• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH PENGUATAN MODAL TERHADAP PENDAP

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PENGARUH PENGUATAN MODAL TERHADAP PENDAP"

Copied!
81
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH PENGUATAN MODAL TERHADAP PENDAPATAN

USAHATANI PADI PONPES ATTUHAMAH CIANJUR MELALUI

PROGRAM PENGEMBANGAN USAHA AGRIBISNIS LM3

RICHA YUNIA RACHMAWATI

DEPARTEMEN AGRIBISNIS

FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)
(3)

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN

SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA*

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Pengaruh Penguatan Modal terhadap Pendapatan Usahatani Padi Ponpes Attuhamah Cianjur melalui Program Pengembangan Usaha Agribisnis LM3 adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.

Bogor, Januari 2015

Richa Yunia Rachmawati

(4)
(5)

ABSTRAK

RICHA YUNIA RACHMAWATI. Pengaruh Penguatan Modal terhadap Pendapatan Usahatani Padi Ponpes Attuhamah Cianjur melalui Program Pengembangan Usaha Agribisnis LM3. Dibimbing oleh DWI RACHMINA.

Penguatan kelembagaan dan pembiayaan agribisnis merupakan bagian dari strategi dalam mewujudkan pembangunan pertanian khusunya di pedesaan. Pemerintah melalui Kementerian Pertanian terus menggalakan program pengembangan dan pemberdayaan usaha agribisnis tanaman pangan yang dimulai pada tahun 2007 agar LM3 dapat terus mengembangkan usahanya, meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat di sekitar LM3. Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi dan mendeskripsikan penyaluran dana program ke pondok pesantren serta melihat adanya perubahan jumlah produksi, biaya usahatani, total penerimaan, pendapatan usahatani dan R/C ratio yang ada setelah lembaga tersebut mengikuti program ini. Berdasarkan hasil penelitian terlihat adanya perbedaan seperti jumlah produksi rata-rata yang menurun dari 3 952 kg menjadi 3 351 kg dengan penggunaan benih masing-masing berkisar antara 25 kg sampai dengan 40 kg. Tidak hanya jumlah produksi yang mengalami penurunan tetapi juga total penerimaan dengan nilai masing-masing Rp14 029 167.00 dan Rp11 774 167.00. Diikuti dengan komponen lainnya yang juga mengalami penurunan nilai, antara lain total biaya produksi, biaya tunai dan non tunai serta biaya penyusutan. Hanya nilai pendapatan atas biaya total dan pendapatan atas biaya tunai. saja yang mengalami peningkatan.

Kata kunci: LM3, pendapatan usahatani, R/C rasio.

ABSTRACT

RICHA YUNIA RACHMAWATI. Strengthening Effect of Capital to Farming Income of Ponpes Attuhamah Cianjur through the Agribusiness Development Program of LM3. Supervised by DWI RACHMINA.

(6)

depreciation expense . Only the value of revenue over total expenses and revenues at the expense of cash are increased .

(7)

Skripsi

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi

pada

Departemen Agribisnis

PENGARUH PENGUATAN MODAL TERHADAP PENDAPATAN

USAHATANI PADI PONPES ATTUHAMAH CIANJUR MELALUI

PROGRAM PENGEMBANGAN USAHA AGRIBISNIS LM3

RICHA YUNIA RACHMAWATI

DEPARTEMEN AGRIBISNIS

FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(8)
(9)

Judul Skripsi :

Nama : Richa Yunia Rachmawati NIM : H34114086

Disetujui oleh

Dr Ir Dwi RachminaMSi Pembimbing

Diketahui oleh

Dr Ir Dwi RachminaMSi Ketua Departemen

Tanggal Lulus:

(10)
(11)

PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas segala karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Tema yang dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan sejak bulan Juli dan Oktober 2014 ini ialah Pembiayaan Agribisnis, dengan judul Pengaruh Program Pemberdayaan dan Pengembangan Usaha Agribisnis LM3 terhadap Pendapatan Usahatani Padi Ponpes Attuhamah Cianjur.

Terima kasih penulis ucapkan kepada Ibu Dr. Ir. Dwi Rachmina MSi selaku pembimbing dan Ibu Ir. Netti Tinaprilla MM selaku dosen evaluator. Di samping itu, penghargaan penulis sampaikan kepada Bapak Batara Siagian, SP, MAB selaku Kepala Subbagian Program Bagian Perencanaan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan dan para stafnya, serta Bapak Jayanudin S, STP dan pimpinan Pondok Pesantren Attuhamah Bapak Abdul Jabar serta para anggota kelompok tani Mukti dan masyarakat Desa Kademangan, yang telah membantu selama pengumpulan data. Ungkapan terima kasih juga disampaikan kepada ayah, ibu, serta seluruh keluarga, keluarga Ir. Agus Solihin S dan teman-teman, atas segala doa dan kasih sayangnya.

Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.

Bogor, Januari 2015

(12)
(13)

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL vi

DAFTAR GAMBAR vi

DAFTAR LAMPIRAN vi

PENDAHULUAN 1

Latar Belakang 1

Perumusan Masalah 6

Tujuan Penelitian 8

Manfaat Penelitian 8

Batasan dan Ruang Lingkup 8

TINJAUAN PUSTAKA 9

Peranan Modal terhadap Usaha Pertanian 9

Pengaruh Pemberian Bantuan Modal Pertanian terhadap 10

Pendapatan Usahatani Padi 10

Implementasi Program Pengembangan Usaha Agribisnis Melalui LM3 12

KERANGKA PEMIKIRAN 13

Peranan Modal terhadap Usaha Pertanian 13

Konsep Usahatani 15

Pendapatan Usahatani 16

Kerangka Pemikiran Operasional 18

METODE 20

Lokasi dan Waktu 20

Jenis dan Sumber Data 21

Metode Pengumpulan Data 21

Metode Analisis Data 21

Analisis Pendapatan Usahatani 22

GAMBARAN UMUM 23

HASIL DAN PEMBAHASAN 25

Penyaluran Dana Program Program Pemberdayaan dan Pengembangan Usaha

Agribisnis LM3 25

Mekanisme Pengajuan Dan Pencairan Dana Bantuan Sosial 25

Mekanisme Penarikan Dana LM3 27

Pelaksanaan Budidaya Padi Inbrida pada Unit Usaha LM3 Pondok Pesantren

Attuhamah 28

(14)

Pemakaian Benih dan Pupuk 30

Penanaman dan Pemupukan 31

Penyiangan dan Pengendalian OPT 32

Panen dan Penjemuran 33

Pengemasan (Packing) 34

Analisis Usahatani Padi Unit Usaha LM3 Attuhamah 34

Produksi dan Penerimaan Usahatani 34

Biaya Usahatani 36

Pendapatan Usahatani 41

R/C Ratio 41

SIMPULAN DAN SARAN 43

Simpulan 43

Saran 44

DAFTAR PUSTAKA 45

LAMPIRAN 47

(15)

DAFTAR TABEL

1 Rata-rata konsumsi kalori (KKal) per kapita sehari menurut kelompok

makanan tahun 2009-2013 3

2 Konsumsi rata-rata per kapita beberapa bahan makanan di Indonesia

tahun 2009-2013 4

3 Perbandingan Jumlah Produksi Komoditi Tanaman Pangan Tahun

2013 5

4 Biaya rata-rata pemakaian benih sebelum dan sesudah mendapatkan

dana program LM3 30

5 Biaya rata-rata pemakaian pupuk sebelum dan sesudah mendapatkan

dana program LM3 31

6 Biaya rata-rata pemakaian obat-obatan sebelum dan sesudah

mendapatkan dana program LM3 33

7 Jumlah produksi pada unit usaha LM3 Attuhamah sebelum dan sesudah mendapatkan program bantuan dana LM3 35 8 Total penerimaan unit usaha LM3 Attuhamah sebelum mendapatkan

dan sesudah mendapatkan program 36

9 Biaya rata-rata pemakaian alat pertanian sebelum dan sesudah

mendapatkan dana program LM3 37

10 Biaya penyusutan peralatan musim tanam sebelum mendapatkan

program LM3 mendapatkan bantuan program LM3 38

11 Biaya penyusutan peralatan musim tanam sesudah mendapatkan

program LM3 mendapatkan bantuan program LM3 38

12 Rincian total biaya usahatani unit usahal LM3 Attuhamah sebelum dan

sesudah mengikuti program bantuan 40

13 Pendapatan usahatani atas biaya tunai dan non tunai unit usaha LM3 Attuhamah sebelum dan sesudah mendapatkan bantuan program LM3. 41

DAFTAR GAMBAR

1 Pertumbuhan produksi padi menurut kabupaten tahun 2009-2013. 6 2 Produktivitas padi di Pulau Jawa tahun 2014Error! Bookmark not defined.

