• Tidak ada hasil yang ditemukan

Menuju Partai Islam Masa Depan

Dalam dokumen GELIAT ISLAM POLITIK DI INDONESIA (Halaman 155-200)

RELASI ISLAM dan POLITIK di INDONESIA

B. Menuju Partai Islam Masa Depan

sulit untuk menarik pendukung lebih luas, kalaupun didukung hanya oleh kelompok terbatas. Atau dengan kata lain, saat ini, parpol Islam lebih memilih untuk memperlihatkan simbol dan atribut keagamaan yang kadang-kadang bernada provokasi, ketimbang citra Islam itu sendiri, yakni rahmat li al-’alamin.

Padahal boleh jadi, dengan memposisikan diri inklusif, parpol Islam akan mendapatkan dukungan, bukan hanya umat Islam tepai juga non-Muslim.

Belum inklusifnya partai Islam saat ini, juga dapat dilihat dari sisi susunan kepengurusan. Bila kita menyimaknya, maka tidak terlalu berlebihan jika dikatakan, bahwa hampir seratus persen, pengurus partai Islam adalah mereka yang termasuk dalam “golongannya” sendiri.13 Jadi belum ada keberanian dari partai Islam untuk merekrut individu atau kelompok lain di luar “golongannya”, apalagi lintas agama, sebagai pengurusnya.

Padahal, dengan beragamnya “aliran” bahkan agama dalam susunan kepengurusan, akan menunjukkan bahwa partai dimaksud bukanlah sektarian dan memang diciptakan untuk semua golongan dan dalam rangka memperjuangkan semua golongan. Bila kondisi ini terpenuhi, maka, tidak menutup kemungkinan akan terjadi gelombang simpati dan self of belonging, bukan saja dari individu atau golongan yang termasuk dalam kelompoknya, tetapi juga dari individu atau golongan lain di luar kelompoknya, bahkan di luar agamanya.

Bila kita menengok kembali sejarah, sebagaimana paparan di atas, maka pendirian parpol dengan memakai simbol-simbol Islam, meminjam istilah Azyumardi Azra, sangat tidak prospektif.14 Sebab, menurut Azyumardi Azra, elit Islam di sini (Indonesia) membentuk partai lebih didorong oleh semangat persaingan politik pengaruh, dan sekaligus merebut kekuasaan.15 Akibatnya, partai-partai semacam itu, sangat sulit untuk menjadi kekuatan yang betul-betul signifikan dan menentukan.

Apalagi, jika mengingat sosiologi masyarakat Muslim Indonesia yang bercorak tidak terlalu menekankan formalisme atau simbolisme keagamaan. Hal itu didasarkan pada proses perkembangan Islam di Indonesia, meminjam kerangka Taufik Abdullah, yakni proses konflik dan akomodasi.16 Akan tetapi dalam prosesnya lebih lanjut, yang lebih banyak terjadi sebetulnya adalah akomodasi dengan kekuatan-kekuatan lokal maupun kekuatan-kekuatan Islam yang sudah mengalami indeginasi (asimilasi dengan unsur lokal).

Kondisi di atas, kemudian ditambah lagi dengan belum tertuntaskannya atau bahkan tidak akan pernah tertuntaskannya, persoalan konseptual tentang hubungan antara Islam dan politik.17 Dalam landscape Indonesia, sebagian umat Islam, jumlahnya hanya kecil, percaya

14 Lebih jauh tentang ulasan tersebut, lihat Panji, 23 Juni 1999.

15 Ibid.

16 Sebagaimana dikutip oleh Azyumardi Azra, “Partai Islam Tidak Prospektif” dalam Deliar Noer (et.al.), Mengapa Partai Islam Kalah, 217.

17 Dalam upayanya menjelaskan fenomena kontemporer politik Islam di Indonesia, khususnya yang menyangkut hubungan politik antara Islam dan negara, Bahtiar Effendy menawarkan lima pendekatan teoretis;

yakni (1) dekonfessionalisasi Islam; (2) domestikasi Islam; (3) skismatik dan aliran; (4) trikotomi; dan (5) Islam kultural. Lebih jauh baca Bahtiar Effendy, Islam dan Negara, 23-47.

60

60 130

mengenai hubungan yang simbiosis antara agama dan politik, yang kemudian memunculkan formalisme politik Islam.

