• Tidak ada hasil yang ditemukan

GELIAT ISLAM POLITIK DI INDONESIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "GELIAT ISLAM POLITIK DI INDONESIA"

Copied!
201
0
0

Teks penuh

Setelah sekian lama berusaha dan berdoa, akhirnya Alhamdulillah, atas segala rahmat-Nya, kami telah selesai menulis buku 'Perkembangan Politik Islam di Indonesia' yang kini telah tiba di tangan para pembaca. Selebihnya mencoba mendiskusikan bagaimana dan dalam bentuk apa kekuatan politik Islam harus dibangun dan dihargai.

Foto Cover:
Foto Cover:

PSII-1905__104

Evans kembali melihat enam faktor perubahan pada mesin pemilu 199919 dibandingkan sistem pemilu sebelumnya. Setidaknya beberapa faktor di atas (serta perubahan mendasar yang terjadi baik pada mesin pemilu maupun sistem pemilu) dapat dijadikan modal awal untuk meraih kemenangan bagi setiap partai politik pada pemilu 1999, khususnya partai politik Islam.

Bagian Kedua

RELASI ISLAM dan POLITIK di INDONESIA

Sejarah Masuknya Islam di Indonesia

Oleh karena itu, Islam di nusantara, lanjut Marrison, bermula dari para penyebar dari pesisir Coromandel pada akhir abad ke-13. Benda, Bulan Terbit dan Matahari Terbit, Islam di Indonesia pada Masa Pendudukan Jepang (Jakarta: Pustaka Jaya, 1980), 31.

Doktrin Teologi

Relasi Islam dan Politik di Indonesia

Namun, meski demikian, nampaknya ada dua sisi yang agak kontradiktif yang menjadi ciri eksistensi Islam politik di Indonesia. Menurut pengkaji, kedua periode ini mempunyai sejarah yang berbeda dalam menyikapi (politik) Islam di Indonesia.

Eksistensi Islam Pra-kemerdekaan 1. Masa Penjajahan Belanda

  • Masa Penjajahan Jepang
  • Masa Orde Baru
  • Masa Reformasi

Versi Bahasa Indonesia diterjemahkan oleh Ajat Sudrajat dengan judul Politik Islam, Kontinuitas dan Perubahan Dunia Modern (Yogyakarta: Titian Divine Press. Bandingkan Amat Juhari Maoin, "Gerakan Pemberantasan Islam (de-Islamisasi) di Kalangan Umat Islam," pada Ismail A. Sedangkan pada era demokrasi, posisi Islam “reformis-modernis” sangat lemah dibandingkan pengaruh dominan PKI dan penyebarannya.

Partai Islam di Indonesia: Melacak Akar Tradisi

Dan jika kita melihat perkembangannya, perjuangan Sarekat Islam dapat kita bagi menjadi empat periode: (1) periode gaya dan bentuk, periode puncak, periode konsolidasi, ketika SI bersaing dengan kelompok komunis dan memperoleh kemenangan. berbagai tekanan dari Belanda (1921-27); Selain itu, Islam Sarekat Tengah tidak mengakui suatu kelompok masyarakat (penduduk) mempunyai kekuasaan atas kelompok masyarakat (penduduk) yang lain. Dalam mencapai maksud dan tujuan tersebut, Centraal Sarekat Islam bekerjasama dengan pihak-pihak yang menyetujuinya.17.

Indikasi lain mengenai sifat politik Sarekat Islam adalah beberapa aktivitasnya dalam Aksi Ketahanan Hindia (Indie Weerbaar Actie). Pada periode ini juga terlihat sikap Partai Sarekat Islam terhadap pemerintah sangat bertolak belakang dibandingkan periode sebelumnya. Pada periode terakhir ini, transisi pembentukan Partai Sarekat Islam dan penghapusan struktur lama telah selesai.