3 Kerangka Pemikiran Operasional 20

4 Struktur Organisasi LM3 Ponpes Attuhamah 25

5 Pengajuan dan transfer dana ke rekening unit usaha LM3 ponpes 27

6 Alur Penarikan Dana LM3 28

7 Hand Sprayer “Swan” 29

(16)

DAFTAR LAMPIRAN

1 Format permohonan pencairan dana bantuan LM3 48 2 Format rekapitulasi rencana usaha agribisnis tanaman pangan 49

3 Format kuitansi 50

4 Format surat LM3 kepada KPA tentang pemberitahuan bahwa dana

bantuan LM3 telah diterima 51

5 Rincian total biaya usahatani petani ke-1 unit usaha LM3 Attuhamah sebelum dan sesudah menerima bantuan dana program 52 6 Rincian total biaya usahatani petani ke-2 unit usaha LM3 Attuhamah

sebelum dan sesudah menerima bantuan dana program 53 7 Rincian total biaya usahatani petani ke-3 unit usaha LM3 Attuhamah

sebelum dan sesudah menerima bantuan dana program 54 8 Rincian total biaya usahatani petani ke-4 unit usaha LM3 Attuhamah

sebelum dan sesudah menerima bantuan dana program 55 9 Rincian total biaya usahatani petani ke-5 unit usaha LM3 Attuhamah

sebelum dan sesudah menerima bantuan dana program 56 10 Rincian total biaya usahatani petani ke-6 unit usaha LM3 Attuhamah

sebelum dan sesudah menerima bantuan dana program 57 11 Rincian total biaya usahatani petani ke-7 unit usaha LM3 Attuhamah

sebelum dan sesudah menerima bantuan dana program 58 12 Rincian total biaya usahatani petani ke-8 unit usaha LM3 Attuhamah

sebelum dan sesudah menerima bantuan dana program 59 13 Rincian total biaya usahatani petani ke-9 unit usaha LM3 Attuhamah

sebelum dan sesudah menerima bantuan dana program 60 14 Rincian total biaya usahatani petani ke-10 unit usaha LM3 Attuhamah

sebelum dan sesudah menerima bantuan dana program 61 15 Rincian total biaya usahatani petani ke-11 unit usaha LM3 Attuhamah

sebelum dan sesudah menerima bantuan dana program 62 16 Rincian total biaya usahatani petani ke-12 unit usaha LM3 Attuhamah

sebelum dan sesudah menerima bantuan dana program 63 17 Luas panen, produktivitas dan produksi di Pulau Jawa tahun

(17)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Agribisnis merupakan usaha berbasis pertanian yang dimulai dari sektor hulu sampai dengan sektor hilir serta didukung oleh jasa penunjang yang mengacu pada pandangan pokok bahwa agribisnis bekerja pada rantai sektor pangan (food supply chain).Menurut Ariadi dan Relawati 2011, agribisnis hulu-hilir adalah pengembangan agribisnis dalam arti sempit yang dirancang saling terintegrasi dari hulu ke hilir atau dari hilir ke hulu. Lanjut dikatakan bahwa, integrasi dari hilir ke hulu berarti mengembangkan komoditi pertanian di hulu untuk merespon permintaan bahan baku industri yang sudah berkembang di hilir. Agribisnis merupakan suatu pendekatan pembangunan pertanian.Dengan sistem pertanian yang terintegrasi dimulai dari subsistem hulu, subsistem budidaya (on farm), subsistem hilir dan subsistem jasa penunjang, diharapkan agribisnis dapat membantu meningkatkan produksi hasil pertanian.Sektor pertanian merupakan andalan untuk memenuhi kebutuhan pangan.Tanaman pangan sebagai salah satu subsektor pertanian yang sangat penting dalam pemenuhan kebutuhan pangan manusia.

Agribisnis terdiri dari beberapa sub sistem yang tidak terlepas dari adanya kendala. Beberapa kendala pengembangan usaha agribisnis, khusunya pada tanaman pangan dapat dilihat dari skala usaha, ketersediaan lahan dan juga ketersediaan modal usaha. Pembiayaan agribisnis berperan penting untuk memulai sebuah usaha. Pembiayaan agribisnis dapat berasal dari investasi pemilik, peminjaman dan laba/penyusutan.Dari ketiga pilihan pembiayaan tersebut, peminjaman merupakan pilihan yang sering dipilih oleh individu untuk memulai bisnisnya. Hal ini terkait dengan berbagai kemudahan yang ditawarkan dari para lembaga keuangan (bank dan non bank) kepada mereka yang ingin berwirausaha, seperti rendahnya bunga pinjaman yang akanditanggung oleh calon peminjam dan jangka waktu pencairan dana yang tidak memakan waktu lama. Dewasa ini, banyak alternatif pinjaman yang disediakan oleh bank dan lembaga keuangan baik dari pihak pemerintah maupun swasta.

(18)

2

Program ini berawal pada tahun 1991 dengan diterbitkannya Surat Keputusan Bersama Menteri Pertanian dan Menteri Agama No. 346/1991 dan No. 94/1991 tentang Pengembangan Agribisnis di Pondok Pesantren. Mulanya LM3 yang difasilitasi adalah hanya lembaga-lembaga pondok pesantren dengan sasaran pemberdayaan manusia yang dikembangkan melalui usaha yang dijalankan di ponpes tersebut. Usaha yang dijalankan pada waktu itu didominasi oleh budidaya padi dan budidaya tanaman pangan lainnya seperti jagung dan singkong. Seiring berjalannya waktu, program ini memfokuskan diri untuk membantu ponpes dalam pembiayaan agribisnis. Setiap program pasti memiliki sasarran kegiatan dan indikator keberhasilan. Program Pengembangan Usaha Agribisnis LM3 juga memiliki sasaran kegiatan yaitu meningkatkan produksi, produktivitas usaha serta meningkatkan pendapatan LM3 dan masyarakat sekitarnya. Sedangkan indikator keberhasilan yang diperhatikan dalam pelaksanaan program ini meliputi tentang output yang artinya tersalurnya dana bantuan sosial dalam rangka mendukung pengembangan agribisnis salah satu contohnya yaitu pembelian input dari dana bansos. Kemudian mengenai outcome program yaitu menguatnya permodalan usaha oleh petani yang telah mendapatkan dana, dan yang terakhir tentang dampak yang dirasakan oleh petani yaitu meningkatnya produksi. Dengan sasaran kegiatan dan indikator keberhasilan dari program tersebut, pada tahun 2006 Program Pemberdayaan dan Pengembangan Usaha Agribisnis LM3 ini semakin serius dalam membantu lembaga-lembaga mandiri tersebut di berbagai daerah di Indonesia. Jangkauan wilayah yang semakin meluas dari ponpes yang berada di bagian barat Indonesia sampai ke Indonesia bagian timur. Tujuan program ini pun secara khusus adalah mendorong tumbuhnya LM3 sebagai cikal bakal pembentukan kawasan agribisnis di berbagai daerah, mengembangkan usaha agribisnis dan agroindustri di sekitar lokasi LM3, mengembangkan kemitraan dan jaringan kerjasama agribisnis terpadu serta meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan rakyat di sekitar LM3.

Skala usahatani sangat menentukan besar kecilnya modal yang akan digunakan, semakin besar skala usahatani maka akan semakin banyak juga modal yang dibutuhkan begitu pula sebaliknya (Hastuti dan Rahim, 2007). Selain dilihat dari skala usahanya, penentuan komoditas yang akan ditanam juga akan mempengaruhi besar kecilnya suatu modal. Misalnya, usaha perkebunan kelapa sawit akan memerlukan biaya yang lebih besar dibandingkan dengan usaha perkebunan cengkeh dengan luas lahan yang sama. Ada 2 jenis petani di Indonesia yang dapat dilihat dari skala usahanya yaitu petani besar dan petani kecil atau yang biasa disebut dengan petani subsistem/gurem. Jika dihadapkan dengan keterbatasan biaya dalam melakukan usahataninya (biasanya dihadapkan oleh petani kecil), petani akan meningkatkan keuntungan dengan cara menekan biaya yang sekecil-kecilnya. Prinsip tersebut adalah cost minimum yaitu prinsip dimana petani dihadapkan dengan keterbatasan yang mereka miliki khusunya didalam hal ini yaitu modal yang akan digunakan untuk pembelian input. Selaras dengan prinsip tersebut dan tujuan program, LM3 akan diberikan dana sebagai penguatan modal usaha dan juga penguatan kelembagaan usaha agribisnis.

(19)

3 difasilitasi mencapai 338 unit. Banyaknya LM3 yang difasilitasi tersebut tidak terlepas dari keberhasilan ponpes yang mampu mengembangkan usaha agribisnisnya yang kemudian juga didukung oleh pemerintah dengan adanya pemberian bantuan modal ini. Dari jumlah sebanyak itu, 36 LM3 akan dikembangkan sebagai LM3 model. LM3 model adalah LM3 yang dinilai oleh Kementerian Pertanian sebagai LM3 yang usaha agribisnisnya sudah layak dari skala ekonomi dan layak untuk dibiayai oleh lembaga permodalan komersial, seperti bank. Selain itu, secara sosial LM3 yang dapat dikatakan sebagai LM3 model yaitu LM3 yang sudah banyak mengajak masyarakat untuk beragribisnis melalui kemitraan atau pelatihan atau magang. Itulah LM3 yang dapat dikategorikan oleh Kementerian Pertanian sebagai LM3 yang sudah maju. Bidang usaha yang dikembangkan meliputi semua subsektor yaitu tanaman pangan, hortikulura, peternakan dan perkebunan, dengan kegiatan mulai dari budidaya, pasca panen dan pengolahan hingga pemasaran hasil.

Sub sektor tanaman pangan mempunyai arti yang strategis dalam perekonomian nasional serta sumber kebutuhan paling pokok bagi kehidupan nasional sebagai bahan pangan. Masyarakat Indonesia masih memilih beras sebagai bahan pangan pokok mereka.Berdasarkan data rata-rata konsumsi kalori per kapita sehari-hari dilihat menurut makanannya (per Bulan September 2013), komoditi padi-padian menempati urutan pertama dibandingkan dengan konsumsi dari bahan makanan lainnya, seperti umbi-umbian, ikan, daging dan susu& telur. Meskipun jumlah setiap tahunnya menurun sampai mencapai angka -16,76 tetapi dibandingkan dengan komoditi pangan lainnya, padi atau beras masih sangat dibutuhkan oleh masyarakat Indonesia untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari, dapat dilihat di Tabel 1.

