PEMERINTAH KABUPATEN PARIGI MOUTONG
PERATURAN DAERAH KABUPATEN PARIGI MOUTONG NOMOR 1 TAHUN 2009
TENTANG
RETRIBUSI IZIN USAHA JASA KONSTRUKSI
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
BUPATI PARIGI MOUTONG ,
Menimbang: a. bahwa untuk menunjang peningkatan penerimaan Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Parigi Moutong dipandang perlu membuat Peraturan Daerah tentang Pedoman Pemberian Izin Usaha Jasa Kontruksi Nasional di Daerah;
b. bahwa jasa konstruksi mempunyai peranan strategis dalam pembangunan didaerah sehingga dalam pelaksanaannya perlu dilakukan pembinaan baik terhadap penyedia jasa maupun masyarakat guna menumbuhkan pemahaman dan kesadaran akan tugas, fungsi serta hak dan kewajiban serta meningkatkan kemampuan dalam mewujudkan tertib usaha Jasa Konstruksi, tertib penyelenggaraan pekerjaan konstruksi dan tertib pemanfaatan hasil pekerjaan konstruksi;
c. bahwa, berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf
a dan b, perlu membentuk Peraturan Daerah tentang Retribusi Izin Usaha Jasa Konstruksi;
Mengingat : 1. UndangUndang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1981 Nomor 76, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3209);
3. UndangUndang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara Yang Bersih Dan Bebas Dari Korupsi, Kolusi Dan Nepotisme (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3851);
4. UndangUndang Nomor 18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 54, TLN Republik Indonesia Nomor 3883);
5. UndangUndang Nomor 10 Tahun 2002 tentang Pembentukan Kabupaten Parigi Moutong Di Provinsi Sulawesi Tengah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 23, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4185);
6. UndangUndang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan PerundangUndangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 4389);
7. UndangUndang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437), sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas Undang undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844);
8. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1983 tentang Pelaksanaan Kitab UndangUndang Hukum Acara Pidana (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 36, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3258);
9. Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2001 tentang Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor 119, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4139);
10.Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2000 tentang Usaha Dan Peran Masyarakat Jasa Konstruksi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 28, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3955);
11.Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Jasa Konstruksi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 64 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3956);
12.Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Pembinaan Jasa Kontruksi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 65, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3957);
Tahun 2008 Nomor 17 Seri D Nomor 44, Tambahan Lembaran Daerah Nomor 100);
15.Peraturan Daerah Kabupaten Parigi Moutong Nomor 9 Tahun 2008, tentang Susunan Organisasi Dan Tata Kerja DinasDinas Daerah Kabupaten Parigi Moutong (Lembaran Daerah Tahun 2008 Nomor 18 seri D nomor 45, Tambahan Lembaran Daerah Nomor 101);
Dengan Persetujuan Bersama
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN PARIGI MOUTONG dan
BUPATI PARIGI MOUTONG
MEMUTUSKAN :
Menetapkan : PERATURAN DAERAH TENTANG RETRIBUSI IZIN USAHA JASA KONSTRUKSI.
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1 Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan:
1. Daerah Otonom, selanjutnya disebut Daerah, adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas daerah tertentu berwenang mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa masyarakat sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
2. Daerah adalah Kabupaten Parigi Moutong.
3. Pemerintah Daerah adalah Bupati beserta perangkat Daerah sebagai unsur Penyelenggara Pemerintahan Daerah.
4. Bupati adalah Bupati Parigi Moutong.
5. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Parigi Moutong yang selanjutnya disebut DPRD adalah Lembaga Perwakilan Rakyat Daerah sebagai unsur penyelenggara Pemerintah Daerah.
6. Dinas adalah Dinas Permukiman dan Prasarana Wilayah Kabupaten Parigi Moutong. 7. Kepala Dinas adalah Kepala Dinas Permukiman dan Prasarana Wilayah Kabupaten
Parigi Moutong.
8. Domisili adalah tempat kedudukan tetap suatu badan usaha.
9. Jasa Konstruksi adalah layanan Jasa Konsultansi perencanaan pekerjaan konstruksi, layanan jasa pelaksanaan pekerjaan konstruksi, layanan jasa konsultansi pengawasan pekerjaan konstruksi.
