RELASI ISLAM dan POLITIK di INDONESIA
A. Partai Islam di Indonesia: Melacak Akar Tradisi
merupakan kelanjutan dari organisasi yang dibentuk sebelumnya, yakni Sarekat Dagang Islam (SDI), tahun 1911.5 Sebenarnya masih dapat diperdebatkan, apakah Sarekat Islam itu sejak pertama kali didirikan telah menjadi partai politik atau ia hanya merupakan perkumpulan biasa, dalam arti perkumpulan yang hanya bersifat ekonomi.
Menurut Noer, perkumpulan itu tidak dapat disebut partai politik, sungguh pun wujud dan tuntutannya bersifat politik. Hal ini didasarkan pada kenyataan terdapatnya larangan berserikat dan berkumpul dalam arti politis.6 Walaupun demikian, John Ingleson mengatakan, bahwa sejak pembetukannya pada tahun 1912, Sarekat Islam merupakan partai politik Islam yang terkemuka dan selama beberapa tahun menjadi partai modern satu-satunya pada masa kolonial.7 Hal senada juga diungkapkan oleh Robert Van Niel.
rendahnya di sekolah kelas dua, Samanhudi, yang pergi naik haji ke Mekkah tahun 1904 ini, membantu ayahnya berdagang batik hingga ia berhasil membuka perusahaan batik sendiri tahun 1888.
4 Lihat Deliar Noer, Partai Islam, 5; Bandingkan Deliar Noer, The Modernits, 102; M. Rusli Karim, Perjalanan Partai Politik di Indonesia, 18-9;
Abdul Aziz Thaba, Islam dan Negara dalam Politik Orde Baru (Jakarta:
Gema Insani Press, 1996), 141.
5 Di kalangan pengamat, terdapat kontroversi tentang tahun kelahiran SDI. Ada yang berpendapat bahwa SDI lahir pada 16 Oktober 1905, mendahului Budi Utomo yang didirikan 20 Mei 1908. Namun M.A.
Gani, seorang tokoh Sarekat Islam pascakemerdekaan, mengatakan bahwa, kelahiran SDI memang pada Oktober 1905. Oleh sebab itu, ia mendasarkan ulang tahun SDI pada peristiwa 16 Oktober. Lihat M.A. Gani, Cita Dasar dan Pola Perjuangan Syarikat Islam (Jakarta: Bulan Bintang, 1984), 12-3.
6 Lebih jauh baca Deliar Noer, “Perkembangan Demokrasi Kita”
dalam Prisma 2, Pebruari 1977, 18-33.
7 Baca John Ingleson, Jalan ke Pengasingan (Jakarta: LP3ES, 1983), 48-9.
22
25 138
232
Menurut Niel, Sarekat Islam merupakan salah satu organisasi politik Indonesia abad ke-20 yang paling menonjol.8
Terlepas dari pro-kontra tersebut, maka, mungkin akan lebih mudah kita memaknainya, apabila kita melihat perkembangan Sarekat Islam itu sendiri. Dan jika dilihat dari perkembangannya, maka, perjuangan Sarekat Islam dapat dibagi dalam empat periode: (1) periode corak dan bentuk (1911-16); (2) periode puncak (1916-21); (3) periode konsolidasi, ketika SI bersaing dengan golongan Komunis dan mendapat berbagai tekanan dari pihak Belanda (1921-27);
dan (4) periode mempertahankan eksistensi dalam forum politik Indonesia (1927-42).9
Periode Pertama (1911-16). Sebenarnya ada dua alasan mengapa Sarekat Islam didirikan, yakni (1) kompetisi yang meningkat dalam bidang perdagangan batik, terutama dengan golonan Cina, dan sikap superioritas orang-orang Cina terhadap orang-orang Indonesia sehubungan dengan berhasilnya Revolusi Cina tahun 1911; dan (2) adanya tekanan dari masyarakat Indonesia di Solo, yakni dari kalangan bangsawan.10
Masa-masa pertama dari Sarekat Islam ini, ditandai oleh perhatiannya terhadap masalah-masalah organisasi, termasuk di dalamnya usaha mencari pimpinan, penyusunan
8 Robert Van Niel, Munculnya Elit Modern Indonesia (Jakarta:
Pustaka Jaya, 1984), 2.
