Nama : Isnina Intan Cahya NIM : 111315000105 Kelas : 7B
Email : [email protected] Judul : Pemikiran Politik Imam Khomeini
Abstrak
Dalam kehidupan dewasa kini, Islam mulai di guncang dengan berbagai isu dan tindakan yang begitu fenomenal. Walaupun negara Indonesia sudah terbebas dari penjajahan secara fisik namun sampai detik ini, saya merasa bahwa Indonesia masih dijajah secara mental dan psikologis. Sebagai negara pemeluk agama Islam terbesar di dunia, Indonesia selalu dijadikan ladang dalam mengarap kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh segelintir orang yang sudah menyelewengkan beberapa tindakan yang seharusnya sejalan dengan agama Islam namun berbeda penafsirannya. Ada begitu banyak aliran dalam Islam seperti HTI, Syi’ah, dan Sunni. Hukum-hukum semua aliran tersebut berasal dari satu sumber yaitu Al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Mereka semua meyakini bahwa Allah SWT merupakan pencipta seluruh alam dan jagat raya ini, dan juga mereka percaya bahwa Nabi Muhammad SAW merupakan Nabi terakhir yang diutus oleh Allah SWT sebagai rahmat bagi seluruh alam. Visi dan misi merekapun hampir sama yaitu mendirikan sebuah negara yang berlandaskan dengan hukum Islam dan sekaligus menyebarkan agama Islam (berdakwah) dengan cara adanya seorang anggota pemerintahan yang merupakan anggota aliran tersebut sehingga hukum yang ada di negara tersebut berlandaskan pada agama Islam. Aliran Syi’ah merupakan aliran yang sering sekali ditakutkan sebagai ancaman bagi Islam Sunni. Syi’ah terkenal di negara Iran.
Republik Islam Iran adalah sebuah negara yang telah melalui rentang sejarah yang cukup panjang. Di masa lalu (mulai dari abad VI SM), Iran (dulu dikenal dengan nama Persia) merupakan salah satu imperium terbesar di dunia selain Romawi. Selama itu pula bangsa Iran berhasil membangun peradabannya hingga diakui sebagai salah satu bangsa yang paling berperadaban dalam sejarah. Sejak dahulu, bangsa Iran termasuk bangsa yang diperhitungkan dalam kancah perpolitikan dan peradaban dunia. Dalam peta dunia Islam, Iran merupakan representasi kawasan Persia dengan penduduk mayoritas menganut paham Syiah Imamiyah. Paham Syiah Imamiyah mendapat tempat yang istimewa sebagai mazhab resmi negara sejak berdirinya dinasti Shafawi (tahun 1501).2 Sejak itu, ajaran Syiah Imamiyah memberikan pengaruh secara dominan dalam struktur sosial dan kehidupan masyarakat Iran. Sejak revolusi Islam 1979 yang dipimpin oleh Ayatullah Khomeini, Iran pun mengukir sejarah baru dalam babakan sejarah politiknya, menjadi Republik Islam dengan sistem Wilayat al-Faqih sebagai sistem pemerintahannya. Dari segi politik, Iran menampilkan corak yang khas dalam pemikiran dan sistem politik Islam dengan kepemimpnan Negara yang dipegang oleh para ulama (mullah). Sistem Wilayat al-Faqih merupakan ijtihad politik dari Ayatullah Khomeini yang didasarkan pada doktrin Imamah dalam Syiah Imamiyah.1
Kata kunci : Syi’ah, Imamah, Bentuk Pemerintahan Islam, Wilayah al-Faqih dan Khums Pemikiran Politik Imam Khomeini
1. Sejarah Syi’ah
Setidaknya ada tiga pendapat lahirnya Syiah. Pertama, bahwa istilah Syiah sudah dilekatkan oleh Rasulullah saw kepada Ali bin Abi Thalib ra dan pengikutnya. Pertama, dalam Al-Quran, istilah Syiah digunakan pada 12 tempat16seperti dalam ayat “... dan sesungguhnya Ibrahim itu benar -benar termasuk golongannya (syiatihi)” (QS Ash-Shaffat ayat 83) dan “... kemudian pasti akan kami tarik dari setiap golongan (syiah) siapa di antara mereka yang sangat durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah” (QS Maryam ayat 69). Kedua, Syiah dilekatkan pada orang-orang Islam yang tidak membaiat Abu Bakar ketika peristiwa Saqifah karena meyakini Ali sebagai washi. Ketiga, Syiah dilekatkan pada umat Islam yang setia bersama Ali setelah peristiwa tahkim (perundingan) yang mengakhiri Perang Shiffin. Dalam perang antara pasukan Muawiyah bin Abu Sufyan melawan pasukan Khalifah Ali bin Abi Thalib, Dalam sejarah, Syiah Ali ini mengalami perkembangan dan terbagi dalam golongan-golongan yang satu sama lain memiliki perbedaan dalam kepemimpinan. Ada mazhab Syiah yang masih dalam ajaran Islam dan ada pula yang dianggap menyimpang. Syiah yang masih termasuk dalam agama Islam, menurut Allamah Muhammad Husein Thabathabai, adalah Imamiyah (Itsna Asyariyah),Zaidiyah,dan Ismailiyah.Sedangkan yang menyimpang adalah Rafidhah, Ghulat, dan Alawi2. Kaum Syiah meyakini konsepsi politik berasal bagian dari ushuluddin, khususnya rukun imamah. Para ulama Syiah berdasarkan ajaran Islam memahami bahwa Allah selaku pemegang otoritas tertinggi dalam agama Islam memilih utusan-Nya yang terpilih, Nabi Muhammad saw, untuk membawa risalah Islam dan menyebarkannya ke seluruh umat manusia sampai menjelang Kiamat. Peran Nabi Muhammad saw di dunia adalah pembawa syariat dan pembimbing umat manusia. Seiring dengan wafatnya Nabi Muhammad saw maka agama Islam menjadi penutup hingga Kiamat. Meski pembawa ajaran agama Islam tidak ada, tetapi risalah Ilahi berupa ajaran agama Islam tidak berakhir karena penyebaran dan bimbingan dalam agama dilanjutkan para Imam pilihan Rasulullah SAW dari Ahlulbait.3 2. Imamah
