• Tidak ada hasil yang ditemukan

EVALUASI PEMBIAYAAN SISTEM BAGI HASIL BA (2)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "EVALUASI PEMBIAYAAN SISTEM BAGI HASIL BA (2)"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

EVALUASI PEMBIAYAAN SISTEM BAGI HASIL BANK SYARIAH PADA USAHA MIKRO KECIL DAN MENENGAH (UMKM)

DI KABUPATEN JEMBER

PROPOSAL SKRIPSI

Oleh:

Moh. Dio Awaludin Jauhar NIM : 110810301005

Dosen Pembimbing I Kartika, SE., M.Si., Ak. NIP : 1982020720081220023

Dosen Pembimbing II Dr.Ahmad Roziq, SE.,MM.,Ak

NIP : 197004281997021001

(2)

1. Judul: ” EVALUASI PEMBIAYAAN SISTEM BAGI HASIL BANK

SYARIAH PADA USAHA MIKRO KECIL DAN MENENGAH (UMKM) DI KABUPATEN JEMBER”

2. Latar Belakang

Ada dua metode pembiayaan yang diterapkan di bank syariah, yaitu metode non-profit loss sharing (non-PLS) berupa pembiayaan dengan sistem jual beli termasuk sewa beli dan metode profit loss sharing (PLS) berupa pembiayaan dengan sistem bagi-hasil. Menurut Triyuwono (2004) dalam sistem bagi hasil, tingkat bunga diganti dengan tingkat laba, oleh karena itu sistem investasi didorong oleh tingkat laba, ketika tingkat laba lebih tinggi maka total investasi juga lebih tinggi. Sehingga tingkat laba yang positif dapat mengeliminasi permintaan uang spekulatif, tingkat inflasi dapat dikurangi, karena hanya ada permintaan aktual untuk investasi riil.

Sistem bagi-hasil pada hakikatnya menjaga prinsip keadilan tetap berjalan dalam perekonomian. Karena memang kestabilan ekonomi bersumber dari prinsip keadilan yang dipraktikkan dalam perekonomian. Ketika bank menentukan tingkat pendapatan yang ditentukan secara tetap dari dana yang dipinjamkan kepada pengusaha tanpa mempertimbangkan apakah pengusaha dapat atau tidak memperoleh laba. Ketika pengusaha menderita rugi, pengusaha menderita sendirian, sementara pihak lainnya yaitu bank tetap memperolah pendapatan tetap dari pengusaha. Sangat berbeda dengan berdasarkan sistem bagi hasil, kedua pihak akan memperoleh keuntungan atau menderita kerugian secara bersama-sama. Sistem bagi hasil menggemakan nilai kebersamaan (kerjasama), keadilan, persaudaraan, yang

mana mungkin menyetir perasaan kepentingan pribadi dan sebaliknya mendorong dan memperkuat kepentingan masyarakat. Namun menurut Karim (2004:195) kontrak sistem bagi-hasil tidak memberikan kepastian pendapatan baik dari segi jumlah maupun waktu. Jadi dalam kontrak ini return dan timing cash flow-nya tergantung pada kinerja bisnis mudharib (pengelola dana mudharabah).

(3)

sedangkan apabila rugi ditanggung oleh pemilik modal selama kerugian itu bukan akibat kelalaian si pengelola. Seandainya kerugian itu diakibatkan karena kecurangan

atau kelalaian si pengelola, si pengelola harus bertanggungjawab atas kerugian. Meskipun apabila bisnis yang didanai pembiayaan mudharabah mengalami kerugian dan mudharib/pengelola tidak menanggung kerugian secara finansial, namun mudharib/pengelola dana pada dasarnya menanggung kerugian berupa hilangnya waktu dan usaha yang selama ini sudah dikerahkan tanpa mendapatkan imbalan apapun (Karim, 2004:196).

