Pengaruh Penggunaan Strategi Problem Based Learning terhadap
Hasil Belajar Siswa MTs. Al-Ulum Medan
Rahmi Ramadhani
Prodi. Pendidikan Matematika PPs. Universitas Negeri Medan Email: [email protected]
Abstrak
Strategi problem based learning adalah suatu strategi pembelajaran yang mengajak siswa untuk belajar dari permasalahan yang ada khususnya yang dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penggunaan strategi problem based learning, mengetahui hasil belajar siswa dengan menggunakan strategi pembelajaran problem based learning, serta mengetahui ada atau tidaknya pengaruh strategi pembelajaran problem based learning terhadap hasil belajar siswa.
Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif, dengan jenis penelitian eksperimen semu. Populasinya adalah seluruh siswa kelas VIII yang berjumlah 3 kelas, sedangkan sampel adalah 2 kelas. Instrumen tes yang digunakan untuk mengetahui hasil belajar siswa adalah tes hasil belajar siswa dan angket.
Dalam penelitian ini skor rata-rata siswa kelompok eksperimen adalah 7,125 dengan standard deviasi 1,159 dan skor rata-rata siswa kelompok kontrol 6,0375 dengan standard deviasi 0,983. Dari hasil perhitungan didapat harga thitung = 4,53 dan
ttabel = 1,991 berarti thitung ¿ ttabel maka hipotesis diterima. Sedangkan dari data
angket mengenai respon siswa didapat bahwa yang menjawab setuju untuk penggunaan strategi problem based learning sebanyak 60% sedangkan yang menjawab setuju untuk penggunaan strategi konvensional sebanyak 37,5%. Dengan perkataan lain data menunjukkan bahwa strategi problem based learning mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap hasil belajar siswa di MTs. Al-Ulum Medan.
Kata kunci: Problem Based Learning, Hasil Belajar
Abstract
Strategy of problem based learning is a learning strategy that invites students to learn from existing problems especially encountered in everyday life. This research aims to know the use of strategies of problem based learning, knowing the results of student learning by using learning problem based learning strategies, as well as knowing or no influence learning problem based learning strategies on student learning outcomes.
In this study an average score of experimental group students was 7,125 with standard deviation was 1,159 and an average score of students in the control group was 6,0375 with standard deviation was 0,983. From the results of the calculation obtained tvalue = 4.53 and ttable = 1,991, so that, we find tvalue > ttable
means then the hypothesis is accepted.
While the data from the response of students obtained the answer that agrees to the use of problem based learning strategies as much as 60% whereas the answer agreed to the use of conventional strategies as much as 37.5%. In other words the data shows that the strategy of problem based learning has a positive and significant impact on student learning outcomes in MTS. Al-Ulum Medan.
Key words: PBL, student learning outcomes Latar Belakang Masalah
Menurut Erman (dalam Tugiman, 2013 : 1), matematika sebagai salah satu mata pelajaran yang merupakan ilmu dasar (basic science) mempunyai peran yang penting dan bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Materi pelajarn matematika yang diajarkan di sekolah berperan dalam melatih siswa berpikir logis, kritis dan praktis, serta bersikap positif dan berjiwa kreatif. Karena pentingnya peranan matematika dalam kehidupan, maka dalam kurikulum pendidikan di Indonesia, matematika diajarkan disemua jenjang pendidikan dari Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA). Pelajaran matematika menempati urutan pertama dalam jumlah jam pelajaran, hal ini menunjukkan pentingnya pelajaran matematika bagi para siswa di berbagai jenjang pendidikan (Soepriyanto dalam Tugiman, 2013: 2).
Tujuan pertama pembelajaran matematika (Depdiknas, dalam Nizarwati 2009: 57) adalah agar siswa dapat memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep dan mengaplikasikam konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien dan tepat. Sejalan dengan tujuan di atas, siswa diharapkan dapat mengaplikasikan konsep matematika yang telah mereka dapatkan dalam menghadapi masalah-masalah matematika yang disajikan.
