• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH REPUTASI UNDERWRITER, SIZE DAN USIA PERUSAHAAN PADA PENENTUAN HARGA IPO

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENGARUH REPUTASI UNDERWRITER, SIZE DAN USIA PERUSAHAAN PADA PENENTUAN HARGA IPO"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

137

PENGARUH REPUTASI UNDERWRITER, SIZE DAN USIA

PERUSAHAAN PADA PENENTUAN HARGA IPO

Umi Murtini

Program Studi Manajemen Fakultas Bisnis, UKDW

Jl. Dr. Wahidin Sudirohusodo, No. 5 -15, Yogyakarya

ABSTRACT

Underpricing is a phenomenon occurring when companies do IPOS. This research aims to test the influence of underwriter reputation, size and age of the company's response underpricing companies do IPOS in the period 2009 to 2014. Testing is done using multiple regression. The test results showed that the company's underwriter reputation and size have negative influence towards undepricing. Meanwhile the age of the company have no effect against underpricing.

Keywords: underpricing, underwriter, size, age of the company

ABSTRAK

Underpricing adalah fenomena yang terjadi ketika perusahaan melakukan

perawaran saham

perdana (IPO)

. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh reputasi underwriter, ukuran dan umur perusahaan terhadap underpricing perusahaan IPO pada periode 2009 hingga 2014. Pengujian dilakukan dengan menggunakan regresi berganda. Hasil pengujian menyimpulkan bahwa reputasi underwriter perusahaan dan ukuran memiliki pengaruh negatif terhadap undepricing, sedangkan usia perusahaan tidak berpengaruh terhadap underpricing.

Keywords: underpricing, underwriter, ukuran, umur perusahaan

PENDAHULUAN

Perusahaan ketika melakukan penawaran saham perdana kepada masyarakat diwajibkan menggunakan jasa underwriter. Underwriter berfungsi sebagai penjamin dan penasehat bagi calon emiten. Disamping itu underwriter juga sebagai penjamin bagi calon investor, bahwa perusahaan yang melakukan go public adalah perusahaan yang sehat. Dengan demikian diharapkan calon investor bersedia menanamkan dananya di perusahaan tersebut.

Underwriter sebagai penjamin baik bagi

calon emiten maupun calon investor, maka

underwriter harus benar-benar profesional.

Banyaknya pengalaman dan dana jaminan

underwriter menjadi salah satu kriteria penilai

reputasi underwriter (Ratnasari dan Hudiwi-narsih, 2013). Perusahaan yang akan go public apabila dibantu oleh underwriter yang memiliki reputasi sudah baik, maka

diharapkan saham yang dijual saat IPO dapat terjual semua pada harga yang terbaik (tinggi). Dengan demikian tambahan dana yang diperlukan oleh emiten melalui go public akan tercukupi.

Investor dalam menentukan keputusan investasi pada perusahaan yang sedang go public mempertimbangkan reputasi

underwriter. Investor berharap pada

underwriter yang memiliki reputasi baik.

Semakin baik reputasi underwriter diharapkan memberikan informasi semakin baik tentang emiten kepada calon investor.

Kristiantari (2012) dan Riyadi, Ricky (2013) dalam penelitiannya membuktikan bahwa reputasi underwriter berpengaruh terhadap underpricing, sedang penelitian Bachtiar (2012) membutikan bahwa reputasi

underwriter tidak berpengaruh terhadap

underpricing. Kedua penelitian dilakukan di

(2)

138

kesimpulan yang berbeda, sehingga perlu dilakukan penelitian lagi untuk memperkuat fenomena underpricing di Indonesia sesungguhnya.

Semakin besar perusahaan biasanya menunjukkan bahwa perusahaan tersebut semakin baik dan kuat dalam pembiayaan serta memiliki prospek semakin baik. Perusahaan yang besar memiliki akses informasi lebih lengkap dibanding perusahaan yang lebih kecil. Sehingga semakin besar perusahaan akan terjadi underpricing semakin kecil. Penelitian Arman, Agus (2012) menemukan bahwa semakin besar perusahaan maka terjadi underpricing semakin kecil. Penelitian tersebut berbeda dengan penelitian Darlis, Edfan dan Zirman (2010) menemukan bahwa ukuran perusahaan tidak berpengaruh terhadap underpricing.

Perusahaan semakin lama berdiri akan semakin perpengalaman, sehingga dapat memperoleh keuntungan yang nantinya akan meningkatkan kesejahteraan pemilik usaha. Semakin lama perusahaan telah berdiri, dapat memberikan informasi yang baik kepada calon investor, sehingga ketika perusahaan melakukan go public memiliki underpricing semakin kecil (Lutfianto, 2013). Penelitian Arman, Agus (2012) menemukan bahwa usia perusahaan berpengaruh negative terhadap

underpricing. Berbeda dengan penelitian

Darlis, Edfan dan Zirman (2010) penelitiannya menyimpulkan bahwa usia perusahaan tidak berpengaruh terhadap underpricing.

Beberapa peneliti memberikan hasil penelitian yang berbeda-beda tentang factor yang mempengaruhi underpricing, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian ulang tentang pengaruh reputasi underwriter, usia dan size perusahaan terhadap

underpricing.

