1
PELAKSANAAN HUKUM WARIS
DI KALANGAN UMAT ISLAM INDONESIA
(Studi tentang Respon Hakim Agama Dan Ulama terhadap Fiqih
Waris Dalam Kompilasi Hukum Islam)
Ah. Azharuddin Lathif, M.Ag, MH
PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN
KEHIDUPAN KEAGAMAAN BADAN LITBANG DAN
DIKLAT
DEPARTEMEN AGAMA RI
2 A. LATAR BELAKANG MASALAH
Kompilasi Hukum Islam (KHI) merupakan sekumpulan materi hukum Islam yang ditulis pasal demi pasal, berjumlah 229 pasal, terdiri dari tiga materi hukum, yaitu hukum perkawinan 170 pasal, hukum kewarisan termasuk wasiat dan hibah 44 pasal, dan hukum perwakafan 14 pasal, dan ditambah satu pasal lagi ketentuan penutup.
Sebelum kelahiran KHI, para hakim Pengadilan Agama tidak memiliki dasar pijak yang seragam dalam pengambilan keputusan sehingga untuk kasus yang sama sangat mungkin memiliki disparitas yang tajam. Ini karena belum adanya sumber hukum tertulis yang standar yang bisa dijadikan dasar pijak bersama. Yang ada saat itu adalah sumber kitab kuning (kitab fiqh klasik) yang tersebar diberbagai kitab.Akhirnya untuk meminimalisir disparitas putusan tersebut dikeluarkan Surat Edaran Biro Peradilan Agama No. 8/1/735 tanggal 18 Pebruari 1958 sebagai pelaksanaan PP. No. 45 Tahun 1957 tentang pembentukan Pengadilan Agama/Mahkamah Syar’iyah di Jawa dan Madura. Isi surat edaran ini adalah anjuran kepada para hakim Pengadilan Agama untuk menggunakan 13 kitab kuning sebagai pedoman dalam pengambilan keputusan.1
Setelah adanya pembatasan kitab kuning yang bisa dijadikan rujukan hakim, maka kesimpangsiuran atau disparitas yang tinggi dalam putusan bisa relatif teredam, tetapi bukan berarti telah tercapai keseragaman atau hilangnya disparitas. Untuk mengatasinya munculah gagasan dari Bustanul Arifin tentang urgensitas penyusunan sebuah buku yang menghimpun hukum terapan yang berlaku di lingkungan Peradilan Agama yang dapat dijadikan sebagai pedoman bagi para hakim dalam memutuskan perkara sehingga tercapai kesatuan dan kepastian hukum.2
Gagasan penyusunan kompilasi hukum Islam sebagai hukum materiil di Peradilan Agama telah berlangsung sejak lama. Namun cita-cita tersebut mulai mendapatkan respon serius sejak keluarnya SKB Ketua Mahkamah Agung dan Menteri Agama No. 07/KMA/1985 dan Nomor 25 Tahun 1985 tanggal 25 Maret 1985 yang berisi tentang Penunjukan Pelaksanaan Proyek Pembangunan Hukum Islam melalui yurisprudensi. Atas dasar SKB tersebut dilakukan penghimpunan bahan kompilasi
1Nama ketiga belas (13) kitab kuning tersebut adalah 1). Al-Bajuri, 2). Fathul Muin, 3).
Syarqawi ‘alat Tahrir, 4). Al-Mahalli, 5). Fathul wahab dengan Syarahnya, 6). Tuhfah. 7). Targhibul
Musytaghfirin, 8). Qawanin Syar’iyah Lis Sayyid Ibn Yahya , 9). Qawanin Syar’iyah Lis Sayyid Sadaqah
Dachlan, 10). Syamsuri fil Faraid, 11). Mughyatul Musytarsyidin, 12). Al-Fiqh ala Madzahib al-Arba’ah, dan 13). Mughnil Muhtaj
3
melalui tiga jalur: pertama, pengumpulan data melalui penelaahan dan pengkajian kitab-kitab standar hukum Islam yang dilakukan oleh tujuh IAIN, yaitu IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, IAIN, Sunan Ampel Surabaya, IAIN Ar-Raniry Banda Aceh, IAIN Antasari Banjarmasin, IAIN Alauddin Ujung Pandang, IAIN Imam Bonjol Padang, kedua, pengumpulan data melalui wawancara dengan para ulama yang pelaksanaannya dilakukan oleh 10 Pengadilan Tinggi Agama,
ketiga, Pengumpulan data melalui perbandingan dengan beberapa Negara Islam seperti Maroko, Turki, dan Mesir, dan diakhiri dengan lokakarya tingkat nasional pada tanggal 2-5 Februari 1988 yang diikuti oleh para ulama, ahli hukum, kaum cendekiawan, dan para tokoh masyarakat. 3
Setelah proses pengumpulan data kemudian data diolah oleh tim dan menghasilkan konsep/draf KHI. Selanjutnya, diadakan lokakarya nasional pada tanggal 2 – 6 Februari 1988 yang dihadiri para ulama dan cendekiawan muslim untuk membahas draf KHI. Hasil lokakarya kemudian disampaikan menteri Agama kepada Presiden untuk memperoleh bentuk yuridis.Pada awalnya KHI akan diperjuangkan menjadi Undang-Undang Hukum materiil di Peradilan Agama. Akan tetapi karena kondisi politik yang belum memungkinkan akhirnya KHI disahkan dengan inpres Nomor 1 Tahun 1991 pada tanggal 10 Juni 1991. Melalui Inpres ini presiden mengintruksikan kepada menteri Agama untuk menyebarluaskan KHI tersebut untuk dipergunakan oleh instansi pemerintahm dan masyarakat luas yang membutuhkan. Kemudian menteri Agama melalui keputusan Nomor 154 tahun 1991 menetapkan tentang pelaksanaan inpres Nomor 1 Tahun 1991 dan menunjuk Dirjen Kelembagaan Agama Islam dan Dirjen Bimas Islam dan Urusan Haji untuk mengkordinasikan pelaksanaan keputusan Menteri ini dalam bidang tugasnya masing-masing. Sejak saat itu, sosialisasi intens dilakukan kedua lembaga tersebut. Di samping itu Peradilan Agama pun ikut mensosialisasikan dan bahkan kemudian menjadikan KHI sebagai sumber rujukan dalam menangani perkara-perkara yang diterimanya hingga saat ini.
Secara substansial proses perumusan Kompilasi Hukum Islam (KHI) di atas dilakukan mengacu pada sumber hukum Islam, yakni al-Qur’an dan Sunnah Rasul, dan
4
secara herarkial mengacu pada peraturan perundang-undangan yang berlaku4. Di samping itu, para perumus KHI juga memperhatikan perkembangan yang berlaku secara global serta memperhatikan tatanan hukum Barat tertulis (terutama hukum Eropa Kontinental) dan tatanan hukum adat, yang memiliki titik temu dengan tatanan hukum Islam. Berkenaan dengan hal itu, dalam beberapa hal, maka terjadi adaptasi dan modifikasi tatanan hukum lainnya itu ke dalam KHI. Dengan demikian, KHI merupakan suatu perwujudan hukum Islam yang khas di Indonesia. Atau dengan perkataan lain, KHI merupakan wujud hukum Islam yang bercorak ke-Indonesiaan.
Namun demikian, keberadaan KHI dalam sistem hukum nasional relatif berumur muda, terutama di bidang hukum kewarisan (Fiqh Mawaris). Ia akan dihadapkan dengan berbagai masalah (di samping harapan-harapan), baik di kalangan pemimpin masyarakat, maupun para pengikut mereka. Adapun masalah-masalah yang mungkin muncul adalah sebagai berkut:
Pertama, sosialisasi fiqh waris dalam KHI kepada warga masyarakat, khususnya di kalangan umat Islam. Dalam hal ini, para pejabat pemerintahan yang terlibat dalam penyusunan KHI dituntut untuk memainkan perananya sebagai penyuluh dan pengambil keputusan yang konsisten. Demikian pula para ulama dan umara’ dituntut untuk mensosialisasikannya dalam lingkungan masing-masing. Sosialisasi akan mudah dilakukan manakala mereka memiliki persepsi yang sama tentang substansi urgensi dan misi KHI.
Kedua, persepsi di kalangan pemimpin masyarakat terhadap KHI, khususnya di kalangan mereka yang tidak terlibat dalam proses penyusunannya, sementara mereka memiliki keterikatan yang ketat terhadap ajaran fuqaha dan memiliki pengaruh yang kuat di kalangan para pengikut mereka.
Ketiga, kemungkinan terjadi perbenturan antara KHI dengan struktur dan pola budaya masyarakat, khususnya di bidang kewarisan. KHI disusun dan diputuskan oleh elit-elit masyarakat di pusat pemerintahan dan pendidikan, sementara sebagian besar warga masyarakat bermukim di pedesaan yang sangat terikat dengan kondisi lokal. Masih besar kemungkinan, masyarakat menerima hukum kewarisan Islam secara
4
5
simbolik, sedangkan subsistemnya mengacu kepada kaidah lokal yang berlaku secara turun temurun5.
Mengacu kepada berbagai persoalan dan pemikiran di atas, Puslitbang Kehidupan Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama merasa perlu untuk melakukan kajian secara cermat tentang pokok persoalan hukum waris di kalangan umat Islam di Indonesia (Studi tentang Respon Ulama dan Hakim Agama terhadap Fiqh Waris dalam kompilasi Hukum Islam). Masalah ini penting untuk dikaji karena diharapkan akan menjadi bahan untuk dipahami dalam upaya mengaktualisasikan fiqh waris dalam Kompilasi Hukum Islam, pada tatanan hukum yang selalu mengalami perubahan. Bahkan, ia menjadi lapangan yang membutuhkan pemecahan dan menjadi ajang untuk melakukan amal shalih.
