• Tidak ada hasil yang ditemukan

Latar Belakang: Distribusi Kekuatan Politik Nasional

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Latar Belakang: Distribusi Kekuatan Politik Nasional"

Copied!
45
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

Latar Belakang:

Distribusi Kekuatan Politik Nasional

Diskusi Publik: "Divided Government"

 Pada pemilu 9 April 2014 yang lalu, PDI Perjuangan keluar sebagai peraih suara terbesar dengan 18.95% suara. Selengkapanya seperti grafik di bawah:

6.7 9.0 6.8 19.0 14.8 11.8 10.2 7.6 6.5 5.3 1.5 0.9 6.3 8.4 7.1 19.5 16.3 13.0 10.9 8.8 7.0 2.9 0 5 10 15 20 25

NASDEM PKB PKS PDIP GOLKAR GERIND

RA

DEMO KRAT

PAN PPP HANURA PBB PKPI

(3)

 PDI Perjuangan juga meraih jumlah kursi terbesar di DPR, 109 kursi atau 19.46% dari total 560 kursi di DPR

 Kemudian pada 9 Juli 2014, dilakukan pemilihan Presiden-Wakil Presiden. Dari momentum ini kemudian terbentuk dua kubu kekuatan politik yang mengusung masing-masing pasangan calon Presiden-Wakil Presiden periode 2014-2019.

 Kubu pertama merupakan gabungan atau koalisi partai pengusung pasangan Jokowi-JK, atau Koalisi Indonesia Hebat (KIH). Koalisi ini digalang oleh PDI Perjuangan sebagai peraih suara terbesar pada pemilu legislatif, kemudian PKB, NasDem, Hanura dan partai non-parlemen PKPI.

 Sementara kubu lainnya, Koalisi Merah Putih (KMP) mengusung pasangan Prabowo-Hatta. Koalisi ini secara agregat lebih besar dibanding KIH. Gabungan suara partai hasil pemilu 2014 pada KMP mencapai 59.1%, sementara KIH hanya sekitar 40.9%.

Latar Belakang:

(4)

Diskusi Publik: "Divided Government"

 Namun kemudian melalui pemilihan secara langsung, pasangan Jokowi-JK berhasil keluar sebagai pemenang.

 Pada pilpres tahun 2004 dan 2009 yang lalu, partai-partai pengusung pasangan calon Presiden-Wakil Presiden kemudian saling menentukan arah koalisi baru dalam pembentukan pemerintahan selanjutnya setelah pemilihan berakhir.

 Namun pasca-Pilpres 2014 yang lalu, koalisi partai pengusung pasangan calon cenderung solid (terutama KMP), dan melalui proses politik yang sedemikian rupa sehingga kemudian terjadi penguasaan KMP atas legislatif.

 Kekalahan dalam pemilihan pimpinan lembaga legislatif ini melengkapi derita Koalisi Indonesia Hebat yang dimotori Puan Maharani yang sebelumnya juga dipaksa menelan kekalahan dalam sidang paripurna revisi UU MD3, Tatib DPR dan RUU Pilkada.

 Pemerintahan ke depan kemudian terbelah, antara kubu eksekutif yang dimotori oleh KIH dan kubu legislatif yang dimotori oleh KMP.

Latar Belakang:

(5)

 Inilah kali pertama pemerintahan pasca-reformasi mengalami divided

government (pemerintahan yang terbelah). Sebelumnya belum pernah sekalipun presiden yang didukung oleh kekuatan politik yang terlalu kurus dan minimalis di parlemen. Bahkan pada masa Abdurrahman Wahid sekalipun awalnya mengantongi dukungan politik kuat dari Poros Tengah meski kemudian menyusut seiring polarisasi yang makin tajam antara pemerintah dengan DPR.

 Dalam kondisi ini, banyak pandangan dari berbagai kalangan

bahwa pemerintahan Indonesia ke depan akan banyak mengalami masalah, bahkan isu menggagalkan pelantikan pasangan Jokowi-JK sebagai Presiden-Wakil Presiden terpilih juga banyak beredar di media massa.

 Berdasar kondisi tersebut, maka melalui forum diskusi ini, kami ingin menyajikan serangkaian analisis terkait kondisi pemerintahan yang

terbelah, serta beberapa konsekuensinya.

Latar Belakang:

(6)

Diskusi Publik: "Divided Government"

 Apa yang mendasari dinamika tersebut dan

bagaimana konsekuensinya?

 Bagaimana pengalaman yang terjadi pada

periode-periode sebelumnya?

 Apakah pemerintahan yang akan datang bisa keluar

dari potensi kebuntuan yang mungkin terjadi?

(7)

Alokasi Kekuatan Politik, Stabilitas

Pemerintahan & Perekonomian

(8)

Diskusi Publik: "Divided Government"

 Dinamika peta kekuatan politik nasional hingga saat ini menggambarkan strategi dari partai-partai politik dalam melakukan alokasi kekuatan politik di dalam institusi-institusi politik.