permasalahan sehari-hari yang disajikan. Selain permasalahan di atas, peneliti juga menemukan permasalahan lain di lapangan. Peneliti melakukan pengamatan terhadap siswa kelas VIII MTs. Al-Ulum Medan, dan dari hasil wawancara dengan guru bahwa setiap hasil ulangan kompetensi dasar, para siswa masih mengalami kesulitan dalam memahami soal-soal berbentuk masalah realistik dan open ended serta kesulitan dalam menyelesaikan permasalahan yang disajikan sesuai dengan konsep yang telah diajarkan. Kurangnya pengaplikasian konsep matematis berdampak pada hasil belajar siswa yang diperoleh kurang memuaskan. Kelemahan siswa dalam mengaplikasikan konsep matematis dalam permasalahan yang disajikan dikarenakan para siswa cenderung pasif dalam mengikuti proses pembelajaran matematika di dalam kelas. Mereka cenderung merasa takut dan cemas saat mengemukakan pendapatnya, bahkan para siswa takut untuk bertanya mengenai hal yang kurang ia pahami. Selain itu, guru juga selalu menerapkan pembelajaran yang masih bersifat konvensional. Sehingga, siswa tidak mendapatkan pengelaman belajar yang mengembangkan kemampuan pengaplikasian konsep ke dalam permasalahan yang nyata. Guru hanya memamaprkan konsep-konsep dasar matematika dalam bentuk abstrak, sehingga siswa mengalami kesulitan dalam memahami konsep tersebut dan mengaitkannya dalam permasalahan di kehidupan sehari-hari. Berikut salah satu solusi permasalahan yang diberikan siswa, saat disajikan permasalahan dalam kehidupan sehari-hari.
Soal:
Sebuah tangga yang panjangnya 6 m bersandar pada sebuah tiang listrik. Jarak
ujung bawah tangga terhadap tiang listrik adalah 3 m. Tinggi tiang listrik yang
Gambar 1
Solusi Jawaban Siswa 1
Gambar 2
Solusi Jawaban Siswa 2
Dari solusi siswa di atas, dapat kita tarik kesimpulan bahwa siswa mengalami kesulitan menerapkan konsep yang ia dapat ke dalam solusi permasalahan. Selain itu, siswa yang lain mengalami kesulitan yakni ketidakpahaman siswa akan soal yang disajikan.
Lemahnya strategi pembelajaran yang dilakukan oleh para guru membuat kemampuan matematis siswa dalam menyelesaikan permasalahan yang berkaitan dengan kontekstual juga mengalami kemunduran.
tertuju pada pemberian informasi pelatihan simbol-simbol matematika dan latihan penerapan algoritma matematika (Tim PLPG UNIMED: 7)
Menurut Feiter dan Van der Akker dalam Tim PLPG UNIMED (Tim PLPG UNIMED: 7) menyatakan, guru sangat bergantung pada metode kuliah, siswa yang pasif, jawaban yang benar yang diterima, sedikit tanya jawab, dan siswa mencatat dari papan tulis.
Kedua pendapat di atas menekankan bahwa pembelajaran yang terjadi selama ini berpusat pada guru (teacher oriented), dan tidak berorientasi pada pemahaman siswa. Paradigma yang digunakan dalam pembelajaran matematika di sekolah selama ini lebih menekankan pada peranan pendidik yang mengajar dari pada peserta didik yang belajar. Pendidik belum berupaya secara maksimal memampukan peserta didik memahami berbagai konsep dan prinsip matematika serta kurang menunjukkan konsep dan prinsip tersebut dalam memecahkan masalah.
Untuk mengatasi masalah di atas, peneliti melakukan penelitian tentang strategi pembelajaran yang dapat digunakan oleh pendidik pada mata pelajaran matematika untuk mendapatkan hasil pembelajaran yang lebih baik. Dari berbagai strategi yang ada, di antaranya strategi eskpositori, strategi inkuiri, strategi contextual teaching learning, dan strategi kooperatif, peneliti mencoba menggunakan strategi problem based learning yang menuntut para siswa dapat mengaktualisasi teori pythagoras dalam kehidupan nyata.
Strategi problem based learning merupakan strategi pembelajaran dengan menghadapkan siswa pada permasalahan-permasalahan praktis sebagai pijakan dalam belajar atau dengan kata lain siswa belajar melalui permasalahan-permasalahan (Wena, 2009: 91).
Pada strategi pembelajaran berbasis masalah, kelompok-kelompok kecil peserta didik bekerja sama memecahkan suatu masalah yang telah disepakati oleh peserta didik dan pendidik. Pembelajaran dimulai dengan mengajukan permasalahan nyata yang penyelesaiannya membutuhkan kerja sama di antara peserta didik. Guru hanya berperan sebagai pemandu untuk menguraikan rencana pemecahan masalah menjadi tahap-tahap kegiatan. Pendidik memberi contoh mengenai penggunaan keterampilan dan strategi yang dibutuhkan agar tugas-tugas tersebut dapat diselesaikan dengan tuntas.
