• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH JENIS KEMASAN DAN PERIODE SIMPAN TERHADAP VIABILITAS BENIH BEBERAPA VARIETAS PADI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENGARUH JENIS KEMASAN DAN PERIODE SIMPAN TERHADAP VIABILITAS BENIH BEBERAPA VARIETAS PADI"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH JENIS KEMASAN DAN PERIODE SIMPAN TERHADAP VIABILITAS BENIH BEBERAPA VARIETAS PADI

IMPACT OF CHOOSEN PACKAGE AND STORAGE PERIOD ON SEVERAL RICE SEED VIABILITY

Idaryani 1,3, Suriany 1, dan Arman Wahab 2 1

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sulawesi Selatan, Jl. Perintis Kemerdekaan Km 17,5 Makassar,

2

Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP) Gowa, 3

e-mail: [email protected]

ABSTRAK

Penyimpanan benih di daerah tropis sering mengalami kendala terutama disebabkan karena masalah kelembaban yang tinggi dan fluktuasi suhu. Benih bersifat higroskopis dan kadar airnya selalu berkeseimbangan dengan kelembaban nisbi di sekitarnya. Oleh karena itu dalam penyimpanan benih pemilihan materi kemasan yang disesuaikan dengan tipe benih dan periode simpan sangat penting agar tidak mengalami perubahan selama penyimpanan dan viabilitas benih dapat dipertahankan. Tujuan percobaan adalah untuk mengetahui pengaruh jenis kemasan pada beberapa varietas terhadap viabilitas benih padi pada periode simpan yang sesuai. Rancangan yang digunakan adalah rancangan petak-petak terpisah dengan rancangan acak lengkap (RAL), dengan petak utama adalah varietas, anak petak adalah periode simpan, dan anak-anak petak adalah jenis kemasan. Hasil percobaan menunjukkan bahwa perlakuan jenis kemasan tidak memberikan perbedaan yang nyata dari seluruh parameter yang diamati. Berbeda dengan periode simpan yang memberikan perbedaan yang nyata pada semua parameter yang diamati. Interaksi perlakuan periode simpan dengan jenis kemasan, serta interaksi perlakuan antara periode simpan dengan jenis kemasan dan varietas juga menunjukkan adanya perbedaan yang nyata pada seluruh parameter yang diamati.

Kata kunci: Jenis kemasan, periode simpan, viabilitas benih

ABSTRACT

Seed storage in tropical land has many problems, especially because high humidity and temperature fluctuation. The seed has hygroscopic nature and always balance in water level with relative humidity around it. That is way in seed storage, choosen package which is suitable with seed type and storage periods were very important so it could not change during storage with continuous seed viability. The aims of this trial is to know the package impact of many varieties against rice seed viability during suitable storage period. By using split-split plot design with randomized complete design, with main plot is variety, sub plot is storage period, and tertiery plot is packaging type. The results showed that packaging type have not significant different from all parameters. But the storage period have a significant different to all parameters. Interactions between treatments storage period and packaging type, also interactions between storage period with packaging type and variety showed a significant different to all parameters.

(2)

PENDAHULUAN

Benih bermutu tinggi mencakup mutu ge-netis, mutu fisik, dan mutu fisiologis me-merlukan penanganan yang terencana de-ngan baik sejak di lapade-ngan, pengolahan, penyimpanan, dan distribusi. Dalam pro-duksi benih penyimpanan merupakan ta-hap kegiatan yang tidak bisa dihilangkan. Benih yang telah selesai dibersihkan dan dikemas selalu memerlukan penyimpanan dari mulai beberapa hari sampai beberapa bulan, sebelum akhirnya benih tersebut sampai ke tangan petani.

Masalah dalam penyimpanan benih sering kali merupakan kendala utama yang meng-hambat penyediaan benih bermutu. Daya berkecambah dan viabilitas benih dapat menurun dengan cepat selama penyim-panan, terutama di daerah-daerah tropis seperti Indonesia.

Benih bersifat higroskopis (mudah menye-rap air) dan selalu berusaha mencapai kondisi equilibrium dengan lingkungan-nya. Apabila ruangan tempat penyimpan-an benih mempunyai kadar air ypenyimpan-ang lebih tinggi daripada kadar air benih, maka be-nih akan menyerap air dari udara sehingga kadar air benih juga meningkat (Sadjad, 1994).

Penyimpanan benih pada ruang terbuka akan mengakibatkan benih cepat menga-lami kemunduran atau daya simpannya menjadi singkat akibat fluktuasi suhu dan kelembapan. Hal ini karena ruang simpan terbuka berhubungan langsung dengan lingkungan. Oleh karena itu, benih yang disimpan dalam ruang terbuka perlu di-kemas dengan bahan di-kemasan yang tepat agar viabilitas dan vigor benih dapat di-pertahankan.

