• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROSIDING INOVASI PGSD Volume 1 Edisi 1 November 2017 e-issn:

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PROSIDING INOVASI PGSD Volume 1 Edisi 1 November 2017 e-issn:"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

PENERAPAN PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI INTERNALISASI NILAI-NILAI PANCASILA DALAM MATA KULIAH FILSAFAT PENDIDIKAN PADA MAHASISWA SEMESTER III PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH

DASAR UNIVERSITAS TRILOGI JAKARTA

Febrianti Yuli Satriyani

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Trilogi

[email protected]

Abstrak : Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran karakter melalui internalisasi nilai-nilai Pancasila dalam mata kuliah filsafat pendidikan pada mahasiswa semester III program studi pendidikan guru sekolah dasar Universitas Trilogi Jakarta. Pendekatan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan rancangan studi kasus. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan menggunakan analisis data model Miles dan Huberman. Metode validasi yang digunakan adalah triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan karakter dapat dilakukan melalui: (1) penerapan pembelajaran melalui internalisasi nilai-nilai pancasila dilaksnakan aktif berbasis konstruktivis dengan menerapkan berbagai model pembelajaran (cooperative learning,

problem based learning, dan direct instructional); (2) penerapan nilai-nilai pancasila sebagai

pembentuk karakter baik bagi mahasiswa terbukti 85% efektif; dan (3) karakter yang berhasil dikembangkan adalah sikap religius, toleransi, demokratis, rasa ingin tahu, kerja keras, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, disiplin, jujur dan mandiri, cinta tanah air dan semangat kebangsaan, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, kreatif, dan tanggung jawab.

Kata Kunci :

Pendidikan karakter, nilai-nilai pancasila, filsafat pendidikan

Abstract : This study aims to describe the implementation of character learning through the internalization of the values of Pancasila in the course of philosophy of education in the third semester students of the elementary school teacher education program of Trilogy University of Jakarta. The approach in this research is qualitative with case study design. Technique of collecting data is done through observation, interview, and documentation. Data analysis technique used is descriptive qualitative by using data analysis model Miles and Huberman. The validation method used is triangulation. The results showed that character education can be done through: (1) the application of learning through the internalization of the values of Pancasila implementation actively based constructivist by applying various learning models (cooperative learning, problem based learning, and direct instructional); (2) the application of Pancasila values as good character formers for students is proven to be 85% effective; and (3) developed character is religious attitude, tolerance, democratic, curiosity, hard work, reading, caring environment, social caring, discipline, honest and independent, love of the homeland and spirit of nationality, communicative, peaceful, creative, and responsible.

(2)

Tujuan pendidikan nasional menurut Undang-undang nasional No. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional pasal 3 adalah, “mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”. Tujuan pendidikan nasional menurut Ki Hajar Dewantoro yaitu, “agar peserta didik memiliki kepribadian baik dan sempurna dalam hidup, dimana ini akan sejalan dengan masyarakat, alam, dan lingkungan. Dapat disimpulkan bahwa tujuan pendidikan adalah mengembangkan pengetahuan, keterampilan serta sikap baik dalam diri peserta didik.

Seluruh penduduk Indonesia

merupakan komponen inti pendukung terciptanya tujuan pendidikan tersebut.

Mahasiswa merupakan salah satu

komponen inti sebagai perwakilan generasi muda yang sangat berkontribusi baik secara pikiran maupun tenaga untuk mewujudkan tujuan pendidikan. Dari hasil observasi secara global pada mahasiswa di Indonesia masih banyak mahasiswa yang kurang menyadari esensi pentingnya sumbangsih

positif dari diri mereka untuk

keeterlaksanaan dan ketercapain tujuan pendidikan tersebut.