KAJIAN

LIERATUR

Penawaran Perdana (Initial Public

Offering)

Penawaran saham perusahaan kepada masyarakat untuk pertama kali dikenal dengan istilah penawaran perdana atau initial Public

Offering (IPO). Penawaran perdana merupakan proses yang harus dilalui oleh perusahaan–perusahaan yang ingin

mencatatkan sahamnya di bursa efek. Berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia No. 8 tahun 1995 Tentang Pasar Modal, penawaran perdana sering disebut juga dengan Go Public.

Alasan Perusahaan Melakukan Go Public Keuntungan dan Kerugian IPO

Ada dua alasan perusahaan go public, yaitu karena pemilik lama ingin mendiversifikasikan portofolio mereka dan karena perusahaan tidak memiliki alternatif sumber dana lain untuk membiayai proyek investasinya. Beberapa alasan lain perusahaan melakukan go publik adalah: 1) Memperoleh uang tunai yang dapat digunakan sebagai modal jangka panjang, untuk pengembangan perusahaan, membayar utang dan tujuan – tujuan lainnya. 2) Meningkatkan nilai pasar. 3) Meningkatkan kekayaan bersih perusahaan atau meningkatkan Debt to Equity ratio perusahaan.

Keuntungan going public menurut Jogiyanto (2015) adalah: 1) Kemudahan meningkatkan modal di masa mendatang. Untuk perusahaan yang tertutup, calon investor biasanya enggan untuk menanamkan modalnya disebabkan kurangnya keterbukaan informasi keuangan antara pemilik dan investor. Sedangkan untuk perusahaan yang sudah go public, informasi keuangan harus dilaporkan ke publik secara reguler yang kelayakannya sudah diperiksa oleh akuntan publik. 2) Meningkatkan likuiditas bagi pemegang saham. Untuk perusahaan yang masih tertutup yang belum mempunyai pasar untuk sahamnya, pemegang saham akan lebih sulit untuk menjual sahamnya dibandingkan jika perusahaan sudah go public. 3) Nilai pasar perusahaan diketahui. Untuk alasan–alasan tertentu, nilai pasar perusahaan perlu diketahui. Misalnya jika perusahaan ingin memberikan insentif dalam bentuk opsi saham (stock

option) kepada manajer-manajernya, maka

nilai sebenarnya dari opsi tersebut perlu diketahui. Jika perusahaan masih tertutup, nilai dari opsi sulit ditentukan.

Disamping keuntungan dari going public, beberapa kerugiannya adalah sebagai berikut: 1) Biaya laporan yang meningkat. Untuk perusahaan yang sudah going public, setiap kuartal dan tahunnya harus menyerahkan

(3)

139 laporan kepada regulator. Laporan ini sangat

mahal terutama untuk perusahaan yang ukurannya kecil. 2) Pengungkapan (disclosure). Beberapa pihak di dalam perusahaan umumnya keberatan dengan ide pengungkapan. Manajer enggan mengungkapkan semua informasi yang dimiliki karena dapat digunakan oleh pesaing. Sedang pemilik enggan mengungkapkan informasi tentang saham yang dimilikinya karena publik akan mengetahui besarnya kekayaan yang dipunyai. ) Ketakutan untuk diambil alih. Manajer perusahaan yang mempunyai hak veto kecil akan khawatir jika perusahaan going public. Manajer perusahaan publik dengan hak veto yang rendah umumnya diganti dengan manajer baru jika perusahaan diambil alih.

Proses Penawaran Perdana

Proses Penawaran umum saham dapat dikelompokkan menjadi 4 tahapan berikut: Pertama, Tahap Persiapan. Tahapan ini merupakan tahapan awal dalam rangka mempersiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan proses Penawaran Umum. Pada tahap yang paling awal perusahaan yang akan menerbitkan saham terlebih dahulu melakukan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) untuk meminta persetujuan para pemegang saham dalam rangka Penawaran Umum saham. Kedua, Penunjukan penjamin emisi serta lembaga dan profesi penunjang pasar yaitu: Penjamin Emisi (underwriter). Merupakan pihak yang paling banyak keterlibatannya dalam membantu emiten dalam rangka penerbitan saham. Kegiatan yang dilakukan penjamin emisi antara lain: menyiapkan berbagai dokumen, membantu menyiapkan prospektus, dan memberikan penjaminan atas penerbitan.

