• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gga Akibat Penggunaan Zat Media Kontras

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Gga Akibat Penggunaan Zat Media Kontras"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

GGA AKIBAT PENGGUNAAN ZAT MEDIA KONTRAS

Abdurrahim Rasyid Lubis, Reny Fahila

Divisi Nefrologi dan Hipertensi

Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK USU

PENDAHULUAN

Gangguan ginjal akut akibat zat media kontras seringkali terabaikan dalam praktek sehari

hari. Penggunaan zat media kontras digunakan untuk tindakan diagnostic dan intervensi klinis.

Kejadian yang dilaporkan gga karena zat media kontras bervariasi. Sebagian besar tergantung

ada atau tidak adanya faktor resiko ada yang berbentuk reversible dan sampai kematian.

Kematian kebanyakan dari intervensi coroner yang menggunakan zat media kontras 5 kali lipat

dibandingkan dengan 20 tahun yang lalu. Sekitar 12 % dari semua kasus gagal ginjal terjadi

akibat media tersebut ( Goldenberg, 2005; Barret 2006; Finn,2006 ).1

Definisi dari GGA akibat penggunaan zat media kontras adalah berkurangnya fungsi

ginjal dalam 48 jam setelah pemberian zat media kontras. Manifestasinya adalah peningkatan

kreatinin absolut , minimal 44µmol/L (>0,5mg/dl) atau peningkatan relative minimal 25% dari

baseline kreatinin serum tanpa adanya penyebab lain. Kadar kreatinin biasanya mencapai puncak

3-5 hari setelah pemberian zat media kontras.1

GGA akibat zat media kontras merupakan penyebab ketiga dari gagal ginjal akut dirumah

sakit setelah hipotensi dan operasi. Data tentang insidensi GGA akibat zat media kontras sangat

luas tergantung dari kriteria diagnostic yang dipakai serta adanya faktor resiko .1

Jenis Zat media kontras :

1. Generasi pertama atau osmolaritas tinggi

 Contoh : Diatrizoate

 Bersifat ionic , osmolaritas tinggi ( > 1500 mosm/kg )

(2)

2. Generasi kedua atau osmolaritas renndah

 Contoh : Iohexol dan lopromide

 Bersifat ionic, osmolaritas rendah ( 600 – 1000 mosm / kg ) dan viskositas tinggi

 Lebih sedikit menimbulkan nyeri dan toksisitas akut lebih rendah

 Paling sering dipakai.

3. Generasi ketiga atau iso osmolar

 Contoh : Iodixanol dan Iotrolan.

 Iso osmolar ( 290 mOsm / kg ) viskositas tinggi

 Lebih sedikit menimbulkan diuresis osmotic, natriuresis dan hipoksia medular, deplesi volume dan aktivasi dari mediator vasoaktif.

 Lebih sedikit menimbulkan rasa nyeri dan panas saat injeksi, serta kejadian nefropathi kontras1

Faktor resiko akibat zat media kontras

Faktor resiko yang menjadi presdiposisi untuk terjadinya GGA akibat zat media kontras

yaitu adanya disfungsi renal sebelumnya, diabetes mellitus, gagal jantung kongestif, dehidrasi,

sindroma nefrotik , penyakit vascular,pemakaian jumlah zat media kontras yang tinggi,

pemakaian zat media kontras berulang dalam jarak waktu yang pendek, pemakaian obat obat

nefrotoksik ( anti inflamasi non steroid, aminoglikosida ) dan pasien tua.1

Goldenberg ( 2005 ) membagi faktor resiko terjadinya GGA akibat zat media kontras yaitu :

1. Yang berhubungan dengan pasien.

 Penyakit ginjal kronis

 Diabetes mellitus

 Kekurangan cairan

 Hipotensi

 Anemia

(3)

 Gagal jantung fc IV

 Nefrotoksin

 Multiple Myeloma

2. Yang berhubungan dengan tindakan.

 Dosis atau pemberian kontras berulang dalam 72 jam.

 Volume zat media kontras

 Tempat penyuntikan intra arterial

 Osmolaritas zat media kontras

 Tindakan pencegahan.1

Insidensi nefropathi lebih tinggi pada pasien CKD dan besarnya resiko tergantung dengan

tingkat keparahan disfungsi ginjal. Dalam suatu penelitian 7.586 pasien yang menjalani

intervensi perkutan terjadi peningkatan kreatinin serum sebanyak 3,3 % yang kreatinin awal >0,5

mg/dl. Peningkatan kreatinin serum sebanyak 22 % dengan kreatinin serum 2,0 menjadi 2,9

mg/dl. Peningkatan kreatinin serum sebanyak 31% dengan kreatinin awal >3 mg/dl.

