• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ekspresi Androgini Sebagai Suatu Fashion’’ (Studi Kasus Pada Mahasiswa FISIP USU)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Ekspresi Androgini Sebagai Suatu Fashion’’ (Studi Kasus Pada Mahasiswa FISIP USU)"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Di dalam penelitian ini yang akan dibahas adalah salah satu bagian dari ekspresi gender

yaitu androgini. Androgini merupakan kombinasi karakteristik1 antara maskulin dan feminin.

Ambiguitas2 seksual dapat ditemukan dalam fashion dan gaya hidup seksual. Istilah androgini

berasal dari bahasa yunani kuno, Andro berarti laki-laki dan Gyne berarti perempuan.

Sementara jika dalam bahasa Indonesia yaitu Androgini. Androgini ini merupakan suatu

ekspresi yang dimana gendernya tidak termasuk salah satu diantara laki-laki atau perempuan

tetapi masuk terhadap keduanya.

Terkadang aksesoris yang biasanya dikenakan oleh perempuan umumnya dipakai

laki-laki terlihat sangat aneh dan aksesoris yang biasanya dikenakan oleh laki-laki

dipakai oleh perempuan juga sangat terlihat aneh. Namun, ada satu perbedaan dengan

laki-laki yang kemayu, Androgini justru memperlihatkan pembagian karakter maskulin

dan feminin dalam satu orang pada saat yang bersamaan3. Bagi orang-orang yang tahu

tentang fashion, menemukan orang dengan tipikal androgini merupakan hal yang

menyenangkan. Ekspresi gender androgini ini menarik untuk di bahas dan di

teliti secara mendalam karena ekspresi androgini ini banyak terdapat di lingkungan

masyarakat terutama kampus.

      

1Karakteristik adalah sifat. 

2Ambiguitas adalah keraguan, ketidakjelasan, ketidaktentuan. 

(2)

Banyak androgini yang diidentifikasikan antara laki-laki dan perempuan. Didalam suatu

hubungan androgini lebih ekspresif dibandingkan laki-laki (maskulin) dan perempuan

(feminin). Dalam ekspresi gender seorang androgini tidak dapat sepenuhnya cocok dengan

peranan gender maskulin dan feminin. Banyak juga seorang androgini yang menggambarkan

dirinya secara mental di antara laki-laki dan perempuan. Androgini bukan sekedar fashion

saja tetapi sebagai suatu ekspresi gender. Androgini banyak diartikan oleh pandangan

masyarakat sebagai suatu fashion atau gaya hidup, itu memang benar bahwa androgini ini

lebih kepada mengekspresikan penampilannya sehari-hari yaitu dengan cara fashionnya atau

cara dia berpakaian.

Disetiap lingkungan masyarakat pasti ada seorang laki-laki yang suka memakai bedak

yang tebal, lipstick, ataupun pakaian perempuan yang lebih identik dengan perempuan, dan

ada juga seorang perempuan yang rambutnya pendek seperti laki-laki, memakai kemeja

kotak-kotak besar yang lebih identik dengan laki-laki. Itu semua disebut androgini. Seorang

laki-laki yang berpenampilan androgini tetap mengaku dirinya yaitu laki-laki, begitupun juga

seorang perempuan yang berpenampilan androgini tetap mengaku dirinya yaitu perempuan.

Ada juga godaan yang terdapat pada androgini yaitu godaan untuk menjadi homoseksual.

Godaan homoseksual ini bisa saja terjadi apabila seorang androgini berada di dalam suatu

lingkungan yang beridentitaskan homoseksual, misalnya seorang laki-laki androgini tidak

suka dibilang waria atau transgender dia tetap mengaku bahwa dia laki-laki tulen yang

tertarik pada perempuan. Namun seorang laki-laki androgini akan lebih mudah untuk

didekati kaum gay dan bergabung ke dalam kaum gay tersebut karena pria androgini itu bisa

memerankan antara maskulin dan feminin dikehidupannya, begitupun sebaliknya dengan

seorang perempuan androgini. Orientasi sexual dari androgini juga beragam tidak semuanya

sama. Ada yang berorientasi homosexual karena mungkin dia lebih nyaman menjalani

(3)

yang dimana androgini ini tetap menganggap dia tulen sebagai laki-laki dan sebagai

perempuan dan tertarik pada lawan jenisnya. Ada juga yang berorientasi bisexual yang

dimana androgini ini tertarik kepada lawan jenisnya dan sesama jenisnya.

Androgini ini memang tidak bisa ditebak orientasi sexualnya dikarenakan sifat maskulin

dan sifat feminim ada pada dirinya sehingga dia mengaplikasikan orientasi sexualnya sesuai

dengan hati maupun kenyamanannya dalam berhubungan. Intinya androgini ini lebih bersifat

suatu saat dia seperti laki-laki (maskulin) dan suatu saat juga dia bersifat seperti perempuan

(feminin).Ini yang membuat keraguan terhadap identitas dirinya. Orang androgini adalah

perempuan atau laki-laki yang memiliki derajat yang tinggi dari kedua feminin (ekspresif)

dan maskulin (instrumen) sifat. Seseorang feminin peringkat tinggi pada feminin dan

peringkat rendah terhadap maskulin tetapi tetap ada keduanya dan seseorang maskulin

peringkat tinggi pada maskulin dan peringkat rendah pada feminin tetapi tetap ada keduanya.