Sesobek Perjalanan Partai Islam di Indonesia

  • Persatuan Muslimin Indonesia
  • Partai Islam Indonesia
  • Masyumi
  • Persatuan Tarbiyah Indonesia (Perti)
  • Nahdlatul Ulama (NU)
  • Partai Muslimin Indonesia (Parmusi)
  • Partai Persatuan Pembangunan (PPP)

Panitia ini menjalin kerja sama dengan PSII independen di Yogyakarta dan bersama-sama membentuk Partai Islam Indonesia. Fachry, Multi Partai Menuju Kehidupan Islam, Kajian Kritis Standardisasi Partai Islam (Jakarta: Taghyiir Press, 2000), 18. Berbicara tentang partai Islam, kita akan sampai pada pertanyaan; Kriteria apa yang digunakan untuk membenarkan suatu partai adalah partai Islam?

Sebenarnya ada beberapa kriteria yang bisa dijadikan dasar untuk membenarkan suatu partai adalah partai Islam. Atau meminjam kriteria pertama versi Salahuddin, yaitu partai Islam yang menganut Islam sebagai prinsipnya. Oleh karena itu, pemateri sekali lagi dalam penelitian ini menggunakan tolak ukur bahwa partai Islam adalah partai yang menganut Islam sebagai prinsipnya.

Partai Persatuan Pembangunan (PPP)

11.329.905 suara; dan tujuan Partai: Mewujudkan masyarakat adil dan makmur yang diridhoi Allah SWT, dalam kerangka negara kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila, mewujudkan tatanan politik demokratis yang berlandaskan moral dan berkembangnya kehidupan damai. Soal bentuk pemerintahan, menurut partai ini, bentuk negara kesatuan masih layak dipertahankan, dan ini merupakan bagian dari perjuangan pembentukan PPP. Sedangkan terkait amandemen UUD 1945, pihak ini belum melihat pasal mana yang perlu diubah, karena masih bisa diterjemahkan, masih bisa diterapkan pada ketentuan UUD 1945.

Dan ke depan, partai ini melihat peluang perempuan semakin besar dan tidak ada lagi pembatasan. Upaya harus dilakukan untuk mengatasi masalah ini. Pihak ini meyakini kesempatan memperoleh pendidikan yang sama dengan laki-laki merupakan upaya mendesak yang harus diwujudkan. Terkait konsep hak asasi manusia, PPP melihat hak asasi manusia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 sudah cukup rumit, namun masih bersifat global dibandingkan dengan hak asasi manusia yang dinyatakan oleh PBB.

PSII - 1905

Dan seperti SDI, partai ini menggunakan simbol kalimat tawĥid dan lima kata 'Allāh' dalam huruf Arab, membentuk bintang dan bulan sabit.9. Partai ini mengakui bahwa para founding fathers negara ini telah memberikan kontribusi yang sangat besar melalui undang-undang ini. Sedangkan terkait Pancasila sebagai ideologi negara, partai ini menilai para founding fathers negara ini memang telah menyepakati Pancasila sebagai dasar negara, tidak lebih.

Adapun ancaman terhadap kerukunan bangsa, PSII 1905 menemukan bahwa pemberlakuan lima bundel undang-undang politik dan ketetapan MPR '65 yaitu pemberian kekuasaan penuh dan mutlak kepada presiden menjadi penyebab awal terjadinya perpecahan bangsa. . Selain itu, pihak ini juga mengakui bahwa perpecahan bangsa ini dikuasai oleh pihak lain, yaitu Barat. Sebagai solusi dari permasalahan tersebut, klien ini menawarkan perlunya penegasan terhadap perkembangan mental spiritual yang saat ini masih sangat kurang.

Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII)

PSII juga bertujuan untuk menciptakan persatuan yang kuat di kalangan umat Islam Indonesia sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari persatuan dan kesatuan bangsa. Di bidang ekonomi, partai ini berupaya membangun fondasi perekonomian kerakyatan dengan memanfaatkan seluruh potensi dan kekayaan alam yang dimiliki negara. Sedangkan di bidang HAM, menurut PSII, setiap warga negara bebas berbuat apa saja dan bebas beribadah menurut agamanya masing-masing.

Ingat, hingga saat ini jumlah pengangguran sudah mencapai di atas 5 persen dari total penduduk.

Partai Ummat Islam (PUI)

Menurutnya, sejarah bangsa Indonesia sendiri telah membuktikan bahwa partai Islam tidak pernah merugikan persatuan dan kesatuan bangsa. Berdirinya PUI, menurut Adnan Alham (Ketua Humas DPP PUI), didasari oleh dua pertimbangan, yakni ajaran Islam dan sejarah. PUI tidak pernah memikirkan soal negara federal, namun yang penting adalah memberikan otonomi penuh kepada daerah.