Ketahanan benih disimpan tergantung je-nis cara dan tempat penyimpanan. Tempat penyimpanan bisa dari plastik atau kertas. Kertas banyak digunakan untuk penge-masan benih. Pada dasarnya kantong ker-tas dirancang untuk menyimpan benih,

tidak untuk melindungi viabilitas benih. Plastik gula bening polietilen cukup baik sebagai pengemas jangka pendek. Pada kondisi penyimpanan yang baik, panas hasil respirasi tidak mempengaruhi kondi-si benih di penyimpanan. Tetapi pada kon-disi lembab, peningkatan panas hasil respirasi menimbulkan kerusakan benih simpan.

Respirasi merupakan proses oksidasi, se-makin lama respirasi berlangsung, sema-kin banyak cadangan makanan benih yang digunakan. Salah satu hasil sampingan respirasi adalah karbondioksida. Pada sis-tem yang tertutup, akumulasi karbon-dioksida dapat menghambat proses respi-rasi. Penghambatan respirasi oleh akumu-lasi karbon-dioksida sangat menguntung-kan, sehingga tercapai keadaan yang kar-bondioksidanya menggantikan udara da-lam sistem penyimpanan tersebut. Kon-sentrasi karbondioksida terakumulasi da-pat menghambat respirasi kedelai sekitar 12–14% (Justice dan Bass, 1979). Tujuan percobaan adalah untuk mengetahui pe-ngaruh jenis kemasan pada beberapa va-rietas terhadap viabilitas benih padi pada periode simpan yang sesuai.

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat

Percobaan dilakukan pada bulan Februari sampai April 2010 di Laboratorium Ilmu dan Teknologi Benih, Institut Pertanian Bogor.

Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan adalah benih padi dari 8 varietas (Inpari-1, Mekongga, Ci-geulis, Ciherang, Inpara-1, Towuti, Inpara 3, dan Cirata), bahan kemas (plastik dan kertas), bahan untuk pengujian viabilitas benih (kertas merang, lembaran plastik, dan kertas label), sodium hipoklorat 0,5%, dan etanol 95%.

(3)

Alat yang digunakan terdiri dari seperang-kat alat pengukur kadar air benih (tim-bangan, oven, eksikator, dan kertas pem-bungkus), alat pengecambah benih (APB) IPB 72-1, alat pengukur suhu dan RH ruangan, tempat untuk menyimpan benih di ruangan terbuka (suhu 280C–320C), serta alat pendukung lainnya.

Metode

Percobaan menggunakan rancangan split-split plot dengan rancangan acak lengkap

(RAL) dengan petak utama adalah va-rietas padi, anak petak adalah periode simpan, dan anak-anak petak adalah jenis kemasan.

Terdapat 8 macam varietas padi, 5 periode simpan, dan 2 jenis kemasan, seperti di-sajikan pada Tabel 1. Setiap perlakuan ter-diri dari 3 ulangan dan setiap ulangan di-ambil 50 sampel benih. Dengan demikian terdapat 4.000 benih yang digunakan.

Tabel 1. Perlakuan pada unit percobaan

Varietas Lama penyimpanan

(minggu) Jenis kemasan

Inpari-1 0 Kertas Mekongga 3 Plastik Cigeulis 6 Ciherang 9 Inpara-1 12 Inpara-3 Towuti Cirata

Parameter yang diamati

1. Daya Berkecambah (DB) menggam-barkan viabiltas potensial benih, di-hitung berdasarkan kecambah normal (KN) hitungan pertama dan kedua dari seluruh benih yang ditanam. Untuk benih padi, hitungan pertama adalah 5

hari dan hitungan keduanya 7 hari. Uji viabilitas benih merupakan uji daya kecambah pada kondisi optimum. Kriteria kecambah normal adalah ke-cambah yang memiliki kelengkapan struktur penting yaitu hipokotil, epiko-til, kotiledon, plumula, dan radikula.

100% x diuji yang benih Jumlah kedua dan pertama hitungan normal h berkecamba benih Jumlah DB

2. Potensi Tumbuh Maksimum (PTM) menggambarkan informasi kemung-kinan kemampuan benih untuk

tum-buh menjadi tanaman normal dan ber-produksi optimum meskipun keadaan bio-fisik sub optimum.

(4)

100% x diuji yang benih Jumlah kedua hitungan sampai tumbuh yang kecambah Jumlah PTM

3. Indeks Vigor (IV) menggambarkan vi-gor kecepatan tumbuh, dihitung

berda-sarkan persentase kecambah normal pada hitungan pertama.

100% x diuji yang benih Jumlah pertama hitungan pada normal h berkecamba benih Jumlah IV

4. Kadar air dihitung dengan metode gra-vimetrik berdasarkan berat basah benih. Benih langsung ditimbang se-bagai benih basah, sedangkan benih kering ditimbang setelah dioven 105oC selama 24 jam. 100% x basah Berat kering Berat -basah Berat KA

Data hasil penelitian diuji secara statistik dengan Anova 95%, dan apabila terdapat beda nyata, dilakukan uji lanjut DMRT 5% dengan software SAS.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil analisis ragam pada pengamatan parameter daya berkecambah menunjuk-kan adanya perbedaan yang nyata pada perlakuan periode simpan secara tunggal, interaksi dengan varietas, interaksi dengan jenis kemasan dan interaksi varietas– periode simpan dan kemasan. Rekapitulasi hasil analisis ragam disajikan pada Tabel 2.