Sementara yang lain, dan lebih banyak, percaya bahwa, sesungguhnya kalau Islam hendak dibawa ke dalam politik, itu hanya dalam konteks nilai-nilai substantif berupa pesan- pesan universal Islam, antara lain seperti persoalan keadilan, demokrasi.

Oleh karenya, persoalan yang penting saat ini adalah menerjemahkan gagasan-gagasan politik Islam pada tingkat yang lebih substantif, lebih bermakna, dan (tentu saja) tidak formalis. Contoh kasus, Islam menekankan persoalan keadilan, maka yang harus dilakukan adalah menerjemahkan konsep keadilan itu ke dalam sistem politik atau ekonomi, begitu juga dengan persoalan toleransi, demokrasi, dan sebagainya. Atau dengan arti lain, harus dibangun kerangka yang tidak lagi hanya menjadi acuan pada tingkat konsep, tetapi sampai pada tingkat operasional.

Bertitik mula dari persoalan di atas, maka, dapat dikatakan bahwa penggunaan asas Islam dalam partai Islam bukan saja tidak membantu kemenangan umat Islam, tetapi counter-productive terhadap perjuangan menegakkan demokrasi, yang artinya juga perjuangan untuk memenangkan umat Islam itu sendiri.

Hal ini mengingat, dengan menggunakan Islam sebagai asas, prinsip, dan ideologi, partai-partai berasas Islam, sekedar hanya menggunakan simbol yang umum untuk membedakan dirinya dengan partai-partai lain, tanpa mencoba untuk menggali dan mencari secara lebih rinci detail penjabarannya. Dengan menjadikan Islam sebagai ideologi simbolis seperti ini, partai Islam mengandaikan Islam secara keseluruhan sedang berhadapan dengan satu musuh yang

harus dilawan yang mempunyai ideologi berbeda.18 Di sini, partai dengan asas/ideologi Islam membayangkan adanya partai lawan yang mempunyai ideologi yang mengancam Islam. Dengan demikian, Islam, disempitkan dalam suatu ideologi untuk melayani kepentingan partai dalam upayanya menghadapi kelompok atau partai lain, dalam rangka meraih pendukung fanatis. Dan ini berarti, bahwa, ideologisasi Islam dapat dianggap sebagai mereduksi Islam.19 Perkembangan demikian sebetulnya counter-productive, karena biasanya menutup penafsiran lain dan menjadikan Islam hanya milik segelintir orang.20

Dalam kaitannya dengan persoalan ini, Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menegaskan keharusan Islam untuk menerima pluralitas situasi-situasi lokal dan setempat, serta mengakomodasinya. Dalam konteks agenda-agendanya untuk mempertimbangkan situasi lokal setempat, Gus Dur menyuarakan gagasan tentang (1) Islam sebagai faktor komplementer dalam kehidupan sosio-kultural dan politik Indonesia;21 dan (2) pribumisasi Islam.22

18 Adalah sifat dari suatu ideologi bahwa ia meniscayakan adanya ideologi dari kelompok lain yang harus dilawan.

19 Lihat Djohan Effendi dan Ismed Natsir (ed.), Pergolakan Pemikiran Islam: Catatan Harian Ahmad Wahib (Jakarta: LP3ES, 1981), 146 dan 150.

20 Paradigma berpikir ideologis tentang adanya musuh yang mengancam, terlihat pula dalam manuver politik mutakhir, sebut saja usulan tentang diberlakukannya kembali tujuh kata dalam Piagam Jakarta, ide tentang fraksi Islam, dan penggalangan kekuatan umat Islam lainnya.

21 Lebih jauh baca Abdurrahman Wahid, “Massa Islam dalam Kehidupan Bernegara dan Berbangsa,” dalam Prisma, 1984, 3-9.

22 Lihat Abdurrahman Wahid, “Pribumisasi Islam, “ dalam Muntaha Azhari dan Abdul Mun’im Saleh (ed,), Islam Indonesia Menatap Masa Depan (Jakarta: P3M, 1989), 81-96.

47

62 72

72

107 141

Dimensi pertama gagasan Gus Dur tersebut adalah seruan kepada semua Muslim untuk tidak menjadikan Islam sebagai suatu ideologi alternatif terhadap konstruk negara- bangsa Indonesia yang ada sekarang. Dalam pandangannya, sebagai suatu kompenen penting dari struktur sosial Indonesia, Islam tidak boleh menempatkan dirinya dalam posisi bersaing vis-a-vis komponen-komponen lainnya.