Menurut Baiq (2006) perbankan syariah seharusnya mengembangkan dan meningkatkan pembiayaan dengan sistem bagi-hasil seperti mudharabah karena pembiayaan jenis ini memiliki beberapa dampak positif antara lain: 1. akan menggairahkan sektor riil, 2. rate of return bank syariah lebih tinggi bila dibandingkan dengan interest rate yang berlaku pada bank umum, 3. akan mendorong tumbuhnya pengusaha/investor yang berani mengambil keputusan bisnis yang berisiko, 4. dapat mengurangi peluang terjadinya resesi ekonomi dan krisis keuangan dan, 5. sistem mudharabah dan musyarakah dapat menjadi solusi alternatif atas problem overlikuiditas yang saat ini terjadi

Yumanita (2005) menjelaskan bahwa secara umum perbankan syariah di manapun memiliki masalah rendahnya pembiayaan bagi-hasil, baik yang menerapkan fully Islamic financial system atau yang menerapkan dual banking system. Bahkan Saeed (2004) menyimpulkan bahwa bank syariah mengalami kegagalan implementasi profit-loss sharing (PLS). Ini ditandai dengan tidak

memadainya besaran jumlah pembiayaan berbasis PLS (musyarakah dan mudharabah) dibandingkan dengan Non-PLS (murabahah, ijarah, dan lain sebagainya).

(4)

Dari latar belakang masalah diatas, maka rumusan masalah yang dapat diambil adalah sebagai berikut:

a. Bagaiamana pelaksanaan operasionalisasi pembiayaan sistem bagi hasil baik pada UMKM maupun mitra kerjanya (Bank Syariah dan Koperasi Syariah)?

b. Bagaimana permasalahan yang dihadapi dalam pelaksanaan operasionalisasi pembiayaan sistem bagi hasil baik pada UMKM maupun mitra kerjanya (Bank Syariah dan Koperasi Syariah)

c. Apa saja faktor yang menjadi kendala ketidakberhasilan dan faktor-faktor pemacu keberhasilan pembiayaan sistem bagi hasil pada pada UMKM maupun mitra kerjanya (Bank Syariah dan Koperasi Syariah)

4. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan rumusan masalah yang telah diajukan dalam penelitian ini, maka tujuan yang ingin dicapai adalah sebagai berikut:

a. Untuk mengetahui pelaksanaan operasionalisasi pembiayaan sistem bagi hasil baik pada UMKM maupun mitra kerjanya (Bank Syariah dan Koperasi Syariah).

b. Untuk mengetahui permasalahan yang dihadapi dalam pelaksanaan operasionalisasi pembiayaan sistem bagi hasil baik pada UMKM maupun mitra kerjanya (Bank Syariah dan Koperasi Syariah)

d. Untuk faktor yang menjadi kendala ketidakberhasilan dan

faktor-faktor pemacu keberhasilan pembiayaan sistem bagi hasil pada pada UMKM maupun mitra kerjanya (Bank Syariah dan Koperasi Syariah)

5. Manfaat Penelitian

(5)

b. Bagi lembaga keuangan syariah c. Bagi UMKM

d. Bagi peneliti/pembaca

6. Tinjauan Pustaka 6.1 Landasan Teori 6.1.1 Teori Keagenan

Teori keagenan menjelaskan bahwa pada sebuah perusahaan terdapat dua pihak yang saling berinteraksi. Pihak-pihak tersebut adalah pemilik perusahaan (pemegang saham) dan manajer perusahaan. Pemegang saham disebut sebagai prinsipal, sedangkan manajer, orang yang diberi kewenangan oleh pemegang saham untuk menjalankan perusahaan, disebut agen (Jensen dan Meckling, 1976). Tetapi di satu sisi, agen memiliki informasi yang lebih banyak (full information) dibanding dengan principal di sisi lain, sehingga menimbulkan adanya information asymmetry.

Rahmawati dkk (2006) menjelaskan bahwa teori keagenan (agency theory) mengimplikasikan adanya informasi asimetri antara manajer sebagai agen dan pemilik (dalam hal ini adalah pemegang saham) sebagai prinsipal. Hal ini juga ditegaskan oleh Pratamasari (2003) bahwa dalam hubungan keagenan, manajer mempunyai informasi asimetri terhadap pihak eksternal perusahaan, seperti kreditur dan investor.