9 Lihat Deliar Noer, Gerakan Moderen Islam, 114-5.
10 Ibid, 115-6. Sementara menurut Raden Mas Tirtoadisurjo, Sarekat Islam didirikan dengan alasan, tiap-tiap orang mengetahui bahwa masa yang sekarang ini dianggapnya zaman kemajuan. Namun janganlah mencari kemajuan itu hanya dengan suara saja. Dan bagi kaum Muslimin dipikulkan kewajiban juga agar turut mencapai tujuan itu, dan oleh karenanya, maka ditetapkanlah pendirian perhimpunan Sarekat Islam.
21
48
66
69
203
220
Anggaran Dasar (AD),11 dan masalah hubungan antara organisasi pusat dengan daerah. Keberhasilan dalam menyelesaikan masalah-masalah di atas, menyebabkan Sarekat Islam dapat berjalan dengan lancar sampai mencapai puncaknya pada periode 1916-21.12
Jika didasarkan pada AD-nya, maka, organisasi ini mempunyai tujuan:
“…akan berikhtiar, supaya anggota-anggotanya satu sama lain bergaul seperti saudara, dan supaya timbullah kerukunan dan tolong menolong satu sama lain antara sekalian kaum Muslimin, dan lagi dengan segala daya upaya yang halal dan tidak menyalahi wet-wet negeri (Surakarta) dan wet-wet Gouvernement, ... berikhtiar mengangkat derajat rakyat, agar menimbulkan kemakmuran, kesejahteraan dan kebesarannya negeri”.13
Akan tetapi, dalam perkembangannya, Resisden Surakarta segera membekukan Sarekat Islam, setelah organisasi ini berkembang cepat ke daerah-daerah lain di Jawa dan setelah kegiatan para anggotanya di Solo meningkat tanpa dapat diawasi oleh penguasa setempat. Perkelahian terus terjadi dengan golongan Cina; dan sebuah pemogokan dilancarkan oleh para pekerja di perkebunan Krapyak di Mangkunegaran pada permulaan bulan Agustus 1912. Kedua macam kerusuhan itu, menurut pihak penguasa disebabkan
11 Anggaran Dasar pertama tertanggal 11 November 1911 dirumuskan oleh RM. Tirtoadisurjo lulusan sekolah STOVIA. Tokoh ini aktif dalam pers dan menerbitkan majalah Medan Prijaji di Bogor, dan juga mendirikan sebuah organisasi dagang bernama Sarekat Dagang Islamiyah di Bogor tahun 1911.
12 Lihat Deliar Noer, Gerakan Moderen Islam, 115-6.
13 Ibid, 117.
12 17
oleh Sarekat Islam. Kemudian pembekuan tersebut dicabut kembali pada tanggal 26 Agustus 1912 dengan syarat agar AD-nya diubah sedemikan rupa, sehingga ia hanya terbatas pada daerah Surakarta saja.14
Pada periode ini, atas ajakan H. Samanhudi, bergabunglah Oemar Said Tjokroaminoto, tokoh yang diharapkan mengemudikan organisasi ini. Tjokroaminoto bergabung dengan Sarekat Islam di Surabaya pada bulan Mei 1912.15 Tanpa memperhatikan persyaratan Residen Surakarta di atas, Tjokroaminoto menyusun sebuah AD baru untuk organisasi itu bagi seluruh Indonesia dan meminta pengakuan dari pemerintah untuk menghindarkan diri dari apa yang disebut “pengawasan preventif dan represif secara administratif”.16 Di samping itu, juga ikut bergabung Abdoel Moeis, H. Agus Salim, dan Soewardi Soerjaningrat (Ki Hadjar Dewantara).
Masuknya tokoh-tokoh tersebut, konon, berdampak pada menurunnya popularitas Samanhudi, di samping karena Samanhudi memang banyak terlibat pada aktifitas-aktifitas di
14 Ibid. Syarat lain adalah pengawasan terhadap keuangan perkumpulan itu yang harus dilakukan secara memuaskan. Sebenarnya, pada waktu itu anggota-anggota tidak diwajibkan membayar iuran bulanan; iuran mereka terbatas pada sejumlah 30 sen pada saat pendaftaran.