 Institusi politik akan menentukan distribusi kekuatan politik de

jure, dan distribusi sumber daya akan mempengaruhi distribusi terhadap kekuatan politik de facto. Kedua sumber kekuatan politik tersebut pada gilirannya akan mempengaruhi institusi ekonomi dan perubahan pada institusi politik di masa depan. Institusi ekonomi menentukan kinerja perekonomian termasuk distribusi sumber daya di masa depan (Acemoglu, Johnson & Robinson, 2004).

 Hal ini akan membawa konsekuensi pada stabilitas pemerintahan yang akan terbentuk, dan efek lanjutannya terutama pada perekonomian dan distribusi kekuatan politik di masa mendatang.

Alokasi Kekuatan Politik, Stabilitas

Pemerintahan & Perekonomian

(9)

 Pengaruh partai di dewan perwakilan dapat digunakan sebagai kontrol terhadap eksekutif. Kinerja partai merupakan aspek penting bagi pemilu berikutnya, dan partai tidak ingin kehilangan kredibilitasnya, Weingast & Wittman (2006) dan Mujani, Liddle & Ambardi (2012).

 Hirarki yang ada pada lembaga legislatif akan mempengaruhi penyusunan agenda kerja dengan mengontrol pengalokasian anggota-anggota dewan, seperti penentuan kursi-kursi pimpinan komisi.

 Kekuasaan pengalokasian tersebut didelegasikan oleh anggota-anggota partai kepada hierarki partai di dalam dewan yang dapat digunakan sebagai penghargaan untuk meningkatkan disiplin partai, dan pada gilirannya untuk meningkatkan nilai partai pada kompetisi pemilu.

Alokasi Kekuatan Politik, Stabilitas

Pemerintahan & Perekonomian

(10)

Diskusi Publik: "Divided Government"

 Oleh karena itu penguasaan terhadap hirarki tertinggi dalam suatu institusi politik menjadi penting, dan konsekuensi lanjutannya adalah kinerja perekonomian dan distribusi kekuatan politik di masa mendatang.

 Kinerja perekonomian akan sangat tergantung dari kebijakan-kebijakan yang dihasilkan dari interaksi politik dalam pemerintahan. Institusi ekonomi yang kita miliki, yang secara langsung membentuk dunia kita merupakan turunan dari institusi politik (Douglass C. North, 2003). Dan karena kebijakan merupakan output dari interaksi antar institusi politik, eksekutif dan legislatif, maka stabilitas dalam pemerintahan merupakan hal yang mendasar.

 Berbagai penelitian menunjukkan bahwa indikator stabilitas politik memiliki peran positif terhadap kondisi perekonomian. Stabilitas politik akan mereduksi ketidakpastian, dimana kondisi ini menjadi vital bagi iklim investasi, dan investasi sendiri merupakan bagian utama dalam pertumbuhan ekonomi.

Alokasi Kekuatan Politik, Stabilitas

Pemerintahan & Perekonomian

(11)

 Salah satu temuan empiris tentang pengaruh stabilitas politik terhadap kinerja perekonomian disebutkan dalam sebuah tesis. Pendekatan stabilitas politik dalam tesis tersebut adalah dukungan partai politik yang menguasai legislatif kepada eksekutif.

 Daerah pemerintahan yang menjadi objek amatan adalah Kabupaten/Kota yang melaksanakan pilkada tahun 2005 dan tidak mengalami pemekaran wilayah selama 2004-2009.

 Variabel-variabel utama yang digunakan adalah:

 Pertumbuhan PDRB perkapita (dependen)

 Perolehan kursi partai terbesar di DPRD Kab/Kota tahun 2004

(independen/penjelas)

 Dukungan partai terbesar kepada eksekutif. Dukungan ini

didefinisikan sebagai dukungan ketika pilkada

(independen/penjelas)

 Komponen belanja daerah (independen/penjelas)

(12)

Distribusi Wilayah Amatan

(192 Kabupaten/Kota)

(13)

 Dalam tesis tersebut disimpulkan:

 Dukungan partai terbesar di legislatif kepada eksekutif, berpengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi daerah. Argumentasinya, kepala daerah sebagai pimpinan eksekutif secara konstitusional memiliki kewenangan dalam mengajukan kebijakan-kebijakan pembangunan beserta kewenangan pengelolaan keuangannya kepada dewan perwakilan. Rencana kebijakan yang diusulkan harus mendapat persetujuan dari dewan perwakilan. Sementara itu di dewan perwakilan terdapat hierarki yang ditentukan sesuai dengan besarnya alokasi kursi partai. Hierarki ini kemudian akan mempengaruhi agenda kerja dewan perwakilan secara keseluruhan. Oleh karena itu, jika pimpinan eksekutif tidak mendapat dukungan dari partai yang memiliki pengaruh kuat di dewan perwakilan, maka berpotensi menimbulkan kebuntuan yang menyebabkan kebijakan-kebijakan pembangunan yang telah dirancang tidak bisa berjalan.

