• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKALAH TAFSIR AYAT id. docx

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "MAKALAH TAFSIR AYAT id. docx"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH

TAFSIR DAN AYAT-AYAT EKONOMI “ETIKA DAN MORAL EKONOMI ”

DISUSUN OLEH

MUHAMMAD BIRRUL WALIDAIN EGI HAKIKI

PRODI / KELAS : PBS / D

SEMESTER : 3

JURUSAN : PERBANKAN SYARIAH

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM JURUSAN PERBANKAN SYARIAH-D

IAIN "SMH" Banten – 2016

(2)

BAB I

PENDAHULUAN

Ekonomi merupakan kebutuhan hidup manusia didunia saat ini banyak bermunculan teori dan sistem ekonomi seperti teori atau sistem ekonomi kapitalis, liberal dan sistem sosialis. Namun kenyataanya, semua teori dan sistem yang bentuk oleh manusia tersebut belum menunjukkan andanya kesetabilan.

Islam sebagai agama yang dimulyaklan Allah SWT, menadikan Al-qur’an sebagai sumber dan pandangan hidup untuk memberikan solusi dan jalan keluar dari sejak

permasalan manusia termasuk tentang ekonomi.

(3)

BAB II PEMBAHASAN

2.1. SURAT Al-ISRA’ AYAT 26

Artinya:

“ Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.”

TAFSIR MUFRADAT Artinya:

“Berikanlah kepada kerabat-kerabatmu haknya, dan kepada orang miskin, serta Ibnu sabil”

Kepada karibmu berikanlah semuanya haknya, yaitu menghubungi tali

persaudaraan, menziarahinya serta bergaul secara baik dengan mereka. Jika dia memerlukan bantuan nafkah, maka berikanlah sekedar mencukupi kebutuhannya. Demikian pula orang miskin dan mufasir dalam perjalanannya, berikanlah mereka pertolongan yang dibenarkan oleh agama.

Artinya :

“Dan janganlah kamu memboroskan hartamu”

Janganlah kamu memboroskan harta dan janganlah kamu menggeluarkan hartamu pada jalan yang maksiat atau kepada orang yang tidak berhak menerimanya.

Kemudian Allah SWT memerintahkan kepada kaum Muslimin agar menunaikan hak kepada keluarga-keluarga yang dekat, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan. Hak yang harus ditunaikan itu ialah: "Mempererat tali persaudaraan dan

(4)

diberi bantuan secukupnya untuk memenuhi kebutuhan mereka. Orang-orang yang dalam perjalanan yang patut diringankan penderitaannya, ialah orang yang melakukan perjalanan karena tujuan-tujuan yang dibenarkan oleh agama. Orang yang demikian keadaannya perlu dibantu dan ditolong agar segera tercapai apa yang menjadi maksud dantujuannya.

Di akhir ayat Allah SWT melarang kaum muslimin membelanjakan harta bendanya secara boros. Larangan ini bertujuan agar kaum muslimin mengatur perbelanjaannya dengan perhitungan yang secermat-cermatnya, agar apa yang dibelanjakannya sesuai dan tepat dengan keperluannya; tidak boleh membelanjakan harta kepada orang-orang yang tidak berhak menerimanya, atau memberikan harta melebihi dari yang seharusnya.

Adapun keterangan yang dapat menjelaskan makna yang terkandung dalam ayat yang ditafsirkan, yang dapat dari hadis-hadis Nabi adalah sebagai berikut:

: :

؟دعس اي فرسلا اذه ام لاقف ،أضوتي وهو دعسب ملسو هيلع هللا ىلص هللا لوسر رم لاق رمع نبا هللا دبع نعو

راج رهن ىلع تنك نإو معن لاق ؟فرس ءوضولا يف وأ لاق Artinya:

Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar, ia berkata: "Rasulullah saw, bertemu dengan Saad pada saat berwudu', lalu Rasulullah bersabda: "Alangkah borosnya wudu-mu itu hai Saad!". Saad berkata: "Apakah di dalam berwudu' ada pemborosan.? "Rasulullah saw bersabda: meskipun kamu berada di tepi sungai yang mengalir"

2.2. SURAT AL-ISRA’ AYAT 29

Artinya :

“ Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal.

Maksudnya: jangan kamu terlalu kikir, dan jangan pula terlalu Pemurah. TAFSIR MUFRODAT

Artinya :

“ Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada leher mu.”