11.Pembinaan adalah kegiatan pengaturan, pemberdayaan dan pengawasan yang
14.Retribusi Daerah adalah pungutan daerah sebagai pembayaran atas jasa atas pemberian Izin tertentu yang khusus disediakan dan/atau diberikan oleh pemerintah daerah untuk kepentingan orang atau pribadi atau badan.
15.Perizinan tertentu adalah kegiatan tertentu Pemerintah Daerah dalam rangka Pemberian Izin kepada orang pribadi atau Badan yang dimaksudkan untuk pembinaan, pengaturan, pengendalian dan pengawasan atas kegiatan, pemanfaatan ruang, penggunaan sumber daya alam, barang, prasarana, sarana atau fasilitas tertentu guna melindungi kepentingan umum dan menjaga kelestarian lingkungan. 16.Wajib Retribusi adalah orang pribadi atau badan yang menurut peraturan
perundangundangan retribusi diwajibkan untuk melakukan pembayaran retribusi, termasuk pungutan atau pemotongan retribusi tertentu.
17.Masa Retribusi adalah suatu jangka waktu tertentu yang merupakan batas waktu bagi wajib retribusi untuk memanfaatkan jasa dan perIzinan tertentu dari pemerintah Daerah.
18.Surat Ketetapan Retribusi Daerah yang dapat disingkat (SPTRD) adalah surat ketetapan retribusi yang menentukan besarnya pokok retribusi.
19.Surat Pendaftaran dan Pendataan Retribusi Daerah yang dapat disingkat SPTRD adalah surat yang dipergunakan oleh wajib retribusi sebagai dasar perhitungan dan pembayaran Retribusi yang terutang menurut peraturan PerundangUndangan Retribusi Daerah.
20.Surat Ketetapan Retribusi Daerah Kurang Bayar yang dapat disingkat SPTRDKB adalah Surat ketetapan retribusi yang menentukan besarnya jumlah yang terutang retribusi, jumlah kredit retribusi, jumlah kekurangan pembayaran pokok retribusi, besarnya sanksi administrasi dan jumlah yang masih harus dibayar.
21.Surat Ketetapan Retribusi Daerah Kurang Bayar Tambahan, yang selanjutnya disingkat SPTRDKBT, adalah Surat ketetapan yang menentukan tambahan atas jumlah retribusi yang telah ditetapkan.
23.Surat Tagihan Retribusi Daerah disingkat (STRD) adalah surat untuk melakukan tagihan retribusi dan/atau sanksi administrasi berupa bunga dan/atau denda.
24.Surat Pendaftaran dan Pendataan Retibusi Daerah yang dapat disingkat (SPTRD) adalah surat yang dipergunakan oleh wajib Retribusi untuk melaporkan data data obyek retribusi dan wajib retribusi sebagai dasar perhitingan dan pembayaran yang terutang menurut Peraturan PerundangUndangan retibusi daerah.
25.Registrasi adalah pendaftaran ulang Surat Izin Jasa Konstruksi (IUJK).
26.Pemeriksaan adalah serangkaian kegiatan untuk mencari, mengumpulkan, mengelola data dan/atau keterangan lainnya untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban retribusi daerah dan untuk tujuan lain dalam rangka melaksanakan ketentuan peraturan perundangundangan Retribusi Daerah.
27.Penyidik tindak pidana dibidang Retribusi Daerah adalah serangkaian tindakan yang dilakukan oleh Penyidik Pegawai Negeri Sipil, yang selanjutnya disebut Penyidik, untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu memuat tentang tindak pidana dibidang Retribusi Daerah yang terjadi serta menemukan tersangkanya.
BAB II
NAMA, OBYEK DAN SUBYEK RETRIBUSI
Pasal 2
Dengan nama Izin Usaha Jasa Konstruksi dipungut Retribusi sebagai pembayaran atas pelayanan pemberian Izin Usaha Jasa Konstruksi.
Pasal 3
Obyek retribusi Izin Usaha Jasa Konstruksi adalah pelaksanaan pekerjaan, perencanaan konstruksi, pelaksanaan konstruksi dan pengawasan konstruksi.