Perlakuan jenis kemasan tidak memberi-kan perbedaan yang nyata dari seluruh parameter yang diamati. Berbeda dengan periode simpan yang memberikan perbe-daan yang nyata pada semua parameter yang diamati. Interaksi varietas dan jenis kemasan juga menunjukkan adanya

perbe-daan yang nyata pada seluruh parameter yang diamati. Sedangkan interaksi ke-masan dan periode simpan berbeda nyata pada seluruh parameter kecuali pada po-tensi tumbuh maksimum (PTM). Interaksi antara varietas, jenis kemasan, dan perio-de simpan tidak menunjukkan perbedaan yang nyata pada setiap parameter kecuali parameter indeks vigor (IV).

Berdasarkan Tabel 3 dapat dilihat bahwa Varietas Ciherang yang disimpan dalam plastik dan disimpan 0 minggu memiliki daya berkecambah tertinggi sebesar 100%, sedangkan varietas Inpara 3 yang disim-pan dalam kertas selama 12 minggu me-miliki daya berkecambah paling rendah. Varietas Inpara 3 baik yang disimpan dalam plastik maupun kertas dan disimpan 0–12 minggu memiliki daya berkecambah yang rendah.

Dari Tabel 4 dapat diketahui bahwa po-tensi tumbuh maksimum benih tertinggi terdapat pada varietas Cigeulis yang di-simpan dalam plastik, Mekongga yang disimpan pada kertas dan Ciherang yang disimpan baik dengan plastik maupun ker-tas, (0 minggu), serta Mekongga yang di-simpan dalam kertas selama 9 minggu. Sedangkan potensi tumbuh maksimum terendah terdapat pada Inpara 3 yang di-simpan dalam kertas selama 12 minggu. Varietas Inpara 3 baik yang disimpan da-lam plastik maupun kertas dan disimpan 0–12 minggu memiliki potensi tumbuh maksimum yang rendah.

(5)

Tabel 2. Rekapitulasi analisis ragam DB, IV dan PTM 8 varietas padi pada perlakuan jenis bahan kemasan dan periode simpan.

Unit percobaan/Pengaruh Daya berke- Parameter

cambah (%) Potensi tumbuh maksimum (%) vigor (%) Indeks Benih (%) Kadar air Pengaruh berbagai varietas, bahan kemasan, dan

periode simpan

- varietas * * * *

- jenis bahan kemasan ns ns ns ns

- periode simpan * * * *

- interaksi varietas dan jenis kemasan * * * *

- interaksi kemasan dan periode simpan * * * ns

- interaksi varietas, kemasan, dan periode simpan ns ns * ns

Pengaruh berbagai varietas * * * ns

Pengaruh periode simpan setiap varietas * * * *

- Mekongga ns * * * - Cirata * * * * - Cigeulis * * * * - Towuti * ns * * - Inpara 1 * * * ns - Ciherang * * * * - Inpari 1 * * * * - Inpara 3 * * * *

Pengaruh jenis kemasan setiap varietas

- Mekongga ns * ns ns - Cirata ns ns ns ns - Cigeulis ns ns ns ns - Towuti ns ns ns ns - Inpara 1 ns * ns ns - Ciherang ns ns ns ns - Inpari 1 ns ns ns ns - Inpara 3 ns ns ns *

Keterangan: ns : tidak berbeda nyata, sedangkan * : berbeda nyata pada ANOVA dan uji lanjut DMRT pada tingkat kepercayaan 95%

Dari nilai indeks vigornya, dapat diketahui bahwa indeks vigor tertinggi terdapat pada varietas Mekongga yang disimpan dalam plastik pada periode simpan 6 dan 12 minggu, sedangkan indeks vigor terendah terdapat pada Inpara 3 yang disimpan dalam kertas selama 12 minggu. Varietas Inpara 3 baik yang disimpan dalam plastik maupun kertasdan disimpan selama 0–12 minggu memiliki indeks vigor yang ren-dah (Tabel 5).

Dari nilai kadar air benihnya, dapat di-ketahui bahwa kadar air benih tertinggi terdapat pada varietas Inpara 3 yang di-simpan dalam plastik selama 9 minggu, sedangkan kadar benih terendah terdapat

pada varietas Ciherang yang disimpan da-lam kertas seda-lama 3 minggu. Semua varietas selama penyimpanan 12 minggu memiliki kadar air benih yang tinggi (Tabel 6).

Dari nilai kadar air benihnya, dapat dike-tahui bahwa kadar air benih tertinggi ter-dapat pada varietas Inpara 3 yang disim-pan dalam plastik selama 9 minggu, se-dangkan kadar benih terendah terdapat pada varietas Ciherang yang disimpan da-lam kertas seda-lama 3 minggu. Semua va-rietas selama penyimpanan 12 minggu memiliki kadar air benih yang tinggi (Tabel 6).