Tabel 1Rata-rata konsumsi kalori (KKal) per kapita sehari menurut kelompok makanan tahun 2009-2013

Sumber: Badan Pusat Statistik 2014 (diolah)

(20)

4

makanan di Indonesia yang paling rendah dari sektor tanaman pangan dimiliki oleh tepung terigu yang pada tahun 2013 hanya mencapai angka 1.251 (kg/kapita/tahun), tetapi bukan berarti tepung terigu bukan menjadi bahan makanan yang tidak diminati oleh masyarakat Indonesia. Makanan olahan yang terbuat dari tepung terigu seperti roti dan kue pun menjadi alternatif pilihan makanan selain mengkonsumsi nasi/beras.

Tabel 2 Konsumsi rata-rata per kapita beberapa bahan makanan di Indonesia tahun 2009-2013

No Bahan Makanan

Tahun Laju

Pertumbuhan (%/tahun) 2009 2010 2011 2012 2013

1 Beras 91.302 90.155 89.477 87.235 85.514 -1.45

2 Tepung terigu 1.251 1.304 1.460 1.199 1.251 -0.06 3 Jagung pipilan 1.825 1.564 1.199 1.512 1.304 -0.13 4 Singkong 5.527 5.058 5.788 3.598 3.494 -0.51 5 Ubi 2.242 2.294 2.868 2.346 2.346 0.03

Sumber: Kementerian Pertanian (2013)1 (diolah)

Oleh sebab itu kebiasaan dan pola konsumsi masyarakat harus dirubah agar mereka tidak selalu bergantung dengan ketersediaan beras yang akan mempengaruhi produksi dan produktivitas usaha pertanian di sub sektor tanaman pangan. Di dalam buku Rencana Strategis yang dimiliki oleh Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Tahun 2010-2014 mengatakan bahwa sub sektor tanaman pangan mempunyai arti yang strategis dalam perekonomian nasional serta sebagai sumber kebutuhan paling pokok bagi kehidupan nasional terutama bahan pangan. Oleh sebab itu, keberhasilan pembangunan tanaman pangan akan berdampak langsung terhadap ketahanan pangan dan perekonomian nasional. Kemudian melalui buku tersebut dijelaskan komoditas utama tanaman pangan di Indonesia, antara lain padi, jagung, kedelai, kacang tanah, kacang hijau, ubi kayu dan ubi jalar. Jumlah sasaran produksi yang mereka targetkan untuk tahun 2013 tidak selalu selaras dengan hasil yang didapatkan di lapangan. Seperti yang terlihat pada Tabel 1 yang menunjukkan perbedaan hasil produksi komoditas tanaman pangan yang diharapkan oleh Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian dengan realisasi hasil produksi padi untuk tahun 2013.

1

(21)

5 Tabel 3.Perbandingan Jumlah Produksi Komoditi Tanaman Pangan Tahun 2013

No Komoditi Jumlah Produksi (Ton)

Sasaran Produksi BPS

Sumber: Direktorat Jenderal Tanaman Pangan (2013)

Pada sasaran produksi yang diinginkan oleh Direktorat Jenderal Tanaman Pangan dalam kurun waktu 1 tahun yaitu pada tahun 2013, jumlah produksi beras yang dihasilkan sebesar 72 063 735 ton sedangkan menurut data BPS (2013), jumlah produksi padi nasional yang dihasilkan hanya sebesar 70 866 571 ton masih di bawah target yang diinginkan oleh Kementerian Pertanian. Ketidakberhasilan pencapaian sasaran hasil produksi tersebut memacu pemerintah untuk menemukan kendala yang dapat menghambat meningkatnya ketahanan pangan dan perekonomian nasional dari bidang pertanian khususnya di sub sektor tanaman pangan dan menemukan solusi untuk masalah tersebut. Kendala yang biasanya ditemui berasal dari ketersediaan lahan yang dapat digunakan untuk berbudidaya. Semakin hari semakin banyak lahan digunakan tidak untuk sektor pertanian melainkan untuk sektor industri seperti pembangunan pabrik.

Provinsi Jawa Barat memiliki 26 Kabupaten/Kota dengan jumlah Kecamatan sebanyak 625 kecamatan dan 5.899 Desa/Kelurahan (Pemerintah Provinsi Jawa Barat 2013)2. Di setiap daerahnya memiliki luas lahan (Ha) yang dijadikan lahan usahatani oleh masyarakat. Dapat dilihat di Lampiran 4 bahwa luas panen tanaman padi di Jawa Barat pada tahun 2013 memiliki luasan terbesar kedua di Pulau Jawa setelah Provinsi Jawa Timur, yaitu memiliki lahan panen seluas 2.029.891 Ha. Berdasarkan data dari Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Provinsi Jawa Barat, produksi padi sawah terbesar di 5 Kabupaten antara lain Kabupaten Indramayu, Karawang, Subang, Garut dan Cianjur. Kabupaten Cianjur adalah Kabupaten dengan jumlah produksi padi paling rendah dibandingkan dengan kabupaten lainnya yaitu hanya sebesar 785.266 ton. Akan tetapi, sebenarnya Kabupaten Cianjur merupakan daerah “Action Padi” yaitu daerah yang memiliki potensi

sebagai sentra beras di Jawa Barat karena di daerah tersebut budidaya padi berkembang mulai dari sektor Hulu, on farm dan juga sektor Hilir (Biro Perencanaan Kementerian Pertanian, 2014). Rendahnya hasil produksi padi yang dihasilkan di Kabupaten Cianjur disebabkan oleh adanya alih fungsi lahan dengan adanya pembangunan pabrik-pabrik di sekitar wilayah pedesaan di Cianjur. Melihat potensi Kabupaten Cianjur sebagai salah satu daerah yang dapat mendukung keberhasilan swasembada dengan ketersediaan berasnya, maka penguatan modal

(22)

6

usaha juga harus dikembangkan di daerah ini, baik penguatan modal dari bank maupun non bank (pemerintah).

Disamping keterkaitannya dengan lahan yang kurang memadai, tetapi masyarakat khusunya yang ada di pedesaan masih memiliki minat untuk selalu membudidayakan padi baik dengan tujuan untuk kebutuhan sehari-hari maupun diperjualbelikan kepada pihak luar. Dapat dilihat dari Gambar 1, bahwa pertumbuhan produksi padi disetiap tahunnya mengalami peningkatan meskipun tidak signifikan terutama pada Kabupaten Cianjur. Dibandingkan dengan Kabupaten lainnya, Cianjur mengalami peningkatan produksi yang stabil dari tahun 2011 sampai dengan tahun 2013. Tahun 2009 ke tahun 2010 hasil produksi mengalami peningkatan, akan tetapi pada tahun 2011 mengalami penurunan. Dilihat dari 5 tahun terakhir, tahun 2010,2012 dan 2013 merupakan tahun dimana produksi padi yang dihasilkan mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya. Peningkatan tersebut masing-masing sebanyak 72 152 ton, 41 000 ton dan 16 356 ton.

Sumber: Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Jawa Barat (2014)3 Gambar 1Pertumbuhan produksi padi menurut kabupaten tahun 2009-2013.

Perumusan Masalah

Saat ini kelembagaan yang menaungi kebutuhan dan keperluan para petani semakin banyak dan berkembang, terutama dalam memperkuat keadaan sosial dan ekonomi mereka. Penguatan kelembagaan untuk para petani perlu dilakukan dengan berbagai upaya, antara lain; (1) mendorong dan membimbing petani dalam bekerjasama di bidang ekonomi secara berkelompok, (2) menumbuhkembangkan kelompok tani pada peningkatan fasilitasi bantuan dan akses permodalan, efektivitas usahatani, serta (3) meningkatkan kemampuan SDM melalui berbagai pendampingan, penyuluhan dan pelatihan (Hermanto dan Swastika, 2011). Untuk menciptakan lembaga seperti yang telah dijabarkan, pemerintah melalui kementerian Pertanian terus menggalakan program LM3 yang memperkuat petani melalui ketersediaan modal, khusunya pada lembaga mandiri keagamaan seperti

3

http://diperta.jabarprov.go.id/index.php/subMenu/1785 (Diakses 2014 Oktober 2)

(23)

7 pondok pesantren. Tidak hanya melibatkan warga pondok pesantren, tetapi juga dengan adanya kelompok tani di daerah setempat yang bergabung membentuk unit usaha dengan pondok pesantren menjadikan lembaga mandiri tersebut kuat dan mampu untuk terus mensejahterakan kehidupan warga masyarakat sekitar pondok pesantren.