Faktanya saat ini kondisi karakter mahasiswa sangatlah miris, hal ini terkait dengan berbagai kegiatan anarkis yang dilakukan oleh beberapa mahasiswa seperti, (1) kerusuhan antara mahasiswa fakultas ilmu sosial dan politik dengan fakultas teknik Universitas Riau saat wisuda yang menyebabkan 8 orang mahasiswa cidera serius pada 5 oktober 2017 (https://news.okezone.com/), (2) unjukrasa anarkis mahasiswa antar fakultas

di UKI Toraja yang menyebabkan

perkuliahan diliburkan selama 1 minggu

dan kerugian materiil kampus

(https://www.karebatoraja.com/).

Mirisnya karakter mahasiswa juga bisa diobservasi oleh peneliti dari sikap mahasiswa kepada dosen, seperti ketika dosen memberikan tugas, mahasiswa memberikan respon berupa sorak, “huuu, ah, dsb”. Hasil wawancara dengan beberapa dosen di Universitas Trilogi pada

kamis, 12 Oktober 2017 juga

menyimpulkan bahwa, “(1) sopan santun mahasiswa kepada dosen masih kurang, dan (2) kesadaran mahasiswa akan kewajibannya masih kurang, sehingga

(3)

perlu diperbaiki dan dikoreksi dari proses pendidikan yang sudah kita laksanakan”.

Beberapa contoh minimnya

karakter baik dalam diri mahasiswa menjadi salah satu penyebab peneliti menerapkan pembelajaran karakter melalui internalisasi nilai-nilai Pancasila dalam mata kuliah Filsafat Pendidikan pada mahasiswa semester III Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Penerapan nilai-nilai dalam lima sila Pancasila diharapkan peneliti bisa menjadi salah satu

formula yang dapat meningkatkan

dimilikinya karakter baik dalam diri mahasiswa. Universitas Trilogi juga merupakan salah satu Universitas yang aktif menggaungkan untuk menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam seluruh kegiatan akademik dan non akademik.

Menurut Ki Hadjar Dewantara dalam Akbar (2013), karakter adalah panduan segala tabiat manusia yang bersifat tetap sehingga menjadi tanda khusus antara orang yang satu dengan orang lainnya. Oleh karena itu, untuk membangun karakter pada diri seseorang, ada tiga unsur karakter yang perlu dikembangkan secara bersamaan, yakni

ngerti (mengetahui dan memahami),

ngroso (merasakan), dan nglakoni

(melakukan) (Akbar, 2013). Pendidikan karakter pada hakikatnya adalah sebuah perjuangan bagi setiap individu untuk

menghayati kebebasannya dalam hubungan

mereka dengan orang lain dan

lingkungannya sehingga ia dapat

mengukuhkan dirinya sebagai pribadi yang khas dan memiliki integritas moral yang bisa dipertanggung-jawabkan (Koesoema, 2011).

Akbar (2011:10) menyebutkan bahwa pendidikan karakter pada dasarnya

merupakan upaya dalam proses

menginternalisasikan, menghadirkan, menyemaikan, dan mengembangkan nilai-nilai kebaikan pada diri peserta didik sehingga melalui internalisasi nilai-nilai kebaikan tersebut diharapkan dapat mewujudkan perilaku baik. Karakter yang baik terdiri dari mengetahui hal yang baik, menginginkan hal yang baik, dan melakukan hal yang baik melalui kebiasaan dalam berpikir, kebiasaan dalam hati, dan kebiasaan dalam tindakan (Lickona, 2013). Nilai yang dikembangkan dalam pendidikan budaya dan karakter bangsa diidentifikasi dari sumber-sumber inti. Sumber yang dimaksud adalah agama, Pancasila, budaya dan tujuan nasional pendidikan (Pengembangan Budaya dan

Karakter Bangsa, 2010). Untuk

mewujudkan nilai-nilai yang ingin

dikembangkan oleh Pengembangan

Budaya dan Karakter Bangsa dapat menggunakan pendekatan menyeluruh (komprehensif). Pendidikan komprehensif

(4)

dimaknai bahwa sekolah dapat melakukan

intervensi dan mengintegrasikan

pendidikan nilai ke dalam seluruh program sekolah (Kemendiknas, 2011).