(14)

Diskusi Publik: "Divided Government"

 Dominasi partai juga berpengaruh, semakin besar dominasi partai pendukung eksekutif di legislatif, maka pengaruhnya juga positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi daerah. Dominasi partai di sini didefinisikan dengan banyaknya perolehan kursi di parlemen.

 Jika dukungan partai terbesar kepada eksekutif, dan lebih jauh partai tersebut semakin dominan di dewan perwakilan, memiliki pengaruh positif yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi, maka kemungkinan juga bisa dikatakan bahwa jika partai terbesar tidak mendukung eksekutif, dan lebih jauh partai tersebut semakin dominan di dewan perwakilan, maka bisa menghambat pertumbuhan ekonomi. Ini terkait dengan masalah komitmen politik dari kelompok yang memiliki kekuatan politik.

 Kekuatan politik memiliki masalah bawaan yang melekat, yaitu komitmen politik. Kelompok yang memiliki kekuatan politik cenderung memilih kebijakan yang bisa menguntungkan mereka. Pertimbangan efisiensi bagi perekonomian tidak dapat dipisahkan dari konflik distribusi (Acemoglu, 2002)

(15)

 Pada kelompok data di sebelah kanan yaitu kelompok partai yang mendukung eksekutif, tampak beberapa nilai pada kelompok partai yang paling dominan menunjukkan pola penurunan dalam pertumbuhannya. Kemungkinan ini seperti pendapat Weingast & Wittman, yaitu eksekutif sangat kuat, tapi partai di dewan perwakilan lemah dalam melakukan kontrol. Atau (koalisi) partai pendukung eksekutif begitu kuat, sehingga kontrol (oposisi) di dewan perwakilan menjadi sangat lemah.

 Kemudian masing-masing kelompok diuji untuk melihat bagaimana pengaruh variabel-variabel kebijakan terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.

(16)

Diskusi Publik: "Divided Government"

 Pada kelompok kelompok daerah dimana partai terbesar mendukung eksekutif, komponen belanja daerah menunjukkan pengaruh yang signifikan. Belanja pegawai dan, barang dan jasa pengaruhnya negatif. Ini bisa difahami karena kedua jenis belanja ini bersifat konsumtif dan sesuai dengan kerangka teoritis. Sementara jenis belanja produktif, belanja modal, kontribusinya yang positif.

 Sementara pada kondisi pemerintahan daerah di mana eksekutif kurang mendapat dukungan kuat dari legislatif, variabel-variabel kebijakan tidak berpengaruh signifikan. Pertumbuhan ekonomi di daerah-daerah ini hanya signifikan dijelaskan oleh modal awal daerah itu sendiri, sementara kontribusi pemerintah kurang bermakna.

Adjusted R Square DW Statistic F Sig. Adjusted R Square DW Statistic F Sig. 0.143 1.81 4.50 0.00 0.236 1.93 6.25 0.00 Independent Standardized

Coefficients t Sig. VIF

Standardized

Coefficients t Sig. VIF

(Constant) -0.39 0.70 -0.01 1.00

X1. Ln PDRB RIIL PERCAPITA 2005 (JUTA) -0.48 -4.26 0.00 1.55 -0.28 -2.22 0.03 1.77 X2. IPM 2005 0.23 2.20 0.03 1.36 0.16 1.09 0.28 2.39 X3. RATA2 RASIO PEGAWAI 2007-2009 -0.21 -1.10 0.28 4.54 -0.68 -2.91 0.00 6.03 X4. RATA2 RASIO BARJAS 2007-2009 -0.14 -0.50 0.62 9.06 -0.57 -2.02 0.05 8.91 X5. RATA2 RASIO MODAL 2007-2009 0.19 0.81 0.42 7.03 1.35 4.97 0.00 8.23

Dependent : Y. RATA2 GROWTH PDRB PERCAPITA 2007-2009

Partai terbesar tidak Mengusung (n=106) Partai terbesar Mengusung (n=86)

(17)

 Rata-rata rasio belanja pada daerah-daerah dimana eksekutif tidak mendapat dukungan dari partai terbesar di legislatif hampir selalu lebih besar dibanding daerah lainnya.

 Sehingga bukan hanya fungsi alokasi yang menjadi kurang bermakna kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi daerah, tapi juga relatif lebih mahal. Dengan kata lain, daerah harus membayar lebih mahal untuk kontribusi yang tak berarti.

 Pertanyaan selanjutnya, mengapa menjadi lebih mahal?