Kegiatan Pemberdayaan dan Pengembangan Usaha Agribisnis LM3 ini tidak terlepas dari permasalahan yang terjadi di dalam pelaksanaannya. Permasalahan yang terjadi, antara lain sistem penyaluran dana dari instansi pemertintah kepada pengelola, efektivitas penggunaan bantuan dana untuk pengembangan usaha, kurangnya laporan hasil dari penggunaan bantuan dan tidak adanya pembukuan di pondok pesantren mengenai penggunaan input hasil dari penerimaan bantuan. Dilihat berdasarkan sistem permintaan dan penyaluran, ada saja yayasan yang beranggapan dana akan dicairkan kepada pihak dinas kemudian dinas menggunakan dana sebagai pembelian input usahatani. Mekanisme yang sebenarnya yaitu pihak pondok pesantren yang membuat pengajuan dana dalam bentuk proposal yang kemudian diajukan kepada pihak instansi pusat melalui dinas pertanian setempat. Pembuatan pengajuan proposal juga menjadi permasalahan bagi pihak pondok pesantren yang berada di daerah pedalaman yang sangat sulit aksesnya ke kota untuk pembuatan pengajuan proposal. Apabila dilihat masalahnya berdasarkan efektivitas penggunaan dana, seperti pada Tahun 2007 yayasan pondok pesantren di Padang, Sumatera Barat yang mengelola peternakan sapi tidak pernah melaporkan kegiatan usahanya kepada pihak pusat maupun kepada dinas setempat. Dan setelah ditelusuri ternyata benar yayasan tersebut tidak mengikuti dengan Juklak dan RUK yang telah disetujui dan negara dirugikan sebesar 77 juta4. Selain itu tidak hanya kejadian pada Tahun 2007, pada Tahun 2009 juga terdapat penyelewengan terhadap pada yayasan pondok pesantren yang ada di Nganjuk Jawa Timur sebagai usaha pemberdayaan sapi yang memiliki yang tidak jauh berbeda dengan ponpes sebelumnya yaitu pelaksanaannya tidak sesuai dengan RUK dan tidak adanya transparansi dan juga tidak adanya laporan kegiatan yang diserahkan kepeda pemerintah pusat. Negara dirugikan lebih banyak dibandingkan dengan yayasan sebelumnya yaitu sebesar 176 juta5. Dan temuan yang terbaru ada pada tahun 2011 yaitu yayasan pondok pesantren yang ada di Lebak Provinsi Banten yang tidak melaksanakan kegiatan usahataninya berdasarkan rencana kegiatan usaha (RUK) dan negara dirugikan sebesar 70 juta.6 Oleh sebab itu permasalahan yang akan diangkat dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:

1. Bagaimana mekanisme penyaluran dana program Pengembangan Usaha Agribisnis Tanaman Pangan untuk Unit Usaha LM3 Pondok Pesantren Attuhamah?

2. Bagaimana penggunaan modal melalui program Pengembangan Usaha Agribisnis LM3 terhadap pendapatan usahatani Padi pada Unit Usaha LM3 Pondok Pesantren Attuhamah?

4 http://reportaseindonesia.wordpress.com/2010/12/01/media-reportase-indoensia/ (diakses 2014 Agustus 13)

5http://suaramedianasional.blogspot.com/2011/06/dugaan-penyimpangan-dana-bantuan-lm3.html

(diakses 2014 Agustus 13)

(24)

8

Tujuan Penelitian

Berdasarkan perumusan masalah tersebut, maka tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah:

1. Mengidentifikasi penyaluran dana program Pengembangan Usaha Agribisnis untuk LM3 kepada Pengelola Unit Usaha LM3 Pondok Pesantren Attuhamah, Kecamatan Mande, Kabupaten Cianjur.

2. Menganalisis pengaruh pemberian dana dari program Pengembangan Usaha Agribisnis untuk LM3 terhadap Pendapatan Usahatani Padi di Unit Usaha LM3 Pondok Pesantren Attuhamah, Kecamatan Mande, Kabupaten Cianjur.

Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi semua pihak yang terkait dengan program Pemberdayaan dan Pengembangan Usaha Agribisnis untuk LM3 (Lembaga Mandiri yang Mengakar di Masyarakat), antara lain:

1. Bagi lingkungan pondok pesantren, diharapkan bisa memberikan evaluasi dan masukan untuk perbaikan perkembangan usaha agribisnis di pondok pesantren kedepan.

2. Bagi akademisi, diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan pustaka serta referensi untuk penelitian yang akan dilakukan dan juga sebagai bahan pembanding untuk penelitian yang serupa.

3. Bagi penulis, untuk menerapkan ilmu yang telah diperoleh selama perkuliahan, mengaplikasikan teori dan berfikir secara sistematis.

Batasan dan Ruang Lingkup

(25)

9

TINJAUAN PUSTAKA

Peranan Modal terhadap Usaha Pertanian

Penguatan modal yang ditujukkan bagi para pelaku usaha khususnya usaha kecil dibidang pertanian memang sudah dilakukan sejak lama, baik penguatan modal dari pihak pemerintah maupun non pemerintah. Program pemerintah yang berkenaan dengan pemberian pinjaman ataupun pemberian modal untuk para pelaku usaha kecil menengah sudah banyak yang berjalan, seperti yang telah dilakukan oleh Kementerian Pertanian seperti program PUAP, Kredit Ketahanan Pangan, Kredit Ketahanan Pangan dan Energi dan Bantuan Langsung Masyarakat.

Kebijakan penguatan modal untuk pertanian akan terus diperbaiki oleh pemerintah karena pertanian memiliki peran yang penting untuk sebuah pembangunan bangsa. Pada tahun 2008, pemerintah melalui Kementerian Pertanian RI membuat suatu program baru yang diperuntukkan sebagai penguatan modal para pelaku usaha agribisnis. Program tersebut diberi nama Pengembangan Usaha Agribisnis Pedesaan (PUAP). Di dalam buku Rencana Strategis Kementerian Pertanian Tahun 2010-2014 dikatakan bahwa melalui kegiatan Bantuan langsung Masyarakat-Pengembangan Usaha Agribisnis Pedesaan (BLM-PUAP), satu unit Gapoktan dapat menerima bantuan penguatan modal sebesar Rp 100 juta. Sampai tahun 2008 telah diberikan bantuan penguatan modal kepada 10.542 Gapoktan dan untuk tahun 2009, sebanyak 10.000 Gapoktan ditargetkan akan menerima bantuan BLM-PUAP. PUAP juga merupakan bagian dari pelaksanaan program PNPM-Mandiri melalui bantuan modal usaha dalam menumbuhkembangkan usaha agribisnis sesuai dengan potensi pertanian desa sasaran.Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri adalah program pemberdayaan masyarakat yang ditujukan untuk mengurangi kemiskinan dan meningkatkan kesempatan kerja. Seperti pada penelitian Prihartono (2009), program PUAP direalisasikan di empat desa yang berada di Jambi khususnya di Kabupaten Tanjung Barat dengan penyaluran dana yang dilakukan melalui Gapoktan yang terdapat di keempat desa di sana.

(26)

10

program berupa bantuan pinjaman dana yang disalurkan dari Dewan ketahanan Pangan, Kementerian Pertanian. Bantuan tersebut diberikan kepada kelompok tani sebagai penerima BLM Lumbung Pangan yang selektif telah dipilihkan dari instansi bersangkutan sesuai dengan tingkat kesiapan petani untuk mengembangkan lumbung pangan sehingga menjadi unit usaha distribusi hasil pertanian/pengolahan serta pengelolaan cadangan pangan yang baik (Manurung, 2009).

Pada penelitian Suanggana (2011), program PUAP diperuntukkan oleh Gapoktan yang ada di daerah tersebut yaitu di cibitung kulon kecamatan pamijahan kabupaten bogor. Modal tersebut lebih banyak digunakan untuk pembelian input, seperti pembelian pupuk dan penyewaan traktor. Biasanya dalam hal pengoalahan lahan atau membajak sawah gapoktan rukun makmur desa menggunakan tenaga manusia atau hewan , karena alasan efisiensi waktu maka dengan adanya program penguatan modal PUAP ini gapoktan memakai tenaga traktor. Lebih lanjut Suanggana menjelaskan bahwa pencairan dana BLM PUAP dilakukan secara bertahap dan jumlah anggota penerima bantuan mencapai 182 jiwa yang terbagi kedalam empat kelompok tani. Proses pengajuan pinjaman terbilang mudah oleh para gapoktan, lalu mengenai tingkat bunga sebesar lima persen dibayarkan sekali pada saat angsuran yang dibayarkan pada penjualan hasil panen.

Pengaruh Pemberian Bantuan Modal Pertanian terhadap Pendapatan Usahatani Padi

Modal pertanian dalam arti luas adalah faktor produksi modal yang disalurkan, dikelola dan dikontrol di dalam kegiatan ekonomi di sektor pertanian dan merupakan salah satu sektor ekonomi nasional.Modal pertanian dapat berbentuk uang tunai atau dalam bentuk barang yang dipakai di dalam kegiatan produksi di bidang pertanian, seperti benih dan alsintan.Modal usahatani memiliki makna faktor produksi modal yang disediakan, diolah dan dikontrol di dalam suatu usahatani dengan skala yang besar maupun usahatani dalam skala kecil atau masih sederhana.

Pengertian modal bisa dibedakan berdasarkan beberapa pendekatan, seperti modal berdasarkan hak milik, berdasarkan arah pemakaian, berdasarkan tujuan, berdasarkan pemakaian modal dan berdasarkan sumber modal (Kadarsan, 1992).Lebih lanjut oleh Kardasan, pengertian modal perusahaan berdasarkan hak milik bisa dibedakan antara modal pribadi perusahaan, modal luar perusahaan, modal swasta perseorangan atau kelembagaan dan modal pemerintah. Bentuk bantuan modal dari pemerintah yang telah dilakukan untuk membantu para pelaku usahatani dalam mengatasi ketersediaan modalnya menurut Prihartono (2009) adalah dengan adanya program PUAP. PUAP memfasilitasi para anggota kelompok tani, baik petani pemilik, petani penggarap, buruh tani maupun rumah tangga tani.Menurut Sagala 2010, PUAP merupakan bagian dari pelaksanaan program PNPM-Mandiri melalui bantuan modal usaha dalam menumbuhkembangkan usaha agribisnis sesuai dengan potensi pertanian desa sasaran.

(27)

11 suatu kegiatan usaha dan menggambarkan keadaan yang akan datang dari perencanaan atau tindakan. Bantuan modal tersebut akan digunakan oleh para pelaku usahatani demi memenuhi kebutuhannya selama menjalankan usaha. Pemakaian modal tersebut akan dihitung sebagai pengeluaran atau biaya yakni semua pengorbanan sumberdaya ekonomi dalam satuan yang diperlukan untuk menghasilkan suatu output dalam suatu periode produksi. Sedangkan penerimaan merupakan total nilai produk yang dihasilkan yang diperoleh dari hasil perkalian antara jumlah output atau produk yang dihasilkan dengan harga produk tersebut.