Melainkan, Islam harus ditempatkan sebagai unsur komplementer dalam formasi tatanan sosial, kultural, dan politik negeri ini. Terutama karena corak sosial, kultural, dan masyarakat politik kepulauan Nusantara yang beragam, maka, upaya menjadikan Islam sebagai suatu ideologi alternatif atau

“pemberi warna tunggal” hanya akan membawa perpecahan ke dalam masyarakat secara keseluruhan.23

Aspek kedua dari gagasannya, adalah mengingatkan mengenai perlunya kaum Muslim untuk mempertimbangkan situasi-situasi lokal dalam rangka penerapan ajaran Islam.

Dengan demikian, Islam (Indonesia) tidak tercerabut dari konteks lokalnya sendiri, yakni kebudayaan, tradisi, dan lainnya. Agenda ini mengharuskan dipahaminya ajaran-ajaran Islam sedemikian rupa sehingga faktor-faktor kontekstualnya dipertimbangkan sungguh-sungguh. Dalam bentuknya yang

23 Abdurrahman Wahid, “Massa Islam dalam Kehidupan Bernegara dan Berbangsa”, 8. Meskipun demikian, itu tidak berarti Gus Dur menentang peran Islam di dalam negara. Dalam hal ini, kepedulian utamanya sebenarnya adalah kesamaan hak dan kewajiban antara seluruh kelompok sosial-politik yang ada di Indonesia. Dalam pandangannya, dengan Pancasila sebagai kompromi ideologis bangsa ini, masing-masing pengelompokan sosial keagamaan, mempunyai hak yang sama untuk memberi sumbangan nilai-nilai mereka kepada negara-bangsa Indonesia.

20

20

20

46

107

108

paling sederhana, hal ini mencakup kebutuhan untuk memanfaatkan istilah-istilah lokal.24

Namun demikian, Gus Dur juga menyatakan perlunya hal ini dilakukan dengan hati-hati. Menurutnya, dalam proses pribumisasi, percampuran antara Islam dan kebudayaan lokal harus benar-benar dikontrol sedemikian rupa, sehingga yang bersifat lokal (setempat) itu tidak merusak ciri khas Islam.25

Dilihat dari sudut pandang ini, dapat dikatakan bahwa, Islam harus ditampilkan dengan menitikberatkan perhatian kepada tema-tema yang bercorak inklusif dan obyektif ketimbang formalistik-legalistik. Oleh karena itu, gagasan tentang baldatun tayyibatun wa rabbun gafur dan al-amr-u bi al-ma’ruf wa al-nahy-u ‘an-i al-munkar dalam Islam politik di Indonesia dewasa ini, tidak lagi diartikulasikan dalam konteks subyektivisme ideologis dan simbolis (yakni negara Islam dan ideologi Islam). Sebaliknya, gagasan-gagasan itu diterjemahkan dan diuraikan ke dalam beberapa agenda yang berhubungan dengan kepentingan masyarakat Indonesia secara keseluruhan, meliputi isu-isu tentang demokratisasi, toleransi agama dan politik, egalitarianisme sosial-ekonomi, dan emansipasi politik. Jika kondisi ini dapat diciptakan, maka, pendekatan politik kepartaian (Islam), yang merupakan kepanjangan tangan dari Islam politik, tidak lagi menduduki

24 Abdurrahman Wahid, “Salahkah Jika Dipribumikan?” dalam Tempo, 16 Juli 1991, 19.

25 Abdurrahman Wahid, “Pribumisasi Islam”, 82-3. Pribumisasi Islam menurut Gus Dur, bukanlah “Jawanisasi” atau sinkretisme, sebab pribumisasi Islam hanya mempertimbangkan kebutuhan-kebutuhan lokal (Indonesia) di dalam merumuskan hukum-hukum agama, tanpa merubah hukum itu sendiri. Juga bukan meninggalkan norma-norma (keagamaan) demi budaya, tetapi agar norma-norma itu menampung kebutuhan- kebutuhan dari budaya dengan mempertimbangkan peluang yang disediakan oleh variasi pemahaman al-Qur’an.

31

46

149

posisi utama dalam perjuangan Islam politik di Indonesia dewasa ini.

