar air dan lamanya penyimpanan biji. Hal ini didukung oleh Rahman et al. (2014) bahwa biji bersifat higroskopis sehingga apabila media simpan biji mempunyai kelembaban yang tinggi maka biji akan menyerap air dan berat basah biji meningkat. Hasil penelitian ini sama dengan hasil yang didapatkan dari penelitian Purnomohadi et al. (1988) yang telah melakukan

penyimpanan biji Theobroma cacao. Penyimpanan dalam jangka waktu lama menyebabkan terjadi peningkatan berat basah biji. Penyimpanan biji dengan media simpan serbuk gergaji kadar air 30%, 35%, dan 40% selama 1, 2, 3, dan 4 minggu pada suhu 28C dan suhu 22C. Peningkatan berat basah biji yang paling tinggi adalah penyimpanan biji selama 4 minggu dengan kadar air 40% pada suhu 22C dan perkecambahan mencapai 100%.

Kadar air yang tepat dalam penyimpanan biji rekalsitran sangat penting untuk menjaga viabilitas biji agar biji yang disimpan tidak mengalami perkecambahan. Semua biji yang disimpan dengan berbagai macam kadar air selama penyimpanan 2 dan 4 minggu tidak mengalami perkecambahan (Gambar 2). Selama penyimpanan semua biji belum berkecambah, hal ini sesuai dengan pendapat Widyatmoko (2014) penyimpanan biji merupakan salah satu cara konservasi secara ex-situ.

(8)

Penyimpanan biji meranti tembaga memberikan tujuan penting yaitu biji yang disimpan sampai 4 minggu tidak mengalami perkecambahan sehingga menjadi upaya dalam rehabilitasi. 3. Viabilitas Biji

Parameter viabilitas biji yang diamati pada penelitian ini adalah saat muncul kecambah (hari), kecepatan perkecambahan (biji/hari), dan persentase perkecambahan (%). Hasil analisis ragam (ANOVA) menunjukkan perlakuan penyimpanan 2 dan 4 minggu kadar air 0%, 20%, 30% dan 40% berpengaruh nyata terhadap saat muncul kecambah, kecepatan perkecambahan, dan persentase perkecambahan biji. Rerata pengaruh berbagai kadar air terhadap parameter saat muncul kecambah, kecepatan perkecambahan,

dan persentase perkecambahan ditampilkan pada Tabel 2.

Berdasarkan Tabel 2 parameter viabilitas biji yang disimpan selama 2 dan 4 minggu dengan pemberian kadar air 20%, 30%, dan 40% berbeda nyata terhadap kadar air 0%. Saat muncul kecambah pemberian kadar air 0% biji tidak berkecambah. Perkecambahan biji yang tercepat untuk penyimpanan selama 2 minggu yaitu 7 hari setelah tanam terjadi pada perlakuan kadar air 30% dan 40%. Saat muncul kecambah untuk perlakuan kadar air 20% terjadi pada hari ke-9 setelah tanam. Penyimpanan biji meranti tembaga selama 4 minggu mengalami perkecambahan yang lebih cepat, untuk kadar air 30% dan 40% pada hari ke-6 setelah tanam.

Tabel 2. Rerata saat muncul kecambah, kecepatan perkecambahan, dan persentase perkecambahan biji meranti tembaga selama penyimpanan 2 dan 4 minggu. Waktu simpan Perlakuan Kadar Air Parameter Saat Muncul Kecambah (hari) Kec. Kecambah (biji/hari) Persentase kecambah (%) 2 minggu 0% 0,00 a 0,00 a 0,00 a 20% 9,20 b 0,07 b 64,0 b 30% 7,00 c 0,09 b 80,0 b 40% 7,00 c 0,11 c 100,0 c 4 minggu 0% 0,00 a 0,00 a 0,00 a 20% 8,00 b 0,06 b 56,0 b 30% 6,00 c 0,08 b 76,0 b 40% 6,00 c 0,11 c 100,0 c

Keterangan : Angka pada kolom yang sama diikuti huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata berdasarkan uji lanjut DMRT pada taraf 5%.