Nefropathi diabetic dengan insufisiensi ginjal memiliki resiko lebih tinggi terjadinya

nefropathi kontras dibandingkan dengan pasien non diabetes. Dalam studi prospektif

perbandingan antara pasien diabetes dan non diabetes yang memiliki kreatinin serum >

1,69mg/dl dan menjalani CT Scann dengan kontras menunjukkan bahwa pasien diabetes

memiliki insiden yang lebih tinggi kontras nefropathi dibandingkan dengan pasien non diabetes.

Demikian pula dalam analisa data uji coba acak yang mencakup 250 pasien dengan

kreatinin serum >1,5mg/dl yang menerima iohexol selama intervensi coroner perkutan , insiden

yang lebih tinggi diamati adalah pada pasien diabetes dibandingkan non diabetes.2

PATOGENESA

PATOGENESIS NEFROPATI RADIOKONTRAS

Awalnya patogenesis nefropati radiokontras masih merupakan tanda tanya dan

(4)

terjadi setelah pemberian radiokontras menunjukkan marker adanya kerusakan yang ditimbulkan

radiokontras dan sebagai tanda adanya kerusakan tubulus.

Penyebab nekrosis tubular akut seperti cisplatin atau gentamisin dipercaya sebagai

mediasi primer dan karakteristik terhadap terjadinya toksik pada sel tubulus secara langsung.

Radiokontras difiltrasi melalui glomerolus, tidak diabsorpsi atau dimetabolisme oleh sel tubulus.

Pada nefropati radiokontras terjadi kombinasi yang unik dari berbagai proses patologi yang

melibatkan disfungsi endotel, hipoksia jaringan ginjal dan adanya oksigen radikal bebas yang

sitotoksik.7Marry M et al.11menyatakan bahwa kerusakan ginjal akibat radiokontras akibat

perubahan hemodinamik dan efek toksisitasnya pada ginjal.

Perubahan hemodinamik ginjal ditemukan pada banyak studi, yang menemukan

implikasi kuat adanya vasokonstriksi ginjal dengan efek iskemi medula, yang melibatkan nitrit

oxide (vasodilator protektif endogen). Weisberg et al.12menemukan adanya peningkatan aliran

darah ginjal setelah pemberian radiokontras dan peningkatan ekskresi enzim lisosom urine dan

protein berat molekul kecil yang menandakan adanya kerusakan tubular.3

Hipoksia medular

Oksigen yang berlebihan pada kortek ginjal dan kekurangan oksigen pada medula akan

memudahkan nefropati radiokontras. Dalam keadaan normal tekanan oksigen parsial medula

(PO2) 30 mmHg dan dapat dideteksi dengan mikroelektrode oksigen pada kondisi fisiologi

normal yang menandakan aliran darah regional. Batasan pengiriman oksigen medula adalah 8

mL/ menit/100 gram jaringan akan cukup untuk metabolism transport tubulus.3

Patogenesa GGA akibat zat media kontras sangat kompleks, masih belum dapat diketahui pasti

tetapi berhubungan dengan beberapa faktor seperti :

1. Metabolisme adenosine.

2. Berkurangnya aliran darah dalam glomerulus.

3. Metabolisme endotelin dan prostaglandin.

(5)

Zat media kontras menyebabkan diuresis osmotic dan meningkatkan transport aktif aktivitas

metabolisme ginjal dan konsumsi ginjal yang menyebabkan efek buruk pada hemodinamik

ginjal.

Zat media kontras juga menstimulasi pemasukan kalsium ekstraseluler yang cepat sehingga

memperpanjang konstriksi dari pembuluh darah ginjal. Selain itu juga mengganggu aliran darah

regional didalam ginjal dan menurunkan aliran medulla bagian luar.

Pathogenesis lain zat media kontras diduga menyebabkan pembentukan oksigen reaktif yang

dapat menurunkan aliran darah regional . Efek lainnya lansung bereaksi terhadap tubulus ginjal.

Sampai saat ini mekanisme utama dari nefropathi kontras diduga karena osmolaritas tinggi

sehingga menyebabkan penurunan aliran darah ginjal. Diduga terjadi hipoksia di medulla dan

efek toksik langsung terhadap epitel tubulus yang berperan penting dalam terjadinya GGA akibat

zat media kontras. Pemberian zat media kontras menyebabkan vasokonstriksi pembuluh darah

dalam ginjal yang disebabkan beberapa faktor termasuk endotelin, vasopressin,calcium dan

adenosine .