Perkembangan androgini ini ada semenjak ekspresi androgini muncul di saat masa

feminis. Feminis ada untuk mensetarakan perempuan dan laki-laki. Karena perempuan

dianggap tidak sama atau tidak setara dengan laki-laki maka muncul lah feminis bersamaan

dengan lahir nya ekspresi gender androgini. Ekspresi serta identitas androgini ini

menunjukkan bahwa perempuan juga memiliki sifat maskulin dan laki-laki memiliki sifat

feminin yang ada di dalam diri nya dan dapat diperlihatkan selama itu membuatnya nyaman

dan merasa bebas. Di zaman sekarang ini banyak masyarakat luas terutama mahasiswa

mempunyai ekspresi fashion androgini yang secara sadar maupun yang secara tidak sadar.

Kebanyakan mahasiswa yang memiliki ekspresi androgini secara bebas memperlihatkan

bahwa dirinya memiliki sifat maskulin dan sifat feminin yang dapat dipadukan menjadi satu

(4)

Pada era modern ini, konsep Androgini banyak berkembang didunia fashion dan

entertainment. Mungkin dunia fashion lebih banyak berbicara dan mempunyai

nama-nama model Androgini dunia yang tersohor seperti Andre Pejic (yang sudah menjalani

operasi kelamin dan berganti sebagai wanita), Zhao Yiming, Darrel Ferhostan (asli

Indonesia), dan Kristina Salinovic (Model Androgini wanita yang kerap menunjukan

ekspresi pria dingin).4

Androgini Style, istilah yang cukup jarang didengar awam ini nyatanya bukan lagi hal

asing bagi kalangan fashionista5. Gaya androgini bisa dijabarkan menjadi sebuah gaya

berpenampilan yang merefleksikan sisi feminin sekaligus maskulin secara bersamaan.

Misalkan seorang wanita yang tampil sexy sekaligus maskulin. Namun, gaya berpenampilan

yang satu ini tidak hanya fokus pada gaya busananya saja, termasuk aksesoris tas dan sepatu

maupun tatanan rambut hingga make-upnya.

Jika melihat dari definisinya, mungkin belum bisa dibayangkan seperti apa gaya

androgini semacam ini. Namun, jika dicontohkan dengan style fashion ala Lady Gaga,

SMASH, Super Junior, Dareel Ferhostan dan lain sebagainya, masyarakat tentu bisa

membayangkan seperti apa style6 androgini. Intinya, ada satu keseimbangan antara sisi

maskulin dan fenimin dalam satu penampilan. Seorang wanita yang tampil layaknya pria,

bahkan seorang pria yang tampil dengan busana feminin khas wanita. Faktanya, gejala

androgini ini telah banyak menyebar dimasyarakat dan masyarakat belum mengetahui bahwa

fashion maupun peran maskulin dan feminin dalam satu tubuh secara bersamaan.

      

4http://lifestyle.androgini/2019792/merabata.pdf.gayaandroginitidakusangdimakanzaman(diakses pada 

tanggal 21/06/2014) 

(5)

Pada dasarnya setiap wanita bisa tampil dengan gaya androgini dengan memanfaatkan model

–model baju yang maskulin semisal jas, blazer, jumpsuit7 dari berbagai pusat perbelanjaan.

Pola asuh dari orang tua juga sangat berpengaruh dalam membentuk karakter seorang

anak untuk berperilaku feminin dan maskulin. Orang tua sejati nya yang memperkenalkan

kepada anak nya perilaku feminin dan maskulin, tetapi tidak menutup kemungkinan pola

asuh orang tua yang memperkenalkan perilaku yang diluar jenis kelamin anak agar anak itu

tahu. Ada juga orang tua yang membiarkan anak nya tumbuh dan berkembang sesuai dengan

ekspresi apa yang dia suka seperti maskulin, feminin, dan androgini. Pola asuh menunjukkan

bahwa tidak ada pembedaan peran laki-laki dan perempuan dalam kehidupan sehari-hari.

Pola asuh tidak perlu dibedakan antara laki-laki dan perempuan hanya karena kenyataan

bahwa perempuan menstruasi, hamil dan melahirkan. Sifat feminim dan sifat maskulin dapat

dikembangkan secara seimbang dalam kehidupan setiap hari. Kebanyakan anak atau

mahasiswi yang berekpresi androgini tidak menerima paksaan dari orang tua atau orang

terdekatnya untuk berperilaku dan berekspresi sesuai dengan jenis kelamin nya karena

mereka yang dikatakan androgini memiliki kebebasan tersendiri untuk berperilaku dan

berekspresi.

Hal ini membuat peneliti merasa bahwa jenis ekspresi gender androgini ini layak untuk

diteliti karena menimbulkan banyak pertanyaan dan permasalahan pada ekspresi ini. Banyak

juga kalangan masyarakat terutama mahasiswa tidak tahu tentang ekspresi gender androgini

bahkan keberadaan juga tidak semua orang tahu. Androgini ini layak diteliti agar dapat

menjadi pengetahuan bagi banyak orang dan mahasiswa bahwa setiap orang memiliki sifat

feminim dan sifat maskulin dalam tubuhnya dan dapat diaplikasikan dalam kehidupan

sehari-hari.