Selain itu, kedudukan lembaga legislatif, eksekutif, dan yudikatif harus seimbang dan berdiri sendiri, tidak seperti dulu dimana eksekutif terlalu mendominasi lembaga yudikatif dan legislatif. Namun hingga saat ini usulan PUI tersebut tidak pernah dipertimbangkan karena PUI tidak pernah masuk dalam sistem pemerintahan. Dan persoalan inilah yang menjadi fokus perjuangan HAM PUI.

Partai Bulan Bintang (PBB)

Selain itu, salah satu program partai ini adalah amandemen pasal-pasal UUD 1945. PBB menilai negara kesatuan adalah solusi terbaik, oleh karena itu partai ini mendukung prinsip negara kesatuan. Maka sebagai generasi penerus dan penerus perjuangannya, partai ini akan tetap konsisten membela NKRI dengan catatan menghilangkan berbagai kesenjangan yang terjadi selama ini.

Terkait hal itu, partai ini menuntut agar presiden ke depan dipilih langsung oleh rakyat. Sementara di bidang politik, partai ini antara lain berencana menolak intervensi negara lain, baik langsung maupun tidak langsung, dalam proses penyelesaian permasalahan nasional. Partai ini juga menolak ajaran-ajaran yang terbukti menipu bangsa, seperti komunisme, soekarnoisme, sekularisme, dan kapitalisme.25.

Partai Keadilan

Dengan semboyan “Bersikap adil, karena keadilan lebih dekat dengan ketakwaan”, partai ini mengalami perkembangan yang cukup pesat.29 Tujuan yang ingin dicapainya dalam keikutsertaan pertama dalam pesta demokrasi pada tahun 1999 adalah 50 kursi atau 10 persen suara. Soal bentuk negara, pihak ini berpendapat, maksudnya bukan pada bentuk, misalnya kesatuan atau federal. Partai ini menilai perlu adanya revisi UUD 1945, karena menurut partai ini banyak kerangka yang sudah tidak sesuai lagi.

UUD 1945, dasar hukumnya ada pada Keppres 1959, sehingga efektif UUD 1945 hanya sekedar “konsensus nasional”. Berdasarkan kenyataan di atas, partai ini berpendapat bahwa amandemen UUD 1945 bukan hanya sekedar kebutuhan hukum, namun juga merupakan langkah menuju perbaikan. Pasalnya, kebijakan yang diterapkan Soeharto tidak hanya memberikan peluang bagi perempuan, namun juga laki-laki.

Partai Politik Islam Indonesia “Masyumi”

Sehubungan dengan pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945, ekonomi kerakyatan ini dapat diartikan dalam bentuk koperasi dan usaha kecil. Meski sikap partai ini adalah perlu atau tidaknya amandemen UUD 1945, namun partai ini menilai UUD 1945 belum menjawab seluruh tuntutan masyarakat, bangsa, dan negara sehingga perlu adanya hal tersebut. Terkait ancaman terhadap kerukunan bangsa, partai ini menilai penyebab perpecahan bangsa selama ini adalah; pertama, terlalu lama, lebih dari 30 tahun, kehidupan pembentukan rezim di bidang ekonomi, politik, dan sosial budaya; Kedua, selama 32 tahun, sebagian masyarakat tertindas secara ekonomi, yang akhirnya dipicu oleh isu SARA yang berujung pada bentrokan fisik dan hilangnya nyawa.

Partai ini mengakui peran politik perempuan di lembaga negara memang ada, namun sangat terbatas. Partai ini tidak percaya pada hak asasi manusia orang Amerika, karena jika hak asasi itu untuk kelompoknya, mereka akan memperjuangkannya, tetapi jika bukan untuk kelompoknya, mereka tidak akan memperjuangkannya. Di bidang perekonomian, penguasaan perekonomian negara dan bangsa oleh orang-orang tertentu disebabkan oleh KKN, sehingga penderitaanlah yang paling banyak dialami oleh masyarakat.