Dan lebih jauh lagi dapat dikatakan, bahwa partai Islam bukanlah hal yang esensial dan substantif, serta tidak terkait dengan keislaman seseorang untuk memilih partai tertentu. Oleh karenanya, rasanya perlu dilakukan desakralisasi partai Islam. Desakralisasi partai Islam yang dimaksud, sebenarnya merupakan sebuah proyek pengembalian; mana yang sakral sebagai sakral dan yang profan sebagai profan. Atau dengan kata lain, desakralisasi partai Islam ini lebih dimaksudkan untuk membebaskan (umat) Islam dari politik yang bersifat partisan. Bahkan lebih dari itu, proyek ini mempunyai arti penting bagi pembebasan (umat) Islam dari stigma dan beban sejarah yang tidak kondusif bagi pengembangan umat Islam.

Lewat konsep ini pula, sebenarnya kita juga bermaksud untuk mengembalikan Islam sebagai basis kemanusiaan yang universal, tidak lagi sebatas simbol dan perekat eksklusif, bernama partai. Sebab ketika Islam tersubordinasikan ke dalam partai yang cenderung mengutamakan kepentingan kelompok partai dengan berbagai aturan verbal, maka, makna Islam menjadi sempit dan cenderung eksklusif.

Dengan ini, maka cita-cita Islam dan politik (Islam) lebih berlaku secara universal, untuk kebaikan semua umat dan tidak sebatas perekat eksklusif bernama partai. Watak, karakter, dan visi politiknya, dengan begitu lebih bercorak inklusif dan pluralis. Yakni, sebuah cita-cita politik (Islam) yang disandarkan pada kemaslahatan semua umat manusia, tanpa diskriminasi SARA. Karena cita-cita keislaman yang fitri merupakan cita-cita kemanusiaan secara universal, maka, cita- cita politik Islam pun, tidak hanya diorientasikan demi

14

kebaikan umat Islam semata, tetapi juga diorientasikan demi kebaikan bagi semua umat manusia, tanpa kecuali.

Jika memang demikian, maka, kekalahan partai Islam dalam pemilu lalu, tanpa bermaksud menafikan faktor lain, lebih dikarenakan dalam berpolitik, elit partai Islam lebih memakai paradigma lama, yakni berpolitik yang memfokuskan diri secara frontal untuk menggolkan simbol-simbol Islam dalam politik dan pemerintahan. Dan hal ini lebih diperkuat dengan masih tersisasnya warisan wacana politik, bahwa upaya untuk mendirikan negara Islam atau setidaknya memakai simbol-simbol Islam dalam politik, masih dilekatkan pada setiap partai Islam.

Akhirnya, untuk membangun sebuah partai Islam masa depan, maka sangat diperlukan sebuah partai Islam yang menegaskan dirinya sesuai dengan citra Islam, tentunya identitas yang menampilkan wajah partai yang inklusif.

Identitas dimaksud adalah karakteristik partai yang membedakan antara satu dengan lainnya. Identitas ini muncul dari sebuah konsepsi partai yang dirumuskan secara ideal dalam bentuk perjuangan partai secara konkret. Sementara wajah partai yang inklusif dimanifestasikan dengan mengeliminasi penggunaan jargon-jargon agama seperti simbol, atribut, retorika, dan slogan-slogan, sebab semua itu bukanlah identitas partai yang harus ditonjolkan.

Bagian Keenam K E S I M P U L A N

Dalam perspektif yang lebih luas, paparan panjang- lebar di halaman-halaman sebelumnya, dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan mengapa partai Islam gagal (baca:

kalah) dalam Pemilu 1999 lalu. Mengingat bahwa Indonesia merupakan negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, maka, kekalahan partai Islam merupakan sesuatu yang ironis, bahkan tragis.

Dengan mengurai kembali kiprah gerakan political Islam di Indonesia pada periode awal revolusi, bahkan jauh sebelumnya, masa Demokrasi Liberal, dan awal Orba (akhir tahun 1960-an), studi ini menunjukkan, bahwa sepanjang sejarah perkembangannya, Islam di Indonesia, telah menjadi bagian integral dari sejarah politik negeri ini, meskipun ini tidak serta merta mengandaikan, bahwa Islam, secara inheren, adalah agama politik. Pada tahun-tahun ini, aura gerakan political Islam berada pada tingkat intensitasnya yang paling tinggi, yang antara lain menuntut dijadikannya Islam sebagai dasar/ideologi atau agama resmi negara, lengkap dengan konsekuensi-konsekuensi sosial-politik yang menyertainya.