      

(6)

Alasan penulis memilih tempat penelitiannya di FISIP USU dikarenakan di FISIP USU

sendiri banyak terdapat dan terlihat adanya keberadaan mahasiswa yang memiliki ekspresi

androgini di tengah-tengah lingkungan kampus. Ekspresi yang maskulin dan feminin ada

pada satu tubuh secara bersamaan. Di FISIP USU sendiri merupakan wadah atau tempat yang

dimana mahasiswa bebas berekspresi misalnya dalam fashion.

1.2 Masalah Penelitian

Pada penelitian ini juga memiliki pertanyaan penelitian yang merupakan suatu masalah

yang ada pada ekspresi androgini ini serta identitasnya. Adapun pertanyaan penelitian ini

yaitu :

1. Bagaimana ekspresi fashion dan eksistensi androgini di kalangan mahasiswi FISIP

USU?

2. Bagaimana pendapat mahasiswa/i FISIP USU mengenai ekspresi androgini?

1.3 Tujuan Penelitian

Di dalam penelitian dan bahkan di setiap penelitian yang dilakukan harus memiliki

tujuan penelitian. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat serta mengetahui keberadaan

dan ekspresi androgini ini dilingkungan kampus. Penelitian ini sebagai suatu bentuk tulisan

ilmiah yang bermaksud untuk dapat menambah pengetahuan tentang androgini ini. Penelitian

ini juga bermaksud untuk memberikan suatu pengetahuan kepada mahasiswa serta

masyarakat akan androgini ini yang mungkin belum banyak masyarakat yang mengetahuinya.

1.4 Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini juga sebagai pengetahuan serta wawasan untuk mahasiswa

antropologi dan untuk sebagai penambah tulisan penelitian di Departemen Antropologi Fisip

(7)

pengetahuan yang mendalam dan luas secara akademis dan penelitian ini dapat berguna bagi

mahasiswa Antropologi Fisip USU sebagai kajian pustaka.

1.5 Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian ini di Universitas Sumatera Utara fokus penelitian di Fakultas Ilmu

Sosial dan Ilmu Politik. Pemilihan lokasi ini didasarkan bahwa ekspresi androgini banyak

terlihat dan belum banyak penelitian antropologi yang dilakukan di lokasi ini. Secara teknis

lokasi ini mudah dijangkau oleh peneliti dikarenakan peneliti merupakan mahasiswa dilokasi

ini. Hal ini membuat peneliti memilih lokasi ini sebagai lokasi penelitian.

1.6 Tinjauan Pustaka

Istilah gender digunakan sebagai sebuah kategori konseptual dan telah diberikan

sebuah makna yang sangat khusus. Gender merujuk kepada defenisi sosial budaya dari pria

dan wanita, cara masyarakat membedakan pria dan wanita serta memberikan peran-peran

sosial kepada mereka. Gender bersifat tidak tetap, ia berubah dari waktu ke waktu, dari suatu

kebudayaan ke kebudayaan lainnya, bahkan dari suatu keluarga ke keluarga lainnya.

Gender berbeda dengan jenis kelamin. Jenis kelamin bersifat alamiah dan tetap. Jenis

kelamin bersifat biologis, ia merujuk kepada perbedaan yang nyata dari alat kelamin dan

perbedaan terkait dalam fungsi kelahiran. Berdasarkan perbedaan antara jenis kelamin dan

gender. Menurut pendapat Fakih dalam buku ‘’Sejarah Wanita Perspektif Androgynous’’

bahwa konsep gender berarti sifat yang melekat pada kaum pria maupun wanita yang

dikontruksi secara sosial maupun kultural. Sifat yang dilekatkan pada wanita misalnya,

bahwa wanita dikenal : lemah lembut, cantik, emosional, keibuan. Sementara pria dianggap

kuat, rasional, jantan, perkasa. Pada prinsipnya, dalam pemahaman gender ada beberapa

(8)

lemah lembut dan keibuan, sementara ada juga wanita yang kuat, rasional, perkasa. Semua itu

bisa berbeda berdasarkan waktu, tempat, maupun kelas sosial8.

Menurut Sandra Bem yang merupakan pendukung awal androgini menyatakan bahwa

laki-laki dan perempuan androgini lebih fleksibel dan lebih sehat mental dari pada mental

individu maskulin dan feminin. Berdasarkan alat ukur yang dibuat oleh Bem (dalam Baron &

Byrne 1994) terdapat berbagai macam sifat yang dimiliki oleh pria dan wanita yang

menunjukkan sifat maskulin dan feminin. Sifat maskulin adalah :

1. Kemampuan memimpin

2. Tegas

3. Dominan

4. Kepribadian yang kuat

5. Agresif

6. Independen

7. Bertanggung jawab

8. Berkeyakinan kuat

Semua sifat ini menonjolkan rasionalitas dari laki-laki. Sementara sifat-sifat yang dimiliki

feminin adalah :

1. Lemah lembut

2. Cepat merasa iba

3. Hangat

4. Simpatik

5. Sensitif

6. Mudah tersinggung

      

(9)

7. Penuh kasih sayang

8. Memahami atau mengerti orang lain

9. Menyayangi anak

Semua sifat yang diatas menonjolkan emosi dan perasaan dari wanita. Dari zaman ke zaman

dan dari waktu ke waktu gender mulai berubah, dahulu gender hanya di kenal antara laki-laki

dan perempuan. Namun, sekarang gender atau identitas gender tidak hanya itu saja melainkan

ada 3 yaitu :

 Perempuan  Laki-laki

 Transgender adalah seseorang yang memutuskan untuk mengubah gender asalnya

menjadi gender dimana dia merasa nyaman9.