Pendidikan karakter hendaknya dilakukan melalui berbagai program kampus, antara lain (1) dalam kegiatan belajar mengajar yang diintegrasikan dalam KBM; (2) melalui pengembangan budaya kampus dengan pembiasaan dalam kegiatan keseharian di kampus; (3) melalui kegiatan ekstrakurikuler; (4) kegiatan keseharian di rumah dan masyarakat melalui penerapan pembiasaan kehidupan keseharian di rumah yang selaras dengan yang terjadi di satuan pendidikan (Akbar, 2011).

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan, (1) penerapan pendidikan karakter melalui internalisasi nilai-nilai Pancasila dalam matakuliah Filsafat Pendidikan, (2) menjelaskan keefektifan penerapan pendidikan karakter melalui internalisasi nilai-nilai Pancasila dalam matakuliah Filsafat Pendidikan, dan (3) menyebutkan serta menjelaskan karakter apa saja yang bisa terinternalisasi melalui pembelajaran dengan menerapkan nilai-nilai Pancasila pada matakuliah Filsafat Pendidikan di Prodi PGSD Universitas Trilogi Jakarta.

METODE

Pendekatan yang digunakan pada penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Rancangan yang digunakan yaitu studi kasus karena peneliti menyelidiki secara cermat suatu peristiwa, aktivitas, dan proses terhadap obyek yang diteliti. Pada penelitian ini, peneliti berusaha untuk mengetahui, memahami, dan menghayati pelaksanaan penerapan pendidikan karakter melalui internalisasi nilai-nilai Pancasila dalam matakuliah Filsafat Pendidikan pada mahasiswa semester III program studi pendidikan guru sekolah dasar Universitas Trilogi Jakarta. Penelitian ini dilaksanakan di Universitas Trilogi yang beralamatkan di jalan Taman Makam Pahlawan Kalibata Kecamatan Pancoran Kota Jakarta.

Teknik pengumpulan data yang dilakukan oleh peneliti yaitu, observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data yang akan dikumpulkan oleh peneliti berupa data fisik, tertulis, aktivitas, dan lisan. Data fisik diperoleh melalui teknik observasi dan wawancara. Data tertulis diperoleh melalui teknik dokumentasi. Data aktivitas diperoleh peneliti melalui teknik observasi, dokumentasi, dan dibantu juga dengan catatan lapangan. Data lisan, diperoleh melalui teknik wawancara mendalam terhadap subyek penelitian yang berkaitan dengan fokus penelitian.

(5)

Data yang dikumpulkan oleh peneliti berupa hasil pengamatan kegiatan perkuliahan, hasil wawancara dengan dosen dan mahasiswa saat diterapkannya pembelajaran berbasis nilai-nilai pancasila, dan dokumentasi kegiatan pembelajaran yang berlangsung sebagai bukti fisik. Pengumpulan data tersebut terus dilakukan secara berulang sampai menemukan titik jenuh yaitu kesamaan data pada kegiatan pengumpulan dengan metode yang berbeda sebagai bentuk kroscek.

Penelitian ini menggunakan teknik analisis data deskriptif kualitatif dan menggunakan analisis data model Miles dan Huberman (1992), yang terdiri dari 3 tahapan yaitu reduksi data, display data, dan verifikasi data. Pengecekan keabsahan temuan dilakukan dengan menggunakan triangulasi. Triangulasi dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu triangulasi sumber, triangulasi teknik dan triangulasi waktu.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Penerapan Pendidikan Karakter Melalui Internalisasi Nilai-nilai Pancasila dalam Mata Kuliah Filsafat Pendidikan Pada Mahasiswa Semester III Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar.