Informasi yang lebih banyak dimiliki oleh manajer dapat memicu untuk melakukan tindakan-tindakan sesuai dengan keinginan dan kepentingan untuk

memaksimumkan utility-nya. Sedangkan bagi pemilik modal dalam hal ini investor, akan sulit untuk mengontrol secara efektif tindakan yang dilakukan oleh manajemen karena hanya memiliki sedikit informasi yang ada. Oleh karena itu, terkadang kebijakan-kebijakan tertentu yang dilakukan oleh manajemen perusahaan tanpa sepengetahuan pihak pemilik modal atau investor.

(6)

kepentingan terbaik prinsipal (Abdurahman dan Ludigdo, 2004). Agency theory biasanya dilihat sebagai konflik kepentingan (conflict of interest) dalam akuntansi dan

perusahaan. Artinya dalam kerangka umum model hubungan keagenan memperlihatkan bahwa manajer melakukan maksimasi expected utility agar dapat mempengaruhi desain kontrak kerja mereka. Principal dan agen dalam interaksi bisnis tersebut sebenarnya mengarah pada kepentingan yang sama, yaitu wealth, kekayaan. Akhirnya, akuntansi menjadi alat yang powerfull untuk memberikan keuntungan yang sebesar-besarnya kepada pemilik modal di satu sisi, juga dapat memberikan manfaat injeksi modal dan investasi yang makin besar dan linier kepada agen dari pemilik modal, yaitu manajemen perusahaan, dalam mengelola perusahaan.

Pihak yang disebut sebagai agen dalam pembiayaan mudharabah ialah para mudharib, dan pihak yang disebut sebagai prinsipal ialah bank syariah. Hubungan antara agen (mudharib) dan prinsipal (bank syariah) biasanya dalam situasi informasi asimetri. Hal ini dapat terjadi disebabkan karena adanya pihak yang mempunyai informasi lebih (agen/mudharib) dibandingkan dengan pihak lain (prinsipal/bank syariah). Agen (mudharib) lebih banyak mempunyai informasi karena berhubungan secara langsung dengan perusahaan. Dengan asumsi bahwa masing-masing individu bertindak untuk memaksimalkan kepentingan pribadinya, maka dengan adanya informasi asimetri akan mendorong agen untuk menyembunyikan informasi yang tidak dimiliki oleh prinsipal. Dalam penyusunan laporan keuangan, agen juga memiliki informasi asimetri sehingga agen dapat lebih fleksibel mempengaruhi laporan keuangan guna memaksimalkan kepentingannya.

(7)

6.1.2 Teori Akuntansi Positif

Scott (2006:240) mendefinisikan teori akuntansi positif sebagai teori

akuntansi yang berkaitan dengan prediksi beberapa tindakan yang dilakukan manajer seperti pilihan-pilihan terhadap kebijakan akuntansi dan bagaimana manajer akan merespon standar akuntansi yang baru diusulkan. Teori akuntansi positif didasarkan pada tujuan yang ingin dicapai oleh teori ini adalah menjelaskan praktik akuntansi (di masa sekarang) dan memprediksikan praktek akuntansi (di masa mendatang).

Positive accounting theory memandang perusahaan sebagai a nexus of contracts, suatu organisasi terdiri dari susunan kontrak-kontrak, misalnya, kontrak hutang. Dalam kontrak hutang, pemberi kredit menginginkan proteksi dalam bentuk persyaratan rasio-rasio keuangan tertentu yang harus dipenuhinya seperti; rasio hutang terhadap modal, rasio pendapatan terhadap biaya bunga, modal kerja minimal dan sebagainya.

Positive accounting theory melihat bahwa kebijakan akuntansi yang dipilih adalah dalam rangka meminimalkan biaya kontrak tersebut agar supaya tercapai efisiensi dalam tata kelola perusahaan. Positive accounting theory mengasumsikan bahwa para manajer adalah rasional (seperti investor) dan akan memilih kebijakan akuntansi sesuai dengan kepentingannya sesuai hipotesis yang dikemukakan oleh Scott (2006:243).