Indikator keberhasilan dari suatu program pemberian bantuan modal seperti PUAP dan LM3 ini dilihat dari 3 komponen yang memberikan gambaran atas pelaksanaa program tersebut, meliputi keluaran (output), hasil (outcome), dan dampak setelah pemakaian modal tersebut untuk kegiatan usahatani. Dampak program bantuan modal tersebut terhadap pendapatan usahatani mereka dapat dilihat dengan membandingkan pendapatan petani atau pelaku usaha sebelum bantuan modal itu sampai ke tangan mereka dengan pendapatan yang mereka terima setelah diberikan bantuan modal oleh program tersebut.Untuk menganalisis pendapatan usahatani pun ada berbagai alat analisis yang digunakan. Penelitian yang dilakukan oleh Sagala (2010) yang menggunakan alat analisis R/C Rasio menghasilkan bahwa adanya peningkatan pendapatan petani dalam kurun waktu 13 bulan, akan tetapi apabila usaha tersebut dilakukan dalam jangka waktu yang relatif pendek maka tidak adanya signifikansi pada pendapatan usahatani karena R/C Rasio atas biaya total yang dihasilkan kurang dari 1. Sedangkan menurut Suanggana (2011) didalam penelitiannya yang berjudul Pengaruh Program Pengembangan Usaha Agribisnis Pedesaan (PUAP) Terhadap Pendapatan Usahatani yang dilakukan kepada Gapoktan Rukun Makmur Desa Cibitung Kulon, Kabupaten Bogor mengatakan bahwa berdasarkan rasio penerimaan dan biaya diperoleh kenaikan rasio pendapatan atas biaya tunai sebelum PUAP dan setelah PUAP yang dengan demikian usahatani yang dikelola oleh Gapoktan didaerah tersebut efektif dan layak diusahakan.

(28)

12

dasarnya traktor juga dikendarai oleh manusia sehingga biayanya menjadi efektif yang hanya memerlukan waktu dua hari.

Penelitian yang dilakukan oleh Caesarion (2011) menemukan pengaruh program PUAP terhadap kinerja usaha kecil di Kabupaten Lampung Selatan ditandai dengan adanya penyaluran modal yang dimanfaatkan untuk usaha dibidang pertanian khususnya dibidang tanaman pangan yaitu padi.Hasil produktivitas padi di daerah tersebut mengalami peningkatan.Selain itu, berkembangnya usaha di bidang perdagangan saprodi juga sebagai dampak yang dihasilkan oleh pemberian program PUAP ini, muncul usaha pengolahan hasil produksi pertanian seperti adanya usaha pengolahan pisang menjadi kripik pisang dan pembuatan kripik singkong. Pengembangan keuangan mikro yang ada di lingkungan usaha kecil di sana juga menjadi salah satu pengaruh dari adanya program penguatan modal PUAP. Pemupukan modal kerja yang menjadi cikal bakal berkembangnya keuangan mikro di lingkungan usaha kecil di Kabupaten Lampung Selatan.

Implementasi Program Pengembangan Usaha Agribisnis Melalui LM3

Strategi pembangunan pertanian selalu dilakukan demi pemenuhan kebutuhan pangan, khususnya didalam negeri.Pengembangan usaha agribisnis dilaksanakan dari berbagai sektor, yaitu dari sektor pertanian, peternakan maupun perkebunan.Pemberdayaan LM3 melalui pengembangan usaha agribisnis tanaman pangan merupakan salah satu upaya pemerintah dalam hal ini Kementerian Pertanian, khusunya Direktorat Jenderal Tanaman Pangan dalam menjalankan strategi penguatan kelembagaan dan pembiayaan. Seperti yang sudah dijelaskan bahwa LM3 merupakan Lembaga yang teroganisisr secara formal, berkembang secara mandiri di masyarakat dengan kegiatan utama meningkatkan gerakan moral melalui kegiatan pendidikan, sosial dan keagamaan; seperti pondok pesantren (lembaga pendidikan islam).

Kelembagaan pendidikan islam atau pesantren adalah lembaga mandiri yang bertujuan mendidik dan menyiarkan agama islam kepada masyarakatnya (Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, 2010). Keberadaan pesantren dibuktikan dengan bertahannya lembaga pendidikan tersebut hingga saat ini.lembaga yang dahulunya hanya mengkhususkan kegiatan dibidang pendidikan keislaman saja ini lambat laun menjadi maju dan lebih modern seiring perkembangan jaman.Pesantren mengalami perubahan tidak hanya dari aspek pendidikannya saja tetapi juga memperhatikan keterampilan dan keahlian para santri. Menurut Hn dikutip oleh Tarjo 2009, penerapan model pendidikan seperti itu akan memberikan efek ganda pada pesantren. Pertama, pesantren akan mampu bertahan karena dapat secara mandiri membiayai seluruh aktifitas di dalam pondok pesantren. Kedua, dapat membentuk soerang santri yang tidak hanya pandai dalam ilmu agama islam, melainkan juga ahli dalam bidang kewirausahaan.

(29)

13 memajukan dan mensejahterakan lingkungan pondok pesantren. Selama ini, potensi sumberdaya tersebut belum dimanfaatkan secara optimal karena adanya berbagai keterbatasan salah satunya yaitu keterbatasan modal atau pembiayaan.Hal ini yang mendasari terselenggaranya program pemberdayaan dan pengembangan usaha agribisnis khususnya dibidang tanaman pangan.

Bantuan penguatan modal yang akan diberikan tidak hanya terbatas penguatan modal berupa bantuan dana saja tetapi juga didukung dengan pembekalan teori mengenai usaha agribisnis khususnya tanaman pangan. Selain itu, selama melakukan usaha budidaya tanaman pangan, pondok pesantren gtersebut juga dibina oleh Dinas pertanian setempat yang membidangi tanaman pangan, baik di tingkat Kabupaten atau Kota maupun di tingkat Propinsi. Program bantuan penguatan modal yang bertujuan pemberdayaan sosial ini dikategorikan dalam bansos yang diberikan dalam bentuk transfer uang melalui Peraturan Menteri Pertanian Nomor 05/Permentan/OT.140/1/2013 Tentang Pedoman Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Belanja Bantuan Sosial Kementerian Pertanian Tahun Anggaran 2013 (Kementerian Pertanian, 2013).

KERANGKA PEMIKIRAN

Peranan Modal terhadap Usaha Pertanian

Keuangan pertanian berhubungan dengan permintaan, penawaran, pengaturan dan pengontrolan modal di sektor pertanian, sedangkan pembiayaan perusahaan agribisnis berhubungan dengan semua keperluan dan pengaturan serta pengontrolan keuangan untuk membiayai suatu perusahaan di sektor pertanian7.Modal di dalam usaha pertanian merupakan modal yang disalurkan, dikelola dan dikontrol di dalam kegiatan ekonomi di sektor pertanian dan juga merupakan salah satu sektor ekonomi nasional.Sedangkan modal usahatani adalah modal yang disediakan untuk digunakan pada kegiatan usahatani.Modal tersebut dapat dipakai di dalam kegiatan produksi di bidang pertanian, seperti pembelian pupuk, alsintan dan benih.Pengertian modal bisa dibedakan berdasarkan beberapa pendekatan, sepertimodal berdasarkan hak milik, berdasarkan arah pemakaian, berdasarkan tujuan pemakaian modal dan berdasarkan sumber modal (Kadarsan, 1992).

Modal merupakan syarat mutlak dalam memulai suatu usaha. Di dalam usahatani, tanah, sumberdaya alam dan juga tenaga kerja merupakan fator produksi asli, sedangkan modal dan peralatan merupakan subtitusi dari faktor produksi tanah, SDA dan juga tenaga kerja (Suratiyah, 2009). Lanjut dijelaskan Suratiyah bahwa modal dan peralatan dapat memberikan manfaat yang lebih baik lagi pada faktor produksi tanah dan tenaga kerja dan dengan modal dan peralatan maka penggunaan tanah dan tenaga kerja juga dapat dihemat. Oleh sebab itu, modal dapat dibagi menjadi dua, yaitu land saving capitaldan labour saving capital. Menurut Suratiyah (2009), modal dapat dikelompokkan berdasarkan sifat, kegunaan, waktu dan fungsi. Menurut sifatnya misalnya dalam penggunaan lahan dan tenaga kerja, dengan berniat untuk menghemat tenaga kerja dan lahan yang diusahakan, ada juga justru meyerap tenaga kerja lebih banyak jika menggunakan teknologi kimiawi. Dilihat

7

(30)

14

dari kegunaannya, modal dibagi menjadi dua yaitu modal aktif dan modal pasif. Modal yang secara langsung maupun tidak langsung dapat meningkatkan produksi, sedangkan modal pasif merupakan modal yang digunakan hanya untuk sekedar mempertahankan produk, misalnya dalam penanganan pengemasan atau packing terkait dengan penggunaan bungkus. Berdasarkan waktu, modal dibagi menjadi dua yaitu modal produktif dan modal prospektif. Modal dapat dikatakan produktif jika dapat meningkatkan produksi seperti dalam penggunaan pupuk, sedangkan modal prospektif merupakan jika modal tersebut dapat meningkatkan produksi tetapi baru dirasakan pada jangka waktu yang lama, seperti investasi. Dan yang terakhir yaitu modal dilihat berdasarkan fungsi, dapat dibagi menjadi modal tetap dan modal tidak tetap atau modal lancar. Modal tetap adalah modal yang dapat digunakan berkali-kali dalam proses produksi, sedangkan modal lancar atau modal tidak tetap adalah modal yang hanya dapat digunakan dalam satu kali proses produksi saja (misalnya pupuk dan bibit unggul untuk tanaman semusim).

Didalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2013 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani menyebutkan bahwa pembiayaan dan pendanaan untuk kegiatan perlindungan dan pemberdayaan petani dilakukan oleh Pemerintah bersumber dari anggaran pendapatan dan belanja Negara. Pembiayaan merupakan penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak yang di biayai untuk mengembalikan uang atau tagihan tersebut setelah jangka waktu tertentu dengan imbalan atau bagi hasil. Pembiayaan dapat dilakukan oleh suatu lembaga keuangan, baik bank maupun lembaga keuangan bukan bank.Pembiayaan tersebut ditujukan untuk tujuan produksi, distribusi, atau konsumsi barang dan jasa. Pada permodalan untuk pertanian, lembaga keuangan baik bank maupun non bank menyalurkan dana atau memberikan pembiayaan kepada peminjam bertujuan dalam kegiatan produksi (usahatani). Salah satu sumber pembiayaan nonperbankan yang telah berkembang yaitu penguatan modal terhadap usaha kecil melalui peminjaman dana atau bantuan sosial yang dilakukan oleh pemerintah seperti yang dilakukan oleh Kementerian Pertanian. Bantuan yang dimaksudkan untuk pembiayaan agribisnis selalu dikembangkan oleh pemerintah sebagai suatu solusi dari permasalahan utama yang ditemui oleh para kelompok atau individu yang ingin memulai suatu usaha.

Pembentukan modal oleh para petani di pedesaan dilakukan dengan cara menabung yaitu menyisihkan sebagian dari pendapatannya untuk keperluan dikala mereka ingin kembali berproduksi. Menurut Hanafie (2010) dalam bukunya yang berjudul Pengantar Ekonomi Pertanian menyatakan bahwa “sehubungan dengan

kepemilikan modal, petani diklasifikasikan sebagai petani besar, kaya, cakupan dan komersial, serta petani kecil, miskin, tidak cukupan, dan tidak komersial”. Modal dalam bentuk uang lebih dibutuhkan oleh petani dalam untuk membeli sarana produksi pertanian, misalnya bibit dan pupuk yang memungkinkan petani melakukan proses produksi yang selanjutnya mendapatkan uang tunai dari hasil penjualan yang dapat digunakan kembali sebagai modal untuk melakukan proses produksi.

(31)

15 (KKP-E), Kredit Pembangunan Energi Nabati dan Revitalisasi Perkebunan (KPEN-RP) dan Kredit Usaha Rakyat (KUR). Setelah semua program tersebut berjalan dan selalu direview setelah maupun pada saat pelaksanaan, maka dibuatlah program baru yang bertujuan untuk menyempurnakan program sebelumnya, antara lain BLM-PUAP dan Bantuan Sosial melalui LM3 salah satunya dilakukan pada lembaga pendidikan islam (pondok pesantren).

Konsep Usahatani

Menurut Soekartawi dalam Manurung 2009, Ilmu usahatani dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari bagaimana seseorang dapat mengalokasikan sumberdaya yang ada secara efektif dan efisien untuk tujuan memperoleh keuntungan yang tinggi pada periode tertentu. Sedangkan ada beberapa orang menganggap jika seseorang menggarap atau membuka tanah dan menanaminya dengan satu atau beberapa jenis tanaman, memelihara tanaman itu dan kemudian menghasilkan apa yang telah ditanaminya itu, sudah merupakan hal yang bisa dikatakan sebagai usahatani (Adiwilaga, 1982). Lebih lanjut Adiwilaga menjelaskan bahwa, usahatani tidak hanya dapat diartikan dengan sesederhana itubanyak syarat yang dimasukkan untuk menamakan suatu usaha dibidang pertanian itu dapat dikatakan sebagai usahatani.Usahatani dewasa ini dapat diartikan sebagai kegiatan manusia mengusahakan tanah dengan maksud untuk memperoleh hasil tanaman ataupun hasil hewan, tanpa mengakibatkan berkurangnya kemampuan tanah yang bersangkutan untuk mendatangkan hasil selanjutnya.

Menurut Kadarsan (1992) usahatani adalah suatu tempat dimana seseorang atau sekumpulan orang berusaha mengelola unsur-unsur produksi, seperti alam, tenaga kerja, modal dan keterampilan, dengan tujuan berproduksi untuk menghasilkan sesuatu di lapangan pertanian.Usahatani merupakan salah satu bentuk usaha disubsektor tanaman pangan yang dapat membantu memenuhi kebutuhan pangan. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2013, Usahatani adalah kegiatan dalam bidang pertanian, mulai dari sarana produksi, produksi/budi daya, penanganan pasca panen, pengolahan, pemasaran hasil, dan/atau jasa penunjang. Mubyarto dalam Sagala (2010) menjelaskan bahwa usahatani merupakan himpunan dari sumber-sumber alam yang terdapat di suatu tempat yang diperlukan untuk produksi pertanian.Dalam melaksanakan usahataninya, petani bertujuan untuk memenuhi kebutuhan keluarga baik atau tanpa peredaran uang, maka usahatani itu disebut Subsintence Farm atau hanya untuk mencukupi kebutuhan keluarga.Sedangkan apabila usahatani yang dilakukan karena adanya motivasi yang mendorongnya untuk mencari keuntungan disebut Commercial Farm

atau usahatani komersial.

Dalam program pemberian dana yang dilakukan oleh pemerintah ini merupakan sumber dana untuk melaksanakan usahatani. Program ini memberikan dua hal inti yang dapat mengembangkan usaha agrinisnis, meliputi pemberian dana untuk usahatani dan pembinaan serta pendampingan kepada pengelola lembaga atau pondok pesantren. Dalam tujuannya, pemberian dana usahatani akan mempengaruhi pembelian dan pemakaian input, input tersebut meliputi bibit, pupuk dan obat-obatan. Usahatani sangat berkaitan dengan penggunaan input dan output

(32)

16

usahatani dilihat dari jumlah produksi yang dihasilkan.Jumlah produksi yang dihasilkan dari usahatani terdiri dari faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal meliputi penggunaan input, teknik bercocok tanam dan teknologi, sedangkan faktor eksternal terdiri dari, cuaca dan hama penyakit. Lebih lanjut Hernanto dalam Sagala (2010) mengatakan bahwa dalam usahatani ada empat unsur pokok penting yang mempengaruhi produksi. Faktor-faktor tersebut dering disebut faktor produksi, antara lain:

a. Tanah

Tanah dalam konteks usahatani dapat berupa tanah pekarangan, tegalan ataupun sawah. Tanah tersebut dapat diperoleh dengan cara membuka lahan sendiri, membeli, menyewa, bagi hasil atau menyakap, pemberian negara, warisan maupun wakaf. Penggunaan tanah dapat dibedakan menjadi pengusahaan secara monokultur, polikultur maupun tumpangsari.

b. Tenaga Kerja

Dalam usahatani, tenaga kerja itu adalah tenaga yang dilakukan oleh manusia.Tenaga kerja manusia dibedakan menjadi tenaga kerja pria, wanita dan anak-anak dimana tenaga kerja tersebut dipengaruhi oleh umur, tingkat pendidikan, keterampilan, pengalaman dan sebagainya. Dalam teknis baku terdapat perhitungan yang digunakan untuk mengkonversi tenaga kerja tersebut dengan cara membandingkan tenaga kerja pria sebagai ukuran baku.

c. Modal

Modal dalam usahatani digunakan untuk membeli sarana produksi dan membiayai pengeluaran selama kegiatan usahatani berlangsung.Sumber modal dapat diperoleh dari milik sendiri, pinjaman atau kredit baik pinjaman dari lembaga keuangan formal maupun non formal, warisan atau dapat berupa kontrak sewa.

d. Manajemen

Manajemen dalam usahatani merupakan kemampuan petani untuk menentukan, mengorganisir dan mengkoordinasi faktor-faktor produksi yang dikuasai dengan sebaik-baiknya demi mampu menghasilkan produksi pertanian yang diinginkan. Lebih lanjut dikatakan bahwa, di dalam usahatani perlu memeahami prinsip teknik yang meliputi (1) perilaku cabang yang diputuskan; (b) perkembangan teknologi; (c) daya dukung faktor cara yang dikuasai. Setelah memahami tentang prinsip teknis yang akan dilakukan, maka selanjutnya juga perlu memahami prinsip ekonomis, antara lain (1) penentuan perkembangan harga, (2) kombinasi cabang usaha, (3) tataniaga hasil, (4) pembiayaan usahatani, (5) pengalokasian modal dan pendapatan serta (6) tolak ukur keberhasilan yang lazim.

Pendapatan Usahatani

(33)

17 yaitu total nilai produk yang dihasilkan yang diperoleh dari hasil perkalian antara jumlah output yang dihasilkan dengan harga produk tersebut. Pada penelitian ini bantuan dana dari program pengembangan usaha agribisnis LM3, merupakan bagian dari pinjaman tunai yang diterima usahatani.