Al-Imamah dalam madzhab pemikiran Syi’ah adalah kepemimpinan progresif dan revolusioner yang bertentangan dengan rezim-rezim politik lainnya ,guna membimbing manusia serta membangun masyarakat diatas pondasi yang benar dan kuat, yang bakal mengarahkan menuju kesadaran, pertumbuhan dan kemandirian dalam mengambil keputusan. Dalam kultur Safawi, imamah sama artinya dengan beriman kepada dua belas imam yang suci dan supranatural, yang setiap orang harus memuja dan memulyakannya dan mengikutinya dan menjadikan mereka sebagai suri teladan dalam segenap prilaku personal dan sosial mereka. Otoritas seorang imam berhak menuntut ketaatan dari para pengikutnya kendatipun ia tidak memiliki kekuasaan politis. Dalam hal ini terlihat jelas dalam kemampuan seorang imam untuk menginterpretasikan wahyu ilahi secara otoritatif. Apa yang diputuskan para imam, wakil-wakil yang dapat membangkitkan suatu kepercayaan baik dikalangan biasa ( awam ) maupun elit ( alim ) Syi’ah untuk mencapai otoritatif dalam kosmologi mereka yaitu sistem keagamaan mereka. Menurut Mahmud Salabi, imam dua belas yang dijadikan sebagai pemimpin oleh kaum Syi’ah antara lain adalah Ali, Hasan, Husein, Ali Bin Husein, Muhammad al-Baqir, Ja’far as-Sidiq, Musa bani Abbas, Putra Musa Ali Arridha, Muhammad Taqi, Ali Naghi, Hasan al Askari, Muhammad Almahdi atau Imam sepanjang zaman. menurut para pengikut Syi’ah, Imam dua belas lahir pada tahun 255 H /869 M. Mereka masih hidup tetapi tidak tampak dalam pandangan zohir. Demikian kepercayaan mereka yang mereka sandarkan pada ramalan Rasulullah saw. Demikian pula terhadap para wali lainnya, bahwa ia akan muncul kembali dengan membawa keadilan pada saat dunia sedang dilanda kegelapan dan penuh dengan kekejaman.4
3. Biografi Imam Khomeini
Imam Ayatullah Ruhullah Khomeini adalah tokoh paling fenomenal pada abad ke-20. Ulama pemimpin Syi’ah modern ini berhasil menumbangkan sebuah rezim otoriter Reza Pahlevi di Iran melalui Revolusi Islam Syi’ah pada tahun 1979. Dengan pengaruhkuat yang diperolehnya dari berbagai lapisan masyarakat Syi’ah Iran. Ia berhasil menjatuhkan pemerintahan Shah Iran yang didukung sepenuhnya oleh Amerika Serikat dan Barat pada umumnya, serta menggantikam pemerintahan Iran yang sekuler menjadi sebuah Republik Islam Syi’ah. Iran pascarevolusi 1979 yang dipimpin oleh Imam Khoemaini merupakan contoh konkret praktik kenegaraan Syi’ah yang berakar pada prinsip Imamah. Khomeini dilahirkan pada 24 Oktober 1902 di Khomein, sebuah desa kecil di dekat Israfah, Iran Tengah. Secara silsilah, ayah Khomeini, Sayyid Mustafa Musawi, adalah keturunan Nabi Muhammad SAW dari jalur Imam ketujuh Syi’ah, yaitu Musa al-Kazhim. Sementara ibunya adalah anak Ayatullah Mizra Ahmad, seorang teolog terkenal yang disegani. Ayatullah Sayyid Mustafa, ayah Khomeini, adalah penentang rezim tirani dinasti Qajar. Ayahnya meninggal dibunuh oleh agen rahasia penguasa Qajar pada 1903, persis ketika umur Khomeini masih tujuh bulan. Ia lalu diasuh oleh abangnya tertua yang bernama Morteza bersama ibunya. Namun, pada usia enam belas tahun Khomeini, ibunya meninggal dunia. Ketika masih anak-anak, ia sering melukiskan perasaannya yang memprihatinkan kondisi masyarakat sekitar dalam corat-coret buku gambarnya. Perasaan itu semakin dalam ia rasakan sejalan dengan perjalanan waktu. Dalam salah satu bukunya yang ia tulis ketika masih berusia antara 9 dan 10 tahun ia mengekspresikan kegalauannya “di manakan kecemburuan Islam?/ di manakah gerakan kebangsaan?” kepada bangsa Iran, Sayid Ruhullah menulis “wahai bangsa Iran, Iran terancam petaka/Negeri Daryush dijarah bangsa Nicholas” Pada usia 17 tahun, Khomeini berangkat ke Sultanabad dan belajar agama pada Syekh Abdul Karim Ha’eri Yazdi, ulama terkenal di Persia yang memiliki pandangan modern dan dinamis. Tahun 1937, Abdul Karim Ha’eri meninggal dan Khomeini mulai mengajar di Madrasah Feiziah dan Qum sebagai asisten Ayatullah Burujurdi, pengganti Ayatullah Ha’eri . Di sini ia mengajar filsafat, kalam (teologi), tasawuf, dan akhlak.5
1
Abdul Kadir, Syiah dan Politik: Studi Republik Islam Iran, No. 1 Vol.5 (tahun 2015), h.2.
2 Ahmad Syafii Maarif, dkk., Maarif Arus Pemikiran Islam dan Sosial: Syiah, Sektarianisme dan Geopolitik, No. 2 (Desember 2015), h. 36-38. 3 Maarif, dkk., Maarif Arus Pemikiran Islam dan Sosial, h. 40.