(9)

Pada kadar air 20% proses perkecambahan terjadi pada hari ke-8 setelah tanam. Saat muncul kecambah pada kadar air 20% terjadi lebih lama dibanding kadar air 30% dan 40% pada penyimpanan 2 dan 4 minggu. Proses perkecambahan pada penyimpanan 4 minggu lebih cepat dibandingkan penyimpanan 2 minggu. Hal ini disebabkan semakin lama penyimpanan, biji mengalami proses imbibisi yang semakin meningkat dengan besarnya kadar air media simpan. Semakin tinggi proses imbibisi maka ukuran biji akan semakin besar dan akhirnya cepat berkecambah setelah ditanam. Menurut Nengsih dan Alia (2010) air saat penyimpanan biji berperan dalam proses imbibisi sehingga kulit biji melunak dan cepat mengalami perkecambahan. Hal ini yang menyebabkan biji cepat berkecambah pada kondisi yang lembab.

Nilai kecepatan perkecambahan tertinggi pada biji meranti tembaga selama penyimpanan 2 dan 4 minggu terdapat pada perlakuan kadar air 40% dan berbeda nyata terhadap perlakuan kadar air 0%, 20%, dan 30%. Kecepatan perkecambahan meningkat seiring dengan meningkatnya kadar air. Kadar air yang lebih tinggi menentukan banyaknya biji yang berkecambah, karena pemberian air pada media simpan dapat mempertahankan viabilitas biji. Penyimpanan tanpa menggunakan air, viabilitas biji akan menjadi nol. Biji tidak berkecambah apabila disimpan pada kadar air 0% (Tabel 2). Penelitian ini sesuai dengan penelitian Nengsih dan Alia (2010) pada biji Theobroma cacao dengan waktu penyimpanan selama 4 minggu pada media simpan serbuk gergaji. Kadar air media simpan yang digunakan bervariasi (20%, 25%,

30%, 35%, dan 40%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai kecepatan perkecambahan media simpan serbuk gergaji kadar air 40% lebih cepat sebesar 3,48 biji/hari dibandingkan kadar air 20%, 25%, 30%, dan 35%. Akibat kadar air media simpan yang rendah maka penurunan viabilitas biji akan terjadi lebih cepat.

Persentase perkecambahan merupakan salah satu parameter yang dapat digunakan untuk mengetahui kualitas biji. Biji berkualitas baik adalah biji yang memiliki daya kecambah di atas 80% (Rahardjo dan Hartatri 2010). Persentase kecambah menggambarkan berapa banyaknya biji yang dapat berkecambah kemudian tumbuh menjadi bibit yang dapat ditanam di lapangan. Pemberian kadar air 20%, dan 30% pada media simpan saat penyimpanan 2 dan 4 minggu mampu meningkatkan persentase perkecambahan dibandingkan kadar air 0%, walaupun persentase kecambah belum mencapai lebih dari 80%. Perlakuan pemberian kadar air 40% pada saat penyimpanan biji meranti tembaga memiliki daya berkecambah yang lebih baik sebesar 100% sampai masa simpan 4 minggu. Biji yang disimpan selama 4 minggu pada kadar air 20% dan 30% persentase perkecambahan menurun karena biji sudah mengalami kemunduran, kemunduran terjadi karena lama penyimpanan dan rendahnya kadar air. Menurut Hasanah (2002) salah satu penyebab rendahnya persentase kecambah biji karena rendahnya kadar air media penyimpanan. Penelitian lain telah dilakukan oleh Febryano dan Riniarti (2009) pada biji rekalsitran S. javanica. Penyimpanan dilakukan selama 4, 6, dan 8 minggu menggunakan

(10)

kantong plastik transparan dengan media simpan serbuk gergaji tanpa diketahui kadar air. Bahwa semakin lama penyimpanan persentase kecambah menjadi 0%. Hasil yang didapat dari penelitian bahwa penyimpanan biji S. javanica yang terbaik yaitu pada penyimpanan 4 minggu dengan persentase perkecambahan sebesar 23,56%. Penyimpanan biji selama 6 minggu sebesar 13,33% dan 8 minggu persentase perkecambahan 0%, karena terjadi penurunaan viabilitaas biji.

