Komisi
X
DPR
Gali
Permasalahan Program Bantuan
Operasional PTN
UNAIR NEWS – Berkaitan dengan fungsi pengawasan yang harus
dijalani, Komisi X DPR-RI yang membidangi pendidikan, kebudayaan, ekonomi kreatif, pariwisata, pemuda dan olahraga, serta perpustakaan nasional, melakukan kunjungan kerja spesifik ke Jawa Timur, 10-12 Maret 2016. Dibawah pimpinan Wakil Ketua Komisi X Dr. H. Abdul Kharis Almasyhari, mereka diterima Wakil Rektor I UNAIR Prof. Joko Santoso, dr., Sp.PD-KGH., PhD., FINASIM dan Wakil Rektor III UNAIR Prof. M. Amin Alamsyah, Ir., M.Si., Ph.D., di Ruang Sidang “Kahuripan” Universitas Airlangga, Kamis (10/3).
Dalam kunjungan kerja ini Komisi X ingin mendengarkan penjelasan langsung pelaksanaan program Bantuan Operasional Perguruan Tinggi Negeri (BOPTN), beasiswa untuk dosen dan mahasiswa, serta kepangkatan dosen; khususnya di Jatim. Karena itu dengar pendapat kemarin dihadiri para pimpinan PTN di Jatim, khususnya di Surabaya. Selain dari UNAIR juga hadir Rektor Universitas Negeri Surabaya Prof. Dr. Warsono, MS., Rektor ITS Prof. Ir. Joni Hermana, M.Sc.ES., PhD., Rektor Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jatim Prof. Dr. Ir. Teguh Sudarto, MP., Direktur Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya Ir. Muhammad Mahfud, MMT., dan Direktur Politeknik Elektronik Negeri Surabaya Dr. Zainal Arief, ST., MT.
Seperti disampaikan Ketua Komisi X DPR-RI, Teuku Riefky Harsya, MT., pada Rapat Komisi X RPR-RI, 8 Juni 2015 pada pembahasan Rencana Kerja Kemenristek Dikti tahun 2016, belum diajukan anggaran mengenai BOPTN, Beasiswa, dan Kepangkatan Dosen selain baru berupa output saja. Data-data itu antara lain adalah bantuan beasiswa kepada 488.700 mahasiswa, BOPTN Non Penelitian kepada 111 PTN, karyasiswa S2/S3 dalam negeri
sebanyak 10.230 orang, karyasiswa S2/S3 luar negeri sebanyak 996 orang, dan pelaksanaan sertifikasi dosen kepada 10.000 dosen, serta penelitian BOPTN untuk 12.000 judul penelitian dosen.
Diakuinya juga bahwa BOPTN yang tujuannya untuk menutupi kekurangan biaya operasional di perguruan tinggi, yaitu dengan menetapkan tidak ada kenaikan uang kuliah (SPP) dan menggunakan uang kuliah tunggal (UKT) pada PTN, yang mulai berlaku sejak 2012/2013 hingga sekarang. Namun dalam pelaksanaannya program BOPTN mengalami permasalahan seperti ketidaktepatan waktu realisasi, kurangnya transparansi terhadap penganggaran, alokasi, dan penyesuaian UKT, dsb dengan beberapa temuan hingga memaksa Komisi X DPR-RI membentuk Panja BOPTN.
Pimpinan beberapa PTN di Surabaya mengakui BOPTN sangat membantu operasional pendidikan di PT, namun dengan adanya program baru pemerintah, misalnya World Class Universyty (WCU) tetapi ternyata anggarannya diambilkan dari BOPTN. Hal demikian yang mengacaukan anggaran perguruan tinggi. Seharusnya BOPTN yang sudah dianggarkan tidak diganggu-ganggu lagi dan hendaknya tanpa ada pagu. Jika ada program baru hendaknya di-support dengan anggaran yang tersendiri.