(6)

Tabel 3. Daya berkecambah (%) berbagai varietas pada periode simpan dan jenis kemasan

Periode simpan (minggu)

Jenis

kemasan Mekongga Cirata Cigeulis Towuti Varietas Inpara-1 Ciherang Inpari-1 Inpara-3 0 Plastik 92.00 a-h 95.19 a-h 97.33 a-d 92.53 a-h 97.33 a-d 100.00 a 90.00 b-k 59.33 m

kertas 95.97 a-f 96.00 a-f 98.67 ab 90.97 a-k 95.52 a-g 95.96 a-f 86.36 f-k 55.62 mn 3 Plastik 97.31 a-d 91.26 a-k 95.97 a-f 98.00 abc 95.33 a-g 87.88 d-k 93.33 a-h 71.79 l

kertas 97.33 a-d 98.00 abc 96.67 a-d 89.33 b-k 92.00 a-h 93.33 a-h 94.67 a-g 68.67 l 6 Plastik 96.67 a-d 95.33 a-g 83.33 j-k 94.00 a-h 88.56 c-k 88.00 d-k 89.33 b-k 47.63 n

kertas 96.67 a-d 91.33 a-k 88.00 d-k 92.00 a-h 94.00 a-h 90.00 b-k 88.67 c-k 50.35 n 9 Plastik 86.00 g-k 95.33 a-g 87.33 e-k 90.67 a-k 81.88 k 93.33 a-h 85.33 h-k 36.27 o kertas 97.33 a-d 84.00 i-k 90.58 a-k 92.61 a-g 95.33 a-g 83.13 j-k 89.29 b-k 30.91 12 Plastik 96.67 a-d 92.00 a-h 92.67 a-h 94.00 a-h 87.33 e-k 90.00 b-k 90.00 b-k 32.67 o

kertas 98.67 ab 89.33 b-k 95.33 a-g 90.67 a-k 92.00 a-h 90.67 a-k 88.00 d-k 16.67 p Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang sama pada baris dan kolom yang sama menun-jukkan tidak berbeda nyata pada ANOVA dan uji DMRT taraf kepercayaan 95%

Tabel 4. Potensi tumbuh maksimum (PTM) berbagai varietas pada periode simpan dan jenis kemasan Periode simpan ( minggu) Jenis kemas an Varietas

Mekongga Cirata Cigeulis Towuti Inpara-1 Ciherang Inpari-1 Inpara-3 0 Plastik 99.33 ab 98.64 abc 100.00 a 99.32 ab 98.67 abc 100.00 a 95.33 a-h 80.00 k

kertas 100.00 a 99.33 ab 99.33 ab 95.83 a-g 98.59 abc 100.00 a 95.90 a-g 81.88 jk 3 Plastik 97.31 a-e 96.00 a-g 97.98 a-d 99.33 ab 96.67 a-f 94.62 a-h 95.33 a-h 86.54 ij

kertas 97.33 a-e 99.33 ab 100.00 a 97.33 a-e 96.00 a-g 94.67 a-h 96.67 a-f 73.33 l 6 Plastik 98.67 abc 95.33 a-h 96.67 a-f 97.33 a-d 90.56 f-i 91.33 f-i 89.33 h-i 69.77 l

kertas 99.33 ab 94.00 a-h 96.00 a-g 98.67 abc 95.33 a-h 96.00 a-g 96.67 a-f 62.42 m 9 Plastik 98.00 a-d 98.67 abc 92.00 f-i 98.67 abc 89.95 f-i 94.67 a-h 98.67 abc 63.10 m kertas 100.00 a 93.33 b-h 97.31 a-e 97.32 a-d 98.67 abc 91.22 f-i 97.99 a-d 49.69 n 12 Plastik 97.33 a-e 96.00 a-g 96.67 a-f 98.67 abc 91.33 f-i 92.00 f-i 94.67 a-h 40.00 o kertas 99.33 ab 93.67 c-i 98.00 a-d 98.00 a-d 94.67 a-h 91.33 f-i 96.00 a-g 24.00 p Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang sama pada baris dan kolom yang sama

menun-jukkan tidak berbeda nyata pada ANOVA dan uji DMRT taraf kepercayaan 95%

Dari nilai daya berkecambah, potensi tum-buh maksimum, indeks vigor, dan kadar air benih (Tabel 3–6) menunjukkan ren-dahnya viabilitas dan tingginya kadar air benih varietas Inpara 3 yang disimpan dalam kertas selama 12 minggu. Hal ini menunjukkan bahwa pada varietas Inpara 3, semakin lama penyimpanan, dapat me-ningkatkan kadar air benih dan menurun-kan viabilitas benih. Oleh karena benih bersifat higroskopis (Yani, 2008), maka bila kelembaban nisbi udara tinggi, benih

akan menyerap air dari udara, sehingga semakin lama penyimpanan, kadar air be-nih meningkat. Jenis kemasan kertas ber-sifat lebih porous daripada plastik, sehing-ga kadar air benih menjadi meningkat. Kadar air benih yang meningkat ini akan meningkatkan respirasi, sehingga cadang-an makcadang-ancadang-an benih habis dcadang-an viabilitas benih menurun (Sutopo 2002).