 Female to Male (Priawan-Perempuan ke laki-laki)  Male to Female (waria-Laki-laki ke Perempuan)

Identitas Sexual yaitu :

 Transeksual adalah seseorang yang melakukan perubahan jenis kelamin melalui

tindakan medis.

 Interseksual adalah seseorang yang dilahirkan dengan dua jenis kelamin.

 Queer adalah seseorang yang tidak merasa cocok dengan kategori identitas gender

yang ada dan tidak mau dikategorikan ke dalam kategori tersebut.

Ekspresi Gender yaitu :

 Androgini adalah kombinasi karakteristik maskulin dan feminin.

 Metrosexual adalah laki-laki yang mempunyai gaya atau penampilan mengikuti

perkembangan zaman dan ekspresi ini ada di daerah perkotaan.       

(10)

 Maskulin  Feminin

Androgini adalah pembagian karakter antara feminin dan maskulin secara bersamaan.

Androgini dari segi fashion mempunyai gaya tersendiri yang dimana perempuan bisa

memakai pakaian laki-laki dan laki-laki memakai pakaian perempuan. Gaya fashion

androgini ini tidak tetap pada satu gaya saja seperti feminin, tetapi sering menampilkan gaya

fashion yang berbeda-beda seperti feminin dan maskulin. Gaya fashion feminin dan maskulin

ini akan bertahan pada orang-orang yang menerapkan fashion androgini dalam kehidupannya.

Konsep androgini berasumsi bahwa anak laki-laki dan perempuan mempunyai potensi

yang sama untuk menjadi maskulin ataupun feminin, oleh karena itu perlu diperlakukan

sama. Apabila anak laki-laki dan perempuan sudah menginternalisasi peran-peran yang sama,

maka diharapkan tidak ada lagi peran-peran berstereotip gender. (Ratna Megawangi 1999 :

hal 114 )

Menurut pendapat Davis dalam buku ‘’The Woman’s Dres for Succes book’’

menyatakan bahwa perempuan karir dalam bekerja yang mengenakan pakaian seperti blazer,

kemeja, dan celana panjang yang melambangkan feminitas dimana ia melakukan

pekerjaannya dengan serius. Hal tersebut sangat melambangkan androginitas yang dimana

suatu pakaian atau fashion pria masih bisa dibentuk dengan cara feminin.

Menurut pendapat Adam dalam buku ‘’Sejarah Wanita: Perspektif Androgynous’’,

sejarah indonesia bersifat androcentric, berpusat pada kegiatan kaum pria saja. Tentu ini

tidak adil, karena wanita diperlakukan sebagai the second sex belaka. Walaupun diperlukan

(11)

yang berpusat pada wanita atau gynocentric. Ia lebih memilih sejarah androgynous, sejarah

dimana pria dan wanita sama-sama menjadi pemeran utama.

Konsep androgini lahir dan muncul sejak adanya feminisme beserta teori-teori feminisme.

Dalam artikel leksikal, feminisme adalah gerakan wanita yang menuntut hak sepenuhnya

antara kaum wanita dan pria (Moeliono).

Menurut Goefe feminisme ialah teori tentang persamaan antara laki-laki dan wanita di

bidang politik, ekonomi, atau kegiatan terorganisasi yang memperjuangkan h ak-hak serta

kepentingan wanita10.

Menurut Betty Friedan bahwa androgini lahir atau muncul dari konsep feminis yang tidak

adanya kesetaraan maupun keadilan sehingga muncul konsep androgini11. Perjuangan kaum

wanita atau perempuan yang berat untuk mencapai suatu kedudukan disebabkan karena

masih banyak masyarakat Indonesia yang masih menganut kaum patriarki, sehingga

menghasilkan keputusan dan sikap yang bias gender. Keadaan ini menjadi lebih parah dengan

adanya penafsiran yang salah dari hukum agama yang mempertajamkan keadaan bias gender.

Fashion adalah setiap mode pakaian atau perhiasan yang populer selama waktu tertentu

atau pada tempat tertentu. Istilah fashion sering digunakan dalam arti positif, sebagai sinonim

untuk glamour, keindahan dan gaya atau style yang terus mengalamai perubahan dari satu

periode ke periode berikutnya, dari generasi ke generasi. Juga berfungsi sebagai refleksi dari

status sosial dan ekonomi, fungsi yang menjelaskan popularitas banyak gaya sepanjang

sejarah kostum. Fashion atau mode semakin menjadi industri yang menguntungkan didunia

      

10 Data diambil dari buku Wanita Dalam Wanita 

11 Dikutip dari https://suluhpw.wordpress.com/2008/06/17/bettyfriedandangagasanandroginipolemik

(12)

internasional sebagai akibat dari munculnya rumah-rumah mode terkenal didunia dan majalah

fashion.12

Fashion itu berasal dari kata latin yaitu ‘’factio’’, jadi menurut salah satu ahli yakni

(Barnard, terj Ibrahim dan Iriantara, 1996 : 1) kata fashion sendiri mengacu pada kegiatan

yaitu sesuatu yang dilakukan seseorang. Berbeda dengan Peter kata ‘’fashion’’ yang sering

kita ucapkan meminjam dari istilah bahasa asing yang artinya ‘’busana’’ atau ‘’pakaian’’13.