15 Pada tanggal 13 Mei 1912 tiga orang anggota delegasi Sarekat Islam mengunjungi Surabaya untuk keperluan organisasi dan untuk menemui Tjokroaminoto agar bersedia memperkuat organisasi itu dan bergabung padanya. Tjokroaminoto pada waktu itu telah dikenal sebagai seorang yang memiliki sikap yang radikal terhadap Belanda.
16 Menurut Abdoel Moeis pengakuan secara hukum dari pemerintah akan meningkatkan prestise organisasi itu di tengah masyarakat. Di samping itu, pengakuan tersebut juga akan menghapuskan adanya kekhawatiran mengenai kedudukan organisasi itu yang mungkin akan mengakibatkan menjauhnya calon-calon anggota.
57
57
luar organisasi. Akibatnya, prestise-nya sebagai pemimpin, memundar, dan perdagangannya pun gagal, ditambah lagi dengan menurunnya fisik maupun mental.
Namun, yang perlu digarisbawahi, bahwa dalam periode ini tidak terdapat suatu program yang jelas, yang memungkinkan para pemimpinnya memberikan arah yang lebih tegas bagi organisasinya. Memang benar, bahwa maksud dan tujuan organisasi telah dirumuskan, baik oleh Tirtoadisurjo maupun Tjokroaminoto, tetapi, ia mempunyai sifat yang sangat luas dan umum, sehingga ia mencakup segala macam kegiatan.
Periode Kedua (1916-21). Dalam periode ini, ketika struktur organisasi telah sedikit stabil, Sarekat Islam memberikan perhatian kepada berbagai masalah, baik politik maupun agama. Sifat politiknya tercermin dengan jelas pada nama dari kongres-kongres tahunannya. Dalam periode pertama, pertemuan-pertemuan tahunan ini disebut kongres saja, sedangkan dalam periode kedua, pertemuan tersebut telah disebut kongres nasional. Hal ini tidak sekedar mencerminkan bahwa partai tersebut telah tersebar di seluruh persada tanah air, dan bahwa kongres-kongres itu diikuti oleh utusan-utusan dari segenap daerah, tetapi, ia pun juga mencerminkan suatu usaha yang sadar dari para pemimpinnya untuk menyebarkan dan menegakkan cita-cita Nasionalisme, dengan Islam sebagai ajaran yang dianggap sebagai dasar pemikiran tersebut.
Sifat politik dari organisasi ini dirumuskan dalam
“Keterangan Pokok” (Asas) dan Program Kerja yang disetujui oleh kongres nasional yang kedua, tahun 1917. Keterangan Pokok ini mengemukakan kepercayaan Centraal Sarekat Islam, bahwa “agama Islam itu membuka pikiran perihal persamaan derajat manusia sambil menjunjung tinggi kepada kuasa
10 85
92
negeri” dan “bahwasanya Islam adalah sebaik-baik agama untuk mendidik budi pekerti rakyat”. Partai ini juga memandang, “...agama (sebagai) sebaik-baiknya daya upaya yang boleh dipergunakan agar jalannya akal budi setiap orang itu ada bersama-sama budi pekerti...”. Di samping itu, Centraal Sarekat Islam pun tidak mengakui sesuatu golongan rakyat (penduduk) berkuasa di atas golongan rakyat (penduduk) yang lain. Ia mengharap hancurnya kekuasaan kapitalisme yang jahat (zonding capitalism). Dalam mencapai maksud dan tujuan ini, Centraal Sarekat Islam bekerjasama dengan pihak-pihak yang menyetujuinya.17
Petunjuk lain tentang sifat politik Sarekat Islam adalah beberapa kegiatannya dalam Aksi Ketahanan Hindia (Indie Weerbaar Actie). Aksi ini, awal mulanya didirikan atas inisiatif pengusaha Belanda yang khawatir jika perang dunia menyebar ke Indonesia, akan menghancurkan kedudukan dan kapital mereka.18 “Panitia” yang bersangkutan berusaha untuk mencari dukungan rakyat. Untuk keperluan ini mereka mengundang organisasi-organisasi termasuk Sarekat Islam, Budi Utomo, dan Prinsen Bond (Persatuan Pangeran- pangeran) untuk bekerjasama.19
Sarekat Islam mempergunakan forum dan kegiatan aksi ini sebagai saluran pemikiran dan perasaan tidak- senangnya. Sarekat Islam juga memberikan tafsiran sendiri tentang apa yang dimaksudkan dengan “ketahanan”. Menurut pemimpin Sarekat Islam, pertahanan atau ketahanan (weerbaar), tidak hanya berarti kemampuan fisik berdasar pada kekuatan angkatan perang dan peralatannya, tetapi juga kemampuan untuk memenuhi segala hajat negeri tanpa