4 Zulkarnain, Konsep Al-Imamah dalam Perspektif Syi’ah, No.13 Vol. 7 (Juli-Desember 2011), h. 47.
Dari segi konsep politik, sebenarnya tidak ada gagasan-gagasan yang benar-benar baru dari Ayatullah Khomeini. Hal ini menurutnya sendiri, karena persoalan keperluan akan suatu negara Islam sebenarnya adalah suatu kenyataan yang segera bisa disepakati, khususnya dikalangan Syi’ah. Di bawah ini adlah hadis yang termasyhur di kalangan Syi’ah, yang bersumer dari Imam Ja’far Al-Shadiq (imam keenam), “menyangkal wewenang seorang mujtahid berarti menentang wewenang Imam. Menentang wewenang Imam brarti menentang wewenang Nabi SAW. Menentang wewenang Nabi SAW brarti menentang Allah SWT. Menentang wewenang Allah sama dengan syirik”. Menurut Imam Khomeini, semua muslim tahu, bahwa Islam merupakan agama yang memiliki seperangkat hukum berkenaan dengan masalah-masalah sosial yang harus dilaksanakan oleh kaum muslimin sebagai suatu kesatuan sosial. Untuk menjadikan pelaksanaan hukum-hukum itu efektif diperlukan kekuasaan eksekutif (al-sulthah al-tafidziyyah). Sebab menurutnya tak ada gunanya suatu peraturan tanpa adanya kekuasaan eksekutif yang melaksanakan pelaksanaan hukum Islam, khususnya sebagian dari padanya yang merupakan kewajiban. Negara meurut Imam Khomeini adalah instrumen bagi pelaksanaan undang-undang Tuhan di muka bumi. Memberikan kepada rakyat hak untuk membuat undang-undang selain bertentangan dengan ajaran Islam sebagaimana diyakini Imam Khomeini, juga hanya akan memaksa negara untuk mnerima perundang-undangan yang boleh jadi buruk tetapi merupakan kemauan rakyat, ataupun menolak perundang-undangan yang baik hanya karena bertentangan dengan kehendak rakyat. Syi’ah justru menganggap bahwa pemenang akhir ada pada kelommpok elite ahli (wali atau authority) yang paling mengetahui dan, oleh karena itu, berhak menafsirkan hukum-hukum Tuhan. Seluruh bagian struktur politik negara mestilah dibawahkan kepada wali ini. Inilah yang dsebut sebagai sistem wilayah al-faqih.6 Struktur pemerintahan Wilayat al-Faqih terpusat di tangan rahbar namun dalam pelaksanaannya berbentuk trias politica yang terdiri atas 3 badan legislative (Parlemen, Dewan Ahli, dan Majelis Ahli), kekuasaan eksekutif di tangan presiden, dan kekuasaan yudikatif di tangan mahkamah Agung atau Dewan Tertinggi Peradilan Nasional. Selain itu ada Dewan Revolusi, Dewan politik dan ekonomi Revolusi, dan Pemimpin Agama yang berfungsi sebagai administrator lokal.7
4. Bentuk Pemerintahan Islam
Pemerintahan Islam tidak sama dengan bentuk pemerintahan lain yang ada di antara kita saat ini. Pemerintahan Islam tidak bersifat tirani dan juga absolut kekuasaannya, melainkan bersifat konstitusional yaitu berdasarkan persetujuan yang disahkan oleh hukum dengan berdasarkan suara mayoritas. Terdapat perbedaan mendasar antara pemerintahan Islam dengan pemerintahan monarki dan republik. Pada pemerintahan republik atau monarki konstitusional, sebagian besar para pemimpinnya mengklaim bahwa mereka mewakili suara mayoritas rakyat. Dalam pemerintahan Islam kedaulatan hanyalah milik Allah SWT serta hukum adalah berupa keputusan dan Nya. Hukum-hukum Islam, yang berasal dari perintah-perintah Allah SWT, memiliki kewenangan mutlak atas semua individu. Dalam Islam hakikat pemerintahan adalah ketaatan kepada hukum-hukumnya, yang mana hukum-hukum itu sendiri berfungsi untuk mengatur masyarakat.8
Ayatullah Ruhullah al-Musawi al-Khomeini atau Imam Khomeini adalah sosok yang luar biasa besar pada Abad ini. Dalam usianya yang hampir satu kurun ia mampu menggetarkan sendi-sendi jagat raya dengan menumbangkan sebuah rezim yang didukung penuh oleh kekuatan adidaya Amerika. Rezim yang telah menjadikan Iran sebagai kekuatan ke-5 di dunia masa itu, dan memerintah Iran dengan kekuatan tangan besinya dapat tumbang begitu saja oleh gelombang revolusi. Revolusi itu bukan hanya menggulung rezim yang berkuasa sebelumnya, akan tetapi juga merubah politik dunia dan menghembuskan angin semangat kebangkitan Islam di seluruh penjuru dunia dan menjadi simbol perlawanan kaum mustad’afin terhadap kaum mustakbirin. sistem ini bukan sistem yang asing, karena sistem ini berangkat dari konsep dasar aqidah Syi‟ah yaitu Imamah. Imamah adalah prinsip dasar dari mazhab Syi‟ah. Prinsip dasar ini yang membedakan antara mazhab Syi‟ah dan mazhab Ahlussunnah. Dalam keyakinan Syi‟ah, Rasulullah tidak membiarkan ummat Islam berada dalam kekacauan tanpa seorang pemimpin9. beberapa argumentasi tentang keharusan
negara Islam yang ditulis beberapa pemikir Islam termasuk tentunya Imam Khomeini. Argumentasi tersebut adalah sebagai berikut. Pertama, Islam memiliki dasar bimbingan dan petunjuk, amar ma’ruf nahi munkar. Islam memiliki aturan penetapan hukum kriminal, aturan sosial dan masyarakat yang tidak hanya dalam persoalan personal antara seorang hamba dengan Tuhannya tetapi hubungan dengan sesamanya, Islam memberikan petunjuk terhadap jalan yang harus ditempuh dan disampingnya terdapat tuntutan tanggung jawab, Islam datang berhadapan dengan semua keyakinan dan memerangi kezaliman dan kebatilan, maka tidak mungkin Islam tidak memiliki sistem pemerintahan dan politik sendiri (Amuli, 1378:1). Kedua, kumpulan dari aturan-aturan untuk memperbaiki masyarakat tidak cukup, karena itu diperlukan juga kekuatan untuk merealisasikannya. Atas dasar ini, Allah di samping mewahyukan sekumpulan aturan-aturan yang disebut hukum- hukum syari‟at, juga menetapkan sarana pelaksanaan dan pengaturan (pemerintahan). Demikian pula yang dilakukan Rasulullah (Khomeini, 1373: 22). Ketiga, dalam fiqh terdapat banyak aturan yang berkaitan dengan kehidupan sosial, seperti misalnya hukum harta benda dan pajak, hukum mempertahankan negara atau hukum penegakan hak-hak serta hukuman terhadap pelanggaran, yang semua itu tidak mungkin terlaksana kecuali dengan adanya negara Islam. Keempat, Nabi Muhammad mendirikan pemerintahan dengan Madinah sebagai pusat pemerintahan- nya.Madinah merupakan contoh dasar dari negara Islam, dimana ajaran Islam menjadi rujukan dalam pengaturan dan pengendalian. Madinah dan Rasulullah langsung sebagai pemimpin utama.10