Dasar penerapan nilai-nilai dalam sila Pancasila pada kegiatan pembelajaran yang bertujuan sebagai pembentukan karakter baik dalam diri mahasiswa

berlandaskan pada isi Pengembangan Budaya dan Karakter Bangsa, (2010) yang

menjelaskan bahwa,

“Nilai yang dikembangkan dalam pendidikam budaya dan karakter bangsa diidentifikasi dari sumber-sumber inti. Sumber yang dimaksud adalah agama, Pancasila, budaya dan tujuan nasional pendidikan”.

Penerapan pembelajaran melalui internalisasi nilai-nilai pancasila dilakukan dengan cara learning by doing, yaitu belajar sambal dilakukan. Setiap materi pada kegiatan pembelajaran selalu dikaitkan dengan nilai-nilai lima sila Pancasila.

Pembelajaran dilaksanakan aktif berbasis konstruktivis dengan menerapkan berbagai model pembelajaran (cooperative learning, problem based learning, dan direct instructional). Penerapan berbagai model pembelajaran tersebut disesuaikan dengan isi materi, kedalaman, dan keluasan materi serta kondisi psikis serta kecenderungan gaya belajar mahasiswa. Penggunaan metode yang bervariasi dapat menyebabkan kegiatan pembelajaran menjadi lebih hidup dan mahasiswa terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran.

Materi filsafat pendidikan yang awalny dianggap sulit dan rumit menjadi mudah. Hal ini terbukti pada saat kegiatan pembelajaran berlangsung, mahasiswa yang biasanya duduk di belakang dan asik

(6)

dengan aktivitasnya sendiri, memilih duduk di posisi bangku paling depan dan sangat antusias mengikuti kegiatan pembelajaran dengan model direct instructional (pembelajaran langsung) dengan dosen sebagai pemateri utama. Pada prosesnya terjadi kegiatan tanya jawab yang sangat hidup, 70% mahasiswa terlibat aktif dalam kegiatan tanya jawab.

Setelah dosen menerangkan materi, mahasiswa diwajibkan membuat 5 soal beserta jawabannya dan mereka diberi kesempatan untuk menghafalkan serta memahami apa yang mereka tuliskan. Pada kegiatan tersebut dosen berkeliling untuk memberikan semangat dan arahan kepada mahasiswa. Suasana terlihat kondusif, mahasiswa terlihat fokus dan bertanggung jawab terhadap tugasnya. Setelah itu mereka melakukan kegiatan tanya jawab secara bergiliran dengan teman-teman di kelasnya. Hal ini terbukti efektif dalam melatih sikap tanggung jawab, aktif, kreatif, inovatif, interaktif dan komunikatif dalam diri setiap mahasiswa.

Model pembelajaran lain yang digunakan adalah cooperative learning dan problem based learning. Pada prosesnya mahasiswa dikondisikan belajar secara

berkelompok dan kemudian mereka

diberikan 1 masalah pada setiap kelompok. Selanjutnya mereka ditugaskan untuk

mencari jawaban sebagai solusi atas masalah tersebut.

Pada prosesnya mahasiswa terlihat semangat dan antusias mencari jawaban dengan diskusi, mencari jawaban dari berbagai sumber seperti dari buku dan sebagaian besar mahasiswa browsing internet. Pada moment tersebut dosen berkeliling untuk melihat proses diskusi, menjadi fasilitator bila ada kelompok yang masih mengalami kesulitan atau kendala

dalam menemukan jawaban ataupun

menyatukan pendapat, serta sebagai motivator yang senantiasa memberi semangat dan motivasi agar semua mahasiswa terlibat aktif dalam kegiatan kelompok.

Pelaksanaan pembelajaran dengan menerapkan berbagai model merujuk kepada sila ketiga pancasila, persatuan Indonesia dan sila keempat kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, serta sila kelima, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Pada awal penugasan dosen menjelaskan bahwa kerja kelompok adalah kerja bersama, kerja satu tim. Dosen juga menjelaskan perlu diterapkannya ketiga sila tersebut dalam proses penemuan jawaban agar bisa berhasil dengan maksimal.