Untuk memudahkan pembahasan, dilaku-kan uji faktor tunggal dari masing-masing perlakuan sebagai berikut:

(7)

Perbedaan Varietas

Perbedaan varietas mempengaruhi daya kecambah, potensi tumbuh maksimum, indeks vigor, dan kadar air benih padi (Tabel 7). Daya berkecambah tertinggi

terdapat pada varietas Mekongga, diikuti Cirata, Cigeulis, Towuti, Inpara 1, dan Ciherang, Inpari 1, dan Inpara 3. Dengan demikian daya kecambah tertinggi adalah Mekongga dan terendah adalah Inpara 3.

Tabel 5. Indeks Vigor (%) berbagai varietas pada periode simpan dan jenis kemasan

Periode simpan (minggu) Jenis kemas an Varietas

Mekongga Cirata Cigeulis Towuti Inpara-1 Ciherang Inpari-1 Inpara-3 0 Plastik 30.67 x-B 64.29 k-t 57.33 q-u 47,26 t-x 48.89 t-x 32.42 w-B 48.00 t-x 24.00 z-C kertas 49.11 t-w 56.50 r-v 45.33 u-y 38.89 v-z 33.34 w-A 45.40 u-y 48.74 t-x 32.15 w-B 3 Plastik 76.99 b-p 83.84 a-j 94.64 abc 95.33 ab 85.33 a-i 36.28 w-z 60.67 o-u 63.11 l-u

kertas 88.00 a-i 92.67 a-e 83.33 a-k 78.67 a-o 71.33 g-s 66.00 j-t 62.67 l-u 50.00 t-w 6 Plastik 96.67 a 94.00 a-d 63.33 l-u 72.67 a-g 69.09 i-s 36.29 w-z 88.67 a-h 34.88 w-A

kertas 90.67 a-f 84.00 a-j 81.33 a-l 66.00 j-t 76.00 c-q 76.67 b-p 61.33 n-u 28.22 y-C 9 Plastik 62.00 m-u 80.00 a-n 80.67 a-m 78.67 a-o 77.86 a-o 85.33 a-i 75.33 d-r 23.52 z-C

kertas 72.00 f-s 80.00 a-n 79.84 a-n 58.42 p-u 76.00 c-q 71.59 f-s 71.16 g-s 17.47 A-C 12 Plastik 93.33 a-e 74.67 e-r 90.67 a-f 72.67 f-s 80.67 a-m 85.33 a-o 55.33 s-v 15.33 B-C

kertas 96.67 a 76.67 b-p 95.33 ab 84.00 a-j 84.00 a-j 85.33 a-i 85.33 a-i 12.67 C Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang sama pada baris dan kolom yang sama

menun-jukkan tidak berbeda nyata pada ANOVA dan uji DMRT taraf kepercayaan 95%

Tabel 6. Kadar air benih (%) berbagai varietas pada periode simpan dan jenis kemasan

Periode simpan (minggu) Jenis kemas an Varietas

Mekongga Cirata Cigeulis Towuti Inpara-1 Ciherang Inpari-1 Inpara-3 0 Plastik 12,07 i-t 12,51 e-t 12,08 i-t 12,07 i-t 13,38 a-l 11,14 st 11,65 o-t 12,38 f-t

kertas 11,99 j-t 12,59 d-s 11,96 j-t 11,73 n-t 12,19 h-t 11,37 st 12,07 i-t 12,38 f-t 3 Plastik 11,93 j-t 12,67 d-s 11,97 j-t 11,38 rst 12,89 b-s 11,61 p-t 11,74 n-t 12,46 f-t kertas 11,73 n-t 12,39 f-t 11,66 o-t 11,77 l-t 12,37 f-t 10,70 t 11,62 p-t 11,33 st 6 Plastik 11,93 j-t 12,50 e-t 12,31 f-t 11,88 k-t 12,16 h-t 11,17 st 11,76 m-t 14,36 a-d

kertas 12,12 i-t 12,59 d-s 12,20 h-t 13,41 a-l 14,58 ab 11,38 q-t 11,96 j-t 12,28 g-t 9 Plastik 12,76 c-s 13,26 a-p 12,41 f-t 12,62 d-s 12,10 i-t 11,99 j-t 13,25 b-p 15,10 a

kertas 12,77 b-s 13,50 a-l 13,21 b-q 13,50 a-l 13,41 a-l 12,90 b-s 13,23 b-q 13,40 a-l

12 Plastik 13,68 a-k 14,56 abc 13,98 a-h 13,59 a-l 14,31 a-e 13,37 a-p 13,61 a-l 13,95 a-i

kertas 13,72 a-k 14,11 a-g 14,13 a-f 13,89 a-i 14,14 a-f 13,53 a-l 13,73 a-j 14,13 a-f Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang sama pada baris dan kolom yang sama

menun-jukkan tidak berbeda nyata pada ANOVA dan uji DMRT taraf kepercayaan 95%.