B. PERUMUSAN MASALAH
Dari latar belakang masalah di atas dirumuskan beberapa permasalahan sebagai berikut;
1. Adakah perbedaan mendasar antara kewarisan dalam fiqh dan Kompilasi Hukum Islam?
2. Bagaimana sikap dan pandangan ulama dan para hakim Pengadilan Agama merespon perbedaan tersebut?
3. Adakah perbedaan praktik penyelesaian kewarisan Islam antara di masyarakat dan di Pengadilan Agama?
4. Apa solusi yang ditawarkan dalam penyelesaikan perbedaan praktik kewarisan tersebut?
C. TUJUAN PENELITIAN
1. Mengetahui perbedaan mendasar antara kewarisan dalam fiqh dan Kompilasi Hukum Islam
2. Mengungkap sikap dan pandangan ulama dan para hakim Pengadilan Agama merespon perbedaan tersebut
3. Mengetahui perbedaan praktik penyelesaian kewarisan Islam antara di masyarakat dan di Pengadilan Agama
6
4. Mencari solusi dari perbedaan praktik penyelesaian kewarisan di masyarakat dan di Pengadilan Agama
D. KEGUNAAN PENELITIAN
Hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna sebagai 1. Bahan penyempurnaan Kompilasi Hukum Islam oleh pemerintah
2. Bahan pertimbangan MUI dalam memantapkan keberadaan KHI sebagai acuan pemantapan hukum waris Islam
3. Bahan untuk mengkritisi beberapa yurisprudensi tentang pembagian harta waris di lingkungan Peradilan Agama.
E. METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan jenis/tipe penelitian yuridis empiris/yuridis sosiologis yakni penelitian yang difokuskan untuk mengkaji penerapan kaidah-kaidah atau norma-norma dalam hukum positif. Sedangkan pendekatan penelitian yang digunakan adalah
case approach (pendekatan kasus) yang bertujuan untuk mempelajari penerapan norma-norma atau kaidah hukum yang dilakukan dalam praktek hukum di masyarakat.6 Dalam penelitian ini fokus penelitian adalah tentang respon ulama dan hakim agama terhadap konsep dan pelaksanaan Kompilasi Hukum Islam (KHI) di Indonesia.
Data yang akan dihimpun dalam penelitian ini meliputi respon ulama dan hakim agama dalam persoalan: 1). Pengetahuan mereka tentang Kompilasi Hukum Islam 2). Pendapat mereka tentang isi KHI dalam kerangka Fiqh Islam, 3). Respon dan tanggapan mereka dalam persoalan-persoalan konseptual maupun praktik KHI di masyarakat. Persoalan-persoalan yang dimintakkan respon kepada mereka dibatasi pada persoalan;
Harta Bersama, Ahli Waris Pengganti, Anak Perempuan Menghijab Saudara Pewaris, Wasiat Wajibah Untuk Anak Angkat, Waris Beda Agama, Halangan Menerima Warisan Karena Perencanaan Pembunuhan dan Fitnah, 1/3 Bagian Untuk Ayah Bila Pewaris Tidak Punya Anak, Porsi Perbandingan Bagian Anak Laki-Laki dan Perempuan, Wasiat Pembagian Warisan Sebelum Pewaris Meninggal, Praktik Hibah Dihitung Sebagai Bagian Waris, Praktik Penyelesaian Warisan Yang Unik di beberapa wilayah penelitian, Pembagian Warisan Berupa tanah <2 H, dan Kewarisan Anak Hasil Perzinaan.
7
Sumber data dalam pengkajian ini terdiri atas studi kepustakaan dan dokumen, serta penelitian lapangan. Studi kepustakaan dengan melakukan kajian terhadap buku, laporan penelitian, majalah surat kabar dan dokumen lain yang relevan, terutama dari Peradilan Agama, Perguruan Tinggi Agama Islam terutama Fakultas Hukum dan Syariah, Kantor Departemen Agama, dan Pondok Pesantren yang ada di daerah penelitian, dokumen dari ormas keagamaan seperti lajnah Bakhtsul Masail NU, dan Majelis Tarjih Muhammadiyah dan Persis.
Tehnik pengumpulan data dalam penelitian ini terdiri atas; 1). Studi kepustakaan dan dokumen pada sumber sebagaimana tersebut di atas; dan 2). Wawancara dengan informan tersebut diatas dengan menggunakan Pedoman Pengumpulan Data
Data yang terkumpul diolah dengan melakukan seleksi dan klasifikasi data. Selanjutnya di analisis dengan melakukan komparasi dan interpretasi.
F. RESPON ULAMA DAN HAKIM AGAMA TERHADAP KHI 1. Pengetahuan Tentang KHI
Dari enam lokasi penelitian, ditemukan bahwa tingkat pengetahuan ulama atau tokoh masyarakat terhadap Kompilasi Hukum Islam (KHI) masih sangat rendah. Dari responden yang memberikan komentar dapat dikategorikan menjadi tiga kelompok kategori. Pertama, ulama yang belum mengerti KHI, kedua, ulama yang mengetahui KHI tapi tidak mengetahui secara mendalam isi KHI, ketiga, ulama yang mengetahui dan mendalami isi KHI. Sedangkan hampir semua hakim dan “ulama
kampus”/akademisi yang menjadi responden mengetahui dan mendalami KHI kecuali bagi mereka yang jarang menangani persoalan-persoalan kewarisan.
8
pernah mengenyam pendidikan tinggi Agama, khususnya di Fakultas Syariah atau di fakultas hukum dan banyak menyelesaikan kasus-kasus kewarisan di masyarakat.
Rendahnya tingkat pengetahuan ulama terhadap KHI disebabkan oleh beberapa factor, di antaranya, pertama, rendahnya tingkat sosialisasi yang dilakukan oleh pihak pemerintah, terutama sejak Pengadilan Agama berada dibawah administrasi MA. Para ulama mengakui bahwa pada awal lahirnya KHI pernah beberapa kali mengikuti sosialisasi KHI dalam bentuk seminar, workshop dan dialog, walaupun hanya melibatkan sebagian kecil tokoh masyarakat terutama meraka yang terlibat aktif dalam ormas keagamaan. Sementara sejak secara administratif pengadilan agama dibawah Mahkamah Agung nyaris belum pernah dilakukan sosialisasi, hal ini juga diakui oleh beberapa responden dari kalangan hakim Pengadilan Agama dan Hakim pengadilan Tinggi Agama. Tidak adanya sosialisasi ini menurut pengakuan para hakim di Padang dan Gorontalo terutama karena saat ini tidak ada pos anggaran khusus untuk sosialisasi peraturan perundang-undangan, termasuk KHI. Kedua, masih teguhnya masyarakat berpegang teguh pada adat atau tradisi setempat yang sebagian besarnya telah dipengaruhi kuat oleh unsure ajaran Islam. Hal ini paling menyolok terjadi di wilayah propinsi Sumatera barat yang sangat kuat berpegang teguh pada adat minangkabau. Sementara di wilayah lain, seperti di Kalimantan Selatan, Gorontalo, Sulawesi Selatan, dan Yogyakarta tradisi perdamaian atau musyawarah (penyelesaian secara kekeluargaan)7 jangan dominan dalam penyelesaian persoalan kewarisan sehingga mereka tidak banyak merujuk kepada KHI8, bahkan kalaupun mereka merujuk ke sumber hukum waris Islam, fiqh mawaris (faraid) hanya bersifat formalitas yang kemudian berujung pada perdamaian. Temuan ini, menguatkan penelitian Cik Hasan
Basri dkk di kabupaten Sumedang Jawa Barat yang menyimpulkan bahwa “umumnya masyarakat menerima hukum waris islam secara simbolik sedangkan subtansinya mengacu pada kaidah local yang berlaku secara turun temurun.9Ketiga, masih kuatnya ulama atau tokoh agama perpegang teguh pada kitab-kitab fiqh klasik yang mereka jadikan rujukan secara turun menurun. Umumnya ini terjadi pada masyarakat santri atau
7Di Kalimantan Selatan di kenal dengan adat badamai, di
8Sebagian anggota masyarakat hampir diseluruh lokasi penelitian, menurut responden ada juga yang meminta penetapan pembagian waris ke Pengadilan Agama tetapi setelah mengetahui bagian masing-masing mereka melakukan perdamaian.
9
lingkungan pesantren tradisional, seperti di lingkungan pesantren Darussalam Martapura Kalimantan Selatan. Sementara, sebagian masyarakat kota yang sangat kuat perpegang teguh pada prinsip pemikiran hukum islam kaum puritan juga relative kecil mau menggunakan KHI sebagai rujukan dalam menyelesaikan persoalan kewarisan.
Keempat, faktor kecilnya tingkat representasi ulama dalam proses pembentukan KHI juga sangat perpengaruh terhadap rendahnya pengetahuan ulama terhadap KHI, terutama bagi ulama-ulama tradisonal yang tidak banyak punya akses pada ormas dan birokrasi. Oleh karena itu, banyak di antara responden (pesantren di Medan dan Kalimantan Selatan) yang mengharap agar dalam proses revisi KHI untuk dijadikan Undang-Undang agar sebanyak mungkin melibatkan ulama, tidak hanya terbatas ulama
“elit” (ulama yang punya akses kepada kekuasaan) tetapi ulama “alit” (ulama yang
terpinggirkan dari pusat kekuasaan) juga perlu diikutsertakan di dalamnya.
2. Perbedaan KHI Vs Fiqh Islam
Responden yang mengetahui KHI memberikan tanggapan yang berbeda-beda terhadap pertanyaan tentang perbedaan yang ada dalam Kompilasi Hukum Islam dan Fiqh Islam/faraid. Pendapat mereka dapat dikategorikan menjadi 3 kelompok. Kelompok pertama, menilai tidak semua isi KHI yang terkait dengan kewarisan sesuai dengan fiqh Islam, seperti konsep harta bersama, ahli waris pengganti, dan wasiat wajibah untuk anak dan bapak angkat. Dalam hal ini, mereka hanya bisa menerima pasal-pasal KHI yang ada rujukannya dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Sementara kelompok kedua, menyatakan bahwa bahwa KHI memang sebagian besar bersumber dari kitab-kitab fiqh Islam, hanya saja kelompok ini menolak ketentuan-ketentuan dalam KHI yang tidak punya rujukan yang jelas dalam kitab fiqh klasik, seperti konsep ahli waris pengganti, wasiat wajibah untuk anak angkat dan bapak angkat, kewarisan kolektif tanah kurang 2 Hektar, percobaan pembunuhan dan fitnah menjadi penghalang menerima warisan.