Penjabaran sila ketiga, persatuan Indonesia menjadi salah satu aspek penting

(7)

untuk diterapkan dalam kelompok. Seluruh anggota kelompok harus bersatu padu

menyatukan hati, pemikiran dan

gagasannya dalam diskusi kelompok, harus dimiliki sikap tenggang rasa dalam kegiatan diskusi, sehingga lebih banyak pemikiran yang tertampung dalam proses diskusi sehingga hasilnya maksimal.

Penerapan sila keempat kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan. Pada proses pembelajaran dengan diskusi, proses pengambilan keputusan jawaban dilaksanakan melalui musyawarah oleh seluruh anggota kelompok dan jawaban yang disepakati dalam musyawarah dituliskan dalam lembar jawaban yang akan dipresentasikan.

Implementasi sila kelima yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia adalah, dosen harus adil perlakuannya pada semua mahasiswa. Ketua kelompok juga harus bersikap adil kepada seluruh anggotanya, tidak ada berat sebelah atau memihak pada anggota tertentu.

Pada kegiatan diskusi tercermin seluruhnya berjalan dengan lancar dan pengambilan keputusan berdasarkan

musyawarah dalam bentuk diskusi

kelompok. Pemilihan anggota perwakilan kelompok yang akan presentasi juga dilaksanakan secara musyawarah dan

terlihat mahasiswa semua terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran.

Efektivitas Penerapan Pembelajaran Karakter Melalui Internalisasi Nilai-nilai Pancasila dalam Mata Kuliah Filsafat Pendidikan Pada Mahasiswa Semester II Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar.

Penerapan nilai-nilai pancasila sebagai pembentuk karakter baik bagi mahasiswa terbukti 85% efektif. Untuk mewujudkan nilai-nilai yang ingin

dikembangkan dapat menggunakan

pendekatan menyeluruh (komprehensif). Pendidikan komprehensif dimaknai bahwa sekolah dapat melakukan intervensi dan mengintegrasikan pendidikan nilai ke

dalam seluruh program sekolah

(Kemendiknas, 2011).

Penerapan nilai-nilai Pancasila dianggap sesuai dengan pemikiran Lickona yang menyatakan, “Karakter yang baik terdiri dari mengetahui hal yang baik, menginginkan hal yang baik, dan melakukan hal yang baik melalui kebiasaan dalam berpikir, kebiasaan dalam hati, dan kebiasaan dalam tindakan”. Pemberian wawasan mengenai nilai Pancasila,

memahamkan mahasiswa pentingnya

mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila melalui proses diskusi dan tanya jawab, sehingga membuat mereka sadar untuk melaksankan segala aktivitas dengan berlandaskan pada nilai-nilai Pancasila

(8)

menjadikan ketercapaian tujuan pembelajkaran lebih efektif.

Pada prosesnya mahasiswa diajak berdialog, tanya jawab secara klasikal, diskusi kelompok untuk memperoleh pemahaman mengenai materi. Pada proses diskusi kelompok dan klasikal mahasiswa menyimpulkan bahwa lima sila Pancasila yaitu, (1) Ketuhanan yang Maha Esa, (2) Kemanusiaan yang adil dan beradab, (3) Persatuan Indonesia, (4) Kerayatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, dan (5) Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, sangatlah penting untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Mahasiswa menyatakan bahwa lima nilai dalam sila Pancasila merupakan nilai-nilai yang jika diterapkan dalam kehidupan akan membuat kehidupan mereka semakin baik. Hasil belajar mahasiswa berupa, (1) aspek kognitif (kualitas dan keaktifan

mahasiswa dalam mengemukakan

pendapat berupa pertanyaan, sanggahan dan masukan) semakin tinggi, (2) keterampilan berbicara, berinteraksi, serta keberanian dan kepercayaan diri dalam diri mahasiswa terlihat semakin meningkat. Hal ini terbukti dari frekuensi keaktifan individu dalam kelompok dan klasikal kelas serta berbobotnya kualitas jawaban, (3) sikap mahasiswa kepada dosen terlihat lebih tertata dan sopan, baik ketika mereka

akan bertanya, izin ke toilet, ekspresi ketika berkomunikasi, semuanya terlihat dan terasa lebih baik daripada sebelum diberlakukannya pembelajaran tanpa menginternalisasikan nilai-nilai Pancasila.