Apabila dilihat dari potensi tumbuh mak-simumnya, terlihat bahwa Inpara 3 meru-pakan varietas yang potensi tumbuh mak-simum terendah. Sedangkan 7 varietas lainnya, memiliki kemampuan tumbuh yang lebih tinggi. Dengan demikian

va-rietas Cirata, Cigeulis, Towuti, Inpara 1, Ciherang, dan Inpari 1 sebenarnya memi-liki kemampuan tumbuh yang sama de-ngan Mekongga (sebagai varietas dede-ngan daya tumbuh terbaik).

(8)

Ciherang dan Inpari 1 memiliki kecepatan tumbuh yang lambat, tetapi kemudian hanya Ciherang yang mampu mengejar ketertinggalannya, sehingga memiliki da-ya berkecambah da-yang tidak berbeda nda-yata dengan Mekongga, sedangkan Inpari 1 dapat mengejar ketertinggalannya tetapi kecambahnya banyak yang tidak normal, sehingga daya bekecambahnya lebih ren-dah daripada Mekongga.

Kadar air kritikal benih ortodoks sekitar 6% (Justice dan Bass 1976) atau sekitar 2–5% (Adimargono, 1997). Apabila kadar air kurang dari 6% dapat menyebabkan

cracking atau retak atau yang dikenal

de-ngan desiccation injury. Benih yang retak dapat menyebabkan uap air mudah masuk dan mempermudah serangan cendawan.

Tabel 7. Daya berkecambah (DB), potensi tumbuh maksimum (PTM), indeks vigor (IV), dan kadar air (KA) benih berbagai varietas benih padi

Parameter Mekongga Cirata Cigeulis Towuti Varietas Inpara-1 Ciherang Inpari-1 Inpara-3 DB (%) 95,46 a 92,78 ab 92,59 ab 92,48 ab 91,93 ab 91,23 ab 89,50 b 46,99 c

IV (%) 75,61 ab 78,67 a 77,18 a 70,92 abc 69,78 abc 64,84 c 65,72 bc 30,14 d PTM (%) 98,66 a 96,33 a 97,39 a 98,05 a 95,01 a 94,59 a 95,66 a 63,07 b KA (%) 12.47 b 13.07 a 12.59 b 12.58 b 13.15 a 11.92 c 12.46 b 13.17 a Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang sama pada baris yang sama menunjukkan tidak

berbeda nyata pada ANOVA dan uji DMRT taraf kepercayaan 95%

Gambar 1. Daya berkecambah, potensi tumbuh maksimum, dan indeks vigor setiap varietas benih padi

Cirata, Inpari 1, dan Inpara 3 memiliki ka-dar air benih lebih tinggi ka-daripada Me-kongga, Cigeulis, Towuti, Ciherang, dan Inpari 1 (Tabel 6 dan Gambar 2). Ting-ginya kadar air benih Inpara 3 (13,7%) dapat menjadi jawaban mengapa daya

ber-kecambah Inpara 3 paling rendah. Ber-dasarkan SNI (2003) benih padi dikatakan aman disimpan apabila kadar air benih padi maksimum 13%. Menurut Justice dan Bass (1979), kadar air benih yang tinggi dapat meningkatkan proses metabolisme,

(9)

sehingga respirasi meningkat. Proses res-pirasi akan menghabiskan cadangan ma-kanan dalam benih, sehingga benih men-jadi cepat mengalami kemunduran. Proses respirasi ini juga akan meningkatkan suhu, sehingga cendawan akan mudah tumbuh. Kondisi demikian menyebabkan daya sim-pan benih menjadi rendah, yang ditun-jukkan dengan rendahnya daya berkecam-bah benih Inpara 3.

Sebaliknya pada kadar air yang sangat rendah, katabolisme yang terjadi

berlang-sung lambat (Pammenter dan Berjak 2000). Pada benih ortodoks, air bebas sa-ngat mudah dihilangkan pada saat penge-ringan bahkan jika tidak dihilangkan akan mengakibatkan kemunduran cepat. Di ak-hir perkembangan tanaman pada benih ortodoks akan terjadi akumulasi cadangan makanan, pengurangan volume vakuola, didifferensiasi dan terhentinya aktivitas metabolisme seiring dengan terbentuknya mekanisme toleransi desikasi.

Gambar 2. Kadar air benih setiap varietas benih padi

Cirata dan Inpara 1 memiliki kadar air be-nih yang tinggi, tetapi memiliki daya ber-kecambah yang sama dengan Mekongga, sedangkan Inpari 1 memiliki kadar air benih sama dengan Mekongga, tetapi daya berkecambahnya lebih rendah daripada Mekongga. Hal ini menunjukkan bahwa penyebab rendahnya daya berkecambah ti-dak hanya ditentukan oleh tinggi rendah-nya kadar air, tetapi ada faktor lain yang ikut mempengaruhi.