Pasal 4
Subyek retribusi adalah orang pribadi atau badan yang mendapatkan Izin usaha Jasa Konstruksi.
BAB III
GOLONGAN RETRIBUSI Pasal 5
Retribusi Izin Usaha Jasa Kontruksi digolongkan sebagai retribusi perIzinan tertentu.
BAB IV
Pasal 6
Gred 1 Orang Perseorangan Kualifikasi Usaha Kecil : K4 = Rp. 400.000,
Gred 2 Kualifikasi Usaha Kecil : K3 = Rp. 650.000,
Gred 3 Kualifikasi Usaha Kecil : K2 = Rp. 800.000,
Gred 4 Kualifikasi Usaha Kecil : K1 = Rp. 1.200.000,
Gred 5 Kualifikasi Usaha Menengah : M2 & M1 (M) = Rp. 2.000.000,
Gred 6 Kualifikasi Usaha Besar : B2 = Rp. 4.000.000,
Gred 7 Kualifikasi Usaha Besar, Joint Venture,Asing : B1 = Rp. 6.000.000,
a. Bidang Konsultasi ( Konsultan ) Penerbitan IUJK baru, memperpanjang dan
mengubah data dengan Kualifikasi :
Gred 1 Kualifikasi Usaha Kecil : K = Rp. 1.000.000,
Gred 2 Kualifikasi Usaha Kecil : K = Rp. 1.500.000,
Gred 3 Kualifikasi Usaha Besar : M = Rp. 3.000.000,
Gred 4 Kualifikasi Usaha Besar : M = Rp. 5.000.000,
b. Registrasi Badan Usaha Pemborongan (Kontraktor) / Konsultasi (Konsultan) :
Gred 1 orang Perseorangan Kualifikasi Usaha Kecil : K4 = Rp. 600.000,
Gred 2 Kualifikasi Usaha Kecil : K3 = Rp. 800.000,
Gred 3 Kualifikasi Usaha Kecil : K2 = Rp. 1.000.000,
Gred 4 Kualifikasi Usaha Kecil : K1 = Rp. 1.200.000, (IUJK) melakukan Registrasi Ulang sekaligus mengadakan Perpanjangan atau Perubahan Data dikenakan biaya untuk Registrasi sesuai Pasal 8 Poin c dan d.
(4) Badan Usaha atau Perorangan yang mengajukan Permohonan Perpanjangan, Perubahan Data dan registrasi Ulang setelah habis masa berlakunya seperti pada poin 2 diatas pasal ini, dikenakan sanksi denda sebesar Rp. 25.000, untuk setiap hari keterlambatan diatas 1 (satu) bulan dan seterusnya baik Jasa Konstruksi (Kontraktor) maupun Jasa Konsultasi (Konsultan) :
a. Kualifikasi K = Rp. 750.000,
b. Kualifikasi M = Rp. 1.050.000,
c. Kualifikasi B = Rp. 1.250.000,
(5) Ketentuan mengenai penentuan klasifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Bupati.
(6) Dilarang melakukan pungutan selain yang telah ditetapkan dalam Peraturan Daerah Ini.
BAB VII
WILAYAH PEMUNGUTAN
Pasal 9
Retribusi yang terutang dipungut di wilayah Daerah Kabupaten Parigi Moutong.
BAB VIII
MASA RETRIBUSI DAN SAAT RETRIBUSI TERUTANG
Pasal 10
Masa Retribusi untuk Izin Usaha Jasa Konstruksi berlaku selama 1(satu) tahun.
Pasal 12
Saat terutangnya Retribusi adalah pada saat diterbitkannya SPTRD atau dokumen lain yang dipersamakan.
BAB IX
SURAT PENDAFTARAN
Pasal 13
(1) Wajib Retribusi wajib mengisi SPTRD
(2) SPTRD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus di isi dengan jelas, benar dan lengkap serta ditandatangani oleh Wajib Retribusi atau kuasanya.
(3) Ketentuan mengenai bentuk, isi serta tata cara pengisian dan penyampaian SPTRD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Bupati.