(5)

kepada orang lain, walaupun sedikit. Sebaliknya Allah juga melarang orang yang terlalu mengulurkan tangan, ungkapan serupa ini berarti melarang orang yang berlaku boros membelanjakan harta, sehingga belanja yang dihamburkannya melebihi kemampuan yang dimilikinya. Akibat orang yang semacam itu akan menjadi tercela, dan dicemoohkan oleh handai-tolan serta kerabatnya dan menjadi orang yang menyesal karena kebiasaannya itu akan mengakibatkan dia tidak mempunyai apa-apa.

Dari ayat ini dapat dipahami bahwa cara yang baik dalam membelanjakan harta ialah membelanjakannya dengan cara yang layak dan wajar, tidak terlalu bakhil dan tidak terlalu boros.

Adapun keterangan-keterangan yang didapat dari hadis-hadis Nabi dapat dikemukakan sebagai berikut:

Diriwayatkan dari Imam Ahmad dan ahli hadis yang lain, dari Ibnu Abbas ia berkata: "Rasulullah saw bersabda: “ Tidak akan menjadi miskin orang yang berhemat”.

Imam Baihaqi meriwayatkan sebuah hadis dari Ibnu Abbas, Ibnu Abbas berkata: "Rasulullah saw bersabda:

ةشيعملا فصن ةقفنلا يف داصتقلا Artinya:

Berlaku hemat dalam membelanjakan harta, separoh dari penghidupan. TAFSIR JALALAIN SURAT AL-ISRA’

(Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu) artinya janganlah kamu menahannya dari berinfak secara keras-keras; artinya pelit sekali (dan janganlah kamu mengulurkannya) dalam membelanjakan hartamu (secara keterlaluan, karena itu kamu menjadi tercela) pengertian tercela ini dialamatkan kepada orang yang pelit (dan menyesal) hartamu habis ludes dan kamu tidak memiliki apa-apa lagi karenanya; pengertian ini ditujukan kepada orang yang terlalu berlebihan di dalam membelanjakan hartanya.

ASBABUN NUZUL SURAH AL- ISRA’ AYAT 29

(6)

Dalam suatu riwat dikemukakan bahwa rasullah SAW. datang kiriman pakaian katun. Karena beliau seorang dermawan, pakaian itu dibagi-bagikan. Setelah nabi

membagi-bagikannya, datanglah serombongan orang yang meminta bagian, tapi ternyata telah habis. Turun berkenaan dengan peristiwa tersebut yang menegaskan bahwa apa yang didapat jaganlah dihabiskan seluruhnya.

2.3. SURAT AL-ISRA’ AYAT 34

Artinya :

“Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih baik (bermanfaat) sampai ia dewasa dan penuhilah janji; Sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungan jawabnya”.

TAFSIR MUFRODAT

Artinya :

“ Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim .”

Kemudian Allah SWT melarang para hamba-Nya mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang baik. Yang dimaksud dengan "mendekati harta anak yatim" ialah mempergunakan harta anak-anak yatim tidak pada tempatnya. Larangan mempergunakan harta anak yatim dalam ayat ini mengandung arti bahwa tidak memberikan perlindungan kepada harta anak yatim itu, supaya jangan habis sia-sia. Allah SWT memberikan

perlindungan pada harta itu, karena harta itu sangat diperlukan oleh manusia, dan manusia yang paling memerlukannya ialah anak yatim, karena keadaannya yang belum dapat mengurusi hartanya, dun belum dapat mencari nafkah sendiri.

Dalam ayat itu Allah SWT memberikan pengecualian dari larangannya, yaitu apabila untuk pemeliharaan harta itu diperlukan biaya, atau dengan maksud untuk

memperkembangkan harta anak yatim itu, maka dalam hal ini tidaklah termasuk larangan apabila mengambil sebagian harta anak yatim itu untuk kepentingan tersebut atau

diperkembangkan sebagai modal dengan maksud agar harta itu bertambah.

(7)

oleh pemerintah, agar tidak terjadi penyelewengan-penyelewengan.

Kemudian dalam ayat ini ditentukan batas, sampai kapan saatnya harta itu di serahkan oleh pengampu kepada anak yatim itu, ialah apabila anak yatim itu telah dewasa, dan mempunyai kemampuan untuk mengurus dan memperkembangkan harta itu.