Tidak terjadi perbedaan daya berkecam-bah dan indeks vigor semua varietas de-ngan adanya perbedaan jenis kemasan (Tabel 8). Perbedaan hanya terlihat pada potensi tumbuh maksimum varietas Me-kongga dan Inpara 1, dimana potensi

tum-buh maksimum kemasan kertas lebih ting-gi daripada kemasan plastik. Sementara itu pada perbedaan jenis kemasan hanya berpengaruh pada kadar air varietas Inpara 3, dimana kadar air benih yang disimpan pada plastik lebih tinggi daripada yang disimpan pada kertas.

Karakteristik Varietas Terhadap Per-bedaan Jenis Kemasan

Tidak terjadi perbedaan daya berkecam-bah dan indeks vigor semua varietas de-ngan adanya perbedaan jenis kemasan (Tabel 8). Perbedaan hanya terlihat pada potensi tumbuh maksimum varietas Me-kongga dan Inpara 1, dimana potensi tum-buh maksimum kemasan kertas lebih

(10)

tinggi daripada kemasan plastik. Semen-tara itu pada perbedaan jenis kemasan hanya berpengaruh pada kadar air varietas

Inpara 3, dimana kadar air benih yang disimpan pada plastik lebih tinggi dari-pada yang disimpan dari-pada kertas.

Tabel 8. Daya berkecambah (%), indeks vigor (%), dan potensi tumbuh maksimum (%) pada pendugaan daya simpan benih di berbagai varietas dan jenis kemasan

Parameter/

Jenis kemasan Mekongga Cirata Cigeulis Towuti Varietas Inpara-1 Ciherang Inpari-1 Inpara-3 1. DB (%) Plastik 93,73 a 93,83 a 91,33 a 93,84 a 90,09 a 91.84 a 89,60 a 49,54 a Kertas 97,19 a 91,73 a 93,85 a 91,12 a 93,77 a 90,62 a 89,40 a 44,44 a 2. PTM (%) Plastik 98,13 b 96,93 a 96,66 a 98,66 a 93,43 b 94,53 a 94.67 a 67,88 a Kertas 99,20 a 95,73 a 98,13 a 97,43 a 96,65 a 94,64 a 96,64 a 58,26 a 3. IV (%) Plastik 71,93 a 79,36 a 77,33 a 76,65 a 72,37 a 60,67 a 65,60 a 32,17 a kertas 79,29 a 77,97 a 77,03 a 65,20 a 68,13 a 69,00 a 65,85 a 28,10 a 4. KA (%) Plastik 12.47 a 13.10 a 12.55 a 12.31 a 12.97 a 11.86 a 12.40 a 13.65 a kertas 12.47 a 13..04 a 12.63 a 12.86 a 13.34 a 11.98 a 12.52 a 12.70 b Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan

tidak berbeda nyata pada ANOVA dan uji DMRT taraf kepercayaan 95%

Ketahanan benih disimpan tergantung tempat penyimpanan. Pada kondisi pe-nyimpanan yang baik, panas hasil respi-rasi tidak mempengaruhi kondisi benih di penyimpanan. Tetapi pada kondisi lem-bab, peningkatan panas hasil respirasi menimbulkan kerusakan benih simpan. Hal tersebut sesuai dengan Hertiningsih (2009) yang menjelaskan bahwa bahan kemasan yang baik yaitu yang dapat me-nahan masuknya air, meme-nahan masuknya udara, menahan masuknya pertukaran gas, berwarna putih atau bening yang tembus pandang, tidak beracun, dan mudah di-dapat.

Benih yang berkadar air awal 9,0–9,9 per-sen masih cukup baik kualitasnya dalam kemasan plastik hitam dan kertas semen, sedangkan benih berkadar air 10,0–10,9 persen lebih baik dalam kemasan alumi-nium foil (Hertiningsih, 2009). Sedangkan menurut Tatipata et al. (2004), kadar air penyimpanan benih terbaik untuk kedelai adalah 8–10%, sedangkan pada kadar air

12%, sudah terjadi kemunduran benih. Berdasakan hasil penelitian Andrew pada tahun 1970 (Tatipata, et al., 2004), benih kedelai yang berkadar air awal 10,4% atau lebih rendah yang dikemas dengan plastik polietilen dapat mempertahankan viabili-tas lebih dari 80% selama 18 bulan. Tidak adanya perbedaan daya berkecam-bah terhadap jenis kemasan, menunjukkan bahwa kondisi simpan dalam kertas dan plastik hampir sama. Hal ini diduga ka-rena kadar air benih cukup rendah, se-hingga tidak mempengaruhi respirasi be-nih. Berdasarkan SNI (2003) benih padi dikatakan aman disimpan apabila kadar air benih padi maksimum 13%.

KESIMPULAN

1. Varietas Ciherang yang disimpan da-lam plastik dan disimpan 0 minggu memiliki daya simpan tertinggi. In-para 3 yang disimpan dalam kemasan kertas selama 12 minggu merupakan

(11)

varietas dengan viabilitas terendah karena kadar air benihnya yang ting-gi, sehingga memiliki daya simpan paling pendek.