Ketika Imam Khoemaini menjadi guru di Madrasah telah telah terjadi suatu keadaan politik di mana pada masa itu merupakan menguatnya kekuasaan Reza Shah, penguasa Iran ketika itu. Ia bahkan ingin menghidupkan tradisi agama Persia kuno (Zoroaster) dan menjadikannya sebagai agama resmi kedua, selain Islam Syi’ah. Pada tahun 1941, Rusia dan Inggris cempur tangan terhadap kondisi politik Iran dan memaksakan pemakzulan Reza Shah untuk kemudian digantikan oleh putranya Shah Muhammad Reza Pahlevi yang masih belum dewasa. Ternyata dinasti Pahlevi semakin tidak bersahabat dengan agama. Penguasa semakin memojokkan ulama dan berusaha menghancurkannya. Pada tahun 1944, Imam Khomeini menulis buku Kasyf al-Asrar (Menyingkap Rahasia), yang berisi kritikan terhadap pemerintahna Reza Pahlevi. Ia menyerukan para Mullah atau ulama agar melibatkan diri dalam politik dan menyelamatkan integritas budaya Syi’ah di Iran. Menurutnya,ulama harus mengendalikan pemerintahan, tetapi tidak harus menjadi Shah, menteri atau panglima perang. Selama periode kepemimpinan Ayatullah Burujurdi, Khomeini menahan diri dari aktivitas politik. Hal ini dilakukannya untuk menjaga kepemimpinan Ayatullah Burujurdi di pusat pendidikan Qum. Akan tetapi, setelah tahun 1960, ketika Ayatullah Burujurdi meninggal tahun 1961 mulai terjun ke garis politik dan lebih khusus ketika Ayatullah Burujurdi meninggal, ceramah-ceramahnya tentang etika mulai secara terbuka mengkritik pemerintahan Reza Pahlevi. Aktivitas politik Khomeini ini mendapat sambutan dari rakyat Iran. Wibawa Khomeini semakin besar di kalangan rakyat Iran yang Syi’ah. Khomeini yang sejak tahun 1950 sudah memperoleh gelar “Ayatullah” tampil sebagai kekuatan baru yang meggoyang kesewenangan-wenangan Reza Pahlevi. Penguasa menjadi gerah dengan aktivitas Khomeini. Selama tahun 1963, sudah tiga kali ia mengalami penangkapan, yaitu tanggal 25 Januari, 5 Juni, dan 5 November. Akhirnya pada tahun 1965 Khomeini ditangkap dan diasingkan ke Bursa, Turki pada Oktober 1965. Ia menetap di Najar. Sementara itu sejak tahun 1965 Reza Pahlevi semakin meningkatkan tekanannya terhadap rakyat Iran. Tindak kekerasan dan pembunuhan dilakukan oleh Shah bersama alat-alat kekuasaanya. Dari pengasingannya Khomeini mengeluarkan pernyataan bahwa kejahatan dan kekejaman alat-alat-alat-alat pemerintah harus segera diakhiri dan mengajak tentara Iran serta para pemimpin untuk membebaskan Iran dari kehancurantotal. Pernyataan ini mengangkat Khomeini sebagai pemimpin revolusi. Melancarkan protes dan kecaman terhadap kesewenang-wenangan Reza Pahlevi dan rencana menggantikan pemerintahan Iran dengan demokrasi Islam. Pada tahun 1978 Khomeini pindah ke Paris, Perancis. Dari sinilah secara lebih intensif Khomeini mengemukakan gagasan revolusinya menentang Shah Iran. Pidato-pidatonya yang direkam dalam bentuk kaset diselundupkan ke Iran untuk disebarluaskan kepada seluruh masyarakat Islam Iran. Gelombang demonstrasi terjadi di mana-mana di Iran. Tahun 1978, praktis Shah Iran tidak dapat menguasai keadaan. Pada tanggal 16 Januari 1979 Shah Reza Pahlevi mengungsi keluar negeri (mulanya ke Mesir). Lima belas hari kemudian, Khomeini mengambil laih kepemimpinan revolusi langsung. Akhirnya pada tanggal 11 februari 1979 angkatan bersenjata Iran mengundurkan diri dari jalan-jalan yang dikuasai demonstran. Pendukung Khomeini akhirnyapun dapat menguasai keadaan. Tanggal tersebut kemudian diakui secara resmi sebagai Hari Revolusi Islam Iran. Setelah 10 tahun memimpin Revolusi Islam Iran dan menjadi Pemimpin Spiritual Iran, Imam Khomeini meninggal dunia pada tanggal 3 Juni 1989. Gagasan kenegaraa Imam Khomeini tentang wilayah al-faqih sepenuhnya berasal pada tradisi teologi-politik Syi’ah Imamiyah tentang Imamah. Prinsip terpenting dari ajaran Syi’ah adalah tentang Imamah. Bagi Syi’ah, Imamah adalah bagian dari keyakinan keagamaan.11Bagi Syi’ah Imamiyah, Imam memiliki kekuasaan agama dan politik sekaligus. Imam, dengan demikian, memiliki otoritas yang penuh terhadap umat Syi’ah dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an dan ajaran Islam pada umumnya. Imam haruslah sosok pribadi yang ma’shum terpelihara dari perbuatan
6 Yamani, Filsafat Politik Islam: Antara al-Farabi dan Khomeini, (Mizan: Bandung, 2002), h.114-118 7 Abdul Kadir, Syiah dan Politik, h. 14.
8
Khomeini, Sistem, h. 47-49.
9
Kholid Al Walid, Wilayah Al-Faqih Sebuah Konsep Pemerintahan Teo-Demokrasi, No. 01 (Juni 2013): h.141.
10
Al Walid, Wilayah Al-Faqih Sebuah Konsep Pemerintahan Teo-Demokrasi, h. 143.