Pihak-pihak lain yang juga berkepentingan dalam penawaran saham perdana: 1) Akuntan Publik (Auditor Independen). Bertugas melakukan audit atau pemeriksaan atas laporan keuangan calon emiten. 2) Penilai untuk melakukan penilaian terhadap aktiva tetap perusahaan dan menentukan nilai wajar dari aktiva tetap tersebut, 3) Konsultan Hukum untuk memberikan pendapat dari segi hukum (legal

opinion), 4) Notaris untuk membuat akta

perubahan Anggaran Dasar, akta perjanjian dalam rangka penawaran umum dan juga notulen rapat. 5) Tahap Pengajuan Pernyataan Pendaftaran. Pada tahap ini, dilengkapi dengan dokumen-dokumen pendukung calon emiten menyampaikan pendaftaran kepada BAPEPAM-LK hingga BAPEPAM-LK menyatakan Pernyataan Pendaftaran menjadi Efektif. 4) Tahap Penawaran Saham. Tahapan ini merupakan tahapan utama, karena pada waktu inilah emiten menawarkan saham kepada masyarakat investor. Investor dapat membeli saham tersebut melalui agen-agen penjual yang telah ditunjuk. Masa Penawaran sekurang-kurangnya tiga hari kerja. Perlu diingat pula bahwa tidak seluruh keinginan investor terpenuhi dalam tahapan ini. Misal, saham yang dilepas ke pasar perdana sebanyak 100 juta saham sementara yang ingin dibeli seluruh investor berjumlah 150 juta saham. Jika investor tidak mendapatkan saham pada pasar perdana, maka investor ersebut dapat membeli di pasar sekunder yaitu setelah saham dicatatkan di Bursa Efek. 5) Tahap Pencatatan saham di Bursa Efek. Setelah selesai penjualan saham di pasar perdana, selanjutnya saham tersebut dicatatkan di Bursa Efek Indonesia. Underpricing

Underpricing adalah suatu keadaan

dimana harga saham pada saat penawaran perdana lebih rendah dibandingkan dengan ketika diperdagangkan di pasar sekunder. Studi tentang IPO secara internasional menyatakan bahwa 9 dari 10 penelitian menyimpulkan telah terjadi underpricing (Gerianta, 2008). Underpricing merupakan fenomena yang sering dijumpai dalam initial

public offering. Ada kecenderungan bahwa

harga penawaran di pasar perdana selalu lebih rendah dibandingkan dengan harga penutupan pada hari pertama perdagangan. Underpricing merupakan keadaan dimana saham memberikan return positif pada transaksi pasar sekunder setelah penawaran perdana.

Underpricing disebabkan oleh perbedaan

kepentingan dari pihak-pihak yang terkait dalam penawaran saham perdana.

Harga saham yang dijual di pasar perdana ditentukan berdasarkan kesepakatan antara penjamin emisi (underwriter) dan emiten (issuers), sedangkan harga di pasar

(4)

140

sekunder ditentukan oleh mekanisme permintaan dan penawaran. Underwriter memiliki informasi lebih baik tentang investor yang dibutuhkan oleh emiten. Kompensasi atas informasi inilah yang diberikan oleh emiten antara lain dengan mengijinkan

underwriter menetapkan penawaran saham

dibawah harga ekuilibrium oleh karena itu lebih tinggi ketidakpastian, lebih banyak masalah dalam penentuan harga dan lebih tinggi tingkat underpricingnya (Jogianto, 2015).

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi

Underpricing

Reputasi Underwriter

Underwriter adalah perusahaan yang

membuat kontrak dengan emiten untuk melakukan penawaran umum bagi kepentingan emiten, dengan atau tanpa kewajiban untuk membeli sisa efek yang terjual. Peran underwriter adalah dalam mengurangi ketidakpastian. Dalam melakukan penawaran saham perdana, untuk mengurangi risiko yang dihadapi, maka emiten meminta

underwriter untuk menjamin penjualan saham

tersebut. Adanya fungsi penjaminan saham tersebut berarti underwriter mempunyai peranan kunci bagi kesuksesan emisi surat berharga suatu perusahaan.

Ditinjau dari tanggung jawab

underwriter sebagai penjamin emisi, terdapat

tiga tipe penjaminan, yaitu: 1) Full commitment, yaitu penjamin emisi dengan

kesanggupan penuh. Disamping menyanggupi untuk menawarkan efek tersebut kepada masyarakat, penjamin emisi juga menyanggupi untuk membeli sendiri efek yang tidak terjual. 2) Best effort commitment, penjamin emisi dengan kesanggupan terbaik. Dalam hal ini penjamin emisi hanya mempunyai kewajiban untuk menawarkan efek sebaik – baiknya dan tidak ada kewajiban untuk membeli efek yang tidak terjual. 3) Standby commitment,

penjamin emisi dengan kesanggupan siaga. Penjamin emisi di samping menyanggupi untuk menawarkan efek juga menyanggupi untuk membeli sisa efek yang tidak terjual pada tingkat harga tertentu dengan syarat yang diperjanjikan.

Penjamin emisi tidak mungkin bekerja sendiri dalam suatu emisi efek di pasar modal.

Hal ini disebabkan oleh beberapa alasan antara lain: 1) Penjamin emisi tidak mempunyai modal yang cukup untuk melakukan penjaminan emisi, 2) Penjamin emisi ingin membagi resiko dengan penjamin emisi yang lain. Dengan alasan tersebut, penjamin emisi harus bekerja sama dengan penjamin emisi lainnya dalam satu kelompok atau sindikasi penjamin emisi.