Dari penelitian sebelumnya diketahui terdapat peningkatan aliran darah dalam ginjal setelah

injeksi media kontras yang dapat bertahan selama 20 menit, lalu diikuti penurunan aliran darah

ginjal selama 20 menit sampai beberapa jam.

Uniknya medulla renal dapat beradaptasi dengan iskemik dan zat media kontras dapat

menyebabkan hipoksia medulla dengan cara mengurangi aliran darah ke korteks renal. Hal ini

diduga bahwa terjadinya GGA akibat zat media kontras akibat adanya perubahan hemodinamik

ginjal karena efek media kontras terhadap aksi dari beberapa substansi , termasuk peningkatan

aktivitas vasokonstriktor ginjal ( vasopressin, angiotensin II, dopamine-I, endotelin dan

adenosine ) dan penurunan aktivitas vasodilator ginjal ( nitricoxide dan prostaglandin).1

Faktor lain yang dapat menyebabkan penurunan aliran darah ginjal adalah tingginya viskositas

zat media kontras dan peningkatan agregasi eritrosit yang di induksi oleh zat kontras media .

(6)

Pemberian zat media kontras berhubungan dengan peningkatan filtrasi glomerulus dan

pengeluaran urin. Respon ini dapat dibandingkan dengan efek dari manitol yang berhubungan

dengan peningkatan volume plasma dan pelepasan natriuretic peptides. Natriuresis dan diuresis

juga dapat dihubungkan dengan efek endhotelin-B yang dihasilkan sebagai respon terhadap

pemberian zat media kontras. Semua faktor ini mengakibatkan peningkatan penghantaran cairan

ke nefron distal , diikuti dengan peningkatan penggunaan oksigen untuk reabsorpsi cairan

ditubulus. Berkurangnya tekanan oksigen dibagian luar medulla dan peningkatan aliran darah

regional ,hanya menunjukkan pentingnya peranan dari peningkatan aktivitas rearbsorpsi

cairan,dalam terjadinya hipoksia regional. Oleh karena itu , inhibisi aktivitas transport dengan

loop diuretic furosemide dapat mengembalikan hipoksemia akibat zat media kontras.

Perubahan patologi akibat zat media kontras ( vakuolisasi sel epitel, inflamasi interstisial

dan nekrosis sel ) diduga merupakan efek toksik langsung dari zat media kontras terhadap sel

epitel tubuler ginjal. Zat media kontras diketahui dapat mengurangi aktivitas enzim antioksidan.

Zat media kontras yang osmolarnya tinggi dapat menginduksi perubahan hemodinamik ginjal

dan memberikan efek toksik langsung terhadap sel epitel ginjal. Efek hiperosmolaritas non

spesifik dapat menyebabkan osmolar-driven solute diuresis dengan adanya aktivasi dari efek

balik tubuloglomerular atau peningkatan tekanan hidrostatik ginjal yang dapat menyebabkan

penekanan terhadap mikrosirkulasi dalam ginjal dan menurunkan GFR.1

Perubahan fisiologi yang terjadi setelah pemberian kontras7

Renal: Perubahan fisiologi

Diuresis, perubahan GFR L respon bifasik (meningkat à menurun)

Peningkatan viskositas darah intrarenal dan viskositas urine

Peningkatan tekanan volume ginjal dan interstitial

Perubahan sirkulasi ginjal

- Kortek: respon bipasik (meningkat à menurun)

- Outer medulla: sangat meningkat, Papilla: sangat menurun

Penurunan oksigenasi ginjal

(7)

Ekskresi asam urat dan oksalat meningkat, enzimuria

Renal: Perubahan regulasi mediator dan fungsi hemodinamik ginjal

 Peningkatan adenosine Nitrit oksida: penurunan kortek, peningkatan medulla outer

 Prostaglandin: PGE 2 meningkat, PGI2 meningkat atau menurun

 Peningkatan ANP, endotelin, vasopresin, histamin, oksigen reaktif

Renal: Perubahan pada tingkat selular

(8)
(9)

KLINIS DAN DIAGNOSA

KLINIS

Peningkatan kreatinin terjadi karena adanya cedera pada ginjal yang terpapar zat media

kontras. Manifestasi klinis yang dapat terjadi seperti oliguria. Dalam hampir semua kasus

peningkatan kreatinin mencerminkan penurunan laju filtrasi glomerulus ( GFR ) terjadi dalam

waktu 24 sampai 48 jam . Kreatinin biasanya mulai menurun dalam waktu 3 sampai 7 hari.