Dari hasil penelitian ini menunjukkan penyimpanan biji dengan media simpan serbuk gergaji pemberian kadar air 40% mampu mempertahankan viabilitas sampai 4 minggu perkecambahan mencapai 100%. Hasil ini juga diperkuat dengan peningkatan berat basah biji penyimpanan kadar air 40%. Kelembaban media simpan 40%

dapat mencegah embrio rusak akibat kekeringan, karena air dalam penyimpanan berfungsi untuk mempertahankan viabilitas biji.

4. Vigor Biji

Parameter vigor yang diamati pada penelitian ini adalah tinggi bibit (cm), jumlah daun (helai), berat basah (g), dan luas daun (cm2). Hasil analisis ragam (ANOVA) menunjukkan perlakuan penyimpanan 2 dan 4 minggu kadar air 20%, 30% dan 40% berpengaruh nyata terhadap tinggi bibit, jumlah daun, berat basah bibit dan luas daun. Rerata pengaruh berbagai kadar air terhadap parameter tinggi bibit, jumlah daun, berat basah bibit, dan luas daun ditampilkan pada Tabel 3.

Tabel 3. Rerata tinggi bibit, jumlah daun, berat basah, dan luas daun bibit meranti tembaga umur 6 minggu.

Waktu simpan Perlakuan Kadar Air Parameter Tinggi Bibit (cm) Jumlah Daun (helai) Berat Basah (g) Luas Daun (cm2) 2 minggu 0% 0,00 a 0,00 a 0,00 a 0,00 a 20% 5,38 b 3,19 b 0,44 b 11,22 b 30% 7,09 b 3,78 b 0,58 b 12,47 b 40% 11,3 c 4,72 c 0,70 c 29,35 c 4 minggu 0% 0,00 a 0,00 a 0,00 a 0,00 a 20% 5,93 b 2,05 b 0,27 b 5,64 b 30% 6,37 b 2,20 b 0,39 b 6,64 b 40% 9,80 c 3,72 c 0,50 c 13,5 c

Keterangan : Angka pada kolom yang sama diikuti oleh huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata berdasarkan uji lanjut DMRT pada taraf 5%.

(11)

Berdasarkan Tabel 3 parameter vigor biji yang disimpan selama 2 dan 4 minggu dengan pemberian kadar air 20%, 30%, dan 40% berbeda nyata terhadap kadar air 0%. Parameter pertumbuhan meliputi tinggi bibit, jumlah daun, berat basah, dan luas daun perlakuan kadar air 40% penyimpanan 2 dan 4 minggu yang lebih tinggi dibanding kondisi penyimpanan kadar air 0%, 20%, dan 30%. Namun, untuk penyimpanan biji selama 4 minggu vigor mengalami penurunan. Hal ini diperkuat oleh Sudirman dan Dahlan (2005) bahwa semakin lama waktu penyimpanan biji, semakin cepat laju deteriorasi sehingga menyebabkan penurunan vigor biji. Biji mencapai mutu tertinggi pada saat mencapai masak fisiologis, dan sesudah itu hanya kemunduran yang terjadi. Pada biji yang disimpan selama 4 minggu, pertumbuhan

(Sumampow 2010). Rahardjo dan Sukamto (1987) menyatakan penyebab bibit tidak tumbuh dengan baik karena biji mengalami kemunduran vigor apabila semakin lama waktu penyimpanan biji. Pertumbuhan biji yang disimpan selama 2 dan 4 minggu (Gambar 3) memiliki pertumbuhan yang baik pada perlakuan kadar air 40%. KESIMPULAN