Menurut perspektif oportunistik, positive accounting theory memandang bahwa para manajer memilih kebijakan akuntansi untuk memaksimalkan ekspektasi utilitasnya terhadap gaji yang ditetapkan, debt contracts maupun biaya politik apabila

(8)

mempengaruhi nilai perusahaan dan atau kompensasi manajemen (Watts dan Zimmerman, 1986:196).

Bank Islam akan menghadapi kesulitan akibat adanya keterbatasan informasi kualitas proyek. Peminjam memiliki informasi dalam tentang aktivitas pengelola dan kemungkinan kesuksesan proyek tidak dapat ditunjukkan kepada bank secara benar karena setiap peminjam akan mengatakan kualitas proyek yang lebih tinggi. Risiko yang dihadapi oleh principal adalah perilaku agent (moral hazard) seperti nasabah dapat saja menggunakan dana tersebut bukan seperti yang disebutkan di dalam kontrak, lalai atau kesalahan yang disengaja (mismanagement), penyembunyian keuntungan oleh nasabah.

Secara teoritis bank Islam menghadapi dua resiko yaitu resiko moral karena rendahnya kejujuran dan integritas sebagian peminjam dana dalam menyampaikan kerugian, dan resiko bisnis yang berasal dari perilaku pasar yang tidak diharapkan (Kazmi, 2004). Pendapat ini didukung oleh Edwardes (1999) bahwa bank Islam lebih berisiko dibandingakan dengan bank pesaing di negara Barat terutama berkaitan dengan bisnis pembiayaan perdagangan dan modal.

(9)

Kesulitan bank dalam menentukan kualitas peminjam akan menciptakan masalah adverse selection khususnya pendanaan pinjaman yang tersedia dari

sumber-sumber pesaing. Peminjam yang mengetahui proyeknya menghasilkan keuntungan yang rendah akan memilih pembiayaan sistem bagi hasil karena peminjam akan meniikmati pendapatan yang lebih tinggi karena adanya rendahnya biaya modal. Dalam kontrak bagi hasil peminjam memiliki dorongan untuk mengurangi laba yang dilaporkan melalui creative accounting atau dengan cara mempengaruhi angka akuntansi dalam pelaporan keuangan (earnings management). Keadaan ini akan menyebabkan risiko pada pembiayaan sistem bagi hasil seperti produk pembiayaan mudharabah bank syariah.

6.1.3 Teori Enterprise Syariah

Sarker (1999a) dan Yusof dan Amin (2004) menjelaskan bahwa tujuan perusahaan adalah falah yaitu pencapaian kebahagian di dunia dan akherat, atau kesejahteraan material and spiritual. Pencapaian falah atau kesejahteraan menurut hukum Islam (syariah) adalah fokus utama dari aktivitas manusia di dunia. Jadi produsen Islami juga seperti konsumen Islami, akan mencoba memaksimalkan kesejahteraan di dunia sekaligus juga kesejahteraan di akherat. Selayaknya perusahaan dengan etika syariah di samping menciptakan kesejahteraan materi juga menciptakan kesejahteraan mental dan kesejahteraan spiritual (Triyuwono, 2006b).

Teori enterprise syariah mengfungsikan agama (syariah) sebagai suatu hal yang menyatu dalam agency theory, maka akan memunculkan batasan perilaku

(10)

Sarker (1999a) mengatakan beberapa peneliti berargumen bahwa ada dua alasan mengapa masalah prinsipal agen akan menjadi kecil dalam ekonomi Islam.

Pertama, para muslim percaya tentang kehidupan akherat yang kekal, yang mana orang jujur akan mendapatkan pahala sedangkan orang yang tidak jujur akan mendapat hukuman. Ini adalah insentif nonmateri bagi orang yang tidak jujur. Kedua, jika semua kegiatan keuangan berdasarkan pembagian, para pengusaha yang jujur akan mendorong orang yang tidak jujur keluar dari pasar.