Sehingga, bila melihat fenomena kebangkitan gerakan political Islam mutakhir, rasanya bukanlah an historical

7

28 69

171

accident, melainkan an historical necessity. Hal ini karena, pada dasarnya, gerakan political Islam di Indonesia, memang memiliki tradisi historis yang kuat. Paling tidak, hal itu dapat kita runut dari terbentuknya Sarekat Islam (1912), yang diklaim sebagai partai politk Islam yang terkemuka dan modern di masa kolonial. Sehingga, tidak mengherankan jika, dengan berbagai macam persoalan yang melingkupinya, Sarekat Islam, dapat berkiprah cukup lama dalam sejarah perpolitikan di Indonesia, 1912-42.

Pascaberdirinya Sarekat Islam, gerakan political Islam di Indonesia, semakin menampakkan bentuknya, hal ini dapat kita amati dari partai-partai Islam yang terbentuk pasca- Sarekat Islam, sebut saja Persatuan Muslimin Indonesia (1930), Persatuan Tarbiyah Indonesia (1930), Partai Islam Indonesia (1938), Masyumi (1945), Partai NU (1952), dan Partai Persatuan Pembangunan (1973).

Namun, sepanjang “petualangannya” dalam sejarah perpolitikan di Indonesia, terlepas dari segala dimensi sosial- politik yang mewarnai, dalam keikutsertaannya sebagai kontestan dalam setiap pemilu (1955, 1971, 1977, 1982, 1987, 1992, dan 1997), hasil perolehan suara partai-partai Islam selalu di bawah perolehan suara partai nasionalis-sekuler.

Bahkan pada Pemilu 1999 lalu, gabungan partai-partai Islam hanya meraih tidak sampai separuh prosentase perolehan suara gabungan seluruh partai Islam dalam Pemilu 1955, yakni 45 persen.

Sekedar menyimpulkan pembahasan ini, ada beberapa variabel yang dapat dikemukakan sebagai penyebab kekalahan partai Islam, selain issu money politik, yakni; (1) minimnya kesiapan partai-partai Islam peserta pemilu, tidak terkecuali partai Islam; (2) common issue yang berkembang, kurang menguntungkan bagi partai Islam; dan

(3) masih kuatnya feodalisme dalam budaya politik masyarakat.

Sementara variabel khusus yang menentukan perolehan suara partai Islam, antara lain; (1) pendirian partai Islam tidak memperhatikan pola strategi politik; (2) kehadiran partai Islam tidak mendapatkan momentum yang tepat, bahkan sebaliknya; dan (3) parpol Islam belum menampakkan inklusivitasnya.

Akhirnya, dengan mempertimbangkan penyebab kekalahan partai Islam di atas, tampaknya hal-hal berikut perlu untuk dilakukan dalam rangka membentuk partai Islam masa depan.

Dengan mengingat sosiologi masyarakat Muslim Indonesia yang bercorak tidak terlalu menekankan formalisme atau simbolisme keagamaan, ditambah lagi belum tertuntaskannya persoalan konseptual tentang hubungan antara Islam dan negara, maka, akan lebih efektif, jika Islam yang hendak dibawa ke dalam politik, hanya ditekankan dalam konteks nilai-nilai substantifnya, berupa pesan-pesan universal Islam.

Upaya yang harus dilakukan adalah dengan jalan menerjemahkan gagasan-gagasan politik Islam pada tingkat yang lebih substantif, lebih bermakna, dan (tentu saja) tidak formalis. Sebab, hal ini sejalan dengan watak Islam yang holistik, dan lebih jauh lagi, ideologisasi Islam adalah mereduksi Islam itu sendiri.

Dan konsekuensi dari pilihan ini adalah perlunya mengeliminasi atau bahkan mereduksi berbagai macam jargon-jargon agama, seperti simbol, retorika, slogan-slogan, dan atau apapun bentuknya, yang dilekatkan pada partai, dalam rangka menampilkan wajah dan watak partai Islam yang inklusif.

DAFTAR BACAAN

Buku-Buku

Abdillah, Masykuri, Demokrasi di Persimpangan Makna:

Respon Intelektual Muslim Indonesia

Terhadap Konsep Demokrasi 1966-1993 (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1999).

Abdullah, Taufik, Sejarah Umat Islam Indonesia (Jakarta:

MUI, 1991).

