• Tidak ada hasil yang ditemukan

Partai-partai Islam di Indonesia: Sebuah Kritik

Dalam dokumen GELIAT ISLAM POLITIK DI INDONESIA (Halaman 145-155)

RELASI ISLAM dan POLITIK di INDONESIA

A. Partai-partai Islam di Indonesia: Sebuah Kritik

demokrasi, karena fungsi parpol yang antara lain: (1) menyerap dan mengartikulasikan aspirasi atau kepentingan rakyat; (2) sarana sosialisasi dan komunikasi politik; (3) dan media penyaluran perbedaan pendapat yang terjadi di masyarakat.1

Berlatar dari faktor tersebut, maka dalam Bab ini, pengkaji mencoba “melihat” (baca: mengkritisi) partai-partai Islam yang ada, dan kemudian sedapat mungkin mereorientasinya, sehingga akan tercipta partai Islam masa depan.

masing-masing. Segmen kultur itu pada akhirnya membentuk ciri masing-masing lembaga sosial keagamaan tersebut.

Melihat realitas di atas, yakni banyaknya partai Islam, A.M. Fatwa mencoba menawarkan dua sisi yang saling berhadapan, yakni sisi positif (menguntungkan) dan negatif (merugikan). Adapun sisi positifnya adalah: (1) rakyat akan semakin terbuka dalam menyalurkan aspirasi politiknya, tanpa intimidasi; (2) proses sosial politik akan lebih terbuka dan transparan, sehingga budaya intervensi penguasa kepada segala bentuk mekanisme sosial yang berkembang di masyarakat saat itu, menjadi nilai tabu. Sehingga, kehidupan demokrasi di Indonesia akan terbangun dalam suasana keterbukaan, transparan, dan adil; dan (3) umat Islam akan diuntungkan karena ada parpol yang concern memperjuangkan aspirasinya.

Sedangkan sisi negatifnya adalah: (1) bila arus keterbukaan ini berkembang menjadi anarki, sehingga malah menghancurkan jalannya reformasi dan nilai toleransi, antar dan antara umat beragama. Yang terjadi kemudian adalah sikap saling curiga, dan ini, akan membahayakan biduk Indonesia yang terancam karena faktor SARA; (2) keberagaman pandangan politik Islam antarpartai Islam, akan menyebabkan beragamnya pola dan perilaku politik masing- masing partai Islam, sehingga antarpartai Islam sendiri (dan dengan partai lainnya) sangat mungkin terjadi konflik; dan (3) kecurigaan ideologis yang (sengaja atau tidak sengaja) dihembuskan, oleh siapapun termasuk kelompok yang anti- Islam, misalnya isu Negara Islam Indonesia (NII) dan Islam antidemokrasi.2

2 Lihat Ibid., 99; Bandingkan juga dengan alasan yang dikemukakan oleh Deliar Noer “Mengapa Partai Islam” dalam Sahar L.

Hasan (ed.), Memilih Partai Islam, 80-90.

Sementara itu, dalam pandangan Kuntowijoyo, pendirian partai Islam adalah merupakan sebuah kesalahan yang fatal. Sehingga Kuntowijoyo (merasa perlu) untuk memaparkan enam alasan untuk tidak mendirikan partai Islam. Enam alasan tersebut adalah: (1) terhentinya mobilitas sosial; (2) terjadinya disintegrasi umat; (3) umat menjadi miopis; (4) terjadinya “pemiskinan”; (5) runtuhnya proliferasi (penyebaran); dan (6) terjadinya alineasi generasi muda.3

Berbeda dengan Kuntowijoyo, Eggi Sudjana mencoba membidiknya dari sisi lain. Lewat tulisannya yang berjudul

“Parpol Islam, Antara Kelayakan dan Kewajiban”, Eggi menganggap, bahwa Kuntowijoyo terlalu pesimis dengan keberadaan partai Islam, dan mendirikan partai Islam merupakan sebuah kewajiban yang luhur. Eggi melihat, keberadaan partai Islam akan sanggup membela kepentingan kaum Muslimin yang banyak terabaikan.4