Pada umumnya underwriter mempunyai tiga fungsi (Jogiyanto, 2015) yaitu: a) Sebagai pemberi saran kepada perusahaan yang akan melakukan go public (advisory function), b) Sebagai penjamin penjualan saham perdana dan bersedia membeli sisa sekuritas yang tidak terjual (underwriting function), c) sebagai pemasar saham kepada investor (marketing

function). Reputasi underwriter berpengaruh

terhadap tinggi rendahnya tingkat underpriced, karena underwriter berperan dalam penentuan harga saham di pasar perdana dan underwriter yang lebih tahu keadaan pasar (Chorruk dan Worthington, 2010). Semakin tinggi reputasi

underwriter maka tingkat underpricing

semakin rendah.

Ukuran Perusahaan

Perusahaan berskala besar umumnya lebih dikenal masyarakat luas apabila dibandingkan dengan perusahaan berukuran kecil, sehingga informasi yang didapatkan oleh investor tentang perusahaan berukuran besar lebih banyak, maka tingkat ketidakpastian investor akan masa depan perusahaan bisa lebih diketahui.

Pada umumnya skala atau ukuran perusahaan menjadi faktor dalam memutuskan untuk membeli saham di bursa efek. Adanya hubungan negatif antara ukuran perusahaan dengan tingkat underpriced. Semakin besar ukuran perusahaan, maka tingkat underpriced semakin rendah (Suyatmin dan Sujadi, 2006)

Umur Perusahaan

Umur perusahaan merupakan hal yang dipertimbangkan investor dalam menanamkan modalnya, karena umur perusahaan menunjukkan kemampuan perusahaan dapat bertahan hidup dan banyaknya informasi yang diserap oleh publik. Umur perusahaan menunjukan bahwa perusahaan sudah

(5)

141 memiliki pengalaman dan kemampuan untuk

bertahan dari persaingan bisnis (Chorruk dan Worthington, 2010). Umur perusahaan dapat diketahui dari tahun berdirinya perusahaan sampai tahun perusahaan tersebut melakukan penawaran saham perdana di bursa saham. Selain itu semakin lama umur perusahaan, semakin banyak informasi yang diperoleh masyarakat tentang perusahaan tersebut.

PENGEMBANGAN HIPOTESIS

Gerianta (2008) meneliti tentang penyebab underpricing pada penawaran saham perdana di Bursa Efek Jakarta. Variabel independen dalam penelitian Gerianta antara lain, reputasi auditor, reputasi underwriter, persentase saham yang ditawarkan kepada publik, umur perusahaan, profitabilitas perusahaan (ROA), solvability ratio, ukuran perusahaan, kepemilikan pemerintah, dan

financial leverage. Sampel yang digunakan

oleh Gerianta dari tahun 1990 sampai dengan tahun 2001, ditemukan adanya 300 perusahaan yang melakukan IPO, namun dari 300 perusahaan hanya 215 perusahaan yang memenuhi syarat untuk dijadikan sampel penelitian. Hasil penelitian Gerianta menunjukkan bahwa reputasi underwriter dan profitabilitas perusahaan (ROA) berpengaruh terhadap underpricing.

Penelitian Suyatmin dan Sujadi (2006), menggunakan variabel independen yang dibagi menjadi dua bagian, keuangan dan non-keuangan. Variabel keuangan yang digunakan: laba per saham, profitabilitas perusahaan (ROA), current ratio, ukuran perusahaan, ukuran penawaran, dan financial leverage. Variabel non-keuangan yang digunakan: umur perusahaan, reputasi auditor, reputasi

underwriter, dan jenis industri. Tahun yang

digunakan oleh Suyatmin dan Sujadi lebih sedikit dibandingkan oleh penelitian yang dilakukan Gerianta yaitu dari tahun 1999 sampai dengan 2003. Dengan jumlah sampel 49 perusahaan yang melaksanakan IPO pada tahun tersebut. Hasil penelitan ini menunjukkan bahwa current ratio dan reputasi

auditor, reputasi underwriter, dan jenis

industri berpengaruh terhadap tingkat

underpricing.

Kustiantari (2012), menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi underpricing

saham pada penawaran saham perdana di Bursa Efek Indonesia. Hasil penelitiannya menyimpulkan bahwa reputasi underwriter, ukuran perusahaan dan umur perusahaan serta tujuan perusahaan melakukan IPO berpengaruh terhadap underpricing.

Arman, Agus (2012), meneliti Pengaruh Umur dan Ukuran Perusahaan, Reputasi

Underwriter, dan Return on Equity Terhadap

Tingkat Underpricing Saham di Bursa Efek Indonesia. Hasil penelitiannya menyimpulkan bahwa umur dan ukuran perusahaan, ROA serta reputasi underwriter berpengaruh negatif terhadap tingkat underpricing. Berdasar landasan teori dan penelitian terdahhulu maka disusun hipotesis penelitian ini:

H1: Reputasi under writer, usia dan ukuran perusahaan berpengaruh negative terhadap tingkat underpricing.

METODA

PENELITIAN

Jenis dan Sumber Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder, yaitu data yang sumbernya diperoleh dari Jakarta Stok

Exchange (JSX), Indonesian Capital Market Directory (ICMD) dan prospektus

perusahaan-perusahaan yang melakukan IPO.