Di dalam Program Pemberdayaan dan Pengembangan Usaha Agribisnis LM3 terdapat dua kegiatan yang akan dilakukan, antara lain pemberian dana untuk usahatani dan pembinaan serta pendampingan. Dana untuk usahatani akan digunakan di dalam penggunaan input yaitu pembelian bibit, pupuk dan obat-obatan. Penggunaan input tersebut akan menghasilkan produksi dengan jumlah tertentu didalam satu periode. Sedangkan pemberian pembinaan dan pendampingan akan dilakukan oleh tim teknis di lapangan yaitu oleh instansi terkait atau Dinas Tanaman Pangan setempat. Pemberian pembinaan dan pendampingan bertujuan untuk memberikan bekal ilmu dan keterampilan mengenai teknik budidaya padi, kewirausahaan dan manajemen usaha. Pemberian pembinaan, penyuluhan dan pendampingan tersebut akan menghasilkan suatu sikap dan mempengaruhi hasil produksi tetapi dealam bentuk nilai atau harga, baik itu harga input maupun harga

output. Produksi yang dihasilkan dari penggunaan input dan produksi yang berasal dari adanya harga output akan menghasilkan suatu pendapatan usahatani.

Penerimaan usahatani merupakan suatu hasil produksi yang dinyatakan dalam jumlah uang yang diperoleh dari perkalian antara output produksi dengan harga jual per satu satuan output (Soekartawi et. al, 1986). Ada penerimaan ada juga pengeluaran usahatani, pengeluaran usahatani yaitu biaya atau nilai yang digunakan untuk menghasilkan produk dalam periode tertentu. Biaya dapat dibedakan berdasarkan jumlah outputyang dihasilkan dan berdasarkan cara pengeluaran. Berdasarkan jumlah output yang dihasilkan, biaya dibedakan menjadi biaya tetap dan biaya variabel. Biaya tetap adalah biaya yang besar kecilnya tidak tergantung pada besar kecilnya produksi, misalnya pajak tanah, sewa tanah dan penyusutan alat-alat bangunan pertanian yang dihasilkan.Sedangkan biaya variabel merupakan biaya yang berhubungan langsung dengan jumlah produksi seperti pengeluaran untuk bibit, pupuk, obat-obatan dan biaya tenaga kerja atau upah (Musyarofah, 2013). Berdasarkan cara pengeluarannya, biaya dapat dibedakan menjadi biaya tunai dan tidak tunai (biaya diperhitungkan). Biaya tunai adalah biaya tetap dan variabel yang dibayarkan secara langsung, sedangkan biaya tidak tunai adalah biaya yang diperhitungkan untuk mengetahui pengeluaran secara total yang dikeluarkan usahatani. Contoh dari biaya tidak tunai (diperhitungkan) adalah biaya tenaga kerja keluarga yang menjadi bagian keluarga yang tidak dibayar atau tidak mendapatkan upah dan biaya penyusutan. Di dalam penelitian ini, baik santri, buruh tani yang menjadi bagian keluarga semuanya mendapatkan upah alis dibayar oleh unit usaha LM3 Attuhamah, maka biaya tunai (biaya yang diperhitungkan) tidak ada dilihat dari komponen biaya tenaga kerja, hanya ada pada biaya penyusutan saja.

(34)

18

Sebaliknya, jika efisiensi ekonomi menunjukkan nilai kurang dari satu atau jika pendapatan bersih lebih kecil dari biaya total usahatani, maka usahatani dapat dikatakan tidak layak untuk dijalankan atau dikembangkan (Ariadi dan Relawati, 2011).

Selain tingkat efisiensi dan ukuran penampilan usahatani melalui arus uang tunai, ukuran pendapatan yang memperlihatkan nilai barang maupun nilai aset usahatani juga salah satu ukuran penampilan usahatani yang penting karena menceritakan keadaan seluruhnya.Analisis usahatani mengukur penampilan usahatani sebagai suatu sistem, maka sebagai dasar untuk menilai produk yang tidak berbentuk uang tunai biasanya dipakai harga jual bersih (Soekartawi, 1986).Ukuran pendapatan dan keuntungan tersebut, meliputi pendapatan kotor usahatani (gross farm income) atau bisa juga disebut dengan penerimaan kotor (gross return).Pendapatan kotor yaitu nilai produk total usahatani dalam jangka waktu tertentu, baik dijual maupun tidak dan salah satu peningkatan nilai inventaris. Pendapatan kotor usahatani mencakup semua produk yang (1) dijual, (2) dikonsumsi rumah tangga, (3) digunakan dalam usahatani untuk bibit atau makanan ternak, (4) digunakan untuk pembayaran dan juga (6) disimpan atau ada di gudang pada akhir tahun. Pengeluaran total usahatani (total farm expenses) merupakan nilai semua masukan yang habis digunakan atau dikeluarkan di dalam produksi tetapi tidak termasuk tenaga kerja keluarga petani. Pendapatan bersih usahatani (net farm income) adalah ukuran yang diperoleh keluarga petani dari penggunaan faktor produksi kerja, modal (sendiri & pinjaman), pengelolaan.Penghasilan bersih usahatani (net farm earnings) adalah ukuran imbalan kepada sumber daya milik keluarga yang dipakai dalam usahatani.

Lebih lanjut Soekartawi menjelaskan di dalam bukunya bahwa dalam usahatani semi-komersial, imbalan kepada modal merupakan tolak ukur yang baik untuk penampilan usahatani. Apabila sebagian modal diperoleh dari pinjaman, maka ada dua ukuran yang digunakan yaitu return to capital atau imbalan kepada seluruh modal dan return to farm equity capital atau imbalan kepada modal petani. Dalam penelitian ini, return to capital adalah perhitungan yang tepat dalam melihat imbalan kepada modalnya karena di dalam program Pengembangan Usaha Agribisnis LM3 ini tidak menggunakan modal dari petani. Return to capital dapat dihitung dengan mengurangkan nilai kerja keluarga dari pendapatan bersih usahatani dimana kerja keluarga dinilai menurut tingkat upah yang berlaku. Hasilnya biasa dinyatakan dalam persen terhadap nilai seluruh modal.Tetapi ukuran ini kurang tepat dan jarang dipakai dalam usahatani subsisten. Hal ini disebabkan penilaian tenaga kerja keluarga yang tidak dibayar sangat susah. Selanjutnya, imbalan kepada tenaga kerja keluarga (return to family labour) dapat dihitung dari penghasilan bersih usahatani dengan mengurangkan bunga modal petani yang diperhitungkan.

Kerangka Pemikiran Operasional

(35)

19 pembangunan pertanian sulit untuk diwujudkan.Usahatani identik dengan pedesaan dan pedesaan identik dengan kemiskinan, maka dari itu keharusan adanya penguatan modal dan pembiayaan sebagai bagian dari strategi peningkatan manajemen dalam mewujudkan keberhasilan pembangunan tanaman pangan.Jumlah hasil produksi padi di Jawa Barat dapat dikatakan sebagai penyumbang terbesar di Indonesia.

Kementerian pertanian melalui Direktorat Jenderal Tanaman Pangan melakukan upaya untuk berpartisipasi mewujudkan keberhasilan pembangunan tanaman pangan dengan program pemberdayaan dan pengembangan usaha agribisnis khususnya dibidang tanaman pangan dengan memfokuskan lembaga mandiri yang mengakar di masyarakat seperti pondok pesantren yang menjadi sasaran pemberian bantuan modal. Lembaga tersebut dipilih karena pemerintah ingin mendukung dan mendorong partisipasi kelembagaan masyarakat yang berbasis keagamaan ini untuk ikut mewujudkan pembangunan pertanian khususnya di lingkungan mereka yang sebagian besar berada di pedesaan yang erat sekali dengan kemiskinan. Diharapkan dengan adanya program bantuan modal ini, warga pondok pesantren khusunya dan masyarakat lingkungan pondok pesantren umumnya dapat mendapatkan penghidupan yang lebih baik dan lebih layak.

Salah satu kelembagaan yang mempunyai potensi untuk menjadi fondasi pemenuhan kebutuhan pangan di masyarakat khususnya di pedesaan adalah Lembaga Mandiri yang Mengakar di Masyarakat (LM3). Lembaga pendidikan yang berfokus di bidang keagamaan islam ini mempunyai potensi berupa sosok pimpinan yang kharismatik yang dapat menjadi panutan masyarakat sekitar sehingga apabila diberikan fasilitasi pengembangan usaha agribisnis tanaman pangan akan menjadi suatu dorongan masyarakat sekitar untuk turut serta mengambangkan usaha agribisnis tanaman pangan yang secara tidak langsung akan memberikan kontribusi ketahanan pangan di masyarakat.

Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa bantuan sosial untuk LM3 ini dikategorikan sebagai bansos yang menggunakan anggaran belanja pada APBN yang tertulis di PMK Nomor 81/PMK.05/2012 tentang Belanja Bantuan Sosial Pada Kementerian Negara/Lembaga. Kemudian bantuan sosial untuk LM3 dikategorikan dalam bansos dengan tujuan penggunaan pemberdayaan sosial maka bansos ini diberikan dalam bentuk transfer uang. Anggaran bantuan sosial untuk LM3 ini merupakan bagian dari anggaran APBN melalui Kementerian Pertanian yang dikelola oleh Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. Untuk penentuan dan pertimbangan pemilihan LM3 atau pondok pesantren yang akan didanai oleh pemerintah, diperlukan peran dinas pertanian yang menangani tanaman pangan setempat yang selanjutnya mereka juga akan melakukan pembinaan dan penyuluhan secara menyeluruh.

(36)

20

lembaga, paling banyak dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Dan yang akam menjadi sampel penelitian adalah Unit Usaha LM3 Pondok Pesantren Attuhamah.

Gambar 2 Kerangka Pemikiran Operasional

METODE

Lokasi dan Waktu

Pemilihan lokasi penelitian dilaksanakan dengan studi kasus pada Pondok Pesantren yang mengikuti Program Pengembangan Usaha Agribisnis LM3 di sub sektor tanaman pangan yang berlokasi di Kabupaten Cianjur.Lokasi penelitian ditentukan secara sengaja dengan pertimbangan bahwa Kabupaten Cianjur merupakan salah satu sentra produksi padi di Jawa Barat. Jumlah penerima bantuan cukup banyak dibandingkan dengan kabupaten lainnya yang ada di Jawa Barat untuk sub sektor tanaman pangan khususnya budidaya padi. Waktu pengambilan

Usahatani Padi yang dikelola oleh LM3 di Cianjur menghadapi keterbatasan modal.

