2.4 Hama dan Penyakit Tanaman Jagung
Hama pada umumnya diartikan sebagai gangguan pada manusia,ternak dan tanaman. Secara khusus hama di artikan sebagai semua aktivitas hidup hewan yang dapat merusak,merugikan secara ekonomis sehingga dapat menurunkan hasil produksi tanaman tersebut. Penyakit adalah gangguan terhadap tumbuhan yang disebabkan oleh virus, bakteri, dan jamur. Penyakit tidak memakan tanaman melainkan merusak tanaman dengan mengganggu proses-proses di dalamnya. Tanaman yang terserang penyakit umumnya memiliki bagian tubuh yang utuh,tetapi aktivitas hidupnya terganggu sehingga dapat mengalami kematian. Penyakit juga dapat merugikan secara ekonomis dan menurunkan produksi terhadap tanaman tersebut. Berikut beberapa hama dan penyakit yang terdapat pada tanaman jagung. (Suharto. 2007).
Hama
1.UlatTanah (Agrotis sp.)
Hama jenis ini menyerang tanaman jagung muda pada malam hari, sedangkan pada siang harinya bersembunyi di dalam tanah. Ulat tanah menyerang batang tanaman jagung muda dengancara memotongnya, sehingga sering dinamakan juga ulat pemotong.
Pengendalianhama ulat tanah dapat dilakukan menggunakan insektisida biologi dari golongan bakteri seperti Bacilius thuringiensis atau insektisida biologi dari golongan jamur seperti Beauvaria bassiana. Secara kimiawibisa dilakukan penyemprotan insektisida berbahan aktif profenofos, klorpirifos, sipermetrin, betasiflutrin atau lamdasihalortrin. Dosis/konsentrasi sesuai dengan petunjuk pada kemasan. 2.Belalang (Locusta sp., dan Oxya chinensis)
Kerusakan biji oleh kumbangn bubuk dapat mencapai 85% dengan penyusutan bobot biji 17%. Hama ini menyerang tongkol jagung sejak masih di areal
pertanaman sampai merusak biji jagung dalam penyimpanan. Imago bisa bertahan dalam biji selama beberapa hari sebelum membuat lubang keluar. Serangan selama tanaman di lapangan dapat terjadi jika tongkol terbuka. Tanaman yang kekeringan, dengan pemberian pupuk yang rendah menyebabkan tanaman mudah terserang busuk tongkol sehingga dapat diinfeksi oleh kumbang bubuk. Panen yang tepat pada saat jagung mencapai masak fisiologis untuk mencegah sitophilus zeamais, karena panen yang tertunda dapat menyebabkan meningkatnya kerusakan biji di penyimpanan.
Pestisida nabati yang dapat digunakan yaitu daun Annona sp., Hyptis spricigera, Lantana camara, Ageratum conyzoides, Chromolaena odorata, akar Khaya
senegelensis, Acorus calamus, bunga Pyrethrum sp., Capsicum sp., dan tepung biji Annona sp. dan Melia sp.
Penggunaan agensia hayati dapat dilakukan untuk menekan perkembangan kumbang bubuk, seperti Beauveria bassiana pada konsentrasi 109 konidia/ml takaran 20 ml/kg biji dapat mencapai mortalitas 50%. Penggunaan parasitoid Anisopteromalus calandrae (Howard) juga mampu menekan perkembangan kumbang bubuk.
4.LalatBibit (Atherigona sp.)
Lalat bibit hanya ditemukan di daerah Jawa dan Sumatera dan dapat merusak pertanaman jagung hingga 80% dan bahkan puso. Lalat bibit menyerang tanaman jagung dengan cara meletakkan telur di bawah permukaan daun. Larva yang baru menetas melubangi batang kemudian membuat terowongan sampai dasar batang, sehingga tanaman jagungmenjadi kuning dan akhirnya mati. Pupa terdapat pada pangkal batang dekat atau di bawah permukaan tanah. Jika tanaman terserang mengalami recovery (proses penyembuhan), maka pertumbuhannya akan kerdil. Pemanfaatan agensia hayati dapat dilakukan dengan memanfaatkan parasit
Trichogramma spp. yang memarasit telur. Sedangkan Opius sp. Dan Tetrastichus sp. memarasit larva.Pengendalian kimiawi dapat dilakukan dengan perlakuan benih (seed dressing) yaitu menggunakan insektisida berbahan aktif thiodikarb dengan dosis 7,5-15 g b.a./kg benih atau karbofuran dengan dosis 6 g b.a./kg benih. Pada umur 7 hari dilakukan penyemprotan menggunakan insektisida berbahan aktif karbosulfan. Dosis/konsentrasi sesuai dengan petunjuk pada kemasan.