Sejarah Fashion Indonesia

Abad ke-15 menurut Denys Lombard dalam bukunya Nusa Jawa : Silang Budaya

(1996) Kebaya berasal dari bahasa Arab ‘kaba’ yang berarti pakaian dan diperkenalkan lewat

bahasa Portugis ketika mereka mendarat di Asia Tenggara. Kata Kebaya dapat diartikan

sebagai jenis pakaian (atasan/blouse) pertama yang dipakai wanita Indonesia pada kurun

waktu abad 15 atau abad ke-16 Masehi. Hingga pada pertengahan abad ke-18, ada dua jenis

kebaya yang banyak dipakai masyarakat, yakni Kebaya Encim, busana yang dikenakan

wanita China keturunan Indonesia, dan Kebaya Putu Baru, busana bergaya tunik pendek

dengan berwarna-warni dengan motif yang cantik. Pada abad ke-19, Kebaya dikenakan oleh

semua kelas sosial setiap hari, baik wanita jawa maupun wanita peranakan Belanda. Bahkan

kebaya sempat menjadi busana wajib bagi wanita Belanda yang hijrah ke Indonesia.

Tahun 1950 tahun 50-an ditandai dengan gaya berbusana klasik yang elegan, yang

populer dengan sebutan gaya ‘’New Look’’ yang diadaptasi dari trend fashion dunia. Dahulu,

model busana ini sering dianggap sebagai model rancangan Christian Dior, yang pada tahun

1947 memperkenalkan Corolleline, namun kemudian lebih dikenal sebagai The New Look.

      

12Dikutip dari http://blog.katalogpakaian.com/2012/08/perkembangantrendfashionindonesia.html (diakses 

pada tanggal 10/07/2015) 

(13)

Meski banyak perancang lain seperti Balenciaga, Balmain dan Faith yang juga turut

mengadaptasi bentuk ini sebelumnya pada tahun 1939.

Tahun 1980 tahun 80-an adalah era ‘powerful women’ sesuai dengan era tersebut,

dimasa ini bermunculan busana dengan silet serta besar, seperti padding yang menonjol

dibagian bahu, silet busana yang besar dan cenderung longgar. Permainan detail dan aksen

berukuran besar (seperti kancing-kancing misalnya), serta paduan warna kontras. Perancang

Indonesia dimasa itu sangat terpengaruh dengan gaya ini, sehingga gaya busana yang ada pun

cenderung berukuran besar.

Tahun 1990-2008 tahun ini ditandai dengan isu globalisasi dan internet. Artinya,

kemudahan masyarakat mengakses internet mode dari luar negeri menyebabkan

kegandrungan akan budaya barat yang glamour. Glamoritas ini terasa pada karya

disainer-disainer yang naik daun di tahun 1990-an. Di tahun 2000-an, mode Indonesia semakin kaya

akan ide dan inspirasi. Setiap disainer memiliki ciri tersendiri. Adrian Gan, Obin, Kiata

Kwanda, Sally Koeswanto, Tri Handoko dan Irsan selalu memukau dengan busana-busana

mereka yang sangat bernafaskan seni14.

Tahun 2010 - hingga sekarang, demam K-Pop yang melanda Indonesia turut

mempengaruhi perkembangan fashion ditanah air. Lihat saja gaya remaja Indonesia sekarang

yang mengikuti trend fashion Korea. Hal ini dikarenakan semakin banyak bermunculan boy

band dan girl band Indonesia yang meniru gaya maupun fashion mereka15.

1.7 Metode Penelitian

Metode penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini adalah metode penelitian

kualitatif yang bersifat studi kasus. Penelitian ini berusaha menjelaskan mengenai adanya       

14 Data diambil dari buku Sejarah Wanita Perspektif Androgynous 

15 Dikutip dari http://www.desainbusana.com/2012/09/sejarahfashionindonesia.html. Diunduh pada tanggal 

(14)

keberadaan ekspresi fashion androgini dan mengenai latar belakang setiap mahasiswi yang

memiliki ekspresi fashion androgini. Pada penelitian ini penulis akan turun ke lapangan untuk

melakukan penelitian secara etnografi. Etnografi pada ilmu antropologi sangat membantu di

dalam hal penelitian karena penelitian etnografi membuat peneliti lebih dekat lagi dengan

permasalahan serta manusia yang ada permasalahan tersebut.

Di dalam penelitian ini tentunya penulis akan melihat mahasiswi mana yang memiliki

fashion androgini dan mencari tahu apakah ada komunitas androgini di FISIP USU. Selain

melihat dan lebih dekat dengan para androgini tentunya penulis akan berusaha melebur

dengan mahasiswa/i umum untuk dapat menanyakan apa pendapat serta pandangan

mahasiswa/i tentang keberadaan androgini disekitar mereka, dan apakah mahasiswa/i umum

dapat memahami dan menerima keberadaan androgini tersebut. Di FISIP USU ini juga

peneliti akan melihat berapa mahasiswi yang berasal dari berbagai departemen yang

mempunyai gaya atau style androgini. Penelitian ini hanya berfokus pada kalangan mahasiswi

perempuan yang fashion androgini di FISIP USU.