2007 2008 2009 Tidak Mengusung 6.4 6.3 11.6 Mengusung 6.0 5.5 9.8 Tidak Mengusung 3.9 3.7 6.6 Mengusung 4.0 3.4 5.6 Tidak Mengusung 7.8 6.7 10.9 Mengusung 7.3 6.4 9.0 Belanja Pegawai (%)

Belanja Barang & Jasa (%)

Belanja Modal (%)

Rata-rata rasio belanja terhadap PDRB Riil

Temuan Empiris

(18)

Diskusi Publik: "Divided Government"

 Keterangan: sumbu x = persen kursi partai terbesar, sumbu y = rata-rata rasio belanja (pegawai+barjas+modal) terhadap PDRD Riil

 Jika kekuatan partai politik di parlemen lebih berimbang, alokasi belanja daerah cenderung lebih mahal. Ini konsisten dengan kerangka teoritis dari Alesina & Drazen (1991), Spolaore (1992), dan temuan empiris Roubini & Sachs (1989a,b) dan Grilli, Masciandaro & Tabellini (1991) dalam Alesina & Rosenthal (1995), “when coalitions become too large and fragmented, they are associated with undesirable economic outcomes, such as large budget deficits”

0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 1.2 1.4 0 0.2 0.4 0.6 0 0.5 1 1.5 2 0 0.2 0.4 0.6 0.8

Daerah-daerah dimana eksekutif tidak didukung partai terbesar di parlemen

Daerah-daerah dimana eksekutif didukung partai terbesar di parlemen

(19)
(20)

Tren Suara Partai 1999-2014 (%)

6.7 12.6 10.6 4.9 9.0 1.4 7.3 7.9 6.8 33.7 18.5 14.0 19.0 22.4 21.6 14.5 14.8 4.5 11.8 7.5 20.9 10.2 7.1 6.4 6.0 7.6 10.7 8.2 5.3 6.5 3.8 5.3 1.9 2.6 1.8 1.5 1.0 1.3 0.9 0.9 0 5 10 15 20 25 30 35 1999 2004 2009 2014 NASDEM PKB PKS PDIP GOLKAR GERINDRA DEMOKRAT PAN PPP HANURA PBB PKPI

Diskusi Publik: "Divided Government"

(21)

 Megawati Soekarnoputri ditunjuk sebagai Presiden Republik Indonesia menggantikan Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang mandatnya dicabut oleh MPR.

 Pemakzulan terhadap Gus Dur lebih banyak dipicu oleh konflik internal di dalam pemerintahannya. Konflik ini kemudian meluas kepada institusi lain, TNI dan DPR/MPR, karena banyak kebijakan-kebijakannya yang dianggap akan menimbulkan keresahan di kalangan masyarakat dan bahkan potensi terjadinya disintegritas bangsa.

 Gus Dur juga dituduh terlibat dalam kasus korupsi, yaitu Bulogate dan Bruneigate. Bantahannya terlibat dalam kasus tersebut tidak membuat puas DPR. DPR juga mengusulkan untuk diadakannya sidang istimewa terkait pertanggung jawaban Gus Dur sebagai Presiden. Gus Dur secara resmi dimakzulkan pada tanggal 23 Juli 2001, dan digantikan oleh Megawati Soekarnoputri.

(22)

Diskusi Publik: "Divided Government"

 Gus Dur gagal dalam menjalin kerjasama dengan institusi-institusi yang secara konstitusional memiliki kekuatan politik. Bahkan di lingkungan eksekutif sendiri banyak terjadi perpecahan, pemerintahan era kepresidenan Gus Dur sangat tidak stabil.

 Pengganti Gus Dur, Megawati Soekarnoputri, hanya bertahan hingga tahun 2004. Megawati kalah oleh pasangan SBY-JK dalam pemilihan langsung yang pertama kali dilakukan di Indonesia. Aturan main ini juga dihasilkan pada era kepresidenan Megawati.  Bukan hanya itu, suara PDIP juga merosot tajam pada pemilu

legislatif tahun 2004. Megawati gagal meraih insentif secara politik.

 Pasca pemilihan presiden 2004, koalisi baru kemudian terbentuk. PDIP merupakan satu-satunya partai besar di parlemen yang memilih menjadi oposisi. JK kemudian mengambil alih Golkar, yang pada periode 2004-2009 menguasai parlemen.

(23)

 Pada pemilu tahun 2009, suara Demokrat meningkat pesat dan berhasil meraih suara terbanyak. Golkar, PDIP, PKB dan PPP menurun perolehan suaranya, dan masuk kekuatan baru di parlemen yaitu Gerindra dan Hanura, tapi suaranya kurang dari 5%.

 Secara politik, Demokrat memperoleh insentif besar selama kepemimpinan SBY sebagai presiden selama 2004-2009. Demokrat meraih suara terbesar dan menguasai kursi pimpinan DPR.