5.Ulat Grayak (Spodoptera sp.)
Larva yang masih kecil merusak daun dan menyerang secara serentak
dilakukan dengan memasang alat perangkap ngengat sex feromonoid sebanyak 40 buah/Ha semenjak tanaman jagung berumur 2 minggu.
Penggunaan agensia hayati dapat dilakukan dengan memanfaatkan musuh alami seperti : Cendawan Cordisep, Aspergillus flavus, Beauveria bassina, Nomuarea rileyi, dan Metarhizium anisopliae. Dari golongan bakteri yaitu Bacillus thuringensis. Pemanfaatan patogen virus untuk ulat ini juga dapat dilakukan dengan
menggunakan Sl-NPV (Spodoptera litura – Nuclear Polyhedrosis Virus). Parasit lain yang dapat dimanfaatkan adalah Parasitoid Apanteles sp., Telenomus spodopterae, Microplistis similis, dan Peribeae sp.
Pengendalian secara kimiawibisa dilakukan penyemprotaninsektisida berbahan aktif profenofos, klorpirifos, sipermetrin, betasiflutrin atau lamdasihalortrin.
Dosis/konsentrasi sesuai dengan petunjuk pada kemasan.
6.Penggerek Tongkol (Heliotis armigera, dan Helicoverpa armigera.)
Imago betina akan meletakkan telur pada silk (rambut) jagung. Rata-rata produksi telur imago betina adalah 730 butir, telur menetas dalam tiga hari setelah
diletakkan. Sesaat setelah menetas larva akan menginvasi masuk kedalam tongkol dan akan memakan biji yang sedang mengalami perkembangan. Infestasi serangga ini akan menurunkan kualitas dan kuantitas tongkol jagung. Pada lubang bekas gorokan hama ini terdapat kotoran hama tersebut, biasanya hama ini lebih dahulu menyerang pada tangkai bunga.
Pemanfaatan agensia hayati dan cukup efektif untuk mengendalikan penggerek tongkol adalah Parasit, Trichogramma spp. merupakan parasit telur dan Eriborus argentiopilosa (Ichneumonidae) parasit pada larva muda. Cendwan Metarhizium anisopliae. menginfeksi larva dan aplikasi bakteri Bacillus thuringensis
Pengendalian secara kimiawibisa dilakukan penyemprotaninsektisida berbahan aktif profenofos, klorpirifos, sipermetrin, betasiflutrin atau lamdasihalortrin.
Dosis/konsentrasi sesuai dengan petunjuk pada kemasan. Penyemprotan dilakukan setelah terbentuk rambut jagung pada tongkol hingga rambut jagung berwarna coklat.
7.Penggerek Batang (Ostrinia fumacalis)
Hama ini menyerang semua bagian tanaman jagung pada seluruh fase
pertumbuhan. Kehilangan hasil akibat serangannya dapat mencapai 80%. Tingginya kerusakan hasil yang ditimbulkan tersebut karena titik serangnya bukan hanya pada bagian tertentu saja, namun hampir di semua bagian tanaman jagung bisa menjadi incarannya. Selain itu, hama ini juga menyerang pada semua fase pertumbuhan tanaman jagung.
pada tanaman jagung yang tinggi dan telur di letakkan pada permukaan bagian bawah daun utamanya pada daun ke 5-9, umur telur 3-4 hari.
Larva yang baru menetas berwarna putih kekuning-kuningan, makan berpindah-pindah, larva muda makan pada bagian alur bunga jantan, setelah instar lanjut menggerek batang, umur larva 17-30 hari. Pupa biasanya terbentuk di dalam batang, berwarna coklat kemerah merahan, umur pupa 6-9 hari. Larva Ostrinia furnacalis ini mempunyai karakteristik kerusakan pada setiap bagian tanaman jagung yaitu lubang kecil pada daun, lubang gorokan pada batang, bunga jantan, atau pangkal tongkol, batang dan tassel yang mudah patah, tumpukan tassel yang rusak.