1.7.1 Teknik Pengumpulan Data

Data Primer

 Wawancara

Teknik wawancara yang digunakan penulis untuk memperoleh data dengan cara

memberikan pertanyaan pada informan, di dalam menanyakan pertanyaan yang ada tentunya

penulis yang juga merangkap sebagai peneliti lebih natural dalam menayakannya. Keadaan

yang sebenarnya dan natural akanmemunculkan jawaban-jawaban yang lebih apa adanya

(15)

Wawancara yang di terapkan merupakan wawancara mendalam agara data yang di

perlukan lebih banyak dan lebih dalam. Selain informan kunci penulis juga akan

mewawancarai informan biasa agar mendapatkan data atau hasil yang lebih pasti dan jelas.

Informan kunci di dalam penelitian ini adalah mahasiswa FISIP USU yang bergaya androgini

dan mengaplikasikan gaya atau style tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Informan biasa

yang akan ditemui dan diwawancarai penulis adalah mahasiswa/i luas tetapi masih berstatus

mahasiswa FISIP USU yang setuju dan tidak menerima kehadiran atau keberadaan ekspresi

androgini ini. Hal-hal yang penulis tanyakan adalah seputar androgini, pendapat terhadap

keberadaan androgini di kampus dan pengetahuan mahasiswa tentang androgini.

 Observasi Partisipasi

Teknik observasi partisipasi digunakan penulis atau peneliti sebagai tindakan pengamatan

untuk mendapatkan gambaran tentang apa dan bagaima style fashion sehari-harinya

androgini. Di dalam hal ini penulis atau peneliti lebih dekat lagi yang dimana mengikuti gaya

hidup serta fashionnya androgini sehari-hari dan apabila penulis atau peneliti menemukan

suatu komunitas androgini di FISIP USU, penulis akan bergabung dalam komunitas tersebut

agar dapat mengetahui bagaimana dan seperti apa kegiatan komunitas tersebut. Di dalam hal

observasi partisipasi ini di harapkan penulis meluangkan waktu yang lebih lama lagi untuk

bersama dengan informan yang mempunyai peran penting dan sebagai penguat suatu data

penelitian. Di dalam teknik observasi partisipasi ini penulis atau peneliti menggunakan etic

view dan emic view yang dimana bahwa etic view merupakan hasil pengamatan dan pendapat

peneliti seputar apa yang diteliti yaitu seputar androgini, sementara emic view merupakan

pendapat, hasil pengamatan, penelitian yang diperoleh dari informan atau orang yang diteliti.

Pastinya didalam penelitian ini emic view akan lebih banyak digunakan dan ditulis dari pada

(16)

Data Sekunder

Dalam data sekunder merupakan data yang berhubungan dengan aspek yang diteliti

yang bersumber dari buku, majalah, artikel baik media massa maupun elektronik. Suatu

penelitian tidak mungkin hanya mengandalkan data yang ada di lapangan saja tetapi juga

harus memiliki data yaitu dari buku, majalah dan artikel yang dianggap dapat sinkron dan

relavan dengan pembahasan suatu penelitian.Data sekunder juga berperan penting dalam

penelitian ini sebagai dasar untuk melakukan data primer atau data yang diperoleh dari

lapangan. Seperti teori-teori seputar androgini didapat dari ata sekunder berupa buku dan

media elektronik. Majalah dan artikel juga menjadi bahan tambahan penulis atau peneliti

dalam menulis dan memperbanyak data tentang androgini.

1.8 Analis Data

Data-data yang diperoleh dari lapangan akan ditranskripkan atau dipindahkan dalam

bentuk field note (catatan lapangan). Data-data lapangan berupa observasi, rekaman

wawancara secara mendalam. Catatan lapangan yang ditulis merupakan catatan yang lebih

rinci, luas, cermat dan pasti. Setelah itu data-data tersebut diklasifikasikan berdasarkan tema.

Penulis juga akan menggunakan data kepustakaan guna melengkapi informasi yang

berkaitan dengan penelitian. Data-data kepustakaan berupa sumber-sumber tertulis seperti

buku-buku, koran, majalah dan sumber-sumber elektronik seperti televisi dan internet.

1.9 Pengalaman Penelitian

Penelitian ini dilakukan di kampus FISIP USU. Pada awal judul penelitian peneliti

disetujui untuk diteliti dan tulis menjadi skripsi, penulis sudah melihat mahasiswa yang

(17)

komunikasi yang baik kepada mahasiswa yang bergaya androgini untuk dijadikan sebagai

informan.

Awalnya saya merasa mendapat tantangan karena belum banyak mahsiswa yang

mengetahui tentang androgini, tetapi saya berusaha menjelaskan androgini kepada setiap

sasaran informan secara mendalam. Dalam hal ini saya tidak memaksakan mahasiswa untuk

menjadi informan karena saya menginginkan mahasiswa yang menjadi informan saya dengan

senang hati dan tidak merasa adanya keterpaksaan dalam memberikan informasi.