Manifestasi dari laboratorium selain peningkatan kreatinin adalah hyperkalemia, asidosis dan

hiperfosfatemia. Sedimen urin dapat ditemukan gambaran klasik nekrosis tubular akut. Ekskresi

proteinurin dapat ditemukan atau tidak. Dapat terjadi ekskresi protein yang berlebihan 1,5 – 2

gr/L. Ekskresi natrium fraksional sering < 1 % pada pasien dengan nefropathi kontras.4,5,6

DIAGNOSA

Menegakkan diagnosa nefropathi akibat zat media kontras berdasarkan klinis, termasuk

kenaikan konsentrasi serum kreatinin yang dimulai dari 24 – 48 jam setelah paparan zat media

kontras dan mengesampingkan penyebab lain dari AKI. Penunjang diagnostic yang dapat

digunakan yaitu urine, USG ginjal atau biopsi.

Urinalisis

Memberikan informasi diagnostic yang penting. Temuan gambaran klasik kontras

nefropathi seperti muddy brown granular, epithelial cell casts dan free renal tubular epithelial

cells..Dengan tidak ditemukan white blood cells ( WBC ), WBC cast, dan dysmorphic red blood

cells ( RBC ), atau RBC secara umum telah mengeksklusikan nefritis interstisial dan penyakit

glomerular yang disebabkan AKI

Adanya nephrogram yang persisten setelah 24 - 48 jam setelah pemberian radiokontras

merupakan sebuah karakteristik. Nephrogram persisten merupakan indikator yang sensitif untuk

gagal ginjal akut (83% pasien gagal ginjal akut dengan nephrogram positif). Dengan spesifikasi

(10)

Adanya biomaker urine dikeluarkan dari sel tubulus seperti gamma

glutamyltranspeptidase, alanin aminopeptidase, alkaline phospatase atau N asetil beta

glucosamine.3

PENCEGAHAN TERHADAP NEFROPATI RADIOKONTRAS

Pada individu sehat tanpa faktor risiko, insiden nefropati radiokontras sangat rendah

(kurang dari 1%) dan jarang memerlukan renal replacement therapy. Pada pasien risiko tinggi

beberapa strategi dilakukan melibatkan seleksi pasien, radiokontras osmolaritas rendah atau

isoosmolar, pemberian dosis rendah dan protokol hidrasi.3

Seleksi pasien

Pendeteksian faktor risiko dan pemeriksaan fisik untuk mengurangi insiden nefropati

radiokontras. Penggunaan obat inflamasi non steroid dan obat-obatan yang mempengaruhi

oksigenasi parenkim ginjal seperti cyclosporine dan amphoterisine. Pasien dengan risiko tinggi

dianjurkan untuk perawatan lebih awal dan pemilihan prosedur imaging lain. Monitor fungsi

ginjal 48 - 72 jam sebaiknya dilakukan sebelum prosedur.

Rekomendasi dan seleksi pasien untuk pencegahan nefropati kontras

1. Pasien yang mendapat angiografi terjadwal harus diperiksa serum kreatinin.

2. Pemeriksaan kliren kreatinin.

3. Pasien dengan risiko sedang sampai berat.

a. Pemilihan pemeriksaan imaging (gadolinium angiography).

b. Penghentian NSAID, dipiridamol, metformin 48 jam sebelum prosedur.

c. Hentikan diuretik dan ACE inhibitor 24 jam sebelum prosedur.

d. Hidrasi

-risiko sedang: 0,45% saline (1,0 - 1,5 mL/Kg /jam) 4 jam sebelum prosedur s/d

(11)

- risiko berat: 0,45% saline (1,0 Ð 1,5 mL/Kg /jam) 12 jam sebelum prosedur s/d

24 jam setelah prosedur.

e. Penggunaan radiokontras molekul rendah.

f. Volume radiokontras dibatasi.

g. Monitor produksi urine, pemeriksaan BUN dan SC 24 jam setelah prosedur.3

Protokol hidrasi

Pemberian cairan bertujuan untuk mengurangi rangsangan vasokonstriksi pada pasien

yang mengalami kekurangan cairan, mengkompensasi kehilangan cairan akibat penggunaan

diuresis osmosis, menurunkan konsentrasi radiokontras pada intralumen tubulus dan mengurangi

viskositas urine serta megurangi toksisitas terhadap jaringan ginjal.3

Pemilihan radiokontras.