2. Semakin lama benih disimpan, kadar air benih Mekongga, Cirata, Cigelis, Towuti, Inpara 1, Ciherang, dan in-para 3 menjadi meningkat. Semakin tinggi kadar air benih Cirata, Inpara 1, Ciherang, dan Inpara 3, maka daya berkecambah menjadi menurun 3. Perbedaan media penyimpanan tidak

mempengaruhi daya simpan semua varietas

DAFTAR PUSTAKA

Adimargono, S., 1997. Recalsitran seed, identificatoin and storage. A BSc. Final Thesis in Tropical Plant Pro-duction. Larenstein International Agricultual College, Deventer. Association of Official Seed Analysis,

1983. Seed Vigor Testing Hand-book. Publish by Association. 88p. Lesmana, O.S., H.M. Toha, I. las, dan B.

Suprihatno, 2008. Deskripsi

Varie-tas Unggul Padi. BB Padi.

Copeland, L.O. and M.B. McDonald, 1995. Seed Science and

Techno-logy. Chapman and Hall. Thomson

publishing, Washington.

Hertiningsih, A., 2009. Daya simpan benin kedelai pada berbagai kadar air. [diakses 10 Mei 2010 pada situs http.//fp.ustjogja.ac.id/jurnaldetail.ph p/act=view&id=10].

Justice, O.L., L.N. Bass, 1979. Principles

And Practices Of Seed Storage.

Castle House Publicatins Ltd, London.

Pammenter, N.W. and Berjak P., 2000. Aspect of recalcitrant seed physio-logy. R. Brass Fisiol. Veg. 12: 56– 69.

Sadjad, S., 1994. Kuantifikasi

Metabo-lisme Benih. PT Widiasarana Indonesia. Jakarta.

Santika, A., 2006. Teknik pengujian masa dormansi benih padi (Oryza sativa L.). Bul teknik pertanian 11(2): 67– 71.

Standar Nasional Indonesia [SNI], 2003. Benih Padi–Bagian 3: Kelas Benih

Pokok (BP). [SNI 01-6233.3-2003].

Badan Standardisasi Nasional. Sutopo, L., 2002. Teknologi Benih. Raja

Grafindo Persada, Jakarta.

Tatipata, A., P. Yudono, A Purwantoro, dan W. Mangoendidjojo, 2004. Ka-jian aspek fisiologi dan biokimia deteriorasi benih kedelai dalam penyimpanan. Ilmu Pertanian 11(2): 76–87.

Yani. A., 2008. Analisis indeks kerusakan penyimpanan benih padi dalam me-nunjang ketahanan pangan di Pro-pinsi Lampung. Prosiding Seminar Nasional Sains dan Teknologi-II 2008 Universitas Lampung, 17-18 November 2008

Gambar

Tabel 2.  Rekapitulasi analisis ragam DB, IV dan PTM 8 varietas padi pada perlakuan jenis  bahan kemasan dan periode simpan
Tabel  4.  Potensi  tumbuh  maksimum  (PTM)  berbagai  varietas  pada  periode  simpan  dan  jenis kemasan  Periode   simpan           ( minggu)  Jenis kemasan  Varietas
Tabel 6. Kadar air benih (%) berbagai varietas pada periode simpan  dan jenis kemasan
Gambar  1.  Daya  berkecambah,  potensi  tumbuh  maksimum,  dan  indeks  vigor  setiap  varietas benih padi
+3

Referensi

Dokumen terkait

Kami ingin mengetahui pendapat Bapak / Ibu / Saudara tentang pengaruh ketegasan pimpinan, kepuasan kerja dan disiplin kerja karyawan di perusahaan Bapak / Ibu / Saudara

and the author of De‐ coding the IT Value Problem (Wiley, 2013) puts it succinctly: “For quite a while, IT has been called ‘the office of no.’ Smart CIOs work hard at

Aplikasi ini dapat dimanfaatkan oleh seseorang yang ingin mengirimkan suatu informasi rahasia kepada orang lain melalui SMS tanpa takut informasi dari pesan tersebut akan

Berdasarkan hasil pembahasan dari penelitian kajian faktor sarana prasarana terhadap penerapan lembar kerja siswa di SMP Muhammadiyah 4 Sambi maka dapat diambil

Berdasarkan hasil analisis data maka dapat dilihat bahwa capital budgeting yang diukur dengan DER tidak dapat meningkatkan keputusan investasi pada tahun 2014 dan

Langkah-langkah Pembelajaran.

Berdasarkan penelitian kuantitatif total asam dan derajat keasaman, campuran kulit kayu nangka dan kapur belum dapat menggantikan sabun sebagai penghambat fermentasi nira

Badan Usaha Milik Negara adalah bentuk badan hokum yang tunduk pada hukum Indonesia1. Tujuan BUMN sendiri ialah membangun ekonomi sosisal menuju tercapainya masyarakat yang adil