10
diambil berdasarkan ijtihad kolektif ulama Indonesia dengan memperhatikan perbedaan adat-istiadat masyarakat Indonesia dan bermuara kepada pertimbangan maslahah. Di samping itu, ketentuan-ketentuan baru tersebut juga ada sandaran dalilnya walaupun mungkin sifatnya interpretatif yang sangat memungkinkan mengundang perdebatan. Misalnya dalam persoalan harta bersama, konsep ini didasarkan pada qiyas dengan konsep syirkah dalam kajian fiqh muamalat, di samping juga didasarkan pada ayat 32 surat an-Nisa.
“….bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi
Para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui
segala sesuatu.”
Sedangkan, umumnya para hakim agama menyatakan bahwa KHI merupakan produk hukum yang sangat sesuai dengan kultur dan budaya di Indonesia, bahkan sering disebut-sebut sebagai produk fiqh yang genuine Indonesia. Menurut mereka ketentuan-ketentuan yang ada di KHI memang ada yang perlu disempurnakan misalnya dalam persoalan kreteria ahli waris pengganti, kreteria anak angkat, dan ketentuan harta gono gini yang dibagi 50% untuk masing-masing pasangan. Akan tetapi ketentuan yang ada secara umum sudak selaras dengan maqasid syariah. Oleh karena itu, kalaupun ada rencana perbaikan hendaknya jangan sampai terjadi langkah mundur (Set back), justru yang mereka harapkan harus lebih progresif. Persoalan ada kelompok yang menolak, menurut mereka hal itu biasa dalam fiqh. Namun demikian pihak-pihak yang menolak
seharusnya memperhatikan kaidah fiqh yang menyatakan “hukmul hakim yarfaul khilaf, yakni keputusan hakim atau penguasa menghilangkan perbedaan. Artinya Fiqh yang diambil menjadi ketetapan hukum oleh pemerintah dalam hal ini KHI itulah yang harus dijadikan pegangan. Walaupun demikian, untuk penyelesaian sengketa waris di luar pengadilan tidak ada persoalan tidak mengikuti KHI.
11
KHI.Apalagi dalam penyusunan KHI melibatnya banyak unsur dari masyarakat; unsure akademisi, tokoh masyarakat, para praktisi hukum dan lain-lain.Sementara itu, bagi ulama yang lebih banyak merujuk pada sumber hukum Islam/Faraid menyatakan bahwa ketentuan waris yang ada dalam Al-Qur’an dan Sunnah yang adil karena berasal dari yang Maha Adil.
Perbedaan pendapat persoalan kewarisan tersebut, telah terjadi sejak lama, bahkan ketika dalam proses pembentukan KHI. Namun demikian, seiring dengan berlakunya KHI yang saat ini (2009) telah berusia kurang lebih 18 tahun lambat laun perbedaan tersebut mulai mencair apalagi saat inii sudah mulai banyak tumbuh tokoh-tokoh masyarakat /ulama yang berlatar belakang pendidikan kampus yang mereka relative paham KHI minimal mampu menghargai perbedaan pendapat yang berkembang. Di samping itu, berdasarkan informasi para hakim PTA Kalimantan Selatan10 bahwa selama ini putusan Pengadilan Agama yang berkaitan dengan masalah-masalah yang dinilai menyimpang dari fiqh klasik, seperti harta gono gini, waris pengganti, dan wasiat wajibah, tidak pernah mendapatkan protes apalagi unjuk rasa atau keberatan dari tokoh masyarakat atau ulama.Ini berarti masyarakat sudah mulai menerima KHI.
3. Respon Terhadap Beberapa Materi dan Praktik KHI
a. Harta Bersama
Konsep harta bersama telah dikenal oleh masyarakat yang menjadi obyek penelitian, di Kalimantan Selatan dinamakan harta papantangan,11 masyarakat Sumatera Barat mengenalnya dengan sebutan harta suarang, di Yogyakarta disebut harta gono gini, di Bugis Sulawesi Selatan disebut cakkara, sedangkan di Medan dan Gorontalo meskipun tidak ada istilah khusus tetapi di kedua wilayah ini telah
10Hasil diskusi dengan Hakim Pengadilan Tinggi Agama (PTA) Banjarmasin tanggal 23 Juni 2009, bertempat di ruang Pan/Sek PTA, Peserta Diskusi adalah; Drs. H. M. Tarsi Hawi, SH, Drs. H. Fahruddin Hamid, SH, Drs. H. M . Thahir Aidy, SH, Drs. Nashrullah Syarqawi, SH, Drs. H. Masruyani Syamsuri, SH, MH, Drs. H. Ahmad Sayuti. S.H., M.H., Drs. H. Syarkawi, SH, MHI, Drs. H. Abdul Kadir Ahmadie, SH, Drs. E. Saefuddin, M.H, Drs. H. M. Yusuf Was Syarief, dan Drs. H. S. Bakir, SH.
12
mengenal praktik pembagian harta bersama pada pada saat cerai hidup atau cerai mati, khususnya dalam praktik di Pengadilan Agama.
Ketentuan tentang harta bersama terdapat dalam KHI pasal 96 -97 selengkapnya adalah sebagai berikut:
Pasal 96
1. Apabila terjadi cerai mati, maka separoh harta bersama menjadi hak pasangan yang hidup dari pasangan yang mati mendahuluya”
2. Pembangian harta bersama bagi seorang suami atau isteri yang isteri atau suaminya hutang harus ditangguhkan sampai adanya kepastian matinya yang hakiki atau matinya secara hukum atas dasar putusan Pengadilan Agama.
Pasal 97
Janda atau duda cerai masing-masing berhak seperdua dari harta bersama sepanjang tidak ditentukan lain dalam perjanjian perkawinan.
Meskipun harta bersama ini telah diterima oleh masyarakat akan tetapi dalam pelaksanaannya terdapat perbedaan. Perbedaan tersebut tidak hanya antar wilayah bahkan dalam wilayah atau daerah yang sama.
Pada umumnya dalam praktik di pengadilan dan masyarakat para hakim dan ulama membagi harta bersama dengan porsi 50% : 50 %. Khusus di wilayah kalimantan Selatan dan Padang, sebagian hakim dan akademisi ada yang membagi harta bersama berdasarkan kondisi obyektif pasangan suami istri, yaitu tingkat kontribusi masing-masing dalam berumah tangga. Di Padang misalnya suami bisa hanya mendapat 1/3 bagian atau ¼ bagian dari harta bersama itu, dengan alasan yang khas diwarnai oleh budaya Minangkabau, bahwa pada umumnya anak-anak tinggal bersama ibu. Oleh karena itu pihak isteri menuntut lebih banyak dengan alasan meminta tambahan biaya untuk anak-anak. Bahkan ada suami yang tidak mendapat sama sekali harta bersama bila harta itu dalam bentuk bangunan yang letaknya di tanah pusaka isterinya. Sedangkan, di Kalimantan atas dasar pertimbangan konsep harta bersama di qiyaskan
dengan syirkah abdan maka “pembagian keuntungan” harus didasarkan pada kontribusi
13
%/separuh, tetapi diserahkan pada hakim berdasarkan kontribusi/saham riil masing-masing pasangan.
Sementara itu, pada sebagian masyarakat Gorontalo tidak memberikan bagian harta bersama pada pasangan yang masih hidup tetapi harta peninggalan/tirkah langsung dibagi secara merata atas dasar musyawarah/kekeluargaan setelah dikeluarkan untuk biaya tajhiz janazah, dan membayar utang piutang serta kewajiban lainnya.
b. Ahli Waris Pengganti
Ahli waris pengganti adalah ahli waris yang menggantikan posisi orang tuanya yang terlebih dahulu meninggal dari pada pewaris.
Ketentuan tentang ahli waris pengganti terdapat pada pasal 185 ayat (1) Buku II KHI yaitu :
1) Ahli waris yang meninggal lebih dahulu daripada si pewaris, maka kedudukannya dapat digantikan oleh anaknya, kecuali mereka yang tersebut dalam pasal 173. 2) Bagian bagi ahli waris pengganti tidak boleh melebihi dari bagian ahli waris yang
sederajat dengan yang diganti.
Berdasarkan pasal tersebut maka cucu berhak memperoleh bagian warisan yang ditinggalkan kakek/neneknya apabila orang tua cucu tersebut lebih dahulu atau bersama-sama meninggal dunia dengan kakek/neneknya, dengan perolehan sebesar bagian yang didapatkan orang tuanya jika masih hidup.
Menurut Prof. Drs. H.M. Asywadie Syukur, Lc, ketentuan tentang ahli waris pengganti tersebut sudah tepat menggunakan sistem penggantian, bukan sistem wasiat wajibah seperti yang diberlakukan di Mesir dan beberapa negara timur tengah lainnya, Ini karena wasiat hanya untuk orang-orang yang tidak tergolong ahli waris, sedangkan cucu merupakan ahli waris. Hadits Rasulullah menyatakan (la washiyyata liwaritsin,
tidak ada wasiat untuk ahli waris”. Di samping itu, lanjutnya, ijtihad tentang ahli waris
pengganti tersebut didasarkan pada hasil pemikiran Hazairin dalam menafsirkan ayat QS. An-Nisa ayat 33; “Bagi tiap harta peninggalan dari harta yang ditinggalkan ibu bapak dan karib kerabat, kami jadikan pewaris-pewarisnya (mawali).
14
menggunakan wasiat wajibah menurut mereka lebih tepat seperti yang dilakukan oleh Mesir yang mendasarkan pada pendapat Ibnu Hazm/Dhahiriyah yang menyatakan bahwa untuk kerabat dekat yang tidak mendapatkan warisan, seorang wajib memberi wasiat.