17 Deliar Noer, Gerakan Moderen Islam, 127.
18 Ibid., 132.
19 Ibid.
bergantung pada orang atau negeri lain. Hal itu berarti juga menyangkut kemajuan ekonomi serta kemajuan intelektual dan kedewasaan spiritual.20
Pada periode ini pula terjadi pertentangan antarpemimpin partai, baik berlatar kepentingan organisasi maupun kepentingan pribadi.21 Hal ini berdampak pada kurangnya ikatan kepemimpinan terhadap massa pengikut yang mulai mempertanyakan hubungan mereka dengan partai. Dan yang lebih penting pula, mundurnya kekuatan Sarekat Islam, juga disebabkan oleh masuknya pemikiran- pemikiran dan cara-cara dari golongan Komunis yang diperjuangkan oleh Semaun dan Darsono,22 yang berakibat terjadinya perpecahan partai tersebut pada tahun 1921.23
Perpecahan itu tidak datang secara tiba-tiba, karena memang pemikiran Komunisme tumbuh di dalam partai secara berangsur-angsur. Dilancarkan dari Semarang yang merupakan pusat ISDV (Indische Sociaal Democratische Vereniging),24 pemikiran-pemikiran tersebut disertai dengan
20 Sebagaimana dikatakan oleh Moeis dalam wawancaranya dengan Deliar Noer di Bandung pada tahun 1956 dan 1957. Lihat Ibid.
21 Pada tahun 1920 misalnya. Golongan Komunis melalui Darsono menyatakan ketidakpercayaannya terhadap kepemimpinan Tjokroaminoto terutama mengenai persoalan keuangan.
22 Kedua tokoh ini pada tahun 1917 dihubungi oleh ISDV, kendatipun kedua tokoh ini masih berada dalam Sarekat Islam. Dari sinilah awal mula terpengaruhnya anggota Sarekat Islam oleh ajaran Komunisme.
23 Pertentangan antara dua kubu utama Sarekat Islam, yakni Sarekat Islam Putih dan Sarekat Islam Merah, yang selama ini dapat ditutupi akhirnya tak terbendung lagi setelah diadakannya Kongres PKI pertama di Semarang pada tanggal 24-5 Desember 1921.
24 ISDV merupakan sebuah perkumpulan Komunis, Semaun adalah salah satu anggotanya, mengemukakan bahwa pemimpin-pemimpin pribumi tertentu, yakni pemimpin-pemimpin Centraal Sarekat Islam, telah dipergunakan sebagai alat propaganda untuk pertahanan militer yang merugikan sebagian besar dari rakyat sendiri. Pendirian ISDV ini dapat
kecaman-kecaman terhadap para pemimpin Centraal Sarekat Islam, terutama Moeis dan Salim. Pertumbuhan pemikiran Komunisme di dalam tubuh partai sendiri inilah yang telah menyebabkan melemahnya, bahkan pecahnya Sarekat Islam.
Periode Ketiga (1921-27). Pada tahun 1921, tercatat beberapa perubahan yang terjadi dalam Sarekat Islam; (1) dijumpai perubahan pada Keterangan Asas partai, sehingga dapat dikatakan partai ini merupakan kreasi baru dan bukan kelanjutan struktur lama, (2) dicatat suatu perpecahan dengan kalangan PKI, dan ke-(3) adalah penahanan terhadap Tjokroaminoto oleh pemerintah (Belanda) yang menyebabkan alasan utama untuk mengambil kebijakan “politik hijrah”
pada tahun berikutnya.