Al-Chaidar, Reformasi Prematur: Jawaban Islam Terhadap Reformasi Total (Tt.: Darul Falah, 1999).

Alfian, M. Alfan, “Eksperimentasi Islam Politik Jilid III”

dalam Deliar Noer (et.al.), Mengapa Partai Islam Kalah (Jakarta: Alvabet, 1999), 116-20.

____________, Pemikiran dan Perubahan Politik di Indonesia (Jakarta: Gramedia, 1983).

Ali, Fachry dan Bahtiar Effendy, Merambah Jalan Baru Islam: Rekonstruksi Pemikiran Islam Indonesia Masa Orde Baru (Bandung: Mizan, 1986).

Allan, A. Samson, “Conception of Politics: Power and Ideology in Contemporary Indonesia” dalam Karel D. Jackson and Lucian W. Pay (ed.), Political Power and Communication in Indonesia (Berkeley:

University of California, 1978).

Anderson, Benedict R. O’Gorman, “Concept of Power in Javanese Culture”, dalam Claire Holt et. al. (ed.),

27

29

40

65 111 117

228

Culture and Politics in Indonesia (Ithaca: Cornell University Press), 1972.

Anwar, M. Syafi’i, Pemikiran dan Aksi Islam Indonesia:

Sebuah Kajian Politik tentang Cendekiawan Muslim Orde Baru (Jakarta: Paramadina, 1995).

Anshari, Endang Syaifuddin, The Jakarta Charter 1945: The Struggle for an Islamic Institution in Indonesia (K.L.:

Muslim Youth Movement of Malaysia, 1979).

Ayoob, Muhammed (ed.), The Politics of Islamic Rearsertion (London: Croom Helm, 1981).

Aziz, M.A, Japan’s Colonialism and Indonesia (The Haque:

Martinus Nijhoff, 1955).

Benda, Harry J., The Crescent and the Rising Sun:

Indonesian Under the Japanese Occupation 1942- 1945 (The Haque dan Bandung: W. van Hoeve Ltd., 1958).

Binder, Leonard, The Ideological Revolution in the Middle East (New York: Robert E. Krieger Publishing Company, 1979).

Biro Humas KPU, Pemilu Indonesia Dalam Angka dan Fakta 1955-1999 (Jakarta: tp., 2000).

Boland, B.J., The Struggle of Islam in Modern Indonesia (The Haque: Martinus Nijhoff, 1971).

Crouch, H., The Army and Politics in Indonesia (Ithaca: Cornell University Press, 1874).

21

59

68 98

118

173 185

197

Dahm, Bernhard, History of Indonesia in the Twentieth Century (New York: Praeger Publisher, 1971).

Djodijono, M, “Indonesia Approaching the General Election” dalam The Indonesian Quarterly Vol.

XXVII (Jakarta: CSIS, 1999), 9-21.

DPP Partai Keadilan, Sekilas Partai Keadilan (Jakarta:

Sekretariat DPP PK, 1998).

Effendy, Bahtiar, Islam dan Negara: Transformasi Pemikiran dan Praktik Politik Islam di Indonesia (Jakarta:

Paramadina, 1998).

Effendy, Djohan dan Ismed Natsir (ed.), Pergolakan Pemikiran Islam Indonesia: Catatan Harian Ahmad Wahib (Jakarta: LP3ES, 1981).

Eickelman, Dale F. dan James Piscatori, Ekspresi Politik Muslim (Bandung: Mizan, 1998).

Esposito, John L., Islam and Politics (Syracuse: Syracuse University Press, 1984).

Fachry, M, Multi Partai Menuju Kehidupan Islam, Studi Krisis Standarisasi Partai-partai Islam (Jakarta: Taghyiir Press, 2000).

Fatwa, A.M., Satu Islam Multipartai, Membangun Integritas di Tengah Pluralitas (Bandung; Mizan, 2000).

Feith, Herberth, The Decline of Constitutional Democracy in Indonesia (Ithaca: Cornell University Press, 1962).

16 25

26

124

142

156

168

206

Forrester, G., "A Jakarta Diary, May 1998" dalam G. Forrester dan R.J. May (eds.). The Fall of Soeharto (Bathust:

Crawford Publishing House, 1998), 31.

Gani, M.A, Cita Dasar dan Pola Perjuangan Syarikat Islam (Jakarta: Bulan Bintang, 1984).