Karakter yang terinternalisasi setelah kegiatan pembelajaran dengan menerapkan nilai-nilai Pancasila pada mata kuliah filsafat pendidikan di Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Trilogi Jakarta.

Internalisasi nilai-nilai Pancasila dalam pembelajaran diamati oleh peneliti selama 8 minggu kepada mahasiswa semester tiga dalam mata kuliah filsafat pendidikan melalui penyisispan nilai-nilai pancasila dalam setiap materi ajar dan kegiatan pembelajaran terbukti efektif.

Beberapa karakter baik yang berhasil dikembangkan adalah sikap religius yaitu pada saat memulai kegiatan pembelajaran maupun ujian, mahasiswa selalu mengawali kegiatan dengan berdoa terlebih dahulu. Aspek kedua yang terinternalisasi adalah toleransi diantara sesama teman, yaitu mereka selalu menghargai dan menghormati.

Aspek ketiga adalah demokratis. Sikap ini dimiliki dan diimplementasikan mahasiswa dalam setiap pengambilan keputusan, misal melalui voting, sikap keempat adalah, rasa ingin tahu yang terimplementasikan dengan antusiasme

(9)

mahasiswa dalam kegiatan diskusi dan

tanya jawab baik keteika dosen

menerangkan ataupun ketika teman mereka presentasi.

Aspek kelima adalah kerja keras. Hal ini tampak ketika mahasiswa diberikan tantangan dengan durasi waktu yang ditentukan. Mereka terlihat bekerja dngan fokus, cermat, teliti dan sepenuh hati mengerjakan kewajibannya, menampilkan jawaban ataupun karya dengan sebaik mungkin. Aspek keenam adalah gemar membaca, hal ini disimpulkan dosen berdasarkan hasil kuis pada awal kegiatan pembelajaran. 70% Mahasiswa terlibat aktif menjawab dengan pengetahuan yang bersumber dari buku, aspek ketujuh adalah peduli lingkungan, dimana mereka selalu membuang sampah yang dikelas ke tempat sampah sebelum perkuliahan dimulai.

Aspek kedelapan adalah peduli sosial, mahasiswa terlihat , care dan terlihat memiliki sikap saling kepada temannya. Ketika ada teman yang mengalami kesusahan (sakit, kehilangan uang) mereka selalu membantunya. Aspek kesembilan yaitu disiplin, 80% mahasiswa selalu rajin masuk kelas dan mengerjakan tugas serta datang 15 menit sebelum perkuliahan dimulai, jujur dan mandiri.

Karakter lain yang tampak juga dimilikinya sikap cinta tanah air dan semangat kebangsaan, menghargai prestasi,

bersahabat/komunikatif, cinta damai, kreatif, dan tanggung jawab dalam diri setiap mahasiswa. Semua karakter baik itu sangat berdampak pada output mahasiswa, seperti pengetahuan, keterampilan dan sikap mereka yang tentunya juga sangat berpengaruh pada hasil belajar mahasiswa dan masa depan bangsa ini kedepannya.

SIMPULAN

Penginternalisasian nilai-nilai Pancasila dalam proses pembelajaran menjadi sesuatu yang sangat penting dan berdampak besar pada kualitas output mahasiswa. Pentingnya pengetahuan tentang ilmu yang harus mereka kuasai, kecakapan keterampilan hidup dan sikap

yang baik menjadi tujuan utama

pendidikan.