Oleh karena kecewa terhadap pihak Belanda, maka, diadakanlah perubahan pada Keterangan Asas. Prinsip yang dikemukakan dalam Keterangan Asas yang baru, mencerminkan kecenderungan yang bersifat bermusuhan dengan negeri Belanda khususnya, dan terhadap Eropa pada umumnya. Juga terhadap negeri-negeri yang oleh Sarekat Islam dianggap sebagai penyebab keadaan yang terus memburuk di Indonesia.
Bukan hanya itu. Keterangan Asas juga meletakkan tekanan pada kekecewaan terhadap Politik Etis Belanda yang dianggap hanya menguntungkan orang-orang Belanda saja.
Jadi, berdirinya sekolah-sekolah yang diusahakan oleh Belanda dalam rangka melaksanakan Politik Etis ini, dilihat oleh Sarekat Islam sebagai suatu usaha untuk memenuhi
dipandang sebagai usaha pertama kali memasukkan ajaran Marxisme.
Pada tanggal 23 Mei 1920, ISDV diubah namanya menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI). Kegiatan-kegiatan ISDV di dalam lingkungan Sarekat Islam yang menggoncang partai dapat diamati dalam Volksraad, Aksi Pertahanan Hindia, dan buruh. Lihat M. Rusli Karim, Perjalanan Partai Politik, 24.
2 10
10
74
119
119
keperluan tenaga-tenaga terlatih dalam pemerintahan dan dalam dunia dagang Eropa. Eropalah, menurut Keterangan Asas itu, yang telah mengubah hampir segenap rakyat Hindia sebagai kaum buruh, termasuk yang terpelajar yang hanya berharga sebagai perkakas pihak penarik kekayaan itu.25
Keterangan Asas itu juga menekankan pula perlunya persatuan dari para petani dan pekerja yang diharapkan akan berjuang untuk menghapuskan segala “kejahatan dari perbudakan politik dan ekonomi”. Hak-hak politik dianggap sebagai kemestian bagi penghapusan ini. Tetapi, Keterangan Asas tersebut tidak mengakui pertentangan kelas sebagaimana yang dikemukakan oleh Komunisme.26 Kedudukan Islam dijelaskan dengan lebih luas. Hal ini terutama merupakan kerja Salim, yang memang banyak bertanggungjawab atas penyusunan Keterangan Asas itu.27
Sedangkan perubahan struktur baru Sarekat Islam, dihasilkan lewat Kongres Nasional ketujuh di Madiun tanggal 17-20 Februari 1923. Perubahan itu dimaksudkan agar organisasi Sarekat Islam diubah menjadi satu partai yang terdiri atas anggota-anggota inti Sarekat Islam lama yang aktif dalam organisasi ini, dan yang tidak goncang loyalitasnya kepada partai. Anggota-anggota inti (wargorumekso) membentuk cabang-cabang partai. Partai (pada tingkat
25 Deliar Noer, Gerakan Moderen Indonesia, 145.
26 Ibid.
27 Salim dan Semaun dipercayakan bersama-sama untuk menyusun dasar-dasar partai, tetapi karena pertikaian di antara keduanya, rencana dasar-dasar partai tersebut tidak dapat dianggap sebagai suatu hasil bersama. Marco, sekretaris kedua dari Centraal Sarekat Islam, mengatakan bahwa dasar-dasar itu lebih mencerminkan pemikiran Salim daripada Semaun.