Sampel Penelitian

Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah perusahaan yang melakukan penawaran saham perdana (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI). Periode pengamatan dilakukan dari 2009-2014 dimana terdapat 136 perusahaan yang melakukan penawaran perdana (IPO). Pemilihan periode ini didasarkan pada ketersediaan data dan setelah krisis th 2008.

Sampel yang diambil untuk keperluan penelitian ini menggunakan metode purposive

sampling. Kualifikasi sampel digunakan dengan kriteria sebagai berikut: 1) Perusahaan melakukan penawaran saham perdana (IPO) pada periode 2009-2014. 2) Perusahaan mengalami underpricing pada penawaran perdana (IPO). 3) Memiliki informasi atau ketersedian data yang digunakan dalam penelitian.

(6)

142

Penelitian ini menggunakan variabel dependen dan variabel independen yang masing-masing dijelaskan sebagai berikut :

Variabel Dependen

Variabel dependen atau variabel terikat dalam penelitian ini adalah underpricing.

Underpricing dinilai dengan initial return

yang merupakan return awal yang diterima oleh investor. Underpricing diukur dengan menggunakan rumus dari Gerianta (2008), yaitu persentase selisih antara harga penutupan hari pertama di pasar sekunder (P1) dan harga penawaran perdana / offering price (P0) dibagi harga penawaran perdana. Dituliskan dalam rumus:

Keterangan:

UP: Under Pricing

P1: Harga saham penutupan pada hari pertama di pasar sekunder

P0: Harga saat IPO Variabel Independen

Reputasi Underwriter

Pengukuran reputasi underwriter

menggunakan metode pengukuran yang dilakukan oleh Suyatmin dan Sujadi (2006 ) dengan menggunakan total nilai penjaminan yang dilakukan oleh underwriter pada periode pengamatan tahun 2009-2014. Semakin besar nilai penjaminan yang dilakukan oleh

underwriter menunjukan bahwa underwriter

memiliki reputasi yang baik, dikarenakan dengan nilai penjaminan yang besar menunjukkan bahwa underwriter sanggup untuk menanggung resiko tuntutan hukum dari emiten atas tidak terjualnya saham yang dijaminkan. Rata-rata nilai total penjaminan emisi yang dilakukan oleh underwriter digunakan sebagai nilai cut off untuk membedakan underwriter bereputasi baik dengan underwriter bereputasi kurang baik. Semakin besar total nilai penjaminan yang dilakukan oleh underwriter menunjukkan bahwa underwriter memiliki reputasi yang tinggi. Reputasi underwriter adalah variabel independen yang berukuran kategori yang

dinyatakan sebagai variabel dummy dengan memberi nilai 0 dan 1.

Dalam penelitian ini yang digunakan sebagai ukuran reputasi underwriter adalah ranking yang berdasarkan versi Majalah Investasi. Penulis memberikan skala 1 jika perusahaan IPO menggunakan penjamin emisi yang terdiri dari Danareksa, Ciptadana, Bahana, Trimegah, Usaha Bersama dan Lippo Sekuritas. Penulis memberikan nilai 0 untuk penjamin emisi lainnya.

Ukuran Perusahaan

Ukuran perusahaan diproksi menggunakan logaritma natural total aktiva perusahaan pada periode terakhir sebelum perusahaan melakukan IPO.

Umur Perusahaan

Umur perusahaan adalah lamanya perusahaan beroperasi, yaitu sejak perusahaan itu didirikan sampai dengan saat perusahaan melakukan IPO.

Age = Tahun IPO – Tahun Perusahaan berdiri

Metode Analisis Data

Metode analisis yang digunakan untuk menguji faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat underpricing adalah model regresi berganda (multiple regression). Analisis ini bertujuan untuk menguji pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen. Model persamaan regresi adalah sebagai berikut : Y = α0 + β1X1 - β2X2+ β3 X3 + e Keterangan : Y : Underpricing X1 : Reputasi Underwriter X2 : Ukuran perusahaan X3 : Umur Perusahaan α0 : Konstanta e : error term β : Koefisien Regresi

HASIL

PENELITIAN

(7)

143 Dari periode pengamatan penelitian

yang dilakukan dari tahun 2009–2014, diperoleh sebanyak 136 sampel perusahaan yang melakukan IPO. Berdasar purposive

sampling, 16 (12% dari seluruh observasi)

sampel dikeluarkan karena mengalami

overpricing. Dari 120 perusahaan yang masih

tersisa (136 perusahaan - 16 perusahaan), ada 19 (16%) perusahaan yang tidak memiliki data yang lengkap, sehingga total sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 101 (74%) perusahaan. Teridentifikasi bahwa 74% perusahaan yang go public mengalami

underpricing. Hal ini berarti penentuan harga

saat perusahaan melakukan IPO belum sesuai dengan nilai sewajarnya atau nilai intrinsic. Penentuan harga di pasar perdana lebih rendah sehingga ketika saham ditransaksikan pada hari pertama di pasar sekunder direspon positif oleh investor dengan melakukan permintaan/ pembelian. Karena respon positif yang cukup besar ini menyebabkan harga saham naik. Oleh karena itu ada kemungkinan 74% investor mendapat return bila dia membeli saham di pasar perdana kemudian dijual di pasar sekunder pada hari pertama transaksi.