 Ini karena evaluasi publik atas kinerja pemerintahan positif. Terutama yang menyangkut isu-isu sensitif, ekonomi, politik, keamanan, penegakan hukum dan pemberantasan korupsi.

 Legitimasi publik atas kinerja pemerintahan ini kemudian mendorong pada tingkat kepuasan atas kinerja SBY sebagai Presiden tinggi dan membawa SBY terpilih untuk kedua kalinya untuk periode 2009-2014.

(24)

Diskusi Publik: "Divided Government"

 Pada pemilu presiden tahun 2009, SBY dan JK masing-masing memutuskan maju sebagai calon presiden. Pasangan SBY-Boediono diusung oleh koalisi yang dipimpin Demokrat. Pasangan JK-Wiranto diusung koalisi Golkar dan Hanura, dan pasangan Mega-Prabowo diusung koalisi PDIP dan Gerindra.

 Seperti pengalaman tahun 2004, pasca pemilihan presiden koalisi baru kemudian terbentuk, dan menyisakan PDIP, Gerindra dan Hanura di pihak oposisi.

 Dan pada pemilu tahun 2014 yang lalu, PDIP meraih suara terbesar dalam pemilihan legislatif. Perolehan suaranya menguat dibandingkan tahun 2009.

 Sementara Demokrat, suaranya merosot tajam. Penurunan dukungan terhadap Demokrat terjadi seiring dengan ramainya pemberitaan di media massa tentang keterkaitan politisi-politisi Demokrat dengan sejumlah kasus korupsi, terutama Century dan Wisma Atlet.

(25)

 Hal tersebut terekam oleh masyarakat sehingga evaluasi publik atas kinerja pemerintahan secara umum juga melemah, terutama dalam pemberantasan korupsi, penegakan hukum dan dalam menciptakan stabilitas politik.

 Evaluasi yang buruk tersebut menghukum Demokrat pada pemilu 2014.

(26)

Diskusi Publik: "Divided Government"

Evaluasi Publik

Kondisi ekonomi nasional sekarang dibanding tahun lalu

(%)

2 3 2 9 3 3 2 3 2 8 3 1 2 7 2 4 17 2 5 3 13 2 3 83 9 4 2 5 1 5 2 5 6 3 3 4 0 3 9 2 9 3 43 2 3 7 3 73 9 3 4 3 5 3 8 3 73 93 6 3 43 5 3 7 2 4 2 22 32 2 2 5 3 3 2 2 19 2 1 2 6 2 4 2 5 2 52 6 2 62 3 2 3 2 2 3 1 3 1 3 0 3 53 4 3 1 3 1 2 82 9 3 23 43 2 3 3 3 1 2 93 1 3 5 3 9 5 3 4 3 3 8 5 0 4 2 3 2 4 5 4 9 5 8 4 4 4 0 3 7 3 13 0 2 7 2 1 2 1 18 3 1 2 1 2 4 3 4 2 6 3 0 2 6 2 8 2 6 2 5 2 2 2 1 2 3 2 1 2 6 2 6 2 3 16 0 5 5 5 7 5 10 7 6 5 5 4 6 8 4 5 6 6 7 5 5 6 4 4 5 8 7 2 7 7 6 7 7 8 9 9 7 9 10 9 7 9 3 1 2 9 3 7 2 2 2 4 2 6 3 63 83 5 3 2 2 4 15 2 8 4 1 2 9 3 2 4 7 3 7 0 10 20 30 40 50 60 70 Lebih baik Sama Lebih buruk T idak tahu

(27)

Kondisi politik nasional sekarang (%)

2 0 3 2 3 7 3 7 3 4 3 9 2 9 2 6 2 8 2 6 2 9 2 7 2 7 2 7 2 4 2 6 2 6 2 3 2 3 2 3 2 4 2 8 3 7 3 8 3 9 3 7 3 7 3 4 3 5 2 7 2 3 4 0 3 6 3 7 3 6 3 2 2 5 3 1 3 5 3 1 3 5 3 1 3 5 3 0 3 0 3 1 2 1 19 17 17 2 3 15 2 9 3 4 2 3 2 4 2 7 3 2 3 6 3 4 3 0 3 2 3 3 3 2 3 1 3 4 3 3 19 11 8 13 7 10 9 9 10 9 8 8 11 15 17 9 10 10 10 9 11 11 9 11 10 14 10 11 10 12 2 8 2 7 2 9 2 9 2 9 3 7 3 0 3 4 3 4 3 5 3 7 4 0 2 8 3 1 3 9 2 4 2 3 2 5 2 2 0 10 20 30 40 50 B aik Sedang B uruk T idak tahu

Evaluasi Publik

(28)

Diskusi Publik: "Divided Government"

Kondisi keamanan dan ketertiban nasional sekarang (%)