Salah satu materi yang peneliti kemukakan dalam penelitian ini adalah teorema pythagoras, yang materinya banyak berkaitan dengan kehidupan nyata. Dalam materi ini banyak simbol dan rumus pythagoras yang harus dikuasai peserta didik untuk diaplikasikan dalam memecahkan berbagai masalah dalam kehidupan sehari-hari.
Kajian Teoritis
1. Hakikat Strategi Pembelajaran
Salah satu kemampuan dan keahlian profesional utama yang harus dimiliki oleh para pendidik adalah kemampuan bidang pendidikan dan keguruan, khususnya terkait dengan strategi pembelajaran. Seorang pendidik tidak hanya dituntut untuk menguasai mata pelajaran yang akan diajarkannya, tetapi juga harus menguasai dan mampu mengajarkan pengetahuan dan keterampilan tersebut kepada para peserta didik.
Pengertian strategi pembelajaran dapat dikaji dari dua kata pembentuknya, yaitu strategi dan pembelajaran. Strategi berarti cara dan seni menggunakan sumber daya untuk mencapai tujuan tertentu. Sedangkan menurut Degeng dalam Wena (2009: 2), pembelajaran berarti upaya membelajarkan siswa. Dengan demikian strategi pembelajaran berarti cara dan seni untuk menggunakan semua sumber belajar dalam upaya membelajarkan siswa.
Kemp yang dikutip dari Sanjaya (2008: 126) berpendapat bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Strategi belajar menurut Rustam dalam Trianto (2010: 135), merupakan pola kegiatan pembelajaran berurutan yang diterapkan dari waktu ke waktu dan diarahkan untuk mencapai suatu hasil belajar siswa yang diinginkan.
Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu usaha yang dilakukan oleh pendidik dalam menyampaikan informasi tentang materi pelajaran kepada peserta didik untuk mendapatkan respon positif dalam menerima dan mengaplikasikannya pada kehidupan nyata.
Walaupun secara teoritis seorang guru telah paham tentang langkah-langkah operasional suatu strategi pembelajaran, namun belum tentu seorang guru akan mampu berhasil menerapkan strategi tersebut dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas. Keberhasilan guru menerapkan suatu strategi pembelajaran sangat tergantung dari kemampuan guru menganalisis kondisi pembelajaran yang ada, seperti tujuan pembelajaran, karakteristik siswa, kendala sumber belajar dan karakteristik bidang studi. Hasil analisis terhadap kondisi pembelajaran tersebut dapat dijadikan pijakan dasar dalam menentukan strategi pembelajaran yang akan digunakan (Wena, 2009: 14)
Untuk mengimplementasikan strategi problem based learning, guru perlu memilih bahan pelajaran yang memiliki permasalahan yang dapat dipecahkan. Permasalahan tersebut dapat diambil dari buku teks atau dari sumber lainnya seperti peristiwa yang terjadi di lingkungan tempat tinggal, sekolah dan peristiwa-peristiwa lainnya.
Savoie dan Hughes yang dikutip dalam Wena (2009: 91-92), menyatakan bahwa strategi belajar berbasis masalah memiliki beberapa karakteristik antara lain sebagai berikut:
1) Belajar dimulai dengan suatu permasalahan
2) Permasalahan yang diberikan harus berhubungan dengan dunia nyata siswa
3) Mengorganisasikan pembelajaran di seputar permasalahan, bukan di seputar disiplin ilmu
4) Memberikan tanggung jawab yang besar dalam membentuk dan menjalankan secara langsung proses belajar mereka sendiri
5) Menggunakan kelompok kecil
6) Menuntut siswa untuk mendemonstrasikan apa yang telah dipelajarinya dalam bentuk produk dan kinerja. Pembelajaran berbasis masalah (problem based learning) tidak dirancang untuk membantu guru memberikan informasi sebanyak-banyaknya kepada peserta didik. Pembelajaran berbasis masalah dikembangkan untuk membantu para peserta didik mengembangkan kemampuan intelektualnya, kemampuan berpikir, dan pemecahan masalah yang peserta didik temui dalam kehidupan sehari-hari.
Tabel 1
Sintaks Pembelajaran Berdasarkan Masalah (Wena, 2009 : 67-68)
Tahap-1
Orientasi siswa
pada masalah
Guru menjelaskan tujuan
pembelajaran, menjelaskan logistik yang dibutuhkan, mengajukan fenomena atau demonstrasi atau cerita untuk memunculkan masalah, memotivasi siswa untut
mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut. mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah. merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, melakukan refeleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan.