Penggunaan radiokontras dengan osmolaritas rendah berguna untuk mengurangi insiden

nefropati radiokontras. Penelitian metaanalisis membandingkan radiokontras osmolaritas tinggi

dan rendah, didapatkan radiokontras dengan osmolaritas rendah sedikit menyebabkan nefropati

radiokontras.7 Aspelin et al.18 membandingkan insiden nefropati radiokontras pada pasien gagal

ginjal (serum kreatinin 1 mg/dL) antara kelompok isoosmolar dengan osmolaritas

rendah,didapatkan insiden nefropati radiokontras pada kelompok isoosmolar lebih rendah yaitu

2%dibandingkan osmolaritas rendah yaitu 17%.3

PENCEGAHAN DAN TERAPI

Pasien yang memiliki resiko terjadinya nefropathi kontras adalah yang memiliki

kreatinin serum ≥ 1,5 mg/dl ( 132 mikromol / L ) atau laju filtrasi glomerulus diperkirakan (

eGFR ) < 60 ml/ 1,73 m mikromol / L ) atau laju filtrasi glomerulus diperkirakan ( eGFR ) < 60

(12)

Langkah langkah pencegahan yang dapat diambil adalah :

 Jika mungkin gunakan ultrasonografi , MRI tanpa gadolinium kontras, atau CT Scanning tanpa agen radio kontras.

 Sebaiknya tidak menggunakan agen yang tinggi osmolalitas ( 1400 – 1800 m osmol / kg )

 Disarankan penggunaan iodixanol atau non ionic agen rendah osmolal, seperti iopamidol atau ioversol, bukan iohexol

 Gunakan dosis yang lebih rendah dari kontras dan menghindari penggunaan berulang ( < 48 jam )

 Hindari obat anti inflamasi non steroid ( NSAID )

 Jika tidak ada kontra indikasi untuk ekspansi volume, sebaiknya cairan intravena isotonic diberikan sebelum dan berlanjut selama beberapa jam setelah pemberian zat kontras.

Disarankan cairan bikarbonat isotonic daripada saline isotonic

Rejimen yang disarankan dengan bolus dari 3 mL/kg bikarbonat isotonic selama 1 jam

sebelum prosedur dan dilanjutkan dengan kecepatan 1 mL / kg perjam selama enam jam

setelah prosedur . Untuk membuat cairan bikarbonat isotonic yaitu dengan menambahkan

150 mEq natrium bikarbonat ( 3 ampul @ 50 mL dari 1 mEq / mL sodium bicarbonate )

ke 850 mL air steril. Alternatif lain dengan memberikan 1 mL/kg selama 6 sampai 12

jam sebelum dan pasca prosedur.

 Jika saline isotonic yang dipilih maka diberikan salin isotonic 1 mL/kg perjam, dimulai minimal 2 jam, dan sebaiknya 6 – 12 jam sebelum dilakukan penggunaan zat kontras.

Lama pemberian cairan harus berbanding lurus dengan derajat kerusakan ginjal ( harus

lebih lama untuk individu dengan gangguan ginjal yang lebih parah ). Rejimen alternative

yang lebih nyaman pada pasien rawat jalan adalah 3 mL/kg selama > 1 jam dan 1 – 1,5

mL/kg/jam selama 4 – 6 jam setelah prosedur pemberian zat kontras.

 Pemberian acetylcystein diberikan sehari sebelum dan hari saat prosedur dilakukan. Disarankan dosis yang diberikan 1200mg / hari yang dibagi 2 dosis sebelum hari dan hari

saat prosedur dilaksanakan. Tidak disarankan pemberian acetylcystein intravena

 Tidak menggunakan manitol atau diuretic lain sebagai profilaksis..

(13)

Dosis radiokontras

Gagal ginjal akut memerlukan dialisis tidak terjadi pada pasien yang diberikan 100 mL

kontras. Dosis kontrol radiokontras menggunakan formula khusus yang dapat mengurangi

90% insiden nefropati radiokontras.

