MENGHISAB POLITIK ISLAM MODERNIS
Oleh Haedar Nashir
Dalam Pemilu 2004 politik Islam modernis direpresentasikan melalui PAN, PKS, PBB, dan partai-partai Islam modernis lain yang tidak lulus verifikasi, yang sering disederhanakan sebagai pewaris politik Masyumi ditambah Sarikat Islam. Sedangkan untuk calon Presiden pada Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden 5 Juli 2004 tampaknya hanya M. Amien Rais yang berpasangan dengan Siswono Yudhohusodo yang mewakili Islam politik kaum modernis atau politik Islam modernis. Jika pada Pemilu tahun 1955 Masyumi berhasil meraih suara 20% lebih sedikit, maka pada Pemilu 2004 dengan representasi suara PKS (7,34%), PAN (6,44%), dan PBB (2,62%) perolehan total suara politik Islam modernis adalah 16,20%.
Jika ditambah dengan para pemilih di partai-partai Islam lain dan partai nasional pada umumnya mungkin suara politik kaum Islam modernis dapat meraih sekitar 20% sebagaimana Masyumi di masa lalu atau kalau mengalami peningkatan paling banyak diperkirakan sekitar 30%. Suara 30% itu yang jika diakumulasikan untuk mendukung Amien Rais dalam pemilihan Presiden ditmbah limpahan suara lain sampai mencapai 35% sebenarnya dapat menjadi modal politik untuk lolos ke putaran kedua dan tidak tertutup kemungkinan akan memperoleh dukungan luas dari masyarakat lain sehingga dapat saja keluar jadi pemenang dalam pemilihan Presiden 2004, yang menjadi Presiden RI yang keenam di negera Indonesia tercinta ini.
Kita tidak tahu hasil pemilihan Presiden dan Wakil Presiden 5 Juli 2004, mungkin saja ketika Majalah Suara Muhammadiyah nomor ini sampai ke tangan pembaca terutama di luar Jawa, Pemilu 5 Juli 2004 telah menghasilkan perolehan suara yang lolos ke babak kedua. Namun apapun hasilnya, terdapat pelajaran berharga, termasuk pelajaran pahit, betapa tidak mudahnya melakukan artikulasi dan agregasi kepentingan politik di lingkungan Islam politik kaum modernis. Penyakit klasik selalu terulang, pertama betapa tidak mudahnya membangun orientasi politik baru bagi partai-partai Islam termasuk dari kalangan Islam modernis, sehingga kekuatan politik Islam tetap belum atau tidak menjadi kekuatan besar nasional secara dominatif dan relatif utuh, kalaupun menang selalu hasil dari akumulasi semacam politik eceren atau uang recehan yang digabung-gabung dengan susah payah. Kedua, sebagai bagian tidak terpisahkan dari hal pertama, betapa tidak mudahnya bagi kelompok Islam modernis untuk menyatukan diri dalam wadah politik yang tunggal atau representatif, bahkan kenyataan selalu mengalami kesulitan dan kegagalan untuk menyatu, sehingga politik yang didasarkan pada ukhuwah Islamiyah atau entitas politik Islam itu hanya sebatas idealisasi ideology politik semata dari kelompok Islam politik pada umumnya maupun kaum Islam modernis pada khususnya.
Soal orientasi politik. Partai-partai Islam pada umumnya termasuk PPP dan PKB, maupun partai-partai Islam dari kalangan modernis seperti PAN, PKS, dan PBB juga cenderung mengalami kesulitan untuk menampilkan diri sebagai partai nasional yang besar, yang dipilih secara representatif oleh kalangan Islam santri pada khususnya, kalangan Islam abangan, dan bahkan oleh rakyat pada umumnya. Partai-partai Islam selalu terjebak pada ekslusivisme dan tetap terbonsai untuk tumbuh menjadi partai besar yang menjadi milik publik rakyat Indonesia. Secara kategoris baik partai maupun tokoh Islam politik selalu menjadi miopik, kerdil, dan terbatas, yang pada akhirnya cenderung dipersepsi sebagai hanya partai Islam milik umat Islam tertentu, bukan partai nasional milik bangsa. Jangankan
menjadi milik bangsa secara mayoritas, menjadi milik mayoritas umat Islam pun tidak pernah, sehingga tetap terbonsai dalam cangkokannya sendiri atau dalam kandang sendiri.