3. Kelebihan dan Kekurangan Strategi Problem Based
Learning
Strategi problem based learning dinilai memiliki berbagai
kelebihan dan kekurangan. Menurut Nata (2009: 250), kelebihan
dan kekurangan strategi problem based learning adalah sebagai
berikut:
(1) Dapat membuat pendidikan di sekolah menjadi
(3) Dapat merangsang pengembangan kemampuan berpikir secara kreatif dan menyeluruh, karena dalam disampaikan guru, menjadi belajar dengan cara mencari data, menganalisis, menyusun hipotesis, dan memecahkannya sendiri.
Metode Penelitian
Sesuai dengan permasalahan dan tujuan penelitian yang telah dibahas maka jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen semu (quasi eksperimental) dengan rancangan penelitian menggunakan model posttest control group design, dimana sampel dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol. Siswa pada kelas eksperimen diberikan perlakuan dengan strategi problem based learning. Sedangkan kelompok kontrol tidak diberikan perlakuan seperti halnya pada kelas eksperimen, tetapi perlakuan seperti biasanya, dalam hal ini menggunakan strategi konvensional.
Adapun bentuk rancangan yang digunakan dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 2
Rancangan Penelitian
Kelas Treatment Post Test
Kontrol - T Dengan ketentuan :
X= Perlakuan yang akan diberikan pada kelas eksperimen yaitu problem based learning
T = Test yang diberikan pada kelas kontrol dan kelas eksperimen (post test) (Syaodih, 2009: 204).
Hasil dan Pembahasan
Dari analisa data tes hasil belajar siswa (post test) di kelas eksperimen dan di kelas kontrol, diperoleh nilai rata-rata untuk kelas eksperimen adalah tersebut diperoleh bahwa nilai rata-rata tes hasil belajar siswa di kelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan tes hasil belajar siswa di kelas kontrol.
Dari data angket yang telah disebar oleh peneliti di kedua kelas yakni kelas eksperimen dan kelas kontrol setelah proses pembelajaran berakhir, didapatlah hasil sebagai berikut:
Data angket di kelas ekperimen menunjukkan bahwa yang menjawab sangat setuju (SS) sebanyak 10 orang, setuju (S) sebanyak 24 orang, kurang setuju (KS) sebanyak 6 orang, dan tidak setuju (TS) tidak ada.
Dari hasil perhitungan untuk kelas VIII-1 dengan pembelajaran yang menggunakan strategi problem based learning, diperoleh bahwa Lo=0.0558 , setelah membandingkan
harga Lo ini dengan harga Liliefors untuk N = 40 dan taraf nyata
∝=0.05 , diperoleh harga Ltabel=0,866
√
40 =0,139 . Ternyata Lo< Ltabel berarti sampel berasal dari populasi berdistribusi normal.Dari hasil perhitungan untuk kelas VIII-2 dengan pembelajaran yang tanpa menggunakan strategi problem based learning (konvensional), diperoleh bahwa Lo=−0.0422 , setelah membandingkan dengan harga Lo ini dengan harga Liliefors untuk N = 40 dan
taraf nyata ∝=0.05 , diperoleh harga Ltabel=0,866
√
40 =0,139 . Ternyata Lo< Ltabel berarti sampel berasal dari populasi berdistribusi normal.Dari hasil perhitungan untuk hasil belajar siswa dengan menggunakan strategi problem based learning dan untuk hasil siswa dengan tanpa menggunakan strategi problem based learning (konvensional) diperoleh harga Fhitung = 1,705. Setelah
membandingkan harga Fhitung dengan Ftabel diperoleh Fhitung<Ftabel(1,389<1,705)
. Hal tersebut dapat diartikan bahwa hasil belajar siswa untuk kedua kelas pada sampel dengan strategi problem based learning dan tanpa strategi problem based learning (konvensional) mempunyai varians yang sama atau dengan kata lain kedua kelas tersebut dinyatakan homogen.
yang sama, diperoleh bahwa nilai thitung = 4,53 sedang nilai ttabel untuk taraf
signifikan α = 0,05 dan derajat kebebasan 78 adalah 1,991 berarti thitung
¿ ttabel , maka nilai hipotesis nol (Ho) ditolak dan hipotesis alternatif (Ha)
diterima.