BAB X
Pasal 14
(1) Berdasarkan SPTRD sebagaimana dimaksud dalam pasal 13 ayat (1) di tetapkan retribusi terutang dengan menerbitkan SPTRD,atau dokumen lain yang dipersamakan.
(2) Apabila berdasakan hasil pemeriksaan ditemukan data baru/atau data semula belum terungkap sehingga menyebabkan penambahan jumlah retribusi yang terutang, maka dikeluarkan SPTRDKB dan SPTRDKBT.
(3) Ketentuan mengenai bentuk, isi dan tata cara penerbitkan SPTRD atau dukumen lain yang dipersamakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), SPTRDKB dan SPTRDKBT sebagaimana dimaksud pada ayat (2) akan diatur lebih lanjut dengan Peraturan Bupati.
BAB XI
TATA CARA PEMUNGUTAN
Pasal 15
(1) Pemungutan Retribusi tidak dapat diborongkan.
(2) Retribusi dipungut dengan menggunakan SPTRD atau Dokumen lain yang dipersamakan, SPTRDKB dan SPTRDKBT.
BAB XII
SANKSI ADMINISTRASI
Pasal 16
Dalam hal Wajib Retribusi tidak membayar tepat pada waktunya atau kurang membayar, dikenakan sanksi administrasi berupa denda sebesar 2% (dua perseratus) setiap bulan dari retribusi yang terutang yang tidak atau kurang dibayar dan ditagih dengan menggunakan STRD.
BAB XIII
TATA CARA PEMBAYARAN
Pasal 17
(1) Pembayaran Retribusi yang terutang harus dilunasi sekaligus.
(2) Retribusi yang terutang dilunasi selambatlambatnya 15 (lima belas) hari sejak diterbitkannya SPTRD atau dokumen lain yang dipersamakan, SPTRDKB, SPTRDKBT dan STRD.
(3) Ketentuan mengenai tata cara pembayaran, penyetoran dan tempat pembayaran retribusi akan di atur lebih lanjut dengan Peraturan Bupati.
BAB XIV
Pasal 18
(1) Pengeluaran Surat teguran atau peringatan atau surat lain yang sejenis sebagai awal pelaksanaan penagihan retribusi dikeluarkan setelah 7 (tujuh) hari setelah jatuh tempo pembayaran.
(2) Dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari setelah tanggal surat teguran atau peringatan atau surat lainnya yang sejenis, Wajib Retribusi harus melunasi retribusinya yang terutang.
(3) Surat teguran atau peringatan atau surat lain sejenis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikeluarkan oleh Bupati atau Pejabat yang ditunjuk.
BAB XV KEBERATAN
Pasal 19
(1) Wajib Retribusi dapat mengajukan keberatan hanya kepada Bupati atau Pejabat yang ditunjuk atas SPTRD atau dokumen lain yang dipersamakan, SPTRDKB, SPTRDKBT dan SPTRDLB.
(2) Keberatan diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia dengan disertai alasan yang jelas.
(3) Dalam hal Wajib Retribusi mengajukan keberatan atas ketetapan retribusi, Wajib Retribusi harus dapat membuktikan ketidakberatan ketetapan retribusi tersebut. (4) Keberatan harus diajukan dalam jangka waktu paling lama 2 (dua) bulan sejak
tanggal SPTRD atau dokumen lain yang dipersamakan, SKDRDKB, SPTRDKBT dan SPTRDLB diterbitkan, kecuali apabila Wajib Retribusi tertentu dapat menununjukan bahwa jangka waktu itu tidak dapat dipenuhi karena keadaan diluar kekuasaannya. (5) Keberatan yang tidak memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
dan ayat (3) tidak dianggap sebagai surat keberatan, sehingga tidak dipertimbangkan. (6) Pengajuan keberatan tidak menunda kewajiban membayar retribusi dan pelaksanaan
penagihan retribusi.
Pasal 20
(1) Bupati atau Pejabat yang ditunjuk dalam jangka paling lama 6 (enam) bulan sejak tanggal Surat Keberatan diterima harus memberi keputusan atas keberatan yang diajukan.
(2) Keputusan Bupati atas keberatan dapat berupa menerima seluruhnya atau sebagian, menolak atau menambah besarnya retribusi yang terutang.