Hal yang (hampir senada) diungkapkan oleh Yusril Ihza Mahendra. Dalam sebuah wawancaranya, Yusril mengatakan, bahwa kekhawatiran yang diarahkan kepada gagasan pendirian partai keagamaan, termasuk partai Islam, yang acapkali dikaitkan dengan masalah disintegrasi bangsa adalah prejudice, antipati, dan bagian dari propaganda politik. Lebih jauh Yusril mengatakan, Fobia terhadap partai keagamaan merupakan konsep warisan Orde Baru.5

Komentar-komentar di atas menggema jauh hari sebelum pertarungan antarpartai Islam, juga partai-partai non

3 Lebih jauh uraian tentang enam alasan untuk tidak mendirikan partai Islam versi Kuntowijoyo tersebut, baca Kuntowijoyo, “Enam Alasan Tidak Mendirikan Partai Islam” dalam Mustofa (ed.), Memilih Partai Mendamba Presiden, 27-33.

4 Periksa, Eggi Sudjana, “Parpol Islam, Antara Kelayakan dan Kewajiban: catatan buat Kuntowijoyo” dalam Sahar L. Hasan (ed.), Memilih Partai Islam, 197-201.

5 Lebih jauh tentang ini, lihat Yusril Ihza Mahendra, “Partai Islam yang Rasional”, dalam Hamid Basyaib dan Hamid Abidin (ed.), Mengapa Partai Islam Kalah, 53-7.

54

54

55

99

Islam, terjadi yang sesungguhnya dalam sebuah pesta demokrasi. Artinya, ungkapan-ungkapan tersebut hanyalah sekedar discourse. Dan hal itu adalah sah-sah saja. Tetapi ketika pentas pertarungan benar-benar telah digelar, apa yang disebut A.M. Fatwa sebagai sisi negatif (hampir) dan merupakan kekhawatiran Kuntowijoyo, mendekati kanyataan.

Sebut saja insiden Jepara sebagai contoh kasus.6 Dalam melihat insiden Jepara tersebut, biasanya yang paling mudah adalah dengan memakai kacamata “teori provokator”, yakni mengklaim keterlibatan pihak ketiga yang berperan sebagai “tukang kompor” keadaan. Jika teori ini yang kita jadikan acuan dasar, maka, bukan saja kita seolah ingin mengabaikan kondisi internal, tetapi bahkan kita terkesan berusaha lari dari kenyataan yang terjadi

Sekali lagi, pengkaji tidak bermaksud mengabaikan kemungkinan adanya pihak ketiga yang ingin memanfaatkan situasi. Tetapi, ada teori lain yang (mungkin) lebih cocok untuk kita gunakan sebagai pisau analisis, yakni teori “gerakan tandingan”. Teori yang diperkenalkan oleh Mayer dan Staggenborg ini, mengasumsikan bahwa gerakan sosial menciptakan sendiri pesaingnya yang kadangkala mengambil bentuk “gerakan tandingan”.7

Interaksi antara “gerakan pertama” dan “gerakan tandingan” terlihat bahwa jika konflik antarkeduanya memakan waktu lama, maka, gerakan yang saling berlawanan

6 Apa yang disebut insiden Jepara ini adalah bentrokan fisik antara pendukung PPP dan PKB di Jepara yang terjadi ketika berlangsungnya kampanye menjelang Pemilu 1999. Konon dalam bentrokan ini, sedikitnya menewaskan lima orang dan 14 orang hilang. Sebelumnya juga telah terjadi bentrokan dengan latar belakang yang sama, mendukung sebuah partai, di Surabaya, Pekalongan, Yogyakarta, dan lain sebagainya.

7 Lebih jauh lihat Rumadi dan Arif Zamhari, “NU dan Insiden Jepara” dalam Media Indonesia, 8 Mei 1999.

itu terus-menerus saling menciptakan peluang bagi dirinya sendiri dan hambatan bagi pesaingnya. Semakin besar pengaruh strategi dan tuntutan dari satu gerakan atas yang lain, maka, semakin ketat persaingan antarkeduanya.

Ketegangan hubungan kedua kelompok ini banyak disebabkan karena adanya perasaan keterancaman kepentingan, baik politik maupun ekonomi.

Dengan menggunakan kerangka pendekatan tersebut, maka, kita akan mengatakan bahwa insiden Jepara (bentrokkan antara pendukung PPP dan PKB), lebih disebabkan oleh perasaan yang terancam tadi. Karena merasa terancam itulah, maka, masing-masing kelompok ingin menegaskan identitas kelompoknya, dengan cara-cara yang terkadang tidak rasional dan cenderung menghalalkan segala cara. Fenomena ini, dalam pandangan Mohammad AS.