Penguatan modal melalui program Pengembangan Usaha Agribisnis LM3

Penggunaan Input Usahatani Padi (Bibit, alsintan, pupuk, obat, dan lain-lain)

Harga Input

Penerimaan Usahatani Produksi

Biaya Usahatani

Pendapatan Usahatani

Keberadaan Lembaga Mandiri yang Mengakar di Masyarakat ikut turut serta mendukung mewujudkan keberhasilan

(37)

21 data dilakukan bulan Juli dan Oktober 2014. Alokasi waktu ditetapkan berdasarkan pada pertimbangan waktu. Namun demikian, diharapkan penelitian ini tetap dapat memberikan gambaran yang baik dan representatif dari Program Pemberdayaan dan Pengembangan Usaha Agribisnis LM3.

Jenis dan Sumber Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder baik yang bersifat kualitatif maupun kuantitatif.Data primer diperoleh melalui wawancara dan pengisian kuesioner kepada responden serta pengamatan langsung di lapangan. Data-data sekunder diperoleh dari dinas atau instansi terkait seperti Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Cianjur, Balai Penyuluh Pertanian Kabupaten Cianjur, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Pusat, Perpustakaan IPB, internet serta berbagai literatur yang terkait dengan penelitian.

Metode Pengumpulan Data

Pada penelitian ini digunakan beberapa metode yang berguna untuk pengumpulan data, antara lain metode wawancara langsung terhadap pihak-pihak terkait. Metode wawancara langsung bertujuan untuk memperoleh secara tertulis informasi dari responden yang sesuai dengan tujuan penelitian, dengan cara melakukan tanya jawab langsung antara peneliti dengan responden maupun pihak terkait untuk mencari informasi terkait data yang belum terjawab di kuesioner. Wawancara biasanya terkait dengan perolehan data primer. Data yang digunakan merupakan data dari 2 musim tanam, yakni musim tanam sebelum mendapatkan bantuan dana yaitu Bulan Agustus-November 2013 dan musim tanam setelah mendapatkan bantuan dana dari Program Pengembangan dan Pemberdayaan Usaha Agribisnis LM3 yakni Bulan Desember 2013-April 2014.

Pengolahan data sekunder akan diperoleh dengan mengumpulkan berbagai literatur yang terkait dengan penelitian, seperti laporan-laporan hasil penelitian terdahulu, artikel dari berbagai surat kabar maupun hasil survey yang dilakukan oleh peneliti sebelumnya. Metode ini sering disebut juga Desk Study. Selain Desk Study, pengamatan langsung (observasi) juga digunakan sebagai pelengkap untuk mengetahui kondisi dan situasi pada lokasi penelitian.

Metode Analisis Data

(38)

22

Pondok Pesantren, melihat adanya perubahan tingkat pendapatan sebelum dan sesudah adanya program tersebut.

Analisis Pendapatan Usahatani

Pengaruh program Pemberdayaan dan Pengembangan Usaha Agribisnis LM3 dapat terlihat dengan membandingkan pendapatan pondok pesantren dari usaha agribisnis yang sedang dibudidayakan sebelum mengikuti program dengan pendapatan setelah pondok pesantren mendapatkan bantuan tersebut.Analisis pendapatan usahatani untuk budidaya padi dilakukan dalam satu periode masa tanam.Periode yang diambil untuk penelitian adalah tahun 2010, karena pada tahun tersebut banyak ponpes yang menerima bantuan sosial LM3 ini. Dan di tahun yang sama hasil produksi yang dihasilkan tanaman padi mengalami peningkatan, oleh sebab itu dengan adanya program ini akan dilihat korelasinya terhadap pertumbuhan produksi tanaman padi yang ada di Kabupaten Cianjur. Analisis ini terdiri dari penerimaan, biaya, pendapatan dan efisiensi.

Penerimaan total usahatani merupakan nilai produk dari usahatani yakni hasil kali jumlah produksi total (kg) dengan harga jual per satuan (Rp) pada periode tertentu yang dirumuskan sebagai berikut:

TR = P x Q Keterangan:

TR = Total Penerimaan P = Harga Produk (Rp)

Q = Jumlah total produksi yang dihasilkan (kg)

Biaya usahatani adalah penjumlahan biaya secara keseluruhan yang dikeluarkan dalam kegiatan usahatani baik biaya tunai maupun non tunai (biaya yang diperhitungkan). Komponen biaya usaha tani dalam penelitian ini, antara lain pembelian benih, pupuk, obat-obatan dan tenaga kerja mesin. Adapun rumus dari total biaya usahatani adalah:

TC = C + NC Keterangan:

TC = Total Biaya Usahatani C = Biaya tunai (cash)

NC = Biaya diperhitungkan (non cash)

Pendapatan usahatani dibedakan menjadi dua yaitu perhitungan pendapatan atas biaya tunai dan pendapatan atas biaya total. Pendapatan atas biaya tunai diperoleh dari hasil pengurangan total penerimaan dengan biaya tunai usahatani, sedangkan perhitungan pendapatan atas biaya total yaitu selisih antara total penerimaan dan biaya total usahatani. Perhitungan pendapatan tunai dan pendapatan total adalah sebagai berikut:

Perhitungan pendapatan tunai:

(39)

23 Perhitungan pendapatan total:

YT = TR – TC Keterangan:

Y = Pendapatan Tunai Usahatani TR = Total Penerimaan

C = Biaya Tunai Usahatani YT = Pendapatan Tunai Usahatani TC = Total Biaya Usahatani

Pendapatan selain diukur dengan nilai mutlak juga dapat diukur dengan analisis efisiensi.Analisis yang digunakan untuk menilai tingkat efisiensi usahatani adalah analisis R/C ratio. Analisis R/C ratiomerupakan perbandingan antara total penerimaan dan biaya yang dikeluarkan dalam satu kali proses produksi dalam usahatani. Dalam penelitian ini, analisis terdiri dari R/C atas biaya tunai dan R/C atas biaya total. R/C ratio atas biaya tunai dihitung dengan membandingkan antara penerimaan total dengan biaya tunai dalam satu periode tertentu, sedangkan R/C

ratio atas biaya total dihitung dengan membandingkan antara penerimaan total dengan biaya total usahatani dalam satu periode tertentu. Adapun rumusnya sebagai berikut:

R/C atas Biaya Tunai =

R/C atas Biaya Total =

Secara teori R/C menunjukkan bahwa tiap satu rupiah biaya yang dikeluarkan akan memperoleh penerimaan sebesar nilai R/C-nya. Suatu usaha dapat dikatakan menguntungkan apabila nilai R/C ratio lebih besar dari satu (R/C > 1), namun apabila nilai R/C ratio lebih kecil dari satu (R/C < 1) maka usaha tersebut tidak menguntungkan dan dapat dikatakan usaha tersebut tidak layak diusahakan. Setiap usaha dapat dikatakan ekonomis dengan usaha yang lainnya jika rasio output yang dihasilkan terhadap input yang digunakan lebih menguntungkan.

GAMBARAN UMUM

Gambar

Tabel 1Rata-rata konsumsi kalori (KKal) per kapita sehari menurut kelompok makanan tahun 2009-2013
Tabel 2 Konsumsi rata-rata per kapita beberapa bahan makanan di Indonesia tahun 2009-2013
Tabel 3.Perbandingan Jumlah Produksi Komoditi Tanaman Pangan  Tahun 2013
Gambar 1Pertumbuhan produksi padi menurut kabupaten tahun 2009-2013.
+7

Referensi

Dokumen terkait

YUKI BASTANTA (080309040) dengan judul DAMPAK PROGRAM PENGEMBANGAN USAHA AGRIBISNIS PEDESAAN (PUAP) TERHADAP KINERJA DAN PENDAPATAN USAHA TANI ANGGOTA KELOMPOK TANI (Kasus:

Secara operasional penelitian dimaksudkan untuk mengetahui &#34;Analisis Peranan Pemberdayaan Program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (BLM-PUAP) terhadap Tingkat

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa pemberdayaan alumni dalam pengembangan mutu pondok pesantren di Pondok Pesantren Fathul ‘Ulum Kwagean Pare dan Pondok

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, pemerintah memberikan solusi dengan meluncurkan suatu program yang dinamakan Program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan

Jumlah produksi yang dihasilkan pegrajin tersebut mempengaruhi jumlah pendapatan yang dihasilkan sebagai upaya pengembangan usaha yang dilakukan Pengaruh variabel jumlah modal terhadap

Peran pemberdayaan ekonomi pesantren yang sedang dilakukan melalui unit-unit usaha pesantren tentunya sejalan dengan keinginan dari santri dan masyarakat sekitar bahwa keberadaan pondok

PENGARUH PENDAPATAN NASABAH TERHADAP PEMBIAYAAN USAHA MIKRO KECIL MENENGAH PADA LEMBAGA KEUANGAN SYARI’AH BANK WAKAF MIKRO DI PONDOK PESANTREN MAWARIDUSSALAM SKRIPSI Program

I PENGARUH PENDAPATAN NASABAH TERHADAP PEMBIAYAAN USAHA MIKRO KECIL MENENGAH PADA LEMBAGA KEUANGAN SYARI’AH BANK WAKAF MIKRO DI PONDOK PESANTREN MAWARIDUSSALAM Anjari Novianta Br