11
dosa. Dalam perkembangan aliran Syi’ah, pada sebagian besar perjalanan sejarahnya, mereka selalu berada dalam tekanan dan penindasan penguasa pada masanya. Ini membuat mereka harus bersikap hati-hati dan kalau perlu menyembunyikan identitas ke-Syi’ah-an mereka (taqiyah) untuk menyelamatkan diri.12
Gagasan kenegaraan Imam Khomeini lebih ekspresif tertuang dalam kitabnya Hukumat-i Islam (Pemerintahan Islam) yang ditulis dalam bahasa Persia. Dalam buku ini setidaknya ada tiga hal penting yang dibahas Khomeini, yaitu kebutuhan terhadap pembentukan intitusi politik Islam, konsep wilayah al-faqih atau pemerintaha ulama, dan program kerja yang disusun Imam Khomeini untuk membentuk sebuah negara Islam. Menurut Khomeini, Islam adalah agama yang dinamis, membela keadilan, menegakkan kebenaran, dan membebaskan manusia dari kesewenang-wenangan dan penindasan. Imam Khomeini mengingatkan kewaspadaan umat Islam dari propaganda pihak-pihak yang memusuhi Islam, yang menyatakan bahwa Islam hanya mengatur hubungan manusia dengan Tuhan dan tidak ada kaitannya sama sekali dengan politik dan pemerintahan. Ia menegaskan penyatuan antara agama dan politik. Khomeini melihat bahwa Dunia Islam masih mengalami kendala yang hebat dalam mewujudkan cita-cita pemerintahan Islam ini. Khomeini mendiagnosis dua faktor yang menyebabkan belum terlaksananya cita-cita negara Islam ini, yaitu: (1) pengaruh imperialisme bangsa-bangsa Barat terhadap Dunia Islam, (2) pemerintahan yang tidak Islami.13
Imam Khomeini melanjutkan bahwa Imam yang akan menegakkan hukum-hukum Allah SWT dan menolak kediktatoran penguasa boneka imperialisme Barat harus memiliki sifat ilmu pengetahuan dan adil. Karena pemerintahan Islam adalah pemerintahan hukum, maka mereka yang mengetahui hukum dan agama pada umumnya (yaitu fuqaha), harus melaksanakan tanggung jawabnya mengawasi permasalahan eksekutif dan administrasi negara, berikut semua perencanaannya. Fuqaha adalah pemegang amanah dan pelaksana hukum-hukum Tuhan dalam memungut pajak, menjaga perbatasan dan melaksanakan hudud. Mereka tidak boleh membiarkan hukum-hukm Islam dilanggar dan tidak ditaati. Menurut Imam Khomeini, ada beberapa karakteristik pemerintahan Islam. Pertama, tidak bersifat tirani, yaitu pemerintahan yang dipimpin oleh orang-orang yang bertindak sewenang-wenang atas masyarakatnya. Kedua, berbasih hukum, kedaulatan hanyalah milik Allah SWT dan hukum adalah keputusan dari pemerintah-Nya, semua manusia adalah subjek hukum. Ketiga, hakikat pemerintahan Islam, sejalan dengan prinsip kedua, adalah ketaatan kepada hukum, hukum Allah SWT berlaku bagi siapa saja, bagi pemimpin maupun yang dipimpin. Keberadaan wilayah al- faqih atau kekuasaan politik ulama dalam pandangan Imam Khomeini adalah atas dasar penunjukan. Menurut Imam Khomeini, tugas wilayah al-faqih ini bisa jadi dilaksanakan secara individu meupun kolektif. Dalam realitasnya wilayah al-faqih pertama kali pasca-Revolusi Islam Iran dipegang oleh Imam Khomeini sendiri sebagai ulama yang paling disegani dan paling menonjol di Iran. Di tangannyalah kekuasaan eksekutif, legilatif, dan yudikatif mendapat persetujuan. Setelah Imam Khomeini meninggal dunia pada 3 Juni 1989, pemegang kekuasaan wilayah al-faqih ini beralih ke tangan Ali Khamenei. Peralihan wilayah al- faqih ini dilakukan melalui pilihan rakyat. Ini sesuai dengan bunyi pasal 107 UUD Iran:
Ayat 1 : setelah wafatnya Imam Khomeini, tugas mengangkat pemimpin terpikul pada pundak ahli yang dipilih oleh rakyat. Para ahli itu akan meninjau dan bermusyawarah di antara sesama mereka mengenai semua faqih yang memiliki kualifikasi, sebagaimana ditunjukkan dalam pasal 5 dan 109.
Ayat 2 : pemimpin tersebut mempunyai kedudukan yang ama dengan seluruh rakyat di negeri ini dalam pandagan hukum.
Sebagian memandang konsep wilayah al-faqih ini merupakan ambisi Khomeini untuk memonopoli kekuasaan. Karena itu, Mark Juergensmeyer mengemukakan tiga hal dalam memahami Revolusi Islam Iran, yaitu: Dalam hal pertama, memahami Syi’ah berarti memahami perjuangan panjang mereka melawan penindasan dan ketidakadilan yang dialami, baik oleh imam-imam mereka maupun oleh kaum Syi’ah sendiri. hal kedua, kekuasaan politik dan agama ulama (mullah) menempati posisi sentral dan strategis bagi Islam Syi’ah dibandingakn Sunni. Dalam hal ketiga tentang harapan mesianisme, kaum Syi’ah meyakini bahwa Imam mereka yang kedua belas bersembunyi dan akan turun kembali ke dunia mengalahkan segala kekuatan jahat. Tiga hal demikian menjadikan gerakan Islam di Iran yang dikomandoi oleh Ayatullah Khomeini sebagai revolusi yang ditunggu-tunggu. Revolusi Islam Iran telah mengguncangkan sendi-sendi sekuler pemerintahan Shah Pahlevi dan menggantikannya dengan nilai-nilai Islam Syi’ah. Kekuatan Khomeini terletak bukan pada senjata, karena Shah Iran dengan dukungan penuh Amerika Serikat jauh lebih memiliki senjata yang serba canggih dan mutakhir. Kekuatan Khomeini terlihat pada kedalaman ilmu pengetahuan yang dimilikinnya, karisma yang lahir dari dalam dirinya. Selanjutnya, konsep wilayah al-faqih ini mendapat tempat di dalam konstitusi Iran modern. Pemerintahan Iran pasca-Revolusi 1979 berusaha mengakomodasikan prinsip-prinsip negara modern dengan dokrin Syi’ah yang dikembangkan oleh Khomeini. Dengan demikian, Republik Islam Iran yang muncul setelah Revolusi 1979 adalah kombinasi pemahaman ketatanegaraan Syi’ah dengan pola pemerintahan modern. Demikianlah evolusi pemikiran politik Islam Syi’ah di Iran. Teori imamah yang merupakan bagian terpenting keyakinan Syi’ah menjadi Islam Iran dan membentuk sebuah negara yang dilandasi pada agama.14