Perusahaan yang tidak didapat data secara lengkap ada 16%. Hal ini menunjukkan adanya ketidakpastian bagi investor untuk mendapatkan return karena membeli saham di pasar perdana. Perushaan yang mengalami

overprice dan fairly sebesar 12%. Hal ini

menunjukkan 12% perusahaan yang melakukan IPO mengalami penurunan harga di pasar sekuder pada hari pertama ditransaksikan dan atau tidak mengalami perubahan harga di pasar sekunder pada hari pertama ditransaksikan sebesar 12% perusahaan dari semua perusahaan yang melakukan IPO. Investor apabila membeli saham di pasar perdana ada kemungkinan 12% mengalami kerugian atau minimal tidak mendapatkan return (karena harga tidak mengalami perubahan) bila dijual di pasar sekunder pada hari pertama.

Gambaran data yang diolah untuk dianalisis dapat dilihat dari hasil statistik deskriptif dalam tabel 1. Dari tabel 1 di atas terlihat bahwa jumlah data yang diolah untuk analisis ada 101 data atau 101 perusahaan. Rata-rata perusahaan mengalami underpricing sebesar 0,47% dari harga saham di pasar perdana (harga IPO). Paling besar perusahaan

mengalami underpricing sebesar 4,80%. Hal ini berarti harga saham perusahaan mengalami kenaikkan harga ketika dijual di pasar sekunder untuk pertama kalinya naik 4,80% dari harga saat IPO. Paling kecil perusahaan mengalam kenaikkan harga di pasar sekunder di hari pertama ditransaksikan sebesar 0,02%. Adanya underpricing ini menunjukkan, apabila calon investor membeli saham di pasar perdana dimungkinkan 74% (perusahaan yang mengalami underprice dari total perusahaan

go public) mendapatkan return rata-rata

0,47%, minimal mendapat return 0,02% dan maksimal 4,8%, apabila saham yang dibeli di pasar perdana langsung dijual di pasar sekunder pada hari pertama ditransaksikan.

Tabel 1 Statistik Deskriptif

Variabel N Min Max Mean

Undprice 101 .02 4.8 .473 Undwriter 101 .00 1.0 .316 Ukuran Perusahaan 101 23.00 33.0 26.789 Umur Perusahaan 101 2.00 108.0 16.842 Valid N (listwise) 101

Sumber: Data diolah

Rata-rata nilai underwiter 0,3 (lebih kecil dari 0,5) menunjukkan bahwa sebagian besar calon emiten dalam proses go public perusahaan lebih banyak atau cenderung memilih underwriter yang memiliki reputasi kurang baik. Underwriter yang yang memiliki reputasi baik adalah underwriter yang masuk dalam ranking yang berdasarkan versi Majalah Investasi. Underwriter tersebut terdiri dari Danareksa, Ciptadana, Bahana, Trimegah, Usaha Bersama dan Lippo Sekuritas. Dalam hal ini berarti lebih banyak emiten yang menggunakan underwriter selain underwriter yang masuk dalam ranking tersebut.

Rata-rata perusahaan yang melakukan go publik memiliki aktiva tetap sebesar 26.7895. Karena nilai rata-ratanya lebih kecil dari nilai tengahnya maka menunjukkan bahwa lebih banyak perusahaan yang berukuran kecil yang go public dibanding perusahaan yang berukuran besar.

Rata-rata perusahaan melakukan go publik setelah perusahaan tersebut berdiri

(8)

144

selama 16,84 tahun. Paling cepat perusahaan melakukan go public setelah berdiri selama 2 th. Hal ini sesuai dengan aturan go public, bahwa perusahaan yang akan go public harus memiliki keuntungan minimal 2th berturut-turut sebelum perusahaan mencatatkan dirinya untuk proses go public. Perusahaan yang paling lama berdiri sebelum go public sudah berusia 108 tahun. Ini adalah PT. BRI yang memang sudah berdiri sebelum Indonesia merdeka (sejak jaman penjajahan Belanda yaitu tahun 1895).

Uji Hipotesis

Untuk menguji hipotesis yang berbunyi: reputasi under writer, usia dan ukuran perusahaan berpengaruh negatif terhadap tingkat underpricing, maka dilakukan regresi berganda. Setelah dilakukan regresi berganda untuk mendapatkan hasil regresi yang BLUE dan model yang tepat maka dilakukan uji asumsi klasik dan perbaikan model. Dari uji asumsi klasik diketahui bahwa model persamaan yang digunakan tidak terbebas dari penyakit heterokesdastisitas. Untuk mengatasi hal tersebut, maka digunakan regresi model WLS. Dengan model WLS maka semua uji asumsi klasik bisa lolos. Oleh karena itu model regresi yang digunakan untuk uji hipotesis adalah regresi dengan model Weigted

Least Square (WLS). Hasil uji regresi dengan

menggunakan WLS dapat dilihat dalam tabel 2 di bawah ini:

Tabel 2 Hasil Uji Pengaruh

Variabel Beta t-hitung Under Writer -1,230 -2,371 Ukuran Perusahaan -0,319 -3,166 Umur Perusahaan -0,025 -1,160

Sumber: Data diolah

Keterangan: *** signifikan pada alfa 1%

** signifikan pada alfa 5% Dari tabel 2 di atas terlihat bahwa under writer dan ukuran perusahaan berpengaruh negatif terhadap underpricing. Umur perusahaan berdiri tidak berpengaruh terhadap besarnya

underpricing perusahaan.