Penggunaan agensia hayati dengan memanfaatkan musuh alami seperti parasitoid Trichogramma spp. dapat memarasit telur O. furnacalis. Bakteri Bacillus
thuringiensis Kurstaki mengendalikan larva O. Furnacalis. Serta aplikasi cendawan Beauveria bassiana dan Metarhizium anisopliae untuk mengendalikan larva O. furnacalis.Pengendalian secara kimiawi dengan menggunakan insektisida berbahan aktif monokrotofos, triazofos, metomil, metamidophos, diklhrofos, dan karbofuran. Dosis/konsentrasi sesuai dengan petunjuk pada kemasan.
8.Kutu Daun (Mysus persicae)
Hama kutu daun pada tanaman jagung adalah Mysus persicae. Hama ini mengisap cairan tanaman jagung terutama pada daun muda, kotorannya berasa manis
sehingga mengundang semut dan berpotensi menimbulkan serangan sekunder yaitu cendawan jelaga. Serangan parah menyebabkan daun tanaman jagung mengalami klorosis(kuning), dan menggulung. Kutu ini juga menjadi serangga vektor penular virus mosaik.Pengendalian hama Mysus persicae dengan
penyemprotaninsektisida berbahan aktif abamektin, imidakloprid, asetamiprid, klorfenapir, sipermetrin, atau lamdasihalotrin dengan dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan.
PENYAKIT
1.Hawar Daun (Helmithosporium turcicum)
Pada awal terinfeksi maka gejala berupa bercak kecil, berbentuk oval kemudian bercak semakin memanjang berbentuk ellips dan berkembang menjadi nekrotik yang disebut hawar, warnanya hijau keabu-abuan atau coklat. Panjang hawar 2,5-15 cm, bercak muncul dimulai pada daun yang terbawah kemudian berkembang
menuju daun atas. Infeksi berat dapat mengakibatkan tanaman jagungcepat mati atau mengering, dan cendawan ini tidak menginfeksi tongkol atau klobot.
Pengendalian penyakit ini dapat dilakukan dengan cara memusnahan seluruh bagian tanaman yang terserang sampai keakarnya (Eradikasi tanaman). Secara kimiawi menggunakan fungisida dengan bahan aktif mankozeb dan
dithiocarbamate. Dosis/konsentrasi sesuai dengan petunjuk pada kemasan. 2.Busuk Pelepah (Rhizoctonia solani)
Gejala serangan ditandai dengan adanya bercak berwarna agak kemerahan kemudian berubah menjadi abu-abu, selanjutnya bercak meluas, seringkali diikuti pembentukan sklerotium dengan bentuk tidak beraturan berwarna putih kemudian berubah menjadi cokelat.Serangan penyakit dimulai dari bagian tanaman yang paling dekat dengan permukaan tanah kemudian menjalar ke bagian atas. Pada varietas yang tidak tahan penyakit ini (rentan) serangan cendawan dapat mencapai pucuk atau tongkol. Cendawan bertahan hidup sebagai miselium dan sklerotium pada biji, di tanah dan pada sisa-sisa tanaman di lapang. Keadaan tanah yang basah, lembab, dan drainase yang kurang baik akan merangsang pertumbuhan miselium dan sklerotia.
Pengendalian yang dapat dilakukan adalah dengan menjaga kelembaban areal pertanaman, yaitu dengan pengaturan jaraktanam tidak terlalu rapat dan
pengaturan drainase air agat tidak terjadi genangan. Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan sefamili. Pengendalian kimiawi dengan menggunakan fungisida berbahan aktif mankozeb dan karbendazim. Dosis/konsentrasi sesuai dengan petunjuk pada kemasan.
3.Penyakit Bulai (Peronosclerospora maydis)
Penyakit bulai merupakan penyakit utama tanaman jagung. Penyakit ini menyerang tanaman jagung pada 1-2 minggu. Kegagalan budidaya jagung akibat serangan penyakit ini dapat mencapai 100%.Gejala khas bulai adalah adanya warna khlorotik memanjang sejajar tulang daun dengan batas yang jelas antara daun sehat. Pada permukaan atas dan bawah daun terdapat warna putih seperti tepung dan ini sangat jelas pada pagi hari. Selanjutnya pertumbuhan tanaman jagung akan terhambat, termasuk pembentukan tongkol, bahkan tongkol tidak terbentuk, daun-daun menggulung dan terpuntir serta bunga jantan berubah menjadi massa daun-daun yang berlebihan.Tanaman yang terinfeksi penyakit bulai pada umur masih muda umumnya tidak menghasilkan buah, tetapi bila terinfeksi pada tanaman yang sudah tua namun masih terbentuk buah dan umumnya pertumbuhannya kerdil.