Hikam, terjadi akibat politisasi organisasi yang tinggi dan pemunculan kembali ideologisasi agama.8 Dalam kasus Jepara misalnya, politisasi terhadap NU berlangsung dengan kecepatan dan intensitas tinggi menyusul keterbukaan ruang politik setelah tumbangnya Orde Baru.

Problem struktural tersebut, diperburuk lagi oleh kemarakan ideologi agama setelah pembebasan partai-partai dari keharusan berasas Pancasila. Kendati secara teoritis pluralisasi ideologi itu tidak selalu berdampak negatif, dalam konteks Indonesia pasca-Orde Baru, hal itu perlu dicermati secara hati-hati. Proliferasi ideologi yang terjadi saat ini, menurut Hikam, lebih banyak dilandasi visi sektarianisme dan primordialisme ketimbang visi pluralisme. Ideologisasi agama yang dimunculkan, dimaksudkan untuk menumbuhkan sentimen dan solidaritas primordial di dalam masyarakat,

8 Lihat Mohammad AS. Hikam, “Tragedi Jepara dan Ideologisasi Agama” dalam Deliar Noer (et.al.), Mengapa Partai Islam Kalah, 107. 130

bukan untuk membangun sebuah perpolitikan pluralis dan demokratis.9

Implikasinya adalah berkembangnya penggunaan ajaran agama untuk mobilisasi dukungan partai politik, yang memang masih cukup ampuh. Elit agama yang juga berperan sebagai pemimpin partai-partai politik, kemudian dengan mudah melakukan manipulasi terhadap ajaran dan simbol- simbol agama dalam usaha mereka memobilisasi dukungan dari para pengikutnya. Dalam kasus NU, para kiai yang kebetulan menjadi fungsionaris partai-partai pilitik dimanfaatkan agar dapat memberi “fatwa-fatwa” untuk memperkuat legitimasi partainya masing-masing. Tak pelak lagi, “perang ayat” dan “fatwa” antarkiai pun tidak terelakkan.10

Tragedi Jepara ini hanyalah satu kasus dari sekian kasus yang terjadi. Hal yang dapat kita ambil adalah bahwa kekerasan politik yang terjadi tidaklah selalu diakibatkan oleh pengaruh luar (eksternal) semata. Kekerasan bisa muncul dari dalam batang tubuh sendiri (internal). Dan sekali lagi, pengkaji sama sekali tidak bermaksud menafikan faktor eksternal.

Adalah banyak variabel yang harus digunakan untuk menganalisis “keterpurukan” parpol Islam, baik primer maupun sekunder, baik menyangkut partai itu sendiri ataupun konstituen. Variabel ini ada yang bersifat umum, yang tidak hanya berkaitan dengan parpol Islam tetapi juga parpol lainnya, dan ada pula yang bersifat khusus. Variabel yang

9 Ibid.

10 Konon, di Jepara, hampir tiap malam digelar “pengajian umum”

yang tidak ada bedanya dengan kampanye dan disiarkan secara langsung melalui “radio FM gelap”. Belum lagi spanduk-spanduk yang dipasang di jalan-jalan, yang antara lain berbunyi: “Biarpun Berlumuran Darah Kami Tetap Istiqamah di PPP”.

disebut terakhir sarat dengan perdebatan teologis, tergantung kacamata mana yang kita pakai.

Di antara variabel penting yang bersifat umum adalah;

pertama, kesiapan partai peserta pemilu sangat minim, terutama partai baru yang sama sekali belum mempunyai basis massa. Fakta politik di lapangan menunjukkan, dari 48 partai politik yang ikut bertanding, ada partai yang betul-betul siap berlaga di kancah politik, ada yang setengah-setengah, bahkan ada yang tidak siap. Partai yang tergolong dalam kondisi terakhir terutama adalah partai-partai yang memperoleh jumlah suara sedikit. Hal-hal yang menjadi prasyarat partai tidak dimiliki dengan baik, mulai dari sarana dan prasarana hingga sumber daya manusia.

Banyak partai tampil apa adanya bahkan terkesan dibuat-buat hanya untuk menghindari rasa malu di depan publik. Padahal seperti diketahui, partai ibarat sebuah toko yang menyediakan barang dagangan untuk dibeli pembelinya.