52 59 6967 55595955 48 55545352 47455046464745 54 61 28 26 15 23232222272729272922 28312732303030 2624 101010 9 20 131615 21 131615 23 2121211920192117 10 6 3 2 4 3 5 4 5 6 2 2 5 3 3 5 4 3 3 2 4 3 3 4 4 4 4 3 5 55 57 60 57 5958 26 29 31 30 25 24 101210 11 18 14 0 10 2 0 3 0 4 0 50 6 0 70 8 0 B aik Sedang B uruk T idak tahu

Evaluasi Publik

(29)

Kondisi penegakan hukum nasional sekarang (%)

4 1 4 9 59 6 1 59 54 3 7 4 3 3 5 3 5 3 3 3 3 3 4 3 3 2 8 3 1 3 2 2 8 3 0 3 0 2 6 3 5 3 8 3 4 3 0 2 3 2 4 2 5 2 6 2 2 2 0 3 0 2 8 2 9 2 9 2 6 18 2 6 2 9 2 6 3 0 2 8 2 8 2 6 2 4 2 7 14 14 15 10 11 15 3 2 3 2 2 9 3 0 3 1 3 1 3 5 4 2 3 9 3 4 3 6 3 6 3 6 3 5 4 1 3 7 2 7 11 6 6 7 7 8 7 7 5 5 5 5 9 5 6 7 7 7 6 6 7 6 6 6 6 6 7 5 9 4 3 4 6 4 1 4 8 4 6 3 7 3 0 2 6 2 8 3 4 3 3 3 1 2 2 18 2 3 18 14 2 2 0 10 2 0 3 0 4 0 5 0 6 0 7 0 B aik Sedang B uruk T idak tahu

Evaluasi Publik

(30)

Diskusi Publik: "Divided Government"

Kinerja pemerintah dalam memberantas korupsi (%)

Evaluasi Publik

65 55 45 56 63 77 80 78 79 80 84 59 49 45 51 38 44 0 20 40 60 80 100 Se p t' 0 5 Se p t' 0 6 Se p t' 0 7 Se p t' 0 8 O kt '0 8 De s' 0 8 Fe b '0 9 M ar '0 9 M e i'0 9 Ju n '0 9 Ju l'0 9 Ja n '1 0 M ar '1 0 O kt '1 0 De s' 1 0 Ju l'1 1 De s' 1 1 Baik + Sangat baik

(31)

Puas terhadap kinerja SBY sebagai presiden (%)

80 69 65 71 63 56565558 67 6467 54 505556 58 5354 45 56 63 697074 80807985 75 70 6566 626359 5760 53545656545258515657 62 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 No v' 0 4 D es '0 0 4 M ar '0 5 Ju n '0 5 S ep t' 0 5 D es ' 0 5 Ja n ' 0 6 M ar ' 0 6 Ju n '0 6 S ep '0 6 No v' 0 6 D es '0 6 Fe b ' 0 7 M ar '0 7 M ei ' 0 7 Ju n '0 7 S ep '0 7 D es '0 7 M ar '0 8 Ju n '0 8 S ep '0 8 O kt '0 8 D es '0 8 Fe b '0 9 M ar '0 9 A p r' 0 9 M ei '0 9 Ju n '0 9 Ju l'0 9 No v' 0 9 Ja n '1 0 M ar '1 0 A u g '1 0 O kt '1 0 D es '1 0 M ei '1 1 Ju l'1 1 D es '1 1 Fe b '1 2 S ep '1 2 D es '1 2 M ar '1 3 A p r' 1 3 Ju n '1 3 O kt '1 3 D es '1 3 A p r' 1 4 M ei '1 4 Ju n '1 4

Evaluasi Publik

(32)

Diskusi Publik: "Divided Government"

Kinerja lembaga penegak hukum dalam memberantas

korupsi (baik atau sangat baik) (%)

Evaluasi Publik

54 56 50 48 48 48 38 45 46 47 39 47 66 61 57 66 20 30 40 50 60 70

Jan'10 Des'10 Mei'11 Des'12

POLISI KEJAKSAAN PENGADILAN KPK

(33)

 Sejak tahun 2000, perekonomian nasional terus menunjukkan perkembangan ke arah yang positif. Selalu mengalami pertumbuhan meski berfluktuasi.

 Pada tiga periode pemerintahan pasca reformasi, rata-rata pertumbuhan ekonomi pada periode kepresidenan SBY selalu lebih tinggi dibandingkan dengan periode Megawati.

 Tahun 2005, terjadi kenaikan harga BBM dan angka inflasi tinggi, ini menekan pertumbuhan ekonomi dari 2005 ke 2006. Tahun 2007 pertumbuhan yang lebih tinggi terjadi.