Mahasiswa adalah bagian dari masyarakat Indonesia yang akan menjadi generasi penerus pembangun bangsa, sehingga perlu bagi mahasiswa untuk memahami esensi tujuan pendidikan Indonesia berdasarkan nilai-nilai Pancasila. Masyarakat yang baik akan membawa dampak yang baik pula bagi masa depan

negaranya. Pemahaman mengenai

pentingnya melakukan segala hal dengan hati yang tulus dan ikhlas serta usaha terbaik yang bisa dilakukan dengan tetap berlandaskan pada nilai-nilai dalam 5 sila

(10)

Pancasila sebagai falsafah Negara Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

Akbar, Sa’dun. 2011. Revitalisasi Pendidikan Karakter di Sekolah Dasar. Pidato Pengukuhan Guru

Besar dalam Bidang Ilmu

Pendidikan Dasar pada

Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) UM. Malang, 8 Juni.

Akbar, Sa’dun. 2013. Revitalisasi Pendidikan Karakter pada Satan Pendidikan Dengan Pendekatan Komprehensif (Makalah Seminar Nasional

Pendidikan Karakter Bangsa). Malang: Universitas Negeri Malang. Akbar, Sa’dun, Ahmad Samawi, Arofiq,

Layli Hidayah. 2013. Pendidikan

Karakter Best Practices.

Universitas Negeri Malang: Lembaga Penelitian&Pengabdian Masyarakat

Akbar, Sa’dun. 2013. Model Tripakoro dalam Pembelajaran Nilai dan

Karakter Kepatuhan untuk

Sekolah Dasar. Malang: UM Press.

https://news.okezone.com/ https://www.karebatoraja.com/

Huberman, A.M., & Miles, M.B. Tanpa Tahun. Analisis Data Kualitatif. Terjemahan Tjejep Rohendi Rohidi. 1992. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia (UI-Press).

Kemendiknas. 2011b. Grand Design Revitalisasi Pendidikan Karakter di Sekolah Dasar melalui Pendekatan Menyeluruh. Jakarta: Direktorat Pembinaan Sekolah Dasar.

Lickona, Thomas. 2013. Education For Character. Terjemahan Juma Abdu

Wamaungo. Jakarta: Bumi

Referensi

Dokumen terkait

PTK merupakan bentuk penelitian tindakan yang diterapkan dalam aktivitas pembelajaran di kelas. Ciri khusus PTK adalah adanya tindakan nyata yang dilakukan sebagai

PANDANGAN HAKIM PENGADILAN AGAMA LAMONGAN DALAM MEMUTUS PERKARA PENGANGKATAN ANAK YANG TIDAK DIKETAHUI ORANG TUA KANDUNGNYA Maka pembimbing menyatakan bahwa skripsi tersebut

Penurunan dan keretakan serta kemiringan dinding, bukan karena daya dukung tanah yang rendah melainkan akibat kesalahan pada teknis pelaksanaan dimana tanah urug yang di hampar

Kepulauan Nias sangat sesuai sebagai pengembangan tanaman ubijalar karena sudah sesuai dengan kebiasaan masyarakat, walaupun secara umum hanya memanfaatkan daun sebagai bahan

Berbeda dengan masyarakat berpenghasilan tinggi preferensi dalam memilih rumah dari urutan yang paling diminati adalah pencapaian, penyediaan infrastruktur,

Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang sudah ada sebelumnya adalah (1) dalam penelitian tersebut belum ditemukan kesinoniman yang mengandung bentuk

IRR adalah suku bunga yang dihitung pada saat NPV=0, jadi sebelum menghitung IRR lebih baik mencari nilai NPV lebih dahulu. Kemudian dari nilai IRR dibandingkan

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui korelasi fibrosis hati antara pemeriksaan transabdominal ultrasonografi dupleks dengan serum marker King’s score pada