(3) Apabila jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) telah lewat dan Bupati tidak memberi Surat Keputusan, keberatan yang diajukan tersebut di anggap dikabulkan.
BAB XVI
PENGEMBALIAN KELEBIHAN PEMBAYARAN
Pasal 21
permohonan pengembalian kepada Bupati.
(2) Bupati dalam jangka waktu paling lama 6 (enam) bulan sejak diterimanya permohonan kelebihan pembayaran retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), harus memberikan keputusan.
(3) Apabila dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (2) telah dilampaui dan Bupati tidak memberikan suatu keputusan, permohonan pengembalian pembayaran Retribusi dianggap dikabulkan dan SPTRDLB harus diterbitkan dalam jangka waktu paling lama 1 (satu) bulan.
(4) Apabila wajib retribusi mempunyai hutang retribusi lainnya, kelebihan pembayaran retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) langsung diperhitungkan untuk melunasi terlebih dahulu hutang retribusi tersebut.
(5) Pengembalian kelebihan pembayaran retribusi sebagaiman dimaksud pada ayat (1) dilakukan dalam jangka waktu paling lama 2 (dua) bulan sejak diterbitkannya SPTRDLB.
(6) Apabila pengembalian kelebihan pembayaran retribusi dilakukan setelah lewat jangka waktu 2 (dua) bulan, Bupati memberikan imbalan bunga sebesar 2 % (dua perseratus) sebulan atas keterlambatan pembayaran kelebihan retribusi.
(7) Ketentuan mengenai tata cara pengembalian kelebihan pembayaran retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Bupati.
(2) Permohonan pengembalian kelebihan pembayaran retribusi disampaikan secara langsung atau melalui pos tercatat
(3) Bukti penerimaan oleh pejabat daerah atau bukti pengiriman pos tercatat merupakan bukti sah permohonan diterima oleh Bupati atau pejabat yang ditunjuk.
Pasal 23
(1) Pengembalian kelebihan retribusi dilakukan dengan menerbitkan Surat Perintah Pembayaran kelebihan retribusi.
(2) Pengurangan, keringanan dan pembebasan retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan dengan memperhatikan kemampuan Wajib Retribusi.
(3) Pembebasan retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) antara lain diberikan kepada Wajib Retribusi yang ditimpa bencana alam atau kerusuhan.
(4) Ketentuan mengenai tata cara pengurangan, keringanan dan pembebasan retribusi diatur lebih lanjut dengan peraturan Bupati.
BAB XVIII
KADALUARSA PENAGIHAN
Pasal 25
(1) Hak untuk melakukan penagihan retribusi, kadaluarsa setelah melampaui jangka waktu 3 (tiga) tahun terhitung sejak saat terutangnya retribusi, kecuali apabila Wajib Retribusi melakukan tindak pidana retribusi.
(2) Kadaluarsa penagihan retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tertanggung apabila :
a. Diterbitkannya surat teguran ; dan
b. Ada pengakuan utang retribusi dari Wajib Retribusi baik langsung maupun
tidak langsung
BAB XIX PENYIDIKAN
Pasal 26
(1) Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu dilingkungan Pemerintah Daerah diberi wewenang khusus sebagai penyidik untuk melakukan penyidikan tindakan tindak pidana dibidang retribusi daerah sebagaimana dimaksud dalam undangundang Nomor 8 Tahun 1981 Tentang Hukum Acara Pidana.