4.Busuk Tongkol
a. Busuk tongkol Fusarium (Fusarium moniliforme)
Gejala penyakit ini permukaan biji pada tongkol berwarna merah jambu sampai coklat, kadang-kadang diikuti oleh pertumbuhan miselium seperti kapas yang berwarna merah jambu. Cendawan berkembang pada sisa tanaman dan di dalam tanah, cendawan ini dapat terbawa benih, dan penyebarannya dapat melalui angin atau tanah.
b. Busuk tongkol Diplodia (Diplodia maydis)
Kelobot yang terinfeksi pada umumnya berwarna coklat, infeksi pada kelobot setelah 2 minggu keluarnya rambut jagung, menyebabkan biji berubah menjadi coklat, kisut dan busuk. Miselium berwarna putih, piknidia berwarna hitam tersebar pada kelobot. Infeksi dimulai pada dasar tongkol berkembang ke bongkol kemudian merambat ke permukaan biji dan menutupi kelobot. Cendawan dapat bertahan hidup dalam bentuk spora dan piknidia yang berdinding tebal pada sisa tanaman jagung di lapangan.
c. Busuk tongkol Gibberella (Gibberella roseum)
Tongkol yang terinfeksi dini oleh cendawan ini dapat menjadi busuk dan kelobotnya saling menempel erat pada tongkol, buah berwarna biru hitam di permukaan
kelobot dan bongkol.
Pengendalian ketiga penyakit busuk tongkol di atas yaitu dengan cara tidak
membiarkan tongkol terlalu lama mengering di lapangan, jika musim hujan bagian batang dibawah tongkol dipotong agar ujung tongkol tidak mengarah keatas.
Pergiliran tanaman dengan tanaman yang bukan termasuk padi-padian, karena patogen-patogen tersebut mempunyai banyak tanaman inang. Secaraa kimiawi dapat dilakukan penyemprotan tanaman menggunakan fungisida berbahan aktif metalaksil, famoksadon, atau benomil. Dosis/konsentrasi sesuai dengan petunjuk pada kemasan.
5.Busuk Batang
Penyakit busuk batangjagung disebabkan oleh delapan spesies/cendawan seperti Colletotrichum graminearum, Diplodia maydis, Gibberella zeae, Fusarium
Upaya pengendalian yang dapat dilakukan adalah pergiliran tanaman, pemupukan berimbang, menghindari pemberian N tinggi dan K rendah, drainase yang baik, pengendalian penyakit busuk batang (Fusarium) secara hayati dapat dilakukan dengan cendawan antagonis Trichoderma sp. Pengendalian secara kimiawi
menggunakan fungisida berbahan aktif benomil, metalaksil atau propamokarb hidroklorida dengan dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan.
6.Karat Daun (Puccinia polysora)
Bercak-bercak kecil (uredinia) berbentuk bulat sampai oval terdapat pada permukaan daun jagung di bagian atas dan bawah, uredinia menghasilkan
uredospora yang berbentuk bulat atau oval dan berperan penting sebagai sumber inokulum dalam menginfeksi tanaman jagung yang lain dan sebarannya melalui angin. Penyakit karat dapat terjadi di dataran rendah sampai tinggi dan infeksinya berkembang baik pada musim penghujan atau musim kemarau.Upaya pengendalian yang dapat dilakukan yaitu dengan cara pemusnahan seluruh bagian tanaman terserang sampai ke akarnya (Eradikasi tanaman). Pengendalian kimiawi dapat dilakukan dengan aplikasi fungisidaberbahan aktif benomil, metil tiofanat, karbendazim, atau difenokonazole dengan dosis/konsentrasi sesuai dengan petunjuk pada kemasan.
7.Bercak Daun (Bipolaris maydis Syn.)
Penyakit bercak daun pada tanaman jagung dikenal dua tipe menurut ras
patogennya yaitu ras O dan T. Ras O bercak berwarna coklat kemerahan dengan ukuran 0,6 x (1,2-1,9) cm, sedangkan Ras T bercak berukuran lebih besar yaitu (0,6-1,2) x (0,6-2,7) cm. Ras T berbentuk kumparan dengan bercak berwarna hijau kuning atau klorotik kemudian menjadi coklat kemerahan. Ras T lebih berbahaya (virulen) dibanding ras O dan pada bibit jagung yang terserang menjadi layu atau mati dalam waktu 3-4 minggu setelah tanam.Tongkol jagung yang
terserang/terinfeksi dini, biji akan rusak dan busuk, bahkan tongkol dapat gugur. Bercak pada ras T terdapat pada seluruh bagian tanaman (daun, pelepah, batang, tangkai kelobot, biji, dan tongkol). Permukaan biji yang terinfeksi ditutupi miselium berwarna abu-abu sampai hitam sehingga dapat menurunkan hasil yang cukup besar.