Setelah ayat itu turun, maka para sahabat Rasulullah yang mengasuh anak-anak yatim merasa takut kembali, sehingga mereka tidak mau makan bersama sama anak yatim dan tidak pula mau bergaul dengan mereka. Oleh sebab itu maka Allah menurunkan ayat ini:

ححلحصصمملصا ننمح دنسحفصمملصا مملنعصين همللنلاون مصكمنماونخصإحفن مصهموطملحاخنتم نصإحون

Artinya:

“Dan jika kamu menggauli mereka, maka mereka adalah saudaramu, dan Allah mengetahui siapa yang membuat kerusakan dan yang mengadakan

perbaikan.” (Q.S. Al Baqarah: 220)

Dari ayat ini jelaslah, bahwa membelanjakan harta anak yatim dilarang apabila digunakan untuk kepentingan pribadi. Tetapi apabila harta anak yatim itu dibelanjakan untuk pemeliharaan harta itu sendiri, atau untuk keperluan anak yatim itu sendiri, maka tidaklah dilarang.

Kecuali itu, terdapat pula kebolehan mengambil sebagian harta anak yatim itu bagi orang yang menjadi pengampunya, apabila si pengampu itu memerlukan untuk pembiayaan dirinya dalam rangka mengurus harta anak yatim itu, kalau si pengampu itu betul-betul orang yang tidak mampu.

2.4. SURAT AT-TAUBAH AYAT 35

Artinya :

(8)

TAFSIR MUFRODAT

Artinya :

“ Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri ”.

Dalam ayat ini Allah menerangkan bahwa orang-orang yang mengumpulkan harta dan menyimpannya tanpa dinafkahkan sebagiannya pada jalan Allah (dibayarkan zakat) bagi orang mukmin akan dimasukkan ke dalam neraka pada hari akhirat dan di dalam neraka itu semua harta itu akan dipanaskan dengan api lalu disetrikakan pada dahi pemiliknya begitu pula lambung dan punggungnya, lalu diucapkan kepadanya inilah harta bendamu yang kamu simpan dahulu. Sehubungan dengan ini ada hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah:

هرهظو هتهبجو هبنج اهب ران نم حئافص ةمايقلا موي هل لعج الإ هلام ةاكز يدؤي ل ملسم نم ام

Artinya:

“Tidak ada seorang laki-laki yang tidak menunaikan zakat hartanya melainkan hartanya itu akan dijadikan kepingan-kepingan api lalu disetrikakan pada lambung, dahi dan punggungnya.”

(H.R. Muslim dari Abu Hurairah)

Demikianlah nasib orang-orang Yahudi dan Nasrani yang mengumpulkan harta dan menumpuknya serta mempergunakan sebagian harta itu untuk menghalangi manusia dari jalan Allah. Demikian pula nasib seorang muslim yang tidak menunaikan zakat hartanya. Harta itu sendirilah yang akan dijadikan alat penyiksanya. Bagaimana caranya apakah harta yang mereka peroleh di dunia itu dijadikan kepingan-kepingan api atau sebagai gambaran saja. Allah Yang Maha Mengetahui, karena hal itu termasuk urusan gaib yang tidak diketahui kecuali oleh Allah saja.

2.5. SURAT AL – HUJARAT AYAT 13

Artinya

(9)

“ Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal”.

TAFSIR MUFRODAT

Artinya :

“ Dan kami menjadikan kalian bersuku-suku dan berkabilah- kabilah supaya kamu kenal mengenal.” yakni saling kenal, bukan saling mengingkari.”

Diriwayatkan pula dari Abu Malik Al-Asy’ri bahwa Rasulullah SAW bersabda la kepada

“Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada pangkat-pangkat kalian dan tidak pula kepada nasab-nasab mu, dan tidak pula kepada tubuhmu, dan tidak pula kepada hartamu, akan tetapi memandang kepada hatimu. Maka barang siapa mempunyai hati yang saleh maka Allah belas kasih kepadanya. Kalian tak lain adalah anak cucu Adam. Dan yang paling di cintai Allah di antara kalian ialah yang paling bertakwa di antara kalian.”