PEMBAHASAN

Underwriter berpengaruh negatif terhadap underpricing. Hal ini berarti bila calon emiten

menggunakan underwriter yang semakin baik reputasinya maka tingkat underprice saham semakin kecil. Underwriter yang memiliki reputasi baik kemungkinan dia sudah berpengalaman dengan baik dalam menjamin perusahaan yang akan go public. Semakin berpengalaman maka underwriter tersebut dapat memberikan saran dengan lebih baik dalam penentuan harga saat IPO. Penentuan harga semakin baik, bila harga yang ditetapkan semain mendekati harga intrinsiknya. Ketika harga IPO mendekati harga intrinsiknya, maka saham tersebut saat dijual di pasar sekunder dan hanya mengalami sedikit kenaikkan harga. Investor dalam merespon saham yang sudah mendekati harga intrinsiknya tidak berlebihan, sehingga kenaikan harga saham di pasar sekunder juga tidak terlalu tinggi.

Apabila investor memegang saham dalam jangka pendek (mendapat capital gain), bukan utuk investasi jangka panjang, maka calon investor perlu memperhatikan

underwriter perusahaan tersebut. Investor

perlu memilih underwriter selain Danareksa, Ciptadana, Bahana, Trimegah, Usaha Bersama dan Lippo Sekuritas. Apabila underwriternya adalah kelima underwriter tersebut, maka kemungkinan capital gain yang diterima akan kecil karena penentuan harga saat IPO sudah mendekati harga intrinsiknya. Hasil penelitian ini mendukung penelitian Gerianta (2008), penelitian Suyatmin dan Sujadi (2006), serta penelitian Arman, Agus (2012) yang menyimpulkan bahwa reputasi underwriter berpengaruh negatif terhdap underpricing.

Ukuran perusahaan berpengaruh negatif terhadap undepricing. Semakin besar perusahaan yang go public, maka kemungkinan terjadi under pricing semakin kecil. Hal ini dimungkinkan karena bila perusahaan semakin besar maka dia memiliki daya tawar dalam penentuan harga perdana semakin kuat. Perusahaan berusaha menawar penentuan harga yang tinggi supaya mendapat pemasukkan dana semakin banyak sesuai dengan kebutuhannya. Semakin kecil perusahaan, maka daya tawarnya semakin lemah, sehingga semakin kecil perusahaan cenderung mengikuti penentuan harga yang

(9)

145 ditetapkan oleh underwriter. Apabila

underwriter yang digunakan dalam bentuk full commitment, maka underwriter ada kemungkinan menentukan harga serendah mungkin. Underwriter full commitment

menentukan harga rendah mengingat konsekuensi yang harus ditanggungnya cukup berat, yaitu apabila saham yang ditawarkan tidak terserap oleh pasar, maka underwriter tersebut harus membeli semua sisa saham yang tidak terserap pasar. Penelitian ini tidak mendukung penelitian Gerianta (2008) tetapi mendukung penelitian Arman, Agus (2012).

Implikasi hasil penelitian ini bagi investor adalah apabila investor menginginkan

capital gain yang besar ketika membeli saham

IPO dan akan dijual di pasar sekunder pada hari pertama, maka investor disarankan untuk membeli saham perusahaan kecil. Saham perusahaan besar tidak akan memberikan

capital gain yang cukup besar.

Umur perusahaan tidak berpengruh terhadap underpricing. Lama perusahaan berdiri dan pengalaman perusahaan ternyata tidak mempengaruhi besar kecilnya

underpricing. Implikasi ini bagi investor

adalah, investor sebaiknya membeli saham perusahaan yang sedang IPO tidak perlu memperhatikan usia perusahaan. Penelitian ini mendukung penelitian Gerianta (2008) serta penelitian Suyatmin dan Sujadi (2006).

KESIMPULAN,

KETERBATASAN,

DAN

SARAN

Simpulan

Dari hasil olah data dan analisis maka dapat disimpulkan bahwa di Bursa Efek Indonesia untuk Perioda 2009 sampai dengan 2014 terjadi fenomena underpricing untuk

perusahaan yang melakukan IPO sebesar 74%. Faktor yang mempengaruhi underpricing adalah variable reputasi under writer dan ukuran perusahaan berpengaruh negatif. Variable usia perusahaan tidak berpengaruh terhadap under pricing. Semakin baik reputasi

under writer dan semakin besar perusahaan

maka tingkat under pricingnya semakin kecil. Lama perusahaan berdiri tidak mempengaruhi besar-kecilnya underpricing.

Keterbatasan Penelitian

Penelitian ini tidak dapat mendapatkan keseluruhan data yang diperlukan. Ada 16% sample yang seharusnya digunakan dalam penelitian terpaksa harus dikeluarkan karena peneliti tidak mendapatkan data yang akurat.