Penyimpanan biji Shorea leprosula dalam serbuk gergaji dengan berbagai kadar air menyebabkan perubahan morfologi biji. Viabilitas biji Shorea leprosula tertinggi pada media simpan serbuk gergaji kadar air 40% dengan persentase perkecambahan mencapai 100% selama penyimpanan 2 dan 4 minggu. Vigor biji Shorea leprosula

Gambar 3. Morfologi bibit meranti tembaga yang berasal dari biji penyimpanan 2 dan 4 minggu umur 42 hari. 2a : penyimpanan 2 minggu kadar air 20%, 2b : kadar air 30%, 2c : kadar air 40%, 4a : penyimpanan 4 minggu kadar air 20%, 4b : kadar air 30%, 4c : kadar air 40%.

bibit meranti tembaga mengalami penurunan. Selama penyimpanan, biji akan mengalami kemunduran (deteriorasi). Kemunduran biji dicirikan dengan penurunan cadangan makanan dalam biji yang akan menyebabkan kemampuan vigor menurun seiring dengan lamanya waktu penyimpanan biji

selama penyimpanan 2 dan 4 minggu tertinggi pada kadar air 40%.

UCAPAN TERIMA KASIH

Penulis mengucapkan terimakasih kepada PNBP Universitas Riau yang memberikan dana bantuin penelitian.

4c 4b 4a 2c 2b 2a

(12)

Penulis juga mengucapkan terimakasih kepada pihak Dinas Kehutanan Provinsi Riau serta seluruh pihak yang turut membantu dalam penyelesaian penelitian ini.

DAFTAR PUSTAKA

Febryano G I, Riniarti M. 2009. Metode Alternatif Penyimpanan Benih Damar Mata Kucing (Shorea javanica K.&V.). Jurnal Penelitian Dipterokarpa 03 (01).

Hasanah M. 2002. Peran Mutu Fisiologik Benih dan Pengembangan Industri Benih Tanaman Industri. Jurnal Litbang Pertanian 21 (03). Kusmana C, Kalingga M, Syamsuwida

D. 2011. Pengaruh Media Simpan, Ruang Simpan, dan Lama Penyimpanan Terhadap Viabilitas Benih Rhizophora stylosa Griff. Jurnal Silvikultur Tropika 03 (01).

Muadz A. 2011. Dipterocarpaceae,

Waktu Berbunga dan

Berbuahnya.http://www.hutan kalimantan.blogspot.com. [07 Nov 2014].

Nengsih Y, Alia Y. 2010. Penetapan Tingkat Kadar Air Kritis Benih Kakao (Theobroma cacao) Hubungannya Dengan Viabilitas dan Vigor Benih. Jurnal Unbari 10 (02) : 37-41.

Nurahmi E, Sabaruddin, Erlina N. 2010. Pengaruh Fungisida Benlate dan Media Pengepakan Kondisi Kelembaban Tinggi Vigor dan Viabilitas Biji Kakao Setelah Disimpan. Jurnal Floratek 05:140 - 151.

Noviany, Hakim EH, Achmad SH, Syah YM, Juliawaty LD, Aimi N, Ghisalberti EL,Choudhary IM. 2003. Beberapa Oligomer Stilbnoid Dari Tumbuhan Shorea multiflora. Jurnal Matematika dan Sains 08 (02) hal 125-132.

Pamoengkas P, Prayogi J. 2011. Pertumbuhan Shorea leprosula Dalam Sistem Silvikuktur Tanam Jalur. Jurnal Silvikultir Tropika 02 (01).

Purnomohadi M, Saenong S, Susilastuti D. 1988. Pengaruh Kelembaban Serbuk Gergaji Sebagai Media Simpan, Suhu dan Periode Simpan Terhadap Viabilitas Benih Coklat (Theobroma cacao Linn.). Jurnal Balitan Agronani 17 (01).