ASBABUN NUZUL

Dalam suatu riwayat di kemukakan bahwa ketika peristiwa futuh mekkah, maka bilal naik keatas ka’bah untuk mengumandangkan azan. Melihat akan hal ini, maka ada beberapa orang yang berkata: “apakah pantas budak hitam macam dia mengumandangkan azan di atas ka’bah ?” . maka berkatalah yang lainnya : “ sekiranya Allah membenci orang ini, pasti Allah akan menggantinya.” Ayat 13 ini turun sebgai penegasan, bahwa di dalam islam tidak ada diskriminasi. Orang yang paling mulia adalah dia yang paling takwa.

( HR. Ibnu Abi Hatim dari Ibnu Abi Mulaikah )

2.6. SURAT AL HASYR AYAT 6

Artinya :

(10)

dan (tidak pula) seekor untapun, tetapi Allah yang memberikan kekuasaan kepada RasulNya terhadap apa saja yang dikehendakiNya. dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Fai-i ialah harta rampasan yang diperoleh dari musuh tanpa terjadinya pertempuran. Pembagiannya berlainan dengan pembagian ghanimah. ghanimah harta rampasan yang diperoleh dari musuh setelah terjadi pertempuran. pembagian Fai-i sebagai yang tersebut pada ayat 7. sedang pembagian ghanimah tersebut pada ayat 41 Al Anfal dan yang dimaksud dengan rampasan perang (ghanimah) adalah harta yang diperoleh dari orang-orang kafir dengan melalui pertempuran, sedang yang diperoleh tidak dengan pertempuran dinama fa'i. pembagian dalam ayat ini berhubungan dengan ghanimah saja. Fa'i dibahas dalam surat al-Hasyr.

TAFSIR MUFRADAT

Artinya :

“ Dan apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada RasulNya (dari harta benda) mereka, Maka untuk mendapatkan itu kamu tidak mengerahkan seekor kudapun dan (tidak pula) seekor untapun”

Harta-harta Bani Nadhir yang jatuh ke tangan rasul adalah kepunyaan Allah dan Rasul-nya, tidak dibagi seperti harta rampasan perang kepada tentara. Sebab, harta ini di peroleh tanpa mengangkat senjata. Mereka mengajukan usulan perdamaian dengan kemauannya sendiri, karena itu, harta tersebut di pergunakan untuk kebijakan dan dan manfaat umun yang di jelaskan oleh Allah dalam ayat-ayat berikut ini:

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, muslim, Abu daud , At-turmuzi , an- nasa’i, dan lain-lain dari umar bin khatab: “ harta-harta bani Nadzir yang di pulangkan oleh Allah kepada Rasulnya menjadi hak Rassul sendiri. Oleh karena itu rasulullah mengambil untuk belanja setahun dan yang selebihnya di pergunakan rasul untuk membeli alat senjata.

Ayat ini menerangkan hukum fai'i. Fai'i itu adalah harta rampasan yang diperoleh dari musuh, sebelum terjadi peperangan. Terjadinya karena musuh telah menyerah dan mengaku kalah, sebelum terjadinya pertempuran Harta-harta yang ditinggalkan Bani Nadir setelah mereka diusir dari kota Madinah termasuk fai'i, karena Bani Nadir menyerah kepada kaum muslimin sebelum terjadi peperangan.

(11)

berperang, sebagaimana yang berlaku pada harta rampasan perang (ganimah). Sebabnya ialah karena harta itu diperoleh tanpa terjadinya peperangan tanpa menggunakan tentara berkuda dan tentara berunta, seakan-akan tidak ada usaha tentara kaum muslimin dalam mendapatkan harta itu. Orang-orang Yahudi Bani Nadir yang memiliki harta itu telah menyatakan bahwa mereka mengaku kalah sebelum terjadinya peperangan, bersedia menerima syarat-syarat yang ditetapkan Allah dan Rasul Nya bagi mereka. Harta itu digunakan untuk menegakkan agama Allah dan kepentingan umum.

Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Abu Daud, At Tirmizi dan imam-imam yang lain dari Umar bin Khattab ia berkata:

"Semua harta Bani Nadir yang diserahkan Allah pada Rasul-Nya menjadi hak Rasul-Nya. Oleh karena itu Rasulullah SAW. mengambilnya untuk keperluan nafkahnya dan keluarganya selama setahun dan selebihnya digunakan pembeli senjata untuk keperluan berjuang di jalan Allah".