Perbedaan di atas, pada gilirannya akan membawa konsekuensi terhadap batas maksimal harta warisan yang bisa diperoleh cucu. Bila menggunakan instrumen wasiat maka yang didapat cucu tidak boleh lebih dari 1/3 harta. Sedangkan melalui sistem waris pengganti cucu bisa mendapatkan lebih dari 1/3 harta. Hanya saja KHI membatasi bahwa bagian bagi ahli waris pengganti tidak boleh melebihi dari bagian ahli waris yang sederajat dengan yang diganti.
Terlepas dari perbedaan pandangan ulama terhadap konsep waris pengganti tetapi dalam kenyataan di Pengadilan Agama pada semua wilayah obyek penelitian, praktik waris pengganti telah berjalan secara efektif.12 Perbedaan hanya pada batasan siapa saja yang bisa menjadi ahli waris pengganti, apakah terbatas pada cucu, atau juga anak dari saudara (kemenakan).
Oleh karena itu, Drs. H. Ma’sum, SH, MH, Hakim PA Kelas IA Banjarmasin, Dra. Norwahidah, M.Ag, dosen ilmu waris IAIN Antasari, dan para Hakim PTA Banjarmasin menyampaikan usulan terkait dengan rencana peningkatan status KHI menjadi Undang-Undang Terapan, yaitu:
1) Pada Ketentuan Umum Buku II KHI, perlu ditambahkan pengertian waris penganti yang hanya dibatasi pada cucu dari anak laki-laki atau anak perempuan, tidak diperluas hingga keponakan (anak dari saudara pewaris).
2) Pada Pasal 185 tentang waris pengganti agar ditambahkan point tentang syarat terjadinya waris pengganti, yaitu waris pengganti baru terjadi apabila tanpa sistem waris pengganti. cucu tidak mendapatkan warisan karena adanya ahli waris lain yang menghijabnya.
Sementara itu, pada praktik pembagian warisan di masyarakat ada masyarakat yang telah menerapkan konsep waris pengganti dengan menggunakan istilah dan cara lain. Di Gorontalo, misalnya, dikenal dengan mala’a milate (anak mayit), yaitu cucu yang orang tuanya terlebih dahulu meninggal. Cucu ini mendapatkan bagian dari harta
15
peninggalan/warisan. Hal yang sama terjadi di Banjarmasin, adat banjar memang tidak mengenal istilah ahli waris pengganti, akan tetapi dalam proses pembagian harta peninggalan, cucu yang terhalang karena bapak/ibunya terlebih dahulu meninggal tetap saja diberikan dalam bentuk hibah atau wasiat.
Sedangkan dalam praktik di PA atau PTA, sistem ahli waris pengganti/ penggantian tempat sudah berlaku, dan selama ini tidak pernah ada keberatan dari para
ulama’, kecuali pada saat awal sosialisasi KHI. Itu pun terjadi karena belum adanya pemahaman yang cukup dikalangan ulama. Kalau ada yang mengusulkan agar menggunakan sistem wasiat wajibah seperti di Mesir bagi para hakim PA/PTA tidak jadi persoalan. Hanya yang mereka inginkan agar siapa saja yang berhak menjadi ahli waris pengganti perlu diperjelas dalam undang-undang.
Pengaturan tentang “waris pengganti” atau cucu yang terhalang oleh saudara orang tuanya yang masih hidup inipun telah diatur di negara-negara Islam lainnya. Seperti Mesir yang memberlakukan wasiat wajibah, yang diikuti oleh Sudan, Suriah, Maroko, dan Tunisia dengan beberapa variasi.
Kalau negara-negara Islam, seperti Mesir, Suriah, Maroko dan Tunisia memasukkan cucu atau cucu-cucu dalam kasus tersebut dengan wasiat wajibah dengan beberapa variasi. Sedangkan Pakistan dan Indonesia memakai konsep ahli waris pengganti.
16
dalam ayat (2). Adanya ayat (2) ini sudah tepat sekali sehingga ahli waris yang sesungguhnya tidak akan terlalu dirugikan.
c. Anak Perempuan Menghijab Saudara Pewaris
Persoalan anak perempuan pewaris menghijab saudara pewaris tidak diatur secara ekplisit dalam KHI. Akan tetapi ketentuan ini didapatkan dari dua yurisprudensi berupa keputusan Mahkamah Agung RI, pertama, Keputusan MA No. 84/K/AG/1995/MA yang membatalkan keputusan PA Pekalongan & PTA Semarang.
Kedua, Keputusan MA: No. 86/K/AG/1994/MA yang membatalkan Keputusan PA dan PTA Mataram. Kedua putusan MA tersebut menyatakan bahwa anak perempuan bisa menghijab saudara-saudara pewaris/paman dan bibinya.
Menurut Prof. Drs. H.M. Asywadie Syukur, Lc dan Norwahidah, dosen IAIN Antasari, ketentuan tentang anak perempuan bisa menghijab saudara pewaris/paman dan bibinya adalah didasarkan pada pendapat Syiah Imamiyah. Sementara Jumhur ulama Ahli Sunnah mengatakan yang bisa menghijab saudara adalah anak laki-laki. Perbedaan
pendapat tersebut terjadi karena perbedaan dalam menafsirkan kata “walad” pada surat
An-Nisa ayat 76. Bagi Syiah Imamiyah “walad” dalam ayat tersebut berararti anak laki -laki dan perempuan. Sementara jumhur ahli sunnah mengartikan walad hanya untuk anak laki-laki.
Dalam KHI yang mengatur tentang bagian waris Saudara terdapat dalam pasal 182 KHI, selengkapnya adalah sebagai berikut.
Bila seorang meninggal tanpa meninggalkan anak dan ayah, sedang ia mempunyai satu saudara perempuan kandung atau seayah, maka ia mendapat separoh bagian. Bila saudara perempuan tersebut bersama-sama dengan saudara perempuan kandung atau seayah dua orang atau lebih, maka mereka bersama-sama mendapat dua pertiga bagian. Bila saudara perempuan tersebut bersama-sama dengan saudara laki-laki kandung atau seayah, maka bagian saudara laki-laki dua berbanding satu dengan saudara perempuan.
Pasal 182 di atas juga sangat umum ketika menyebutkan kata anak. Oleh karena itu wajar kalau terjadi perbedaan hakim dalam memahaminya. Dalam kaitan ini, Hakim PTA Kalimantan Selatan hanya mengharapkan agar dalam perumusan UU terapan di bidang kewarisan, anak dalam pasal di atas dibunyikan secara eksplisit, yang terdiri dari anak laki-laki dan perempuan. Hal ini sesuai dengan yurisprudensi MA di atas.
17
masyarakat menyatakan bahwa saudara pewaris hanya bisa dihijab oleh anak laki-laki dan ayah sesuai dengan ketentuan waris Islam (pendapat jumhur ahli sunnah). Hanya saja, karena telah ada 2 yurisprudensi tentang persoalan tersebut maka sangat memungkinan para hakim akan mengikutinya ketika ada kasus yang sama, kebetulan menurut hakim di Kalimantan Selatan persoalan seperti itu belum pernah terjadi di wilayahnya.
Sebagai bentuk terobosan hukum, dua yurisprudensi tersebut sangat strategis dalam upaya pembaharuan hukum waris Islam di Indonesia, apalagi mengingat sistem kekeluargaan di Indonesia umumnya mengantut system bilateral/parental. Sementara pendapat fuqaha ahli sunnah dalam fiqh klasik yang menyatakan “saudara pewaris hanya bisa dihijab oleh anak laki-laki dan ayah” umumnya di latarbelakangi oleh sistem kekeluargaan patrilineal.
d. Wasiat Wajibah Untuk Anak Angkat dan Bapak Angkat
Ketentuan tentang wasiat wajibah untuk anak angkat dan orang tua angkat terdapat dalam pada pasal 209 ayat (1) dan (2) Buku II KHI disebutkan bahwa :
1. Harta peninggalan anak angkat dibagi berdasarkan pasal-pasal 173 sampai dengan 193 tersebut diatas. Sedangkan terhadap orang tua angkat yang tidak menerima wasiat diberi wasiat wajibah sebanyak 1/3 dari harta warisan anak angkatnya.
2. Terhadap anak angkat yang tidak menerima wasiat diberi wasiat wajibah sebanyak-banyaknya 1/3 dari harta orang tua angkatnya.
Ada dua masalah pokok dari pasal tersebut yang merupakan hasil gagasan baru (ijtihad) ulama Indonesia, yaitu: Pertama, anak angkat dan ayah angkat menerima warisan. Dan kedua, wasiat wajibah. Sebagaimana dimaklumi, tradisi pengangkatan anak (al-tabanni) pada masa pra Islam (masa jahiliyah) merupakan salah satu sebab menerima harta warisan, kebiasaan ini terus berlangsung hingga pada masa-masa awal Islam, dimana saat awal Islam pengangkatan anak (al-tabanni) masih merupakan salah satu sebab seseorang memperoleh harta warisan. kemudian Islam menghapus al-tabanni
dengan firman-Nya :
18
Dengan turunnya ayat tersebut, maka dalam sistem kewarisan Islam anak angkat tidak lagi diakui sebagai penyebab memperoleh harta warisan yang ditinggalkan oleh orang tua angkatnya, dan begitu sebaliknya, orang tua angkat tidak berhak mewarisi harta anak angkatnya.
Sementara itu, wasiat wajibah dalam konteks warisan memang sudah di introdusir oleh Negara-negara berpenduduk mayoritas muslim seperti Mesir, Suriah, Maroko dan Tunisia. Akan tetapi, yang berhak menerima wasiat wajibah menurut mereka adalah cucu laki-laki maupun cucu perempuan dari anak laki-laki maupun dari anak perempuan yang orang tuanya meninggal dunia terlebih dahulu atau meninggal bersama-sama kakek/neneknya, bukan anak angkat atau bapak angkat.