Upaya pengendalian yang dapat dilakukan yaitu dengan cara pemusnahan seluruh bagian tanaman terserang sampai ke akarnya (Eradikasi tanaman). Pengendalian kimiawi dapat dilakukan dengan aplikasi fungisidaberbahan aktif benomil, metil tiofanat, karbendazim, atau difenokonazole dengan dosis/konsentrasi sesuai dengan petunjuk pada kemasan.
8.Virus Mosaik
jagungtampak berwarna agak kekuningan mirip dengan gejala bulai namun permukaan daun bagian bawah dan atas dipegang tidak terasa adanya serbuk spora. Penularan virus dapat terjadi secara mekanis atau melalui serangga Myzus percicae dan Rhopalopsiphum maydis secara non persisten. Tanaman jagung yang terinfeksi virus ini umumnya terjadi penurunan hasil.
Upaya pengendalian yang dapat dilakukan yaitu, mencabut tanaman yang terinfeksi seawal mungkin agar tidak menjadi sumber infeksi bagi tanaman sekitarnya
ataupun pertanaman yang akan datang, pergiliran tanaman atau tidak menanam jagung terus menerus di lahan yang sama, pengendalian serangga vektor penular virus ini, terutama kutu Mysus persicae, serta tidak penggunakan benih yang berasal dari tanaman yang terinfeksi virus.
BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Hama Pengganggu
Hasil dari survei pada beberapa petani di daerah Kartama,Pekanbaru.Pada hasil survei yang dilakukan petani mengalami hasil produksi yang menurun seperti masalah-masalah yang dihadapi petani indonesia lainnya. Pada petani jagung daerah ini yang menjadi permasalahan yang sama. Permasalahan yang di hadapi yaitu adanya serangan hama Penggerek Batang (Ostrinia fumacalis).
Gambar 8. hama Penggerek Batang (Ostrinia fumacalis)
Hama ini menyerang semua bagian tanaman jagung pada seluruh fase
pertumbuhan. Kehilangan hasil akibat serangannya dapat mencapai 80%. Hama ini juga sering di sebut ‘’ngengat’’.Ngengat aktif malam hari, dan menghasilkan
beberapa generasi per tahun, umur imago / ngengat dewasa 7-11 hari.
Yang menarik, ngengat betina hama ini lebih suka meletakkan telur-telurnya di bawah permukaan daun, utamanya pada daun ke-5 hingga daun ke-9. Seekor
ngengat betina mampu meletakkan telurnya sebanyak 600 – 800 butir. Jumlah telur yang diletakkan pada daun pun beragam di antara masing-masing kelompok, yaitu berkisar antara 30 hingga 50 butir, bahkan ada yang lebih dari 90 butir. Umur telurnya sendiri berkisar antara 3 hingga 4 hari.
Serangan serangga ini dimulai saat tanaman jagung berumur dua minggu, dimana imagonya mulai meletakkan telur pada bagian-bagian tanaman. Puncak peletakan telur itu sendiri terjadi pada stadia pembentukan bunga jantan hingga keluarnya bunga jantan.
Untuk mengendalikan hama Ostrinia furnacalis diperlukan langkah terpadu yang tepat, karena serangannya berfluktuasi dari waktu ke waktu. Mengatur waktu tanam bisa menjadi salah satu alternatif untuk menghindari serangan hama ini. Waktu tanam yang baik adalah pada awal musim hujan dan paling lambat empat minggu sesudah mulai musim hujan. (Anonim. 1992)
Selain itu, pola tanam tumpang sari antara jagung dengan kedelai atau kacang tanah juga bisa mengurangi serangan dan kerusakan yang ditimbulkan hama ini. Pemotongan sebagian bunga jantan, yaitu empat baris dari enam baris tanaman, juga mampu mengurangi serangan. Pasalnya, dari hasil sebuah penelitian yang dilakukan Nafus dan Schreiner menunjukkan bahwa 40 – 70% larva berada pada bunga jantan.
Pemanfaatan musuh alami juga bisa dilakukan untuk mengendalikan serangan Ostrinia furnacalis Guenee. Beberapa musuh alami yang bisa digunakan adalah: parasitoid Trichogramma spp. yang mampu memarasit telur, bakteri Bacillus
thuringiensis Kurstaki untuk mengendalikan larva, dan predator Euborellia annulata yang mampu memangsa larva dan pupa Ostrinia furnacalis.