6.1.4 Teori Akuntansi Syariah

Akuntansi syariah didefiniskan sebagai proses akuntansi yang menyediakan informasi yang tepat/sesuai (yang tidak dibatasi pada data keuangan) kepada stakeholders dari suatu entitas yang akan memungkinkan mereka untuk menyakinkan bahwa entitas beroperasi secara kontinyu dalam ikatan syariah Islam dan mengantarkan pada tujuan falah, yaitu mencapai kebahagian dunia-akherat, kesejahteraan materi-spiritual. Menurut Hayashi, dalam akuntansi syariah ada meta rule yang berasal di luar konsep akuntansi yang harus dipatuhi, yaitu hukum syariah yang berasal dari Tuhan yang bukan ciptaan manusia, dan akuntansi syariah sesuai dengan kecenderungan manusia yaitu hanief yang menuntut agar perusahaan juga memiliki etika dan tanggung jawab sosial, bahkan ada pertanggungjawaban di akhirat, di mana setiap orang akan mempertanggungjawabkan tindakannya di hadapan Tuhan yang memiliki akuntan sendiri (malaikat Rakib dan Atid) yang mencatat semua tindakan manusia bukan saja pada bidang ekonomi, tetapi juga

masalah sosial dan pelaksanaan hukum syariah lainnya (Harahap, 1997; Gamal, 2007). Akuntansi harus dianggap sebagai salah satu derivasi (hisab) yaitu menganjurkan yang baik dan melarang apa yang jelek.

(11)

Bentuk khusus kontrak keuangan yang telah dikembangkan untuk

menggantikan mekanisme bunga dalam transaksi keuangan Islam (syariah) adalah

mekanisme bagi-hasil. Mekanisme bagi-hasil ini merupakan core product bagi lembaga keuangan syariah, seperti bank syariah. Sebab bank syariah secara eksplisit melarang penerapan tingkat bunga pada semua transaksi keuangan. Sistem bagi-hasil diyakini sebagai alat penghapus sistem bunga (Siddiqui, 2005).

Salah satu bentuk pembiayaan dengan sistem bagi hasil adalah pembiayaan mudharabah. Antonio (2001:95) dan Karim (2004:93) mendefinisikan mudharabah sebagai akad kerjasama antara dua pihak dimana pihak pertama (shahibul maal) menyediakan modal, sedangkan pihak lainnya menjadi pengelola (mudharib). Keuntungan usaha secara mudharabah dibagi menurut kesepakatan yang dituangkan dalam kontrak, sedangkan apabila rugi ditanggung oleh pemilik modal selama kerugian itu bukan akibat kelalaian si pengelola. Apabila karena kesalahan pengelola maka si pengelola harus bertanggungjawab atas kerugian tersebut.

6.1.6 Usaha Mikro Kecil Menengah

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) ada beberapa kriteria yang dipergunakan untuk mendefinisikan Pengertian dan kriteria Usaha Mikro, Kecil dan Menengah. Pengertian-pengertian UMKM tersebut adalah (Depkop,2011):

a. Usaha mikro adalah usaha produktif milik orang perorangan dan/atau badan usaha perorangan yang memenuhi kriteria Usaha Mikro yaitu usaha yang

memiliki asset maksimal Rp. 50 juta dan atau memiliki omset penjualan maksimal Rp. 300 juta.

(12)

500 juta dan atau memiliki omset penjualan lebih dari Rp. 300 juta sampai dengan Rp. 2,5 Milyar.

c. Usaha Menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perseorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dengan Usaha Kecil atau usaha besar yang usaha yang memiliki asset lebih dari Rp. 500 juta sampai dengan Rp. 10 milyar juta dan atau memiliki omset penjualan lebih dari Rp. 2,5 milyar sampai dengan Rp. 50 Milyar.