Oleh karena itu, pasal ini merupakan gagasan baru dan produk ijtihad yang Indonesianisme, artinya bahwa ketentuan anak angkat maupun orang tua angkat yang memperoleh hak harta warisan lebih didasarkan pada pertimbangan kemanusiaan, keadilan, dan adanya keinginan untuk memilih alternatif yang terbaik (padahal anak angkat maupun orang tua angkat dalam Islam sudah dihapus dari menerima hak waris).
Menanggapi pasal tersebut di atas, Prof. Drs. H.M. Asywadie Syukur, Lc, menyatakan bahwa ketentuan KHI pasal 209 yang memberikan bagian anak angkat melalui wasiat wajibah dari harta peninggalan orang tua angkatnya sudah tepat. Karena wasiat memang diperuntukkan pada orang-orang yang tidak tergolong ahli waris tetapi masih punya hubungan dekat dengan pewaris. Mengenai istilah wasiat wajibah ini merujuk pada pendapat madzhab Dhahiriyah.
Dalam praktik di masyarakat, misalnya di Kalimantan Selatan, Gorontalo, dan Sulawesi Selatan meskipun status anak angkat adalah bukan ahli waris tetapi mereka tetap diberikan melalui wasiat, hibah, atau hadiah, baik yang dilakukan saat pewaris masih hidup atau sepeninggalannya atas dasar kesepakatan ahli waris. Beberapa faktor yang mendasari pemberian wasiat pada anak angkat dan bapak angkat adalah atas dasar pertimbangan a). Keadilan b). Rasa kasihan c). Faktor kemanusiaan. d). Faktor Kedekatan emosional dengan pewaris yang pada kasus tertentu pengabdiannya melebihi dari pengabdian anak kandung.
19
Selatan menghendaki agar pengertian anak angkat harus ditegaskan dalam Undang-undang karena dalam pratiknya banyak anak asuh yang mengaku-ngaku sebagai anak angkat. Misalnya, anak angkat adalah anak yang diangkat secara resmi melalui proses peradilan atau proses lain yang diakui secara sah oleh hukum yang berlaku.
Dari paparan di atas, jelas ada persamaan di samping persamaan antara praktik waris di masyarakat dan di peradilan agama dalam kaitan dengan pemberian bagian dari harta peninggalan kepada anak angkat atau bapak angkat. Di masyarakat pemberian kepada keduanya melalui instrument wasiat, hibah, atau hadiah yang semuanya bersifat tidak mengikat, sementara menurut KHI pemberian kepada mereka melalui wasiat wajibah yang sifatnya mengikat, bukan atas dasar sukarela. Ketentuan KHI yang demikian itu tentu saja dimaksudkan untuk melindungi kepentingan anak angkat dan bapak angkat yang memang antara keduanya memiliki hubungan emosional yang sangat erat, di samping juga atas pertimbangan bahwa ada hak yang harus diberikan kepada anak angkat maupun orang tua angkat atas pengabdian dan jasanya. Apalagi dalam konteks hukum waris adat dan BW keduanya adalah merupakan ahli waris yang berhak untuk saling mewarisi.
e. Waris Beda Agama
Semua responden sepakat bahwa beda agama menghalangi seseorang mendapatkan harta waris/ sebagai ahli waris. Hal ini sesuai dengan hadis Nabi SAW
“Seorang yang non muslim tidak mewarisi seorang muslim dan seorang muslim tidak mewarisi non muslim”. Namun demikian, mereka pun sepakat bahwa seorang yang beda
agama bisa mendapatkan harta peninggalan melalu cara lain, selain warisan, misalnya melalui hibah atau wasiat.
Dalam KHI sendiri ada beberapa pasal yang memberikan penjelasan bahwa di antara syarat mewarisi/ahli waris adalah beragama Islam. Berikut pasal-pasal KHI yang terkait:
Pasal 171ayat ( b & c ):
20
"Ahli waris adalah orang yang pada saat meninggal duniamempunyai hubungan darah atau hubungan perkawinan dengan pewaris, beragama Islam dan tidak terhalang karena hukum untuk menjadi ahli waris"
Pasal 172
“Ahli waris dipandang beragama Islam apabila diketahui dari kartu identitas atau pengakuan atau amalan atau kesaksian,sedangkan bagi bayi yang baru lahir atau yang belum dewasa,beragama menurut ayahnya atau lingkungannya."
Dari kedua pasal di atas dapat diketahui bahwa beragama Islam menjadi salah satu syarat bagi pewaris dan ahli waris agar terjadi pewarisan. Karena beragama Islam menjadi salah satu syarat terjadi pewarisan, maka berbeda agama menjadi salah satu penghalang pewarisan. Jadi akan lebih baik apabila 173 yang mengatur tentang terhalangnya seseorang menjadi ahli waris ditambah dengan berbeda agama.
Berkaitan dengan hak waris bagi non muslim tersebut, Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan fatwa nomor 5/MUNAS VII/MUI/9/2005, tanggal 28 Juli 2005 yang menetapkan bahwa 1). Hukum waris Islam tidak memberikan hak saling mewarisi antar orang-orang yang berbeda agama (antara muslim dengan nonmuslim);2). Pemberian harta antar orang yang berbeda agama hanya dapat dilakukan dalam bentuk hibah, wasiat dan hadiah.
Namun demikian, sejak tahun 1995 telah ada yurisprudensi berupa keputusan Mahkamah Agung Nomor 368K/AG/1995 tanggal 16 Juli 1995 yang memberikan hak kepada non muslim untuk mendapatkan bagian dari harta waris melalui wasiat wajibah. Putusan ini selain didasarkan atas konsep wasiat wajibah Ibnu hazm juga didasarkan atas pertimbangan kemanusiaan, keadilan dan kultur Indonesia yang majemuk. Di samping itu, diperkuat penafsiran surat Al-Qurtubi terhadap Surat Al-Baqarah ayat 180 sebagai berikut:
Para ulama perbeda pendapat dalam memahami ayat ini (Al-Baqarah: 180), apakah ayat tersebut telah dihapus (nasakh) atau masih tetap (muhkamat), ada yang berpendapat ayat tersebut masih tetap muhkamat, dhahir ayat memiliki makna umum sedangkan maknanya bersifat khusus bagi walidaian (kedua orang tua) dan aqrabin (kerabat dekat) yang tidak menerima waris, seperti keduanya kafir atau hamba sahaya dan bagi
21
kerabat yang tidak mendapatkan warisan. Ini adalah pendapat Dhahak, Thawus, dan Hasan. Dan Imam Thabari lebih cendrung memilih pendapat ini.
Atas dasar yurisprudensi ini Hakim PA Martapura Kalimantan Selatan dan juga hakim di Gorontalo pernah memberikan hak yang sama kepada non muslim melalui wasiat wajibah.
Menurut Prof. Drs. H.M. Asywadie Syukur, Lc, kasus pemberian harta peninggalan kepada non muslim pernah terjadi ketika salah seorang muslim yang mengalami kecelakaan Pesawat Colombia meninggal, ia meninggalkan ahli waris non muslim, yaitu orang tua nya. Ketika dimintakkan fatwa ke PA, orang tuanya tersebut mendapatkan harta peninggalan pewaris, anaknya yang muslim tersebut melalui wasiat wajibah.
Oleh karena itu, para hakim PTA Kalimantan Selatan dan juga Prof. Drs. H.M. Asywadie Syukur, Lc, mengusulkan agar bagian untuk “ahli waris” non muslim ditegaskan di dalam UU melalui instrumen wasiat wajibah.
f. Halangan Menerima Warisan Karena Perencanaan Pembunuhan dan Fitnah Menurut pasal 173 KHI, Seorang terhalang menjadi ahli waris apabila dengan putusan hakim yang telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap, dihukum karena: a. dipersalahkan telah membunuh atau mencoba membunuh atau menganiaya berat para
pewaris;
b. dipersalahkan secara memfitnah telah mengajukan pengaduan bahwa pewaris telah melakukan suatu kejahatan yang diancam dengan hukuman 5 tahun penjara atau hukuman yang lebih berat.
Dalam pasal di atas membunuh sebagai penghalang menerima harta waris sudah sesuai dengan fiqh. Akan tetapi percobaan pembunuhan, penganiayaan berat, apalagi memfitnah sebagai halangan mewaris, menurut pendapat Amir Syarifuddin, jelas tidak ditemukan rujukannya dalam fiqh madzhab manapun.14
Merespon persoalan di atas, Drs. Fathurrahman, M.Ag, wakil ketua NU Wilayah Kalimantan Selatan, mengharapkan agar pasal 173 KHI diatas diberikan penjelasan yang kongkrit tentang Kreteria atau parameter dari perencanaan pembunuhan dan memfitnah yang menjadi penghalang mendapatkan warisan..
22
Sementara itu, menurut Drs. H. Abdul Halim, SH, Hakim PA Kelas IA Banjarmasin, menyatakan bahwa pasal di atas, semangatnya adalah untuk mencegah semakin maraknya kejahatan berupa percobaan pembunuhan dan penganiayaan berat
yang dilaklukan ahli waris kepada “calon pewaris”. Sedangkan batasan fitnah yang
menyebabkan pewaris diancam dengan hukuman 5 tahun penjara atau hukuman yang lebih berat dalam pasal 173 KHI di atas, jelas dimaksudkan untuk pre empetive, Sadduz zariah.
Sedangkan menurut ulama di Padang dan di Medan tidak sepakat percobaan pembunuhan, penganiayaan berat, dan memfitnah sebagai halangan mewaris secara mutlak karena ketentuan seperti ini tidak ada nash Al-Qur’an dan As-Sunnah. Oleh karena itu, kalau pasal ini tetap diterapkan perlu ditambahkan klausul bahwa pemberian maaf oleh pewaris sebelum meninggal dunia bisa menghapuskan status terhalang menerima warisan karena ketiga macam perbuatan tersebut.