(2) Wewenang penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah :
a. Menerima, mencari, mengumpulkan dan meneliti keterangan atau laporan berkenaan dengan tindak pidana dibidang retribusi Daerah agar keterangan atau laporan tersebut menjadi lengkap dan jelas;
b. Meneliti, mencari dan mengumpulkan keterangan mengenai orang pribadi
atau badan tentang kebenaran perbuatan yang dilakukan sehubungan dengan tindak pidana retribusi;
c. Meminta keterangan dan bahan bukti dari orang pribadi atau badan
d. Melakukan penggeledahan untuk mendapatkan bahan bukti pembukuan, pencatatan dan dokumendokumen lain, serta melakukan penyitaan terhadap bahan bukti tersebut;
e. Meminta bantuan tenaga ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan
tindak pidana retribusi daerah;
f. Menyuruh berhenti, dan/atau melarang seseorang meninggalkan ruangan
atau tempat pada saat pemeriksaan sedang berlangsung dan memeriksa identitas orang dan/atau dokumen yang dibawa sebagaimana dimaksud pada huruf (d);
g. Memotret seseorang yang berkaitan dengan tindak pidana retribusi daerah;
h. Memanggil untuk didengar keterangannya dan diperiksa sebagai tersangka
atau saksi;
i. Menghentikan penyidikan;
j. Melakukan tindakan lain yang perlu untuk kelancaran penyidikan tindak
pidana dibidang retribusi daerah menurut hukum yang dapat
dipertanggungjawabkan
(3) Penyidikan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) memberitahukan dimulainya penyidikan dan menyampaikan hasil penyidikannya kepada Penuntut Umum, melalui penyidik pejabat polisi Negara Republik Indonesia sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam UndangUndang Hukum Acara Pidana yang berlaku.
BAB XX
KETENTUAN PIDANA Pasal 27
(1) Wajib Retribusi yang tidak melaksanakan kewajibannya sehingga merugikan Keuangan Daerah diancam pidana kurungan paling lambat 6 (enam) bulan atau denda paling banyak 4 (empat) kali jumlah retribusi yang terutang.
(2) Tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah pelanggaran.
BAB XXI
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 28
Ketentuan mengenai pelaksanaan dari Peraturan Daerah ini diatur lebih dengan Peraturan Bupati.
Pasal 29
Agar semua orang dapat mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kabupaten Parigi Moutong.
Diundangkan di Parigi
pada tanggal
SEKRETARIS DAERAH
KABUPATEN PARIGI MOUTONG
Drs. NIRMAN J. WINTER, MH
Pembina Utama Muda NIP. 19550803 1978031 003
Ditetapkan di Parigi pada tanggal
BUPATI PARIGI MOUTONG,
LONGKI DJANGGOLA
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN PARIGI MOUTONG TAHUN 2009
NOMOR I SERI D NOMOR 24
PENJELASAN
RANCANGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN PARIGI MOUTONG NOMOR I TAHUN 2009
T E N T A N G
RETRIBUSI IZIN USAHA JASA KONSTRUKSI
I. UMUM.
Mengingat bahwa Daerah Kabupaten merupakan penyelenggaraan pelaksanaan Otonomi Daerah yang luas, maka sebagai konsekuensinya Pemerintah Daerah Kabupaten wajib menggali potensi yang ada di Daerah yang merupakan sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD), guna mendukung kelancaran pelaksanaan roda pemerintahan dan pembangunan.
Dengan adanya UndangUndang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, maka penyelenggaraan pemerintahan memberikan kewenangan kepada Daerah untuk menyelenggarakan kegiatan pemerintahan baik yang bersifat penyelenggaraan, pengawasan dan pengendalian, termasuk didalamnya upaya menggali dan meningkatkan penerimaan daerah guna membiayai tugastugas pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan salah satunya berupa retribusi daerah.
II. PASAL DEMI PASAL.
Pasal 1
Cukup jelas. Pasal 2
Cukup jelas. Pasal 3
Cukup jelas. Pasal 4
Cukup jelas. Pasal 5
Cukup jelas. Pasal 6
Cukup jelas. Pasal 7
Cukup jelas.
Pasal 8
Cukup jelas. Pasal 9
Cukup jelas. Pasal 10
Cukup jelas. Pasal 11
Cukup jelas. Pasal 12
Cukup jelas. Pasal 13
Pasal 14
Cukup jelas. Pasal 15
Cukup jelas. Pasal 16
Cukup jelas. Pasal 17
Cukup jelas. Pasal 18
Cukup jelas. Pasal 19
Cukup jelas. Pasal 20
Cukup jelas. Pasal 21
Cukup jelas. Pasal 22
Cukup jelas. Pasal 23
Cukup jelas. Pasal 24
Cukup jelas. Pasal 25
Cukup jelas. Pasal 26
Cukup jelas.
Pasal 27
Cukup jelas. Pasal 28
Cukup jelas. Pasal 29
Cukup jelas.