Sebenarnya sejak Pemilu 1999 dan 2004 ada perkembangan yang menarik dari partai Islam modernis. Pada Pemilu 1999 PAN berhasil menjadi partai nasional, yang sering disebut partai inklusif atau pluralis, sehingga bersama PKB telah mengukir sejarah baru dari kelompok Islam untuk tampil sebagai partai politik nasional. Namun pengalaman PAN ternyata tidak menggembirakan, bahkan pada Pemilu 2004 semakin tidak menggembirakan. Selain dukungan suara PAN yang akhirnya kecil, yakni 7,3% pada Pemilu 1999 dan 6,44% pada Pemilu 2004, partai pimpinan M. Amien Rais ini juga gagal dalam menampilkan orientasi politik baru sebagaimana niat awalnya sebagai partai nasional yang terbuka dan milik seluruh komponen bangsa.
PAN selain terlibat dalam konflik ideologi yang tidak cerdas dan melelahkan, bahkan terserang penyakit konflik yang pragmatis, sehingga partai ini selain gagal menjadi partai nasional juga sama gagalnya dalam memperoleh dukungan rakyat Indonesia. Sehingga pada 2009 masih menjadi pertanyaan, apakah PAN masih layak dipertahankan dan masih pantas untuk didukung oleh kekuatan politik Islam modernis maupun kalangan Islam dan rakyat Indonesia pada umumnya. Lebih-lebih dengan mesin politik dan kinerja serta kompetensi dan moralitas para politisinya yang banyak tidak menjanjikan bagi masa depan politik Indonesia yang modern, populis, dan memasuki gerbang baru Indonesia yang berkemajuan. PAN perlu dikaji ulang dan dipertanyakan keberadaannya, apakah masih diperlukan dan pantas didukung? Ini bukan soal sekadar pilihan mempertahankan partai politik, tetapi juga menyangkut masa depan Islam politik dan politik Indonesia ke depan.
PKS pada Pemilu 2004 justeru menunjukkan citra positif yang baru dan sampai batas tertentu dianggap menjanjikan. Kendati pada Pemilu 1999 PK sebagai cikal bakal dari PKS sekarang tampak ekslusif dan kecil suaranya sehingga tidak lolos electoral treshold waktu itu, kini menjadi partai politik yang suaranya sedikit di atas PAN dan jauh melampaui PBB. Lebih dari itu, PKS dengan isu bersih dan pedulinya, sampai batas tertentu berhasil menampilkan diri sebagai partai milik rakyat, meskipun belum meluas. Dukungan masyarakat luas cukup positif dan menjanjikan, sehingga pada Pemilu 2009 jika berhasil menampilkan diri lebih menarik lagi dan menjadi partai yang berkiblat pada kepentingan rakyat, maka terbuka kemungkinan untuk menambah suara politiknya. Namun sebagai catatan, apakah PKS mampu keluar dari kendala-kendala ideologis di dalam dirinya yang cenderung puritan, normative, dan kadang reduksionis, sebagaimana pada umumnya pola pikir kelompok Islam modernis yang kaku. Masalah ini dapat menjadi kendala yang tidak sederhana, sebab jika tidak mampu keluar dari ekslusivitas normativisme ideology politik Islam, maka sulit pula untuk menjadi partai Islam nasional yang menjadi milik mayoritas rakyat. Kalaupun membesar tentu tidak akan mencapai suara Masyumi.