Terkaitannya dengan beasiswa, adanya pengurangan realisasi BOPTN juga sangat menganggu anggaran perguruan tinggi. Dengan diberlakukan UKT maka logikanya pemerintah menyediakan bantuan operasional. Ini pun sering terjadi kekurangan sehingga harus ditutup dengan berbagai cara. Kemudian dengan terlambatnya waktu realisasi pencairan BOPTN akan menyebabkan anggaran menjadi tak terserap. Beberapa PTN juga berharap adanya alokasi pengangkatan dosen PNS, jika tidak ada maka perguruan tinggi akan mengangkat dosen non-PNS dan itu artinya biaya operasional akan membengkak. (*)
Komisi X DPR Siap Fasilitasi
PTN Masuk 500 Besar Dunia
UNAIR NEWS – Dalam pertemuan Majelis Wali Amanat (MWA) sebelas
Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN BH) yang akan diselenggarakan di UNAIR 17-18 Maret mendatang, rencananya salah satu pihak yang akan hadir dalam kesempatan tersebut adalah perwakilan Komisi X DPR RI yang membidangi pendidikan. Di sela-sela kunjungan kerja spesifik Komisi X DPR RI ke UNAIR yang membahas tentang BOPTN, beasiswa, dan kepangkatan dosen, Kamis (11/3), Wakil Ketua Komisi X Abdul Kharis Almasyhari mengatakan bahwa dalam kesempatan tersebut nantinya Komisi X DPR RI akan mendorong agar PTN BH bisa konsisten meningkatkan prestasi sehingga masuk 500 besar dunia.
“Kebetulan saya yang akan datang. Dalam kesempatan tersebut, akan kami akan dorong PTN BH untuk bisa masuk 500 besar dunia, yang sudah masuk kita dorong untuk terus meningkatkan peringkatnya,” ujar legislator asal daerah pemilihan Jawa Tengah V tersebut.
Lebih lanjut, menurutnya Komisi X juga akan berusaha mendengar informasi langsung dari berbagai kampus mengenai hambatan-hambatan yang dirasakan untuk mencapai hal tersebut. Pihaknya mengaku siap memfasilitasi hal-hal yang dibutuhkan.
“Kami DPR punya fungsi legislasi dan anggaran. Kami akan persiapkan peraturan-peraturan termasuk anggaran untuk mendorong ke arah situ,” pungkasnya.
MWA merupakan organ khusus yang ada di kampus dengan status PTN BH. Selain memilih dan mengangkat rektor, MWA juga memiliki peran strategis dalam menentukan kebijakan umum
universitas. Selain representasi dari masing-masing kampus, anggota MWA juga terdiri dari berbagai tokoh masyarakat hingga tokoh pemerintahan baik di tingkat pusat maupun daerah. (*) Penulis : Yeano Andhika
SMAN 4 Kediri, Bekali Wawasan
Kampus Sejak Dini
UNAIR NEWS – Pusat Informasi dan Humas (PIH) UNAIR sudah
kesekian kali menerima kunjungan dari berbagai SMA dan MA. Umumnya mereka yang berkunjung adalah anak didik yang sudah duduk di bangku kelas XI dan XII. Namun, kali ini UNAIR menerima kunjungan dari siswa kelas X. Terhitung masih cukup dini untuk mengetahui dunia kampus, hal inilah yang menjadi alasan tersendiri bagi Nur Hadi, selaku ketua rombongan dari SMAN 4 Kediri untuk membekali anak didiknya yang masih belum genap setahun belajar di bangku SMA.
“Kami sengaja mengajak anak didik yang masih kelas X, karena mereka belum penjurusan di SMA, jadi setelah mendapat paparan dari UNAIR ini, nantinya mereka biar bisa lebih mantap mau masuk ke IPA atau IPS,” jelasnya.