Lebih jauh lagi, terkait dengan fitnah yang bisa menjadi penghalang menerima harta warisan, menurut ulama di Sulawesi Selatan diperlukan suatu ”fakta” dan
”peristiwa” yang obyektif dan terukur. Proses obyektivikasi perkara itu dapat dilakukan
melalui pengadilan sehingga sampai kepada keputusan hukum tetap yang menyatakan bahwa perbuatan memfitnah tersebut nyata dan faktual adanya.
g. 1/3 Bagian Untuk Ayah Bila Pewaris Tidak Punya Anak
Dalam pasal 177 KHI disebutkan: “Ayah mendapat sepertiga bagian bila pewaris tidak meninggalkan anak, bila ada anak, ayah mendapat seperenam bagian.”
Ketentuan pasal di atas, secara sepintas bertentangan dengan hukum waris Islam yang terdapat dalam Al-Qur’an. Terkait dengan bagian ayah, surat an-Nisa ayat 11 menyatakan : “……dan untuk kedua ibu bapak, bagian masing-masing seperenam dari harta yang ditinggalkan jika pewaris mempunyai anak. Jika pewaris tidak mempunyai anak, maka harta diwarisi untuk kedua orang tuanya dan ibunya memdapat sepertiga….”(Annisa:11).
23
Mengomentari persoalan tersebut, mayoritas responden dari unsure ulama menyatakan bahwa ketentuan di atas tidak memiliki rujukan yang jelas baik dalam
Al-Qur’an, Hadits maupun ijtihad para fuqaha. Oleh karena itu, mereka mengharap agar ketentuan ini dicabut dan tidak dimasukkan dalam rancangan RUU Terapan Bidang Kewarisan.
Sementara itu, para hakim PA dan PTA, serta dosen IAIN Antasari dan Prof. Drs. H.M. Asywadie Syukur, LC menyatakan bahwa pasal 177 dalam KHI tersebut telah disempurnakan dengan Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 2 Tahun 1994 tanggal 28 Juni 1994. Berdasarkan SEMA tersebut pasak 177 disempurnakan menjadi:
“ayah mendapat sepertiga bagian bila pewaris tidak meninggalkan anak, tetapi
meninggalkan suami dan ibu, bila ada anak, ayah mendapat seperenam bagian”. Ini
berarti bahwa ayah akan mendapatkan 1/3 bagian hanya dalam kondisi khusus, yaitu ketika pewaris tidak meninggalkan anak dan ahli waris hanya terdiri dari ayah, suami, dan ibu. Formasi atau bentuk kewarisan ini dalam kajian fiqh mawaris dikenal dengan kasus gharawaian atau umaryatain.15
h. Porsi Perbandingan Bagian Anak Laki-Laki dan Perempuan
Bagian waris anak laki-laki dan anak perempuan pewaris dijelaskan dalam pasal 176 KHI sebagai berikut: “Anak perempuan bila hanya seorang ia mendapat separoh bagian, bila dua orang atau lebih mereka bersama-sama mendapt dua pertiga bagian, dan apabila anak perempuan bersama-sama dengan anak laki-laki, maka bagian anak laki-laki adalah dua berbanding satu dengan anak perempuan”.
Berdasarkan pasal tersebut maka bagian laki-laki lebih banyak dua kali lipat bagian perempuan. Ketentuan ini sesuai dengan ketentuan nash Al-Qur’an surat An
-Nisa’ ayat 11.
Dalam praktik di masyarakat ada kecendrungan masyarakat mengamalkan ketentuan nash Al-Qur’an dan KHI di atas hanya sebatas pemenuhan formalitas. Hampir semua responden di enam wilayah penelitian menyatakan bahwa masyarakat umumnya
24
membagi waris dengan faraid (ketentuan waris Islam) baru kemudian atas dasar musyawarah mufakat membagi secara merata untuk bagian laki-laki dan perempuan. Berkaitan dengan persoalan ini, Gusti Muzainah,SH, MH menyatakan bahwa “dalam adat Banjar wanita dan laki-laki sama berkedudukan sebagai ahli waris, walaupun dalam hukum Islam wanita lebih sedikit mendapatkan bagian, 2 bagian untuk laki-laki, 1 bagian untuk perempuan, tetapi dalam pelaksanaannya tidak selalu demikian. Wanita dan laki-laki terlebih dahulu tahu haknya atas bagian warisan masing-masing, setelah itu mereka sepakat untuk membagi sama bagian wanita dengan bagian laki-laki”:16
Demikian juga pembagian waris yang terjadi di pengadilan agama, salah seorang hakim di Pengadilan Agama Banjarmasin, Drs. Suhaili, SH, MH, menyatakan “Praktik pembagian waris secara damai yang berakhir pada perolehan yang sama bagi anak-laki-laki dan perempuan sering terjadi juga setelah mereka mendapatkan fatwa waris dari PA. Padahal dalam fatwa waris tersebut PA telah memberikan bagian laki-laki dua kali bagian perempuan, tetapi selanjutnya mereka memusyawarahkan ulang untuk dibagi secara merata atau dengan cara-cara lain sesuai dengan kesepakatan”
Penjelasan lebih tehnis lagi disampaikan ulama dan hakim di Pengadilan Agama Medan, menurutnya mereka dalam prakteknya banyak masyarakat kota Medan yang menyelesaikan pembagian warisan berdasarkan perdamaian yang dilakukan setelah diterangkan terlebih dahulu bagian masing-masing ahli waris sesuai dengan ketentuan faraid.. Kemudian mereka menyatakan keinginannya (saudara laki-laki dan perempuan) untuk dibagi secara merata. Lalu atas dasar keinginan itu, dibuatlah surat pembagian waris berdasarkan perdamaian.
Sikap mendua masyarakat dalam pembagian waris di atas tampaknya yang membuat Munawir Sjazali pernah melontarkan gagasan reaktualisasi ajaran Islam di Indonesia, yang antara lain menggagas penyamarataan bagian waris laki-laki dan perempuan. Namun demikian, gagasan tersebut ternyata kandas karena besarnya penolakan dari para ulama dan akhirnya bagian anak laki-laki dan perempuan tetap sebagaimana yang kemudian dirumuskan dalam pasal 176 di atas. Sebagai jalan keluarnya dimunculkanlah pasal 183 tentang perdamaian dalam pembagian waris. Bunyi selengkapnya adalah sebagai berikut: “Para ahli waris dapat bersepakat
25
melakukan perdamaian dalam pembagian harta warisan, setelah masing-masing menyadari bagiannya”. Atas dasar pasal ini maka praktik pembagian waris yang ada di masyarakat seperti yang dipaparkan di atas memiliki sandaran hukumnya.
Gagasan pembagian waris dengan porsi yang sama bagi anal laki-laki dan perempuan baru terjadi di dua Negara berpenduduk mayoritas muslim, yaitu di Turki dan Somalia. Turki telah memberlakukan peraturan itu sejak tahun 1926 dalam pasal 439 buku III Hukum Perdata Turki. Sedangkan Somalia mengaturnya dalam UU Keluarga No. 23 Tahun 1975 pasal 158.17 Tentu saja, polemik tentang persoalan di atas juga terjadi di kedua Negara tersebut, tetapi karena kuatnya rezim sekuler di sana maka peraturan tersebut tetap dipaksakan pemberlakuannya.
i. Wasiat Pembagian Warisan Sebelum Pewaris Meninggal
Praktik wasiat pembagian warisan hampir dikenal oleh semua wilayah penelitian, dalam adat banjar disebut dengan “amanat” atau “ba’amanah” atau
“ba’amanat” adalah pesan (amanat) dari pewaris (almarhum), yang isinya barupa
penunjukkan benarnya bagian pada ahli waris tertentu, orang tertentu (penerima warisan) lainnya, ataupun juga berisi larangan untuk membagi harta peninggalan tertentu.18
Wasiat umumnya dilakukan secara lisan kepada ahli waris dan penerima warisan lainnya yang disaksikan oleh orang-orang tertentu, seperti kerabat dekat dan “tuan
guru”. Namun demikian wasiat ini terkadang hanya disampaikan kepada “tuan guru”
atau kerabat dekat, tanpa diketahui oleh ahli waris atau sebagian dari ahli waris.
Penentuan ada tidaknya suatu wasiat ditentukan dalam musyawarah pembagian harta warisan, dimana masing-masing akan mengemukakan ada tidaknya wasiat (pesan/amanah) yang diminta oleh pewaris (almarhum) terhadap pembagian harta warisan tersebut. Suatu wasiat (pesan) dianggap sah kalau wasiat itu minimal diketahui oleh seorang saksi, oleh karena itu wasiat akan dianggap tidak sah atau tidak ada kalau
17Atho Mudzhar, “Wanita Dalam Hukum Keluarga Islam Modern”, dalam Hukum Keluarga di Dunia Islam Modern, editor Atho Mudzhar dan Khairuddin Nasution, (Jakarta: Ciputat Press, 2003), h. 215
26
hanya dikemukakan oleh satu orang, baik ia langsung sebagai yang ditunjuk dalam wasiat ataupun orang lain.
Substansi dari wasiat berupa penunjukkan bagian-bagian dari ahli waris dan penerima warisan lainnya mengacu kepada prakondisi yang melatarbelakangi adanya wasiat tersebut, sehingga besarnya bagian atau jenis-jenis harta yang didapatkan tidak terlepas dari penilaian-penilaian pewaris (almarhum) terhadap kondisi keluarganya. Oleh karena itu bagian ahli waris dan pewaris lainnya mengacu kepada kondisi keluarga pewaris tersebut, yang dalam hal ini harta yang didapatkan sesuai dengan kebutuhan ahli waris dan penerima waris lain tersebut sebagaimana juga dalam hibah, seperti harta berupa perhiasan untuk Si X dan harta berupa rumah untuk Si Y dan seterusnya.