Partai Persatuan

Soal bentuk pemerintahan, partai ini tidak setuju dengan bentuk federasi, namun diberikan otonomi seluas-luasnya kepada daerah, sampai Daerak Tk. Sementara itu, partai ini menganggap sah atau tidaknya persoalan UUD 1945 diamandemen karena Pancasila adalah satu-satunya hal yang tidak bisa diamandemen. Menurut pihak ini, dalam sistem ekonomi yang berorientasi pasar/kapitalis, negara harus bersiap menghadapi globalisasi.

Pengangguran setidaknya dapat dilihat dari dua cabang, yaitu pengangguran terampil dan tidak terampil. Pengangguran terampil ini sebenarnya bisa dikondisikan atau diarahkan (baca: dibina) melalui LSM-LSM yang sudah ada. Berdasarkan faktor-faktor tersebut, pengkaji pada bab ini mencoba “melihat” (baca: mengkritisi) partai-partai Islam yang sudah ada, lalu semaksimal mungkin melakukan reorientasi agar tercipta partai-partai Islam di masa depan.

Partai-partai Islam di Indonesia: Sebuah Kritik

2 Lihat ibid., 99; Bandingkan juga dengan alasan Deliar Noer “Mengapa Partai Islam” dalam Sahar L. Partai Politik Islam, Antara Kelayakan dan Kewajiban”, Eggi menilai Kuntowijoyo terlalu pesimis dengan keberadaan partai Islam dan berdirinya partai Islam. mulia 3 Untuk penjelasan lebih lanjut mengenai enam alasan tidak mendirikan partai Islam versi Kuntowijoyo, baca Kuntowijoyo, “Enam Alasan Tidak Mendirikan Partai Islam” dalam Mustofa (ed.), Memilih Partai, Rindu Menjadi Presiden, 27 -33.

5 Untuk lebih lanjut lihat Yusril Ihza Mahendra, “The Rational Islamic Party”, dalam Hamid Basyaib dan Hamid Abidin (eds.), Why the Islamic Party Lost, 53-7. Hikam, “Tragedi Jepara dan Ideologisasi Agama” dalam Deliar Noer (dkk.), Mengapa Partai Islam Kalah, 107. 11 Untuk pembahasan lebih lanjut, baca misalnya Salahuddin Wahid, “Partai Islam Terkesan Sebagai Status Quo” di Republika, 26 Mei 1999.

Menuju Partai Islam Masa Depan

16 Sebagaimana dikutip oleh Azyumardi Azra, “Partai Islam Tidak Berprospektif” dalam Deliar Noer (dkk.), Mengapa Partai Islam Kalah, 217. Desakralisasi partai Islam yang dimaksud sebenarnya merupakan proyek comeback; apa yang suci sebagai suci dan apa yang tidak suci sebagai tidak suci. Atau dengan kata lain desakralisasi partai-partai Islam lebih bertujuan untuk membebaskan umat Islam dari politik partisan.

Pasca berdirinya Sarekat Islam, gerakan politik Islam di Indonesia semakin menampakkan wujudnya, dapat kita cermati dari partai-partai Islam yang terbentuk setelah Sarekat Islam, yaitu Persatuan Umat Islam Indonesia (1930), Persatuan Tarbiyah Indonesia (1930), Persatuan Islam Indonesia (1930), Persatuan Tarbiyah Indonesia (1930), Persatuan Islam Indonesia (1930), Persatuan Tarbiyah Indonesia (1930), Partai Islam (1938), Masyumi (1945), Partai NU (1952) dan Partai Persatuan Pembangunan (1973). Melihat alasan kekalahan Partai Islam di atas, tampaknya hal-hal berikut ini akhirnya harus dilakukan untuk membentuk Partai Islam di masa depan. Fachry, M, Multi Partai Menuju Kehidupan Islam, Kajian Krisis Standardisasi Partai Islam (Jakarta: Taghyiir Press, 2000).

Mahendra, Yusril Ihza, “Partai Islam Rasional” dalam Deliar Noer (et.al.), Mengapa Partai Islam Kalah (Jakarta: Alvabet. Zada, Khamami, “Masalah Empiris Politik Islam” dalam Deliar Noer (et.al. ), Waarom die Islamities Party verloor het (Jakarta: Alvabet.

Referensi

Dokumen terkait