Allah SWT menerangkan bahwa sunah-Nya telah berlaku bagi semua makhluk ciptaan-Nya pada setiap keadaan, masa dan tempat, yaitu mengalahkan dan menimbulkan rasa takut di dalam hati musuh-musuh Rasul-Nya, seperti Dia telah menjadikan dalam hati Bani Nadir rasa takut dan mereka menyerah kepada Rasulullah SAW. Karena mereka telah menyerah itu, maka Allah SWT memberikan wewenang kepada Rasul-Nya untuk menguasai harta Bani Nadir. Oleh karenanya tentara kaum muslimin tidak berhak memperolehnya. Pada akhir ayat ini Allah SWT mengingatkan kekuasaan-Nya atas semua makhluk ciptaan-Nya. Jika Dia menghendaki, dengan menanamkan rasa takut dan gentar musuh-musuh-Nya tanpa pertempuran, sebagaimana yang telah terjadi pada Bani Nadir itu. Mereka menyerah kalah, walaupun mereka berada dalam benteng-benteng yang kokoh.

2.7. KANDUNGAN AYAT Surat Al-Isra’ ayat 26

Di suruh memberikan harta kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan jangan boros.

Surat Al-Isra’ ayat 29

Jangan terlalu kikir dan jangan terlalu pemurah. Surat Al-Isra’ ayat 34

(12)

Orang yang mengumpulkan harta dan menyimpannya tanpa di nafkahkan sebagian di jalan Allah ( di bayarkan zakatnya) bagi orang mukmin akan di masukan ke dalam neraka.

Surat Al-Hujarat ayat 13

Allah tidak memandang pangkat, nasab, dan harta tetapi yang Allah lihat adalah hati yang saleh, maka Allah belas kasih kepadanya.

Surat Al- Hasyr ayat 6

Harta rampasan perang ( fa’i ) hanya di ambil untuk keperluan nefkah keluarga selama setahun dan selebihnya di gunakan untuk membeli senjata untuk keperluan berjuang di jalan Allah.

2.8. MUNASABAH AYAT

(13)

BAB III PENUTUP

3.1. KESIMPULAN

Dari kajian ayat di atas dapat di simpulkan bahwa etika ekonomi dalam presfektif Al-Qur’an adalah kita bekerja untuk memenuhi nafkah keluarga, selain itu kita juga harus mengeluarkan harta kita di jalan Allah dalam artian untuk memenuhi kebutuhan umat, dan kita harus bersedekah, dan jangan lupa mengeluarkan zakat harta kita jika sudah mnecapai nishab karena dalam harta kita masih ada milik orang lain yang berhak menerimanya. Kita di anjurkan jangan terlalu kikir namun juga jangn terlalu pemurah, dalam artian kita jangan terlalu memberi kepada orang lain tanpa memikirkan kebutuhan diri kita sendiri,

Kemudian Allah SWT melarang para hamba-Nya mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang baik yaitu memberikan perlindungan kepada harta anak yatim itu, supaya jangan habis sia-sia. Allah SWT memberikan perlindungan pada harta itu, karena harta itu sangat diperlukan oleh manusia, dan manusia yang paling memerlukannya ialah anak yatim, karena keadaannya yang belum dapat mengurusi hartanya, dun belum dapat mencari nafkah sendiri

Referensi

Dokumen terkait

Sebagai contoh, pengecatan shock yang digunakan sebagi penyambung antara rubber hose dengan pompa dapat memperlambat proses korosi karena mencegah kontak langsung

Tujuan penelitian ini untuk mengukur hubungan antara kadar iodium dalam garam beriodium di rumah tangga dengan kecukupan iodium berdasarkan nilai ekskresi iodium urin

Banyak kebudayaan menjadi cerminan dan ciri dari sebuah masyarakat dan untuk memahami hubungan antara kebudaya dan kehidupan sosial, perlu adanya pengertian dan

Dalam penelitian ini akan dikembangkan model pembelajaran matematika berstandar NCTM dengan nuansa Cognitive Load theory yang diharapkan mampu meningkatkan pemahaman konsep

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar SARJANA TEKNOLOGI PERTANIAN. pada Jurusan TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN, FAKULTAS

Anak kandung adalah anak biologis (darah daging) dari orang tua yang bersangkutan, anak tiri adalah anak bukan darah daging tetapi anak yang dibawah oleh suami/isteri

Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada pangkat-pangkat kalian dan tidak pula kepada nasab-nasabmu dan tidak pula kepada tubuhmu, dan tidak pula kepada hartamu,