92 231
cabang dan tingkat pusat) akan berdiri di samping Sarekat Islam lokal dan Centraal Sarekat Islam.28
Alasan pokok memakai struktur baru tersebut adalah adanya anggapan bahwa struktur lama membahayakan kepemimpinan organisasi. Hal itu disebabkan oleh kedudukan yang (sedikit-banyak) bebas dari satuan-satuan Sarekat Islam lokal, sedangkan sebaliknya, Centraal Sarekat Islam dianggap bertanggungjawab terhadap segala macam kekurangan dan kesalahan dari organisasi lokal. Koordinasi antara Sareka Islam lokal dan bimbingan dari Centraal Sarekat Islam, seringkali dihambat oleh langkah-langkah ataupun tindakan-tindakan pemerintah.29
Periode ketiga ini mencatat hilangnya salah seorang pemimpin utama partai, Abdoel Moeis. Namanya tidak lagi nampak dalam daftar anggota pimpinan pusat Sarekat Islam yang dipilih pada Kongres Nasional ketujuh tersebut. Sebagai penggantinya adalah H. Agus Salim, yang sebelumnya adalah komisaris dari Centraal Sarekat Islam, menjadi wakil presiden partai.
Mundurnya Moeis mungkin sekali disebabkan oleh kekecewaannya terhadap sikap dari pemimpin-pemimpin Sarekat Islam yang lain, terutama Tjokroaminoto yang dirasakannya tidak memperlihatkan dukungan moril bagi kegiatan-kegiatannya. Hal lain yang menyebabkan mundurnya Moeis adalah bahwa ia lambat laun lebih banyak terlibat dalam persoalan-persoalan lokal. Sekitar tahun 1923- 24, misalnya, Moeis berada di Padang untuk memberikan
28 Ibid., 146.
29 Ibid., 147. Hambatan-hambatan tersebut umpamanya, dalam tahun 1925, anggota Centraal Sarekat Islam dilarang oleh pemerintah untuk berpartisipasi dalam suatu rapat Sarekat Islam lokal di Rembang.
bantuan kepada rakyat di daerah tersebut yang berjuang mempertahankan hak-hak tanahnya.30
Dalam periode ini pula terlihat sikap partai Sarekat Islam terhadap pemerintah berlawanan sekali dibanding periode sebelumnya. Kepercayaan terhadap pemerintah dan kesediaan untuk bekerjasama dengan pemerintah lenyap sama sekali. Penahanan pemerintah terhadap Tjokroaminoto (sekitar tujuh bulan dalam tahun 1921-22), dan harapan partai terhadap pemerintah untuk membersihkan nama presidennya dari segala tuduhan terlibat dalam Sarekat Islam afdeling B,31 menyebabkan partai tidak dapat lagi mempercayai pihak pemerintah. Partai ini tidak segera memutuskan hubungannya dengan pemerintah, tetapi memutuskan bahwa dalam Volksraad, ia hanya dapat diwakili oleh Tjokroaminoto, suatu pertanda betapa pahitnya perasaan partai terhadap penahanan pemimpinnya sebelumnya.32
Demikian juga halnya dalam gerakan nasional. Secara keseluruhan, Sarekat Islam tidak lagi menempati posisi yang menentukan sebagaimana yang pernah ditempatinya. Di samping menurunnya kekuatan partai, hal ini mungkin disebabkan oleh perubahan hubungannya dengan partai-
30 Ibid., 148-9. Sejumlah tanah yang luas di Minangkabau diakui sebagai milik pemerintah yang akan disewakan kepada rakyat. Padahal, menurut adat di Minangkabau, tanah tersebut merupakan tanah rakyat.
31 Sarekat Islam afdeling-B merupakan suatu organisasi yang tertutup dan mungkin dapat dikatakan sebagai organisasi bawah tanah yang secara resmi tidak mempunyai hubungan apapun juga dengan Sarekat Islam.
32 Memang benar Tjokroaminoto dibebaskan oleh pengadilan dari segala tuduhan, tetapi kalangan Sarekat Islam menganggap ini kurang cukup bagi pemulihan prestise dan namanya. Kompensasi yang dapat diterima oleh Sarekat Islam adalah pengangkatan Tjokroaminoto di Volksraad.
74
partai lain yang tidak lagi bersahabat, sebagaimana tampak pada periode sebelumnya.