 Tahun 2008-2009, pertumbuhan ekonomi mengalami penurunan. Sebagaimana kita ketahui pada masa itu juga terjadi pelambanan ekonomi secara global. Tapi tahun 2010-2012 pertumbuhan ekonomi lebih tinggi dibandingkan tahun 2009.

(34)

Diskusi Publik: "Divided Government"

 Evaluasi publik terhadap situasi politik dan penegakan hukum nasional sejak 2011-2013, secara umum negatif. Akan tetapi tidak lantas berdampak serius terhadap kinerja perekonomian. Ini kemungkinan lebih karena semakin rendahnya evaluasi publik atas kinerja pemerintah dalam pemberantasan korupsi.

 Efek langsung atas evaluasi negatif ini kepada SBY sebagai pemimpin pemerintahan. Pada tahun 2011-2013 secara rata-rata kepuasan atas kinerjanya paling rendah selama periode 2009-2014.

 Tidak hanya terhadap SBY, begitu juga terhadap partai Demokrat yang dipimpin oleh SBY. Perolehan suaranya pada pemilu 2014 menurun hingga separuh.

 Evaluasi atas kondisi politik nasional yang buruk juga terjadi pada April 2004, meski kinerja perekonomian nasional mengalami pertumbuhan, akan tetapi konsekuensi politik harus ditanggung oleh PDIP, perolehan suara menurun dan Megawati kalah.

(35)

Kinerja Ekonomi Nasional

Tren PDB Perkapita (juta Rp)

6.8 6.9 7.1 7.3 7.6 7.9 8.2 8.6 9.0 9.3 9.7 10.2 10.7 11.1 5.9 6.1 6.3 6.5 6.7 7.0 7.3 7.7 8.0 8.3 8.7 9.2 9.7 10.2 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013

PDB riil/kapita* PDRB riil/kapita (akumulasi 33 Provinsi)

(36)

Growth PDB Perkapita (juta Rp)

1.5 2.9 3.2 3.5 4.2 4.0 4.9 4.6 3.2 4.6 5.0 4.8 4.3 2.7 2.9 3.4 3.6 4.6 4.3 5.0 4.5 3.8 4.9 5.3 5.4 4.9 12.6 10.0 5.1 6.4 17.1 6.6 6.6 11.1 2.8 7.0 3.8 4.3 8.4 0 1 2 3 4 5 6 7 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 Growth PDB riil/kapita* Growth PDRB riil/kapita (akumulasi 33 Provinsi) Inflasi

Diskusi Publik: "Divided Government"

*) 2012: data sementara, 2013: data sangat sementara

(37)

Average Growth PDB Perkapita (juta Rp)

2.8 4.2 4.7 3.2 4.4 5.1 8.5 8.8 5.9 3.9 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 2001-2004 2005-2009 2010-2013 2014** 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Rata-rata Growth PDB riil/kapita* Rata-rata Growth PDRB riil/kapita (akumulasi 33 Provinsi) Rata-rata Inflasi

*) 2012: data sementara, 2013: data sangat sementara

**) Hingga Sept 2014, tingkat inflasi 3.65. Ditambah rata-rata inflasi bulan Oktober-Desember 2009-2013, 0.29

(38)

Tantangan Pemerintahan

Jokowi-JK

(39)

 Menciptakan stabilitas politik untuk pemerintahan mendatang harus menjadi prioritas utama.

 Distribusi kekuatan politik merupakan konsekuensi langsung dari sistem demokrasi di Indonesia hingga saat ini, rakyat yang menentukan, dan oleh karena itu menjadi cermin dari harapan rakyat.

 Polarisasi kekuatan yang saat ini terjadi pada institusi-institusi politik kita sangat berpotensi menimbulkan kebuntuan atau

deadlock, menghambat pembangunan dan pada akhirnya

merugikan rakyat.

 Sejarah pemerintahan Indonesia sejak era reformasi telah menunjukkan, atau bahkan malah memberi pendidikan kepada elit politik untuk tidak membuat kegaduhan politik. Karena setiap kelompok yang dinilai bertanggung jawab kemudian dihukum, secara politik.

(40)

Diskusi Publik: "Divided Government"

 Dalam sistem presidensial dengan cita rasa parlementer, peran DPR tidak bisa diabaikan. Oleh karena itu, Koalisi Indonesia Hebat harus lebih lincah melakukan komunikasi politik ke elit-elit Koalisi Merah Putih.

 Kemenangan politik KMP dalam sidang-sidang paripurna di DPR maupun MPR sebenarnya bukan menunjukkan kehebatan elit-elit KMP, tapi harus dibaca dalam kerangka kelemahan elit politik PDI Perjuangan dalam menjalin komunikasi politik.