6.2 Penelitian Terdahulu

Yumanita (2005) melakukan riset tentang solusi rendahnya pembiayaan bagi hasil mudharabah pada perbankan syariah di Jawa Barat dengan pendekatan triangulation method. Tujuan penelitiannya adalah untuk mengidentifikasi fakor-faktor yang mempengaruhi rendahnya pembiayaan bagi hasil mudharabah di bank syariah sekaligus mencari solusi pemecahan dan strategi kebijakan yang tepat untuk mengatasi masalah tersebut. Untuk sampai kepada tujuan penelitian yang diinginkan, beberapa tahapan dilakukan yaitu focus group discussion (FGD) dan indepth interview dilakukan untuk mendapatkan gambaran mendalam mengenai masalah rendahnya pembiayaan bagi hasil ini. Hasilnya kemudian dipergunakan sebagai dasar merancang model dalam kerangka metode analytic network process (ANP) beserta model kuesionernya untuk mendapatkan data yang diperlukan. Setelah itu, survey

menggunakan kuesioner ini dilakukan kepada pakar dan praktisi perbankan yang dianggap.paling menguasai dan ahli tentang masalah ini. Analytic network process ANP kemudian digunakan untuk mencari prioritas alternatif solusi dan strategi kebijakan yang tepat, sehingga dapat memberikan masukan policy recommendations yang tepat dan optimal.

(13)

kurangnya pemahaman dan kualitas sumber daya insani (SDI) perbankan syariah dan masalah kurangnya regulasi yang mendukung. Masalah lain yang berikutnya perlu

mendapat perhatian adalah dari aspek pemerintah dan institusi lain, yaitu masalah kurangnya dukungan pemerintah dan institusi. Sedangkan rekomendasi yang dapat digunakan yaitu: peningkatan kualitas dan kuantitas SDI dapat dilakukan secara berjenjang, dimulai dengan jenjang jabatan yang paling atas, khususnya terkait dengan fit and proper test direktur utama yang berkesinambungan secara berkala.

Samad dan Hassan (2003) melakukan survey terhadap bankir syariah di Malaysia. Hasil risetnya menunjukkan bahwa pembiayaan berdasarkan sistem profit sharing (mudharabah) and joint venture profit sharing (musyarakah) tidak populer di Malaysia disebabkan karena hampir 40 % s/d 70% bankir kurang pengetahuan dalam (1) menyeleksi proyek bagi hasil yang menguntungkan; (2) mengelola proyek bagi hasil; dan (3) mengevaluasi tingkat keuntungan dari suatu proyek.

Hasil penelitian Roziq (2011) menemukan bahwa kesulitan (kendala) dalam menjalankan pembiayaan dengan system bagi hasil (mudharabah) antara lain: kurang keterbukaan mudharib, kejujuran mudharib yang rendah , pemenuhan komitmen yang kurang, pemberian laporan yang sering terlambat, kesulitan memperoleh laporan bulanan, monitoring usaha mudharib, kaporan keuangan, pembayaran proyek mundur, proyeksi bagi hasil tidak sesuai realita, pembukuan mudharib belum rapi, lebih membutuhkan waktu dan tenaga, kekurangan sumber daya manusia/insani, resiko tinggi , nasabah tidak bisa membuat lap keuangan rutin, nasabah tidak mempunyai laporan keuangn yang diaudit, penggunaan dana diluar ketentuan

kontrak, moral hazard, nasabah tidak menyampaikan laporan bulanan, nasabah tertutup terhadap kondisi usaha, nasabah kurang paham akad syariah, laporan keuangan belum terkomputerisasi

(14)

sempurna(kafah). Kendala-kendala yang ada berdampak pada pilihan pembiayaan yang dilakukan oleh manajemen bank syariah (unit usaha syariah) lebih difokuskan

pada pembiayaan dengan sistem non bagi hasil (non profit and loss sharing). Dengan dalih menghindari risiko disebabkan kendala dan fokus pada pembiayaan murabahah. Penghindaran kendala sama saja dengan penghindaran pada pembiayaan yang menggunakan sistem bagi hasil (profit and loss sharing) sehingga menyebabkan pembiayaan seperti mudharabah bukan merupakan core product dari bank syariah yang dikenal masyarakat dengan istilah bank bagi hasil. Keadaan ini berimplikasi pada rendahnya jumlah pembiayaan mudharabah. Menghindari risko pembiayaan mudharabah (risk averse) menyebabkan pada penghindaran kegiatan pembiayaan mudharabah (risk to efforts).