Saran

Dari hasil analisis maka disarankan: 1) Penelitian selanjutnya perlu meneliti jenis underwriter, (fullcomitment atau best effort) mempengaruhi underprice atau tidak. Hal ini mengingat bahwa underwriter fullcomitment biasanya berusaha menentukan harga IPO semakin rendah, karena konsekuensi yang harus ditanggungnya cukup besar apabila saham emiten yang dijaminnya tidak terjual semua (harus membeli semua saham yang tidak terjual). 2) Bagi investor bila menginginkan return cukup tinggi di hari pertama saham IPO ditransaksikan di pasar sekunder, maka sebaiknya membeli saham perusahaan yang tidak menggunakan

underwriter yang reputasinya cukup baik

(Danareksa, Ciptadana, Bahana, Trimegah, Usaha Bersama dan Lippo Sekuritas). Selain

underwriter tersebut, ada kemungkinan investor mendapat return cukup tinggi di hari pertama perdagangan di pasar sekunder.

DAFTAR

REFERENSI

Arman, A. 2012. Pengaruh Umur dan Ukuran Perusahaan, Reputasi Underwriter, dan Return on Equity Terhadap Tingkat Underpricing Saham di Bursa Efek Indonesia. http://repository.uksw.edu/ handle/123456789/128.

Bachtiar, A. W. 2012. Analisis

variabel-variabel yang mempengaruhi underpricing pada saat IPO di Bursa Efek Indonesia . Semarang: Diponegoro

University.

Chorruk, J., dan Worthington, A. 2010. New evidence on the pricing and performance of initial public offerings in Thailand,

(10)

146

1997-2008. Emerging Markets Review . 11. 285-299.

Darlis, Edfan dan Zirman 2010. Pengaruh Informasi Akuntansi dan Non Akuntansi Terhadap Kecenderungan Underpricing: Studi Pada Perusahaan Yang Melakukan Initial Publik Ofering di Bursa Efek Indonesia. Fakultas Ekonomi. Universitas Jember

Gerianta, W. 2008, Penyebab Underpricing Pada Penawaran Saham Perdana Di Bursa Efek Jakarta. Media AUDI Jurnal

Akuntansi dan Bisnis, 3 (2)

Jogiyanto 2015. Teori Portofolio dan Analisis

Investasi. Edisi 5. BPFE. Yogyakarta

Kristiantari, I Dewa Ayu. (2012). Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Underpricing Saham Pada Penawaran Saham Perdana DI Bursa Efek Indonesia.

Tesis. Program Pasca Sarjana. Universitas Udayana. Denpasar

Lutfianto, Ary Sukma. 2013. Determinan Initial Return Saham Go Public Tahun 2006 – 2011. Jurnal Ilmu Manajemen, 1(1), hal.364-376.

Ratnasari dan Hudiwinarsih. 2013. Analisis Pengaruh Informasi Keuangan, Non Keuangan serta Ekonomi Makro Terhadap Underpricing Pada Perusahaan Ketika IPO. Jurnal Buletin Studi

Ekonomi, 18(2), hal.85-97.

Riyadi, R. 2013. Pengaruh Reputasi Underwriter, Ukuran Perusahaan, Umur Perusahaan, Profitabilitas Terhadap Underpricing Saham Pada Penawaran Umum Perdana (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI) Periode 2009-2012.

Jurusan Manajemen. Fakultas Ekonomi.

Universitas Riau.

Suyatmin dan Suyadi. 2006. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Underpricing Pada Penawaran Umum Perdana Di Bursa Efek Jakarta. Jurnal manajemen dan

Referensi

Dokumen terkait

Dalam menganalisis permasalahan dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teori konflik dengan turunannya berupa teori SAT (Source, Accelerator, Trigger) Ichsan

Pada usahatani tomat di Desa Tonsewer, biaya tetap adalah biaya pajak, sedangkan biaya variable meliputi biaya pestisida, tenaga kerja dan angkut.untuk lebih jelas

selain dehidrasi, sakit kepala, mual, dan detak jantung yang tidak normal, dehidrasi yang parah dapat menyebabkan ginjal dan jantung berhenti bekerja.Eritropoetin dan menyuntikkan

Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga dapat terselesaikannya skripsi dengan judul “HUBUNGAN ANTARA FAKTOR INDIVIDU DAN POSISI DUDUK

Berdasarkan dari penilaian proses dan hasil yang telah dengan menggunakan interval kemampuan yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya. Nilai kemampuan menyanyikan

Analisis kandungan kimia mata air panas di daerah Pariangan dilakukan sebagai upaya penyelidikan potensi panas bumi tahap awal, dengan cara mengambil enam titik

datar Rambatan Simawang 101 1310314009 Nur izzah atirah binti hardinur Perempuan Kabupaten tanah Rambatan Simawang... Ivan pratama zebua Laki-laki Kabupaten padang 2

Sehingga Olahraga pendidikan merupakan pendidikan jasmani yang dilaksanakan sebagai bagian proses pendidikan yang teratur dan berkelanjutan untuk memperoleh