Jika toko tersebut tidak dapat berpenampilan yang menarik pembeli, maka jangan harap dagangan akan dibeli. Dan berbicara tentang kesiapan partai, kita harus kembali kepada pertimbangan soal waktu. Mengenai hal ini partai Islam mengalami dilema yang sama.

Kedua, Isu bersama (common issue) yang terus beredar dan menguat di tengah masyarakat adalah isu keterpasungan kedaulatan rakyat dalam peneyelenggaraan nation state.

Masyarakat yang selama ini hak-haknya terabaikan, jadi sadar bahwa selama ini mereka hanya dijadikan alat legitimasi politik untuk melanggengkan kekuasaan elit tertentu.

Common issue kemudian dengan sendirinya melahirkan musuh bersama (common enenmy) bagi masyarakat.

Common enemy ini tiada lain adalah mereka yang selama ini

telah menebar janji dan membayarnya dengan kebohongan belaka, yakni kelompok elit yang tergabung dalam rezim Orba.

Pada kesempatan pemilu kali ini, sebagian besar masyarakat, termasuk umat Islam, ingin mengekspresikan perlawanannya terhadap musuh bersama. Konsekuensi logisnya, masyarakat tidak ingin mempertaruhkan pilihannya kepada partai yang dianggap belum jelas, karena khawatir ikut mendukung kembali Orba. Di sini, parpol Islam kurang mempunyai tempat, bahkan disinyalir akan menjadi penyangga munculnya kekuatan neo-Orba.11

Dan common issue, jelas menguntungkan partai yang jauh sebelumnya telah berada pada posisi kontra atau bahkan sama-sama bernasib terpasung. Akibat common issue tersebut, masyarakat lantas memberikan pilihannya kepada partai yang posisi dan nasibnya sama. Mereka bukan hanya simpati, bahkan ada yang mendukung habis-habisan kepada partai tersebut. Mereka meyakini, bahwa dengan melakukan itu berarti telah ikut berjuang melawan musuh bersama.

Demikian pula ideologi, bukan karena tidak dijadikan landasan partai atau tidak dipahami masyarakat, tetapi ideologi kini bukan lagi trade mark partai. Platform bisa dijual hanya untuk kalangan tertentu yang berpandangan idealis, intelektual, dan kaum terpelajar, misalnya, sedangkan ideologi, hanya untuk kalangan yang berpaham keharusan mengganti ideologi Pancasila dengan ideologi agama.

Kenyataannya, silent majority yang cukup signifikan menentukan kemenangan, tidak termasuk dalam dua kategori itu.

11 Ulasan tentang hal ini lebih jauh, baca misalnya, Shalahuddin Wahid, “Partai Islam Dikesankan sebagai Status Quo” dalam Republika, 26 Mei 1999.

Ketiga, budaya politik masyarakat masih menceminkan kuatnya feodalisme. Pilihan masyarakat, terutama silent majority, didasarkan pada figuritas seorang tokoh kharismatik, bukan pada pertimbangan rasional. Terbukti, partai yang menempati lima besar (PDI Perjuangan, Golkar, PKB, PPP, dan PAN) adalah partai yang dipimpin atau calom presidennya merupakan figur populer dalam masyarakat. Apalagi kini telah terjadi pergeseran pandangan masyarakat terhadap kefiguran, dari figur keagamaan atau sosial kemasyarakatan ke figur politik.

Ketiadaan figur sentral dapat mengakibatkan ketidakpercayaan masyarakat, sebab selama ini mereka masih menganggap figur sebagai wakil atau malah pemimpin, baik ekstra-institusional maupun intra-institusional. Figur bisa jadi satu-satunya orang yang dipercaya sebagai pembela kepentingan dan penyalur aspirasi mereka. Figur ini, sekaligus menjadi simpul kelompok tertentu yang dapat mengikat kuat anggotanya.12

Sementara itu variabel khusus, lebih merupakan persoalan internal partai, yang menentukan perolehan suara parpol antara lain:

Pertama, pendirian partai tidak memperhatikan pola strategi politik. Kebanyakan parpol Islam dibuat asal jadi dan tidak memikirkan peluang politik yang bisa dicapai. Aktivis parpol bukannya bersatu merumuskan partai yang kuat, tetapi malah berlomba mendirikan parpol sendiri-sendiri, sementara strategi pendirian parpol, tidak dipikirkan secara

12 Sebut saja Megawati sebagai figur dan simpul dari Nasionalis- Sukarnois dan masyarakat kecil yang tertindas; Gus Dur figur dan simpul dari NU; Amien Rais figur dan simpul dari Muhammdiyah; Sedangkan Akbar Tandjung dan Hamzah Haz merupakan fgur politik lama bagi pendukung partainya masing-masing.