7. Metodologi Penelitian 7.1 Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan jenis penelitian exploratory dan survey yang akan dilaksanakan di wilayah Kabupaten Jember dengan menggunakan triangulation method. Tahapan penelitian yang dilakukan melakukan studi lapangan/survei digunakan untuk menemukan mengungkap, mengurai permasalahan pembiayaan sistem bagi hasil di UMKM dan mitra kerjanya, Bank Syariah Mandiri, Bank Muamalat, Bank BNI Syariah dan Koperasi Syariah Baitul Maal Wat Tamwil.

3.1 Jenis dan Sumber Data

(15)

Wat Tamwil.Sedangkan data sekunder diperoleh dari sumber dokumen usaha UMKM, laporan keuangan usaha UMKM dan dokumen yang dibuat/diterbitkan

oleh mitra kerjanya yaitu bank syariah dan koperasi syariah

7.2 Metode Pengumpulan Data

Cara atau metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. Angket (questionnaire)

yaitu cara pengumpulan data secara tertulis berupa sejumlah pertanyaan tertutup maupun terbuka yang diisi oleh responden yang terdiri dari persepsi/pendapat tentang pembiayaan dengan sistem bagi hasil diperoleh dari persepsi pelaku usaha UMKM dan persepsi manajer Bank Syariah Mandiri, Bank Muamalat, Bank BNI Syariah dan Koperasi Syariah Baitul Maal Wat Tamwil .

b. Wawancara (interview)

Yaitu metode pengumpulan data melalui pertanyaan yang diajukan secara lisan dan langsung yaitu dilakukan dengan bertatap muka. Wawancara dapat dilakukan kepada persepsi/pendapat tentang pembiayaan dengan sistem bagi hasil diperoleh

dari persepsi pelaku usaha UMKM dan persepsi manajer Bank Syariah Mandiri, Bank Muamalat, Bank BNI Syariah dan Koperasi Syariah Baitul Maal Wat Tamwil. Metode ini dapat memperkaya informasi yang tidak tertuang dalam dokumentasi/dokumen lembaga, namun memiliki kelemahan diantaranya bias

subyektif karena perspektif orang tertentu dan juga sulit mengklarifikasi

pendapat satu narasumber dengan narasumber lainnya bila terjadi perbedaan

penilaian.

c. Dokumentasi

(16)

7.3 Unit Analisis dan Lokasi Penelitian

Unit yang dianalisis dalam penelitian ini adalah badan usaha mikro kecil menengah (UMKM) dan mitra usahanya bank syariah dan koperasi syariah yang telah melakukan kerjasama usaha dan yang berlokasi di wilayah Kabupaten Jember.

7.4 Teknis Analisis Data

Data yang diperoleh dari penelitian ini merupakan data kualitatif hasil wawancara dan catatan lapangan. Setelah data-data ini diperoleh peneliti, maka akan dilakukan analisis data menggunakan pendekatanfenomenologi, di mana peneliti mengdeskripsikan arti data yang telah terkumpul dengan memberikan perhatian dan merekam sebanyak mungkin sdpek situasi yang diteliti pada saat itu. Adapun tahapan-tahapan analisis data dalam penelitian ini sesuai dengan analisis data kualitatif model Miles dan Huberman (1992) dalam Sugiyono (2010:91), yaitu sebagai berikut:

1) Pengumpulan data, yaitu peneliti mencatat semua data secara objektif dan apa adanya sesuai dengan hasil observasi dan wawancara di lapangan.

2) Reduksi data, yaitu memilih hal-hal pokok yang sesuai dengan fokus penelitian. Reduksi data merupakan sebuah bentuk analisis yang menggolongkan, mengarahkan yang tidak perlu dan mengorganisir data-data yang telah direduksi memberikan gambaran yang lebih tajam tentang hasil pengamatan dan

mempermudah peneliti untuk mencarinya sewaktu-waktu diperlukan.