Dari data angket, didapat bahwa sebanyak 60% siswa setuju penggunaan strategi problem based learning terhadap proses pembelajaran khususnya pada materi pokok teorema pythagoras.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan dan positif pada strategi problem based learning terhadap hasil belajar siswa khususnya pada materi pokok teorema pythagoras MTs. Al-Ulum Medan.
Kesimpulan dan Saran 1. Kesimpulan
Dari hasil analisis yang dilakukan dalam penelitian ini didapat beberapa kesimpulan sebagai berikut:
kehidupan nyata. Sehingga, penggunaan strategi problem based learning membantu para siswa menganalisis dan mengaplikasikan konsep ke permasalahan kehidupan sehari-hari yang diberikan oleh guru.
2) Nilai rata-rata untuk hasil belajar siswa yang diberi perlakukan strategi problem based learning adalah
´
X1=7,125 dengan varians S1 2
=1,343 dan standar deviasi S1=1,159 sedangkan hasil belajar siswa yang tidak diberi perlakukan strategi problem based learning (konvensional)
diperoleh nilai rata-rata X´2=6,0375 dengan varians S2 2
=0,967 dan standar deviasi S2=0,983 . Dari data tersebut dapat diketahui bahwa hasil belajar siswa dengan mendapatkan strategi problem based learning lebih tinggi dari pada hasil belajar siswa tanpa mendapatkan strategi problem based learning.
3) Berdasarkan uji statistik dapat diketahui bahwa penggunaan strategi problem based learning dalam proses pembelajaran mempunyai pengaruh yang positif. Hal itu terlihat dari data angket siswa yang menunjukkan hasil bahwa 60% siswa setuju penggunaan strategi problem based learning membantu meraka dalam proses pembelajaran khususnya pada materi pokok teorema pythagoras mempunyai pengaruh yang positif. 2. Saran
Berdasarkan hasil penelitian ini, peneliti ingin memberikan saran-saran sebagai berikut:
1) Bagi guru mata pelajaran Matematika, agar memilih strategi pembelajaran yang paling sesuai dengan materi pokok yang diajarkan, seperti strategi problem based learning , agar nantinya dapat menunjang proses pembelajaran yang lebih aktif, efektif dan efisien.
sedang mengajar. Tentukan cara belajar yang baik dan efisien, dan hendaknya siswa dapat berperan aktif dalam kegiatan belajar mengajar agar proses belajar dapat berjalan dari dua arah.
3) Bagi peneliti selanjutnya, peneliti dapat melakukan penelitian selanjutnya pada materi pokok yang lain.
Ucapan Terima Kasih
Secara khusus dalam kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih kepada Ibu Nurika Khalila Daulay, M.A sebagai dosen pembimbing 1 dan Bapak Rusydi Ananda S.Ag, M.Pd sebagai dosen pembimbing 2 yang telah banyak memberikan bimbingan dan saran-saran kepada penulis sejak awal sampai akhir penulisan penelitian ini.
Teristimewa penulis sampaikan terima kasih kepada kedua orang tua, yakni Ayahanda H. Umar Khatib, M.Pd dan Ibunda Hj. Lela Hayati, M.Pd yang selalu memberikan dukungan dan motivasi mulai dari rencana penelitian hingga penyusunan akhir penelitian.
Daftar Rujukan
Armanto, Dian. Aspek Perubahan Pendidikan Dasar Matematika melalui Pendidikan Matematika Realistik, Makalah disajikan dalam Seminar Nasional RME. Medan: DEPAG Provinsi Sumatera Utara
Nata, Abuddin. (2009). Perspektif Islam tentang Strategi Pembelajaran. Jakarta : Kencana
Nizarwati, dkk. (2009). Pengembangan Perangkat Pembelajaran Berorientasi Konstruktivisme untuk Mengajarkan Konsep Perbandingan Trigonometri Siswa Kelas X SMA. Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 3 No. 2 Desember 2009. Hal: 57-72
Sanjaya, Wina. (2006). Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta : Kencana
Trianto. (2010). Mendesain Model Pembelajaran Inovatif Progresif. Jakarta :
Kencana
Tim PLPG UNIMED. (2008). Metodologi Pembelajaran Matematika untuk SMP. Medan : UNIMED
Tugiman. (2013). Pengembangan Media Pembelajaran Matematika Menggunakan Adobe Flash CS3 Proffesional dengan Pendekatan Pembelajaran Matematika Realistik (PMR) Siswa SMP/MTs Kelas VIII Pada Pokok Bahasan Teorema Pythagoras. Skrispi Program Studi Pendidikan Matematika. Yogyakarta: Universitas Islam Negeri Yogyakarta