 Jokowi harus diberikan ruang lebih luas untuk menjadi panglima politik KIH untuk menjalin komunikasi politik dengan DPR dan DPD. Sebagai presiden terpilih, Jokowi adalah figur menentukan untuk menjajaki komitmen dengan beberapa anggota KMP yang bisa diajak bergabung dengan KIH. Jokowi juga dikenal lihai dan rendah hati, sehingga memudahkan penjajakan politik agar KIH tak mengulang kesalahan dan kekalahan di parlemen.

Jokowi Harus Proaktif Melakukan

Komunikasi Politik

(41)

Jokowi Tak Boleh Menjadi Presiden Boneka

dan Harus Membentuk Kabinet Kerja

 Selain harus memegang tongkat komando politik dan manajemen koalisi yang solid, ujian berikutnya yang tak kalah berat buat Jokowi adalah mengelola harapan publik yang membuncah.

 Agar Jokowi bisa mewujudkan harapan publik, Jokowi tidak boleh menjadi “presiden boneka.”

 Untuk membuktikan Jokowi bukan presiden boneka, Jokowi harus membentuk kabinet kerja, yang diisi kalangan ahli yang kompeten, berintegritas, dan tidak punya catatan HAM.

Pemerintahan yang terbelah antara kekuatan di

eksekutif dan legislatif seharusnya menjadi pemicu buat Jokowi untuk membentuk kabinet yang mengedepankan prinsip meritokrasi, yakni menempatkan the right persons in the right place.

(42)

Diskusi Publik: "Divided Government"

 Interaksi antar institusi politik menjadi faktor kunci berhasil atau tidaknya suatu pemerintahan dalam mencapai kemajuan ekonomi.

 Oleh karena itu, komitmen dari kelompok-kelompok yang memiliki kekuatan politik menjadi sangat penting, agar bisa mendistribusikan sumberdaya-sumberdaya potensial secara efisien.

 Semakin cepat interaksi tersebut mencapai stabilitas politik di pemerintahan, maka semakin cepat kemajuan ekonomi bisa tercapai.

(43)

 Akan tetapi, kekuatan politik memiliki masalah bawaan yang melekat, yaitu komitmen politik. Kelompok yang memiliki kekuatan politik cenderung memilih kebijakan yang bisa menguntungkan mereka. Pertimbangan efisiensi bagi perekonomian tidak dapat dipisahkan dari konflik distribusi.  Stabilitas politik kemudian menjadi semakin sulit dicapai,

pada akhirnya menghambat kemajuan ekonomi. Bukan hanya menghambat, malahan bisa semakin membebani keuangan negara.

 Oleh karena itu, penguatan mekanisme kontrol terhadap interaksi politik di pemerintahan menjadi penting. Bukan hanya untuk menyelamatkan keuangan negara, tetapi juga institusi politik dan sistem demokrasi yang terhormat.

Penegakan Hukum dan Mekanisme

Kontrol

(44)

Diskusi Publik: "Divided Government"

 Sejauh ini, KPK sebagai salah satu lembaga penegakan hukum, legitimasinya paling tinggi dalam upaya pemberantasan korupsi.

 Akan tetapi lembaga ini lebih terpusat sehingga sangat sulit untuk menjangkau seluruh wilayah pemerintahan di Indonesia. Harus ada upaya untuk semakin menguatkan fungsi KPK.

Penegakan Hukum dan Mekanisme

Kontrol

(45)

Referensi

Dokumen terkait

Pendekatan kuantitatif dipergunakan untuk mengungkap efektivitas penerapan manajemen berbasis sekolah (MBS) di SMP Saraswati 1 Tabanan. Sedangkan pendekatan kualitatif

Analisis kualitaif digunakan untuk mengetahui ada tidaknya kandungan logam Pb dalam sampel daun caisin menggunakan lampu katoda.Hasil yang diperoleh menunjukan dalam

Menurut penelitian Harapan (2004), yang bertujuan untuk mengidentifikasi tentang kepuasan kerja dan hubungannya dengan kinerja perawat tetap baik dalam memberikan asuhan

Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa kejadian kolibasilosis yang diisolasi dari anak babi secara umum didapatkan sebesar 42% dan kejadian tertinggi terjadi pada

Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Arma (2013) menyatakan dalam penelitiannya bahwa profitabilitas berpengaruh signifikan negatif terhadap opini audit going

Puji syukur Alhamdulillah karena saya dapat menyelesaikan Laporan Tugas Akhir ini yang berjudul Perancangan Pusat Budidaya Ikan Koi di Kabupaten Blitar dengan tepat waktu

Penelitian ini dilakukan untuk mempelajari kandungan dan profil mineral pada makanan hasil laut (seafood) yang umum dikonsumsi yaitu cumi-cumi (Loligo sp) dan udang

Bahasa Melayu di provinsi Jambi merupakan turunan dari cabang Austronesia dalam rumpun Malayik yakni bahasa Melayu yang bersejajar dengan Bahasa (isolek) Kerinci dan