5. Sistem Pemerintahan Islam
Secara historis, gerakan Islam telah bertentangan dengan kaum Yahudi, karena mereka yang pertama kali mengumandangkan propaganda anti-Islam dan memberlakukan pengonakan yang beraneka ragam (memilah-milih anggota masyarakat berdasarkan status sosial dan ekonominya). Mereka menyimpulkan bahwa hambatan utama bagi ambisi materialistis mereka dan ancaman bagi kekuasaan politik mereka hanyalah Islam, beserta aturan-aturan dan keyakinan atasnya. Oleh karena itu, mereka bersekongkol dan mengampanyekan perlawanan atas agama Islam dengan berbagai cara dapat mereka ciptakan. Para pengajar yang mereka tempatkan di sekolah-sekolah agama, di universitas-universitas, institusi pendidikan milik pemerintah, dan badan usaha penerbitan, mereka semua telah mengerahkan tenaga dalam usaha untuk menyimpangkan prinsip-prinsip Islam. Hasilnya, banyak anggota masyarakat Islam terutama kaum terpelajar, yang pada diri mereka terbentuk pemikiran-pemikiran Islam yang keliru. Mereka telah menciptakan pemikiran palsu atas ide-ide Islam. Versi Islam yang menyimpang yang telah mereka tampilkan di sekolah-sekolah agama menghilangkan ajaran Islam yang asli serta aspek revolusionernya. Sebagai contoh, Islam dikatakan tidak memiliki bentuk pemerintahan yang khusus, hanya berisi aturan-aturan tentang haid dan nifas, memiliki prinsip etika, tetapi tidak memiliki gagasan untuk diterapkan di dalam kehidupan manusia secara umum dan pengaturan atas masyarakat. Propaganda keji seperti inilah yang sayangnya justru memberikan pengaruh. Kaum terpelajar memiliki pemahaman yang salah atas ide-ide Islam. Jika, seseorang menampilkan Islam sebagaimana mestinya, agen-agen imperialisme di sekolah agama pun akan segera berteriak menentangnya. Al-Qur’an dan hadis merupakan sumber perintah-perintah dan aturan-aturan Islam, yang mana jelas sangat berbeda dengan kitab-kitab risalah amaliyah. Hukum-hukum Islam adalah sebuah sistem yang progresif, berkembang, dan mencakup banyak hal. Mencakup prosedur peradilan, transaksi sosial, hukum perundang-undangan, retribusi, hubungan internasional, pengaturan yang berkenaan dengan perdamaian dan perang, hukum pribadi dan umum dan semuanya ini merupakan contoh hukum-hukum dan aturan-aturan Islam.15
Karenanya, kelompok-kelompok pembuat paraturan, yang merupakan boneka-boneka imperialisme dan ingin menyebarluaskan yang mereka katakan keburukan (kekurangan) Islam ini, akan memandang Islam sebagai suatu ajaran yang tidak sempurna sehingga mereka harus mendatangkan hukum-hukum yang mereka anggap tepat dari negeri Inggris, Prancis, Belgia, dan belakangan ini juga dari Amerika. Konspirasi yang dilangsungkan oleh pemerintah imperialisme Inggris pada awal gerakan konstitusional memilki dua tujuan. Pertama, yang telah diketahui pada saat itu, untuk mengurangi pengaruh Tsar Rusia di Iran. Kedua, untuk menghilangkan kekuatan dan pelaksanaan hukum Islam dengan mengenalkan hukum-hukum Barat. Jika seseorang terdakwah diadili dengan sistem peradian di Iran atau negara-negara sejenis, maka kemungkinan ia harus menghabiskan seluruh hidupnya utuk membuktikan kasusnya. Hukum-hukum peradilan sekarang tidak memberi rakyat apapun selain kesulitan, menyebabkan mereka mengabaikan tugas-tugas harian mereka dan membuka kesempatan bagi segala macam praktik penyalahgunaan. Sangat sedikit orang yang dapat memperoleh hak mereka yang sah. Para agen imperialisme terkadang menulis di buku-buku dan koran-koran mereka bahwa ketetapan hukum Islam terlalu keras. Bahkan seseorang dengan lancangnya menulis bahwa hukum-hukum Islam itu keras karena berasal dari bangsa Arab, sehingga “kekerasan” bangsa Arab direfleksikan dalam “kekerasan” hukum-hukum Islam. Ketika Islam menetapkan bahwa para peminum Khamr harus dihukum dengan delapan puluh kali cambukan, maka mereka langsung mengatakan bahwa hukuman itu “terlalu keras”. Rencana mereka adalah untuk membuat kita mundur (terbelakang), membuat kita tetap berada dalam kesengsaraan seperti sekarang ini, sehingga mereka bisa mengeksploitasi kekayaan-kekayaan kita, kekayaan tambang kita, lahan kita, dan sumber daya manusia kita mereka menginginkan agar kita tetap menderita dan sengsara, serta kaum miskin kita terperangkap dalam kesengsaraan mereka. Untuk menutupi kekalahan mereka akan superioritas aturan-aturan Islam, yang dapat memberikan solusi bagi masalah kemiskinan, mereka dan para agen mereka menjalani kehidupan dalam
12
Iqbal dan Nasution, Pemikiran, h. 237-238.