Rahardjo P, Hartatri DFS. 2010. Penggunaan AASAP Dalam Upaya Mempertahankan Viabilitas Benih Kakao (Theobroma cacao L). Jurnal Pelita Perkebunan 26 (06): 83-89.

Rahardjo P, Sukamto. 1987. Mempertahankan Daya Tumbuh

Benih Kakao Dalam

(13)

Jurnal Pelita Perkebunan 03, 31-35.

Rahman A, Nuraini A, Nursuhud. 2014. Pengaruh Kadar Air Awal Benih dan Suhu Ruang Simpan Terhadap Viabilitas, Vigor, dan Pertumbuhan Benih Sirsak (Annona muricata). Agric. Sci. J 01 (04).

Sudirman H, Dahlan. 2005. Pengaruh Jumlah Benih dan Lama Simpan Buah Terhadap Kecambah dan Pertumbuhan Bibit Tanaman Pada Biji Salak (Salacca edulis) Jurnal Agrisistem 01(01). Sukarman, Hasanah M. 2003. Perbaikan Mutu Benih Aneka Tanaman Perkebunan Melalui Cara Panen dan Penanganan Benih. Jurnal Litbang Pertanian 22 (01).

Sumampow DMF. 2010. Viabilitas Benih Kakao (Theobroma cacao L.) Pada Media Simpan Serbuk Gergaji. Soil Environment 08 (03) : 102-105.

Suryanto H. 2013. Pengaruh Beberapa Perlakuan Penyimpanan Terhadap Perkecambahan Benih Suren (Toona sureni). Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea 02 (01).

Widyatmoko A. 2014. Manual Pembangunan Plot Konservasi Eks-situ Shorea Penghasil Tengkawang. Samarinda.

Gambar

Gambar 1.  Morfologi  biji  meranti  tembaga  sebelum  penyimpanan.  A  :  sayap  panjang, B : sayap pendek
Gambar 2.  Morfologi biji meranti tembaga setelah penyimpanan 2 dan 4 minggu. 1a :  morfologi  biji  sebelum  disimpan,  2a  :  penyimpanan  2  minggu  kadar  air  0%,  2b  :  kadar  air  20%,  2c  :  kadar  air  30%,  2d  :  kadar  air  40%,  4a  :  penyi
Gambar 3.     Morfologi  bibit  meranti  tembaga  yang  berasal  dari  biji  penyimpanan  2  dan 4 minggu umur 42 hari

Referensi

Dokumen terkait

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat tuhan yang Maha Esa, karena atas limpahan Rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan Laporan Skripsi dengan judul “Pemberian

Penelitian ini bertujuan agar dapat mengetahui pengaruh bobot badan induk terhadap fertilitas, daya tetas dan bobot tetas DOC pada ayam Kedu jengger merah

Persamaan dengan peneliti angkat yaitu tentang kelayakan pembiayaan, akan tetapi perbedaannya penulis lebih memfokuskan membahas mengenai proses analisis penilaian

Keluhan MSDs merupakan keluhan yang berkaitan erat dengan umur, dimana tulang mencapai kematangan optimum (puncak massa tulang) pada umur antara 25 – 30 tahun, tetapi

Kapur sirih dapat diformulasikan sebagai sediaan scrub yang dibuat dengan lima variasi yaitu perbandingan kapur sirih:tepung beras 1:1, 1:2, 1:3, 1:4 dan 1:8

Tədqiqat işindən əldə edilən nəticəyə görə turizm tələbinə ən çox təsir edən faktor turist gələn ölkənin adam başına düşən milli gəliridir, qiymət

Sedangkan golongan ulama Zaidiah menerima hadis mudallas karena hadis ini eksistensinya sama dengan hadis Mursal (Hadis mursal diterima oleh jumhur). Sedangkan ulama

Beton yang mempunyai nilai redaman dan loss factor tertinggi dalam penelitian ini yaitu beton polimer dengan penambahan komposisi filler 20% sehingga sampel