Bagaimana dengan PBB? Partai ini mungkin termasuk partai politik kaum Islam modernis yang paling mengalami nasib tidak menggembirakan, kalau tidak dikatakan merana. Dililit oleh perpecahan internal yang serius, ditinggalkan oleh para politisi dan pendukung Masyumi yang idealis, belakangan mengalami disorientasi politik dengan bergabung bersama Partai Demokrat dalam mendukung pencalonan Susilo Bambang Yudhoyono dan Muhammad Yusuf Kalla dalam pencalonan Presiden dan Wakil Presiden 2004. Pilihan DPP PBB tersebut bagi banyak pengamat lebih karena sikap pragmatis atau bahkan oportunistik para elit puncaknya, yang orientasinya ialah berada di barisan kemenangan Susilo dan Kalla dalam Pilpres 5 Juli 2004. Kalaupun langkah politiknya menang, tetapi meninggalkan luka politik bagi kalangan Islam modernis yang lain, sekaligus mengalami kegagalan baik dalam mempertahankan diri sebagai pewaris Masyumi sebagaimana sering diidealisasikan oleh para elitnya maupun dan lebih-lebih dalam menampilkan orientasi politik baru sebagai partai Islam nasional karena hanya menjadi
pengikut Susilo Bambang Yudhoyono dengan kepentingan politik jangka pendeknya. Partai ini pun layak untuk dipertanyakan nasibnya di masa depan.
Soal fragmentasi. Masalah fragmentasi atau kondisi centang perenang dan tidak menyatu memang menjadi masalah klasik dan kini dengan fenomena PBB semakin menunjukkan situasi yang parah dalam perpolitikan kaum muslim modernis. Sejak lama sulit sekali para elit politik muslim modernis untuk menyatukan diri dalam sebuah kekuatan partai politik yang satu di barisan atau merepresentasikan politik Islam modernis. Masing-masing cenderung ingin menjadi raja dan kerajaan politik sendiri, sehingga tingkat fragmentasinya tetap tinggi dan pada akhirnya tidak pernah menjadi entitas politik yang kuat sebagaimana idealisasi ukhuwah Islamiyah dalam ranah politik Islam modernis. Perilaku politik yang terfragmentasi seperti itu mungkin buah dari kegagalan Masyumi dalam merekat ideologi politik Islam generasi berikutnya, sekaligus menunjukkan atau mencerminkan budaya politik kaum terpelajar muslim yang terlalu instrumental dan liberal, sehingga sulit untuk menyatukan diri. Di situ terjadi pragmatisme dan bahkan oportunisme politik yang mengalahkan ideology politik, yang kebetulan mengalami pembonsaian sejak Orde Baru melalui depolitisasi dan marginalisasi politik Islam.
PKS lagi-lagi menghidupkan harapan baru, ketika pada akhir-akhir waktu kampanye pemilihan Presiden dan Wakil Presiden, tepatnya pada tanggal 30 Juni 2004 pada akhirnya memberikan dukungan penuh kepada Amien Rais dan Siswono Yudhohusodo dalam Pemilu 5 Juli 2004. Meskipun sikap PKS ini tertatih-tatih dan sempat diwarnai oleh godaan-godaan politik yang pragmatis dengan menominasikan Wiranto, tapi pada akhirnya seluruh elit PKS kembali menunjukkan warna ideologi politik Islam yang konsisten. PKS mampu menekan ego politiknya untuk disumbangkan bagi kepentingan politik Islam modernis dan politik kebangsaan yang berorientasi pada reformasi, demokrasi, dan agamis dalam jagad politik Indonesia. Sayang langkah kohesif seperti itu tidak dilakukan oleh PBB. Kita berharap memasuki tahun depan jelang Pemilu 2004 ada terjadi lompatan baru dalam politik Islam kaum modernis. Jika tetap stagnasi seperti sekarang ini tampaknya Islam politik kaum modernis dan politik Islam pada umumnya tidak akan mengalami panen politik yang besar seperti layaknya panen raya nasional.
Sumber:
Suara Muhammadiyah Edisi 14 2004