Sedangkan untuk pengendalian secara kimiawi, bisa menggunakan insektisida berbahan aktif triazofos seperti Raydent 200EC, dan karbosulfan seperti Matrix 200EC yang cukup efektif untuk menekan serangan hama ini.
Selain itu, menurut General Manager Market Development PT. Tanindo Intertraco Mudjahiddin, penyemprotan dengan menggunakan insektisida Trisula 450SL yang berbahan aktif monosultap juga bisa dilakukan. “Penyemprotan dilakukan sebelum memasuki masa berbunga, atau sekitar umur 40 hari setelah tanam,” .Sementara itu, Market Development Corn Seed Manager PT. Tanindo Intertraco Doddy
Wiratmoko mengatakan, penggunaan jagung hasil rekayasa genetika yang tahan serangan hama juga bisa menjadi solusi yang lebih praktis dan ekonomis. Misalnya adalah penggunaan jagung Bt yang telah disisipi oleh gen dari bakteri tanah
Bacillus thuringiensis (Bt), sehingga tanaman jagung lebih tahan dari serangan hama, termasuk dari serangan penggerek batang.Di sejumlah negara produsen jagung dunia seperti Amerika Serikat, penggunaan jagung Bt sudah sangat lazim diterapkan para petani. Pada tahun 2006, dari 54,6 juta ha areal tanaman
transgenik, 17,9 juta ha di antaranya ditanami jagung Bt.
Bahkan beberapa negara di kawasan Asia, seperti Filipina, penanaman jagung Bt oleh petani sudah mulai banyak. Hingga tahun 2006 saja, luas penanamannya sekitar 200 ribu hektar.“Dengan menggunakan jagung Bt, hasil yang diperoleh petani bisa tetap tinggi karena bisa menekan kehilangan hasil akibat serangan hama, sekaligus bisa menghemat biaya produksi dan penggunaan pestisida secara langsung pada tanaman,” ujar Doddy. (AT : Vol. 13 No. 1 Edisi XLIV, Januari - Maret 2012).
PENUTUP 4.1 Kesimpulan
Dari hasil yang telah di bahas dapat di simpulkan bahwa tanaman jagung juga merupakan tanaman yang rentan terhadap serangan hama dan penyakit. Untuk menghindari penurunan produksi pada tanaman jagung perlu diperhatikan
beberapa faktor yaitu pada pemilihan benih,diharapkan mengunakan varietas ungul seperti varietas jagung Bt. Dan memperhatikan pemakaian pupuk yang sesuai. Penerapan cara bercocok tanam yang baik untuk menghindari banyaknya serangan hama dan penyakit pada tanaman budidaya.
Pada serangan hama Ostrinia furnacalis diperlukan langkah terpadu yang tepat, karena serangannya berfluktuasi dari waktu ke waktu. Mengatur waktu tanam bisa menjadi salah satu alternatif untuk menghindari serangan hama ini. Waktu tanam yang baik adalah pada awal musim hujan dan paling lambat empat minggu sesudah mulai musim hujan.
4.2 Saran
Untuk petani jagung diharapkan untuk menerapkan cara bercocok tanaman yang baik agar dapat mengurangi serangan hama dan penyakit. Petani diharapkan lebih memperhatikan perawatan pada tanaman tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
-2004. http://www.wordcrops.org/baby-corn.cfm. Diakses tanggal 2 Januari 2015.
-2007. http://waintek.prosressio.or.id/-byrans. Diakses tanggal 2 Januari 2015. Anonim. 1992. Bercocok Tanam Jagung. Puslitbang Tanaman Pangan dan Pengembangan Pertanian, InstitutPertanian.Bogor.
Effendi,S. 1980. Bercocok Tanam Jagung. C.V. Yasaguna.Jakarta
Marlina V, enni.2004.pengaruh pemberian dosis kompos azzola terhadap
pertumbuhan dan hasil tanaman jagung.proposal skripsi progam studi agronomi jurusan budi daya pertanian fakultas pertanian universitas jambi.jambi
Rubatzky, V. E. dan M. Yamaguchi. 1998. World Vegetables :Principles, Production and Nutritive Values (Sayuran Dunia I, Prinsip , Produksi dan Gizi, alih bahasa oleh C. Horison). Institut Teknologi bandung, Bandung.
Pusat Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. C.V yasaguna. Jakarta