Menurut para responden hakim PA/PTA dan dosen IAIN Antasari praktik wasiat pembagian warisan sebelum pewaris meninggal tidak pernah menjadi persoalan yang diperbincangkan. Selain karena masyarakat banyak yang mempraktikannya, dari segi ketentuan KHI (Pasal 195) pun tidak jadi persoalan. Hanya saja KHI menentukan bahwa wasiat kepada ahli waris harus disetujui semua ahli waris.selengkapnya pasal 195 KHI adalah sebagai berikut:
1. Wasiat dilakukan secara lisan dihadapan dua orang saksi, atau tertulis dihadapan dua orang saksi, atau dihadapan Notaris.
2. Wasiat hanya diperbolehkan sebanyak-banyaknya sepertiga dari harta warisan kecuali apabila semua ahli waris menyetujui.
3. Wasiat kepada ahli waris berlaku bila disetujui oleh semua ahli waris.
4. Pernyataan persetujuan pada ayat (2) dan (3) pasal ini dibuat secara lisan di hadapan dua orang saksi atau tertulis di hadapan dua orang saksi di hadapan Notaris.
j. Praktik Hibah Dihitung Sebagai Bagian Waris
27
orang tua tersebut. Dalam proses pengibahan itu biasanya diundang seseorang yang
menjadi tokoh dalam masyarakat seperti “ tuan guru” /Kyai atau tokoh formal seperti Ketua Rukun Tetangga atau Lurah dimana mereka diminta untuk menyaksikan apa-apa yang telah dihibahkan tersebut.
Adapun besarnya bagian masing-masing dalam pengibahan ini tidak
ditemukan norma yang pasti, yang menjadi tolak ukur hanyalah asas “kepatutan” atau
asas “keadilan” yang ada dalam benak pewaris.
Meskipun tradisi hibah di atas banyak dipraktikan masyarakat, akan tetapi menurut Prof. Drs. H.M. Asywadie Syukur, Lc pernah ada kasus di pengadilan dimana ada orang tua yang telah membagi-bagikan hartanya lewat hibah kepada kedua anaknya, laki-laki dan perempuan sebelum meninggal. Ketika orang tua tersebut meninggal harta anak laki-laki telah habis dan dia menggugat ke pengadilan agar harta adiknya perempuan yang didapatkan dari hibah di atas dijadikan sebagai harta warisan yang ia mengharap dapat bagian darinya. Akhirnya, pengadilan menolak gugatan anak laki-laki dan menguatkan hibah yang pernah dilakukan orang tua keduanya semasa hidup, dan dianggap sebagai bagian warisan.
Menurut para hakim PTA dan juga dosen IAIN Antasari Kalimantan Selatan, hibah yang dihitung sebagai warisan tidak menjadi masalah, hal ini diatur dalam pasal
211 KHI yaitu “Hibah orang tua kepada anaknya dapat diperhitungkan sebagai warisan”.
k. Pembagian Warisan Berupa tanah <2 H
Ketentuan tentang larangan membagi harta peninggalan berupa tanah yang kurang dari 2 hektar terdapat dalam Pasal 189 KHI sebagai berikut:
(1) Bila warisan yang akan dibagi berupa lahan pertanian yang luasnya kurang dari 2 hektar, supaya dipertahankan kesatuannya sebagaimana semula, dan dimanfaatkan untuk kepentingan bersama para ahli waris yang bersangkutan
28
Selama ini pembagian warisan berupa tanah < 2 Hektar tidak menjadi persoalan di hampir di seluruh wilayah penelitian. bahkan tokoh adat dan beberapa ulama mengharapkan agar pasal yang mengatur tentang larangan membagi waris berupa tanah yang < 2 Hektar tersebut dicabut. Selain sulit untuk diterapkan karena perbedaan keinginan para ahli waris. Juga dalam kenyataannya selama ini larangan tersebut tidak efektif bahkan bisa dikatakan tidak pernah terjadi sanksi atas pelanggaran pasal tersebut. Drs. Suhaeli, SH, MH, hakim PA Banjarmasin dan Drs. H. Fahruddin Hamid, SH, hakim PTA Kalimantan Selatan berkomentar bahwa pasal tersebut sepertinya hanya cocok diterapkan di pulau Jawa yang kekurangan lahan pertanian.
l. Kewarisan Anak Hasil Perzinaan
Dalam masyarakat Banjar, menurut Noor Fitrian, anak hasil perzinaan dikenal dengan istilah “anak kampang”, yaitu anak yang lahir dari perbuatan zina yang dilakukan oleh ibunya, yang suaminya tidak diketahui (biasanya ditinggalkan pergi). Walaupun nantinya ibunya kawin dengan laki-laki lain, anak ini sering tetap disebut
“anak kampang”. Anak kampang ini dianggap hanya sebagai ahli waris dari ibunya,
tetapi dalam praktek tetap dapat bagian warisan dari orang tua “biologisnya”.19
Sementara, Drs.KH.Abdurrahman dan Drs. Fathurrahman, M.Ag berpendapat bahwa anak hasil perzinaan yang tidak bisa mendapatkan warisan dari ayah biologisnya merupakan ketentuan hukum Islam yang syarat dengan maqasid syariah, yaitu adanya pendidikan bagi para pelaku zina agar tidak melakukan perzinaan yang akan berakibat pada hilangnya nasab anak biologis dengan ayah biologisnya. Oleh karena itu, kedua responden ini cendrung untuk tidak memberikan bagian dari harta peninggalan secara ekplisit dalam UU.
Berbeda dengan dua responden sebelumnya Almihan dalam tesis di Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara yang berjudul Kedudukan anak di luar nikah dalam kewarisan menurut KUH Perdata dan Hukum Islam. Menyebutkan bahwa salah satu solusi yang bisa ditempuh untuk memberikan perlindungan hukum kepada anak yang dilahirkan di luar perkawinan adalah dengan memberikan hak waris melalui wasiat wajibah
29
Hal yang senada juga disampaikan Prof. Drs. H.M. Asywadie Syukur, Lc, Dosen IAIN Antarasari, dan para hakim PTA Kalimantan Selatan, mereka berpendapat bahwa anak hasil perzinaan bisa mendapat harta peninggalan ayah “biologisnya” melalui wasiat wajibah. Dalam kaitan ini, para hakim PTA mengharapkan agar bagian harta peninggalan untuk anak hasil perzinaan ditegaskan secara eksplisit dalam pasal UU terapan bidang kewarisan yang akan datang.
Meskipun secara teoritik sangat memungkinkan memberikan bagian harta peninggalan/tirkah untuk anak hasil zina tetapi menurut hakim di Sulawesi Selatan menyatakan bahwa nyaris tidak pernah kedengaran persoalan waris anak zina, disamping karena sulitnya pembuktian juga umumnya jika orang tuanya mengakui dilakukan proses itsbat nikah.
Kalau usulan ini diterima, yang perlu mendapatkan penegasan adalah bahwa pemberian harta peninggalan ayah biologis kepada anak hasil perzinaan bukan berarti memasukkan anak tersebut sebagai ahli waris, tetapi hanya memberikan bagian harta peninggalan/tirkah sebelum dibagi waris kepada anak tersebut melalui instrument wasiat wajibah.
m.Praktik Penyelesaian Warisan Yang Unik
Ada beberapa hal yang unik dalam pembagian harta waris di beberapa wilayah penelitian, yaitu:
1) Harta Yang tidak Dibagi karena untuk kegiatan haul
Ditemukan di Kalimantan Selatan sejumlah harta peninggalan yang tidak dibagi waris, seperti harta peninggalan untuk keperluan “bahaul” atau “haulan” setiap
tahun, yang biasanya berupa tanah, sehingga tanah tersebut disebut “tanah tunggu haul”. Di samping tanah juga terdapat barang lain seperti perahu, dimana hasil dari
perahu ini sebagian disisihkan untuk keperluan haulan. Selain itu, kadangkala juga digunakan untuk santunan anak yatim, bahkan juga untuk beasiswa. Harta yang ditahan untuk keperluan haul juga terdapat di Gorontalo
2) Harta Peninggalan Belum Dibagi Karena Salah Satu Orang Tua yang masih ada
30
sebab, yaitu masih adanya salah satu dari orang tua mereka (ayah atau ibu). Dalam hal ini para waris dalam rangka menghormati orang tuanya merasa tidak tega membagi harta yang ditinggalkan, mereka yang menggugat untuk membagi harta peninggalan tersebut, oleh masyarakat di Banjar digolongkan sebagai anak yang tak tahu diri (durhaka). Oleh karena itu merupakan pantangan membagi harta peninggalan sementara salah seorang dari orang tua mereka masih ada. Pengecualian dari hal ini dapat saja terjadi kalau memang salah satu dari orang tua yang bersangkutan menghendaki sendiri adanya pembagian harta peninggalan tersebut.20
3) Harta peningggalan Yang Dibagi Tetapi Tidak Diserahkan kepada Yang
bersangkutan
Dalam hal tertentu ada pula harta peninggalan yang dibagi, tapi tidak diserahkan kepada yang bersangkutan seperti dalam hal salah seorang dari ahli waris masih belum dewasa atau dianggap masih belum dapat mengurus harta sendiri. Terhadap masalah ini harta peninggalan yang dibagi, tetapi tidak diserahkan tersebut akan dikuasai oleh saudara tertua atau paman dari ahli waris tersebut.
4) Praktik Perdamaian Warisan
Perdamaian warisan menjadi tren dari masyarakat Indonesia dalam penyelesaian warisan meskipun mereka tetap merujuk kepada faraid sebelum proses perdamaian. Di Kalimantan Selatan perdamaian dalam kewarisan merupakan perwujudan dari
budaya “badamai” dalam adat Banjar. Dalam pembagian harta waris, adat badamai
ini diwujudkan dan pola pembagian waris secara faraid-islah dan islah. Yang pertama, faraid-islah maksudnya dilakukan pembagian menurut fara’id atau hukum waris Islam baru kemudian dilakukan pembagian dengan cara musyawarah mufakat
atau “islah”. Sedangkan kedua, melalui islah (tanpa faraid), yaitu proses pembagian harta yang dilakukan dengan cara musyawarah mufakat atau tanpa melalui penghitungan secara faraid terlebih dahulu seperti pola pertama.