Pada kunjungan yang diterima di Aula SC Kampus C UNAIR tersebut, Dr. Zainal Arifin, M.Si, selaku pihak PPMB UNAIR juga menambahkan pentingnya persiapan sedari dini. Pasalnya kriteria penilain pada SNMPTN akan dilihat dari serangkaian hasil nilai selama proses belajar mulai kelas kelas X hingga kelas XII.
“Tanamkan kejujuran dari sekarang, mumpung masih kelas X, carilah prestasi sebanyak-banyaknya, sebab itu nanti menjadi
salah satu penilaian di SNMPTN,” paparnya.
Seputar informasi SNMPTN yang diketahui sejak awal, hal ini dinilai sangat menguntungkan bagi siswa-siswi SMAN 4 Kediri. Al Mawar Firdausi, salah siswa yang merasa sangat terbantu dengan informasi yang dipaparkan mengaku beruntung bisa tahu informasi seputar UNAIR meski baru kelas X.
“Awalnya saya bingung tentang program studi dan jalur masuk di kampus, alhamdulillah berkat informasi yang disampaikan tadi semakin memacu saya agar lebih semangat lagi,” ujar siswa yang suka dengan ilmu hitung tersebut. (*)
Penulis: Nuri Hermawan
Ajak Mahasiswa Potret Momen
Langka Gerhana Matahari
UNAIR News – Gerhana matahari total yang terjadi pada Rabu
(9/3) lalu menjadi peristiwa yang sangat langka, karena tidak setiap tahun dapat ditemui. Selain itu, gerhana matahari total juga tidak terjadi di seluruh belahan negara di dunia. Momentum ini menjadi daya tarik tersendiri bagi kalangan masyarakat. Kota Palu, Sulawesi Tengah, menjadi satu-satunya kota di Indonesia yang dilewati gerhana matahari total. Fenomena ini menjadi daya tarik wisatawan dari mancanegara datang ke Indonesia, untuk turut menyaksikan gerhana matahari total.
Meski di Surabaya gerhana matahari total hanya nampak sekitar 83%, tetapi antusiasme masyarakat Surabaya tetap tinggi. Ada tempat-tempat tertentu yang dipilih masyarakat untuk bisa menyaksikan peristiwa langka ini.
Mahasiswa Departemen Ilmu Komunikasi UNAIR yang tergabung dalam mata kuliah Fotografi Jurnalistik turut mengaplikasikan keilmuannya untuk menyaksikan momen gerhana matahari. Penanggungjawab tata kuliah Fotografi Jurnalistik, Dr. Yayan Sakti Suryandaru S.Sos., M.Si., mengajak mahasiswanya untuk
hunting foto gerhana matahari di Kenjeran, Surabaya. Dengan
kamera masing-masing, mahasiswa memotret segala suasana yang terjadi saat orang-orang antusias berkumpul di Kenjeran. Tak hanya memotret suasana, para mahasiswa juga memotret penampakan gerhana matahari yang mereka ambil langsung melalui kamera dengan filter pelindung lensa kamera.
“Tantangan hunting foto pas motret penampakan gerhana kemarin itu dapat detail potret gerhana dan kondisi cuaca yang mendung ketika proses pengambilan foto. Tapi seru banget. Kita bisa belajar banyak soal fotografi jurnalistik. Kuliah jadi nggak membosankan dan bervariasi,” tutur Muhammad Isya Arifin, salah satu mahasiswa Ilmu Komunikasi UNAIR yang turut hadir di Kenjeran.