251

matang. Bahkan dapat dibaca, bahwa tujuan mereka adalah politik itu sendiri atau lebih spesifik lagi, materi, kekuasaan, dan bukan kepentingan yang lebih luas. Padahal kalau strategi politik dipakai, maka jumlah partai Islam tidak akan sebanyak saat ini.

Kedua, kehadiran parpol Islam tidak mendapatkan momentum yang baik bahkan sebaliknya. Kondisi sosial masyarakat kini tengah mengalami semacam disharmonisasi antara satu kelompok dengan kelompok lain, termasuk antara kelompok agama. Perbedaan dan pertentangan yang semula sudah relatif mencair, kini mengalami ketegangan kembali.

Hal ini banyak ditandai dengan banyaknya peristiwa berdarah, sebut saja Ketapang, Kupang, Ambon, dan Sambas, ditambah lagi isu tentang disintegrasi bangsa. Kontan saja, kondisi semacam ini berakibat adanya kekhawatiran yang bukan hanya dari non-Muslim tetapi juga dari umat Islam sendiri, yang dapat menyadarinya. Kekhawatiran ini sifatnya wajar dan bukan sebagai ketidakmengertian atau pun “alergi”.

Kehadiran partai Islam dengan sejumlah jargon keagamaan dan simbol-simbolnya bisa saja diyakini masyarakat dapat mempertajam persoalan dan menimbulkan konflik baik tertutup maupun terbuka. Karena itu, masyarakat belum tertarik dengan kehadiran suatu parpol; apakah ia membawa label tertentu yang sesuai dengan agamanya atau tidak. Untuk saat sekarang, sebagian umat cukup memilih partai pluralis yang komitmen keagamaan elitnya dipercaya.

Ketiga, parpol Islam belum menampakkan inklusivitasnya. Inklusivitas bukan berarti adanya dukungan konkret dari non-Islam, tetapi inklusif dari segi program, pemikiran, dan perjuangan terhadap semua kepentingan yang bersifat umum. Parpol Islam masih memperlihatkan Islam- sentris atau kelompok-sentris, bahkan faham-sentris, sehingga

sulit untuk menarik pendukung lebih luas, kalaupun didukung hanya oleh kelompok terbatas. Atau dengan kata lain, saat ini, parpol Islam lebih memilih untuk memperlihatkan simbol dan atribut keagamaan yang kadang-kadang bernada provokasi, ketimbang citra Islam itu sendiri, yakni rahmat li al-’alamin.

Padahal boleh jadi, dengan memposisikan diri inklusif, parpol Islam akan mendapatkan dukungan, bukan hanya umat Islam tepai juga non-Muslim.

Belum inklusifnya partai Islam saat ini, juga dapat dilihat dari sisi susunan kepengurusan. Bila kita menyimaknya, maka tidak terlalu berlebihan jika dikatakan, bahwa hampir seratus persen, pengurus partai Islam adalah mereka yang termasuk dalam “golongannya” sendiri.13 Jadi belum ada keberanian dari partai Islam untuk merekrut individu atau kelompok lain di luar “golongannya”, apalagi lintas agama, sebagai pengurusnya.

Padahal, dengan beragamnya “aliran” bahkan agama dalam susunan kepengurusan, akan menunjukkan bahwa partai dimaksud bukanlah sektarian dan memang diciptakan untuk semua golongan dan dalam rangka memperjuangkan semua golongan. Bila kondisi ini terpenuhi, maka, tidak menutup kemungkinan akan terjadi gelombang simpati dan self of belonging, bukan saja dari individu atau golongan yang termasuk dalam kelompoknya, tetapi juga dari individu atau golongan lain di luar kelompoknya, bahkan di luar agamanya.

Dalam dokumen GELIAT ISLAM POLITIK DI INDONESIA (Halaman 145-155)