3) Penyajian data, yaitu sekumpulan informasi yang tersusun yang memungkinkan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Penyajian data merupakan analisis dalam bentuk matrik, network atau grafis sehingga dapat dikuasai.

(17)

pola, model, tema, hubungan, persamaan dan sebagainya. Jadi, dari data tersebut berusaha diambil kesimpulan. Verifikasi dapat dilakukan dengan keputusan yang

(18)

DAFTAR PUSTAKA

Antonio, Muhammad Syafi’i, 2001. Bank Syari’ah : Dari Teori ke Praktek. Jakarta:Gema Insani.

Baiq, Irfan Sauqi, 2006(a). Bank Syari’ah dan Pengembangan Sektor Riil. Pesantren virtual.com.

Depkop,2011, Kriteria Usaha Mikro, Kecil Dan Menengah (UMKM) .infoukm.wordpress.com/

Gamal, Merza, 2007. Mengenal Prinsip Akuntansi Syari’ah. http:// www. kabarindonesia.com/

Harahap, Sofyan Safri, 1997. Akuntansi Islam. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Indrianto, Nur, dan Supomo, Bambang. 1999. Metodologi Penelitian Bisnis untuk Akuntansi dan Manajemen. Yogyakarta: BPFE Yogyakarta.

Karim, Adiwarman, 2004(a). Bank Islam: Analisis Fiqih dan Keuangan. Edisi Kedua, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Manzilati, Asfi, 2004. Pembiayaan Murabaha Sebagai Prasyarat Pembiayaan Mudharabah Dalam Kerangka the Generalized Others. Prosiding Simposium Nasional Sistem Ekonomi Islam II, :107-115. Malang.

Muhammad, 2002. Bank Syari’ah: Analisis Kekuatan, Kelemahan, Peluang dan Ancaman. Edisi Kedua, Yogyakarta: Ekonesia Fakultas Ekonomi UII.

Roziq, Ahmad.2011. Etika Bisnis Islami Dalam Pembiayaan Mudharabah Pada Bank Syariah Di Jawa Timur. Jurnal Akuntansi Universitas Jember.

Rizki, Mohammad, 2003. Menghapus Fobia Terhadap Pembiayaan Bagi-Hasil. PSTTI UI Tazkia. http:// www.tazkia.co.id.

Shidiq, M. Sofyan Kabu, 2007. Pro dan Kontra Sistem Keuangan Bagi-Hasil. MSI-UII Net.

______________, 2006a. Perspektif, Metodologi dan Teori Akuntansi Syari’ah. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.

Referensi

Dokumen terkait

Proses objektifikasi yang dilakukan oleh Soekarno adalah menampilkan sosok perempuan dalam bentuk stereotipe seperti kaum lemah, kaum bodoh, kaum singkat pikiran,

menggunakan 2 pola strategi pemasaran yaitu pola intersifikasi dan pola eksternsifikasi. Persamaan dalam penelitian ini sama-sama membahas strategi pemasaran. Perbedaan

Data hasil observasi ini didapatkan melalui lembar observasi hasil belajar siswa, dan digunakan untuk melihat proses dan perkembangan hasil belajar siswa pada saat tes akhir

[r]

Pada pelaksanaan siklus I nilai-nilai yang diperoleh peserta didik kelas XI TPM B SMK Negeri 2 Surakarta pada pembelajaran mata diklat CNC Dasar TU-3A

Danise dan Robert (2009:107), mengemukakan bahwa strategi investasi yang berdasarkan kepemilikan modal dari dalam perusahaan (modal sendiri) memiliki hubungan

Berikan contoh ilmu Fardhu Ain dan Ilmu Fardhu Kifayah yang terdapat di dalam peta di atasi. (2

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem dan prosedur pelayanan Izin Usaha Industri (IUI) di Kabupaten Karanganyar hampir memenuhi kriteria- kriteria yang