Minggu lalu, mahasiswa dari mata kuliah Fotografi Jurnalistik ini juga hunting foto di Balai Pemuda, Surabaya, ketika ada pertunjukan reog di sana. Dari mata kuliah ini diharapkan para mahasiswa dapat mempraktikkan teori yang didapat pada kelas Fotografi Jurnalistik. (*)
Penulis: Zahrina A. Nabilah (Mahasiswa Ilmu Komunikasi UNAIR) Editor: Binti Q. Masruroh
Memilih Prodi
UNAIR NEWS – Universitas Airlangga, melalui Pusat Informasi
dan Hubungan Masyarakat (PIH) kembali menerima kunjungan dari siswa-siswi SMA. Kunjungan kali ini datang dari SMAN 1 Sukagumiwang Indramayu, Jawa Barat. Kunjungan sekolah yang diterima di Aula Kahuripan tersebut, diapresiasi dengan baik oleh Amiadi selaku ketua rombongan. Selain memberikan kesan yang baik terhadap UNAIR, ia juga menyampaiakn beberapa hal, utamanya tujuan kunjungan yang dilakukan bersama 208 siswa dan 12 guru pendamping tersebut. Saat memberikan sambutan, ia berharap kepada anak didiknya agar terpacu untuk melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi.
“Meski dari Jawa Barat, saya persilahkan anak didik semua untuk memilih kampus dimanapun yang kalian inginkan, termasuk di UNAIR ini,” jelasnya.
Setelah beragam informasi seputar UNAIR disampaikan oleh perwakilan PIH, Drs. Adri Supardi, MS. mewakili Pusat Penerimaan Mahasiswa Baru (PPMB) UNAIR, mengimbau kepada seluruh siswa untuk berhati-hati dalam memilih program studi. Pasalnya banyak calon peserta yang gagal karena salah dalam memilih program studi.
“Bagaimana cara memilih prodi? Ingat, pertama harus yang kalian minati, selain itu perhatikan daya tampung serta peminatnya, lalu sesuaikan prodi yang kalian pilih sesuai dengan kemampuan, dan yang perlu diperhatikan keketatan harus jadi fokus,” jelasnya.
Di tahun 2015 saja, tercatat hampir semua program studi di UNAIR keketatannya dibawah 10%, bahkan prodi Pendidikan Bidan, Ilmu Gizi, dan Ilmu Komunikasi keketannya sampai di bawah angka 3%.
“Arti keketatan 3%, itu jika ada 100 pendaftar ya hanya 3 yang diterima, di prodi Ilmu Gizi keketatan 1,66%, itu kan dari 100
pendaftar bisa dikatan 2 yang diterima,” imbuhnya.
Meski daya saing program studi di UNAIR sangat ketat, Dadi Juhaedi salah satu siswa SMAN 1 Sukagumiwang merasa yakin kelak bisa masuk UNAIR, meski ada bayang-bayang ketakutan siswa yang juga ketua OSIS tersebut tetap optimis.
“Ya meski rasa takut ada setelah melihat daya saing di UNAIR ini, saya jadi semakin semangat untuk giat belajar dan optimis dua tahun lagi bisa nembus UNAIR,” pungkas siswa yang ingin masuk prodi Ekonomi Islam tersebut. (*)
Penulis: Nuri Hermawan
Di Era Digital, Belajar Tak
Harus di Ruang Kelas
UNAIR News – Dewasa ini, perkembangan arus informasi dan
komunikasi berkembang begitu pesat. Setiap orang dapat mengonsumsi informasi tanpa terbatas ruang dan waktu. Ruang pendidikan pun tak kalah turut bertransformasi. Di zaman digital ini, proses belajar yang sedianya secara formal dilakukan di dalam kelas, kini bisa dilakukan dimana-mana, dan dengan cara yang beragam rupa.
Fenomena inilah yang melatarbelakangi ruangguru.com, penyedia
platform di bidang pendidikan yang didukung oleh Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan. Dengan tagline “Belajar Apapun dari
Siapapun”, diharapkan agar flatform ini dapat membantu
jalannya pendidikan sebagai layanan negara yang diberikan untuk masyarakat.
berbasis teknologi yang memungkinkan akses murid kepada tutor dan konten pendidikan berkualitas. Perusahaan pengembang teknologi pendidikan yang berfokus mengembangkan platform untuk membantu proses pendidikan,” tutur Yudha.