Setelah saya berusaha menjelaskan apa itu androgini beruntungnya semua sasaran

informan saya bersedia menjadi informan saya. Informan saya terbagi menjadi dua yaitui

informan kunci yaitu mahasiswa yang memiliki ekspresi fashion androgini dan informan

biasa saya yaitu mahasiswa yang mengeluarkan pendapat tentang keberadaan androgini di

wilayah kampus.

Pertama-tama saya fokus dengan informan saya yaitu mahasiswa bergaya androgini.

Informan kunci saya yang merupakaninforman tetap saya berjumlah enam orang. Informan

kunci saya terdiri dari berbagai jurusan yang ada di kampus seperti : Administrasi Bisnis,

Antropologi Sosial, Ilmu Kesejahteraan Sosial, Administrasi Negara dan Sosiologi.

Menyenangkan ketika informan saya bersedia menjadi informan kunci saya atau

informan tetap saya. Informan kunci yang sebagian saya kenal dan sebagian yang tidak saya

kenal akhirnya berujung dengan pertemanan dan bahkan menjadi kompak dan rasa segan itu

hilang karena adanya hubungan komunikasi yang timbul dikarenakan penelitian ini. Selama

melakukan wawancara saya tidak menemukan kesulitan karena saya dan informan saya

sama-sama mahasiswa sehingga membuat saya dan informan saya menjadi tidak ada batasan

(18)

Wawancara yang saya hadapi kali ini berbeda sekali dibandingkan

penelitian-penelitian yang pernah saya hadapi. Berbeda dikarenakan wawancara ini lebih tidak kepada

kondisi saat wawancara tetapi wawancara ini lebih kepada mahasiswa yang berbincang dan

tertawa apa adanya. Sebelum melakukan wawancara saya membuat interview guide atau

pedoman wawancara. Ketika berada dilapangan interview guide itu hanya sebagian saya

tanyakan dikarenakan kebanyakan pertanyaan yang saya ajukan muncul dari

jawaban-jawaban informan saya.

Dalam membangun hubungan atau komunikasi yang baik saya meminta Pin BBM, Id

LINE, dan nomor hp dari informan saya. Di zaman yang maju seperti saat ini sudah banyak

aplikasi sosial yang ditawarkan agar kita tetap terhubung dengan orang lain. Ketika

melakukan wawancara saya juga pernah diajak untuk ikut dalam aktivitasnya sehari seperti

makan dan nongkrong. Sungguh pengalaman yang luar biasa bagi saya yang dimana

sebelumnya tidak pernah kenal dan pada saat melakukan wawancara yang pertama saya

sudah dibawa dalam aktivitasnya sehari-hari. Pada saat kita makan, nongkrong kita selalu

bahas androgini beserta trend fashion nya dan tak jarang kita juga membahas soal pendidikan

bahkan sampai kepada hal yang lebih privasi.

Informan saya yang memiliki gaya androgini tidak pernah merasa bahawa dia itu

melakukan hal yang negatif terkait akan fashion nya. Dia cukup tampil apa adanya dengan

fashion androgini nya. Ketika saya bersama dengan informan saya sikap lebih percaya diri

saya ada pada saya. Kepercayaan diri dan tampil apa adanya jauh lebih membuat kita lebih

baik lagi kedepan. Saya sadar ternyata sifat dan fashion saya secara tidaak sengaja adalah

androgini. Dan informan saya yang lainnya juga memberikan respon yang positif terhadap

pertanyaan yang saya ajukan dan mereka juga mendukung penelitian skripsi saya ini

dikarenakan menurut mereka trend fashion androgini ini menarik untuk dibahas dan selalu

(19)

Ada juga informan saya yang bernama Meria Napitupulu mahasiswa Administrasi Negara

angkatan 2011 mengatakan kepada saya

‘’Androgini ini keren fashion nya, cuman dia belum tersekspose16 di Indonesia ini

terus komunitas nya pun belum ada, tapi kalo ada komunitas nya aku mau kok gabung.’’

Mendengar perkataan itu saya terdiam dan salut dalam hati saya kepadanya bahwa ada

keinginannya untuk bergabung dikomunitas androgini yang bertujuan untuk memberikan

pengetahuan yang baru tentang androgini kepada masyarakat luas terutama kalangan

mahasiswa dan manusia yang memiliki ekspresi fashion androgini lebih percaya diri dalam

menunjukkan fashionnya dikarenakan ada nya komunitas.

Wawancara yang pertama sekali dilakukan adalah kepada Kartini Indayati Napitu

mahasiswa dari Departemen Administrasi Bisnis. Kartini angkatan 2012 dan berusia 20.

Wawancara dilakukan di koridor kampus FISIP USU. Sebelum memulai wawancara satu hari

sebelumnya saya dan kartini membuat janji jam berapa dan dimana dilakukan wawancara dan

hasilnya wawancara dilakukann di koridor FISIP USU pada jam 11.00 WIB. Wawancara ini

dilakukan ketika kartini menyelesaikan ujian terakhir nya di semester 6. Tepat jam 11.00

WIB kami bertemu dan memulai wawancara kami. Saya menanyakan beberapa hal terhadap

kartini seputar fashion androgini yang dipakai nya sehari-hari. Selama saya menanyakan hal

yang berkaitan tentang androgini terhadap kartini sama sekali saya tidak merasa keberatan

dalam hal memberikan jawaban seputar dirinya dan fashion androgininya. Wawancara yang

kami lakukan tidak selalu dalam kondisi yang serius kita juga mau sambil tertawa dan

mungkin ini terjadi karena kita sama-sama mahasiswa yang sudah kenal sebelum penelitian

ini ada.