Dosis radiokontras (mL) = 5 mL x berat badan (kg)

Serum kreatinin (mg/dL)

Efek nefrotoksik radiokontras merupakan dosedependent, makin tinggi dosis makin tinggi

risiko nefropati radiokontras. Terdapat korelasi dosis radiokontras dengan kadar kreatinin

jika radiokontras diberikan pada pasien dengan preexisting renal impairment. Pada studi ini

juga ditemukan bahwa radiokontras osmolaritas rendah kurang toksik dibandingkan kontras

osmolaritas tinggi. Penurunan fungsi ginjal akibat radiokontras osmolaritas tinggi adalah dua

kali dibandingkan osmolaritas rendah.3

PROGNOSA

Peningkatan kreatinin mencerminkan penurunan laju filtrasi glomerulus. Dalam

kebanyakan kasus kreatinin biasanya mulai menurun dalam waktu 3 – 7 hari . Dialisa jarang

diperlukan untuk AKI setelah pemberian zat kontras. Dalam salah satu penelitian terhadap 1800

pasien yang berturut-turut menjalani intervensi perkutan, kejadian AKI yang cukup berat

(14)

DAFTAR PUSTAKA

1. Prof.Dr.dr.rully M A. Roesli, SpPD-KGH : Diagnosa dan Pengelolaan Gangguan Ginjal Akut.

Edisi Kedua.216 -227, 2011

2. Michael R. Rudnick et all. Prevention on contrast induced nephropathy : MD employee of

uptodate inc 2014 : 1 -22

3. Surya Sanjaya . Patofisiologi dan penatalaksanaan nephropathy radiokontras. Jurnal Penyakit

Dalam 2009 : 136 - 147

4. Schwab SJ, Hlatky MA, Pieper KS, et al. Contrast nephrotoxicity ; a randomized controlled

trial of a nonionic and an ionic radiographic contrast agent. N Eng J Med 1989;320-149

5. Rudnick MR, Berns JS, Cohen RM, Goldfarb S. Nephrotoxic risk of renal angiographic :

contrast media-associated nephrotoxic and atheroembolism – a critical review. Am J Kidney Dis

1994; 24-713.

6. Brar SS, Shen AY, Jorgensen MB, etal. Sodium bicarbonate vs sodium chloride for the

prevention of contrast medium-induced nephropathy in patients undergoing coronary

angiography : a randomized trial. JAMA 2008 ; 300: 1038

7.Rudnick MR, Berns JS, Cohen RM, Goldfarb S. Nephrotoxic risks of renal

angiography:contrast media – associated nephrotoxicity and atheroembolism – a critical review.

Am J Kidney Dis 1994 ; 24:713

8. Barrett BJ. Contrast nephrotoxicity. J Am Soc Nephrol 1994; 5 : 125

9. Asif A, Epstein M. Prevention of radiocontrast – induced nephropathy. Am J Kidney Dis

2004;44:12

10. Lautin EM, Freeman NJ, Schoenfeld AH, et al. Radiocontrast – associated renal dysfunction

: a comparison of lower – osmolality and conventional high – osmolality contrast media . AJR

(15)

11. Schreier DZ, Weaver FA, Frankhouse J, et al. A prospective study of carbon dioxide – digital

subtraction vs standard contrast arteriography in the evaluation of the renal arteries. Arch Surg

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian terhadap pengembangan pembelajaran berbasis Blended Learning untuk Mata Kuliah Sejarah Peradaban Islam pada tahap ini telah menghasilkan sumber belajar berupa

Penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field research), dengan pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode wawancara, observasi dan dokumentasi yang

0536/LS-BJ/2017 Belanja Pembayaran Honorarium Tenaga Kerja Non Pegawai /Tidak tetap (Jasa Tenaga Petugas Jalan Lintasan) Bagian Bulan April 2017, Kegiatan, Pengendalian

Gambar 1. Model Pelayanan Publik yang Didukung Teknologi Informasi Egoverment, secara teknis implementatif juga merupakan suatu kesatuan sistem informasi, karena

28 Banten Cilegon RSIA Mutiara Bunda Jl. Raya Serang Cilegon Km. 3 Ruko Legok Sukmajaya No. Raya Legok-Parung Panjang km. Letnan Soetopo Kav. Gading Golf Boulevard Kav. Raya

Struktur matriks adalh kombinasi dari struktur fungsional dan struktur di2isional. Struktur ini menggunakan bentuk permanen yang memadukan kebutuhan fungsional dengan

Usaha Menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau cabang

Tujuan dari penelitian ini adalah: (1) mengukur daya rosot gas CO2 oleh pohon di areal hutan kota di Kota Bogor yakni di Kebun Raya Bogor dan Hutan Penelitian