Ruangguru.com merupakan sekolah berbasis internet yang telah dilaunching sejak April 2014 silam. Uniknya, ruangguru.com menyediakan ribuan jenis soal untuk SD, SMP, hingga SMA yang dapat dimanfaatkan untuk mempersiapkan diri menuju ujian nasional, ujian olimpiade, ujian tes bahasa inggris, dan ujian lainnya. Materi yang disusun berdasarkan tema dan topik, sehingga memudahkan pencarian.
Platform ini juga dapat mengeluarkan data analisis yang dapat
melihat bidang kelemahan siswa. Sehingga, didapatkan pemetaan yang jelas tentang kemampuan siswa, bidang apa yang lemah dan perlu pelajari lagi. Hal ini memungkinkan efisiensi waktu. Siswa tak harus mengulang soal-soal yang ia telah mampu lali dengan baik. Jika analisis data ini diterapkan untuk seluruh siswa dalam satu wilayah misalnya, hasil analisis bisa menjadi bahan evaluasi bagi pengambilan kebijakan.
Ruangguru.com merupakan fasilitas dari pemerintah yang dapat diakses secara cuma-cuma. Dengan jumlah staf mencapai 50-70 orang, dalam kurun waktu sekitar dua tahun, platform ini terus melakukan pengembangan dan perbaikan. Menurut Prama Yudha Amdan, selaku Government Relation Lead, platform ini dalam waktu dekat juga akan menyediakan layanan konsultasi online 24 jam.
Kedatangan Yudha ke Universitas Airlangga pada Selasa (8/3) dengan menemui Ketua Pusat Informasi dan Humas UNAIR, Drs. Suko Widodo, M.Si., adalah untuk melakukan penjajakan kerjasama antara ruangguru.com dengan UNAIR.
Mengenai kemungkinan kerjasama ini, Suko masih akan mempelajari ulang kemungkinan kerjasama yang dapat dijalin antara ruangguru.com dengan UNAIR. Mengingat, ruangguru.com
merupakan platform yang bergerak dibidang keguruan dan pendidikan, sedangkan UNAIR tidak memiliki basis keilmuan di bidang itu.
Namun, Suko tak menolak jika ada kemungkinan kerjasama yang dapat dijalin. Seperti yang dipaparkan oleh Yudha misalnya, UNAIR dapat menjalin kerjasama terkait penyediaan konten dan rekomendasi mahasiswa magang dari keilmuan di bidang teknologi informasi untuk ditempatkan di ruangguru.com. (*)
Penulis : Binti Q. Masruroh Editor: Nuri Hermawan
Video Conference, Komunikasi
Kekinian Ala FKG
UNAIR NEWS – FKG UNAIR tak pernah henti berinovasi. Misalnya,
saat sejak 2011 lalu, fakultas yang berlokasi di kampus A ini menggunakan mekanisme video conference untuk berkomunikasi dan berdiskusi mengenai program kerjasama dengan kampus luar negeri. Tak hanya itu, terdapat pula kuliah bersama sekaligus dengan empat universitas di empat negara berbeda, Jepang, Kamboja, Vietnam dan Indonesia.
Video conference juga digunakan untuk menjembatani ketiadaan dosen FKG secara fisik di fakultas. Kuliah secara E-learning telah dilaksanakan oleh dosen ilmu faal, Aqsa Syuhada, drg., M.Kes, yang saat ini sedang menjalani training selama satu bulan di Kyusyu University, Jepang.
Tidak berhenti sampai di situ saja, kegiatan video conference juga dilaksanakan untuk acara penutupan student exchange selama 6 bulan di Hiroshima University dan wawancara 2 dosen
muda FKG yang akan berangkat study program doktoral si Tohoku University, Jepang.
Video conference menjadi sesuatu yang sangat berguna bagi FKG untuk membuka jalinan komunikasi dengan universitas di luar negeri. Sehingga, percepatan UNAIR menuju WCU menjadi sesuatu yang lebih mudah untuk diraih. (*)
Penulis: Humas FKG Editor: Rio F. Rachman