13
Iqbal dan Nasution, Pemikiran, h. 239-241
14
Iqbal dan Nasution, Pemikiran, h. 243-250
istana yang besar dan menikmati hidup dengan kemewahan yang buruk sekali. Rencana-rencana mereka ini mempunyai jangkauan yang luas, bahkan mereka telah menyentuh institusi pendidikan agama.16
Mereka telah membuang semua proses peradilan dan hukum-hukum politik Islam dan menggantinya dengan produk orang-orang Eropa, yang karenanya mengurangi jangkauan Islam dan menjauhkannya dari masyarakat Islam. Demi kepentingan eksploitasi, mereka telah menempatkan agen-agen mereka di dalam dan lingkaran kekuasaan. Propaganda semacam ini merupakan bagian dari rencana para imperialis untuk mencegah kaum Muslim untuk ikut berperang dalam aktivitas politik dan menegakkan pemerintahan Islam. Hal ini sangat kontradiktif dengan keyakinan fundamental kita. Hukum memerlukan seseorang untuk melaksanakannya. Hal yang sama juga berlaku pada negara-negara di dunia, di mana mereka juga berupaya untuk menegakkan hukum, namun upaya mereka tersebut hanya memberikan sedikit manfaat dan tidak dapat menjamin kebahagiaan manusia. Setelah hukum ditegakkan, maka diperlukan juga kesungguhan untuk menciptakan kekuasaan eksekutif. Kebutuhan akan berjalannya hukum Ilahi, kebutuhan akan kekuasaan eksekutif dan pentingnya kekuasaan itu dalam memenuhi tujuan-tujuan dari misi kenabian serta menegakkan aturan yang adil yang akan memberikan kebahagiaan bagi umat manusia. Pada masa Rasulullah SAW, hukum-hukum tidak semata-semata dijelaskan dan diajarkan, namun juga dilaksanakan.17
Mereka tidak menginginkan kita untuk menjadi sebenar-benarnya manusia karena takut pada manusia yang sebenarnya, yang akan memperoleh pengaruh yang dapat menghancurkan seluruh fondasi tirani, imperialisme dan pemerintahan boneka yang telah mereka bangun, sehingga kapan saja manusia yang sebenarnya muncul, maka mereka akan membunuhnya, atau memenjarakan dan mengasingkannya serta memfitnahnya dengan mengatakan “dia adalah seorang ulama politik”. Seperti yang kita ketahui Nabi Muhammad SAW juga seorang ahli politik. Propaganda jahat ini dilakukan oleh agen-agen politik imperialisme semata-mata untuk membuat jauh dari politik, mencegah dari campur tangan dalam urusan masyarakat dan berjuang melawan pemerintahan yang curang.18
6. Kebutuhan Akan Pemerintahan Islam
Untuk memastikan bahwa hukum-hukum tersebut dapat mendukung reformasi dan mewujudkan kebahagiaan manusia, maka harus ada kekuasaan eksekutif, yang dijalankan oleh seorang eksekutor. Rasulullah SAW telah membentuk intitusi eksekutif dan administratif bagi masyarakat. Dengan cara inilah beliau membentuk negara Islam. Ketika nabi Muhammad SAW menunjuk seorang penerus kepemimpinan, beliau melakukannya bukan hanya untuk menjelaskan tentang akidah dan hukum yang telah diajarkannya, tetapi juga melakukan eksekusi berdasarkan hukum Allah SWT. Inilah fungsinya pengeksekusian hukum dan penegakkan institusi Islam yang menjadikan penunjukan seorang penerus kepemimpinan menjadi sesuatu yang penting, kaum Muslim tetap memerlukan seseorang yang dapat mengeksekusi hukum dan menegakkan institusi Islam dalam masyarakat. Kekuasaan legislatif tidak dapat menjamin terwujudnya kebaikan untuk manusia. Setelah penegakkan legislatif, kekuasaan eksekutif harus terbentuk. Kekuasaan inilah yang akan melaksanakan hukum dan keputusan yang telah ditetapkan oleh pengadilan. Islam mewujudkan seseorang yang patas menduduki kekuasaan eksekutif. Orang yang memegang kekuasaan eksekutif ini disebut Wali Amr, As-Sunnah dan Thariqah. Pengundang-undangan atas hukum tetap diperlukan pada masa setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW dan akan tetap demikian sampai akhir masa dunia ini. Demikian pula dengan bentuk pemerintahan dan penegakan organ-organ eksekutif dan administratif. Tanpa adanya bentuk pemerintahan dan penegakkan organ-organ tersebut yang dapat menjamin bahwa melalui perundang-undangan atas hukum, semua aktivitas individu akan berjalan dalam kerangka sistem yang adil maka kekacauan dan anarki akan berlaku serta kerusakan sosial, intelektual, dan moral akan muncul.19 Asas dan karakter hukum-hukum Islam serta aturan-aturan Tuhan (Syariat) memberikan bukti tambahan atas kebutuhan akan tegaknya pemerintahan, karena hukum-hukum-hukum-hukum itu memberikan indikasi bahwa mereka ditetapkan untuk tujuan menciptakan sebuah negara dan menangani permasalahan politik, ekonomi dan budaya dalam masyarakat. Hukum-hukum syaria’at mencakup bermacam-macam badan hukum dan peraturan yang membentuk sebuah sistem sosial yang lengkap. Pada sistem hukum ini semua kebutuhan manusia terpenuhi. Hukum Islam memuat ketetapan-ketetapan yang berhubungan dengan persiapan pernikahan, melakukan ijab dalam pernikahan, perkembangan janin dalam kandungan. Islam memberi hukum-hukum dan aturan-aturan untuk semua hal tersebut dengan tujuan untuk membentuk penganutnya menjadi manusia sutuhnya dan juga shaleh serta menerapkan hukum-hukumnya dan secara alam (tanpa pemaksaan) melaksanakannya.20 Dalam mengatur pendapatan dan anggaran negara, negara Islam melaksanakannya dengan adanya pengenaan pajak. Pajak yang telah terkumpul dan anggaran untuk penggunaannya tidak semata-mata untuk memberikan penghidupan kepada masyarakat miskin melainkan juga untuk mendukung tegaknya sebuah pemerintahan besar dan untuk menanggung pembelajaan yang diperlukan. Menurut Syi’ah, khums dikumpulkan dengan cara yang pantas (sesuai perhitungan) dari sektor pertanian, perdagangan dan semua sumber daya alam baik yang di udara maupun di bawah tanah. Hal ini juga diberlaukan bagi para penjual sayuran yang ada di luar masjid, pengusaha perkapalan, dan pertambangan. Mereka harus membayar sebesar seperlima (20%) dari pendapatan mereka, setelah dikurangi biaya-biaya umum (biaya pokok), kepada hakim Islam untuk dimasukkan ke dalam baitul mal. Jika kita hitung seperlima dari surplus pendapatan seluruh negara Islam, atau dari seluruh dunia seumpama ada di bawah kekuasaan Islam maka akan menjadi jelas bahwa tujuan pembebanan pajak seperti ini tidak semata-mata untuk menghidupi keluarga sayid atau pelajar sekolah agama, melainkan juga untuk sesuatu yang lebih penting, yaitu untuk memenuhi kebutuhan keuangan organ-organ dan institusi pemerintahan. Pemungutan pajak-pajak ini membuktikan bahwa keberadaan hakim dan pemerintah merupakan sebuah kebutuhan di dalam masyarakat. Tugas hakim atau pemerintah adalah membebankan pajak yang di pungut dari Ahl adz-dzimmah, sesuai dengan kemampuan pendapatan mereka dan menetapkan pajak yang tepat atas pertanian dan peternakan. Ia juga harus mengumpulkan kharaj atas tanah luas, yang mana itu adalah harta Allah SWT dan berada dalam kuasa pengelolaan negara Islam.21 Jika kaum muslim bertindak sebagaimana yang diperintahkan dalam Al-Qur’an dengan membentuk pemerintahan yang penuh dengan kesiapan untuk perang, maka tangan-tangan Yahudi tidak akan pernah berani menduduki tanah kita serta menghancurkan dan membakar Masjidil Aqsa. Dan jika para pemimpin pemerintahan dari negara-negara muslim sungguh-sungguh mencerminkan keyakinan akan hukum Allah SWT dan melaksanakannya, mengesampingkan perbedaan yang remeh di antara mereka dan menjauhi perpecahan dan subversi serta bersatu bagai jari-jari dalam satu tangan, maka tangan-tangan kotor Yahudi (para agen Amerika, Inggris, dan kekuasaan Asing lainnya) tidak akan pernah dapat mempertahankan apa yang mereka telah capai, tak peduli seberapa besar dukungan negara Amerika dan Inggris kepada mereka.22
Kesimpulan
Islam merupakan agama yang modern, dimana sudah ada ketentuan dan ketetapan serta aturan yang ingin menjadikan umatnya sebagai manusia yang sempurna. Manusia merupakan makhluk Tuhan yang memiliki segala kelebihan yang tidak dimiliki oleh makhluk Allah SWT lainnya, akal serta bentuk fisik yang sempurna merupakan anugrah yang sungguh sangat luar biasa yang telah Allah berikan. Salah satu bentuk keistimewaan dari adanya akal adalah terciptanya manusia yang beragama. Dimana ketika menyangkut soal agama akan terjadi konfik karena agama sifatnya sensitif, maksudnya adalah ketika agama tersebut disampaikan walaupun dari satu sumber namun pemahaman dari berbeda orang membuat keadaan menjadi rumit. Misalnya syi’ah yang disebut sebagai pengikut dari Khilafah Ali bin Abi Thalib, dan banyak di pelopori oleh dua belas imam namun yang paling terkenal dan fenomenal adalah Imam Khomeini.