Geertz, Clifford, The Religion of Java (London: The Free Press of Glencoe, 1960).

____________, Islam Observed: Religious Development in Marocco and Indonesia (New Haven and London:

Yale University Press, 1968).

Hassan, M. Kamal, Muslim Intellectual’s Responses to New Order Modernization in Indonesia (K.L.: Dewan Bahasa dan Pustaka Kementerian Pelajaran Malaysia, 1982. Versi Indonesianya diterjemahkan Thaha Ahmadi, Modernisasi Indonesia: Respon Cendekiawan Muslim (Jakarta: Lingkar Studi Indonesia, 1987)

Hatta, Muhammad, Sekitar Proklamasi (Jakarta: Tintamas, 1969).

Hikam, A.S, Islam dan Negara: Transformasi Pemikiran dan Praktik Politik Islam di Indonesia (Jakarta:

Paramadina, 1998).

_________, “Tragedi Jepara dan Ideologisasi Agama” dalam Deliar Noer (et.al.), Mengapa Partai Islam Kalah (Jakarta: Alvabet, 1999), 107-9.

Ingleson, John, Jalan ke Perasingan (Jakarta: LP3ES, 1983).

1 23

25

40 94

105 115

Irsyam, Mahrus, Ulama dan Partai Politik (Jakarta: Yayasan Paramadina, 1984).

Karim, M. Rusli, Negara dan Peminggiran Islam Politik (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1999).

Kerstiens, Thomas, The New Elite in Asia and Africa: A Comparative Study of Indonesia and Ghana (New York: Frederick A. Praeger, 1966).

Kuntowijoyo, Paradigma Islam: Interpretasi Untuk Aksi (Bandung: Mizan, 1999).

__________, “Enam Alasan Tidak Mendirikan Partai Islam”

dalam Mustofa (ed.), Memilih Partai Mendamba Presiden (Bandung: Remaja Rosda Karya, 1999), 27- 33.

Landon, Kenneth. P., Southeast Asia Crossroad of Religions (Chicago: The University of Chicago Press, 1969).

Lapidus, Ira M., A History of Islamic Societes (Cambridge:

Cambridge University Press, 1988).

Lewis, Bernard, The Political Language of Islam (Chicago:

University of Chicago Press, 1988).

Lev, Daniel S., Islamic Court in Indonesia: a Study in the Political Bases of Legal Institution (Berkeley:

University of California Press, 1972).

Ma’arif, A. Syafi’i, Islam dan Politik: Teori Belah Bambu Masa Demokrasi Terpimpin 1959-1965 (Jakarta:

Gema Insani Press, 1996).

8

11

11

41

80

99

103

170 215

_____________, “Kata Pengantar” dalam M. Rusli Karim, Perjalanan Partai Politik di Indonesia: Sebuah Potret Pasang Surut (Jakarta: CV. Rajawali, 1999), vii-xv.

Mahendra, Yusril Ihza, “Partai Islam yang Rasional” dalam Deliar Noer (et.al.), Mengapa Partai Islam Kalah (Jakarta: Alvabet, 1999), 53-7.

Maoin, Amat Juhari, “Gerakan Penyirnaan Islam (deislamisasi) di Kalangan Umat Islam” dalam Ismail A.R. dan M. Nasir (peny.), Islam dan Isu Semasa (K.L.: Dewan Bahasa dan Pustaka, 1991).

Marijan, Kacung, Quo Vadis NU Setelah Kembali ke Khittah 1926 (Jakarta: Erlangga, 1992).

McDonald, H., Soeharto's Indonesia (Melbourne:

Fontana/Collins, 1980).

Metareum, Ismail Hasan, “Partai Islam: Tantangan dan Problema dalam Era Reformasi” dalam Sahar L.

Hasan et.al. (ed.), Memilih Partai Islam: Visi, Misi, dan Persepsi (Jakarta: Gema Insani Press, 1998), 137-45.

Mortimer, Edward, Faith and Power: the Politics of Islam (London: Faber and Faber, 1982).

Moertono, Soemarsaid, State and Statecraft in Old Java: a Study of the Later Mataram Period, 16th to 19th Century (Ithaca: Cornell Modern Indonesia Project.

1968).

9 33

40

79 96

140

148

Dalam dokumen GELIAT ISLAM POLITIK DI INDONESIA (Halaman 155-200)