      

(20)

Wawancara yang kedua adalah kepada Meria Napitupulu mahasiswa dari Departemen

Administrasi Negara. Meria angkatan 2011 dan berusia 22 tahun. Meria juga adalah salah

satu mahasiswa memiliki ekspresi fashion androgini. Dari hasil wawancara ini juga saya

mendapatkan tambahan data. Meria juga tidak merasa keberatan dalam hal memberikan data

atau jawaban kepada saya tentang hal yang saya tanyakan kepadanya. Wawancara ini

dilakukan di koridor FISIP USU dan jam 14.00 WIB. Saya dan Meria sudah kenal sebelum

penelitian ini ada. Di Sekolah Feminis Pemula yang diselenggarakan oleh Perempuan

Mahardhika kita bertemu dan saling mengenal sehingga kita tidak ada pengenalan pada saat

melakukan wawancara untuk penelitian skripsi saya.

Wawancara berikutnya saya mewawancarai dua orang mahasiswa yang laki-laki

bernama Mei Henriko Sinaga dan Jefri Parulian Nainggolan. Mei dan Jefri adalah mahasiswa

dari Departemen Administrasi Bisnis angkatan 2012. Saya mewawancarai mereka diwaktu

yang sama tetapi terlebih dahulu saya mewawancarai Mei Henriko dan selanjutnya Jefri.

Saya juga sudah mengenal kedua mahasiswa ini sebelumnya sehingga tidak ada pengenalan

pada saat wawancara dilakukan. Saya menanyakan tentang pendapat mereka terhadap

ekspresi fashion androgini yang ada dikampus FISIP USU. Saya mewawancarai mereka

dikoridor kampus FISIP USU pada jam 12.00 WIB setelah mereka menyelesaikan ujian akhir

semester. Dari hasil wawancara ini saya mendapatkan informasi adanya pendapat positif dan

pendapat negatif tentang fashion androgini yang ada dikampus. Selama saya melakukan

wawancara mereka tidak merasa keberatan dalam hal memberikan jawaban kepada saya.

Dalam skripsi saya ini saya juga mempunyai beberapa informan biasa yaitu

mahasiswa FISIP USU yang mengeluarkan pendapat akan keberadaan fashion androgini di

kampus. Informan biasa saya terdapat dari berbagai departemen/ jurusan yaitu :

(21)

2. Jefri Parulian Nainggolan dari Program Studi Administrasi Bisnis

3. Firmansyah Tarigan dari Program Studi Administrasi Bisnis

4. Yustry Manullang dari Departemen Ilmu Komunikasi

5. Anitha Lumbanraja dari Departemen Antropologi Sosial

6. Susi Susanti dari Departemen Antropologi Sosial

7. Yuni Pardede dari Departemen Administrasi Negara

8. Riska Anggraini dari Departemen Antropologi Sosial

Dalam melakukan wawancara begitu banyak pandangan atau pendapat yang saya dengar.

Ada pendapat atau pandangan positif untuk fashion androgini karena terlihat keren dan modis

tetapi ada juga yang berpendapat negatif dikarenakan fashion androgini ini dianggap

menyimpang. Perasaan saya saat mendengar pendapat atau pandangan seperti itu campur

karena posisi saya sebagai peneliti harus bersikap netral, tidak membenarkan dan tidak

Referensi

Dokumen terkait

digolongkan pada pemikir Jerman karena memiliki akar budaya Jerman. Berger, misalnya beremigrasi ke Amerika Serikat setelah perang dunia kedua. Kedua, para pemikir Jerman

modem dan jaringan internet, dari atau ke kantor pusat dan kantor cabang. kantor pusat dan kantor cabang. Dengan sistem jaringan ini, pertukaran data antar kantor dapat dilakukan

Berdasarkan hasil uji coba dari operasi date implementasi SQL dari database Nilai Mahasiswa dapat disimpulkan sebagai berikut: 1). Operasi date yang digunakan

Setelah itu, pada tahap berikutnya dilakukan tracing untuk mendapatkan transaksi LU dan MOC pelanggan yang sedang roaming di network Telkomsel untuk dibandingkan antara

Hasil penelitian menunjukan bahwa (1) Terdapat pengaruh yang signifikan efikasi diri dan prestasi praktik kerja industri secara bersama-sama terhadap minat berwirausaha siswa kelas

Kelas satu, air yang peruntukannya dapat digunakan untuk air baku air minum, dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut;.. Kelas

Pembuatan gula tumbu dengan metode fosfatasi pada semua perlakuan dalam penelitian ini menghasilkan kadar sukrosa yang tidak berbeda secara nyata dan berada

Mia berkeinginan agar semua perempuan pekerja rumahan menyalurkan ilmu dan keberanian yang telah mereka dapatkan dari pelatihan BITRA dalam setiap rapat dan pengambilan keputusan