Dari segi konsep politik, sebenarnya tidak ada gagasan-gagasan yang benar-benar baru dari Ayatullah Khomeini. Hal ini menurutnya sendiri, karena persoalan keperluan akan suatu negara Islam sebenarnya adalah suatu kenyataan yang segera bisa disepakati, khususnya dikalangan Syi’ah. Di bawah ini adlah hadis yang termasyhur di kalangan Syi’ah, yang bersumer dari Imam Ja’far Al-Shadiq (imam keenam), “menyangkal wewenang seorang mujtahid berarti menentang wewenang Imam. Menentang wewenang Imam brarti menentang wewenang Nabi SAW. Menentang wewenang Nabi SAW brarti menentang Allah SWT. Menentang wewenang Allah sama dengan syirik”. Menurut Imam Khomeini, semua muslim tahu, bahwa Islam merupakan agama yang memiliki seperangkat hukum berkenaan dengan masalah-masalah sosial yang harus dilaksanakan oleh kaum muslimin sebagai suatu kesatuan sosial. Untuk menjadikan pelaksanaan hukum-hukum itu efektif diperlukan kekuasaan eksekutif (al-sulthah al-tafidziyyah). Sebab menurutnya tak ada gunanya suatu peraturan tanpa adanya kekuasaan eksekutif yang melaksanakan pelaksanaan hukum Islam, khususnya sebagian dari padanya yang merupakan kewajiban. Negara meurut Imam Khomeini adalah instrumen bagi pelaksanaan undang-undang Tuhan di muka bumi. Memberikan kepada rakyat hak untuk membuat undang-undang selain bertentangan dengan ajaran Islam sebagaimana diyakini Imam
Khomeini, juga hanya akan memaksa negara untuk mnerima perundang-undangan yang boleh jadi buruk tetapi merupakan kemauan rakyat, ataupun menolak perundang-undangan yang baik hanya karena bertentangan dengan kehendak rakyat. Syi’ah justru menganggap bahwa pemenang akhir ada pada kelommpok elite ahli (wali atau authority) yang paling mengetahui dan, oleh karena itu, berhak menafsirkan hukum-hukum Tuhan. Seluruh bagian struktur politik negara mestilah dibawahkan kepada wali ini. Inilah yang dsebut sebagai sistem wilayah al-faqih. Struktur pemerintahan Wilayat al-Faqih terpusat di tangan rahbar namun dalam pelaksanaannya berbentuk trias politica yang terdiri atas 3 badan legislative (Parlemen, Dewan Ahli, dan Majelis Ahli), kekuasaan eksekutif di tangan presiden, dan kekuasaan yudikatif di tangan mahkamah Agung atau Dewan Tertinggi Peradilan Nasional. Selain itu ada Dewan Revolusi, Dewan politik dan ekonomi Revolusi, dan Pemimpin Agama yang berfungsi sebagai administrator lokal.
Jika kaum muslim bertindak sebagaimana yang diperintahkan dalam Al-Qur’an dengan membentuk pemerintahan yang penuh dengan kesiapan untuk perang, maka tangan-tangan Yahudi tidak akan pernah berani menduduki tanah kita serta menghancurkan dan membakar Masjidil Aqsa. Dan jika para pemimpin pemerintahan dari negara-negara muslim sungguh-sungguh mencerminkan keyakinan akan hukum Allah SWT dan melaksanakannya, mengesampingkan perbedaan yang remeh di antara mereka dan menjauhi perpecahan dan subversi serta bersatu bagai jari-jari dalam satu tangan, maka tangan-tangan kotor Yahudi (para agen Amerika, Inggris, dan kekuasaan Asing lainnya) tidak akan pernah dapat mempertahankan apa yang mereka telah capai, tak peduli seberapa besar dukungan negara Amerika dan Inggris kepada mereka.
Daftar Pustaka Buku Primer:
Khomeini, Imam. Sistem Pemerintahan Islam, penerjemah: Muhammad Anis Maulachela. Jakarta: Pustaka Zahra, 2002. Buku Sekunder:
Al Walid, Kholid. Wilayah Al-Faqih Sebuah Konsep Pemerintahan Teo-Demokrasi. No. 01. Juni 2013.
Iqbal, Muhammad dan Nasution, Amin Husein. 2013. Pemikiran Politik Islam Dari Masa Klasik Hingga Indonesia Kontemporer. Kencana Prenada Media Group: Jakarta.
Kadir,Abdul. Syiah dan Politik: Studi Republik Islam Iran. No. 1 Vol.5. tahun 2015.
Maarif, Ahmad Syafi’i, dkk.,. Maarif Arus Pemikiran Islam dan Sosial: Syiah, Sektarianisme dan Geopolitik. No. 2. Desember 2015. Yamani. Filsafat Politik Islam: Antara al-Farabi dan Khomeini. Mizan: Bandung, 2002.