Praktik pembagian waris dengan pola faraid-islah ini telah diakomodir dalam
Pasal 183 Kompilasi Hukum Islam (KHI) yaitu “para ahli waris dapat bersepakat melakukan perdamaian dalam pembagian harta warisan, setelah masing-masing
20 Ahmad Khusaini, Pemangku Adat Banjar Yayasan Pangeran Suriansah Banjarmasin,
31
menyadari bagiannya”. Sementara pola yang kedua secara ekplisit belum
terakomodir dalam pasal tersebut. Akan tetapi, berdasarkan survey lapangan umumnya praktik pembagian warisan didaerah masih menggunakan pola yang pertama faraid islah, karena selain masih merujuk kepada sumber ajaran Islam juga tetap berdamai dengan adat istiadat.
5). Kewarisan Kolektif
Kewarisan kolektif saat ini masih diketemukan di Padang pada adat Minang. Kewarisan kolektif adalah harta warisan tidak dapat menjadi hak milik, tetapi menjadi hak bersama ahli waris. Ciri-cirinya adalah: (1) harta peninggalan diwarisi sejumlah ahli waris yang merupakan semacam badan hukum, disebut harta pusaka; (2) harta peninggalan tersebut tidak boleh dibagi dibagikan kepemilikannya oleh ahli waris; (3) harta tersebut hanya boleh dibagi-bagikan pemakaiannya.
6). Harta Pusaka Tinggi dan Pusaka Rendah
Dalam sistem kewarisan tradisi Minangkabau dikenal dua istilah, yaitu “harta pusaka tinggi” atau “harta tua”dan “harta pusaka rendah”. pusaka tinggi ialah pusaka
yang “didapat dengan tembilang besi, pusaka rendah didapat dengan tembilang emas”. Tembilang besi maksudnya, harta yang diperoleh secara turun temurun dari
orang-orang terdahulu. Tembilang mas maksudnya hasil jerih payah sendiri. Selain dari itu ada juga yang menyebutnya dengan “harta bersama”, artinya harta yang diperoleh selama hidup berumah tangga. Bukan harta hasil warisan dari orang tua atau pun pemberian orang lain. Pusaka rendah dapat menjadi pusaka tinggi, sedang pusaka tinggi tidak dapat menjadi pusaka rendah, kecuali bila adat itu sudah tidak berdiri lagi.Harta pusaka tinggi tidak dapat dibagi-bagi, tetapi diwariskan secara turun temurun kepada anak kaum (suku) tersebut. Kaum hanya dapat mengambil manfaat atau hasilnya saja dari harta peninggalan itu. Sedangkan yang bisa dibagi adalah harta pusaka rendah. Dalam penyelesaian perkara bila terjadi perselisihan dalam persoalan harta pusaka tersebut, maka persoalan harta pusaka tua, perkaranya dilimpahkan ke Pengadilan Negeri. Sedangkan penyelesaian perkara harta pusaka rendah dilimpahkan ke Pengadilan Agama
32
Sebagian praktik kewarisan di Medan masih menerapkan hukum adat yang menganut system kekeluargaan patrilineal, dimana pelaksanaan pembagian warisan diserahkan kepada laki-laki, perempuan hanya diberi hak pakai bukan hak milik.
Sebaliknya dalam adat minang menganut system kekeluargaan matrilineal, yaitu sistem kekeluargaan yang menarik garis keturunan pihak nenek moyang perempuan. Di dalam sistem kekeluargaan ini pihak laki-laki tidak menjadi pewaris untuk anaknya. Anak-anak menjadi ahli waris dari garis perempuan/garis ibu karena anak-anak mereka merupakan bagian dari keluarga ibunya, sedangkan ayahnya masih merupakan anggota keluarganya sendiri. Walaupun demikian, praktik pembagian waris secara individual yang memberikan hak mewarisi untuk anak laki-laki maupun perempuan lebih banyak dipraktikan, kecuali pusaka tinggi di Minangkabau yang memang tidak menjadi obyek waris.
Sementara itu, di wilayah penelitian lain seperti Yogyakarta, Kalimantan Selatan, Gorontalo, dan Sulawesi Sealatan umumnya mereka menganut pembagian waris secara system kekeluargaan bilateral, yaitu sistem kekeluargan dengan menarik garis keturunan dari kedua belah pihak orang tua, yaitu baik dari garis bapak maupun dari garis ibu sistem kekeluargaan parental atau bilateral ini memiliki ciri khas tersendiri pula, yaitu bahwa yang merupakan ahli waris adalah anak laki-laki maupun anak perempuan. Mereka mempunyai hak yang sama atas harta peninggalan orang tuanya sehingga dalam proses pengalihan/pengoperan sejumlah harta kekayaan dari pewaris kepada ahli waris, anak laki-laki dan anak perempuan mempunyai hak untuk diperlakukan sama.
G. KESIMPULAN
1. Tingkat pengetahuan ulama atau tokoh masyarakat terhadap Kompilasi Hukum Islam (KHI) masih sangat rendah. Dari responden yang memberikan komentar dapat dikategorikan menjadi tiga kelompok kategori. Pertama, ulama yang belum mengerti KHI, kedua, ulama yang mengetahui KHI tapi tidak mengetahui secara mendalam isi KHI, ketiga, ulama yang mengetahui dan mendalami isi KHI.
Sedangkan hampir semua hakim dan “ulama kampus”/akademisi yang menjadi
33
banyak berinteraksi dengan lembaga atau ormas keagamaaan di lingkungannya. Sementara ulama yang mengetahui KHI tetapi tidak mendalami isi KHI umumnya mereka adalah ulama yang berpendidikan perguruan tinggi atau ulama yang tingkat interaksinya dengan ormas keagamaan relative intens, seperi dengan NU, Muhammadiyah, Persis, washliyah, MUI dan lain-lain. Sedangkan ulama yang tingkat pengetahuan tentang KHI relative mendalam umumnya selain mereka berpendidikan tinggi juga berlatarbelakang profesi guru/dosen, atau ulama yang pernah mengenyam pendidikan tinggi Agama, khususnya di Fakultas Syariah atau di fakultas hukum dan banyak menyelesaikan kasus-kasus kewarisan di masyarakat.
2. Respon ulama dan hakim agama terhadap perbedaan yang ada dalam Kompilasi Hukum Islam dan Fiqh Islam/faraid. Pendapat mereka dapat dikategorikan menjadi 3 kelompok. Kelompok pertama, menilai tidak semua isi KHI yang terkait dengan kewarisan sesuai dengan fiqh Islam, seperti konsep harta bersama, ahli waris pengganti, dan wasiat wajibah untuk anak dan bapak angkat. Dalam hal ini, mereka hanya bisa menerima pasal-pasal KHI yang ada rujukannya dalam
Al-Qur’an dan Sunnah. Sementara kelompok kedua, menyatakan bahwa bahwa KHI
34
3. Menyangkut respon ulama dan hakim terhadap materi KHI ada tiga kategori usulan untuk perbaikan di masa mendatang; pertama, tetap mempertahankan isi pasal sebagai adanya seperti pasal tentang perdamaian, kedua, pasal dipertahankan dengan usulan tambahan/penyempurnaan redaksi seperti dalam persoalan Harta Bersama, Ahli Waris Pengganti, Anak Perempuan Menghijab Saudara Pewaris, dan Halangan Menerima Warisan Karena Perencanaan Pembunuhan dan Fitnah,
ketiga, usulan pencabutan pasal seperti pasal tentang 1/3 Bagian Untuk Ayah Bila Pewaris Tidak Punya Anak dan Pembagian Warisan Berupa tanah <2 H, keempat,
usulan tambahan tentang hak “ahli waris” beda agama dan anak hasil perzinaan
dimasukkan kategori pihak yang berhak atas wasiat wajibah.
35 H. Rekomendasi
1. Untuk mengurangi kesenjangan pemahaman masyarakat terhadap KHI, perlu dilakukan sosialisasi yang intensif ke berbagai kalangan atau kelompok dalam masyarakat. Oleh karena itu, perlu dialokasikan anggaran khusus untuk itu seperti pada saat awal kelahiran KHI.
2. Perlu adanya ketegasan/kejelasan pasal dalam KHI sehingga tidak menimbulkan multi tafsir. Misalnya dalam hal ahli waris pengganti, anak perempuan menghijab sdr pewaris, bagian 1/3 ayah bila tidak punya anak, hak “ahli waris” beda agama dan anak hasil perzinaan terhadap harta peninggalan/tirkah.
3. Dalam perumusan UU terapan dibidang warisan hendaknya melibatkan sebanyak mungkin unsur-unsur di masyarakat baik yang pro dan kontra, dan baik ulama elit maupun ulama alit
4. Kajian yang lebih intens tentang persoalan-persoalan kewarisan perlu dilakukan untuk lebih mendekatkan kesepahaman kelompok-kelompok yang belum seutuhnya mau menmgikuti KHI.
5. Dalam menyelesaikan persoalan waris, selain berpedoman pada KHI para hakim umumnya masih banyak yang merujuk ke literature Fiqh Klasik, selain juga menggali praktik hukum di masyarakat (adat istiadat). Namun, demikian bagi hakim-hakim “yang mencari aman” dari proses hukum di tingkat PTA dan MA umumnya sangat patuh dengan ketentuan KHI dan Yurisprudensi, oleh karena itu upaya untuk menjadikan KHI sebagai hukum terapan di PA harus segera diwujudkan guna megeliminir perbedaan hakim dalam memutus perkara karena banyaknya sumber rujukan hakim sebelum memutus pekara yang ditanganinya. 6. Adanya ruang kebebasan/kreatifitas hakim dalam menggali hukum yang hidup di
masyarakat untuk mencapai keadilan yang sejati. Ini karena tidak sedikit dari kalangan ulama di banjar yang belum setuju semua isi dari KHI. Walaupun dalam kenyataannya seringkali kreatifitas hakim di tingkat PA dibatalkan oleh hakim