Periode Keempat (1927-42). Pada periode terakhir ini, transisi untuk mendirikan Partai Sarekat Islam dan menghapuskan struktur lama selesai. Namun, hal ini bukan berarti bahwa dalam periode terakhir ini masalah-masalah struktur tidak lagi dipersoalkan. Hanya saja, perhatian lebih banyak ditujukan kepada persoalan-persoalan teori dan falsafah seperti yang dicerminkan oleh Keterangan Asas dan Politik Hijrah,33 dibandingkan dengan periode-peride sebelumnya. Hal lain yang menyebabkan pecahnya SI adalah keputusannya pada tahun 1927 untuk mengeluarkan semua anggota-anggota Muhammadiyah dari lingkungannya.34
Dalam periode ini tercatat pula terbentuknya PNI (Partai Nasional Indonesia) yang didirikan oleh Soekarno.35 Dengan demikian, maka, di Indonesia, dimulailah sebuah partai yang “menantang” kedudukan Sarekat Islam, ataupun kepemimpinan Islam umumnya, dalam rangka pergerakan
33 Hijrah sebagai suatu politik kebijaksanaan Sarekat Islam, dilancarkan untuk pertama kalinya dalam tahun 1923 sebagai akibat ketidakpercayaan partai terhadap pemerintah, dan keyakinan bahwa kerjasama dengan pemerintah hanya akan menyebabkan partai lebih jauh saja dari tujuannya.
34 Lihat Deliar Noer, Gerakan Moderen Islam, 154. Bila dirunut ke belakang, keputusan tersebut tidak begitu saja tiba-tiba diambil.
Mengingat, sebenarnya telah terjadi pertikaian antara Sarekat Islam dan Muhammadiyah sejak tahun 1926. Pertikaian itu membuat Sarekat Islam mengambil langkah-langkah disiplin terhadap Muhammadiyah, yaitu bila anggota-anggota Muhammadiyah masih menghendaki dalam partai, maka mereka harus meninggalkan Muhammadiyah. Juga ketika Sarekat Islam mengubah Majelis A’la Islam Hindia Syarqiyah (MAIHS) sebagai bagian dari partai, mendapat pertentangan dari Muhammadiyah.
35 Lebih jauh mengenai PNI, baca Biro Humas KPU, Pemilu Indonesia, 11.
10
249
perjuangan kemerdekaan. Posisi penting pemimpin- pemimpin PNI di dalam gerakan kemerdekaan, menyebabkan terjadinya dua sayap di dalam lingkungan gerakan itu, yaitu Nasionalis-Islam di satu pihak, dan Nasionalis-netral agama, pada pihak berseberangan.
Secara ideologi, adanya dua sayap tersebut, dapat dicatat terus sampai masuknya Jepang ke Indonesia, tahun 1942, dan dapat pula dikatakan sampai masa merdeka. Tetapi, periode ini juga mencatat realisasi dari persatuan semua partai nasional, termasuk Sarekat Islam. Namun dapat dikatakan, hal ini tidak berlangsung lama. Sikap Sarekat Islam, yang dalam tahun 1930 namanya diubah menjadi Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII), terhadap pemerintah tetap bermusuhan. Politik Hijrah dijalankan dengan lebih tegas, walaupun dengan tidak terlalu konsisten.36
Pada periode terakhir ini pula tercatat pecahnya Sarekat Islam sendiri menjadi beberapa partai kecil, seperti Penyadar37 dan Komite Pertahanan Kebenaran PSII.38 Di samping itu, partai baru, Partai Islam Indonesia, juga merupakan tempat penyaluran aspirasi dari banyak anggota organisasi pendidikan dan sosial Islam, yang dahulunya disalurkan melalui Sarekat Islam. Sehingga, Sarekat Islam tidak lagi dapat menyatakan dirinya sebagai wakil dari sebagian besar masyarakat Islam Indonesia.
36 Salah satu bentuk ketidak-konsistennya Sarekat Islam dalam menjalankan politik hijrah adalah Sarekat Islam, bersama-sama dengan organisasi politik yang lain, menuntut berdirinya parlemen di Indonesia, dan itu berarti bekerjasama (cooperative) dengan pihak lain.
37 Organisasi pecahan Sarekat Islam ini dipimpin oleh H. Agus Salim.
38 Sedangkan Komite Pertahanan Kebenaran PSII ini dipimpin oleh Kartosuwirjo.
2
12 85